You are on page 1of 32

REFERAT ANESTESI

TERAPI OKSIGEN DAN
OBAT – OBATAN ANESTESI

Disusun oleh :
Aldora Oktaviana 1102011019

Pembimbing :
dr. Mira Rellitania S., Sp.An

KEPANITERAAN ANESTESI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
RSUD SOREANG
2016

TERAPI OKSIGEN
 Definisi
Terapi oksigen adalah memasukkan oksigen tambahan dari luar ke paru melalui saluran
pernafasan dengan menggunakan alat sesuai kebutuhan. Terapi oksigen adalah pemberian
oksigen dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari yang ditemukan dalam atmosfir
lingkungan. Pada ketinggian air laut konsentrasi oksigen dalam ruangan adalah 21 %,
Sejalan dengan hal tersebut diatas menurut Titin, 2007, Terapi oksigen adalah suatu tindakan
untuk meningkatkan tekanan parsial oksigen pada inspirasi, yang dapat dilakukan dengan
cara:
a. Meningkatkan kadar oksigen inspirasi / FiO2 (Orthobarik )
b. Meningkatkan tekanan oksigen (Hiperbarik)
 Tujuan/ kegunaan
a.
Meningkatkan konsentrasi O2 pada darah arteri sehingga masuk ke jaringan
untuk memfasilitasi metabolisme aerob
b.
Mempertahankan PaO2 > 60 mmHg atau SaO2 > 90 % untuk :
- Mencegah dan mengatasi hipoksemia / hipoksia serta mempertahankan oksigenasi
jaringan yang adekuat.
- Menurunkan kerja nafas dan miokard.
- Menilai fungsi pertukaran gas
Fi O2 (fraksi oksigen
Alat
Aliran (L/menit)
inspirasi)
1
0,24
2
0,28
Kanula 3
0,32
nasal
4
0,36
5
0,40
6
0,44
5-6
0,40
Masker
6-7
0,50
oksigen
7-8
0,60
Masker 6
0,60
dengan 7
0,70
kantong 8
0,80
reservoi 9
≥0,80
r
10
≥0,80
 Indikasi
a. Pasien hipoksia
Hipoksia hipoksik merupakan masalah pada individu normal pada daerah
ketinggian serta merupakan penyulit pada pneumonia dan berbagai penyakit sistim
pernafasan lainnya.

Gejala dan tanda hipoksia hipoksik:
1. Pengaruh penurunan tekanan barometer
Penurunan PCO2 darah arteri yang terjadi akan menimbulkan alkalosis respiratorik.
2. Gejala hipoksia saat bernafas oksigen
Di ketinggian 19.200 m, tekanan barometer adalah 47 mmHg, dan pada atau lebih
rendah dari tekanan ini cairan tubuh akan mendidih pada suhu tubuh. Setiap orang
yang terpajan pada tekanan yang rendah akan lebih dahulu meninggal saat
hipoksia, sebelum gelembung uap air panas dari dalam tubuh
menimbulkankematian.
3. Gejala hipoksia saat bernafas udara biasa
Gejala mental seperti irritabilitas, muncul pada ketinggian sekitar 3700 m. Pada
ketinggian 5500 m, gejala hipoksia berat, dan diatas 6100 m, umumnya seseorang
hilang kesadaran.
4. Efek lambat akibat ketinggian
Keadaan ini ditandai dengan sakit kepala, iritabilias, insomnia, sesak nafas, serta
mual dan muntah.
5. Aklimatisasi
Respon awal pernafasan terhadap ketinggian relatif ringan, karena alkalosis
cenderung melawanefek perangsangan oleh hipoksia. Timbulnya asidosis laktat
dalam otak akan menyebabkan penurunan pH LCSdan meningkatkan respon
terhadap hipoksia.
 Penyakit yang menyebabkan Hipoksia Hipoksik
Penyakit penyebabnya secara kasar dibagi atas penyakit dengan kegagalan organ
pertukaran gas, penyakit seperti kelainan jantung kongenital dengan sebagian besar
darah dipindah dari sirkulasi vena kesisi arterial, serta penyakit dengan kegagalan
pompa pernafasan. Kegagalan paru terjadi bilakeadan seperti fibrosis pulmonal
menyebabkan blok alveoli – kapiler atau terjadi ketidak seimbangan ventilasi –
perfusi. Kegagalan pompa dapat disebabkan oleh kelelahan otot-otot pernafasan
pada keadaan dengan peningkatan beban kerja pernafasan atau oleh berbagai
gangguan mekanik seperti pneumothoraks atau obstruksi bronkhialyang membatasi
ventilasi. Kegagalan dapat pula disebabkan oleh abnormalitas pada mekanisme
persarafan yang mengendalikan ventilasi, seperti depresi neuron respirasi di
medula oblongata oleh morfin dan obat-obat lain.
 Hipoksia Anemik
Sewaktu
istirahat,hipoksia
akibat
anemia
tidaklah
berat,
karena
terdapat peningkatan kadar 2,3-DPG didalam sel darah merah,kecuali apabila
defisiensi hemoglobin sangat besar. Meskipun demikian, penderita anemia
mungkin mengalami kesulitan cukup besar sewaktu melakukan latihan fisik karena
adanya keterbatasan kemampuan meningkatkan pengangkutan O2 kejaringan aktif.
 Hipoksia Stagnan
Hipoksia akibat sirkulasi lambat merupakan masalah bagi organ seperti ginjal dan
jantung saat terjadi syok. Hati dan mungkin jaringan otak mengalami kerusakan
akibat hipoksia stagnan pada gagal jantung kongestif. Pada keadaan normal, aliran

a. gangguan difusi dan berada ditempat yang tinggi. Namun. Oksigenasi cukup sedangkan paru tidak normal c. pirau. Oksigenasi kurang sedangkan paru normal b. Biru metilen atau nitrit digunakan untuk mengobati keracunan sianida. Bila tekanan oksigen arteriol (PaO2) dibawah 55 mmHg. Hipoksemia dibedakan menjadiringan sedang dan berat berdasarkan nilai PaO2 dan SaO2.Pasien dengan kadar O2 arteri rendah dari hasil AGD . Kemampuan pengobatan menggunakansenyawa ini tentu saja terbatas pada jumlah methemoglobin yang dapat dibentuk dengan aman. Pasien dengan tekanan partial karbondioksida ( PaCO2 ) rendah. kemudian akan terjadi peningkatan sekresi eritropoitin ginjal sehingga mengakibatkan . Zat-zat tersebut bekerja dengan sianida. Umur juga mempengaruhi nilai PaO 2 dimana setiap penambahan umur satu tahun usia diatas 60 tahun dan PaO2 80 mmHg maka terjadi penurunan PaO2 sebesar 1 mmHg. SaO2 95%. menghasilkan sianmethemoglobin. Pasien yang membutuhkan pemberian oksigen konsentrasi tinggi. Pemberian terapi oksigen hiperbarik mungkin juga bermanfaat. juga terjadi takikardi kompensasi yang akan meningkatkan volume sekuncup jantung sehingga oksigenasi jaringan dapat diperbaiki.terutama didaerah paru yang letaknya lebih tinggi dari jantung. Oksigenasi cukup.darah ke paru-paru sangat besar. dan dibutuhkan hipotensi jangka waktu lama untuk menimbulkan kerusakan yang berarti.kendali nafas akan meningkat. sehingga tekanan oksigen arteriol (PaO2) yang meningkat dan sebaliknyatekanan karbondioksida arteri (PaCO2) menurun. Contoh : . hipoksemia sedang PaO2 4060 mmHg. Sianida menghambat sitokrom oksidasi serta mungkin beberapa enzim lainnya.  Hipoksia Histotoksik Hipoksia yang disebabkan oleh hambatan proses oksidasi jaringan paling sering diakibatkan oleh keracunan sianida. paru normal.jaringan Vaskuler yang mensuplai darah di jaringan hipoksia mengalami vasodilatasi.Pasien dengan peningkatan kerja napas dimana tubuh terjadi hipoksemia ditandai dengan PaO2 dan SpO2 menurun. d. e. hipoksemia ringan dinyatakan pada keadaan PaO2 60-79 mmHg dan SaO2 90-94%. Hipoksia alveolar menyebabkan kontraksi pembuluh pulmoner sebagai respon untuk memperbaiki rasio ventilasi perfusi di area paru terganggu. Hipoksemia dapat disebabkan oleh gangguan ventilasi. Pasien yang teridentifikasi hipoksemia contohnya syok dan keracunan CO Hipoksemia adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan konsentrasi oksigen dalam darah arteri (PaO2) atau saturasi O2 arteri (SaO2) dibawah nilai normal (nilai normal PaO285-100 mmHg). suatu senyawa non toksik. syok paru dapat terjadi pada kolaps sirkulasi berkepanjangan. Keadaan hipoksemia menyebabkan beberapa perubahan fisiologi yan gbertujuan untuk mempertahankan supaya oksigenasi ke jaringan memadai. SaO2 75%-89% dan hipoksemia berat bila PaO2kurang dari 40 mmHg dan SaO2kurang dari 75%. perfusi. hipoventilasi. sedangkan sirkulasi tidak normal.

Sungkup muka rebreathing dengan kantong oksigen.Hipovolemi . b.Asidosis . Kanul nasal / Kateter binasal / nasal prong : jika ada obstruksi nasal. 2. polisitemia (hematokrit >56%).somnolen dan aritmia. Pemberian oksigen secara berkesinambungan (terus menerus).  PaO2 antara 56-59 mmHg atau saturasi 89% disertai kor pulmonale.  Kontra indikasi Tidak ada kontra indikasi absolut : a.Sianosis .  Alat – alat yang diperlukan a. Gagal jan tung kanan bahkan dapat menyebabkan kematian. b. Diberikan apabila hasil analisis gas darah pada saat istirahat.Anemia berat . trauma maksilofasial.Klien dengan keadaan tidak sadar Kriteria pemberian terapi oksigen tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara dibawah ini. Pemberian secara berselang Diberikan apabila hasil analisis gas darah saat latihan didapat nilai:  Pada saat latihan PaO2 55 mmHg atau saturasi 88%  Pada saat tidur PaO255 mmHg atau saturasi 88% disertai komplikasi seperti hipertensi pulmoner. Pasien dengan keadaan klinik tidak stabil yang mendapat terapi oksigen perlu dievaluasi gas darah (AGD) serta terapi untuk menentukan perlu tidaknya terapi oksigen jangka panjang. Kontraksi pembuluh darah pulmoner. d. e. 1. didapat nilai:  PaO2 kurang dari 55 mmHg atau saturasi kurang dari 88%. Kateter nasal. akan lebih meningkatkan kadar PaCO2 nya lagi. Kateter nasofaringeal / kateter nasal : jika ada fraktur dasar tengkorak kepala.Pasien dengan peningkatan kerja miokard. dan obstruksi nasal.Beberapa trauma Terapi ini diberikan dengan orang yang mempunyai gejala : .eritrositosis dan terjadi peningkatan sekresi eritropoitin ginjal sehingga mengakibatkan eritrositosis danterjadi peningkatan kapasiti transfer oksigen.Keracunan . Kanul nasal/binasal/nasal prong c.Perdarahan . eritrositosis dan peningkatan volume sekuncup jantung akan menyebabkan hipertensi pulmoner. . . Sungkup muka non rebreathing dengan kantong oksigen.Selama dan sesudah pembedahan . c. Sungkup muka dengan kantong rebreathing : pada pasien dengan PaCO2 tinggi. dimana jantung berusaha untuk mengatasi gangguan O2 melalui peningkatan laju pompa jantung yang adekuat. . Sungkup muka sederhana.

maka FiO2 aktual yang diberikan pada pasien tidak diketahui. Sungkup muka dengan kantong non rebreathing.f. Efisien. k. Sungkup muka dengan kantong rebreathing c. Gunting. misalnya klien dengan Volume Tidal 500 ml dengan kecepatan pernafasan 16 – 20 kali permenit. Plester. Jelly. Kateter Nasal Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen secara kontinyu dengan aliran 1 – 6 liter/mnt dengan konsentrasi 24% . frekuensi dan volume ventilasi normal. 4. Sungkup muka sederhana. Contoh sistem aliran rendah adalah : Low flow low concentration : a. Aqua steril. a. Tahanan jalan nafas yang rendah. Karena oksigen ini bercampur dengan udara ruangan. h. Kanul nasal / kanul binasal / nasal prong. m. menghasilkan FiO2 yang bervariasi tergantung pada tipe pernafasan dengan patokan volume tidal klien. l. 5. Alat oksigen aliran rendah cocok untuk pasien stabil dengan pola nafas.44%. terutama jika mukosa nasal membengkak.  Protokol prosedur Dapat dibagi menjadi 2 tehnik. Dapat mengontrol konsentrasi oksigen udara inspirasi. sisa volume ditarik dari udara ruangan. Low flow high concentration a. Tanda dilarang merokok  Syarat-syarat Pemberian Oksigen Meliputi : 1. bekerja dengan memberikan oksigen pada frekuensi aliran kurang dari volume inspirasi pasien. Sistem Aliran Rendah Sistem aliran rendah diberikan untuk menambah konsentrasi udara ruangan. Selang oksigen. 2. 3. j. o. . Nyaman untuk pasien. Humidifier. Sungkup muka Venturi g. i. yaitu : 1. Persentase oksigen yang mencapai paru-paru beragam sesuai kedalaman dan frekuensi pernafasan. Tidak terjadi penumpukan CO2. Sumber oksigen. Flow meter. n. Prosedur pemasangan kateter ini meliputi insersi kateter oksigen ke dalam hidung sampai naso faring. Kateter nasal b. b.

klien bebas bergerak. Persentase O2 pasti tergantung ventilasi per menit pasien. Deteksi dini mengurangi risiko efek samping). Mengatur volume oksigen sesuai kebutuhan (menjamin ketepatan dosis dan mencegah terjadinya efek samping). b. epistaksis. Tahap kerja: a. aliran dengan lebih dari 6 liter/mnt dapat menyebabkan nyeri sinus dan mengeringkan mukosa hidung. dan mukosa nasal akan mengalami trauma.menjamin kepatenan kateter). makan dan berbicara.Keuntungan : Pemberian oksigen stabil. l. ukur antara lubang hidung sampai keujung telinga (untuk memastikan ketepatan kedalaman kateter). Atur posisi pasien senyaman mungkin ( memudahkan dalam melakukan tindakan b. Gunakan plester untuk fiksasi kateter antara bibir atas dan lubang hidung (mencegah kateter terlepas dan menjamin ketepatan posisi kateter). Dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Beri pelicin atau jelly pada ujung nasal kateter (memudahkan dan mencegah iritasi dalam pemasangan kateter). Kanul Nasal/ Binasa/ Nasal Prong Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen kontinyu dengan aliran 1 – 6 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen sama dengan kateter nasal yaitu 24 % . Membebaskan jalan napas dengan mengisap sekresi (syarat utama pemasangan nasal kateter adalah jalan nafas harus bebas untuk memudahkan memasukkan kateter). FiO2 estimation : Flows FiO2 . Untuk memperkirakan dalam kateter. Atur posisi pasien dengan kepala ekstensi (jalan nafas lebih terbuka . dan membersihkan mulut. Kerugian : Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen yang lebih dari 44%. k. serta kateter mudah tersumbat dan tertekuk. dapat terjadi distensi lambung. murah dan nyaman serta dapat juga dipakai sebagai kateter penghisap. Dekatkan alat pada tempat yang mudah dijangkau memudahkan dan melancarkan pelaksanaan tindakan). epistaksis dan distensi lambung. dan kemungkinan distensi lambung. maka kateter harus diganti tiap 8 jam dan diinsersi kedalam nostril lain. f. Kateter diganti tiap 8 jam dan dimasukkan ke lubang hidung yang lain jika mungkin (mengurangi iritasi mukosa hidung. pasien lebih nyaman. (terapi oksigen menyebabkan mukosa nasal mengering. e.( untuk memastikan ketepatan kedalaman kateter). tehnik memasukan kateter nasal lebih sulit dari pada kanula nasal. g. fiksasi kateter akan memberi tekanan pada nostril. dapat digunakan pada pasien dengan pernafasan mulut. Pada pemberian oksigen dengan nasal kanula jalan nafas harus paten. terjadi iritasi selaput lendir nasofaring. h. tarik kateter sehingga ujung kateter tidak terlihat lagi. j. Bila ujung kateter terlihat di belakang ovula. Membuka regulator untuk menentukan tekanan oksigen sesuai kebutuhan (Mencegah kekeringan pada membran mukosa nasal dan membran mukosa oral serta sekresi jalan nafas). c. Observasi tanda iritasi lubang. pengeringan mukosa hidung.44 %. kateter lebih mudah dimasukkan). nyeri saat kateter melewati nasofaring. d. m. i. Jaga privacy pasien (menjaga kesopanan perawat dan kepercayaan pasien).

f. murah. mudah lepas karena kedalaman kanul hanya 1/1. (terapi oksigen menyebabkan mukosa nasal mengering. pemasangannya mudah dibandingkan kateter nasal. menyebabkan udara masuk pada waktu inhalasi dan akan mempunyai efek venturi pada bagian belakang faring sehingga menyebabkan oksigen yang diberikan melalui kanula hidung terhirup melalui hidung.(Membuat aliran oksigen langsung masuk ke dalam saluran nafas bagian atas. lebih mudah ditolerir klien dan terasa nyaman. minum. bila pasien bernapas melalui mulut. pengeringan mukosa hidung. Letakkan ujung kanul ke dalam lubang hidung dan atur lubang kanul yang elastis sampai kanul benar-benar pas menempati hidung dan nyaman bagi klien.) (Mencegah kekeringan pada membran mukosa nasal dan membran mukosa oral serta sekresi jalan nafas). e. Observasi hidung. suplai oksigen berkurang bila klien bernafas melalui mulut. Kecepatan aliran lebih dari 4 liter/menit jarang digunakan. Hubungkan kanul ke sumber oksigen dan atur kecepatan aliran sesuai yang diprogramkan (1–6 L/mnt. Dapat digunakan pada pasien dengan pernafasan mulut. nyeri sinus. nyeri sinus dan epistaksis.epistaksis dan permukaan superior kedua telinga klien untuk melihat adanya kerusakan kulit. d. Tekanan pada telinga akibat selang kanul atau selang elastis menyebabkan iritasi kulit). kontinyu atau selang seling. Pertahankan selang oksigen cukup kendur dan sambungkan ke pakaian pasien (Memungkinkan pasien untuk menengokkan kepala tanpa kanul tercabut dan mengurangi tekanan ujung kanul pada hidung).• 1 Liter /min : 24 % • 2 Liter /min : 28 % • 3 Liter /min : 32 % • 4 Liter /min : 36 % • 5 Liter /min : 40 % • 6 Liter /min : 44 % Formula : ( Flows x 4 ) + 20 % / 21 % Keuntungan : Pemberian oksigen stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur. Aliran 5 – 8 liter/mnt dengan konsentrasi . Inspeksi klien untuk melihat apakah gejala yang berhubungan dengan hipoksia telah hilang (Mengindikasikan telah ditangani atau telah berkurangnya hipoksia) c. Merupakan alat pemberian oksigen jangka pendek. Sungkup Muka Sederhana Digunakan untuk konsentrasi oksigen rendah sampai sedang. (Memastikan kepatenan kanul dan aliran oksigen. klien bebas makan. Kerugian : Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%. bahkan hanya pemborosan oksigen dan menyebabkan mukosa kering dan mengiritasi selaput lendir. berbicara. bergerak. b. Cara pemasangan : a. disposibel. Dapat menyebabkan kerusakan kulit diatas telinga dan di hidung akibat pemasangan yang terlalu ketat. c.5 cm. Klien akan tetap menjaga kanul pada tempatnya apabila kanul tersebut pas kenyamanannya). mencegah inhalasi oksigen tanpa dilembabkan). Periksa letak ujung kanul tiap 8 jam dan pertahankan humidifier terisi aqua steril setiap waktu. tidak dapat diberikan pada pasien dengan obstruksi nasal. sebab pemberian flow rate yang lebih dari 4 liter tidak akan menambah FiO2.

Sebelum dipasang ke pasien isi O2 ke dalam kantong dengan cara menutup lubang antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian kantong reservoir. dapat menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah. Udara ekspirasi sebagian tercampur dengan udara inspirasi. sistem humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup berlubang besar. serta dapat meningkatkan nilai PaCO2. dan mencegah penumpukan CO2 ). c. pita elastik yang dapat disesuaikan tersedia untuk menjamin keamanan dan kenyamanan. FiO2 estimation : Flows FiO2 • 5-6 Liter/min : 40 % • 6-7 Liter/min : 50 % • 7-8 Liter/min : 60 % Keuntungan : Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula nasal. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat untuk mencegah iritasi kulit. Kerugian : Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%. Atur tali pengikat sungkup menutup rapat dan nyaman jika perlu dengan kain kasa pada daerah yang tertekan ( mencegah kebocoran sungkup. tidak memungkinkan untuk makan dan batuk. FiO2 estimation : Flows ( lt/mt ) FiO2 ( % ) • 6 : 35 % • 8 : 40 – 50 % • 10 – 15 : 60 % Keuntungan : Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari sungkup muka sederhana. b. . sesuai dengan aliran O2. Atur posisi pasien (meningkatkan kenyamanan dan memudahkan pemasangan). Menyekap. jalan nafas yang bebas menjamin aliran oksigen lancar). kantong akan terisi saat ekspirasi dan hampir menguncup waktu inspirasi. tidak mengeringkan selaput lendir.oksigen 40 – 60%. d.Bisa terjadi aspirasi bila pasien mntah. Masker ini kontra indikasi pada pasien dengan retensi karbondioksida karena akan memperburuk retensi. Membebaskan jalan nafas dengan menghisap sekresi bila perlu (syarat terapi oksigen adalah jalan nafas harus bebas. d. menjamin ketepatan dosis. mencegah iritasi kulit akibat tekanan). e. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat untuk mencegah iritasi kulit. dapat digunakan dalam pemberian terapi aerosol. dan apabila terlalu ketat menekan kulit dapat menyebabkan rasa pobia ruang tertutup. Aliran O2 tidak boleh kurang dari 5 liter/menit untuk mendorong CO2 keluar dari masker. Cara kerja : a. Perlu pengikat wajah. Membuka regulator untuk menentukan tekanan oksigen sesuai dengan kebutuhan 5-8 liter/menit (Mencegah kekeringan pada membran mukosa nasal dan membran mukosa oral serta sekresi jalan nafas. Sungkup Muka dengan Kantong Rebreathing Rebreathing mask Suatu teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi yaitu 35 – 60% dengan aliran 6 – 15 liter/mnt .

Menghubungkan selang oksigen pada humidifier d.Kerugian : Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah. Mengatur aliran oksigen sesuai kebutuhan. Isi O2 kedalam kantong dengan cara menutup lubang antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian kantong reservoir.aspirasi akibat terapi. Membuka regulator untuk menentukan tekanan oksigen sesuai dengan kebutuhan. Sesuai dengan aliran O2 kantong akan terisi waktu ekspirasi dan hampir kuncup waktu inspirasi (mencegah kantong terlipat. Perawat harus menjaga agar semua diafragma karet harus pada tempatnya dan tanpa tongkat. udara ekspirasi dikeluarkan langsung ke atmosfer melalui satu atau lebih katup. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat untuk mencegah iritasi kulit. . e. FiO2 estimation : Flows ( lt/mt ) FiO2 ( % ) • 6 : 55 – 60 • 8 : 60 – 80 • 10 : 80 – 90 • 12 – 15 : 90 Keuntungan : Konsentrasi oksigen yang diperoleh dapat mencapi 90%. tidak mengeringkan selaput lendir. Atur posisi pasien c. Sungkup Muka dengan Kantong Non Rebreathing Non rebreathing mask Teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi oksigen yang tinggi mencapai 90 % dengan aliran 6 – 15 liter/mnt. Membebaskan jalan nafas dengan menghisap sekresi b. apabila ini terjadi dan aliran yang rendah dapat menyebabkan pasien akan menghirup sejumlah besar karbondioksida. serta perlu segel pengikat. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat (untuk mencegah iritasi kulit). kantong oksigen bisa terlipat atau terputar atau mengempes. mencegah penumpukan CO2 yang terlalu banyak). g. meningkatkan kenyamanan). Kantong tidak akan pernah kempes dengan total. j. menjaga kepatenan sungkup.muntah.(observasi terhadap iritasi. i. mencegah infeksi. e. sehingga dalam kantong konsentrasi oksigen menjadi tinggi. mencegah iritasi mata) h. bisa terjadi aspirasi bila pasien muntah. Caranya : a. Sungkup dibersihkan/diganti tiap 8 jam (menjaga kepatenan alat. dan menjaga kenyamanan pasien). Kantong oksigen bisa terlipat atau terputar. f. Sebelum dipasang ke pasien isi O2 ke dalam kantong dengan cara menutup lubang antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian kantong reservoir. Muka pasien dibersihkan tiap 2 jam. dan tidak memungkinkan makan. perlu segel pengikat. Mengikat tali masker O2 dibelakang kepala melewati bagian atas telinga. menyekap. Pasien tidak memungkinkan makan minum atau batuk dan menyekap.(menjaga kepatenan sungkup. Pada prinsipnya udara inspirasi tidak bercampur dengan udara ekspirasi. Kerugian : Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah.

FiO2 estimation Menurut Standar Keperawatan ICU Dep.minum atau batuk. i. Sistem Aliran Tinggi Memberikan aliran dengan frekuensi cukup tinggi untuk memberikan 2 atau 3 kali volume inspirasi pasien. Masker venturi menerapkan prinsip entrainmen udara (menjebak udara seperti vakum). Merupakan metode yang paling akurat dan dapat diandalkan untuk konsentrasi yang tepat melalui cara non invasif. f. Kelebihan gas keluar masker melalui cuff perforasi. Metode ini memungkinkan konsentrasi oksigen yang konstan untuk dihirup yang tidak tergantung pada kedalaman dan kecepatan pernafasan. bisa terjadi aspirasi bila pasien muntah terutama pada pasien tidak sadar dan anak-anak. h. Masker dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan aliran udara ruangan bercampur dengan aliran oksigen yang telah ditetapkan. (mencegah kantong terlipat. yang memberikan aliran udara yang tinggi dengan pengayaan oksigen terkontrol. mencegah iritasi mukosa jalan nafas dan mulut). terputar). 2. Sungkup muka dengan venturi / Masker Venturi (High flow low concentration). (observasi terhadap iritasi.Diberikan pada pasien hyperkarbia kronik ( CO2 yang tinggi ) seperti PPOK yang terutama tergantung pada kendali hipoksia untuk bernafas. estimasi FiO2 venturi mask merk Hudson Warna dan flows ( liter/menit ) FiO2 ( % ) • Biru : 2 : 24 . meningkatkan kenyamanan). terapi oksigen dengan sungkup non rebreathing mempunyai efektifitas aliran 6-7 liter/menit dengan konsentrasi O2 (FiO2) 55-90 % (menjaga kepatenan sungkup.(menjaga kelembaban udara. tahun 2005. Muka pasien dibersihkan tiap 2 jam. Mengikat tali non rebreathing mask dibelakang kepala melewati bagian atas telinga.aspirasi akibat terapi. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat (untuk mencegah iritasi kulit). Alat ini cocok untuk pasien dengan pola nafas pendek dan pasien dengan PPOK yang mengalami hipoksia karena ventilator.muntah. Sungkup dibersihkan/diganti tiap 8 jam (menjaga kepatenan alat. Cara memasang : a. b. membawa gas tersebut bersama karbondioksida yang dihembuskan. (mencegah kebocoran sungkup). Isi O2 kedalam kantong dengan cara menutup lubang antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian kantong reservoir. dan menjaga kenyamanan pasien). Suatu teknik pemberian oksigen dimana FiO2 lebih stabil dan tidak dipengaruhi oleh tipe pernafasan. mencegah infeksi. g. Membebaskan jalan nafas dengan menghisap sekresi (k/p). menjamin ketepatan dosis). Membuka regulator untuk menentukan tekanan oksigen sesuai dengan kebutuhan. Atur posisi pasien c. dan pada pasien hypoksemia sedang sampai berat. e. Mengatur aliran oksigen sesuai kebutuhan . sehingga dengan tehnik ini dapat menambahkan konsentrasi oksigen yang lebih tepat dan teratur.Kes RI. d. Contoh sistem aliran tinggi : a.

5 liter juga memberikan jaminan visual bahwa aliran oksigen utuh dan kantong menerima oksigen tambahan. hiperinflasi / bagging. Memasang venturi mask pada daerah lubang hidung dan mulut.5 liter dengan kecepatan 15 liter/menit telah ditunjukkan untuk pemberian oksigen yang konsisten dengan konsentrasi 95 % . e. • Temperatur dan kelembaban gas dapat dikontrol. Kerugian : • Harus diikat dengan kencang untuk mencegah oksigen mengalir kedalam mata. Dianjurkan selang yang bengkok tidak digunakan sebagai reservoir untuk kantong ventilasi. kantong resusitasi dengan reservoir harus digunakan untuk memberikan konsentrasi oksigen 74 % . b. Membebaskan jalan nafas dengan menghisap sekresi. Mengikat tali venturi mask dibelakang kepala melewati bagian atas telinga. • Tidak terjadi penumpukan CO2. • Bila humidifikasi ditambahkan gunakan udara tekan sehingga tidak mengganggu konsentrasi O2. selama resusitasi buatan. masker harus dilepaskan bila pasien makan. • FiO2 tidak dipengaruhi oleh pola ventilasi. minum. terapi O2 dengan masker venturi mempunyai efektifitas aliran 2-15 liter/menit dengan konsentrasi O2 24. Membuka aliran regulator untuk menentukan tekanan oksigen sesuai dengan kebutuhan. d. Hal – hal yang harus diperhatikan : . Bag and Mask / resuscitator manual Digunakan pada pasien : • Cardiac arrest • Respiratory failure • Sebelum.60 % (Metode ini memungkinkan konsentrasi oksigen yang konstan untuk dihirup yang tidak tergantung pada kedalaman dan kecepatan pernafasan). f.100 %. • Tidak memungkinkan makan atau batuk. Penggunaan kantong reservoar 2. Mengatur aliran oksigen sesuai dengan kebutuhan.• Putih : 4 : 28 • Orange : 6 : 31 • Kuning : 8 : 35 • Merah : 10 : 40 • Hijau : 15 : 60 Keuntungan : • Konsentrasi oksigen yang diberikan konstan / tepat sesuai dengan petunjuk pada alat. Kantong 2. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat untuk mencegah iritasi kulit. • Jumlah pijatan permenit menentukan frekuensi • Kekuatan dan frekuensi menentukan aliran puncak. selama dan sesudah suction Gas flows 12 – 15 liter. atau minum obat. Atur posisi pasien c. b. serta dapat diukur dengan O2 analiser. g. Caranya : a.100 %. Pengetahuan tentang kantong dan keterampilan penggunaan adalah vital : • Kekuatan pemijatan menentukan volume tidal ( VT ).

atau spasme bronkus yang memburuk. hemothorak. Keuntungan : Lebih nyaman untuk anak. • Pembersihan dan pendauran ketahanan kantong. 8-12 liter/menit : 28%-100%. dapat digunakan sebagai alternatif pemberian aerosol. c. Syarat – syarat Resusitator manual : • Kemampuan kantong untuk memberikan oksigen 100 % pada kondisi akut. Selang T / T piece / Briggs adaptor Oksigen dialirkan ke humidifier. pneumothorak.Selang atau kateter yang masuk ke dalam saluran napas harus steril. FiO2 sulit dikontrol. Bila pasien merasakan masker terlalu menyekap. Collar trakeostomi Keuntungan : • Sama dengan selang T. Kerugian : Sekresi dan lapisan kulit sekitar stoma dapat menyebabkan iritasi dan infeksi. Kerugian : Posisi face tent sulit dipertahankan.  Keamanan Untuk pasien : . dapat memberikan kelembaban yang tinggi.1997).Memastikan bahwa selangnya benar-benar masuk ke dalam saluran pernapasan.Tidak akan menimbulkan kondensasi dalam selang.Tabung oksigennya dijauhkan dari jangkauan api. • Masker bila dibutuhkan harus transparan untuk memudahkan observasi terhadap muntah / darah yang dapat mengakibatkan aspirasi. • Gelang – gelang adaptor mencegah bunyi gemuruh selang trakeostomi. digunakan untuk memberikan pelembaban pada pasien di ruang pemulihan atau setelah ekstubasi. • Kondensasi dalam collar dapat dialirkan ke dalam selang pasien. Memberikan pelembaban untuk pasien dengan trakeostomi. Pada pemakaiannya. Dengan Oksigen T.  Hal yang harus dilaporkan dan didokumentasikan . Flow rate yang direkomendasikan adalah 10 liter/menit dengan nebuliser set untuk menjaga inspired oxygen concentration (FiO2) b. • Kemudahan / tahanan saat pemompaan mengindikasikan komplain paru. Large Volume Aerosol Sistem. kabut harus terlihat pada ekshalasi akhir. Konsentrasi 40% dengan aliran 10-15 L/mnt (Hudak & Gallo. aliran harus cukup tinggi untuk menutup ventilasi pasien per menit.• Observasi dada pasien untuk menentukan kantong bekerja dengan baik dan apakah terjadi distensi abdomen.piece memungkinkan pelembaban untuk selang ETT ( Endo Trakeal Tube ) atau trakeostomi. maka masker wajah harus ditambahkan. • Risiko terjadinya peningkatan sekresi. • Sistem katup yang berfungsi tanpa gangguan pada kondisi akut. . • Bagian depan memungkinkan penghisapan tanpa melepas masker. a. . Sungkup terbuka / Face tent Sama dengan selang T.

saluran pernafasan akan teriritasi. mukosa hidung terhadap iritasi. Pajanan terhadap O 2 tekanan tinggi (oksigenasi hiperbarik) dapat menghasilkan peningkatan jumlah O2 terlarut dalam darah. . d. Pemberian O2 100% pada tekanan yang lebih tinggi berakibat tidak hanya iritasi trakeobronkial. menimbulkan distres substernal. perubahan warna kulit. namun juga pada bakteri. Monitor dan dokumentasikan kulit disekitar telinga. Sejumlah bayi dengan sindroma gawat nafas yang diterapi dengan O 2.  Resiko Terapi Oksigen Salah satu resiko terapi oksigen adalah keracunan oksigen. kongesti hidung. nyeri tenggorokan dan batuk. e. tidak saja pada hewan. Therapy Oksigen berhasil jika : Nilai PaO2 dan PaCO2 yang diharapkan tercapai : PaO2 = ( 4 – 5 ) x FiO2. peningkatan saturasi oksigen. peningkatan pengetahuan. dll) yang tepat pada pasien . Monitor dan dokumentasikan terjadinya efek samping / bahaya terapi oksigen yang lain. Hal ini dapat terjadi bila oksigen diberikan dengan fraksi lebih dari 50% terus-menerus selama 1-2 hari. Apabila O 2 80-100% diberikan kepada manusia selama 8 jam atau lebih. penurunan frekuensi nafas. berapa liter/ menit alirannya atau berapa FiO2 yang diberikan. Catat metode yang digunakan. rasa pening. Oksigen 100% menimbulkan efek toksik. hidung . Observasi dan catat posisi alat (kanula/masker. membuka alat listrik dalam area sumber oksigen. kejang dan koma.a. oleh karena itu klein dengan terapi pemberian oksigen harus menghindari : Merokok. Sedangkan resiko yang lain seperti retensi gas karbondioksida dan atelektasis. Monitor dan dokumentasikan hasil analisa gas darah dan pulse oksimetri untuk menilai keefektifan terapi oksigen. jamur. tetapi juga kedutan otot. biakan sel hewam dan tanaman. bunyi berdering dalam telinga. selanjutnya mengalami gangguan menahun yang ditandai dengan kista dan pemadatan jaringan paru (displasia bronkopulmonal). Komplikasi lain pada bayi-bayi ini adalah retinopti prematuritas (fibroplkasia retrolental). menghindari penggunaan listrik tanpa “Ground”. Observasi dan catat terhadap penurunan kecemasan. Oksigen bukan zat pembakar tetapi dapat memudahkan terjadinya kebakaran. Pemajanan selama 24-48 jam mengakibatkan kerusakan jaringan paru. yaitu pembentukan jaringan vaskuler opak pada matayang dapat mengakibatkan kelainan penglihatan berat. Kerusakan jaringan paru terjadi akibat terbentuknya metabolik oksigen yang merangsang sel PMN dan H 2O2 melepaskan enzim proteolotikdan enzim lisosom yang dapat merusak alveoli. b. c. penurunan kelemahan. f.

Obat ini terutama digunakan untuk memelihara anastesi. dan sebagainya. 3. Anastetika Intravena : thiopental. Beberapa obat dihancurkan asam lambung. dopamin. ketamin. 10. enfluran. Rektal : sering diberikan pada anak yang sulit secara oral dan takut disuntik. Spinal : dimasukkan kedalam ruang subarakhnoid (intratekal) seperti pada bupivacaine. 2. dan propofol. tetapi resorpsinya kurang teratur. Pengosongan lambung yang terlambat menyebabkan terkumpulnya obat di lambung.5%. obat anestesi dapat dibagi dalam sepuluh kelompok. harus melewati sirkulasi portal. Maka dosis oral harus lebih besar dari intramuskular. atau memeliharanya. Kadang harus diberikan obat perianestesia. karena teknis mudah. 8. obat penurun gula darah.OBAT – OBATAN ANESTESI Berdasarkan cara penggunaanya. Anastetika Inhalasi : gas tertawa. 9. Sebagian besar diabsorpsi usus halus bagian atas. Krem ini dioleskan ke kulit intakdan setelah 1-2 jam baru dilakukan tusuk jarum atau tindakan lain. Obat – obat ini juga dapat diberikan dalam sediaan suppositoria secara rectal. dapat diandalkan. Cara ini banyak pada anestesia regional. contohnya fentanil lolipop untuk anak dan buprenorfin. scuofluran. campuran lidokain-prokain masing-masing 2. contohnya petidin. 6. isoprenalin. 7. tidak nyeri. halotan. isofluran. Epidural: dimasukkan kedalam ruang epidural yaitu antara duramater dan ligamentum flavum. seperti obat anti hipertensi. Subkutan : sekarang sudah jarang digunakan 5. juga sebagai anastesi pada pembedahan singkat. Oral : paling mudah. Obat – obat ini diberikan sebagai uap melalui saluran nafas. Keuntungannya adalah resepsi yang cepat melalui paru – paru seperti juga ekskresinya melalui gelembung paru (alveoli) yang biasanya dalam keadaan utuh. Transdermal : contoh krem EMLA (eutectic mixture of local anesthetic). Sebelum obat masuk sistemik. Terutama digunakan untuk mendahului (induksi) anastesi total. Anestetika intramuskular : sangat populer dalam praktek anestesi. 4. dan propanolol. menimbulkan nyeri dibenci anak-anak. Keburukannya ialah absorpsi kadang diluar perkiraan. Lidah dan mukosa pipi : absorpsi lewat lidah dan mukosa pipi dapat menghindari efek sirkulasi portal. bersifat larut lemak. relatif aman karena kadar plasma tidak mendadak tinggi. diazepam dan midazolam. . yakni : 1. dan beberapa bersifat iritan.

- Jenisnya : petidin. Sulfas Atropin 2. Efedrin 3. fentanyl. - Tujuan: mengurangi rasa nyeri saat pembedahan.OBAT-OBATAN DALAM ANESTESI Obat-Obatan Anestesi Umum 1. Aminofilin 7. Efedrin Obat untuk Anestesi Spinal: 1. Ketorolac 5. Methergin (untuk pasien obsgyn) 15. Succinil Cholin 5. dan morfin. Adrenalin 9. Kalmethason 10. Propofol/ Recofol 4. Catapress (kadang dokter tertentu menambahkannya untuk menambah efek buvanest) Obat-obatan emergency yang harus ada dalam kotak emergency: 1. lidocain 12. Metoklorpamid 6. Oxitocyn (untuk pasien obsgyn) 14. Ranitidin 4. Adrenalin PENGGOLONGAN OBAT PRE-MEDIKASI 1. Asam Traneksamat 8. Pethidin 3. Golongan Narkotika - analgetika sangat kuat. gentamicyn salep mata 13. Atropin 2. Tramus 6. Buvanest atau Bunascan 2. furosemid (harus ada untuk pasien urologi) 11. .

Golongan Sedativa & Transquilizer - Golongan ini berfungsi sebagai obat penenang dan membuat pasien menjadi mengantuk. depresi sirkulasi. induksi. . mual-muntah.- Efek samping: mendepresi pusat nafas. Vasodilatasi pembuluh darah  hipotensi - diberikan jika anestesi dilakukan dengan anestetika dengan sifat analgesik rendah. diazepam dan DHBF (Dihidrobensferidol) untuk golongan transquilizer. propofol. rumatan. pasien tampak lebih gelisah Barbiturat - menimbulkan sedasi dan menghilangkan kekhawatiran sebelum operasi - depresan lemah nafas dan silkulasi - mual muntah jarang Midazolam - Midazolam sering digunakan sebagai premedikasi pada pasien pediatrik sebagai sedasi dan - induksi anestesia. - Contoh : luminal dan nembufal untuk golongan sedative. - diberikan apabila pasien memiliki rasa sakit/nyeri sebelum dianestesi. misalnya: halotan. Pre-medikasi. sedasi post operasi. tiopental. - Efek samping: depresi nafas. - - Pethidin diinjeksikan pelan untuk:  mengurangi kecemasan dan ketegangan  menekan TD dan nafas  merangsang otot polos Morfin adalah obat pilihan jika rasa nyeri telah ada sebelum pembedahan  mengurangi kecemasan dan ketegangan  menekan TD dan nafas  merangsang otot polos  depresan SSP  pulih pasca bedah lebih lama  penyempitan bronkus  mual muntah (+) 2.

- Memiliki efek antikonvulsan sehingga dapat digunakan untuk mengatasi kejang grand mal Dianjurkan sebelum pemberian ketamin karena pasca anestesi ketamin dosis 1-2mg/kgBB menimbulkan halusinasi.5 10 mg 100mg/cc 1cc + aquadest 9cc 10 cc 1-2 10 mg 200mg/ Tanpa pengenceran 5 cc 1-2 20 mg 20cc 10cc . Diazepam - induksi.05 mg/cc Recofol (Propofol) ampul Ketamin vial Succinilcholin vial 200mg/ 1 cc spuit = 10 mg 0.5-1 0. sedasi - menghilangkan halusinasi karena ketamin - mengendalikan kejang - menguntungkan untuk usia tua - jarang terjadi depresi nafas. Golongan Obat Pengering - bertujuan menurunkan sekresi kelenjar saliva. oral 5-10 mg 3. disritmia - premedikasi 1m 10 mg. keringat.05mg 10cc + lidocain 1 ampul 10 cc 2-2. dan lendir di mulut serta menurunkan efek parasimpatolitik / paravasopagolitik sehingga menurunkan risiko timbulnya refleks vagal. - Contoh: sulfas atropine dan skopolamin. batuk. mis: dietileter atau ketamin OBAT-OBATAN ANESTESI Obat Pethidin Dalam sediaan Jumlah di sediaan pengenceran ampul 100mg/2cc 2cc + aquadest 8cc Fentanyl Dalam spuit 10 cc Dosis (mg/kgBB) 0. terutama pada anak-anak sehingga terjadi febris dan dehidrasi - diberikan jika anestesi dilakukan dengan anestetika dengan efek hipersekresi. premedikasi. - Efek samping: proses pembuangan panas akan terganggu.

relaksasi: 0.08.2 10 mg Efedrin HCl ampul 50mg/cc 1cc + aquadest 9cc 10 cc 0. maintenance: 0.2 5 mg Sulfas Atropin ampul 0.25 mg Ondansentron HCl (Narfoz) ampul 4mg/2cc Tanpa pengenceran 3 cc 8 mg (dewasa) 2 mg 5 mg (anak) Aminofilin ampul 24mg/cc Tanpa pengenceran 10 cc 5 24 mg Dexamethason ampul 5 mg/cc Tanpa pengenceran 1 5 mg Adrenalin ampul 1 mg/cc Neostigmin (prostigmin) ampul 0.5 mg Midazolam (Sedacum) ampul 5mg/5cc Tanpa pengenceran 0.25-0.6.25mg/cc Tanpa pengenceran 3 cc 0.5mg/cc Tanpa pengenceran Masukkan 2 ampul prostigmin + 1 ampul SA 0.3 Onset dan Durasi yang penting OBAT ONSET DURASI Succinil Cholin 1-2 mnt 3-5 mnt Tracrium (tramus) 2-3 mnt 15-35 mnt Sulfas Atropin 1-2 mnt Ketamin 30 dtk 15-20 mnt Pethidin 10-15 mnt 90-120 mnt .Atrakurium Besilat (Tramus/ Tracrium) ampul 10mg/cc Tanpa pengenceran 5 cc Intubasi: 0.1-0.07-0.005 0.50.1 1 mg Ketorolac ampul 60 mg/2cc Tanpa pengenceran 30 mg Difenhidramin HCl ampul 5mg/cc Tanpa pengenceran 5 mg 0.

gaduh gelisah. tidak terkendali. Dosis berlebihan scr iv  depresi napas Pd anak dpt timbulkan kejang. Cegah dengan premedikasi opiat. Untuk tindakan operasi kecil. nistagmus Meningkatkan kdr glukosa darah + 15% Pulih sadar kira-kira tercapai antara 10-15 menit Metabolisme di liver (hidrolisa & alkilasi). Tindakan orthopedic (reposisi. sedang obat lain bekerja pd pusat retikular otak Indikasi:        Untuk prosedur dimana pengendalian jalan napas sulit. Dapat dipakai untuk induksi pada pasien syok. hiosin. biopsy) Pada pasien dengan resiko tinggi: ketamin tidak mendepresi fungsi vital. dilatasi bronkus. Saat pdrt mulai sadar dpt timbul eksitasi Aliran darah ke otak.Pentotal 30 dtk 4-7 mnt Keterangan A. konsentrasi oksigen. tp tidak utk nyeri visceral Efek hipnotik kurang Efek relaksasi tidak ada Refleks pharynx & larynx masih ckp baik  batuk saat anestesi  refleks vagal disosiasi  mimpi yang tidak enak. missal pada koreksi jaringan sikatrik pada daerah leher. halusinasi. Di tempat dimana alat-alat anestesi tidak ada. tekanan intracranial (Efek ini dapat diperkecil dengan pemberian thiopental sebelumnya) TD sistolik diastolic naik 20-25%. Baik untuk penderitapenderita asma dan untuk mengurangi spasme bronkus pada anesthesia umum yang masih ringan. Untuk prosedur diagnostic pada bedah saraf/radiologi (arteriograf). denyut jantung akan meningkat. disini untuk melakukan intubasi kadang sukar. diekskresi metabolitnya utuh melalui urin Ketamin bekerja pd daerah asosiasi korteks otak. Obat Induksi intravena 1. (akibat peningkatan aktivitas saraf simpatis dan depresi baroreseptor). Ketamin/ketalar - efek analgesia kuat sekali. Pasien asma Kontra Indikasi    hipertensi sistolik 160 mmHg diastolic 100 mmHg riwayat Cerebro Vascular Disease (CVD) Dekompensasi kordis Harus hati-hati pada :  Riwayat kelainan jiwa . Terutama utk nyeri somatik. Antagonis efek konstriksi bronchus oleh histamine. disorientasi tempat dan waktu.

Thiopental    Ultra short acting barbiturat Dipakai sejak lama (1934) Tidak larut dlm air. Operasi-operasi daerah faring karena refleks masih baik 2.  Saat dipakai utk induksi juga dapat tjd hipotensi karena vasodilatasi & apnea sejenak Efek Samping       bradikardi. Dipakai dilarutkan dgn aquades Lrt pentotal bersifat alkalis. emulsi isotonik.8 Lrt tdk begitu stabil.5cc dlm 10cc propolol  jarang pada anak karena sakit & iritasi pd saat pemberian  Analgetik tdk kuat  Dpt dipakai sbg obat induksi & obat maintenance  Obat setelah diberikan  didistribusi dgn cepat ke seluruh tubuh. komplikasi > kecil.5 gr(biru). ph 10. nausea. vasodilatasi pembuluh darah  hipotensi. 3. syok hipovolemik. tp dipakai 2. tp sifat analgesik sangat kurang TIK ↓ Mendepresi pusat pernapasan Membuat saluran napas lebih sensitif thd rangsangan depresi kontraksi denyut jantung. efek menurun) Pemakaian dibuat lrt 2. rekofol) Bentuk cairan. Pentotal                Zat dr sodium thiopental. liver. hitungan pemberian lebih mudah Obat mengalir dlm aliran darah (aliran ke otak ↑)  efek sedasi&hipnosis cepat tjd. warna putih spt susu dgn bhn pelarut tdd minyak kedelai & postasida telur yg dimurnikan. dpt melewati barier plasenta Dpt melewati ASI menyebabkan relaksasi otot ringan reaksi. tp dlm bentuk natrium (sodium thiopental) mudah larut dlm air 4.5% u/ menghindari overdosis.5%-5%.  Metabolisme di liver & metabolit tdk aktif dikeluarkan lwt ginjal. sakit kepala pada penderita yg mulai sadar. Metabolisme di hepar . Ekstasi. Dpt menimbulkan vasokontriksi pembuluh darah ginjal tak berefek pd kontraksi uterus. 1 gr(merah) & 5 gr. ginjal. anafilaktik syok gula darah sedikit meningkat. Propofol (diprifan. nyeri lokal pd daerah suntikan Dosis berlebihan dapat mendepresi jantung & pernapasan Sebaiknya obat ini tidak diberikan pd penderita dengan ggn jalan napas.  Kdg terasa nyeri pd penyuntikan  dicampur lidokain 2% +0. Btk bubuk kuning dlm amp 0. hanya bs dismp 1-2 hr (dlm kulkas lebih lama.

Halothan/fluothan  Tidak berwarna. sebagian kecil dimetabolisme tubuh Dapat digunakan sebagai obat induksi dan obat maintenance Keuntungan       cepat tidur Tidak merangsang saluran napas Salivasi tidak banyak Bronkhodilator  obat pilihan untuk asma bronkhiale Waktu pemulihan cepat (1 jam post anestesi) Kadang tidak mual & tidak muntah. penderita sadar dalam kondisi yang enak . Obat Anestetik inhalasi 1. waktu tidur relatif pendek Dosis iv: 3-5 mg/kgBB Kontraindikasi       syok berat Anemia berat Asma bronkiale  menyebabkan konstriksi bronkus Obstruksi sal napas atas Penyakit jantung & liver kadar ureum sangat tinggi (ekskresinya lewat ginjal) B. ekskresi airmata Hipnotik kuat. relaksasi cukup Mencegah terjadinya spasme laring dan bronchus Depresi otot jantung  aritmia (sensitisasi terhadap epinefrin) Depresi otot polos pembuluh darah  vasodilatasi  hipotensi Vasodilatasi pembuluh darah otak Sensitisasi jantung terhadap katekolamin Meningkatkan aktivitas vagal  vagal refleks Pemberian berulang (1-3 bulan)  kerusakan hepar (immune-mediated hepatitis) Menghambat kontraksi otot rahim Absorbsi & ekskresi obat oleh paru. analgetik kurang baik.  cepat tidur. mudah menguap  Tidak mudah terbakar/meledak  Berbau harum tetapi mudah terurai cahaya Efek:                Tidak merangsang traktus respiratorius Depresi nafas  stadium analgetik Menghambat salivasi Nadi cepat.

Dengan dosis tinggi diduga menimbulkan aktivitas gelombang otak seperti kejang (pada EEG).  Bila murni N2O = depresi dan dilatasi jantung serta merusak SSP jarang digunakan sendirian tetapi dikombinasi dengan salah satu cairan anestetik lain seperti halotan dan sebagainya. berpotensi rendah (MAC 104%). tidak mudah terbakar dalam suhu kamar . Nitrogen Oksida (N2O)  gas yang berbau. sangat mudah menguap dan terbakar. tidak mudah terbakar dan relatif tidak larut dalam darah. Efek depresi nafas dan depresi sirkulasi lebih kuat dibanding halotan dan enfluran lebih iritatif dibanding halotan. bau sangat merangsang iritasi saluran nafas dan sekresi kelenjar bronkus margin safety sangat luas murah analgesi sangat kuat sedatif dan relaksasi baik memenuhi trias anestesi teknik sederhana 4. 3. Efek:      Analgesik sangat kuat setara morfin Hipnotik sangat lemah Tidak ada sifa relaksasi sama sekali Pemberian anestesia dengan N2O harus disertai O2 minimal 25%. Eter - tidak berwarna.Kerugian        overdosis Perlu obat tambahan selama anestesi Hipotensi karena depresi miokard & vasodilatasi aritmia jantung Sifat analgetik ringan Cukup mahal Dosis dapat kurang sesuai akibat penyusutan 2. namun berbau. berbau sangat kuat. 5. Enfluran     isomer isofluran tidak mudah terbakar. Isofluran  cairan bening.

pankuronium.02 30-60 20-45 25-45 30-60 30-45 Hipotensi 0. Vekuronium (norcuron) 4. Alkurium (alloferin) Non depol intermediate acting 1.5-0.6 0.3-0. Obat Muscle Relaxant  Bekerja pd otot bergaris  terjadi kelumpuhan otot napas & otot-otot mandibula.2 0. Gallamin (flaxedil) 2.5 30-60 30-60 40-60 40-60 45-60 40-60 Hipotensi Takikardi Hipotensi KV stabil KV stabil Takikardi 4-6 0.15 0. tidak pernah dilaporkan kejadian immune-mediated hepatitis C. Doksakurium 6.40 0.1 0.15-0. pipekuronium.12 0. otot-otot abdominalis & relaksasi otot-otot ekstremitas.  menempati urutan ke-2. galamin .15-0.12 0.5-2.0 0.015-0. metokurin . Pankuronium 3.02-0.010 0.0 1. otot intercostalis.25 1. Sevofluran   tidak terlalu berbau (tidak menusuk).60 0.10 0.5 10-15 15-30 Hipotensi & histamin + 1. doksakurium. dimana stabilitasnya tinggi dan tahan terhadap penyimpanan sampai dengan 5 tahun atau paparan sinar matahari. dekametonium  Durasi     Dosis awal (mg/kgBB) Dosis rumatan (mg/kgBB) Durasi (menit ) Efek samping 0.05 0.  Bekerja pertama: kelumpuhan otot mata ekstremitas  mandibula intercostalis abdominal diafragma.20-0.08-0.0 Amanhepar&ginja l Isomer atrakurium 3-10 3-10 Ultrashort (5-10 menit): suksinilkolin Short (10-15 menit) : mivakurium Medium (15-30 menit) : atrakurium.1-0. Dosis pelumpuh otot dapat dikurangi sampai 1/3 dosis jika pakai isofluran 6.  Obat ini membantu pd operasi khusus spt operasi perut agar organ abdominal tdk keluar & terjadi relaksasi  Terbagi dua: Non depolarisasi.6-1.08 0. Pipekuronium 5.10-0. Atrakurium (tracrium/notrixum) 3.30 0.05 0.  Pd pemberian pastikan penderita dapat diberi napas buatan. efek bronkodilator sehingga banyak dipilih untuk induksi melalui sungkup wajah pada anak dan orang dewasa.005-0. Rokuronium (roculax/esmeron) 5.020 0.20 0.02 0.015 0.20-0. dan depolarisasi Non depol long-acting 1. vecuronium Long (30-120 menit) : tubokurarin. Cistacuronium Non depol short acting 1.5 0.15-0. Metakurin 4.0 0. D-tubokurarin (tubarin) 2. ropacuronium Depol short acting 1.01-0. mivakurium (mivacron) 2.05-0. suksinilkolin (scolin) 2.40-0.

1 mg/cc (teori) . hipersekresi.25 – 0. miosis. kontraksi vesicaurinaria . mivakurium dan atrakurium : Hipotensi pelepasan histamin dan (penghambatan ganglion)  pankuronium : menaikkan tekanan darah  suksinilkolin : aritmia jantung Antikolinesterase   antagonis pelumpuh otot non depolarisasi 1.1-0.87% Eter : 1.92% Enfluran : 1.04-.fungsi: efek nilotinik + muskarinik  bradikardi. neostigmin metilsulfat 0. hiperperistaltik.08mg/kg (prostigmin) 2.4mg/kg 3. piridostigmin 0.Efek terhadap kardiovaskuler  tubokurarin .pemberian dibarengi SA untuk menghindari bradikardi.8% Obat Darurat Nama Berikan bila Berapa yang diberikan? Efedrin TD menurun >20% dari TD awal (biasanya bila TD sistol <90 diberikan) 2 cc spuit Sulfas atropin Bradikardi (<60) 2 cc spuit Aminofilin bronkokonstriksi 5 mg/kgBB Spuit  24mg/ml Dexamethason Reaksi anafilaksis 1 mg/kgBB Spuit  5 mg/cc Adrenalin Cardiac arrest 0.3 mg/kgBB. metokurin .0. (2:1) MAC (Minimal Alveolar Concentration)  konsentrasi zat anestesi inhalasi dalam alveoli dimana 50% binatang tidak memberikan respon rangsang sakit Halotan : 0. edrofonium 0. bronkospasme.15% Sevofluran : 1.68% Isofluran : 1.5-1.0mg/kg .

Prilokain. Tetrakain Ester Struktur Kimia obat Lidokain. Mepivakain. Benzokain.Prakteknya  beri sampai aman Succinil cholin 1 mg/kgBB (1cc spuit  Spasme laring ANESTESI LOKAL/ REGIONAL  blokade reversibel konduksi saraf mencegah DEPOLARISASI dengan blokade ion Na+ ke channel Na ( blokade konduksi)  mencegah permeabilitas membran saraf terhadap ion Na+ Penggolongan anestesi lokal: Kokain. Klorprokain. Ropivakain Amide Blok Saraf Tepi Anestesi Lokal Cara Pemberian Topical Regional iv infiltrasi ganglion Blok nerv pleksus spinal Blok Saraf Sentral epidural torakal lumbal Short Acting Potensi Obat servikal Sacral/ kaudal Medium Acting Long acting Potensi Obat SHORT act MEDIUM act LONG act Prototipe Prokain Lidokain Bupirokain Gol Ester Amida Amida . Etidokain. Bupivakain. Prokain.

2. Volume yang digunakan <20ml. 1. Lidonest) - Umumnya digunakan 1-2%. 0. hipoventilasi alveolar.Onset 2’ 5’ 15’ Durasi 30-45’ 60-90’ 2-4jam Potensi 1 3 15 Toksisitas 1 2 10 Dosis max 12 Mg/KgBB 6 mg/KgBB 2 Mg/KgBB Metabolisme Plasma Liver Liver Keterangan: Bupivacaine - Konsentrasi 0. Efek morfin pada sistem syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan stimulasi. dan tebain) semisintetik (heroin. kodein.5% lazim digunakan untuk pembedahan. pavaperin. Opioid disebut juga sebagai analgesia narkotik yang sering digunakan dalam anastesia untuk mengendalikan nyeri saat pembedahan dan nyeri pasca pembedahan. Opioid yang sering digunakan dalam anastesi antara lain adalah morfin. A. sedasi. Opioid adalah semua zat baik sintetik atau natural yang dapat berikatan dengan reseptor morfin. Digolongkan depresi yaitu analgesia. sufentanil dan remifentanil). . 2% untuk relaksasi pasien berotot.8% blokade sensorik baik tanpa blokade motorik. 3. Farmakodinamik Efek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang mengandung otot polos. petidin. dengan mula kerja 10 menit dan relasasi otot baik. dihidro morfin/morfinon. alfentanil. 1. derivate tebain) sintetik (petidin. MORFIN a. analgesianya sampai 8 jam. Klasifikasi Opioid Penggolongan opioid antara lain: opioid natural (morfin.5% tanpa adrenalin. Obat-obat opioid yang biasa digunakan dalam anastesi antara lain: 1. OPIOID DAN ANALGETIKA NON-OPIOID OPIOID 1. fentanil. fentanil. B. Lidokain (Xylocaine. perubahan emosi. 2.

Eksresi morfin terutama melalui ginjal. d. Morfin sering digunakan untuk meredakan nyeri yang timbul pada infark miokard. meperidin lebih efektif terhadap nyeri neuropatik. pulmonal atau koroner. Efektivitasnya lebih rendah dibanding morfin. c. Kurang dari 10% petidin bentuk asli ditemukan dalam urin. perikarditis akut. retensi urin. . konvulsi dan sekresi hormon anti diuretika (ADH). Morfin oral dalam bentuk larutan diberikan teratur dalam tiap 4 jam. Perbedaan antara petidin (meperidin) dengan morfin sebagai berikut : 1) Petidin lebih larut dalam lemak dibandingkan dengan morfin yang larut dalam air. Stimulasi termasuk stimulasi parasimpatis. tetapi lebih tinggi dari kodein. meperidin (petidin) menimbulkan efek analgesia. konstipasi kenaikkan tekanan pada traktus bilier. depresi nafas dan efek sentral lainnya. kolik renal atau kolik empedu. 3) Petidin bersifat atropin menyebabkan kekeringan mulut. kekaburan pandangan dan takikardia. 2. Morfin dapat diabsorsi usus. euforia.2 mg/ kg BB. dan hipotensi. fraktur dan nyeri pasca bedah. e. supositoria. oklusi akut pembuluh darah perifer. Farmakodinamik Meperidin (petidin) secara farmakologik bekerja sebagai agonis reseptor µ. Sebagian kecil morfin bebas ditemukan dalam tinja dan keringat. disforia. tetapi efek analgesik setelah pemberian oral jauh lebih rendah daripada efek analgesik yang timbul setelah pemberian parenteral dengan dosis yang sama. asam meperidinat dan asam normeperidinat. PETIDIN a. injeksi. 6) Lama kerja petidin lebih pendek dibandingkan morfin. Morfin dapat melewati sawar uri dan mempengaharui janin. nausea. Seperti halnya morfin. pleuritis dan pneumotorak spontan. Normeperidin adalah metabolit yang masih aktif memiliki sifat konvulsi dua kali lipat petidin. Apabila nyerinya makin besar dosis yang diperlukan juga semakin besar. mental berkabut. Untuk nyeri hebat pada dewasa 1-2 mg intravena dan dapat diulang sesuai yang diperlukan. Efek samping Efek samping morfin (dan derivat opioid pada umumnya) meliputi depresi pernafasan. Durasi analgesinya pada penggunaan klinis 3-5 jam. nyeri akibat trauma misalnya luka bakar. sedasi. b. 2) Metabolisme oleh hepar lebih cepat dan menghasilkan normeperidin.b. 5) Petidin cukup efektif untuk menghilangkan gemetaran pasca bedah yang tidak ada hubungannya dengan hipotermi dengan dosis 20-25 mg i. Dosis dan sediaan Morfin tersedia dalam tablet. tetapi dapat menembus kulit yang luka. Dibandingkan dengan morfin. Dosis anjuran untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri sedang adalah 0. Farmakokinetik Morfin tidak dapat menembus kulit utuh. Indikasi Morfin dan opioid lain terutama diindikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non-opioid. tetapi efek terhadap sfingter oddi lebih ringan. Morfin juga dapat menembus mukosa. 4) Petidin menyebabkan konstipasi. miosis. neoplasma. tetapi efek analgesinya sudah berkurang 50%. dizzines. mual muntah.1-0. hiperaktif reflek spinal. pruritus. Waktu paruh petidin adalah 5 jam. vomitus.v pada dewasa.

sinkop dan sedasi. Dosis dan sediaan Sediaan yang tersedia adalah tablet 50 dan 100 mg . e. Kadar puncak dalam plasma biasanya dicapai dalam 45 menit dan kadar yang dicapai antar individu sangat bervariasi. Fentanil (dan opioid lain) meningkatkan aksi anestetik lokal pada blok saraf tepi. Dosis 1-3 mg /kg BB analgesianya hanya berlangsung 30 menit. Keadaan itu sebagian disebabkan oleh sifat anestetsi lokal yamg lemah (dosis yang tinggi menekan hantara saraf) dan efeknya terhadap reseptor opioid pada terminal saraf tepi. Efek samping Efek samping meperidin dan derivat fenilpiperidin yang ringan berupa pusing. Meperidin dapat menurunkan aliran darah otak. Meperidin digunakan juga untuk menimbulkan analgesia obstetrik dan sebagai obat preanestetik. euforia. meperidin diindikasikan atas dasar masa kerjanya yang lebih pendek daripada morfin. Pada beberapa keadaan klinis. gangguan penglihatan. Sebanyak 1/3 dari satu dosis meperidin ditemukan dalam urin dalam bentuk derivat N-demitilasi. f. Akan tetapi kecepatan absorbsi mungkin tidak teratur setelah suntikan IM. kemudian penurunan berlangsung lebih lambat. FENTANIL a.8 mg/kg BB. Sebagai suatu analgesik. 1-1. kadarnya dalam plasma menurun secara cepat dalam 1-2 jam pertama. Meperidin dalam bentuk utuh sangat sedikit ditemukan dalam urin. c. karena itu hanya dipergunakan untuk anastesia pembedahan dan tidak untuk pasca bedah. petidin tidak menunda persalinan. tetapi fraksi terbesar dirusak paru ketika pertama kali melewatinya. suntikan 10 mg/ml. 100 mg/ml.c. Sebagian besar pasien tertolong dengan dosis parenteral 100 mg. 25 mg/ml. Setelah pemberian meperidin IV. fentanil 75-125 kali lebih poten dibandingkan dengan morfin. Metabolisme meperidin terutama dalam hati. Farmakokinetik Absorbsi meperidin dengan cara pemberian apapun berlangsung baik. Dosis besar 50-150 mg/kg BB digunakan untuk induksi anastesia dan pemeliharaan anastesia dengan kombinasi bensodioazepam . Indikasi Meperidin hanya digunakan untuk menimbulkan analgesia. Berbeda dengan morfin. disforia. Fentanil dimetabolisir oleh hati dengan N-dealkilase dan hidrosilasidan. mulut kering. perasaan lemah. Dosis untuk bayi dan anak . 3. Kurang lebih 60% meperidin dalam plasma terikat protein. Fentanil dikombinasikan dengan droperidol untuk menimbulkan neureptanalgesia. sedangkan sisa metabolismenya dikeluarkan lewat urin. kecepatan metabolik otak. 75 mg/ml. palpitasi. akan tetapi dapat masuk ke fetus dan menimbulkan depresi respirasi pada kelahiran. berkeringat. b. Awitan yang cepat dan lama aksi yang singkat mencerminkan kelarutan lipid yang lebih besar dari fentanil dibandingkan dengan morfin. larutan oral 50 mg/ml. mual-muntah. dan tekanan intra kranial. Indikasi Efek depresinya lebih lama dibandingkan efek analgesinya. d. . Pada manusia meperidin mengalami hidrolisis menjadi asam meperidinat yang kemudian sebagian mengalami konjugasi. Farmakokinetik Setelah suntikan intravena ambilan dan distribusinya secara kualitatif hampir sama dengan dengan morfin. 50 mg/ml. Farmakodinamik Turunan fenilpiperidin ini merupakan agonis opioid poten.

propionat As. renin. maksimal setelah 1-2 jam. Ketoprofen - Diberikan secara oral. 90mg/hari. Floktafenin As. indolasetat As. Dosis besar dapat mencegah peningkatan kadar gula. antranilat As. Sediaan yang tersedia adalah suntikan 50 mg/ml. Naproksen. Tidak untuk wanita hamil. Per-rektal 1-2 suppositoria. Efek analgesia dicapai dalam 30 menit.D flunisal Ibuprofen. pada bedah jantung. Efek samping Efek yang tidak disukai ialah kekakuan otot punggung yang sebenarnya dapat dicegah dengan pelumpuh otot. tonsilektomi. dan BB <50kg dibatasi maks. Suntikan intarmuskuler 100-300mg/hari. Intravena per-infus dihabiskan dalam 20 menit. Mefenamat. gangguan perdarahan. menghilangkan nyeri persalinan. anak usia <4th. d. fenilasetat Indometasin Ketorolac Diklofenak Keterangan Ketorolak - Diberikan secara oral. pada manula. 60mg/hari. ANALGETIKA NON OPIOID (NSAID) Pirazolon As. Lama kerja 4-6 jam. Asetil salisilat. ADH. aldosteron dan kortisol. intravena. Karboksilat Dipiron Oksikam Piroksikam Salisilat As. katekolamin plasma. pirolasetat As.dan inhalasi dosis rendah. wanita menyusui. tablet 100-200 mg/hari. gangguan faal ginjal. Cara kerja menghambat sintesis prostaglandin di perifer tanpa mengganggu reseptor opioid di sistem saraf pusat. dapat digunakan bersama opioid. asetat As. usia lanjut. kapsul. intramuskular. Dosis awal 10-30mg/hari dosis maks. . 30mg ketorolak=12mg morfin=100mg petidin. Ketoprofen As.

manula. dispepsia. Tenoksikam - Suntikan itramuskuler. gamma globulin. diare. erupsi. Dosis toksis dapat menyebabkan nekrosis hati karena dirusak oleh enzim mikrosomal hati. SGPT. dosis maksimal 4000mg/hari. panas. karena itu tak digolongkan NSAID. ikterus hepatoseluler. konstipasi. Lebih disukai dari aspirin karena efek samping terhadap lambung dan gangguan pembekuan minimal. kapsul. hipertensi. Gangguan fungsi hepar: peningkatan SGOT. asma. leukimia. peningkatan ureum-kreatinin. menyusui. Dosis satu tablet 7. anak kecil. Biasa untuk nyeri ringan dan dikombinasi analgetik lain Dosis oral 500-1000mg/4-6jam. pruritus. Gangguan fungsi ginjal: penurunan aliran darah ginjal. kembung. Alergi obat-obatan anestesi Alergi obat dapat terjadi melalui semua 4 mekanisme hipersensitifitas Gell dan Coomb. sindroma Steven-Johnson. Hasil metabolisme dibuang lewat ginjal dan sebagian lewat empedu. nekrosis papil ginjal. flash. pererenal azotemia. Keamanan belum terbukti pada wanita hamil. ulserasi mukosa lambung. perdarahan tukak lambung. mual-muntah.5mg atau 15mg/hari Asetaminofen - Tak punya sifat anti inflamasi dan sifat inhibitor terhadap sintesis prostaglandin sangat lemah. bilirubin. hiperkalemia. . nefritis. Meloksikam - Inhibitor selektif Cox-2 dengan efektifitas=diklofenak atau piroksikam tetapi efek samping lebih minimal. Hipersensitivitas kulit: gatal. penurunan laju filtrasi glomerulus. terjadi bila obat atau metabolitnya berinteraksi membentuk antibodi IgE yang spesifik dan berikatan dengan sel mast di jaringan atau sel basofil di sirkulasi. retensi natrium. intravena ampul 20mg/hari dilanjutkan oral. anemia aplastik. sindroma nefrotik. Gangguan respirasi: tonus bronkus meningkat. urtikaria. tablet. suppositoria.Piroksikam - Oral. Gangguan sistem darah: trombositopenia. proses persalinan. Efek samping golongan NSAID - Gangguan saluran cerna: nyeri lambung. ampul 10-20mg/hari. Gangguan kardiovaskuler: akibat retensi air menyebabkan edema. yaitu: � Reaksi hipersensitivitas segera (tipe I). gagal jantung.

bila terjadi reaksi anafilaksis beri adrenalin 1/1000 sc dan pengobatan sesuai seperti reaksi anafilaksis karena sebab lain. Alergi obat biasanya tidak terjadi pada paparan pertama. Menghindari alergen penyebab. namun yang tersering melalui tipe I dan IV. dilantin. fenotiazin. disebabkan oleh kompleks soluble dari obat atau metabolitnya dengan antibodi IgM dan IgG. Obat lainnya yaitu asam mefenamat. tipe IV) adalah reaksi yang dimediasi oleh limfosit T yang spesifik obat. fenergan. Jenis obat penyebab alergi sangat bervariasi dan berbeda menurut waktu. luminal. Dengan adanya komplemen serum. maka sel yang dilapisi antibodi akan dibersihkan atau dihancurkan oleh sistem monosit-makrofag. Pengobatan Alergi Obat    Obat-obatan : antihistamin. Pada umumnya laporan tentang obat tersering penyebab alergi adalah golongan penisilin. - Bisa terjadi alergi obat melalui keempat mekanisme tersebut terhadap satu obat. steroid. Sensitisasi imunologik memerlukan paparan awal dan tenggang waktu beberapa lama (masa laten) sebelum terjadi reaksi alergi. tridion. salisilat. - � Reaksi kompleks imun (tipe III). - � Reaksi hipersensitivitas lambat (delayed-type hypersensitivity reactions. sulfa. melibatkan antibodi IgG dan IgM yang mengenali antigen obat di membran sel. Pengobatan lain dengan cara desensitisasi . dan pirazolon.- � Reaksi antibody sitotoksik (tipe II). Namun demikian yang paling sering dihubungkan dengan alergi adalah penisilin dan sulfa. tempat dan jenis penelitian yang dilakukan.