BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI VESIKA URINARIA DAN FISIOLOGI
2.1.1 Struktur otot detrusor dan sfingter
Susunan sebagian besar otot polos vesica urinaria apabila berkontraksi akan
menyebabkan pengosongan pada vesica urinaria. Pengaturan serabut detrusor
pada daerah leher vesica urinaria berbeda antara pria dan wanita dimana pria
mempunyai distribusi yang sirkuler dan serabut-serabut tersebut membentuk suatu
sfingter leher vesica urinaria yang efektif untuk mencegah terjadinya ejakulasi
retrograd sfingter interna yang ekivalen. Sfingter uretra (rhabdosfingter) terdiri
dari serabut otot lurik berbentuk sirkuler. Pada pria, rhabdosfingter terletak tepat
di distal dari prostat sementara pada wanita mengelilingi hampir seluruh uretra.
Rhabdosfingter secara anatomis berbeda dari otot-otot yang membentuk dasar
pelvis. Pada pemeriksaan elektromiografi otot ini menunjukkan suatu discharge
tonik konstan yang akan menurun bila terjadi relaksasi sfingter pada awal proses
miksi(Faiz and Moffat, 2004; Snell, 2006; Waxman, 2010).
2.1.2 Persyarafan dari vesica urinaria dan sfingter (Faiz and Moffat, 2004;
Snell, 2006; Waxman, 2010)
1.

Persyarafan parasimpatis (N.pelvikus)
Pengaturan fungsi motorik dari otot detrusor utama berasal dari serabut
preganglion

parasimpatis

dengan

badan

sel

terletak

pada

kolumna

intermediolateral medula spinalis antara S2 dan S4. Serabut preganglioner
keluar dari medula spinalis bersama radiks spinal anterior dan mengirim akson
melalui N.pelvikus ke pleksus parasimpatis di pelvis. Serabut postganglioner
pendek berjalan dari pleksus untuk menginervasi organ-organ pelvis. Tidak
terdapat perbedaan khusus postjunctional antara serabut postganglioner dan
otot polos musculus detrusor. Sebaliknya, serabut postganglioner mempunyai
jaringan difus sepanjang serabutnya yang mengandung vesikel dimana
asetilkolin

dilepaskan.

Meskipun

pada

beberapa

spesies

transmitter

Serabut motorik dari sel-sel ini berjalan dari radiks S2. Secaraelektromiografi. S3. mengandungbadan sel dari motor neuron yang menginnervasi baik sfingter anal danuretra. Simpatektomi lumbal sajatidak berpengaruh pada miksi meskipun pada umumnyaakan menimbulkan ejakulasi retrograd. Onufrowicz menggambarkansuatu nukleus pada kornu ventralis medula spinalis pada S2. Leher vesica urinaria menerimapersarafan yang banyak dari sistem saraf simpatis dan pada kucing dapatdilihat pengaturan parasimpatis oleh simpatis.Nukleus ini yang umumnya dikenal sebagai nukleus Onuf. Nukleus ini mempunyai diameter yang lebih kecil daripada selkornu anterior lain. Leher vesica urinaria priabanyak mengandung transmitter noradrenergik dan aktivitas simpatis selamaejakulasi menyebabkan penutupan dari leher vesica urinaria untukmencegah ejakulasi retrograde 3. sedangkan peran sistimsimpatis pada proses miksi manusia tidak jelas. Persyarafan simpatis (N. namun keberadaannya pada manusia diragukan.nonkolinergik-nonadrenergik juga ditemukan. S3 dan S4 kedalam n. dan S4. 4. Persyarafan somantik (N. motor unit dari otot lurik sfingter sama dengan serabutlurik otot tapi mempunyai amplitudo yang sedikit lebih rendah. 2. tetapi suatu penelitian mengenai sinaps motor neuronini pada kucing menunjukkan bahwa lebih bersifat skeletomotordibandingkan persarafan perineal parasimpatis preganglionik.pudendus) Otot lurik dari sfingter uretra merupakan satu-satunya bagian dari traktusurinarius yang mendapat persarafan somatik.hipogastrik dan rantai simpatis sakral) Vesica urinaria menerima inervasi simpatis dari rantai simpatis thorakolumbal melalui n. Persyarafan sensorik traktus urinarius bagian bawah 4 .hipogastrik.pudendus dimana ketika melewati pelvis memberi percabanganke sfingter anal dan cabang perineal ke otot lurik sfingter uretra.

nyeri dan suhu dari uretra dan memproyeksikan ke daerah yang serupa dalam medula spinalis sakral sebagai aferen vesica urinaria. Nathan dan Smith (1951) pada penelitian pasien yang telah mengalami kordotomi anterolateral. ATP atau calcitoningene-related peptide dan pelepasannya dapat mengubah eksitabilitas otot. Peran aferen hipogastrik tidak jelas tetapi serabut ini menyampaikan beberapa sensasi dari distensi vesica urinaria dan nyeri. serabut C yang tidak bermyelin dan serabut Aδ bermyelin kecil. Aferen somatik pudendal menyalurkan sensasi dari aliran urine.serabut pleksus ini dapat digolongkan sebagai saraf sensorik motorikdaripada sensorik murni. Serabut spinobulber pada kolumna dorsalis juga berperan pada transmisi dari informasi aferen.Ketiga pasang saraf perifer (simpatis torakolumbal.pelvikus dan membawa sensasi dari distensi vesica urinaria tampaknya merupakan hal yang terpenting pada fungsi vesica urinaria yang normal. Karenabanyak dari serabut ini mengandung substansi P. Persyarafan Vesica Urinaria 5 . Serabut aferen yangberjalan dalam n. Hal ini menggambarkan kemungkinan dari daerah-daerah penting pada medulla spinalis sakral untuk intergrasi viserosomatik.Sebagian besar saraf aferen adalah tidak bermyelin dan berakhir padapleksus suburotelial dimana tidak terdapat ujung sensorik khusus. Akson aferen terdiri dari 2 tipe. parasimpatis sacraldan pudendus) mengandung serabut saraf aferen. menyimpulkan bahwa jaras ascending dari vesica urinaria dan uretra berjalan di dalam traktus sphinothalamikus.

2002) 2. 2006) 2. 2004.1.1. Snell. hilangnya sensibilitas kandung kemih atau retensi urine.1 Pusat Miksi Pons Pons merupakan pusat yng mengatur miksi melalui refleks spinalbulbospinal atau long loop refleks.3.(Benevento and Sipski. 6 . Demyelinisasi Groat (1990) menyatakan bahwa pusat miksi pons merupakan titik pengaturan (switch point) dimana refleks transpinal-bulber diatur sedemikian rupa baik untuk pengaturan pengisian atau pengosongan vesica urinaria. 2.2 Daerah kortikal yang mempengaruhi pusat miksi pons Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lesi pada bagian anteromedial dari lobus frontal dapat menimbulkan gangguan miksi berupa urgensi. Pusat miksi pons berperan sebagai pusat pengaturan yang mengatur refleks spinal dan menerima input dari daerah lain di otak.3 Hubungan dengan susunan saraf pusat (Faiz and Moffat.3. inkontinens.1.

2007.Pemeriksaan urodinamis menunjukkan adanya vesica urinaria yang hiperrefleksi.1.2. NEUROGENIC BLADDER 7 . distensi yang timbul ditandai dengan adanya aktivitas sensor regang pada dinding vesica urinaria. sehingga tekanan uretra lebih tinggi dibandingkan tekanan intravesikal dan urinetidak mengalir keluar 2.4 Fisiologi pengaturan fungsi sfingter vesica urinaria (Guyton. 2001) 2. Inhibisi dari aktivitas motorik detrusor memerlukan jaras yang utuh antara pusat miksi pons dengan medulla spinalis bagian sakral. Pengosongan kandung kemih yang lengkap tergantung adri refleks yang menghambat aktifitas sfingter dan mempertahankan kontraksi detrusor selama miksi. Sherwood. rangsangan untuk miksi timbul dari distensi vesica urinaria yang sinyalnya diperoleh dari aferen yang bersifat sensitif terhadap regangan.4. kontinens selama pengisian memerlukan fasilitasi aktifitas otot lurik dari sfingter uretra. Pada vesica urinaria normal. tekanan intravesikal tidak meningkat selama pengisian sebab terdapat inhibisi dari aktivitas detrusor dan active compliance dari vesica urinaria. 2.1 Pengisian urine Pada pengisian vesica urinaria.1. Mekanisme normal dari miksi volunteer tidak diketahui dengan jelas tetapi diperoleh dari relaksasi oto lurik dari sfingter uretra dan lantai pelvis yang diikuti dengan kontraksi vesica urinaria.1.2 Pengaliran urine Pada orang dewasa yang normal. Inhibisi tonus simpatis pada leher vesica urinaria juga ditemukan sehingga tekanan intravesikal diatas/melebihi tekanan intra uretral dan urine akan keluar.4. 2. Mekanisme active compliance vesica urinaria kurang diketahui namun proses ini juga memerlukan inervasi yang utuh Selain akomodasi vesica urinaria.

dan70-84% beberapaderajatdisfungsikandung sering 1.Vesicoureteralreflux mungkin terjadi pada 40% anak denganspina bifidapada usia5 tahun.Di Amerika serikat.2. 2.000orangdengan dariindividu memilikisetidaknya Disfungsikandung kemihjuga yangmempengaruhisekitar1per cedera tulang belakang.2 Epidemiologi Neurogenic bladder dapat mempersulit berbagai kondisi neurologis. Verhoef. untuk mengkoordinasi fungsi bladder dan uretra (PERDOSSI.2. hidup.2.Pengosongan urin secara essential adalah reflex spinal yang dimodulasi oleh sistem saraf pusat (otak dan medulla spinalis).Adapun tipe dari neurogenic bladder ini adalah spastic.2005). atau cedera. 2013). padaspinabifida.000kelahiran terjadi kemih. dan sampai61% darimudaorang dewasa denganspina bifidamengalamiinkontinensia (Wein. 3772%darimereka denganParkinsonisme. 2007.2. penyakit. reflex dan flaccid. 2008). Health Central. sementara yang lain 20-30% memilikidetrusorareflexia. 2. Adalebih dari200. Fungsi bladder untuk menyimpan dan mengeluarkan urin secara teratur yang di control oleh sistem saraf sentral dan perifer. Biasanya penyakit ini disebut dengan neuropathic bladder (AlShukri. 2012. neurogenik bladder mempengaruhi40-90% dari orang dengan multiple sclerosis.1 Definisi Neurogenic bladder adalah gangguan fungsi bladder yang disebabkan oleh berbagai macam gangguan saraf. Detrusorhyperreflexiaterlihat dalam50-90% dari orang dengan multiple sclerosis. dan 15% dari merekadengan stroke. Neurogenic bladder adalah istilah diterapkan pada kandung kemih rusak akibat disfungsi neurologis yang disebabkan dari trauma internal atau eksternal.3 Etiologi 8 .

1.2. Neuropati alkoholik i. dapat menimbulkan kontraksi kandung kemih yang hiperrefleksi. Diabetes neuropati j. b. Snell. c. f. e. dilatasi kornu anterior ventrikel lateral pada hidrosefalus atau kelainan ganglia basalis. ganglia basalis dan tempat lain.2. 1997. Waxman. g. Lesi supra pons Pusat miksi pons merupakan pusat pengaturan refleks-refleks miksi dan seluruh aktivitasnya diatur kebanyakan oleh input inhibisi dari lobus frontal bagian medial.3. 1993. Defisiensi vitamin B12 2.. Kerusakan pada umumnya akan berakibat hilangnya inhibisi dan menimbulkan keadaan hiperrefleksi. tumor.2 Kelainan pada system saraf tepi (Ropper et al.1 Kelainan pada sistem saraf pusat (Ropper et al. Alzheimer’s disease Meningomielocele Tumor otak atau medulla spinalis Multiple sclerosis Parkinson disease Cedera medulla spinalis Pemulihan Stroke 2.4 Patologi (Fowler. Kerusakan saraf akibat operasi pelvis k. 2005): h. 2010) Gangguan vesica urinaria dapat terjadi pada bagian tingkatan lesi. Kerusakan saraf dari herniasi diskus l. Retensi urine dapat ditemukan secara jarang yaitu bila terdapat kegagalan dalam memulai proses miksi secara volunteer. d. Pada kerusakan lobus depan. demyelinisasi periventrikuler. B.1.3. Lesi antara pusat miksi pons dan sakral medula spinalis Lesi medula spinalis yang terletak antara pusat miksi pons dan bagian sacral medula spinalis akan mengganggu jaras yang menginhibisi 9 . secara garis besar terdapat tiga jenis utama gangguan : A. 2006. 2005): a. Lindsay. Tergantung jaras yang terkena..

Kontraksi detrusor yang lemah Kontraksi hiperrefleksi yang timbul seringkali lemah sehingga pengosongan vesica urinaria yang terjadi tidak sempurna. hilangnya mekanisme inhibisi normal akan menimbulkan suatu keadaan vesica urinaria yang hiperrefleksi yang akan menyebabkan kenaikan tekanan pada penambahan yang kecil dari volume vesica urinaria. terdapat kontraksi sfingter dan otot detrusor secara bersamaan.Urine dapat keluar dari vesica urinaria hanya bila kontraksi detrusor berlangsung lebih lama dari kontraksi sfingter sehingga aliran urine terputus-putus. Kegagalan sfingter untuk berelaksasi akan menghambat miksi sehingga dapat terjadi tekanan intravesikal yang tinggi yang kadang-kadang menyebabkan dilatasi saluran kencing bagian atas. Pada keadaan DDS. Beberapa keadaan yang mungkin terjadi antara lain adalah: 1. Penderita mengeluh mengenai seringnya miksi dalam jumlah yang sedikit. Proses pendahuluan miksi secara 10 . 4. Lesi Lower Motor Neuron (LMN) Kerusakan pada radiks S2-S4 baik dalam canalis spinalis maupun ekstradural akan menimbulkan gangguan LMN dari fungsi vesica urinaria dan hilangnya sensibilitas vesica urinaria. 2. 3. Vesica urinaria yang hiperrefleksi Seperti halnya lesi supra pons. Peningkatan volume residu paska miksi Volume residu paska miksi yang banyak pada keadaan vesica urinaria yang hiperrefleksi menyebabkan diperlukannya sedikit volume tambahan untuk terjadinya kontraksi vesica urinaria. relaksasi sfingter akan mendahului kontraksi detrusor.kontraksi detrusor dan pengaturan fungsi sfingter detrusor. Disinergia detrusor-sfingter (DDS) Pada keadaan normal. Keadaan ini bila dikombinasikan dengan disinergia akan menimbulkan peningkatan volume residu pasca miksi. C.

2007).Retensi juga dapat timbul akibat gangguan kontraksi destrusor seperti pada Lesi LMN.volunteer hilang dan karena mekanisme untuk menimbulkan kontraksi detrusor hilang. dan inkontinens sehingga kurang dapat menilai lokasi kerusakan (localizing value) karena hiperrefleksia detrusor dapat timbul baik akibat kerusakan jaras dari suprapons maupun suprasakral (Snell. 2.2. urgensi. Retensi urine dapat timbul sebagai akibat berbagai keadaan patologis. vesica urinaria menjadi atonik atau hipotonik bila kerusakan denervasinya adalah parsial.5 Gejala Klinis Gejala-gejala disfungsi Neurogenic bladder terdiri dari urgensi. Sensibilitas dari peregangan vesica urinaria terganggu namun sensasi nyeri masih didapatkan karena informasi aferen yang dibawa oleh sistim saraf simpatis melalui n. Mekanisme untuk mempertahankan miksi selama kenaikan tekanan intra abdominal yang mendadak hilang. Compliance vesica urinaria juga hilang karena hal ini merupakan suatu proses aktif yang tergantung pada utuhnya persyarafan.Pada pria adalah penting untuk menyingkirkan kemungkinan kelaianan urologis seperti hipertrofi prostat atau striktur. sehingga stress inkontinens sering timbul pada batuk atau bersin.Meskipun hanya sedikit kasus dari lesi frontaldapat menimbulkan retensi. frekuensi. lesi pada pons juga menimbulkan gejala yang serupa (Fowler.hipogastrikus ke daerah thorakolumbal. 2002).Retensi juga dapat timbul akibat kegagalan untuk memulairefleks miksi seperti pada lesi susunan saraf pusat. 11 . Disinergia Detrusor Sfingter dapat menimbulkan berbagai derajatretensi meskipun pada umumnya hiperrefleksia destrusor yang lebih sering timbul. Hiperrefleksi detrusor merupakan keadaan yang mendasari timbulnya frekuensi.Pada penderita dengan lesi neurologisantara pons dan medulla spinalis bagian sacral. Denervasi otot sfingter mengganggu mekanisme penutupan namun jaringan elastik dari leher vesica urinaria memungkinkan terjadinya miksi. retensi dan inkontinens.

2007). Lesi LMN dihubungkan dengan kelemahan sfingter yang dapat bermanifestasi sebagai stress inkontinens dan tidak kemampuan dari kontraksi detrusor yang mengakibatkan retensi kronik yang overflow (Rackley. disertai oleh spasme ekstremitas bawah. 2.6 Pemeriksaan 2. apakah ada demam atau hematuria.6.2. Greenfield et al.6.1 Anamnesis Anamnesis yang penting pada neurogenic bladder adalah ada tidaknya rasa ingin berkemih.Inkontinensia urine dapat timbul akibat hiperrefleksiadetrusor pada lesi suprapons dan suprasakral. a. 2008) 2.2 Evaluasi Pendekatan sistematis untuk mengetahui masalah gangguan miksi selama rehabilitasi pasien dengan cedera medulla spinalis merupakan hal yang penting karena penatalaksanaan yang baik sejak awal akan mencegah komplikasi urologis dan kerusakan ginjal permanen. akan timbul sensasi urgensi. sejumlah kecil. Ini sering dihubungkan dengan frekuensi dan bila jaras sensorik masih utuh. Pemeriksaan meliputi penilaian saluran kencing bagian atas. apakah ada tanda-tanda keterlibatan ekstremitas bawah. kapasitas kecil < 300cc. penilaian pengosongan kandung kemih dan deteksi hiperrefleksia detrusor (Jean. 1997). Gejala klinis yang timbul pada spastik bladder adalah sering berkemih secara involunter. berapa besar adanya kontrol berkemih secara volunteer. Penilaian saluran kencing bagian atas 12 .2.. 2009. 2008).2. bagaimana frekuensi dan volume urine saat berkemih. pengosongan kemih bias dicetuskan oleh rangsangan kulit pada perineum atau genitalia dan mudah terjadi infeksi pada saluran kemih (ISK) (PERDOSSI. sensasi bladder hilang. Dari anamnesis dapat ditentukan apakah lesi di UMN atau di LMN (Snell.

c. b.Residu urin lebih dari 100 ml dikatakan bermakna (Jean. 2008). 2008). 13 . terjadi peningkatan tekanan yang spontan pada pengisisan (Jean.Pada orang normal.Penilaian ditujukan untuk menilai fungsi ginjal dan deteksi hidronefrosis. Penilaian pengosongan kandung kemih Penilaian sisa urine dapat dilakukan dengan kateterisasi pada saat pertama pemeriksaan maupun dengan menggunakan USG. Pemeriksaan neurologis Pemeriksaan neurologis harus meliputi pemeriksaan sensibilitas perianal untuk mengetahui ada tidaknya sakral sparing. refleks anal dan refleks bulbokavernosus hanya menandakan utuhnya konus dan lengkung refleks lokal.Adanya tonus anal.Didapatkannya kontraksi volunteer sfingter anal menunjukkan utuhnya kontrol volunteer dan pada kasus kuadriplegia. Kontraksi abnormal dari otot detrusor dapat dideteksi dengan baik dengan menggunaka filling cystometrogram. gangguan ginjal merupakan hal yang potensial mengancam penderita. dalam hari pertama sampai 3 atau 4 minggu berikutnya seluruh refleks dalam pada tingkat di bawah lesi akan hilang. Hal ini biasanya dihubungkan dengan fase syok spinal.Pemeriksaan radiologis harus meliputi urografi intravena dan voiding cystourethrogram untuk menilai saluran bagian atas dan menyingkirkan kemungkinan adanya refluks vesikoureteral (Jean. ini menandakan lesi medulla spinalis yang inkomplit. Pada lesi medulla spinalis. Deteksi hiperrefleksia detrusor Pemeriksaan Cystometrogram (CMG) dan Electromyography (EMG) dari sfingter uretral eksterna akan membantu menentukan difungsi neurogenic dan adanya Disinergia Detrusor Sfingter yang signifikan.Meskipun jarang didapatkan masalah pada saluran kencing bagian atas. d. 2008). kandung kemih dapat mengakomodasi pengisisan kandung kemih bahkan pada kecepatan pengisian yang tinggi sedangkan pada penderita dengan hiperrefleksia kandung kemih.

uroflow rate..7 Penatalaksanaan Dasar dari penatalaksanaan neurogenic bladder adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan mengurangi gejala. 14 . 2. suprapubic tapping atau stimulasi perianal  Kompresi eksternal dan penekanan abdomen. 2011).. Melihat kadar kreatinin dan Blood Urea Nitrogen (BUN). 2010) e. crede’s manoeuvre  Clean intermittent self-cathererisation  Indwelling urethral catheter b. Drainase kandung kemih yang adekuat selama fase syok spinal akan mencegah timbulnya distensi yang berlebih dan atoni dari kandung kemih yang arefleksi (Jean. Penatalaksanaan gangguan pengosongan kandung kemih dapat dilakukan dengan cara:  Simulasi kontraksi detrusor. 2008. Penatalaksanaan hiperrefleksia detrusor  Bladder retraining (Bladder drill)  pengobatan oral: Antikolinergik: o Tropan (Oxybutinine) o Roliten (teltoredine) o Probanthin c. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan yang dapat diperiksa urinalisis dan kultur urine: infeksi saluran kemih dapat menyebabkan gejala berkemih iritasi dan mendesak inkontinensia.Dalam periode ini.2. kandung kemih bersifat arefleksi dan memerlukan drainase periodic atau kontinu yang cermat dan tes provokatif dengan menggunakan air dingin steril suhu 4oC tidak akan menimbulkan aktifitas refleks kandung kemih. Jeong et al. cystogram dan electromyography (Rackley. a. Penatalaksanaan operatif Tindakan operatif berguna pada penderita usia muda dengan kelainan neurologis kongenital atau cedera medulla spinalis (Jeong et al. 2010). Melihat sitologi urine apakah ada karsinoma in-situ. Tes air es dikatakan positif bila pengisian dengan air dingin segera diikuti dengan pengeluaran air kateter dari kandung kemih.

Rackley. Tesnya berupa tes sfingter ani eksternus dan tes refleks bulbokarvernosus. Dengan pemakaian kateter menetap ini. Kateterisasi berkala 15 .7. sedangkan bila negatif berarti LMN atau tipe UMN fase syok spinal Langkah-langkah Bladder Training : 1. dapat dilakukan dengan pemeriksaan refleksrefleks: A. 1997.2.1 Bladder training(Lindsay. Rangsangan setiap waktu miksi 3. Tes untuk mengetahui refleks ini adalah tes air es (ice water test).pudendalis S2-4. yang bergabung menjadi n. Test positif menunjukkan tipe UMN sedangkan bila negatif (arefleksia) berarti tipe LMN. Kateterisasi : a.pelvikus. maka yang dipilih adalah penutupan berkala oleh karena IDC yang kontinu tidal fisiologis dimana vesica urinaria yang selalu kosong akan mengakibatkan kehilangan potensi sensasi miksi serta terjadinya atrofi serta penurunan tonus otot kk b. Bila dipilh IDC. 2009) Adalah salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi vesica urinaria yang mengalami gangguan ke keadaan normal atau ke fungsi optimal neurogenik (UMN atau LMN). banyak terjadi infeksi atau sepsis. Pemasangan indwelling cathether (IDC) = dauer cathether IDC dapat dipasang dengan sistem kontinu ataupun penutupan berkala (clamping).2. Jika tes-tes tersebut positif berarti tipe UMN. Karena itu kateterisasi untuk bladder training adalah kateterisasi berkala. B. Refleks otomatik Refleks melalui saraf parasimpatis S2-3 dansimpatis T12-L1. Refleks somatic Refleks melalui n. Tentukan dahulu tipe vesica urinaria neurogeniknya apakah UMN atau LMN 2.2.

Penatalaksanaan gangguan fungsi miksi pada lesi medulla a.  Bila dilakukan secara dini pada penderita cedera medula spinalis. b. Pada umumnya ditemukan vesica urinaria yang arefleksi (nonkontraktil) dan miksi dilakukan dengan bantuan manipulasi Crede atau Valsava.  Teknik yang mudah dan penderita tidak terganggu kegiatan sehariharinya.  Vesica urinaria dapat terisi dan dikosongkan secara berkala seakanakan berfungsi normal.Keuntungan kateterisasi berkala antara lain :  Mencegah terjadinya tekanan intravesikal yang tinggi/overdistensi yang mengakibatkan aliran darah ke mukosa vesica urinaria dipertahankan seoptimal mungkin. Disamping disfungsi neurologis yang berat dalam minggu-minggu pertama. 4. Pemeriksaan urodinamik mungkin menunjukkan sfingter uretral eksternal yang utuh danps demikian dengan lesi suprakonus mungkin mengalami kesulitan dalam miksi kecuali bila terdapat tekanan intravesikal yang penuh yang dapat mengakibatkan refluksi vesikoureteral. Sindroma Medula Spinalis Sentral Neurogenic bladder akibat lesi inkomplit seperti lesi medula spinalis sentral dapat diperbaiki pada lebih dari 50% pasien. maka penderita dapat melewati masa syok spinal secara fisiologis sehingga fedback ke medula spinalis tetap terpelihara. Pada pasien ini didapatkan kerusakan pada persarafan parasimpatis dengan persarafan simpatis yang utuh atau mengalami reinervasi dimana leher vesica urinaria mungkin tidak dapat membuka dengan baik pada waktu miksi. Lesi kauda Ekuina Penatalaksanaan pada pasien dengan lesi kauda ekuina memerlukan perhatian khusus. pemulihan fungsi vesica urinaria dapat terjadi terutama 16 . Lesi umumnya inkomplit atau tipe campuran dan berpotensi untuk mengalami penyembuhan.

DDS yang menetap. Penatalaksanaan biasanya dgnkateterisasi intermiten danobat-obatan. 2. Benign Prostat Hipertrophy. Penatalaksanaan neurogenic bladder pada pasien wanita dengan lesi medula spinalis (UMN) adalah sulit. baclofen. Iritabilitas vesica urinaria meningkat dengan adanya infeksi sehingga pengobatan infeksi adalah penting. Pasien dilatih untuk mengosongkan vesica urinaria dengan menggunakan suprapubic tapping dan manuver Valsava secara periodik.5 liter perhari pada umunya memerlukan kateterisasi 3 kali perhari .2.8 Diagnosis Banding Diagnosis Banding penyakit ini: Nonneurogenic bladder: Sindrom Hinman. Pada lesi suprakonus dengan vesica urinaria hiperrefleks. untuk mengurangi inkontinens antara kateterisasi. Profilaksis jangka panjang untuk infeksi saluran kencing sangat direkomendasikan. Tindakan bedah saraf seperti blok radis sakral dapat diindikasikan untuk mengubah keadaan reflex (contractile) bladder menjadi keadaan areflexic bladder yang penatalaksanaannya lebih mudah dengan tindakan Crede/Valsava. spastisitas yang berat dan hidronefrosis transuretral antikolinergik merupakan indikasi untuk tindakan sfingtertomi setalh mencoba penggunaan penghambat dan pelemas otot seperti skelet alfa. Keadaan inkontinens dapat ditimbulkan dengan reseksi sfingter transuretral dini. dapat diberikan antikolinergik seperti oxybutinin 12 kali 5 mg perhari. Carcinoma Prostat. Implant radix sakral untuk merangsang miksi baru dicoba pada pasien paraplegi dengan contactile bladder.karena serabut vesica urinaria terletak perifer pada medula spinalis. Kegagalan dalam kateterisasi berkala biasanya memerlukan tindakan indwelling cathether jangka panjang. namun penatalaksanaan lesi konus dankauda (LMN) adalah mudah dengan menggunakan maneuver Crede/Valsava. Kateterisasi intermiten dimulai setiap 4 sampai 6 jam dan dengan restriksi cairan sampai 1. 17 .

Retensi urine Retensi urine sering terjadi jika otot-otot menahan kencing tidak mendapat pesan sudah waktunya dilepaskan c. d.2. 2. b. Perubahan anatomi yang terjadi dapat menyebabkan obstruksi infravesikal sehingga terjadi disfungsi kandung kemih.9 Komplikasi Menurut Wexner Medical Center (2012) komplikasi yang timbul adalah: a. Kerusakan pada pembuluh darah kecil di ginjal Kerusakan pada pembuluh darah kecil di ginjal sering terjadi jika kandung kemih menjadi terlalu penuh dan urine sampai pada ginjal menyebabkan tekanan ekstra. Kebocoran urine Kebocoran urin sering terjadi ketika otot-otot menahan kencing dan tidak dapat menahan. BPH dan Carsinoma prostat 18 .2. Infeksi kandung kemih atau ureter Infeksi kandung kemih atau ureter sering terjadi karena urine yang ditampung terlalu lama sebelum dieliminasi. adanya perubahan anatomi sehingga mempengaruhi fungsi kandung kemih dan mengganggu proses berkemih.3.2. sering terjadi sebagai akibat Benign Prostat Hyperplasia (BPH). Selain itu Obstruksi infravesikal juga terjadi pada Carsinoma Prostat. 2.10 Prognosis Prognosis dari penyakit ini baik jika ginjal belum mengalami kerusakan karena jika ginjal mengalami kerusakan akan mempengaruhi keadaan umum pasien. Obstruksi infravesikal biasanya biasanya terjadi pada laki-laki. Non-neurogenic bladder dapat disebabkan oleh keaadaan psikologis. NON-NEUROGENIC BLADDER Non-neurogenic bladder merupakan disfungsi kandung kemih yang bukan dipengaruhi oleh gangguan saraf.

Individu di bawah tekanan psikososial mencoba untuk menghambat enuresis dengan sadar dan mengenai sfingter eksternal . yang ditandai dengan aliran intermiten. baik siang atau malam pada seseorang di atas 4 tahun. polakiuria. Enuresis didefinisikan sebagai mengompol. 19 . terdapat gangguan pengosongan kandung kemih atau gagal ginjal. Disfungsi ini terkait dengan dinamika keluarga abnormal pada 50 % kasus. peningkatan residual urine. Diagnosis HS harus dipertimbangkan di dalam setiap uroradiography anak dengan trabeculations untuk mengevaluasi kandung kemih.bermanifestasi secara klinis berupa urgensi berkemih. enuresis. Sindrom Hinman adalah sebuah kondisi di mana kandung kemih sulit dikosongkan karena terdapat gangguan saat berkemih. Pengamatan distensi uretra posteriorsetelah kontraksi sfingter eksternal yang menggunakan voiding cystourethrogram adalah hasil evaluasi dari kondisi pasien. Diagnosa didasarkan pada adanya manifestasi klinis dan radiografi kandung kemih neurogenik tanpa adanya kelainan neurogenik yang mendasarinya. Selama berkemih. berdasarkan definisinya. bukan merupakan gangguan neurogenic. Keadaan psikologis yang menyebabkan disfungsi kandung kemih disebut sebagai Sindrom Hinman. nokturia. sisa urin. dan inkontinensia overflow. tanpa diketahui adanya lesi penyebab. Kontraksi secara volunter ini menyebabkan obstruksi saluran kemih . Kelainan ini dapat disebabkan karena psikogenik. Dengan demikian. Gangguan ini biasanya menyerang anak-anak namun beberapa kasus dapat terjadi sampai dewasa dimana keluhan yang terjadi yaitu kesulitan buang air kecil. retensi urine. Sindrom ini mungkin disebabkan oleh gangguan perilaku dan psikologis yang diperoleh dimanifestasikan dengan disfungsi kandung kemih meniru penyakit neurologis. inkontinensia atau distensi uretra posterior. dan peningkatan tekanan intravesicular. otot sfingter yang berkontraksi menghalangi aliran air seni yang dapat menyebabkan saluran kemih membesar dan bahkan dapat terjadi gagal ginjal pada kasus yang berat. Urine yang masih tersisa dalam kandung kemih akan memicu timbulnya bakteri.

Pada radiografi polos tulang belakang lumbosakral normal. pelebaran saluran atas dan kerusakan ginjal dan sering dikaitkan dengan infeksi saluran kemih. Hal ini penting untuk membedakan antara neurogenik bladder dan HS karena neurogenik bladder memerlukan terapi pembedahan. obstruksi ureterovesical. Namun. Anatomi dan fungsi ekstremitas bawah normal. perbaikan pada pasien dengan HS dapat terlihat dengan training bladder disertai edukasi terhadap pasien. dan MRI menunjukkan sumsum tulang belakang normal . Sphincterotomy sesekali eksternal juga diperlukan. Obat antispasmodic mungkin sangat bermanfaat. Kateterisasi dapat digunakan jika kandung kemih tidak kosong sepenuhnya dan jika kandung kemih telah tanpa hambatan kontraksi. Hal ini dapat dilakukan melalui pendekatan psikososial untuk mengurangi tekanan yang mungkin menyebabkan masalah dalam andung kemih. HS dapat menyebabkan kandung kemih trabeculated. Tidak adanya lesi kulit di atas sakrum.Diagnosis banding meliputi neurogenik bladder. enuresis dan infeksi saluran kemih. Pengobatan untuk HS terfokus untuk mengosongkan kandung kemih. 20 . HS dapat dibedakan dari neurogenik bladder oleh lima kriteria : a) b) c) d) e) Sensasi perineal dan anal utuh.

Related Interests