You are on page 1of 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Upaya mewujudkan kemandirian daerah yang transparan dan
akuntabilitas

antara komponen pemerintah, masyarakat, dan swasta.

Relasi tersebut mencerminkan peran partisipasi masyarakat dalam proses
pembangunan dari awal hingga akhir hendaknya dilandasi aturan
kebijakan untuk berpartisipasi sesuai proporsi dan kompetensi yang
dimiliki. Sehingga perwujudan pembangunan di bidang peternakan
terlaksana dengan baik maka diperlukan suatu cara untuk memberdayakan
petani

peternak

dalam

meningkatkan

produktivitas

peternakan.

Pemberdayaan peternak merupakan sebuah metode pemberdayaan
masyarakat

yang

memungkinkan

orang

atau

masyarakat

dapat

meningkatkan kualitas hidupnya serta mampu memperbesar pengaruhnya
terhadap proses-proses yang mempengaruhi kehidupannya atau suatu
usaha dalam membantu orang biasa untuk meningkatkan lingkungannya
dengan melakukan aksi kolektif dalam bidang ekonomi, penguatan social
atau pengembangan sector non profit. Kegiatan pemberdayaan peternak
dimaksud adalah upaya mengubah kesadaran, memperkuat keinginan dan
perlakuan masyarakat peternak sebagai obyek atau pelaku yang berperan
dalam peningkatan produk peternakan.
Upaya-upaya pemberdayaan masyarakat seharusnya mampu
berperan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM) terutama
dalam membentuk danmerubah perilaku masyarakat untuk mencapai taraf
hidup yang lebih berkualitas. Pembentukan dan perubahan perilaku
1

tersebut, baik dalam dimensi sektoral yakni dalam seluruh aspek/sektorsektor kehidupan manusia; dimensi kemasyarakatan yang meliputi
jangkauan kesejahteraan dari materiil hingga non materiil; dimensi waktu
dan kualitas yakni jangka pendek hingga jangka panjang dan peningkatan
kemampuan dan kualitas untuk pelayanannya, serta dimensi sasaran yakni
dapat menjangkau dari seluruh strata masyarakat.
B. Tujuan penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui peran
dan pengaplikasian kelembagaan pada petani peternak.
C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dapat ditarik pada tema makalah ini adalah :
1. Bagaimana cara mengaplikasikan kelembagaan pada petani peternak?
2. Bagaimana pemberdayaan petani peternak melalui kelompok usaha
bersama agribisnis?

BAB II
PEMBAHASAN
1.1.

Kelembagaan pada Petani Peternak
Petani adalah warga Indonesia beserta keluarganya yang mengelola usaha
di bidang pertanian, wanatani, minatani, agropasture, penangkaran satwa
dantumbuhan di dalam dan di sekitar hutan yang meliputi usaha hulu, usaha
tani,agroindustri, pemasaran dan jasa penunjang (Peraturan Menteri Pertanian
No:273/Kpts/OT.160/4/2007). Agar petani memiliki wadah untuk belajar,

2

mengajarbekerjasama antar petani maupun kelompok lain serta mencapai
usaha skala ekonomi diwajibkan membentuk kelompok tani. Kelompok tani
adalahkumpulan

petani/peternak/pekebun

yang

dibentuk

atas

dasar

kesamaankepentingan, kondisi lingkungan (sosial-ekonomi–sumberdaya) dan
keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.
Lembaga kemasyarakatan meerupakan terjemahan langsung dari istilah
asing social-institusion.Kelembagaan di tingkat pusat telah "membenahi" diri
dan menentukan pembagian peran tanpa membuat suatu kelembagaan baru
maka di tingkat petani juga perlu dilakukan "pembenahan" kelembagaan.
Membenahi jelas bukan menciptakan sesuatu yang baru melainkan menata
kelembagaan yang sudah ada agar menjadi lebih baik, dengan meletakkan
pada tempat dan fungsi yang tepat dapat memberikan manfaat optimal.
Pembenahan yang perlu
dilakukan di tingkat petani adalah dengan mengintegrasikan kelompok tani
dan P3A. Integrasi, to make part in to a whole, dengan kata kunci : combine,
merge,amalgamate, unite, bring a member in to a community on terms equal
to other
member. Equity dalam integrasi kelompok tani dan P3A lebih mudah
dilaksanakan dan dicapai karena anggota kedua kelembagaan adalah individu
yang sama.
Upaya penguatan petani/peternak dilakukan melalui pengembangan
kapasitas kelembagaan petani/peternak yang diarahkan menjadi badan usaha
milik peternak atau BUMP dalam bentuk koptan yang dapat meningkatkan
posisi tawar petani/peternak dengan berbagai pihak. Setiap kelembagaan

3

petani/peternak baik poktan maupun gapoktan memiliki peluang untuk
membentuk kelembagaan ekonomi petani/peternak, namun demikian
kelembagaan petani/peternak harus terbentuk berdasarkan kebutuhan
petani/peternak untuk mengembangkan usaha memerlukan dukungan aspek
legal formal agar memiliki posisi tawar yang sama dengan kelembagaan
ekonomi lainnya. Kriteria umum bagi kelembagaan petani/peternak yang
akan membentuk kelembagaan ekonomi petani/peternak diantaranya :
 Telah melakukan kegiatan usaha berkelompok berorientasi pasar
 Memiliki struktur organisasi kelembagaan petani (poktan,gapoktan)
telah memiliki kepengurusan yang melakukan kegiatan usaha atau
unit usaha agribisnis;
 Memiliki perencanaan usaha yang disusun secara partisipatif dalam
kurun waktu atau siklus usaha tertentu;
 Memiliki pencatatan dan pembukuan usaha;
 Telah membangun jejaring dalam pengembangan usaha dengan
kelembagaan petani/peternak lainnya;
 Telah membangun kemitraan usaha dengan penguasaha atau
kelembagaan ekonomi lainnya;
 Membutuhkan dukungan aspek legal formal untuk memperkuat
pengembangan usaha.
Tahapan penguatan kelembagaan peternak terdiri dari persiapan,
pembentukan kelembagaan peternak, pelaksanaan serta monitoring dan
evaluasi dengan rincian kegiatan sebagai berikut :
1.

Persiapan Secara umum identifikasi kepada peternak dan kelompok
peternak yang berpotensi bertujuan untuk ditingkatkan kapasitasnya

menjadi kelembagaan usaha peternak dan peninjauan ke lapangan.
2. Pelaksanaan :
 Identifikasi kelompok peternak

4

a.

Penelaahan data perkembangan kelompok peternak oleh

petugas teknis peternakan kecamatan;
b. Identifikasi kelompok peternak yang

berpotensi

untuk

dikembangkan kapasitasnya menjadi kelembagaan kelompok
peternak.
 Hasil Identifikasi kelompok peternak selanjutnya direkap untuk
disampaikan

kepada

Dinas

Peternakan

membidangi

fungsi

peternakan

untuk

atau

Dinas

difasilitasi

yang
dalam

pengembangan kelembagaan peternak.
 Sosialisasi pengembangan kelembagaan peternak oleh Dinas
Peternakan atau Dinas yang membidangi fungsi peternakan.
 Musyawarar/rembug ternak untuk menyepakati pembentukan
kelembagaan peternak;
 Fasilitasi berupa pendampingan oleh petugas teknis peternakan
bersama dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan kelembagaan
ekonomi, sepert Dinas Koperasi dan UKM, Pengusaha, Dinas
Perdagangan,

Asosiasi

kelompok

peternak

dan

Pengusaha

peternakan serta pihak perbankan.
Materi fasilitasi meliputi:
a) Pengenalan bentuk-bentuk kelembagaan ekonomi peternak;
b) Manfaat Kelembagaan ekonomi peternak;
c) Persyaratan dan proses pembentukan kelembagaan ekonomi
peternak;
d) Struktur, tugas, tanggung jawab dan fungsi perangkat organisasi
kelembagaan peternak.

5

 Pendampingan oleh petugas teknis dilakukan sebagai bagian dari
kunjungan lapangan ke kelompok peternak sesuai jadwal yang
disepakati;
 Musyawarah/rembug kelompok peternak untuk menetapkan bentuk
kelembagaan ekonomi peternak. Dalam penetapan kelembagaan
peternak agar dilakukan secara partisifatif dan tidak ada pemaksaan
tergantung

dari

kesiapan

kelompok

kelembagaan ekonomi peternak;
 Penyiapan
dokumen-dokumen

untuk

kelengkapan

membentuk
pembentukan

kelembagaan ekonomi peternak sesuai dengan bentuk kelembagaan
yang disepakati dan persyaratan yang harus dipenuhi bagi
kelembagaan terpilih.
Setelah kelembagaan peternak terbentuk, maka diperlukan adanya
fasilitasi berupa pendampingan oleh Dinas yang membidangi fungsi peternakan
Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat agar kelembagaan tersebut dapat berjalan
secara profesional dan mampu mengembangkan diri menjadi lembaga peternak
yang mandiri, serta meningkatkan usahanya sebagai lembaga usaha yang
komersial. Pembentukan Kelembagaan Peternak Pembentukan kelembagaan
peternak terhadap peternak/kelompok peternak potensial diawali dengan
melakukan musyawarah/rembug untuk menyepakati pembentukan kelembagaan
peternak.
1. Kelembagaan ekonomi peternak dalam bentuk koperasi didaftarkan
pendiriaannya di instansi yang menangani koperasi setempat dan disahkan
untuk mendapatkan legalitas dari notaris (tatacara pembentukan koperasi

6

lihat Undang-undang Perkoperasian Nomor 17 Tahun 2012); dan Materi
Penyuluhan tentang pembentukan koperasi petani/peternak.
2. Kelembagaan ekonomi petani dalam bentuk Perseroan

Terbatas

didaftarkan pendiriannya di notaris dan dilanjutkan dengan pendaftaran di
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Tata cara pembentukan dan
Perusahan lihat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007) dan Materi
Penyuluhan tentang pembentukan Perusahaan Pertanian di Perdesaan)

2.2. Pemberdayaan Petani Peternak melalui Kelompok Usaha Bersama
Agribisnis
Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA) merupakan rekayasa
kelembagaan yang kehadirannya dapat mengintegrasikan kelompok – kelompok
petani/peternak, pengelola agroindustri dan agroniaga pedesaan yang menangani
komoditas yang sama pada suatu skala ekonomi. Melalui kelompok usaha
agribisnis diharapkan dapat mendorong terwujudnya kelembagaan ekonomi
kerakyatan di pedesaan untuk mendukung kegiatan ekonomi petani, antaralain
menyediakan kebutuhan sarana usahatani dan menangani distribusi hasilnya.
Untuk melakukan usaha bersama perlu dipahami beberapa hal :
a. Manajemen usaha, yaitu pengaturan usaha baik yang sinergis maupun
yang sejenis dikelompokkan sehingga usaha ini dapat membentuk posisi
tawar yang kuat dalam memenuhi permintaan pasar.
b. Manajemen sumberdaya, yaitu pengaturan usaha disesuaikan dengan
kemampuan dasar usaha tersebut yang meliputi sumberdaya manusia,
modal, lingkungan dan sarana pendukung lainnya.

7

Upaya untuk memberdayakan petani peternak melalui wahana Kelompok
Usaha Bersama Agribisnis (KUBA) dihadapkan pada berbagai permasalahan
internal dan eksternal, sehingga perlu dilakukan strategi pemberdayaannya.
Strategi pemberdayaan yang dapat ditempuh adalah ; pertama, pengembangan
usaha ternak melalui optimalisasi sumber daya yang dimiliki untuk meraih
peluang ada. Penekanannya lebih difokuskan pada ekspansi (perlusan usaha).
Kedua, mendorong terjadinya konsolidasi antarpetani sehingga berbagai
kelemahan yang ada dapat diatasi. Ketiga, melakukan diversifikasi usaha, dalam
hal ini petsni dianjurkan untuk melakukan diversifikasi usaha (baik vertical
maupun horizontal) sebagai langkah antisipasi dari kamungkinan gagalnya usaha
peternakan.
Strategi tersebut secara terintegrasi akan dapat diwujudkan dalam wahana
organisasi Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA). Selanjutnya untuk
lebih memberdayakan KUBA perlu didorong terbentuknya jaringan kelembagaan
scara horizontal dengan pelaku agribisnis lainnya dan diciptakn adanya
kepemilikan capital yang dikuasai petani, serta berupaya unrtuk meningkatkan
hubungan kemitraan antarpelaku agribisnis dengan landasan yang bersifat rasional
Pembentukan kelompok petani ternak merupakan salah satu solusi yang tepat
dalam meningkatkan pemberdayaan usaha peternakan rakyat di hampir seluruh
wilayah kabupaten/kota. Berbagai aspek dalam usaha peternakan seperti
pengadaan sarana produksi (bibit dan pakan), pencegahan penyakit ternak dan
akses pemasaran dapat dilakukan secara berkelompok dan bergotong royong,
yang pada gilirannya meningkatkan keuntungan dan pendapatan usaha. Untuk

8

lebih meningkatkan keberdayaan kelompok petani peternak ini memang
membutuhkan uluran tangan dari beberapa instansi dan dinas terkait
Usaha apapun dalam masyarakat diperlukan jaringan kerjasama antara satu
dengan yang lainnya. Kerjasama tersebut dapat berupa saling member atau
sebagai penyedia bahan baku ataupun sebagai pemasar dan pembeli. Masingmasing mempunyai peran dan saling mendukung satu sama lain.
 Pembentukan Kelompok Usaha Bersama bertujuan sebagai berikut
Mengorganisasikan anggota dan mendorong usaha produktif
 Mendorong adanya modal kelompok dan membangun hubungan
dengan pihak lain
 Melayani kebutuhan individu ataupun kebutuhan bersama
 Mengenali permasalan dan memfasilitasi pemecahannya
 Memlihara serta mengembangkan nilai-nilai kelompok dan nilai kasih
dalam proses belajar kelompok
 Mengembangkan potensi anggota kelompok dan kegiatan social.

9

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Upaya penguatan petani/peternak dilakukan melalui pengembangan
kapasitas kelembagaan petani/peternak yang diarahkan menjadi badan
usaha milik peternak atau BUMP dalam bentuk koptan yang dapat
meningkatkan posisi tawar petani/peternak dengan berbagai pihak.
2. Penguatan kelembagaan Agribisnis Peternakan dan peningkatan kualitas
Sumber Daya melalui Kegiatan Penyuluhan, Pembinaan, Temu Usaha,
Pelatihan – pelatihan sehingga diharapkan terjadi perubahan pola fikir
pelaku

Agribisnis

Pemberdayaan

menjadi

Masyarakat

lebih

inovatif,

Agribisnis

kreatif

melalui

dan

bantuan

mandiri.
langsung

masyarakat dengan pengusahaan ternak baik sapi, kerbau, kambing, kuda
dan unggas.
3.2. Saran
Saran yang dapat ditarik dari makalah ini adalah mudah-mudahan dapat
bermanfaat bagi pembaca dan penulis mengharapkan kritik yang membangun
demi kesempurnaan makalah ini.

10

DAFTAR PUSTAKA
Soekanto.Soerjono.1990.Sosiologi

Suatu

Pengantar.Jakarta:PT.RajaGrafindo

Persada.
http://cc.bingj.com/cache.aspx?
q=kelembagaan+pada+petani+peternak&d=4697634894907360&mkt=enI
D&setlang=enUS&w=PsJdL5mC3F5YPLCGZG7FASsxd5wxyqZQ
http://cybex.pertanian.go.id/materipenyuluhan/cetak/10442
http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/12/pemberdayaanpeternak.pdf

11