CSR dalam Industri Pertambangan

Dalam UU PT, pengaturan mengenai CSR hanya terdapat dalam 1 (satu) pasal yakni Pasal 74. Pasal 74
menegaskan perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan
sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, yang mana kewajiban
tersebut dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya
dilakukandengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran. Apabila kewajiban tersebut tidak dijalankan
maka akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya
dalam penjelasan pasal tersebut ditegaskan pula mengenai tujuan diberlakukannya kewajiban CSR,
“untuk tetap menciptakan hubungan Perseroan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan,
nilai, norma, dan budaya masyarakat.[6]
Ketentuan Pasal 74 UU PT kemudian diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun
2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut PP
CSR). Salah satu pengaturan penting dalam PP CSR, terdapat dalam Pasal 6, dimana diatur
pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan dimuat dalam laporan tahunan Perseroan dan
dipertanggungjawabkan kepada RUPS. Penjelasan Umum PP CSR juga menguraikan tujuan
pemberlakuan CSR. Pengaturan tanggung jawab sosial dan lingkungan tersebut dimaksudkan untuk:
meningkatkan kesadaran Perseroan terhadap pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan di
Indonesia;
memenuhi perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat mengenai tanggung jawab sosial dan
lingkungan; dan
menguatkan pengaturan tanggung jawab sosial dan lingkungan yang telah diatur dalam berbagai
peraturan perundang-undangan sesuai dengan bidang kegiatan usaha Perseoan yang bersangkutan.
Selanjutnya secara spesifik, pengaturan CSR di bidang industri pertambangan mineral dan batubara
diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Barubara (UU
Minerba). Dalam Pasal 108 UU Minerba dinyatakan “pemegang IUP dan IUPK wajib menyusun
program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, penyusunan program tersebut dikonsultasikan
kepada Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Ketentuan lebih lanjut dari Pasal 108 UU
Minerba terdapat dalam Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral dan Batubara, tepatnya dalam Pasal 106-109.
Kementerian ESDM meyakini kegiatan pengembangan masyarakat (Community Development)
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pengembangan sektor ESDM. Program ini tidak
hanya penting bagi pemilik perusahaan tetapi juga bagi masyarakat sekitar dalam rangka menciptakan
kondisi yang kondusif bagi kegiatan perusahaan juga bagi pemberdayaan masyarakat yang ada
disekitar tambang.[7]
Pasal 106 Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral dan Batubara (PP 23/2010) menegaskan Pemegang IUP dan IUPK wajib
menyusun program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar WIUP dan WIUPK.
Program tersebut harus dikonsultasikan dengan Pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah
kabupaten/kota, dan masyarakat setempat. Masyarakat setempat dalam hal ini dapat mengajukan usulan
program kegiatan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat kepada bupati/walikota setempat
untuk diteruskan kepada pemegang IUP atau IUPK. Pengembangan dan pemberdayaan diprioritaskan
untuk masyarakat di sekitar WIUP dan WIUPK yang terkena dampak langsung akibat aktifitas
pertambangan. Prioritas masyarakat tersebut merupakan masyarakat yang berada dekat kegiatan
operasional penambangan dengan tidak melihat batas administrasi wilayah kecamatan/kabupaten.

tetapi juga terkait kewajiban perusahaan dalam melestarikan lingkungan. Oleh karena itu kami akan memaparkan mengenai TJSL dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Istilah yang digunakan dalam UU Minerba dengan UU PT tidaklah sama. Menurut Pasal 110 PP 23/2010.Selanjutnya ayat (6) dan (7) dari pasal tersebut mengemukakan Program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dibiayai dari alokasi biaya program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat pada anggaran dan biaya pemegang IUP atau IUPK setiap tahun. Anda tidak menyebutkan apa jenis perusahaan tersebut. Perseroan (Perseroan Terbatas) adalah badan hukum . 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan Perseroan Terbatas (“PP 47/2012”) Mengenai TJSL. hal ini terkait dengan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan atau Corporate Social Responsibility (“TJSL”). atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya untuk mendapat persetujuan Pembentuk undang-undang dalam redaksi Pasal 108 PP 23/2010 mewajibkan. atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya. penghentian sementara IUP Operasi produksi atau IUPK Operasi Produksi mineral atau batubara. bagi setiap pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi untuk menyampaikan laporan realisasi program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setiap 6 (enam) bulan kepada Menteri. Alokasi biaya program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dikelola oleh pemegang IUP atau IUPK. Simpulan Industri pertambangan di Indonesia wajib melaksanakan kegiatan CSRnya dengan berpegang pada prinsip berkelanjutan. dan atau pencabutan IUP atau IUPK Mengenai perusahaan membangun desa setempat. yang diatur dalam Pasal 110 PP 23/2010. penghentian sementara IUP Operasi produksi atau IUPK Operasi Produksi mineral atau batubara. Pengaturan ini berlaku untuk perseroan. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (“UUPT”) serta Peraturan Pemerintah No. Berdasarkan Pasal 1 angka 1 UUPT. apabila kewajiban pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dilanggar maka akan diberikan sanksi administratif berupa: peringatan tertulis. TJSL tidak hanya mengenai kegiatan yang dilakukan perusahaan dimana perusahaan ikut serta dalam pembangunan ekonomi masyarakat setempat. Pasal tersebut menegaskan apabila kewaiban pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dilanggar maka akan diberikan sanki administratif berupa: peringatan tertulis. gubernur. Undang-Undang No. gubernur. yaitu sebagai berikut: 1. Berikutnya Pasal 107 PP 23/2010 memberikan pengaturan bahwa Pemegang IUP dan IUPK setiap tahun wajib menyampaikan rencana dan biaya pelaksanaan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari rencana kerja dan anggaran biaya tahunan kepada Menteri. dan atau pencabutan IUP atau IUPK. Dalam hal ini. Hal yang patut untuk dicermati oleh pemegang IUP dan IUPK terkait dengan adanya sanksi bagi pelanggar kewajiban pengembangan dan pemberdayan masyarakat. karena dalam UU Minerba digunakan istilah pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sedangkan dalam UU PT istilah yang digunakan adalah Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. diatur dalam Pasal 74 UUPT dan penjelasannya.

tetapi kegiatan usahanya berdampak pada fungsi kemampuan sumber daya alam. dan budaya masyarakat setempat. didirikan berdasarkan perjanjian. maupun masyarakat pada umumnya. TJSL ini wajib untuk perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam. norma. melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan pelaksanaannya. 2. dikatakan bahwa perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban TJSL akan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang terkait. Yang dimaksud dengan TJSL menurut Penjelasan Pasal 15 huruf b UU 25/2007 adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi. TJSL ini merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran. Dalam Pasal 4 PP 47/2012. Pasal 74 UUPT pada dasarnya mengatur mengenai hal-hal berikut ini: a. Rencana kerja tahunan perseroan tersebut memuat rencana kegiatan dan anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan TJSL. b. nilai. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat. seimbang. Pelaksanaan TJSL tersebut dimuat dalam laporan tahunan perseroan dan dipertanggungjawabkan kepada RUPS (Pasal 6 PP 47/2012). 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (“UU 25/2007”) Dalam Pasal 15 huruf b UU 25/2007 diatur bahwa setiap penanam modal wajib melaksanakan TJSL. dikatakan bahwa TJSL dilaksanakan oleh Direksi berdasarkan rencana kerja tahunan perseroan setelah mendapat persetujuan Dewan Komisaris atau Rapat Umum Pemegang Saham (“RUPS”) sesuai dengan anggaran dasar perseroan. Sedangkan yang dimaksud dengan “perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya yang berkaitan dengan sumber daya alam” adalah perseroan yang tidak mengelola dan tidak memanfaatkan sumber daya alam. dan sesuai dengan lingkungan. Mengenai sanksi. komunitas setempat. Menurut Pasal 1 angka 3 UUPT. baik bagi perseroan sendiri.yang merupakan persekutuan modal. Yang dimaksud dengan “perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang sumber daya alam” adalah perseroan yang kegiatan usahanya mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam. c. . Undang-Undang No.

penanam modal dapat dikenai sanksi adminisitatif berupa: a. Undang-Undang No. setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban: a. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (“UU 32/2009”) Berdasarkan Pasal 68 UU 32/2009. Ini juga merupakan bagian dari TJSL. 4. Selain itu dalam Pasal 16 UU 25/2007 juga diatur bahwa setiap penanam modal bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. atau d. Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. PER-05/MBU/2007 Tahun 2007 Tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina Lingkungan sebagaimana terakhir diubah dengan Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara No.Sedangkan yang dimaksud dengan penanam modal adalah perseorangan atau badan usaha yang melakukan penanaman modal yang dapat berupa penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing (Pasal 1 angka 4 UU 25/2007). 3. peringatan tertulis. Jika penanam modal tidak melakukan kewajibannya untuk melaksanakan TJSL. c. pembekuan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal. akurat. dan c. terbuka. pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal. Selain dikenai sanksi administratif. b. PER-08/MBU/2013 Tahun 2013 Tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. maka berdasarkan Pasal 34 UU 25/2007. b. memberikan informasi yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara benar. menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup. menaati ketentuan tentang baku mutu lingkungan hidup dan/atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. dan tepat waktu. pembatasan kegiatan usaha. PER-05/MBU/2007 Tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina Lingkungan (“Permen BUMN 5/2007”) . penanam modal juga dapat dikenai sanksi lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 34 ayat (3) UU 25/2007).

Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil adalah program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana BUMN (Pasal 1 angka 6 Permen BUMN 5/2007). Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 Tentang Minyak Dan Gas Bumi (“UU 22/2001”) Kegiatan usaha hulu yang dilaksanakan oleh Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap berdasarkan Kontrak Kerja Sama dengan Badan Pelaksana wajib memuat ketentuan-ketentuan pokok yang salah satunya adalah ketentuan mengenai pengembangan masyarakat sekitarnya dan jaminan hak-hak masyarakat adat (Pasal 11 ayat (3) huruf p UU 22/2001). 22 Tahun 2001 Tentang Minyak Dan Gas Bumi. 4. Sedangkan Program Bina Lingkungan adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana BUMN (Pasal 1 angka 7 Permen BUMN 5/2007). Perusahaan Umum (“Perum”). Demikian jawaban dari kami. Selain itu dalam Pasal 40 ayat (5) UU 22/2001 juga dikatakan bahwa Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang melaksanakan kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi (kegiatan usaha hulu dan kegiatan usaha hilir) ikut bertanggung jawab dalam mengembangkan lingkungan dan masyarakat setempat. Undang-Undang No. Melihat pada ketentuan-ketentuan di atas. Dasar Hukum: 1. 5.Dalam peraturan ini diatur mengenai kewajiban Perusahaan Perseroan (“Persero”). 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. . Undang-Undang No. 3. Persero dan Perum wajib melaksanakan Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan. dan Perusahaan Perseroan Terbuka (“Persero Terbuka”). Undang-Undang No. 2. Sedangkan Persero Terbuka dapat melaksanakan Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan dengan berpedoman pada Permen BUMN 5/2007 yang ditetapkan berdasarkan keputusan RUPS. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Berdasarkan Pasal 2 Permen BUMN 5/2007. semoga bermanfaat. dapat dilihat bahwa memang ada peraturan-peraturan yang mewajibkan perusahaan untuk membangun masyarakat di sekitar. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-Undang No.

Peraturan Pemerintah No. Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik NegaraNo. 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan Perseroan Terbatas. PER-05/MBU/2007 Tahun 2007Tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina Lingkungan sebagaimana terakhir diubah dengan Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara No.5. PER-05/MBU/2007 Tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina Lingkungan . PER-08/MBU/2013 Tahun 2013 Tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. 6.