Budaya Dongeng Terkikis

Aisyiyah Berupaya Hidupkan Kembali
Kota, Bernas Dongeng, sarana bertutur dan membacakan cerita kepada anak- anak, saat ini terkesan hampir ditinggalkan masyarakat. Serbuan film, televisi, video game dan kesibukan orangtua yang tidak bisa menyempatkan diri mendongeng, membuat tradisi budaya mendongeng menjadi terkikis. Padahal, dongeng merupakan sarana efektif untuk mengajarkan budi pekerti pada anak. Dalam rangka itulah Pimpinan Pusat Aisyiyah melalui lembaga kebudayaannya, berusaha mengangkat kembali dongeng untuk menanamkan budi pekerti pada anak. Hal ini dikatakan oleh Kepala Lembaga Kebudayaan Aisyiyah Dra Hj Cholifah Syukri, yang didampingi sekretarisnya Ir Tutik Sumarningsih Mahyudin, dalam jumpa pers yang diadakan di gedung Pimpinan Pusat Aisyiyah Jl KHA. Dahlan No 32 Yogyakarta, Selasa (7/11). Program menghidupkan dongeng ini oleh Lembaga Kebudayaan Aisyiyah diwujudkan dalam empat kegiatan, yaitu pentas seni bertajuk "Ceria Anak Saleh dan Kepedulian Sosial", Dongeng Anak Ramadan yang akan ditayangkan di TVRI Yogyakarta yang dipandu oleh Wees Ibnoe Sayi, lomba penulisan naskah dongeng anak tingkat nasional untuk guru-guru TK dan anggota Aisyiyah, dan Workshop Sastra dan Dongeng. Kegiatan pentas seni "Ceria Anak Saleh dan Kepedulian Sosial" akan dilaksanakan pada Minggu (12/11) di Auditorium Universitas Ahmad Dahlan Jl Kapas No 9 Yogyakarta. Pada acara pentas seni tersebut akan diisi oleh nyanyian muslim, peragaan busana muslim, kuis, dan penggalangan dana untuk membantu tempat-tempat yang mengalami bencana, seperti Ambon. Melalui kegiatan pentas seni tersebut, Cholifah menuturkan ingin menunjukkan bahwa Muhamadiyah tidak kering dalam berkesenian seperti yang dituturkan oleh kebanyakan orang saat ini. "Kami ingin menunjukkan bahwa Muhamadiyah pun memiliki kesenian, dan menepis anggapan bahwa Muhamadiyah tidak melarang nyanyian dan tarian. Malah ingin menunjukkan tarian dan nyanyian seperti apa yang ada pada Muhamadiyah," paparnya. Dongeng, lanjut Cholifah, dapat mempengaruhi psikologi anak, menumbuhkan rasa empati anak terhadap orangtuanya, dan menjalin kedekatan emosional orangtua dan anak. Lewat dongeng, katanya, banyak sekali pesan yang dapat disampaikan, seperti pesan moral, akhlak, sikap kepahlawanan, keberanian dan segala hal yang menumbuhkan hal positif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful