You are on page 1of 19

Hardiansya Hamdan

Denizar Kemala
Hidayatul Waaqiah
Kartika Nursyahbani

Perbedaan Pendapat
Golongan Tua dan
Golongan muda

Berita tentang kekalahan Jepang diketahui oleh sebagian
golongan muda melalui radio siaran luar negeri. Pada malam
harinya, Sultan Syahrir menyampaikan berita itu kepada Moh.
Hatta. Syahrir juga menanyakan mengenai kemerdekaan
Indonesia sehubungan dengan peristiwa tersebut. Moh. Hatta
berjanji akan menanyakan hal itu kepada Gunseikanbu.
Setelah yakin bahwa Jepang telah menyerah kepada sekutu,
Moh. Hatta mengambil keputusan untuk segera mengundang
anggota PPKI.
Selanjutnya golongan muda mengadakan rapat di salah satu
ruangan Lembaga Bakteriologi di Jalan Pegangsaan Timur,
Jakarta. Rapat dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 1945,
pukul 20:30 waktu Jawa. Rapat yang dipimpin oleh Chaerul
Saleh itu menghasilkan keputusan “kemerdekaan Indonesia
adalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri, tak dapat
digantungkan pada orang dan negara lain. segala ikatan dan
hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang harus
diputuskan dan sebaliknya diadakan perundingan dengan
golongan muda agar mereka diikutsertakan dalam

Golongan muda yang diwakili oleh Chairul Saleh, Wikana,
Sukarni, Hanafi, dll, bertekad untuk dipercepatnya
pembacaan Proklamasi oleh Bung Karno.
Proklamasi, ternyata didahului oleh perdebatan hebat antara
golongan pemuda dengan golongan tua. Baik golongan tua
maupun golongan muda, sesungguhnya sama-sama
menginginkan secepatnya dilakukan Proklamasi
Kemerdekaan dalam suasana kekosongan kekuasaan dari
tangan pemerintah Jepang. Hanya saja, mengenai cara
melaksanakan proklamasi itu terdapat perbedaan pendapat.
Golongan tua, sesuai dengan perhitungan politiknya,
berpendapat bahwa Indonesia dapat merdeka tanpa
pertumpahan darah, jika tetap bekerjasama dengan Jepang.
               

Karena itu, untuk memproklamasikan kemerdekaan,
diperlukan suatu revolusi yang terorganisir. Soekarno dan
Hatta, dua tokoh golongan tua, bermaksud membicarakan
pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan dalam rapat Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( PPKI ). Dengan cara
itu, pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan tidak
menyimpang dari ketentuan pemerintah Jepang. Sikap
inilah yang tidak disetujui oleh golongan pemuda. Mereka
menganggap, bahwa PPKI adalah badan buatan Jepang.
Sebaliknya, golongan pemuda menghendaki terlaksananya
Proklamasi Kemerdekaan itu, dengan kekuatan sendiri.
Lepas sama sekali dari campur tangan pemerintah Jepang.
Perbedaan pendapat ini, mengakibatkan penekananpenekanan golongan pemuda kepada golongan tua yang
mendorong mereka melakukan “aksi penculikan” terhadap
diri Soekarno-Hatta .

Perbedaan pendapat tersebut sebagai berikut:
a.     Golongan Muda
·        Menghendaki Proklamasi Kemerdakaan Indonesia
diselenggarakan secepatnya tanggal 16 Agustus 1945
·        Menghendaki Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
terlepas dari pengaruh Jepang
·        Menganggap PPKI  buatan Jepang
·        Menganggap golongan tua sangat lamban
b.     Golongan Tua
·        Menghendaki cepat atau lambat Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia tidak penting, tetapi pada
dasarnaya Proklamasi harus disiapkan secara matang
·        Menghendaki Indonesia dapat merdeka tanpa
pertumpahan darah
·        Menghendaki proses Proklamasi Kemerdekaan
melalui rapat PPKI
·        Golongan tua lebih bersikap hati - hati

Peristiwa
Rengasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa penculikan yang
dilakukan oleh sejumlah pemuda antara
lain Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh dari perkumpulan
"Menteng 31" terhadap Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini
terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00. WIB,
Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang,
untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi
kemerdekaan Republik Indonesia,sampai dengan terjadinya
kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan
Hatta serta Mr. Achmad Subardjo dengan golongan muda
tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan terutama setelah
Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Pasifik.

Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak
berubah pendirian. Sementara itu di Jakarta, Chairul dan kawankawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi
apa yang telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak
semua anggota PETA mendukung rencana tersebut.
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan
dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Jumat, 17
Agustus 1945 di lapangan IKADA(yang sekarang telah menjadi
lapangan Monas) atau di rumah Bung Karno di Jl.Pegangsaan Timur
56. Dipilih rumah Bung Karno karena di lapangan IKADA sudah
tersebar bahwa ada sebuah acara yang akan diselenggarakan,
sehingga tentara-tentara jepang sudah berjaga-jaga, untuk
menghindari kericuhan, antara penonton-penonton saat terjadi
pembacaan teks proklamasi, dipilihlah rumah Soekarno di jalan
Pegangsaan Timur No.56. Teks Proklamasi disusun di
Rengasdengklok, di rumah seorang

Tionghoa, Djiaw Kie Siong. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan
para pejuang di Rengasdengklok pada Kamis tanggal 16 Agustus,
sebagai persiapan untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim
untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta.
Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Wikana dan
Mr.Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke
Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno,
Hatta, Fatmawati dan Guntur. Achmad Soebardjo mengundang Bung
Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi
di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam
rombongan tersebut sampai di Jakarta.
Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan
proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi Kemerdekaan
Indonesia

Perumusan Teks
Proklamasi

Perumusan teks proklamasi dilakukan di rumah Laksamana
Tadashi Maeda, seorang perwira Angkatan Laut Jepang. Ada dua
alasan yang menyebabkan perumusan teks proklamasi dilaukan
di rumah Maeda.
Laksamana Maeda mendukung perjuangan Bangsa Indonesia
Faktor Keamanan : Hak prerogatif  kekuasaan wilayah militer
angkatan laut yang tidak dapat diganggu gugat oleh angkatan
Darat.
Dalam proses penyusunan naskah proklamasi, ada tiga tokoh
yang terlibat yaitu
•Ir. Soekarno
•Mohammad Hatta
•Ahmad Subardjo

Ketiga tokoh bermusyawarah tentang naskah proklamasi
yang akan disusun untuk dibacakan keesokan harinya. Ada
dinamika yang berkembang dalam musyawarah itu terkait
dengan redaksi naskah/teks proklamasi yaitu :
•Ahmad Subardjo mengusulkan kalimat yang ada di alinea
pertama proklamasi yang intinya kemerdekaan Indonesia
adalah kemauan  Bangsa  Indonesia  untuk  merdeka dan
 menentukan nasib  sendiri
•Drs. Muhammad Hatta mengusulkan kalimat untuk alinea
kedua yang berkisar pada masalah pengalihan/pemindahan
kekuasaan
Oleh Sukarno, kedua usul itu kemudian dirangkai dalam
sebuah tulisan tangan yang kemudian diketik oleh Sayuti
Melik dan Bendera merah putih dijahit oleh Fatmati.

Berikut ini teks proklamasi Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik

 
Terdapat perbedaan antara teks proklamasi tulisan tangan Soekarna
dengan hasil pengetikan diantaranya adalah
Kata wakil-wakil bangsa Indonesia menjadi atas nama bangsa
Indonesia
Kata tempoh menjadi tempo
Kata Djakarta, 17-8-15 menjadi Djakarta hari 17 boelan 8 tahun 05

Berikut ini teks proklamasi asli tulisan Soekarno.

Nilai nilai kejuangan peristiwa
Rengasdengklok dan nilai
kejuangan perumusan teks
proklamasi

Nilai nilai kejuangan peristiwa Rengasdengklok

Melalui peristiwa Rengasdengklok kita dapat melihat kegigihan
para pemuda dalam meyakinkan Soekarno – Hatta untuk
mempercepat proses proklamasi tanpa harus menunggu atau
terpengaruh oleh Jepang. Dengan demikian Bangsa Indonesia
dapat segera memplokamasikan kemerdekaannya tanpa adanya
intervensi ataupun gangguan dari pihak Jepang sehingga Indonesia
bisa merdeka seutuhnya melalui perjuangan yang dilakukannya
sendiri.
 
Oleh karena itu, sebagai generasi penerus bangsa, kita dapat
mencontoh kegigihan dan usaha para golongan pemuda saat itu,
dan tugas kitalah untuk melanjutkan perjuangan merekaa dengan
tetap menjaga kedaulatan serta persatuan dan kesatuan bangsa
Indonesia.

nilai kejuangan perumusan teks proklamasi
•Adanya persatuan antara golongan muda dan
golongan tua mengenai penandatanganan teks
proklamasi
•Adanya sikap saling menghargai antara golongan
muda dan golongan tua dalam proses perumusan teks
proklamasi