SOLUSIO PLASENTA

Solusio plasenta, atau abruption placentae, atau yang dikenal juga dengan
perdarahan aksidental adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya sebelum
pelahiran. Istilah Latin abruption placentae berarti “robek dan terlepasnya plasenta”, serta
mengandung makna suatu peristiwa yang terjadi tiba-tiba, adalah ciri klinis pada sebagian
besar kasus solusio plasenta. Placenta itu secara normal terlepas setelah anak lahir, jadi
placenta terlepas sebelum waktunya kalau terlepas sebelum anak lahir antara minggu 22 dan
lahirnya anak.
Istilah yang sangat panjang, pemisahan kurang bulan plasenta yang berimplantasi
normal, adalah yang paling deskriptif. Istilah ini membedakan plasenta yang terlepas
secara kurang bulan tetapi berimplantasi pada jarak tertentu dari ostium uteri internumyakni, plasenta previa.
Perdarahan akibat solusio plasenta umumnya menyusup di antara membrane plasenta
dan uterus, dan akhirnya keluar melalui serviks, menyebabkan perdarahan eksternal. Yang
lebih jarang, darah tidak berhasil keluar, tetapi tertahan di antara plasenta yang terlepas dan
uterus, membentuk haematom retroplacentair, menyebabkan pendarahan terselubung.
Selain itu kadang kadang darah dapat juga masuk ke dalam ruang amnion. Solutio placentae
dengan perdarahan tersembunyi menimbulkan tanda yang lebih khas dan pada umumnya
lebih berbahaya dari pada solutio placentae dengan perdarahan keluar.
Bahaya ini bukan hanya karena kemungkinan koagulapoti konsumtif, tetapi juga
karena banyak dan luas perdarahan tidak diketahui dengan segera, diagnosis umumnya
terlambat. Solusio plasenta dapat total atau parsial. Keparahan solusio sering bergantung
pada secepat apa perempuan tersebut ditangani setelah awitan gejala.
Frekuensi diagnosis solusio plasenta bervariasi karena perbedaan kriteria, tetapi
frekuensi rata-rata yang dilaporkan 1 dan 200 kelahiran. Meskipun angka kematian janin
akibat sulosio plasenta telah menurun, peran sulosio sebagai penyebab kematian janin masih
tetap menonjol karena telah berkurangnya angka lahir mati akibat sebab-sebab lain.
Tingginya angka kematian perinatal akibat solusio plasenta telah tercatat dalam
sejumlah laporan. Penting diketahui bahwa angka kematian perinatal yang tinggi bukan
hanya disebabkan oleh plasenta solusio plasenta, tetapi juga di sebabkan peningkatan insiden
kelahiran kurang bulan dan restriksi pertumbuhan janin. Terdapat pula peningkatan sekuele

Gejala-gejala dan tanda-tanda klinik jelas. 1. dan solusio plasenta berat.000 ml. a Solusio Plasenta Ringan Luas plasenta yang terlepas tidak sampai 25 %. yaitu solusio plasenta ringan. Gejala gejala perdarahan sukar dibedakan dari plasenta previa kecuali terdapat b darah yang kehitaman. Pertumpahan darah bisa terjadi ke luar dan ke dalam bersama-sama. atau ada yang menyebutkan kurang dari 1/6 bagian. dan jumlah darah yang keluar telah mencapai 1.berat pada bayi yang selamat. Komplikasi koagulopati dan gagal ginjal yang ditandai pada oliguri biasanya telah ada.000 ml atau lebih. denyut jantung c janin menjadi cepat. solusio plasenta sedang.gejala dan tanda-tanda sudah jelas seperti rasa nyeri pada perut yang terus menerus. . Pembagian secara klinik ini baru definitif bila ditinjau retrospektif karena solusio plasenta sifatnya berlangsung progresif. Komplikasi terhadap ibu dan janin belum ada. Jumlah darah yang keluar biasanya kurang dari 250 ml. Umumnya pertumpahan darah terjadi ke luar dan ke dalam bersama-sama. yag bertahan hidup diketahui mengalami defisit neurologis yang bermakna dalam tahun pertama kehidupan. Tumpahan darah yang keluar terlihat seperti pada haid bervariasi dari sedikit sampai seperti menstruasi yang banyak. Jumlah darah yang keluar lebih banyak dari 250 ml tetapi belum mencapai 1. hipotensi dan takikardia. yang berarti solusio plasenta yang ringan bisa berkembang menjadi lebih berat dari waktu ke waktu. Klasifikasi Dalam klinis solusio plasenta dibagi ke dalam berat ringannya gambaran klinik sesuai dengan luasnya permukaan plasenta vang terlepas. Gejala. Keadaan umum penderita bisa menjadi buruk apabila perdarahannya cukup banyak pada kategori concealed hemorrhage. Solusio plasenta berat Luas plasenta yang terlepas sudah melebihi 50 %. Solusio plasenta sedang Luas plasenta yang terlepas telah melebihi 25 %. dan hampir semua janinnya telah meninggal. keadaan umum penderita buruk disertai syok. tetapi belum mencapai separuhnya (50%).

maka pembuluh darah mudah pecah. Pada kasus trauma eksternal. dan peningkatan ini bahkan lebih tinggi lagi jika disertai preeklamsia atau restriksi pertumbuhan janin. solusio lebih lazim terjadi pada perempuan Afrika-Amerika dan Kukasia (1 dalam 200) dibandingkan perempuan Asia (1 dalam 300) atau perempuan Amerika Latin (1 dalam 450).. atau kombinasi kedua-duanya. yakni jika seseorang perempuan pernah mengalami solusio berat.hipertensi gestasional. Insiden solusio meningkat sesuai bertambahnya usia ibu.3 kali lipat lebih mungkin mengalami solusio plasenta dibandingkan perempuan berusia ≤ 35 tahun (Cleary-Goldman dkk. Ras dan Faktor Familial.2. telah menekankan secara 3 tepat bahwa solusio dapat disebabkan oleh trauma yang relative ringan. versi luar. kemudian terjadi 2 haematoma retroplasenter dan plasenta terlepas. perempuan yang berusia lebih dari 40 yahun ditemukan 2. Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas. Ras atau etnisitas. Ketuban Pecah Dini dan Pelahiran Kurang Bulan Terjadi peningkatan insiden solusio bila ketuban pecah sebelum aterm. Kasus trauma internal yakni pada pengecilan yang tiba-tiba dari uterus pada hidramnion dan gemeli. Etiologi Sebab utama solusio plasenta tidak diketahui. Ananth dkk. seperti. 2005). Hipertensi adalah suatu kondisi yang sangat dominan. preeklamsia.. Kettel (1988) dan Stafford dkk.and Second-Trimester Evaluation of Risk (FASTER). dan kena tendang dapat terjadi pemisahan plasenta. dan melaporkan . (2007) melaporkan peningkatan insiden solusio plasenta sebesar 2. risiko untuk saudara perempuannya akan meningkat dua kali lipat... (2004) mempelajari data dari National Maternal and Infant Health Survey tahun 1988. jatuh. Hubungan familian.4 kali lipat pada hipertensi kronis. Faktor Trauma. Usia. (1988).. tapi diduga bahwa hal-hal yang tersebut di bawah dapat menyebabkannya: 1 Faktor vaskuler (80-90%) yaitu hipertensi. Penelitian Firs. (1995) melaporkan bahwa 5% di antara 756 perempuan dengan ketuban pecah antara minggu 20 dan minggu mengalami solusio. Paritas. hipertensi kronis. atau pertolongan persalinan. Insiden solusio juga banyak 4 dijumpai pada multiparitas. Ananth dkk. Major dkk. biasanya berkaitan dengan kecelakaan kendaraan bermotor atau kekerasan fisik. Karena desakan darah tinggi. dan risiko yang dapat diwariskan diperkirakan sebesar 16%.

3. 2007.peningkatan risiko solusio 3 kali lipat pada kasus ketuban pecah dini. Terdapat angka rekurensi 22%. mengajukan gagasan bahwa peradangan dan infeksi mungkin merupakan sebab utama solusio plasenta. Trombofilia. Perempuan pengguna kokain memiliki frekuensi solusio plasenta yang sangat tinggi. . Kokain.. Nath dkk. sejumlah trombofilia yang diwariskan atau didapat telah dikaitkan dengan penyakit tromboembolik selama kehamilan. Dalam suatu metaanalisis yang mencakup 1. Beberapa di antara kelainan ini. terutama 5 karena pelahiran kurang bulan. Tumor ini. solusio terjadi hanya pada 2 di antara 79 perempuan dengan leiomioma yang tidak terletak retroplasenta. Selama dekade terakhir. misalnya. Merokok. khususnya jika terletak di belakang tempat implantasi plasenta. atau keduanya.. Rasio ini bertambah menjadi lima hingga delapan kali lipat jika perokok tersebut mengalami 6 hipertensi kronis. Mereka juga melaporkan hubungan yang erat dengan berat badan lahir rendah. Risiko ini semakin ditingkatkan oleh infeksi. serta preeklamsia. 8 diantara 14 solusio berulang menyebabkan kematian janin kedua. memiliki angka rekurensi yang tinggi. dan empat di antara 6 kasus rekurensi terjadi pada usia kehamilan yang lebih muda 1-3 minggu dibandingkan saat terjadinya solusio pertama. (1989) melaporkan bahwa delapan di antara 14 perempuan dengan leiomioma retroplasenta mengalami solusio plasenta. Sebaliknya. merupakan predisposisi terjadinya solusio..6 juta kehamilan.. (2001) melaporkan bahwa solusio plasenta lebih lazim pada perempuan yang menggunakan kokain dibandingkan mereka yang bukan 7 pengguna. Ananth dkk. preeklamsia berat. Leiomioma. (1999) menemukan peningkatan solusio dua kali lipat pada perokok. risiko menjadi 50 kali lipat untuk mengalami solusio ke-3. Addis dkk. Rice dkk. mutasi gen protrombin atau faktor V 8 Leiden-berkaitan dengan solusio dan infark plasenta. dan empat perempuan melahirkan janin lahir mati. Solusio Berulang Seorang perempuan yang pernah mengalami solusio plasenta. khususnya yang menyebabkan kematian janin. Bagi perempuan yang telah mengalami 2 kali solusio plasenta berat.

uterus tidak mampu berkontraksi secara adekuat untuk menekan pembuluh darah yang robek yang mendarahi lokasi plasenta. yang saat bertambah besar. Cekungan ini biasanya berdiameter beberapa centimeter dan ditutupi oleh darah yang telah membeku dan berwarna gelap. Karena diperlukan beberapa menit untuk memunculkan perubahan anatomis ini. 4. proses dalam tahap paling awal terdiri atas pembentukan hematoma desidua yang menyebabkan pemisahan. plasenta yang sangat baru mengalami pemisahan dapat tampak sepenuhnya normal pada saat melahirkan.Jadi.. (2007) menemukan bukti histologis peradangan lebih banyak terlihat pada kasus solusio plasenta dibandingkan pada control normal. Pada banyak kasus terjadinya solusio umumnya baik. Patologi Solusio plasenta di mulai oleh perdarahan kedalam desidua basalis. Pada kasus-kasus seperti ini. Peradangan-infeksi-mungkin merupakan contributor penyebab. arteria spiralis desidua pecah dan menimbulkan hematoma retroplasenta. Darah yang keluar dapat menyebabkan diseksi membrane dari dinding uterus. Pada kondisi tertentu. Karena uterus masih membesar akibat produksi konsepsi. dan kemungkinan berumur beberapa jam. Karena itu. meninggalkan lapisan tipis yang melekat ke myometrium. Dalam tahap dini mungkin tidak ditemukan gejala klinis. a Perdarahan Terselubung. telah menekan massa plasenta. kompresi. bahkan pada kehamilan yang masih jauh dari aterm. Daerah terpisahnya plasenta dengan cepat meluas dan mencapai tepi plasenta. Desidua basalis kemudian memisah. dan pemeriksaan hanya ditemukan saat pemeriksaan plasenta yang bari dilahirkan. merusak lebih banyak lagi pembuluh darah sehingga lebih banyak plasenta yang terpisah. Menurut Benirschke dan Kaufmann (2000) “usia” bekuan retroplasenta tidak dapat ditentukan secara pasti. bekuan berwarna gelap dan berukuran cukup besar telah terbentuk sempurna. dan akhirnya tampak dari luar atau dapat bertahan sepenuhnya dalam uterus. terdapat cekungan berbatas tegas pada permukaan maternal plasenta. Nath dkk. dan akhirnya penghancuran plasenta ang terletak di dekatnya. Perdaraan terselubung atau tertahan (tersamar) mungkin terjadi jika: . tata laksana kehamilan setelah terjadinya solusio merupakan hal sulit karena mendadak dapat terjadi solusio berikutnya.

sadangkan darah tepi pada tepi saat itu mengandung kromium radioaktif. Pada semua kasus tersebut. Darah memperoleh akses ke rongga amnion setelah menembus membran. Beberapa kasus solusio pertama kali timbul pada kehamilan yang masih sangat dini. Perdarahan pada solusio plasenta hampir selalu berasal dari ibu. Terdapat efusi darah di belakang plasenta. Pada satu kasus. yang ditemukan di dalam uterus saat pelahiran 3 minggu kemudian. dan darah. Sebaliknya. Pada kondisi ini. Kepala janin memenuhi segmen bawah uterus sehingga drah tidak dapat lewat. Namun yang paling sering terjadi. tetapi membrane masih melekat ke dinding   uterus. Pada beberapa perempuan. Dengan demikian. akan mengalir keluar. membrane. darah dalam bekuan telah terakumulasi sebelum eritrosit dilabel. hal ini logis karena pemisahan terjadi dalam desidua ibu. Plasenta sepenuhnya terpisah. bukan akibat pemisahan plasenta itu sendiri.. Pada 78 perempuan dengan solusio plasenta non-traumatik. sel-sel darah merah terselubung sebagai bekuan bervolume 400 mL. c Perdarahan Janin ke Ibu. ditemukan tanda perdarahan janin-ke-ibu pada 20%nya. volume darah janin kurang dari 10 mL (Stettler dkk. secara bertahap terdiseksi lepas dari dinding uterus. . 1992). tetapi tepinya masih tetap  melekat. perdarahan dengan pembentukan hematoma retroplasenta dapat berhenti sepenuhnya tanpa pelahiran. perdarahan janin yang bermakna jauh lebih mungkin terjadi pada solusio traumatik. cepat atau lambat. perdarahan janin terjadi akibat robekan atau fraktur dalam plasenta. b Solusio Plasenta Kronis. Bekuan yang temukan ini tidak mengandung radiokromium.

. darah tinggal saja di dalam rahim yang disebut internal haemorrhage (concealed haemorrhage). tetapi plasenta telah terlepas sepenuhnya dan janin meninggal sebagai akibat langsung pemisahan plasenta. tidak ditemukan perdarahan eksternal. Pada 22% . atau keluar melalui vagina (antara selaput ketuban dengan dinding uterus). Diagnosis Klinis Tanda dan gejala solusio plasenta dapat sangat bervariasi. diagnosis awal adalah persalinan kurang bulan sebelum akhirnya terjadi kematian atau . yang disebut external haemorrhage (revealed haemorrhage). Pada suatu penelitian prospektif yag melibatkan 59 perempuan dengan solusio plasenta. Perdarahan pada solusio plasenta bisa mengakibatkan darah hanya ada di belakang plasenta (hematoma retroplasenter). masuk merembes ke dalam amnion. Hurd dkk. Kadang-kadang. (1983) melaporkan perdarahan per vagina pada 78%.5. nyeri tekan uterus atau nyeri punggung pada 66%. dan distres janin pada 60%.

ialah usaha badan untuk membuka kembali peredaran darah kapiler yang tersumbat. Secara spesifik. disebut disseminated intravascular clotting. Temuan lain mencakup kontraksi uterus yang sering dan hipertonus uterus persisten. hipotensi atau anemia tidak harus ditemukan bahkan pada kasus perdarahan terselubung yang ekstrem sekalipun. Usaha ini . venolo) terjadi pembekuan darah.700 mg dalam 100 cc.  Syok. Jadi pada fase I turunnya kadar fibrinogen disebabkan karena pemakaian zat tersebut.  Koagulopati Konsumtif. Kogulopati konsumtif lebih mungkin terjadi pada solusio yang terselubung karena pada kondisi ini. Akibat gangguan microcirculasi terjadi kerusakan jaringan pada alatalat yang penting karena hypoxia. Syok hipovolemik sesungguhnya secara langsung disebabkan oleh kehilangan darah pada ibu. kapiler. Solusio plasenta adalah salah satu penyebab tersering koagulopati konsumtif yang bermakna secara klinis dalam bidang obstetric. Koagulopathi ialah kelainan pembekuan darah. Akibatnya ialah bahwa peredaran darah kapiler (microcirculasi) terganggu. Akibat gangguan microcirkulasi ialah syok Fase II : Adalah Fase regulasi reparative. Kadar fibrinogen pada wanita yang hamil biasanya antara 300 -. maka Fase I disebut juga coagulopathi consumptif. Diduga bahwa haematom retroplacentair mengeluarkan thromboplastin yang menyebabkan pembekuan intravaskuler tersebut. Terjadinya hypofibrinogenaemia. Sebaliknya. Kerusakan ginjal menyebabkan oliguri/anuri. hipofibronogenemia yang bermakna secara klinis (kadar plasma kurang dari 150 mg/dL) ditemukan. Pritchard dan Brekken (1967) membuktikan bahwa kehilangan darah yang tejadi seringkali setara dengan sedikitnya separuh volume darah saat hamil. tekanan intrauteri lebih tinggi sehingga mendorong lebih banyak tromboplastin untuk memasuki system vena ibu. selain itu juga dijumpai pada emboli air tuban. biasanya coagulopathi terjadi dalam 2 fase : Fase I: Pada pembuluh darah terminal (arteriole. kematian janin dalam rahim dan perdarahan postpartum.distress janin.

maka selain dari transfusi darah penyelesaian persalinan secepat mungkin adalah sangat penting. 1999). sebagian besar kasus jelas GGA bersifat reversible. Penentuan hypofibrinogenaemi: Penentuan fibrinogen secara laboratoris memakan waktu yang lama maka untuk keadaan akut baik dilakukan clot observation test. yang melisis mikroemboli fibrin untuk mempertahankan patensi mikrosirkulasi. terapi segera terhambat perdarahan secara agresif dengan larutan kristaloid dan darah dapat mencegah disfungsi ginjal yang bermakna secara klinis karena alasan yang tidak diketahui bahkan tanpa preeklamsia. Fibrinolyse yang berlebihan. selalu terdapat kadar patologis produk degradasi fibrinogenfibrin dan atau D-dimer dalam serum ibu. Gagal ginjal akut dapat ditemukan pada solusio plasenta berat. Gangguan faal ginjal ini adalah akibat dari vascular clotting dan shock. Akibat penting koagulasi intavaskular adalah aktifasi plasminogen menjadi plasmin. Darah yang normal membeku dalam 6-15 menit. Untungnya. lebih lagi menurunkan kadar fibrinogen hingga terjadi perdarahan patologis. Gagal ginjal akut lebih sering terjadi karena terapi hypovolemia diberikan lambat atau tidak lengkap. Penderita solutio placentae sering ada oliguri setelah partus. Karena preeklamsia sering ditemukan bersama solusio plasenta vasospasme dan hipoperkusi ginjal kemungkinan bertambah berat (Hauth dan Cunninghan. Dikatakan makin lama solutio placentae berlangsung makin besar kemungkinan oliguri dan hypofibrinogenaemi. proteinuria lazim ditemukan .dilaksanakan dengan fibrinolyse.  Gagal Ginjal. Perfusi ginjal yang sangat tergantung akibat pendarahan massif. Bahkan. jika solusio dipersulit oleh koagulasi intravaskular berat. Beberapa cc darah dimasukkan dalam tabung reagens. Pada solusio plasenta yang cukup berat sehingga menyebabkan kematian janin. Belum jelas apakah solusio berperan dalam insiden cedera ginjal akut yang terkait-kelainan obstetric. Jika darah membeku cair lagi dalam 1 jam maka ada aktivitas fibrinolyse.

karena plasenta dan bekuan darah segar memiliki gambaran sonografik yang serupa.  Sonografi jarang memastikan diagnosis solusio plasenta. diantara lembaran-lembaran ligamentum Latum uteri. setidaknya secara akut. Insiden tepatnya tidak diketahui karena diagnosis hanya dapat dipastikan saat laparotomy. rontoknya rambut pubis dan aksila hipotiroidisme. dan kelainan endokrin semacam ini jarang timbul.pada awalnya. Ada 2 bentuk Couvelair Uterus. Karena perdarahan ini uterus biru warnanya.  Sindrom Sheehan. Proteinuria umumnya menghilang segara setelah kelahiran. amenorea. mungkin terdapat nekrosis hipofisis dalam derajat yang bervariasi dalam derajat yang bervariasi dan gangguan sekresi satu atau lebih hormon tropik.  Uterus Convelaire. Penting untuk diingat. didalam substantia ovarica. Patogenesis pasti sindrom ini belum dipahami benar. dan kondisi ini bukanlah indikasi histerektomi. atrofi payudara. yaitu: 1 Couvelair uterus dengan kontraksi uterus baik. Uterus Couvelcare ini dapat menyebabkan perdarahan atonis. Pada beberapa tetapi tidak semua. sehingga terjadi perdarahan postpartum. Perdarahan intrapartum atau pascapartum dini yang berat kadang dapat diikuti oleh kegagalan hipofisis atau sindrom Sheehan. 2 Couvelair uterus dengan kontraksi uterus jelek. namun ada beberapa yang mengatakan bahwa perdarahan dalam otot-otot rahim dan di bawah selaput perut disebabkan fibrinogenaemi. kasus sindrom Sheehan. dan insufisiensi korteks adrenal. Perdarahan miometrium ini jarang mengganggu kontraksi myometrium untuk menyebabakan atonia. Dapat terjadi ekstravasasi luas darah ke dalam otot-otot uterus dan ke bawah tunika serosa uteri. temuan negatif pada pemeriksaan sonografi tidak menyingkiran soluso plasenta. khususnya pada bentuk solusio plasenta yang lebih berat. Sindrom ini ditandai dengan kegagalan laktasi. sensitivitasnya sebesar 24%. dan bebas dalam rongga peritoneum. bahkan pada perempuan yang mengalami perdarahan berat. . Efusi darah semacam ini kadang ditemukan dibawah tunika serosa tuba.

tetapi lambat laun turun dan pasien jatuh syok. disebut prolapsus plasenta. bunyi jantung biasanya tidak ada. ini sering dikacaukan dengan plasenta previa.Kalau sudah terbuka maka ketuban dapat teraba menonjol dan tegang. uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. . pada pemeriksaan sedimen terdapat silinder dan Iekosit . Nadi cepat. beratnya anaemi dan shock sering tidak sesuai dengan - banyaknya darah yang keluar. dan filiformis. Gejala . b Pemeriksaan Umum . Kalau ketuban sudah pecah dan plasenta sudah terlepas seluruhnya. kecil. di mana plasenta terlepas.6. kadang-kadang pasien bisa lokalisir tempat mana yang paling sakit.Tensi semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit c vaskuler. 7. Sehingga - pasien gelisah.Perdarahan yang di sertai nyeri.setelah placenta lahir. Fundus uteri makin lama makin naik karena terbentuknya retroplasenter - hematoma.Sering ada proteinuria karena disertai toxaemia. Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang a Pemeriksaan Dalam . plasenta ini akan turun ke bawah dan teraba pada pemeriksaan. uterus yang tegang dan nyeri dan adanya impressi (cekungan) pada permukaan maternal placenta akibat tekanan haematom retroplacentair. Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti (anak - tidak bergerak lagi). Palpasi sukar karena rahim keras. Rahim keras seperti papan dan nyeri dipegang karena isi rahim bertambah dengan darah yang berkumpul di belakang placenta hingga rahim teregang (uterus in - boil). Nyeri tekan terutama di tempat plasenta tadi - terlepas dan bagian-bagian janin susah dikenali. karena perut (uterus) tegang. Pemeriksaan Laboratorium . tiba-tiba di perut. Pada toucher teraba ketuban yang tegang terus menerus (karena isi rahim bertambah). Anemia dan shock.Serviks bisa telah terbuka atau masih tertutup.Urin albumin (+). dan sering mengerang karena kesakitan. Diagnosa didasarkan atas adanya perdarahan antepartum yang bersifat nyeri. baik - sewaktu his maupun diluar his. .

maka diperiksakan pula COT (Clot Observation Test) tiap 1 jam. yang disebut hematoma retroplasenter.- Darah Hb menurun (anemi). d Pemeriksaan Plasenta Sesudah bayi dan plasenta lahir. atau dapat tidak nyeri. Terapi Konservatif (ekspektatif) . pelahiran Caesar darurat dipilih oleh sebagian besar klinisi. kita periksa plasentanya. maka bila terjadi perdarahan per vagina pada kehamilan dengan janin hidup. periksa golongan darah. khususnya pada plasenta yang terletak di posterior. Jika diagnosis belum dapat dipastikan dan janin hidup tanpa tanda terganggunya kesejahteraan janin. Penatalaksanaan Terapi solusio plasenta bervariasi bergantung pada usia gestasi dan kondisi ibu serta janin. tes kualitatif fibrinogen (fiberindex). Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah a/hipofibrinogenemia. 8. nyeri akibat solusio juga dapat menyerupai persalinan normal. janin. 9. 10. Bila janin telah mencapai usia viable dan jika persalinan per vagina belum dilaksanakan. kalau bisa cross match test. sering harus dilakukan penyingkiran diagnosis plasenta previa dan sebab perdarahan lainnya seperti ruptura uteri. resusitasi intensif dengan darah dan kristaloid serta pelahiran segera untuk mengembalikan perdarahan merupakan tindakan penyelamatan nyawa bagi ibu dan. Selain itu. dan tes kuantitatif fibrinogen (kadar normalnya 150 mg%). Biasanya tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas (krater) dan terdapal koagulum atau darah beku di belakang plasenta. Diagnosis Banding Karena tidak tersedianya uji laboratorium ataupun metode diagnostik untuk mendeteksi pemisahan plasenta yang berderajat lebih ringan secara adekuat. diharapkan. observasi ketat dapat dilakukan difasilitas yang mampu melakukan intervensi segera. Pada perdarahan eksternal massif. dengan menggunakan evaluasi klinis dan sonografik.

Sambil menunggu/mengawasi kita berikan: . Diurese yang baik lebih dari 30 — 40 cc/jam. Menurut cara ini. .000 S i.suntikan morfin subkutan . untuk mengatasi syok dan anemia. Jika pemisahan plasenta sedemikianberat hingga janin meninggal. pada shock yang berat diberi kortikosteroid dalam dosis tinggi. pelahiran per vagina biasanya dipilih.substitusi dengan human fibrinogen 10 g atau darah segar dan plasma darah .v.stimulasi dengan kardiotonika seperti coramine. dan pentazol. Pelahiran Per Vagina. Terapi Obstetris Prinsip: kita mencoba melakukan tindakan dengan maksud agar anak segera dilahirkan dan perdarahan berhenti sedapat-dapatnya kelahiran terjadi dalam 6 jam. pemberian O2. . Terapi Khusus 1 Terhadap Hypofibrinogenaemi. agar mekanisme pembekuan darah tidak terganggu pemberian darah yang cukup. serta untuk menambah - kadar fibrinogen. cardizol.perdarahan bertambah. 11. Mannitol. pemberian antibiotica. stimulasi myometrium secara farmakologis dan pemijatan uterus akan menekan dan menutup pembuluh darah diplasenta sehingga perdarahan berat dapat dihindarkan meskipun mungkin terdapat defek koagulasi.000 S/jam dalam infus.bagian placenta yang terlepas meluas. 2 selanjutnya kalau perlu 100. dengan alasan karena : .menghentikan fibrinolyse dengan trasylol (proteinase inhibitor) 200. . Untuk merangsang diurese : Mannit. Tujuan ini dicapai dengan : . stimulasi per-vagina. 12. mencegah terjadinya nekrosis korteks renalis yang dapat berakibat anuria dan uremia.transfusi darah. . Hemostasis pada lokasi implantasi plasenta trutama bergantung pada kontraksi myometrium. perdarahan akibat berhenti sendiri jika tekanan intrauterin bertambah lama bertambah tinggi sehingga menekan pembuluh darah arteri yang robek.hypofibrinogenaemi menjelma atau bertambah. pada pelahiran per vagina. Dengan demikian. Menunggu sampai perdarahan berhenti dan kemudian partus berlangsung spontan.

yaitu pelebaran dan peregangan serviks diikuti dengan d pemasangan cunam Willet Gausz atau versi Braxton-Hicks.neonatal pada kehamilan tunggal yang dipersulit solusio plasenta secara klinis - dan bradikardia janin solusio plasenta dengan anak hidup. Sedangkan pemberian Oksitosin dalam dosis standar. dan kepala sudah turun sampai Hodge III-IV.solusio plasenta dengan panggul sempit atau letak lintang.Perdarahan . Seksio sesarea biasanya dilakukan pada keadaan: . Histerektomi dapat dilakukan bila terjadi afibrinogenemia atau hipofibrinogenemia dan kalau persediaan darah atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup. perdarahan agak banyak.a Amniotomi (pemecahan ketuban) dan pemberian oksitosin. Pemberian infus pitocin ialah 5 S dalam 500 cc glucose 5%. Tujuan pemecahan ketuban yakni untuk mengurangi volume cairan amnion. pembukaan kecil solusio plasenta dengan toksemia berat. Selain itu juga g pada couvelair uterus dengan kontraksi uterus yang tidak baik. Namun. tetapi - pembukaan masih kecil kalau cervix panjang dan tertutup. . maka bila janin hidup. penggunaan oksitosin dianggap dapat memicu masuknya tromboplastin kedalam sirkulasi ibu sehingga memulai atau b c mempercepat koagulopati konsumtif atau sindrom embolisme cairan amnion. tetapi e f bila janin meninggal. 13. Ligasi arteri hipogastrika bila perdarahan tidak terkontrol tetapi fungsi reproduksi ingin dipertahankan. Bila pembukaan sudah lengkap atau hampir lengkap. Komplikasi a Langsung (immediate) . lakukan ekstraksi vakum atau forsep. tujuannya untuk merangsang uterus untuk pelahiran per vagina. memperbaiki kompresi arteria spiralis dan berperan untuk mengurangi perdarahan dari tempat implantasi sekaligus meenurunkan aliran tromboplastin kedalam sirkulasi ibu serta mempercepat persalinan dan mengurangi tekanan intrauterin yang tinggi yang dapat menyebabkan komplikasi nekrosis korteks ginjal dan gangguan pembekuan darah. kemudian awasi serta pimpin partus spontan. Accouchement force. lakukanlah embriotomi. kalau setelah pemecahan ketuban dan pemberian oxytocin dalam 2 jam belum juga ada his.

Couvelair uterus.Infeksi .b . Pada solusio plasenta sedang dan berat prognosisnya juga bergantung pada kecepatan dan ketepatan bantuan medik yang diperoleh pasien. Umumnya pada keadaan yang demikian janin telah mati dan mortalitas maternal meningkat akibat salah satu komplikasi. dan lain-lain. Solusio plasenta sedang mempunyai prognosis yang lebih buruk terutama terhadap janinnya karena mortalitas dan morbiditas perinatal yang tinggi di samping morbiditas ibu. Solusio plasenta ringan masih mempunyai prognosis yang baik bagi ibu dan janin karena tidak ada kematian dan morbiditasnya rendah. yang lebih berat. Prognosis Solusio plasenta mempunyai prognosis yang buruk baik bagi ibu hamil dan lebih buruk lagi bagi janin jika dibandingkan dengan plasenta previa. . hipofisis. 14. menyebabkan perdarahar - postpartum a/hipo-fibrinogenemia dengan perdarahan postpartum Nekrosis korteks renalis. menyebabkan anuria dan uremia Kerusakan-kerusakan organ seperti hati. sehingga kontraksi tak baik.Emboli dan syok obstetrik Komplikasi tidak langsung (delayed) . Transfusi darah yang banyak dengan segera dan terminasi kehamilan tepat waktu sangat menurunkan morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal. Solusio plasenta berat mempunyai prognosis paling buruk baik terhadap ibu lebih-lebih terhadap janinnya.