You are on page 1of 9

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM ANALISIS SENYAWA KIMIA
ASIDIMETRI

Disusun oleh:
Hanifah
12312241032
Pendidikan IPA A 2012

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA
JURUSAN PENDIDIKAN IPA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

termasuk melibatkan reaksi asam-basa. Buret secara akurat mengukur volume larutan yang dibutuhkan untuk bereaksi dengan jumlah yang secara hati-hati diukur dari zat lain yang terlarut. Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri melibatkan titrasi basa bebas. Alkalimetri adalah analisis volumetrik yang menggunakan larutan baku basa untuk menentukan jumlah asam yang ada (Daintith. Standar primer yang ditimbang dengan hati-hati. Larutan standar adalah larutan dengan konsentrasi tepat ditentukan. Fenolftalein adalah indikator khas untuk titrasi asam-basa. Ketika volume yang tepat telah tercapai. 1980). Mahasiswa dapat menentukan kadar Na2CO3 dan NaOH dalam campuran B. Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan-larutan yang konsentrasinya diketahui disebut analisis volumetric (Keenan. Basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah dengan suatu asam standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas atau asam yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah dengan suatu basa standar (alkalimetri). 1997). Asidimetri adalah analisis volumetrik yang menggunakan larutan baku asam untuk menentukan jumlah basa yang ada. Mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan HCl 0.1 N dengan natrium boraks 2. tidak berwarna dalam larutan asam dan merah muda dalam larutan basa (Peters. 2010). Tujuan 1. indikator perubahan warna dan operator menghentikan aliran dari buret tersebut. . bahkan kimia referensi yang sangat dimurnikan. Kajian Teori Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan dianalisis. Contoh yang akan dianalisis dirujuk sebagai yang tak diketahui.A. Larutan standar dapat dibuat dari salah satu dari dua cara. dilarutkan. Titrasi adalah penambahan yang sangat hati-hati dari satu larutan ke yang lain dengan cara buret. 2. Konsentrasi dapat dihitung dari data. seperti yang didefinisikan oleh persamaan reaksi. Larutan dibuat untuk perkiraan konsentrasi dan kemudian dibakukan oleh titrasi kuantitas akurat ditimbang dari standar primer (Weiner. Proses titrasi digunakan dalam penentuan analitis banyak. Awalnya konsentrasi larutan standar ditentukan dari jumlah yang ditimbang dari sebuah standar primer. 1990). dan diencerkan akurat untuk volume yang diketahui. 1. Indikator adalah zat yang digunakan untuk sinyal ketika titrasi tiba di titik dimana reaktan kimia sama.

Misalnya. Indikator asam basa merupakan senyawa khusus yang ditambahkan pada larutan dengan tujuan untuk mengetahui kisaran pJ dalam larutan tersebut sehingga diketahui sifat dari larutan tersebut. Senyawa indkator yang terdisosiasi akan mempunyai warna berbeda dibandingkan dengan indikator yang terionisasi. Indikator asam basa biasanya adalah asam atau basa organik lemah. 2013). Bila perubahan warna mendadak sekali (yakni tetes terakhir menyebabkan warna sama sekali lain) maka dikatakan bahwa titik akhirnya tegas atau tajam (Harjadi.4 (Dwi. Waktu dan Tempat Praktikum Waktu : Rabu. Bila pH ini diukur dengan pengukur pH pada awa titrasi yakni saat belum ditambah dengan basa dan pada saat tertentu setelah titrasi dimulai. 2011) Larutan yang dititrasi dalam asidmetri dan alkalimetri mengalami perubahan pH. 1999). Salah satu asam basa yang digunakan yaitu Fenolftalein (PP) dan Metyl Orange (MO). diukur volumenya dengan menggunakan pipet volumetri dan ditempatkan di erlenmeyer (Farx. Larutan baku/ larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya sudah diketahui. sedangkan indikator MO dalam larutan asam akan berwarna merah dan dalam larutan basa akan berwarna orange dengan rentang pH 3. maka pH larutan dapat dialurkan lewat grafik yang disebut kurva titrasi.Reaksi-reaksi ini melibatkan bersenyawanya ion hidrogen untuk membentuk air (Basset. 1994). maka pH larutan mula-mula rendah dan selama titrasi terus menerus naik. Metodologi Praktikum 1. 25 November 2015 . Larutan baku biasanya berfungsi sebagai titran sehingga ditempatkan buret. Perubahan warna ini harus terjadi dengan mendadak agar tidak ada keragu-raguan tentang kapan titrasi harus dihentikan. yang sekaligus berfungsi sebagai alat ukur volume larutan baku.1-4. Sebuah indikator asam basa tidak akan mengubah warna larutan asam murni ke basa murni pada konsentrasi hidrogen yang spesifik. C. Bila suatu indikator pH kita gunakan untuk menunjukkan titik akhir titrasi maka indikator harus berubah warna tepat pada saat titran menjadi ekivalen dengan titrat agar tidak terjadi kesalahan titrasi. melainkan hanya pada kisaran konsentrasi ion hidrogen yang merupakan suatu interval perubahan warna sebagai penanda kisaran pH. Titik akhir titrasi akan terjadi jika warna indikator yang digunakan tepat mengalami perubahan (berubah warna atau menghilang). Indikator PP dalam larutan asam tidak akan berwarna dan dalam larutan basa akan berwarna merah dengan rentang pH 8-10. Larutan yang akan ditentukan konsentrasinya atau kadarnya. bila larutan asam dititrasi dengan basa.

Memasukkan ke dalam erllenmeyer kemudian menambahkan 50 mL akuades dan 2 tetes indikator MO sehingga berwarna kuning. Langkah Kerja a. Bahan: Larutan HCl pekat Larutan Campuran Na2CO3 dan NaOH Indicator pp Indikatir MO Akuades Kristal natrium boraks 3. b. Menentukan kadar Na2CO3 dan NaOH dalam campuran .Tmpat : Laboratorium Kimia Analisis 2. Menghitung normalitas larutan HCl. Alat da Bahan a. Melakukan titrasi larutan tersebut dengan HCL hingga titik ekivalen (larutan berwarna jingga) dan mencatat volume HCl yang ditambahkan. Alat: Pipet volum 25 mL Buret Labu ukur 50 mL Kaca arloji Bekergelas 50 mL Erlenmeyer 50 mL b. Standarisasi larutan HCl dengan boraks Menimbang dengan teliti 191-200 mg kristal boraks murni.

5 2 indicator pp Larutan campuran + HCl 2. Menghitung kadar (%b/v) Na2CO3 dan NaOH menggunakan rumus. 10 H 2 O N HCl = 191× volume titer (mL) .3 2 indicator MO E. Analisis Data a.Mengambil 12.09 ≈ 0. D.1 b.5 (N) 0. Menambahkan 1 tetes indikator MO dan melanjutkan titrasi dengan HCl hingga titik ekivalen (larutan berwarna jingga). Mencatat volume HCL yang digunakan. mengencerkan dengan akuades hingga 50 mL. Standarisasi larutan HCl dengan boraks Diketahui: Massa Kristal boraks = 192 mg Volume HCl yang digunakan = 10. menambahkan 1 tetes indikator pp. Standarisasi larutan HCl dengan boraks N Massa Kristal boraks Volume HCl yang digunakan Normalitas HCl o 1 (mg) 192 untuk titrasi (mL) 10. Mencatat volume HCL yang digunakan.5 mL larutan campuran dengan pipet volume. 5 mL Berat Na2 B 4 O7. Data Hasil Praktikum a. Melakukan titrasi larutan campuran + indikator pp dengan larutan HCl hingga titik ekivalen (warna merah hilang). Mengambil 10 mL dari larutan campuran yang telah diencerkan. Menentukan kadar Na2CO3 dan NaOH dalam campuran N Titrasi Titrat Titran Volume titran yang dibutuhkan o 1 ke1 Larutan campuran + HCl (mL) 21.

76 % 50 (2 b)× N HCl × BE Na2 CO3 ×10−3 ×100 Kadar (%b/v) Na2CO3 = 10 × 12.09 N b. Percobaan pertama yang dilakukan yaitu melakukan standarisasi larutan HCL dengan kristal natrium boraks. Pembahasan Praktikum yang berjudul Asidimetri dilaksanakan di Laboratorium Kimia Analisis pada hari Rabu.3 mL (b) 50 (a−b) × N HCl × BE NaoH × 10−3 ×100 Kadar (%b/v) NaOH = 10 × 12. Alat yang digunakan antara lain pipet volume 25 mL. labu ukur 50 mL. Kristal boraks yang digunakan sebanyak 192 mg kemudian dilarutkan dengan akuades 50 mL dan ditambahkan 2 tetes indicator MO sehingga larutan menjadi berwarna kuning.3)× 0. indicator MO.5 = = 2. indicator pp. erlenmeyer. Titrasi dilakukan sampai titik ekivalen (hingga larutan berwarna jingga).09× 40 × ×10−3 ×100 10 12. Untuk mencapai titik ekivalen dibutuhkan . bekergelas 50 mL.5 mL (a) Volume HCl yang dibutuhkan untuk titrasi ke-2 = 2. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain larutan HCl. Selanjutnya melakukan titrasi larutan tersebut dengan larutan HCl menggunakan buret.5 N HCl = 0. 5 = 0. larutan campuran Na 2CO3 dan NaOH.N HCl = 192 191 ×10.5 mL Volume akuades = 20 mL Volume HCl yang dibutuhkan untuk titrasi ke-1 = 21.1 N dengan natrium boraks dan menentukan kadar Na2CO3 dan NaOH dalam campuran.87 % F. akuades.5 = 50 (2 ×2.5 50 (21.09 ×53 × × 10−3 × 100 10 12 . buret.3)×0. 25 November 2015 dengan tujuan agar mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan HCl 0.5−2. Menentukan kadar Na2CO3 dan NaOH dalam campuran Diketahui: Volume campuran = 12. kaca arloji. dan kristal natrium boraks.

5 karena indicator metil orange berdasarkan teori akan berwarna merah apabila memiliki pH kurang dari 3.5 mL larutan campuran dan memasukkan ke dalam labu ukur 50 mL dan mengencerkan dengan akuades sampai tanda batas. 191 × volume t iter (mL) . larutan berubah menjadi berwarna kuning yang menandakan bahwa larutan memiliki pH di atas 4. Dari percobaan diperoleh volume HCl yang digunakan untuk titrasi sebanyak 21. diperoleh Normalitas HCl 0. Dari hasil percobaan didapatkan volume HCl yang digunakan untuk titrasi sebanyak 2.1 N. Titrasi dilakukan untuk membuat larutan menjadi berwarna jingga sehingga dapat dikatakan bahwa larutan telah bersuasana asam. Setelah larutan menjadi tak berwarna.5 mL. Dalam praktikum ini titran yang digunakan adalah asam kuat HCl.3 larutan akan berubah menjadi tak berwarna.larutan HCl sebanyak 10.09 N Percobaan kedua yaitu menentukan kadar NaOH dan Na2CO3 dalam campuran. Melakukan titrasi larutan campuran dengan larutan HCL pekat hingga titik ekivalen. Setelah penambahan indicator MO. larutan ini ditambahkan indicator MO sebnayak 1 tetes dan dititrasi kembali dengan HCl hingga titik ekivalen (ketika larutan yang sudah diketahui konsentrasinya direaksikan dengan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya. Pada prinsipnya asidimetri adalah analisa titrimetri yang menggunakan asam kuat sebagai titrannya dan sebagai analitnya adalah basa atau senyawa yang bersifat basa.3 mL. Setelah dilakukan titrasi menggunakan HCl larutan menjadi tak berwarna. Mengambil 10 mL dari larutan campuran yang telah diencerkan dan memasukkan dalam erlenmeyer dan menambahkan 1 tetes indicator pp. ataupun pengukuran dengan asam (yang diukur jumlah basa atau garamnya).5 mL. yaitu hingga warna mrah hilang. dan sebagai analitnya adalah campuran Na2CO3 dan NaOH.5. . Sehingga melalui rumus N HCl = Berat Na2 B 4 O7. Perubahan warna larutan menjadi tak berwarna menandakan bahwa larutan telah berada pada suasana asam dimana pada pH di bawah 8. maka akan dicapai titik dimana jumlah asam sama dengan jumlah basa). fungsi penambahan indicator pp adalah sebagai penunjuk karena larutan campuran memiliki pH di atas 7 atau berada dalam suasana basa sehingga larutan akan memberikan warna merah. 10 H 2 O ≈ 0. Penambahan indicator pnenolptalein (pp) ini membuat larutan menjadi berwarna ungu atau merah violet. Langkah yang dilakukan yaitu megambil 12.1 dan berubah menjadi orange kemerahan atau jingga pada pH di atas 4.

Ilmu Kimia untuk Universitas. Farx. . J. Standarisasi larutan HCl dengan natrium boraks. (2010). Indikator Asam Basa. G. Larutan Baku (Larutan Standar). Jakarta: Erlangga. Weiner. Harjadi. Diakses pada tanggal 28 November 2015. http://artikelteknikkimia. Diundug dari alamat situs http://www. Ilmu Kimia Analitik Dasar.67 % dan kadar Na 2CO3 dalam campuran adalah 0. (2011).5 kadar (% b/v) Na2CO3 = Dari hasil analisis diperoleh hasil kadar NaOH dalam campuran adalah 2. Peters. J. 2. Jakarta: Gramedia.1 N. Daftar Pustaka Daintith. Introduction to Chemical Principles. Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan diperoleh: 1.87%. (1997). Kamus Lengkap Kimia.ilmukimia. Charles W. W. Teknik Analisis Kuantitatif. (1990). 2013. Jakarta: Erlangga. Basset.67 % dan kadar Na2CO3 dalam campuran adalah 0.html. USA: Saunders College Publishing. USA: Cengage Learning. Susan A. Keenan. diperoleh Normalitas HCl adalah 0.Reaksi yang terjadi ketika proses titrasi adalah sebagai berikut: Reaksi 1 NaOH(aq) + HCl(aq)  NaCl(aq) + H2O(l) Na2Co3(aq) + HCl(aq)  NaCl(aq) + NaHCO3(aq) Reaksi 2 NaHCO3(aq) + HCl(aq)  NaCl(aq) + CO2(g) + H2O(aq) Volume HCl hasil percobaan digunakan untuk menganalisis peentuan kadar NaOH dan Na2CO3 menggunakan rumus: 50 ( a−b ) x N HCl x BE NaOH x 10-3 x 100 % kadar (% b/v) NaOH= 10 x 12. Kadar kadar NaOH dalam campuran adalah 2. Jakarta: Erlangga. Edward I.org/2013/01/indikator-asam-basa. Introduction to Chemical Principles. H. (1994).5 50 ( 2b ) x N HCl x BE Na2 CO 3 x x 10-3 x 100 % 10 12. Dwi Winarto.09 N ≈ 0. (1980).com.87%. (1990).

pemilihan indikator yang baik setidak-tidaknya -1 pH titik ekivalen sampai +1 pH titik ekivalen. jelaskan faktor 100/10 dan faktor 10-3! Jawab: Faktor 100/10 merupakan perbandingan volume larutan campuran yang telah diencerkan dengan volume larutan campuran yang dititrasi dalam mL. Mungkinkah volume titrasi kedua (b) lebih besar dari titrasi pertama (a)? Jelaskan! Jawab: Volume titrasi kedua tidak mungkin lebih besar dari volume titrasi pertama karena larutan yang digunakan pada titrasi pertama masih belum tercampur dengan HCl hingga membutuhkan volume titrasi yang lebih banyak. Apabila indikator MO digunakan terlebih dahulu maka titik akhir titrasi akan terjadi terlebih dahulu sebelum titik ekivalen tercapai. sehingga dapat menyebabkan hasil perhitungan analisa kurang akurat. Apakah penggunaan indikator dapat dibalik. Selain itu.I. MO dulu baru PP? Jelaskan! Jawab: Penggunaan indikator ini tidak dapat dibalik. 3. . Pertanyaan dan Jawaban 1. karena rentang pH indikator PP adalah 8-10 yang mana rentang pH ini mendekati titik ekivalen titrasi HCl-NaOH yaitu pada pH 7. sedangkan faktor 10-3 merupakan faktor pengubah satuan dari mL menjadi L. Pada rumus kadar Na2CO3 dan NaOH. sedangkan pada larutan titrasi kedua kekuatan basanya sudah menurun hingga tidak memerlukan banyak HCl untuk mencapai titik ekivalen 2.