EKSTRAKSI PELARUT

Nama : Prisanti Uni Arta
NIM : 10510016
Kelompok : 2
Tanggal Percobaan : 19 Maret 2013
Tanggal Laporan : 26 Maret 2013
Asisten :

LABORATORIUM KIMIA ANALTIK
PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2013

dan 9.5). diperoleh: D = Keks [HDz]n org/[H3O+]n air III.8.(7. IV.EKSTRAKSI PELARUT I. Hukum distribusi (Nerst) dinyatakan sebagai: KD = [A]1/[A]2. Tujuan Percobaan Menentukan absorbansi kobal menggunakan spektrofotometer untuk mengetahui parameter ekstraksi pada pemisahan ion logam pada ekstraksi pelarut. Pada percobaan ini. maka reaksinya: Mn+ + nHDz ↔ M(DZ)n + n H+ Dengan D = CM pada fasa organik/CM pada fasa air. dimana KD merupakan koefisien distribusi. Cara Kerja Ke dalam 5 corong pisah.8195 . II.7. Setelahnya ditambahkan 10 ml ditizon dalam kloroform. maka pada keadaan yang berkesetimbangan terdapat hubungan definit antara konsentrasi solut pada kedua cairan bersangkutan. [A]2 = konsentrasi spesi A pada fasa 2. Jika suatu solut terdistribusi antara dua cairan yang saling tak bercampur. Dipisahkan lapisan kloroform dan diukur absorbannya dengan spektrofotometer pada λ= 540 nm dan kloroform sebagai blanko. Teori Dasar Metode ekstraksi ini umumnya tidak digunakan sebagai teknik analis melainkan sebagai salah satu tahapan penting dalam prosedur analisis. Dilakukan pengocokan dengan cukup kuat lalu didiamkan hingga terbentuk 2 lapisan. yang digunakan adalah ditizon. Ditambahkan masing-masing ke dalam corong pisah 15 ml larutan penyangga dengan ph 6. Salah satu caranya adalah melaui pembentukan kompleks dengan pereaksi organik yang bersifat ligan. [A] 1= konsentrasi spesi A pada fasa 1. Pemisahan berbagai ion logam dapat dilakukan melalui metode ekstraksi pelarut dengan terlebih dahulu membentuk spesi netral dari logam yang bersangkutan. dipipet 10 ml larutan baku 1ppm kobalt. Data Pengamatan Samp Blanko el ph 66 1 A( log T0/T1) 6 1. (Cm merupakan konsentrasi total M).

100 1 ppm 2 = [Co Akhir ] . Pembahasan .5 8 9 0.5 ppm = 0.4 7 7.c dimana c merupakan konsentrasi kompleks pada A pH tertentu.8 12.6921 0.2 26.100 [Co awal] = [Co Akhir ] . Diperoleh hasil sebagai berikut. 9. A = a.2 63 49.8195 0.6975 96 0. c A( log (konsentras ph T0/T1) i) 6 1.6921 06 0.100 1 ppm 2  [Co akhir] = 99 100 0.495 ppm Maka konsentrasi senyawa kompleks pada ph 6 adalah 0.8195 1 cm 0.3623 46 VI.5 0.495 ppm.2273569 7 0.0987193 9 0.c a= A bc = 1.1900544 8 0. Lalu dari sini kita mencari koefisien absorbansinya melalui persamaan Nerst.8344 0.8344 48 0.8 V.495 0.3623 Hasil Pengolahan Data Absorbansi maximal dari data diperoleh pada ph 6 %ekstraksi 99% = [Co Akhir] .495 ppm = 3.4 12.1 60.64.b.1885831 7.b.6975 0.676 cm-1ppm-1 sehingga dapat ditentukan konsentrasi pada masing-masing pH dengan A= a.

Tapi ternyata pengukuran dengan spektrofotometer yang ditentukan λmax = 540 nm ini menunjukkan absorbansi maximal terjadi ph 6. Lapisan atas berwarna ungu dan lapisan bawah bening. Terjadi pula satu anomali pada ph 6. energi yang dipancarkan alat tidak sesuai dengan panjang gelombang tersebut. Hal di atas diperkirakan terjadi akibat adanya zat pengotor ataupun air yang masih ada di corong pisah sebelum ditambahkan sampel. Dan yang terakhir adalah pada kondisi corong pisah itu sendiri. Spektrofotometer yang digunakan diatur pada λmax 540 nm. kemungkinan ada kompleks lain (yang tidak diinginkan) terbentuk dalam corong pisah hingga warna visualnya berbeda. Sehingga kondisinya bukan pada panjang gelombang maximal tadi melainkan panjang gelombang yang salah. Melalui hasil pengamatan. Dan diperoleh transmitan yang kemudian dikonversi ke dalam absorban. Kesimpulan . Hal ini karena diharapkan pada panjang gelombang ini absorbansi yang didapat juga paling besar. VII. Hal lain yang mempengaruhi hasil juga kemungkinan berasal dari perbedaan perlakuan terhadap corong pisah tadi. khususnya pengocokan oleh orang yang berbeda untuk tiap ph yang berbeda. Dan kemudian turun hingga ph 9. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kesalahan penyocokan panjang gelombang yang diinginkan dan yang ditampilkan alat. Sehingga pembacaan transmitannya juga tidak sesuai dengan yang diharapkan. satu fasa organik dan satu fasa air. sampel kobalt ditambah dengan ditizon diekstraksi dan pada hasilnya diamati ada 1 lapisan dengan warna yang berbeda. Pada percobaan ini. Walaupun di alat ditunjukan λ = 540. warna ungu paling pekat tampak pada ph yang paling tinggi yakni 9. sampel dimasukan ke dalam spektrofotometer. Oleh sebab itu. yakni warna yang didapat bukan ungu melainkan merah muda. Dan hal ini disesuaikan dengan sampel yang akan digunakan. Sampel menunjukan warna ungu (panjang gelombang yang diserap warna kuning) maka panjang gelombang tersebut dinyatakan cocok. Hipotesis awal adalah konsentrasi senyawa kompleks paling banyak terdapat pada ph 9 sehingga kemungkinan absorbansi maximum akan didapat pada sampel ph 9. Selanjutnya.Ekstraksi merupakan salah satu metode pemisahan yang dilakukan dengan jumlah sampel tertentu dengan memisahkannya menjadi dua fasa.

7th Ed.com/chem-ed/sep/extract..M. Holler F.se http://www. http://www. VIII.Absorbansi kobalt yang didapat melalui percobaan spektrofotometer adalah 1.J.. Saunders College Publishing.htm.A.scimedia.anachem.umu.8195 dengan kondisi ph = 6. . West D. Fundamental of Analytical Chemistry.1996. menggunakan Daftar Pustaka Skoog D..

Related Interests