Portofolio

PTERIGIUM

Disusun Oleh :
dr. Harief Seamaladi

Pendamping :
dr. Eva Trijaniarti

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BAYUNG LENCIR
SUMATERA SELATAN
PROGRAM DOKTER INTERNSIP KEMENTRIAN KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA
2015

PORTOFOLIO

Kasus 1
Topik: Pterigium grade II
Tanggal (Kasus) : 01 Februari 2016
Presenter : dr. Harief Seamaladi
Tanggal Presentasi : 23 Februari 2016
Pendamping : dr. Eva Trijaniarti
Tempat Presentasi : Ruang Pertemuan RSUD Bayunglencir
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Neonatus
Deskripsi : Laki-Laki 34 tahun, malaria falciparum dan demam tifoid
Tujuan : Tatalaksana malaria falciparum dan demam tifoid serta penyebabnya
Bahan Bahasan :
Tinjauan
Riset
Kasus
Audit
Pustaka
Cara membahas
Diskusi
Presentasi dan
Email
Pos
diskusi
Data
Pasien:

Nama : Tn. B Umur : 34 tahun Pekerjaan : Tani
No. Reg :
Alamat : Sumber Harum Agama : Islam Bangsa : 03_.....
Indonesia
Nama RS: RSUD
Telp :
Terdaftar sejak :
BayungLencir
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis / Gambaran Klinis: Pterigium / Keadaan Umum Sakit sedang.
2. Riwayat Pengobatan : 3. Riwayat Kesehatan / Penyakit :
± 2 tahun yang lalu penderita mengeluh penglihatan mata kiri kabur,
terlihat adanya lemak pada mata sebelah kiri, perih (+), berair (-), silau
saat melihat (+). Seminggu yang lalu, penglihatan dirasakan semakin
kabur.
4. Riwayat Keluarga : Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama disangkal.
5. Riwayat Pekerjaan : pasien bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga
6. Lain-lain : Riwayat memakai kacamata (-), Riwayat hipertensi (+), Riwayat
diabetes melitus disangkal.
DAFTAR PUSTAKA

2

Edisi 14. Vaughan. 14-17 7. Jakarta: FK UI. D Gondhowiardjo Tjahjono. Jakarta: Direktorat Bina Upaya Kesehatan Puskesmas Ditjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan. p: 56-58 11. 6. Soekraningsih. Desember 2007: 186-19. Simanjuntak WS Gilbert. Jakarta: Sagung Seto. 1984. dkk. 2008. Riordan Eva-Paul. available at: http://emedicine.hal 5-6. Pterygium in Indonesia: prevalence..Saunders Elsevier. 2007. Pterygium clinical Ophtalmology – An Asian Perspective. Pterygium and Pingueculum available at: 3 . Avaiable at: http://www. Farook M. Pterygium: Panduan Manajemen Klinis Perdami. Wijaya D. American Academy of Ophtalmology. Basic and Clinical Science Course section 8 External Disease and Cornea. 2005.1. Ilmu Penyakit Mata edisi ketiga. Chandra DW et al. Oftalmologi Umum. Volume 39.medscape.nlm. Chapter 20. 2002. Berkala llmu Kedokteran. T H Tan Donald et all. Gazzard G.Jakarta:Widya Medika. 2009. 3. p:207-214. Jerome P Fisher. Sidarta Ilyas. Community Ophtalmology in Comprehensive Ophtalmologu. Buku Pedoman Kesehatan Mata dan Pencegahan Kebutaan Untuk Puskesmas. p: 344&405 8.gov/pmc/articles/PMC1771435/ 4. Daniel G. Pterygium. Chapter 3.com/article/1192527-followup 12. Singapore. severity and risk factors. Saw S-M. Hamurwono GD. 2006. New Delhi. No. Effectiveness of subconjunctival mitomycin-C compared with subconjunctival triamcinolon acetonide on the recurrence of progresive primary pterygium which underwent Mc Reynolds method. British Journal of Ophthalmology. Jakarta. 2002. 4. et all.ncbi.2. Khurana A. 2. Koh D.2000. 5. New Age International Limited Publisher. 2007-2008. Nainggolan SH.nih. CV Ondo. K. Fourth Edition. 86(12): 1341–1346. Sidarta Ilyas. 9. p: 443-457 10. Asbury Taylor. Ilmu Penyakit Mata edisi ke-2.

silau saat melihat (+). Pemeriksaan Fisik : Keadaan Umum Keadaan sakit Kesadaran Tekanan Darah Nadi Pernafasan Suhu : tampak sakit sedang : compos mentis. Motivasi kepatuhan pencegahan berulang 1. 2. Langkah-Langkah Penatalaksanaan Pterigium 5. terlihat adanya lemak pada mata sebelah kiri. Subjektif : ± 2 tahun yang lalu penderita mengeluh penglihatan mata kiri kabur. perih (+).au/eye-specialists/pterygium. Hal ini menyebabkan mata sebelah kiri pasien tidak bisa melihat seperti biasanya dan terasa ada yang mengganjal. berair (-). berair (-). Objektif : Dari hasil pemeriksaan fisik dapat ditegakkan diagnosis pterigium o Gejala Klinis : Pasien mengalami penglihatan kabur semenjak kurang lebih 2 tahun yang lalu.http://www. Seminggu yang lalu. penglihatan dirasakan semakin kabur.htm Hasil Pembelajaran 1. GCS 15 : 160/70 mmHg : 80 x/menit.7oC (aksila) Status Oftalmologikus OD OS 4 . isi dan tegangan cukup : 20 kali per menit. Mekanisme terjadinya Pterigium 3.com.baysideeyes. silau saat melihat (+). reguler. perih (+). Diagnosis Pteregium grade II 2. terlihat adanya lemak pada mata sebelah kiri. thoracoabdominal : 36. Edukasi pada keluarga mengenai Pterigium 4. penglihatan dirasakan semakin kabur. Seminggu yang lalu.

jernih Terdapat jaringan fibrovaskular dari tepi limbus hingga tepi kornea Kornea 5 .Visus Tidak dilakukan Tidak dilakukan pemeriksaan pemeriksaan Kedudukan Bola Mata Orthoforia Gerakan Bola Mata Segmen Anterior silia Trichiasis (-) Trichiasis (-) Palpebra superior Hiperemis (-) edema (-) Hiperemis (-) edema (-) Palpebra inferior Hiperemis (-) edema (-) Hiperemis (-) edema (-) Papil (-) folikel (-) Papil (-) folikel (-) Papil (-) folikel (-) Papil (-) folikel (-) Injeksi (-) Injeksi (-) Konjungtiva tarsus superior Konjungtiva tarsus inferior Konjungtiva bulbi Sedang.

Diduga penyebab pterigium adalah exposure atau sorotan berlebihan dari sinar matahari yang diterima oleh mata. Selain itu dapat pula dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti zat alergen. RC (+) jernih Jernih Pemeriksaan slitlamp : Tidakdilakukan Pemeriksaan Tonometri : Tidak dilakukan Pemeriksaan Gonioskopi : Tidak dilakukan 3. Dari seluruh anamnesis pasien. kimia. dan pemeriksaan fisik yang dilakukan secara 6 . Karena Indonesia beriklim tropis. berperan penting dalam hal ini. pekerjaan IRT datang dengan keluhan utama mata kiri kabur. jernih kripta iris normal Pupil Kripta iris normal bulat. . baik UVA ataupun UVB. wanita berusia 56 tahun sudah menikah. dan pengiritasi lainnya. Keluhan pasien pertama didahului dengan penglihatan mata kiri terasa ada bayang – bayangan dan mengganjal. Assessment : Nyonya S. Dari kondisi tersebut. Ultraviolet.Bilik Mata Depan Iris Sedang Sedang. terlihat adanya jaringan fibrovaskuler sehingga menyebabkan mata kiri pasien merasakan pandangannya semakin kabur dan terasa perih. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah kornea. penduduknya memiliki risiko tinggi mengalami pterigium. Secara geografis. pterigium paling banyak ditemukan di negara beriklim tropis. RC (+) Lensa Bulat.

Cloramphenicol tetes mata 3x2gtt O.S .Edukasi pasien agar tidak memakai kosmetik berlebihan . 4. Plan Diagnosis : Pterigium grade II Penatalaksanaan : Non farmakologi : .memakai kacamata hitam jika keluar rumah agar terhindar dari sinar matahari langsung . Anatomi & Fisiologi 1.saran konsul spesialis mata Farmakologi : .simultan pada pasien.1 Anatomi Konjungtiva 7 . kita mendapatkan diagnosis berupa pterigium grade II.tidak menggunakan bahan-bahan kimia atau kontak lens .Dexametasone 3x1 TINJAUAN PUSTAKA 1.Amoxicilin 3x500mg .

1.com) Aliran darah konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri palpebralis.5 Gambar 1. Pembuluh limfe konjungtiva tersusun dalam lapisan superfisial dan lapisan profundus dan bersambung dengan pembuluh limfe palpebra hingga membentuk pleksus 8 . Konjungtiva bulbi superior paling sering mengalami infeksi dan menyebar ke bawahnya. yaitu konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus.eastoneye. Pada pterigium. Kedua arteri ini beranastomosis bebas dan bersama dengan banyak vena konjungtiva yang umumnya mengikuti pola arterinya membentuk jaring-jaring vaskuler konjungtiva yang banyak sekali.Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak mata bagian belakang.4. konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari tarsus.1.5 Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan sangat longgar dengan jaringan di bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak.4. konjungtiva yang mengalami fibrovaskular adalah konjungtiva bulbi. Penampang sagital konjungtiva (diambil dari www. Konjungtiva forniks yang merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi. Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di bawahnya. Konjungtiva terdiri atas tiga bagian.

di atas karunkula. Saraf ini hanya relatif sedikit mempunyai serat nyeri.4. kelenjar pada konjungtiva dibagi menjadi dua yaitu: 9 . superficial dan basal. leukosit.limfatikus yang banyak.4.5 Sel-sel epitel superficial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus. Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi lapisan air mata secara merata diseluruh prekornea.5 Secara garis besar.2 Fisiologi Konjungtiva Fungsi dari konjungtiva adalah memproduksi air mata. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat daripada sel-sel superficial dan di dekat limbus dapat mengandung pigmen.4. dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri dari sel-sel epitel skuamosa.5 1. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus. Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus. Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan pertama (oftalmik) nervus trigeminus. adanya jaringan limfoid pada mukosa tersebut dan antibodi dalam bentuk IgA. terdapat pertahanan spesifik berupa mekanisme imunologis seperti sel mast.4 Lapisan epitel konjungtiva terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder bertingkat.1. Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan di beberapa tempat dapat mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Hal ini menjelaskan mengapa konjungtivitis inklusi pada neonatus bersifat papiler bukan folikuler dan mengapa kemudian menjadi folikuler. Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata.5 Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superficial) dan satu lapisan fibrosa (profundus).1. menyediakan kebutuhan oksigen ke kornea ketika mata sedang terbuka dan melindungi mata dengan mekanisme pertahanan nonspesifik yang berupa barrier epitel. Selain itu.4.1. aktivitas lakrimasi. dan menyuplai darah. Lapisan adenoid tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Hal ini menjelaskan gambaran reaksi papiler pada radang konjungtiva.

dan sedikit ada diforniks bawah.3 Anatomi kornea Kornea adalah selaput bening mata. Pada sakus konjungtiva tidak pernah bebas dari mikroorganisme namun karena suhunya yang cukup rendah.4. Sebagian besar kelenjar krause berada di forniks atas. Kelenjar wolfring terletak ditepi atas tarsus atas. 2 Kornea terdiri dari lima lapis. yaitu : a. Crypts of Henle terletak sepanjang sepertiga atas dari konjungtiva tarsalis superior dan sepanjang sepertiga bawah dari konjungtiva tarsalis inferior. Selain itu. Kelenjar Manz mengelilingi daerah limbus. terletak di dalam stroma. Sel goblet terletak dibawah epitel dan paling banyak ditemukan pada daerah inferonasal.1. bagian selaput mata yang tembus cahaya. evaporasi dari cairan lakrimal dan suplai darah yang rendah menyebabkan bakteri kurang mampu berkembang biak. c. Epitel 10 . Kelenjar air mata asesori (kelenjar krause dan kolfring). b. air mata bukan merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Kelenjar asesoris lakrimalis. Kelenjar asesoris ini termasuk kelenjar krause dan kelenjar wolfring. Penghasil musin a. yang struktur dan fungsinya mirip kelenjar lakrimal.5 1. merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata bagian depan. Kedua kelenjar ini terletak dalam di bawah substansi propria. 2.

terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu yang lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. satu lapis sel basal. - epitel berasal dari ektoderm permukaan. dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng. elektrolit. ikatan ini menghambat pengaliran air.- Tebalnya 50 μm. dan glukosa yang merupakan barrier. Membrane descement - Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan selendotel dan merupakan membran basalnya. sel basal berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depanya melalui desmosom dan makula okluden.2 c. 11 . Stroma - Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya.2 b.2 d. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma. pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabang. - Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi. - Pada sel basal sering terlihat mitosis sel. sel poligonal dan sel gepeng. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara seratkolagen stroma. Membran Bowman - Terletak dibawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih.

Endotel - Berasal dari mesotellium. berlapis satu.- Bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Endotel tidak mempunyai daya regenarasi. menembus membrane bowman melepaskan selubung schwannya.2 Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan.2 12 . dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea.2 Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan system pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. endotel melekat pada membrane descement melalui hemidesmosom dan zonula okluden. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan. masuk ke dalam stroma kornea. mempunyai tebal 40µm. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea. saraf nasosiliar. besar 2040µm. saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid. bentuk heksagonal.2 Kornea dipersyarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus.2 e.

Pterigium.com diakses 20 Mei 2010) Faktor resiko yang mempengaruhi pterigium adalah lingkungan yakni radiasi UV matahari. 3.3. Menurut Hamurwono. iritasi kronik dari bahan tertentu di udara. jaringan fibrovaskular konjungtiva berbentuk segitiga dengan puncak di kornea (diambil www. Faktor Genetik 13 . yaitu pteron yang artinya wing atau sayap. pterigium merupakan konjungtiva bulbi patologik yang menunjukkan penebalan berupa lipatan berbentuk segitiga yang tumbuh menjalar ke kornea dengan puncak segitiga di kornea.7 b.eastoneye. Sinar ultraviolet diabsorbsi kornea dan konjungtiva mengakibatkan kerusakan sel dan proliferasi sel.2.6 Gambar 2. penggunaan kacamata dan topi mempengaruhi resiko terjadinya pterigium. Radiasi Ultraviolet Paparan sinar matahari.1. Pterigium berasal dari bahasa Yunani. waktu di luar ruangan. dan faktor herediter.7 a. PTERIGIUM Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif.

transforming growth factor-beta overproduksi dan menimbulkan kolagenase meningkat. karena lebih sering terjadi pada orang yang tinggal di daerah beriklim panas. Debu. inflamasi 14 . inflamasi. sel-sel bermigrasi dan angiogenesis. daerah angin kencang dan debu atau faktor iritan lainnya. Akibatnya terjadi perubahan degenerasi kolagen dan terlihat jaringan subepitelial fibroveskular. Faktor lain Iritasi kronik atau inflamasi yang terjadi pada area limbus atau perifer kornea merupakan pendukung terjadinya teori keratitis kronik dan terjadinya limbal defisiensi.7 c. Epitel dapat normal.6. Namun.7 Ultraviolet adalah mutagen untuk p53 tumor suppressor gene pada limbal basal stem cell. maka gambaran yang paling diterima tentang hal tersebut adalah respon terhadap faktor-faktor lingkungan seperti paparan terhadap matahari (ultraviolet). dan saat ini merupakan teori baru patogenesis dari pterigium.7 Etiologi pterigium tidak diketahui dengan jelas. tebal atau tipis dan kadang terjadi displasia. kemungkinan diturunkan secara autosomal dominan.7. dan virus papiloma juga diduga sebagai penyebab dari pterigium. vaskularisasi.3.8 Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea. 3. Pengeringan lokal dari kornea dan konjungtiva pada fisura interpalpebralis disebabkan oleh karena kelainan tear film bisa menimbulkan pertumbuhan fibroblastik baru merupakan salah satu teori. Tanpa apoptosis. dry eyes. dan trauma kecil dari bahan partikel tertentu. Jaringan subkonjungtiva terjadi degenerasi elastoic dan proliferasi jaringan granulasi vaskular di bawah epitelium yang akhirnya menembus kornea terdapat pada lapisan membran bowman oleh pertumbuhan jaringan fibrovaskular. iklim kering mendukung teori ini. Pada keadaan defisiensi limbal ada pertumbuhan konjungtiva ke kornea. sering dengan inflamasi ringan. daerah kering.Berdasarkan penelitian case control menunjukkan riwayat keluarga dengan pterigium. Tingginya insiden pterigium pada daerah dingin. kelembaban yang rendah.

dan pertumbuhan jaringan fibrotik. TNFα (tumor necrosis factor-α) dan IGF II. kerusakan membran basement. mengubah bentuk dan fibroblas pterigium bereaksi terhadap TGF-β (transforming growth factor-β) berbeda dengan jaringan konjungtiva normal. penyenbuhan luka. SP (substance P). 15 . Hal ini menunjukkan pada pterigium terlibat pertumbuhan EPCs (Endothelial Progenitor Cells) dan hipoksia okular yang merupakan faktor pencetus neovaskularisasi dengan mengambil EPCs yang berasal dari sumsum tulang melalui produksi sitokin lokal dan sistemik. invasi ke stroma kornea dan terjadi fibrovaskular dan inflamasi.8. di mana matrix tersebut adalah matrix ekstraseluler yang berfungsi untuk jaringan yang rusak. Sirkulasi CD 4+ MNCs dan c-kit+ MNCs meningkat pada pterigium dibanding dengan konjungtiva normal. Pada fibroblas pterigium menunjukkan matrix metalloproteinase. Sitokin lokal dan sistemik. berhubungan dengan CD 34+ dan C kit+ MNC.7.8. Hal ini menjelaskan bahwa pterigium cenderung terus tumbuh.9 Dengan menggunakan anterior segmen fluorescein agiografi ditemukan peningkatan area nonperfusi dan penambahan pembuluh darah di nasal limbus selama fase awal pterigium. VEGF (Vascular endothelial growth Factor) dan SCF (Stem Cell Factor) pada pterigium meningkat.8 Secara histopatologi dengan menggunakan mikroskop elektron menunjukkan proliferasi fibrotik yang menyimpang di bawah epitel pterigium. Tanda ini juga ditemukan pada pterigium dan karena itu banyak penelitian menunjukkan bahwa perigium merupakan manifestasi dari defisiensi atau disfungsi localized interpalpebral limbal stem cell. bFGF (basic fibroblast growth factor) yang berlebihan. Lapisan fibroblas pada bagian pterigium menunjukkan proliferasi sel yang berlebihan. Kemungkinan akibat sinar ultraviolet terjadi kerusakan stem cell di daerah interpalpebra.9 Pemisahan fibroblas dari jaringan pterigium menunjukkan perubahan fenotif.kronis. pertumbuhan banyak lebih baik pada media yang mengandung serum dengan konsentrasi rendah dibanding dengan fibroblas konjungtiva normal.

β-catenin berperan penting dalam patogenesis pterigium. penumpukan β-catenin di intranuklear dan limphoid factor-1 meningkat pada epitel pterigium. Riwayat pekerjaan juga sangat perlu ditanyakan untuk mengetahui kecenderungan pasien terpapar sinar matahari. karakteristik dari E-cadherin. Pemisahan sel-sel epitel pterigium menunjukkan epitel dikelilingi sel-sel fibroblas yang aktif.11 DIAGNOSIS PTERIGIUM 1. Sel epitel meluas ke stroma pada α-SMA/ vimentin dan cytokeratin 14. Pterigium lebih sering pada kelompok usia 20-30 tahun dan jenis kelamin laki-laki.3 16 . Anamnesis Identitas pasien sangat perlu untuk ditanyakan. Kesimpulannya bahwa epitel mesencymal transition terlibat dalam patogenesis pterigium.10. β-catenin meningkat pada pterigium dan PFC (pterigial fibroblast) dibandingkan pada konjungtiva normal. identitas tertentu juga sangat perlu untuk mengetahui faktor resiko pterigium.dengan epitel meluas ke stroma. Selain sebagai data administrasi dan data awal pasien.

apex (head). Subepitelial cap atau halo timbul pada tengah apex dan membentuk batas pinggir pterigium. menyebabkan penglihatan kabur. Pterigium dibagi menjadi tiga bagian yaitu: body.5. bagian atasnya disebut apex. dan cap. Progresif pterigium: tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di kornea di depan kepala pterigium (disebut cap dari pterigium) 2). Klasifikasi pterigium dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu: a. gatal. Bagian segitiga yang meninggu pada pterigium dengan dasarnya ke arah limbus disebut body. b. atrofi. sedikit vaskular.Pterigium umumnya asimptomatis atau akan memberikan keluhan berupa mata sering berair dan tampak merah dan mungkin menimbulkan astigmatisma yang memberikan keluhan gangguan penglihatan.7 Dalam penegakan diagnosis pterigium. Biasanya penderita mengeluhkan adanya sesuatu yang tumbuh di kornea dan khawatir akan adanya keganasan atau alasan kosmetik. sangat penting ditentukan derajat atau klasifikasi pterigium tersebut. Berdasarkan luas pterigium 17 .3 2. Pemeriksaan Fisik Tajam penglihatan dapat normal atau menurun. dan bagian belakang disebut cap.3. Kira-kira 90% pterigium terletak di daerah nasal.1. ada yang mengganjal. Akhirnya menjadi bentuk membran tetapi tidak pernah hilang. Berdasarkan perjalanan penyakit 1). Pada kasus berat dapat menimbulkan diplopia.1. Regresif pterigium: tipis. Pterigium muncul sebagai lipatan berbentuk segitiga pada konjungtiva yang meluas ke kornea pada daerah fisura interpalpebralis. Deposit besi dapat dijumpai pada bagian epitel kornea anterior dari kepala pterigium (stoker’s line). Keluhan subjektif dapat berupa rasa panas. Perluasan pterigium dapat sampai medial dan lateral limbus sehingga menutupi visual axis. Gangguan penglihatan terjadi ketika pterigium mencapai pupil atau menyebabkan kornea astigmatisme pada tahap regresif.

icoph. opaque): pembuluh darah tidak jelas Secara klinis pterigium dapat dibedakan dengan pinguekula dan pseudopterigium. T1 (atrofi): pembuluh darah episkleral jelas terlihat 2). namun belum melewati pupil. Derajat IV : jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan8 Gambar 3.org) c. Pembeda Definisi Pterigium Jaringan Pinguekula Pseudopterigium Benjolan pada Perlengketan 18 . Derajat III : jika telah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi pinggir pupil mata dalam keadaan cahaya (pupil dalam keadaan normal sekitar 3-4 mm) 4). T3 (fleshy. di mana pterigium telah melewati kornea lebih dari 2mm.1). Berdasarkan pemeriksaan pembuluh darah dengan slitlamp 1). (sumber: www. Derajat II : jika sudah melewati limbus tetapi tidak melebihi dari 2 mm melewati kornea 3). Pterigium grade III. T2 (intermediate): pembuluh darah episkleral sebagian terlihat 3). Derajat I : jika hanya terbatas pada limbus kornea 2).

. Daniel G. Asbury Taylor. Edisi 19 . cap.fibrovaskular konjungtiva konjungtiba konjungtiva bulbi dengan kornea yang bulbi berbentuk cacat Warna segitiga Putih Letak kekuningan keabu-abuan Celah kelopak Celah kelopak Pada Putih-kuning bagian atau 6♂:♀ Progresif Reaksi bulbi Putih kekuningan nasal mata terutama konjungtiva temporal bagian nasal daerah yang terdekat dengan yang meluas ke proses kornea arah kornea ♂>♀ Sedang Tidak ada ♂=♀ Tidak Tidak ada sebelumnya ♂=♀ Tidak Ada Lebih menonjol Menonjol Normal kerusakan permukaan kornea sebelumnya Pembuluh darah konjungtiva Sonde Tidak dapat Tidak diselipkan dapat Dapat diselipkan di diselipkan bawah lesi karena tidak melekat pada Puncak Ada pulau Histopatologi pulau. Diagnosis banding pterigium (dikutip dari Vaughan. body) (bercak kelabu) Epitel ireguler Degenerasi Perlengketan dan degenerasi hialin jaringan hialin dalam submukosa stromanya konjungtiva Tabel 1.Tidak ada Funchs limbus Tidak ada (tidak ada head. Oftalmologi Umum. Riordan Eva-Paul.

Ilmu Penyakit Mata edisi ke-2. Setelah dieksisi.hal 5-6.2000.14. Walaupun memisahkan pterigium dengan bare sclera ke arah bawah pada limbus lebih disukai. Tindakan bedah juga dipertimbangkan pada pterigium derajat 1 atau 2 yang telah mengalami gangguan penglihatan. Penatalaksanaan Pterigium Prinsip penanganan pterigium dibagi 2. pertumbuhan yang progresif menuju tengah kornea atau visual axis dan adanya gangguan pergerakan bola mata. Lindungi mata yang terkena pterigium dari sinar matahari. debu dan udara kering dengan kacamata pelindung. Bila diberi vasokonstriktor maka perlu control dalam 2 minggu dan bila telah terdapat perbaikan pengobatan dihentikan. yaitu cukup dengan pemberian obat-obatan jika pterygium masih derajat 1 dan 2. Bila pterigium meradang dapat diberikan steroid atau suatu tetes mata dekongestan.1 Indikasi untuk eksisi pterigium adalah ketidaknyamanan yang menetap termasuk gangguan penglihatan. terutama pada pasien yang masih muda. 2002.6. Sidarta Ilyas. Eksisi pterigium bertujuan untuk mencapai keadaan normal yaitu gambaran permukaan bola mata yang licin. Bila terdapat tanda radang beri air mata buatan bila perlu dapat diberikan steroid .111. Bila terdapat delen (lekukan kornea) beri air mata buatan dalam bentuk salep. ukuran pterigium >3-4 mm. dkk. kauter sering digunakan untuk mengontrol perdarahan. karena kadang-kadang dapat timbul perdarahan oleh karena trauma tidak disengaja di daerah jaringan otot. sedangkan tindakan bedah dilakukan pada pterygium yang melebihi derajat 2.8 Lebih dari setengah pasien yang dioperasi pterigium dengan teknik simple surgical removal akan mengalami rekuren. namun tidak perlu memisahkan jaringan tenon secara berlebihan di daerah medial. Jakarta: Sagung Seto) 3. Suatu teknik yang dapat 20 . Pengobatan tidak diperlukan karena bersifat rekuren. Teknik bedah yang sering digunakan untuk mengangkat pterigium adalah dengan menggunakan pisau yang datar untuk mendiseksi pterigium ke arah limbus.Jakarta:Widya Medika.

6 Teknik Pembedahan Tantangan utama dari terapi pembedahan pterigium adalah kekambuhan. Terlepas dari teknik yang digunakan. mengupayakan komplikasi seminimal mungkin.10 Indikasi Operasi pterigium 1. Kosmetik. eksisi pterigium adalah langkah pertama untuk perbaikan. Konjungtiva normal ini biasaya akan sembuh normal dan tidak memiliki kecenderungan unuk menyebabkan pterigium rekuren. dibuktikan dengan pertumbuhan fibrovascular di limbus ke kornea.menurunkan tingkat rekurensi hingga 5% adalah conjunctival autograft (Gambar 4). Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus 2.12 Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi pterigium. Banyak dokter mata lebih memilih untuk memisahkan ujung pterigium dari kornea yang mendasarinya. Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi pupil 3. Keuntungan termasuk 21 . Sedapat mungkin setelah avulsi pterigium maka bagian konjungtiva bekas pterigium tersebut ditutupi dengan cangkok konjungtiva yang diambil dari konjugntiva bagian superior untuk menurunkan angka kekambuhan. meskipun tidak ada yang diterima secara universal karena tingkat kekambuhan yang variabel. Dimana pterigium yang dibuang digantikan dengan konjungtiva normal yang belum terpapar sinar UV (misalnya konjungtiva yang secara normal berada di belakang kelopak mata atas). terutama untuk penderita wanita. Penggunaan Mitomycin C (MMC) sebaiknya hanya pada kasus pterigium yang rekuren. Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah. angka kekambuhan yang rendah. berair dan silau karena astigmatismus 4. mengingat komplikasi dari pemakaian MMC juga cukup berat. Banyak teknik bedah telah digunakan. Tujuan utama pengangkatan pterigium yaitu memberikan hasil yang baik secara kosmetik.

dengan membran basal menghadap ke atas dan stroma menghadap ke bawah. Hirst. Tingkat kekambuhan tinggi. Komplikasi jarang terjadi. Cangkok Membran Amnion Mencangkok membran amnion juga telah digunakan untuk mencegah kekambuhan pterigium. Sebuah keuntungan dari teknik ini selama autograft konjungtiva adalah pelestarian bulbar konjungtiva. Sayangnya.5 persen untuk kekambuhan pterygia. Teknik Autograft Konjungtiva Memiliki tingkat kekambuhan dilaporkan serendah 2 persen dan setinggi 40 persen pada beberapa studi prospektif. dan dijahit di atas sclera yang telah di eksisi pterygium tersebut. manipulasi minimal jaringan dan orientasi akurat dari grafttersebut. LawrenceW. Teknik Bare Sclera Melibatkan eksisi kepala dan tubuh pterygium. MBBS. tingkat kekambuhan sangat beragam pada studi yang ada. sementara memungkinkan sclera untuk epitelisasi.diantara 2. biasanya dari konjungtiva bulbar superotemporal. jaringan parut yang minimal dan halus dari permukaan kornea. antara 24 persen dan 89 persen. Beberapa studi terbaru telah menganjurkan penggunaan lem fibrin untuk membantu 22 . dari Australia merekomendasikan menggunakan sayatan besar untuk eksisi pterygium dan telah dilaporkan angka kekambuhan sangat rendah dengan teknik ini. telah didokumentasikan dalam berbagai laporan. dan untuk hasil yang optimal ditekankan pentingnya pembedahan secara hati-hati jaringan Tenon's dari graft konjungtiva dan penerima. sebagian besar peneliti telah menyatakan bahwa itu adalah membran amnion berisi faktor penting untuk menghambat peradangan dan fibrosis dan epithelialisai.1 1.6 persen dan 10.7 persen untuk pterygia primer dan setinggi 37.epithelisasi yang lebih cepat. Membran Amnion biasanya ditempatkan di atas sklera . Prosedur ini melibatkan pengambilan autograft. Meskipun keuntungkan dari penggunaan membran amnion ini belum teridentifikasi.1 3.1 2.

Dua bentuk MMC saat ini digunakan: aplikasi intraoperative MMC langsung ke sclera setelah eksisi pterygium.4 mg/ml) : 4x1 tetes/hari selama 14 hari. endophthalmitis dan pembentukan katarak. Namun. bersamaan dengan pemberian dexamethasone 0.02% tetes mata (sitostatika) 2x1 tetes/hari selama 5 hari. dan terapi medis demikian terapi tambahan telah dimasukkan ke dalam pengelolaan pterygia. dan ini telah mendorong dokter untuk tidak merekomendasikan terhadap penggunaannya.1 MMC telah digunakan sebagai pengobatan tambahan karena kemampuannya untuk menghambat fibroblas. meskipun tidak ada data yang jelas dari angka kekambuhan yang tersedia. dosis minimal yang aman dan efektif belum ditentukan.1 Untuk mencegah terjadi kekambuhan setelah operasi.1% : 4x1 tetes/hari kemudian tappering off sampai 6minggu. 23 .04% (o.cangkok membran amnion menempel jaringan episcleral dibawahnya.1 Beta iradiasi juga telah digunakan untuk mencegah kekambuhan. namun ada komplikasi dari terapi tersebut. Beberapa penelitian sekarang menganjurkan penggunaan MMC hanya intraoperatif untuk mengurangi toksisitas. dan penggunaan obat tetes mata MMC topikal setelah operasi. Lemfibrin juga telah digunakan dalam autografts konjungtiva.1 Terapi Tambahan Tingkat kekambuhan tinggi yang terkait dengan operasi terus menjadi masalah. dikombinasikan dengan pemberian: 1. 2. Mitomycin C 0. efek buruk dari radiasi termasuk nekrosis scleral . Studi telah menunjukkan bahwa tingkat rekurensi telah jatuh cukup dengan penambahan terapi ini. diberikan bersamaan dengan salep mata dexamethasone. karena menghambat mitosis pada sel-sel dengan cepat dari pterygium. Namun. Mitomycin C 0. Efeknya mirip dengan iradiasi beta.

distorsi dan penglihatan sentral berkurang. dan steroidselama 1 minggu. reaksi benang. (b).Pterygium. conjungtiva graft longgar. scar kornea. scar pada rektus medial dapat menyebabkan diplopia.com.Graft sutured into place (diambil dari www.Graft outlined. vitreous hemorrhage atau retinal detachment 24 . (c). Topikal Thiotepa (triethylene thiophosphasmide) tetes mata : 1 tetes/ 3 jam selama 6minggu.3.Pterygium removed. Prosedur Conjunctiva Autograft. dan komplikasi yang jarang termasuk perforasi bola mata. (e).11. yaitu:  Infeksi. (d). diberikan bersamaan dengan salep antibiotik Chloramphenicol.Leaving bare area. Komplikasi Pterigium dapat menyebabkan komplikasi seperti scar (jaringan parut) pada konjungtiva dan kornea.6 Gambar 4.12 Komplikasi post eksisi pterigium.baysideeyes.au diakses 21 Mei 2010) 4. (a). 4. diplopia. Sinar Beta.

kebanyakan pasien setelah 24 jam postop dapat beraktivitas kembali. Rasa tidak nyaman pada hari pertama postoperasi dapat ditoleransi. Penggunaan mytomicin C post dapat menyebabkan ectasia atau melting pada sklera dan kornea  Komplikasi yang terbanyak pada eksisi pterigium adalah rekuren pterigium post operasi. Dapat dikurangi dengan teknik conjungtiva autograft atau amnion graft.11 5. Prognosis Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik. Pasien dengan rekuren pterigium dapat dilakukan eksisi ulang dan graft dengan autograft atau transplantasi membran amnion. Simple eksisi mempunyai tingkat rekuren yang tinggi kira-kira 50-80 %.  Komplikasi yang jarang adalah malignant degenerasi pada jaringan epitel di atas pterigium.11 25 .

. New Age International Limited Publisher. Edisi 14. Avaiable at: http://www. Gazzard G. 2. Effectiveness of subconjunctival mitomycin-C compared with subconjunctival triamcinolon acetonide on the recurrence of progresive primary pterygium which underwent Mc Reynolds method. Sidarta Ilyas.hal 5-6. No. Jakarta: Direktorat Bina Upaya Kesehatan Puskesmas Ditjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan.Jakarta:Widya Medika. Ilmu Penyakit Mata edisi ketiga. Pterygium in Indonesia: prevalence. 2007. Chapter 20. Riordan Eva-Paul. Jakarta: FK UI. Singapore. 2002. Desember 2007: 186-19.nlm. 14-17 7. Hamurwono GD. p:207-214. New Delhi. Soekraningsih. Daniel G. 2007-2008. p: 443-457 26 . 1984. 9. p: 344&405 8. Nainggolan SH.DAFTAR PUSTAKA 1.nih. K. Volume 39.gov/pmc/articles/PMC1771435/ 4. Khurana A. 5. Koh D.2.2000. dkk. 3. Buku Pedoman Kesehatan Mata dan Pencegahan Kebutaan Untuk Puskesmas. 86(12): 1341–1346. American Academy of Ophtalmology. Pterygium clinical Ophtalmology – An Asian Perspective. Farook M. Berkala llmu Kedokteran. 2005. Saw S-M. Asbury Taylor. Chandra DW et al.Saunders Elsevier. Jakarta: Sagung Seto. British Journal of Ophthalmology. Ilmu Penyakit Mata edisi ke-2. Oftalmologi Umum. Wijaya D. Fourth Edition. 2008.ncbi. T H Tan Donald et all. Sidarta Ilyas. 2002. Community Ophtalmology in Comprehensive Ophtalmologu. Basic and Clinical Science Course section 8 External Disease and Cornea. Vaughan. Chapter 3. 6. 4. severity and risk factors. et all.

p: 56-58 11. 2006.medscape. Jerome P Fisher. Simanjuntak WS Gilbert.com. Pterygium. Pterygium and Pingueculum available at: http://www.com/article/1192527-followup 12. Pterygium: Panduan Manajemen Klinis Perdami.au/eye-specialists/pterygium. CV Ondo.baysideeyes.htm 27 . D Gondhowiardjo Tjahjono. available at: http://emedicine. Jakarta. 2009.10.

Related Interests