Faktor Risiko Asma

:

Faktor individu
1. Riwayat Asma
Selama berabad-abad telah diketahui bahwa asma merupakan penyakit yang diturunkan
dalam keluarga. Telah dibuktikan dalam berbagai penelitian bahwa orang tua asma
merupakan prediktor yang kuat terhadap kejadian asma pada anaknya. Hasil penelitian
Laisina (2007) menunjukkan bahwa kejadian asma pada anak yang orang tuanya memiliki
riwayat asma adalah 72,7 % dan terdapat hubungan antara riwayat asma pada orang tua
dengan kejadian asma pada anak (p < 0,001).
2. Riwayat Atopi
Atopi adalah suatu keadaan respon seseorang yang tinggi terhadap protein asing yang sering
bermanifestasi berupa rinitis alergika, urtikaria atau dermatitis (Djojodibroto, 2009).
Sebagian besar pasien asma berasal dari keluarga atopi, dan kandungan IgE spesifik pada
seorang bayi dapat menjadi prediktor untuk terjadinya asma kelak di kemudian hari (Akib,
2002).
3. Jenis kelamin
Pada anak-anak yang berjenis kelamin laki-laki lebih berisiko untuk terjadinya asma
dibandingkan pada anak- anak yang berjenis kelamin perempuan. Mendekati usia 14 tahun
prevalensi asma hampir dua kali lebih besar pada laki-laki dibandingkan pada anak
perempuan. Namun, Pada masa dewasa jumlah asma lebih besar pada perempuan
dibandingkan pada laki-laki. Pada dasarnya alasan keterkaitan antara jenis kelamin dengan
penyakit asma belum jelas. Namun, ukuran paru-paru laki-laki lebih kecil daripada paru-paru
perempuan ketika dilahirkan, dan berkembang menjadi besar pada saat
dewasa (GINA, 2012).
Faktor lingkungan
1. Infeksi
Infeksi saluran pernapasan oleh virus berperan penting terhadap kejadian asma. Menurut
Ronmark, et al dalam Laisina (2007) pada penelitian kohort selama 1 tahun terhadap 3525
anak usia 7 dan 8 tahun mendapatkan adanya hubungan antara infeksi saluran napas dengan
kejadian asma.
2. Perabotan rumah tangga

Tungau Debu Rumah (TDR) merupakan alergen inhalan penting yang berhubungan dengan
timbulnya asma. Populasi TDR paling banyak ditemukan pada kasur dan bantal. Konsentrasi
TDR dermatophagoides farinae lebih tinggi secara bermakna pada kasur yang terbuat dari
kapuk daripada yang terbuat dari busa. Seperti kasur dan bantal, karpet juga sering
menampung bahan alergenik seperti TDR, serpihan kulit atau bulu binatang. konsentrasi TDR
lebih tinggi 10 kali pada ruang tamu yang di dalamnya terdapat karpet (Laisina, 2007).
3. Asap rokok
Aliran asap yang terbakar lebih panas dan lebih toksik dari pada asap yang dihirup perokok,
terutama dalam mengiritasi mukosa jalan nafas. Pajanan asap tembakau pasif berakibat lebih
berbahaya pada gejala penyakit saluran nafas bawah (batuk, lendir dan mengi) dan naiknya
risiko asma dan serangan asma. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa risiko munculnya
asma meningkat pada anak yang terpajan sebagai perokok pasif dengan OR = 3,3 (95% CI
1,41-5,74) (Purnomo, 2008).

4. Pemakaian obat nyamuk
Studi epidemiologis menunjukkan bahwa pajanan jangka panjang terhadap asap obat nyamuk
dikaitkan dengan asma dan mengpersisten pada anak-anak (Mshelia et al, 2013). Obat
nyamuk semprot maupun asap obat nyamuk bakar merupakan iritan inhalan yang sering
digunakan dan dapat menyebabkan hiperreaktifitas bronkus, namun sejauh mana
pengaruhnya terhadap asma masih belum jelas (Laisina, 2007).
5. Sulfur dioksida dan Nitrogen dioksida
Menurut Lee (2012) gas Sulfur dioksida (SO 2) umumnya berasal dari pembakaran bahan
bakar yang mengandung sulfur yang sebagian besar berasal dari batubara dan minyak, Selting
logam, dan proses industri lainnya. Bukti ilmiah saat ini menyatakan bahwa terdapat
hubungan pajanan jangka pendek terhadap SO2, mulai dari 5 menit sampai 24 jam dengan
berbagai efek pernapasan yang merugikan termasuk bronkokonstriksi dan peningkatan gejala
asma (EPA, 2013). Penelitian Speizer and Frank dalam Lee (2012) menyatakan bahwa
setelah menghirup rata-rata 16 ppm SO2 saat istirahat, kurang dari 1% gas SO2 dapat dideteksi
pada orofaring. Penelitian tentang hubungan SO2 dengan kejadian asma juga telah dilakukan
di Asia tepatnya di Cina. Hasil dari Northeast Chinese Children Health study menyatakan
terbukti bahwa konsensentrasi SO2 pada udara ambien secara positf berhubungan dengan
asma pada anak-anak (Dong et al, 2011). Pada penderita asma, pajanan tingkat rendah NO2
dapat menyebabkan peningkatan reaktivitas bronkial dan membuat anak-anak lebih rentan
terhadap infeksi pernapasan. Eksposur jangka panjang untuk tingkat tinggi NO2 dapat
menyebabkan bronkitis kronis (EPA, 2012).
6. Binatang peliharaan
Binatang peliharaan yang berbulu seperti anjing, kucing, hamster, burung dapat menjadi
sumber alergen inhalan. Sumber penyebab asma adalah alergen protein yang ditemukan pada
bulu binatang di bagian muka dan ekskresi. Alergen tersebut memiliki ukuran yang sangat
kecil (sekitar 3-4 mikron) dan dapat terbang di udara sehingga menyebabkan serangan
asma, terutama dari burung dan hewan menyusui (Purnomo,2008).
7. Cuaca
Indonesia merupakan negara dengan dua musim yaitu musim hujan dan kemarau. Keduanya
memiliki tiga komponen yang berperan antara lain suhu udara, kelembaban dan curah hujan.
Kelembapan yang tinggi, suhu udara rendah dan curah hujan yang tinggi merupakan faktor
pencetus serangan asma.Udara dingin dapat mencetuskan serangan asma dengan cara
meningkatkan hiperresponsivitas saluran napas yang menyebabkan bronkokontriksi dan
menimbulkan gejala sesak dan mengi (Kusbiantoro, 2005).
Faktor Perilaku
1. Pola makan
Beberapa makanan penyebab alergi makanan seperti susu sapi, ikan laut, kacang, berbagai
buah-buahan seperti tomat, strawberry, mangga, durian berperan menjadi penyebab asma
(Purnomo, 2008). Dalam beberapa penelitian juga menyatakan bahwa meningkatnya
konsumsi makanan olahan dan kurangnya mengkonsumsi makanan yang mengandung
antioksidan seperti buah dan sayur berkontribusi dalam meningkatkan kejadian asma (GINA,
2012). Hasil penelitian Sihombing (2010) menyatakan bahwa pada kebiasaan dalam
mengonsumsi makanan yang diawetkan memperlihatkan bahwa responden yang sering
mengonsumsi makanan yang diawetkan berisiko 0,9 kali mendapat asma
(OR=0,9; 95% CI 0,8-0,9).

2. Latihan Fisik
Latihan fisik (exercise) didefinisikan sebagai sub kelompok aktivitas fisik berupa gerakan
tubuh yang terencana terstruktur dan berulang untuk memperbaiki atua memelihara satu atau
lebih komponen kebugaran fisik (Gibney, 2005). Aktivitas gerak badan (exercise) sering
memprovokasi saluran pernapasan yang hiperaktif sehingga timbul bronkokontriksi. Orang
myang melakukan kegiatan olahraga ventilasi-menitnya akan meningkat. Sebelum masuk
kedalam paru, udara yang dingin (temperatur kamar) dan kering harus dipanasi dan
dijenuhkan dengan uap air oleh epitel trakeobronkial. Epitel trakeobronkial menjadi dingin
dan kering sehingga menyebabkan bronkokontriksi saluran pernapasan (Djojodibroto, 2009).
Serangan asma terjadi 5 sampai 15 menit setelah latihan fisik dimulai dan puncaknya dalam 6
sampai 8 menit. Gejala asma perlahan-lahan menghilang dalam waktu 30 sampai 60 menit
setelah latihan fisik. Interval ini dikenal sebagai periode refrakter (refractory period) (Herdi,
2011).
3. Perubahan emosi
Peran faktor psikologis dalam perkembangan serangan asma akut sudah lama diketahui,
perasaan cemas dan depresi seringkali bertepatan dengan terjadinya gejala asma. Mekanisme
yang menyebabkan eksaserbasi asma ini belum dipahami secara pasti. Diduga bahwa
fluktuasi penyempitan jalan napas dikarenakan emosi yang negatif (Herdi, 2011).
4. Pemberian ASI eksklusif
Menurut PP Nomor 33 tahun 2012, Air Susu Ibu Eksklusif (ASI) ad alah ASI yang diberikan
kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa menambahkan dan/atau mengganti
dengan makanan atau minuman lain. Dari studi secara ekstensif, pola makan individu terutama

dalam pemberian ASI sangat berhubungan dengan perkembangan penyakit asma. Data
menyebutkan bahwa bayi yang diberikan susu sapi dan protein kedelai mempunyai insiden
mengi lebih tinggi pada awal masa kanak-kanak dibandingkan bayi yang diberikan ASI
(GINA, 2012). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pemberian ASI ekslusif
berhubungan dengan penurunan risiko asma, diduga karena adanya efek imunomodulasi dan
pencegah infeksi (Afdal, 2012).

Related Interests