You are on page 1of 8

ILMU ALLAH

Kode: 1.D23.2
Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader dapat:
♦ Memahami bahwa Allah SWT adalah sumber ilmu dan pengetahuan
♦ Menyadari bahwa Allah SWT memberikan nilmu melalui dua jalan: resmi dan tidak resmi.
♦ Mengetahui fungsi ilmu Allah SWT yang tidak resmi sebagai wasailul hayah
♦ Mengetahui fungsi ilmu Allah SWT yang resmi sebagai minhajul hayah.

TITIK TEKAN MATERI
Allah SWT telah menciptakan dan menjadikan alam ini seluruhnya lengkap dengan
sistem yang menyeluruh. Antara satu sama lain ada perakitan dan manfaatnya sendiri. Allah SWT
yang menjadikan semua isi alam ini dari yang sekecil-kecilnya hingga yang paling besar, yang
nyata dan yang ghaib. Dari sifat pengetahuan Allah SWT yang Maha Mengetahui inilah, sehingga
Allah SWT menjadi sumber ilmu.
Dengan ilmu Allah SWT tersebut, kemudian Dia mengajar manusia terhadapo apa-apa
yang tidak diketahui menjadi diketahuinya. Ada ilmu Allah SWT yang diturunkan secara resmi
kepada Rasul-Nya dan ini kemudian menjadi pedoman hidup (minhajul hayah).
Ada ilmu Allah SWT yang diturunkansecara tidak resmi dan ini menjadi sarana hidup (wasailul
hayah).
Kedua ilmu tersebut sangat bermanfaat untuk memeproleh kebahagiaan di dunia dan di
akhirat. Islam mendorong kaumnya untuk menguasai ilmu dunia dan ilmu akhirat.
“Barangsiapa menginginkan dunia maka ada ilmunya. Barangsiapa menginginkan
akhirat maka ada ilmunya. Barangsiapa menginginkan keduanya, maka diperlukan ilmu
keduanya” (Al Hadits).
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PEMBAHASAN
Dalam asmaul husna Allah SWT disebut sebagai Al ‘Alim (Yang Maha Mengetahui).
Bahwasanya ilmu Allah SWT tidak terbatas. Dia mengetahui apa saja yang ada di langit dan di
bumi, yang dahulu, sekarang ataupun besok, baik yang ghaib maupun yang nyata:
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang
ada di langit dan di bumi..”(Al Hajj:70)
“Dialah Allah, Yang tiada Tuhan selain Dia. Yang mengetahui yang ghaib dan yang
nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Al Hasyr:22)
Tak ada satupun yang tersembunyi bagi Allah SWT. Sebutir biji di dalam gelap gulita
bumi yang berlapis tetap diketahui Allah SWT:
“Di sisi-Nya segala anak kunci yang ghaib, tiadalah yang mengetahui kecuali Dia
sendiri. Dia mengetahui apa-apa yang ada di daratan dan di lautan. Tiada gugur sehelai daun
kayu pun, melainkan Dia mengetahuinya, dan tiada sebuah biji dalam gelap gulita bumi dan
tiada pula benda yang basah dan yang kering, melainkan semuanya dalam Kitab yang terang”
(Al An’am:59)
Ilmu Allah SWT maha luas, tak terjangkau dan tak terbayangkan oleh akal pikiran, tiada
terbatas. Dia mengetahui apa yang sudah, dan akan terjadi serta yang mengaturnya. Manusia,
malaikat, dan makhluq manapun tak akan bisa menyelami lautan ilmu Allah SWT. Bahkan untuk
mengetahui ciptaan Allah saja manusia tidak akan mampu. Dalam tubuh manusia tak semuanya
terjangkau oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semakin didalami semakin jauh pula
yang harus dijangkau, semakin banyak misteri yang harus dipecahkan, seperti jaringan kerja otak
manusia masih merupakan hal yang teramat rumit untuk dikaji. Belum lagi tentang astronomi,
berapa banyak bintang, galaksi di langit, berapa jauhnya, bagaimana cara mencapainya, proses
terjadinya, apakah ada penghuninya, dsb. Jika kita menatap ke luar angkasa betapa kecil bumi ini
bagaikan debu bahkan lebih kecil dari itu. Andaikan saja ada manusia yang menguasai planet
bumi sebagai miliknya pribadi, maka di hadapan alam di ruang angkasa ini dia hanyalah memiliki
debu tak berarti. Jika saja ada manusia menguasai bumi, dia hanya menguasai debu. Sementara
kekuasaan, kerajaan Allah SWT tak akan tertandingi sedikitpun jua.
Allah SWT menggambarkan betapa kecil dan tak berdayanya manusia bila
dibandingkan dengan ilmu Allah SWT, dengan perumpamaan air laut bahkan tujuh lautan
dijadikan tinta untuk menulis kalimat Allah SWT, niscaya tidak akan habis-habisnya kalimat
Allah tersebut dituliskan:
”Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat
Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelumhabis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun
kami datangkan tambahan sebanyak itu pula” (Al Kahfi:109)
“Dan seandainya pohon-pohon di muka bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta),
ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan)
kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Luqman:27).
Allah SWT telah menciptakan langit dan bumi dengan segala isi dan peristiwa yang
terkandung di dalamnya merupakan fenomena yang sangat mengesankan dan menakjubkan akal
serta hati sanubari manusia. Itulah alam semesta atau al kaun (universum). Simaklah firman Allah
SWT berikut ini:
“Dia lah Allah Yang menciptakan, Yang mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang
Mempunyai Nama-nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di
bumi . Dan Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al Hasyr: 24).
Hendaknya manusia senantiasa men-taddaburi ayata-ayat-Nya, baik yang qouliyah
maupun kauniyah. Karena di sana terdapat lautan ilmu-Nya,serta dorongan/ motivasi untuk
mengkaji maupun mengimplementasikannya. “Hai jama’ah jin dan manusia jika kamu sanggup
menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya
melainkan dengan kekuatan” (Ar Rahman :33). Dengan ayat ini manusia akan mengerti jika
ingin menembus langit diperlukan energi yang besar. Maka dengan segala bahan-bahan yang ada
di alam ini manusia harus mampu mengkonversi energi tersebut. Masih banyak ayat-ayat Al
Qur’an yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan cabang-cabangnya. Allah SWT telah
menciptakan alam beserta isi dan sistemnya dan juga telah mengajarkannya kepada manusia.
Dengan mencermati Al Qur’an, akan melahirkan kajian-kajian yang lebih detail tentang
keberadaan ciptaan-Nya.
Timbulnya ilmu pengetahuan, disebabkan kebutuhan-kebutuhan manusia yang
berkemauan hidup bahagia. Dalam mencapai dan memenuhi kebutuhan hidupnya itu, manusia
menggunakan akal pikirannya. Mereka menengadah ke langit, memandang alam sekitarnya dan
melihat dirinya sendiri. Dalam hal ini memang telah menjadi qudrat dan iradat Nya, bahwa
manusia dapat memikirkan sesuatu kebutuhan hidupnya. Telah tercantum dalam Al Qur’an
perintah Allah SWT : “Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah
bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang
yang tidak beriman” (Yunus: 101). Hasil dari pemikiran manusia itu melahirkan ilmu
pengetahuan dengan berbagai cabangnya. Maka ilmu pengetahuan bukanlah musuh atau lawan
dari iman, melainkan sebagai wasailul hayah (sarana kehidupan) dan juga nantinya yang akan
membimbing ke arah iman. Sebagaimana kita ketahui, banyak ahli ilmu pengetahuan yang
berpikir dalam, telah dipimpin oleh pengetahuannya kepada suatu pandangan, bahwa di balik
alam yang nyata ini ada kekuatan yang lebih tinggi, yang mengatur dan menyusunnya,
memelihara segala sesuatu dengan ukuran dan perhitungan.
Herbert Spencer dalam tulisannya tentang pendidikan, menerangkan sebagai berikut:
“Pengetahuan itu berlawanan dengan khurafat, tetapi tidak berlawanan dengan agama. Dalam
kebanyakan ilmu alam kedapatan paham tidak bertuhan (atheisme), tetapi pengetahuan yang
sehat dan mendalami kenyataan, bebas dari paham yang demikian itu. Ilmu alam tidak
bertentangan dengan agama. Mempelajari ilmu itu merupakan ibadat secara diam, dan
pengakuan yang membisu tentang keindahan sesuatuyang kita selidiki dan kita pelajari, dan
selanjutnya pengakuan tentang kekuasaany Penciptanya. Mempelajari ilmu alam itu tasbih
(memuji Tuhan) tapi bukan berupa ucapan, melainkan tasbih berupa amal dan menolong
bekerja. Pengetahuan ini bukan mengatakan mustahil akan memperoleh sebab yang pertama,
yaitu Allah”.
“Seorang ahli pengetahuan yang emlihat setitik air, lalu dia mengetahuinya bahwa air
itu tersusun dari oksigen dan hidrogen, dengan perbandingan tertentu, dan kalau sekiranya
perbandingan itu berubah, niscaya air itu akan berubah pula menjadi sesuatu yang bukan air.
Maka dengan itu ia akan meyakini kebesaran Pencipta, kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya.
Sebaliknya orang yang bukan ahli dalam ilmu alam, akan melihatnya idak lebih dari setitik air”.
Manusia sejak zaman dahulu telah mengerahkan daya akal untuk menyelidiki rahasia
serta mencari hubungannya dengan kebutuhan dan tujuan hidupnya di atas bumi ini. Maka
lahirlah para ahli ilmu alam seperti astronom, meteorolog, geolog, fisikawan, dsb beserta para
ahli filsafatnya di bidang tersebut.
Penemuan di bidang astronomi menyebabkan kosmologi terbagi dalam dua kelompok,
yaitu kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini statis, dari permulaan diciptakannya
samapai sekarang ini tak berubah dan kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini
dinamis, bergerak atau berubah.
Kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini dinamis ditunjang oleh ilmu
pengetahuan modern. Menurut teori evolusi, pengembangan seperti dibuktikan oleh adanya red
shift, ditafsirkan bahwa alam semesta ini dimulai dengan satu ledakan dahsyat. Materi yang
terdapat dalam alam semesta itu mula-mula berdesakan satu sama lain dalam suhu dan kepadatan
yang sangat tinggi, sehingga hanya berupa proton, neutron, dan elektron, tidak mampu
membentuk susunan yang lebih berat. Karena mengembang, maka suhu menurun sehingga proton
dan neutron berkumpul membentuk inti atom. Kecepatan mengembang ini menentukan macam
atom yang terbentuk.
Para ahli ilmu alam telah menghitung bahwa masa mendidih itu tidak lebih dari 30 menit.
Bila kurang artinya mengembung lebih cepat, alam semesta ini akan didominir oleh unsur
hidrogen. Apabila lebih dari 30 menit, berarti mengembung lambat, unsur berat akan dominan
Selama 250 juta tahun sesudah ledakan dahsyat, energi sinar dominan terhadap materi,
transformasi di antara keduanya bisa terjadi sesuai dengan rumus Einstein, E = mc2. Dalam proses
pengembungan inienergi sinar banyak terpakai dan meteri semakin dominan. Setelah 250 juta
tahun maka masa dari meteri dan sinar menmjadi sama. Sebelum itu, tidak dibayangkan behwa
meteri larut dalam panas radiasi, seperti garam larut di air. Pada masa itu, setelah lewat 250 juta
tahun, matei dan gravitasi dominan, terdapat differensiasi yang tadinya homogin. Bola-bola gas
masa galaxi terbentuk dengan garis tengah kurang lebih 40.000 tahun cahaya dan masanya 200
juta kali massa matahari kita. Awan gas gelap itu kemudian berdifferensiasi atau berkondensasi
menjadi bola-bola gas bintang yang berkontraksi sangat cepat. Akibat kontraksi sangat cepat.
Akibat kontraksi atau pemadatan itu maka suhu naik sampai 20.000.000 derajat, yaitu threshold
reaksi inti, dan bintang itupun mulai bercahaya.
Karena sebagian dari materi terhisap ke pusat bintang, maka planet dibentuk dari sisa-
sisanya. Yaitu butir-butir debu berbenturan satu sama lain dan membentuk massa yang lebih
besar, berseliweran di ruang angkasa dan makin lama makin besar.
Proses kondensasi bintang pembentukan planet membutuhkan waktu beberapa ratus juta
tahun. Kita mengetahui bahwa bulan bergerak menjauhi bumi, hal ini berarti bahwa beberapa
milyar tahun yang lalu bumi dan bulan itu satu, dan bulan merupakan pecahan dari bumi yang
memisahkan diri. Firman Allah SWT:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu
keduanya fahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan
daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga
beriman” (Al Anbiya: 30)
Konsep ini jelas menunjang teori kedinamisan alam semesta. Orang Rusia berdasarkan
umur batu bulan, telah menetapkan bahwa bulan berumur 4,5 milyar tahun.
Dalam mempelajari red shift, jarak diukur dengan tahun cahaya, bukan dengan kilometer.
Kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik, sedangkan beberapa galaxi beberapa juta tahun
cahaya jauhnya. Pada waktu kita memandang galaxi yang sangat jauh itu, sebetulnya kita sedang
meneropong jauh ke masa yang silam. Dalam mempelajari galaxi yang jauhnya satu milyar tahun
cahaya , sebetulnya membuktikan bahwa satu milyar tahun yang lalu alam semesta ini
mengembung dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sekarang. Hal ini berarti pula bahwa kita
berada di alam semesta yang dinamis, bukan statis.
Lain daripda itu penurunan kecepatan mengembung meramalkan bahwa pada suatu
waktu pengembungan itu akan berhenti, kemudian berkontraksi, pada akhirnya kembali kepada
situasi kepadatan seperti asalnya lebih kurang lima milyar tahun yang lalu.
Dari uraian di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa alam semesta ini mengembung dan
mengempis. Untuk lebih lanjut perhatikan uraian George Gemov dalam bukunya The Creation of
the Universe, hal.36: “…bahwa tekanan raksasa yang terjadi pada permulaan sejarah alam
semesta, adalah akibat dari suatu kehancuran yang terjadi sebelumnya , dan bahwa
pengembungan yang sekarang ini sebenarnya hanyalah suatu gerak kembali yang elastis yang
terjadi segera setelah tercapai kepadatan maximun yang diizinkan.”
Kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana besarrnya tekanan yang tercapai pada
kepadatan yang maksimum itu, tetapi menurut semua petunjuk tekanan itu sungguh-sungguh
amat tinggi. Besar kemungkinan seluruh massa alam semesta yang mempunyai kemungkinan
bentuk yang bagaimanapun dalam masa pra kehancuran telah dimusnahkan secara sempurna, dan
bahwa atom-atom dan intinya telah dipecahkan menjadi proton, neutron, dan elektron serta
partikel dasar lainnya, jadi tak ada satupun yang bisa dituturkan tentang masa alam sebelum
pemadatan alam semesta itu. Segera setelah kepadatan massa alam semesta itu mencapai titik
maksimum, kepadatan yang sangat tinggi itu hanya bertahan dalam waktu sebentar saja.
Segala sesuatu yang berada dalam alam semesta, adalah merupakan ciptaan (makhluq)
Allah SWT sebegai refleksi dan manifestasi dari wujud Allah SWT dengan segala sifat
kesempurnaan-Nya. Karena itu manusia tidak habis-habisnya mengagumi isi al kaun ini terus
mengambil pelajaran dan ibroh yang bermanfaat dari padanya.
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada
ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang,
adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya
penglihtaanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan
penglihatanmu itupun dalam keadaan payah” (Al Mulk: 3,4)
Tegaknya langit, keseimbangan benda-benmda langit sesuai dengan ciptaan dan
pengaturan dari Penciptanya.
“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)” (Ar
Rahman:7)
“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika
keduanya akan lenyap tidaka tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah.
Sesungguhnya Dia adalah maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (Faathir:41)
Ayat di atas menyatakan adanya semacam penahan yang membawa kepada ketenangan
benda-benda langit, meskipun benda-benda langit itu saling bergerak. Hal ini menunjukkan
kenyataan kebenarannya terhadap ummat manusia.
Para ahli fisika sudah cukup lama mengenal gaya gravitasi antara benda-benda bermassa
yang bekerja secara luas dalam alam ini. setelah Issac Newton pada tahun 1686 merumuskan
hukum gravitasi, maka orang dapat dengan mudah memahami dan menerangkan berbagai
peristiwa dalam jagad raya ini. Hukum-hukum Kepler yang sudah ada sebelum Newton, ternyata
dapat dipahamkan sebagai akibat saja dari hukum gravitasi Newton tersebut.
Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa universum itu berjalan dengan eksak,
kokoh, teratur, rapi dan harmonis, yang tidak akan ada habis-habisnya menjadi tantangan yang
menakjubkan bagi manusia. Setelah beriman kepada Allah, maka menjadi mudah bagi kita untuk
menerima, bahwa hukum-hukum itu adalah sunatullah atau aturan-aturan yang telah ditetapkan
Allah bagi makhluq-Nya yang tidak berubah-ubah.
“Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat.
Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah
yang mereka nati-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada
orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui perubahan bagi sunnah
Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.”
(Faathir: 43)
Demikianlah, Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna, seimbang,
beraturan, sistemik. Maka Dia jualah yang paling tahu hakikat dan tujuan penciptaa-Nya, dan
telah dikabarkannya ciptaan Allah SWT itu kepada manusia. Manusia telah diperintahkan untuk
bertafakur atas ciptaan-Nya, sehingga mampu memanfaatkannya. Dan agar manusia mampu
mengenal pencipta-Nya serta mengagungkan-Nya; Dia lah Allah SWT tiada Tuhan selain-Nya.
Dengan ilmu-Nya Allah mengajarkan kepada hamba-Nya apa-apa yang telah diciptakan dengan
proses terjadinya, sehingga manusia akan menjadi tahu dan berilmu. Setelah itu akan lahir
cabang-cabang ilmu pengetahuan yang menyebar ke setiap penjuru ufuk kehidupan manusia.
Dengan ilmunya manusia diharapkan menemukan kebenaran dan menjadikannya sebagai
landasan kehidupan.
“Kami akan memperlihatkan kapada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap
ufuk pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar.
Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala
sesuatu?” (Fushshilat: 53).

Ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah.
Allah SWT menuangkan sebagian kecil dari ilmu Nya kepada umat manusia dengan dua
jalan. Pertama, dengan ath thoriqoh ar rosmiyah (jalan resmi) yaitu dalam jalur wahyu melalui
perantaraan malaikat Jibril kepada Rasul-Nya, yang disebut juga dengan ayat-ayat qauliyah.
Kedua, dengan ath thoriqoh ghoiru rosmiyah (jalan tidak resmi) yaitu melalui ilham secara
kepada makhluq-Nya di alam semesta ini (baik makhluq hidup maupun yang mati), tanpa melalui
perantaraan malaikat Jibril. Kerena tak melalui perantaraan malaikat Jibril maka bisa disebut
jalan langsung (mubasyarotan). Kemudian jalan ini disebut juga dengan ayat-ayat kauniyah.
Wahyu dalam pengertian ishtilahi adalah: “kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-nabi
dan Rasul-rasul yang menjadi hudan (petunjuk) bagi umat manusia”, baik yang diturunkan
langsung, dari belakang tabir (min wara’ hijab) maupun yang diturunkan melalui malaikat Jibril,
seperti firman Allah SWT:
“Tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan
perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seseorang (malaikat) lalu
diwahyukan kepadaNya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi maha
Bijaksana” (Asy Syura:51)
Pengertian wahyu secara ishtilahi perlu dipertegas karena ma’na wahyu secara lughawi
memiliki pengertian yang bermacam-macam, antara lain:
1. Ilham Fithri, seperti wahyu yang diberikan kepada ibu Nabi Musa untuk menyusukan
Musa yang masih bayi.
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; susuilah dia, dan apabila kamu khawatir
terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil)…” (Al Qashash:7).
2. Instink Hayawan, seperti wahyu yang diberikan kepada lebah untuk bersarang di bukit-
bukit, pohon-pohon, dan dimana saja dia bersarang.
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di
pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia” (An Nahl:68).
3. Isyarat, seperti yang diwahyukan oleh Nabi Zakaria kepada kaumnya untuk bertasbih
pagi dan sore.
“Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka;
hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang” (Maryam:11).
4. Perintah Allah kepada malaikat, untuk mengerjakan sesuatu seperti perintah Allah
kepada malaikat untuk membantu kaum muslimin dalam perang Badr.
“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat; Sesungguhnya Aku
bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman…” (Al
Anfal:12).
5. Bisikan syaitan
“…Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka
membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah
menjadi orang-orang yang musrik” (Al An’am :121).
Dalam ayat tersebut ada kata layuhuna (mewahyukan) yang berarti membisikkan.
6. Hadits Qudsi, juga termasuk dalam wahyu (hadits yang ma’nanya dari Allah SWT,
sedangkan redaksinya dari Rasulullah SAW), dan
7. hadits Nabawiy, (makna dan redaksinya dari Rasulullah SAW) karena pada hakekatnya
apa saja yang berasal dari Rasulullah SAW mempinyai nilai wahyu, firman Allah SWT:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah dia; dan bertaqwa-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
sangat keras hukumannya” (Al Hasyr:7).

Ayat-ayat qauliyah mengisyaratkan kepada manusia untuk mencari ilmu alam semesta
(ayat-ayat kauniyah), oleh sebab itu manusia harus berusaha membacanya, mempelajari,
menyelidiki dan merenungkannya, untuk kemudian mengambil kesimpulan. Allah SWT
berfirman:
“Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah
menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang
Mengajar (manusia) dengan perantaraan alam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya” (Al ‘Alaq:1-5).
“Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan padanya semua buah-
buahan berpasang-pasangan. Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (Ar Ra’du:3)
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian tanah yang berdampingan, dan kebun-kebun
anggur, tanam-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami
dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang
lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran
Allah) bagi kaum yang berfikir” (Ar Ra’du:4)
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini
dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imron:190-
191).
Dengan mempelajari, mengamati, menyelidiki dan merenungkan alam semesta (al kaun)
dengan segala isinya, manusia dapat melahirkan berbagai disiplin ilmu seperti: Kosmologi,
Astronomi, Botani, Meterologi, Geografi, Zoologi, Antropologi, Psikologi dsb. Sedangkan dari
mempelajari wahyu manusia melahirkan berbagai disiplin ilmu seperti: Tafsir, Ilmu Tafsir, Hadits,
Ilmu Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih dsb.
Dengan memahami bahwa semua ilmu itu adalah dari Allah SWT maka dalam
mendalami dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan pun (al kaun) harus mengacu firman Allah
SWT sebagai referensi, sehingga akan semakin meneguhkan keimanan. Selain itu penerapan ilmu
pengetahuan dan teknologi akan terkendali serta mengenal adab. Sebagai misal dalam dunia
teknologi kedokteran, pengalihan sperma ke sebuah rahim seorang wanita –dalam proses bayi
tabung- maka harus memperhatikan sperma itu diambil dari siapa diletakkan ke rahim siapa.
Proses kesepakatan, perizinan juga harus jelas. Jangan sampai bayi lahir menjadi tidak jelas
nasabnya. Di bidang astronomi tidak boleh diselewengkan untuk meramal nasib, padahal antara
keduanya tak ada hubungan sama sekali. Dalam hal menikmati keindahan alam, akan menjadi
suatu kedurhakaan jika dalam menikmatinya dengan membangun vila-vila untuk berbuat
maksiyat. Namun seorang mu’min menjadikan alam semesta adalah untuk tafakur agar dekat
dengan-Nya.

Konsep Kebenaran Ilmu
Wahyu (al Qur’an dan as Sunnah) memiliki nilai kebenaran yang mutlak (al haqiqah al
muthlaqah) karena langsung berasal dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Tetapi pemahaman terhadap
wahyu yang memungkinkan beberapa alternatif pemahaman tidaklah bersifat mutlak. Sedangkan
ilmu yang didapat dari alam semesta memiliki nilai kebenaran yang nisbi (realtif) dan tajribi
(eksprimentatif) atau dengan istilah al haqiqah at tajribiyah.
Kebenaran yang mutlak harus dijadikan burhan atau alat untuk mengukur kebenaran
yang nisbi, jangan sampai terbalik, justru kebenaran yang mutlak diragukan karena bertentangan
dengan kebenaran yang nisbi (relatif dan eksprimentatif). Sejarah ilmu pengetahuan sudah
membuktikan bahwa suatu penemuan atau teori yang dianggap benar pada satu masa digugurkan
kebenarannya pada masa yang akan datang. Hal itu disebabkan keterbatasan manusia. Dalam
mengamati, menyelidiki dan menyimpulkan segala fenomena yang ada dalam alam semesta. Oleh
sebab itu jika terjadi pertentangan antara kesimpulan yang didapat oleh manusia dari al kaun
dengan wahyu, maka yang harus dilakukan adalah menguji kembali kesimpulan tersebut, atau
menguji kembali pemahaman manusia terhadap wahyu. Logikanya, wahyu dan alam semesta
semuanya berasal dari Allah SWT yang Maha Benar, mustahil terjadi pertentangan satu sama
lain.

Hikmah mengimani ilmu Allah SWT
Pertama, membuat manusia sadar bahwa betapa tidak berarti dirinya dihadapan Allah SWT,
sebab seluruh ilmu yang dimiliki manusia adalah ibarat setitik air laut dibandingkan dengan air
laut secara keseluruhan. Oleh karena itu manusia tidak ada alasan untuk sombong dan menjadikan
ilmu menjadi penyebab kekufuran dan kedurhakaan kepada Yang Maha Mengetahui segalanya.
Seharusnya manusia menjadikan ilmu untuk alat ber-taqorub kepada-Nya, sebagaimana perilaku
para ulil albab.
Kedua, dengan menyadari bahwa ilmu Allah SWT sangat luas, tidak ada satupun –betapa
pun kecil dan halusnya- yang luput dari ilmu Nya, maka manusia akan dapat mengontrol tingkah
laku, ucapan amalan batinnya sehingga selalu sesuai dengan yang diridhai Allah SWT.
Ketiga, keyakinan terhadap ilmu Allah SWT akan menjadi terapi yang ampuh untuk segala
penyelewengan, penipuan dan kemaksiatan lainnya.
Maka dalam pemahamannya adalah dengan mengaplikasikan sifat Allah SWT tsb dalam
kehidupan nyata sehari hari, berusaha melaksanakan perintah dan larangan-Nya baik ditempat
ramai maupun sunyi. Kita tidak lagi terpengaruh dengan “diketahui” atau “tidak diketahui” oleh
orang lain untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu. Karena kita menyadari betapa Allah
SWT Maha Mengetahui yang pasti selalu melihat, mendengar, memperhatikan apa yang kita
lakukan di mana dan kapan saja
Di zaman salafus sholeh, kita masih ingat kisah seorang gadis shalihah dengan ibunya
menjual susu. Suatu saat ibunya menyuruh dagangannya untuk dicampur dengan air, agar
mendapatkan untung yang lebih. Namun puterinya menolak. “Bukankah Khalifah Umar tidak
melihat?” kata sang ibu. “Tapi Tuhannya Umar mengetahui, bu!” kata putrinya. Tak disangka
percakapan itu didengar Umar bin Khaththab. Maka gadis shalihah tsb dipinang untuk putera
Umar sang Khalifah. Dan kitapun tahu persis bahwa dari seorang wanita shalihah tsb, akhirnya
menurunkan (cucu) tokoh Umar Bin Abdul ‘Aziz yang legendaris.
Juga kisah seorang anak gembala dengan sekian banyak gembalaan milik tuannya. Suatu saat
Umar bin Khaththab menguji kekuatan muroqobatullah-nya. Dikatakan kepada anak tsb, bahwa
kambingnya akan dibeli dengan harga yang lebih. Namun anak itu menolak. “Kamu bisa
mengatakan kepada tuanmu kambingnya dimakan binatang buas!” kata Umar RA. “Lantas
dimana Allah?” tanya anak tersebut. Subhanallah…
Sebenarnya bagi seorang muslim yang sudah ber-iltizam akan selalu merasa tenang, bahagia
karena segala amal kebaikannya tidak akan dirugikan sedikitpun baik diketahui ataupun tidak
oleh orang lain, kerena dia yakin bahwa Allah SWT telah mengawasinya. Sehingga seorang al
akh ash shodiq akan senantiasa beramal dengan ikhlas karena Allah SWT semata, bukan karena
murobinya, apalagi karena calon istri atau pun mertuanya. Tidak bangga karena pujian, tidak
merasa lemah karna celaan. Tetap semangat walau tak diketahui orang, tak takabur ketika dilihat
banyak orang. Juga tak takut dengan kegagalannya, atau tak bangga diri dengan keberhasilannya.
Apapun yang terjadi tak akan mengoncangkan jiwanya, atau merusak muamalah dengan
saudaranya (karena mungkin saudara kita telah menilai salah terhadap diri kita), atau bahkan
membahayakan aqidahnya.
“Dan katakanlah; bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min
akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui
akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu
kerjakan” (At Taubah:105)