You are on page 1of 10

BAB II

LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN SENSORI PERSEPSI: HALUSINASI
A. MASALAH UTAMA
Gangguan persepsi sensori : Halusinasi
B. PROSES TERJADI MASALAH
1. Pengertian
Halusinasi adalah penyerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca
indera seseorang pasien yang terjadi didalam keadaan sadar atau bangun,
dasarnya mungkin organik psikotik ataupun historik ( Marasmus, 1994 ).
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa dimana klien
mengalami perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara,
penglihatan, pengecapan, perabaan atau penghidupan. Pasien merasakan
stimulasi yang sebetulnya tidak ada (Damaiyanti, 2008).
2. Rentang Respon
Rentang Respon Neurobiologik
Respon Adaptif
Respon Maladaptif
1.Pikiran logis
6.Distorsi pikiran
11.Gangguan pikir
2.Persepsi akurat
7.Ilusi
12. Halusinasi
3.Emosi konsisten dgn 8.Reaksi emosi 13. Sulit berespon emosi pengalaman
9.Perilaku aneh
4.Perilaku sesuai
5.Berhubungan sosial
3.

14.Perilaku disorganisa
10.Menarik
15. Isolasi sosial

Tanda dan Gejala
a. Berbicara sendiri
b. Tersenyum dan tertawa sendiri
c. Bersikap seperti sedang mendengarkan sesuatu ( memiringkan kepala ke

satu sisi seperti seseorang jika mendengarkan sesuatu )
d. Disorientasi
e. Kosentrasi rendah
f. Pikiran cepat dan berubah-ubah
g. Respon tidak sesuai
h. Kekacauan alur pikir
i. Ada yang menarik diri dan menghindar dari orang lain
j. Curiga , bermusuhan.
4. Penyebab
a. Faktor Predisposisi

a) Biologis
 Gangguan perkembangan dan fungsi otak / susunan saraf pusat.
 Gejala yang mungkin muncul adalah : hambatan dalam belajar,
berbicara, daya ingat dan mungkin perilaku kekerasan.
b) Psikologis
 Sikap dan keadaan keluarga juga lingkungan.
 Penolakan dan kekerasan dalam kehidupan pasien.
 Pola asuh pada usia kanak-kanak yang tidak adekuat mis : tidak ada
kasih sayang, diwarnai kekerasan dalam keluarga.
c) Sosial budaya
 Kemiskinan, konflik sosial budaya ( peperangan, kerusuhan,
kerawanan keamanan ).
 Kehidupan yang terisolir disertai stres yang menumpuk.
b. FaktorPresipitasi
a) Kurangnya sumber daya atau dukungan sosial yang dimiliki
b) Respon koping yang maladaptif.
c) Komunikasi dalam keluarga kurang atau juga kemampuan finansial
5.

keluarga.
Fase-Fase Dalam Halusinasi
a. Fase pertama / Comforting( Ansietas sedang )
a) Pasien mengalami stres, cemas, perasaan perpisahan, kesepian
yang memuncak dan tidak dapat diselesaikan
b) Pasien mulai melamun dan memikirkan tentang hal-hal yang
menyenangkan. Cara ini hanya menolong sementara
b. Fase kedua / Condemning ( Ansietas berat )
a) Kecemasan meningkat, melamun, berfikir sendiri

jadi

dominanMulai diresahkan oleh bisikan yang tidak jelas
b) Pasien tidak ingin orang lain tahu dan dia tetap dapat mengontrol
c. Fase ketiga / Controlling ( AnsietasBerat )
a) Bisikan suara, isi halusinasi makin menonjol, menguasai dan
mengontrol pasien
b) Pasien menjadi terbiasa dan tidak berdaya tehadap halusinasinya
d. Fase keempat / Conquering ( Panik )
a) Halusinasi berubah menjadi mengancam, pemerintah dan memarah
pasien
b) Pasien menjadi takut, tidak berdaya, hilang kontrol dan tidak dapat
6.

berhubungan secara nyata dengan orang lain di lingkungan
Identifikasi Adanya Perilaku Halusinasi
1. Isi halusinasi
a. Menanyakan suara siapa yang didengar
b. Apa bentuk bayangan yang dilihat

c. Bau apa yang tercium
d. Rasa apa yang dikecap
e. Merasakan apa dipermukaan tubuh
2. Waktu dan frekuensi halusinasi
a. Kapan pengalaman halusinasi itu muncul
b. Bila mungkin klien diminta menjelaskan kapan persis waktu terjadinya
halusinasi tersebut
3. Situasi pencetus halusinasi
a. Menanyakan kepada pasien peristiwa atau kejadian yang dialami sebelum
halusinasi muncul
b. Mengobservasi apa yang dialami pasien menjelang munculnya halusinasi
4. Respon Pasien.
a.
Apa yang dilakukan oleh pasien saat
mengalami pengalaman halusinasi
b.
Apakah masih bisa mengontrol stimulus
7.

halusinasi atau sudah tidak berdaya lagi terhadap halusinasi
Macam-Macam Halusinasi :
a) Halusinasi Pendengaran / Auditory
Mendengar suara atau bunyi paling sering suara orang. Suara dapat
berkisar dari suara yang sederhana sampai suara yang membicarakan
pasien, memerintahkan untuk melakukan sesuatu.
b) Halusinasi Penglihatan/ Visual
Melihat gambaran yang jelas atau samar, penglihatan dapat berupa
sesuatu yang menyenangkan atau menakutkan.
c) Halusinasi Penciuman/ Olfactory
Mencium bau yang muncul dari sumber tertentu tanpa stimulasi yang
nyata dan orang lain tidak menciumnya.
d) Halusinasi Pengecap / Gustatory
Merasakan makan sesuatu yang tidak nyata, merasakan sesuatu yang
busuk, amis dan menjijikan.
e) Halusinasi Perabaan / Tactile
Merasa atau mengalami rasa sakit, tidak enak, ada sensasi dari tanah,
benda dan orang lain.
f) Halusinasi Cinethetic/ Sinestetik
Merasa fungsi tubuh darah mengalir, makanan dicerna, pembentukan
urine, terikat dengan organ tubuh dalam.
g) Halusinasi Kinestetik
Merasa dirinya ada yang bergerak.
h) Halusinasi Viseral
Timbulnya perasaan tertentu di dalam tubuhnya.

8. Akibat
1. Mencederai perilaku kekerasan
2. Bermusuhan dan perilaku kekerasan
C. MASALAH DAN DATA YANG PERLU DIKAJI

No
1

Masalah

Data Subyektif

Keperawatan
Masalah
gangguan

utama

:

Pasien

persepsi

mengatakan

sensori : halusinasi

tidak

Data Obyektif

mau

menyendiri

lain

karena

Pasien jarang bicara /
bergaul dengan orang

bergaul
dengan orang

Pasien sering

lain

Pasien sering melamun
menolak berhubungan

merasa malu

dengan orang lain

Sering memutuskan
percakapan

Apatis, ekspresi sedih,
efek tumpul kontak mata
kurang

2

MK : Isolasi sosial

“Pasien

mengatakan

takut

bergabung

dengan

orang

lain,

Pasien

takut

bila

orang

lain

menciderainya,
kadang hanya didapat
jawaban singkat “ ya
atau tidak”

Pasien sering menyendiri

Pasien jarang bicara /
bergabung dengan orang
lain,

Pasien sering melamun,
menolak berhubungan
dengan orang lain, sering
memutuskan percakapan.

3

MK

:

resiko Pasien

mendengar

mencederai

diri suara-suara bisikkan

sendiri,

lain

orang

dan lingkungan.

Pasien melamun

Menyendiri

Bicara sendiri tertawa
sendiri, marah

D. POHON MASALAH

KOPING INDIVIDU
INEFEKTIF

Tidak dapat menyelesaikan masalah

DEFISIT PERAWATAN
DIRI

penampilan tdk rapi,
Bersih dan sehat
DEFICIT
AKTIVITAS

HALUSINASI
PENDENGARAN

Bicara sendiri, melamun, tatapan mata kosong

lesu, lemas

DEFISIT
PENGETAHUAN

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan sensori persepsi: halusinasi
2. Isolasi sosial
3. Risiko perilaku kekerasan (pada diri sendiri, orang lain, lingkungan dan verbal)
F. FOKUS INTERVENSI
Diagnosa keperawatan
1. Isolasi sosial menarik diri dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi.
a. Tujuan umum
Pasien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal.
b. Tujuan khusus dan intervensi
1) TUK I : Pasien dapat membina hubungan saling percaya
a. Kriteria evaluasi :
Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak
mata, mau berjabat tangan, menyebutkan nama dan menjawab salam,
mau mengutarakan masalah yg dihadapi
b. Intervensi :
Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip
komunikasi terapeutik :

a) Sapa pasien dg ramah baik verbal maupun non verbal
b) Perkenalkan diri dengan sopan
c) Tanyakan nama lengkap pasien dan nama panggilan
d) Jelaskan tujuan pertemuan
e) Jujur dan menepati janji
f) Tunjukkan sikap empati dan menerima pasien apa adanya
g) Beri perhatian pada pasien dan perhatikan kebutuhan dasar pasien

c. Rasional :
Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran
hubungan interaksi selanjutnya.
2) TUK II : Pasien dapat mengenali halusinasinya
a. Kriteria evaluasi :
a) Pasien dpt menyebutkan waktu, isi, frekuensi timblnya halusinasi
b) Pasien dapat mengungkapkan perasaan terhadap halusinasinya
b. Intervensi
a) Adakah kontak sering dan singkat secara bertahap
Rasional :
Kontak yang sering dapat mencipta kan rasa percaya dan
memutuskan halusinasi.
b) Bantu pasien mengenali halusinasinya : bicara dan tertawa
tanpa stimulus, memandang kekiri atau kekanan seolah ada teman
bicara
Rasional :
Mengenal perilaku pada saat halusinasi timbul memudahkan
perawat dalam melakukan intervensi.
c) Bantu pasien mengenal Halusinasinya
 Jika pasien sdg halusinasi tanyakan “apakah ada suara yang

didengar”.
Jika ada lanjutkan pertanyaan “apa yang dikatakan”.
Katakan bahwa perawat percaya pasien mendengar suara itu,
namun perawat sendiri tidak mendengarnya (katakan dengan
nada bersahabat).

Rasional :
Mengenal halusinasi memungkinkan pasien untuk menghindarkan
faktor pencetus timbulnya halusinasi.
d) Diskusikan dengan pasien
 Situasi yg menimbulkan atau yg tidak menimbulkan halusinasi
 Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (Pagi, Siang,sore dan
malam atau jika sendiri, jengkel, sedih)
Rasional :
Dengan mengetahui waktu, isi, dan frekuensi munculnya halusinasi
mempermudah tindakan keperawatan pasien yang akan dilakukan oleh
perawat.
e) Diskusikan dengan pasien apa yg dirasakan jika terjadi halusinasi
(marah

atau

takut,

sedih,

senang)

beri

kesempatan

pasien

mengungkapkan perasaannya
Rasional :
Untuk mengidentifikasi pengaruh halusinasi pasien
3) TUK III : Pasien dapat mengontrol halusinasinya
a.Kriteria evaluasi :
a) Pasien dapat menyebutkan tindakan yang bisa dilakukan untuk
mengontrol halusinasinya
b) Pasien dapat menyebutkan cara baru
c) Pasien dapat memilih cara mengatasi halusinasinya seperti yang
didiskusikan dengan pasien
b. Intervensi:
a) Identifikasi bersama pasien tindakan yg dapat dilakukan jika terjadi
halusinasi (tidur, marah, menyibukkan diri dll).
Rasional :
Upaya untuk memutuskan siklus halusinasi sehingga halusinasi
tidak berlanjut
b) Diskusikan manfaat cara yang

dilakukan pasien, jika

bermanfaat beri pujian
Rasional :
Reinforcement positif akan meningkatkan harga diri pasien
c) Diskusikan cara baru untuk memutus halusinasi :

Katakan “ Saya tidak mau mendengar kamu” (pada saat

halusinasi terjadi)
Menemui orang lain (perawat/anggota klg) untuk bercakap-

cakap atau mengatakan halusinasi yang didengar.
Rasional :
Memberikan alternatif pilihan bagi pasien untuk mengontrol
halusinasinya
d) Bantu pasien memilih dan melatih cara memutus halusinasi
secara bertahap.
Rasional :
Memotivasi pasien untuk mencoba memilih salah satu cara
mengendalikan halusinasi dan dapat meningkatkan harga diri
pasien.
4) TUK IV : Pasien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol
halusinasi.
a. Kriteria evaluasi :
a) Keluarga dapat membantu pasien dalam mengenali halusinasinya
b) Keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda, dan kegiatan untuk
mengendalikan halusinasi.
b. Intervensi :
a) Anjurkan pasien untuk memberitahu keluarga jika mengalami
halusinasi.

Rasional :
Untuk mendapatkan bantuan dari keluarga dalam mengontrol
halusinasinya.
b) Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung/pada saat
kunjungan rumah) :
Gangguan halusinasi yang dialami pasien
Cara yang dapat dilakukan Pasien dan keluarga untuk memutus
halusinasi
Cara merawat anggota keluarga untuk memutus halusinasi dirumah
(beri kegiatan, tidak membiarkan klien sendiri, makan bersama,
rekreasi dll)
Beri informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan
Rasional :

Untuk

mengetahui

pengetahuan

keluarga

dan

meningkatkan

pengetahuan tentang halusinasi.
5) TUK V : Pasien dapat memanfaatkan obat dengan baik
a. Kriteria evaluasi :
a) Pasien dan keluarga dapat menyebutkan manfaat, dosis, dan efek
samping obat dengan baik.
b) Pasien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar.
c) Pasien mendapat informasi tentang efek samping obat.
d) Pasien dapat memahami akibat berhenti minum obat.
e) Pasien dpt menyebutkan prinsip 5 B penggunaan obat.
b. Intervensi :
a) Diskusikan dengan pasien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan
manfaat obat.

Rasional :
Pasien memahami pengobatan dirinya.
b) Anjurkan pasien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan
manfaatnya.
Rasional :
Pasien mampu melaksanakan pengobatan dirinya.
c) Anjurkan pasien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek
samping obat yang dirasakan.
Rasional :
Dengan mengetahui efek samping obat pasien akan tahu apa yang
harus dilakukan setelah minum obat.
d) Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi.
Rasional :
Program pengobatan dapat berjalan sesuai rencana yang telah
ditetapkan.
e) Bantu pasien menggunakan obat dengan prinsip 5 Benar.
Rasional :
Meningkatkan kemandirian pasien dalam pengobatan