You are on page 1of 32

BAB I

PENDAHULUAN

Gerakan tubuh atau anggota tubuh yang tepat dan halus selalu membutuhkan
koordinasi dari berbagai organ. Suatu gerakan volunter akan melibatkan serebrum
(untuk penyusunan konsep gerakan), sistem penglihatan (untuk memberi informasi
tentang usaha yang harus dibuat dan pengarahan urutan gerakan), sistem motorik
(sebagai pelaksana), sistem sensorik (sebagai monitor), dan serebellum (sebagai
pengawas, pengatur dan pengarah informasi).1
Serebellum melakukan pengaturan kerja otot, sehingga terjadi kontraksi otot
yang tepat pada saat yang tepat. Hal ini terutama penting pada gerakan involunter
sehingga lesi serebellum menyebabkan gangguan fungsi otot tanpa paralysis volunter.
Secara umum dapat dikatakan fungsi serebellum adalah untuk memelihara
keseimbangan dan koordinasi aksi otot pada gerakan stereotype dan non stereotype.1
Koordinasi meliputi semua aspek dari gerak termasuk keseimbangan, yang
memungkinkan gerakan terjadi dengan bebas, bertujuan, akurat, dengan kecepatan,
irama dan ketegangan otot yang terarah/terkontrol. Keseimbangan juga bisa diartikan
sebagai kemampuan relatif untuk mengontrol pusat massa tubuh (center of mass)
atau pusat gravitasi (center of gravity) terhadap bidang tumpu (base of support)1
Keseimbangan

merupakan

suatu

proses

dimana

tubuh

berusaha

mempertahankan posisinya saat melakukan berbagai kegiatan (Kreighbaum, 1985).
Menurut Ghez (1991) keseimbangan dikatakan sebagai “satu keluarga penyesuaian”
yang bertujuan untuk mempertahankan kepala dan tubuh terhadap gravitasi dan
kekuatan dari luar lainnya, mempertahankan tegak dan seimbangnya pusat massa
tubuh (center of body’s mass) terhadap bidang tumpu, menstabilkan bagian tubuh
tertentu sementara bagian tubuh yang lain bergerak
·

Keseimbangan merupakan interaksi yang kompleks dari integrasi/interaksi

sistem sensorik (vestibular, visual, dan somatosensorik termasuk proprioceptor) dan

1

muskuloskeletal (otot, sendi, dan jar lunak lain) yang dimodifikasi/diatur dalam otak
(kontrol motorik, sensorik, basal ganglia, cerebellum, area asosiasi) sebagai respon
terhadap perubahan kondisi internal dan eksternal.2

2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi permukaan
Serebelum terletak di fossa posterior. Permukaan superiornya diselubungi
oleh tentorium serebelli, suatu lipatan ganda duramater yang menyerupai tenda yang
memisahkan serebelum dan serebrum. Permukaan serebelum, tidak seperti serebrum,
menunjukkan banyak lekukan kecil yang berjalan horizontal (folia), yang satu sama
lain dipisahkan oleh fisura. Bagian sentral serebelum yang sempit yang
menghubungkan kedua hemisfer masing-masing sisi disebut vermis karena bentuknya
menyerupai cacing. 2
Secara anatomis, serebelum tersusun dari dua hemisfer dan vermis yang
terletak di antaranya. Serebelum terhubung dengan batang otak melalui tiga
pedunkulus serebri. Potongan anatomis menunjukkan korteks serebeli dan substansia
alba yang berada di bawahnya, tempat nuklei serebeli profundi tertanam. 2

3

Subdivisi vermis serebeli dan hemisfer serebeli masing-masing diberikan nama sesuai penamaan anatomi kuno . meskipun struktur tersebut memiliki sedikit 4 .

dan dengan demikian disebut juga spinoserebelum.  Serebelum tidak penting pada sebagian besar proses kognitif tetapi memiliki peran utama pada pembelajaran dan memori motorik. arkhiserebelum terdiri dari flokulus dan nodulusn(lobus flokulonodularis) Paleoserebelum ( bagian serebelum tertua kedua) menerima sebagian besar input aferen dari medula spinalis. lebih umum untuk membedakan tiga komponen utama serebelum berdasarkan filogenetik dan fungsional. serta uvula dan piramis lobus inferior dan paraflokulus. tetapi tidak berperan serta sedikitpun dalam persepsi ataupun diskriminasi sadar. Saat ini. neoserebelum disebut juga pontoserebelum atau serebroserebelum. Dengan demikian. Secara anatomis. Struktur ini terdiri dari kulmen dan lobulus sentralis lobi anterior vermis.2 Serebelum berfungsi sebagai pusat koordinasi yang mempertahankan keseimbangan dan mengontrol tonus otot melalui sirkuit regulasi dan mekanisme 5 . yang berpoyeksi ke struktur ini melalui nuklei pontis. Neoserebelum (bagian serebelum termuda) merupakan bagian terbesar serebelum. Struktur ini terbentuk dari dua hemisfer serebeli dan memiliki hubungan fungsional yang erat dengan korteks serebri. Struktur ini menerima sebagian besar input aferen dari nuklei vestibulares di batang otak dan dengan demikian disebut juga vestibuloserebelum.  Meskipun serebelum mempengaruhi fungsi motorik.2 Arkhiserebelum ( bagian serebelum tertua) berhubungan erat dengan aparatus vestibularis. lesi serebelum tidak menimbulkann paralisis.makna fungsional dan biasanya tidak berhubungan secara klinis. 2.2 Fungsi Serebelum dan Lesi Serebelum Tiga hal penting yang harus diingat untuk memahami fungsi serebelum:  Serebelum menerima sangat banyak input sensorik umum dan khusus.

2.3 Lesi vestibuloserebelum. 3 a. Gangguan funsional lobus flokulonodularis atau nukleus fastigii menyebabkan pasien kurang dapat menempatkan dirinya pada lapangan gravitasi bumi atau tidak dapat memfiksasi tatapannya pada objek yang diam saat kepalanya bergerak. Korteks vestibuloserebelaris menghantarkan impuls kembali ke nuklei vestibulares serta ke formasio retikulares. Gangguan okulomotor.umpan balik yang kompleks dan memastikan eksekusi semua proses motorik terarah yang tepat dan terkoordnasi dengan baik secara sementara. Melalui tempat ini. gaya berjalan dan posisi mata dan memungkinkan fiksasi tatapan. nistagmus. Ketidakseimbangan bukan disebabkan oleh defisiensi impuls proprioseptif mencapai kesadaran. Disekuilibrium. Lengkung refleks berikut ini berpartisipasi dalam mempertahankan ekuilibrium (keseimbangan). Dari organ vestibular. vestibuloserebelum fungsi.2. Output eferennya mempengaruhi fungsi motorik mata dan tubuh sedemikian rupa sehingga ekuilibrium dapat dipertahankan pada semua posisi dan semua gerakan. Lengkung refleks ini memastikan stabilisasi postur. Hasilnya 6 . Vestibuloserebelum menerima impuls dari aparatus vestibularis yang membawa informasi mengenai posisi dan gerakan kepala. tetapi akibat koordinasi respons otot-otot terhadap gravitasi yang salah. dan gaya berjalan pasien lebar-lebar dan tidak stabil.3 Hubungan sinaptik. Pasien mengalami kesulitan berdiri tegak (astasia) dan berjalan (abasia). traktus vestibulospinalis dan traktus retikulospinalis serta fasikulus longitudinalis medialis memasuki batang otak dan medula spinalis untuk mengontrol fungsi motorik spinal dan okulomotor. menyerupai gaya berjalan orang yang sedang mabuk (ataksia trunkal). Heel-to-toe walking tidak dapat dilakukan. Gangguan serebelar fungsi okulomotor bermanifestasi sebagai gangguan kemampuanmempertahankan tatapan seseorang terhadap objek yang diam atau bergerak (lesi flokulus dan paraflokulus). impuls berjalan baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui nuklei vestibulares) ke korteks vestibuloserebelaris dan menuju nuklei fastigii.

Spinoserebelum mengontrol tonus otot dan mengoordinasi kerja kelompokkelompok otot antagonistik yang berpartisipasi pada postur dan gaya berjalan. tetapi pasien dengan lesi vestibuloserebelaris tidak dapat melakukannya (gangguan supresi POR melalui fiksasi) selain itu.3 Lesi vestibuloserebelum dapat mengganggu kemampuan pasien untuk menekan refleks vestibulokuler (POR) yaitu berupa sentakan sakadik mata ketika menolehkan kepala. yang lokalisasi secara tepatnya belum dapat dtentukan. Individu yang sehat dapat menekan reflek ini dengan mempertahankan tatapannya pada sebuah objek.3 Lesi serebelum juga dapat menimbulkan berbagai jenis nistagmus komplek.adalah gerakan pursuit sakadik dan gaze evoked nystagmus.2. traktus spinoserebelaris anterior dan traktus kuneoserebelaris (dari nukleus kuneatus asesorius). akan terjadi sentakan gelombang kuadrat (square wave jerks) yaitu amplitudo mikro sakadik yang normalnya terjadi pada pursuit okuler. jika pasien mencoba untuk mengikuti objek yang bergerak dengan matanya. secara abnormal meningkat sehingga dapat terlihat oleh pemeriksa. Jika mata kemudian diarahkan kembali ke garis tengah dapat terlihat nistagmus dengan arah yang berlawanan (rebound nystagmus)2. Korteks zona paravermis terutama berproyeksi ke nukleus globosus dan nukleus emboliformis. Gaze evoked nystagmus lebih jelas ketika mata bergerak ke arah sisi lesi serebelum dan menghilang juka pandangan dipertahankan ke sisi tersebut. Hubungan . korteks spinoserebelum menerima input aferennya dari medula spinalis melalui traktus spinoserebelaris posterior. lesi nodulus dan ovula mengganggu kemampuan POR (nistagmus rotatorik) untuk berhabituasi dan dapat menimbulakn terlihatnya nistagmus alternan periodik yang berubah arah setiap 2-4menit. seperti opsoklonus (gerakan konjugat mata dengan cepat ke berbagai bidang) atau flutter okuler (opsoklonus hanya pada bidang horizontal saja). sedangkan korteks vermian terutama berproyeksi ke nukleus fastigii. Spinoserebelum Fungsi. Output eferen nuklei ini kemudian melanjutkan melalui pedunkulus serebelaris superior ke nukleus ruber dan 7 .

Pasien mengalami kesulitan untuk berdiri atau duduk dengan stabil dan pada tes romberg .2. tetapi menimbulkan kerusakan berat pada eksekusi gerakan volunter. bergoyang secara perlahan ke belakang dan ke depan tanpa kecenderungan ke arah tertentu. Melalui jaras spinoserebelaris aferen yang menghantarkan dengan sangat cepat. Lesi yang terjadi pada serebroserebelum tidak menimbulkan paralisis . Ataksia stance terlihat dengan tes romberg.4 Serebroserebelum Fungsi . disinergia. Dekomposisi gerakan volunter. Masing-masing setengah bagian tubuh dipersarafi oleh korteks serebeli ipsilateral. Ataksia gait yang ditimbulkan lebih berat dibandingkan ataksia stance.3 Lesi serebroserebelum. traktus rubroretikularis dan traktus retikulospinalis ke neuron motorik spinal. Dengan demikian ia dapat memperbaiki setiap kesalahan dalam perjalanan gerakan volunter untuk memastikan bahwa gerakan tersebut dilakukan secara halus dan tepat. Manifestasi klinis selalu ipsilateral terhadap lesi penyebabnya.4 Lesi bagian inferior vermis menyebabkan ataksia stance yang lebih berat dibandingkan ataksia gait.3 Lesi spinoserebelum. tetapi tidak ada susunan somatotropik yang tepat.formasio retikularis. Terjadi gerakan ekstremitas ataksik dan tidak terkoordinasi. dengan dismetria. Pasien yang menderita gangguan ini menunjukkan cara berjalan yang lebarlebar dan tidak stabil yang berdeviasi ke sisi lesi dan terdapat kecenderungan untuk jatuh ke sisi tersebut. hubungan serebroserebelum yang kompleks memungkinkan struktur ini untuk meregulasi semua gerakan terarah secara halus dan tepat. Manifestasi utama lesi zona vermis serebeli dan paravermis serebeli adalah sebagai berikut: Lesi lobus anterior dan superior vermis menimbulkan ataksia cara berdiri (stance) dan gaya berjalan (gait). 2. tempat impuls yang telah dimodulasi dihantarkan melalui traktus rubrospinalis . disdiakokinesis dan tremor saat 8 . serebroserebelum secara terus menerus menerima informasi terbaru mengenai aktivitas motorik di perifer.

Hipotonia dan hiporefleksia . pada lesi akut hemisfer serebeli .3 Disinergia yaitu hilangnya kerjasama yang tepat pada beberapa kelompok otot dalam eksekusi gerakan tertentu . Pasien berbicara pelan dan terputus-putus dengan artikulasi yang buruk dan dengan penekanan yang abnormal dan datar pada setiap suku kata. gerakan pasien tidak dapat dihentikan seperti pada keadaaan normal dan lengannya akan terayun memukul pemeriksa. Abnormalitas ini lebih jelas pada ekstremitas atas dibandingkan ekstremitas bawah.melakukan gerakan volunter (intention tremor). gerakan seperti pronasi dan supinasi tangan secara cepat menjadi lambat.2. Dismetria yaitu ketidakmampuan untuk menghentikan gerakan terarah tepat pada waktunya. dan gerakan kompleks lebih berat dbandingkan gerakan sederhana. masing-masing kelompok otot berkontraksi tetapi tidak dapat bekerjasama secara tepat. misalnya gerakan jari melewati lokasi target. resistensi otot terhadap gerakan pasif menghilang dan dapat terjadi postur yang abnormal (misalnya pada tangan). Manifestasi ini terutama timbul sebagai akibat lesi paravermis dan menggambarkan gangguan sinergi otot-otot untuk berbicara. Tumor serebelum 9 . terputus-putus dan tidak berirama. Gangguan Serebelum a. Refleks otot intrinsik juga menghilang pada otot yang hipotonik. Rebound phenomenon. Disdiakokinesia adalah gangguan gerakan bergantian secara cepat akibat kerusakan koordinasi ketepatan waktu beberapa kelompok otot antagonistik. Ketika pasien menekan tangan pemeriksa dengn kekuatan maksimum dan pemeriksa tiba-tiba menarik tangannya. Disartria dan disartrofonia patah-patah (scanning).

Sering diketahui diderita anak-anak saat terjadinya sumbatan aliran cairan serebro spinal atau yang disebut hidrosefalus. Hemangioblastoma Hemangioblastoma merupakan tumor pembuluh darah yang berkista. Di samping medulla spinalis. Hampir selalu tumbuh di pertengahan lokasi cerebellum atau di belakang medulla oblongata. bahkan MRI dapat ditemukan gambaran lesi kistik dengan modul di sekitarnya. Insiden 25 persen-35 persen dari kanker otak pada anak. a. Cerebellarastroytoma Tumor yang berasal dari sel-sel otak yang bernama astrocyt. Terletak di fossa posterior atau di cerebellum. Gejala tergantung dari besar dan lokasi tumbuhnya tumor. Gejala dan tanda hampir menyerupai gejala dan tanda pada tumor medulloblastoma atau ependymoma ventrikel IV. Epedimoma Sel-selnya berasal dari ependim yang menutupi dinding ventrikel. maka predileksi tumor ini di serebellum. d. Lokasinya selalu di sekitar ventrikulus dan kanalis sentralis. ataxia. Kista-kista itu berisi cairan yang santokrom. c. bahkan gangguan kesadaran. dan nystagmus.Berikut ini adalah beberapa tumor yang berasal dari cerebelum dan dapat mengenai cerebellum. Penyebab medulloblastoma masih belum diketahui. Tumor ini juga 10 . Bila tumor ini disertai dengan hemangioblastoma di retina disebut sebagai von Hippel-Lindau. gait. Medulloblastoma/Primitive Neuroectodemaltumor (PNET) Tumor jenis ini sangat umum terjadi pada tumor otak anak-anak. Hal ini mengakibatkan sakit kepala. b. Pada pemeriksaan imaging CT Scan atau MRI tampak lesi berbatas tegas yang enhance dengan pemberian kontras di lokasi cerebellum. gangguan penglihatan. Dengan pemeriksaan CT scan. Terdapatnya gangguan koordinasi.

invasi. Peningkatan tekanan intrakranial dapat disebabkan oleh beberapa faktor : bertambahnya massa dalam tengkorak. dan arteri serebeli inferior posterior. 2. b. dan perubahan sirkulasi cairan serebrospinal. dan mata (untuk memonitor perubahan posisi tubuh). Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanifestasi sebagai hilangnya fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan serebrovaskuler primer. filum terminale di tempat ini ia terbungkus rapi. terutama di hemisfer serebeli menyebabkan manifestasi fokal yang meliputi ataksia ekstremitas. arteri serebeli anterior inferior. Perubahan suplai darah terjadi akibat tekanan tumor yang bertumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. kecenderungan terjatuh ke sisi lesi dan deviasi gaya jalan ke arah lesi. terbentuknya edema sekitar tumor. Tumor Cerebelum menyebabkan timbulnya gangguan neurologik yang progresif. Gangguan neurologis pada tumor cerebellum biasanya dianggap disebabkan oleh dua faktor yaitu gangguan fokal akibat tumor dan kenaikan tekanan intrakranial. Iskemia dan perdarahan serebelum Darah arteri mencapai serebelum melalui tiga arteri serebelaris : arteri serebeli superior.dapat mengenai medulla spinalis (60 %). Serangkaian kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuron dihubungkan dengan kompresi. sehingga mudah dikeluarkan secara operasi.3 Pemeriksaan Sistem Koordinasi dan Keseimbangan Keseimbangan merupakan suatu proses komplek yang melibatkan 3 penginderaan penting yaitu : proprioseptif (kemampuan untuk mengetahui posisi tubuh). Perdarahan yang lebih kecil. Gangguan fokal terjadi apabila terjadi penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neural. Gangguan terhadap salah satu dari ketiga 11 . sistem vestibular (kemampuan untuk mengetahui posisi kepala). dan perubahan suplai darah ke jaringan otak. Pertumbuhan tumor menyebabkan bertambahnya massa karena tumor akan mendesak tulang yang relatif tetap pada ruangan tengkorak yang kaku.

yaitu : *pemeriksaan keseimbangan5 1. Tes romberg digunakan untuk menilai propioseptif yang menggambarkan sehat tidaknya fungsi kolumna dorsalis pada medula spinalis.5 12 . ataukah ada gangguan pada serebelum. Tes Romberg Pasien yang memiliki gangguan propioseptif masih dapat mempertahankan keseimbangan menggunakan kemampuan sistem vestibular dan penglihatan. 2. Hasil romberg positif bila pasien terjatuh. Untuk melakukan tes romberg pasien diminta untuk berdiri dengan kedua tungkai rapat atau saling menempel. pasien diminta untuk menutup matanya. apakah murni karena defisit sensorik/propioseptif. Pasien ataxia dengan gangguan serebelum murni akan menghasilkan tes romberg negatif. Pada tes romberg. Hasil tes positif bila pasien kehilangan keseimbangan atau terjatuh setelah menutup mata. Pada pasien ataxia (kehilangan koordinasi motorik) tes romberg digunakan untuk menentukan penyebabnya. baik dengan mata terbuka atau mata tertutup. Untuk memeriksa gangguan keseimbangan dan koordinasi ada beberapa tes yang bisa dilakukan. Kemudian pasien disuruh untuk menutup matanya. Pasien dengan gangguan serebelum akan terjatuh atau hilang keseimbangan pada saat berdiri meskipun dengan mata terbuka. Pemeriksa harus berada di dekat pasien untuk mengawasi bila pasien tiba – tiba terjatuh. Tes Tandem Walking Tes lain yang bisa digunakan untuk menentukan gangguan koordinasi motorik adalah tes tandem walking. Pasien diminta untuk berjalan pada satu garis lurus di atas lantai dengan cara menempatkan satu tumit langsung di antara ujung jari kaki yang berlawanan.jalur tersebut akan membuat keseimbangan terganggu.

4. 3. pasien diminta untuk menyentuh ujung jari pemeriksa dan kemudian kembali menyentuh hidungnya. salah satunya adalah finger to nose test. Pertama dengan gerakan perlahan kemudian dengan gerakan cepat. baik dengan mata terbuka dan tertutup.Finger to finger test Pasien diminta mengabduksikan lengan pada bidang horisontal dan diminta untuk menggerakkan kedua ujung jari telunjuknya saling bertemu tepat di tengah – tengah bidang horisontal tersebut. Diadokokinesis Pasien diminta untuk menggerakkan kedua tangannya bergantian pronasi dan supinasi dalam posisi siku diam dengan cepat. Mula – mula dengan gerakan perlahan kemudian dengan gerakan cepat. Pemeriksaan ini dilakukan baik dengan mata terbuka maupun tertutup. lalu pasien diminta untuk menyentuh ujung hidungnya sendiri dengan ujung jari telunjuknya. Nose finger nose test Serupa dengan finger to nose test tetapi setelah pasien menyentuh hidungnya. duduk atau berdiri. Diawali pasien mengabduksikan lengan serta posisi ekstensi total. 13 .*Pemeriksaan koordinasi:5 1. Untuk menguji adanya suatu dismetria bisa dilakukan beberapa pemeriksaan. gerakan pasien akan melambat atau menjadi kikuk. Jari pemeriksa dapat diubah baik dalam jarak maupun dalam bidang gerakan. dengan mata ditutup dan dibuka. Pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan pasien dalam kondisi berbaring. 2. Pada pasien dengan gangguan serebelum atau lobus frontalis. Dismetria berarti hilangnya kemampuan untuk memulai atau menghentikan suatu gerak motorik halus. Finger to nose test Gangguan pada serebelum atau saraf – saraf propioseptif dapat juga menyebabkan ataxia tipe dismetria.

Rebound tes Pasien diminta mengadduksikan bahu. kemudian pemeriksa menarik lengan bawah tersebut dan pasien diminta untuk menahannya. 6. Pasien diminta untuk menggerakkan tumit kakinya ke arah lutut kontralateral.5 14 . pemeriksa juga harus meletakkan tangan lain di depan muka pasien supaya bila pasien memang memiliki lesi di serebelum. siku diletakkan pada meja periksa/alas lain. Perlu diingat. fleksi pada siku dan supinasi lengan bawah. muka atau badan pasien tidak terpukul oleh lengan pasien sendiri.5. Heel to knee to toe test Pemeriksaan ini lebih mudah dilakukan bila pasien dalam keadaan berbaring. kemudian dengan mendadak pemeriksa melepaskan tarikan tersebut. kemudian tumit digerakkan atau didorong ke arah jari kaki kontralateral.

68 Nama : Tn.S Ko-Assisten : Hervina Restianty Hanny Febrian Ramadhan Pradana ANAMNESIS  Auto dan alloanamnesa dengan keluarga tanggal  Keluhan Utama : Gemetar seluruh tubuh  Keluhan Tambahan : Mual.STATUS NEUROLOGI No. Makassar RT 03/RW 05 no. MR : 00. lalu pada saat dirawat pasien diberikan insulin padahal pasien tidak mempunyai riwayat kencing manis. muntah dan lemas  Riwayat perjalanan penyakit : : 23 Februari 2016 Pasien datang dengan keluhan gemetaran seluruh tubuh terutama ketika duduk dan berdiri sejak 2 minggu SMRS.07. Setelah diberikan insulin tersebut gejala gemetaran mulai muncul. Pasien juga 15 . Tumpal A. M Jenis kelamin : Pria Umur : 60 tahun Pekerjaan : Pensiun Pendidikan : SMP Agama : Kristen Alamat : Kp. 154 Jakarta Timur Masuk tanggal : 23 Februari 2016 Keluar tanggal : Dokter : dr. Siagian Sp. Ketika tanggal 6 Februari pasien sempat dirawat di rumah sakit karena mual dan muntah.47.

minum alkohol  Kedudukan dalam keluarga : Suami  Lingkungan tempat tinggal : Padat  Dari lahir hingga umur 5 tahun : Berada di kampung PEMERIKSAAN UMUM Kesadaran : Compos mentis GCS : E4V5M6 Nadi : 76 x/menit Tekanan Darah : Duduk : 130/90 mmHg Terlentang : 110/70 mmHg Berdiri : 110/70 mmHg Umur klinis : 60 an Bentuk Badan : Astenikus Gizi : Kurang Stigmata : tidak ada 16 . kebiasaan : Riwayat merokok 2 tahun yang lalu. muntah dan nafsu makan menurun sejak 3 hari yang lalu. Buang air besar dan buang air kecil tidak ada keluhan. Pasien menyangkal mempunyai riwayat darah tinggi dan kencing manis.mengeluh mual. minum.  Terapi yang sudah didapat :-  Penyakit dahulu : o Riwayat darah tinggi disangkal o Riwayat kencing manis disangkal o Riwayat penyakit darah disangkal o Riwayat asam urat disangkal o Riwayat sakit jantung disangkal  Makan.

lemas. Sklera tidak ikterik Hidung : Bentuk biasa. murmur -.5° C Respirasi : 0 x/menit Turgor : baik Lain-lain :- Palpasi : kanan sama dengan kiri Auskultasi : tidak ada bising PEMERIKSAAN REGIONAL Kepala : Tidak ada kelainan Kalvarium : Tidak ada kelainan Mata : Konjungtiva tidak pucat.Kulit : Sawo matang Kuku : Sianosis tidak ada KGB : Tidak teraba membesar Pembuluh darah : Arteri Carotis: Suhu : 36. gallop – Paru-paru : BND Vesikuler. BU (+) normal Hepar : Tidak teraba membesar Lien : Tidak teraba membear Vesika urinaria : Tidak teraba Extremitas : Oedem (-) Sendi : Tidak ada kelainan Gerakan Leher : Baik Gerakan Tubuh : Baik 17 . serumen -/- Leher : Dalam batas normal Toraks : Pergerakan simetris kanan = kiri. ronki -/- Abdomen : Datar. sekret -/- Mulut : Dalam batas normal Telinga : Bentuk biasa. lapang. sonor kanan = kiri Jantung : BJ I dan II normal.

Saraf Kranial  N. Abdusen)  Sikap bola mata : simetris 18 . Rangsang Meningen  Kaku kuduk :-  Brudzinski I :-  Brudzinski II : -/-  Laseque : >70°/ >70°  Kerniq : -/- 2. Trochlearis. VI (Okolomotorius.I (Olfaktorius) Kanan Penciuman  normosmia normosmia N.Nyeri ketok : Tidak dilakukan Nyeri sumbu : Tidak dilakukan PEMERIKSAAN NEUROLOGIS 1. II (Optikus) Visus kasar Baik Baik Lihat warna Baik Baik Lapangan pandang Baik Baik Funduscopy  Kiri Tidak dilakukan N. III. IV.

ditengah. tepi. Ptosis : tidak ada  Strabismus : tidak ada  Eksoftalmus : tidak ada  Endoftalmus : tidak ada  Diplopia : tidak ada  Deviasi Konjugee : tidak ada Pergerakan Bola mata  Lateral kanan : Baik  Lateral Kiri : Baik  Atas : Baik  Bawah : Baik  Berputar : Baik Pupil  Bentuk : Bulat  Ukuran. tepi rata. 3mm/3mm Reflek cahaya Kiri  Langsung : + +  Konsensual : + + : + + Reflek akomodasi  Kanan N. letak dan ukuran : Isokor. V (Trigeminus) Motorik 19 .

Rasa nyeri : Baik Baik .Rasa Raba : Baik Baik .Rasa Suhu : Baik Baik Reflek:  - Reflek Kornea : Tidak dilakukan - Reflek Maseter : - N.VII (Fasialis) Sikap wajah (saat istirahat)  : Simetris Mimik : Biasa Angkat Alis : Tidak bisa Kerut Dahi : Tidak bisa Lagoftalmus : Tidak ada Kembung Pipi : Simetris.Menggigit : Baik Sensorik .VIII (Vestibulokokhlearis) Vestibularis - Nistagmus :- - Vertigo: tidak ada Kokhlearis - Suara bisik : kanan = kiri - Gesekan jari : kanan = kiri - Tes “Rinne” : Tidak dilakukan 20 .Membuka Mulut : Baik . kanan = kiri Menyeringai : Sulcus nasolabialis tidak mendatar Fenomena “Chvostek” :- N.Gerakan Rahang : Baik ..

kanan = kiri 21 .XII (Hipoglosus) Sikap lidah dalam mulut : simetris Julur lidah : baik Gerakan lidah : baik Tremor : tidak ada Fasikulasi : tidak ada Tenaga otot lidah : baik. X (Glosofaringeus. simetris Disfoni : Tidak ada Rinolali : Tidak ada Disfagi : Tidak ada Batuk : Tidak ada Menelan : Baik Mengejan : Baik Refleks Faring : Baik Refleks Okulokardiak : Positif Refleks Sinus Karotikus : Positif   N. - Tes “Weber” : Tidak dilakukan - Tes “Schwabach” : Tidak dilakukan N. Vagus) Arkus Faring : simetris.bawah) : Baik Angkat Bahu : kanan > kiri N. IX.XI (Asesorius) Menoleh (kanan. uvula ditengah Palatum Mole : intak.kiri.

atoni) Lengan kanan kiri - Fleksor : Normotonus Hipotonus - Ekstensor : Normotonus Hipotonus - Fleksor : Normotonus Hipotonus - Ekstensor : Normotonus Hipotonus Tungkai 22 . Motorik  Derajat kekuatan otot (0-5) Kanan Kiri Lengan - Atas : 5 2 - Bawah : 5 2 - Lengan - Jari : 5 2 - Atas : 5 2 - Bawah : 5 2 - Kaki : 5 2 - Jari : 5 2 : 5 2 Tungkai  Berdiri  Tidak dilakukan Jongkok berdiri Jalan  - Langkah : tidak dilakukan - Lenggang lengan : tidak dilakukan - Di atas tumit : tidak dilakukan - Jinjit : tidak dilakukan Tonus otot (hiper.3.normo.hipo.

  Trofi Otot Lengan : Eutrofi Eutrofi Tungkai : Eutrofi Eutrofi Gerakan Spontan Abnormal Kejang : tidak ada Tetani : tidak ada Tremor : tidak ada Khorea : tidak ada Atetosis : tidak ada Balismus : tidak ada Diskinesia : tidak ada Mioklonik : tidak ada 4. Koordinasi  Tidak dapat dinilai   Statis - Duduk : tidak dilakukan - Berdiri : tidak dilakukan - Tes Romberg : tidak dilakukan Dinamis - Telunjuk Hidung : tidak dilakukan - Jari-jari : tidak dilakukan - Tremor Intensi : tidak dilakukan - Disdiadokokinesis : tidak dilakukan - Dismetri : tidak dilakukan - Bicara (disartri) : tidak dilakukan - Menulis : tidak dilakukan 23 .

5. kanan = kiri 24 . Refleks    Refleks Tendo - Biseps : ++ / ++ - Triseps : ++ / ++ - “Knee Pes Reflex” : ++ / ++ - “Achilles Pes Reflex” : ++ / ++ Refleks Kulit - Telapak kaki : ++ / ++ - Kulit perut : ++ / ++ - Kremaster : tidak dilakukan - Anus Interna : tidak dilakukan - Anus Externa : tidak dilakukan Refleks Abnormal - Babinski : -/- - Chaddock : -/- - Oppenheim : -/- - Gordon : -/- - Schaeffer : -/- - Hoffman Trommer : -/- - Klonus lutut : -/- - Klonus Kaki : -/- 6. Sensibilitas  Eksteroseptif . kanan = kiri .Rasa nyeri : baik.Rasa raba : baik.

Palpasi Saraf Tepi 25 .Rasa getar : tidak dilakukan 7. Fungsi Luhur  Memori : baik  Bahasa : baik  Afek dan emosi : baik  Visuospatial : baik  Kognitif : baik 9. kanan = kiri Propioseptif ..Rasa sikap : baik.Rasa suhu  : baik. kanan = kiri . Tanda Regresi  Refleks menghisap :-  Refleks menggigit :-  Refleks memegang :-  “Snout Reflex” :- 10. Vegetatif  Miksi : Baik  Defekasi : Baik  Salivasi : tidak ada  Sekresi keringat : umum  Fungsi Seks :- 8.

5 ° C 26 : . Sakit kepala (+).Aurikularis Magnus : teraba : tidak teraba 11. hilang timbul. Riwayat hipertensi (+) sejak 1 tahun yang lalu.0g/dl Leukosit : 11. tidak terkontrol. Ulnaris  N.8 mg/dl 12. Dari pemeriksaan fisik didapatkan : Kesadaran : compos mentis Tekanan darah : Lengan kanan : Lengan kiri 150/90 mmHg : 155/90 mmHg Tungkai kanan: 130/80 mmHg Tungkai kiri 130/80 mmHg Nadi : 92 x/menit Suhu : 36. N.Resume Pasien seorang wanita berusia 63 tahun datang dengan keluhan utama lemas separuh badan sebelah kiri sejak 1 bulan yang lalu.Laboratorium Hb : 17.6% Gula Darah Sewaktu : 95mg/dl Na : 134 mmol/L K : 4.900/μL Trombosit : 221ribu/ul Ht : 50.4 mmol/L Cl : 101 mmol/L Calsium : 8.

XI : angkat bahu kanan lebih kuat dari kiri  Motorik: 5 5 5 5 2222 5555 2222  Sensibilitas: baik. kanan = kiri  Refleks fisiologis o Bíceps : ++ / ++ o Triceps: ++ / ++ o KPR : ++ / ++ o APR : ++ / ++  Refleks patologis - Babinski :-/- - Chaddocs :-/- - Oppenheim :-/- - Gordon :-/- - Schaeffer :-/- - Hoffman Tromner: -/- - Klonus lutut :-/- - Klonus kaki :-/-  Fungsi luhur : baik  Tanda Regresi : tidak ada  Vegetatif : Vegetatif 27 .Frekuensi Napas : 18 x/mnt Status Generalis : dalam batas normal Status Neurologis :  Rangsang meningen:  Saraf kranial : - N.

 DIAGNOSA .Etiologis : Stroke non hemoragik .Ad fungsionum :Dubia at malam FOLLOW UP 28 .Aspilet 1 x 80 mg .Captopril 2 X 150 mg .Ad sanasionum :Dubia at bonam .Klinis : Hemiparese sinistra + Parese N.Ad vitam :Dubia at bonam . XI sinistra .Paracetamol k/p pusing  Pemeriksaan Anjuran CT Brain EKG  Prognosis .Topis : Korteks serebri dextra  Diagnosis Banding o Stroke hemoragik  Terapi MM/ : .Allopurinol 1 x 100 mg .

RCTL +/+. pupil bulat isokor.9 AGUSTUS 2007 S : Tangan dan kaki sulit digerakkan O: KU : Tampak sakit sedang KES : E4V5M6 (compos mentis) TD : Lka = 165/90 Lki = 170/90 mmHg Lka = 160/90 mmHg mmHg Lki = 160/90 mmHg Suhu : 36. Siliospinal +/ +. exopthalmus -. lihat warna baik. I : normosmia kiri = kanan  N. VI : sikap bola mata saat istirahat simetris. refleks maseter +. 5 oC Nadi : 80 x /mnt RR : 18 x/mnt RANGSANG MENINGEAL :  Kaku Kuduk :  Brudzinski I :  Brudzinski II :  Laseque : > 70 / > 70  Kernniq :-/- NERVUS KRANIALIS :  N. R. IV. V : buka tutup mulut baik. strabismus -. refleks kornea + 29 . RCL +/+. enopthalmus -. R. II : tajam penglihatan kasar baik. III. pergerakan bola mata simetris kiri = kanan. ptosis -.  N. lapangan pandang baik  N. Akomodasi +/+.

 N XII : sikap lidah dalam mulut simetris. uvula ditengah.  N VIII : tes gesek jari baik. angkat alis baik menyeringai SNL tidak mendatar kiri = kanan. palatum molle intak. kerut dahi baik. nistagmus -. fasikulasi -. refleks oclocardiac +. N VII : sikap wajah saat istirahat simetris. vertigo -. MOTORIK :  Kekuatan motorik 5 5 5 5 5555 2222 2222  Normotonus / Hipotonus  Eutrofi SENSIBILITAS : Eksteroseptif dan proprioseptif baik REFLEKS TENDON :  Bíceps : ++ / ++  Triseps : ++ / ++  KPR : ++ / ++  APR : ++ / ++ REFLEKS PATOLOGIS :  Babinski : . memik biasa.  N IX. tes kalori tidak dilakukan./-  Chaddock :-/- 30 . X : arcus faring simetris. tremor -. julur lidah baik. angkat bahu kanan lebih kuat dibanding kiri. kembung pipi baik. simetris. refleks sinus carotikus +  N XI : menoleh kanan kiri baik. tenaga otot lidah baik kanan = kiri.

Miniaspi 1 x 160 mg 31 . Folat 2 x 5 mg ./- SISTEM OTONOM :  Miksi : Baik  Defekasi : Baik FUNGSI LUHUR : sulit di nilai. Oppenheim :-/-  Gordon :-/-  Schaeffer : .Klinis : Hemiparese dextra + Parese N XI dekstra . parietalis sinistra A : .Stugeron 2x1 .As. pasien tidak kooperatif CT Brain:  Lesi hipodens kecil parietalis sinistraa Kesan: Infark iskhemik.Nistatin drops 3x1 .OMZ 2 x 20 mg .Sucralfat syr 3 X 1C .Etiologis : Trunkle ataxia .Domperidone 3 x 10 mg .Topis : Lesi Cerebelor P : IVFD D5% II Futrolit I MM/ : .

Sifrol 2 x 0.25 32 ..