You are on page 1of 26

Hidropneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapat udara

dan cairan di dalam rongga pleura yang mengakibatkan
kolapsnya jaringan paru. Cairan ini bisa juga disertai dengan
nanah (empiema) dan hal ini di namakan dengan
piopneumotoraks1,2. Piopneumotoraks diakibatkan oleh infeksi,
yang mana infeksinya ini berasal dari mikroorganisme yang
membentuk gas atau dari robekan septik jaringan paru atau
esofagus ke arah rongga pleura. Kebanyakan adalah dari
robekan abses subpleura dan sering membuat fistula
bronkopleura.
Jenis kuman yang sering terdapat adalah Stafilokokus aureus,
Klebsiela,mikobakterium tuberkulosis dan lain-lain. Etiologi
piopneumotoraks biasanya berasal dari paru seperti pneumonia,
abses paru, adanya fistula bronkopleura, bronkiektasis,
tuberkulosis paru, aktinomikosis paru, dan dari luar paru seperti
trauma toraks, pembedahan toraks, torakosentesis pada efusi
pleura, abses sub phrenik dan abses hati amuba
3

. Patofisologi dari empiema itu sendiri yaitu akibat invasi kuman
piogenik ke pleura. Hal ini menyebabkan timbuk keradangan
akut yang diikuti dengan pembentukan eksudat seros. Dengan
bertambahnya sel-sel PMN, baik yang hidup ataupun yang mati
dan peningkatan kadar protein didalam cairan pleura, maka
cairan pleura menjadi keruh dan kental. Endapan fibrin akan
membentuk kantung-kantung yang akhirnya akan melokalisasi
nanah tersebut. Pencatatan tentang insiden dan prevalensi
hidropneumothorak belum ada dilkakukan, namun insiden dan
prevalensi pneumotoraks berkisar antara 2,4 - 17,8 per 100.000
penduduk per tahun. Menurut Barrie dkk, seks ratio laki-laki
dibandingkan dengan perempuan 5:1. Ada pula peneliti yang
mendapatkan 8:1

2

HIDROPNEUMOTORAKS
DEFINISI
Hidropneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terda
pat udara dan cairan di dalam rongga pleura yang
mengakibatkan kolapsnya jaringan paru. Cairan ini bisa juga
disertai dengan nanah (empiema) dan hal ini di namakan
dengan piopneumotoraks
1,2

Sedangkan
pneumotoraks itu sendiri ialah suatu
keadaan, di mana hanya terdapat udara di dalam rong
ga pleura yang juga
mengakibatkan kolaps jaringan paru
4,5,6

.
KLASIFIKASI
Pneumotoraks dapat dibagi berdasarkan atas beberapa
hal, yaitu :
1. Berdasarkan kejadian.
2. Berdasarkan lokalisasi.
3. Berdasarkan tingkat kolaps jaringan paru.
4. Berdasarkan jenis fistel
4,5,6

.
Berdasarkan kejadian
(a) Pneumotoraks spontan primer
Pneumotoraks yang ditemukan pada penderita yang seb
elumnya tidak
menunjukkan tanda-tanda sakit.
(b) Pneumotoraks spontan sekunder

Pneumotoraks yang ditemukan pada penderita yang seb
elumnya telah
menderita penyakit, mungkin merupakan komplikasi da
ri pneumonia,
abses paru, tuberkulosis paru, asma kistafibrosis d
an karsinoma bronkus.
(c) Pneumotoraks traumatika
Pneumotoraks yang timbul disebabkan robeknya pleura
viseralis maupun
pleura parietalis sebagai akibat dari trauma.
(d) Pneumotoraks artifisialis
Pneumotoraks yang sengaja dibuat dengan memasukkan
udara ke dalam
rongga pleura, dengan demikian jaringan paru menjad
i kolaps sehingga
3
dapat beristirahat. Pada zaman dulu pneumotoraks ar
tifisialis sering
dikerjakan untuk terapi tuberkulosis paru
4,5,6

.
Berdasarkan Lokalisasi
(a) Pneumotoraks parietalis
(b) Pneumotoraks mediastinalis
(c) Pneumotoraks basalis
4,5,6

Berdasarkan tingkat kolapsnya jaringan paru
a)
Pneumotoraks totalis, apabila seluruh jaringan paru
dari satu hemitoraks
mengalami kolaps.

b)
Pneumotoraks parsialis, apabila jaringan paru yang
kolaps hanya sebagian.
Derajat kolaps paru pada pneumothorak totalis dapat
dinyatakan dalam persen
dengan rumus sebagai berikut
4,5,6

:
Gambar 1
. Kolaps Paru.
7

Rumus mengukur volumenya : (A x B) – (a x b) X 1
00%
(A x B)
9
Gambar 2
. Pemasangan WSD.
4,5

10

DAFTAR PUSTAKA
1.
http://www
. Lemon. Medical symposium.com [diakses tanggal 4 M
ei 2008]
2.
http://www
. medhelp. org Imedikal Dictionary [diakses tanggal
4 Mei 2008]
3.
Putau J, dkk. Piopneumotoraks dengan Bronkopleura.
Laporan Kasus.
http://www. med UNHAS. ac. id

.[diakses tanggal 4 Mei 2008]
4.
Amirulloh R. Penatalaksanaan Pneumotoraks di dalam
Praktek. http://www.
kalbe.co.id
. [diakses tanggal 5 Mei 2008]
5.
http://www
. Turkishrespiratory journal.com[diakses tanggal 4
Mei 2008]
6.
Alsagaff H, Mukti A. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru
. Airlangga University
Press.edisi 2. Surabaya: 2002.
7.
http://intensivecare.hsnet.nsw.gov.au/five/images/p
neumothorax_3.jpg
[diakses tanggal 5 Mei 2008]
8.
http://www.learningradiology.com
[diakses 5 Mei 2008]

ABSTRAK
Yusup Subagio Sutanto
Eddy Surjanto,
Suradi
,
A Farih Raharjo
SMF Pulmonologi dan Ilmu kedokteran Respirasi
RSUD Dr Moewardi/ FK UNS Surakarta

Tuberkulosis paru sebagai penyebab tertinggi kasus
pneumotoraks di
bangsal paru RSUD Dr Moewardi (RSDM)
Surakarta
tahun 2009
.
Latar Belakang
: Pneumotoraks merupakan suatu kegawatan di bagian
paru.
Pneumotoraks spontan merupakan jenis pneumotoraks
yang paling sering
terjadi. Tuberkulosis paru merupakan penyebab
pneumotoraks spontan sekunder
tertinggi di be
berapa negara berkembang. Prevalensi TB paru yang
masih tinggi
di Indonesia merupakan faktor penyebab terjadinya PSS
berhubungan dengan
kasus
TB paru.
Metode
: Merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan
menggunakan
total
sampling
. Sampel diambil
dari catatan medis dan resume perawatan sejak 1
Januari 2009

31 Desember 2009.
Hasil
: Total 39 sampel

kasus pneumotoraks
terdiri 25
pasien
laki
laki (64,10%)
dan 14
pasien
perempuan (35,90%) dengan rerata umur 49,13 tahun.
Pneumotoraks spontan primer 3
p
asien
(7,69%) PSS 35
pasien
(89,75%) dan 1
pasien
pneumotoraks artifisial (2,56%). Penyebab PSS
tertinggi
tuberkulosis 18
pasien
(46,15%), keganasan 13
pasien
(33,33%), Pneumonia 3
pasien
(7,69%),
PPOK 1
pasien
(2,56%).
Tuberkulosis paru aktif terdapat 15
pasien
(83,3%)
terdiri

TB paru BTA (+) 5
pasien
(33,33%) dan TB paru BTA (
) 10
pasien
(66,67%).
Pneumotoraks paru kanan 25
pasien
(64,11%) paru kiri 13
pasien
(33,33%) dan 1
pasien
(2,56%) pneumotoraks bilateral.
Pengembangan paru
sempurna
terdapat
20
pas
ien
(51,28%)
mengembang
sebagian 19
pasien
(48,72%).
Kesimpulan
: Tuberkulosis paru di RSDM sebagai penyebab tertinggi
kasus
pne
umotoraks
. Hal ini terjadi akibat Indonesia
adalah

negara dengan kasus TB
tertinggi ketiga di dunia.
Kata kunci
: Pneumotoraks,
tuberkulosis, keganasan
Singkatan
: PSS = pneu
motoraks spontan sekunder, PPOK
= Penyakit paru
obstruktif kronik.
Pendahuluan
Pneumotoraks
adalah kondisi rongga pleura terisi udara.
1
4

Istilah
pneumotoraks dikemukakan oleh Itard pada tahun 1806
kemudian
Laenec pada
tahun 1819 menggambarkan secara klinis tentang
pneumotoraks. Sebelum obat
anti tuberkulosis ditemukan, pneumotoraks merupakan
salah satu cara
pengobatan tuberkulosis paru.
5

Pneumotoraks dapat dibagi berdasarkan atas
penyebab antara lain : pneu
motoraks spontan, pneumotoraks traumatik dan
pneumotoraks iatrogenik.
6

Pneumotoraks spontan merupakan jenis
pneumotoraks yang paling banyak ditemukan dengan
kecenderungan semakin

meningkat.
5

Pneumotoraks spontan sekunder (PSS) terjadi oleh karena
pecahnya
bleb yang berada di sub pleura viseralis dan sering
ditemukan di daerah apeks
lobus superior dan inferior. Terbentuknya bleb akibat
perembesan udara melalui
alveoli yang dindingnya ruptur kemudian melalui jaringan
intersisial ke lapisan
jaringan ikat yang
berada di sub pleura viseralis.
1,6

Sebab pecahnya dinding
alveolus ini belum diketahui dengan pasti, diduga ada dua
faktor yaitu penyakit
paru dan peningkatan tekanan intraalveolar akibat batuk.
7

Komplikasi penyakit
paru seperti pneumonia, abses paru, tub
erkulosis paru, asma, PPOK, keganasan
paru dan penyakit interstisial paru dapat mengakibatkan
pneumotoraks.
6

Faktor keganasan sebagai penyebab pneumotoraks adalah
melalui
mekanisme invasi tumor, nekrosis tumor, efek mekanis,
infeksi dan
instrumentasi.
8

Is
tilah
pneumothorax ex vacuo
dikenal karena terjadi akibat

evakuasi cairan efusi pleura sehingga terjadi kolap lobus
akut akibat obstruksi
bronkhial akut dan bukan sebagai pneumotoraks artifisial.
9

Metode
Sumber data diperoleh
dari catatan medis dan resum
e perawatan sejak 1
Januari 2009

31 Desember 2009. Merupakan suatu penelitian deskriptif
retrospektif. Diagnosis pneumotoraks berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan radiologis menggunakan foto toraks.
Gambaran avaskuler dan
pleural line
pada foto toraks mendukung diagnosis pneumotoraks. Foto
toraks
dibaca oleh ahli radiologi yang berpengalaman. Penyakit
dasar penyebab
pneumotoraks seperti: tuberkulosis, keganasan paru,
penyakit paru obstruktif
kronik (PPOK), pneumonia dan penyakit lain d
itentukan oleh ahli paru
berdasarkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
Hasil
Kasus pneumotoraks 39 kasus terdiri 25
pasien
laki
laki (64,10%), 14

pasien
perempuan (35,90%) dengan rerata umur 4
9,13 tahun
(tabel 1)
.
Berdasar
kan at
as
penyebab pneumotoraks,
dibedakan menjadi
pneumotoraks
spontan primer (PSP) 3
pasien
(7,69%) pneumotoraks spontan sekunder (PSS)
35
pasien
(89,75%) pneumotoraks artifisial 1
pasien
(2,56%) dan tidak ada kasus
pneumotoraks
traumatik
.
Tabel 1
. Distribusi
kasus pneumotoraks berdasarkan usia
Usia (tahun)
Laki
laki
Perempuan
≤15
〠┩

ㄠ㔶

(特)
ㄠ㔶
(一)ᆭ
(財)

㔶㄰(財)
〠┩


㌠㘹
ㄠ㔶


㔶ᆭ㌸
㔶ᆭ㔶


㔶ᆭ㌸
㌠㘹

㔶ᆭ㔶
〠┩
㔶浬
(名)㔶㄰
ᆭ㌵㔶
敲慴愠慨畮
㔶(労)
㐵(代)
Penyebab 35 kasus PSS mulai dari yang paling besar
adalah tuberkulosis
18

pasien
(46,15%), keganasan 13
pasien
(33,33%), pneumonia 3
pasien
(7,69%), PPOK 1
pasien
(2,56%). Tuberkulosis paru aktif ter
dapat 15
pasien
(83,3%) TB paru BTA (+) 5
pasien
(33,33%) dan TB paru BTA (
) 10
pasien
(66,67%). Tabel 2
menunjukan berbagai penyebab PSS. Letak lesi dari 39
kasus
pneumotoraks lebih banyak pada paru kanan 25
pasien
(64,11%) dibandingkan
dengan paru kiri
13
pasien
(33,33%) dan 1
pasien
(2,56%) pneumotoraks
bilateral. Pada laki
laki prosentase pneumotoraks kanan 62,5% sedangkan
pada

perempuan prosentase pneumotoraks kanan sama
besarnya yaitu 66,67%.
Prosentase pneumotoraks kiri 33,33% dan pneumotoraks bil
at
eral 2,56%
.
Tabel.
2
Penyebab pneumotoraks spontan sekunder
Penyebab
Jumlah
Prosentase
Tuberkulosis
18
51,43%
Aktif
15
42,86%
BTA(+)
5
14,29%
BTA (
)
10
28,57%
Bekas TB
3
8,57%
Keganasan
13
37,14%

Ca Paru
4
11,43%
Tumor Mediastinum
1
2,86%
Metas
tasis di paru
1
2,86%
Belum terdiagnosis
7
20,0%
Pneumonia
3
8,57%
PPOK
1
2,86%
Jumlah
35
100%
Pengembangan paru dari 39 kasus pneumotoraks setelah
pemasangan
sistem
water seal drainage
(WSD) dari 38 kasus pneumotoraks didapatkan paru
mengembang sem
purna 19 kasus (50%), mengembang sebagian 19 kasus
(50%) dan 1 kasus mengemban
g sempurna dengan konservatif
.

Diskusi
Pneumotoraks merupakan kegawatan paru. Angka kejadian
PSP di
Inggris laki
laki 24 per 100.000 penduduk dan perempuan 9,8
per 100.000
pend
uduk per tahun
.
1

Kasus pneumotoraks lebih sering terjadi pada laki
laki
dibandingkan perempuan. Penelitian Khan dkk
dikutip dari 6

di Pakistan kasus
pneumotoraks laki
laki 63,58% dan perempuan 36,42%, sesuai penelitian kami
dapatkan kasus pneumotoraks laki
laki 64,10% dan perempuan 35,90% dengan
rerata umur 49,13 tahun.
Penyebab pneumotoraks di negara barat paling banyak
adalah PPOK
69%, tumor 18%, Sarkoidosis 5%, tuberkulosis 2%, Infeksi
paru lain 3% serta
sisanya adalah penyakit lain.
C

Sedangkan peneliti
an di Pakistan oleh Khan
dkk

dikutip dari 6

Tuberkulosis merupakan penyebab tertinggi pneumotoraks.
Selain
itu penelitian di Jepang oleh Nakamura dkk
dikutip dari 10

menyebutkan bahwa
p
enyebab tertinggi pneumotoraks pada perempuan adalah
tuberkulosis sebesar
54%. Kasus tuberkulosis di negara barat sangat rendah
sehingga tuberkulosis
bukan sebagai penyebab tertinggi kasus pneumotoraks.
Namun di negara Asia
dan negara berkembang tuberkulosis menempati peringkat
pertama sebagai
penyebab pneumotoraks, seperti pad
a penelitian kami urutan 35 kasus PSP
mulai dari yang paling besar adalah tuberkulosis 18
(46,15%), keganasan 13
(33,33%), Pneumonia 3 (7,69%), PPOK 1 (2,56%).
Letak lesi pneomotoraks di Pakistan yang diteliti oleh Khan
dkk
dikutip dari 6

lesi kanan lebih
banyak dibandingkan lesi kiri yaitu 56,3% dibanding 43,7%.
Sesuai dengan penelitian kami dari 39 kasus pneumotoraks
lebih banyak pada
paru kanan 26 kasus (66,67%) dibandingkan dengan paru
kiri 13 kasus
(33,33%).
.
Pada laki
-

laki maupun perempuan prosentase
pneumotoraks kanan
sama besarnya yaitu 66,67%.
Lesi lebih banyak di paru kanan kemungkinan
berkaitan dengan
bentuk
anatomis bronkus kanan yang lebih besar dan tegak
d
i
bandigkan dengan bronkus kiri
.
Pengembangan paru dari 39 kasus
pneumotoraks setelah pem
asangan sistem
water seal drainage
(WSD) dari 38
kasus pneumotoraks didapatkan paru mengembang
sempurna 19 kasus (50%),
mengembang sebagian 19 kasus (50%) dan 1 kasus
mengembang sempurna
dengan konservatif
.
Jumlah kasus pneumotoraks yang tidak mengembang
setelah tindakan WSD masih cukup besar disebabkan oleh
terjadinya penebalan
pleura viceralis dan tindakan yang belum optimal akibat
banyak pasien yang
pulang paksa dengan alasan biaya.
Kesimpulan
Tuberkulosis paru sebagai penyebab PSS yang tersering.
Ha
l tersebut

mencerminkan
insidensi dan
p
revalensi
TB paru masih cukup tinggi, karena
pneumotoraks merupakan salah satu komplikasi dari t
uberkulosis paru. Sehingga
menjadi perhatian bersama
untuk dilakukan pencegahan dan
pengobatan TB
yang tuntas di negara
berkembang seperti Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Light RW, Lee YCG. Pneumothorax, Chylothorax,
Hemothorax and
Fibrothorax.
In: Murray and Nadel’s Textbook of Respiratory Medicine.
Editors: Mason RJ, Broaddus VC, Murray JF, Nadel JA. 4
th

Eds.
Pennsylvania. Els
evier Saunders 2005. p. 1961
82
2.
Gupta D, Hansell A, Nichols T, Duong T, Ayres JG, Strachan
D.
Epidemiology of pneumothorax in England. Thorax 2000;
55: 666

71

3.
Weissberg D, Refaely Y. Pneumothorax experience with
1,199 patients.
Chest 2000; 117;1279
85
4.
Tsc
hopp JM, Porta RR, Noppen M, Astoul P. Management of
spontaneous pneumothorax: State of the art. Eur Respir J
2006; 28:
637

50
5.
Sahn SA, Heffner JE. Spontaneous pneumothorax. NEJM
2000; 342(12):
868
74
6.
Khan N, Jadoon H, Zaman M, Subhani A, Khan AR, Ihsanull
ah M.
Frequency and management outcome of pneumothorax
patients. J Ayub
Med Coll Abbottabad 2009; 21(1): 122
4
7.
Alsagaff H, Mukti A. Dasar
Dasar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga

University Press.edisi 2. Surabaya: 2002.
8.
Srinivas1 S, Varadhachary G.
Spontaneous
pneumothorax in
malignancy: A case report and review of the literature.
Annals of
Oncology 2000; 11: 887
9
9.
Woodring JH, Baker MD, Stark P. Pneumothorax ex vacuo.
Chest 1996;
110: 1102
5
10.
Nakamura H, Konishiike J, Sugamura A, Takeno Y.
Epidemiology of
spont
aneous pneumothorax in women. Chest 1986; 89; 378
82

SEORANG PENDERITA PNEUMOTORAKS
SPONTAN SEKUNDER KIRI
DENGAN SINGLE FISTEL BRONKOPLEURA
Nurjannah Lihawa*, Isnu Pradjoko**
* PPDS I IP Paru FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya.
** Staf Bag/SMF IP Paru FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya.

Pendahuluan
Pneumotoraks adalah adanya udara di dalam

rongga pleura (yaitu ruang antara dinding dada dan paruparu)
1

. Pneumothoraks spontan terbagi atas
pneumothoraks primer dan sekunder. Pneumothoraks
spontan primer dapat muncul pada individu sehat
sedangkan pneumothoraks spontan sekunder muncul
sebagai akibat komplikasi dari penyakit dasar.
1,2

Pada
penelitian terkini dari 505 pasien di Israel dengan
pneumothoraks spontan sekunder didapatkan penyebab
terbanyak adalah PPOK 348, tumor 93, sarkoidosis 26,
tuberkulosis 9, penyakit infeksi paru lainya 16, dan lainlain 13 orang.
1

Data di RSU dr.Soetomo tahun 20002004 menyebutkan terdapat 392 orang pasien
pneumotoraks spontan sekunder yang dirawat di bangsal
paru, dan pasien dengan penyakit dasar Tuberkulosis
paru sebanyak 304 orang (76%)
3

.
Fistel bronkopleura adalah keadaan dimana terjadi
hubungan antara rongga pleura dan bronkus, hal ini
merupakan hal yang relatif jarang terjadi tetapi
membawa dampak terhadap tingginya morbiditas dan
mortalitas serta berhubungan dengan lamanya perawatan
di rumah sakit.
4

Berikut ini akan dilaporkan kasus seorang pasien dengan
pneumotoraks spontan sekunder kiri dengan kelainan
dasar penyakit TB paru dan adanya single fistel pada
paru kiri serta diabetes mellitus.
Kasus
Seorang laki-laki, Tn.HK, umur 41 tahun, suku

Jawa, beragama Kristen, pendidikan terakhir tamatan
SMA, pekerjaan pegawai swasta (Valas), beralamat di
Jl.Gubeng Kertajaya, Surabaya. Datang ke IRD
RS.Dr.Soetomo dengan keluhan utama sesak napas.
sesak napas secara tiba-tiba sejak 2 hari yang lalu,
sebelumnya penderita mengaku batuk-batuk keras,
keluhan sesak ini semakin lama semakin memberat.
batuk pada pasien ini sudah sejak 2 bulan sebelumnya
dengan dahak warna putih. Pasien juga mengeluhkan
adanya sumer-sumer sejak 3 hari, terdapat penurunan
nafsu makan sejak mulai batuk dan penurunan berat
badan, serta keringat malam. Tidak didapatkan riwayat
sakit paru, hipertensi dan diabetes mellitus.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan penderita tampak
sesak,
kesadaran compos mentis, dengan tekanan darah
120/90 mmHg, nadi 100 kali/menit, pernapasan 28
kali/menit, suhu aksiller 37
O

C.
Pada pemeriksaan kepala
dan leher didapatkan
tidak didapatkan kelainan.
Pada
pemeriksaan paru bentuk dada asimetris dengan gerakan
dinding dada kiri tertinggal, pada
perkusi
didapatkan
hipersonor pada daerah paru sebelah kiri,
auskultasi
didapatkan vesikuler menurun pada seluruh lapangan
paru kiri tanpa adanya ronki maupun
wheezing.
Pada
pemeriksaan

abdomen
dan
ekstremitas
tidak didapatkan
kelainan.
Pemeriksaan laboratorium Hb : 12.5 g/dL ; Lekosit
9350/uL ; Granulosit 84% ; trombosit 201000 /uL ; Gula
darah acak 223 mg/dL ; BUN 7 mg/dL ; Kreatinin 0.6
mg/dL ; SGOT 45 IU/L ; SGPT 30 IU/L ; Albumin 2.4
g/dL ; Na 132 mmol/L ; K 3.3 mmol/L ; Cl 102.5
mmol/L ;
BGA (tanpa Oksigen) : pH 7.47 ; pCO
2

29 ; pO
2

76 ;
HCO
3

21.1 ; BE -2.6 ; SO
2

96%
Pada foto toraks didapatkan tampak area luscen dan
terlihat adanya gambaran kolaps line pada hemitoraks
kiri yang mengesankan adanya suatu pneumotoraks di
paru kiri.
Penderita didiagnosa kerja sebagai pneumotoraks
spontan sekunder kiri e.c. tuberkulosis paru,
hiperglikemia dan hipoalbuminemia dan mendapatkan
terapi oksigen masker 10lpm dan dilakukan pemasangan
toraks drain, Oral Anti Tuberkulosis kategori 1 mulai
diberikan dan dilakukan regulasi dengan actrapid 3 x 4
IU sub kutan 15 menit sebelum makan.
Perkembangan penderita :
Hari ke-2
Foto toraks PA dan Lat S ( setelah pemasangan toraks
drain) :

Masih terlihat bayangan luscen pada paru kiri dengan
kolaps line, dan terlihat selang dada dengan ujung distal
setinggi costa IV kiri posterior dan pada foto lateral
terlihat kinky.
Hari ke-3 - 6
Sesak berkurang, Batuk keras (+), nyeri pada toraks
drain (+), TD 140/90 mmHg ; N 92 kali/menit ; RR : 24
kali/menit ; t ax : 36.7 OC
Hipersonor dan suara napas menurun pada paru kiri,
pada hari ke-2 post pemasangan toraks drain, setelah
direposisi, WSD disambungkan ke continuous suction 20cmH2O.
Foto toraks PA dan Lat S (post reposisi) 13 Februari
2010 :