You are on page 1of 26

Kestabilan Lereng Tambang

Klasik

Kartu Lipat

Majalah

Mozaik

Bilah Sisi

Cuplikan

Kronologis

1.
Aug
7

KESTABILAN LERENG TAMBANG
(SLOPE STABILITY OF MINING)

KESTABILAN LERENG PADA TAMBANG PERMUKAAN
(SLOPE STABILITY OF SURFACE MINING)

A. Pengantar Umum
Kestabilan dari suatu lereng pada kegiatan penambangan dipengaruhi oleh
kondisi geologi daerah setempat, bentuk keseluruhan lereng pada lokasi tersebut,
kondisi air tanah setempat, faktor luar seperti getaran akibat peledakan ataupun alat
mekanis yang beroperasi dan juga dari teknik penggalian yang digunakan dalam
pembuatan lereng. Faktor pengontrol ini jelas sangat berbeda untuk situasi
penambangan yang berbeda dan sangat penting untuk memberikan aturan yang
umum untuk menentukan seberapa tinggi atau seberapa landai suatu lereng untuk
memastikan lereng itu akan tetap stabil.
Apabila kestabilan dari suatu lereng dalam operasi penambangan meragukan,
maka analisa terhadap kestabilannya harus dinilai berdasarkan dari struktur geologi,
kondisi air tanah dan faktor pengontrol lainnya yang terdapat pada suatu lereng.
Kestabilan lereng penambangan dipengaruhi oleh geometri lereng, struktur
batuan, sifat fisik dan mekanik batuan serta gaya luar yang bekerja pada lereng
tersebut. Suatu cara yang umum untuk menyatakan kestabilan suatu lereng
penambangan adalah dengan faktor keamanan. Faktor ini merupakan perbandingan
antara gaya penahan yang membuat lereng tetap stabil, dengan gaya penggerak yang
menyebabkan terjadinya longsor.
Faktor keamanan (FK) lereng tanah dapat dihitung dengan berbagai metode.
Longsoran dengan bidang gelincir (slip Surface), F dapat dihitung dengan metode
sayatan (slice method) menurut Fellinius atau Bishop. Untuk suatu lereng dengan

Data mekanika tanah  Sudut geser dalam (ɸ)  Bobot isi tanah atau batuan (γ)  Kohesi (c)  Kadar air tanah (ω) c. pada lereng yang dipengaruhi oleh muka air tanah nilai F adalah sbb : . Data lereng atau geometri lereng (terutama diperlukan untuk membuat penampang lereng). Data yang diperlukan dalam suatu perhitungan sederhana untuk mencari nilai FK (Faktor keamanan lereng) adalah sebagai berikut : a. tinggi lereng dan lebar jalan angkut atau berm pada lereng tersebut. cara Fellinius dapat dibandingkan nilai faktor keamanannya dengan cara Bishop. . b.Beban alat mekanis yang beroperasi.penampang yang sama. Kadar air tanah (ω) diperlukan terutama dalam perhitungan yang menggunakan computer (terutama bila memerlukan data γ dry atau bobot satuan isi tanah kering. dll. Umumnya formula untuk menentukan Faktor Keamanan (FK) suatu lereng tambang. Meliputi : sudut Kemiringan lereng. Faktor Luar . Data mekanika tanah yang diambil sebaiknya dari sampel tanah yang tidak terganggu (Undisturb soil). yaitu : γdry = γ wet / ( 1 + ω).Getaran akibat kegiatan peledakan.

nilai F adalah sbb. Faktor Yang Mempengaruhi Kestabilan Lereng . kN/m3) B.: Dimana : c = kohesi (kN/m2) ɸ = sudut geser dalam (derajat) α = sudut bidang gelincir pada tiap sayatan (derajat) µ = tekanan air pori (kN/m2) l = panjang bidang gelincir pada tiap sayatan (m).Pada lereng yang tidak dipengaruhi oleh muka air tanah. L = jumlah panjang bidang gelincir µi x li = tekanan pori di setiap sayatan (kN/m) W = luas tiap bidang sayatan (M2) x bobot satuan isi tanah (γ.

b.Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menganalisa kestabilan lereng penambangan adalah sebagai berikut : (Ir.1. Bobot isi tanah atau batuan Nilai bobot isi tanah atau batuan akan menentukan besarnya beban yang diterima pada permukaan bidang longsor. Kohesi . Kuat Geser Tanah atau Batuan Kekuatan yang sangat berperan dalam analisa kestabilan lereng terdiri dari sifat fisik dan sifat mekanik dari batuan tersebut. Sifat fisik batuan yang digunakan dalam menganalisa kemantapan lereng adalah bobot isi tanah (). Diklat Perencanaan Tambang Terbuka. dinyatakan dalam satuan berat per volume. kondisi kering (d) dan Bobot isi pada kondisi basah (w). B. a. Bobot isi batuan juga dipengaruhi oleh jumlah kandungan air dalam batuan tersebut. Karyono M. Bobot isi diketahui dari pengujian laboratorium.T. Nilai bobot isi batuan untuk analisa kestabilan lereng terdiri dari 3 parameter yaitu nilai Bobot isi batuan pada kondisi asli (n). Semakin besar bobot isi pada suatu lereng tambang maka gaya geser penyebab kelongsoran akan semakin besar. Unisba). Kekuatan geser batuan ini adalah kekuatan yang berfungsi sebagai gaya untuk melawan atau menahan gaya penyebab kelongsoran. sedangkan sifat mekaniknya adalah kuat geser batuan yang dinyatakan dengan parameter kohesi (c) dan sudut geser dalam ().

Nilai kohesi (c) diperoleh dari pengujian laboratorium yaitu pengujian kuat geser langsung (direct shear strength test) dan pengujian triaxial (triaxial test). dinyatakan dalam satuan berat per satuan luas. Semakin besar sudut geser dalam suatu material maka material tersebut akan lebih tahan menerima tegangan luar yang dikenakan terhadapnya.Kohesi adalah gaya tarik menarik antara partikel dalam batuan. Kohesi batuan akan semakin besar jika kekuatan gesernya makin besar. c. Untuk mengetahui nilai kohesi dan sudut geser dalam. dinyatakan dalam persamaan berikut : τnt = σn tan  + c Dimana : τnt = σn =  = c = tegangan geser tegangan normal sudut geser dalam kohesi Prinsip pengujian direct shear strength test atau juga dikenal dengan shear box test adalah menggeser langsung contoh tanah atau batuan di bawah kondisi beban normal tertentu. Sudut geser dalam adalah sudut rekahan yang dibentuk jika suatu material dikenai tegangan atau gaya terhadapnya yang melebihi tegangan gesernya. sementara untuk tanah dapat dilakukan . Pergeseran diberikan terhadap bidang pecahnya. Sudut geser dalam () Sudut geser dalam merupakan sudut yang dibentuk dari hubungan antara tegangan normal dan tegangan geser di dalam material tanah atau batuan.

pergeseran secara langsung pada conto tanah tersebut. x X = Pembacaan Dial Dari perhitungan-perhitungan tersebut diperoleh harga tegangan geser (τnt) dan tegangan normal (σn) yang kemudian diplotkan pada grafik dengan kuat geser sebagai ordinat dan tegangan normal sebagai absis. . Hubungan tegangan geser (τnt) dan tegangan normal (σn) dapat dilihat pada gambar 3. Dari grafik tersebut diperoleh kurva kekuatan geser massa batuan yaitu harga kohesi (c) dan harga sudut geser dalamnya (). berikut. Untuk perhitungan dalam pengujian di laboratorium digunakan rumusrumus perhitungan sebagai berikut :  Tegangan geser:  Tegangan normal (normal stress) : Dimana : τnt σn P A H = Tegangan Geser = Tegangan Normal = Beban normal = Luas silinder sampel direct shear test = Kalibrasi Directian = 0.1.45 . Beban normal yang diberikan diupayakan mendekati kondisi sebenarnya di lapangan.

Mayor discontinuity. Minor discontinuity. 2. . Struktur geologi Keadaan struktur geologi yang harus diperhatikan pada analisa kestabilan lereng penambangan adalah bidang-bidang lemah dalam hal ini bidang ketidakselarasan (discontinuity). Ada dua macam bidang ketidakselarasan yaitu : 1. Hubungan tegangan geser (nt) dan tegangan normal (n) B. seperti kekar dan bidang-bidang perlapisan.2.Gambar a. seperti kekar dan patahan.

baik itu lereng tunggal (Single slope) maupun lereng keseluruhan (overall slope). Suatu lereng disebut lereng tunggal (Single slope) jika dibentuk oleh satu jenjang saja dan disebut keseluruhan (overall slope) jika dibentuk oleh beberapa jenjang.Struktur geologi ini merupakan hal yang penting di dalam analisa kemantapan lereng karena struktur geologi merupakan bidang lemah di dalam suatu masa batuan dan dapat menurunkan atau memperkecil kestabilan lereng. .3. kemiringan lereng dan lebar berm (b). B. Geometri lereng Geometri lereng yang dapat mempengaruhi kestabilan lereng meliputi tinggi lereng.

maka lereng tersebut akan semakin tidak stabil. Iklim Iklim berpengaruh terhadap kestabilan lereng karena iklim mempengaruhi perubahan temperatur. Geometri lereng tambang Lereng yang terlalu tinggi akan cenderung untuk lebih mudah longsor dibanding dengan lereng yang tidak terlalu tinggi dan dengan jenis batuan penyusun yang sama atau homogen. kondisi ini menjadikan kekuatan batuan menjadi rendah dan batuan juga akan menerima tambahan beban air yang dikandung. oleh karena itu singkapan batuan pada lereng di daerah tropis akan lebih cepat lapuk dan ini akan mengakibatkan lereng mudah tererosi dan terjadi kelongsoran. Demikian pula dengan sudut lereng. Sedangkan semakin besar lebar berm maka lereng tersebut akan semakin stabil. Gaya luar . B.4.6. sehingga menjadikan lereng lebih mudah longsor. Temperatur yang cepat sekali berubah dalam waktu yang singkat akan mempercepat proses pelapukan batuan. Untuk daerah tropis pelapukan lebih cepat dibandingkan dengan daerah dingin. B5. semakin besar sudut kemiringan lereng.Gambar b. B. Tinggi muka air tanah Muka air tanah yang dangkal menjadikan lereng sebagian besar basah dan batuannya mempunyai kandungan air yang tinggi.

Made Astawa Rai. Ir. Jejak bagian bawah bidang lemah yang menjadi bidang luncur dapat dilihat di muka lereng.4) berikut : - Bidang luncur mempunyai arah yang tidak berbentuk lingkaran.1. longsoran baji (wedge failure). Dr. Bidang luncur tersebut dapat berupa rekahan. Longsoran Bidang (plane failure) Longsoran bidang merupakan suatu longsoran batuan yang terjadi disepanjang bidangluncur yang dianggap rata. dengan kata lain kemiringan bidang . (1998) “Laboratorium Geoteknik. yaitu : longsoran bidang (plane failure). C. longsoran guling (toppling failure) dan longsoran busur (circular failure). dll.Gaya luar yang mempengaruhi kestabilan lereng penambangan adalah beban alat mekanis yang beroperasi diatas lereng. getaran yang diakibatkan oleh kegiatan peledakan. Klasifikasi Kelongsoran Jenis atau bentuk longsoran tergantung pada jenis material penyusun dari suatu lereng dan juga struktur geologi yang berkembang di daerah tersebut. Syarat-syarat terjadinya longsoran bidang adalah (Gambar 3. C. Pusat Ilmu Rekayasa Antar Universitas ITB Bandung. Longsoran pada kegiatan pertambangan secara umum diklasifikasikan menjadi empat bagian. maka jenis longsorannya pun akan berbeda pula. Karena batuan mempunyai sifat yang berbeda. sesar maupun bidang perlapisan batuan.

- gelincir lebih kecil dari kemiringan lereng. Longsoran bidang . Gambarc. Terdapat bidang bebas pada kedua sisi longsoran. Kemiringan bidang luncur lebih besar dari pada sudut geser - dalamnya.

longsoran baji juga diakibatkan oleh adanya struktur geologi yang berkembang. Longsoran terjadi menurut garis potong kedua bidang tersebut.2. Perbedaannya adalah adanya dua struktur geologi (dapat sama jenis atau berbeda jenis) yang berkembang dan saling berpotongan.C. . Syarat terjadinya longsoran baji adalah sebagai berikut : - Longsoran baji ini terjadi bila dua buah jurus bidang diskontinyu - saling berpotongan pada muka lereng Sudut garis potong kedua bidang tersebut terhadap horizontal (i) lebih besar dari pada sudut geser dalam () dan lebih kecil dari - pada sudut kemiringan lereng (i). Longsoran Baji (wedge failure) Sama halnya dengan longsoran bidang.

LongsoranBaji .Gambard.

Longsoran Guling (toppling failure) Longsoran guling terjadi pada lereng terjal untuk batuan yang keras dengan bidang-bidang lemah tegak atau hampir tegak dan arahnya berlawanan dengan arah kemiringan lereng. .C. Kondisi untuk menggelincir atau mengguling ditentukan oleh sudut geser dalam dan kemiringan sudut bidang gelincirnya. Kelongsoran guling pada suatu lereng diasumsikan sebagai berikut. suatu balok dengan tinggi h dan lebar dasar balok b terletak pada bidang miring dengan sudut kemiringan sebesar  yang gambarkan dibawah ini.3.

.

artinya material pada lereng tersebut akan menggelincir dan mengguling (Tidak Aman) - Jika  <  dan b/h < tan . artinya material pada lereng tersebut akan menggelincir (Tidak Aman) - Jika  >  dan b/h < tan .4. balok akan menggelincir dan mengguling.Gambar e. artinya material pada lereng tersebut akan langsung mengguling atau terjadi longsoran guling (Tidak Aman). Kriteria terjadinya longsoran guling Dari gambar diatas terdapat empat kondisi yaitu : - Jika  <  dan b/h > tan . - Jika  >  dan b/h > tan . balok akan menggelincir. C. balok akan langsung mengguling. balok dalam kondisi stabil. Longsoran Busur (circular failure) . artinya lereng tersebut dalam kondisi Aman.

Gambarf. terutama pada tanah dan batuan yang telah mengalami pelapukan sehingga hampir menyerupai tanah. Pada batuan yang keras longsoran busur hanya dapat terjadi jika batuan tersebut sudah mengalami pelapukan dan mempunyai bidan-bidang lemah (rekahan) dengan jarak yang sangat rapat kedudukannya. Dengan demikian longsoran busur juga terjadi pada batuan yang rapuh atau lunak serta banyak mengandung bidang lemah. maupun pada tumpukan batuan yang hancur.Longsoran busur merupakan longsoran yang paling umum terjadi di alam. LongsoranBusur .

Metode Analisis Kestabilan Lereng Ada beberapa cara yang dapat dipakai untuk melakukan analisis kestabilan lereng. baik untuk lereng batuan maupun lereng tanah.D. .

Pada umumnya jumlah potongan minimum yang digunakan adalah lima potongan untuk menganalisis kasus yang sederhana. Pemilihan metode bishop ini dikarenakan lapisan tanah dilokasi adalah lapisan tanah yang tidak terlalu keras atau lunak dan berpotensi membentuk longsoran berbentuk busur lingkaran atau circular failure slope. Tahap selanjutnya dalam proses analisis adalah membagi massa material di atas bidang longsor menjadi beberapa elemen atau potongan. Pertama yang harus diketahui adalah geometri dari lereng dan juga titik pusat busur lingkaran bidang luncur. aplikasi program GeoStudio 2004 – Slope/W. D. Berikut dijelaskan aplikasi metode bishop dalam menganalisa kestabilan lereng tambang.Metode yang dibahas pada tulisan ini yaitu metode Bishop (Bishop method). Metode Bishop mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran atau circular. . Metode Bishop Metode ini digunakan dalam menganalisa kestabilan lereng dengan memperhitungkan gaya-gaya antar irisan yang ada dan memperhitungkan komponen gaya-gaya (horizontal dan vertikal) dengan memperhatikan keseimbangan momen dari masing-masing potongan.1. Untuk profil lereng yang kompleks atau yang terdiri dari banyak material yang berbeda. jumlah elemen harus lebih besar.

Elemen Gaya yang bekerja menurut Metode Bishop .Gambar g.

tegangan vertikal yang merupakan perkalian antara tinggi h dan berat jenis tanah atau batuan ().Faktor keamanan untuk metode Bishop dapat dirumuskan sebagai berikut : dimana : W = berat segmen tanah C = kohesi tanah Ө = sudut antara bidang horizontal dengan segmen bidang longsor ɸ = sudut geser dalam b = lebar horizontal segmen Parameter yang mutlak dimiliki untuk tiap-tiap elemen adalah kemiringan dari dasar elemen yaitu sebesar . .

Program GeoStudio 2004 . Seandainya nilai faktor keamanan yang didapat dari perhitungan mempunyai selisih lebih besar dari 0.Slope/W membuatnya mampu menganalisis dengan mudah kasus stabilitas lereng baik yang sederhana maupun yang kompleks dengan menggunakan metode variasi dalam perhitungan faktor keamanannya. . Proses selanjutnya adalah interasi faktor keamanan. Masukkan asumsi faktor keamanan = 1.00 untuk memecahkan persamaan faktor keamanan. Disamping parameter tersebut kuat geser dan kohesi juga diperlukan di dalam perhitungan. Demikian seterusnya hingga perbedaan antara ke dua F kurang dari 0. E.Slope/W merupakan suatu program (software) yang menggunakan teori keseimbangan batas untuk menghitung faktor keamanan dari lereng suatu lereng. Formulasi yang komprenhensif dari GeoStudio 2004 .001 terhadap faktor keamanan yang diasumsikan. maka perhitungan diulang dengan memakai faktor keamanan hasil perhitungan sebagai asumsi kedua dari F. dan F yang terakhir tersebut adalah faktor keamanan yang paling tepat dari bidang longsor yang telah dibuat.001.Slope/W GeoStudio 2004 .tekanan air yang dihasilkan dari perkalian antara tinggi muka air tanah dari dasar elemen (hw) dan berat jenis air (w) dan kemudian lebar elemen (b).

FK < 1. Secara sistematis faktor keamanan suatu lereng dapat ditulis dengan rumus sebagai berikut : Dengan ketentuan. Perbandingan antara gaya-gaya penahan terhadap gaya-gaya yang menggerakkan tanah inilah yang disebut dengan faktor keamanan (FK) lereng penambangan.GeoStudio 2004 .0 : Lereng dalam kondisi stabil.0 : Lereng tidak stabil.Slope/W dapat diterapkan pada analisa dan perancangan dalam bidang geoteknik. F. sipil dan pertambangan. . FK = 1. jika : FK > 1. Di bidang pertambangan program ini sangat cocok digunakan untuk menganalisa kestabilan lereng baik pada rencana desain lereng penambangan. kestabilan lereng tergantung pada gaya penggerak dan gaya penahan yang bekerja pada bidang gelincir tersebut. Faktor Keamanan (FK) Lereng Minimum Kelongsoran suatu lereng penambangan umumnya terjadi melalui suatu bidang tertentu yang disebut dengan bidang gelincir (slip surface). Gaya penahan (resisting force) adalah gaya yang menahan agar tidak terjadi kelongsoran. lereng produksi penambangan maupun untuk lereng penimbunan material hasil penambangan.0 : Lereng dalam kondisi kritis. sedangkan gaya penggerak (driving force) adalah gaya yang menyebabkan terjadinya kelongsoran.

FK < 1. tinggi muka air tanah pada lereng tersebut. FK > 1. <1. getaran akibat kegiatan peledakan di lokasi penambangan.25. seperti kekurangan dalam pengujian conto di laboratorium serta conto batuan yang diambil belum mewakili keadaan sebenarnya di lapangan. Hal ini disebabkan karena ada beberapa faktor yang perlu diperhitungkan dalam analisa faktor keamanan lereng penambangan.00 belum dapat menjamin bahwa lereng tersebut dalam keadaan stabil. Sehingga pada penelitian ini. faktor keamanan minimum yang digunakan adalah FK ≥ (sama dengan atau lebih besar) dari 1.07 .Mengingat banyaknya faktor yang mempengaruhi tingkat kestabilan lereng penambangan maka hasil analisa dengan FK = 1. Dengan demikian. sesuai prosedur dari Joseph E.25 : Lereng dalam kondisi Aman. diperlukan suatu nilai faktor keamanan minimum dengan suatu nilai tertentu yang disarankan sebagai batas faktor keamanan terendah yang masih aman sehingga lereng dapat dinyatakan stabil atau tidak.07 : Lereng dalam kondisi Tidak Aman. Bowles (2000). Diposkan 7th August 2013 oleh bonaventura alves mangubali 0 Tambahkan komentar . dll. Dengan ketentuan : FK ≥ 1.25 : Lereng dalam kondisi kritis. beban alat mekanis yang beroperasi.

.Memuat Template Dynamic Views. Diberdayakan oleh Blogger.