You are on page 1of 19

ABSTRAK

Kawasan cepat tumbuh Jln. Sultan Hasanuddin Km. 5,5 berdasarkan RTRW Kota
Balikpapan tahun 2005-2015 kawasan ini berada pada BWK G dengan peruntukan
lahan/land use sebagai kawasan industri, pergudangan dan peti kemas, pelabuhan,
kawasan lindung dan wisata. Pada kawasan cepat tumbuh ini, berdasarkan letak
administrasi kawasan ini berada pada 2 kecamatan yang menghubungkannya
yaitu Kecamatan Balikpapan Utara dan Kecamatan Balikpapan Barat. Jika dilihat
berdasarkan RDTR Kecamatan Balikpapan Utara maka kawasan ini diarahkan
sebagai kawasan perdagangan dan jasa serta RDTR Kecamatan Balikpapan Barat
diarahkan sebagai kawasan industri kecil menengah dan pergudangan.
Berdasarkan land use eksisting pada lokasi tersebut telah berkembangnya
kawasan jasa, perdagangan dan industri kecil serta pergudangan. Hal ini sangatlah
bertentangan dengan kebijakan pemerintah Kota Balikpapan yang kurang
mempertimbangkan hasil akhir dari RTRW, yang dalam hal ini menetapkan
sebagian dari kawasan ini merupakan kawasan hijau. Namun, dalam RDTR
perkecamatan tidak nampak lagi kawasan ini sebagai kawasan hijau walaupun ±
3.109,71 Ha atau sekitar 17,28% dari luas Kecamatan Balikpapan Barat didominasi
oleh hutan mangrove. kondisi ini akan bertambah lebih parah dengan adanya
Kawasan Industri Kariangau (KIK) yang akan dibangun dalam waktu dekat
berdasarkan kebijakan pemerintah.
KEYWORD : RTRW/RDTR, Land Use Cover Changes, Kawasan Hijau, Hutan
Mangrove, Kebijakan
PENDAHULUAN
Kota Balikpapan mempunyai berbagai kebutuhan mendesak yang harus segera
terpenuhi melalui mekanisme pembangunan yang terencana dan terkoordinasi.
Berbagai program pembangunan begitu mendesak untuk diprioritaskan dan
segera dilaksanakan di Kota ini. Prioritas program tersebut didasarkan pada
permasalahan, potensi serta kebutuhan yang ada di Kota Balikpapan. Dengan
keterdesakan yang ada, pemerintah kota Balikpapan merencanakan penataan
Koridor Cepat Tumbuh di jalan Sultan Hasanuddin Km. 5.5, yang mana sama sekali
tidak memperhatikan kondisi ekologi maupun sosial ekonomi setempat. Dalam
persepsi pemerintah bahwa, pertumbuhan ekonomi secara spasial di koridor sepat
tumbuh termasuk memiliki prospektif yang tinggi. Dimana kawasan ini memiliki
pelabuhan penyeberangan ferry yang menghubungkan beberapa kota kabupaten
dan kota propinsi, pembukaan akses jalan yang menghubungkan antar kawasan di
Kota Balikpapan (utara kampung baru) serta menjadi kawasan cepat tumbuh
dengan adanya berbagai industri yang berkembang. Kesemuanya ini akan
memberikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada kawasan perencanaan.
Namun disatu sisi, pemerintah tidak melihat akan pengaruh yang buruk dengan
dibangunnya kawasan industri dan pergudangan di koridor ini.
Jika dilihat berdasarkan kondisi geografis kawasan cepat tumbuh secara
administrasi berada di dua kecamatan dan tiga kelurahan yaitu Kecamatan
Balikpapan Barat Kelurahan Kariangau dan Kecamatan Balikpapan Utara Kelurahan
Karang Joang dan Kelurahan Batu Ampar. Berdasarkan struktur tata ruang RTRW
Kota Balikpapan tahun 2005- 2015 kawasan perencanaan berada pada BWK G
dengan fungsi sebagai kawasan industri, pergudangan dan peti kemas, pelabuhan,

1
2
3
4

1

kawasan lindung dan wisata, sedangkan berdasarkan RDTR Kecamatan Balikpapan
Utara diarahkan sebagai perdagangan dan jasa dan RDTR Balikpapan Barat
diarahkan sebagai kawasan industri kecil menengah dan pergudangan dengan
batas administrasi sebagai berikut :
Sebelah Timur
: Teluk Balikpapan
Sebelah Selatan
: Kelurahan Gunung Samarindah dan Kelurahan Muara
Rapak
Sebelah Barat
: Kelurahan Sepinggang, Kelurahan Manggar
Sebelah Utara
: Kabupaten Kutai Kartanegara
Koridor cepat tumbuh berada pada pertigaan menuju Kota Samarinda dan
merupakan jalur menuju pelabuhan ferry dan galangan kapal serta pergudangan
perusahaan swasta khususnya dalam industri pertambangan dan energi yang
menghubungkan beberapa kota kabupaten dan provinsi.
KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA BALIKPAPAN
Konsep dan Strategi Pengembangan Kota Balikpapan
Konsep dan strategi pengembangan Kota Balikpapan terangkun dalam RTRW Kota
Balikpapan tahun 2005 – 2015 dengan penjelasan sebagai berikut :
Konsep pengembangan struktur tata ruang Kota Balikpapan dialokasikan
penyebaran di tempat-tempat strategis atau yang mempunyai aksesibilitas baik,
sehingga mudah dijangkau dari seluruh Wilayah Pembangunan. Kegiatan utama
yang dikembangkan di pusat pelayanan ini berupa jasa pelayanan kegiatan
pemerintahan, jasa pelayanan kegiatan perekonomian dan jasa pelayanan
kegiatan permukiman, yang dikembangkan secara berjenjang dan terpadu sesuai
skala pelayanannya, yaitu :
Pusat pelayanan utama, berupa pusat jasa pelayanan pemerintahan dialokasikan
di pusat kegiatan pemerintahan dengan skala pelayanan propinsi, kota, kecamatan
dan kelurahan.
Pusat pelayanan kegiatan perdagangan dan jasa, guna melayani kebutuhan
penduduk Kota Balikpapan, Kawasan disekitar Kota Balikpapan, dan Propinsi
Kalimantan Timur.
Pusat pelayanan kegiatan permukiman, guna melayani kebutuhan penduduk
dengan skala pelayanan WP.
Wilayah Pembangunan merupakan pusat pelayanan yang dialokasikan tersebar
merata ke seluruh pusat-pusat kawasan dengan skala pelayanan kawasan, sesuai
ketersediaan lahan dan daya dukung lahan terhadap kegiatan yang akan
dikembangkan.
Pola pengembangan pusat-pusat kegiatan yang tersebar keseluruh kawasan Kota
Balikpapan ini akan membentuk pola multiple nuclei, sehingga memudahkan
dalam melayani kebutuhan seluruh penduduknya. Namun agar orientasi kegiatan
penduduk Kota Balikpapan tidak terpusat (terkonsentrasi) di pusat kota saja, maka
pada masing-masing lingkungan harus disediakan pusat pelayanan skala kawasan
pengembangan. Pengembangan pusat kegiatan ini akan dihubungkan oleh sistem
jaringan jalan yang berhirarki dan membentuk satu kesatuan yang saling
terintegrasi, sehingga mudah dijangkau dari seluruh kawasan. Konsep
pengembangan tersebut berorientasi pada 2 hal yakni :
Penyebaran pembangunan/ pengembangan (selain Pusat Kota) sebagai upaya
mengurangi beban/ orientasi ke pusat kota. Upayanya melalui pengembangan
Radial (pola jaringan transportasi darat) baik untuk Utara-Selatan maupun BaratTimur.

2

1
2
3
4

5
6
1
2

Antisipasi masalah utama kota khususnya “kenyamanan” dan daya dukung
pengembangan pusat kota (khususnya kemacetan dan banjir). Upayanya dilakukan
melalui pengembangan & peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana antara
lain berupa kawasan pesisir pantai (coastal roads) sehingga mampu memecahkan
permasalahan “kenyamanan” kota (kemacetan).
Pada perkembangannya, pembentukan struktur ruang Kota Balikpapan akan
sangat dipengaruhi oleh :
Kegiatan perdagangan dan jasa yang telah berkembang di sepanjang Jl. A. Yani dan
Jl. Jend. Sudirman.
Kegiatan Pertamina yang telah berkembang di Balikpapan bagian barat serta
kawasan permukimannya yang telah berkembang di wilayah Karang Jawa, Karang
Jati, Karang Rejo, dan sekitarnya.
Perkembangan kawasan permukiman di Kota Balikpapan memiliki kecenderungan
yang menunjukkan perkembangan ke arah utara dan timur.
Adanya Bandara Sepinggan yang dapat menjadi faktor pembatas perkembangan
kota. Hal ini disebabkan karena operasi pelayanan penerbangan memerlukan
dukungan area sekitarnya yang cukup ketat. Dukungan ini berdampak langsung
pada masalah pembatasan pengembangan kawasan sekitarnya yang meliputi
pembatasan peruntukan, pembatasan kepadatan bangunan, serta pembatasan
ketinggian bangunan. Sebagai Bandara kelas I dengan rencana penambahan
panjang landasan menjadi sekitar 3.000 m, wilayah pengaruh dari bandara ini
mencapai area dengan radius sekitar 6 km.
Potensi kegiatan wisata di Balikpapan Timur (Pantai Manggar) yang berpotensi
memicu tumbuhnya pusat pelayanan kota yang baru.
Jaringan jalan utama yang menghubungkan Balikpapan-Samarinda
 Melalui Balikpapan Utara (Karang Joang)
 Menyusur Selat Makasar
Jaringan jalan dalam kota yang telah membentuk poros utama utara-selatan dan
barat-timur.
Rencana pengembangan baru yang ada di luar wilayah perkotaan tapi berpotensi
untuk menimbulkan dampak terhadap perkembangan wilayah kota:
 Pengembangan Kawasan Industri di Kariangau
 Pengembangan kawasan pergudangan di Kariangau
TINJAUAN RDTR KECAMATAN BALIKPAPAN BARAT DAN UTARA
RDTR Kecamatan Balikpapan Barat
Rencana Struktur Ruang
Struktur Ruang Kecamatan Balikpapan Barat di pengaruhi oleh jaringan jalan baik
yang ada sekarang (eksisting) maupun oleh rencana jaringan jalan. Rencana
jaringan jalan yang mempengaruhi struktur ruang Kecamatan Balikpapan Barat
adalah rencana jalan Trans Kalimantan, rencana jalan arteri sekunder, Jalan
Kolektor Primer serta jalan lokal sekunder. Keseluruhan jaringan jalan terdapat di
Kelurahan kariangau dan Kelurahan Baru Ulu serta Margo Rejo.
Struktur ruang Kecamatan Balikpapan Barat selain di pengaruhi oleh jaringan jalan
dipengaruhi pula oleh beberapa kegiatan yang sudah berkembang maupun
rencana pengembangan skala besar yang secara langsung maupun tidak langsung
akan mempengaruhi pola dan struktur ruang secara keseluruhan. Untuk
mewujudkan struktur ruang Kecamatan Balikpapan Barat yang diharapkan,

1
2

3
4

5




1

2

beberapa hal yang menjadi pertimbangan di dalam menentukan struktur Kota
Balikpapan Barat di masa yang akan datang adalah :
Kondisi fisik Kecamatan Balikpapan Barat secara umum yang merupakan faktor
penentu utama pengembangan suatu kawasan
Beberapa kegiatan utama yang berkembang di Kemcatan Balikpapan Barat saat ini
adalah :
 Sentra Pasar Kebun Sayur, kegitan yang berkembang pada kawasan ini
adalah kegiatan perdagangan dan jasa yaitu berupa Pasar Pandansari dan
Pasar Kebun Sayur. Pasar Pandasari lebih terfokus padakegiatan
perdagangan untuk pemenuhan kebutuhan seharihari sedangkan Pasar
Kebun Sayur lebih pada kegiatan perdagangan Souvenir dan oleh oleh khas
Kalimantan Timur atau lebih cenderung ke Pariwisata.
 Pelabuhan Kampung Baru, kegiatan yang berkembang pada Pelabuhan
Kampung baru dan sekitarnya ini adalah pelabuhan rakyat dengan jenis
kegiatan berupa ojek/penyeberangan ke Kabupaten Penajam dengan
menggunakan Speed Boat, pelabuhan kapal yang memeuat bahan bangunan
(Semen, Pasir, genteng dan bahan bangunan lainnya).
 Pelabuhan Ferry Kariangau, merupakan pelabuhan penyeberangan dengan
menggunakan kapal ferry ke arah Penajam dan Mamuju.
Struktur jaringan jalan utama yang ada saat ini adalah Jl. Letjend. Supropto, Jl.
Wolter Monginsidi, Jl. Sultan Hasanudin, Jl. Kariangau/Jl. Srikandi.
Struktur jaringan jalan yang ada saat ini seperti Jl. Jenderal Sudirman dan Jl. A. Yani
merupakan jalan protokol utama di Kota Balikpapan. Dari Arah Timur menuju pusat
kota dihubungkan oleh Jl. Mulawarman- Marsma Iswahyudi, Dari Arah Utara ke
Pusat Kota dihubungkan oleh Jl. Soekarno – Hatta masuk ke Jl. A.Yani sedangkan
dari arah barat dihubungkan oleh Jl. Letjen Suprapto – Yoes Sudarso
Fungsi dan peran yang diemban oleh Kecamatan Balikpapan Barat adalah sebagai
pengembangan kawasan Perdagangan dan Jasa, Pengembangan perindustrian,
dan pengembangan Kawasan Transportasi. Untuk menunjang fungsi dan peran
tersebut ada beberapa rencana yang diharapkan menunjang fungsi dan peran
tersebut, diantaranya adalah :
Rencana Pengembangan/renovasi pasar Pandansari
Rencana Pembangunan Kawasan Industri Kariangau (KIK)
Rencana Pembangunan Pelabuhan dan Terminal Peti Kemas Kariangau
Rencana Pembangunan Jalan Trans Kalimantan, jalan Arteri Sekunder dan jalan
kolektor sekunder.
Maka skenario struktur ruang Kecamatan Balikpapan Barat yang akan dibentuk
pada masa yang akan datang adalah :
Membentuk sub-sub pertumbuhan baru (Kawasan Industri Kariangau) agar
aktivitas kota tidak seluruhnya terpusat di pusat kota Kecamatan Balikpapan Barat
maupun pusat Kota Balikpapan. Apabila kegiatan seluruhnya terpusat di pusat kota
dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan klasik diantaranya adalah
ketidaknyaman melakukan aktivitas, kemacetan dsb.
Merespon perkembangan pusat-pusat pertumbuhan baru sehingga menjadi embrio
pengembangan di masa yang akan datang. Konsep pengembangan struktur ruang
Kecamatan Balikpapan Barat tetap mengakomodasikan kondisi yang ada saat ini
dengan memadukan kondisi eksisting dengan rencana skala besar sehingga
terbentuk struktur ruang Kecamatan Balikpapan Barat yang diinginkan.

Struktur Kegiatan Utama Kecamatan Balikpapan Barat

Struktur kegiatan utama kawasan di Kecamatan Balikpapan Barat disesuaikan
dengan potensi dan kegiatan utama yang berkembang. Pemanfaatan kawasan
utama ini penjabaranya disesuaikan dengan penjabaran yang telah di lakukan di
kota. Struktur kegiatan Kecamatan Balikpapan Barat didukung oleh beberapa
fungsi utama yaitu perdagangan dan jasa, industri dan transortasi air (sungai dan
laut) :
Industri dan Pergudangan
Industri yang telah berkembang untuk saat ini industri non kawasan yang tersebar
di wilayah Kecamatan Balikpapan Barat. Industri yang berkembang saat ini adalah
industri pengolahan kayuyang terletak di sepanjang sungai Somber di Jalan Sultan
Hasanudin. Untuk rencana kedepannya jenis industri ini tetap dipertahankan
namun dengan pengawasan yang extra karena lokari industri ini di sepanjang
sungai dan di kawasan hutan mangrove sedangkan industri dalam bentuk
kawassan diarahkan di Kawasan Industri Kariangau (KIK). Areal pergudangan yang
ada saat ini adalah areal pergudangan yang terdapat disepanjang Jalan
Kariangau/Jalan Srikandi untuk rencana kedepannya areal pergudangan ini tetap
dipertahan untuk menunjang kegiatan perdagangan dan jasa sebagai penampung
barang yang akan didistribusikan di wilayah Kota Balikpapan yang berasal dari
pelabuhan Peti Kemas Kariangau.
Perdagangan dan Jasa.
Kegiatan perdagangan dan jasa untuk saat ini bertumpu pada kawasan pusat kota
Kecamatan Balikpapan Barat dengan skala pelayanan lokal dan kota yang terletak
di kawasan sentra Kebun Sayur pada Kelurahan Margasari dan Baru Tengah
sepanjang jalan Letjend. Suprapto. Kawasan Perdagangn dan jasa di Pasar Kebun
Sayur mempunyai spesifikasi tersendiri yaitu selain sebagai kawasan perdagangan
dan kawasan ini juga diperuntukan untuk kegiatan pariwisata belanja yaitu sebagai
pusat penjualan souvenir dan oleh-oleh. Untuk rencana kedepannya pengembangn
kawasan perdagangan dialokasikan menyatu dengan kawasan industri yang
terletak di KIK.
Kawasan Transportasi
Pelabuhan ferry baru di Kariangau tetap dipertahankan, pelabuhan semayang
diarahkan untuk pelabuhan penumpang antar pulau di Indonesia, pelabuhan
internasional diarahkan di Kariangau menyatu dengan Kawasan Industri dan
Kawasan Peti Kemas, pelabuhan rakyat diarahkan di Kampung Baru.
Permukiman
Rencana Pengembangan permukiman baru diarahkan di luar puast Kota
Balikpapan Barat yaitu di Kelurahan Kariangau dan Kelurahan Margomulyo dengan
kepadatan sedang. Permukiman dengan kepedatan tinggi di arahkan di Kelurahan
Baru Tengah, Margasari, Baru Ulu dan Baru Ulu. Keberadaa permukiman di atas air
tetap dipertahankan sebagai obyek periwisata dan pengembangan kawasan
perikanan. Pengembangan dilkaukan dengan pemenuhan prasarana dan sarana
penunjang sehingga nyaman untuk di huni dan layak menjadi kawasan pariwiisata.
Dilakukan penyuluhan dan sosialisasi ke pada penduduk perumahan di atas air
untuk menjaga kebersihan dan lingkungan pesisir. Untuk membatsi perkembangan
permukiman di atas pantai yang secara sporadis dan tak terkendali maka di
kembangkan jaringan jalan pembatas yang sekaligus sarana melihat
pemandangan laut.

Hutan dan Kawasan Konservasi
Hutan lindung Sungai Wain, hutan produksi dan hutan mangrove tetap dijaga
keberadaannya, oleh karena itu di masing-masing kawasan tersebut perlu
ditetapkan buffer zone untuk melindungi habitat yang ada. Sedangkan disepanjang
sungai yang ada perlu ditetapkan sempadan sungai demikian pula dengan pantai
yang ada.
Pembagian BWK dan Unit Lingkungan





Sistem pembagian BWK ditindaklanjuti dengan pembagian ruang yang lebih kecil
(detail) dalam kawasan perencanaan dalam bentuk Unit Lingkungan (UL).
Pembagian UL dilakukan atas pertimbangan ukuran luas, daya tampung penduduk
serta pelayanan fasilitas untuk setiap unit lingkungan. Pembagian Unit Lingkungan
sebagai upaya untuk mempermudah masyarakat melakukan interaksi. Pembagian
BWK dan UL di Kecamatan Balikpapan Barat adalah:
1. Bagian Wilayah Kota / BWK B terbagi atas 5 kelurahan dan 12 Unit Lingkungan
yaitu :
Kelurahan Margasari terdiri dari 2 Unit Lingkungan yaitu ULB.1 Margasari dan
ULB.2 Margasari
Kelurahan Baru Ilir terbagi atas 2 Unit Lingkungan yaitu ULB.1 Baru Ilir dan ULB.2
Baru Ilir.
Kelurahan Baru Tengah terbagi atas 3 Unit Lingungan yaitu ULB.1 Baru Tengah,
ULB.2 Baru Tengah dan ULB.3 baru Tengah
Kelurahan Baru ulu terbagi atas 3 Unit Lingkungan yaitu ULB.1 Baru Ilir dan ULB.2
Baru Ilir.
Kelurahan Margo Mulyo terbagi atas 2 Unit Lingkungan yaitu ULB.1 Baru Ulu, ULB.2
Baru Ulu dan ULB.3 Baru Ulu.
2. Bagian Wilayah Kota / BWK G hanya terdapat di Kelurahan Kariangau dan
terbagi menjadi 2 Unit Lingkungan yaitu ULG.1 Kariangau dan ULG.2 Kariangau.
Rencana Struktur Ruang Kecamatan Balikpapan Utara

1
2


Struktur ruang merupakan kerangka struktural kota yang dibentuk dari beberapa
kegiatan yang sudah berkembang maupun rencana pengembangan berdasarkan
RTRW Kota Balikpapan Tahun 2005-2015 yang secara langsung maupun tidak
langsung akan mempengaruhi pola dan struktur ruang secara keseluruhan.
Beberapa pertimbangan di dalam menentukan struktur Kota Balikpapan Utara di
masa yang akan datang adalah :
Kondisi fisik merupakan faktor penentu utama pengembangan suatu kawasan
Kegiatan-kegiatan yang sudah berkembang saat ini, diantaranya adalah :
Kegiatan Perdagangan dan Jasa yang berkembang di Kelurahan Muara Rapak dan
Batu Ampar didukung oleh keberadaan Mall Muara Rapak dan Pasar Tradisional
Buton.
Kegiatan industri yang berkembang di Balikpapan Utara adalah keberadaan Sentra
Industri Kecil Somber di Kec. Balikpapan Utara seluas 9 ha.
Kegiatan Wisata yang berkembang di Kelurahan Karang Joang yang memicu
tumbuhnya pusat-pusat kegiatan dan pelayanan baru, diantaranya adalah Taman
Wana Wisata InHutani, Agro Wisata, Ekowisata HLSW dan Kebun Raya Balikpapan
yang akan di rencanakan menyatu dengan Hutan Lindung Sungai Wain.


1

2

Kegiatan permukiman yang berkembang di seluruh wilayah Kecamatan Balikpapan
Utara, terutama pengembangan perumahan massal yang di bangun oleh beberapa
developer .
Struktur jaringan jalan seperti Jl. Soekarna – Hatta merupakan jalan utama di
Balikpapan Utara. Beberapa rencana pengembangan jaringan jalan telah
dikembangkan di Kecamatan Balikpapan Utara yaitu rencana jalan Trans
Kalimantan (merupakan salah satu prioritas dalam upaya peningkatan pelayanan
jalan lintas “Kalimantan Poros Selatan” yang berada di Wilayah Kalimantan Timur)
dan rencana jalan Ring Roads III yang menghubungkan wilayah Utara – Selatan
dan Barat – Timur Kota Balikpapan serta menghubungkan Kota Balikpapan dengan
Kota lain yakni Kabupaten Penajam Pasir Utara, Kutai Kertanegara hingga
Samarinda.
Berdasarkan RTRW Kota Balikpapan Tahun 2005-2015 Kecamatan Balikpapan Utara
ditetapkan sebagai :
Sub Pusat kota II diperkirakan tumbuh di sekitar persimpangan Jl. Trans Kaltim, Jl.
Arteri Primer Soekarno-Hatta, rencana Highway Basabosang dan Rencana RingRoad-2, yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan pengembangan kawasan Kota
Balikpapan khususnya Kecamatan Balikpapan Utara.
Kawasan Kota Ekologis di Karang Joang, dengan pengembangan kawasan yang
menyatu dengan alam, karena berbatasan langsung dengan hutan lindung (HLSW
dan HLS DAS Manggar).
Kegiatan-kegiatan di atas dapat mempengaruhi pola struktur ruang Kecamatan
Balikpapan Utara. Dengan berpedoman pada konsep pengembangan wilayah yang
dianggap cukup relevan di dalam menentukan struktur ruang Balikpapan Utara .
Struktur Kegiatan Utama Kecamatan Balikpapan Utara


Struktur kegiatan Kecamatan Balikpapan Utara didukung oleh beberapa fungsi
utama yaitu:
Industri yang telah berkembang adalah Kawasan Industri Kecil Somber, merupakan
sentra industri kecil di Kota Balikpapan, saat ini baru terealisasi 3 ha untuk industri
tahu tempe.
Perdagangan dan Jasa Kawasan perdagangan bertumpu di Kelurahan Muara Rapak
dengan berskala pelayanan regional atau perdagangan grosir. Perlu
pengembangan baru kawasan untuk mempermudah masyarakat melakukan
interaksi. Oleh karena itu Kecamatan Balikpapan Utara dibagi menjadi 3 BWK dan
37 UL Berdasarkan konsep Kota Balikpapan secara keseluruhan, pembagian BWK
tersebut diklasifikasikan sebagai berikut :
Bagian Wilayah Kota Inti, merupakan bagian wilayah kota yang berfungsi sebagai
pusat pengembangan regional dan nasional
Bagian Wilayah Kota Transisi, merupakan wilayah transisi dalam upaya
menyebarkan pengembangan wilayah di Kota Balikpapan. Upaya penyebaran
konsentrasi pembangunan merupakan inisiasi dalam membentuk sub-sub center
baru di Kota Balikpapan.
Bagian Wilayah Kota Pinggiran BWK ini memiliki karakteristik pembangunan pada
intensitas yang tidak terlalu tinggi. Strategi pengembangannya adalah
mempercepat akselerasi pembangunan di masing-masing wilayahnya.

Struktur Kegiatan Utama Kota

1
2


Struktur kegiatan Kecamatan Balikpapan Utara didukung oleh beberapa fungsi
utama yaitu:
Industri yang telah berkembang adalah Kawasan Industri Kecil Somber, merupakan
sentra industri kecil di Kota Balikpapan, saat ini baru terealisasi 3 ha untuk industri
tahu tempe.
Perdagangan dan Jasa Kawasan perdagangan bertumpu di Kelurahan Muara Rapak
dengan berskala pelayanan regional atau perdagangan grosir. Perlu
pengembangan baru kawasan untuk mempermudah masyarakat melakukan
interaksi. Oleh karena itu Kecamatan Balikpapan Utara dibagi menjadi 3 BWK dan
37 UL Berdasarkan konsep Kota Balikpapan secara keseluruhan, pembagian BWK
tersebut diklasifikasikan sebagai berikut :
Bagian Wilayah Kota Inti, merupakan bagian wilayah kota yang berfungsi sebagai
pusat pengembangan regional dan nasional
Bagian Wilayah Kota Transisi, merupakan wilayah transisi dalam upaya
menyebarkan pengembangan wilayah di Kota Balikpapan. Upaya penyebaran
konsentrasi pembangunan merupakan inisiasi dalam membentuk sub-sub center
baru di Kota Balikpapan.
Bagian Wilayah Kota Pinggiran BWK ini memiliki karakteristik pembangunan pada
intensitas yang tidak terlalu tinggi. Strategi pengembangannya adalah
mempercepat akselerasi pembangunan di masing-masing wilayahnya.
SEJARAH SINGKAT KOTA BALIKPAPAN
Asal Usul Nama Balikpapan
Versi Pertama
Pada saat Kerajaan Kutai Kartanegara akan membangun Istana Baru di sekitar
Kutai Lama, kepada penduduk di sekitar Teluk Balikpapan, diminta untuk mengirim
sumbangan papan sebanyak 1.000 keping dan pada saat pengiriman papan
tersebut, ada papan yang tercecer kurang lebih 10 keping papan, sementara
perahu yang membawa papan tersebut sudah tiba di tempat tujuan, dan oleh
penduduk setempat, mereka saling berteriak dengan kata-kata “Balikpapan Tu”
dan wilayah disekitar teluk tersebut kemudian disebut “BALIKPAPAN”.
Versi Kedua
Dalam cerita yang berkembang di masyarakat seputar pesisir pantai teluk (yang
kemudian disebut Teluk Balikpapan) adalah Suku Balik yang merupakan keturunan
dari kakek dan nenek KAYUN KULENG dan PAPAN AYUN, dan keturunanketurunannya disebut “KULEN PAPAN”, yang artinya BALIKPAPAN, karena dalam
bahasa Paser KULENG artinya BALIK.
Versi Ketiga
Dalam sejarah Kerajaan Paser, yang terdiri dari beberpa kerjaan kecil, dan salah
satu dari kerjaan kecil yang membawahi sebagian Kawasan Teluk mendapat
serangan dari kerajaan lain. Karena terdesak oleh musuh maka sang raja yang
memiliki seorang bayi putri dan tidak ingin kalau putrinya tersebut jatuh ke tangan
musuh, maka sang raja mengikat putrinya tersebut di sebuah papan, dan
dilarutkan ke pantai (di laut), dengan dorongan ombak dan arus, papan tersebut

terbalik dan terbawa sampai ke kawasan teluk dan dilihat oleh penduduk setempat
dan secara spontan penduduk tersebut berteriak “Balikpapan Tu” dan tempat di
Balikpapan tersebut terdapat seorang murid yang bernama Putri Petung, dan sejak
itulah dimana putri tersebut ditemukan dinamakan “BALIKPAPAN”.
Penetapan Hari Jadi Kota Balikpapan
Dalam Tahun 1984 atau tepatnya tanggal 1 Desember 1984, telah dilaksanakan
suatu seminar sejarah, yang bertujuan menggali berbagai sejarah dan cerita
keberadaan Kota Balikpapan.
Dari berbagai peristiwa itu, dalam seminar sejarah tersebut ada pengeboran
minyak pertama di pantai sekitar Teluk Balikpapan sebagai bagian dari realisasi
pasal-pasal kerjasama antara .H.Menten dengan Mr.Adam dari Firma Samuel dan
CO, dan pengeboran itu dilakukan pada tanggal 10 Pebruari 1897, dan dari
seminar sejarah tersebut disepakati bahwa hari jadi Kota Balikpapanadalah
tanggal 10 Pebruari 1897.

KARAKTERISTIK PENDUDUK

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Kota Balikpapan umumnya memiliki tingkat karakteristik penduduk yang beragam,
hal ini terlihat karena kota ini merupakan sentra industri minyak dan gas sehingga
membuat banyak orang melakukan mobilisasi ke Kota Balikpapan. Masyarakat
suku dayak merupakan masyarakat asli Ras Autronesia di pulau Kalimantan yang
disebut dengan Rumpun Kalimantan, diantaranya yaitu Banjar, Kutai, Dayak, Paser
yang biasa disingkat komunitas BAKUDA atau BAKUDAPA. Total populasi penduduk
mencapai 31,39 % (sensus di tahun 2000), diantara keempat suku di Kota
Balikpapan tersebut suku Banjar merupakan yang terbanyak. Selain keempat suku
diatas, banyak pula suku-suku dari pulau Sulawesi, jawa, sumatera, dan pulau
lainnya. Berikut merupakan suku-suku yang membentuk masyarakat atau orang
Balikpapan ;
Suku Paser 8,77%
Suku Kutai 10,43%
Suku Banjar 12,19%
Suku Bugis 14,44%
Suku Jawa 29,76%
Rumpun Tionghoa 16,76%
Suku Minahasa 6,81%
Suku Batak 3,21%
Suku Aceh 2,08%
Suku Gayo 1,08%
Suku Gorontalo 0,06%
Pada koridor cepat tumbuh masyarakat yang bermukim di wilayah tersebut
merupakan masyarakat suku bugis dan suku dayak. Suku bugis yang merupakan
pendatang di kawasan ini mulai masuk ke Kota Balikpapan pada tahun 1982,
dimana suku bugis hanya bermukim di sekitar pesisir pantai. Namun sejalannya
waktu, dengan banyaknya pertumbuhan penduduk di Kota Balikpapan memaksa
masyarakat suku bugis untuk mencari lahan-lahan lain untuk ditempati. Kawasan
cepat tumbuh merupakan salah satu kawasan yang berada persis di wilayah
bantaran sungai wain, jika dilihat berdasarkan penyebaran penduduknya suku

bugis banyak menduduki wilayah bagian barat kawasan cepat tumbuh, sedangkan
suku dayak lebih memilih bermukim di wilayah bagian timur kawasan cepat
tumbuh.
MASALAH-MASALAH PEMICU KONFLIK DALAM KORIDOR
Sifat Permasalahan Tanah di Koridor Cepat Tumbuh
Umumnya Kota Balikpapan merupakan salah satu wilayah yang memiliki luas
kawasan terbangun lebih kecil dibanding luas wilayah non-terbangun. Artinya
tanah masih didapat dimana-mana, tanah merupakan faktor produksi sangat
penting karena menentukan kesejahteraan hidup penduduk wilayah bersangkutan.
Paling sedikit ada tiga kebutuhan dasar manusia yang tergantung pada tanah.
Pertama, tanah sebagai sumber ekonomi guna menunjang kehidupan. Kedua,
tanah sebagai tempat mendirikan rumah untuk tempat tinggal. Ketiga, tanah
sebagai kuburan.
Walapun tanah khususnya di Kota Balikpapan dan umumnya di negara Indonesia
merupakan kebutuhan dasar, tetapi struktur kepemilikan tanah biasanya sangat
timpang. Di satu pihak ada individu atau kelompok manusia yang memiliki dan
menguasai tanah secara berlebihan namun di lain pihak ada kelompok manusia
yang sama sekali tidak mempunyai tanah. Kepincangan atas pemilikan tanah inilah
yang membuat seringnya permasalahan tanah di Kota Balikpapan menjadi salah
satu sumber utama destabilisasi politik.
Tanah dan pola pemilikannya bagi masyarakat di koridor cepat tumbuh merupakan
faktor penting bagi perkembangan kehidupan sosial, ekonomi dan politik
masyarakat setempat di samping kehidupan sosial, ekonomi, dan politik masingmasing warga itu sendiri. Wilayah agraris yang mengalami pola pemilikan
tanahnya pincang dapat dipastikan mengalami proses pembangunan yang
lamban, terjadi proses pemelaratan yang berat, terjadi krisis motivasi dan
kepercayaan diri untuk membangun diri mereka sendiri. Hal ini kebalikan dengan
perkembangan Kota Balikpapan, dimana jika dilihat dari proses pembangunan
yang dilakukan pemerintah setempat menunjukkan bahwa seakan-akan Kota
Balikpapan tidak memiliki masalah pertanahan.
Pada bagian lain, ketimpangan pemilikan tanah yang memperlihatkan secara
kontras kehidupan makmur sebagian kecil penduduk kawasan cepat tumbuh
pemilik lahan yang luas dengan mayoritas penduduk miskin merupakan potensi
konflik yang tinggi karena tingginya kadar kecemburuan sosial dalam masyaralat
itu apalagi di kawasan ini terdapat dua suku yaitu suku dayak dan suku bugis yang
memiliki tingkat kesejahteraan sosial berbeda-beda. Hal tersebut sukar
dihindarkan karena tanah selain merupakan aset ekonomi bagi pemiliknya juga
merupakan aset politik bagi pemilik untuk dapat aktif dalam proses pengambilan
keputusan dalam suatu pertemuan. Bagi mereka yang tidak memiliki tanah akan
mengalami dua jenis kemiskinan sekaligus, yakni kemiskinan ekonomi dan
kemiskinan politik.
Inti dari permasalahan tanah di kawasan cepat tumbuh ini adalah adanya
kebijakan pemerintah yang sangat merugikan masyarakat setempat khususnya
suku dayak yang bermukim di bagian timur kawasan cepat tumbuh. Pemerintah
sebagai pengambil kebijakan telah menetapkan kawasan ini sebagai kawasan
cepat tumbuh yang akan membantu kawasan industri kariangau (KIK) atau sebut
saja dengan kawasan industri kariangau 2.

Dengan dalil melakukan konsolidasi lahan, pemerintah secara langsung membuka
akses bagi pihak swasta untuk membuka lahan industri di kawasan cepat tumbuh.
Berikut dapat dilihat ilustrasi konsolidasi lahan yang di buat pemerintah kota
Balikpapan dalam rangka menata kawasan cepat tumbuh;

Dalam melakukan konsolidasi lahan, pihak pemerintah lebih memprioritaskan
konsolidasi lahan tersebut dilakukan di bagian timur kawasan cepat tumbuh.
Wilayah ini didominasi oleh penduduk suku dayak, yang menurut cerita lapangan
masyarakat ini sudah bermukim sejak tahun 1960-an. Awalnya mereka bermukim
di pesisir pantai Kota Balikpapan, namun dengan adanya perkembangan penduduk
maka memaksa masyarakat suku dayak untuk mencari wilayah baru untuk
bermukim.
Alhasil dari konsolidasi lahan yang dilakukan pemerintah setempat disetujui oleh
masyarakat suku dayak yang bermukim di bagian timur kawasan cepat tumbuh.
Dengan janji-janji yang diberikan pemerintah untuk suku dayak di wilayah ini,
terkesan membuat masyarakat dayak luluh dan langsung menyetujui konsolidasi
lahan tersebut. Dalam konsolidasi lahan ini, pemerintah memberikan suatu
pemahaman kepada masyarakat dayak bagaimana lahan yang mereka tempati
ditata ulang sehingga terlihat lebih baik serta dengan pembangunan infrastruktur
di wilayah tersebut.
Setahun pun berlalu, akhirnya kawasan ini ditata ulang oleh pemerintah.
Masyarakat merasa kurang puas dengan hasil yang dibuat pemerintah Kota
Balikpapan, karena banyak lahan mereka yang hilang dan semua itu berdasarkan
hasil konsolidasi lahan. Masyarakat berpendapat bahwa, kalaupun lahan mereka
hilang untuk kepentingan umum itu sah-sah saja, namun yang terlihat dilapangan
lahan mereka sebagian digunakan untuk kepentingan pihak swasta yaitu untuk
membangun pergudangan dan galangan kapal. Ini yang menjadi inti permasalahan
sehingga menurut masyarakat tidak perdasarkan kesepakatan awal yang dibangun
antara suku dayak dan pemerintah setempat. Berikut merupakan gambar dari
lokasi kawasan cepat tumbuh yang tersingkir akibat kepentingan pemerintah dan
swasta ;

Konflik pun terjadi antara pemerintah dengan suku dayak yang melibatkan aparat
keamanan, kontak demi kontak terjadi di kawasan cepat tumbuh bagian timur ini.
Melihat semua yang terjadi, pemerintah berinisiatif untuk meredup konflik tersebut
dengan cara memanggil petua adat suku dayak Kalimantan Timur (Gepak) untuk
menjelaskan kepada masyarakat bahwa semua kebijakan pemerintah itu akan
menguntungkan bagi pihak masyarakat diantaranya yakni masyarakat akan
dipekerjakan diperusahaan swasta yang membangun pergudangan dan galangan
kapal di tanah milik masyarakat setempat. Karena yang berbicara adalah ketua
dari ormas Gapak (suku dayak), maka masyarakat setempat hanya mengikuti apa
yang telah disampaikan oleh pemerintah. Namun ada sebagian masyarakat yang
tidak terima dengan janji-janji pemerintah melalui ketua ormas Gapak, yang
menurut mereka semua itu hanya habis manis sepah dibuang.
Beberapa bulan setelah konflik, sebagian masyarakat tidak sepakat dengan
kebijakan serta janji-janji baru dari pemerintah yang akhirnya meninggalkan
kawasan cepat tumbuh karena sudah tidak ada lagi lahan untuk menggarap.
Masyarakat pun bergegas menuju ke salah satu Kabupaten Baru di provinsi
Kalimantan Timur yaitu Kabupaten Pasir Panajam, masyarakat pergi dengan
membawa kekesalan karena hak mereka telah dirampas oleh pihak pemerintah
dan swasta. Sampai diakhir tahun 2009, kami melakukan observasi lapangan dan
menemukan sebagian masyarakat suku dayak yang bermukim di bagian timur
kawasan cepat tumbuh dengan profesi terbaru mereka yaitu hanya sebagai tukang
ojek dan buruh di pelabuhan ferry.
Ketidakadilan Sosial
Secara sosial ekonomi masyarakat di kawasan cepat tumbuh telah memiliki
struktur mata pencaharian yang mengarah pada sektor-sektor ekonomi sekunder
yaitu perdagangan dan jasa, industri dan lain sebagainya. Untuk masyarakat yang
memiliki pekerjaan pada sektor-sektor primer misalnya petani, peternak dan lain
sebagainya sebagian besar merupakan masyarakat yang berada di daerah
enclave. Masyarakat yang memiliki pekerjaan sebagai petani hampir sudah tidak
terlihat lagi pada sekitar kawasan cepat tumbuh dan mereka merupakan penduduk
asli Kalimantan yaitu suku dayak. Suku dayak yang bermukim di kawasan ini
awalnya merupakan petani kebun, namun dengan adanya perubahan guna lahan
yang disebabkan oleh program pemerintah untuk merencanakan kawasan cepat
tumbuh menjadi salah satu pendukung dalam perekonomian Kalimantan Timur.
Ketidakadilan sosial, budaya, dan ekonomi menjadi lapisan subur bagi tumbuhnya
konflik. Terbuka kemungkinan berbagai kepentingan dari luar sengaja
memanaskan suhu. Namun, ketidakadilan mendorong meletusnya konflik.
Masyarakat suku dayak di kawasan ini pun merasa adanya ketidakadilan sosial
yang dilakukan pemerintah, menurut masyarakat dayak mereka seakan-akan
bukan masyarakat pribumi yang seenaknya saja diberlakukan seperti itu.

Masyarakat sadar akan hak-hak mereka, bukan saja hak di bidang politik tetapi
juga hak di bidang ekonomi, misalnya atas pangan, kesehatan, atau pekerjaan.
Ketika masyarakat dayak menekankan identitas kedaerahan dan identitas
etnisnya, mereka tidak sekedar menuntut lahan yang telah diambil pemerintah
untuk kepentingan daerah tetapi mereka juga menyuarakan bahwa sebagian dari
hak sosial dan ekonomi dasar mereka belum terpenuhi.
Sudah banyak fenomena seperti ini terjadi, bukan hanya di Kota Balikpapan namun
seluruh dunia pun mengalami hal yang sama yaitu tidak terpenuhinya hak
masyarakat. Masyarakat suku dayak menginginkan apa yang telah dijanjikan
pemerintah agar bisa terpenuhi minimal dengan adanya pembangunan industri di
kawasan ini dapat membuka lahan pekerjaan bagi masyarakat atau kata kasarnya
walaupun hanya jadi buruh di perusahaan tersebut yang penting mereka dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya.
Berdasarkan hasil interview di lapangan pada tahun 2009, kami mendapat
informasi bahwa hampir seluruh suku dayak yang dulunya bermukim di kawasan
cepat tumbuh ini akhirnya pindah ke Kabupaten Pasir Panajam yang letaknya tidak
jauh dari Kota Balikpapan dengan alasan bahwa mereka tidak sanggup lagi
menghidupi keluarganya jika masih tetap bertahan tinggal di kawasan cepat
tumbuh, yang pada dasarnya tanah mereka yang dulu dikelola sendiri telah
dijadikan sebagai areal industri dan pergudangan serta galangan kapal untuk
industri tambang dan energi.
Sampai detik ini, masyarakat suku dayak yang bermukim di kawasan cepat
tumbuh hanya mencukupi kebutuhan hidupnya dengan cara menjadi buruh kasar
di pelabuhan ferry yang terdapat di kelurahan kariangau, selain buruh kasar
mereka juga narik ojek dimana motor yang mereka gunakan sebagian besar milik
masyarakat suku bugis yang bermukim di bagian barat wilayah kawasan cepat
tumbuh. Memang berdasarkan pantauan dilapangan, bahwa perbandingan antara
masyarakat suku dayak dan masyarakat suku bugis dalam hal bekerja maka bisa
dikatakan masyarakat suku bugislah yang paling ulet dalam bekerja. Tetapi dari
sisi lain, jangan lupa kalau masyarakat suku dayak juga memiliki hak yang sama
dengan masyarakat lainnya yaitu hak untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang
layak. Selain hak untuk mandapatkan pekerjaan, mereka juga berhak
menggunakan tanah mereka untuk dapat memenuhi kebutuhan kesehariannya.
Karena merasa tidak adanya ketidakadilan sosial maka seringkali terjadi konflik
antar ormas suku dayak dengan ormas suku bugis di kota Balikpapan yang bisa
saya katakan hanya ada dua faktor utama dalam konflik antar kedua ormas
tersebut yaitu yang pertama karena perbedaan pendapat dan kedua perbedaan
pendapatan. Hal ini sangat perlu diperhatikan oleh pemerintah Kota Balikpapan
untuk dapat memenuhi hak masyarakat khususnya masyarakat suku dayak yang
bermukim di kawasan cepat tumbuh ini. Jika pemerintah masih lalai dalam melihat
permaslahan ini maka konflik seperti diatas tidak menutup kemungkinan akan
terjadi sepanjang tahun.
Secara konseptual, pemerintah tidak membangun kesejahteraan sosial bagi
masyarakat setempat selebihnya untuk masyarakat pribumi yaitu suku dayak. Hal
yang dimaksud dengan pembangunan kesejahteraan sosial ini adalah pemerintah
harus mempunyai usaha yang terencana dan terarah yang meliputi berbagai
bentuk intervensi sosial dan pelayanan sosial untuk memenuhi kebutuhan
manusia, mencegah dan mengatasi masalah sosial.

Perubahan Guna Lahan Kawasan Cepat Tumbuh
Koridor Jalan Sultan Hasanuddin Km 5.5 Kota Balikpapan masih didominasi oleh
kawasan non terbangun berupa lahan hutan mangrove dan hutan akasia yang
berada pada bagian timur kawasan serta kebun-kebun masyarakat, dimana lahan
yang ada sebagian besar merupakan hak milik. Penggunaaan lahan yang ada terus
mengalami perubahan seiring dengan meningkatnya pengembangan kegiatan
industri dan pergudangan.
Dalam RDTR Kecamatan Balikpapan Utara dan Kecamatan Balipapan Barat telah
diarahkan bahwa kawasan ini akan dialokasikan sebagai kegiatan kawasan
perdagangan dan jasa, kegiatan industri kecil dan pergudangan, serta perumahan
swadaya. Jika dilihat dari pesatnya pertumbuhan fungsi peruntukkan lahan di
sepanjang koridor, maka akan terbuka peluang terjadinya permasalahan ekologis
yang sangat merugikan masyarakat setempat.
Tabel
Analisa Pemanfaatan Lahan di Koridor Jalan Sultan Hasanuddin Km 5.5

No

Loka
si

Penggunaan
Lahan
Eksisting

Arahan RTRW/RDTR

Fungsi

1

Secti
on A

– Permukiman
– Perdagangan
– Pergudangan

– Perdagangan
Jasa

dan


Perdagangan
dan Jasa

B1

– Pemukiman
– Perdagangan
dan Jasa

Industri
Pergudangan


Industri
Pergudangan

dan

B2

– Perumahan
– Industri dan
Pergudangan

Hutan
Mangrove


Industri
dan
Pergudangan
– Hutan Mangrove

– Perumahan
– Industri dan
Pergudangan

B3

– Transportasi
– Kesehatan
– Pendidikan

Hutan
Mangrove


Industri
dan
Pergudangan
– Hutan Mangrove


Transportasi
dan Galangan
Kapal

– Perkantoran
– Hotel
– Industri dan

– Industri Rumahan
– Perumahan swadaya
– Konservasi

– Industri dan
Pergudangan

Perumahan

Secti
on B

2

3

Secti
on C

– Perumahan
– Industri dan
Pergudangan

Pergudangan
– Pemukiman

swadaya
– Transportasi

Sumber Data ; Hasil Analisa Tim Penyusun RTBL, Tahun 2009.
Berdasarkan tabel analisis diatas, terlihat jelas adanya alih fungsi lahan di koridor
ini. Sebagian besar alih fungsi lahan dikarenakan adanya kepentingan diatas
kepentingan yang hanya ingin untung sendiri, tanpa memperhatikan masyarakat
sekitar koridor ini. Umumnya masyarakat yang bermukim di sekitar koridor ini
adalah masyarakat suku dayak dan bugis, namun berjalannya waktu dengan
adanya pembangunan kawasan cepat tumbuh yang diprioritaskan sebagai
kawasan industri dan pergudangan. Dalam melakukan observasi, kami
menemukan adanya informasi mengenai pindahnya suku dayak ke Kabupaten
Pasir Panajam yang diakibatkan oleh sempitnya lahan untuk dimanfaatkan sebagai
perkebunan.
Menurut kami memang konsep yang telah dibangun oleh pemerintah Kota
Balikpapan yang menyatakan suatu pembangunan telah begitu melekat pada
suatu prestasi kemajuan masyarakat industri. Maka dapat dikatakan pada sisi lain
masyarakat non-industri dipinggirkan ke arah yang namanya terbelakang.
Dalam membangun suatu wilayah perlu adanya suatu pemahaman khusus
mengenai pembangunan itu sendiri, kebanyakan orang salah menilai arti dari
sebuah pembangunan. Kita lihat sendiri pada koridor ini, yang mana pemerintah
Kota Balikpapan menyatakan akan melakukan pembangunan disepanjang koridor
cepat tumbuh, namun pemerintah tidak memperhatikan berbagai dampak yang
akan timbul akibat adanya pembangunan, dengan dalil untuk membangun
masyarakat industri. Hal ini terlihat kaku karena berdasarkan kebijakan yang
dikeluarkan pemerintah setempat bahwa koridor tersebut akan diarahkan sebagai
kawasan industri dan pergudangan, namun alih-alihnya yang dimaksud dengan
industri dan pergudangan tersebut adalah industri dan pergudangan yang
mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan hingga merusak tatanan
lingkungan dan keberlanjutan pembangunan, utamanya hutan mangrove
disepanjang koridor cepat tumbuh serta membatasi masyarakat.
Pelecehan Ekologis
Kenapa sampai dikatakan terjadi pelecehan ekologis?? semua ini mengandung arti,
bagaimana pembangunan dapat berjalan tanpa melampaui ambang batas daya
dukung lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang tanpa mengurangi
kesempatan bagi generasi mendatang untuk membangun dan mencukupi
kebutuhan.
Kawasan cepat tumbuh merupakan salah satu kawasan yang dicanangkan
pemerintah Kota Balikpapan agar diprioritaskan pembangunan guna untuk
mendukung perekonomian Kalimantan Timur. Namun, seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya bahwa dalam melakukan perencanaan pihak pemerintah dan pihak
swasta tidak memperhatikan akan dampak yang timbul akibat pembangunan di
kawasan tersebut, seperti akan terjadi konflik antara masyarakat dengan
pemerintah akibat hutan mangrove yang disulap pemerintah menjadi galangan
kapal sehingga membuat penghasilan masyarakat setempat menjadi berkurang.
Dapat dilihat juga pada kawasan ini akibat dari tidak adanya perhatian khusus dari
pemerintah, maka akan berdampak buruk bagi masyarakat yaitu ;

Terjadinya eksploitasi Sumber Daya Alam secara berlebihan hingga merusak

tatanan lingkungan dan keberlanjutan pembangunan, utamanya hutan mangrove.

Terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan pemanfaatan lahan dan ruang.

Berkembangnya kegiatan sepanjang DAS Wain, sehingga terjadi alih fungsi
lahan secara besar-besaran, dan pengembangan fisik dengan tidak
memperhatikan garis sempadan sungai.
Hal diatas membutuhkan kesigapan pemerintah Kota Balikpapan yang sangat
objektif kepada masyarakat, agar tidak menimbulkan konflik antara masyarakat
dengan pemerintah setempat. Masalah ini dikarenakan menyangkut dengan
interaksi masyarakat dengan lingkungan setempat, apabila lingkungan tidak
diperhatikan dengan baik oleh pemerintah maka lingkungan tersebut akan rusak
dan mempengaruhi aktivitas masyarakat misalnya lahan yang akan digarap sudah
tidak produktif lagi atau masyarakat yang memiliki penghasilan sebagai nelayan
akan berkuran akibat rusaknya lingkungan setempat.
Konsisten dibalik tidak Konsistennya Kebijakan Pemerintah Kota Balikpapan
Terlihat dengan jelas dalam kebijakan yang diambil pemerintah Kota Balikpapan
mengenai KIK memiliki implikasi yang sangat memojokkan kepentingan publik.
Berdasarkan RTRW dan RDTR yang coba kami perlihatkan pada baris sebelumnya
menunjukkan konsistennya pemerintah Kota Balikpapan dalam membangun sistem
perencanaan yang sangat baik dengan mempertimbangkan banyak aspek
termasuk kepentingan publik. Namun dibalik semua kebijakan pemerintah yang
dibuat dengan sajian istimewa hanya terasa hitam diatas putih saja, tidak ada
kejelasan yang dibangun pemerintah Kota Balikpapan untuk kepentingan publik.
Dibalik semua kebijakan yang dilakukan pemerintah Kota Balikpapan, menyiratkan
bahwa adanya ketidak konsistennya pemerintah dalam menjawab hasil dari sistem
perencanaan yang telah dibangun bersama antar sektor. Menurut kami,
pemerintah kota Balikpapan telah menyediakan menu khas pulau borneo ini untuk
dibagikan kepada para investor/swasta yang memiliki peran penting dalam
pembangunan koridor cepat tumbuh sebagai lokasi industri dan pergudangan
serta galangan kapal yang digunakan sebagai port pengangkut hasil tambang ke
luar pulau Kalimantan.
Jika kita lihat dari struktur kegiatan dalam RDTR Kecamatan Balikpapan Barat,
koridor cepat tumbuh ini dikhususkan untuk dapat berkembangnya industri dan
pergudangan, perdagangan dan jasa, kawasan transportasi, permukiman, hutan
dan kawasan konservasi. Namun, dari kebijakan yang dibuat pemerintah ini
seakan-akan terlihat sangat kapitalisme karena dalam pelaksanaannya sama
sekali tidak menyentuh pihak kecil/masyarakat suku dayak yang bermukim di
kawasan ini. Kebijakan pemerintah ini hanya mengedepankan kepentingan
investor yang akan membangun kawasan ini, bisa kita lihat dari beberapa struktur
kegiatan diatas terjadi kontradiksi antara pembangunan industri dan pergudangan
dengan pelestarian hutan dan kawasan konservasi. Berdasarkan informasi yang
didapat pihak swasta telah mengeluarkan statemen bahwa dalam pembangunan
industri ini akan mempengaruhi kawasan mangrove yang ada di bantaran sungai
wain, namun pemerintah mengatakan mereka akan berusaha mengawal
pembangunan industri tersebut agar hutan mangrove sama sekali tidak
terpengaruh.
Berdasarkan kebijakan pemerintah itulah yang membuat masyarakat suku dayak
sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa dalam mempertahankan tanahnya,
walaupun sempat terjadi konflik yang lama dengan pihak pemerintah namun
dengan keterbatasan yang dimiliki membuat masyarakat suku dayak tidak

memiliki cukup nyali untuk melawan kebijakan yang dianggap tidak konsisten dari
pihak masyarakat suku dayak tersebut. Dengan ketidakberdayaan masyarakat
suku dayak, maka dengan leluasanya pemerintah kota Balikpapan membangun
kawasan cepat tumbuh ini sebagai Kawasan Industri Kariangau (KIK).
MP3EI DIBALIK KORIDOR CEPAT TUMBUH
Dalam sajian MP3EI koridor Kalimantan merupakan salah satu wilayah yang
dinobatkan sebagai koridor ke empat, dengan tema pembangunan sebagai pusat
produksi dan pengelolaan hasil tambang dan lumbung energi nasional, yang terdiri
dari empat pusat ekonomi yaitu daerah Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, dan
Samarinda. Dengan kegiatan ekonomi utama adalah minyak dan gas, batubara,
kelapa sawit, besi baja, bauksit, perkayuan. Selain itu, MP3EI merupakan
rancangan pembangunan ekonomi Indonesia selama 15 tahun, terhitung mulai
2011 hingga 2025, yang dirancang khusus dengan tujuan visi pembangunan
Indonesia, menuju Negara maju yang lebih sejahtera, percepatan dan perluasan
pembangunan
ekonomi.
Strategi
utama
yang
dikembangkan
adalah
mengembangkan koridor ekonomi Indonesia, memperkuat konektivitas nasional,
dan mempercepat kemampuan SDM dan IPTEK nasional. Kaitannya dengan koridor
ekonomi akan dikembangkan 6 koridor ekonomi, yaitu Sumatera, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi – Maluku Utara, Bali – Nusa Tenggara, Papua – Maluku. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini ;

Jika ditinjau hubungannya dengan pembangunan di koridor cepat tumbuh jalan
Sultan Hasanuddin km 5.5 Kota Balikpapan adalah bagaimana kesigapan
pemerintah provinsi Kalimantan Timur untuk menopang MP3EI tersebut, dengan
cara membangun industri pergudangan di koridor ini untuk mempercepat mobilitas
hasil tambang dan energi yang kemudian akan dibawa melalui pelabuhan yang
telah disediakan pada koridor cepat tumbuh. Hal ini disebabkan oleh karena
sebelum adanya program sajian MP3EI, KIK ini telah menjadi salah satu Kawasan
Industri Nasional dengan persetujuan kementerian perindustrian maka dengan
persetujuan ini dari pihak kementerian juga menyutujui akan membantu
pembangunan KIK tersebut. Berbagai macam cara dilakukan pemerintah Kota
Balikpapan untuk dapat membangun kawasan ini, alhasil pemerintah mampu
membangun KIK sebagai pusat kegiatan industri di provinsi Kalimantan Timur yang
dipusatkan di KIK. Namun, disisi lain pemerintah sama sekali tidak memperhatikan
dampak yang akan timbul akibat adanya pembangunan kawasan cepat tumbuh
tersebut. Walaupun secara tidak langsung pemerintah membuat RTRW dan RDTR
yang mana dalam perencanaan itu pemerintah menekankan untuk dapat melihat
dampak yang terjadi ketika koridor cepat tumbuh akan dibangun.
Menurut Adi Utomo, N. (2011) dari gambar sajian MP3EI diatas menunjukkan
koridor ekonomi pulau Kalimantan akan difokuskan terhadap sumberdaya alam
dan juga pengolahannya, Kemudian akan ada 2 pelabuhan internasional di
Kalimantan Timur yaitu Pelabuhan Maloy di Kutai Timur dan pelabuhan terminal
peti kemas Kariangau di Balikpapan. Menurut dokumen MP3EI ini, pengembangan
kapasitas pelabuhan Maloy ini sudah mulai dibuat pada tahun 2011 ini dengan
total nilai investasi sebesar Rp. 4.800 miliar dan diperkirakan selesai pada tahun
2013. Sedangkan satu lagi yaitu terminal peti kemas Kariangau di Balikpapan yang
justeru sudah berlangsung pembangunannya sejak 2008 dan akan berakhir pada

2012 dengan biaya investasi sebesar Rp. 713 miliar.
Pengembangan Kawasan Industri Kariangau (KIK) tampaknya tidak berjalan mulus.
Selain persoalan pembebasan lahan dan penyiapan infrastruktur yang belum
tuntas seratus persen, keberadaan hutan mangrove di kawasan itu ikut mematik
reaksi dari pelaku usaha. Tidak mungkin investor asing mau ambil resiko masuk ke
KIK, kalau di dalam KIK ada kawasan mangrove yang dilindungi dunia
internasional.
PENUTUP
Dalam melihat fenomena yang terjadi di kawasan cepat tumbuh ini, kami dapat
menyimpulkan bahwa dalam melakukan suatu perencanaan keruangan
pemerintah Kota Balikpapan sama sekali tidak melibatkan peran serta masyarakat
dalam membangun Kawasan Industri Kariangau (KIK) dalam kawasan cepat
tumbuh Jalan Sultan Hasanuddin Km. 5,5, sehingga menyebabkan konflik antara
pemerintah dan masyarakat suku dayak di kawasan ini. Dalam UU penataan ruang
no 26 tahun 2007 menjelaskan bahwa keterlibatan masyarakat sangatlah penting
dalam melakukan pembangunan pada suatu wilayah, mungkinsaja pemerintah
Kota Balikpapan melupakan UU tersebut sebagai landasan dalam sebuah sistem
perencanaan sehingga dalam kebijakannya berpaling dari isi UU tersebut. Semua
ini menandakan tidak adanya konsisten yang dibangun oleh pemerintah sendiri
dalam menjalankan pembangunan berkelanjutan di Kota Balikpapan.
Berbagai permasalahan yang timbul akibat pembangunan KIK, namun sama sekali
tidak menggetarkan hati pemerintah dalam melihat bahwa ada kepentingan
masyarakat yang perlu diperhatikan yaitu sosial ekonomi masyarakat suku dayak
yang sama sekali belum terpenuhi. Berbagai cara dilakukan pemerintah dalam
melakukan pembangunan ini, mulai dari melakukan perencanaan tata ruang
wilayah/RTRW, RDTR, sampai pada desain RTBL kawasan cepat tumbuh. Ketiga
sistem perencanaan yang dibangun pemerintah Kota Balikpapan ini merupakan
landasan dalam pengembangan KIK tersebut, namun alhasil untuk mempercepat
proses dari pembebasan lahan industri maka pihak pemerintah mengupayakan
dilakukannya konsolidasi lahan di koridor cepat tumbuh agar menjadi lebih baik
dan lebih terpenuhi infrastruktur d kawasan ini. Tetapi setelah dilakukan
konsolidasi lahan tersebut, pihak masyarakat suku dayak merasa tidak adil dengan
hasil yang dibuat pemerintah maka terjadilah konflik.
Semua ini merupakan kebijakan yang bukan berdasarkan partisipasi masyarakat
namun kebijakan ini sangatlah merugikan masyarakat, terlihat jelas dalam
kebijakan yang diambil pemerintah sama sekali tidak mengacu pada pedoman
yang berlaku, semua itu hanya kepentingan kapitalisme yang mau menang sendiri.
Selain itu, dengan kebijakan pemerintah yang melakukan perencanaan di kawasan
cepat tumbuh ini menimbulkan terjadinya eksploitasi Sumber Daya Alam secara
berlebihan hingga merusak tatanan lingkungan dan keberlanjutan pembangunan,
utamanya hutan mangrove serta berkembangnya kegiatan sepanjang DAS Wain
sehingga terjadi alih fungsi lahan secara besar-besaran dan pengembangan fisik
dengan tidak memperhatikan garis sempadan sungai. Semua ini merupakan
kesalahan dari pemerintah dalam menjalankan kebijakannya yang tidak
mempertimbangkan masyarakat kecil/suku dayak sehingga hal seperti ini tak
dapat terhindari.
PUSTAKA
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Balikpapan Tahun 2005-2015
Rencana Detail Tata Ruang, Kecamatan Balikpapan Barat dan Kecamatan

Balikpapan Utara, Tahun 2009.
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan, Kawasan Cepat Tumbuh, Tahun 2009.
Ali, Madekhan. Orang Desa Anak Tiri Perubahan, Averroes Press, Malang, 2007.
Tjokrowinoto, M. Pembangunan Dilema dan Tantangan, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 2007.
Djamal Irwan, Zoer’aini. Prinsip-prinsip Ekologi, Bumi Aksara, Jakarta, 2007.
Suharto, Edi. Analisis Kebijakan Publik, Cv Alfabeta, Bandung, 2008.
Budiharjo, Eko. Penataan Ruang dan Pembangunan Perkotaan, PT Alumni, Bandung
2009.
Budiharjo, Eko. Wawasan Lingkungan dalam Pembangunan Perkotaan, PT Alumni,
Bandung, 2009.
Adi Utomo, N. Konflik Lahan di Taman Nasional yang Tak Kunjung Usai. Draf Paper
Kuliah Kebijakan Pertanahan, Institut Pertanian Bogor. 2011.