Mioma Uteri

Disusun Oleh :
Maulana Wasis Waskito
141.0221.036

Pembimbing
Kolonel Ckm dr. Toto Imam Soeparmono, Sp.OG., K.Onk.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional
Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto
Jakarta
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME, atas Rahmat dan Hidayah-Nya kami
dapat menyelesaikan tugas Presentasi Kasus ini.Tugas ini berisi pembahasan mengenai
Anemia defisiensi besi pada kehamilan. Dalam penyusunannya kami menggunakan beberapa
referensi baik yang bersumber dari buku ataupun artikel dari internet. Dengan demikian kami
berharap tugas ini dapat memenuhi kebutuhan para pembaca.
Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam
penyusunan makalah ini. terutama kepada pembimbing sekaligus moderator Kolonel Ckm dr.
Toto Imam Soeparmono, Sp.OG., K.Onk. yang telah memberikan bimbingan dan arahan
kepada penulis dalam penyusunan tugas ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan kasus ini terdapat kekurangan
dan masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran
sebagai masukan untuk perbaikan demi kesempurnaan presentasi laporan kasus ini. Semoga
laporan kasus ini dapat bermanfaat bagi teman-teman dan pihak yang berkepentingan bagi
pengembangan ilmu di bidang kedokteran.
Jakarta, Maret 2016
Penulis

PENDAHULUAN

Mioma uteri, dikenal juga dengan sebutan fibromioma, fibroid ataupun leiomioma,
merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang
menumpangnya.1
Sering ditemukan pada wanita usia reproduksi, kejadiannya lebih tinggi pada usia
diatas 35 tahun. Tingginya kejadian mioma uteri antara usia 35 - 50 tahun, menunjukkan
adanya hubungan mioma uteri dengan estrogen. Di Indonesia angka kejadian mioma uteri
ditemukan 2,39% - 11,87% dari semua penderita ginekologi yang dirawat.1,2
Walaupun biasanya asimptomatik, mioma dapat menyebabkan banyak problem
termasuk metrorrhagia dan menorrhagia, rasa sakit bahkan infertilitas. Memang, perdarahan
uteri yang sangat banyak merupakan indikasi yang paling banyak untuk dilakukan
histerektomi. Hal ini menimbulkan masalah besar dalam kesehatan dan terapi yang paling
efektif belum didapatkan, karena sedikit sekali informasi mengenai etiologi mioma uteri itu
sendiri.1,2,3,4

LAPORAN KASUS
I. Identitas pasien
Nama

: Ny. N

Umur

: 41 tahun

Tanggal lahir

: 7 April 1967

Agama

: Islam

Suku/ Bangsa

: Jawa/ WNI

Alamat

: Jl. Serdang Baru II RT 013 RW 006

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Wiraswasta

Tgl MRS

: 12-01-2016

II. Anamnesis (12-01-2016)
Keluhan utama : gangguan haid.
Perjalanan penyakit :
• Pasien datang ke rumah sakit pada tanggal 12-01-2016 dengan keluhan gangguan haid sejak 5
tahun yang lalu. Dalam sebulan haid sebanyak 1 kali. Setiap haid lamanya 7-20 hari. Setiap hari
ganti pembalut + 4 sampai 5 kali. Darah haid berwarna merah kehitaman. Sakit perut saat haid
disangkal. Riwayat keputihan tidak ada.
• Pasien juga mengeluh rasa penuh dan berat sejak 2 tahun yang lalu pada perut bagian bawah.
Nyeri dan rasa kemeng di daerah perut bagian bawah. Gangguan BAK berupa BAK sering,
sedikit-sedikit, nyeri saat/ sebelum/ sesudah BAK tidak ada. Sulit buang air besar dan nyeri saat
BAB tidak ada. Teraba benjolan di perut disangkal.
• Sebelum MRS pasien pernah memeriksakan kesehatannya di dokter Sp.OG pada tanggal 17-102015 karena gangguan haid. Dari hasil pemeriksaan USG di dokter Sp.OG tersebut didapatkan
uterus membesar dengan ukuran 10 x 7 cm dan didiagnosis mioma uteri.
• Kemudian pasien MRS melalui poli kandungan dan direncanakan untuk operasi elektif
histerektomi.
Riwayat menstruasi sebelum terjadi gangguan haid :
-

menarche : umur 15 tahun.

-

siklus : teratur 30 hari sekali.

-

banyaknya : normal (2-3 pembalut/ hari)

-

lamanya : 7 hari

Riwayat penggunaan KB (-), pasien tidak pernah menggunakan KB setelah hamil anak kedua.

Riwayat pernikahan : suami ke I, menikah 1x selama 20 tahun.
Jumlah anak : 2 orang, hidup 2 orang.
Usia anak terkecil : 13 tahun.
Riwayat abortus : tidak pernah mengalami keguguran.
Riwayat penyakit dahulu : tidak pernah menderita penyakit jantung, paru, hati, ginjal, DM dan
hipertensi.
Riwayat penyakit keluarga : tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit menular, mioma,
keturunan dan kejiwaan.
Riwayat penyakit yang pernah diderita : sakit biasa seperti demam, flu dan batuk.
Riwayat penyakit keganasan pada keluarga : tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit
keganasan.
Riwayat alergi : tidak mempunyai alergi terhadap obat-obatan, makanan dan cuaca.
III. Pemeriksaan fisik (12-01-2016)
Keadaan umum : Baik
Kesadaran

: Compos mentis

Tensi

: 120/80 mmHg

Nadi

: 82x/menit

Nafas

: 22x/menit

Suhu

: 36,3 0C

Tinggi badan

: 165 cm

Berat badan

: 76 kg

Status general
Kepala

: Normocephali

Mata

: Anemis (-/-), ikterik (-/-)

Thorak

: Cor

 S1, S2 tunggal, reguler, murmur (-)

Pulmo vesikuler -/-, rhonki -/-, wheezing -/Abdomen

: Bising usus (+) normal

Ekstremitas

: Edema -/-

Status ginekologi
Abdomen

: Fundus uteri 3 jari di atas simpisis pubis, teraba massa mioma
berukuran 11 x 8 cm, konsistensi kenyal dan bersifat mobile.
Nyeri tekan (-)

Inspekulo

: Fluksus (+), P (+), livide (-).

VT

: Fluksus (+), P 1 cm, nyeri (-)
CU AF --- lebih besar dari normal b/c  14-16 minggu.

IV. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium (12-01-2016)
Hb

: 10,4 g/ul

Leu

: 6800 /ul

Erit

: 5,1.106 /ul

Plt

: 331.000 /ul

Hct

: 32,2 %

LED

:9

HbSAg

: (-)

AST

: 17 u/l

ALT

: 32 u/l

BUN

: 19 mg%

Kreatinin

: 0,6 mg%

USG (tgl 12-01-2016) :
Tampak uterus membesar dengan ukuran : 10 x 7 cm
Kesan : mioma uteri.
V. Diagnosis Kerja
Mioma uteri
VI. Terapi
• Konsul anastesi
• Rencana untuk dilakukan Total Abdominal Histerektomi (TAH)

PEMBAHASAN

Definisi
Myoma uteri adalah neoplasma jinak yang tersusun dari otot polos uteri dan jaringan ikat
yang menumpangnya dan sering juga disebut sebagai fibromioma, leiomioma, fibroid.1

Etiologi
Etiologi yang pasti terjadinya mioma uteri saat ini belum diketahui. Mioma uteri banyak
ditemukan pada usia reproduktif dan angka kejadiannya rendah pada usia menopause, dan
belum pernah dilaporkan terjadi sebelum menarche. Diduga penyebab timbulnya mioma uteri
paling banyak oleh stimulasi hormon estrogen.1
Apakah estrogen secara langsung memicu pertumbuhan mioma uteri, atau memakai mediator
masih menimbulkan silang pendapat. Dimana telah ditemukan banyak sekali mediator
didalam mioma uteri, seperti estrogen growth factor, insulin growth factor – 1 (IGF-1). Awal
mulanya pembentukan tumor adalah terjadinya mutasi somatik dari sel-sel miometrium.
Mutasi ini mencakupi rentetan perubahan pada kromosom, baik secara parsial maupun secara
keseluruhan.2,5

Klasifikasi
Sarang mioma di uterus dapat berasal dari serviks uteri (1-3%) dan selebihnya adalah dari
korpus uteri. Menurut tempatnya di uterus dan menurut arah pertumbuhannya, maka mioma
uteri dibagi 4 jenis antara lain mioma submukosa, mioma intramural, mioma subserosa, dan
mioma intraligamenter. Jenis mioma uteri yang paling sering adalah jenis intramural (54%),
subserosa (48,2%), submukosa (6,1%) dan jenis intraligamenter (4,4%).1,2

1.

Mioma submukosa
Berada dibawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. Jenis ini di jumpai

6,1% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini sering memberikan keluhan gangguan perdarahan.
Mioma uteri jenis lain meskipun besar mungkin belum memberikan keluhan perdarahan,
tetapi mioma submukosa, walaupun kecil sering memberikan keluhan gangguan perdarahan.
Mioma submukosa umumnya dapat diketahui dari tindakan kuretase, dengan adanya benjolan
waktu kuret, dikenal sebagai Currete bump. Tumor jenis ini sering mengalami infeksi,
terutama pada mioma submukosa pedinkulata. Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis
mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Tumor ini dapat keluar dari rongga rahim ke
vagina, dikenal dengan nama mioma geburt atau mioma yang di lahirkan, yang mudah
mengalami infeksi, ulserasi, dan infark. Pada beberapa kasus, penderita akan mengalami
anemia dan sepsis karena proses di atas.6
2.

Mioma intramural
Terdapat di dinding uterus diantara serabut miometrium. Karena pertumbuhan tumor,

jaringan otot sekitarnya akan terdesak dan terbentuklah semacam simpai yang mengelilingi
tumor. Bila didalam dinding rahim dijumpai banyak mioma, maka uterus akan mempunyai
bentuk yang berdungkul dengan konsistensi yang padat. Mioma yang terletak pada dinding
depan uterus, dalam pertumbuhannya akan menekan dan mendorong kandung kemih keatas,
sehingga dapat menimbulkan keluhan miksi.
3.

Mioma subserosa
Apabila tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus diliputi

oleh serosa. Mioma subserosa dapat tumbuh diantara kedua lapisan ligamentum latum
menjadi mioma intraligamenter.

4.

Mioma intraligamenter
Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligamentum

atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus. Jarang sekali ditemukan satu
macam mioma saja dalam satu uterus. Mioma pada serviks dapat menonjol ke dalam satu
saluran serviks sehingga ostium uteri eksternum berbentuk bulan sabit. Apabila mioma
dibelah maka tampak bahwa mioma terdiri dari berkas otot polos dan jaringan ikat yang
tersusun seperti kumparan (whorle like pattern) dengan pseudokapsul yang terdiri dari
jaringan ikat longgar yang terdesak karena pertumbuhan sarang mioma ini.

Gambar 1. Jenis-jenis mioma uteri

Gambaran Mikroskopik
Pada pembelahan jaringan mioma tampak lebih putih dari jaringan sekitarnya. Pada
pemeriksaan secara mikroskopik dijumpai sel-sel otot polos panjang, yang membentuk
bangunan yang khas sebagai kumparan. Inti sel juga panjang dan bercampur dengan jaringan
ikat. Pada pemotongan tranversal, sel berbentuk polihedral dengan sitoplasma yang banyak
mengelilinginya. Pada pemotongan longitudinal inti sel memanjang, dan ditemukan adanya

mast cells diantara serabut miometrium sering diinterprestasi sebagai sel tumor atau sel
raksasa (giant cells).1,3,4

Perubahan Sekunder
1.

Atrofi.
Sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan berakhir mioma uteri menjadi kecil.

2.

Degenerasi hialin.
Perubahan ini sering terjadi terutama pada penderita usia lanjut. Tumor kehilangan

struktur aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian besar atau hanya sebagian kecil
dari padanya seolah-olah memisahkan satu kelompok serabut otot dari kelompok lainnya.
3.

Degenerasi kistik.
Dapat meliputi daerah kecil maupun luas, sebagian dari mioma menjadi cair, sehingga

terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi seperti agar-agar, dapat juga terjadi
pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma. Dengan
konsistansi yang lunak tumor ini sukar dibedakan dari kista ovarium atau suatu kehamilan.
4.

Degenerasi membatu.
Terutama terjadi pada wanita berusia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam

sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma
menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto rontgen.
5.

Degenerasi merah.
Perubahan ini biasanya terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis diperkirakan

karena suatu nekrosis subakut akibat gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan dapat terlihat
sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah disebabkan oleh pigmen hemosiderin
dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda yang
disertai emesis dan haus, sedikit demam dan kesakitan, tumor dan uterus membesar dan nyeri

pada perabaan. Penampilan klinik seperti ini menyerupai tumor ovarium terpuntir atau mioma
bertangkai.
6.

Degenerasi lemak.
Keadaan ini jarang dijumpai, tetapi dapat terjadi pada degenerasi hialin yang lanjut,

dikenal dengan sebutan fibrolipoma.6

Diagnosis
Diagnosis mima uteri ditegakkan berdasarkan:
1.

2.

Anamnesis
-

Timbul benjolan di perut bagian bawah dalam waktu yang relatif lama.

-

Kadang-kadang disertai gangguan haid, buang air kecil atau buang air besar.

-

Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir, pecah.

Pemeriksaan fisik
-

Palpasi abdomen didapatkan tumor di abdomen bagian bawah.

-

Pemeriksaan ginekologik dengan pemeriksaan bimanual didapatkan tumor tersebut
menyatu dengan rahim atau mengisi kavum Douglasi.

3.

Konsistensi padat, kenyal, mobil, permukaan tumor umumnya rata.

Gambaran Klinis
Pada umumnya wanita dengan mioma tidak mengalami gejala. Gejala yang terjadi

berdasarkan ukuran dan lokasi dari mioma yaitu :
a.

Menoragia (menstruasi dalam jumlah banyak)

b.

Perut terasa penuh dan membesar

c.

Nyeri panggul kronik (berkepanjangan)
Nyeri bisa terjadi saat menstruasi, setelah berhubungan seksual, atau ketika terjadi

penekanan pada panggul. Nyeri terjadi karena terpuntirnya mioma yang bertangkai, pelebaran

leher rahim akibat desakan mioma atau degenerasi (kematian sel) dari mioma. Gejala lainnya
adalah:
-

Gejala gangguan berkemih akibat mioma yang besar dan menekan saluran kemih
menyebabkan gejala frekuensi (sering berkemih) dan hidronefrosis (pembesaran ginjal)

-

Penekanan rektosigmoid (bagian terbawah usus besar) yang mengakibatkan konstipasi
(sulit BAB) atau sumbatan usus

-

Prolaps atau keluarnya mioma melalui leher rahim dengan gejala nyeri hebat, luka, dan
infeksi
Bendungan pembuluh darah vena daerah tungkai serta kemungkinan tromboflebitis

sekunder karena penekanan pelvis (rongga panggul)7
4.

Pemeriksaan luar
Teraba massa tumor pada abdomen bagian bawah serta pergerakan tumor dapat terbatas

atau bebas.
5.

Pemeriksaan dalam
Teraba tumor yang berasal dari rahim dan pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas

dan ini biasanya ditemukan secara kebetulan.
6.

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium. Anemia merupakan akibat paling sering dari mioma. Hal ini

disebabkan perdarahan uterus yang banyak dan habisnya cadangan zat besi. Kadang-kadang
mioma menghasilkan eritropoetin yang pada beberapa kasus menyebabkan polisitemia.
Adanya hubungan antara polisitemia dengan penyakit ginjal diduga akibat penekanan mioma
terhadap ureter yang menyebabkan peninggian tekanan balik ureter dan kemudian
menginduksi pembentukan eritropoetin ginjal.
USG, untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan endometrium dan keadaan
adnexa dalam rongga pelvis. Mioma juga dapat dideteksi dengan CT scan ataupun MRI,

tetapi kedua pemeriksaan itu lebih mahal dan tidak memvisualisasi uterus sebaik USG.
Untungnya, leiomiosarkoma sangat jarang karena USG tidak dapat membedakannya dengan
mioma dan konfirmasinya membutuhkan diagnosa jaringan.
Dalam sebagian besar kasus, mioma mudah dikenali karena pola gemanya pada beberapa
bidang tidak hanya menyerupai tetapi juga bergabung dengan uterus; lebih lanjut uterus
membesar dan berbentuk tak teratur.
Foto BNO/IVP pemeriksaan ini penting untuk menilai massa di rongga pelvis serta
menilai fungsi ginjal dan perjalanan ureter. Histerografi dan histeroskopi untuk menilai
pasien mioma submukosa disertai dengan infertilitas. Laparaskopi untuk mengevaluasi massa
pada pelvis.

Komplikasi
1.

Perdarahan sampai terjadi anemia.

2. Degenerasi ganas. Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0,32 –

0,6 % dari seluruh mioma serta merupakan 50 – 75 % dari semua sarkoma uterus.
Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah
diangkat. Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan
apabila terjadi pembesaran sarang mioma dalam menopause.2,3
3. Torsi. Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi

akut sehingga mengalami nekrosis. Keadaan ini dapat terjadi pada semua bentuk mioma
tetapi yang paling sering adalah jenis mioma submukosa pendinkulata.

Diagnosis Banding
Pada mioma subserosa, diagnosa bandingnya adalah tumor ovarium yang solid, atau
kehamilan uterus gravidus. Sedangkan pada mioma submucosum yang dilahirkan diagnosa

bandingnya adalah inversio uteri. Kemudian, pada mioma intramural, diagnosa bandingnya
adalah adenomiosis, khoriokarsinoma, karsinoma korporis uteri atau sarcoma uteri. 1,2,3,4

Penatalaksanaan
Pilihan pengobatan mioma tergantung umur pasien, paritas, status kehamilan, keinginan
untuk mendapatkan keturunan lagi, keadaan umum dan gejala serta ukuran lokasi serta jenis
mioma uteri itu sendiri.
1.

Konservatif
Tidak semua mioma uteri memerlukan pengobatan bedah ataupun medikamentosa

terutama bila mioma itu masih kecil dan tidak menimbulkan gangguan atau keluhan.
Penanganan konservatif, bila mioma yang kecil pada pra dan post menopause tanpa gejala.
Cara penanganan konservatif sebagai berikut :
-

Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.

-

Bila anemia, Hb < 8 g% transfusi PRC.

-

Pemberian zat besi.

-

Penggunaan agonis GnRH leuprolid asetat 3,75 mg IM pada hari 1-3 menstruasi setiap
minggu sebanyak tiga kali. Obat ini mengakibatkan pengerutan tumor dan
menghilangkan gejala. Obat ini menekan sekresi gonadotropin dan menciptakan keadaan
hipoestrogenik yang serupa yang ditemukan pada periode postmenopause. Efek
maksimum dalam mengurangi ukuran tumor diobservasi dalam 12 minggu.

-

Terapi agonis GnRH ini dapat pula diberikan sebelum pembedahan, karena memberikan
beberapa keuntungan: mengurangi hilangnya darah selama pembedahan, dan dapat
mengurangi kebutuhan akan transfusi darah.

-

Baru-baru ini, progestin dan antipprogestin dilaporkan mempunyai efek terapeutik.
Kehadiran tumor dapat ditekan atau diperlambat dengan pemberian progestin dan
levonorgestrol intrauterin.

2.

Pengobatan Operatif

Penanganan operatif, bila:
-

Ukuran tumor lebih besar dari ukuran uterus 12-14 minggu.

-

Pertumbuhan tumor cepat.

-

Mioma subserosa bertangkai dan torsi.

-

Bila dapat menjadi penyulit pada kehamilan berikutnya.

-

Hipermenorea pada mioma submukosa.

-

Penekanan pada organ sekitarnya.

Jenis operasi yang dilakukan dapat berupa :
a. Enukleasi Mioma
Dilakukan pada penderita infertil atau yang masih menginginkan anak atau
mempertahankan uterus demi kelangsungan fertilitas. Sejauh ini tampaknya aman, efektif,
dan masih menjadi pilihan terbaik. Enukleasi sebaiknya tidak dilakukan bila ada
kemungkinan terjadinya karsinoma endometrium atau sarkoma uterus, juga dihindari pada
masa kehamilan. Tindakan ini seharusnya dibatasi pada tumor dengan tangkai dan jelas yang
dengan mudah dapat dijepit dan diikat. Bila miomektomi menyebabkan cacat yang
menembus atau sangat berdekatan dengan endometrium, kehamilan berikutnya harus
dilahirkan dengan seksio sesarea.

Kriteria preoperasi menurut American College of Obstetricians Gynecologists (ACOG)
adalah sebagai berikut :

Kegagalan untuk hamil atau keguguran berulang.

Terdapat leiomioma dalam ukuran yang kecil dan berbatas tegas.

Apabila tidak ditemukan alasan yang jelas penyebab kegagalan kehamilan dan
keguguran yang berulang.

b. Histerektomi
Dilakukan bila pasien tidak menginginkan anak lagi, dan pada penderita yang memiliki
leiomioma yang simptomatik atau yang sudah bergejala. Kriteria ACOG untuk histerektomi
adalah sebagai berikut:

Terdapatnya 1 sampai 3 leiomioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar dan
dikeluhkan olah pasien.

Perdarahan uterus berlebihan :
Perdarahan yang banyak bergumpal-gumpal atau berulang-ulang selama lebih dari 8 hari.
Anemia akibat kehilangan darah akut atau kronis.

Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma meliputi :
Nyeri hebat dan akut.
Rasa tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah yang kronis.
Penekanan buli-buli dan frekuensi urine yang berulang-ulang dan tidak disebabkan
infeksi saluran kemih.

c. Penanganan Radioterapi
-

Hanya dilakukan pada pasien yang tidak dapat dioperasi (bad risk patient).

-

Uterus harus lebih kecil dari usia kehamilan 12 minggu.

-

Bukan jenis submukosa.

-

Tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum.

-

Tidak dilakukan pada wanita muda, sebab dapat menyebabkan menopause.

-

Maksud dari radioterapi adalah untuk menghentikan perdarahan.

Mioma Uteri dan Kehamilan
Pengaruh mioma uteri pada kehamilan adalah :
-

Kemungkinan abortus lebih besar karena distorsi kavum uteri khususnya pada mioma
submukosum.

-

Dapat menyebabkan kelainan letak janin

-

Dapat menyebabkan plasenta previa dan plasenta akreta

-

Dapat menyebabkan HPP akibat inersia maupun atonia uteri akibat gangguan mekanik
dalam fungsi miometrium

-

Dapat menganggu proses involusi uterus dalam masa nifas

-

Jika letaknya dekat pada serviks, dapat menghalangi kemajuan persalinan dan
menghalangi jalan lahir.

Pengaruh kehamilan pada mioma uteri adalah :
-

Mioma membesar terutama pada bulan-bulan pertama karena pengaruh estrogen yang
meningkat

-

Dapat terjadi degenerasi merah pada waktu hamil maupun masa nifas seperti telah
diutarakan sebelumnya, yang kadang-kadang memerlukan pembedahan segera guna
mengangkat sarang mioma. Namun, pengangkatan sarang mioma demikian itu jarang
menyebabkan perdarahan.

-

Meskipun jarang, mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi dengan gejala dan tanda
sindrom akut abdomen.

Terapi mioma dengan kehamilan adalah konservatif karena miomektomi pada kehamilan
sangat berbahaya disebabkan kemungkinan perdarahan hebat dan dapat juga menimbulkan

abortus. Operasi terpaksa jika lakukan kalau ada penyulit-penyulit yang menimbulkan gejala
akut atau karena mioma sangat besar. Jika mioma menghalangi jalan lahir, dilakukan SC
(Sectio Caesarea) disusul histerektomi tapi kalau akan dilakukan miomektomi lebih baik
ditunda sampai sesudah masa nifas.

Prognosis
Histerektomi dengan mengangkat seluruh mioma adalah kuratif. Miomektomi yang ekstensif
dan secara signifikan melibatkan miometrium atau menembus endometrium, maka
diharuskan SC pada persalinan berikutnya. Mioma yang kambuh kembali setelah
miomektomi terjadi pada 15-40% pasien dan 2/3-nya memerlukan tindakan lebih lanjut.11

DAFTAR PUSTAKA

1.

Thomas EJ. The aetiology and phatogenesis of fibroids. In : Shaw RW. eds. Advences in
reproduktive endocrinology uterine fibroids. England – New Jersey : The Phartenon
Publishing
Group,
1992
;
1

8.
Diakses
9
Oktober
2010.
http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/health-sciences/mioma-uteri/mrdetail/906/

2.

Baziad A. Pengobatan medikamentosa mioma uteri dengan analog GnRH. Dalam :
Endokrinologi ginekologi edisi kedua. Jakarta : Media Aesculapius FKUI, 2003; 151 –
156. Diakses 9 Oktober 2010. http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/health-sciences/miomauteri/mrdetail/906/

3.

Bradley J, Voorhis V. Management options for uterine fibroids, In : Marie Chesmy,
Heather Whary eds. Clinical obstetric and Gynecology. Philadelphia : Lippincott
Williams and Wilkins, 2001 ; 314 – 315. Diakses 9 Oktober 2010.
http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/health-sciences/mioma-uteri/mrdetail/906/

4.

Schwartz MS. Epidermiology of uterine leiomiomata. In : Chesmy M, Heather, Whary
eds. Clinical Obstetric and Ginecology. Philadelphia : Lippincott Williams and Willkins,
2001 ; 316 – 318. Diakses 9 Oktober 2010. http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/healthsciences/mioma-uteri/mrdetail/906/

5.

Friedman AJ, Rein MS, Murugan R, Pandian, Barbieri RL.Fasting serum growth
hormone and insulin_like growth factor – I and –II concentrations in women with
leiomiomata uteri treated with leuprolide acetate or placebo. Fertility and Sterility, 1990 ;
53 : 250 – 253. Diakses 9 Oktober 2010. http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/healthsciences/mioma-uteri/mrdetail/906/

6.

Joedosaputro MS. Tumor jinak alat genital. Dalam: Sarwono Prawiroharjo, edisi kedua.
Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta: 1994; 338-345

7.

http://www.klikdokter.com/medisaz/read/2010/07/05/26/mioma-uteri

8.

Sivecney G.Mc, Shaw RW. Attempts at medical treatment of uterine fibroids. In : R.W.
Shaw, eds. Advences in reproductive endocrinology uterine fibroids. England – New
Jersey : The Phartenon Publishing Group, 1992 ; 95 – 101. Diakses 9 Oktober 2010.
http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/health-sciences/mioma-uteri/mrdetail/906/

9.

Schwartz MS. Epidermiology of uterine leiomyomata. In : Chesmy M, Heather, Whary
eds. Clinical Obstetric and Ginecology. Philadelphia : Lippincott Williams and Willkins,
2001 ; 316 – 318. Diakses 9 Oktober 2010. http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/healthsciences/mioma-uteri/mrdetail/906/

10. Bradley J, Voorhis V. Management options for uterine fibroids, In : Marie
Chesmy,Heather Whary eds. Clinical obstetric and Gynecology. Philadelphia : Lippincott
Williams and Wilkins, 2001 ; 314 – 315, Diakses 9 Oktober 2010.
http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/health-sciences/mioma-uteri/mrdetail/906/
11. Lumsden MA. The role of oestrogen and growth factors in the control of the growth of
uterine leiomiomata. In : R.W. Shaw, eds. Advances in reproductive endocrinology
uterine fibroids. England-New Jersey: The Parthenon Publishing Group, 1992; 9 – 20.
Diakses 9 Oktober 2010. http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/health-sciences/miomauteri/mrdetail/906/