SINDROMA NEFROTIK

Sindrom nefrotik adalah keadaan klinis dengan proteinuria masif,
hipoalbuminemia, edema, dan hiperkolesterolemia. Kadang – kadang gejala disertai
dengan hematuria, hipertensi, dan penurunan fungsi ginjal. Angka kejadian bervariasi
antara 2 – 7 per 100.000 anak, dan lebih banyak pada anak lelaki daripada perempuan
dengan perbandingan 2:1.
Sindrom nefrotik dapat dibedakan menjadi sindrom nefrotik kongenital,
sindrom nefrotik primer, dan sindrom nefrotik sekunder. Pada umumnya sebagian
besar (±80%) sindrom nefrotik primer memberi respons yang baik terhadap
pengobatan awal dengan steroid, tetapi kira – kira 50% di antaranya akan relaps
berulang dan sekitar 10% tidak memberi respons lagi dengan pengobatan steroid.
DIAGNOSIS
Anamnesis
Keluhan yang sering ditemukan adalah bengkak di kedua kelopak mata, perut,
tungkai, atau seluruh tubuh yang dapat disertai penurunan jumlah urin. Keluhan lain
juga dapat ditemukan seperti urin keruh atau jika terdapat hematuri berwarna
kemerahan.
Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan edema di kedua kelopak mata,
tungkai, atau adanya asites dan edema skrotum/labia; terkadang ditemukan hipertensi.
Pemerisaan penunjang
Pada urinalisis ditemukan proteinuria masif (≥2+), rasio albumin kreatinin urin
>2 dan dapat disertai hematuria. Pada pemeriksaan darah didapatkan
hipoalbuminemia (<2,5g/dL), hiperkolesterolemia (>200mg/dl), dan laju endap darah
yang meningkat. Kadar ureum dan kreatinin umumnya normal kecuali ada penurunan
fungsi ginjal.
TATALAKSANA
Medikamentosa
Pengobatan dengan prednison diberiksan dengan dosis awal 60mg/m2/hari
atau 2mg/kgBB/hari (maksimal 80mg/hari) dalam dosis terbagi tiga, selama 4
minggu, dilanjutkan dengan 2/3 dosis awal (40mg/m2/hari, maksimum 60mg/hari)
dosis tunggal pagi selang sehari (dosis alternating) selama 4 – 8 minggu (lihat
lampiran) (ISKDC 1982).
Bila terjadi relaps, maka diberikan prednison 60mg/m2/hari sampai terjadi
remisi (maksimal 4 minggu), dilanjutkan 2/3 dosis awal (40mg/m 2/hari) secara
alternating selama 4 minggu. Pada sindrom nefrotik resisten steroid atau toksis
steroid, diberikan obat imunosupresan lain seperti siklofosfamid per oral dengan dosis
2 – 3mg/kgBB/hari dalam dosis tunggal dibawah pengawasan dokter nefrologi anak.
Dosis dihitung berdasarkan berat badan tanpa edema (persentil ke – 50 berat badan
menurut tinggi badan).
Suportif
Bila ada edema anasarka diperlukan tirah baring. Selain pemberian
kortikosteroid atau imunosupresan, diperlukan pengobatan suportif lainnya, seperti

diuretik hemat kalium) 2 – 3mg/kgBB/hari bila edema anasarka atau edema yang mengganggu aktivitas. riwayat penyakit sindrom nefrotik di dalam keluarga. Jika ada hipertensi dapat ditambahkan obat antihipertensi. atau disertai gejala ekstrarenal. . Diuretik furosemid 1 – 2mg/kgBB/hari.pemberian diet protein normal (1. toksik steroid. . . penurunan fungsi ginjal. Gambar 1. Skema pengobatan SN inisial menurut ISKDC 1967.5 – 2g/kgBB/hari. hematuria nyata persisten. trombosis. seperti artritis. dll) Keadaan di bawah ini merupakan indikasi untuk merujuk ke dokter spesialis nefrologi anak : . dan diuretik.Awitan sindrom nefrotik pada usia dibawah 1 tahun.5g/kgBB/hari. rujukan spesialis lainnya. kadar albumin <1g/dL diberikan 1g/kgBB/hari.Sindrom nefrotik dengan hipertensi. bila perlu dikombinasi dengan spironolakton (antagonis aldosteron. serositis. Lain – lain (rujukan subspesialis. atau kadar albumin ≤1g/dL.Sindrom nefrotik dengan komplikasi edema refrakter. infeksi berat.Sindrom nefrotik resisten steroid.Dosis pemberian albumin : Kadar albumin serum 1 – 2g/dL : diberikan 0. . Terapi psikologis terhadap pasien dan orangtua diperlukan karena penyakit ini dapat berulang dan merupakan penyakit kronik. diet rendah garam (1 – 2g/hari). Pemberian albumin 20 – 25% dengan dosis 1g/kgBB selama 2 – 4 jam untuk menarik cairan dari jaringan interstisial dan diakhiri dengan pemberian furosemid intravena 1 – 2mg/kgBB dilakukan atas indikasi seperti edema refrakter. syok. atau lesi di kulit. .

. 731 – 47. h. Pada pemakaian siklofosfamid diperlukan pemeriksaan darah tepi setiap minggu. Pemantauan Terapi Dengan pemberian prednison atau imunosupresan lain dalam jangka lama. 2190 – 5.000/uL. Baltimore: Lippincott Williams &Wilkins. Selain itu. Avner ED. Jika terjadi depresi sumsum tulang (leukosit <3. penyunting. penyakit ini merupakan keadaan imunocompromise sehingga sangat rentan terhadap infeksi. Tumbuh kembang Gangguan tumbuh kembang dapat terjadi sebagai akibat penyakit sindrom nefrotik sendiri atau efek samping pemberian obat prednison secara berulang dalam jangka lama.- Sindrom nefrotik relaps sering atau dependen steroid. Pediatric nephrology. Vogt AB. Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke – 14. Clark AG. 1999. 2. Diperlukan biopsi ginjal. 3. Dalam: Kliegman RM. Steroid responsive nephrotic syndrome. Infeksi berulang dapat mengganggu tumbuh kembang pasien. Dalam: Barrat TM. Tatalaksana sindrom nefrotik idiopatik pada anak. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. KEPUSTAKAAN 1. hipertensi diatasi dengan obat hipertensi. Prednison dapan menyebabkan hipertensi atau efek samping lain dan siklofosfamid dapat menyebabkan depresi sumsum tulang dan efek samping lain. Harmon WE. Barrat TM. 2008. Nephrotic syndrome. maka perlu dilakukan pemantauan terhadap kemungkinan terjadinya efek samping obat. Avner ED. Stanton BF. Konsensus Ikatan Dokter Anak Indonesia. Behrman RE. Philadelphia: Saunders. 1 – 20. Edisi ke – 2. penyunting. Jenson HB. prednison dihentikan dan diganti dengan imunosupresan lain.000/uL) maka obat dihentikan sementara dan dilanjutkan lagi jika leukosit ≥5. h. h. Apabila terjadi hipertensi. Edisi ke – 18. 2007. Pemeriksaan tekanan darah perlu dilakukan secara rutin.