P. 1
Oase Iman

Oase Iman

5.0

|Views: 1,873|Likes:
Published by Achmad Hidayat
Bergegaslah bangun dari mimpi, atau engkau akan kehilangan keindahan yang tengah engkau genggam … (salah satu kalimat dari syair lagu Ebiet G Ade). Wallahu ‘a’lam bishshowaab
Bergegaslah bangun dari mimpi, atau engkau akan kehilangan keindahan yang tengah engkau genggam … (salah satu kalimat dari syair lagu Ebiet G Ade). Wallahu ‘a’lam bishshowaab

More info:

Published by: Achmad Hidayat on May 20, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/06/2012

pdf

text

original

Publikasi 03/02/2003 08:54 WIB

eramuslim - Kebijakan-kebijakan pemerintah yang melakukan divestasi Indosat,
privatisasi asset-asset negara, menaikkan harga-harga BBM, Tarif Dasar Listik (TDL),
Telepon yang menyebabkan kenaikan di berbagai sektor lainnya. Semakin menegaskan
jarak antara pemerintah dengan rakyat yang jelas-jelas menolak semua kebijakan
tersebut. Rakyat berpikir, semua kebijakan pemerintah itu tak satupun yang didasari atas
kepentingan jangka panjang, atas kepentingan dan kemaslahatan orang banyak,
melainkan kepentingan sesaat yang semakin memburukkan keadaan rakyat sudah
terperosok selama sekian tahun sejak krisis ekonomi melanda negeri ini.

Kebijakan pemerintah dan harapan rakyat ibarat langit dan bumi. Yang pada
kenyataannya, selama malaikat pesuruh Allah belum meniupkan sangkakala pertanda hari
akhir, tidak akan pernah langit menyatu dengan bumi. Namun jika secara fisik keduanya
tidak bisa bertemu, bukankah masih ada harapan kesenyawaan itu tercipta ketika hati dan
pikiran orang-orang yang dilangit menjemput yang di bumi? Jika terlalu berat bagi yang
dibumi untuk menghusung hati ke atas, bukankah lebih ringan bagi yang berada diatas
untuk turun?

Penguasa yang cerdas selalu peduli terhadap pola pikir rakyat yang diperintahnya. Itulah
salah satu kunci keberhasilan suatu kepemimpinan yang paling mendasar. Saat ini,
pemerintah mempunyai pola pikirnya sendiri, sementara masyarakat juga memiliki pola
pikirnya sendiri. Memaksakan pola pikir yang satu terhadap yang lain tentulah hanya
akan melahirkan konflik. Selanjutnya, sudah pasti akan muncul berbagai praktek
kekerasan yang timbul akibat tumbuhnya benih-benih perlawanan, ketidaksukaan dan
perbedaan.

Maraknya aksi-aksi mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat akhir-akhir ini, awalnya
hanya sekedar ‘pemaksaan’ pola pikir pemerintah yang tidak sejalan dengan kepentingan
rakyatnya. Pemaksaan yang dilanjutkan dengan sikap tegas dan represif kekuatan
kekuasaan terhadap siapapun yang tidak sejalan, sesungguhnya merupakan potret awal
keruntuhan. Teori manapun yang pernah kita pelajari berkenaan dengan perubahan
mengajarkan, tidak akan pernah suatu perubahan (progresif) tercipta tanpa adanya
kesatuan antara orang-orang yang di depan dengan mereka yang memberikan
kepercayaan penuh kepada yang di depan. Membangun sebuah peradaban baru, perlu
kesatuan yang utuh antara orang-orang berpendidikan, intelektual yang dipercaya sebagai
pemimpin suatu bangsa, dengan anggota masyarakat dari bangsa itu sendiri (Ali
Syari’ati).

Masalahnya kemudian, ada kesenjangan hubungan, tidak adanya kontak dari hati ke hati
antara langit dan bumi. Sekali lagi, untuk sementara langit memang takkan pernah
menjumpai langit, tapi sejauh apapun jarak itu bukankah tetap bisa tersatukan ketika hati
dan pikiran keduanya duduk menyatu dalam satu kepentingan, dalam satu tujuan
selayaknya orang-orang terdahulu di negeri ini melakukannya saat merumuskan bentuk
dan kelahiran bangsa, ketika bahu membahu membidani perjuangan memerdekakan
negeri bernama Indonesia ini.

Semestinya setiap penguasa belajar dari sejarah, bahwa kejatuhan yang pernah dialami
oleh hampir semua pemimpin adalah saat langkahnya tak lagi seiring dengan orang-orang
yang dipimpinnya. Begitu juga dengan negeri ini, mendiang Presiden Pertama RI,
Soekarno sangat menyadari artinya rakyat bagi sebuah bangsa, pemahaman yang teramat
mendalam dari Soekarno itu tercermin dari pidatonya pada tahun 1957: “Dulu itu kita
semua adalah ‘rakyati’, dulu itu kita semua adalah ‘volks’. Api pergerakan kita dulu itu
kita ambil dari dapur apinya rakyat. Segala pikiran dan angan-angan kita dulu itu kita
tujukan kepada kepentingan rakyat. Tujuan pergerakan kita dulu itu adalah satu
masyarakat adil dan makmur bagi rakyat.”

Kalaulah Allah begitu teramat sering menjumpai hamba-hamba-Nya di bumi, melihat
langsung dari dekat setiap bulir air mata ummat yang menetes di sepanjang malam.
Begitu juga dengan para malaikat (makhluk langit lainnya) yang penuh kearifan
menghampiri anak-anak Adam dan melaporkan kepada Tuhan setiap aduan, keluhan atau
bahkan jeritan ketidakberdayaan manusia menjalani hidup. Kalaulah para Nabi dan Rasul
Allah memberikan teladan bagaimana menyentuh hati rakyat, mengangkat yang jatuh,
menggandeng yang lemah dan bahkan mengutamakan kepentingan rakyat diatas semua
kepentingan diri dan keluarganya. Jika pemimpin-pemimpin di negeri ini masih
menjadikan Allah sebagai sesembahan mereka, masih percaya adanya malaikat-malaikat
yang senantiasa hadir bersamanya, dan menempatkan Rasul sebagai teladan hidup,
semestinya mereka mau turun ke bumi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->