You are on page 1of 5

Beberapa tambahan tentang Tatalaksana TB Anak

Sumber: IDAI

Hal berikut patut dicurigai adanya TB pada Anak:
1. Demam lama (≥2 minggu) dan/atau berulang tanpa sebab yang jelas (bukan
demam tifoid, infeksi saluran kemih, malaria, dan lain-lain), yang dapat disertai
dengan keringat malam. Demam umumnya tidak tinggi. Keringat malam saja,
tanpa disertai kenaikan suhu tubuh bukan merupakan gejala yang abnormal pada
anak.
2. Batuk lama ≥3 minggu, batuk bersifat non-remitting (tidak pernah reda atau
intensitas makin lama makin berat) dan sebab lain batuk telah disingkirkan.
3. Berat badan turun atau tidak naik dalam 2 – 3 bulan berturut-turut meskipun
telah diberikan penanganan gizi yang adekuat minimal 1 bulan.
Jika tidak diketahui data berat badan sebelumnya, tentukan status gizi saat itu
berdasarkan kurva CDC-NCHS, 2000 . Apabila BB/U <60% atau BB/TB < 70%
dikategorikan sebagai gizi buruk. Berikan penanganan sesuai dengan tatalaksana
gizi buruk pada anak. Setelah penanganan gizi buruk selama 1 bulan dan kondisi
anak tidak membaik maka anak masuk dalam kriteria inklusi.
4. Anak tampak lesu atau tidak seaktif biasanya dalam 1 bulan terakhir.
5. Pembengkakan tulang/ sendi panggul, lutut, falang, tulang belakang yang
berlangsung > 1 bulan
6. Kontak erat (tinggal serumah atau sering kontak) dengan penderita TB Paru baik
BTA (+) maupun BTA (-) dalam 2 tahun terakhir
7. Diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan baku diare.
8. Pembesaran kelenjar limfe colli, leher atau inguinal > 1 cm, multiple, tidak nyeri

(Kondisi di Fasyankes, terutama Puskesmas, yang melakukan penjaringan suspek TB
pada Anak adalah Perawat di Poli Anak/MTBS. Dari penilaian awal di beberapa

1

langsung masuk ke skoring) Hal ini kami curigai menyebabkan masih tingginya over maupun underdiagnosis TB pada Anak. Misalnya begitu batuk atau demam. Skoring Sistem TB Anak Parameter Kontak TB 0 Tidak jelas 1 - 2 Laporan keluarga. dan hasil diskusi Pokja TB Anak) Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar misalnya Puskesmas.provinsi. tidak nyeri - - Skor Positif (≥10 mm atau ≥5 mm pada imunokomp romais) - - 2 . BTA (-)/ BTA tidak jelas/ tidak tahu - 3 BTA (+) Uji Tuberkulin Negatif - Berat badan/ Keadaan gizi - BB/TB <90% atau BB/U <80% Demam yang tidak diketahui penyebabnya - >2 minggu Klinik gizi buruk atau BB/TB <70% atau BB/ U <60% - Batuk kronik Pembesaran kelenjar limfe. Untuk RS. Skoring digunakan sebagai entry point dan ditambah pemeriksaan oleh Dokter SpA dan pemeriksaan penunjang lain yang tersedia. tanpa digali riwayatnya. Gejala yang tertulis di atas sedikit berbeda dengan yang selama ini terdapat di Buku Pedoman Nasional TB. - >3 minggu - - - >1 cm. >1. petugas kesehatan baik dokter umum maupun perawat masih kesulitan menentukan gejala yang masuk dalam gejala TB. Pokja TB Anak dan Kementerian Kesehatan menggunakan Skoring Sistem TB Anak untuk menentukan diagnosis TB Anak.

Tanda Bahaya: - Kejang. aksila. dievaluasi Respons (+) Terapi TB diteruskan Respons (-) Rujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut Gambar Alur diagnosis dan tatalaksana TB Anak di Puskesmas Jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini. lutut. rujuk ke RS 1. misalnya sesak napas 3 . koksitis 3. jari Foto Rontgen dada - Ada pembengkak an - - Normal/ kelainan tidak jelas Gambaran sugestif TB - - Skor Total Skor >6 Beri OAT 2 bln terapi. inguinal Pembengkakan tulang/ sendi panggul. kavitas. efusi pleura 2. kaku kuduk - Penurunan kesadaran - Kegawatan lain. Gibbus. Foto toraks menunjukan gambaran milier.kolli.

saat ini telah dikoreksi oleh Pokja TB Anak menjadi 10mg/kgBB/hari Beberapa Puskesmas/ RS secara mandiri menyediakan tuberkulin. underdiagnosis. dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih - lanjut Gambaran sugestif TB berupa : pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan/tanpa infiltrat. tetapi belum punya data apakah petugas yang menyuntik dan membaca tuberkulin telah tersosialisasi cara menyuntik dan membaca tuberkulin dengan benar. 4 . kalsifikasi dengan infiltrat.Catatan: - Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter Jika dijumpai skrofuloderma pasien dapat langsung didiagnosis TB Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname) Demam dan batuk tidak respon terhadap terapi sesuai baku puskesmas Foto toraks bukan merupakan alat diagnosti utama pada TB anak Semua anak dengan reaksi cepat BCG harus dievaluasi dengan sistem skoring - TB anak Anak didiagnosis TB jika jumlah skor ≥ 6 (skor maksimal 13) Pasien usia balita yang mendapat skor 5. milier. Permasalahan TB Anak • Overdiagnosis.tuberkuloma. konsolidasi segmental/lobar. underreported di tingkat Fasyankes • Skoring sistem/ manajemen TB Anak belum tersosialisasi ke seluruh provinsi • Ro Thorax à dasar diagnosis TB Anak • Logistik Tuberkulin tes • Perlunya pelibatan bagian Anak dalam Tim DOTS di RS • INH prophylaxis à belum tersedia • Pelacakan kontak serumah bagi pasien TB BTA (+) untuk menemukan kasus TB Anak à belum dilaksanakan koreksi dosis INH untuk profilaksis yang di Buku Pedoman Nasional TB adalah 510mg/kgBB/hari. atelektasis.

dan diketahui tingkat positivitasnya. Tidak diperbolehkan menyimpan ujung jarum yang masih tertancap di karet vial tuberkulin. dari Biofarma.Tuberkulin yang digunakan adalah PPD RT 23 2TU. Penggunaan tuberkulin tidak tercatat. Pelacakan kontak serumah juga belum dilaksanakan walaupun sudah terdapat di BPN. menuliskan tanggal pembukaan di vialnya. mohon dapat dibantu agar setiap pasien yang dituberkulin dicatat. atau Bukan TB 5 . Jadi diharapkan setiap membuka pertama kali. Infeksi TB tetapi tidak sakit. asalkan disimpan dalam suhu 2-8 derajat (tidak boleh di freezer). Jadi diharapkan setiap pasien dewasa BTA pos yang kontak erat dengan anak <5tahun. Tuberkulin bisa digunakan sampai 30 hari setelah penggunaan pertama. sehingga diperoleh data untuk perencanaan tuberkulin kedepan. agar anak tersebut dbawa ke Fasyankes terdekat untuk diperiksa apakah menderita Sakit TB. dan terjaga kondisi septis/aseptisnya.