Sebuah gereja tua dengan arsitektur gothic di depan Istiqlal bisa merefleksikan banyak hal.

Kegothic-annya bisa merefleksikan ideologi abad pertengahan yang dikenal sebagai abad
kegelapan. Seseorang bisa menafsirkan bahwa ajaran yang dihantarkan dalam gereja tersebut
cenderung ‘sesat’ atau menggiring jemaatnya pada hal-hal yang justru bertentangan dari moralmoral keagamaan yang seharusnya, misalnya mengadakan persembahan-persembahan berbau
mistis di altar gereja, dan sebagainya.
Namun, Ke-gothic-an itu juga dapat ditafsirkan sebagai ‘klasik’ yang menandakan kemurnian
dan kemuliaan ajarannya. Sesuatu yang klasik biasanya dianggap bernilai tinggi,
‘berpengalaman’, teruji zaman, sehingga lebih dipercaya daripada sesuatu yang sifatnya
temporer.
Di lain pihak, bentuk gereja yang menjulang langsing ke langit bisa ditafsirkan sebagai ‘fokus ke
atas’ yang memiliki nilai spiritual yang amat tinggi. Gereja tersebut menawarkan kekhidmatan
yang indah yang ‘mempertemukan’ jemaat dan Tuhan-nya secara khusuk, semata-mata demi
Tuhan. Sebuah persembahan jiwa yang utuh dan istimewa.
Dekonstruksi membuka luas pemaknaan sebuah tanda, sehingga makna-makna dan ideologi baru
mengalir tanpa henti dari tanda tersebut. Munculnya ideologi baru bersifat menyingkirkan
(“menghancurkan” atau mendestruksi) makna sebelumnya, terus-menerus tanpa henti hingga
menghasilkan puing-puing makna dan ideologi yang tak terbatas.
Berbeda dari Baudrillard yang melihat tanda sebagai hasil konstruksi simulatif suatu realitas,
Derrida lebih melihat tanda sebagai gunungan realitas yang menyembunyikan sejumlah ideologi
yang membentuk atau dibentuk oleh makna tertentu. Makna-makna dan ideologi itu dibongkar
melalui teknik dekonstruksi. Namun, baik Baurillard maupun Derrida sepakat bahwa di balik
tanda tersembunyi ideologi yang membentuk makna tanda tersebut.
UMBERTO ECO
Stephen W. Littlejohn (1996) menyebut Umberto Eco sebagai ahli semiotikan yang
menghasilkan salah satu teori mengenai tanda yang paling komprehensif dan kontemporer.
Menurut Littlejohn, teori Eco penting karena ia mengintegrasikan teori-teori semiotika
sebelumnya dan membawa semiotika secara lebih mendalam (Sobur, 2006).
Eco menganggap tugas ahli semiotika bagaikan menjelajahi hutan, dan ingin memusatkan
perhatian pada modifikasi sistem tanda. Eco kemudian mengubah konsep tanda menjadi konsep
fungsi tanda. Eco menyimbulkan bahwa “satu tanda bukanlah entitas semiotik yang dapat
ditawar, melainkan suatu tempat pertemuan bagi unsur-unsur independen (yang berasal dari dua
sistem berbeda dari dua tingkat yang berbeda yakni ungkapan dan isi, dan bertemu atas dasar
hubungan pengkodean”. Eco menggunakan “kode-s” untuk menunjukkan kode yang dipakai
sesuai struktur bahasa. Tanpa kode, tanda-tanda suara atau grafis tidak memiliki arti apapun, dan
dalam pengertian yang paling radikal tidak berfungsi secara linguistik. Kode-s bisa bersifat
“denotatif” (bila suatu pernyataan bisa dipahami secara harfiah), atau “konotatif” (bila tampak
kode lain dalam pernyataan yang sama). Penggunaan istilah ini hampir serupa dengan karya
Saussure, namun Eco ingin memperkenalkan pemahaman tentang suatu kode-s yang lebih

namun sekaligus mengorbankan ketahanan uji metode-metode yang digunakan. maupun istilah-istilah yang digunakan. iklan dikaji lewat sistem tanda dalam iklan. yang terdiri atas dua lambang. Analisis Tanda Van Zoest (1993: 146-147) APLIKASI SEMIOTIKA PADA SEBUAH FILM APLIKASI SEMIOTIKA PADA SEBUAH IKLAN Dalam perspektif semiotika. Identifikasi dan signifikasi tanda. (Sobur. 2. ROLAND BARTHES mengetahui jumlah (itemize) dan menggunakan angka-angka (enumerate). menghitung frekuensi kemunculan yang hanya mendeskripsikan isi yang tampak (manifest content) dari komunikasi. analisis semiotik menghendaki pengamatan secara menyeluruh dari semua isi film baik itu teks. Pemaknaan Tanda 3. Apabila pada saat mengkaji semiotika media massa melalui teknik kualitatif mengalami masalah pada sisi objektivitas. namun hasilnya sering kurang memuaskan. terutama media cetak. bagaimana delivery-nya. maka teknik kuantitatif dapat digunakan untuk mengatasinya. Menurut Van Zoest. hasil analisis kuantitatif selalu lebih spektakuler. yakni verbal dan non verbal (bentuk dan warna yang disajikan dalam iklan) Dalam menganalisis iklan. Aplikasi Semiotika Pada Media Massa Kebanyakan metode analisis semiotik bersifat kualitatif. Salah satu contoh penelitian yang menggunakan analisis semiotika adalah penelitian mengenai film. dan metode penelitian kualitatif yang digunakan dalam analisis semiotik adalah interpretatif. 2000:148) TAHAPAN DALAM METODE ANALISIS SEMIOTIK Menurut John Fiske tahapan yang harus diperhatikan yaitu: CONTOH JUDUL PENELITIAN SEMIOTIK Pada sebuah film. maka teknik analisis semiotika bisa menggunakan Teknik Kuantitatif dan juga Kualitatif. Khusus untuk kajian masalah yang menyangkut Media Massa. hal yang perlu diperhatikan adalah: . "ANALISIS SEMIOTIKA TENTANG FILM BINGKISAN UNTUK PRESIDEN" 1.bersifat dinamis daripada yang ditemukan dalam teori Saussure. di samping itu sangat terkait dengan teori linguistik masa kini.

Desain dari iklan. namun hasilnya sering kurang mantap. dan bagaimana ia berkaitan dengan pemikiran kita sendiri.kan bahwa isi media diasumsikan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan eksternal di luar diri pengelola media. Tiga pendekatan untuk menjelaskan media (McNair. Adapun beberapa contoh aplikasi semiotika di antara sekian banyak pilihan kajian semiotika dalam domain komunikasi antara lain : 1. 2. 1994. dalam Sudibyo. Dalam konteks media massa. 3.kekuatan ekonomi dan politik di luar pengelolaan media. 2001:2-4) 1. Teknik kuantitatif Teknik ini adalah teknik yang paling dapat mengatasi kekurangan dalam objektivitas. bagaimanakah ia memasuki materi media. Pendekatan Politik-Ekonomi Pendekatan ini berpendapat bahwa isi media lebih ditentukan oleh kekuatan. data-data yang diteliti tidak dapat diukur secara matematis. secara garis besar yang diterapkan adalah : 1. 12 September 2009 SEMIOTIKA Pada komunikasi. Teknik kualitatif Pada analisis kualitatif. Pendekatan Kulturalis Merupakan pendekatan politik-ekonomi dan pendekatan organisasi. . Menurut Van Zoest. Sifat daya tarik yg dibuat untuk menjual produk 5. Gambar. tapi berbagai pola yang dipakai untuk memaknai peristiwa tersebut tidak dapat dilepaskan dari kekuatan-kekuatan politik-ekonomi di luar media. 2. simbol 3. MEDIA Mempelajari media adalah adalah mempelajari makna dari mana asalnya. Sabtu. Untuk teknik. Analisis ini sering menyerang masalah yang berkaitan dengan arti atau arti tambahan dari istilah yang digunakan. Proses produksi berita dilihat sebagai mekanisme yang rumit yang melibatkan faktor internal media. Pendekatan Organisasi Bertolak belakang dengan pendekatan politik-ekonomi.teknik analisnya sendiri. Ciri-ciri yang dapat di ukur dinyatakan sebagai tanda merupakan titik tolak penelitian ini. bidang terapan semiotika pun tidak terbatas. Media pada dasarnya memang mempunyai mekanisme untuk menentukan pola dan aturan oragnisasi.1. fenomena sosiologi 4. 19993:146-147). khusunya media cetak kajian semiotika adalah mengusut ideologi yang melatari pemberitaan. hasil analisis kuantitatif selalu lebih spektakuler namun sekaligus selalu mengorbankan ketahanan uji metode-metode yang digunakan. Penanda dan petanda 2. indeks. pendekatan ini menekan. seperti apa. seberapa jauh tujuannya.

yang terdiri atas 2 lambang yakni lambang verbal (bahasa) dan lambang non verbal (bentuk dan warna yang disajikan dalam iklan). Orders and practices of signification = Tatanan dan praktik-praktik signifikasi. Thomson. PERIKLANAN Dalam perspektif semiotika iklan dikaji lewat sistem tanda dalam iklan. Namun tidak keseluruhan tanda-tanda nonverbal memiliki makna yang universal. • Kekuasaan Politik ——— dilembagakan dalam aparatur negara • Kekuasaan Koersif ——– dilembagakan dalam organisasi militer dan paramiliter. Tiga zona dalam teori media menurut Berger dan Luckman : 1. iklan dianalisis berdasarkan pesan yang dikandungnya yaitu : o Pesan Linguistik ————————– Semua kata dan kalimat dalam iklan o Pesan yang terkodekan —————— Konotasi yang muncul dalam foto iklan o Pesan ikonik yang tak terkodekan —– Denotasi dalam foto iklan 3. nyata. Hal ini dikarenakan tanda-tanda nonverbal memiliki arti yang berbeda bagi setiap budaya yang lain. . Lain halnya dengan model Roland Barthes. Praktik-praktik kekuasaan media memiliki banyak bentuk ( John B. beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain (Berger) : • Penanda dan petanda • Gambar. Namun. pada praktiknya apa yang disebut sebagai kebenaran ini sangat ditentukan oleh jalinan banyak kepentingan. media massa bertujuan menyampaikan informasi dengan benar secara efektif dan efisien. Dalam menganalisis iklan. Dalam hal pengaplikasian semiotika pada tanda nonverbal. 1994) antara lain: • Kekuasaan Ekonomi —— dilembagakan dalam industri dan perdagangan. Tanda-tanda digolongkan dalam berbagai cara : • Tanda yang ditimbulkan oleh alam yang kemudian diketahui manusia melalui pengalamannya. dan dapat dibuktikan melalui indera manusia. 2. TANDA NONVERBAL Komunikasi nonverbal adalah semua tanda yang bukan kata-kata dan bahasa. bersifat verbal dan nonverbal. serta yang dianggap penting namun demi kepentingan survival menjadi tidak perlu disebar luaskan. indeks. simbol • Fenomena sosiologi • Sifat daya tarik yang dibuat untuk menjual produk • Desain dari iklan • Publikasi yang ditemukan dalam iklan dan khayalan yang diharapkan oleh publikasi tersebut. Orders and practises of production = Tatanan dan praktik-praktik produksi. 2. • Tanda yang ditimbulkan oleh binatang • Tanda yang ditimbulkan oleh manusia. Orders and practises of power = Tatanan dan praktik-praktik kekuasaan. Terdapat pemilahan atas fakta atau informasi yang dianggap penting dan yang dianggap tidak penting. yang penting untuk diperhatikan adalah pemahaman tentang bidang nonverbal yang berkaitan dengan benda konkret.Secara teoritis. 3. Media menyunting bahkan menggunting realitas dan kemudian memolesnya menjadi suatu kemasan yang layak disebar luaskan.

hamper memenuhi bidang iklan tersebut memberikan kesan dinamis. Berdasarkan tanda verbal dan tanda visual yang terdapat dalam ILM ini. keberadaannya memperkuat posisi tanda verbal (teks) yang terdiri atas duaq baris dan ditata secara diagonal. aplikasi atau penerapan semiotika pada tanda nonverbal bertujuan untuk mencari dan menemukan makna yang terdapat pada benda-benda atau sesuatu yang bersifat nonverbal. Mengacu pada kode kebudayaan seperti yang ditegaskan oleh Barthes maka tanda visual dalam ILM ini merupakan ikon sapu lidi. Dengan demikian. sehingga bisa digunakan sebagaimana fungsinya. 20/5/1997) Tanda Verbal : Teks : Sebatang lidi menjadi kuat bila menjadi sapu. Dalam pencarian makna tersebut. bercerai kita runtuh. tanda dan komunikasi terhadap objek yang ditelitinya. • Langkah Ketiga —— Memperhatikan perilaku nonverbal. Analisis Semiotika Komunikasi Visual : Ilustrasi sapu lidi diletakkan secara diagonal. berpuluh-puluh lidi yang dijalin menjadi seikat sapu lidi dapat dimanfaatkan untuk membersihkan sampah. Sebuah bangsa menjadi kuat bila tetap bersatu. merupakan bentuk pribahasa yang mengacu pada konsep sapu lidi. Bahwa sebuah sapu lidi tidak bisa dimanfaatkan sebagai sebuah alat untuk membersihkan sampah misalnya. maka kita bisa melihat pesan tersebut dengan bantuan kode kebudayaan dank ode semantik. menurut Budianto.Pada dasarnya. Dengan idiom estetik metafora. ILM yang dicetak hitam putih secara visual menjadi kuat penampilannya karena didukung latar belakang putih polos yang melingkupi seluruh frame dari tampilan ILM tersebut. Contoh Analisis Semiotika Komunikasi Visual Iklan Layanan Masyarakat (ILM) Pemilu versi Sapu Lidi : (kompas. antara lain : • Langkah Pertama —— Melakukan survai lapangan untuk mencari dan menemukan objek penelitian yang sesuai dengan keinginan si peneliti. ada beberapa hal atau beberapa langkah yang perlu diperhatikan peneliti. Sedangkan ikon sapu lidi adalah symbol dari kata bersatu atau persatuan. Mitos sapu lidi pada masyarakat Indonesia berkembang menjadi sebuah bentuk perwujudan sikap saling membantu dari komunitas hidup bergotong royong. Makna konotatif bisa juga dilihat dari mitos sapu lidi. ikatan sapu lidi tersebut secara implicit diposisikan sebagai petunjuk arah yang menunjukkan teks di bawahnya. • Langkah Kedua —— Melakukan pertimbangan terminologis terhadap konsep –konsep pada tanda nonverbal. • Langkah Keempat —– Merupakan langkah terpenting —– menentukan model semiotika yang dipilih untuk digunakan dalam penelitian. Sebaliknya. Selain itu. Tanda Visual : Ilustrasi yang ditampilkan dalam ILM ini adalah ikon sebuah sapu lidi yang merupakan gabungan berpuluh-puluh lidi yang dijalin dalam sebuah ikatan. Dilihat dari . Tujuan digunakannya model tertentu adalah pembenaran secara metodologis agar keabsahan atau objektivitas penelitian tersebut dapat terjaga. Bersatu kita teguh.

. maka Pemilu yang bermuara pada pemilihan wakil-wakil rakyat di DPR-MPR yang dipercaya untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden dapat dilaksanakan dengan baik. Dengan demikian. mengandung makna denotatif Tanda visual berupa sapu lidi ini. diakses 21 Maret 2009) Sobur. Sebab keduanya saling melengkapi danmenjelaskan keberadaan masing-masing unsure dari tanda tersebut. Referensi Aaipoel. menurut kode semantic.com. ILM dengan tanda visual berupa ikon sapu lidi dan tanda verbal “Sebatang lidi jadi kuat bila menjadi satu. Alex. Sebuah bangsa jadi kuat bila tetap bersatu”. menunjukkan tali hubungan yang erat antara tanda verbal dan tanda visual. Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta: Jalasutra. Tinarbuko. 2007. Dari analisis ini dapat diambil kesimpulan.segi fungsional. ( http://aaipoel. Semiotika Komunikasi. (Online). kesimpulan dari ILM ini adalah tanda bermakna sebagai metafora persatuan. Dengan demikian . sapu lidi yang berfungsi sebagai alat membersihkan sampah. Dalam konteks Pemilu. Artinya peminjaman tanda “berupa sapu lidi yang terdiri dari kumpulan berpuluh-puluh lidi yang dijalin menjadi sebuah sapu lidi dan berfungsi untuk membersihkan sesuatu dalam hal ini kotoran atau sampah” untuk dipinjamkan kepada ILM ini sebagai penegasan bahwa sebatang lidi jadi kuat bila menjadi sapu. 2003. Aplikasi Semiotika Komunikasi. Tanda visual berupa ikon sapu lidi juga menggunakan prinsip metafora.wordpress. Struktur sintaksis berupa sintaksis kalimat bernada ajakan atau imbauan. 2008. Tanda verbal berupa teks bergaya pantun mengandung makna konotasi. Tanda visual berupa sapu lidi menggunakan prinsip pertandaan berupa meminjam kode. pesan ILM tersebut adalah jika rakyat bersatu melaksanakan hak dan kewajibanya sebagai warganegara. Sumbo. bersatunya lidi dipinjam kodenya untuk menjelaskan bersatunya manusia. Bandung: Rosda. merupakan perwujudan dari loyalitas dan kebangsaan masyarakat Indonesia yang selalu mengedepankan persatuan dan kesatuan. Artinya dengan mengacu pada bersatunya batang-batang lidi menjadi sapu dan mampu menyapu atau membersikan segala kotoran yang ada di lingkungan kita. Sebuah bangsa jadi kuat bila tetap bersatu” saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. maka diharafkan kita sebagai bangsa selalu beupaya bersatupadu agar bangsa ini senantiasa kuat. maka sebuah bangsa pun menjadi kuat bila tetap bersatu. Dengan mengacu pada kode semantic maka antara tanda visual berupa ikon sapu lidi dan tanda verbal berbunyi : “Sebatang lidi jadi kuat bila menjadi sapu. Artinya adalah meminjam tanda pada satu bidang ke bidang lain secara langsung.