You are on page 1of 6

Nama

: Tribuana Restiwardani

NIM

: 14 / 362805 / FA / 09962

Kelas

: C- 2014

PEMBUSUKAN MIKROBA DALAM FARMASETIKA DAN KOSMETIK


Kerusakan atau pembusukan produk dapat digambarkan sebagai salah satu produk
yang sudah tidak layak untuk digunakan. Pembusukan mikroba dapat disebabkan oleh
bakteri, khamir atau jamur yang mana semua sangat berguna dalam kegiatan metabolisme
mereka. Jika kontaminan berpotensi pathogen maka produk yang diberikan jelas tidak layak
untuk digunakan dan termasuk busuk.
MANIFESTASI DAN MEKANISME PEMBUSUKAN MIKROBA
Sebelum pembusukan terjadi, organisme yang mampu mengubah komponen produk
in situ harus diperkenalkan terlebih dahulu melalui bahan baku, pabrik pengolahan, kemasan
bahan, operatif atau dimanapun dalam lingkungan. Meskipun pembusukan tidak selalu
tergantung pada pertumbuhan kontaminan, namun umumnya difasilitasi jika formulasi dan
kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembaban juga mendorong mereka untuk
memperbanyak diri. Ketika persyaratan telah terpenuhi, perubahan perubahan pada produk
akan terjadi dan akan menampakkan diri dalam cara berikut:
EFEK TOKSIK
a. Toksin Mikroba
Beberapa spesies mikroorganisme memproduksi racun dan mungkin akan membuat suatu
produk menjadi berbahaya jika mereka tumbuh di bawah kondisi yang mendukung dalam
produksi toksin tersebut. Ada 2 racun utama yang dihasilkan oleh bakteri
1. Endotoksin, yang diproduksi bakteri Gram-negatif seperti Escherichia coli. Terikat
pada sel, dan belum tentu mati (tidak aktif) oleh sterilisasi karena tahan terhadap
panas. Racun ini tidak berbahaya bagi tubuh karena penyerapannya lemah terhadap
saluran pencernaan, tetapi dapat aktif dalam produk produk suntik atau injeksi,
khususnya perfusi cairan.
2. Eksotoksin, yang diproduksi oleh bakteri Gram-positif seperti Clostridium botulinum.
Jauh lebih mematikan (letal) dan kurang melekat pada sel sehingga toksin mudah
dibebaskan ke dalam medium pertumbuhannya. Bakteri ini merupakan bakteri yang
mematikan untuk tikus dalam dosis urutan 0,1 ng. Untungnya pertumbuhan dan
produksi toksin ini tergantung kondisi anaerobiosis, pH dan nutrisi yang sesuai, dan
beberapa bakteri kompetitor. Kondisi inilah yang jarang ditemukan pada produk
farmasetik dan kosmetik.

b. Produk Produk Metabolit


Produk katabolik sederhana seperti asam organik dan amina bisa menjadi racun bagi
manusia. Dan tentunya banyak metabolit mikroba yang menunjukkan aktivitas
farmakologik. Senyawa ini kurang beracun daripada toksin pada bakteri umumnya,toksin
ini harus mencapai konsentrasi yang relatif tinggi sebelum produk yang membusuk ini
menyebabkan penyakit. Tapi ini tidak berlaku untuk obat-obatan, karena obat obat
memang di-design khusus misalnya dengan penambahan bahan bahan yang dapat
menutupi rasa dan bau yang tidak enak.
c. Iritasi
Iritasi karena penggunaan kosmetik seringkali terjadi dan dalam pembuatan kosmetik
yang salah sudah terbukti mengandung kontaminasi mikroba yang tinggi. Dalam beberapa
kasus, kontaminan menyediakan sumber protein asing yang dapat membangkitkan kontak
alergi reaksi dermatitis dan konsentrasi metabolit mikroba yang tinggi juga akan
menyebabkan reaksi iritasi primer.
PERUBAHAN AKTIVITAS
Aspek yang menarik adalah inaktivasi aktivitas biologis molekul oleh formulasi
kontaminasi organisme. Sebagai contoh nya penghancuran penisilin oleh penicillinases,
enzim yang dihasilkan oleh berbagai mikroorganisme. Ditemukan pula enzim mikroba yang
dapat menginaktivasi kloramfenikol, penghancuran bahan pengawet dan desinfektan juga
telah dibuktikan. Hilangnya aktivitas yang bermanfaat ini tidak dapat dibatasi pada produk
farmasi. Misalnya kebutuhan untuk deterjen yang biodegradable yang memiliki beberapa
penolakan dan sampo yang telah dikenal untuk menurunkan sifat tegangan permukaan karena
degradasi surfaktan oleh kontaminasi bakteri.
EFEK YANG TERLIHAT
a. Pertumbuhan yang terlihat
Ketika mikroorganime dapat diamati secara langsung pada suatu produk, maka jelas
pembusukan oleh mikroba telah terjadi. Dalam formulasi cair kontaminan dapat dilihat
sebagai sedimen, kekeruhan atau pelikel. Sedangkan pada sediaan yang lebih padat,
berbentuk koloni, sering berwarna; bakteri, ragi atau jamur juga dapat terbentuk.
b. Perubahan Warna
Pembusukan dapat terlihat jelas jika pembusukan tersebut dapat dilihat langsung,
terutama jika perubahan warna yang terlibat. Perubahan warna terjadi karena perubahan
dalam komponen produk sebagai efek dari perubahan pH, redoks atau perubahan lain
yang disebabkan oleh aktivitas metabolisme organisme, atau produksi pigmentasi
kontaminan sendiri. Contohnya aktivitas dari anggota genus Pseudomonas yang mana
dapat menghasilkan larutan pigmen yang dalam rentang warna dari biru-hijau sampai

coklat. Selain itu mereka dapat membuat kondisi yang cocok untuk organisme pembusuk
yang sulit beradaptasi; misalnya mereka dapat menciptakan kondisi yang mendukung
pertumbuhan anaerob. Demikian pula, dalam produk asam, ragi oksidatif dapat
menyebabkan kenaikan pH dengan memanfaatkan asam organik dan ini akan mendorong
pertumbuhan bakteri.
c. Produksi Gas
Jika metabolisme mikroba menghasilkan gas dalam jumlah yang cukup untuk
melampaui kelarutannya dalam suatu produk, gelembung gelembung akan terlihat, buih
dan manifestasi lain dari peningkatan tekanan akan terjadi. Produk yang mengandung
karbohidrat atau substrat fermentasi lainnya sangat rentan terhadap jenis pembusukan ini.
d. Perubahan lain
Metabolisme mikroba dapat menghasilkan komposisi produk yang homogen menjadi
tampak heterogen. emulsi, misalnya, yang terkenal rentan terhadap perubahan dalam
kondisi fisikokimia; hidrolisis dari fase minyak atau perubahan pH fasa air akan
mengganggu keseimbangan dan dengan demikian menyebabkan perubahan yang dapat
terlihat. Dalam produk cair perubahan viskositas yang dapat dilihat, terjadi ketika
kontaminan yang telah dipecah dari molekul besar, dengan memanfaatkan gula atau
disebabkan agregasi partikel dalam suspensi.
EFEK PENCIUMAN
Telah banyak diketahui mengenai berbagai aroma yang dihasillkan oleh
mikroorganime misalnya salah satu ciri khas dari metabolit yang mengandung belerang
seperti hydrogen sulfide, bau menyengat dari asam lemak, bau amis dari amina dan
astringesia dari amina. Seringkali kombinasi dari senyawa ini menghasilkan aroma yang
menutupi aroma dari produk busuk.
Rasa
Produk dengan rasa 'aneh' sering menjadi indikasi pertama bahwa produk tersebut
mungkin busuk. Namun ini tidak dapat digunakan langsung untuk mendeteksi pembusukan
pada tahap awal. Telah terdaftar lebih dari 100 senyawa organik yang terlibat dalam
penghasilan indikasi rasa ini oleh mikroorganisme yang terutama terdiri dari alkohol,
aldehida, keton, asetal, asam, amina, ester dan fenol.
Tekstur
Sediaan yang dapat dengan mudah dirasakan jika teksturnya sudah rusak oleh
kontaminan adalah sediaan topical. Misalnya pada krim yang dapat menjadi kental atau
berbulir (seperti pasir) atau perubahan viskositas pada sediaan cair, dimana perubahan
tersebut dapat dideteksi ketika sudah dioleskan pada kulit.

Efek Audible (suara)


Manifestasi audible dari suatu pembusukan merupakan proses pembusukan yang
paling parah. Jika pembusukan visible atau yang dapat dilihat dapat dikaburkan (ditutupi)
oleh suatu kemasan, letupan bisa menjadi indikasi awal bahwa gas yang diproduksi
mikroorganisme sudah berhasil beradaptasi.
JENIS JENIS PRODUK YANG RENTAN TERHADAP PEMBUSUKAN
CAIRAN
Air
Bakteri, khususnya memerlukan konsentrasi air yang tinggi di lingkungan mereka.
Oleh karena itu, semua produk yang mengandung air dalam jumlah besar menjadi sangat
rentan terhadap pembusukan oleh bakteri. Tanpa perlakuan yang efektif untuk meminimalkan
kontaminasi, dalam beberapa hari saja air dapat mengandung sejumlah besar bakteri yang
awalnya Gram-negatif dan Gram-positif, kemudian menjadi berbagai bakteri, jamur dan ragi.
Pada tahap ini lah pembusukan dapat terlihat dan tercium dimana rasa busuk dapat
berkembang.
Larutan air yang sederhana
Adanya bahan organik sangat meningkatkan kemungkinan terjadinya pertumbuhan
karena tidak hanya menyediakan substrat yang dapat dipakai tetapi dapat berfungsi juga
untuk memperkenalkan kontaminan ke dalam larutan.
Suspensi
Suspensi berair dari bahan anorganik untuk keperluan farmasi justru sering
mendukung pertumbuhan mikroba, terutama karena penambahan bahan pengawet yang
cenderung diserap dan diinaktifkan oleh bahan suspensi. Terlebih lagi pertumbuhan yang
terjadi di permukaan, seperti pada kontaminan fungi yang tidak mudah dideteksi secara visual
karena tidak jernihnya dari produk ini. Dengan demikian, obat untuk gangguan usus justru
dapat memperburuk kondisi bukannya meringankan.
Emulsi
Emulsi o/w sangat rentan terhadap pembusukan seperti air dalam fase kontinyu yang
memungkinkan kontaminan menyebar ke seluruh produk. Banyak pula bahan lain yang
digunakan dalam emulsi yang rentan terhadap degradasi mikroba. Pembusukan dalam emulsi
dapat terwujud oleh perubahan sifat reologi termasuk pemisahan atau 'breaking down'.
Perubahan warna, penghilangan warna, perubahan bau dan rasa dan tanda-tanda pertumbuhan
yang terlihat juga terjadi.

Krim dan Lotion


Bahan bahan yang cenderung digunakan pada produk produk saat ini adalah
bahan yang berasal dari alam termasuk protein hewani dan vitamin. Dimana bahan ini tidak
hanya tinggi nutrisi untuk mikroorganisme tetapi kemungkinan dapat menonaktifkan
pengawet dan bahkan dapat menjadi sumber kontaminasi. Pertumbuhan jamur adalah salah
satu penyebab paling umum dari pembusukan semua jenis krim. Kesulitan menjaga produk
ini dari pertumbuhan jamur akan meningkat oleh risiko kontaminasi dari container, adanya
rongga udara, dan kondisi penyimpanan yang buruk.
Salep dan Minyak
Karena ini adalah bahan anhidrat, secara teori tidak mendukung pertumbuhan mikroorganisme. Namun, karena sering diisi ke dalam botol atau wadah lainnya dengan rongga
udara yang besar dimana hal ini memungkinan pembusukan oleh jamur, seperti pada krim,
organisme ini dapat memanfaatkan kelembaban atmosfer. Krim dapat menghasilkan
kelembapan melalui penguapan, sedangkan minyak dan salep membutuhkan proses
masuknya air atau dengan adanya suasana lembab. Minyak berisiko rusak sedikit lebih besar
daripada salep karena lebih cair,dimana memungkinkan air terkondensasi sehingga membawa
organisme ke bagian bawah wadah dan tetap terjebak dibawahnya.
Sampo
Sampo sangat rentan terhadap kontaminasi oleh berbagai bakteri Gram-negatif yang
ditularkan melalui air. Sampo dapat mendukung pertumbuhan sejumlah besar bakteri
pembusukan tanpa terlihat, sedimen yang berlendir, selaput tipis, perubahan warna dan bau
dan hilangnya sifat penyabunan. Obat pada sampo tidak kebal dari pembusukan karena
bahan-bahan antimikroba yang dikandungnya hanya memiliki spektrum sempit terhadap
aktivitas antimikroba.
Sirup
Kandungan gula dalam sirup dapat menghambat pertumbuhan banyak
mikroorganisme berdasarkan tekanan osmotik yang tinggi tetapi fungi osmotoleran dan ragi
atau khamir yang menjadi sumber masalah. Fermentasi gula oleh organisme ini menyebabkan
rasa busuk karena produksi alkohol, asam laktat dan asam organik lain sementara produksi
karbon dioksida menyebabkan gas beracun dan masalah lainnya yaitu peningkatan tekanan
gas tersebut.
Tincture, elixirs dan linctuses
Secara umum, formulasi ini tidak memungkinkan kelangsungan hidup mikroba karena
konsentrasi yang tinggi dari alkohol, gula atau gliserol. Bahkan dalam konsentrasi rendah
5%, alkohol akan membunuh sebagian besar bakteri dan jamur, sedangkan ragi umumnya

dibunuh pada konsentrasi di atas 15%. Namun organisme mungkin akan tumbuh dalam
wadah untuk sementara waktu sebelum akhirnya mati dalam formula tersebut.
PADAT
Bahan Baku atau Bahan Mentah
Bahan baku atau bahan mentah padat dapat berfungsi sebagai sumber kontaminan
yang kemudian akan merusak formulasi produk. Pembusukan dari bahan baku padat itu
sendiri sebagian besar disebabkan pertumbuhan jamur di permukaan karena penyimpanan
yang tidak tepat dengan penutup yang tidak sesuai dalam lingkungan lembab atau dalam
kondisi suhu yang berfluktuasi.
Bubuk (powder)
Pembusukan produk dalam bentuk bubuk karena pertumbuhan jamur dapat terlihat
juga terjadi dalam kondisi yang basah. Kemungkinan penyakit akibat kontaminasi mikroba
merupakan suatu pertimbangan yang sangat penting dan sangat diperlukan untuk
memastikan bahwa sediaan topikal tidak mengandung spora Clostridium yang berbahaya.
Tablet, Pil dan tablet hisap
Pembusukan yang terlihat dari tablet, umumnya dinyatakan dengan perubahan warna
pada permukaan yang dapat disebabkan oleh pertumbuhan jamur. Jika rh sekitar 70% berhasil
terlampaui dimana spora dari suatu jamur itu berada, maka pembusukan dapat terjadi,
meskipun hal ini dapat terjadi perlahan-lahan.
Pil dan tablet hisap dari jenis pemanis yang telah direbus, umumnya tidak ditemukan
terjadi pembusukan mikroba karena pemanasan selama pembuatan sudah bertindak sebagai
sterilisasi dan pembungkus kering yang digunakan memang digunakan untuk mencegah
kontaminasi permukaan. Namun, ketika pil yang ditaburi dengan bubuk pati, fungi mungkin
dapat mengkontaminasi dan akan menimbulkan perubahan warna di bawah kondisi
penyimpanan yang buruk.
Kosmetik Padat
Fungi dapat tumbuh pada lipstik ketika lipstik tersebut berada didalam wadahnya,
selain itu keseringan produk menjadi lembab karena napas atau pun air liur saat pemakaian.
Ini juga terdapat pada maskara yang seringkali mengandung banyak bakteri.
Bahan kemasan
Kemasan untuk obat obatan dan kosmetik saat ini memang semakin elegan dengan
bahan plastic. Plastic memang tidak biodegradable seperti bahan selulosa atau kertas,
sehingga mengurungi pembusukan karena mikroba. Tetapi plastic juga memiliki kelemahan,
dimana plastic itu berpori dengan bervariasi derajat dan ini dapat memfasilitasi pertumbuhan
suatu mikroba dalam kemasan produk. Ini juga mendorong terjadinya kondensasi air,
sehingga dapat tumbuh jamur dan terjadilah pembusukan.