BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Komponen-komponen kimia yang terkandung di dalam bahan
organik seperti yang terdapat di dalam tumbuh-tumbuhan sangat
dibutuhkan oleh keperluan hidup manusia, baik komponen senyawa
tersebut digunakan untuk keperluan industri maupun untuk bahan obatobatan. Komponen tersebut dapat diperoleh dengan metode ekstraksi
dimana ekstraksi merupakan proses pelarutan komponen kimia yang
sering digunakan dalam senyawa organik untuk melarutkan senyawa
tersebut dengan menggunakan suatu pelarut yang selanjutnya akan
dilakukan pemisahan komponen.
Kromatografi adalah cara pemisahan campuran yang didasarkan
atas perbedaan distribusi dari komponen campuran tersebut diantara dua
fase, yaitu fase diam (stationary) dan fasa bergerak (mobile). Fasa diam
dapat berupa zat padat atau zat cair, sedangkan fasa bergerak dapat
berupa zat cair atau gas. Teknologi yang penting untuk analisis dan
pemisahan preparatif pada campuran bahan adalah prinsip dasar
kromatografi.
Salah satu metode pemisahan yang memerlukan biaya paling murah
dan memakai peralatan sangat sederhana ialah kromatografi lapis tipis
preparatif (KLTP).Walaupun KLTP dapat memisahkan dalam jumlah
gram,sebagian besar pemakaian hanya dalam jumlah miligram. KLT

preparatif dilakukan dengan menggunakan lapisan tebal (sampai 1 mm)
sebagai pengganti lapisan penyerap yang tipis
Salah satu tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat adalah
kulit pisang ambon (Musa acuminata Colla) (Dalimartha, S. 2007).
Tumbuhan

ini

termasuk

dalam

suku

Compositae

(Aste-raceae)

diindikasikan untuk tumor rahim, malaria, pneumonia, antiinflamasi dan
sebagainya (Dalimartha, 2007).
Dilakukan pengujian dengan metode kromatografi lapis tipis
preparatif berguna untuk memisahkan campuran reaksi sehingga
diperoleh senyawa murni untuk pendahuluan, untuk menyiapkan cuplikan
analisis, untuk meneliti bahan alam yang lazimnya berjumlah kecil dan
campurannya rumit, dan untuk memperoleh cuplikan yang murni untuk
mengkalibrasi KLT kuantitatif.
Dari alasan tersebut di atas, maka dianggap perlu pengetahuan
yang cukup untuk mengenal berbagai macam tumbuhan yang berkhasiat
obat, untuk diisolasi komponen kimia yang terdapat dalam suatu simplisia,
khususnya bagi seorang farmasis.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya yaitu bagaimana cara mengisolasi
ekstrak pisang ambon (Musa acuminata Colla) dengan menggunakan
metode kromatografi lapis tipis preparatif?

2. Maksud Adapun maksud dilakukannya praktikum ini yaitu mengisolasi senyawa aktif pada fraksi kulit pisang ambon (Musa acuminata Colla) dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis preparatif berdasarkan pola kromatogram.C. Tujuan Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini yaitu untuk mendapatkan isolat yang aktif sebagai antioksidan dari ekstrak kulit pisang ambon (Musa acuminata Colla) dengan metode kromatografi lapis tipis preparative berdasarkan pola kromatogram. Maksud dan Tujuan 1. .

Regnum : Plantae Subregnum : Viridaeplantae Infraregnum : Streptophyta Devisi : Tracheophyta Sub devisi : Spermatophytina Class : Magnoliopsida Superorder : Lilianae Order : Zingiberales Family : Musaceae Genus : Musa L Species : Musa acuminata Colla. 2 Morfologi pisang ambon .BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. 2014). Uraian Tanaman 1 Klasifikasi tanaman (Integrated Taxonomic Information System.

Masing-masing node memiliki dua baris pada bunga yang membentuk tandan pada . Endokarp terdiri atas lapisan hampir rongga ovar.5 m. Braktea membuka secara sekuen sekitar satu per hari. daun. Rata-rata panjangnya adalah 4-5 meter untuk yang menjalar kesamping dan hanya 75-150 cm untuk yang tumbuh ke dalam tanah. terdapat bercak merah pada lembaran daunnya atau pada ibu tulangnya. 1991) akar pohon pisang merupakan akar serabut yang berpangkal dari umbi batang yang sebagian letaknya berada di bawah tanah. Secara fisiologi daun pisang menurut (Nur et al.Seperti tanaman yang lainnya.ian. tanaman pisang mempunyai bagianbagian tanaman seperti akar. Daun pisang memiliki pelepah daun yang yang membesar dan mengumpul berselang seling membentuk suatu struktur seperti batang yang disebut psudo stem. Bunga terdiri dari kumpulan dua baris bunga pertama dan disusul bunga jantan. Buah kemungkinan berkembang dari ovari interior dan eksokarp disusan pada lapisan epidermis dan paerenkim. 2006) berwarna hijau tua untuk daun yang dewasa dan hijau muda untuk daun yang masih muda kecuali untuk beberapa spesies. bunga. Batang pisang menurut (Nakasone. 1998) merupakan batang semu yang terbentuk dari pelepah daun yang membesar di pangkalnya dan mengumpul membentuk struktur berselangseling yang terlihat kompak sehingga tampak sebagai batang (pseudo stem). batang.. Menurut (Tjahjadi. Tangkai bunga terus memanjang sampai 1. buah dan biji. dengan daging menjadi mesokarp.

yang memelihara lapisan sel jaringan dari usus kecil dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi. terdapat katekin. protein dan karbohidrat yang baik untuk dikonsumsi tubuh (Amrullah dan Elly. mineral seperti kalium dan natrium. serta menurut Someya (2002). Hasil penapisan fitokimia ekstrak menunjukkan hasil positif untuk senyawa tannin. 1998).buah dan secara umum disebut sisir dengan buah individual yang disebut finger (Nakasone. flavonoid dan polifenolat (Fitrianingsih et al. Nama kromatografi diambil dari bahasa Yunani (chromato = penulisan dan grafe = warna). disamping banyak mengandung karbohidrat. 1985). Menurut Kanazawa dan Sakakibara (2000) jenis flavonoid yang teridentifikasi adalah narigenin dan rutin.. 2012). kuinon. Kromatografi .. Menurut penelitian yang telah dilakukan buah pisang ambon matang sangat efektif dalam mengurangi keparahan klinis dari penyakit diare dan banyak mengandung vitamin. serta selulosa. 3 Kandungan kimia Menurut Atun et al. B. maupun senyawa fenolik yang lainnya. mineral. Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP) Istilah kromatografi mula-mula ditemukan oleh Michael Tswett (1908). 2007 menyebutkan bahwa kulit buah pisang ambon (Musa acuminata Colla) kaya akan senyawa flavonoid. galokatekin dan epikatekin. 4 Manfaat tanaman Pisang ambon merupakan buah yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena mengandung senyawa yang disebut asam lemak rantai pendek. seorang ahli botani Rusia.

Cara ini berguna untuk memisahkan campuran reaksi sehingga . 2008). 2005). disebut kromatografi gas. cuplikan yang akan dipisahkan ditotolkan berupa garis pada salah satu sisi pelat lapisan besar dan dikembangkan secara tegak lurus pada garis cuplikan sehingga campuran akan terpisah menjadi beberapa pita. dan penyerap yang mengandung senyawa pita dikerok dari pelat kaca. perbedaan kemampuan adsorpsi terhadap zat-zat yang sangat mirip mempengaruhi resolusi zat terlarut dan menghasilkan apa yang disebut kromatogram (Khopkar. fasa gerak yang membawa cuplikan dan fasa diam yang menahan cuplikan secara selektif. yaitu fase diam (stationary) dan fasa bergerak (mobile). dan sebaliknya kalau fasa gerak berupa zat cair. Pita ditampakkan dengan cara yang tidak merusak jika senyawa itu tanwarna. Pada kromatografi lapis tipis preparatif. sedangkan fasa bergerak dapat berupa zat cair atau gas (Yazid. Kemudian cuplikan dielusi dari penyerap dengan pelarut polar. 1994). Kromatografi adalah cara pemisahan campuran yang didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen campuran tersebut diantara dua fase. Bila fasa gerak berupa gas. Kromatografi merupakan salah satu metode pemisahan komponen-komponen campuran dimana cuplikan berkesetimbangan di antara dua fasa. Kromatografi adalah proses melewatkan sampel melalui suatu kolom. Fasa diam dapat berupa zat padat atau zat cair.berarti penulisan dengan warna. disebut kromatografi cair (Hendayana.

1991). Pada kromatografi lapis tipis. dapat pula terbuat dari plat . Pendeteksian bercak hasil pemisahan dapat dilakukan dengan beberapa cara. Keefisienan pemisahan dapat ditingkatkan dengan cara pengembangan berulang. Beberapa senyawa organik bersinar atau berfluorosensi jika disinari dengan sinar ultraviolet gelombang pendek (254 nm) atau gelombang panjang (366 nm). Untuk senyawa tak berwarna cara yang paling sederhana adalah dilakukan pengamatan dengan sinar ultraviolet. 1995). Jika dengan cara itu senyawa tidak dapat dideteksi maka harus dicoba disemprot dengan pereaksi yang membuat bercak tersebut tampak yaitu pertama tanpa pemanasan. Pengembangan plat KLTP biasanya dilakukan dalam bejana kaca yang dapat menampung beberapa plat. untuk menyiapkan cuplikan analisis.diperoleh senyawa murni untuk telaah pendahuluan. fase diam berupa lapisan tipis yang terdiri atas bahan padat yang dilapiskan pada permukaan penyangga datar yang biasanya terbuat dari kaca. Harus diperhatikan bahwa semakin lama senyawa berkontak dengan penyerap maka semakin besar kemungkinan penguraian (Hostettman. kemudian bila perlu dengan pemanasan (Gritter. untuk meneliti bahan alam yang lazimnya berjumlah kecil dan campurannya rumit dan untuk memperoleh cuplikan yang murni untuk mengkalibrasi kromatografi lapis tipis kuantitatif (Gritter.1991).

harus berupa suatu campuran sesederhana mungkin yang terdiri atas maksimum tiga komponen (Stahl. Pelarut pengembang yang digunakan dalam kromatografi lapis tipis antara lain: . alumina. Dua sifat yang penting dari fase diam adalah ukuran partikel dan homogenitasnya. Penjerap yang umum dipakai untuk kromatografi lapis tipis adalah silika gel. biasanya kalsium sulfat atau amilum (pati). Lapisan melekat pada permukaan dengan bantuan bahan pengikat. Ukuran partikel yang biasa digunakan adalah 1-25 mikron. 1985). Kombinasi pelarut adalah berdasarkan atas polaritas masing-masing pelarut. dan selulosa (Gritter. 1985).polimer atau logam. sehingga dengan demikian akan diperoleh sistem pengembang yang cocok. 1991). Tujuan menggunakan pelarut campur adalah untuk memperoleh pemisahan senyawa yang baik. Jika diperlukan sistem pelarut multi komponen. Partikel yang butirannya sangat kasar tidak akan memberikan hasil yang memuaskan dan salah satu cara untuk memperbaiki hasil pemisahan adalah dengan menggunakan fase diam yang butirannya lebih halus. Butiran yang halus memberikan aliran pelarut yang lebih lambat dan resolusi yang lebih baik (Sastrohamidjojo. Dalam pemisahan senyawa organik selalu menggunakan pelarut campur. karena adhesi terhadap penyokong sangat tergantung pada kedua sifat tersebut. Fase gerak ialah medium angkut yang terdiri atas satu atau beberapa pelarut. kieselgur.

1985): a. karbontetraklorida. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan b. Teknik percobaan g. piridian. benzena.n-heksana. metanol dan air (Gritter. kloroform. Tebal dan kerataan dari lapisan Penjerap d. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga Rf (Sastrohamidjojo. etilasetat. Derajat kejenuhan uap pengembang dalam bejana f. Pelarut dan derajat kemurniannya e. etanol. 1991). Kesetimbangan . eter. Jumlah cuplikan yang digunakan h. Suhu i. aseton. Dalam mengidentifikasi noda-noda dalam kromatografi sangat lazim menggunakan harga Rf (Retordation Factor) yang didefinisikan sebagai: Rf = Jarak titik pusat bercak dari titik awal Jarakgarisdepanpelarutdarititikawal Harga Rf beragam mulai dari 0 sampai 1. Sifat Penjerap c.

fraksi kloroform:metanol KKK & KCV. eluen kloroform:methanol (8:2). Penyiapan Sampel a. pipa kapiler. yaitu aluminium foil. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan b. lempeng KLTP. pensil. chamber kecil. pipet volume. chamber KLTP. eluen BAW. gelas ukur. DPPH. 2 Bahan Adapun bahan yang digunakan. dan tissue. yaitu batang pengaduk. gelas kimia. lempeng KLT ukuran 7 x 1 cm. label. lampu UV. mistar. dan vial. B Cara Kerja 1.BAB III METODE PRAKTIKUM A Alat dan Bahan 1 Alat Adapun alat yang digunakan. Diambil fraksi dari hasil Kromatografi kolom dengan perbandingan eluen methanol : kloroform (8 : 2) . sendok tanduk besi.

Dimasukkan dalam chamber dan dijenuhkan terlebih dahulu 3. Diamati pada lampu UV 254 nm dan 366 nm 5. Digaris lempeng dengan batas atas 0. Pengelompokan Fraksi a. Disiapkan lempeng dengan ukuran 20 x 20 cm b. Dibuat perbandingan eluen methanol : kloroform (8 : 2) dan dihomogenkan b.c. c. Disemprot dengan pereaksi DPPH agar antioksidannya. Penyiapan Eluen a. Penyiapan fase diam a. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan b. Cara kerja a.5 cm dan batas bawah 1 cm dengan menggunakan pensil 4. Ditotolkan pada lempeng kaca ukuran 20x 20 cm secara berhimpitan 2. Dikeruk noda yang dihasilkan pada lempeng melihat aktivitas . Diamati noda yang terelusi yang naik sampai tanda batas d. Ditandai noda yang terbentuk berwarna terang pada lempeng preparatif dengan menggunakan pensil b. Dimasukkan lempeng yang telah ditotol dalam chamber yang berisi eluen c.

d. Pita-pita yang telah dikeruk dimasukkan dalam vial lalu diberi label BAB IV .

HASIL & PEMBAHASAN A. KLT Preparatif dapat digunakan untuk memisahkan bahan dalam jumlah gram. Prinsip dari kromatografi Lapis Tipis Preparatif yaitu adsorpsi dan partisi. Pembahasan Kromatografi Lapis Tipis Preparatif bekerja dengan prinsip absorbsi dan parisi dengan menggunakan fase diam Lempeng dan fase geraknya yaitu eluen.77 cm antioksidan Aktif sebagai (Pita 2) Keterangan: Tumbuhan/sampel Fase diam Fase gerak Ukuran Lempeng antioksidan : kulit pisang ambon (Musa acuminata Colla) : silika gel : n-kloroform:methanol (8:2) : 20×20 cm B. adsorpsi yaitu penyerapan pada permukaan oleh adanya fase diam (silica) sedangkan partisi yaitu pemisahan oleh adanya fase gerak (eluen). Hasil Praktikum No 1 Pita Fraksi 2 2 (Pita 1) Fraksi 3 Rf 0. Keuntungan KLTP adalah salah satu metode pemisahan yang memerlukan pembiayaan paling murah dan memakai peralatan paling . namun sebagian besar pemakaian hanya dalam jumlah milligram. Seperti halnya KLT secara umum KLT Preparatif juga melibatkan fase diam dan fase gerak.81 cm Keterangan Aktif sebagai 0.

terdapat katekin. Serta adanya zat pencemar dan sisa dari plat sendiri setelah pengsekstraksian pita yang mengandung senyawa yang dipisahkan dengan pelarut. Menurut Kanazawa dan Sakakibara (2000) jenis flavonoid yang teridentifikasi adalah narigenin dan rutin. 2007 menyebutkan bahwa kulit buah pisang ambon (Musa acuminata Colla) kaya akan senyawa flavonoid. serta selulosa. kuinon.dasar. Sampel yang digunakan dalam praktikum ini adalah ekstrak kulit pisang ambon Kulit pisang ambon (Musa acuminata Colla) Menurut Atun et al. mineral seperti kalium dan natrium. Menurut penelitian yang telah dilakukan buah pisang ambon matang sangat efektif dalam mengurangi keparahan klinis dari penyakit diare dan banyak . flavonoid dan polifenolat (Fitrianingsih et al. serta menurut Someya (2002). maupun senyawa fenolik yang lainnya. galokatekin dan epikatekin. Kerugian KLTP adalah pengambilan senyawa dari plat yang dilanjutkan dengan pengekstraksian penjerap memerlukan waktu lama dan jika senyawa beracun harus dikerok dari plat akan menimbulkan banyak masalah serius. Dimana Pisang ambon merupakan buah yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena mengandung senyawa yang disebut asam lemak rantai pendek.. 2012). Hasil penapisan fitokimia ekstrak menunjukkan hasil positif untuk senyawa tannin.. disamping banyak mengandung karbohidrat. yang memelihara lapisan sel jaringan dari usus kecil dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi.

Menggunakan cara yang bervariasi tergantung dari sifat fisika dan kimia komponen tersebut. untuk meneliti bahan alam yang lazimnya berjumlah kecil dan campurannya rumit. Dalam fitokimia dilakukan suatu proses isolasi dari suatu komponen kimia dari tumbuhan dan biota laut yang banyak digunakan dalam pengobatan tradisional yang berkembang menjadi obat modern. Dilakukan pengujian dengan metode kromatografi lapis tipis preparatif berguna untuk memisahkan campuran reaksi sehingga diperoleh senyawa murni untuk pendahuluan. 1985). dan untuk memperoleh cuplikan yang murni untuk mengkalibrasi KLT kuantitatif. mineral. Pita ditampakkan dengan cara yang tidak merusak jika senyawa itu tahan warna.mengandung vitamin. cuplikan yang akan dipisahkan ditotolkan berupa garis pada salah satu sisi plat lapisan besar dan dikembangkan secara tegak lurus pada garis cuplikan sehingga campuran akan terpisah menjadi beberapa pita. Metode fitokimia sangat penting artinya dalam bidang farmasi sebagai salah satu cara meneliti senyawa aktif yang terdapat dalam tumbuhan. Pada KLT preparatif. Kemudian cuplikan dielusi dari penjerap dengan pelarut polar. untuk menyiapkan cuplikan analisis. Kemudian dilanjutkan dengan proses pemurnian dengan kristalisasi dengan tujuan mendapatkan senyawa kimia yang penampakannya bagus dan kelihatan lebih banyak. dan penjerap yang mengandung pita dikerok dari plat kaca. . protein dan karbohidrat yang baik untuk dikonsumsi tubuh (Amrullah dan Elly.

Dimana pada praktikum sebelumnya diperoleh bahwa terdapat fraksi aktif sebagai antioksidan.81 cm dan Rf2 adalah 0. setelah itu lempeng di elusi dengan eluen di dalam chamber. Lalu fraksi ditotol pada lempeng KLT dengan penotolan seperti pita. Kemudian noda yng nampak dikeruk dan dimasukkan ke dalam botol sentrifug kemudian disentrifugasi menit dengan kecepatan 800 rpm. sehingga untuk mendapatkan isolat yang aktif sebagai antioksidan perlu dilakukan oercobaan KLTP. Dilakukan sentrifuge berguna untuk memisahkan isolat menjadi dua fase. Setelah terbentuk endapan haslilnya disaring dan dimasukkan ke dalam vial. setelah nodanya naik dilakukan pengamatan dibawah uv 254 nm dan 366 nm karena pada uv 254 nm senyawa organik yang dapat berflouresensi.77 cm. Pada praktikum yang dilakukan diperoleh dua pita yang nampak dimana aktif sebagai antioksidan dengan Rf 1 adalah 0.Dalam praktikum ini prosedur yang digunakan yaitu kromatografi lapis tipis preparatif. BAB V . sedangkan untuk UV 366 nm berwarna gelap (ungu) itu menandakan yang berfluoresensi adalah lempeng KLT yang mengandung indikator.

77 cm.PENUTUP A. DAFTAR PUSTAKA . B. Saran Sebaiknya praktikum dapat dilakukan dengan metode berbeda agar lebih banyak lagi di tahu cara mengekstraksi dengan metode-motode lain. Kesimpulan Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan diperoleh dua pita yang nampak yang aktif sebagai antioksidan dengan nilai Rf1 adalah 0.81 cm dan Rf2 adalah 0.

R. KB 2011. 2. MMC. Anyakudo. Stahl. Harbone. Kromatografi. C & Efange. Pengantar Kromatografi. no. 2. OA. vol. Wirna. dkk. no.. Sumar. 2011. Bandung.Buku. 1. 2015 (online).. 1985. AN. Ndip. Jakarta: Pustaka Bunda. no.dan J. . JO & Dalimartha.itis. S.. 12.SMN2009. 1991. Int J Pharm Pharm Sci. J. J. 1... 137. Gritter J. vol. vol.8. pp. Bamidele. 2008. KIMIA ANALITIK INSTRUMENTASI IKIP Semarang Press: Semarang. Kartesz. HN. Tiwari. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 6. Ajonglefac. Yogyakarta. vol. E. Sachin. Olorunfemi. 590. Metode Fitokimia : Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Hanif. Khopkar. Setiawan. Luma.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt? search_topic=TSN&search_value=36481) J. Abdul.. Ojo. 1 . Rohman. Penerbit ITB. 9. Hendayana.Anonim. Evaluation of Wound Healing Activity of Leaves of Ageratum Conyzoides.3. Penerbit ITB.Balai Penelitian Kehutanan Manado :Manado. Prasad. N & Jain. 3. J. Penerbit ITB: Bandung. Wirmum. RN. 11. 1987. “Analisis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi”. A. Diakses tanggal 3 Mei 2015 (http://www. Egon. Isolation of Stigmasterol and β-sitosterol from Petroleum Ether Extract of Aerial Parts of Ageratum conyzoides (Asteraceae). Dasar-dasar Kimia Analitik. Sastrohamidjojo. N. Kamboj. Erlangga. 1994.M. Halawane.O.. 2015. 586. Jakarta.. AK 2011. Graha Ilmu : Jakarta. 2009. JT 2012. 1991.. Asian J Res Chem. p.Sample Evaluation of Wound Healing Activity of Polyherbal Formulation of Roots of Ageratum conyzoides Linn. Integrated Taxonomic Information System.94. A &Saluja. Akinnuga.Masa Depan. Penerbit Liberty. Bandung. 2009. “Kromatografi untuk Analisis Obat”. T. B. Penuntun dan Buku Kerja Fitokimia II.no.p. DK2009. Universitas Muslim Indonesia. AM. Kinho. In-Vitro Antimicrobial Activity of Ageratum conyzoides (Linn) on Clinical Isolates of Helicobacter pylori. Afr J Pharm Pharmacol. Int J of Pharm Pract Drug Res. Balekar. pp. Neetesh. dkk. Makassar.

Lampiran 1. Skema kerja Isolasi Fraksi yang aktif sebagai antioksidan pada ekstrak kulit pisang ambon (Musa acuminata Colla) Disiapkan Alat dan bahan .

Dielusi didalam chamber KLTP dengan eluen n-heksan:etil asetat 9:1 Diamati dibawah sinar UV 254 dan 366 nm Disemprotkan dengan DPPH Dikeruk noda atau pita yang aktif dari silika gel. Lampiran 2.Dipilih fraksi yang aktif dari KKK dan KCV Ditotolkan dengan pipa kapiler fraksi yang aktif pada lempeng KLTP 20 x 20 secara garis lurus. Gambar Tanaman Isolasi Fraksi yang aktif sebagai antioksidan pada ekstrak kulit pisang ambon (Musa acuminata Colla) . Ditampung di dalam vial.

Gambar praktikum Isolasi Fraksi yang aktif sebagai antioksidan pada ekstrak kulit pisang ambon (Musa acuminata Colla)berdasarkan pola kromatogram .Lampiran 3.

Dibawah UV 254 nm . Setelah penyemprotan DPPH Gambar 2.Gambar 1.

Gambar 3. Dibawah UV 366 nm .