You are on page 1of 149

PALM OIL DOWNSTREAM PROCESSING

BAGIAN I:
REFINERY AND FRACTIONATION
OF PALM OIL

Maria Ulfah, STP. MP.

Dr. Ida Bagus B.P., MS.

A. REFINERY PLANT
Maria Ulfah, STP. MP.

B. FRACTIONATION PLANT
Dr. Ida Bagus B.P., MS.

MANUFACTURING FLOW

5% 0. 0.10% 0.10% o Temp Temp +/+/. conc. Blowing •• Filtering Filtering unused unused material material (spent (spent earth) earth) until until reaching reaching appropriate appropriate color color (DBPO) (DBPO) o •• Temp Temp 250 250 – – 270 270oC C •• 3 3– –5 5 Torr Torr Refinery & Fractionation .5% -.0. 0.06% 0.0% Crystalli zing Filtering • Feeding & heating.3. conc.06% -. Slow cooling • Using filter press • Loading. Squeezing.Flow Process Refinery Fractionation OLEIN RBDPO CPO STEARIN PFAD •• Degumm •• Degumm ing Bleachin g Filtratio n Deodoriz ing •• •• •• o Temp Temp 80 80 -.700 700 mmHg mmHg Adding bleaching Adding bleaching earth earth with with conc.90 90oC C Adding Adding H H33PO PO44 with with conc.105 105oC C < < -. Fast cooling.0% 3.

RAW MATERIAL RECEIVING PLANT (PLANT PENERIMAAN CPO) .

diterima melalui plant penerimaan (receiving plant) menggunakan truk tangki CPO dan dialirkan melalui pipa masuk ke tangki penerimaan CPO. CPO yang akan diolah Pabrik refinery. .

menampung dan sistemnya terkontrol  .Storage tank dan pemipaan untuk masing-masing grade CPOl untuk penyimpanan dan penanganan dibedakan  Terdapat control system untuk mencegah tercampurnya minyak lama dan baru  Mampu mencegah tumpah.

 .  Rancangan ini untuk mengendapkan minyak ke dasar dan tanki dapat dibersihkan menggunakan pipa pembuangan limbah.MODEL PEMIPAAN YANG DIRANCANG UNTUK TANKI CRUDE OIL Pipa inlet berbentuk U yang dilengkapi dengan syphon breaker di bagian atas.  Terdapat 2 pipa pengeluaran. untuk mengatur penuhnya minyak maupun habisnya minyak. untuk meminimalkan masuknya udara dalam minyak.  Dianjurkan pengisian minyak dari dasar. yang pertama menunju proses dan yang kedua pipa ke limbah (sump).

KONSTRUKSI STORAGE TANK CPO Crude oil storage tank dikonstruksi dengan dinding carbon steel. ukuran bervariasi tergantung kapasitas pabrik.  Tanki minyak kasar ada yang dilengkapi dengan pendingin jika tankinya besar.  Untuk melindungi permukaan tanki dari air yang berakibat korosi. maka dilindungi dengan cat bagian luarnya dengan cat aluminium atau putih. sehingga tanki ini dapat sebagai pendingin menjadi 11oC dibanding cat yang hitam.  Storage tank minyak kasar dilengkapi dengan agitator untuk menjaga kehomogenan minyak.  .

REFINERY PLANT : DEGUMMING  BLEACHING  DEODORIZATION  .

Colour pigment 3. By Deodorization Oils Insoluble Impurities How to Removal??? 1. By Neutralization or Physical refining 3. Gummy matters (Phosphatiedes) 1. Moisture 2. By Bleaching & High temp Deod 4. Free fatty acid (FFA) 2. Oil sol-of flavours (rancid odor) 4. By Adsorption onto Dry Bleaching Clay & Vacuum suction with steam stripping . By Degumming 2.Edible Oils & fats have two main type of impurities (Refinery Basic) How to Removal??? Oils Soluble Impurities 1. Dirts 1. By Filtration 2.

3.DOSIS PENGGUNAAN PHOSPOHORIC ACID DAN BLEACHING EARTH (BE) PADA INDUSTRY REFINERY Parameter Range Dosis Phosporic Acid (PA) 85% Maks.7 artinya setara mutu minyak sludge (minyak parit) DOBI 1.3 artinya mutu minyak sawit buruk DOBI 2.8 .2.3 artinya mutu minyak sawit sangat baik . 2 % (per MT CPO) Kualitas CPO FFA Maks. 2 % DOBI 2 – 3. 5 % Air Maks.9 artinya mutu minyak sawit cukup DOBI 3.5 – 5 meq/kg P 10 – 18 ppm  Fe 4 – 10 ppm     DOBI  1.2 artinya mutu minyak sawit baik DOBI  3.4 . 1 % (per MT CPO) Dosis Bleaching Earth (BE) Maks.5 PV 1.2.0 .

12 0. max. (5 ¼ -inch cell) .12 0. Livibond color. max. 0. 1996) Pretreated Palm Oil (Degummed/Bleached) = DBPO Refined Bleached and Deodorized Palm Oil = RBDPO Sama dengan CPO 0.0 R Parameter Free fatty acid (sebagai C16:0) (%) Iron (mg/kg). max. max.05 0.1 0.1 0.KUALITAS MINYAK DBPO DAN RBDPO DARI PABRIK (HUI.05 4 4 - 3.kg). Peroxide value (mEq/kg) 0 0 Moisture and impurities (%). Phosphorus (mg. max.10 max. Copper (mg/kg).

.

phosphates. . dan impurities lain dalam minyak yang akan mengganggu stabilitas produk minyak selama penyimpanan dengan cara penambahan air.Degumming • Degumming didefinisikan sebagai perlakuan penambahan bahan tambahan yang digunakan untuk menghilangkan gum (fosfolipida). waxes. larutan garam atau larutan asam. • Degumming akan mengkonversi fosfatida menjadi gum terhidrasi yang tidak larut dalam minyak dan selanjutnya akan dipisahkan dengan cara filtrasi atau sentrifugasi.

Komponen utama fosfolipida adalah fosfatida yang terdiri dari : X X X X = = = = choline (phosphatidyl choline or PC) ethanolamine (phosphatidylethanolamine or PE) inositol (phosphatidylinositol or PI) hydrogen (phosphatidyl acid or PA) .

. Hydratable phospholipid/HP: • Fosfolipid dapat terhidrat dan mudah dihilangkan dengan penambahan air • Proses degumming akan cepat pada suhu yang dinaikkan atau lambat pada suhu rendah. Fosfolipid mengkristal pada suhu 40 oC • Dengan mengambil air. fosfolipid akan kehilangan sifat lipofil dan menjadi lipofob. • Proses sebaiknya dilakukan pada suhu di bawah suhu fosfolipid menjadi kristal.Teori proses degumming : • Ada 2 jenis fosfolipida : • Dapat terhidrat (Hydratable phospholipid/HP) • Tak terhidrat (Nonhidratable phospholipid/NHP) 1. sehingga minyak akan mengendap.

. • Asam yang digunakan biasanya cukup kuat untuk menghidratkan fosfolipid tanpa menghidrolisis trigliserida. • Asam yang banyak digunakan untuk degumming adalah asam fosfat atau sitrat. Nonhidratable phospholipid/NHP • NHP harus diubah menjadi terhidrat dengan dengan penambahan asam dan diikuti proses netralisasi.2.

Cu) pada permukaan partikel koloid.ASAM FOSFAT PADA PROSES DEGUMMING • Asam yang biasa digunakan untuk degumming adalah asam phosphat (H3PO4). Asam fosfat dapat mengalami dissosiasi 3 kali sbb : H3PO4(s)   + H2O(l) H3O+(aq) + H2PO4 −(aq) H2PO4−(aq)+ H2O(l) H3O+(aq) + HPO42 −(aq) HPO42 −(aq)+ H2O(l) H3O+(aq) +  PO43 −(aq)       3 − fosfat (PO ) akan mengelilingi logam-logam • Ion 4              bermuatan positif (Ca. . sehingga partikel-partikel saling bersinggungan. • Gum yang telah mengendap ini selanjutnya dipisahkan dengan sentrifuse. sehingga akan terjadi netralisasi. kemudian melekat dan tumbuh menjadi besar lalu mengendap. Fe. Mg.

WATER DEGUMMING 3. EDTA DEGUMMING .TYPE DEGUMMING: 1. ACID DEGUMMING 4. DRY DEGUMMING 2. ENZYMATIC DEGUMMING 5.

dan disiapkan untuk physical refining. • Proses ini menghilangkan bleaching sebagai langkah proses yang terpisah. • Pada metoda ini. tidak dipisahkan dengan sentrifugasi. sehingga mengurangi biaya ACID DEGUMMING • Gum mengendap dalam kondisi asam dan dipisahkan dengan sentrifugasi. .DRY DEGUMMING • Proses menghilangkan gum melalui pengendapan oleh kondisi asam dan melalui penyaringan dalam proses bleaching. • Proses ini digunakan untuk minyak dengan kadar fosfatida rendah seperti minyak sawit. • Asam sitrat encer sering digunakan dan residu fosfatida dihilangkan dengan bleaching menggunakan silica hidrogel. gum dapat dihidrasi pada suhu lebih dari 40oC.

PERBEDAAN DRY DAN ACID DEGUMMING .

• Metoda ini digunakan untuk produksi lesitin . dan endapan dipisahkan dengan sentrigugasi. minyak kedelai dan minyak mentah dengan kadar fosfor 200 ppm. • Pada proses ini air adalah bahan utama untuk menghilangkan hidratable fosfatida dari minyak tumbuh-tumbuhan. . • Proses ini tidak cukup kalau digunakan dalam refining fisik.WATER DEGUMMING • Proses menghilangkan gum lewat pengendapan dengan hidrasi air murni. dan dapat dilakukan secara batch atau kontinyu.

ENZIMATIC DEGUMMING • Menggunakan enzim ‘food-grade’ Phospholipase. • Keuntungannya tak ada soapstock yang harus dihilangkan. .

.EDTA DEGUMMING • Proses fisiko-kimia degumming • Fosfolipid dieliminasi dengan bahan pengkelat EDTA (etilen diamin tetraasetat asam) • EDTA merupakan bahan aditif sebagai zat pengemulsi.

6% dan FFA > 5% dengan penambahan air panas (90 C) 2.Jenis Degumming yang sering dipakai pada refinery CPO : 1.6% dan FFA < 5% • dengan penambahan Citric Acid (CA) & Phosphoric Acid/PA (H3PO4) . Dry Degumming • jika kadar air < 0. Wet Degumming • o Jika kadar air > 0.

CHEMICAL REFINING Chemical refining melibatkan 3 tahap proses: 1.Deodorization .Gum conditionneutralization 2.Bleaching-filtration 3.

.

.

Chemical Refinery Plant .

 Fase berat terutama terdiri dari sabun. sabun dipisahkan dengan sentrifugasi.  NPO kemudian dicuci menggunakan air panas dg konsentrasi 10-20% untuk menghilangkan sisa sabun. sisa alkali dan sedikit minyak yang teremulsi. gum. yang terdiri dari minyak netral dan masih mengandung 500-1000 ppm sabun dan air diambil.05-0.  Reaksi antara NaOH dengan asam lemak degummed oil menghasilkan Na-sabun.  Minyak yang sudah dicuci dikeringkan dengan vacuum dryer sehingga kadar air dalam minyak menjadi < 0. asam fosfat 80-85% ditambahkan dengan kadar 0.  Degummed oil dinetralisasi dengan menambahkan larutan NaOH 4 N dengan konsentrasi berdasar FFA dalam CPO. yang mudah dipisahkan dengan gaya sentrifugal.05%  . pengotor tidak larut. fosfatida.  Fase yang lebih ringan berupa NPO/neutralized palm oil. GUM CONDITION-NEUTRALIZATION CPO dipanaskan 80-90oC.2% (dari CPO) untuk mengendapkan fosfolipid.1.

Gum condition-neutralization

Proses Netralisasi

Neutralization tank
Degummed
oil

Neutralized
oil

Caustic
solution
Soap
stock
Hot water

Wash water

NETRALISASI • Proses netralisasi konvensional dengan penambahan soda kaustik merupakan proses yang paling luas digunakan dan juga proses purifikasi terbaik yang dikenal sejauh ini. • Pigmen mengalami degradasi. . akan terabsorbsi oleh gum. • Penambahan larutan alkali ke dalam CPO menyebabkan beberapa reaksi kimia dan fisika sebagai berikut: • Alkali bereaksi dengan Free Fatty Acid (FFA) membentuk sabun. • Bahan-bahan yang tidak larut akan terperangkap oleh material terkoagulasi. • Fosfatida mengabsorb alkali dan selanjutnya akan terkoagulasi melalui proses hidrasi.

Reaksi Netralisasi • RCOOH + NaOH  RCOO-Na+ + H2O • Fatty Acid + Sodium Hidroksida  sabun + air • Minyak (trigliserida) yang biasa diproses pada BCR ini adalah CPKO atau CCNO dengan FFA di atas 2 % • Proses netralisasi ini antara lain: • • • • prapemanasan minyak sawit mentah hingga 54-71oC netralisasi dengan soda kaustik secukupnya pemanasan hingga 82-88oC untuk mengendapkan fasa sabun Disentrifugasi atau settling. . • Netralisasi dengan menggunakan soda kaustik dapat dilakukan untuk minyak kelapa sawit yang mengandung 8 sampai 10% Asam lemak bebas.

• Selanjutnya minyak dikeringkan dengan bantuan vacuum dryer atau langsung dilakukan proses . • Washing dengan air pada suhu 85 oC untuk membersihkan sisa sabun.• Minyak yang telah ternetralisasi kemudian dicuci dengan air dan selanjutnya dipisahkan sekali lagi melalui proses settling atau sentrifugasi untuk menghilangkan sisa pengotor dan sisa sabun. • Pengendapan sabun berlangsung sekitar 60 menit. • Netralisasi adalah pemberian soda kaustik (NaOH 2 N – 3 N) dengan konsentrasi 12 – 15 Baume pada minyak pada temperatur 80 -90 oC untuk menurunkan FFA dengan produk samping soapstock. kadar sabun harus nol.

CPO (asam palmitat) = 256 n : normalitas larutan NaOH .Kebutuhan NaOH dirumuskan sebagai berikut : L x d x FFA x 1000 P = ----------------------------------100 x M x n Keterangan : P : volumue larutan caustic soda yang dibutuhkan (liter) L : volume CPO dalam reactor (liter) d : Excess NaOH yang diperlukan (%) FFA : jumlah FFA terhadap CPO M : berat molekul.

1 x 5 x 1000 -----------------------------.8 . Contoh perhitungan NaOH excess : CPO = 250 ml = 0.25 L FFA CPO = 5% d = 10% Maka : P= L x d x FFA x 1000 -----------------------------100 x M x n P= 0.25 x 0.= 0.• Penambahan larutan NaOH tergantung kadar FFA dalam minyak kasar:  jika FFA < 2% excess NaOH yang dibutuhkan 20 %  jika FFA 2-3% dibutuhkan 15%  jika >3% dibutuhkan 10%.05 liter = 50 ml 100 x 256 x 0.

Sentrifugasi Prinsip : • Memisahkan liquid dengan Bj rendah dan Bj tinggi .

Vacuum Dryer Prinsip : • Minyak disemprotkan dengan nozel kemudian uap air disedot vakum .

. trace metals. These bleaching agents will adsorb most of the residual color of the remaining oil. final flavor and oxidative stability of product. Bleaching-filtration Bleaching • The practice of bleaching involves the addition of bleaching earth to remove any undesirable impurities (all pigments. oxidation products) from CPO and improves the initial taste..

.

• Pemucatan minyak sawit dapat dilakukan dengan bleaching earth yang lebih banyak dan waktu pemucatan yang lebih lama dibandingkan proses pemucatan minyak nabati lainnya karena tingginya kandungan pigmen di dalam minyak sawit.BLEACHING • Minyak kelapa sawit yang sudah dinetralisasi mengandung residu sabun. . dan pigmen warna sehingga dilakukan proses pemucatan (bleaching) untuk menghilangkan bahan-bahan tersebut. logam. produkproduk oksidasi.

Bleaching minyak netral Bleaching earth Vacuum system Neutralized oil Steam in Condensate out Filtration Bleached oil Spent earth .

Deodorization .3.

PHYSICAL REFINING
Degumming
 Bleaching and
Filtration
 Deodorization

REFINERY PLANT

.

PLC (programmable logic controller ) .

Dinamix mixer 7. Niagara filter Alur proses degumming dan bleaching Karya: Irna Wijayanti (STPK Angkatan 2008) atm BE 6 5 Vakum sistem 4 7 Steam 3 2 8 RBDPO 9 NF 1 NF 2 PA 1 NF 3 CPO Steam NF 4 . PHE 4. Vacuum dryer 6. Strainer 20 mesh 5. Strainer 20 mesh 2. Buffer tank 9. Bleacher 8. Economizer 3.Keterangan Gambar: 1.

Dry Degumming
• Aliran CPO bertemu
dengan posporic Acid
melalui dinamik
mixer

Bleaching

KONDISI OPTIMAL BLEACHING
Menurut Arumughan et al. (1985) kondisi optimal
pemucatan didapat dengan penambahan 3%
bleaching earth yang mengandung karbon aktif
dengan perbandingan 9:1 dan pemucatan pada
temperatur 150oC dalam keadaan vakum 700 mmHg.
 Menurut Iyung Pahan (2008), kondisi proses
pemucatan optimal dapat dicapai pada temperatur
100 – 130oC selama 30 menit dengan injeksi uap
bertekanan rendah ke dalam bleacher untuk
mengaduk konsentrasi slurry.
 Setelah melewati proses bleaching, minyak sawit
disaring untuk menghilangkan bleaching earth yang
masih terbawa di dalamnya.

bleaching atau pemucatan adalah perlakuan untuk menghilangkan warna dan untuk memurnikan minyak/ lemak.  Bahan tsb penting untuk dihilangkan karena berpengaruh langsung pada kualitas organoleptik dan stabilitas oksidasi dari produk deodorisasi. bleaching menjadi proses yang lebih kritis karena merupakan tahap akhir dimana sisa fosfatida. karoten) dengan adsorpsi bahan yang sesuai. logam dan produk oksidasi dsb dapat dihilangkan sebelum proses deodorisasi.  Tujuan bleaching pada awalnya adalah untuk menghilangkan senyawa berwarna (klorofil. sabun.  Namun pada saat ini pada refining fisik. (2006).BLEACHING PADA REFINING FISIK Menurut Zin et al.  .

tanah pemucat alami.  Tanah pemucat yang diaktifkan dengan asam (fuller’earth) atau lempung.  Karbon aktif juga digunakan untuk pemucat dengan penggunaan terbatas. karbon aktif dan silica sintetis.  .PRINSIP BLEACHING : Prinsip bleaching adalah adsorpsi bahan penghasil warna oleh adsorbent .  Bahan ini terutama terdiri dari aluminium silikat hidrat. kebanyakan warna hilang karena destruksi termal pada waktu proses deodorisasi.  Adsorbent yang banyak digunakan adalah tanah pemucat yang diaktifkan dengan asam. Biasanya tanah pemucat tidak menghilangkan semua bahan berwarna. adalah bahan adsorbent yang banyak digunakan. sering disebut bentonit.

afinitas besar terhadap molekul jenis pigmen. Tetapi pengaruhnya bervariasi terhadap trigliserida dan merusak antioksidant alami. sehingga dapat menghilangkan pigmen tanpa merusak minyak. Cara ini jarang digunakan untuk minyak.  Oksidasi kimia – beberapa pigmen seperti karotenoid menjadi kurang berwarna atau tak berwarna dengan oksidasi. karbon aktif. tapi terbatas untuk minyak dengan keperluan khusus seperti untuk sabun.  Adsorpsi – metoda yang biasa digunakan untuk memucatkan minyak makan dengan menggunakan bahan pemucat (bleaching agent) contohnya tanah pemucat.METODA BLEACHING – ADA 3 JENIS : Bleaching dengan panas – beberapa pigment seperti karoten menjadi tak berwarna bila dipanaskan secukupnya. Namun hal ini akan meninggalkan molekul pigment yang terdegradasi tertinggal dalam minyak dan dapat menyebabkan pengaruh buruk pada kualitas. Bleaching agent biasanya mempunyai permukaan yang luas.  . dan silica gel.

dan dicapai dalam waktu relatif singkat 10-15 menit.  Secara bertahap konsentrasi zat yang tertahan pada pori dan yang masih ada dalam minyak akan mencapai keseimbangan. bleaching earth tidak lagi mengadsorpsi pigment dari minyak yang kontak tetapi masih bereaksi dengan minyak yang berwarna. dan partikel yang tak diinginkan atau komponen lain secara selektif tertahan pada permukaan pori selanjutnya trigliserid lewat.MEKANISME PROSES BLEACHING Pada saat bleaching.  . minyak kontak dengan permukaan aktif dari adsorben.  Pada saat kondisi setimbang.

Sifat katalitik dari acid activated bleaching earth dapat dijelaskan karena sifat yang asam.  Hal ini menyebabkan naiknya kadar FFA karena reaksi berikut :  H-bentonit + Na-sabun → Na-bentonit Triasilgliserol + H2O → + FFA diasilgliserol + FFA .

 Suhu dan waktu kontak untuk minyak dan adsorben harus dipilih yang tepat. dan trans fatty acid dalam jumlah kecil.  Supaya penggunaan adsorben efisien. karena kelebihan salah satu factor berakibat pada efek samping yang tak diinginkan. karena akan berlomba ruang pada permukaan adsorben. keton dan senyawa konjugasi. bahan seperti gum dan sabun harus dihilangkan dulu pada tahap degumming. sehingga terbentuk aldehid.Sifat yang penting dari acid activated BE adalah degradasi peroksida oleh dehidrasi.  .

karbon aktif .  Acid activated bleaching earth akan mengubah warna dari minyak menjadi lebih terang dengan menukar unit warna dasar dalam minyak tanpa mengubah sifat kimia minyak. natural bleaching earth .BAHAN BLEACHING Ada beberapa bahan pemucat yang digunakan dalam industry minyak nabati.  . ada sebagian lagi perlu diaktifkan dengan asam. seperti activated bleaching earth. akibatnya terbentuk struktur kisi2 tanah yang bermuatan negative dan bersifat mengadsorpsi kation.  Cara ini menyebabkan penggantian sebagian ion Al dengan ion H dari asam.  Sebagian bleaching earth secara alami memucatkan warna. silikat sintetis dan resin sintetis.

monmorilonit) yang mengandung Mg.  Tanah ini umumnya diaktifkan dengan panas.  Aktifasi dengan asam H2SO4 atau HCl menaikkan luas permukaan spesifik (sampai 250-350 m2/g) dan menurunkan kadar logam.  Meskipun permukaan spesifik relative tinggi (40-120 m2/g) aktivitas adsorpsi terbatas karena kandungan logam yang relative tinggi. Ca atau Fe yang relative tinggi.  .Acid activated bleaching earth dibuat dari bleaching earth alam yaitu Al silikat (bentonit.

5 % Air Maks. 2 % DOBI 2 – 3. 2 % (per MT CPO) Kualitas CPO FFA Maks.5 – 5 meq/kg P 10 – 18 ppm Fe 4 – 10 ppm .JENIS DAN STANDAR PENGGUNAAN PHOSPOHORIC ACID (PA) DAN BLEACHING EARTH (BE) PADA INDUSTRY REFINERY Parameter Range Dosis Phosporic Acid (PA) 85% Maks. 1 % (per MT CPO) Dosis Bleaching Earth (BE) Maks.5 PV 1.

Operation Vacuum : 650 750 mmHg.0% tergantung kualitas CPO.8-2. Pada proses degumming dikendalikan mutunya meliputi : kadar asam phosphate (Phosporic acid/PA 85%) maupun asam sitrat (citric acid/CA) yang digunakan.05-0.2%. dipanaskan pada suhu 90-110 oC selama 15-30 menit. .KONDISI PROSES DEGUMMING DAN BLEACHING :   CPO ditambah PA 85% dengan kisaran dosis 0. kemudian ditambahkan BE dalam bentuk slurry dengan kisaran 0. React Temp.

humidity dsb). Biasanya BE ditambahkan langsung pada minyak atau dalam bentuk slurry dengan minyak.  Selanjutnya BE ditambahkan dengan kondisi yang dikontrol (suhu. waktu. minyak dikeringkan dan deaerasi pada tekanan rendah (50 mbar) sampai kadar air 0.  Campuran minyak dan BE selanjutnya ditransfer ke penyaring stainless stell mesh. Pencampuran dapat dibantu dengan uap yang disemprotkan .  . minyak dan BE harus bebas oksigen sebelum dicampur .PROSES BLEACHING Sebelum bleaching.  Minyak yang melewati saringan pada awal untuk membentuk filter cake dan dikembalikan ke tangki untuk menghilangkan partikel BE yang masih tertinggal dalam minyak.  Untuk menghindari reaksi oksidasi.1%.

media penghembus dan tipe filter.  Minyak yang diperoleh dari filter cake dikembalikan / dicampur untuk diproses lagi. filter cake dikeringkan dengan diblow dengan uap atau nitrogen untuk menghilangkan sebanyak mungkin minyak yang menempel pada cake.Setelah fitrasi selesai.  .  Minyak dapat disaring lagi untuk menghilangkan partikel BE yang masih tertinggal dalam minyak.  Kadar minyak dalam cake bervariasi 20-40% tergantung karakteristik BE.

React Temp. Operation Vacuum : 650 -750 mmHg.  Suhu reaksi : Hui. penyebab lossis utama  Partikel spent earth jika terikut dalam minyak akan mengurangi stabilitas minyak thd oksidasi  . kadang-kadang ditambahkan tanah diatomae untuk meningkatkan efisiensi filtrasi  Spent earth biasanya masih mengandung 20-40% minyak. spent earth. filtration.KONDISI PROSES BLEACHING Pada proses bleaching perlu dikendalian dosis BE (Bleaching earth) yang digunakan dan warna CPO sebelum dan setelah bleaching. Smart (100120oC)  Pada proses Filtrasi . 1994 (95-110oC).

 Warna biru adalah aliran CPO dari storage tank (40 oC)  Warna merah adalah aliran CPO yang sudah dideodorisasi (270 oC)  .ECONOMYZER PLATE HEAT EXCHANGER (PHE) CPO dari storage tank suhu 40 oC di proses ke physical refinery dengan dinaikkan suhunya hingga 90 – 100 oC melalui suatu PHE yang juga disebut ekonomizer.

Bleaching earth .

BUFFER TANK  Memberi kesempatan reaksi asam phosphat dan bleaching earth dengan CPO .

NIAGARA FILTER  Menyaring CPO yang sudah direaksikan dengan PA dan BE .

 Susunan plate niagara filter .

 Plate niagara filter .

STUKTUR PLATE NIAGARA FILTER .

. STP. MP.DEODORISASI Maria Ulfah.

sehingga asam lemak bebas dan komponen bau hilang dan diperoleh minyak yang tidak berbau.  Deodorisasi merupakan langkah terakhir dalam pemurnian minyak. hal ini berdasarkan distilasi uap secara vakum dengan suhu dinaikkan.  Selain itu akan terjadi kerusakan karotenoid akibat bleaching dengan panas.  Secara prinsip.  .DEODORISASI Deodorisasi adalah suatu tahap pemurnian minyak yang bertujuan untuk menghilangkan bau yang tidak dikehendaki.

keton. dan bahan lain hasil dekomposisi peroksida dan pigmen.  Bahan-bahan tersebut lebih volatil pada tekanan rendah dan temperatur tinggi. asam lemak berberat molekul ringan.Deodorisasi merupakan langkah terakhir dalam pemurnian minyak  Minyak sawit yang keluar dari proses pemucatan mengandung aldehida.  . hidrokarbon. alkohol.  Walaupun konsentrasi bahan-bahan tersebut kecil. bahan-bahan tersebut dapat terdeteksi oleh rasa dan aroma minyaknya.

Proses deodorisasi pada intinya adalah distilasi uap pada keadaan vakum.  Distilasi uap pada tekanan vakum untuk menguapkan aldehid dan senyawa aromatik lainnya  .

free fatty acid (FFA) membentuk palm fatty acid distillate (PFAD) sebagai limbah.0 % dari berat minyak (Leong.5 .  Proses ini dikehendaki pada suhu tinggi berkisar 240 260oC.PROSES DEODORISASI Deodorisasi dijaga pada kondisi vakum dengan memanaskan suhu minyak setelah bleaching pada suhu 200oC dengan tekanan uap dialirkan berlawanan dengan minyak.  Selama proses deodorisasi.  Bahan volatil yang tidak dikehendaki diuapkan bersama uap air.  . vacuum (2 – 4 mmHg) dan injeksi steam langsung kira-kira 2. 1992).4.

MEKANISME DEODORISASI Minyak diberi perlakuan vakum dan diagitasi : Deodorisasi dilakukan dalam alat yang bernama deodorizer.  Kondisi vakum menyebabkan komponen volatil menguap dan mengurangi gas yang dibutuhkan.  Pada alat ini minyak diberi perlakuan vakum dan suhu ditingkatkan disertai pengadukan dan pengaliran gas.  Kondisi vakum juga berperan mengurangi oksidasi minyak dan hidrolisis trigliserida jika gas yang digunakan adalah uap air panas. Gas yang digunakan adalah uap air panas.  .

karena dalam proses deodorisasi ini dilakukan pemanasan.  Proses deodorisasi dinyatakan mulai berlangsung jika jumlah tekanan uap dan jumlah tekanan zat menguap telah sama dengan permukaan minyak dan lemak. makin rendah pula suhu deodorisasi sehingga dengan demikian vakum yang baik sangat berpengaruh dalam proses  .  Makin rendah tekanan.Setelah minyak dideodorisasi. proses pendinginan minyak harus segera dilakukan.

. . . . ... Vacuum system FAD cooler Fatty acid distillate (FAD) . .Deodorization Bleached Oil Steam Refined Bleached Deodorised oil Deodorizer . . . . . . . . . . . .. .... .

. . . .Deodorization Bleached Oil Steam Refined Bleached Deodorised oil Deodorizer . . .. . . .... . . . .. . .. . . Vacuum system FAD cooler Fatty acid distillate (FAD) . . .

.

 Sedangkan dari nilai nutrisinya masih mengandung komponen minor (trans fatty acid.15.KETENTUAN KUALITAS MINYAK REFINE Kualitas refine oil ditentukan dengan parameter organoleptik seperti rasa. tokoferol. bau dan warna. hasil polimerisasi dan oksidasi triacilgliserol). seperti dapat dilihat pada Tabel 4.  .

1 PAH (ppb) maks 25 25 25 Color 5 1/4 “ maks 2.5R-15Y 1.1 0.5 - - Moisture (%) maks 0. SIFAT MINYAK REFINED Komponen Palm Palm kernel Coconut FFA (%) maks 0.05 0.5 0.05 Impurities (%) maks 0 0 0 PV (mEq O2/kg)maks 0.05 0.1 0.05 0.5 Phosporus (ppm) maks 1 1 1 Total metal (ppm) maks 0.5R-30Y 1.15.5R-15Y Smoke point (oC) min 220 - - .TABEL 4.5 0.05 0.05 Trans (%) maks 0.

deodorisasi-deacidifikasi dan pendinginan minyak. pemanasan.PROSES DEODORISASI :  Deodorisasi dapat ditentukan sebagai proses penekanan multi step dengan deaerasi. .

During this process. Steam Steam E 705 . free fatty acid (FFA) in the form of palm fatty acid distilate (PFAD) is removed as refining waste. at the upper section of deodorizer. high vacuum and steam distillation process. Deodorization is a high temperature. DEODORIZING   The bleached oil are then sent to a cylindrical vessel called ‘Deodorizer’.

Deodorizer 10. Flash Vessel 6. Shell and tube 5. HPB (Hight Pressure Boiler) 4. (STPK Angkatan 2008) Vakum sistem 4 5 3 9 7 8 11 FAD 12 air air RBDPO DBPO 6 2 10 Steam 1 Ket: 1. Packed Culoumn 7.Splash Oil Tank 11. PFAD Tank 8. Daerator 2. Economizer 3.Alur proses Deodorisasi Karya: Dadang S.Cartridge Filter . PHE (Plate Heat Exchanger) 9.PHE 12.

.LANGKAH 1. DEAERASI  Minyak dihilangkan udaranya terlebih dahulu sebelum pemanasan agar terhindar dari oksidasi dan resiko polimerisasi.

sehingga kandungan udara dalam minyak dapat ditarik oleh vakum.DEAERATOR Merupakan tanki yang berfungsi untuk menghilangkan udara yang terkandung di dalam DBPO agar terhindar dari oksidasi yang dapat mengganggu kualitas minyak.  Tanki ini dioperasikan pada kondisi vakum.  .

minyak panas dikurangi tekanannya untuk menaikkan suhu deodorisasi. minyak dipanaskan melalui oil heat exchanger (economizer).  Selanjutnya. Tahap I. transfer aliran panas dengan pemanas listrik.LANGKAH 2: PEMANASAN  Pemanasan terhadi 2 tahap.  Keperluan energi untuk sistem deodorisasi dapat dihitung sbb : . sehingga panas dapat direkoveri setelah minyak di deodorisasi. sehingga tekanan uap tinggi.

 H = energi untuk sistem deodorisasi  O = jumlah minyak (kg)  T1. (T2-T1)].4 kJ/kgoC)  fL = faktor kehilangan panas dari radiasi (1.H = [O .05 – 1.fL .T2 = suhu awal dan akhir minyak (oC)  c = rata-rata kapasitas panas spesifik minyak nabati (2.2 – 2.15)  fR = faktor rekoveri panas = (1-% rekoveri panas)/100 .fR Dimana. c.

Dalam praktek industri. Pada saat ini evolusi heat exchanger dan recovery panas sangat pesat. Secara umum dapat dikatakan bahwa heat exchanger ada yang eksternal dan internal. . rekoveri panas menjadi faktor penting untuk meminimalkan biaya pemanasan awal minyak menuju suhu deodorisasi.

untuk rekovery energi diperlukan kondisi vakum dan menjamin ketercampuran produk kecil.  Akhirnya untuk pilihan HE sistem didasarkan pada permorfamance termal dan lebih komplet kriterianya.External HE dihasilkan rekovery yang lebih baik dan mudah diakses untuk cleaning. seperti kemudahan dipelihara. 1988).  Sedangkan internal HE.  . tidak memberikan efek terhadap kualitas produk dan biaya instalasi diterima dibandingkan untuk penerimaan rekoveri energi (Athnassiadis. tingkat ketercampuran kecil.

SPIRAL HEAT EXCHANGER (SHE)  Berfungsi untuk menaikkan suhu BDPO dari temperatur ± 90-1000C menjadi ± 1200C dengan cara dicross dengan RBDPO dari proses deodorisasi dari temperatur ± 2500C menjadi ± 1200C. .

SPIRAL HEAT EXCHANGER .

SHE .

 .  Prinsip kerja boiler yaitu dengan memanaskan air yang terdapat di dalam pipa hingga membentuk uap superheated dengan menggunakan bahan bakar gas.HIGH PRESSURE BOILER (HPB) Merupakan ketel uap untuk menghasilkan steam bertekanan tinggi. sehingga dapat digunakan untuk menaikkan suhu DBPO sesuai dengan kualitas yang diiginkan.

.

.

.SHELL AND TUBE  Berfungsi untuk memanaskan suhu DBPO menjadi 255-2650C dengan steam bertekanan 5054 bar yang dihasilkan dari HPB.

SHELL AND TUBE HEAT EXCHANGER .

.

.

.

.

.

955 kg dan dioperasikan pada kondisi vakum.  .  Tanki ini memiliki kapasitas 5.FLASH VESSEL Merupakan sebuah tanki yang berfungsi untuk menstabilkan tekanan DBPO yang mengalami pemanasan dengan tekanan tinggi di dalam shell and tube.

FLASH VESSEL  untuk mempercepat systems kondensat pada tekanan tinggi untuk Inlet uap pada pemanasan tekanan rendah. . dan untuk merubah tekanan uap yang rendah sebelum diumpankan ke boiler. penampung kondensat atau inlet service.

.

.

 Deodorisasi dan deacidifikasi berkisar pada suhu 220-260 oC dengan tekanan 2-4 mbar dan injeksi steam 0.  .5-3%.LANGKAH 3: DEODORISASI DAN DEACIDIFIKASI Tekanan uap zat-zat yang berbau adalah sangat rendah hingga dengan suhu yang sangat tinggi baru dapat diuapkan dengan tekanan atmosfer  Oleh karena itu vakum yang tinggi untuk mengurangi suhu hingga dibawah suhu proses kerusakan sangat diperlukan.

33 mbar Temperatur 240 – 260 °C Stripping Steam 1 – 5% Holding time 15 – 120 menit .133 KPa = (0.133 /100)x1000 mbar =1.VARIABEL DEODORISASI Vacuum range 1 – 6 mmHg  1 mmHg = 133 Pa = 0.

kesetimbangan uapcairan menghasilkan fraksi molar yang lebih kecil (xi). Konsekuensinya.Dari sudut pandang termodinamika.  . hasilnya adalah komponen volatil lebih banyak secara siknifikan daripada yang bisa dihilangkan tanpa stripping agent.  Yang pasti jumlah dari stripping agent berbanding langsung dengan berat molekul : bagaimanapun. striping digunakan untuk memecah tekanan total menjadi tekanan parsial. stripping agent akan menseleksi berat molekul yang paling kecil.

 .  Gelembung-gelembung uap akan naik melalui minyak dan keluar dari lingkungan minyak membawa serta komponenkomponen yang konsentrasinya tergantung pada tekanan parsial masing-masing komponen.  Pemasukan uap tersebut dimaksudkan untuk mempengaruhi penguapan senyawa-senyawa volatil agar dapat menguap pada suhu yang lebih rendah.CONTINUOUS EVAPORATOR/ STRIPPER Minyak diberi aliran gas biasanya uap air : uap panas dimasukkan ke dalam tangki (stripping).

STRIPPING Suatu proses untuk memurnikan minyak dengan menggunakan perbedaan tekanan uap.  Prinsip hukum Dalton dan Roult  .

PRINSIP KERJA HUKUM DALTON YAITU TEKANAN UAP Jika didalam liquid tidak terdapat bahan lain maka P = p  Jika terdapat bahan lain maka : P = pa + pb + pc + …  .

HUKUM ROULT P    = X . oPa P : tekanan uap jenuh X : fraksi uap jenuh o Pa: tekanan uap parsial .

225 235 – 250 Minyak Zaitun 210 – 220 230 – 240 Minyak Kelapa Sawit 210 – 215 225 – 235 Minyak Kelapa 200 -210 215 – 230 .TABEL SUHU DEODORISASI CAMPURAN ASAM LEMAK PADA TEKANAN BERBEDA-BEDA Asam Lemak Pada : P= 5 mm Hg – 8 mm P= 20 mm Hg (ºC) Hg (ºC) Minyak Kacang Tanah 210 – 220 230 – 240 Minyak Kedelai 210 – 220 230 – 245 Minyak Biji Kapas 215.

TABEL TITIK DIDIH ASAM LEMAK PADA RASIO UAP AIR DAN ASAM LEMAK YANG BERBEDA Rasio uap air : asam lemak 2.5 : 1 1:1 Asam laurat 191 ºC 215 ºC Asam myristat 211 235 Asam palmitat 224 248 Asam stearat 243 263 Asam oleat 239 262 .

pada masing-masing tray terdapat live steam 0. .8 .DEODORIZER    Merupakan sebuah tanki yang berfungsi untuk menghilangkan komponen bau dan menguapkan FFA yang masih terkandung di dalam DBPO . Live steam bertujuan untuk mengaduk DBPO sehingga FFA dan komponen bau lebih mudah untuk teruapkan dan ditarik oleh vakum. Tanki ini memiliki 12 tray.1 bar.

.

provided with sparging steam arrangement.  The final product produce will be international quality with Minimum transacid contents. light sight glasses designed for continuous operation with provision for external oil heating system to deodorization by thermal oil / high pressure steam.DEODORIZER The Vertical Cylindrical vessel with trays in Stainless Steel construction.  .

complete with oil inlet distributor and steam distributor . light sight glasses designed for continuous operation with provision for external oil heating system to deodrization by thermal oil / high pressure steam.DEODORIZER WITH STRIPPING COLUMN The Cylindrical vessel with trays in Stainless Steel construction. Stripping Column Packed column with structured packing. for heat bleaching the oil provided with sparging steam arrangement. The final product produce will be international quality with Minimum transacid contents. . to evaporate free fatty acids and other unwanted volatile materials from oil.

000 kg dioperasikan pada kondisi vakum 2-3 torr.  Tanki deodorizer dengan kapasitas 27.  .Minyak yang masuk ke deodorizer masih memiliki suhu di atas 2500C sehingga selain komponen bau dan FFA. kandungan β-karoten juga pecah sehingga warna merah DBPO menjadi warna kuning jernih.

 Setelah RBDPO yang ditampung di dalam tanki mencapai high level.  .SPLASH OIL TANK Merupakan sebuah tanki dengan kapasitas 226 kg yang berfungsi untuk menampung RBDPO yang tumpah dari tray deodorizer yang dianggap belum mengalami proses deodorisasi dengan sempurna. RBDPO tersebut akan dipompa kembali menuju tray teratas yaitu tray 0 agar diproses dengan sempurna.

 Free Fatty Acid yang teruapkan akan dikondensasi oleh yang PFAD yang berbentuk liquid bersuhu 700C dengan cara dispray sehingga FFA terkondensasi dan akan ditampung ke dalam tanki PFAD.  Tanki ini dilengkapi dengan packing material yang berfungsi untuk memperlebar luas kontak permukaan DBPO sampai tidak terhingga sehingga FFA mudah menguap.  .PACKED COLUMN Merupakan sebuah tanki yang berfungsi untuk memisahkan FFA (Free Fatty Acid) yang terkandung di dalam DBPO dengan cara penguapan pada tekanan rendah dan temperatur tinggi.

.

.

APAKAH PACK COLUMN ITU? Definisi :  Suatu tangki proses untuk pengambilan FFA dari DBPO dengan cara:  Memperlebar luas kontak permukaan DBPO sampai tak terhingga sehingga mudah menguap  Suhu DBPO di atas 250 °C  Pada kondisi vacuum .

FFA yang menguap akan dikondensasikan dengan FFA yang didinginkan sehingga dihasilkan PFAD (Palm Fatty Acid Destillate).ADAPUN PROSESNYA SEBAGAI BERIKUT: DBPO dilewatkan ke deareator untuk menghilangkan gas O2 yang masih terikut didalamnya  DBPO dipanaskan pada suhu 260 – 265°C dengan menggunakan HPB (High Pressure Boiler)  DBPO dispray di pack column.  Dilanjutkan ke proses Deodorizing  . selain FFA menguap. ß – carotene juga pecah. sehingga warna merah DBPO menjadi warna kuning jernih.

 Karena FFA telah terurai menjadi aldehid dan keton Aldehid FFA + O2 Keton . dari Packed Column menuju ke Deodorizer untuk dihilangkan baunya (odor). Di dalam Packed Column berfungsi untuk menghilangkan FFA.

.  Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan packing yang terstruktur (pack-column) di atas deaerasi dan pemanasan minyak secara full adalah dengan mengalirkan minyak ke dalam stripping steam . Permukaan maksimum rasio volume dapat diperoleh dalam proses lapisan tipis.

Locating grid 7. Anchorage . Steam inlet 8. Packed column 1. structured packing 2. Skirt 11. liquid distributor 6. Circulation pipe to reboiler 10. liquid 4. feed pipe 5.20.Gambar 4. Column sump 9. support gird 3.

 Tipe packed column dirancang dengan ketinggian 4-8 m dan kapasitasnya mencapai 10.000 kg/jam.5 mbar per meter packing.m2 crosssection pada tekanan ini menurun sekitar 0.Tipe packing terstruktur (pack-column) secara umum digunakan sekitar 250 m2/m3. namun tidak memberikan jumlah yang panas yang besar untuk bleaching dan efektifitas deodorisasi karena waktu retensi yang relatif pendek.2-0.  Untuk selanjutnya.  Meskipun sistem ini memberikan pemisahan asam lemak yang bagus dengan minimum penggunaan steam.  . perlu difikirkan mengenai tabung retensi yang merupakan bagian dari sistem sebelum atau setelah lapisan tipis.

SCRUBBER .

.

TANKI PFAD  Merupakan tanki dengan kapasitas 4.000 kg yang berfungsi menampung PFAD (Palm Fatty Acid Destilate) hasil proses doedorisasi. Setelah PFAD yang ditampung mencapai high level maka PFAD akan dipompa menuju storage PFAD. .

aliaran air diatur dengan menggunakan regulator hingga suhu PFAD liquid mencapai 700C.PHE (PLATE HEAT EXCHANGER)  Plate Heat Exchanger yang digunakan yaitu Type Plate Cooler yang berfungsi untuk menurunkan suhu PFAD (Palm Fatty Acid Destilate) yang sudah terkondensasi. . Di dalam Plate cooler akan terjadi transfer panas antara PFAD cair dengan air bersuhu ± 280C.

16) lebih populer di pasaran. PENDINGINAN MINYAK Tekanan absolut yang diperoleh biasanya adalah 2-5 mbar.  Liquid ring pump digunakan pada langkah akhir dari sistem vakum untuk menghilangkan gas yang tidak terkondensasi. sehingga secara umum sistem vakum terdiri dari kombinasi steam-jet ejektor (booster).  Sistem kondensasi kering (Gambar 4. kondenser uap dan pompa vakum mekanis (liquid ring).  Unit produksi vakum spesial dikembangkan dengan tekanan dan biaya operasi yang lebih rendah dan pada waktu yang sama mampu menurunkan emisi dengan efisiensi kondensasi zat volatil yang lebih tinggi.  .LANGKAH 4.

 Kemudian RBDPO akan mengalami pendingin kedua yaitu dipompa menuju economizer.  . sehingga suhu RBDPO menjadi ± 900C.Refined Bleached Degummed Palm Oil yang dihasilkan dari tanki deodorizer akan di pompa menuju SHE dan mengalami proses pendinginan pertama dari temperatur ± 2500C menjadi ± 1200C.

 .  Di dalam plate cooler akan terjadi transfer panas RBDPO dengan air bersuhu 28-300C sehingga temperatur RBDPO 700C apabila dipompa menuju tanki crystallizer dan temperatur 55600C apabila dipompa menuju tanki storage RBDPO.PHE (PLATE HEAT EXCHANGER) Refined Bleached Degummed Palm Oil yang telah mengalami pendinginan pertama dan kedua akan dipompa menuju PHE type plate cooler dan mengalami pendinginan akhir.

1 kg/cm2.  Cartridge filter terdiri dari 18 cartridge yang memiliki ukuran masing-masing 10 micron dengan kapasitas 101 kg dan dioperasikan pada kondisi ∆P max 2.CARTRIDGE FILTER Merupakan filter akhir dari proses refinery yang berfungsi untuk menyaring impurities yang kemungkinan masih terikut di dalam produk.  .