BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1.1 Fluida
Fluida adalah suatu materi yang berubah bentuk secara terus-menerus
dibawah aplikasi pergeseran tekanan tidak peduli seberapa kecil pergeseran
tekanan yang terjadi. Jadi, fluida meliputi fase cairan dan gas (vapor) dari bentuk
fisiknya. Perbedaan antara sifat fluida dan padatan sudah jelas jika
membandingkan dengan perilaku fluida dan padatan. Padatan berubah bentuk
ketikan pergesaran tegangan terjadi, tetapi tidak selalu berubah bentuk (Fox &
McDonald, 1985).

Gaya
Luas
Penampang

Gambar II.1 Fluida
Aliran dan perilaku fluida penting dalam berbagai macam proses dalam
mekanik. Dalam proses industri, banyak material yang berada dalam bentuk fluida
dan harus disimpan, ditangani, dipompa, dan diproses, sehingga perlu kita
menjadi akrab dengan prinsip-prinsip umum aliran fluida dan juga alat-alat yang
digunakan (Geankoplis, 1993).
II.1.2 Jenis - Jenis Fluida
Fluida dapat berada dalam keadaan diam atau bergerak. Fluida diam
disebut fluida statis dan fluida bergerak disebut fluida dinamis. Berdasarkan
definisi, fluida seharusnya berubah bentuk secara terus menerus ketika pergeseran
tegangan(tekanan) dari besaran yang diberikan.
a. Menurut Fox & McDonald (1985), Fluida dapat berada dalam keadaan diam
maupun bergerak. Berikut adalah penjelasan tentang fluida statis dan fluida
dinamis :
1. Fluida Statis

Gambar II.2 Contoh Fluida Statis

II-1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Keterangan :
P0
= tekanan udara
P
= tekanan zat cair
h
= ketinggian
r
= jari-jari wadah
Dalam fluida statis, atau fluida yang menjalani gerakan yang kaku, sebuah
partikel fluida menahan ciri khasnya sepanjang waktu. Tidak adanya pergerakan
relatif menyiratkan tidak adanya suatu pergesaran tegangan. Karena tidak ada
gerakan relatif dalam di dalam fluida, sehingga tidak terbentuk elemen fluida. Ada
dua tipe gaya yang ada dalam sebuah fluida yaitu tekanan pada seluruh badan fluida
dan tekanan permukaan. Persamaan tekanannya pada basis volume adalah

Untuk kebanyakan situasi secara praktiknya, variasi (g) dianggap tidak ada.
Hanya untuk situasi semacam komputasi dengan begitu akurat perubahan tekanan
yang melebihi perbedaan elevasi akan bervariasi sehingga (g) dibutuhkan. Fluida
ideal yang paling simpel adalah fluida inkompresibel. Persamaan untuk tekanan
pada fluida ini adalah
P = Po + ρogh
2.

Fluida Dinamis

Gambar II.3 Contoh Fluida Dinamis

b.

Keterangan :
A1 = Luas permukaan pipa 1
A2 = Luas permukaan pipa 1
V1 = Volume pada pipa 1
V2 = Volume pada pipa 1
Asumsi bahwa sebuah fluida dapat diperlakukan secara pendistribusian
materi terus menerus secara langsung pada keadaan nyata mewakili sifat-sifat suatu
fluida. Densitas dan kecepatan medan dihubungkan melalui konservasi massa (Fox
& McDonald, 1985).
Fluida pada dasarnya terbagi atas dua kelompok besar berdasarkan sifatnya,
yaitu fluida cairan dan fluida gas. Fluida diklasifikasikan dapat diklasifikasikan
berdasarkan hal berikut:
Berdasarkan kemampuan menahan tekanan :
II-2

Laboratorium Transportasi Fluida
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI - ITS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1. Fluida incompressible (tidak termampatkan)
Fluida incompressible adalah fluida yang tidak dapat dikompressi atau volumenya
tidak dapat ditekan menjadi lebih kecil sehingga -nya (massa jenisnya) konstan.
2. Fluida compressible (termampatkan):
Fluida compressible adalah fluida yang dapat dikompressi atau volumenya dapat
ditekan menjadi lebih kecil sehingga -nya (massa jenisnya) tidak konstan.
c. Berdasarkan struktur molekulnya :
1. Cairan
Fluida yang cenderung mempertahankan volumenya karena terdiri atas molekulmolekul tetap rapat dengan gaya kohesif yang relatif kuat dan fluida cairan praktis
tak compressible.
2. Gas
Fluida yang volumenya tidak tertentu karena jarak antar molekul-molekul besar dan
gaya kohesifnya kecil sehingga gas akan memuai bebas sampai tertahan oleh
dinding yang mengukungnya. Pada fluida gas, gerakan momentum antara
molekulnya sangat tinggi, sehingga sering terjadi tumbukan antar molekul.
d. Berdasarkan tegangan geser yang dikenakan :
1. Fluida Newton
Fluida yang memiliki hubungan linear antara besarnya tegangan geser yang
diberikan dengan laju perubahan bentuk yang diakibatkan.
2. Fluida non Newton
Fluida yang memiliki hubungan tidak linear antara besarnya tegangan geser dengan
laju perubahan bentuk sudut.
e. Berdasarkan sifat alirannya :
1. Fluida bersifat Turbulen
Fluida bersifat turbulen alirannya mengalami pergolakan (berputar-putar).
2. Fluida bersifat Laminar (stream line)
Fluida bersifat laminer alirannya memiliki lintasan lapisan batas yang panjang,
sehingga dikatakan juga aliran berlapis-lapis.
II.1.3 Pengertian Sedimentasi
Sedimentasi merupakan proses pemisahan suatu suspensi menjadi cairan bening
dan slurry yang konsentrasi zat padatnya lebih besar. Prinsip mekanika partikel yang
mendasari peristiwa sedimentasi adalah pemisahan karena adanya perbedaan berat jenis.
Apabila partikel dari keadaan diam terhadap fluida tempat partikel terendam, lalu bergerak
melalui fluida, maka gerakan tersebut dibagi dalam dua tahap, yaitu tahap percepatan awal,
tahap selama kecepatan berubah dari nol hingga kecepatan terminal. Periode ini hanya
berlangsung selama sepersepuluh detik atau kurang, dan tahap ketika partikel mengalami
kecepatan terminalnya (McCabe, Smith, & Harriot, 1993).

Laboratorium Transportasi Fluida
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI - ITS

II-3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar II.4 Contoh Proses Sedimentasi
Sedimentasi merupakan proses perpindahan posisi oleh material solid dari suatu
fluida, biasanya dalam suatu udara atau air dari siatu suspensi. Sedimentasi banyak diamati
di alam dalam pembentukan bebatuan dan lapisan bijih. Salah satu cabang yang paling
penting dalam geologi, sedimentologi atau sedimen petrologi, ilmu yang mempelajari
keaslian batu dengan metode ini. Sedimentasi juga suatu ilmu yang besar dan penting
dalam bidang industri, terutama dalam bidang pertambangan dan industri kimia (Bustos,
Concha, Burger, & Tory, 1999).

II.1.4 Macam-Macam Sedimentasi
a.
Cara Batch
Untuk skala laboratorium sering digunakan proses Batch yang menggambarkan
proses sedimentasi sederhana. Percobaan skala laboratorium dilakukan pada suhu
uniform untuk menghindari gesekan fluida atau konveksi karena perbedaan
densitasnya yang dihasilkan dari perbedaan suhu.
Ketika slurrry dicairkan diendapkan oleh gravitasi menjadi fluida yang lebih
jernih dan slurry dengan konsentrasi yang lebih tinggi, proses ini disebut
sedimentasi atau terkadang disebut juga thickening. Uji secara Batch dilakukan
untuk menggambarkan mekanisme pengendapan dan metode penentuan kecepatan
pengendapan.Pada awal sedimentasi Batch, konsentrasi padatan sepanjang silinder
(zona B) uniform. Segera setelah proses mulai, seluruh partikel suspensi solid. Jatuh
bebas melalui fluida pada kecepatan maksimumnya dibawah, kondisi hidered
settling yang ada. Partikel-partikel padat jatuh bebas pada kecepatan yang sama dan
membentuk garis pembatas tajam antara cairan jernih supernatant (zona A) dan
zona suspensi (zona B) serta slurry. Didalam slurry yang mengandung partikelpartikel ukuran berbeda, partikel-partikel yang lebih besar akan mengendap lebih
cepat dan mulai menumpuk, dimana zona D dan zona transisi C yang mengandung
padatan yang bervariasi antara konsentrasi zona B dan zona D mulai nampak.
Setelah pengendapan lebih jauh atau pada kondisi kecepatan pengendapan
kompresinya, zona B dan zona C tidak nampak tetapi hanya terdapat slurry pekat
pada zona D.

II-4

Laboratorium Transportasi Fluida
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI - ITS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Z0

A

Z

A

B

Z1

C

B

D

C

ZONA
(a)

Tinggi
Interface

Kecep.konstan

Kecep.kompresi

t1

Waktu, t

Gambar II.5 Sedimentasi dengan Proses Batch
Keterangan :
A = Larutan suspensi yang seragam (konsentrasi tertentu)
B = Zona pengendapan setelah waktu t
C = Kecepatan kompresi zona D
D = Tinggi interface versus waktu pengendapan
(Geankoplis, C.J., 2003)

b.

c.

Cara Semi-Batch
Pada sedimentasi semi-batch , hanya ada cairan keluar saja, atau cairan masuk
saja. Jadi, kemungkinan yang ada bisa berupa slurry yang masuk atau beningan
yang keluar. Mekanisme sedimentasi semi-batch bisa dilihat pada gambar berikut :

Gambar II.6 Mekanisme Sedimentasi Semi-Batch
Cara Continue
Pada cara ini, ada cairan slurry yang masuk dan beningan yang dikeluarkan
secara kontinyu. Saat steady state, ketinggian tiap zona akan konstan. Mekanisme
sedimentasi kontinyu bisa dilihat pada gambar berikut :

Gambar II.7 Mekanisme Sedimentasi Continue
Laboratorium Transportasi Fluida
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI - ITS

II-5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1.5 Faktor-Faktor yang Memperngaruhi Proses Sedimentasi
Besarnya kecepatan pengendapan tergantung pada beberapa faktor, yaitu :
a.
Konsentrasi
Jika konsentrasi yang semakin besar maka drag force juga semakin besar.
Drag force atau gaya seret ini bekerja pada arah yang berlawanan dengan gerakan
partikel dalam fluida. Gaya seret ini disebabkan oleh adanya transfer momentum
yang arahnya tegak lurus permukaan partikel dalam bentuk gesekan. Maka, dengan
adanya drag force yang arahnya berlawanan dengan arah partkel ini akan
menyebabkan gerakan partikel menjadi lambat. Dengan adanya kenaikan
konsentrasi akan menurunkan kecepatan pengendapan.
b.
Ukuran partikel
Ukuran partikel berpengaruh langsung terhadap diameter partikel.
Sedangkan kecepatan pengendapan berbanding terbalik dengan diameter partikel.
Hal ini disebabkan karena gaya angkat yang dialami oleh partikel semakin besar
dengan bertambah besarnya luas permukaan sehingga kecepatan pengendapan
semakin menurun.

Gambar II.8 Ukuran Partikel
c.

d.

e.

II-6

Densitas partikel
Setiap partikel dari jenis yang berbeda akan mempunyai densitas yang
berbeda pula. Sedangkan densitas partikel berpengaruh langsung pada besarnya
kecepatan pengendapan. Sedangkan kecepatan pengendapan berbanding lurus
dengan densitas partikel, dimana semakin besar densitas partikel, semakin besar
pula kecepatan pengendapannya (Bhupakala, 2010).
Jenis partikel
Jenis partikel berhubungan dengan densitas partikel yang berpengaruh
terhadap gaya apung dan gaya gravitasi yang dapat mempengaruhi kecepatan
pengendapan suatu partikel dalam suatu fluida yang statis. Densitas partikel yang
semakin besar akan menyebabkan gaya apung semakin kecil sedangkan gaya
gravitasi semakin besar, sehingga resultan gaya ke bawah yang merupakan
penjumlahan dari gaya drag, gaya apung dan gaya gravitasi akan semakin besar
pula. Ini berarti kecepatan pengendapannya akan semakin besar (Geankoplis, C.J.,
1993).
Temperatur
Kelarutan semakin meningkat dengan naiknya suhu,jadi dengan
meningkatnya suhu maka pembentukkan endapan akan berkurang disebabkan
banyak endapan yang berada pada larutannya (Sunarya, 2012).
Laboratorium Transportasi Fluida
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI - ITS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
f.

g.

h.

i.

j.

k.

pH
Kelarutan endapan garam yang mengandung anion dari asam lemah
dipengaruhi oleh pH (Sunarya, 2012).
Adanya perbedaan fasa cair dan fasa padat yang bersifat mudah mengendap
Dengan perbedaan antara fasa dari larutan suspensi yang mudah mengendap
tersebut, maka kecepatan pengendapan dari larutan tersebut akan semakin besar
(larutan suspensi akan mudah mengendap secara gravitasi).
Sifat alami pelarut
Garam anorganik mudah larut dalam air dibandingkan dengan pelarut organik
seperti alkohol atau asam asetat.Perbedaan kelarutan suatu zat dalam pelarut
organik dapat dipergunakan untuk memisahkan campuran antara dua zat.Setiap
pelarut memiliki kapasitas yang bebeda dalam melarutkan suatu zat,begitu juga
dengan zat yang berbeda memiliki kelarutan yang bebeda pada pelarut tertentu.
Pengaruh ion sejenis
Kelarutan endapan akan berkurang jika dilarutkan dalam larutan yang
mengandung ion sejenis dibandingkan dalam air saja.
Pengaruh hidrolisis
Jika garam dari asam lemah dilarutkan dalam air maka akan dihasilkan
perubahan konsentrasi H+,dimana hal ini akan menyebabkan kation garam tersebut
mengalami hidrolisis dan hal ini akan meningkatkan kelarutan garam tersebut.
Pengaruh ion kompleks
Kelarutan garam yang tidak mudah larut akan semakin meningkat dengan
adanya pembentukkan kompleks antara ligan dengan kation garam tersebut.Sebagai
contoh,AgCl akan naik kelarutannya jika ditambahkan larutan NH3,hal ini
disebabkan karena terbentuknya kompleks Ag(NH3)2Cl (Droste, 1997).

II.1.6 Gaya yang Bekerja Pada Proses Sedimentasi
Pada setiap partikel yang mengendap, terdapat tiga gaya utama yang bekerja, yaitu :
a. Gaya gravitasi, (Fg)
Gaya yang ditimbulkan akibat gaya gravitasi bumi, yang besarnya dinyatakan
dengan persamaan berikut :
………………………………….………. (1 )
Fg  mg
b. Gaya apung, (Fb)
Gaya ini arahnya sejajar dengan gaya gravitasi tetapi mempunyai arah yang
berlawanan arah. Jika partikel yang jatuh dianggap mempunyai massa sebesar m kg
dengan kecepatan v m/dt, densitas  kg/m3, densitas fluida , kg /m3 dan Vp
adalah volume partikel.
Maka besar daya apung yang bekerja pada partikel sebesar :
mg
Fb 
 V p g
…..……………………...……… ( 2 )

p

dimana, m /  p adalah volume partikel ( Vp ) dalam m3 dan g adalah kecepatan
gravitasi dalam m/s2.
Laboratorium Transportasi Fluida
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI - ITS

II-7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
c. Gaya drag, (FD)
Gaya ini terjadi jika ada gerakan relatif antar fluida dan partikel dan bekerja
melawan arah gerakan dari partikel dan sejajar arah gesekan, tetapi berlawanan
arah. Harga drag force sebanding dengan kecepatan v 2 / 2 . Harga ini dilipatkan
dengan densitas fluida dan luas permukaan partikel yang terproyeksi pada arah
gerakan partikel. Harga drag force dapat dihitung dengan persamaan berikut :

v2
FD  C D
A …………….………………..……( 3 )
2
dimana CD ialah koefisien drag, dan tidak berdimensi.
Gaya-gaya resultan yang bekerja pada partikel ialah Fg - Fb - Fd. Resultan ini
harus sama dengan gaya yang bekerja selama berlangsungnya percepatan.
dv
m
 Fg  Fb  FD ………………..…………………. ( 4 )
dt
substitusi persamaan (1), (2), dan (3) ke dalam persamaan (4), menghasilkan :
m

dv
mg C D v 2 A
 mg 

dt
p
2

…….………….……………..( 5 )

Untuk menyelesaikan kecepatan terminal dalam persamaan 5, maka dv/dt = 0 dan
persamaan menjadi :

2 g  p   m

vt 

A p C D 

…..………………………………….….. ( 6 )

Untuk partikel berbentuk spherical, m  D 3p  p / 6 dan A  D p2 / 4 sehingga
persamaan (6) menjadi
vt 

4 p   gD p
3C D 

…………………….……………………….( 7 )

dimana,
vt = m/s atau ft/s
 = kg/m3 atau lb/ft3
g = 9,80665 m/s2 atau 32,174 ft/s2
Dp = m atau ft
Koefisien drag ditentukan dengan cara eksperimen, untuk rigid sphere
ditunjukkan sebagai fungsi bilangan Reynold
D p v / 
(Geankoplis, 1993).

II.1.7 Mekanisme Proses Sedimentasi
Proses sedimentasi yang dijalankan secara batch, seperti yang dijalankan di dalam
laboratorium, digunakan untuk kapasitas kecil. Sedangkan sedimentasi secara kontinyu
biasa digunakan di dalam industri dengan kapasitas besar (Dhira, 2007).
II-8

Laboratorium Transportasi Fluida
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI - ITS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar II.9 Mekanisme sedimentasi secara batch
Keterangan gambar :
A. Cairan bening atau fluida bebas butiran
B. Bagian dengan konsentrasi seragam
C. Bagian dengan distribusi berbagai ukuran partikel dan konsentrasi tidak seragam
D. Bagian transisi atau titik kritis
E. Endapan partikel-partikel padat
Suspensi dengan konsentrasi padatan yang seragam dimasukkan ke dalam tabung
(gb.a) dan dibiarkan mengendap. Setelah proses pengendapan dimulai, suspensi di dalam
tabung silinder terbagi menjadi beberapa bagian (gb.b). bagian dengan partikel padatan
yang lebih berat akan mengendap lebih dulu (D), diatasnya terdapat bagian dimana terdiri
dari distribusi berbagai ukuran dan konsentrasi partikel yang tidak seragam (C), bagian (B)
adalah bagian dengan partikel-partikel yang berukuran hampir sama, dan mempunyai
konsentrasi yang seragam. Di atasnya adalah bagian yang terdiri dari cairan bening (A).
Selama sedimentasi berlangsung, maka ketinggian tiap bagian akan berubah (gb. b,
c,d) dan akhirnya akan dicapai suatu keadaan dimana bagian B dan C akan hilang dan
semua padatan akan mengendap (gb. e).
Didalam sedimentasi secara kontinyu juga akan terdapat bagian-bagian yang sama
dengan sedimentasi secara batch, tetapi pada saat keadaan steady state umpan suspensi ke
dalam penampungan sama tiap satuan waktu dengan sludge (lumpur) dan cairan bening
yang dikeluarkan dari penampungan, sehingga tinggi masing-masing bagian akan konstan.
Proses sedimentasi secara kontinyu memakai alat yang disebut “thickener”.
Sedimentasi secara batch memakai alat yang disebut silinder, maka suspensi dimasukkan
dari atas, kemudian cairan bening dan padatannya dikeluarkan lewat bawah (Dhira, 2007).
Menurut Geankoplis (1983), berdasarkan ada tidaknya pengaruh terhadap jatuhnya
suatu partikel yang akan mengendap, proses sedimentasi terbagi menjadi dua yaitu :
a. Free Settling
Peristiwa ini terjadi jika jumlah partikel dalam pengendapan cukup sedikit,
partikel cukup jauh dari dinding dan jarak antara partikel satu dengan partikel
yang lain cukup jauh, sehingga jatuhnya partikel dalam suatu fluida tidak
dipengaruhi oleh dinding dan faktor benturan dengan partikel lain, maka laju
pengendapan akan semakin cepat. Gaya total yang terdapat dalam partikel adalah
sebagai berikut :
Laboratorium Transportasi Fluida
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI - ITS

II-9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
F = Fg – Fb – Fd
F : Gaya total dalam partikel (N)
Fg : Gaya gravitasi efektif (N)
Fb : Gaya friksi antara dinding dan partikel (N)
Fd : Gaya tarik (N)
Partikel yang jatuh akan menjalani gerakan dipercepat dan akhirnya
mengalami gerakan dengan percepatan konstan, dimana periode jatuhnya partikel
merupakan hal yang sangat penting. Jika kita masukkan harga dari masing
masing persamaan gaya pada persamaan yang terakhir dengan keadaan kecepatan
dv/dt =0.
b. Hindered Settling
Hindered terjadi apabila konsentrasi padatan itu tinggi, maka pertikel tidak dapat
mengendap secara bebas, karena aliran pertikel yang satu akan mempengaruhi
aliran disekitar partikel yang lain. Karena jumlah partikel cukup banyak, maka
partikel yang satu dengan partikel yang lain akan saling berdesakan, sehingga
kecepatan pengendapan partikel akan semakain kecil. Dalam pengamatan di
laboratorium, kondisi seperti ini dapat terjadi jika digunakan peralatan dengan
diameter kecil, maka partikel yang mengendap tersebut dipengaruhi oleh halangan
(hindered).
c. Kompresi
Pada zona ini partikel-partikel berada dalam keadaan yang sangat dekat dengan
partikel-partikel lainnya. Liquid yang berada diantara partikel-partikel tersebut
akan dikeluarkan menuju ke zona liquid yang jernih yang berada di atasnya, dari
proses ini akan diperoleh endapan yang diharapkan.

II-10

Laboratorium Transportasi Fluida
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI - ITS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.2 Aplikasi Industri
PENINGKATAN EFISIENSI PENGGUNAAN KOAGULAN PADA
UNIT PENGOLAHAN AIR LIMBAH BATUBARA
Oleh
Praswasti PDK Wulan, Misri Gozan, Hardi Putra
2010

Kegiatan penambangan batubara di tanah air tentunya memiliki dampak bagi
makhluk hidup dan lingkungan sekitarnya, baik itu yang bersifat positif maupun negatif.
Secara umum dampak positif yang dihasilkan adalah terbukanya lapangan kerja baru serta
menambah pendapatan daerah tempat dilakukannya penambangan. Sedangkan dampak
negatif yang muncul antara lain adalah terganggunya lingkungan area penambangan yang
dapat disebabkan oleh penebangan hutan/pembukaan lahan untuk tambang dan
terbentuknya air asam tambang. Selain itu dihasilkan juga air limbah yang berasal dari coal
processing plant (CPP). Untuk menanggulangi dampak negatif tersebut perlu dilakukan
usaha-usaha seperti, revegetasi untuk lahan yang telah selesai ditambang, pembuatan
saluran air dan kolam untuk menampung dan mengolah air asam tambang serta air limbah
dari coal processing plant (CPP). Penelitian ini bertujuan membandingkan keefektifan
penggunaan koagulan pada air limbah pada sebuah industri batubara di Kalimantan Timur,
sehingga dapat ditemukan koagulan yang efektif untuk mengatasi permasalahan Total
Suspended Solid (padatan tersuspensi total) pada fasilitas pengolahan limbah cair. Terdapat
dua jenis koagulan yang rencananya akan digunakan untuk dibandingkan kinerjanya
dengan tawas, yaitu Poly aluminium Chloride (PAC) dan koagulan produk Nalco, yaitu
Nalcolyte 8100. Data-data yang akan dihasilkan diantaranya adalah konsentrasi
penambahan koagulan per satuan volume limbah; waktu reaksi yang dibutuhkan untuk
proses sedimentasi; volume endapan terbentuk.
Metode penelitian yang digunakan adalah Jar tes dan mengukur pH. Jar tes
merupakan metode standar yang dilakukan untuk menguji proses koagulasi. Data yang
didapat dengan melakukan jar tes antara lain dosis optimum penambahan koagulan, lama
pengendapan serta volume endapan yang terbentuk. Jar tes yang dilakukan adalah untuk
membandingkan kinerja koagulan yang digunakan untuk mengendapkan padatan
tersuspensi yang terdapat pada air limbah di WMP 5L CPP. Koagulan yang digunakan
adalah tawas, Poly Aluminium Chloride (PAC) dan Nalcolyte 8100. Metode jar tes yang
dilakukan menggunakan 10 ml PAC/Nalco atau 10 gram tawas kemudian dilarutkan dalam
1000 ml air/ aquades. Setelah larutan koagulan jadi maka perbandingannya adalah untuk
setiap 1 ml yang dilarutkan dalam 1000 ml sampel limbah sama dengan 10
ppm.Penambahan koagulan dengan dosis yang berbeda-beda untuk masing-masing wadah.
Kemudian melakukan pengadukan selama satu menit untuk meratakan penyebaran
koagulan sehingga kinerja dari koagulan bisa efektif .
Percobaan jar tes ini dikondisikan dengan keadaan di lapangan nantinya dimana
pengadukan dilakukan secara manual dan air yang digunakan sebagai pelarut koagulan
adalah air keran yang berasal dari sungai. Untuk proses koagulasi ini data yang didapat
tidak bisa selalu dipakai untuk proses koagulasi jika menginginkan kondisi yang optimal
seperti biaya pemakaian koagulan dan pemakaian kapur. Ada dua faktor utama yang
menentukan pemakaian koagulan dan kapur, yaitu kondisi kekeruhan air limbah dan debit
air limbah. Untuk masing-masing koagulan diambil dosis yang terbaik yang diketahui
dengan mengukur turbiditas/kekeruhan dari masing-masing hasil jar tes. Kemudian hasil
jar tes tersebut dikirim ke laboratorium Sucofindo.
Hasil penelitian memperoleh Tawas 50 ppm dengan TSS 48 mg/l dan Kekeruhan
84,9 NTU; PAC 150
Laboratorium Transportasi Fluida
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI - ITS

II-11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
ppm dengan TSS 34 mg/l dan Kekeruhan 61,4 NTU; Nalcolyte 8100, 5 ppm dengan TSS
40 mg/l dan Kekeruhan 70,6 NTU. Hasil jar tes menunjukkan bahwa endapan yang
dihasilkan oleh koagulan tawas dan PAC bersifat tidak stabil sebab endapan yang
dihasilkan memiliki ukuran partikel yang kecil, sehingga mudah mengalami gangguan dan
dibutuhkan waktu yang cukup lama lagi untuk mengendap. Endapan yang dihasilkan oleh
koagulan Nalcolyte 8100 memiliki ukuran partikel yang cukup besar sehingga proses
pengendapan menjadi lebih cepat dan tidak mudah mengalami gangguan. Penggunaan
masing-masing koagulan memerlukan waktu pengerukan/pembersihan kolam, yaitu :
Tawas (50 ppm) = 4 hari sekali ; PAC (150 ppm) = 4 hari sekali ; Nalclyte 8100 (5 ppm) =
6 hari sekali. Koagulan tawas merupakan koagulan yang sangat efektif bila dilihat dari sisi
biaya penggunaan koagulan dibandingkan koagulan PAC dan Nalcolyte 8100 ; Koagulan
nalco memiliki kemampuan yang sangat baik untuk mengendapkan padatan tersuspensi,
sebab memiliki waktu yang singkat untuk proses pengendapan, tidak membutuhkan
penetralan pH

II-12

Laboratorium Transportasi Fluida
Program Studi D3 Teknik Kimia
FTI - ITS