You are on page 1of 6

No ID dan Nama Peserta :

No ID dan Nama Wahana :

/ dr. Zachra Risqy Utami


/ RSUD Kabelota Kabupaten Donggala,
Sulawesi Tengah

Topik : Infeksi Saluran Kemih


Tanggal (Kasus) : 14 April 2015
Nama Pasien : Tn. D
No RM : 187010
Tanggal Presentasi : Juni 2015
Pendamping : dr.Adrianus
Tempat Presentasi : RSUD Kabelota Kabupaten Donggala, Sulawesi tengah
Obyek Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia Bumil
Deskrpsi : Seorang pria berumur 47 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri perut
bagian bawah tembus ke punggung dirasakan hilang timbul sejak 1 bulan sebelum masuk
rumah sakit. Osi mengeluh sering berkemih dan terkadang nyeri, riwayat demam 3 hari
sebelum masuk rumah sakit.
BAB : Baik
BAK : Lancar

Tujuan : Memberikan Terapi dan Penatalaksanaan serta edukasi kepada pasien.


Bahan bahasan:
Tinjauan pustaka Riset
Kasus

Audit

Cara membahas:

Diskusi

Pos

Data Pasien

Nama: Tn. D

Persentasi dan
diskusi

Nama Klinik: RSUD Kabelota Kabupaten Donggala

E-mail

Nomor Registrasi: 187010


Telp:
Terdaftar sejak:

Data utama untuk bahan diskusi


1.Diagnosis/gambaran klinis :
Nyeri perut bagian bawah tembus ke punggung, sering berkemih dan nyeri saat berkemih
2.Riwayat pengobatan : 3.Riwayat kesehatan/penyakit : 4.Riwayat keluarga : 5.Riwayat pekerjaan : Pasien memiliki pekerjaan sebagai Sopir
DAFTAR PUSTAKA
a. Udoyo, Aru W. Dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I, Jakarta: Pusat Penerbitan
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia, 2007
b. Mansjoer, Arif dkk. Kapita selekta Kedokteran Jilid 1, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia,2001.
c. Urinary Tract Infections (Acute Urinary Tract Infection: Urethritis, Cystitis, and

Pyelonephritis).In Kasper, et all ed. Harrisons Manual of Medicine16th Edition. Newyork:


Mc Graw Hill Medical Publishing Division. 2005:724

HASIL PEMBELAJARAN:
1. Diagnosis Infeksi saluran kemih
2. Etiologi infeksi saluran kemih
3. Mekanisme dari manifestasi yang timbul
4. Penatalaksanaan Infeksi saluran Kemih
5. Komplikasi ISK
6. Prognosis ISK
7. Pencegahan ISK
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio
1. Subyektif :
o Keluhan Utama: Nyeri perut bagian bawah
o Anamnesis terpimpin:
Seorang pria berumur 47 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri
perut bagian bawah dan dirasakan nyeri tembus kepunggung. Osi mengeluh
sering berkemih dan terkadang nyeri, demam
BAB : Baik
BAK : Lancar
Berdasarkan keluhan utama pasien di diagnosis banding dengan Batu Saluran Kemih
dan Pielonefritis Akut.
2. Obyektif :
Keadaan umum : sakit sedang
Kesadarn : composmentis
Tanda Vital : TD 110/70 mmhg, N : 84x, P : 20x, S : 37,7C
Kepala: normosefal
Rambut: hitam, tidak mudah dicabut
Wajah : simetris
Mata : anemis (-) ikterus (-)
Hidung : pernapasan cuping hidung (-)
Mulut : tonsil T1/T1, faring hiperemis (-)
Leher : tidak ditemukan kelainan
Kelenjar getah bening : tidak ditemukan kelain
Toraks :
o Paru :
Inspeksi : simetris statis dan dinamis
Palpasi : benjolan (-). VF sama ki/ka
Perkusi : sonor dikedua lapangan paru
Auskultasi: bronkovesikuler
o Jantung :
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis tidak teraba
Perkusi : batas jantung dalam batas normal

Auskultasi: BJ I-II reguler, bunyi tambahan (-)


Abdomen:
Inspeksi : permukaan rata, distensi (-)
Palpasi : nyeri tekan supra pubik (+)
Perkusi : timpani seluruh lapangan abdomen, nyeri ketok (-)
Auskultasi: Peristaltik (+) kesan normal

Pemeriksaan Penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah rutin, urin
rutin dan USG abdomen. Pada pemeriksaan darah rutin: wbc : 6900 rbc: 4370000
HB :11,8 PLT: 262000, pada urin rutin menunjukan adanya peningkatan sedimen
leukosit, Epitel sel dan Eritrosit pada urin dan pada USG abdomen ditemukan kesan
cystitis.

3. Assessment :
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang di
temukan maka pada pasien ini di diagnosis cystitis ( Infeksi Saluran Kemih Bawah).
Anamnesis didapatkan bahwa pria berumur 47 tahun masuk rumah sakit
dengan nyeri perut bagian bawah tembus ke punggung. Pasien mengeluh sering
berkemih dan terkadang nyeri serta tidak puas saat berkemih. Ada riwayat demam
Pemeriksaan fisis ditemukan nyeri tekan suprapubik. Pada pemeriksaan
urinalisis didapatkan leukosit, eritrosit dan epitel sel yang banyak pada urin dan dari
hasil USG menunjukan kesan cistitis.
Infeksi saluran kemih adalah suatu infeksi yang melibatkan ginjal, ureter, bulibuli, ataupun uretra. Infeksi saluran kemih (ISK) adalah istilah umum yang
menunjukkan keberadaan mikroorganisme (MO) dalam urin. ISK dapat dibagi
menjadi ISK Atas yaitu: pielonefritis akut dan kronik serta ISK Bawah yaitu cystitis,
uretritis, prostatitis, epididimitis dan sindrom uretra.

Bakteri tersering penyebab ISK adalah bakteri Escherichia coli (E. coli) yang
banyak terdapat pada tinja manusia dan biasa hidup di kolon. E.coli dapat masuk ke
dalamg saluran kemih melalui kulit sekitar anus. Patofisiologi dari ISK sebagian besar
merupakan infeksi asenden. Pada wanita, jalur yang biasa terjadi adalah mula-mula
kuman dari anal berkoloni di vulva kemudian masuk ke kandung kemih melalui uretra
yang pendek secara spontan atau mekanik akibat hubungan seksual. Pada pria setelah
prostat terkoloni maka akan terjadi infeksi asenden. Mungkin juga terjadi akibat
pemasangan alat , seperti kateter.
Wanita lebih sering menderita ISK karena uretra yang pendek, masuknya
kuman dalam hubungan seksual, dan mungkin perubahan PH dan flora vulva dalam
siklus menstruasi serta frekuensi berkemih yang jarang juga memiliki peran.
Jenis ISK yang paling umum adalah infeksi kandung kemih yang sering juga
disebut sebagai sistitis. Gejala yang dapat timbul dari ISK bervariasi tergantung organ
yang mengenainya. Pada umumnya infeksi akut yang mengenai organ padat (ginjal,
prostat, epididimis, dan testis) memberikan keluhan yang hebat sedangkan infeksi
organ-organ berongga (buli-buli, ureter) memberikan keluhan yang ringan. Gejala
umum pada ISK yaitu:

Perasaan tidak enak berkemih (disuria)


Frekuensi miksi bertambah tetapi kencing yang dikeluarkan sangat

sedikit.
Nyeri tekan suprapubik
Warna air seni kental/pekat seperti air teh, keruh, kadang kemerahan

bila ada darah. Biasa disertai bau tidak menyenangkan.


Nyeri pada pinggang, demam atau menggigil, mual, dan muntah
terkadang terjadi.

Analisa urin rutin, pemeriksaan mikroskop urin segar tanpa putar, kultur urin
serta jumlah kuman/mL urin merupakan protokol standar untuk pendekatan diagnosis
ISK. Biasanya pemeriksaan urin ditemukan urin berwarna keruh, berbau dan pada
urinalisis terdapat hematuria dan bakteriuria. Kultur urin sangat penting untuk
mengetahui jenis kuman penyebab infeksi agar tidak mengalami kekambuhan.
Investigasi lanjutan seperti USG, gejala urologik seperti kolik ginjal dan hematuria.
Prinsip manajemen ISK meliputi intake cairan yang banyak, antibiotik yang
adekuat dan terapi simptomatik. Pemberian antibiotik tunggal diberikan selama 3-5

hari diharapkan memberikan respon yang baik setelah 48 jam pemberian antibiotik.
Bila infeksi menetap disertai kelainan urinalisi (lekosuria) diperlukan terapi
konvensional selama 5-10 hari. Pasien juga dianjurkan untuk banyak minum agar
diuresis meningkat dan menjaga higiene genitalia eksterna.
Komplikasi yang dapat terjadi pada infeksi saluran kemih harus lebih di
perhatikan jika kuman atau bakteri yang telah di obati tidak mempan dengan
pengobatan yang kita berikan yaitu antara lain batu saluran kemih, sepsis, infeksi
kuman yang multisistem, dan gangguan fungsi ginjal.
4. Plan
o Diagnosis : infeksi saluran kemih
o Pengobatan : Pada pasien ini terapi yang diberikan adalah:
R/ IVFD RL 20 tpm
Inj Ketorolac 30 mg 1 amp/8j/iv
Inj Ranitidin 1 amp/12j/iv
Inj Ceftriaxone 1 gr/ 12j/IV skin test
Paracetamol 500mg 3x1 (KP)
o Pendidikan:
Diberikan kepada pasien untuk membantu proses penyembuhan dan
pemulihan,

serta

mencegah

agar

tidak

terjadi

ISK

berulang

dan

komplikasinya. Untuk pencegahan agar tidak terjadi komplikasi pada ISK


pasien dianjurkan untuk:
Banyak minum air untuk mengencerkan urin sehingga frekuensi
berkemih meningkat sehingga diharapkan bakteri keluar dari saluran

kemih sebelum infeksi timbul.


Menjaga higiene genitalia eksterna
Tidak menahan kencing terlalu lama
Menghindari pemakaian produk kewanitaan yang dapat menimbulkan

iritasi.
o Konsultasi : konsultasikan ke dokter ahli apabila tidak ada perubahan
o Rujukan: (-)
o Kontrol : kontrol ke poli penyakit dalam dan melakukan pemeriksaan urin
porsi tengah seminggu kemudian, apabila masih positif harus dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut.

Peserta

Pendamping

( dr. Zachra Risqy Utami )

( dr. Adrianus )