Epidemiologi peritonitis

Hasil survey pada tahun 2008 angka kejadian peritonitis di sebagian wilayah
Indonesia hingga saat ini masih tinggi. Di Indonesia, jumlah pasien yang
menderita penyakit peritonitis berjumlah sekitar 7% dari jumlah penduduk di

Indonesia atau sekitar 179.000 orang. (Depkes RI, 2008)
Angka kejadian penyakit peritonitis di Amerika pada tahun 2011diperkirakan 750
ribu per tahun dan akan meningkat bila pasien jatuh dalam keadaan syok. Dalam
setiap jamnya di dapatkan 25 pasien mengalami syok dan satu dari tiga pasien
syok berakhir dengan kematian. Angka insiden ini meningkat 91,3% dalam
sepuluh tahun terakhir dan merupakan penyebab terbanyak kematian di ICU
diluar penyebab penyakit peritonitis. Angka insidensi syok masih tetap meningkat
selama beberapa dekade, rata-rata angka mortalitas yang disebabkannya juga
cenderung konstan atau hanya sedikit mengalami penurunan. Kejadian
peritonitis

tersebut

dapat

memberikan

dampak

yang

sangat

kompleks

bagi tubuh. Adanya penyakit peritonitis menjadikan kasus ini menjadi prognosis

yang buruk.
Data mengenai tingkat insidensi peritonitis sangat terbatas, namun yang pasti
diketahui

adalah

diantara

seluruh

jenis

peritonitis,

peritonitis

sekunder

merupakan peritonitis yang paling sering ditemukan. Terdapat perbedaan etiologi
peritonitis pada Negara berkembang dengan Negara maju. Pada Negara
berkembang etiologi peritoninis adalah karena appendicitis perforasi, perforasi
ulkus peptikum dan perforasi tifoid. Sedangkan dinegara maju appendicitis
perforasi tetap merupakanpenyebab utama diikuti dengan perforasi kolon akibat
diverticulitis. Tingkat insidensi peritonitis pasca operatif bervariasi antara 1-20%
pada pasien yang menjalani laparotomy. (Gupta,2006)

Sumber :
Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia.Jakarta :Depkes RI. 2008

World J EmergSurg 2006. Peritonitis – the western experience. Kaushik R.Gupta S.I(I):25 .