P. 1
Oase Iman

Oase Iman

5.0

|Views: 1,873|Likes:
Published by Achmad Hidayat
Bergegaslah bangun dari mimpi, atau engkau akan kehilangan keindahan yang tengah engkau genggam … (salah satu kalimat dari syair lagu Ebiet G Ade). Wallahu ‘a’lam bishshowaab
Bergegaslah bangun dari mimpi, atau engkau akan kehilangan keindahan yang tengah engkau genggam … (salah satu kalimat dari syair lagu Ebiet G Ade). Wallahu ‘a’lam bishshowaab

More info:

Published by: Achmad Hidayat on May 20, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/06/2012

pdf

text

original

Publikasi 30/07/2002 10:16 WIB

eramuslim - Orang bijak mengatakan, doa tanpa usaha adalah bohong dan usaha tanpa
doa adalah sombong. Doa dan usaha adalah dua aktifitas yang tidak bisa dipisahkan. Kita
tidak bisa hanya berdoa saja tanpa melakukan usaha semaksimal mungkin untuk
mengapai tujuan kita. Kita juga tidak bisa hanya berusaha saja, tanpa berdoa dan
mengabaikan Allah sebagai penentu berhasil atau tidaknya tujuan kita.

Doa adalah permohonan, pengharapan seorang hamba kepada Sang Khaliq. Doa itu
intinya adalah ibadah, doa adalah senjata, doa adalah obat, doa adalah pintu segala
kebaikan. Seluruh hamba sangat bergantung kepada penciptanya. Setiap hamba memang
harus berdoa, sebab kita diciptakan dalam keadaan penuh dengan keterbatasan-
keterbatasan. Manusia memang ditakdirkan sebagai makhluk yang paling sempurna
dengan segala kelebihan-kelebihannya, namun dibalik kelebihan itu manusia juga
memiliki segudang kelemahan.

Bayangkan jika kita sedang berada ditengah lautan. Tiba-tiba kapal yang kita tumpangi
oleng ke kanan dan ke kiri karena badai yang tiba-tiba saja datang menghantam. Nahkoda
memberi peringatan tanda bahaya. Tidak ada tempat kita meminta bantuan karena seluruh
alat komunikasi terputus. Apakah yang akan kita lakukan pada saat itu? Masih
pentingkah gelar, kedudukan, pangkat, jabatan, harta kekayaan yang melimpah, serta
kecantikan? Tentu tidak, bagi kita keselamatan menjadi puncak harapan. Namun siapakah
yang dapat memberikan keselamatan kala itu, kalau bukan kepada Allah SWT kita
meminta?

Dibalik kelebihan-kelebihan yang kita miliki, kita menyimpan kelemahan-kelemahan
yang tidak dapat kita tutupi, untuk itu kita perlu meminta kepada Allah SWT, berdoa
dengan penuh kekhusuan, penuh harapan, tulus, pasrah dan ikhlas, seperti yang
difirmankan Allah, "Hai manusia, kamulah yang memerlukan Allah, dan Dia-lah Yang
Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) Yang Maha Terpuji."
(QS Faathir: 15).

Ada sebuah kisah tentang masyarakat Basrah yang waktu itu sedang dilanda kemelut
sosial. Kebetulan mereka kedatangan ulama besar yang bernama Ibrahim bin Adham.
Masyarakat Basrah pun mengadukan nasibnya kepada Ibrahim bin Adham, "Wahai Abu
Ishak (panggilan Ibrahim bin Adham), Allah berfirman dalam Al-Quran agar kami
berdoa. Kami warga Basrah sudah bertahun-tahun berdoa, tetapi kenapa doa kami tidak
dikabulkan Allah?"

Ibrahim bin Adham menjawab, "Wahai penduduk Basrah, karena hati kalian telah mati
dalam sepuluh perkara. Bagaimana mungkin doa kalian akan dikabulkan Allah! Kalian
mengakui kekuasaan Allah, tetapi kalian tidak memenuhi hak-hak-Nya. Setipa hari kalian
membaca Al-Quran, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya. Kalian selalu mengaku cinta
kepada rasul, tetapi kalian meninggaklan pola prilaku sunnah-sunnahnya. Setiap hari
kalian membaca ta’awudz, berlindung kepada Allah dari setan yang kalian sebut sebagai
musuhmu, tetapi setiap hari pula kalian memberi makan setan dan mengikuti langkahnya.
Kalian selalu mengatakan ingin masuk syurga, tetapi perbuatan kalian justru bertentangan
dengan keinginan itu. Katanya kalian takut masuk neraka, tetapi kalian justru
mencampakkan dirimu sendiri kedalamnya. Kalian mengakui bahwa maut adalah
keniscayaan, tetapi nyatanya kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Kalian sibuk mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi terhadap kesalahan sendiri kalian
tidak mampu melihatnya. Setiap saat kalian menikmati karunia Allah, tetapi kalian lupa
mensyukurinya. Kalian sering menguburkan jenazah saudaramu, tetapi kalian tidak bisa
mengambil pelajaran dari peristiwa itu."

Terakhir ia mengatakan, "Wahai penduduk Basrah, ingatlah sabda nabi, "Berdoalah
kepada Allah, tetapi kalian harus yakin akan dikabulkan. Hanya saja kalian harus tahu
bahwa Allah tidak berkenan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan main-main."

Apapun persoalan hidup kita, apakah kita sedang bahagia atau sedih, tetaplah berdoa
kepada Allah. Jangan pernah berhenti memanjatkan doa kepada Allah, karena doa adalah
masa depan kita. Doa adalah kekuatan kita, doa adalah senjata kita. Perhatikan ada-adab
berdoa, dan bersabarlah menunggu dikabulkan-Nya (elsandra/el-sandra@lycos.com)

Menikmati Hidup

Publikasi 29/07/2002 08:43 WIB

eramuslim - Hidup bukan sekedar perjalanan menuju kematian, karena kematian itu
sendiri bukan tujuan akhir sebenarnya dari setiap makhluk yang hidup. Meski jasad telah
mati, namun sesungguhnya tetap hidup sampai pada satu masa pengadilan Allah yang
maha adil memutuskan ketentuannya. Maka bukanlah kematian yang dinanti oleh yang
hidup karena sejak dimulainya hembusan nafas pertama seseorang hingga detik inipun
tengah berjalan sampai saatnya melewati satu fase yang bernama kematian itu. Tidak
berhenti hanya sampai disitu, melainkan akan terus berlalu melalui salah satu fase
berikutnya yakni saat harus mempertanggungjawabkan masa hidup mereka di dunia dan
seterusnya.

Hidup adalah satu fase dari sekian fase perjalanan yang dilewati manusia, waktunya
hanya sesaat. Rasulullah mengingatkan bahwa menjalani hidup di dunia ini layaknya
seperti orang asing atau orang yang sedang menyeberangi suatu jalan, begitu singkat.
Namun demikian tidak sedikit manusia yang tidak menyadari bagaimana memanfaatkan
waktu yang sebentar itu guna mengumpulkan bekal sebanyak dan sebaik-baiknya untuk
menempuh perjalanan fase-fase berikutnya yang tak diketahui seberapa panjang lintasan
kan ditempuh lengkap dengan terjalnya kerikil dan batu sandungan yang kerap
menghadang. Tak sedikit juga pengetahuan akan seberapa dalam dan luasnya lautan yang
mesti diarungi, serta setinggi apa pegunungan, bukit, lembah yang harus ditelusuri,
didaki.

Ketidaksadaran akan singkatnya waktu, dan ketidakmengertian akan seberapa berat
perjalanan berikutnya itu ternyata masih tak membuat kita bergegas berbenah, sigap
mengumpulkan bekal. Cobalah tengok tas bekal yang kita miliki sekarang, mungkin
masih terlalu sedikit atau bahkan kosong sama sekali. Padahal kita tak pernah tahu
sampai sejauhmana perjalanan menuju akhirat itu.

Diwaktu yang sebentar itulah masih banyak kita yang salah dalam memanfaatkan hidup
ini. Sebagian kita berpikir memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah hidup di
dunia ini untuk dinikmati sepuasnya, belum tercapai titik klimaks kepuasan sampai
kematian yang mengakhiri petualangan pencarian kepuasannya tersebut.

Allah curahkan semua anugerah dan pemberiannya kepada segenap makhluk-Nya
sebagai bentuk kasih sayang yang takkan pernah putus untuk dinikmati, termasuk hidup
itu sendiri. Sesungguhnya bersamaan dengan turunnya anugerah tersebut, Dia sertakan
juga pesan bagaimana memanfaatkannya dengan baik, benar dan tepat. Dia berikan
beragam kenikmatan untuk tidak sekedar dinikmati, melainkan juga diambil maknanya
sehingga menyadarkan diri ini untuk bersyukur. Seperti pelajaran yang diberikan Allah
kepada Sulaiman saat hendak memberi makan seluruh makhluk Allah dengan kekayaan
yang dimilikinya, atau hikmah dari perintah disembelihnya Ismail oleh ayahanda Ibrahim
yang teramat cintanya. Kepada Ayub, Allah sertakan nikmat kesabaran dan cinta
mendalam dari Rahmah istrinya, ketika cobaan penyakit berat menimpanya. Yusuf Nabi
yang diberikan nikmat keelokan paras pun memberikan pelajaran bagaimana mensikapi
hidup tidak berlebihan.

Kini giliran manusia-manusia dimana kita berada dimasanya, Allah pun tetap
memberikan anugerah kenikmatan itu tanpa kecuali. Hanya saja terkadang
ketidakmampuan menangkap makna luas kenikmatan yang diberikan-Nya itulah yang
membuat pandangan ini begitu sempit dengan menggambarkan nikmat itu sebatas rupa
dan bentuk. Maka kemudian, setiap jengkal tanah yang terlewati, setiap detik waktu yang
terpakai dan setiap tenaga yang terkuras semata untuk urusan pemenuhan kebutuhan akan
kepuasan yang singkat sesaat. Disaat yang sama kita semakin lupa membebani punggung
ini dengan bekal perjalanan panjang selanjutnya.

Sekedar mengingatkan, ketika Allah menjanjikan surga dan ampunan serta terbebas dari
azab-Nya sebagai imbalan dari jihad dengan harta dan jiwa ini, masih ada keraguan kita

akan janji itu, meski kita tahu Dialah Yang Maha menepati janji. Saat Allah menawarkan
nikmat tambahan untuk rasa syukur kita atas nikmat sebelumnya, ternyata sedikit sekali
bibir ini berucap dan memuji-Nya. Juga pertolongan dan peneguhan kedudukan yang
sudah pasti diberikan jika kita mau berkorban untuk agama-Nya, namun dimana kita saat
Islam membutuhkan uluran tangan dan tetesan darah ini, sedang apa diri ini disaat ummat
Islam di belahan bumi lain menjerit menggantang nyawa. Menggelengkan kepala adalah
jawaban untuk pertanyaan Allah bahwa nikmat manakah yang kita dustakan, tetapi betapa
lebih sering kita justru melupakannya.

Padahal ada cara yang diajarkan Rasulullah bagaimana menikmati hidup ini tanpa harus
tergelincir kepada nafsu pemuasan yang tak berkesudahan. Bayangkan cara beliau
menikmati hidup dengan prinisp secukupnya soal pemenuhan kebutuhan, tidak
berlebihan dan bersikap qona’ah. Rasa syukur yang kian hari kian meningkat seiring
dengan tak hentinya segala nikmat yang diberikan Allah, pun terlihat dari tak
berkurangnya ibadah. Kita masih bisa menambah kenikmatan hidup ini dengan melahap
bacaan ayat-ayat Allah serta melafazkan nama-Nya untuk mendapatkan satu nikmat yang
tak ternilai, ketenangan jiwa. Istri yang sholeh nan menyenangkan, anak-anak yang
membanggakan semakin bertambah nikmat hidup ini jika kita bisa membimbingnya, agar
kelak bisa menikmati kebersamaan itu dalam fase kehidupan berikutnya.

Bahkan bukan tidak mungkin kesulitan pun menjadi bagian dari kenikmatan hidup ketika
kita ridha dan memandang semua ujian adalah cara-Nya untuk berdekatan dengan orang-
orang shaleh. Sungguh nikmat yang berketerusan, terlebih jika diri ini senantiasa terjaga
untuk tetap berada pada jalur kebenaran hingga detik saat Izrail mengetuk pintu,
bukankah kita juga merindukan kematian yang dapat dinikmati? Wallahu’a’lam
bishshowaab
(Hufha)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->