BAB 7

A. Ayat Tentang Musyawarah (Demokrasi)
َ ‫َّللاِ ِن ُْدَ نَ ُٓ ْى َٔنَ ْٕ ُك ُْدَ فَ ًّظا‬
‫ ْاْلَ ْي ِش‬ِٙ‫عرَ ْْ ِف ْش َن ُٓ ْى َََٔا ِٔ ْس ُْ ْى ف‬
َ ‫ْف‬
ْ ‫ػ ُْ ُٓ ْى َٔا‬
‫فَثِ ًَا َسدْ ًَ ٍح ِيٍَ ه‬
ُ ‫ة ََل َْ َفضُّٕا ِي ٍْ د َْٕ ِنكَ َفاػ‬
ِ ‫ َع ا ْن َق ْه‬ٛ‫غ ِه‬
)951 ٌ‫ٍَ ( أل ػًشا‬ٛ‫ة ا ْن ًُرَ َٕ ِ ّك ِه‬
َ ‫فَ ِئرَا ػ ََض ْيدَ فَر َ َٕ هك ْم‬
ُّ ‫ُ ِذ‬ٚ َ‫َّللا‬
‫َّللاِ ِإٌه ه‬
‫ػ َهٗ ه‬

1.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu
ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu .
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya(ali imran ayat 159)
Makna mufrodat: Musyawarah

Istilah “musyawarah” berasal dari kata musyawarah. Ia adalah bentuk masdar dari kata syâwara – yusyâwiru yakni
dengan akar kata syin, waw,dan ra‟ dalam pola fa‟ala. Struktur akar kata tersebut bermakna pokok “ Menampakkan dan
menawarkan sesuatu” dan “mengambil sesuatu “ dari kata terakhir ini berasal ungkapan syâwartu fulânan fi amrî: “
Quraish syihab menyebutkan dalam tafsirnya, akar kata musyawarah terambil dari kata ‫(ش٘س‬
)syawara yang pada mulanya bermakna “mengeluarkan madu dari sarang lebah”. Makna ini kemudian berkembang,
sehingga mencakup segala sesuatu yang dapat diambil / di keluarkan dari yang lain ( termasuk pendapat). Orang yang
bermusyawarah bagaikan orang yang minum madu.
Dari makna dasarnya ini diketahui bahwa lingkaran musyawarah yang terdiri dari peserta dan pendapat yang akan
disampaikan adalah lingkaran yang bernuansa kebaikan. Peserta musyawarah adalah bagaikan lebah yang bekerja
sangat disiplin, solid dalam bekerja sama dan hanya makan dari hal- hal yang baik saja ( disimbolkan dengan kembang),
serta tidak melakukan gangguan apalagi merusak dimanapun ia hinggap dengan catatan ia tidak diganggu. Bahkan
sengatannya pun bisa menjadi obat. Sedangkan isi atau pendapat musyawarah itu bagaikan madu yang dihasilkan oleh
lebah. Madu bukan hanya manis tapi
juga menjadi obat dan karenanya menjadi sumber kesehatan dan kekuatan. Itulah hakekat dan semangat sebenarnya
dari musyawarah. Karenanya kata tersebut tidak digunakan kecuali untuk hal- hal yang baik- baik saja.
Dalam Al- Qur‟an terdapat empat kata yang berasal dari kata kerja syâwara, yakniasyâra “ memberi
isyarat”, tasyâwur ( berembuk saling menukar pendapat), syâwir ” mintalah pendapat”, dan syara “ dirembukkan”. Dua
kata terakhir ini relevan dengan kehidupan politik atau kepimimpinan.
2. Asbabun Nuzul
Perintah bermusyawarah pada ayat diatas turun setelah peristiwa menyedihkan pada perang Uhud, ketika itu menjelang
pertempuran, Nabi mengumpulkan sahabat- sahabatnya untuk memusyawarahkan bagaimana sikap menghadapi musuh
yang sedang dalam perjalanan dari makkah ke madinah. Nabi cenderung untuk bertahan dikota Madinah, dan tidak
keluar menghadapi musuh yang datang dari makkah. Sahabat- sahabat beliau terutama kaum muda yang penuh
semangat mendesak agar kaum muslim dibawah pimpinan Nabi Saw atau keluar menghadapi musuh. Pendapat mereka
itu mendapat dukungan mayoritas, sehingga Nabi menyetujuinya. Tetapi, peperangan berakhir dengan gugurnya para
sahabat yang jumlahnya tidak kurang dari tujuh puluh orang.
Konteks turunnya ayat ini, serta kondisi psikologis yang dialami Nabi dan sahabat beliau amat perlu digaris bawahi
untuk melihat bagaimana pandangan Al- Qur‟an tentang musyawarah.
Ayat ini seakan – akan berpesan kepada Nabi, bahwa musyawarah harus tetap dipertahankan dan dilanjutkan. Walaupun
terbukti pendapat yang mereka putuskan keliru. Kesalahan mayoritas lebih dapat ditoleransi dan menjadi tanggung
jawab bersama, dibandingkan dengan kesalahan seseorang meskipun diakui kejituan pendapatnya sekalipun[1][2].
Sebagaimana sebuah ungkapan:

‫ٍا خاب ٍِ استشاس ٗال ّذً ٍِ استخاس‬, “ takkan kecewa orang yang memohon petunjuk ( kepada Allah) tentang pilihan
yang terbaik, dan tidak juga akan menyesal seseorang yang melakukan musyawarah.”[2][3]
3. Kandungan Ayat
Ayat yang menjadi pembahasan mengenai musyawarah yaitu QS Ali Imran (3): 159, turun setelah peristiwa perang uhud.
Sebelum perang dilakukan, nabi mengajak para sahabatnya untuk musyawarah tentang bagaimana menghadapi musuh.
Pada musyawarah tersebut, nabi mengikuti pendapat mayoritas sahabat, meskipun ternyata hasilnya sungguh sangat
menyedihkan karena berakhir dengan kekalahan kaum muslimin. Setelah kejadian itulah nabi memutuskan untuk
menghapus musyawarah. Namun dengan turunnya ayat ini, Allah berpesan kepada nabi bahwa tradisi musyawarah
tetap harus dipertahankan dan dilanjutkan meski terbukti hasil keputusannya ( kadang ) keliru.[3][4]
Dari ayat tersebut, dapat diambil empat sikap ideal ketika dan setelah melakukan musyawarah:
1. Sikap lemah lembut. Seseorang yang melakukan musyawarah, apalagi pemimpin harus menghindari tutur kata yang
kasar serta sikap keras kepala.
2. Memberi maaf dan membuka lembaran baru. Sikap ini harus dimiliki peserta musyawarah, sebab tidak akan berjalan
baik, kalau peserta masih diliputi kekeruhan hati apalagi dendam.
3. Memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan yang dalam ayat itu dijelaskan dengan permohonan ampunan
kepada- Nya. Itulah sebabnya yang harus mengiringi musyawarah adalah permohonan maghfiroh dan ampunan Ilahi,
sebagai mana ditegaskan oleh pesan ‫عر َ ْْ ِف ْش نَ ُٓ ْى‬
ْ ‫َٔا‬
4. Setelah selesai semuanya harus diserahkan kepada Allah, yaitu tawakkal
Beberapa sikap tersebut ideal namun sekaligus berat. Fakhrudin Ar-Razi menangkap beberapa sikap positif dalam
musyawarah
1. Musyawarah merupakan bentuk penghargaan terhadap orang lain dan karenanya menghilangkan anggapan
paternalistik bahwa orang lain itu rendah
2. Meskipun nabi adalah pribadi sempurna dan cerdas, namun sebagai manusia ia memiliki kemampuan yang terbatas.
Karenanya beliau sendiri menganjurkan dalam sabdanya” tidak ada satu kaum yang bermusyawarah yang tidak
ditunjuki kearah penyelesaian terbaik perkara mereka‟‟.
3. Menghilangkan buruk sangka. Dengan musyawarah prasangka terhadap orang lain menjadi tereliminasi.
4. Mengeliminasi beban psikologis kesalahan. Kesalahan mayoritas dari sebuah hasil musyawarah menjadi tanggung
jawab bersama dan lebih bisa ditoleransi dari pada kesalahan keputusan individu. Hal- hal positif muncul karena
musyawarah menghasilkan masyurah: pendapat, nasihat, dan pertimbangan
4. Munasabah Ayat
QS Ali Imran (3): 159 merupakan satu diantara tiga ayat yang secara langsung menjelaskan tentang musyawarah. Dua
ayat lainnya adalah :
Al baqarah (2:233) ‫ػهَٗ ا ْن ًَ ْٕنُٕ ِد نَُّ ِس ْصقُ ٍُٓه‬
َ َٔ َ‫انشضَاػَح‬
ِ ‫ ٍِْ ك‬َٛ‫ُ ْش ِض ْؼٍَ أَ ْٔ ََل َدٍُْه د َْٕن‬ٚ ُ‫َٔا ْن َٕا ِنذَاخ‬
‫ُرِ هى ه‬ٚ ٌْ َ ‫ ٍِْ ِن ًَ ٍْ أ َ َسا َد أ‬َٛ‫َايه‬
‫ز ِيصْ ُم رَ ِنكَ فَ ِئ ٌْ أَ َسادَا‬
َ َٔ ِِ ‫َاس َٔا ِن َذجٌ ِت َٕ َن ِذ َْا َٔ ََل َي ْٕنُٕ ٌد نَُّ ِت َٕ َن ِذ‬
ِ ‫ػهَٗ ا ْن َٕ ِاس‬
ْ ُٔ ‫ظ ِإ هَل‬
ْ ‫َٔ ِك‬
ِ ‫غ َٕذ ُ ٍُٓه ِتا ْن ًَ ْؼ ُش‬
ُ ‫ٔف ََل ذ ُ َكهه‬
‫ع َؼَٓا ََل ذُض ه‬
ٌ ‫ف ََ ْف‬
َ
َ
َ
َ
َ
‫فِص ا‬
‫رُ ْى‬ْٛ َ‫عهه ًْر ُ ْى َيا َذ‬
َ ‫غر َ ْش ِضؼُٕا أ ْٔ ََل َد ُك ْى ف ََل ُجَُا َح‬
َ ‫َأ ٍس ف ََل ُج َُا َح‬
ٍ ‫َاَل ػ ٍَْ ذ َ َش‬
ْ َ‫ ِْٓ ًَا َٔإِ ٌْ أ َس ْدذ ُ ْى أ ٌْ ذ‬َٛ‫ػه‬
َ ‫ ُك ْى إِرَا‬ْٛ َ‫ػه‬
ُ ‫اض ِي ُْ ُٓ ًَا َٔذَش‬
َ
ْ
َ
ُ
ُ
)322( ‫ش‬ٛ
ِ ‫تِان ًَ ْؼ ُش‬
‫َّللاَ َٔا ْػه ًُٕا أٌه ه‬
‫ٔف َٔاذهقٕا ه‬
ٌ ‫َّللاَ تِ ًَا ذَ ْؼ ًَهٌَٕ تَ ِص‬
Yang menjelaskan tentang bagaimana seharusnya hubungan suami istri saat mengambil keputusan yang berkaitan
dengan rumah tangga dan anak- anak seperti dalam ayat ini tentang menyapih anak. Ayat ini sebagai petunjuk agar
persoalan – persoalan rumah tangga dimusyawarahkan bersama antara suami dan istri.
Ayat yang senada dengan ayat tersebut adalah : ٖ‫غر ُْش ِض ُغ نَُّ أ ُ ْخ َش‬
َ َ‫ع ْشذ ُ ْى ف‬
َ ‫َُ ُك ْى ِت ًَ ْؼ ُشٔفٍ َٔ ِإ ٌْ ذ َ َؼا‬ْٛ ‫( َٔأْذ َ ًِ ُشٔا َت‬Attalaq , 65:
ْ
6) meskipun dengan menggunakan ‫( َٔأذَ ًِ ُشٔا‬berembuklah) yang kemudian melahirkan kata „ muktamar‟
Ayat lainnya adalah : Dalam surat As-syura (42:38) ‫َُ ُٓ ْى َٔ ِي هًا‬ْٛ َ‫ُٕسٖ ت‬
ْ ‫ٍَ ا‬ٚ‫َٔانه ِز‬
َ َ ‫عرَجَاتُٕا ِن َشتِّ ِٓ ْى َٔأ َ َقا ُيٕا انص َهَلجَ َٔأَ ْي ُش ُْ ْى‬
ٌَُٕ‫ُ ُْ ِفق‬ٚ ‫ َس َص ْق َُا ُْ ْى‬yang menjelaskan tentang keadaan kaum muslim madinah yang bersedia membela nabi sebagai hasil
kesepakatan dari proses musyawarah. Dalam ayat itu, musyawarah sudah menjadi tradisi masyarakat dalam
memutuskan segala perkara mereka.
QS Ali Imran (3: 159) memiliki munasabah yang erat dengan QS. Al- Syuraa(42: 38) yang sama- sama berbicara tentang
musyawarah. Sikap dan perangai Nabi tersebut harus dicontoh umatnya, terutama ketika mereka bermusyawarah

dalam upaya mengatasi persoalan yang mereka hadapi. Baik persoalan tersebut menyangkut masalah pemerintah
dalam skop luas maupun persoalan rumah tangga dalam skop yang lebih kecil seperti yang ditegaskan dalam QS al
Baqarah(2: 233)

B. hadist pokok sesuai tema

َ‫ َذج‬ْٛ َ‫ػث‬
ُ ِٙ‫َحَ ػ ٍَْ ْاْل َ ْػ ًَ ِش ػ ٍَْ ػ ًَْ ِشٔ ْت ٍِ ُي هشجَ ػ ٍَْ أَت‬ِٚٔ ‫َد هذشََُا َُْها ٌد َد هذشََُا أَتُٕ ُيؼَا‬
َ ‫َّللاِ قَا َل نَ هًا ك‬
ِّ ْٛ َ‫ػه‬
َ ُ‫َّللا‬
َ ٍَْ ‫ػ‬
َ ِ‫َّللا‬
َ ُ ‫ َء ِت ْاْل‬ٙ‫َ ْٕ ُو تَذ ٍْس َٔ ِج‬ٚ ٌ‫َا‬
‫صههٗ ه‬
‫عٕ ُل ه‬
ُ ‫اسٖ قَا َل َس‬
‫ػ ْث ِذ ه‬
َ ‫ع‬
َ ُ‫عهه َى َيا ذَقُٕن‬
ُٕ‫هَحا قَا َل أَت‬ِٕٚ ‫س َط‬
ِ ِٚ‫ َْزَا ا ْن َذذ‬ِٙ‫صحا ف‬
‫اسٖ فَزَك ََش قِ ه‬
َ ُ ‫ َْؤ ََُل ِء ْاْل‬ِٙ‫ٌٕ ف‬
َ َٔ
َ ‫ع‬
ٌ ‫ َشجَ َٔ َْزَا َدذ‬ْٚ ‫ ُْ َش‬ٙ‫ٕب َٔأَََ ٍظ َٔأ َ ِت‬
ٌٍ ‫غ‬
ُ ٍَْ ‫ ا ْنثَاب ػ‬ِٙ‫غٗ َٔف‬
َ ‫س َد‬ِٚ
َ ٛ‫ِػ‬
َ َُّٚ‫ أ‬ِٙ‫ػ ًَ َش َٔأَت‬
‫ْدُ أ َ َدذاا أ َ ْكص َ َش‬َٚ‫ َشجَ قَا َل َيا َسأ‬ْٚ ‫ ُْ َش‬ٙ‫ُ ْش َٖٔ ػ ٍَْ أ َ ِت‬َٚٔ ِّ ٛ‫غ ًَ ْغ ِي ٍْ أ َ ِت‬
ُ ُٕ‫َٔأَت‬
ْ َٚ ‫ َذجَ نَ ْى‬ْٛ ‫ػ َث‬
‫عهه َى‬
َ ُ‫َّللا‬
ْ َ ‫ُٕسجا ِْل‬
َ ِ‫َّللا‬
َ َٔ ِّ ْٛ َ‫ػه‬
‫صههٗ ه‬
‫عٕ ِل ه‬
ُ ‫ص َذا ِت ِّ ِي ٍْ َس‬
َ ‫َيش‬
Telah menceritakan kepada kami Hannad berkata, telah menceritakan kepada kamiAbu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Amru bin
Murrah dari Abu Ubaidah dari Abdullah ia berkata, "Ketika perang badar usai dan para tawanan didatangkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda: "Apa pendapat kalian mengenai pata tawanan itu…lalu perawi menyebutkan kisah yang panjang dalam hadits ini." Abu Isa
berkata, "Dalam bab ini juga ada hadits dari Umar, Abu Ayyub, Anas dan Abu Hurairah. Dan hadits ini derajatnya hasan. Abu Ubaidah belum
pernah mendengar dari bapaknya. Telah diriwayatkan pula dari Abu Hurairah, ia berkata, "Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling
sering bermusyawarah dengan para sahabat selain dari pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." (H.R Tirmidzi)

Hadist terkait : 1) Hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah

)ّ‫ّ (اتٍ ياج‬ٛ‫غش ػه‬ٛ‫إإرا اعرشا أدذكى أخاِ فه‬
Apabila salah seorang kamu meminta bermusyawarah dengan saudaranya, maka penuhilah. (HR. Ibnu Majah)
2) Hadits yang diriwayatkan Ath-Thabrani

)َٗ‫ٍ َٔل ذجؼهَّٕ تشأ٘ خاصح (انطثشا‬ٚ‫ذشأسٔا انفقٓاء ٔانؼاتذ‬
Bermusyawarahlah kalian dengan para ahli (fiqih) dan ahli ibadah, dan janganlah hanya mengandalkan pendapat otak
saja (HR. Ath-Thabrani)
3) Hadits yang diriwayatkan Ahmad

‫ تٗ تكش ٔ ػًش نٕاجرًؼًُا فٗ يشٕسج‬ِٜ ‫ّ ٔ عهى‬ٛ‫قال سعٕل هللا ص ّم هللا ػه‬
)‫ أدًذ‬.‫يااخرهفركًا (س‬
Telah bersabda Rasulullah SAW. Kepada Abu Bakar dan Umar: “Apabila kalian berdua sepakat dalam musyawarah, maka
aku tidak akan menyalahi kamu berdua(HR. Ath-Thabrani)
4) Hadits yang diriwayatkan Tirmidzi

‫ّ ٔ عهى‬ٛ‫د أدذا أكصش يشٕسج َِلصذاتّ يٍ سعٕل هللا ص ّم هللا ػه‬ٚ‫يا ساء‬

Saya tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak musyawarah dengan sahabatnya dibanding Rasulullah SAW.
(HR. Tirmidzi)
Tujuan dan Manfaat Musyawarah
A) Tujuan Musyawarah

1. Menghasilkan pendapat-pendapat dan jalan keluar untuk dapat sampai kepada penyelesaian dalam bentuk yang
paling utama.
2. Jaminan penjagaan atas kebaikan-kebaikan umum, dan tidak tersia-sianya hak-hak manusia jika direalisasikan
dengan bentuk yang sempurna.
3. Merealisasikan keadilan di antara manusia.
4. Kemampuan musyawarah untuk menyerap perselisihan-perselisihan, menjaga dari kegoncangan yang terkadang
dihasilkan karena perbedaan pendapat.
B) Manfaat Musyawarah

‫ ٔيقذاس انذة ٔاإلخَلص نهًصانخ‬، ‫ش انؼقٕل ٔاْلفٓاو‬ٚ‫ٍ يقاد‬ٛ‫(ٔ) إَٓا ذث‬
.‫انؼايح‬
‫ فشتًا ظٓش نثؼضٓى يٍ صانخ‬، ‫(ٕ) إٌ ػقٕل انُاط يرفأذح ٔأفكاسْى يخرهفح‬
.‫ًا‬ٛ‫شِ ٔإٌ كاٌ ػظ‬ْٛ‫ظٓش ن‬ٚ ‫ساء يا َل‬ٜ‫ا‬
.‫ُٓا‬ٛ‫خراس انشأٖ انصائة يٍ ت‬ٚٔ ، ‫ٓا ذقهّة ػهٗ ٔجْٕٓا‬ٛ‫ساء ف‬ٜ‫(ٖ) إٌ ا‬
‫ ٔاذفاق انقهٕب‬، ‫ٓا اجرًاع انقهٕب ػهٗ إَجاح انًغؼٗ انٕادذ‬ٛ‫ظٓش ف‬ٚ َّ‫(ٗ) إ‬
‫ٍ ػهٗ دصٕل انًطهٕب‬ٛ‫ؼ‬ٚ ‫ػهٗ رنك يًا‬
)ٔٔٗ ٗ ٙ‫ش انًشاغ‬ٛ‫(ذفغ‬
Musyawarah, mengandung banyak sekali manfaatnya. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Melalui musyawarah, dapat diketahui kadar akal, pemahaman, kadar kecintaan, dan keikhlasan terhadap
kemaslahatan umum
2) Sesungguhnya akal manusia itu bertingkat-tingkat, dan jalannalarnyapun berbeda-beda. Oleh karena itu, di antara
mereka pastimempunyai suatu kelebihan pandangan disbanding yang lain (dan sebaliknya), sekalipun di kalangan para
pembesar.
3) Sesungguhnya pendapat-pendapat dalam musyawarah diujikeakuratannya, . Setelah itu, dipilihlah pendapat
yang sesuai (baik dan benar)
4) Di dalam musyawarah, akan tampak bersatunya hati untuk mensukseskan suatu upaya dan kesepakatan hati.
Dalam hal itu, memang, sangat diperlukan untuk suksesnya masalahnya masalah yang sedang dihadapi.
Kesimpulan :
Musyawarah merupakan sesuatu yang dianjurkan dalam agama. Banyak manfaat dari musyawarah.
Alquran dan Alhadist merupakan dua landasan pokok yang harus dijadikan pedoman hidup. Dengan berpegang
teguh pada Alquran dan Alhadist tidak akan tersesat dalam menjalani kehidupan. Sebagaimana jaminan Rasulullah:

)‫ يهك‬.‫ّ (س‬ٛ‫ٍ نٍ ذضهّٕا يا اٌ ذًغكرى تًٓا كراب هللا ٔ عُح َث‬ٚ‫كى ايش‬ٛ‫ذشكد ف‬

Telah aku tinggalkan bagimu dua perkara, yang tidak akan tersesat kamu selama berpegang teguh kepadanya,
kitabullah dan Sunnah Nabinya. (HR.Malik)
Analisis beserta Saran :
Istilah “musyawarah” berasal dari kata musyawarah. Ia adalah bentuk masdar dari kata syâwara – yusyâwiru yakni
dengan akar kata syin, waw,dan ra‟ dalam pola fa‟ala. Struktur akar kata tersebut bermakna pokok “ Menampakkan dan
menawarkan sesuatu” dan “mengambil sesuatu “ dari kata terakhir ini berasal ungkapan syâwartu fulânan fi amrî:

Secara bahasa syûrâ bisa berarti mengambil, melatih, menyodorkan diri, dan meminta pendapat atau nasihat; atau secara umum, asysyûrâ artinya meminta sesuatu.

‫( ش٘س‬Syûrâ terambil
dari
kata (
-‫ٍشاٗسة‬
-‫شاٗسة‬
‫ )إستشاٗسة‬menjadi ) ٙ‫(ش٘س‬Syûrâ. Kata Syûrâ bermakna mengambil dan mengeluarkan pendapat yang terbaik dengan menghadapkan
Kata )

satu pendapat dengan pendapat yang lain. Dalam Lisanul „Arab berarti memetik dari serbuknya dan wadahnya. Kata ini terambil dari
kalimat (‫اىعسو‬

‫ )ششث‬saya mengeluarkan madu dari wadahnya. Berarti mempersamakan pendapat yang terbaik dengan madu, dan

bermusyawarah adalah upaya meraih madu itu dimanapun ia ditemukan, atau dengan kata lain, pendapat siapapun yang dinilai benar tanpa
mempertimbangkan siapa yang menyampaikannya. Musyawarah dapat berarti mengatakan atau mengajukan sesuatu. Kata musyawarah pada
dasarnya hanya digunakan untuk hal-hal yang baik, sejalan dengan makna dasarnya. Sedangkan menurut istilah fiqh adalah meminta pendapat
orang lain atau umat mengenai suatu urusan. Kata musyawarah juga umum diartikan dengan perundingan atau tukar pikiran. Perundingan itu
juga disebut musyawarah, karena masing-masing orang yang berunding dimintai atau diharapkan mengemukakan pendapatnya tentang suatu
masalah yang dibicarakan dalam perundingan itu.
Sedangkan menurut istilah sebagaimana dikemukaan oleh Ar-Raghib Al-Ashfahani:

‫ٗاىَشاٗسة‬:‫ اىبعط‬ٚ‫ بَشاخعت اىبعط إى‬ٙ‫ٗاىَش٘سة استخشاج اىشأ‬

)ٕ۷ٓ ‫(انشاغة‬
Dari pengertian itu dapat disimpulkan, syura artinya memusyawarahkan perbedaan-perbedaan pendapat atas sesuatu untuk
melahirkan kebaikan dan kebenaran yang ada di dalamnya.
Sedangkan dalam KBBI musyawarah berarti pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah
(KBBI:768).

Saran :
Kita sebagai umat Islam seharusnya berpegang teguh terhadap Alquran dan As-Sunnah. Termasuk didalamnya
mengambil keputusan dengan cara musyawarah. Sesuatu yang datangnya dari agama tidak perlu diragukan lagi,
didalamnya pasti akan membawa banyak manfaat.
soal
1.apa yang dimaksud demokrasi?
2.apa manfaat demokrasi bagi kita?
3.sebutkan perilaku demkrasi?
4.sebutkan salah satu ayat tentang demokrasi?
5.berilah contoh demokrasi dalam laingkungan sekolah?
6.berilah contoh demokrasi dalam laingkungan keluarga?
7.berilah contoh demokrasi dalam laingkungan masyarakat?
8.berilah contoh demokrasi dalam laingkungan negara?
BAB 8

Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan di bumi
ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang
bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu
atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran
Allah) bagi kaum yang berfikir.

3.kejadian alam semesta
Akal yang sehat tentu akan menyandari bahwa adanya sesuatu adanya yang mengadakannya.demikiaan pula
dengan alam semesta ini beserta isi nya pasti ada yang menciptakan dan pencipta jagat raya ini pasti zat pencipta alam
surat Ibrahim ayat 23 Allah berfirman
4.kejadian manusia
Lewat kejadian manusia terbukti manusia di ciptakan oleh zat maha kuasa.tidak mungkin manusia ada dengan
sendirinya Allah berfirman Almukminun ayat 12-14

ْ ُّ ُٓ‫)ث ُ ٌَّ َخ َع ْيَْا‬21(ِٞ
‫ قَ َش ٍاس‬ِٜ‫ط َفتً ف‬
ُ ِْ ٍِ َُ‫سا‬
َ ّْ ‫اْل‬
ٍ ‫س ََلىَ ٍت ٍِ ِْ ِغ‬
ِ ْ ‫َٗىَقَ ْذ َخيَ ْقَْا‬
ْ ُّْ‫)ث ُ ٌَّ َخيَ ْقَْا اى‬21(ِٞ
َ ‫عغَتَ ِع‬
‫ظا ًٍا‬
ْ َُ ‫عغَتً فَ َخيَ ْقَْا ْاى‬
ْ ٍُ َ‫عيَقَتً فَ َخيَ ْقَْا ْاى َعيَقَت‬
َ َ‫طفَت‬
ٍ ‫ٍَ ِن‬
َ ‫س َّْ٘ا ْاى ِع‬
َّ ‫اس َك‬
)21( َِٞ‫س ُِ ْاىخَا ِى ِق‬
َ ‫َّللاُ أَ ْح‬
َ ‫فَ َن‬
َ َ‫اً ىَ ْح ًَا ث ُ ٌَّ أَ ّْشَأَّْآُ خ َْيقًا َءاخ ََش فَتَب‬
َ ‫ظ‬

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan
saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal
darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha
Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

C. Aspek-Aspek yang mencakup iman kepada Allah SWT
Adapun yang mencakup aspek iman kepada Allah SWT ialah[3]:
1. Iman Akan adanya Allah
Kebesaran Allah ini dapat dibuktikan oleh fitrah, akal, syara‟ (Al-Quran dan Hadis) danperasaan, hal ini sebagaimana
terperinci di dalam poin-poin berikut ini :
a. Dalil kebesaran Allah berdasarkan fitrah.
Semua mahkluk di ciptakan oleh Allah dalam keadaan beriman kepada penciptanya, tanpa melalui proses berputar.
Seseorang tidak akan berpaling dari fitrah ini kecuali jika ada sesuatu yang memalingkan hatinya dari fitrah tersebut.
Sebagaimana sabda nabi
“tidak ada anak yang terlahir kecuali di lahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya
Yahudi dan Nasrani atau Majusi(H.R Bukhari)
b. Dalil Keberadaan Allah Berdasarka Akal
Semua makhluk baik yang pada zaman dulu pmaupun yang kan dating pasti membutuhkan pencipta yang
menciptakannya. Sedang mereka tidak mungkin ada dengan sendirinya atau mungkin ada secara kebetulan.
Allah telah menyebutkan dalil „aqli (aqal) dan bukti yang qath‟I (pasti) pada surah at-thur yang artinya : “ apakah mereka
diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri”.
Maksudnya ialah bahwa mereka tidak mungkin diciptakan tanpa ada yang menciptakannya. Dan tidak mungkin mereka
menciptakan dirinya sendiri sehingga tidak ada yang lain kecuali Allah lah yang menciptakannya.
2. Mengimani Allah Sebagai Rabbi
Maksudnya ialah mengimani bahwa Allah satu-satunya Rabbi, dimana tidak ada sesuatu ataupun penolong baginya dalam
masalah ini. Yang dimaksud dengan rabi adalah zat yang menciptakan, menguasai dan memerintah, yaitu tidak ada pencipta selain
Allah, tidak ada raja kecuali Allah dan hak memerintah hanya miliknya semata.
Allah berfirman : Q.S Al-A‟raf : 51

َّ ٌُ ‫ِإ َُّ َسبَّ ُن‬
َٚ‫عي‬
ِ ‫س ََ َ٘ا‬
َّ ‫ َخيَقَ اى‬ِٛ‫َّللاُ اىَّز‬
َ َٙ٘ َ‫ ٍَّاً ث ُ ٌَّ ا ْست‬َٝ‫ ِست َّ ِت أ‬ِٜ‫ض ف‬
َ ‫ث َٗ ْاْل َ ْس‬
ْ َٝ ‫اس‬
َّ ‫ثًا َٗاى‬ِٞ‫طيُبُُٔ َحث‬
ٍ ‫س َّخ َشا‬
‫ث‬
َ ٍُ ً٘
َ َٖ َّْ‫ َو اى‬ْٞ َّ‫ اىي‬ِٜ‫ُ ْغش‬ٝ ‫ْاىعَ ْش ِش‬
َ َْ ‫ش‬
َ ‫س َٗ ْاىقَ ََ َش َٗاىُّْ ُد‬
َّ ‫اس َك‬
)51( ََِِٞ َ‫ب ْاى َعاى‬
ُّ ‫َّللاُ َس‬
َ َ‫ِبأ َ ٍْ ِش ِٓ أَ َال ىَُٔ ْاىخ َْي ُق َٗ ْاْل َ ٍْ ُش تَب‬
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas
`Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan
bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha
Suci Allah, Tuhan semesta alam.
Q.S Fathir : 13

َّ ‫س َّخ َش اى‬
‫س َٗ ْاىقَ ََ َش ُم ٌّو‬
َ َٗ ‫ ِو‬ْٞ َّ‫ اىي‬ٜ‫اس ِف‬
َ َٖ َّْ‫ُ٘ ِى ُح اى‬َٝٗ ‫اس‬
ِ َٖ َّْ‫ اى‬ٜ‫ َو ِف‬ْٞ َّ‫ُ٘ ِى ُح اىي‬ٝ
َ َْ ‫ش‬
َّ ٌُ ‫ رَ ِى ُن‬ًَّٚ ‫س‬
‫عَُ٘ ٍِ ِْ دُِّٗ ِٔ ٍَا‬
ُ ‫َِ تَ ْذ‬ِٝ‫َّللاُ َسبُّ ُن ٌْ ىَُٔ ْاى َُ ْيلُ َٗاىَّز‬
َ ٍُ ‫ ِْل َ َخ ٍو‬ٛ‫ ْد ِش‬َٝ
ْ ِ‫ َْ ِي ُنَُ٘ ٍِ ِْ ق‬َٝ
)21(‫ش‬ٞ
ٍ َِ ‫ط‬
Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masingmasing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orangorang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.
Dalam hal ini tak ada seorang pun manusia yang meningkari bahwa Allah adalah Rabbi kecuali orang-orang yang
sombong yang ia sendiri tak yakin dengan apa yang ia katakan.
3. Mengimani Allah sebagai Illah
Maksudnya adalah mengimani bahwa Allah adalah satu-satunya Illah yang sebenarnya dan tidak ada sekutu baginya. Yang
dimaksud dengan Illah ialah Al-ma‟luuh atau Al-Ma‟buud yang berarti zat yang disembah oleh manusia dengan maksud untuk
mencintai dan mengangungkannya. Allah berfirman (Q.S Al-Baqarah : 163)

)261(ٌُ ٞ‫اىش ِح‬
ِ َٗ ٌَٔ‫َٗ ِإىَ ُٖ ُن ٌْ إِى‬
َّ ُِ ََ ‫اىش ْح‬
َّ َ٘ ُٕ ‫احذٌ َال إِىََٔ ِإ َّال‬

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang.
Al-Imran : 18

َّ َ‫ش ِٖذ‬
َ٘ ُٕ ‫َّللاُ أََُّّٔ َال إِىََٔ إِ َّال ُٕ َ٘ َٗ ْاى ََ ََلئِ َنتُ َٗأُٗىُ٘ ْاى ِع ْي ٌِ قَائِ ًَا ِب ْاى ِق ْس ِػ َال إِىََٔ ِإ َّال‬
َ
ُ ‫ْاىعَ ِز‬
)28(ٌُ ٞ‫ز ْاى َح ِن‬ٝ

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat
dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
4. Mengimani sifat-sifat dan Nama-nama Allah
Maksudnya Adalah menetapkan dan nama-nama sifat yang telah ditetapkan oleh Allah untuk dirinya sendiri baik dalam tetapnya
maupun dalam sunnah Rasulnya. Tentunya dengan gambaran yang sesuai dengan keagungan Allah, tanpa harus merubah,
mengingkari, memuaskan, tentang bentuk atau caranya ataupun menyerupakannya dengan sesuatu apapun. Allah SWT berfirman :

(Q.S Al-A‟raaf : 280)

َُْٗ َ‫ُ ْدز‬ٞ‫س‬
ُ ‫ فَا ْد‬َْٚ‫َٗ ِ َّّلِلِ ْاْل َ ْس ََا ُء ْاى ُح ْس‬
َ ِٔ ‫ أ َ ْس ََا ِئ‬ٜ‫ُ ْي ِحذَُُٗ ِف‬ٝ َِِٝ‫عُ٘ٓ ِب َٖا َٗرَ ُسٗا اىَّز‬
)280( َُُ٘‫ ْع ََي‬َٝ ‫ٍَا َماُّ٘ا‬

Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orangorang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa
yang telah mereka kerjakan.
(Q.S Ar-Rum : 27)

ِٜ‫ ف‬َٚ‫ ِٔ َٗىَُٔ ْاى ََث َ ُو ْاْل َ ْعي‬ْٞ َ‫عي‬
َ ُُ َ٘ ْٕ َ ‫ذُُٓ َٗ ُٕ َ٘ أ‬ٞ‫ُ ِع‬ٝ ٌَّ ُ ‫َ ْبذَأ ُ ْاىخ َْيقَ ث‬ٝ ِٛ‫َٗ ُٕ َ٘ اىَّز‬
ُ ‫ض َٗ ُٕ َ٘ ْاى َع ِز‬
)17(ٌُ ٞ‫ز ْاى َح ِن‬ٝ
ِ ‫س ََ َ٘ا‬
َّ ‫اى‬
ِ ‫ث َٗ ْاْل َ ْس‬

Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali, dan
menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah
Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(Q.S As-Syura : 11)

(yaitu) kaum Fir`aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?"

)22( َُُ٘‫تَّق‬َٝ ‫ع َُْ٘ أَ َال‬
َ ‫قَ ْ٘ ًَ ِف ْش‬

D. Sifat-sifat Allah
Sifat-sifat yang baik bagi Allah.
a.

Pengertiannya Sifat Wajib

Sifat wajib bagi Allah adalah sifat yang harus ada pada Zat Allah sebagai kesempurnaan baginya. Allah adalah Khaliq zat
yang memiliki sifat yang tidak mungkin sama dengan sifat yang dimiliki oleh mahluknya. Zat Allah tidak bisa dibayangkan bagaimana
bentuknya, rupa dan ciri-cirinya begitu juga sifat-sifatnya. Tidak bisa disamakan dengan sifat-sifat mahluk.
Sifat-sifat wajib bagi Allah itu diyakini melalui akal (wajib „Aqli) dan berdasarkan dalil naqli (Al-Quran dan Hadist).
b.

Pembagian sifat-sifat wajib bagi Allah

Menurut para ulama ilmu kalam sifat-sifat wajib bagi Allah terdiri dari atas 20 sifat, dari 20 sifat itu dikelompokkan
menjadi 4 kelompok sebagai berikut :
a. Sifat Nafsiyah
Yaitu sifat yang berhubungan dengan zat Allah. Sifat Nafsiyah ini ada satu, yaitu wujud.
b. Sifat Shalbiyah
Yaitu sifat yang meniadakan adanya sifat sebaliknya. Sifat shalbiyah ini ada lima, yaitu : Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lilhawadist,
Qiyamuhu Binafsihi, Wahdaniyah.
c. Sifat Ma‟ani
Yaitu sifat-sifat abstrak yang wajib ada pada Allah. Yang termasuk sifat ma‟ani ada tujuh, yaitu : Qudrah, Iradah, „ilmu, Hayat,
Sama‟, Bashar, kalam.
d. Sifat Ma‟nawiyah
Sifat ma‟nawiyah adalah kezaliman dari sifat ma‟ani, sifat ma‟nawiyah tidak dapat berdiri sendiri, sebab setiap ada sifat ma‟ani
tentu ada sifat ma‟nawiyah. Jumlah sifat ma‟nawiyah sama dengan jumlah sifat ma‟ani, yaitu : Qadiran, Muridan, „Aliman, Hayyan,
Sami‟an, Bashiran, Mutakalliman.
E. Manfaat Beriman Kepada Allah

Manfaat besar yang dapat kita petik karena beriman kepada Allah diantaranya :
1.

menguatkan Tauhid kepada Allah sehingga seseorang yang telah beriman kepada Allah tidak akan

mengagungkan dirinya kepada sesuaatu selain Allah, baik dengan cara berharap ataupun takut kepadanya, dan ia tidak
akan menyembah selain Allah.
2.

Sesorang akan mencintai Allah secara sempurna dan akan mengagungkannya sesuai dengan nama-namanya

yang baik dan sifat yang mulia.
3.

mewujudkan penghambaaan diri kepada Allah yaitu dengan melakukan apa yang diperintahkannya dan

menjauhi apa yang dilarangya.
Adapun fungsi beriman kepada Allah yang ketentuannya dalam sikap dan kepribadian manusia sebagai berikut :
1.

Menyadari kelemahan diri di depan Allah

2.

Menyadari bahwa segala sesuatu yang dinikmati dalam kehidupan ini berasal dari Allah SWT.

3.

Menyadari bahwa dirinya pasti akan kembali kepada Allah dan dimintai pertanggung jawaban atas segala

perbuatan yang pernah dilakukan.
4.

Sadar dan segera bertaubat apabila terjadi kekhilafab dalam berbuat dosa dan segera memohon ampun

serta bertaubat kepada Allah SWT sebagaiman firman Allah Q.S Al-imran : 135.

َ ْٗ َ‫شتً أ‬
َّ ‫س ُٖ ٌْ رَ َم ُشٗا‬
ٌْ ِٖ ِ‫َّللاَ فَا ْستَ ْغفَ ُشٗا ِىزُُّ٘ب‬
َ ‫اح‬
ِ َ‫َِ ِإرَا فَ َعيُ٘ا ف‬ِٝ‫َٗاىَّز‬
َ ُ‫ظيَ َُ٘ا أ َ ّْف‬
َّ ‫٘ب إِ َّال‬
)215( ََُُ٘ َ‫َ ْعي‬ٝ ٌْ ُٕ َٗ ‫ ٍَا فَ َعيُ٘ا‬َٚ‫عي‬
َ ‫ص ُّشٗا‬
ِ ُٝ ٌْ َ‫َّللاُ َٗى‬
َ ُُّّ‫َ ْغ ِف ُش اىز‬ٝ ِْ ٍَ َٗ
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu
memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka
tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

soal
1.apa yang dimaksud iman?
2.mengapa kita harus beriman kepada allah?
3.apa yang dimaksud iman kepada allah?
4.beriman kepada allah merupakan rukun iman yang ke?
5.seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin(orang yang beriman) sempurna apabila memenuhi tiga unsur
keimanan,sebutkan tiga unsur terssebut?
6.nama nama yang indah bagi allah sering disebut?
7.berilah contoh perilaku yang mencerminkan bahwa sesorang beriman kepada allah?
8.apa akkibatnya jika seseorang tidak beriman kepada allah?
9.bagai mana cara menerapkan perilaku beriman kepada allah?
10.sebutkan hikamah kita beriman kepada allah

BAB 9 & 10
AKHLAK MAHMUDAH (TERPUJI) DAN AHLAK MAZMUMAH (TERCELA)

A. PENGERTIAN AKHLAK
Akhlak berasal dari kata “akhlaq” yang merupakan jama‟ dari “khulqu” dari bahasa Arab yang artinya perangai, budi, tabiat
dan adab. Akhlak itu terbagi dua yaitu Akhlak yang Mulia atau Akhlak yang Terpuji (Al-Akhlakul Mahmudah) dan Akhlak yang Buruk
atau Akhlak yang Tercela (Al-Ahklakul Mazmumah).
Akhlak yang mulia, menurut Imam Ghazali ada 4 perkara; yaitu bijaksana, memelihara diri dari sesuatu yang tidak baik, keberanian
(menundukkan kekuatan hawa nafsu) dan bersifat adil. Jelasnya, ia merangkumi sifat-sifat seperti berbakti pada keluarga dan
negara, hidup bermasyarakat dan bersilaturahim, berani mempertahankan agama, senantiasa bersyukur dan berterima kasih,
sabar dan rida dengan kesengsaraan, berbicara benar dan sebagainya.
Masyarakat dan bangsa yang memiliki akhlak mulia adalah penggerak ke arah pembinaan tamadun dan kejayaan yang diridai oleh
Allah Subhanahu Wataala. Seperti kata pepatah seorang penyair Mesir, Syauqi Bei: "Hanya saja bangsa itu kekal selama berakhlak.
Bila akhlaknya telah lenyap, maka lenyap pulalah bangsa itu".
Akhlak yang mulia yaitu akhlak yang diridai oleh Allah SWT, akhlak yang baik itu dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri kita
kepada Allah yaitu dengan mematuhi segala perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, mengikuti ajaran-ajaran dari
sunnah Rasulullah, mencegah diri kita untuk mendekati yang ma‟ruf dan menjauhi yang munkar, seperti firman Allah dalam surat
Al-Imran 120 yang artinya “Kamu adalah umat yang terbaik untuk manusia, menuju kepada yang makruf dan mencegah yang
mungkar dan beriman kepada Allah”
Akhlak yang buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji seperti iri hati, ujub, dengki, sombong, nifaq (munafik), hasud, suudzaan
(berprasangka buruk), dan penyakit-penyakit hati yang lainnya, akhlak yang buruk dapat mengakibatkan berbagai macam
kerusakan baik bagi orang itu sendiri, orang lain yang di sekitarnya maupun kerusakan lingkungan sekitarnya sebagai contohnya
yakni kegagalan dalam membentuk masyarakat yang berakhlak mulia samalah seperti mengakibatkan kehancuran pada bumi ini,
sebagai mana firman Allah Subhanahu Wataala dalam Surat Ar-Ruum ayat 41 yang berbunyi:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka
sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Ruum: 41).

B. PENGERTIAN AKHLAK MAHMUDAH (TERPUJI)
Akhlak mahmudah (terpuji) adalah perbuatan yang dibenarkan oleh agama (Allah dan RasulNya). Contohnya :
disiplin, hidup bersih, ramah, sopan-santun, syukur nikmat, hidup sederhana, rendah hati, jujur, rajin, percaya diri, kasih sayang,
taat, rukun, tolong-menolong, hormat dan patuh, sidik, amanah, tablig, fathanah, tanggung jawab, adil, bijaksana, teguh pendirian,
dermawan, optimis, qana‟ah, dan tawakal, ber-tauhiid, ikhlaas, khauf, taubat, ikhtiyaar, shabar, syukur, tawaadu', husnuzh-zhan,
tasaamuh dan ta‟aawun, berilmu, kreatif, produktif, akhlak dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan menerima tamu,
adil, rida, amal salih, persatuan dan kerukunan, akhlak terpuji dalam pergaulan remaja, serta pengenalan tentang tasawuf.

1. Contoh-Contoh Akhlak Mahmudah
Dalam pembahasan ini kami akan menjabarkan akhlak mahmudah yang meliputi ikhlas, sabar, syukur, jujur, adil dan
amanah.
a. Ikhlas
Kata ikhlas mempunyai beberapa pengertian. Menurut al-Qurtubi, ikhlas pada dasarnya berarti memurnikan perbuatan
dari pengaruh-pengaruh makhluk. Abu Al-Qasim Al-Qusyairi mengemukakan arti ikhlas dengan menampilkan sebuah riwayat dari
Nabi Saw, “Aku pernah bertanya kepada Jibril tentang ikhlas. Lalu Jibril berkata, “Aku telah menanyakan hal itu kepada Allah,” lalu
Allah berfirman, “(Ikhlas) adalah salah satu dari rahasiaku yang Aku berikan ke dalam hati orang-orang yang kucintai dari
kalangan hamba-hamba-Ku.”
Keikhlasan seseorang ini, akan menghasilkan kemenangan dan kejayaan. Anggota masyarakat yang mengamalkan sifat ikhlas, akan
mencapai kebaikan lahir-bathin dan dunia-akhirat, bersih dari sifat kerendahan dan mencapai perpaduan, persaudaraan,
perdamaian serta kesejahteraan.
b. Amanah
Secara bahasa amanah bermakna al-wafa‟ (memenuhi) dan wadi‟ah (titipan) sedangkan secara definisi amanah berarti
memenuhi apa yang dititipkankan kepadanya. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian
untuk mengembalikan titipan-titipan kepada yang memilikinya, dan jika menghukumi diantara manusia agar menghukumi dengan
adil…” (QS 1:58).
Dalam ayat lainnya, Allah juga berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung,
maka mereka semua enggan memikulnya karena mereka khawatir akan mengkhianatinya, maka dipikullah amanah itu oleh
manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh…” (QS. 11:71).
c. Adil
Adil berarti menempatkan/meletakan sesuatu pada tempatnya. Adil juga tidak lain ialah berupa perbuatan yang tidak
berat sebelah. Para Ulama menempatkan adil kepada beberapa peringkat, yaitu adil terhadap diri sendiri, bawahan, atasan/
pimpinan dan sesama saudara. Nabi Saw bersabda, “Tiga perkara yang menyelamatkan yaitu takut kepada Allah ketika
bersendiriaan dan di khalayak ramai, berlaku adil pada ketika suka dan marah, dan berjimat cermat ketika susah dan senang; dan
tiga perkara yang membinasakan yaitu mengikuti hawa nafsu, terlampau bakhil, dan kagum seseorang dengan dirinya sendiri.”
(HR. AbuSyeikh).

d. Bersyukur
Syukur menurut kamus “Al-mu‟jamu al-wasith” adalah mengakui adanya kenikmatan dan menampakkannya serta
memuji (atas) pemberian nikmat tersebut.Sedangkan makna syukur secara syar‟i adalah : Menggunakan nikmat AllahSWT dalam
(ruang lingkup) hal-hal yang dicintainya. Lawannya syukur adalah kufur.Yaitu dengan cara tidak memanfaatkan nikmat tersebut,
atau menggunakannya pada hal-hal yang dibenci oleh Allah SWT.

C. PENGERTIAN AKHLAK MAZMUMAH (TERCELA)
Akhlak Mazmumah (tercela) adalah perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama (Allah dan RasulNya). Contohnya : hidup
kotor, berbicara jorok/kasar, bohong, sombong, malas, durhaka, khianat, iri, dengki, membangkang, munafik, hasud, kikir, serakah,
pesimis, putus asa, marah, fasik, dan murtad, kufur, syirik, riya, nifaaq, anaaniah, putus asa, ghadlab, tamak, takabbur, hasad,
dendam, giibah, fitnah, dan namiimah, aniaya dan diskriminasi, perbuatan dosa besar (seperti mabuk-mabukan, berjudi, zina,
mencuri, mengkonsumsi narkoba), israaf, tabdzir.
Dalam konteks pembahasan Akhlak itu, maka akhlak dapat di bagi kepada 3 (tiga) bagian yaitu :

1. Akhlak kepada Allah SWT
Akhlak kepada Allah adalah perbuatan hambaNya terhadap Allah SWT.
2. Akhlak kepada MakhlukNya
Akhlak kepada MakhlukNya adalah perbuatan hambaNya terhadap makhluk Allah, seperti Malaikat, Jin, Manusia, dan Hewan.
3. Akhlak kepada Lingkungan
Akhlak kepada lingkungan adalah perbuatan hambaNya terhadap lingkungan (semesta alam), seperti : tumbuh-tumbuhan, air (laut,
sungai, danau), gunung, dan sebagainya.

Contoh Sifat Mazmumah (Tercela) yaitu:
1. Penyakit hati antara lain disebabkan karena ada perasaan iri:
Iri adalah sikap kurang senang melihat orang lain mendapat kebaikan atau keberuntungan. Sikap ini kemudian
menimbulkan prilaku yang tidak baik terhadap orang lain, misalnya sikap tidak senang, sikap tidak ramah terhadap orang yang
kepadanya kita iri atau menyebarkan isu-isu yang tidak baik. Jika perasaan ini dibiarkan tumbuh didalam hati, maka akan muncul
perselisihan, permusuhan, pertengkaran, bahkan sampai pembunuhan, seperti yang terjadi pada kisah Qabil dan Habil.

2. Penyakit hati disebabkan karena perasaan dengki.
Dengki artinya merasa tidak senang jika orang lain mendapatkan kenikmatan dan berusaha agar kenikmatan tersebut cepat
berakhir dan berpindah kepada dirinya, serta merasa senang kalau orang lain mendapat musibah. Sifat dengki ini berkaitan
dengan sifat iri. Hanya saja sifat dengki sudah dalam bentuk perbuatan yang berupa kemarahan, permusuhan, menjelek-jelekkan,
menjatuhkan nama baik orang lain.

3. Hasud
Hasud adalah sikap suka menghasud dan mengadu domba terhadap sesama. Menghasud adalah tindakan yang jahat dan
menyesatkan, karena mencemarkan nama baik dan merendahkan derajat seseorang dan juga karena mempublikasikan hal-hal
jelek yang sebenarnya harus ditutupi. Saudaraku (sidang pembaca) tahukah antum, bahwa iri, dengki dan hasud itu adalah suatu
penyakit. Pada mulanya iri yaitu perasaan tidak suka terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain. Kemudian, jika dibiarkan
tumbuh, iri hati akan berubah menjadi kedengkian. Penyakit kedengkian jika dibiarkan terus akan berubah menjadi penyakit yang
lebih buruk lagi, yaitu hasud.

D.AKHLAK MAHMUDAH MELAHIRKAN INSAN YANG BERTAKWA
Sifat Mahmudah atau juga dikenali dengan akhlak terpuji ialah sifat yang lahir didalam diri seseorang yang menjalani
pembersihan jiwa dari sifat-sifat yang keji dan hina (sifat mazmumah).
Sifat Mazmumah boleh dianggap seperti racun-racun yang boleh membunuh manusia secara tidak disedari dan sifat ini
berlawanan dengan sifat mahmudah yang sentiasa mengajak dan menyuruh manusia melakukan kebaikan. Oleh itu, dalam Islam,
yang menjadi pengukur bagi menyatakan sifat seseorang itu sama ada baik atau buruk adalah berdasarkan kepada akhlak dan
perilaku yang dimilik oleh seseorang.

Dalam mengamalkan sifat-sifat mahmudah atau etika hidup yang murni, ia merangkumi banyak aspek antaranya :
1. Akhlak Terhadap Diri Sendiri, seperti menjaga kesihatan diri, membersih jiwa daripada akhlak yang buruk dan keji serta tidak
melakukan perkara-perkara maksiat.
2. Akhlak Terhadap Keluarga, seperti pergaulan dan komunikasi yang baik antara suami isteri, berbuat baik kepada kedua ibu bapa,
menghormati yang lebih tua dan mengasihi orang-orang muda daripada kita.
3. Akhlak Terhadap Masyarakat, seperti sentiasa menjaga amanah, menepati janji, berlaku adil, menjadi saksi yang benar dan
sebagainya.

Akhlak dapat dibentuk dengan baik sekiranya kita benar-benar mengikuti lunas-lunas yang telah disyariatkan oleh Allah dan RasulNya. Antara jalan terbaik untuk membentuk akhlak yang mulia ialah :
1. Mempunyai Ilmu Pengetahuan. setiap mukmin perlu mempelajari apakah yang dimaksudkan dengan akhlak terpuji (akhlak
mahmudah) dan tahu membezakan dengan akhlak yang keji ( akhlak mazmumah ).
2. Menyedari Kepentingan Akhlak Yang Diamalkan. Ini kerana akhlak merupakan cermin diri bagi seseorang muslim dan membawa
imej Islam, malahan daya tarikan Islam juga bergantung kepada akhlak yang mulia.
3. Mempunyai Keazaman Yang Tinggi, melalui keazaman yang tinggi dan kuat sahajalah jiwa seseorang dapat dibentuk untuk benarbenar menghayati sifat yang mulia.

KESIMPULAN
Bermula dari zaman Nabi Adam a.s, manusia sudah ditakdirkan untuk menjalani peringkat hidup duniawi di atas muka
bumi ini. Sedari detik itu sehingga kini, manusia terus menjalani hidup dengan berbagai cara dan peristiwa yang
membentuk sejarah dan tamaddun manusia. Sifat dan keperibadian manusia penuh pertentangan dan beraneka ragam.
Manusia bukan makhluk sosial semata-mata malah bukan jua diciptakan untuk mementingkan diri sendiri semata-mata.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam diutuskan kepada manusia untuk menyempurnakan akhlak sebagaimana yang
dinyatakan dalam hadis Rasulullah SAW. Dengan akhlak Rasulullah memenuhi kewajiban dan menunaikan amanah,
menyeru manusia kepada tauhid dan dengan akhlak jualah baginda menghadapi musuh di medan perang.
SOAL

1.apa yang dimaksud akhlak?
2.apa yang dimaksud akhlak terpuji?
3.apa yang dimaksud akhlak tercela?
4.sebutkan macam akhlak terpuji?
5.sebutkan macam macam akhlak tercela?
6.ber ilah contoh akhlak tercela?
7. apa manfaat bagi kita melakukan akhlak terpuji?
8.apa akibat dari kita yang berperilaku tercela?
9.berilah contoh akhlak terpuji?
10.apa yang dimaksud su'udzan?
BAB 11

HUKUM ISLAM TENTANG I NFAK, ZAKAT, HAJI DAN WAKAF
A. INFAK

1. Pengertian Infak
Infak menurut arti bahasa adalah biaya, belanja atau mengeluarkan. Sedangkan infak menurut istilah adalah mengeluarkan
sebagian harta yang dimiliki kepada orang yang mebutuhkan dengan tujuan mencari ridha Allah.

Hukum infak ada dua yaitu :
1.

Wajib yaitu mengeluarkan harta untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga, yang disebut dengan nafaqah/nafkah. Firman Allah :

Artinya: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan
rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada
seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah
kesempitan.” (QS. At-Talaq/65; 7)
1.

Sunat yaitu mengeluarkan sebagaian harta kepada orang yang membutuhkan untuk mencari keridhaan Allah. Firman Allah :

Artinya : “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, Maka
mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS.
Al-Baqarah/2; 274)
2. Perundang-undangan tentang Infak
undang Republik Indonesia Nomor 38 tahun 1999 tengtang pengelolaan zakat, yang didalamnya terdapat klausul dalam pasal 13 dan 17 yang
menyatakan :Peraturan perundang-undangan tentang infak tertuang dalam UndangPasal 13 :
“Badan Amil Zakat dapat menerima harta selain zakat, seperti infak, hinbah, wasiat dan kifarat.”
Pasal 17 :
“Hasil penerimaan infak, sadaqah, hibah,wasiat, waris dan kifarat sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 13 didayagunakan terutama untuk
usaha produktif.”
3. Contoh Pengelolaan Infak

Banyak lembaga di Indonesia yang mengelola infak yang kemudian disalurkan kepada mereka yang berhak menerimanya,
khususnya kepada mereka yang tertimpa musibah atau bencana.
Infak juga dapat didayagunakan untuk kegiatan produktif, misalnya untuk modal membuka koperasi sekolah, membiayai kegiatan
kerohanian dan sebagainya.
b Membiasakan diri berinfak

Berinfak merupakan bagian dari amal saleh, untuk itu hendaknya dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk dapat membiasakan diri berinfak, maka sebaiknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1.

Tanamkan keyakinan bahwa pada setiap harta yang kita miliki ada hak orang lain yang membutuhkannya.

2.

Tanamkan rasa kasih sayang terhadap sesama.

3.

Mulaihah berinfak sesuai kemampuan, sehingga terbiasa setelah berkecukupan.

B. ZAKAT
1. Pengertian Zakat
Zakat menurut arti bahasa adalah tumbuh, berkembang, bertambah, bersih dan suci. Sedang zakat menurut istilah adalah kadar
(ukuran) harta yang wajib dikeluarkan kepada orang yang berhak menerimanya.
Zakat hukumnya wajib. Firman Allah :

Artinya : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan
mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi
Maha Mengetahui.”(QS. At-Taubah/9; 103)

Pada garis besarnya zakat terbagi 2 bagian yaitu :
1.

Zakat Fitrah
Zakat Fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan untuk membersihkan setiap jiwa muslim laki-laki atau perempuan, besar, kecil,
merdeka atau hamba sahaya yang memiliki kelebihan harta di akhir bulan Ramadhan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.
Adapun Syarat wajib zakat Fitrah adalah :

Islam

Hidup di bulan Ramadhan dan malam hari raya Idul Fitri walaupun hanya sebentar.

Memiliki kelebihan makanan pokok untuk dimakan di malan dan siang hari raya idul fitri.

1.

Zakat Mal
Zakat Mal atau zakat harta ialah mengeluarkan sebagian harta benda yang menjadi hak milik seseorang sesuai dengan ketentuan
syariat dengan tujuan untuk membersihkan atau mensucikan harta tersebut.
Adapun harta yang wajib di zakati adalah sebagai berikut :

Barang tambang (Ma‟din), yang wajib dizakati ada 2 yaitu :

1.

Emas, nisabnya (batas minimal wajib zakat) adalah 93,6 gram, sedangkan zakatnya adalah 2,5 % atau 1/40.

2.

Perak, nisabnya 624 gram zakatnya 2,5 %

Perniagaan/Perusahaan (Tijarah), semua harta perniagaan wajib dizakati, nisab dan zakatnya sama dengan emas, waktunya
mengeluarkan zakatnya setelah haul (satu tahun) berniaga.

Hasil pertanian (Zira‟ah), berupa biji-bijian yaitu seperti. Padi, jagung dan gandum. Buah-buahan seperti kurma dan anggur.
Nisabnya adalah 930 liter/7 kwintal (untuk biji-bijian) bersih dari kulitnya, atau 14 kwintal yang masih berkulit. Zakatnya 5 %
untuk pengairan yang memakai biaya, 10 % yang pengairannya tidak memakai biaya (tadah hujan). Waktu mengeluarkan zakatnya
setiap kali panen.

Peternakan (An‟am), yang wajib dizakati adalah :

1.

Unta, nisabnya 5 ekor

2.

Sapi/Kerbau, nisabnya 30 ekor

3.

Kambing/Domba, nisabnya 40 ekor

Barang terpendam (Rikaz). Barang terpendam yang ditemukan seperti emas, perak dan lainnya wajib dikeluarkan zakatnya
sebesar 20 % (1/5).

Uang (Nuqud), nisab dan zakat uang sama dengan zakat emas.

Golongan yang berhak menerima (Mustahik) zakat ada 8 Asnaf yaitu :
1.

Fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta, pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari

2.

Miskin adalah orang yang memiliki harta dan penghasilan namun tidak mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

3.

Amilin adalah oarang yang mengelola zakat.

4.

Muallaf adalah orang yang baru masuk Islam.

5.

Riqab adalah hamba sahaya yang mau memerdekakan dirinya.

6.

Gharim adalah orang yang mempunyai utang untuk kemaslahtan dirinya atau umat.

7.

Ibnu Sabil adalah orang yang ada dalam perjalanan (musafir) yang kehabisan bekal.
Firman Allah :

Artinya :”Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para
mu‟allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka
yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha
Bijaksana.”(QS. At-Taubah/9; 60)
1.

2. Perundang-undangan tentang Pengelolaan Zakat

Perundang-undangan yang mengatur tentang zakat antara lain :

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat.

Keputusan Menteri Agama RI Nomor 373 tahun 2003 tentang pelaksanaan undang-undang Nomor 38 tahun 1999.

Keputusan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat dan Urusan Haji Nomor D/291/tahun 2000 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Zakat

Dalam Undang-undang RI Nomor 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, terdapat empat aspek penting yang
menjadi subtansi tentang zakat yaitu :

BAB II Pasal 5, tentang Tujuan Zakat

BAB III Pasal 6, tentang Lembaga atau Organisasi Pengelola Zakat

BAB IV Pasal 2, tentang Harta yang Wajib dizakati

BAB V Pasal 16 ayat 1 – 3, tentang Pendayagunaan Zakat

3. Contoh Pengelolaan Zakat

Berdasarkan undang-undang bahwa zakat harus dikelola oleh pemerintah melalui suatu badan yang diberi nama Badan Amil Zakat
(BAZ) atau Lembaga Amil Zakat (LAZ).
Contoh pengelolaan zakat fitrah dalam setiap tahun dititipkan kepada Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) tingkat desa, disampaikan ke
BAZ kecamatan kemudian ke BAZ Kabupaten, kemudia dana zakat itu didistribusikan kepada para mustahik yang sangat
membutuhkan atau digunakan untuk kegiatan usaha produktifyang dapat menyerap banyak tenaga kerja, misalnya membantu para
pengusaha kecil dan menengah.
C. HAJI dan UMRAH

1.
1.

1. Pengertian Haji dan Umrah

Haji menurut arti bahasa adalah menyengaja berbuat sesuatu. Sedangkan menurut istilah haji adalah sengaja mengunjungi ka‟bah
(Baitullah) untuk melakukan ibadah kepada Allah pada waktu dan dengan cara-cara yang telah ditentukan.
Umrah menurut arti bahasa adalah pergi menuju. Sedang menurut istilah umrah adalah pergi menuju ka‟bah (Baitullah) untuk
melakukan ibadah kepada Allah dengan cara-cara yang telah ditentukan.
Hukum melaksanakan ibadah haji adalah wajib bagi setiap orang yang mampu seumur hidup satu kali, berdasarkan firman Allah :

Artinya : “mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke
Baitullah”
(QS. Ali Imran/3; 97)
2. Syarat, Rukun, Wajib, Haji dan Umrah
a. Syarat Haji dan Umrah

Syarat Haji dan Umrah ada lima yaitu :

Beragama Islam

Balig

Berakal sehat

Merdeka

Mampu, mempunyai bekal dan aman

b. Rukun Haji dan Umrah

Rukun Haji ada 5 yaitu :

Ihram yaitu niat haji

Wukuf yaitu diam di padang Arafah

Thawaf yaitu mengelilingi ka‟bah sebanyak 7 kali

Sa‟I yaitu berlari-lari kecil antara Safa dan Marwah sebanyak 7 kali

Tahalul yaitu akhir dari ibadah haji ditandai dengan mencukur rambut minimal tiga helai.

Tertib yaitu berurutan sesuai dengan perintah.

Rukun Umrah sama dengan rukun haji kecuali wukuf.
c. Wajib Haji

Wajib haji ada 7 yaitu :

Ihram pada miqatnya

Bermalam di Muzdalifah

Melontar jumrah Aqabah

Melontar tiga jumrah (Ula, Wustha dan Aqabah)

Mabit (bermalam) di Mina

Thawaf Wada

Menjauhkan diri dari larangan selama ihram haji

Sedangkan Syarat Umrah hanya dua yaitu :

Ihram pada miqatnya

Menjauhkan diri dari larangan selama ihram Umrah

d. Sunat Haji

Hal-hal yang disunatkan dalam melakukan ibadah haji antara lain :

Menunaikan haji secara Ifrad yaitu mendahulukan haji dari pada Umrah.

Talbiyah, yaitu :

‫ َْل ىَ َل‬ٝ‫ ِإ َُّ ْاى َح َْذَ َٗاى ِّْ ْع ََتَ ىَ َل َٗ ْاى َُ ْي َل الَ ش َِش‬.‫ َْل‬َّٞ‫ َْل ىَ َل ىَب‬ٝ‫ َْل الَ ش َِش‬َّٞ‫ َْل ىَب‬َّٞ‫ َْل اىي ُٖ ٌَّ ىَب‬َّٞ‫ىَب‬

Berdo‟a setelah membaca talbiyah :

.‫س ْختِ َل َٗاىَّْاس‬
َ ‫ظ‬
ُ ِْ ٍِ ُ‫اك َٗ ْاى َدَّْتَ َٗ َّعُ ْ٘ر‬
َ ‫اَىيّ ُٖ ٌَّ ِإَّّا َّسْأَىُ َل ِس‬

Thawaf Qudum

Melakukan salat dua rakaat setelah Thawaf qudum

Masuk ke ka‟bah

Ziarah ke makam Nabi Muhammad saw dan Nabi Ibrahim as.

3. Perundang-undangan tentang Pengelolaan Haji

Perundang-undangan yang mengatur tentang pengelolaan ibadah haji diantaranya :
1.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji.

2.

Peraturan Presiden RI Nomor 3 1960 tentang Penyelenggaraan urusan Haji.

3.

Keputusan Presiden RI Nomor 112 tahun 1964 tentang Penyelenggaraan urusan Haji secara interdepartemantal.

4.

Keputusan Presiden RI Nomor 22 tahun 1969 tentang Penyelenggaraan urusan Haji oleh Pemerintah.

5.

Keputusan Direktur Jendral bimbingan Masyrakat Islam dan Penyelenggaraan Haji Nomor D/377 tahun 2002 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah

6.

4. Contoh Pengelolaan Haji

Sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, pengelolaan dan penyelenggaran ibadah haji dilakukan oleh
pemerintah dan masyarakat dengan cara sebagai berikut :
1.

Pemerintah menunjuk bank-bank pemerintah dan swasta untuk menampung setoran ongkos naik haji (ONH) dari masyarakat.

2.

Mendaftarkan diri ke Departemen Agama dengan melengkapi administrasi sebagai berikut :

Foto copy KTP

Surat Keterangan Serba Guna dari desa atau kelurahan

Foto copy surat nikah bagi yang berkeluarga

Pas foto

Keterangan sehat dari dokter Puskesmas atau Dinas kesehatan.

Mengisi formulir pendaftaran

Bukti pelunasan ONH

Membayar biaya administrasi sesuai ketentuan

D. WAKAF
1. Pengertian, Syarat dan Rukun Wakaf
a. Pengertian Wakaf

Wakaf menurut arti bahasa ialah menahan, berhenti atau diam. Sedang menurut istilah ialah menahan harta benda yang
tahan lama zatnya untuk diambil manfaat oleh umum demi mendekatkan diri kepada Allah swt.
Dalil yang berhubungan dengan wakaf diantaranya ;

Artinya : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian
harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS.Ali Imran/3;
92)
b. Syarat Wakaf

Ada 3 syarat wakaf yaitu :
1.

Barang yang diwakafkan harus tahan lama zatnya dan bisa diambil manfaatnya tanpa mengurangi zatnya.

2.

Milik sendiri

3.

Digunakan untuk tujuan baik

c. Rukun Wakaf

Dalam ibadah wakaf ada beberapa rukun dan syarat yang harus dipenuhi antara lain :
1.Wakaf yaitu Orang yang mewakafkan dengan syarat :

Balig dan rasyid artinya dapat mempertimbangkan segala sesuatu dengan jernih Tidak punya hutang Kemauan sendiri
Wakaf tidak boleh dibatalkan
2. Mauquf yaitu harta yang diwakafkan dengan syarat :
Harta yang difakafkan zatnya tahan lama
Batas-batasnya jelas
Milik sendiri dan tidak dalam sengketa
1.Maukuf „Alaih yaitu penerima wakaf syaratnya :

Dewasa, bertanggung jawab dan mampu melaksanakan amanat. Sangat dibutuhkan oleh orang banyak, boleh diberikan
kepada badan sosial atau yayasan yang berbadan hukum.
4.,Sigat yaitu serah terima wakaf.

2. Perundang-undangan tentang Pengelolaan Wakaf

Pelaksanaan wakaf di Indonesia diatur dengan perundang-undangan sebagai berikut :
1.

Pelaturan Pemerintah RI Nomor 28 tahun 1977

2.

Pelaturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 tahun 1977

3.

Pelaturan Menteri Agama Nomor 1 tahun 1998

4.

Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Nomor. Kep/P/75 1978

3. Contoh Pengelolaan Wakaf

Sesuai dengan perundang-undangan di atas, maka pengeloaan wakat di Indonesia adalah sebagai berikut :

1.

Calon waqif yang mewakafkan tanahnya harus menghadap Nazir dihadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) , dalam
hal ini adalah Kepala Kantot Urusan Agama (KUA)

2.

Ikrar wakaf sedikitnya disaksikan oleh dua orang dewasa yang sehat akalnya dan dilakukan secara tertulis

3.

Ikrar wakaf dapat juga ditulis dengan persetujuan Departeman Agama Kota/Kabupaten yang menangani wilayah wakaf itu dan
dibicarakan dihadapan PPAIW

4.

Tanah yang diwakafkan dalam keadaan tuntas bebas dari ikatan dan sengketa.

5.

Jika ikrar wakaf telah memenuhi srarat, maka PPAIW menerbitlan Akta Ikrar Wakaf.

Calon wakif sebelum berikrar wakaf terlebih dahulu menyerahkan administrasi sebagai berikut:
1.

Sertifikat atau surat kepemilikan yang sah

2.

Surat keterangan kepala desa yang dikuatkan oleh camat setempat tentang kepemilikan tanah dan statusnya.

3.

Adanya izin Bupati atau Walikota.

Nazir yang dimaksud adalam perungang-undangn di Indonesia adalah suatu badan hukum khusuh yang mengurusi harta
wakap. Mereka memiliki hak dalam pengelolaan wakaf yaitu sebgai berikut :
1.

Berhak menerima penghasilan dari harta wakaf yang ditentukan oleh Kepala Kantor Departeman Agama Kota/Kabupaten
digunakan untuk kepentingan umum dan keagamaan.

2.

Menggunakan fasilitas dengan persetujuan Kepala Kantor Departemen Agama Kota/kabupaten

3.

Nazir disamping mempunyai hak juga mempunyai kewajiban mengamankan harta wakaf, surat-surat wakaf dan hasil-hasil wakaf.

Soal
1.apa yang di maksud zakat?
2.apa yang di maksud haji?
3.apa yang di maksud wakaf?
4.apa yang di maksudtahalul?
5.apa yang di maksudthawaf?
6.sebutkan macam macam haji?
7.apa yang di maksud sai?
8.sebutkan rukun haji?
9.sebutkan macam macam zakat
10.apa yang di maksud zakat fitrah?

keteladanan rasulullah saw
A.Sebab-Sebab Rasulullah Hijrah ke Madinah
a. Adanya provokator, intimidasi dan penganiayaan terhadap diri Rasulullah dan pengikutnya di Mekkah yang telah mencapai titik
mengkhawatirkan.
b. Adanya suasana kondusif da‟wah di Madinah yang ditandai dengan dukungan penuh dari sebagian penduduknya akan
keberadaan Islam.
B.Upaya Pembinaan Umat di Madinah
Sejarah penyebaran islam di Madinah:
a. Tahun ke 11 kenabian, pada saat musim haji, para kabilah datang ke Mekkah untuk melaksanakan haji.Nabi Muhammad menemui
suku khazraj dari Yastrib di bawah kaki gunung Aqabah dengan tujuan saling berkenalan dan memperkenalkan agama islam dan
langsung menjadi pengikutNya.
Penerimaan itu disebabkan oleh :
Pengertian Ketuhanan yang sering disampaikan oleh orang Yahudi di negeri mereka.
Informasi tentang akan datanngnya Rasul terakhir dalam waktu dekat dengan mengerjakan keesaan Allah.
Rasulullah menasehati mereka agar menyebarkan agama islam di kampung halamannya,akhirnya setiap rumah di Madinah
mendengarkan dan membicarakkan nabi Muhammad beserta ajarannya.

b.
Pada ke 12 kenabian,pada musim haji,beliau ditemui 12 orang dari Bani Aus dan khazraj,beliau mengajak mereka pada islam
dengan membacakan ayat-ayat AlQur‟an dan akhirnya mereka yakin menerima islam dengan membacakan kalimat syahadah.

Pada saat itu juga beliau membaiat mereka yang terkenal dengan Bai‟atul Aqabah pertama, yang isinya:
1.Kami tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatuapapun,dan tidak akan menyembah kecuali kepada-Nya.
2.Tidak akan mencuri.
3.Tidak akan melakukan perzinahan dan pelacuran.
4.Tidak akan membunuh anak-anak kami.
5.Tidak akan fitnah-memfitnah,mengumpat,berdusta yang dikarang di antara kedua tangan dan kedua kaki kami,baik di depan
maupun di belakang, serta tidak pula merusakkan nama baik.
6.Tidak akan pernah menolak kebaikan .
7.Tidak akan mendurhakai engkau dalam segala hal yang ma‟ruf,akan setia senantiasa, baik dalam keadaan senang maupun
susah.Bahwa orang yang menepati janji insyaallah akan memperoleh surga,sedang yang melanggarnya terserah dengan Allah akan
disiksa atau tidak.

Sebelum mereka berpisah mereka janji akan bertemu di tempat yang sama dan Rasullullah mengutus 2 sahabatnya untuk
mendampingi mereka dalam memperdalam ajaran islam.
c.

Pada masa musim haji tahun 13 kenabian.

kaum muslimin madinah mengadakan pertemuan dengan rasulullah di aqabah saat waktu malam,kaum Muslimin Yastrib
meminta kepada Rasulullah untuk hijrah ke madinah,Abbas berbicara di hadapan kaum Yastrib: ”Para kaum Khazraj kamu telah
mengetahui, bahwa nabi Muhammad ini adalah seorang dari kaum kami. Kami selalu membelanya, karena itu ia mempunyai
kedudukan terhormat dan terpelihara di negaranya. Bila mana kamu benar-benar setia kepadanya dan benar-benar mau
membelanya, maka kami bersedia menyerahkan Muhammad kepadamu atas dasar tanggung jawabmu. Tetapi kalau kamu hendak
menyerahkan dia kepada para musuhnya dan mengecewakan dia, maka tinggalkan saja ia sekarang juga.”
Rasul pun berbicara dan bersabda : “Saya ingin mengambil baiat dari kamu ,bahwa kamu akan membela saya sebagaimana
kamu membela keluarga dan anak-anakmu”
Setelah rasulullah mengatakan hal tersebut ke-12 orang tersebut berdiri dan berjabat tangan dengan rasulullah mereka
mengatakan akan membela sampai titik darah penghabisan.Peristiwa ini dikenal dengan Bai‟atul Aqabah dua(kubra).
C. Peristiwa Hijrahnya Rasulullah
Setelah peristiwa Baiatul Aqabah Kubra, kaum muslimin Mekkah diperintahkan hijrah ke Madinah. Mereka melakukan hijrah
secara diam-diam, agar tidak diketahui oleh Musyrikin Quraisy.
Tetapi ternyata kaum Quraisy Mekkah mengetahuinya. Mereka heran sekaligus khawatir jika nantinya nabi Muhammad
SAW berkuasa di Madinah dan menurut perkiraan mereka Nabi Muhammad SAW beserta kaum muslimin akan menyerang kafilah
niaga yang kembali dari Syam ke Mekkah. Dengan demikian ekonomi mereka akan turun.
Tindak lanjut dari kekhawatiran tersebut diwujudkan dalam bentuk pertemuan di Darul Nadwah yang menghasilkan
keputusan untuk membunuh Rasulullah. Mereka menjalankan suatu teknik yang bertujuan agar keluarga Bani Hasyim dan Bani
Muthalib tidak dapat menuntut bela kepada mereka, jika Rasulullah terbunuh. Rencana tersebut diberitahukan kepada Rasulullah
dengan memerintahkannya Hijrah sesegera mungkin. Perintah tersebut dari Abu Bakar dan dia meminta agar dapat menemani
Rasulullah dalam Hijarahnya. Ternyata Nabi setuju dan Abu thalib mempersiapkan persediaan untuk bekal perjalanan.
Pada malam hari, ketika pemuda-pemuda Quraisy mengepung rumah Nabi dan siap membunuh beliau. Rasulullah sudah
berkemas-kemas meninggalkan rumah dan berpesan kepada Ali bin Abu Thalib untuk menempati tempat tidur beliau dan
mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepada beliau kepada pemiliknya masing-masing. Beliau keluar melewati pemuda
Quraisy yang tertidur lelap, kemudian beliau menghapiri Abu Bakar untuk berangkat hijrah.
Tujuan pertama adalah Gua Tsuur sebelah selatan kota Mekkah untuknpersembunyian sementara. Setelah pemuda Quraisy
mengetahui bahwa Rasulullah tidak ada di rumahnya, mereka menjelajah ke seluruh kota Mekkah, tetapi tidak bertemu. Akhirnya
mereka menemukan Gua Tsuur dimana Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi. Atas pertolongan Allah SWT, laba-laba membuat
sarang berlapis-lapis yang menunjukkan bahwa gua tersebut telah lama tidak dimasuki siapapun. Dengan melihat keadaan ini,
pemuda Quraisy tidak mencurigai gua tersebut sebagai tempat persembunyian Rasulullah dan Abu Bakar.
Selama tiga hari di Gua Tsuur, kebutuhan hidup sehari-hari dikirimi oleh Abdullah bin Abu Bakar, sekaligus memberikan
informasi berbagai perkembangan Mekkah. Setelah dirasa aman beliau melanjutkan perjalanan ke Madinah menyusuri pantai Laut
Merah. Sedangkan Ali bin Abu Thalib menyusul kemudian dan bertemu dengan Nabi di Quba. Disanalah Rasulullah mendirikan masjid
pertama kali dalam sejarah.
Peristiwa ini diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur‟an Surat At Taubah:10:
ُ ََْ‫ص َشُٓ فَقَ ْذ إِالَّت‬
ُْٓٗ ‫ص ُش‬
َ َّ ‫َِْ َخُٔ أ َ ْخ َش إِرْ ىي ُٖا‬ٝ‫ َمف َُش ْٗا اىَّ ِز‬ِٜ
َ ّ‫ ِِْ ثَا‬َْْٞ‫اث‬
‫ ُٕ ََا إِ ْر‬ِٚ‫َاس ف‬
َ ‫ ِى‬, ‫صو ٍَعََْا هللاَ إِ َُّ تَحْ زَ ُْ َال‬
ِ ‫َقُ ْ٘ ُه إٍ ْر ْاىغ‬ٝ ِٔ ِ‫صحِ ب‬
ْ
َِْٝ‫ َمف َُش ْٗأ اىَّ ِز‬َٚ‫س ْفي‬
ُّ ‫ هللاِ َٗ َم ِي ََت ُ قو اى‬ِٚ
َ ٕ ‫َا‬ٞ‫قَلىعُ ْي‬

Artinya:

ً ‫ ىي ُٖا َّزَ َه فَأ‬،َُٔ‫َْت‬ْٞ ‫س ِن‬
َ َُٓ‫َّذ‬َٝ‫ٗأ‬،
َ ِٔ ْٞ ً‫عي‬
َ ‫َم ِي ََتَ َٗ َخعَ َو ت ََش َْٕٗا ىَّ ٌْ بِ ُدُْ ْ٘ ٍد‬

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir
(musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di
waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” maka Allah
menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya denggan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Qur‟an
menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah, dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. (QS At-Taubah:40).

Rasulullah tiba di Yastrib pada hari Jum‟at tanggal 21 Rabiul Awal tahun 2 hijrah bertepatan dengan tanggal 11 September 622
M. Beliau mendapatkan sambutan hangat, penuh kerinduan dan rasa hormat dari penduduknya, sambil melagukan puisi:

Terbitlah purnama menerangi kita,
Dari Tsaniyatil Wada‟,
Kami wajib bersyukur,
Selagi ada penyeru di jalan Allah,
Oh Nabi utusan Tuhan,
Engkau kini di tengah-tengah kami,
Engkau datang membawa perintah,
Yang harus kami taati

Pada hari itu juga Rasulullah mengadakansholat jum‟at pertama kali dalam sejarah islam, dan beliau pun berkhutbah di
hadapan kaum Muslimin (Muhajirin dan Anshor). Sejak saat ini Yastrib berubah namanya menjadi Madinatun Nabi yang selanjutnya
sering disebut dengan Madinah.
D. Strategi Rasulullah dalam Membina Masyarakat Islam Madinah
Setelah menetap di madinah,Rasullullah memulai rencana untuk membentuk masyarakat muslim yang baldatun thayyibatun wa
rabbun ghafur.Usaha itu ialah:
1.Mendirikan masjid
Masjid adalah bangunan pertama yang dibangun karena mempunyai potensi sangat vital untuk menghimpun umat manusia di
antaranya : menyatukan umat dengan melakukan ibadah berjama‟ah,menyusun benteng pertahanan lahir batin sehingga mereka
rela mengorbankan kesenangan materi dengan memberikan sebagian harta untuk perjuangan islam, dan membina masyarakat
islanm berlandaskan semangat tauhid.
2.Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar
Kaum Muhajjirin adalah para sahabat nabi yang hijrah dari Makkah ke Madinah.
Kaum Anshar adalah sahabat Rasulullah yang merupakan penduduk Madinah yang siap menolong dengan hangat kedatangan
Rasulullah dan kaumNya.

Kaum Muhajjirin rela jauh dari sanak saudara demi melaksanakan perintah rasulullah ,dipererat Beliau dengan
mempersaudarakan mereka dengan kaum Anshar,Abu Bakar dengan Haritsah bin Zaid,Ja‟far bin Abi Thalib dengan Muaz bin
Jabbal.Persaudaraan ini dihukumi Rasul seperti saudara kandung.
Dengan ikatan saudara kandung,diharapkan terbentuk masyarakat yang kokoh dijiwai semangat gotomg royong dan ukhuwah
islamiyah.
3. Perjanjian Perdamaian dengan Kaum Yahudi
Guna mencipatakan suasana yang aman, tenang dan tentram, Nabi mengadakan perjanjian dengan kaum Yahudi Mdinah. Isi
perjanjian itu antara lain:
Bahwa kaum Yahudi hidup damai bersama-samadengan kaum Muslimin
Kaum Muslimin dan kaum Yahudi wajib nasehat-menasehati, tolong-menolong dan melaksanakan kebajikan dan keutamaan.
Kaum muslimin dan kaum Yahudi wajib tolong-menolong, untuk melawan siapa saja yang memerangi mereka, dan orang-orang
Islam memikul belanja mereka sendiri pula.
Bahwa kota Madinah adalah kota suci yang wajib dihormati oleh mereka yang terikat perjanjian itu. Kalau ada perselisihan
diantara kedua kaum dikhawatirkan akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan, maka urusan itu hendaklah diserahkan
kepada Allah dan Rasul.
Bahwa siapa saja yang tinggal di dalam atau di luar kota Madinah, wajib dilindungi keamanan dirinya (kecuali orang yang zalim
dan salah) sebab Allah menjadi pelindung orang-orang yang baik dan berbakti.
4.

Meletakkan Dasar-Dasar Politik, Ekonomi dan Sosial untuk Masyarakat Islam
Dalam bidang politik: diwajibkan syuraa (musyawarah).
Dalam bidang kekayaan: ada hak sosial yang harus dikeluarkan (zakat).
Dalam bidang transaksi: perniagaanharus tidak ada unsur paksaan dan tipuan.
Dalam hidup bermasyarakat: harus berta‟awun (tolong-menolong) dalam kebaikan.

Dengan diletakkannya dasar-dasar yang berkala ini masyarakat dan pemerintahan Islam dapat mewujudkan negari “Baldatun
Thoyibatun Warabbun Ghafur”dan “Mdinatul Munawwarah.”
D.Hikmah Sejarah Dakwah Rasulullah SAW
1. Dengan persaudaraan yang telah dilakukan oleh kaum Muhajirin dan kaum Anshar dapat memberikan rasa aman dan tentram.
2. Persatuan dan saling menghormati antar agama.
3. Menumbuh kembangkan tolong menolong antara yang kuat dan lemah, yang kaya dan miskin.
4. Memahami bahwa umat islam harus berpegang menurut aturan Allah SWT.
5. Memahami dan menyadari bahwa kita wajib agar menjalin hubungan dengan Allah SWT dan antara manusia dengan manusia.
6. kita mendapat warisan yang sangat menentukan kaselamatan kita baik di dunia maupun di akhirat.
7. Menjadikan inspirasi dan motivasi dalam menyiarkan agama Islam.
8. Terciptanya hubungan yang kondusif
Demikian makalah tentang “Memahami Keteladanan Rasulullah SAW dalam Membina Umat Periode Madinah”.

A. Kesimpulan:Dalam manyebarkan agama islam Rasulullah menggunakan banyak strategi, perjalanan Rasulullahyang disertai
cacian dan penganiayaan yang menimpanya tidak membuatnya putus asa malah membuatnya semakin kuat untuk menebarkan
ajaran Allah SWT. Maka hendaklah kita bersyukur telah terlahir dengan keturunan Islam.Karena Islam adalah agama yang terbaik di
hadapan Allah SWT. Di zaman sekarang ini marilah kita menjadi pembela pembela islam seperti apa yang di contohkan Rasulullah
kepada kita. Agar surga selalu dihadapan kita kelak nantinya.
B. Saran: Kepada para pembaca kalau ingin lebih mengetahui tentang bahasan ini bisa membaca buku, majalah, atau browsing
internet yang memuat tentang Memahami Keteladanan Rasulullah SAW dalam Membina Umat Periode Madinah.

soal
1. Apa saja sebab Rasulullah hijrah ke Madinah?
2. Apa saja upaya yang dilakukan Rasulullah dalam pembinaan umat di Madinah?
3. Bagaimana peristiwa hijrahnya Rasulullah?
4. Apa saja strategi yang dilakukan Rasulullah dalam membina masyarakat Islam Madinah?
5. Apa saja hikmah dari sejarah dakwah Rasulullah SAW?