Eyangku, Eyangmu, Eyang Kita

Publikasi 04/03/2003 09:00 WIB eramuslim - Hujan rintik waktu itu. Saya bergegas menembus jalanan pagi yang padat dengan payung terkembang. Berpacu dengan pejalan kaki lainnya, juga mobil dan motor yang suka merebut kavling pejalan kaki di trotoar. Saya harus segera tiba di kantor. Tibatiba sesuatu menghentikan langkah kaki saya dan memaksa saya menoleh. Lagi, untuk yang kesekian kali. Seorang wanita berusia di akhir 60 tahunan, berkain, kebaya dan kerudung sampir, menyandang tas kantong, tertatih tanpa pelindung dari hujan. "Ibu hendak kemana?” sapa saya. Payung langsung saya condongkan ke arah beliau. Bersama kami melangkah satu-satu, menapaki jalan yang licin dan berlubang-lubang. "Mau naik angkot di depan situ, Neng. Ibu hendak ke Cibubur" MasyaAllah! Cibubur? Dari Salemba? Sendirian? Dalam hujan dan tanpa payung? "Ibu sendirian?" Saya masih bertanya, sekedar menepis kegalauan, meski saya tak butuh jawaban, apa yang saya saksikan toh sudah menjawab pertanyaan itu. "Allah yang mengantarkan Ibu, Neng!" jawabnya, sedikit melegakan saya. Dan akhirnya, ketika saya melepasnya naik Mikrolet 01A, saya tak lagi merasa terlalu bersalah. Allah yang akan mengantarnya sampai tujuan. Entah berapa kali saya menjumpai peristiwa serupa. Dan semuanya mendorong pada tumbuhnya satu rasa: Iba. Bagaimana tidak? Mereka melangkah satu-satu, jarak 500 meter ditempuh lebih dari setengah jam. Belum lagi trotoar yang miring atau berlobang, atau dihuni kendaraan parkir, sehingga kadang-kadang pejalan kaki terpaksa turun ke badan jalan yang penuh dengan kendaraan lalu lalang. Kadang saya terpikir: kemana anak-anak mereka? Kemana cucu-cucu mereka? Hingga membiarkan bapak/ibu atau eyangnya bepergian sendiri? Di Jakarta pula. Mungkin dunia memang sudah sedemikian tua, hingga penghuninya tak lagi memiliki cinta dan perhatian, bahkan kepada orang tua sendiri yang sudah mulai lemah. Barangkali dunia memang sudah sedemikian merana, hingga orang di jalanan tak lagi menganggap manula sebagai makhluk lemah yang, Tapi, sebentar! Apa hak saya ‘menuduh’ anak dan cucu yang mengabaikan orang tua/eyangnya di jalanan? Apa hak saya ‘menghakimi’ manusia dan dunia yang tak lagi mempedulikan para manula? Memangnya saya sudah berbuat baik kepada eyang dan orang tua saya dengan sempurna?

Dan, tiba-tiba saya teringat eyang kakung saya di kampung sana. Usia beliau sudah di atas 80 tahun, pendengaran sudah jauh berkurang, penglihatan sudah tidak awas lagi dan berjalan pun sudah harus ditopang tongkat. Sekalipun secara fisik –seingat saya- saya tak pernah mengabaikannya, harus saya akui, selama ini saya sulit untuk bisa akrab dengan beliau. Pertama, karena jarak yang memisahkan kami, sehingga sedikit kesempatan untuk bersama. Kedua, pendengaran dan penglihatan beliau yang kurang, membuat sulit untuk berkomunikasi. Saya harus agak berteriak supaya beliau mendengar apa yang saya katakan. Ketiga, saya kesulitan menemukan bahan pembicaraaan yang nyambung. Kondisi tersebut membuat saya jarang bercakap-cakap dengan Eyang, kecuali saat melayani makan, mandi dan semua keperluan sehari-hari lainnya. Jadi, apa bedanya saya dengan mereka yang menelantarkan orang tua dan eyangnya di jalanan? Meski tak tampak secara fisik, namun secara psikologis nyaris tak ada bedanya: saya telah mengabaikannya, betapapun alasan saya. Dan saya pun merasa perlu mengoreksi kembali penilaian saya kepada para anak dan cucu dari eyang-eyang di jalan raya itu. Mencoba menemukan alasan, mengapa mereka tak mengantarkan orang tua atau eyangnya yang bepergian. Barangkali saja keluarganya miskin, sehingga tak mampu mengantarkan dengan kendaraan memadai. Bisa saja anakanaknya sedang sibuk bekerja, demi memenuhi kebutuhan hidup yang kian melilit. Mungkin saja cucu-cucunya sedang bersekolah sampai sore dan masih ditambah dengan kesibukan membantu pekerjaan rumah tangga. Barangkali,… ada alasan entah apa lagi. Namun, semoga saja, meski anak dan cucunya tidak mengantarkan para eyang di jalanan itu, mereka tetap memberi perhatian dan berbuat baik kepada eyangnya dengan cara yang lain. Hingga Allah akan melindungi mereka, seperti kata Ibu tua tadi: "Allah yang akan mengantar saya, Neng!” Semoga demikian adanya, dan semoga yang demikian itu adalah melalui tangan kita. Ya, semoga Allah menolong para eyang itu dengan menggerakkan hati dan meringankan langkah kita untuk mengantar dan menemani para eyang di jalanan itu. Semoga kemudian Allah menolong dan menjaga eyang dan orang tua kandung kita, karena kita mengikhlaskan hati menolong para eyang di sekeliling kita. Karena mereka adalah eyangku, eyangmu, eyang kita semua. (Saat ini saya berharapharap cemas, jika saya membantu para eyang di jalanan dan di sekeliling saya, di jauh sana, Allah akan memberikan teman dan penjaga bagi eyang saya, meskipun itu seorang anak batita yang senang mengajaknya bermain, tanpa kata-kata verbal, namun penuh ketulusan cinta. Ya, Allah kabulkanlah harapan saya, dan titip salam rindu saya kepadanya). (azi_75@yahoo.com, saat saya mengingati eyang)

Mbok Narti
Publikasi 27/02/2003 09:45 WIB

eramuslim Mbok Narti Begitu kami sekeluarga memanggilnya. Usia-nya sudah 60 tahun namun kegagahan dan kegesitannya justru membuat sosoknya terlihat 10 tahun lebih muda. Mbok Narti baru bekerja beberapa minggu di tempat kami. Seorang tetangga membawanya ke rumah ibu ketika mengetahui bahwa kami membutuhkan asisten di rumah kami. Ayah yang sudah sakit dalam 8 bulan terakhir tentu menyita waktu ibu untuk mengurusnya. Alhasil pekerjaan rumah tangga sedikit 'keteteran' karena kami bekerja seharian di luar rumah. Alhamdulillah, kami dapat bernafas lega ketika mendapatkan bantuan mbok Narti ini. Setiap ba'da shubuh dia sudah rajin bekerja dari mencuci, memasak dan menyetrika. Mbok Narti tidak pernah mengijinkan ibu untuk membantunya, alih-alih mbok Narti menyarankan ibu untuk konsentrasi menyiapkan dan mengurus keperluan ayah yang sedang sakit. Mbok Narti hidup sebatang-kara di dunia ini, begitu informasi yang kami dapatkan lewat tentangga. Dia tidak pernah menceritakan asal-usul dirinya dengan jelas. Mbok Narti, sosok baru di rumah kami ini langsung menjadi idola. Senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya. Pekerjaan dia selesaikan dengan giat dan gesit. Setiap malamnya tidak pernah dilewatkan mbok Narti dengan bersimpuh di hadapan Sang Khaliq. Selalu khusyuk dalam sujud dan do'a-nya. Dan suatu hari, setelah hampir tiga minggu mbok Narti bekerja di rumah kami. Tiba-tiba kami kedatangan seorang tamu. Seorang dokter dari Jakarta. Awalnya kami agak terkejut dengan maksud dan tujuan dokter tersebut untuk menjemput mbok Narti. Astaghfirullah, kami sempat bersu'udzon tentang sesuatu hal yang buruk yang pernah terjadi kepada si mbok ketika bekerja di Jakarta dahulu. Namun, dokter yang ternyata bekas majikan si mbok tersebut justru memohon maaf kepada kami untuk menjemput mbok Narti karena si mbok dirindukan oleh anaknya. Rupanya putera si dokter meminta ayahnya untuk datang ke rumah kami menjemput mbok Narti. Ah, rupanya ada yang merindukan si mbok di sana. Si dokter itupun bercerita bahwa anak bungsu-nya tidak mau makan sejak mbok Narti pulang ke kampungnya. Persis seperti di sinetron-sinetron memang, namun itulah fakta yang terjadi. Entah apa yang membuat mbok Narti berhenti bekerja dari rumah si dokter tersebut sebelumnya. Namun dari kehidupan, tindak-tanduk mbok Narti yang baru beberapa minggu di rumah kami, mbok Narti adalah sosok yang sangat baik dan mendekati sempurna sebagai asisten keluarga kami. Akhirnya kami pun harus melepas mbok Narti dengan berat hati. Walau baru beberapa minggu bekerja di rumah kami, namun kesan yang ditinggalkan begitu mendalam. Terus terang, kami tidak pernah mendapatkan asisten rumah tangga seperti sosok mbok Narti ini. Satu minggu berlalu sejak kepergian mbok Narti dan tetanga kami yang pernah mengantarkan si mbok datang untuk mengambil uang gaji mbok Narti yang belum sempat

kami bayarkan. Memang ketika mbok Narti dijemput dahulu, dia berpesan agar gajinya dititipkan saja ke tetangga kami itu. Satu hal yang sangat mengejutkan kami adalah ketika si tetangga bercerita bahwa uang gajinya mbok Narti akan diberikan kepada Yayasan yatim piatu di kampung mbok Narti. Rupanya selama ini dia menyerahkan seluruh penghasilannya sebagai asisten kepada si tetangga untuk diberikan kepada Yayasan tersebut setiap bulannya. Bagi si mbok, dengan bekerja di suatu tempat, mendapat jaminan tempat berteduh, mendapat makan, itu sudah lebih dari cukup buat dia. Sedang penghasilannya (gajinya) dia anggap sebagai rejeki anak-anak yatim itu. Subhanallaah... dalam asma Allah dan hati yang bergetar penuh haru, ternyata baru kami sadari bahwa kami ini bukan apa-apa dibandingkan dengan mbok Narti. Setiap saat kami hanya memikirkan diri kami sendiri. Setiap saat kami hanya memikirkan makan apa besok, membeli baju dan kosmetika, rencana liburan dan hal lain yang tak bukan hanya untuk keperluan diri kami sendiri. Di sisi lain mbok Narti yang 'cuma' sebagai asisten rumah tangga yang mungkin gajinya tidak seberapa untuk ukuran orang yang mampu, justru dia sumbangkan semuanya -semuanya!- kepada orang-orang yang tidak mampu. Ah, lewat mbok Narti kami seakan di'sentil' Allah agar cepat-cepat membuka mata dan hati kami yang selama ini tertutup, bahwa hidup ini bukan hanya untuk hari ini dan esok. Bahwa hidup ini bukan hanya untuk sekedar mencari makan dan belanja pakaian. Namun, hidup ini justru menjadi lebih berarti ketika kita dapat membagi kebahagiaan kita kepada orang lain. Mbok Narti, Sungguh teladanmu melorotkan tulang-tulang kesombongan kami... Sungguh kerendah-hatianmu meruntuhkan keangkuhan kami... Sungguh kedalaman sujud-sujud malammu, menggetarkan sukma kami... Sungguh kedermawananmu membuat kami malu di hadapan Tuhan kami, Astaghfirullaah. Sungguh, kami merindukanmu mbok. Rosanti K Adnanyose@ratelindo.co.id

Kucing
Publikasi 20/02/2003 08:52 WIB eramuslim - Beberapa hari yang lalu, saya menemukan seekor anak kucing di jalan. Suaranya ribut betul hingga mendorong kaki saya keluar untuk mencari posisi suara kucing tadi. Ternyata di tepi jalan , terdapat seekor bayi kucing yang saya perkirakan baru lahir beberapa hari yang lalu. Entah dimana Ibu si kucing, Akhirnya saya bawa ke rumah, kebetulan ada dua ekor kucing di rumah yang juga sedang menyusui anaknya. Awalnya saya khawatir kucing di rumah itu tidak mau menyusuinya. Karena semalaman dia biarkan anak kucing tersebut mengeong tanpa mau mendekatinya walaupun sudah

dipaksakan untuk menyusui bayi kecil kucing tadi. Apalagi kucing itu anak-anaknya sudah besar. Paginya saya coba letakkan kucing kecil tadi bersama anak kucing yang lain. Beberapa jam sempat saya paksakan si Hitam untuk menyusuinya, tapi tetap tidak mau, si Hitam hanya menjilatinya. Akhirnya saya tinggalkan kucing tadi di luar bersama anak-anaknya. Namun beberapa jam kemudian saya dengar kucing kecil tadi sudah diam. Saya coba lihat, ternyata, subhanallah si Putih (kucing lain yang juga menyusui anaknya) sudah menyusui kucing kecil tadi. Sambil menjilati kucing kecil tadi. Sampai sekarang si Putih masih menyusui si kucing kecil. Saya yakin ibu si kucing tadi tidak pernah bermaksud mencampakkan anaknya, tapi ada tangan jahil manusia yang membuang, Beberapa hari yang lalu saya juga pernah mendengar kasus seperti ini, tapi bukan kucing. Kisah manusia. Persis sama, hanya satu yang berbeda kucing tadi tidak membuang anaknya tapi manusia yang membuang ke jalan. Sementara kisah yang baru saya dengar ini si ibunya sendiri yang membuang anaknya di tempat sampah. Jangan merasa aneh ketika saya saat ini bercerita tentang kucing, karena ada sesuatu yang unik di balik roman kucing ini. Sebuah kejujuran yang mampu merobek-robek keangkuhan kemanusiaan manusia. Seekor binatang yang mampu memberikan kasih sayang kemanusiaan disaat manusia meninggalkan sebuah nilai kemanusiaan menuju sifat kebinatangan seekor binatang yang tidak punya sedikitpun akal. "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan meraka lebih sesat lagi". (QS. 7:179). Masih tentang kucing. Saya juga pernah menyaksikan kucing melahirkan. Bisa dibilang itu kali pertama dia melahirkan anaknya. Suaranya ribut, ketika saya lihat ketubannya keluar. Akhirnya kucing tersebut menemukan tempat yang cukup strategis untuk melahirkan anaknya. Namun yang menakjubkan, orang tua kucing yang 'bunting' tadi (si Hitam) terus mengekori. Subhanallah Ketika si Putih tadi mengalami proses kelahiran anaknya, si Hitam turut membantu mengeluarkan anaknya, menjilati dan membersihkan anak si Putih tadi, sementara si putih terkulai lemah. Kasih sayang ibu sepanjang zaman. Itu pepatah yang dibuat manusia, tetapi kucing jauh lebih memahami, dimandingkan ibuibu yang lain yang ketika anaknya bunting, justru disuruh gugurkan karena malu ayahnya tidak jelas. Satu lagi tentang kucing, Ketika saya memberikan sepiring makanan kepada kucingkucing di rumah, jumlahnya mungkin lebih banyak dibandingkan muatan piring untuk dilingkari makan. Apa yang anda bayangkan? Kucing-kucing itu akan berebut dan saling mendahului untuk secepatnya menghabiskan makanan? Kalau begitu anda salah, yang terjadi adalah si putih maju untuk lebih dahulu makan dan beberapa saat kemudian tanpa

interupsi mereka satu persatu bergantian menghabiskan makanan. Bagi yang belum menunggu giliran dengan tenang. Dan yang anehnya lagi kucing yang didahulukan makan pasti yang sedang menyusui anaknya. Tahukah anda saya sama sekali tidak pernah menulis di dinding tempat makan kucing itu “Antri dong” atau “Budayakan Antri” dan lain-lain. Lagian mereka juga tidak akan bisa membaca. Tapi anehnya praktek teori antri tersebut tidak secanggih antrian kita kalau di tempat umum: di Bank, di kasir, bahkan di kamar mandi. Mungkin bukan masalah antrinya tetapi konsep itsar (mendahulukan kepentingan saudara) jauh lebih mereka pahami dibandingkan sebahagian besar manusia saat ini. Demi kepentingan pribadi sebagian orang rela untuk menghancurkan saudaranya. Masih banyak lagi tentang kucing, tapi cukup disini saja, karena kucing saya tidak suka dipublikasikan. Ada pertanyaan yang mengganjal di dalam fikiran saya, benarkah kucing tidak memiliki akal dan hati? Maaf, pertanyaan saya terbalik, benarkah manusia memiliki akal dan hati? "Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapt memahami atau mempunyai telinga yang yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada" (QS. 22:46). Yanti. RMuthiah11@yahoo.com

Jangan Pernah Mengeluh
Publikasi 19/02/2003 09:32 WIB "Berkali kita jatuh, Berdiri jangan mengeluh. Berkali kita gagal, Ulangi lagi dan cari akal" Baris baris pantun di atas saya pelajari belasan tahun lalu saat masih duduk di bangku SMP. Saya lupa pengarangnya, namun jika tak salah, pantun ini ditulis oleh penyair Sumatera Barat. Sampai saat ini, pantun itu terus terpatri di benak saya setiap menemui kegagalan dan jatuh dalam hidup. Intinya bagi saya adalah dalam hidup ini jangan pernah mengeluh dan teruslah berusaha. Namun, usaha tanpa berusaha memperbaiki cara fikir (akal) adalah sia-sia. Untuk itulah, kita harus terus mencari akal-akal baru sehingga peluang untuk berhasil menjadi lebih besar. Mengeluh. Barangkali pekerjaan paling mudah di dunia ini adalah mencari kelemahan dari situasi yang dihadapi dan kemudian mengeluhkannya. Namun, apakah hanya dengan berkeluh kesah masalah yang dihadapi akan hilang? Sepertinya tidak. Malah, masalah baru akan datang dalam bentuk hilangnya rasa percaya diri dan pesimis.

Hidup ini, by nature, selalu penuh masalah. Mulai dari masalah sepele seperti ketinggalan bis, file penting terhapus, kehilangan uang, sampai masalah yang besar seperti ditinggal pergi orang yang dikasihi untuk selamanya atau dipecat dari pekerjaan. Namun, selama kita masih bernafas, masalah tersebut seakan menjadi nihil begitu kita ingat bahwa ternyata semua itu 'bukan masalah'. Begitu ada masalah 'baru', kita selalu menganggap bahwa masalah 'lama' adalah 'bukan masalah', dan kadang berfikir kok bisabisanya kita pernah terkungkung oleh masalah 'lama' tersebut. Begitulah, dengan berjalannya hidup, masalah datang silih berganti. Rugi sekali jika alih-alih menikmati hidup kita malah terkungkung oleh masalah. Belasan tahun kemudian, saya kembali menemukan puisi yang juga bernafaskan sama. Namun kali ini, ditulis di negeri Skandinavia. "Fear less, hope more; Whine less, breathe more; Talk less, say more; Hate less, love more; And all good things are yours." (Swedish Proverb) Di timur dan di barat muka bumi ini, ternyata semangat optimis selalu ditanamkan. Jika demikian, kenapa juga kita selalu mengeluh? Akhirnya, sebagai penutup, mari kita renungkan kalam Ilahi, sang Pencipta yang tahu akan kelemahan makhluk ciptaanNya: "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu [1586], Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap" (Surah Alam Nasyrah) Kepada Allah-lah kita senantiasa berharap. Edi Hamdi Esbjerg, DK (edi_hamdi@yahoo.dk)

Qolbu Yang Kenal Dengan Allah
Publikasi 17/02/2003 08:57 WIB eramuslim - Begitu besarnya pengaruh qolbu dalam menentukan karakter dari manusia yang memilikinya sehingga Rasulullah pernah mengatakan bahwa di dalam tubuh setiap

manusia ada segumpal daging yang disebut dengan qolbu. Apabila qolbu itu baik maka baiklah manusia yang memilikinya dan begitu juga sebaliknya apabila qolbu itu jelek maka jelek pulalah manusia yang memilikinya. Beruntunglah manusia yang memiliki qolbu yang baik. Karena dengan qolbu yang baik maka akan menghasilkan pemikiran, tindakan dan ucapan yang baik pula. Hanya manusia dengan qolbu yang baik yang akan memiliki akhlak yang baik. Sebaliknya, sudah dapat dipastikan bahwa tingkah laku yang jelek dan tidak terpuji hanya akan dilakukan oleh manusia-manusia yang memiliki qolbu yang jelek pula. Ucapanucapan yang tidak bermakna dan bahkan sering melukai hati dan perasaan orang lain hanya akan terucap dari mulut manusia-manusia dengan qolbu yang tidak baik. Sering terjadi di tengah masyarakat perbuatan atau tindakan yang begitu kejam, sadis dan bahkan tidak dapat dipahami dengan akal sehat. Ini bisa terjadi karena para pelakunya memiliki qolbu yang kejam dan sadis pula. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara agar kita dapat memiliki qolbu yang baik atau bagaimana cara membuat qolbu menjadi lebih baik? Jawabannya adalah, jadikanlah qolbu itu kenal dan semakin kenal dengan Allah. Semakin kenal dan akrab dengan Allah maka qolbu akan semakin baik. Bagaimana bisa demikian? Karena Allah adalah Zat Yang Maha Baik, Allah begitu mencintai hamba-hamba-Nya yang senantiasa berusaha untuk berbuat baik. Karena itu, qolbu yang kenal dengan Allah maka akan selalu tersinari dengan cahaya Illahi. Qolbu yang selalu bersinar penuh cahaya kebaikan. Qolbu yang senantiasa membisikkan kepada pemiliknya untuk selalu berpikir, bertindak dan berbicara yang baik. Qolbu yang akan memicu dan memdorong pemiliknya untuk mempunyai akhlak yang baik. Orang-orang yang memiliki qolbu yang baik maka akan disayang tidak hanya oleh manusia dan makhluk lainnya tetapi juga oleh Allah. Allah amat menyayangi hambahamba-Nya yang memiliki qolbu yang baik. Ada suatu kisah yang terjadi pada seorang ulama terkenal Abdullah bin Mubarak. Setelah selesai melakukan tawaf, Abdullah bin Mubarak tertidur. Dalam tidurnya dia bermimpi mendengarkan pembicaraan dua malaikat. Malaikat pertama mengatakan bahwa alangkah banyaknya orang yang menunaikan ibadah haji pada tahun itu. Malaikat kedua menanggapi bahwa amat disayangkan semua amal yang dilakukan jemaah ini tidaklah sempurna sehingga tidak bernilai di hadapan Allah. Hanya saja, karena amal yang dilakukan oleh seorang tukang sepatu maka Allah berkenan menerima amal semua jemaah haji tahun itu. Begitu selesai melakukan ibadah haji, Abdullah bin Mubarak pergi mencari tukang sepatu yang disebutkan malaikat dalam mimpinya. Setelah bertemu dengan tukang sepatu tersebut, Abdullah bin Mubarak bertanya, apa amalan yang telah dilakukan yang membuat Allah begitu menyukai dan menghargai amalan tersebut sehingga dapat menyempurnakan amalan dari ribuan jemaah haji waktu itu. Si tukang sepatu menceritakan bahwa semenjak tiga puluh tiga tahun lalu dia mempunyai keinginan untuk melaksanakan ibadah haji. Untuk itu, setiap hari dia menabung dan setelah dihitung maka dirasa cukup untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun itu. Beberapa hari

sebelum berangkat, istrinya yang sedang hamil menciumi wangi masakan. Ternyata wangi masakan tersebut berasal dari rumah tetangga. Karena istrinya begitu menginginkan dan karena sayangnya melihat istri yang lagi hamil maka Abdullah menemui tetangganya untuk meminta sedikit dari masakan yang wangi tersebut. Si tetangga mengatakan bahwa demi Allah makanan ini tidak halal bagi keluarga Abdulllah karena yang dimasak adalah sisa bangkai binatang yang didapatkan. Si tetangga terpaksa memasak bangkai binatang ini karena sudah berapa hari dia dan anaknya tidak makan. Demi menghentikan tangis anaknya dan demi mempertahankan hidup maka dia terpaksa memasak bangkai yang didapat tadi. Rasulullah pernah mengatakan bahwa dalam keadaan darurat maka bangkai binatang dihalalkan untuk dimakan. Mendengar cerita dari tetangganya ini Abdullah berlinang air matanya dan memohon ampun kepada Allah karena dia telah lalai memberikan perhatian kepada tetangganya. Lalu dia bergegas pulang mengambil semua tabungannya dan menyerahkan kepada tetangganya. Dengan lembut dia berkata, "silahkan ambil uang tabungan ini, inilah hajiku." Itulah suatu amalan yang lahir dari seorang hamba Allah yang memiliki qolbu yang baik. Suatu amalan yang sangat disukai oleh Allah. Bahkan suatu amalan yang dengannya membuat banyak amalan lainnya diterima. Mengapa begitu tingginya penghargaan yang diberikan oleh Allah? Karena inilah suatu amalan yang lahir dengan dilandasi oleh keihlasan yang tinggi. Suatu amalan yang terjadi tanpa mengharapkan balasan apapun, termasuk pahala sekali pun. Suatu amalan yang muncul hanya sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah yang begitu banyak yang telah dilimpahkan Allah kepada kita. Sebagai rasa syukur karena kita relatif lebih mudah untuk mendapatkan nikmat tersebut dibandingkan dengan sebagian saudara kita yang lain. Inilah suatu kesadaran yang muncul dari qolbu yang baik bahwa kenikmatan yang telah dititipkan Allah ini tentunya harus didistribusikan juga bagi hamba-hamba-Nya yang lain. Seseorang yang beramal dengan keikhlasan yang tinggi maka dia tidak dipusingkan dengan balasan yang akan diterima. Dia tidak mengharapkan pujian dan penghargaan bahkan balasan pahala sekalipun. Dia yakin bahwa Allah menyukai orang-orang yang bersyukur. Karena itu, Dia hanya berusaha mengoptimalkan dan menyempurnakan akan kebaikan yang diberikan sebagai sarana untuk mensyukuri nikmat dan karunia Allah. Dia begitu yakin bahwa Allah Maha Lembut, Maha Bijak, Maha Menatap dan Maha Mengetahui. Jadi, barometer dari perbuatannya adalah apakah Allah suka atau tidak. Jika Allah suka maka dia dengan senang melakukan. Sebaliknya jika Allah tidak suka maka dia berusaha sekuat tenaga menghentikan atau menjauhi perbuatan itu. Ini bisa muncul jika didorong oleh qolbu yang baik. Alangkah indahnya amalan yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang memiliki qolbu yang baik. Qolbu yang kenal dengan Allah. Qolbu yang disukai oleh Allah. Semoga kita dikaruniai memiliki qolbu yang demikian oleh Allah, amin. (Salman, presiden@imeanet.org) (Diilhami oleh ceramah K.H. Susanto pada pengajian Qolbun Salim IMEA, Enschede 14 Pebruari 2003)

Ketika Cinta Harus Memilih
Publikasi 13/02/2003 12:01 WIB eramuslim - Ketika kita didudukan dalam situasi untuk memilih, tentu naluri kemanusiaan kita akan memilih yang terbaik (best of the best). Lalu bagaimana jika justru ketika pilihan tersebut tidak ada yang memenuhi kriteria kita, haruskah kita tinggalkan dan mencari pilihan lain? Bagaimana jika seandainya pilihan tersebut mutlak yang terakhir? Dan bagaimana jika seandainya pilihan tersebut adalah suatu keputusan yang justru berimplikasi terhadap masa depan kita? Bagaimana seandainya jika justru pilihan tersebut adalah ujian dari Allah Swt sebagai wujud dari kasih sayang-Nya terhadap kita? Banyak cerita di sekeliling kita yang dapat dijadikan bahan renungan tentang makna pilihan, dan buntutnya tentu masalah cinta. Jangan berpikiran sempit dulu tentang cinta itu sendiri. Cinta bukan hanya cinta antara pasangan suami istri (pasutri), atau cinta antara anak dan orang tua, namun juga termaktub cinta kepada suatu barang, misalnya buku dan lainnya. Bahkan ada seseorang yang sangat mencintai idola-nya, entah itu seorang artis atau aktor film. Bukan suatu kebetulan jika saya mengetengahkan makna cinta ini kok sepertinya berhubungan dengan hari 'valentine' yang sebentar lagi tiba. Jujur saja saya sudah tidak ambil pusing dengan perayaan tersebut semenjak saya tahu bahwa perayaan hari valentine itu sangat jauh dari nilai islami. Bagi saya, cinta itu bersifat universal yang berhak dimiliki dan dinikmati oleh setiap makhluk hidup di bumi Allah ini tanpa batas waktu dan jarak. Lalu, bagaimana jika kita dihadapkan kepada suatu keharusan untuk memilih satu dari dua pilihan yang ada? Sudahkah kita memaknai bahwa pilihan tersebut adalah yang terbaik menurut Allah Swt untuk kita, bukan sebaliknya. Suatu kali pernah seorang teman bercerita tentang kehidupan rumah tangganya yang bermasalah. Namun sayangnya hal tersebut dijadikan alasan oleh sang teman untuk membalas-dendam dengan, maaf, berselingkuh dengan orang lain. Saya pun kerap bertanya kepada diri saya sendiri, bukankah ketika kita memutuskan menikahi pasangan kita adalah suatu pilihan yang pasti terbaik dari segala pilihan yang ada? Tapi tunggu dulu, terbaik menurut siapa? Allah Swt menganugerahi setiap manusia sebuah bonus yang bernama 'akal', mengapa saya katakan 'bonus' karena selain manusia, makhluk lain (hewan dan tumbuhan) tidak dianugerahi hal yang sama. Selain itu, sebagai manusia kita pun dianugerahi 'titel' khalifah (di bumi) oleh Allah Swt. "Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi". (Faathir:39)

Kembali kepada cerita seorang teman di atas, salahkah dia dengan pilihan hatinya? Salahkah dia ketika meresa kecewa karena pilihannya ternyata jauh dari apa yang dia impikan? Atau ketika dia diberikan pilihan, sudahkah dia memutuskan memilihnya dengan atas nama Allah? Suami selalu mengingatkan saya untuk tidak terlalu mencintainya kalau bukan karena Allah Swt, karena ketika suatu saat Allah memanggil suami, tidak ada lagi cinta dan tempat bernaung yang tersisa, karena kesemua cinta yang ada sudah dibawanya pergi. Namun, ketika ketika kita mencintainya atas nama Allah, badai rintangan apapun yang menghadang, kita masih dapat berlindung di bawah kasih sayang-Nya karena hanya Allah Swt yang mampu memberikan kesempurnaan perlindungan. Keputusan sang teman untuk berselingkuh, jelas meletakkan nafsu di atas akal. Bukan hanya tidak akan memecahkan masalah, bahkan akan menambah masalah baru. Akal pun dikorbankan atas nama nafsu semata. Saya teringat ketika adzan maghrib berkumandang, sebagian kita mungkin sedang asyik menyimak berita demonstrasi di sebuah liputan berita nasional di televisi. Dan pilihan kembali disorongkan kepada diri kita. Mematikan televisi dan langsung berwudhu atau mentolerir diri kita dengan 'pembenaran', tokh beritanya tinggal lima menit, dan terus menonton. Kembali akal pun kita korbankan atas nama 'tinggal lima menit' ketika kita diberikan suatu pilihan di hadapan kita. Bangun di waktu subuh ketika adzan berkumandang adalah satu pilihan terberat bagi sebagian orang yang lemah iman. Ketika orang lain sudah melangkah menuju surau/masjid di sisi lain kita mungkin masih enggan beranjak dari dalam selimut. Tidak hiraukan seruan dari surau.... ash shalatu khairun minan naum... **** Cinta kepada orang lain melebihi cinta kepada suami, cinta kepada liputan berita daripada mendirikan sholat maghrib dan cinta kepada kehangatan selimut kita daripada bergegas ke surau adalah suatu pilihan yang diberikan Allah Swt bagi kaum yang berakal. Sudahkah kita termasuk ke dalam orang-orang yang berakal? Sudah pantaskah kita menjadi khafilah di bumi Allah ini? Marilah kita bersegera sujud memohon ampun kehadirat-Nya atas segala keterlenaan kita dan atas keterbiusan kita akan gemerlap duniawi yang sebenarnya tiada kekal. "Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." (Al-Baqarah:269) Lalu, cinta manakah yang akan Anda pilih? Wallaahu'alam bishshowab. (Rosanti K Adnan/yose@ratelindo.co.id)

Khutbah Idul Adha: Selamatkan Bangsa dan Negara dari Kehancuran Total

Publikasi 10/02/2003 10:34 WIB Allahu Akbar 3 x Allahu Akbar Wa Lillahilhamd. Ma'asyiral Muslimin jama'ah shalat iedul adlha rahimakumullah. Hari ini ummat Islam berkumpul untuk memperingati peristiwa bersejarah. Peristiwa wujudnya sosok pemimpin dunia pertama yang patut menjadi teladan sepanjang masa. Pemimpin itu, dialah Nabi Ibrahim as. yang disebut sebagai abul anbiya yang kisahnya banyak diabadikan dalam Al-Qur'an. Allah Swt. berfirman: "Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhanya dan ia bisa menuanaikannya dengan sempurna, Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku jadikan kamu sebagai pemimpin." Ibrahim berkata: "Dan dari anak turunku (ya Allah)? Allah berfirman: "Janji-Ku (tentang kepemimpinan) tidak berlaku atas orang-orang yang dhalim." (QS. 2: 124) Ayat ini menunjukkan bagaimana proses lahirnya seorang pemimpin yang tepat, bahwa pemimpin itu tidak sembarangan, dan bukan pula karena atas dasar keturunan, darah, maupun gelar dan status sosial. Seorang pemimpin hendaknya lahir setelah melalui proses ujian dan seleksi tarbawi secara ketat, seperti sosok nabi Ibrahim, yang kemudian mencetaknya menjadi pribadi yang sangat kuat terutama dalam keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Maka kalau seorang itu dhalim, siapapun dia kendatipun keturunan nabi Ibrahim sekalipun, tidak boleh kepemimpinan diberikan kepadanya. Kepemimpinan adalah suatu amanat yang sangat menentukan dalam kehidupan. Rasulullah Saw. bersabda: "Jika amanat itu disia-siakan, maka tunggulah saatnya kehancuran. Seorang sahabat bertanya, "Bagaiamana menyia-nyiakan amanat itu?" Rasulullah bersabda: "Jika diberikan amanat itu kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saatnya kehancuran." (HR. Bukhari) Allahu Akbar 3x Walillahilhamd. Ma'asyiral muslimin Rahimakumullah Apa yang dinyatakan oleh Rasulullah saw. itu benar-benar kini kita rasakan bersama. Semenjak merdeka tahun 1945 hingga hari ini kita telah salah dalam memberikan amanat kepemimpinan ini sehingga kita dipimpin oleh orang-orang dhalim yang jauh sekali dari sifat dan keteladanan yang diberikan oleh nabi Ibrahim. Akibatnya kini negeri kita benar-benar bangkrut, berada di ambang kehancuran. Secara ekonomi, negeri kita ini sudah tidak punya apa-apa. Bayangkan utang luar negeri kita, sudah mencapai lebih dari Rp. 1.500 trilyun. Jika utang itu dibebankan kepada setiap jiwa dari penduduk Indonesia, maka setiap orang termasuk bayi yang lahir detik ini terbebani utang tidak kurang dari 10 juta Rupiah. Kini pemerintah tidak mampu lagi membayarnya. Jangankan membayar pokoknya, untuk sekedar membayar bunga (riba)nya saja sudah tidak mampu.

Pantas jika kemudian negara harus menjual aset-asetnya dengan harga yang amat murah. Industri-industri setrategis yang melayani hajat hidup orang banyak sekalipun terpaksa harus dijual dengan harga yang sangat rendah. Dalam waktu yang tidak lama lagi mungkin semua perusahaan besar menjadi milik luar negeri. Jika itu yang terjadi sama saja kita bangsa Indonesia menjadi tamu bahkan pengemis di negaranya sendiri. Dalam keadaan seperti ini, jangankan melakukan politik luar negeri yang bebas dan aktif, sedangkan untuk melindungi kedaulatan negara dari intervensi asing saja sudah sulit dilakukan. Kenapa Indonesia -- misalnhya-- tidak bisa bersikap tegas, mengutuk agresi AS ke Afganistan dan kini ke Irak bahkan ikut-ikutan dalam kampanye anti terorisme ala Amerika dan terbelenggu mengikuti apa saja kemauan AS dalam soal ini meskipun harus menggadaikan bangsa sendiri? Tak lain karena negara ini sudah tergadai. Takut tak diberi utang. Takut investor asing akan lari. Takut tak diberi bantuan. Takut dikucilkan. Takut..takut.. dan takut.. Itulah kenyataan yang dihadapi. Indonesia hari ini betul-betul sudah sangat bergantung kepada luar negeri. Mulai dari beras, gula, kedelai sampai buah-buahan didatangkan dari luar negeri. Terhadap bahanbahan pangan saja kita sudah tergantung dengan luar negeri, apalagi terhadap barangbarang industri. Mana produk dalam negeri kita saat ini? Mobil, motor, sampai jarum jahit semua adalah impor. Padahal kita sudah merdeka 57 tahun. Kita bertanya-tanya, apa arti kemerdekaan itu? Inilah bila suatu negara itu diurus oleh penguasa-penguasa yang bodoh, fasiq dan dholim, yang tidak seharusnya suatu urusan diserahkan kepada mereka. Mereka tidak tahu dan masa bodoh bahwa sebenarnya penjajah Barat tidak pernah rela negara-negara timur itu merdeka pasca era Imperiaslisme. Maka lewat jalur ekonomi, Barat selalu berusaha menjadikan negara-negara timur khususnya Indonesia yang berpenduduk muslim terbesar agar sepenuhnya bergantung kepada Barat. Strategi ini nampaknya sudah berhasil dengan menjadikan Indonesiua misalnya sepenuhnya bergantung pada utang luar negeri. Tanpa utang luar negeri, Indonesia tidak bisa membangun; tanpa utang luar negeri roda pemerintahan juga macet. Dari mana sumbernya untuk membayar pegawai negeri? Dari mana sumbernya operasional departemen-departemen? Sebagian terbesar diambilkan dari utang, sekali lagi dari utang. Kebutuhan pokok rakyat saja mulai bergantung pada pasokan luar negeri. Beras harus impor, kedelai impor, gula impor, daging impor, buah-buahan impor. Maka wajar bila, rupiah menjadi semakin tidak berharga dan barang-barang itu semakin melangit jauh di atas kepala. Bayangkan, bila misalnya karena suatu hal, lalu negara-negara pengekspor beras menghentikan pasokannya, kita rakyat indonesia mau makan apa?! Allahu .. 3x walillahilhamd. Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-sauadara sekalian rahimakumullah. Di sisi lain, sungguh sangat meperihatinkan, betapa kemerosotan moral yang melanda bangsa ini sudah semakin parahnya. Tak masuk akal, dalam situasi ekonomi seret sepert ini, justru omset Narkoba meningkat drastis. Menurut catatan, omset Narkoba setiap harinya mencapai 2 milyar. Jika dihitung sebulan berarti 60 milyar. Jika dikalikan setahun

berarti 720 milyar, suatu angka yang fantastis. Dengan uang sebanyak itu sudah banyak kiranya anak-anak putus sekolah yang dapat dibantu, para pengungsi dan korban bencana dapat ditolong. Tapi tak habis pikir, bagaimana uang sebesar itu digunakan untuk menggali kuburan sendiri. Mengkonsumsi Narkoba sama halnya dengan membangun lubang kematian diri sendiri. Menjadi orang tua sekarang harus waspada, jangan sampai membiarkan anak-anaknya bebas memilih pergaulan. Orang tua harus tahu dengan siapa anak-anaknya bergaul di luar rumah, sebab dari pergaulan itulah bermula segala perilaku menyimpang, termasuk nyandu narkoba. Jika anak sudah mulai merokok, segera ditegur dan dihentikan. Survei telah membuktikan bahwa merokok merupakan pintu pembuka pengguna narkoba. Mulanya sekedar merokok, kemudian minum, kemudian ganja, dan seterusnya nyandu. Jika sudah sampai pada taraf ini, maka segala perilaku menyimpang, termasuk seks bebas akan terjadi pada mereka. Sungguh sangat mengerikan. Apalagi jika diingat bahwa rehabilitasi terhadap pecandu narkotika sangat sulit dan jarang sekali yang bisa sampai tuntas. Membiarkan anak kecanduan narkoba sama halnya dengan membunuh anak kita sendiri, membunuh masa depannya. Mereka lemah fisik, lemah pikiran dan lemah mental. Tak ada yang bisa diharapkan dari mereka. Selain narkoba, podan pornoaksi juga marak di mana-mana. Dengan sangat mudah dan murah VCD porno bisa didapat karena dijual bebas di emper-emper toko di pinggir jalan. Belum lagi di tempat-tempat rental (penyewaan), mereka menyiapkan CD porno secara terang-terangan. Siapapun boleh membeli atau menyewa, termasuk anak-anak di bawah umur. Pemerintah dan aparat keamanan bukannya tidak mengerti masalah ini, tetapi mereka tidak berbuat apa-apa. Inilah yang kita sesalkan. Belum lagi media bacaan, TV dan radio. Tayangan film dan iklan sekarang sudah banyak yang di luar adat ketimuran. Norma kesopanan dan norma agama dilanggar begitu saja. Adegan-adegan yang memancing nafsu birahi lolos begitu saja tanpa sensor. Pertanyaannya sekarang, apakah kita relakan anak-anak, generasi masa depan ini dirusak moralnya oleh produk-produk elektronik seperti TV, radio, VCD porno dan lain-lain? Tidak, kita tidak rela. Dengan alasan apapun kita harus selamatkan bangsa dan negara ini dari degradasi moral. Kebebasan berpendapat dan berekspresi tidak boleh sampai merusak moral dan akhlaq bangsa. Allahu Akbar … 3x walillahilhamd. Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-sauadara sekalian rahimakumullah. Keadaan gawat dan genting ini bukannya menyadarkan kita untuk bersikap prihatin. Bapak-bapak kita yang di atas, yang kita pilih untuk membawa bangsa dan negara ini keluar dari krisis ternyata hanya sibuk mengurus dirinya sendiri. Sibuk dengan rebutan jabatan dan kursi, sibuk dengan pembagian rezeki. Kapling otaknya hanya dipenuhi hasrat untuk memanfaatkan kedudukannya saat ini dan bagaimana mempertahankannya

pada pemilu 2004 nanti. Mereka berfoya-foya tidak peduli dengan penderitaan rakyat, kecuali satu dua orang diantara mereka berhati nurani. Oleh karena itu, mulai saat ini kita harus cerdas dalam memilih pemimpin. Jangan asal memilih orang, apalagi dalam pemilu yang akan datang, semua mereka akan dipilih secara langsung. Presiden dipilih secara langsung oleh rakyat, anggota DPR dan DPRD dipilih secara langsung, menyusul kemudian gubernur dan bupati, mungkin juga dipilih langsung. Hendaknya kita sadar bahwa sudah berulang kali kita salah pilih dan tertipu oleh pemimpin-pemimpin yang culas. Ada pemimpin yang hidupnya diwarnai dengan syahwat dan birahi, ada yang hanya mengeruk harta dan kekayaan, ada yang buta hati, nurani dan sebagainya. Saat ini kita sangat membutuhkan pemimpin-pemimpin yang memenuhi syarat, yang amanah, jujur dan berakhlaq. Sudah terlalu lama bangsa ini dipimpin oleh para penguasa yang culas, yang memeras dan menindas rakyat. Kebangkrutan bangsa ini adalah akibat ulah mereka. Dalam keadaan negara yang sudah berada di ujung tanduk ini, semestinya seluruh komponen bagsa sadar dan melakukan instropeksi, kemudian mengambil langkahlangkah strategis untuk berbenah diri. Kita harus keluar dari krisis. Kita harus mentas dari kerusakan moral, kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Kita harus mempunyai visi yang sama dalam membangun negeri ini kembali. Kita tetap optimis bahwa di antara ribuan pemimpin dan calon pemimpin, masih ada yang memenuhi kreteria tadi. Kita bangun negeri ini bersama pemimpin yang adil, berpengetahuan, amanah, jujur dan berakhlaqul karimah. Dan akhirnya marilah kita renungkan firman Allah Swt, sebagaimana yang tersebut dalam Surat Toha ayat 124-126: "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan." Semoga kita tidak termasuk orang yang berpaling dari peringatan dan ajaran Allah Swt. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami, kedua orang tua dan saudara-saudara kami kaum muslimin semua, baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup. Ya Allah hanya kepada-Mu kami mengabdi, hanya kepada-Mu kami sholat dan sujud, hanya kepada-Mu kami menuju dan tunduk. Kami mengharapkan rahmat dan kasih sayang-Mu. Kami takut akan azab-Mu kerena azab-Mu pasti menimpa kaum fasiq.

Ya Allah jagalah kami dengan Islam dalam keadaan berdiri. Ya Allah jagalah kami dengan Islam dalam keadaan duduk dan jagalah kami dengan Islam dalam keadaan tidur. Jangan jayakan orang-orang kafir atas kami. Ya Allah Yang menyelamatkan Nuh dari taufan badai dan banjir yang menenggelamkan dunia, Yang menyelamatkan Ibrahim dari kobaran api menyala, Yang menyelamatkan Isa dari salib kaum durjana, Yang menyelamatkan Yunus dari gelapnya perut ikan, Yang menyelamatkan Nabi Muhammad dari makar kafir Quraisy, Yahudi pendusta, munafik pengkhianat, pasukan ahzab angkara murka… Ya Allah Yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya Ya, Allah tolonglah saudara-saudara kami yang sedang didholimi di negeri ini, di Ambon, Maluku, Aceh, di Kosovo, di Chechnya, di Palestina, di Afghanistan, di Irak dan di tempat-tempat lain dari bumi-Mu. Ya Allah hancurkan pasukan Amerika dan Israil yang telah berbuat angkara murka, membunuhi hamba-hamba-Mu dan berbuat kerusakan di alam semesta. Ya Allah jangan biarkan mereka (orang-orang kafir) berbuat semena-mena terhadap kami, rumah-rumahMu dan anak keluarga kami. Ya Allah lindungilah kami dari tipu daya, makar dan kedholiman kaum kafir. Ya Allah satukanlah barisan kaum muslimin, dan cerai-beraikanlah barisan kaum kuffar, munafikin dan musyrikin. Ya Allah kumpulkanlah hati-hati kami di atas dasar kecintaan kepada-Mu, pertemukanlah pada jalan keta'atan kepada-Mu, satukanlah di jalan dakwah-Mu dan ikatlah di atas janji setia demi membela syari'at-Mu. Ya Allah padukanlah jiwa-jiwa ini sebagai pasukan yang berjihad dan berjuang di jalan-Mu. Ya Allah lepaskanlah dan jauhkanlah dari kami penguasa-penguasa yang dholim, penindas dan fasiq. Anugerahkan kepada kami pemimpin yang beriman dan bertaqwa, yang menjadikan Kitab-Mu sebagai landasan kepemimpinannya, yang mau menerapkan syariat-Mu, yang membawa kami ke jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhoi. Ya Allah berikan kepada kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi yang menangis dalam sujud malam-nya, tak henti menyebut kami dalam akhir hayatnya: ummati.. ummati.. ummatku.. ummatku; pemimpin bagai para kholifah yang rela mengorbankan semua kekayaan demi perjuangan, yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera, yang lebih takut dosa dari pada hilangnya pangkat atau harta. Ya Allah selamatkanlah kami, anak-anak kami, keluarga kami, negeri kami dan ummat kami dari badai krisis, lilitan utang, fitnah dan dosa yang membinasakan. Ya Allah janganlah Engkau goyangkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk, dan tetapkankan hati kami atas agama-Mu.

Ya Allah jadikanlah hari terbaik kami sebagai hari pertemuankami dengan-Mu, jadikanlah amal terbaik kami sebagai pamungkasnya, dan jadikan usia terbaik kami sebagai akhir ajal kami. Ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari suul khatimah….Ya Allah anugerahkan kepada kami husnul khatimah Ya Allah limpahkanlah rahmat, ampunan dan hidayah-Mu kepada kami semuanya. Aamiin aamiin ra Rabbal ‘alamiin. Muhammad Syamlan Sekum MUI Propinsi Bengkulu E-mail: syamlan2001@plasa.com

Terima Kasih!
Publikasi 06/02/2003 09:46 WIB eramuslim - Nicodemus (32) dan Abdul Rohim (23), Anda pasti tak mengenalnya. Seperti saya, sebelum media-media massa hari ini memberitakan jatuhnya Gondola seberat 2 ton yang membawa dua lelaki naas itu saat sedang melakukan aktifitas rutinnya membersihkan kaca Gedung Bank Indonesia (BI). Jatuh dari lantai 13 dan terhempas di lantai 5 bersama dengan benda seberat 2 ton di gedung tersebut, jelas membuat keluarga Nicodemus dan Rohim menangis kehilangan orang yang dicintainya. Setelah kejadian naas tersebut, seolah dua nama tersebut dikenal orang, meski dalam waktu sepekan bisa dipastikan sudah hilang oleh derasnya arus informasi di kota sebesar Jakarta ini. Saya, seperti juga Anda tak pernah mengenal dua lelaki itu, bahkan bisa jadi sebagian besar pegawai BI pun tak pernah mengenalnya meski hampir setiap hari mereka hadir dan melakukan sesuatu untuk (gedung) mereka. Mungkin diantara mereka ada yang berkata: “Ya Allah, kasihan sekali” atau “oooh... itu yang namanya Nico dan Rohim”. Dan bisa jadi ada yang bertanya, “Yang mana sih, koq saya nggak pernah tahu”. Ada dua hal mutlak yang ada pada diri manusia, pertama, waktu yang dimiliki manusia itu terbatas. Dan kedua, manusia yang satu tidak akan pernah bisa hidup tanpa manusia yang lain. Bahwa waktu yang kita miliki itu terbatas itu suatu kemutlakan yang tidak bisa dibantah. Bukan hanya dalam hitungan jam yang tidak pernah lebih dari menjadi 25 jam perhari, tetapi lebih jauh dari itu, setiap manusia semestinya menyadari batas waktu yang diberikan oleh Allah. Tidak ada satu makhluk pun yang akan hidup kekal, seperti halnya bumi tempat kita berpijak ini pun akan hancur pada masa akhir nanti. Kemutlakan kedua, setiap manusia sebenarnya tak bisa membantah hal ini, namun terkadang tidak sedikit yang menafikan keberadaan, keterlibatan maupun partisipasi manusia lain dalam setiap kesuksesan, prestasi, keberhasilan dan kemenangan yang diraihnya. Nah, kaitannya dengan kemutlakan kedua inilah sedianya setiap kita

menyadari status manusia sebagai makhluk sosial yang –setidaknya- telah teringankan sebagian besar beban hidup ini dengan adanya manusia yang lain. Seperti Nico dan Rohim yang setiap hari membantu orang lain menjadikan pemandangan keluar melalui jendela kantor Bank Indonesia tidak nampak kusam. Bayangkan jika tidak ada orang seperti mereka yang mau menanggung resiko terjatuh dari lantai 13. Begitu juga dengan para office boy yang sudah menyiapkan teh atau kopi panas di meja kerja bahkan sebelum sempat kita duduk. Bagaimana dengan para pembantu rumah tangga yang setiap hari melayani kebutuhan Anda dan keluarga, terbangun lebih awal dan tidur paling akhir. Mungkin kita bisa berkilah, karena telah membayar keringat mereka, selain juga mereka yang membutuhkan pekerjaan itu. Bahkan ada yang cukup sarkas menganggap bahwa sudah nasib mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Nico dan Rohim, para office boy, pembantu rumah tangga kita, tukang sampah yang mengangkut sampah dari rumah, sopir bus ataupun sopir pribadi, mereka mungkin tak pernah berharap tips, imbalan atau bonus lain dari apa yang sudah menjadi hak mereka. Mereka tak pernah iri dengan kenaikan gaji atau pangkat kita, tak pernah bermimpi suatu saat tak lagi menghidangkan teh atau kopi panas karena mereka sangat sadar betapa berbedanya mereka dengan kita. Tak pernah terbersit dalam benak para pembantu kita akan menjadi majikan yang kerap dilayani. Tapi, apakah kita pernah menghargai kerja mereka? Bahkan sekedar mengucapkan terima kasih. Ketinggian jabatan, pakaian yang bagus dan mobil mentereng, juga status sebagai majikan, bukan alasan untuk tak sekedar mengucapkan terima kasih atas jasa-jasa mereka. Sungguh, sebagian dari kita ternyata sudah membuktikan, ucapan terima kasih yang tulus kita alamatkan kepada mereka atas setiap pelayanannya, cukup membuat mereka tersanjung dan merasa diri sebagai manusia yang utuh. Dan buat kita, jangan kaget jika hanya karena ucapan ringan itu kualitas pelayanan dan pengabdian mereka kepada kita akan lebih meningkat. Tapi sayang, sebagian kita memang egois dan tak tahu rasa bersyukur. Bahkan sampai orang-orang ‘kecil’ yang telah banyak membantu kita itu telah menemui kemutlakan pertama, kita tak pernah menyapa mereka dengan kasih sayang. Masih ingatkah kita terhadap pembantu rumah tangga yang pernah sekian tahun mengabdi? Dimana mereka sekarang? Masih hidupkah mereka? (Bayu Gautama)

Not In My Back Yard
Publikasi 05/02/2003 08:15 WIB eramuslim. Not in My Back Yard Kata-kata itu saya dapatkan saat saya mendengarkan salah satu talk show pagi hari. Not in My back yard – bukan di pekaranganku, dengan kata lain “menjaga pekaranganku”. Kedengarannya memang tidak terlalu berarti. Tapi, bisa juga sangat berarti –kalau kita mau merenungkannya. My back yard– pekaranganku, apa sih pekaranganku? ada apa di

pekaranganku? apa hak dan kewajibanku atas pekaranganku, bagaimana aku memanfaatkanya? Mengapa sih harus dijaga? dan lain-lain. Selintas saya merenungi “my back yard” sambil mengayun kaki menikmati pagi. Pekarangan kita –agak luas lagi- tempat tinggal kita, sebidang tanah yang kita tinggali setiap hari. Kehidupan keluarga kita berdenyut tiap hari di situ. Milik kita, jadi apapun bisa kita lakukan di situ. Tapi, apa iya ‘benar-benar’ milik kita? Lantas teringat saya baitbait puisi renungan dari Rendra, “Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya, bahwa hartaku hanya titipan Nya, bahwa putraku hanya titipan Nya, tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini padaku? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?” Ternyata, pekarangan kita bukan milik kita, jangankan pekarangan dan rumah, ternyata ‘tubuh dan jiwa kita’ bukan milik kita, namun milik Sang Pencipta, Allahu Rabbii. Dan kita telah berjanji bahwa sesungguhnya hidup dan mati ini untuk-Nya. Tapi, untuk apa semua ini Kau titipkan pada kami, Ya Tuhan, apakah kami mampu mengemban amanah ini? Astaghfirullah, sering kita merasa tak yakin, dan kurang mampu memahami bahwa Allah menciptakan kita dengan sebaik-baiknya dan well-equipped, untuk itu diwajibkan atas kita untuk melakukan dua fungsi utama, sebagai ‘abdun’ (hamba Allah) dan Khalifah fil ardh (khalifah di bumi). That’s it, kita semestinya memperlakukan dan mempergunakan segala yang di’amanah’kan kepada kita berdasarkan tatanan dan aturan Allah. “Apa aku sudah melakukan itu yaa?” pikirku. Tiba-tiba brakk!! Saya menabrak kursi rusak yang dibuang di selokan. Astaghfirullah, renungan saya terhenti. Terlihatlah oleh saya, selokan macet penuh air dan sampah, beberapa inchi lagi airnya meluber ke jalan. Kondisi selokan itu benar-benar sangat memprihatinkan, padahal sekelilingnya penuh dengan rumah-rumah yang bagus. Astaghfirullah, saya ingin sekali membersihkan selokan itu mengingat musim hujan segera datang, tapi selokan itu bukan di lingkungan rumah saya. Bisa-bisa malah menimbulkan salah persepsi bagi yang tinggal di sekelilingnya. Spontan saya ingat selokan depan rumah saya, di lingkungan pekarangan saya, apakah juga mengganggu orang lain? Cepat-cepat saya pulang dan memeriksa selokan di depan rumah, ‘not in my back yard (NIMBY)’ – bukan di pekaranganku!! Tiba-tiba saja kata-kata itu lebih berarti. Kedengarannya NIMBY memang sepertinya ‘egois’, tapi kembali kalau kita mau mengembangkan maknanya. Hal tersebut bisa menjadi langkah awal kita untuk

melakukan perubahan, tentunya ke arah yang lebih baik. Jika setiap orang melakukan gerakan NIMBY, setidaknya mau menjaga dirinya, keluarganya, lingkungannya dari halhal yang merugikan dan hal yang terlarang. Dari lingkungan yang kecil -keluarga, melebar menjadi satu RT, meluas menjadi satu kampung, membahana menjadi satu daerah, yang kemudian Insya Allah seluruh daerah di negara tercinta ini terjaga. Bumi Allah akan terjaga. Mulai dari hal-hal yang kecil-menjaga selokan agar bersih- sampai hal-hal yang paling besar, menjaga hati dan keimanan kita agar tetap bersih sehingga dapat menjaga ‘amanah’ Allah. Insya Allah, diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, negara kita dapat terjaga dari sengsaranya musibah. Insya Allah, banjir tak akan mengancam, narkoba tak mampu menjamah, korupsi tak lagi trendy, kemiskinan bukan tak dapat teratasi. Ya Allah, berilah kekuatan dan petunjuk pada kami untuk menjaga amanah-Mu dan mewujudkan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghaffur. Amien. (Sitta Izza Rosdaniah/sitta@rocketmail.com)

Menjembatani Langit dan Bumi
Publikasi 03/02/2003 08:54 WIB eramuslim - Kebijakan-kebijakan pemerintah yang melakukan divestasi Indosat, privatisasi asset-asset negara, menaikkan harga-harga BBM, Tarif Dasar Listik (TDL), Telepon yang menyebabkan kenaikan di berbagai sektor lainnya. Semakin menegaskan jarak antara pemerintah dengan rakyat yang jelas-jelas menolak semua kebijakan tersebut. Rakyat berpikir, semua kebijakan pemerintah itu tak satupun yang didasari atas kepentingan jangka panjang, atas kepentingan dan kemaslahatan orang banyak, melainkan kepentingan sesaat yang semakin memburukkan keadaan rakyat sudah terperosok selama sekian tahun sejak krisis ekonomi melanda negeri ini. Kebijakan pemerintah dan harapan rakyat ibarat langit dan bumi. Yang pada kenyataannya, selama malaikat pesuruh Allah belum meniupkan sangkakala pertanda hari akhir, tidak akan pernah langit menyatu dengan bumi. Namun jika secara fisik keduanya tidak bisa bertemu, bukankah masih ada harapan kesenyawaan itu tercipta ketika hati dan pikiran orang-orang yang dilangit menjemput yang di bumi? Jika terlalu berat bagi yang dibumi untuk menghusung hati ke atas, bukankah lebih ringan bagi yang berada diatas untuk turun? Penguasa yang cerdas selalu peduli terhadap pola pikir rakyat yang diperintahnya. Itulah salah satu kunci keberhasilan suatu kepemimpinan yang paling mendasar. Saat ini, pemerintah mempunyai pola pikirnya sendiri, sementara masyarakat juga memiliki pola pikirnya sendiri. Memaksakan pola pikir yang satu terhadap yang lain tentulah hanya akan melahirkan konflik. Selanjutnya, sudah pasti akan muncul berbagai praktek kekerasan yang timbul akibat tumbuhnya benih-benih perlawanan, ketidaksukaan dan perbedaan.

Maraknya aksi-aksi mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat akhir-akhir ini, awalnya hanya sekedar ‘pemaksaan’ pola pikir pemerintah yang tidak sejalan dengan kepentingan rakyatnya. Pemaksaan yang dilanjutkan dengan sikap tegas dan represif kekuatan kekuasaan terhadap siapapun yang tidak sejalan, sesungguhnya merupakan potret awal keruntuhan. Teori manapun yang pernah kita pelajari berkenaan dengan perubahan mengajarkan, tidak akan pernah suatu perubahan (progresif) tercipta tanpa adanya kesatuan antara orang-orang yang di depan dengan mereka yang memberikan kepercayaan penuh kepada yang di depan. Membangun sebuah peradaban baru, perlu kesatuan yang utuh antara orang-orang berpendidikan, intelektual yang dipercaya sebagai pemimpin suatu bangsa, dengan anggota masyarakat dari bangsa itu sendiri (Ali Syari’ati). Masalahnya kemudian, ada kesenjangan hubungan, tidak adanya kontak dari hati ke hati antara langit dan bumi. Sekali lagi, untuk sementara langit memang takkan pernah menjumpai langit, tapi sejauh apapun jarak itu bukankah tetap bisa tersatukan ketika hati dan pikiran keduanya duduk menyatu dalam satu kepentingan, dalam satu tujuan selayaknya orang-orang terdahulu di negeri ini melakukannya saat merumuskan bentuk dan kelahiran bangsa, ketika bahu membahu membidani perjuangan memerdekakan negeri bernama Indonesia ini. Semestinya setiap penguasa belajar dari sejarah, bahwa kejatuhan yang pernah dialami oleh hampir semua pemimpin adalah saat langkahnya tak lagi seiring dengan orang-orang yang dipimpinnya. Begitu juga dengan negeri ini, mendiang Presiden Pertama RI, Soekarno sangat menyadari artinya rakyat bagi sebuah bangsa, pemahaman yang teramat mendalam dari Soekarno itu tercermin dari pidatonya pada tahun 1957: “Dulu itu kita semua adalah ‘rakyati’, dulu itu kita semua adalah ‘volks’. Api pergerakan kita dulu itu kita ambil dari dapur apinya rakyat. Segala pikiran dan angan-angan kita dulu itu kita tujukan kepada kepentingan rakyat. Tujuan pergerakan kita dulu itu adalah satu masyarakat adil dan makmur bagi rakyat.” Kalaulah Allah begitu teramat sering menjumpai hamba-hamba-Nya di bumi, melihat langsung dari dekat setiap bulir air mata ummat yang menetes di sepanjang malam. Begitu juga dengan para malaikat (makhluk langit lainnya) yang penuh kearifan menghampiri anak-anak Adam dan melaporkan kepada Tuhan setiap aduan, keluhan atau bahkan jeritan ketidakberdayaan manusia menjalani hidup. Kalaulah para Nabi dan Rasul Allah memberikan teladan bagaimana menyentuh hati rakyat, mengangkat yang jatuh, menggandeng yang lemah dan bahkan mengutamakan kepentingan rakyat diatas semua kepentingan diri dan keluarganya. Jika pemimpin-pemimpin di negeri ini masih menjadikan Allah sebagai sesembahan mereka, masih percaya adanya malaikat-malaikat yang senantiasa hadir bersamanya, dan menempatkan Rasul sebagai teladan hidup, semestinya mereka mau turun ke bumi.

Anak-anak dalam Kepompong Jalanan
Publikasi 31/01/2003 08:55 WIB

eramuslim - Jakarta diguyur hujan, jalanan basah. Suasana pagi kelam diwarnai macet jalanan oleh orang-orang yang berangkat kerja. Di setiap halte dan beberapa emperan perkantoran, tampak tubuh-tubuh kecil dengan baju yang basah kuyup. Padahal di tangannya yang kurus terpegang sebuah payung besar, lebih dari cukup untuk melindungi tubuhnya. Namun payung tersebut tidak terkembang. Setiap saat anak-anak tersebut mengacungkan payung kepada mereka yang baru turun dari bus atau mobil. Satu demi satu lelaki maupun perempuan yang berjas, berdasi maupun blazer melintasi jalan dengan pemandangan khas. Mereka menapakkan kaki hati-hati seakan takut air yang kotor menodai pakaian mereka yang bersih dan licin di bawah payung lebar, sementara di sisinya atau di belakang si bocah mengikuti. Tanpa payung, bermandikan hujan! Mereka adalah bocah-bocah yang baru berumur 10 tahun ke bawah. Dengan kaos oblong yang sudah tidak jelas warnanya, lengket di tubuh karena air hujan. Sebuah tanya terlintas, siapa bocah malang tersebut? Di pagi hari di mana anak-anak lain berangkat sekolah menenteng tas dan bekal, mereka hanya menenteng sebuah payung besar. Ketika sebagian yang lain tinggal di rumah bergelung selimut tebal, ditemani makanan dan minuman hangat, tubuh mereka menggigil kedinginan dengan perut yang keroncongan. Di manakah ayah-bunda mereka berada? Beberapa hari lalu, ketika siang di Jakarta bermandikan cahaya matahari yang bersinar terik, saya naik bus kota. Bus penuh sesak. Di antara deru bus dan himpitan penumpang tampak seorang bocah yang berusaha menyalip tubuh-tubuh besar di sekitarnya. Bocah usia enam tahunan tersebut bermata bening, dengan penampilan yang lusuh dan kotor. Dengan krecekan dari tutup botol dan suara cadelnya yang cempreng, ia menyanyi. Usai satu lagu, tangan kurus tersebut mengulurkan bungkus plastik bekas permen yang kosong. Mengharapkan kepingan logam dari penumpang yang entah mendengarkan atau tidak. Nampaknya tidak banyak keping yang berhasil ia kumpulkan. Kemudian dengan lincah tubuh mungil tersebut menerobos pintu dan meloncat dari bus yang masih berjalan pelan tertahan macet jalanan. Di manakah ayah-bunda mereka? Bagian lain Jakarta, keramaian pasar tradisional melahirkan suara hiruk-pikuk yang khas. Di sela kesibukan berbelanja, anak-anak usia belasan tahun mengulurkan tangan menawarkan jasa membawa belanjaan! Masih di bagian lain Jakarta, tampak anak-anak yang mengemis, menyemir, mengelap kaca mobil, menjual makanan, menjual Koran. Begitu mudah tertangkap mata pemandangan seperti itu di sebuah ibukota negeri bernama Jakarta. Mereka masih terlalu muda, tapi kekerasan hidup telah menempa mereka menjadi pribadi yang lain. Bukan lagi dunia anak-anak yang diwarnai gelak tawa dan bermain. Melainkan sebuah aktivitas untuk mencari sesuap nasi. Sebuah dunia orang dewasa yang terlalu cepat mereka masuki. Di mana busur -meminjam perumpamaan Khalil Gibran-- yang telah melesatkan anak panah tersebut? "Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur," kata

Gibran. "Sebagaimana Dia mengasihi anak panah yang melesat, demikian pula Dia mengasihi busur nan mantap," demikian penggal puisi tentang anak yang ditulisnya. Lalu, karena kurang mantapnya busur inikah, yang telah mengantarkan anak-anak tersebut ke gerbang yang belum saatnya mereka masuki? Padahal begitu masuk, hanya kerasnya hidup orang dewasa yang akan mereka rasakan. Sebagai anak panah, tentu mereka merindukan busur yang mantap yang akan mengantar mereka pada sasaran yang tepat dalam ukuran kemanusiaan. Sebuah keluarga dengan ayah-bunda yang penuh kehangatan dan rezeki yang cukup. Bila ternyata panah itu meleset dari sasaran, adakah mereka berhak menyesali? Mengingkari :"…Dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada di rahim. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal" (QS. Luqman : 34). Mereka yang terlahir dari rahim yang kurang beruntung adalah anak-anak masyarakat. Semestinya ada tangan-tangan yang terulur untuk membantu mereka. Tetapi di zaman ini orang-orang dewasa terlalu sibuk dengan kepompongnya sendiri. Dan anak-anak itupun diserahkan kepada jalanan sebagai kepompongnya. Semoga saya dan Anda tidak termasuk mereka yang dimaksudkan QS. Luqman: 18 : "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." Naudzubillahi min dzalik, semoga Allah melindungi kita, melindungi anak-anak kita, melindungi anak-anak zaman. Mari ulurkan tangan buat mereka. (Eva Deswenti dari Yayasan Martabat, Yayasan yang memberi santunan pendidikan bagi anak-anak dhuafa. yayasanmartabat@yahoo.com) Yayasan Martabat Jl. Kali Anyar II RT 008/ RW 001 No. 3 Kelurahan Kali Anyar, Kecamatan Tambora Jakarta Barat Telp. (021) 6346954

Ibu Indonesia
Publikasi 30/01/2003 09:11 WIB eramuslim - Bukan sesuatu yang ringan ketika seorang ibu melepaskan anaknya menuntut ilmu sambil mondok di sebuah pesantren. Si anak tertua yang cerdas dan masih duduk dibangku sekolah dasar. Tidak pula sesuatu yang menentramkan hati bila seorang ibu tak bisa lagi memandangi wajah anaknya diwaktu malam, ketika tengah pulas tertidur. Hanya demi kepentingan masa depan buah hatinya, ia berupaya meredam rintih sedih itu semua. Dan meyakinkan diri sekuat-kuatnya, bahwa anaknya akan beroleh ilmu

dan pengajaran dari guru yang lebih baik. Ilmu yang lebih dari yang dapat ia berikan selama sang anak masih bersamanya. Memang ia tak menunjukkan raut muka sedih ketika memandangi kamar baru anaknya yang sederhana. Memperhatikan meja belajar, lemari pakaian, serta tempat tidur susun, tempat anaknya akan tinggal bersama beberapa anak lainnya. Dia malah tersenyum saja dan berkisah tentang hal-hal yang menggembirakan kepada anaknya sambil duduk beriringan disisi tempat tidur. Memeluk dan meninggalkan buah hatinya di seberang pintu gerbang, kemudian menunggu kendaraan umum yang akan mengantarnya kembali. Namun seorang ibu tetap lah seorang wanita. Bagaimanapun ia tegar dihadapan anaknya, tak kuasa ia menyembunyikan perasaan di depan Rabb-nya. Betapa ia kesulitan ketika membaca Al-Qur’an selepas maghrib seperti biasanya. Tenggorokannya seakan-akan terasa sesak, nafasnya pendek-pendek. Hingga seringkali ia bisa membaca ayat demi ayat dalam kitab suci itu hanya dalam hati saja. Isak tangis juga sering terdengar di keheningan malam dalam kepasrahan tahajjudnya. Saya masih ingat beberapa kata dalam do'anya yang nyaris tak bersuara. "Ya Allah, hambamu ini hanya lah seorang ibu yang biasa, tak ada sesuatu yang istimewa kecuali amanah yang Engkau berikan. Wahai Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, hanya kepada-Mu hamba titipkan nasib dan masa depan anak-anak hamba. Ya Allah lindungilah mereka, karuniakanlah anak-anak hamba keberkahan, tinggikanlah derajatnya, terangkanlah pikirannya, jernihkanlah hatinya, selamatkanlah mereka di dunia dan akhirat." Lalu ia menyebut nama suami dan anaknya satu persatu. Dan selepas shubuh berjalanlah ia ke pasar sebagaimana biasanya, menggelar dagangannya seperti para pedagang lainnya. Tentu akan banyak ibu-ibu pejuang seperti itu di tanah air kita. Berjuta jumlahnya dan terserak dimana-mana. Berpuluh tahun mereka melakoni episode kehidupan yang amat berat untuk sebagian orang, mungkin juga kita diantaranya. Bagi mereka, kesusahan itu sudah tak dirasakan kesusahan lagi saking biasanya. Kepedihan dan keperihan menjadi sesuatu yang normal karena seringnya. Kini, beban kesulitan itu akan lebih menekan lagi. Payahnya mencari nafkah, berbagai jenis persoalan hidup yang lebih berat sudah berderet antri di depan mata. Harga-harga barang sudah merambah naik, sementara tak ada jaminan bahwa penghasilannya mereka juga akan bertambah. Tak ada gaji ataupun tunjangan untuk besok hari dan hari-hari berikutnya. Yang ada hanyalah terus-menerus kerja lembur dan "mematikan" berbagai keinginan atau kesenangan memiliki barang. Di depan manusia mereka menjadi golongan kecil dan lemah saja. Menjadi bagian masyarakat yang tidak penting untuk dicatat dalam sejarah bangsa yang besar seperti Indonesia. Sebuah negeri yang banyak meyimpan cerita kemewahan para pejabat dan pengusahanya. Cerita kejayaan pemimpin dengan kekuasaannya. Kenangan akan kefleksibelan hukum dan peraturan yang dibuat oleh ahli-ahli hukumnya. Tapi yakinlah bahwa itu semua tak paralel dengan senyum dan kebahagiaan sebagian besar rakyatnya.

Tidak mesti senada dengan ibu-ibu pedagang kecil yang semenjak shubuh sudah tertatih menggendong barang dagangan. Demikian jauh perbedaan kehidupan antara rakyat dan pejabat yang mengurusinya. Begitu lebar ketimpangan sosial orang kaya dengan rakyat biasa. Betapa ibu-ibu kita begitu bersih hatinya. Tak ada dendam, tak ada makian atau kata-kata kotor lainnya. Allah Maha Tahu betapa mereka amat sulit hidupnya. Kesulitan yang seringkali diabaikan saja oleh golongan lainnya, bahkan oleh orang-orang yang diberi amanah untuk memimpin mereka. Orang-orang yang semestinya membantu perbaikan nasib dan mensejahterakannya. Betapa bangsa kita amat berhutang pada ibu-ibu mulia itu. Mungkin karena do'a dan air mata pengharapannya, karena perih dan letih yang disimpan saja, Allah masih bersabar terhadap kelakuan manusia lainnya di muka bumi ini. Banyak orang kadang merasa besar dan penting, lebih berpendidikan serta berwawasan luas. Kekuasaan dan ketinggian jabatan yang dicapai sering menjadi bandrol harga penghargaan yang harus diberikan orang. Merasa sudah berbuat banyak dan mempunyai jasa yang tak terhingga. Hidup sudah sedemikian melambung dan tak ingin kehilangan itu semua. Kemiskinan jadi hal yang harus disembunyikan, kekurangan lantas menjadi pantangan dan harus dipenuhi dengan jalan apa saja. Hilang sudah getaran iba dan rasa sayang pada orang papa dan penuh kesusahan dalam hidupnya. Tak pernah berusaha menemani kesedihan "wong cilik" walau sebentar saja. Menatap seorang ibu pada suatu siang yang terik, sepulang dari pasar yang jauh dari prasyarat kesehatan, berjalan ibu kita ini kembali dengan dagangan yang hampir utuh. Pulang dengan menangis yang tak keluar. Dan lebih perih lagi ketika hari itu pula si sulung datang mengharap uang untuk membayar pondok dan sekolahnya. Sungguh suatu situasi yang menggetarkan, menatap mata duka sang ibu mulia ini. Kalau saja pada saat itu Sayidina Umar bin Khaththab dihadirkan kembali. Tentulah akan pucat wajah khalifah yang diridhai Allah ini, dan gemetar tubuhnya. Segemetar kala beliau mendapati diantara rakyatnya yang kelaparan di suatu malam. Kalau saja pada momen menggetarkan tersebut, hadir pula orang yang diberikan amanah berupa tanggung jawab untuk memperjuangkan nasib ibu kita... din-din (mukhyidin@yahoo.de)

Kurbankan "Ismail-Ismail" Kita
Publikasi 28/01/2003 09:27 WIB eramuslim - Jum'at, 1 Februari lalu, saya mengantarkan kawan saya suami istri yang pergi ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji. Ketika menutup pintu pagar dan naik ke taxi, istri kawan saya tak kuasa menahan tangisnya karena sedih meninggalkan

anaknya yang baru berusia 14 bulan di rumah yang hanya dijaga oleh pembantu, ibu, saya dan istri saya. Saya yang duduk di jok depan taxi hanya bisa ikut terenyuh mendengar isak tangisnya, hingga saya dengar suaminya berkata, "Sudahlah, kita ini masih beruntung bisa meninggalkan anak kita dalam keadaan cukup, masih ada orang-orang yang menjaganya. Lagi pula dirumah segala macam kebutuhan anak kita sudah tersedia. Bandingkan dengan Ibrahim yang harus meninggalkan istri dan anaknya dilembah yang tandus, tanpa perbekalan apapun, jauh sekali. dan lagi kita ini sungguh telah diberi kemudahan oleh Allah untuk mengunjungi Baitullah, semuanya dilancarkan, saya saja seperti mimpi menjalani ini semua, kamu jangan sedih." Sepanjang perjalanan saya merenungi kata-kata kawan saya tersebut, membandingkan diri kita dengan Ibrahim 'alaihissalaam rasanya memang belum ada apa-apanya, seringkali kita merasa begitu berat meninggalkan atau berpisah dengan orang orang yang kita cintai. Menjelang 'Iedul Qurban besok, satu hal lagi yang patut kita renungkan, apa yang telah dilakukan oleh Ibrahim dahulu, bertahun-tahun ia tidak memiliki keturunan, bisa dibayangkan bagaimana rasanya keluarga yang dibangun bertahun-tahun namun buah hati tak juga kunjung datang, hingga kemudian ketika Allah berkehendak untuk memberikan keturunan, lahirlah Isma'il, tentu kita bisa membayangkan kebahagiaan Ibrahim saat itu. Namun kebahagiaan itu harus diuji lagi, tatkala Ibrahim harus meninggalkan istri dan anak yang dicintainya itu di sebuah lembah yang jauh dan tandus, subhanallah, bisakah anda membayangkan harus meninggalkan istri atau suami tersayang, juga anak anak yang anda impikan dan masih bayi itu berpisah dari anda? Saya yakin mungkin kita akan sedih atau menitikkan air mata membayangkan orang yang paling kita kasihi harus ditinggalkan sendirian. Beberapa tahun kemudian, ketika Ibrahim mendapat kesempatan untuk mengunjungi anak istrinya, dilihatnya Ismail sudah menjadi seorang anak yang gagah, betapa bahagianya ayah yang bertahun-tahun tak menjumpai anaknya dan ketika telah berjumpa anaknya telah besar dan gagah. Namun, sekali lagi Allah tak membiarkan kecintaan ayah pada anak itu berlebihan, maka Allah berkehendak untuk menguji cinta Ibrahim pada-Nya, disuruhnya Ibrahim menyembelih anak yang dicintainya itu, bayangkan... coba anda bayangkan menyembelih orang yang paling anda cintai! Terus terang saya sendiri tak pernah sanggup membayangkannya. Ketika saya mengantar anak teman saya untuk opname di rumah sakit beberapa hari yang lalu, saya sungguh tak tega melihatnya meronta-ronta menangis ketika akan diinfus tangannya. Apalagi membayangkan orang yang saya cintai disembelih, sungguh tak sanggup. Tapi itulah Ibrahim kholilullah (kekasih Allah), cintanya pada Ismail berdiri kokoh diatas landasan kecintaannya pada Rabbnya. Maka menyembelih anak yang dicintainya menjadi bagian dari kecintaannya pada Rabbnya.

Dan sekarang, untuk membuktikan cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya, saya hanya berpikir, sanggupkan kita mempersembahkan "Ismail-Ismail" kita di jalan Allah? Sanggupkah kita memberikan apa-apa yang paling kita cintai untuk berkhidmat di jalan Allah? Saya berikan tanda kutip pada "Ismail-Ismail" kita, karena bukan saja anak yang kita cintai, apapun yang paling kita cintai sekarang ini adalah "Ismail-Ismail" kita, sanggupkan kita mengorbankannya di jalan Allah? Istri, suami, anak, sudahkan kita arahkan pada jalan Allah? Harta yang kita miliki, sudahkah ianya kita infakkan dijalan Allah dan kita gunakan dengan baik? Mungkin kita sudah menyumbang barang seratus dua ratus perak, atau seratus dua ratus ribu, tapi berapa banyak yang kita tahan? berapa banyak yang digunakan hanya untuk hal-hal yang remeh temeh bahkan sia-sia? Saya pikir Allah tak hanya melihat seberapa banyak yang kita berikan, tapi juga seberapa banyak yang kita tahan, dan seberapa ikhlas kita berikan. Cobalah kalkulasi apa-apa yang menjadi kecintaan kita, apa apa yang menjadi "Ismail-Ismail kita", sudahkan kita sanggup untuk menyerahkannya pada hal-hal yang Allah inginkan? layaknya Ibrahim menyembelih Ismail karena perintah Allah? Jika kita belum siap, atau belum pernah memikirkannya, inilah saatnya untuk membuka Al Qur'an, cari kisah Ibrahim, teladani dan renungkanlah dengan cara membayangkan apa yang terjadi pada Ibrahim adalah keluarga karib kerabat kita sendiri. Dan itulah "Ismail-Ismail" kita, yang dengan rela atau terpaksa harus kita serahkan dan kita kembalikan pada Allah Subhaanahu wa ta'ala. Wallahu a'lam bisshawab "Katakanlah: "Jika Bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." from the Desk of Hilal (hill@ratelindo.co.id)

Cinta Versus Nafsu
Publikasi 27/01/2003 14:25 WIB eramuslim - “Maafkanlah, karena itu lebih mulia” Itulah salah satu pesan Rasulullah yang sangat terkenal. Membalas perlakuan tak adil dan kezhaliman dari seseorang, tidak dilarang. Namun tentu ada alasan yang sangat khusus mengapa Rasul menganjurkan ummatnya untuk memberikan maaf kepada orang zhalim. Mari kita lihat ulang soal maaf memaafkan ini. Perintah Allah berkenaan dengan “maaf” ini termaktub dalam Qur’an Surat Ali Imran ayat 134: “... dan orang-orang yang

menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang”. Menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain, merupakan dua dari ciri orang yang bertaqwa. Nampaknya seperti sesuatu hal yang sangat sepele, dan tak sedikit orang yang menganggap itu sebagai hal biasa yang teramat mudah. Padahal, sungguh teramat berat untuk bisa melakukannya, jika bukan karena seseorang itu telah memiliki kebersihan hati dan ketulusan cinta kepada Allah Swt. Ada satu hadits yang termasuk dhaif, namun dalam hal ini bisa diambil hikmahnya. Usai perang Badr yang terkenal sebagai salah satu perang terbesar dalam sejarah Islam, seorang sahabat mengatakan, “Kita baru saja melakukan peperangan terbesar” Kemudian Rasulullah berkata: “Tidak, perang terbesar adalah perang melawan hawa nafsu”. Meski terbilang hadits dhaif, tak ada salahnya jika kita sepintas “sepakat” bahwa mengendalikan hawa nafsu tidaklah ringan. Kalaulah kita mau membuka catatan sejarah perjalanan hidup manusia, betapa hawa nafsu sudah terlalu sering mengalahkan manusia, bahkan sejak manusia pertama diciptakan. Adam alaihi salam yang telah diberikan limpahan nikmat oleh Allah berupa kesenangan dan kebahagiaan hidup di surga yang tak berkekurangan. Masih ditambah nikmat itu dengan dihadirkannya Hawwa sebagai pelengkap hidup yang membawa kedamaian dan ketentraman. Cukupkah Adam? Ternyata tidak. Syetan menggelincirkan dua manusia itu hanya dengan rayuan buah keabadian yang dihembuskan syetan. Adam (juga Hawwa) tak mampu membendung nafsunya untuk tidak menyentuh buah “terlarang” tersebut. Berlanjut kepada keturunan Adam, Qabil tega membunuh saudara kandungnya sendiri Habil demi mendapatkan calon istri Habil yang lebih cantik. Sejarah juga mencatat nama-nama lain dari zaman ke zaman, Fir’aun dan sederet nama haus kekuasaan di muka bumi ini akan selalu menjadi catatan hitam keserakahan manusia. Begitu juga dengan Qarun dan sejumlah nama orang-orang yang rakus harta. Seiring bergulirnya masa, nafsu manusia pun terus berkembang dan semakin tak terkendalikan. Sedikit punya kuasa, ingin punya harta dan kemudian wanita. Terus dan terus meningkat, ingin meningkatkan kekuasaannya, melebihkan hartanya dan memperbanyak wanitanya. Tidak berhenti sampai disitu, kenikmatan dunia yang telah memalingkannya dari Allah membuatnya cinta akan dirinya, cinta akan dunianya. Dan itu akan melambungkan dirinya kepada kesombongan, dan mengagungkan harga diri yang diukur dengan parameter kekuasaan, kekayaan, kecantikan, ketampanan dan ukuran materi lainnya. Hingga saat ini, takkan pernah terhitung jumlah orang-orang yang pernah terjerumus dan akhirnya jatuh oleh karena memperturutkan nafsunya. Namun demikian, jangan lupa bahwa sejarah pun mencatat dengan tinta emas orang-orang yang menang melawan hawa nafsunya. Orang tentu tak akan lupa dengan nama Yusuf alaihi salam yang menampik rayuan Zulaikha yang cantik jelita, Ali bin Abi Thalib yang urung menebas leher musuhnya setelah sang musuh meludahi wajahnya. Alasannya, ia tak ingin amarah dan nafsunya yang menjadi alasan utama saat ia menghujamkan pedangnya. Siapa yang tak ingat betapa besar kecintaan Abu Bakar kepada Allah dan rasul-Nya sehingga menginfakkan semua harta miliknya hingga tak tersisa untuk perjuangan Islam.

Manusia bisa menjadi sangat mulia karena menahan dan mengendalikan nafsunya. Sebaliknya, manusia mulia pun akan teramat hina dan menjijikkan ketika sedetik saja tak kuasa mengendalikan nafsu. Sebagai contoh, amarah, yang merupakan satu bagian kecil dari semua hawa nafsu yang ada pada diri manusia, akan sangat berpotensi membuat seseorang menjadi sangat hina. Orang yang tak dapat mengendalikan amarahnya, akan terlihat seperti orang bodoh, bahkan gila. Dan ujungnya, bisa dipastikan adalah penyesalan. Pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan sejumlah peristiwa lain yang terjadi di muka bumi ini, sumber utamanya adalah nafsu yang tak terkendali. Oleh karenanya, jangan pernah menyepelekan pentingnya menata hati, membersihkan jiwa dan mengendalikan diri. Karena bukan tak mungkin, pada saat lengah, orang baik dan mulia pun bisa tersungkur oleh sebab nafsu yang tak terkendali itu. Soal memaafkan misalnya, kenapa hanya dengan memaafkan manusia menjadi lebih mulia? Jawabannya tentu sudah menjadi jelas sekarang. Ketika seseorang memperturutkan nafsunya dan tak mempu menahan amarahnya, saat itulah pintu terbuka bagi masuknya syetan ke dalam hati manusia untuk terus memanasi setiap relung di dalamnya. Hingga pada hitungan detik berikutnya, saat api amarah menyala, tak pelak lagi balasan terhadap perlakuan orang lain yang dilakukan biasanya jauh lebih besar, dan lebih menyakitkan. Disinilah syetan berperan menciptakan ketidakadilan, dan kemudia ia juga yang menghembuskan aroma ketidakadilan tersebut kepada lawannya untuk membalas kembali ketidakadilan itu dan seterusnya. Pada akhirnya, syetan akan tertawa melihat dua anak, dua kelompok manusia saling baku hantam. Padahal, kalau saja ia mau memaafkan kesalahan (atau kezhaliman) orang lain, sikap itu tentu tidak akan menjatuhkan derajatnya dimata orang yang menzhaliminya. Seperti halnya Rasulullah yang kerap memaafkan orang yang meludahinya setiap hari, derajatnya tak pernah jatuh sekalipun ia justru menjadi orang yang pertama menjenguk ketika si peludah itu menderita sakit. Itu baru sekedar masalah maaf memaafkan, bukankah jauh lebih mulia orang-orang yang tak serakah harta, mereka yang tak ambisi kekuasaan dan jabatan, juga pria-pria dan wanita yang tak memperturutkan syahwatnya pada jalan yang halal? Adakah yang lebih mulia dari orang-orang yang mampu menahan dan mengendalikan nafsunya karena takut kepada Allah? Hawa nafsu, dari yang kecil seperti bangga diri, tak mampu menahan amarah serta tak mau memaafkan kesalahan orang, sampai yang besar seperti rakus harta, kekuasaan dan juga nafsu syahwat. Semuanya adalah karena kelengahan kita yang membiarkan pintupintu hati ini terbuka bagi masuknya syetan yang memang senantiasa menantinya celah kelengahan manusia. Cinta yang tulus kepada Allah akan membuahkan cinta dan kasih sayang yang juga tulus dari Allah kepada hamba-Nya. Dan dengan cinta dan kasih sayang yang Allah tanamkan itulah, manusia mencintai, mengasihi juga menyayangi sesama makhluk. Jika yang

demikian yang dimiliki oleh manusia selaku hamba Allah, tidak akan pernah cinta berubah menjadi amarah, tak akan pernah kasih dan sayang tertandingi oleh ganasnya hawa nafsu. Orang yang marah hanya karena kekhilafan manusiawi orang lain, berarti ia hanya mencintai dirinya sendiri. Salah satu parameter orang yang mencintai dirinya sendiri adalah, terluka, terhina, atau menaruh dendam terhadap orang yang menyakitinya, menzhaliminya, atau mengkhianatinya. Hamba yang dipenuhi hatinya dengan kasih tulus dari dan karena Allah, tidak akan ada ruang kosong dalam hatinya untuk rasa benci, amarah, apalagi dendam. Jika untuk hal kecil saja tak ada ruang, apatah lagi untuk nafsunafsu besar lainnya. Seandainya David J Schwartz adalah seorang muslim, tentunya dia akan menjadikan Rasulullah dan sederet nama-nama yang memenangkan hawa nafsunya sebagai refrens dalam bukunya yang amat terkenal, “Berpikir dan berjiwa besar”. Selain terus menanamkan cinta tulus kepada Allah, sejatinya kita senantiasa menjaga agar hati ini terus terlindungi agar tak kotor, agar tak terbuka celah masuknya syetan yang menggerogoti benteng-benteng ketegaran di dalamnya. Menentramkan hati dengan dzikir (mengingat Allah) sebagai bukti cinta seseorang terhadap Dzat yang dicintainya, adalah terapi yang tak terbantahkan setiap orang yang mendambakan ketenangan hidup. Selain dzikir, qona’ah dan ikhlas dalam menjalani hidup semestinya juga menjadi modal utama ditengah ganasnya terpaan nafsu yang terus dipanas-panasi oleh syetan. Setelah itu, tak ada lagi yang menjadi kepuasan dari seorang hamba di dalam hidupnya ketika kelak mengakhiri hidup tetap dalam kemuliaan. Sehingga meski tak sedikitpun terbetik niat mengukir nama dalam sejarah manusia yang memenangkan pertarungan melawan hawa nafsu, siapapun yang mengenalnya akan tetap menjadikannya figur dan teladan yang pantas untuk diikuti jejaknya, jika ingin mendapatkan kemuliaan dihadapan Allah. (Bayu Gautama, thanks 4N)

You Are What You Think You Are
Publikasi 23/01/2003 07:52 WIB eramuslim - Di perut kereta rel listrik dalam perjalanan Depok-Jakarta, siang itu, sekitar 14.30 wib, muncul sekelompok pengamen cilik dengan segala atributnya. Sembari mengucap salam, dentam musik mereka membangunkan sebagian besar penumpang yang terserang kantuk. Lalu mengalirlah lagu-lagu lawas bernada gembira, serasa membawa nuansa angin segar pada siang yang cukup suntuk dan gerah. “Oo... Carol…. Gitar, gendang, kecrekan dan lengkingan suara bocah 9 tahun-an itu terdengar begitu riang. Tanpa sadar menarik senyum dan hentakan kaki tiap penumpang KRL yang ada. Seolah tanpa lelah, bocah-bocah itu membawakan 3-4 lagu, hingga ketika bait terakhir nyaris usai, 2 orang mahasiswa yang sejak awal begitu menikmati sajian mereka,

berteriak lantang, “Lagi! Lagi!”. Dan temannya menimpali, “We want more! We want more!”. *** Kawan, terkadang hidup ini terasa begitu berat. Jam kerja yang padat, jadwal kuliah yang penuh, kognitif yang tertekan oleh ujian-ujian, ulah anak-anak yang banyak tingkah, kepenatan yang menumpuk, amanah yang tak habis-habis dan tak kunjung selesai, dan segala problematika kehidupan lainnya, terasa begitu membuat tertekan. Tapi, mari kita tengok dan renungkan sejenak. Lihatlah wajah-wajah bocah pengamen cilik tadi yang begitu riang gembira, tetap menghibur orang lain meski tak pernah tahu apakah sukacita dalam dirinya telah cukup melebur. Mereka hanya bernyanyi, dan itu mereka lakukan dengan demi segenggam logam dan recehan. Dan mereka perbuat semua itu demi mempertahankan hidupnya; mungkin untuk makan, mungkin untuk membayar biaya sekolah yang semakin tidak memanusiawikan rasa, atau mungkin hanya untuk setoran kepada ‘atasan’. Sekali lagi, segala sesuatunya itu dilakukan tanpa keluhan, apalagi duka. Tapi kita, Kawan… Kita yang mungkin telah bekerja dengan sangat nyaman di ruangan ber-ac, yang mungkin telah cukup santai belajar di perguruan tinggi atau sekolah yang kadang tidak pantas disebut layak sebagai tempat menimba ilmu, atau yang mungkin telah berpenghasilan tetap tiap bulannya, yang mungkin tengah sibuk berkutat dengan agenda-agenda ummat, berda’wah, mengajar, mengisi forum-forum kajian, berjibaku dengan berbagai amanah, atau apapunlah namanya. Terkadang masih juga mengeluh dan meratap. “Gaji kecil apanya yang menyenangkan?”, “Dosen killer gimana mau nyaman belajar?”, “Materi segudang gimana mau siap ujian?”, “Murid sedikit dan jarang datang, gimana mau semangat?”, “Makanan itu-itu melulu, gimana mau sehat?”, “SDM sedikit, gimana da’wah mau berhasil?”…. dan berjuta keluhan yang kita lontarkan setiap detiknya. Padahal Kawan, dibandingkan bocah-bocah pengamen tadi, kita jauh lebih beruntung. Ada lembar-lembar rupiah yang tiap bulannya kita terima, ada materi-materi kuliah yang dosen kita ajarkan, ada istri yang siap menyambut dengan cinta dan senyuman, memasakkan makanan, membenahi rumah dan mencucikan pakaian, ada objek-objek da’wah yang dengan adanya mereka, ladang pahala siap dialirkan, ada setumpuk amanah yang jika ditunaikan, akan memberatkan timbangan amal kebajikan, ada buah hati yang siap menghibur perasaan dengan kepolosannya yang menggemaskan, dan berjuta lagi kenikmatan yang mungkin justru seringkali kita anggap beban. Kawan, bukan kesyukuran yang ingin diangkat dalam tulisan ini. Tapi yang ingin ditekankan disini bahwa imajinasi kita-lah penentu segala hal yang kita terima.

Ketika mungkin gaji kecil yang kita peroleh, kita persepsikan sebagai suatu rezeki dari Allah, tentu kita tak akan banyak mengeluh. Ketika ada dosen 'killer' mengajar, kita persepsikan sebagai cambuk untuk giat belajar, mungkin kita akan selalu bersemangat. Ketika para murid yang jarang hadir, kita persepsikan sebagai akibat dari kekurangan kita dalam membawakan materi (pelajaran) misalnya, mungkin kita akan senantiasa termotivasi untuk memperbaiki diri. Ketika amanah yang bertumpuk dan datang bertubi, kita persepsikan sebagai kesempatan ‘tuk meraih pahala sebesar-besarnya, mungkin tak ada lagi wajah-wajah tertekuk dan cemberut. Ketika pelayanan istri yang ‘begitu-begitu saja’, kita persepsikan sebagai latihan untuk qona’ah dengan apa yang ada, mungkin rumah tangga akan senantiasa terasa tenteram. Ketika tingkah polah dan kenakalan para bocah yang mengesalkan, kita persepsikan sebagai ajang untuk melatih kesabaran, mungkin kita akan menjadi orangtua yang begitu dicintai putra-putrinya. Ketika hanya ada segelintir SDM di lingkungan kita untuk berda’wah, kita persepsikan sebagai pembelajaran dari Allah dan peluang ‘tuk meraih imbalan-Nya yang lebih besar, mungkin tak akan ada lagi berbagai keluhan. Begitulah, Kawan. Ternyata persepsi kita, cara pandang kita, paradigma kita dalam mengolah kognisi dan rasa jiwa, begitu menentukan sikap kita dalam menjalani kehidupan. Seperti bocah-bocah pengamen tadi. Mereka mempersepsikan kerja keras menghibur orang sebagai suatu keriangan, senyuman, keceriaan, dan rasa sukacita tanpa setitik pun duka. Padahal mereka tidak tahu apakah dengan berlaku seperti itu, mereka cukup dapat memenuhi tuntutan kehidupan yang bisa jadi jauh lebih berat dari kehidupan kita sekarang. Ya, sebab persepsi mereka membahasakannya sebagai suatu kepositifan, bukan hal yang menyebalkan dan menambah beban. Kawan, ada pepatah barat yang mengatakan, You Are What You Think You Are (Kita adalah apa yang kita pikirkan), maka mengapa kita tidak mencoba mengubah pola pikir kita, persepsi-persepsi kita, untuk menjadi lebih positif dan memandang segalanya sebagai hal yang bukan beban? Jika kita telah berpersepsi demikian, maka insya Allah, kehidupan adalah kenikmatan yang harus kita syukuri setiap detiknya, dan kebahagiaan hakiki pun dapat terasakan oleh jiwa-jiwa yang ikhlas lagi lapang. Nah Kawan, Matahari belum terbit di sebelah barat dan belum tenggelam di sebelah timur bumi. Semoga Dia berkenan memberi kita kesempatan untuk terus memperbaiki diri dalam menghadapi perjalanan yang sangat sebentar ini, salah satunya dengan mempersepsikan segala yang terjadi dalam sebuah kepositifan berfikir, sehingga kita ‘kan terus bersyukur kepadaNya, dalam keadaan apapun. Bagaimana? (indra fathiana, psychofath@yahoo.com)

Masih Lebih Mudah Bagi Kita
Publikasi 22/01/2003 07:49 WIB

eramuslim - Seperti yang sudah saya duga. Sekeping gopekan keluar lagi dari jendela mobil. Penasaran saya makin betambah. Ini bukan yang pertama kali. Sering. Teramat sering malah. Tapi apa alasannya? Sulit bagi saya untuk mengerti. Mereka bukan tak bisa. Hanya kurang berusaha saja. Memberi uang sama artinya dengan memberikan persetujuan dan pembenaran. Sedangkan kita sudah selayaknya memberikan pelajaran. Kenapa dia harus selalu memberi? Tanpa pernah memilih lagi. Dulu. Pertama kali saya menjadi anak buahnya. Seorang penjual pengharum ruangan masuk ke kantor. Meskipun di pintu depan sudah tertulis besar-besar "PARA PEDAGANG DAN PEMINTA SUMBANGAN DILARANG MASUK". Tetap saja tiada hari tanpa pedagang keliling dan peminta sumbangan di kantor ini. Entah mereka sudah bebal atau kebal, saya juga tidak tahu. Penjual pengharum itu berkeliling ke meja-meja pegawai, menawarkan dagangannya. Sebagian cuek, sebagian lagi menolak dengan halus. Ada pula yang menawar, tapi akhirnya tidak jadi membeli. Ketika para pedagang itu sampai di meja si bapak, tanpa banyak kata, si bapak mengambil beberapa buah barang dagangannya dan membayar tanpa menawar. Beberapa kali kejadian semacam berulang. Si Bapak hampir selalu membeli barang dagangan setiap pedagang yang masuk ke ruangan kami. Pernah suatu saat saya bertanya kenapa beliau suka membeli barang dari para pedagang yang ke kantor. "Siapa lagi yang akan membeli kalau bukan kita? Sudah terlalu banyak yang berbelanja di mall. Biarlah saya berbelanja pada mereka", begitu jawab beliau. Namun ternyata bukan hanya itu. Kalau membeli barang dagangan, sebagaimana alasannya di atas, saya bisa menerima dan mengerti. Tapi ternyata dia juga selalu memberi kepada para peminta sumbangan yang bergantian datang ke kantor kami. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa tak semua peminta sumbangan itu benar-benar peminta sumbangan untuk masjid, anak yatim piatu atau sejenisnya. Banyak dari mereka yang menggunakan metode peminta sumbangan untuk menghidupi diri. Dan saya pernah mengingatkan bapak ini tentang hal itu. Tapi ia tak berkomentar. Beberapa hari terakhir, beliau hampir selalu memberikan koran harian pada saya. Beliau tahu saya suka membaca. "Saya tak butuh koran itu," kata beliau. "Lantas mengapa membeli?" tanya saya. "Karena saya tahu tak banyak orang yang membeli koran dari tukang koran seperti dia,". Itu jawabnya. Dan kini? Ini sudah kesekian kali, ketika saya satu mobil dengan beliau karena ada tugas keluar kantor. Peristiwa yang sama terjadi kembali. Beliau memberi uang kepada setiap peminta-minta di jalanan, baik yang memang terang-terangan meminta-minta, mengamen, polisi cepek maupun yang setengah memalak dengan 'berorasi'.

Kali ini saya tak lagi bisa diam. Menurut saya apa yang beliau lakukan tidak mendidik, membuat mereka makin malas, tak mau bekerja keras dan mengharapkan uluran tangan seperti ini. Setidaknya, kalau mau memberi, hendaknya kita pilih-pilih, mana yang tampak betul-betul membutuhkan. Atau, kalau mau berinfak kenapa tidak melalui lembaga yang benar-benar dapat dipercaya akan menyampaikan amanah kepada yang benar-benar berhak? Saya memberondongnya dengan sebuah argumentasi panjang. "Saya tak yakin dengan tidak memberi akan mendidik mereka. Semestinya ada orangorang yang aware dengan program penyadaran itu. Tugas merekalah yang menyadarkan. Sedang saya, hanya ini yang bisa saya lakukan. Mungkin mereka memang tak sungguhsunguh miskin, bisa jadi mereka hanya malas. Tapi saya yakin, jika mereka bisa semudah kita mencari rizki, mereka tak akan melakukan itu semua. Jika karena tak ada yang mau memberi mereka kelaparan, lantas kepada siapa mereka meminta. Kemana mereka mencari? Sedang kita? Kalaupun harta kita habis karena mereka, setidaknya masih lebih mudah bagi kita untuk mencari lagi dengan bekal kemampuan yang diberikan Allah pada kita." Urain panjang lebarnya membuat saya tertegun. Masih lebih mudah bagi kita. Ya, masih lebih mudah bagi kita mendapat rezeki dibanding para tukang koran. Masih lebih mudah bagi kita mencari penghidupan dibanding para pedagang asongan. Masih lebih mudah bagi kita mencari makan dibanding para pengamen jalanan. Masih lebih mudah bagi kita meminta bantuan teman, dibanding mereka, gelandangan tak berkawan. Masih lebih mudah bagi kita. (azimah rahayu, azi_75@yahoo.com)

Karena Bintang Pun Bercahaya
Publikasi 20/01/2003 09:11 WIB eramuslim - Sesekali pandanglah langit di malam hari. Kalau tidak mendung, kita bisa melihat betapa indahnya kelap-kelip bintang menghiasi langit. Ada yang terlihat terang ada yang terlihat meredup. Ada yang terlihat berwarna jingga, ada yang terlihat berwarna biru, ada yang terlihat putih. Semuanya membuat indah walaupun kita sedang di dalam suasana kegelapan malam. Tahukah Anda bahwa sebetulnya cahaya bintang-bintang yang kita lihat saat ini bukan merupakan cahaya yang sebenarnya pada saat ini dipancarkan dari bintang-bintang itu. Bintang-bintang itu sama seperti matahari kita, juga memancarkan cahaya ke bumi. Cahaya itu sampai ke penglihatan kita setelah menempuh waktu yang amat sangat lama. Cahaya itu menempuh jarak dalam satuan tahun cahaya (light year). Kalau biasanya kita menghitung jarak dengan meter, inci, dan lainnya, astronom menggunakan satuan tahun cahaya untuk menghitung jarak yang sangat jauh. Satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam satu tahun. Sedikit angka-angka, kecepatan cahaya dalam ruang hampa adalah sekitar 300,000 kilometer per detik. Sehingga dalam satu tahun cahaya berarti mempunyai jarak 9,460,800,000,000 kilometer, hmmm... sungguh jarak yang luar biasa jauh. Ibaratkan

seseorang yang menempuh perjalan sejauh itu, tentu akan memakan waktu yang sangat lama. Demikian pula dengan cahaya dari bintang yang jaraknya bisa sampai ratusan tahun cahaya. Misalnya bintang Alkaid mempunyai jarak sekitar 101 tahun cahaya dari bumi. Berarti cahaya yang kita lihat dari bintang Alkaid sekarang merupakan pancaran cahaya dari 101 tahun yang lalu. Jadi kita melihat cahaya dari masa lampau. Subhanallah. Selain itu, sebagaimana matahari yang suatu saat nanti tidak lagi beraktivitas, semua bintang mempunyai umur hidup yang menentukan pancaran cahaya yang diberikannya. Beberapa bintang sebetulnya bintang itu sudah tidak ada... sudah mati... sudah tidak beraktivitas lagi, tetapi saat ini kita masih bisa melihat pancaran cahayanya. Subhanallah. Kita diberi Allah suatu keajaiban. Di satu sisi, kita diberi alam semesta yang amat sangat luas, sehingga perlu memakan waktu yang sangat lama untuk mengeksplorasinya. Di sisi lain, kita diberi kemampuan untuk melihat masa lampau dari alam semesta ini, melalui cahaya bintang tadi. Melalui cahaya bintang itu, kita bisa mengukur seberapa jauh bumi kita ini dengan bintang lain. Melalui cahaya bintang itu, kita bisa menggunakannya untuk menghitung berapa lama lagi matahari akan meredup dan menjadi mati. Sama halnya dengan bintang, manusia pun diberi waktu hidup. Nabi Muhammad pernah berkata, bahwa kita ini mempunyai umur sekitar 60-70 tahun. Dalam kurun waktu itu, kalau boleh diandaikan dengan bintang, merupakan waktu dimana kita memancarkan cahaya. Waktu dimana kita bisa memberikan yang terbaik untuk kemaslahatan umat dan mencari ridho Allah. Setelah kita wafat nanti, seperti bintang di langit, kita akan meredup dan tidak beraktivitas lagi. Seperti bintang, 'cahaya' dari diri ini masih bisa terus hidup. Cahaya dalam diri ini masih bisa hidup jika amalan yang kita kerjakan bermanfaat bagi umat. Amalan yang baik dan digunakan terus menerus oleh umat akan selalu membuat diri kita yang sudah wafat tadi masih terus dikenang. Lihatlah nama-nama Newton, Einstein, Galileo dan tidak ketinggalan ilmuwan dan tokoh muslim seperti Imam Bukhari, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan masih banyak lagi yang lain. Mereka tetap dikenang, karena 'cahaya' dari mereka yaitu amal perbuatan mereka berguna bagi umat ini. Apa saja yang sudah kita lakukan? Cukupkah dalam umur begitu pendek, kita mengisinya dengan amalan yang baik? Cukupkah amal yang kita kerjakan membuat 'cahaya' yang kita berikan bertahan? Tinggal bagaimana kita menggunakan waktu kita untuk berbuat baik, sehingga 'cahaya' dari diri kita ini dapat terus menerus menerangi kehidupan orang lain sampai saat ini, walaupun kita sudah wafat. "Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan

sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah." (Qur'an Al Mulk:1-4) Wallahu'alam bi shshawab Zulfikar S. Dharmawan (zulfikar@ukhuwah.or.id)

Tuhan, di Dada-Mu Kutemukan Kedamaian
Publikasi 17/01/2003 08:08 WIB eramuslim - Ya Rabbul Izzati, sekian lama aku mengembara mencari cinta. Terperosok aku dalam kubangan rindu bersulam palsu. Pedih jiwaku, gersang ragaku. Tapi aku tak pernah berhenti memadu rindu, karena ku tahu cinta sejatimu adalah musim semi dalam jiwaku. Allah, kuberharap pengembaraan cintaku membawaku pada sebuah taman. Menuju ke sana, kulalui dengan tertatih-tatih. Kadang terpikir olehku untuk menuntaskan jalan itu agar aku segera sampai. Tapi yang kutemui hanyalah taman yang gersang dan tandus di bawah panasnya terik matahari yang menyiksa jiwaku. Rabbku, telah kupenuhi panggilan-Mu, membawa tubuh ringkih ini melewati jalan yang Kau kehendaki. Telah kucoba melepas segenap yang aku mampu untuk mengatasi beratnya medan yang menghalang. Telah coba kuatasi sedapatnya panasnya hari-hari kulewati. Namun ampuni aku ya Rabbi. Betapa seringnya hamba tertegun ragu, untuk melanjutkan perjalanan yang panjang ini. Semuanya memang dikarenakan kelemahan hati ini yang masih saja berharap mencicipi kenikmatan duniawi. Kinipun hati yang peragu ini masih diguncang gundah. Akankah Kau terima buah karya tangan lemah ini? Akankah Kau hargai, apabila saat ini hatiku masih juga mengharapkan wajah lain selain wajah-Mu. Jika masih juga kunanti senyum lain selain senyum-Mu. Juga masih kudambakan pujian selain dari pujian-Mu. Betapa semakin berat persangkaanku akan kesia-siaan amalanku, jika kuingat Engkau Maha Pencemburu!!! Rabbi, bukan tak ingin aku istiqomah melewati hari-hari. Bukan tak hendak aku sabar menanti janji-Mu. Namun Rabbi, apakah salah jika aku menyandarkan diri pada dinding lain dalam sebuah bangunan Islam-Mu? Angkuhkah aku yang lemah ini Rabb? Salahkah aku yang dhoif ini Rabb? Namun Rabb, lagi-lagi Kau didik aku dalam kealpaan mimpi semuku. Kau dekap aku dalam belaian tarbiyah yang telah banyak mengajarkan aku banyak hal. Tak sanggup kubendung air mata keharuan atas semua belaian ini. Karena aku tahu, tidak semua hamba-Mu Kau perlakukan sama seperti aku. Tersibak juga tirai kelam yang senantiasa menyeret langkahku menjauh dari-Mu, sungguh aku bersyukur atas semua ini. Aku sadar tidak sama pejuang dengan perintang, Kembali ku ingat sebait doa yang pernah kurenda,

tentang sebuah janji yang telah kupatri, tentang azzam yang kutanam dan juga segala amanahku. Mengingatnya, semakin deras air mata ku mengalir, semakin kuat dan kokoh kakiku melangkah. Ternyata tanggung jawab itu besar berada di pundakku. Rabbana, kekuatan apakah gerangan ini, yang mengantarkan kakiku ke dada pelangi. Jauh melesat meninggalkan bayang-bayang. Bergerak bagai awan putih merindukan terang. Kadang kala kabut pekat yang kutemui. Langkahkupun seolah terhenti. Namun aku tidak mau terjebak di dalamnya, sekuat tenaga kucoba berlari, tapi langkah kaki kecilku berpacu dengan nafsu yang menahan jiwaku. Aku bergumul seorang diri, mulutku berteriak, namun suaraku bersembunyi. Beruntung aku masih punya nafas, yang bisa kudendangkan tatkala hatiku sunyi. Dengan nafas itu aku berjalan di atas bumi. Menuntun hamba-hamba-Mu yang mendambakan cinta sejati. Rabb, apakah ini jawaban setiap doa-doaku? Agar Engkau sertakan aku di dalam barisan para salafussholeh?. Apakah ini jawaban setiap rintihanku, agar Engkau jadikan setiap nikmat yang ada pada diriku sebagai mahar yang akan aku persembahkan pada-Mu? Oh Rabbi, ampuni atas segala kelemahan imanku, bimbing aku melewati jalan orangorang bernyali singa, namun aku cukup arif menyadari Rabb, siapalah aku ini, betapa diri ini tak layak disejajarkan dengan mereka. Siapalah aku ini dibandingkan mereka yang senantiasa bersimbah peluh dan debu untuk membuktikan kecintaanya kepada-Mu? Betapa lancangnya aku mengukur diri dengan mereka yang menghabiskan malammalamnya dengan sujud tersungkur mengharapkan ampunan dan cinta-Mu. Ya Rabbana, kesimpulan dari riak-riak hatiku ini, aku ingin sampaikan terima kasihku kepada-Mu. Walaupun syukur dan taubatku sering mungkir, namun lautan kasih sayang dan ampunan-Mu kuyakini tak pernah bertepi Ya Muhaimin, untuk yang kesekian kalinya, kuucapkan terima kasih yang tak terhingga, atas segala cinta dan pelabuhan rindunya. Kau adalah musim semi dalam relung jiwaku. Dalam pangkuan-Mu, terhimpun seluruh kekuatanku, dengan kekuatan itu tanganku memainkan melodi, mulutku menyanyi lagu syurgawi. Izinkanlah ya Allah aku menjadi penyambung cahaya-Mu yang tiada pernah pudar. Allah, Walaupun aku tak layak mensejajarkan diri, tapi aku ingin katakan, tarbiyah telah merubah diriku, melesat meninggalkan angan-angan hampa, bayang-bayang semu, serta dongeng yang tak memiliki cerita. Dalam dekapannya runtuh keangkuhanku, sirna kesombongnnku, lenyap sifat jahiliyahku. Yang ada saat ini bagaimana membentuk diri, seperti yang Engkau kehendaki ... Rabbi, di dada-Mu kupasrahkan kehidupan, di sana kutemukan kedamaian yang abadi, sujudku tak akan pernah merenggang, jemariku kan terus kususun, bibirku akan terus bergetar, memohon agar senantiasa Kau beri aku kebahagiaan, karena memang hanya dari-Mulah sumber kebahagiaan. (Yesi Elsandra, inspirasi dari sebuah tulisan di majalah Ishlah)

Menikmati Hidup
Publikasi 16/01/2003 08:27 WIB eramuslim - Kawan, ingin kuceritakan padamu indahnya menggenjot pedal sepeda membelah persawahan, menempuh jarak 5 sampai 10 kilometer. Angin segar menerpa, cicit burung dan lenguhan kerbau mengiringi setiap putaran roda. Kehijauan sawah sepanjang mata memandang, berbatas cakrawala langit yang biru dengan saputan awan putih di ketinggian. Sebenarnya semua itu biasa saja, karena aku anak desa. Tapi sungguh, keindahan itu menjadi terasa lebih indah karena lima tahun terakhir aku nyaris tak lagi menyentuh sepeda onthel. Ya, lima tahun terakhir aku lebih banyak naik motor atau menggunakan kendaraan umum. Bahkan ke warung tetangga berjarak dua ratus meter pun selama ini aku tak mau lagi naik sepeda. Indah karena sambil menggenjot pedal aku mengenang masa-masa sebelum lima tahun yang lalu. Saat tiap hari aku menempuh puluhan kilometer di atas sepeda jengki atau sepeda mini, bersaing dengan bis kota di atas sadel sepeda. Bermandi peluh saat matahari siang bolong panas membakar, atau bernafas embun saat kabut pagi masih melingkupi. Kini, lima tahun kemudian, aku naik sepeda hanya sebagai selingan, sekedar sarana untuk berolahraga dan berekreasi. Maka nikmat Allah manakah yang (dapat) aku dustakan? Kawan, ingin kuceritakan padamu nikmatnya mengurus ternak. Mencari dan memberi makan ayam, bebek dan kambing. Juga membersihkan kandang mereka dari rantingranting sisa makanan, juga dari kotorannya. Bau khas ayam, serudukan kambing dan kotorannya terasa nyaman. Beberapa jam berkutat dengan mereka memang melelahkan, tapi sungguh terasa nikmat dan menyenangkan. Bagaimana tidak nikmat dan menyenangkan, sedang aku mengerjakan semua itu hanya sekali dua, saat menjalani liburan. Dulu, lima tahun yang lalu, aku harus melakukan pekerjaan itu tiap hari. Dan kini, rasanya indah sekali, mengenang betapa beratnya pekerjaan itu dulu. Maka nikmat Allah manakah yang (dapat) aku dustakan? Kawan, ingin kubagi padamu tentang asyiknya menimba air dari sumur dengan tali. Meskipun lengan sempat kram dan pegal selama beberapa hari, derit roda katrolnya menimbulkan sensasi yang menggembirakan. Tempelasan air yang menerpa teramat menyenangkan. Segar. Dan keasyikan itu berubah menjadi perasaan yang indah, mengenang lima tahun yang lalu aku harus bercapai-capai menimba berpuluh-puluh ember untuk seluruh kegiatan rumah tangga, juga usaha batu bata ibu. Sedang kini, aku hanya perlu menimba saat listrik mati. Maka nikmat Allah manakah yang (dapat) aku dustakan? Kawan, aku ingin engkau tahu, menyenangkan sekali memasak dengan kayu bakar. Kuhembus bara-bara dengan sepenuh tenaga, agar makanan di tungku menjadi masak.

Meskipun itu berarti abu berhamburan mengotori baju, keringat berleleran karena udara panas di sekitar tungku, dan panci-panci menjadi menghitam serta butuh usaha ekstra untuk mencucinya. Kata orang, memasak dengan api tungku lebih enak. Tapi bukan itu yang paling nikmat dari memasak dengan tungku dan kayu bakar, tapi karena aku sudah lebih dari lima tahun tak melakukannya. Ya, selama ini untuk memasak aku tinggal menyalakan kompor minyak atau kompor gas, menanak nasi dengan rice cooker, memasak air dengan ketel listrik. Dan kini, aku menikmati memasak dengan kayu bakar seperti sedang berpiknik. Lima tahun lalu, tiap hari aku bergulat dengan kayu bakar, abu dan tungku. Maka nikmat Allah manakah yang (dapat) aku dustakan? Kawan, hari ini di sini, nikmat sekali aku mengunyah potongan apel, pir dan jeruk mandarin. Buah-buahan itu beberapa tahun terakhir rasanya tak terlalu istimewa bagiku, bahkan sudah menjadi sarapan sehari-hari. Namun kini, rasanya lain sekali. Saat mengulumnya ingatan tentang masa lima tahun yang lalu melintas-lintas. Ya, lima tahun lalu, aku menahan air liur untuk sekedar dapat mencicipi melon, mangga, semangka apatah lagi buah pir, apel merah dan anggur. Tak ada uang untuk sekedar membeli sepotong, sedang jajan di sekolah pun hanya seminggu sekali, ketika ada pelajaran olah raga. *** Kawan, hari ini, aku ingat sekali, sudah lebih dari lima tahun aku menjadi pegawai negeri. Banyak orang mengatakan, menjadi pegawai negeri itu enak. Kerjanya santai, gaji tetap. Tapi selama ini aku merasa tidak nyaman. Pertama karena aku tidak suka bersantaisantai. Kedua, karena peningkatan prestasi dan karir berjalan sangat lambat. Ya, aku merasa kurang beruntung dibanding teman-teman yang bisa sekolah lagi, kemudian bekerja di tempat swasta dengan gaji besar. Aku merasa kurang beruntung dibanding teman-teman yang sudah menjadi para profesional, dengan gelar akademis tinggi. Aku merasa kurang dibanding teman-teman yang sudah mencapai keberhasilan jauuh di atasku: dalam hal keluarga, karir, pendidikan maupun aktifitas sosial. Tapi hari ini aku tahu, bahwa aku pun telah mendapat pencapaian besar. Dulu aku naik sepeda ontel, kini dapat naik motor dan naik bus kemana-mana. Dulu aku harus mengurus ternak untuk biaya sekolah, kini aku memelihara binatang untuk teman. Dulu aku harus berhemat air agar hemat tenaga untuk menimba, kini aku bisa mandi sepuasnya tanpa usaha. Dulu aku harus puas dengan ubi, pisang dan pepaya dari kebun, kini aku bisa sarapan tiap pagi dengan apel dan jeruk. Maka nikmat Allah yang manakah yang (dapat) aku dustakan? Mensyukuri nikmat. Phrase ini terdengar teramat klise. Karena ia adalah salah satu ajaran agama Islam dan agama lain yang hampir semua orang ernah mendengarnya. Namun

kekliseannya tidak membuat kalimat tersebut gampang diaplikasikan. Ada saat-saat dimana kata-kata tersebut begitu abstrak, sulit dimengerti dan berat dilaksanakan. Atau malahan mudah diucapkan, tapi perbuatan tak sesuai dengan yang dikatakan. Padahal ternyata, phrase itu ternyata bisa teramat sederhana. Mengenang kembali lima tahun yang lalu itu, ternyata semua biasa saja. Dulu aku sanggup hidup sedemikian, maka mengapakah sekarang aku lebih tak bahagia? Mengapa aku harus membandingan diri dengan orang lain dan selalu merasa kurang? Dulu aku sanggup menikmati apa yang ada, apa yang diberikan Allah padaku. Dulu, dengan status anak kos sejak kelas 1 SMA, aku sanggup hidup dengan uang 3-5 ribu rupiah seminggu untuk makan, ongkos jalan dan fotocopy. Oke saja bagiku berjalan kaki maupun ngontel berkilo-kilo. Mie sebungkus untuk dua kali makan pun tak masalah. Dan semua itu dahulu biasa saja. Karena saat itu aku malah belum mengenal dunia, dan apa yang kuperoleh sudah terasa cukup. Menikmati hidup. Tampaknya itu saja kuncinya. (Azi_75@yahoo.com, hari-hari seputar lebaran)

Saat Aku Melihatnya …
Publikasi 14/01/2003 07:49 WIB eramuslim. “Ya Allah…. ridhailah hamba …”, kata-kata itu yang selalu terucap saat aku melihatnya. Acara TV itu selalu kutunggu setiap tahun, acara siaran langsung dari Mekkah. Gambar dan suara di TV itu telah mengirimkan sinyal ke otak, dan membuat hati berdebar serta menstimulasi butir-butir air mata yang membasahi pipiku. Labbaikallahumma labbaik, beriring seluruh jama'ah haji menyambut penggilan Allah. Terlihat jelas dari layar gelas itu, mereka bertawaf mengitari rumah-Mu Ya Tuhan, mereka duduk tafakur memanjatkan do’a di padang Arafah, mereka berlari-lari kecil dari Shofa dan Marwah, dan melempar kerikil kecil yang bermakna besar- untuk menghalau iblis jahannam. Aku terhanyut seakan jiwaku bersama mereka. Semua itu, aku saksikan di TV dengan dentuman jantung dan lelehan air mata, seraya tak henti mengucap Ya Allah … ridhailah hamba menyambut panggilan-Mu kelak untuk menjadi tamu-Mu, untuk melakukan haji dan umroh hanya untuk-Mu. Kalau dihitung secara matematis, gajiku sebagai seorang calon PNS tidak akan cukup untuk membiayai impianku– menjadi tamu Allah di Masjidil Haram dan berziarah ke makam Rasulullah di Madinah. Tapi, aku yakin akan firman Allah bahwa kita tidak boleh berputus asa dalam mencapai rahmat Allah. Aku tak bosan-bosan berucap “Ya Allah ... ridhailah hamba…”, setiap saat aku melihat gambar ka’bah dan mendengar talbiyah dikumandangkan. Di suatu malam yang sunyi dalam Ramadhan di bulan Maret 1997, aku berdiri di

pelataran masjid Istiqlal memandang ke langit yang jernih dan berhias bintang, aku menangis menikmati suasana malam itu. “Ya Allah, terima kasih atas saat yang damai ini di rumah-Mu, ridhailah hamba untuk menikmati damainya Masjidil Haram Ya Tuhan”, gumamku. Hamba akan sabar menanti panggilan-Mu Ya Tuhan. Namun rizqiku bukan di tangan Pemerintah, bukan di tangan bosku, bukan di tangan orang tuaku, tapi Penciptaku yang mencukupi dan mendengar do’aku. Rizqi itu datang dari arah yang tak pernah aku sangka. Setelah beberapa bulan aku bekerja tak kenal lelah baik di kantor di pagi hari dan mengajar di malam hari, aku tertegun melihat jumlah saldo tabunganku. Telah cukup bekalmu untuk menunaikan umroh, bisik hati kecilku. Namun, setan mulai membisikbisik dengan segala rayuan dan tipu dayanya berusaha membelokkan niatku. Hampir saja aku tergelincir, tapi Allah menyelamatkan aku. Bergegas aku menukarkan rupiahku dengan US$ yang nilainya semakin naik sampai sekarang dan tidak pernah turun. Allahu Akbar, dengan ridha Allah tersungkur aku bersujud di depan ka’bah, tersedu aku di masjid Nabawi mengingat Rasulullah, menapak kakiku di Masjidil Aqsha. Alhamdulillaah, Ya Allah, telah kaubawa hamba ke tempat yang Kau wajibkan hambaMu untuk mendatanginya. Perjalanan umroh itu menjadi tambahan spirit dalam hidupku, menambah keyakinan akan kasih dan sayang Allah pada hamba-Nya. Hal itu pula yang menguatkan semangatku untuk berusaha mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2. Tahun 1998, aku mendaftar untuk mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Inggris, yang kedutaannya selalu aku lewati jika menuju ke kantor. Setiap aku melintas di depannya setiap hari, dari balik jendela Kopaja secara refleks aku bergumam “Ya Allah … ridhailah hamba …”, kata-kata itu yang selalu terucap saat aku melihatnya. Subhanallaah, di tahun 2000 dengan ridha Allah aku dapat meraih gelar master di Inggris. Kembali ke Indonesia, aku jalani kehidupan sendiri dengan usia yang semakin merambat. Dalam kesepian, di jalan menuju kos-kosan baru aku melihat papan penunjuk jalan itu. Setiap hari aku lewati, sampai aku hafal, ada tanda panah dan tulisan Kantor Urusan Agama di sebelahnya. Setiap hari … spontan aku berucap “Ya Allah, hamba merindukan pendamping hidup”. “Ya Allah ... ridhailah hamba …”, kata-kata itu yang selalu terucap saat aku melihatnya. 11 Januari 2002, dua hari setelah Pak Ustadz menanyakan keputusanku, tanpa persiapan yang rumit namun dengan ridha Allah aku menikah dengan seorang muslim. Betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa KUA yang mencatat pernikahan kami adalah KUA yang tiap hari aku lewati. Allahu Akbar ... Subhanallaah. “Ya Allah … tunjukilah hamba untuk mensyukuri nikmat-Mu ... ibadah hamba, sujud hamba, tangisan hamba tak akan pernah sebanding dengan nikmat-Mu Ya Tuhan. Ya

Allah … ridhailah hamba … untuk senantiasa berada dalam ajaran-Mu”…. Selalu terucap setiap saat aku melihat keindahan dan kebesaran segala ciptaan-Mu Ya Tuhan ... Sitta Izza Rosdaniah (sitta@rocketmail.com)

Satu Pinta Kepada Orang Yang Hidup Mewah
Publikasi 13/01/2003 15:15 WIB eramuslim - Kepada Anda yang masih senang menikmati hidup mewah ditengah-tengah keterpurukan yang terjadi di sekeliling manusia yang lain. Kepada Anda yang gemar menghambur-hamburkan harta disaat orang lain teramat sulit mendapatkan sesuap nasi. Kepada Anda yang tak lagi peduli berapa harta terkuras untuk kesenangan yang penuh kesia-siaan ketika tetangga-tetangganya masih terus menerus merogoh kantong yang jelas kosong melompong sambil bermimpi Tuhan menaruh sekeping logam penebus dahaga. Kepada Anda yang membuang-buang makanan setelah membelinya dengan harga yang sangat mahal, sementara di belakang mereka periuk-periuk kaleng berbunyi nyaring karena tak ada lagi yang terisi diatasnya. Atau bahkan di depan mereka anak-anak jalanan dan pengemis mengais-ngais sisa-sisa makanan dari tempat sampah Anda. Kepada Anda yang tak hentinya gemar memberikan tontonan parade kekayaan kepada fakir miskin dan kaum dhuafa dengan kendaraan mentereng yang hilir-mudik melintasi mata kosong mereka. Kepada Anda yang tak lagi peduli apakah saudaranya bisa makan atau tidak hari ini sementara ia sibuk mengatur menu makan dan jadwal tempat yang mesti dikunjungi demi memuaskan selera gengsi. Kepada Anda yang tak pernah melirik sedikitpun ke arah depan, belakang, samping kanan dan kiri mereka saat puluhan, ratusan bahkan jutaan manusia mengerang menahan lapar, kedinginan dengan pakaian yang tak kenal baru dan bagus, dan mereka yang terkapar tak berdaya bersaing dengan ganasnya kehidupan. Kepada Anda yang terus bangga mempercantik dan memperbagus anak-anak mereka dengan segala model pakaian dan perhiasan, menyenangkan mereka dengan segudang mainan kesukaan, namun tak menghiraukan tangisan memilukan anak-anak yatim di sebelah kamar mereka, di panti-panti asuhan yang bagi mereka, untuk bermimpi mempunyai mainan dan pakaian bagus pun tak berani. Kepada Anda yang masih senang hidup mewah, hanya satu pinta kami, buka mata dan telinga lebar-lebar! Perhatikan dan dengarkan peringatan Allah. Sekarang juga! Karena jika Anda tidak mendengar peringatan Allah, maka kami tidak akan pernah tahu kapan Allah akan membinasakan kami beserta hancurnya negeri ini. “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya

perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancurhancurnya.” (Al Israa:16) (Bayu Gautama)

Tangan
Publikasi 07/01/2003 07:16 WIB eramuslim - Manusia diciptakan dalam bentuk yang sempurna. Salah satu kesempurnaan yang Allah berikan adalah pada tangan kita. Ya, tangan yang sehari-hari kita gunakan. Tangan mengandung unsur mekanika yang begitu sempurna. Begitu sempurnanya, sampai-sampai tangan menjadi inspirasi dalam bidang rancang bangun. Tangan yang begitu kecil dibandingkan dengan tubuh kita secara keseluruhan, dapat mengangkat beban yang beratnya jauh melebihi tangan bahkan tubuh kita sendiri. Kekuatan tangan kita gunakan untuk mengangkat beban. Tangan menjadi inspirasi bagi persendian engsel dalam rancang bangun. Tangan pun menjadi inspirasi dari beberapa alat bantu mekanika lain. Begitu susah untuk mendesain suatu tangan, ketika manusia berusaha pertama kali membuat tangan-tangan buatan. Didapat bahwa persendian tangan manusia mempunyai gerakan yang hampir tidak terhitung jumlahnya. Setiap hari kita melakukan gerakan yang hampir tidak terhitung, yang mana semua gerakan itu ada yang sifatnya refleks atau dalam hitungan detik dan ada yang memang kita inginkan untuk bergerak. Koordinasi dari tangan dengan bagian lain dari tubuh kita gunakan untuk berbagai pekerjaan sehari-hari. Tangan dapat kita putar sehingga bisa untuk membuka sesuatu, seperti pintu, jendela, dan lain-lain. Gerakan tangan pun begitu fleksibel dengan berbagai persendian yang terdapat padanya. Kita dapat bergerak dengan leluasa. Kita dapat leluasa menulis baik dengan pena maupun dengan keyboard. Saat penulis, melakukan kegiatan menulis ini pun menggunakan tangan untuk mengetik pada keyboard. Betapa murah hatinya Allah memberi kita berbagai kemudahan dalam melakukan gerakan-gerakan seperti mengangkat, mendorong, menarik, memutar, dan lain sebagainya. Bukan hanya itu saja! Allah juga memberi kita indera peraba yang paling peka pada kedua jari-jari atau ujung dari tangan kita. Apa yang terjadi jika kita tidak bisa merasakan sesuatu. Apa yang terjadi jika suatu benda yang tajam tidak terasa tajam, tentu setiap hari badan kita akan terluka-luka. Apa yang terjadi jika seorang yang tidak mempunyai penglihatan tidak dapat meraba daerah sekitarnya. Jika ia tidak mempunyai tangan, bagaimana ia akan menggunakan tongkatnya untuk mencari jalan? Dengan tangan kita pun dapat melakukan komunikasi. Bahkan kadang gerakan tangan merupakan bahasa yang universal. Kita berjabat tangan merupakan tanda universal bahwa kita memberikan pesan perdamaian. Kita menadahkan tangan merupakan tanda meminta, kita memberi pun dengan gerakan tangan. Seorang yang tuli pun dapat menggunakan gerakan tangan untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Berbagai kegunaan dan kemudahan telah Allah berikan melalui tangan yang Ia ciptakan untuk kita. Bagaimana kita memanfaatkan maha karya Ilahi ini? Tentu dengan sebanyak mungkin menggunakan demi kemaslahatan kita bersama. Lalu seperti apa yang terjadi sekarang, apakah kita sudah melakukan itu? Hmmm... belum sepenuhnya. Kita masih melihat mereka yang menggunakan tangan untuk mencuri. Kita masih melihat mereka yang menggunakan tangannya untuk menyakiti orang lain. Kita masih melihat mereka yang menggunakan tangan menindas orang yang lemah. Kita masih melihat tangan yang digunakan untuk korupsi. Kita masih lihat tangan-tangan berbuat jahil. Kita masih banyak melihat tangan yang menengadah di bawah, tapi tangan yang di atas sama sekali tidak memberi. Apa yang terjadi jika suatu karya seni tidak digunakan semestinya? Tentu sang pembuat akan merasa terhina dan merasa bahwa apa yang telah dibuatnya telah diselewengkan. Apalagi Allah, Sang Pencipta, yang telah menciptakan tangan dengan sempurna. Bisa kita lihat balasan orang yang tidak mensyukuri tangannya pada ayat berikut: "Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qur'an Al-Ma'idah:38-39) Allah tetap memberi kita wadah untuk memperbaiki diri. Marilah kita bertobat, dan kita syukuri nikmat yang Allah telah berikan melalui kesempurnaan tangan ini untuk membantu sesama. Wallahu'a'lam bishshawab Zulfikar S. Dharmawan (zulfikar@ukhuwah.or.id)

Hari Baru
Publikasi 02/01/2003 11:26 WIB eramuslim - Hening dan gelapnya malam tidak bertahan selamanya. Keadaan itu berangsur-angsur akan berubah. Jika tiba waktunya, sinar matahari pagi akan mulai menyeruak dan memberi cahaya atas kegelapan yang malam bawa. Pagi hari, terdengar suara kokok ayam. Kita pun bangun. Sudah sepatutnyalah kita mengucapkan rasa syukur kepada Allah. Allah telah memberi kita hari baru. Suatu hari dimana kita dapat mengerjakan apa yang ingin kita kerjakan. Hari dimana kita dapat beraktivitas sesuai dengan bidang pekerjaan kita masing-masing. Hari dimana harapan bisa tercapai dengan bekal ikhtiar yang sungguh-sungguh dan tawakkal kepada Allah. Di tengah kesibukan kita, sering kita lupa untuk menikmati keindahan pagi hari. Jangankan menikmati keindahan pagi, mengucapkan syukur atas kehadiran pagi maupun kehadiran diri kita di pagi itu pun terkadang terlupakan. Sering kali, kita begitu terlena

dengan kenikmatan tidur ataupun sibuk mempersiapkan pekerjaan yang akan kita lakukan di siang hari, sampai-sampai kita lupa untuk mengucap syukur bahwa Allah memberi kita kesempatan. Ucapan, 'Alhamdulillah' sudah merupakan bentuk optimisme bahwa hari ini dengan izin-Nya akan kita lalui dengan baik. Dengan 'Alhamdulillah' kita telah mensyukuri kenikmatan yang Allah berikan kepada kita, yaitu kenikmatan untuk dizinkan hidup satu hari lagi. Bersinarnya matahari pagi membatasi dua periode waktu yang berbeda. Pertama adalah periode malam hari dan hari sebelumnya. Itulah waktu dimana apa yang sudah kita lakukan tidak mungkin akan kembali lagi. Waktu yang tidak perlu kita rindukan lagi kedatangannya, karena yang berlalu akan berlalu. Yang lain adalah periode waktu yang akan kita lalui ke depan. Itulah waktu yang perlu kita persiapkan dengan baik. Waktu dimana segala harapan dan impian masih luas terbentang di hadapan kita. Itulah waktu yang harus kita gunakan sebaik-baiknya. Kita bisa melihat dan belajar dari apa yang sudah kita lalui. Akan tetapi tidak ada yang bisa memulai dari kemarin. Semua harus dilakukan dari sekarang. Allah memberi kita suatu keajabaian kepada kita. Kejadian itu terjadi setiap hari di depan mata kita. tidak perlu menunggu setahun untuk berubah menjadi lebih baik. Tidak perlu menunggu hari-hari tertentu saja untuk menjadi baik. Karena sesungguhnya setiap hari Allah telah memberi harapan baru bagi kita untuk berusaha sebaik mungkin bagi kehidupan dunia maupun akhirat nanti. Lupakan yang lampau, mari kita lihat ke depan untuk menuju cita-cita yang selalu kita inginkan, yaitu ridha Allah. "Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari." (Al Qur'an Faathir:13) Wallahu'alam bi shshawab Zulfikar S. Dharmawan (zulfikar@ukhuwah.or.id)

Aqua, Coca Cola, McDonald, ..., ..., ...
Publikasi 31/12/2002 13:34 WIB eramuslim - Sebut saja, Aqua, pastilah orang segera mengkaitkannya dengan air mineral kemasan. Atau sebaliknya, ketika disebut air mineral maka yang disebut pertama adalah Aqua. Bisa dibilang, air mineral adalah Aqua, dan Aqua adalah air mineral. Pendapat ini tidaklah berlebihan karena memang upaya keras dari produsen air mineral kemasan ini patut diberi penghargaan demikian besar, yakni berupa image mendalam dan melekat di hati masyarakat, selain juga tentunya, keuntungan (laba bersih) yang diperoleh perusahaan tersebut.

Ya, Aqua patut mendapatkan semua itu sebagai ‘balasan’ setimpal dari apa yang mereka terima di tahun-tahun awal perusahaan tersebut memulai usahanya. Mungkin tidak banyak dipublikasikan, tapi sebagian orang tahu bahwa kehadiran air mineral dalam kemasan sempat mendapatkan cibiran karena menjual ‘air putih’ yang semua orang (kaya atau miskin) pasti mudah mendapatkannya, secara gratis pula! Vini, Vidi, Vici, semboyan kesuksesan Julius Caesar, ternyata bisa juga berlaku dalam dunia bisnis. Setidaknya, Aqua membuktikan hal tersebut. Karena mereka yakin, bukan sekedar ‘air putih’ yang ditawarkan kepada masyarakat, melainkan kesehatan yang diperoleh dari tubuh yang mengkonsumsi air bermineral. Martin Fox seorang environmental researcher and nutritionist penulis buku Healthy Water For A Longer Life, memaparkan, penelitian terhadap penyakit jantung dan kanker menunjukkan bahwa air sehat adalah yang padat (yaitu yang mengandung kalsium dan magnesium tinggi, sekitar 300 mg/l) dan secara moderat berjumlah TDS tinggi (Total Disolved Solids/Total Pemisahan Kepadatan, yaitu ukuran dari kandungan mineral dalam air). Bagaimanapun, air tanpa mineral hampir sama saja dengan air lunak tanpa kalsium dan magnesium, dan sangat rendah total kepadatan yang telah dipudarkan sehingga sebenarnya sudah tidak sehat lagi untuk diminum. Kualitas Air minum (baik air minum dalam kemasan maupun air PAM), lanjut Fox, penting untuk kesehatan kita. Barangkali hal tersebut kadang menjadi sebuah garis yang terputus terhadap program menjaga kesehatan tubuh Anda. Banyak orang bilang, kunci keberhasilan orang-orang yang sukses terletak pada kemampuannya melihat sekecil apapun peluang, atau kesempatan, dan kedua, seberapa tepat dia memanfaatkan setiap kesempatan yang ada tersebut. Nah, masalahnya adalah hanya sedikit orang yang mampu menangkap peluang-peluang dan kesempatan tersebut yang mungkin saja terus menerus berkelebatan di depan matanya. Kalaupun ada yang mampu menangkapnya, kesalahan kedua kebanyakan orang yang lain, adalah ketidakmampuannya memanfaatkan peluang tersebut sebaik mungkin. Sejatinya, Aqua menjadi contoh bahwa menjadi yang pertama melakukan satu hal yang belum pernah dilakukan kebanyakan orang merupakan satu hal besar yang pernah terjadi dalam perjalanan setiap orang. Orang boleh mencibir di tahun awal mereka menjual ‘air putih’ kemasan, tapi sekarang, Anda pun bisa membayangkan betapa bangganya mereka ketika setiap penjual air kemasan di bus-bus atau kendaraan umum selalu berteriak’ Aqua’ meski yang diusung merk lain. Kebanggaan yang sama, tentu pernah dirasakan O’dol (perusahaan pasta gigi), Kodak (kamera), Jeans (celana yang digandrungi anakanak muda), Supermi (mie instan), Rinso (detergen), dan masih banyak lagi. Belajar dari Aqua, ternyata mereka tidak berhentinya untuk belajar. Banyak pesaing bukan berarti penjualan semakin terpuruk, karena justru semakin membuat mereka kreatif. Ya, kreatif menelurkan inovasi baru merupakan syarat utama keberhasilan. Soal inovasi ini, tentu kita bisa menengok perusahaan-perusahaan besar lainnya yang lebih dulu berjaya, sebutlah Coca Cola minuman khas Amerika, juga McDonald makanan cepat saji yang juga dari negeri Paman Sam itu.

John Naisbitt dan Patricia Aburdence dalam bukunya yang terkenal, Megatrend 2000 menyebutkan Coca Cola sebagai salah satu perusahaan besar yang pertama kali menembus pasar Asia, dan diprediksikan akan terus jaya sampai tahun 2000 (sekarang sudah tahun 2002). Sekedar membuktikan prediksi Naisbitt dan Patricia (keduanya merupakan futurolog) akan keberlangsungan perusahaan-perusahaan yang disebutnya dalam buku tersebut (disebutkan juga, IBM, Honda, Capuccino, dan lain-lain), ternyata semuanya masih eksis hingga sekarang, dan besar! Jika mau belajar, mungkin hampir semua melakukan apa yang disebut Inovasi, demi keberlangsungan usaha mereka. Misalkan, apa sih yang dijual Coca Cola, sejak pertama kali diproduksi hingga sekarang, rasa dan aroma Coca Cola ya tetap sama. Hanya kemudian mereka tak hentinya berinovasi (selain mengeluarkan produk Fanta dan Sprite) misalnya dengan Coca Cola kemasan kaleng, kemasan satu liter (family), kemasan botol plastik (dulu minuman ini hanya tersedia dengan botol beling), botol plastik ukuran besar dan kecil dan masih banyak lagi. Seperti Coca Cola, McDonald, makanan cepat saji juga demikian. Yang dijual ya ayam dengan rasa yang tidak berubah sejak dulu sampai sekarang. Namun sekarang, kita mengenal paket hemat, paket nasi, Nugget, McWing, Mccrispy dan bahkan mereka berkolaborasi dengan Coca Cola, mengingat orang makan pasti butuh minum. Hal sama juga dilakukan Aqua dan minuman lainnya, Inovasi! Tentu sebagai orang yang tidak ingin kalah dalam persaingan, tidak ingin tertinggal oleh laju kehidupan yang semakin kencang, tidak mau terinjak oleh kaki-kaki yang terus melangkah cepat, dan tak menghendaki ketertindasan oleh karena ketidaksiapan diri, semestinya dua hal yang pernah dilakukan orang-orang (perusahaan) sukses diatas juga berlaku pada diri kita, menangkap kesempatan dan memanfaatkannya dengan baik, kemudian tak henti melakukan inovasi. Wallahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama, tidak bermaksud mempromosikan semua merk yang disebut dalam tulisan diatas, apalagi menganjurkan).

Pagi ...
Publikasi 27/12/2002 09:05 WIB eramuslim - Pagi merupakan awal dari kegiatan bagi sebagian besar makhlukNya untuk berikhtiar. Sementara cuaca masih terasa dingin anak-anak sekolah sudah bertebaran di pinggir jalan menunggu kendaraan umum, begitu pula para pegawai kantoran, pabrik, pasar, atau hanya sekedar buruh di proyek-proyek pembangunan rumah. Satu persatu kendaraan mengangkut penumpangnya, dengan berbagai ekspresi yang sering kita lihat, ada yang bercanda, melamun, atau sekedar memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Pada saat berkendara, mungkin tidak terlalu merugikan apabila sejenak kita coba alihkan perhatian pada lingkungan sekeliling. Rumah-rumah, gedung sekolah, pepohonan, dan sebagainya tampak seperti biasanya tidak ada yang berubah, hanya sedikit saja mungkin,

sekolah itu catnya semakin pudar, atau ada pohon kecil yang baru ditanam, atau bahkan ada gedung baru yang dengan kokoh berdiri menjulang. Kendaraan melaju dengan berbagai kecepatan ada yang berjalan perlahan, ada yang menyalip, ada yang membelok dan sebagainya. Tahukah berapa kecepatan kendaraan yang dikendalikan bapak atau ibu sopir itu? Di kota-kota umumnya pada kecepatan sedang sekitar 40-60 km/jam. Lebih jauh lagi, pada kecepatan itu mesinnya sendiri berputar pada kecepatan +/- 2000 rpm (putaran per menit). Mungkin angka ini tidak terlalu berarti bagi kita, namun apabila menengok kembali pada telaah lebih jauh akan diperoleh kenyataan yang menakjubkan. Pada kendaraan umum kecil yang biasa disebut angkot biasanya menggunakan mesin 1000 cc - 1300 cc (1.0 liter-1,3 liter). CC (centimeter cubic) dalam hal ini merupakan kapasitas ruang pembakaran mesin yang digunakan oleh angkot tersebut, sehingga semakin besar angkanya maka ruang bakarnya semakin besar dan tenaga mobil itu semakin besar dan biasanya ukurannya pun semakin besar, seperti sebuah truk sedang dengan mesin 4000 cc atau truk besar dengan mesin 10 000 cc. Secara umum dari data di atas dapat diambil penelusuran bahwa pada sekali proses pembakaran BBM atau satu putaran mesin dihasilkan 1 liter gas buang untuk kendaraan dengan kapasitas mesin 1000 cc atau 1 liter. Melihat kembali kecepatan kendaraan yang melaju sedang dengan kecepatan 40 km/jam dan putaran mesin 2000 putaran/menit, maka dapat diperoleh gas buang kendaraan sebanyak 2000 putaran/menit dikali 1 liter gas buang/putaran mesin atau sebesar 2000 liter gas buang/menit! Padahal mungkin kita berkendara lebih dari 60 menit dalam satu hari atau menyumbang lebih dari 120 000 liter gas pencemar perhari kepada lingkungan kita, Astaghfirulloh! Bandingkan pula dengan kendaraan truk sedang dengan kapasitas mesin 4.0 liter (4000 cc) akan dihasilkan 4000 liter gas buang permenit! Menurut pengamatan Pusat Teknologi Prasarana Jalan, Bandung pada tahun 2000 tercatat bahwa untuk jalan arteri perkotaan terdapat sekitar 2000 kendaraan perjam yang melewati sebuah ruas jalan. Sehingga apabila kita anggap semua kendaraan itu angkot dengan kapasitas mesin 1000 cc maka dihasilkan gas polusi sebanyak 240 juta liter tiap jam! Sulit, sangatlah sulit untuk mendaur ulang udara yang sudah tercemar. Hal ini disebabkan udara sulit untuk dilokalisir, berbeda dengan air, yang umum bisa dipisahkan antara air kotor dan air bersih. Udara adalah universal, betul-betul anugerah kebebasan, tidak membeda-bedakan warna kulit, agama, harta, sakit atau sehat, penjahat, ulama, dan sebagainya. Kita bersama-sama menghirup udara yang sama, bahkan si pelaku pencemaran sekalipun.

Musibah, musibah yang terjadi baru-baru ini mungkin menjadi tidak berarti dibandingkan penghancuran bumi secara masal yang kita lakukan secara gotong royong tanpa disadari. Lebih dahsyat, karena mungkin dalam beberapa generasi manusia berikutnya udara merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup mereka. Walaupun begitu besar produksi limbah terhadap udara kita tiap harinya, kegiatan berkendara merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan. Solusi, meningkatkan kesadaran akan kesehatan lingkungan merupakan solusi terbaik yang relevan pada saat ini. Namun, kesadaran itu sangatlah sulit untuk dikenali karena sifat manusia yang senantiasa khilaf sehingga memerlukan waktu yang tidak sedikit dan perlu kerjasama semua pihak untuk membinanya. Seperti diungkapkan dalam renungan berikut ini, "bila melihat alam yang indah ini tiada terasa kebesaran Allah bila mendapat musibah lupa dirinya hamba nikmat yang datang tiada rasa dariNya patutlah malu kepadaNya karena anugerahNya kepada kita membuat dosa rasa kekesalannya buta hati lebih berbahaya buta mata tidak nampak dunia buta hati tidak nampak kebenaran buta hati ditipu nafsu dan syaitan bahkan dilupakan saja semua rasa bangga dengan dosa bila menyebut neraka tidak terasa akan derunya bila menyebut syurga tidak terasa akan nikmatnya jiwa itu telah mati... atau buta..." (izzatun nissa')

Dan firman Allah Swt tentang orang-orang fasik (durhaka), "... (Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah, sesudah perjanjian itu teguh dan memutuskan apa yang oleh Allah disuruh menghubungkannya, dan mengadakan kerusakan di bumi ini. Merekalah orang-orang yang rugi." (Al Baqarah:27) Dan tidak ada salahnya untuk mengetahui beberapa peraturan pemerintah, seperti keputusan Menteri Lingkungan Hidup KEP-35/MENLH/10/1993 TENTANG AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR "Kandungan CO (karbon monoksida) dan HC (hidro karbon) dan ketebalan asap pada pancaran gas buang: Sepeda motor 2 (dua) langkah dengan bahan bakar bensin dengan bilangan oktana ³ 87 ditentukan maksimum 4,5% untuk CO dan 3.000 ppm untuk HC; Sepeda motor 4 (empat) langkah dengan bahan bakar bensin dengan bilangan oktana ³ 87 ditentukan maksimum 4,5% untuk CO dan 2.400 ppm untuk HC; Kendaraan bermotor selain sepeda motor 2 (dua) langkah dengan bahan bakar bensin dengan bilangan oktana ³ 87 ditentukan maksimum 4,5% untuk CO dan 1.200 ppm untuk HC; Kendaraan bermotor selain sepeda motor 2 (dua) langkah dengan bahan bakar solar disel dengan bilangan setana ³ 45 ditentukan maksimum ekivalen 50% Bosch pada diameter 102 mm atau 25% opasiti untuk ketebalan asap. Kandungan CO dan HC sebagaimana dimaksud di atas diukur pada kondisi percepatan bebas (idling). Ketebalan asap gas buang sebagaimana dimaksud di atas diukur pada kondisi percepatan bebas." Sudahkah kendaraan Anda layak uji emisi ? Komposisi gas buang kendaraan sebenarnya lebih kompleks seperti senyawa nitrogen oksida(NOx), senyawa belerang oksida(SOx), Ozon (O3), senyawa hidrokarbon (HC), H2O, CO, CO2, dan unsur logam berat yang sekarang pemerintah berusaha menguranginya. Pada kota-kota besar seperti New York dengan tingkat polusi tinggi kehadiran gas pencemar ini sudah sangat kentara berupa kabut putih yang sering di sebut smog (smoke and fog) atau kabut asap. Termenung sejenak menatap ke luar jendela, di lantai delapan di hadapan meja resik tempat saya bekerja. Kota Jakarta terlihat indah dari sini, menerawang jauh ke depan gedung-gedung tinggi, masjid yang artistik, dan hijau pepohonan di perumahan penduduknya diselimuti kabut putih yang samar, seperti di negeri awan, ah ternyata hari masih pagi. Segera kubaca email satu per satu sambil berharap ada seorang teman yang mengingatkanku akan khilaf hari ini (Je toi aime aussi mon ami, peri kecil). Jakarta, 23 Desember 2002 Riki Hendriana (Riki@excelcom.co.id)

Yang Berilmu Yang Terpilih
Publikasi 26/12/2002 07:10 WIB

eramuslim - Tercatat dalam sejarah bahwa, daerah di sekitar kepulauan Mediterania tepatnya Sicillia merupakan daerah yang berkembang di bawah ajaran Islam. Selama hampir 3 abad, Islam berkembang dengan pesat di wilayah ini, termasuk dalam hal ilmu pengetahuan. Pada era ini muncul beberapa ilmuwan muslim berasal dari daeah ini. Baru kemudian di sekitar awal abad ke 11, bangsa Norman berhasil mengambil alih kekuasaan di Sicillia. Berakhir pulalah kekuasaan Islam di daerah Mediterania, tapi apakah itu adalah kekalahan bagi muslim? Walaupun secara militer, kekuasaan sudah diambil alih oleh bangsa Norman, secara ilmu pengetahuan muslim tetaplah insan-insan yang mempunyai kualitas yang tidak bisa ditandingi. Ketika Roger II dari bangsa Norman menjadi penguasa di daerah Sicillia, ia mengambil ilmuwan muslim untuk membantu mengembangkan ilmu pengetahuan. Salah satu ilmuwan yang terkenal adalah Al-Idrisi. Al-Idrisi merupakan cartographer muslim yang pertama kali membuat atlas dunia terdiri atas tujuh puluh peta dan dilengkapi dengan data-data geografis yang akurat. Beliau oleh Roger II diberi amanat untuk membuat peta atas wilayah kekuasaan Norman. Al-Idrisi dipilih, karena Roger II mengetahui bahwa secara ilmu pengetahuan muslim merupakan yang terdepan pada saat itu. Di bidang lain pun demikian, bagaimana ia menghormati ilmuwan muslim dengan menjadikan muslim sebagai pemimpin armada maritim-nya. Sehingga pada zaman itu tidak dikenal istilah admiral bagi pemimpin armada laut, tapi dikenal dengan 'emir'. Bahkan karena mengetahui betapa pesatnya ilmu pengetahuan para muslim, ia menjadikan Sicillia sebagai pusat pertemuan antara ilmuwan muslim dengan ilmuwan Eropa yang sebetulnya saat itu masih terbelakang. Apa yang bisa kita ambil sebagai hikmah dari sejarah itu? Kita memang kalah dalam pertempuran. Akan tetapi secara intelektual, muslim tetap menjaga dominasi ilmu pengetahuannya bahkan bagi penakluknya sekalipun. Sebagai seorang muslim sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang semua itu berasal dari Allah. Muslim menganggap ilmu pengetahuan adalah amanat dari Allah. Namun apa yang kita lihat sekarang? Muslim diidentikan dengan terorisme. Muslim selalu dikaitkan dengan kekerasan. Jarang sekali kita mendapat pengakuan sebagai yang paling terdepan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Muslim sekarang lebih memilih untuk melakukan 'protes' dan mengeluh terhadap kedigdayaan negara-negara non Muslim. Bukan saatnya lagi bagi kita untuk mengeluh. Bukan waktunya lagi untuk terus menghujat negara-negara non Muslim. Sebagaimana kita lihat dari pengakuan Roger II terhadap Al-Idrisi, bahwa sebetulnya kita tidak perlu melakukan penyerangan balik. Kita tidak perlu memprotes kepada mereka. Kita tidak perlu melakukan tindakan-tindakan yang justru akan mengindentikkan kita dengan kekerasan. Kita tidak perlu melakukan itu untuk mendapat pengakuan dunia. Yang perlu kita lakukan adalah dengan menjadi insan manusia yang benar-benar menguasai bidangnya.

Jika Anda seorang ekonom, maka jadilah ekonom yang handal dan berakhlak Islami. Jika Anda seorang engineer, maka jadilah engineer yang handal dan berakhlak Islami. Apapun bidang pekerjaan Anda, tekunilah bidang itu sungguh-sungguh dan jadikanlah Islam dihormati kembali sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam. Wallahu'alam bishshawab. Zulfikar S. Dharmawan (zulfikar@ukhuwah.or.id)

Menjadi Ibu
Publikasi 23/12/2002 12:41 WIB eramuslim - "Menjadi Ibu". Ketika SMP dan SMA dulu, selalu itu yang saya tulis pada saat saya mengisi lembar biodata. Untuk teman, untuk guru sekolah, untuk lembaran Osis, Rohis dan lain-lain. Semuanya. Dimana saja, yang menyediakan isian kolom citacita. Tentu saja banyak yang heran. Teman-teman berkomentar ”Cita-cita, kok menjadi Ibu. Kamu kan perempuan! Sudah pasti, tanpa dicita-citakan, suatu saat kamu akan menjadi seorang ibu!”. Ada juga yang bertanya ”Apa maksudnya cita-cita menjadi Ibu?”. Bahkan ada yang meledek ”Cita-cita kok menjadi Ibu. Cita-cita tuh menjadi dokter, insinyur, guru, dan lain-lain”. Ada lagi yang menyindir ”Udah pengin kawin ya? Kok, pengin jadi ibu rumah tangga?”. Dan kemudian, dengan senang hati dan panjang lebar saya menerangkan apa maksud cita-cita Menjadi Ibu. Menjadi (seperti) Ibu (saya). Itulah maksudnya. Itulah cita-cita saya. Kenapa? Pasti, pertanyaan seperti itu pun kembali meruyak. Apa istimewanya Ibumu sehingga kau ingin menjadi sepertinya? Mengidolakannya di saat para remaja lainnya mengidolakan para selebritis dan sejenisnya? Apakah Ibumu seorang wanita karier yang sukses? Bukan, bukan! Ibu saya bukan siapa-siapa. Ibu saya bukan wanita karier, bukan pula -apalagi- selebrities. Tapi kesibukannya melebihi wanita karier. Ibu saya bisa mengerjakan apa saja. Dari pekerjaan rumah tangga (termasuk yang biasanya dikerjakan kaum laki-laki seperti membenahi genteng), mengurus warung kecil di rumah, mengurus sawah, mengurus ayam, bebek, angsa, dan kambing peliharaan kami, bahkan membuat batu-bata. Dulu Ibu saya juga sempat bekerja di konveksi dan mengambil jahitan. Semua itu dilakukannya, utama sekali untuk membantu ekonomi keluarga, karena Bapak yang cuma guru SD di kampung. Selain itu juga untuk membantu keluarga besar Ibu dan sebagai bentuk kemandirian ibu. Beliau memang tidak suka berdiam diri.

Ibu saya bukan aktivis, tapi aktivitasnya juga luar biasa. Ia rajin ‘rewang’ jika ada tetangga yang punya hajat. Ia juga rajin membantu jika ada tetangga yang meninggal, sakit, maupun lahiran. Ibu rajin hadir ke pengajian Yasinan, juga pengajian aisiyah yang diselenggarakan di tingkat kecamatan. Namun, meski aktif di masyarakat, ibu saya tak pernah bergosip, padahal di kampung kami gossip hampir merupakan 'keniscayaan’ seorang perempuan. Termasuk di warung sayur kecil kami, yang tetangga sering mampir namun lebih banyak bergosipnya daripada berbelanja. Karenanya, ibu dicintai oleh semua orang, saudara maupun tetangga. Ibu saya tidak pandai memasak resep-resep umum apatah llagi resep modern. Tak ada kue, cake dan makanan-makanan enak lainnya. Tapi semua yang dimasak ibu lezat. Sering dulu saya bertanya nama masakan yang dibuat ibu. Tapi ibu menjawab tidak tahu, karena memang tidak ada namanya. Masakan itu beliau buat dari bahan yang apa adanya, yang kami miliki di dapur kami. Ya, ibu memang kreatif. Kondisi kami yang berkekurangan tak pernah membuat kami ingin masakan dan kue-kue modern, karena ibu bisa membuat makanan-makanan lezat, meskipun tanpa alat dan bahan memadai. Hingga kami tidak tumbuh menjadi anak yang suka jajan, makanan yang dibuat ibu sudah cukup bagi kami. Ibu bukan pula wanita berpendidikan tinggi. Bahkan SD pun beliau tidak lulus. Tapi ibu pintar dan dulu sering membantu saya belajar. Ibu juga bercita-cita tinggi untuk anakanaknya. Sekolah anak-anak adalah nomor satu baginya. Ketika orang tua-orang tua lain membelikan anak-anaknya baju yang bagus-bagus, saya dan adik saya hanya mendapat baju-baju sederhana (namun tetap terawat rapi dengan seterika arang). Ketika anak-anak lain mendapat uang saku 100 rupiah sehari, kami hanya mendapat 50 rupiah. Tapi di lain pihak, saya tak pernah menunggak bayaran sekolah seperti teman-teman lainnya. Dan buku pelajaran dan perlengkapan sekolah saya cukup lengkap. Ibu juga bukan wong agung keturunan ningrat, melainkan hanya wanita desa yang sederhana. Yang dibesarkan tanpa pendidikan etika dan unggah-ungguh jawa yang tinggi. Tapi beliau cukup mengerti bagaimana bersikap sesuai situasi dan kondisi. Make-upnya hanya bedak tipis dan lipstik murahan. Bajunya pun tak pernah dari bahan sutera atau bordir. Tapi beliau selalu rapi dalam kesederhanaannya. Tentu saja, ibu saya juga memiliki banyak kekurangan, tapi rasanya kekurangan yang dimiliki ibu tak ada artinya dibanding segala ‘keluarbiasaannya’ di mata saya. Kekaguman-kekaguman saya terhadap ibu sempat hilang. Bukan, bukan karena ibu tidak lagi seperti ibu yang dulu. Tapi lebih karena saya kemudian hidup jauh dari ibu, dan menjalani dunia kampus dengan berbagai aktivitas keislaman yang menyita seluruh kekaguman saya. Namun kini, ketika saya kembali banyak berpaling kepada ibu. Ketika saya banyak memiliki waktu berinteraksi dengan ibu lagi, ibu saya masih tetap sehebat yang dulu. Bahkan makin hebat.

Beliau tetap pekerja keras, wanita karier yang kuat. Saat ini, ketika dua anaknya sudah tak lagi membutuhkan biaya, beliau tetap ke sawah, menjalankan warung, dan membuat batu-bata serta memelihara banyak ternak. Beliau tetap aktivis sosial yang baik, yang penolong, yang ringan tangan, tapi tak ringan mulut. Ibu saya bahkan tetap tegar ketika beberapa waktu lalu badai menggoncang keluarga kami. Gosip dan goncangan yang menerpa tak membuatnya berubah. Bahkan, beliau tak pernah menunjukkan kesedihan di hadapan kami anak-anaknya, saat permasalahan itu merundung. Dan yang paling berkesan, meskip pengetahuan agama Ibu minim, namun keyakinannya kepada Allah sedemikian kuat. Suatu hari, ibu saya berkata,” Nduk, ibu selalu berdo’a dan meminta pada Allah tiap habis sholat, semoga kamu mendapat jodoh yang sholeh dan sepadan denganmu. Dan ibu juga minta, semoga jodohmu orang dekat sini saja, agar kalau ibu pengin menengok kalian, ibu tak harus jauh-jauh ke Jakarta. Agar ibu cukup dibonceng bapak, karena ibu pasti mabok kalau naik bis atau mobil”. “Ah, ibu yang realistis dong. Saya kan sudah tujuh tahun tinggal di Jakarta. Darimana jalannya saya mendapat jodoh orang sini?” jawab saya. Ibu saya menjawab kalem, ”Lho, jodoh itu khan urusan Allah. Kita hamba-Nya boleh minta apa saja. Kalau Allah menghendaki, ora kurang jalaran (tidak kurang sebab)". Duh, Ibu. Betapa kesederhanaanmu ternyata menyimpan samudera makna kehidupan yang dalam. Kini, jika saya mengisi lembar biodata lagi yang ada isian cita-cita, saya kembali mengisinya dengan mantap: Menjadi Ibu. (@az, kado hari Ibu untuk para wanita nan tegar penuh cinta) Azimah Rahayu (azi_75@yahoo.com)

Lima Detik Pertama Penentu Sukses
Publikasi 18/12/2002 09:45 WIB eramuslim - Sukses, mungkin tidak satupun manusia di dunia ini yang tak ingin meraihnya, karena bahkan seorang yang berencana bunuh diripun tak ingin mengalami kegagalan. Maksudnya, orang akan menanggung malu teramat besar jika upaya bunuh dirinya ternyata tidak berhasil, meskipun seharusnya ia bersyukur. Mungkin terlalu ekstrim jika yang diambil contoh adalah soal bunuh diri, namun hal itu sekedar ingin memberikan gambaran bahwa untuk hal paling hina pun orang berusaha maksimal untuk merealisasikannya. Apapun, untuk meraih sukses, kuncinya adalah rencana yang matang dan usaha yang maksimal untuk menjalankan semua yang telah terencana itu. Dalam prinsip manajemen, langkah ini biasa dikenal dengan, Rencanakan Apa Yang Hendak Dikerjakan, dan

Kerjakan Apa yang Sudah Direncanakan. Artinya, jika keluar dari prinsip tersebut, bisa jadi satu keniscayaan bahwa kegagalan segera menghampiri Anda. Namun, tahukah Anda apa yang paling menentukan dari semua proses awal menuju kesuksesan ketika hendak memulai satu upaya merealisasikan semua rencana? Rahasia sukses seseorang dalam meraih semua impiannya, entah itu berkenaan dengan karir, hubungan interpersonal atau apapun yang menjadi obsesinya ternyata ada pada lima detik pertama setiap langkah awalnya. Lima detik begitu menentukan? Tepat! Karena yang harus Anda lakukan pada lima detik pertama itu adalah kunci sukses nomor satu yang tidak boleh dilewatkan, satu hal yang sangat mudah dan praktis untuk dilakukan: Tersenyum. David J Lieberman dalam sebuah buku laris yang berjudul, Get Anyone To Do Anything menyebutkan, taktik nomor satu untuk menciptakan kesan pertama yang luar biasa tetapi mudah dilakukan adalah: Tersenyum. Mengapa senyum? Jangan pernah pernah menganggap sepele tersenyum, karena Rasulullah pun memberikan nilai sedekah untuk setiap senyum yang kita berikan kepada saudara kita. Selain itu, senyum mampu menciptakan empat hal yang luar biasa: Menimbulkan rasa percaya diri, kebahagiaan, dan semangat. Dan yang lebih penting, tersenyum menandakan penerimaan yang tulus. Orang yang tersenyum dianggap sebagai orang yang penuh percaya diri karena ketika kita sedang grogi atau tidak yakin dengan diri kita atau sekitar kita, kita cenderung untuk tidak tersenyum. Tentu saja tersenyum menimbulkan kebahagiaan sehingga akan mempertemukan kita kepada orang-orang yang bahagia karena kita melihat mereka dengan cara yang positif. Semangat sangat penting untuk menciptakan kesan yang baik karena semangat itu dapat menular kepada orang lain. Dengan tersenyum menunjukkan bahwa Anda menyenangi tempat dimana Anda berada dan senang bertemu dengan orang yang Anda temui sehingga pada gilirannya dia akan semakin tertarik untuk bertemu Anda. Pada akhirnya, tersenyum menunjukkan penerimaan yang tulus dan menyebabkan orang lain tahu bahwa Anda mau menerima dia dengan tulus. Anda tentu masih ingat pesan sebuah iklan produk parfum pria yang pernah ditayangkan di TV yang berbunyi, “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda …”. Ya, kesan pertama, itulah yang harus Anda ciptakan untuk bisa memulai segalanya lebih lancar sehingga kesuksesan seolah sudah digenggaman Anda. Dan tersenyum, jelas cara yang paling ampuh untuk menciptakan kesan pertama yang mengagumkan. Berkenaan dengan kesan pertama ini, ada sesuatu yang disebut pengaruh pertama, yakni sebuah proses dimana kesan pertama kita terhadap orang lain menyebabkan kita menilai perilaku berikutnya atas dasar kesan pertama kita. Ini artinya, kesan pertama kita terhadap seseorang sangat penting karena segala sesuatu yang kita lihat dan kita dengar selanjutnya disaring melalui pendapat kita yang pertama. Akibatnya, Anda menciptakan citra orang tersebut sebagaimana ketika mula-mula Anda bertemu dengannya dan Anda melihat perilakunya pada masa-masa selanjutnya melalui citra ini. Jadi, apabila kesan pertama seseorang terhadap Anda baik, maka dia akan cenderung lebih baik dalam menilai anda pada masa-masa selanjutnya.

Dimanapun, kapanpun, bersama siapapun, sedang apapun ketika Anda tengah berinteraksi dengan orang lain, jadikan senyum sebagai modal utama Anda. Senyum bisa menjadi senjata yang paling ampuh dalam berbagai kondisi, seperti hubungan interpersonal dan interelasi, saat interview, wawancara dan lain sebagainya. Sebagai ingatan, jangan pernah sia-siakan momentum awal (detik-detik pertama) untuk tidak menjadikannya sebaik mungkin, karena percakapan dan hubungan Anda selanjutnya akan disaring melalui momentum awal ini, dengan demikian akan menciptakan kesan yang sangat baik. Itulah sebabnya mengapa tersenyum itu sangat penting. Lakukanlah dengan segera dan senyum akan menjelaskan banyak hal tentang diri Anda: Semuanya Positif. Wallaahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Jangan Jadi Robot!
Publikasi 17/12/2002 08:45 WIB eramuslim - Mungkin kita sering melihat film fiksi ilmiah dimana terdapat makhluk yang menyerupai manusia tapi bukan manusia, yang lebih dikenal dengan robot manusia. Secara sepintas memang robot itu seperti manusia. Mereka memiliki mata, telinga, mulut, dan berbagai indera lain sama halnya seperti manusia. Dimana walupun secara fisik berbeda, alat indera itu secara fungsionalitas memiliki kesamaan dengan yang dimiliki manusia. Robot itu merupakan salah satu kreasi manusia. Tujuannya adalah bagaimana agar hidup ini dapat lebih dipermudah dengan mendelegasikan pekerjaan yang rutin maupun pekerjaan yang seharusnya tidak dikerjakan manusia. Sebagai hasil kreasi manusia, robot akan selalu mengikuti perintah yang membuatnya. Robot bisa diberdayagunakan di pabrik mobil untuk merakit komponen. Robot itu juga bisa digunakan untuk mengoperasikan tugas-tugas tertentu yang beresiko tinggi, misalnya mengendalikan reaktor nuklir. Sampai mungkin suatu saat kita bisa melihat robot bisa dijadikan sebagai angkatan bersenjata sebagaimana kita lihat di film-film fiksi ilmiah. Saat ini bahkan sudah dibuat robot yang mempunyai kemampuan untuk menambah pengetahuannya sendiri. Inilah yang disebut sebagai Artificial Intelligence (AI). Dengan AI, robot itu seakan-akan mempunyai kemampuan berpikir sendiri. Bahkan kini sudah ada emosi buatan disebut artificial emotion, dimana robot akan mempunyai kemampuan untuk beremosi, sebagai respon atas suatu kejadian. Sehingga pada suatu saat, pengetahuan robot itu bisa saja melebihi manusia yang membuatnya dan merespon berdasarkan emosi. Sampai pada tahap tertentu nantinya bisa saja robot akan mengatakan 'tidak' terhadap manusia pembuatnya. Alhamdulillah, kita adalah manusia. Kita bukan robot yang selalu menjalankan tugastugas yang rutin. Tidak seperti robot, kita bisa saja istirahat dari segala aktivitas kita. Tidak seperti robot, kecerdasan yang ada pada diri kita bukanlah buatan tapi merupakan kecerdasan yang sebenar-benarnya. Tidak seperti robot, emosi yang ada pada diri kita juga merupakan emosi yang memang tidak bisa ditebak keadaannya, karena memang itulah sifat dari emosi. Itu semua telah diberikan oleh Allah, sang Maha pencipta.

Walaupun demikian, sama halnya seperti robot. Dalam kehidupan sehari-hari kita terjebak dalam keadaan yang memaksa kita berperilaku seperti robot. Selain itu terkadang kecerdasan yang ada pada diri kita ini digunakan untuk berpikir dan menghimpun pengetahuan yang tidak membuat kita semakin mendekatkan diri kepada Allah, tetapi justru semakin menjauhkan kita dari Allah. Kita justru akan mengatakan 'tidak' kepada Allah, pencipta kita sendiri. Sampai-sampai kita merasa orang yang paling pintar di dunia ini dan berlaku sombong. Padahal kecerdasan yang kita miliki hanyalah bagian kecil saja dari seluruh ilmu Allah. Sebagaimana firman Allah: "Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Allah, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Allah, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)" (Quran Surat Al-Kahfi:109). Beruntung bagi kita manusia yang diberikan sisi lain yang tidak mungkin ada pada robot, yaitu sisi spiritual. Sisi spiritual itulah yang memungkinkan kita untuk selalu mengingatNya. Bersyukurlah kita yang tetap menjaga sisi spiritual kita, karena inilah yang membedakan kita dengan robot-robot. Karenanya jika kita tidak ingin dikatakan sebagai robot, ingatlah selalu kepada Allah dengan dzikir dan bersyukur kepada-Nya agar kita bisa menjadi manusia yang sebenarnya. "Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya." (Quran Surat At-Tin 1-4). Wallaahu'alam bishshawab Zulfikar S. Dharmawan (zulfikar@ukhuwah.or.id)

Lelah …
Publikasi 16/12/2002 07:33 WIB eramuslim - Kalau ada orang-orang yang masih terus menerus berdusta, aku tidak mengerti, terbuat dari apakah lidah mereka sehingga teramat hebat merangkai kata-kata indah menutupi kebenaran, menyembunyikan hakikat mengedepankan kepalsuan. Padahal sekali saja berdusta, sudah sedemikian lelahnya kita berpikir untuk mencari segudang alasan baru untuk dusta berikutnya, sudah sebegitu kelunya lidah ini terpaksa menari mengikuti irama gendang kepalsuan yang tak hentinya bertabuh. Jika masih ada sebagian orang yang saling mencaci, menghina, menggunjing, berprasangka buruk dan menjelek-jelekkan saudaranya, aku tidak tahu, sekuat apa penciuman dan mulutnya karena pada saat itu ia seperti tengaha memakan bangkai saudaranya sendiri. Seandainya masih beredar orang-orang yang tak hentinya berlaku sombong, angkuh dan takabbur, aku tak habis pikir, sebesar apa dirinya sehingga sangat lancang menantang kebesaran Tuhannya, dan sekuat apa tubuhnya kelak menanggung akibat dari

kesombongannya. Padahal semestinya ia tahu, kesombongan adalah mutlak miliki Allah semata. Sekiranya tetap hidup manusia-manusia yang enggan menyisihkan sebagian harta yang dimilikinya, sementara bertebaran di seluruh penjuru bumi Allah ini anak-anak yatim piatu, fakir miskin dan orang-orang lemah, aku semakin heran, apakah ia selalu berpikir bahwa semua itu diperolehnya murni dari hasil jerih payahnya? Tak pernahkah ia tahu bahwa semua yang ada padanya itu adalah atas kehendak Allah Sang Pemberi Rizki? Yang seandainya Dia berkehendak, dengan sangat mudah pula Dia mengambil darinya? Mungkin saja masih ada segelintir makhluk Allah bernama manusia yang tak bosannya berzina, sungguh aku semakin bingung dibuatnya. Padahal seratus kali ayunan cambuk atau lemparan batu hingga mati bisa jadi satu-satunya alasan Allah untuk memberikan ampunan atas perbuatannya. Dan jika itu tidak dilakukannya, sudah pasti kilatan cambuk Allah di akhirat nanti bukan sekedar mematikan, tetapi menghancurkan tubuh kecil tak berarti ini. Lalu kenapa masih ada yang berani meski sekedar mendekatinya? Umpamanya masih hidup orang-orang yang gemar berbuat maksiat, bangga dengan dosadosanya, sungguh aku tidak akan pernah memahami, setebal apa kulit mereka menahan api neraka Allah, sekuat tubuh orang-orang itu menerima adzab Allah yang tak pernah berhenti. Namun, jika saja ada sebagian kecil dari orang-orang diatas yang berhenti melakukan semua yang dilarang Rabb-nya, ini yang sangat mudah aku pahami, tidak terlalu sulit untuk dimengerti, karena akupun pernah mengalaminya. Aku sangat tahu betul, lelah rasanya terus menerus berbuat dosa. Lelah menahan hentakan demi hentakkan yang bergemuruh di dalam dada ini setiap kali aku melakukan perbuatan maksiat. Dan lelah untuk terus memikirkan ancaman dan hukuman macam apa yang diberikan Allah kelak di hari pembalasan. Astaghfirullaah … (Bayu Gautama)

11 Bulan Pembuktian Paska Ramadhan
Publikasi 11/12/2002 09:31 WIB eramuslim - Apa yang bisa kita ambil dari ibadah selama bulan Ramadhan? Banyak likaliku, suka-duka, maupun pengalaman mengesankan dalam menjalankan roda kehidupan di kala bulan Ramadhan. Dimulai dari dini hari, pada saat dimana pada umumnya manusia masih terlelap, kita memulai aktivitas Ramadhan dengan bersahur. Sahur kita lakukan untuk mempersiapkan diri sebelum berpuasa sepanjang hari nantinya. Walaupun hanya segelas air, itupun sudah cukup, sebagaimana dianjurkan oleh Rasulullah. Dilanjutkan di siang hari, di kala kita sedang beraktivitas. Di tengah terik panas matahari, kita tetap bersabar untuk menahan haus. Demikian pula, ketika beban kerja begitu menekan. Dalam keadaan ingin marah, kita langsung ingat bahwa kita sedang berpuasa. Sehingga amarah menjadi reda kembali. Tidak lupa kita senantiasa menjaga pandangan dari hal yang menjurus maksiat dan sia-sia. Begitu tiba saatnya berbuka, kita lepas lapar

dan dahaga. Rasulullah menganjurkan menyegerakan berbuka dan dengan makananmakanan yang ringan seperti korma. Aktivitas kita diakhiri dengan melakukan ibadah shalat malam. Demikian seterusnya selama satu bulan penuh. Kalau kita mau memikirkan hikmah di balik aktivitas selama Ramadhan, insya Allah banyak pelajaran yang bisa diambil. Dalam memulai beraktivitas kita dianjurkan untuk selalu mempersiapkan diri, sebagaimana tercermin dari sahur. Bagaimana kita akan menjadi manusia yang sukses jika kita tidak mengawali dengan persiapan yang baik. Kita pun dituntut untuk bekerja dengan efektif, yaitu menjauhi perbuatan sia-sia dan maksiat, sebagaimana kita lakukan di siang hari kala berpuasa. Hal ini merupakan kontrol yang efektif bagi manusia. Karena tanpa perlu disuruh atasan, kita akan selalu mengendalikan diri, karena merasa ada yang mengawasi yaitu Allah. Demikian pula di saat berbuka, pelajaran yang bisa kita ambil adalah bahwa dalam hidup kita dituntut untuk senantiasa sederhana. Walaupun kita dapat mengumbar nafsu untuk menyantap hidangan semaunya, kita tetap dianjurkan untuk memakan makanan yang sederhana terlebih dahulu. Satu hal lagi yang tidak kalah penting adalah manajemen waktu yang begitu terjaga di kala Ramadhan. Mulai dari sahur, berpuasa di siang hari, sampai berbuka, kita dituntut untuk selalu mematuhi waktu itu. Setelah melakukan semua rangkaian aktivitas itu, kita diminta untuk mengembalikan semua itu kepada Allah saat melakukan shalat malam. Di dalam hidup ini, demikianlah adanya dimulai dengan berikhtiar semaksimal mungkin dan harus selalu dibarengi dengan tawakkal hanya kepada Allah. Betapa murahhatinya Allah, memberikan pelatihan kepada kita selama Ramadhan ini untuk bisa menjadi manusia yang dapat mengatur hidupnya menjadi lebih baik. Apakah berhasil pelatihan yang Allah berikan ini? Pelatihan di bulan Ramadhan akan berhasil jika kita bisa mengimplikasikannya dalam bulan-bulan selain Ramadhan. Karena sesungguhnya hal itu bisa kita lakukan tidak hanya di bulan Ramadhan. Justru cobaan akan terjadi di sebelas bulan mendatang, apakah Ramadhan kita berhasil atau tidak. Ibadah Ramadhan kita dikatakan berhasil, jika di sebelas bulan ke depan, kita dapat beraktivitas sebaik di bulan Ramadhan. Akan sangat beruntunglah kita yang dapat tetap menjaga ibadah maupun ritme kehidupan seperti di kala Ramadhan dalam sebelas bulan mendatang sampai bertemu Ramadhan yang akan datang, insya Allah. Betapa kita akan menjadi orang yang beruntung, karena setiap hari lebih baik dari hari yang kemarin. Bulan ini menjadi lebih baik dari yang kemarin, dan insya Allah bulan yang akan datang lebih baik dari bulan ini. Ramadhan kali ini lebih baik dari Ramadhan kemarin, dan demikian pula insya Allah Ramadhan yang akan datang kita persiapkan agar lebih baik dari Ramadhan kali ini. Dengan demikian insya Allah kita akan menjadi manusia berhasil dunia dan akhirat. Wallahu'a'lam bishshawab (Zulfikar/zulfikar@ukhuwah.or.id)

Wajah Kemusliman Kita
Publikasi 10/12/2002 09:44 WIB

eramuslim - Siapa yang sanggup menahan rasa sedih yang mendalam ketika perlahanlahan senja terakhir Ramadhan berlalu dan terbenam. Siapa pula yang sanggup menggambarkan perasaan damai dalam suasana gelombang takbir tak berkesudahan di malam menjelang fajar 1 Syawal. Ada getaran perasaan luar biasa yang tak terlukiskan di saat-saat itu. Sedih karena berpisah dengan bulan mulia penuh berkah dan ampunan. Bahagia karena akan bertemu dengan hari yang dijanjikan oleh Allah sebagai hari kemenangan dan kembali kepada kefitrian. Begitu usai ibadah Ramadhan, kebesaran Allah SWT jua yang diserukan. Dengan penuh kesadaran diri, bahwasannya apapun saja yang dilakukan hanyalah berkat perkenan dan pertolongan dari Allah semata. Termasuk juga kesanggupan untuk melakukan ibadah puasa. Kehambaan sebagai mahluk diserukan dalam kumandang pentakbiran akan Kemahabesaran Allah, Tuhan seru sekalian alam yang terkumpul pada-Nya segala puji. Bagi seorang muslim, hubungan dengan Allah akan diperbaiki dan dijaga keeratannya selama sebulan penuh menunaikan ibadah puasa. Dan pantulan dari peningkatan kualitas keimanan itu semestinya akan tercermin dari semakin indahnya ahlak dan perilaku selepas Ramadhan. Seluruh aktivitas kesehariannya sebagai seorang muslim tentu akan lebih bermakna baik dalam interaksi dengan keluarga maupun dengan lingkungan di sekitarnya. Ia pantulkan kembali Kemahapengasihan Allah dalam sikap yang santun dan penyayang kepada mahluk Allah lainnya. Hatinya semakin sadar akan beratnya beban amanat yang dipanggul sebagai khalifah Allah di muka bumi. Tugas untuk menjadi rahmat bagi lingkungan dengan kebenaran dan keindahan nilai-nilai Islam. Jiwanya akan semakin lembut dan sensitif terhadap nilai-nilai ketauhidan yang berdimensi ridho Illahi. Dan akan semakin kokoh lah sosok muslim yang penyayang, penyantun dan anti membuat kerusakan dimanapun ia berada. Demikian halnya dengan hubungan sosial lainnya, baik vertikal maupun horizontal. Baik antara seorang pimpinan dengan seluruh bawahannya, atau antar sesama karyawan itu sendiri. Baik seorang pemimpin dengan rakyatnya, ataupun sesama rakyat semata-mata. Pada saat-saat itu terlebur semua rasa benci, dendam dan bibit-bibit permusuhan. Nuansa Idul Fitri seakan memagari kita untuk hidup dalam manisnya ukhuwah islamiyah yang hangat dan saling menyayangi. Alangkah indah jika negeri kita bertabur barokah dari Ramadhan dan Idul Fitri seperti ini. Salah dan khilaf memang hal yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Namun tak berarti itu dijadikan alasan atau suatu yang dimaklumkan untuk dilakukan berulangulang. Apalagi kalau sampai menyakiti dan merugikan banyak orang. Alangkah bijaksana jika seorang muslim bisa mengkaji diri dari pahitnya kesalahan, dengan tetap menjaga

kedekatan dengan Allah SWT dan semangat perbaikan diri untuk berupaya sekuat mungkin tidak mengulanginya. Bukan suatu kecengengan kalau kemudian mata seorang suami berkaca-kaca dihadapan istrinya. Tidak pula suatu kemanjaan yang berlebihan kalau seorang anak terisak-isak dipelukan ibundanya. Adalah sebuah kebesaran pribadi ketika seorang pemimpin yang selalu teringat akan besarnya salah dan kekeliruan yang diperbuatnya, lantas karena itu semua ia menangis begitu dijabat erat oleh para bawahan. Kemuliaan orang alim dan ulama justru bersinar ketika ia dengan harap cemas memohon ketulusan maaf dari orang awam yang dibimbingnya. Keteladanan seorang pemimpin akan cemerlang ketika ia justru menghampiri rakyat dan memohon keikhlasan dari akibat kepemimpinannya. Pada momen-momen seperti ini, yang ada hanya pengharapan akan kebersihan batin dari dosadosa kemanusiaan dengan orang-orang yang dimintakan pemaafannya. Karena setiap diri tentu tak ingin timbangan amal baiknya tereduksi dihari pembalasan nanti, lantaran kesalahan yang belum termaafkan. Setiap jiwa yang berhati-hati tentu tidak pernah merasa aman sebelum dosa dan salahnya terampuni. deni mukhyidin mukhyidin@yahoo.de

Adakah Ramadhan Menyapa Kita Lagi Tahun Depan?
Publikasi 04/12/2002 15:22 WIB eramuslim - Ramadhan tak lama lagi akan meninggalkan kita. Tak terasa bulan yang penuh rahmat dan ampunan Allah itu berlalu. Dan tak lama lagi pula malam penuh kemuliaan dan keindahan bersama Tuhan, Laitul Qadar tak menyapa kita untuk bermunajat kepada Sang Pencipta siang dan malam. Boleh jadi kegigihan baca Al-Qur’an kita pun berubah jadi kemalasan dengan berubahnya bulan! Sementara itu, kita yang ditinggalkan tak sadar bahwa sikap dan perilaku kita di bulan Ramadhan itu tak jauh beda dengan di bulan-bulan lainnya. Kita masih lalai dengan amal-amal mulia yang sesungguhnya di bulan suci itu. Yakni, berbuat sesuatu tanpa pamrih, meniru akhlak Tuhan. Hidupnya tidak bergantung kepada sesuatu apa pun, dari mulai jabatan, pangkat, status sosial, uang, harta dan semacamnya kecuali hanya kepada Allah Swt saja. Kita pun masih sibuk dengan urusan-urusan yang tak pernah menjanjikan apa pun di bulan Ramadhan. Memang rugi dan sangat rugi bagi mereka yang berpuasa tapi tak merubah niat dan tata cara hidupnya untuk menuju keridhaan Tuhan. Nihil sama sekali nilai Ramadlan kita kali ini jika cara berpikir, bicara, bergaul, makan, tidur, berpolitik, berpakaian, bekerja dan sebagainya masih menimbun rasa duka dan derita bagi orang lain. Kita harus berani meninggalkan cara dan gaya hidup setan itu agar kita betu-betul menjadi hamba yang pandai bersyukur.

Sesungguhnya kegagalan kita menjadi orang yang pandai bersyukur adalah karena kegagalan kita menjadi orang yang memperoleh petunjuk-Nya. Dan kegagalan kita memperoleh petunjuk adalah karena kegagalan kita dalam beramadlan. Jika kita gagal dalam hal itu semua berarti kita juga gagal dalam mengagungkan Allah Swt. Bukankah semua ibadah dalam Islam untuk mengagungkan Rabb Pencipta Alam Semesta ini? “Wa litukabbiru Allah ‘ala maa hadaakum wa la’allakum tasykuruun” (Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas pentujuk-Nya, supaya kalian menjadi orang yang pandai bersyukur, QS. Al-Baqarah : 185). Jika kita gagal mengisi Ramadlan, berarti langkah kita di bulan-bulan selanjutnya pun akan mengalami kesulitan dan kemalasan untuk mengisi keindahan dan kemuliaan dalam kehidupan . Boleh jadi pula Ramadhan di tahun depan terus terlewatkan begitu saja tanpa sebuah pemaknaan dan harapan. Karena, bagi seorang Muslim, kehidupan di bulan Ramadlan itu cara hidup yang sesungguhnya. Dan di bulan itu pula cara beriman kita yang seharusnya, yakni, bermakrifatullah (mengenal Allah Swt) lalu ikhlas kepada-Nya. Bagi mereka yang sudah optimal dengan khusyu’ dan ikhlas mendayagunakan energi, perasaan, dan harta di bulan Ramadlan maka mereka juga harus meramadlankan hidupnya di bulan-bulan lain hingga kematian datang seperti datangnya Ramadlan. Kita gembira saat Ramadlan datang dan kita juga gembira di saat ajal datang menjemput badan. Kita berharap kepada-Nya mudah-mudahan di tahun mendatang Ramadlan masih menyapa kita dengan keteduhan dan kedamaian. Amien. (Udien Al-Farry)

Berpuasa Dikala Berbuka
Publikasi 04/12/2002 14:14 WIB eramuslim - Banyak orang susah payah berusaha menyelamatkan ibadah puasanya. Bagi mereka yang bekerja keras dengan mengandalkan kekuatan fisik, hari yang terik dan panas menyengat tentu menjadi ujian tersendiri. Karena itu tak heran bila banyak dari mereka yang menyengajakan diri untuk mandi di siang hari atau tidur demi menjaga puasa mereka. Sedang bagi mereka yang beraktivitas tanpa banyak mengandalkan kekuatan fisik, bekerja dalam kantor atau ruangan yang sejuk, mungkin punya kesempatan lebih banyak untuk membaca al-quran atau mengikuti pengajian. Sungguh momentum Ramadhan menjadi suatu dorongan luar biasa untuk beramal ibadah lebih dari hari-hari biasanya. Puasa juga menjadi penge-rem yang canggih untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tercela. Menggunjing dan memperkatakan orang dengan serta merta akan ditinggalkan. Marah dan dengki akan pula diredam dengan sepenuh kebijaksanaan. Apalagi hal-hal yang membatalkan puasa. Dengan sepenuh kesadaran diri kita tentu berusaha menghindarinya.

Dengan lemah dan letih kita dididik untuk menyadari kelemahan diri. Allah menciptakan manusia dengan kemampuan biologis yang serupa. Keinginan akan makan, rasa lapar dan haus, sakit, derita atau bahagia, semua orang akan merasakan hal yang sama, tak terbatas oleh banyaknya kepemilikan harta ataupun perbedaan bangsa yang berlainan rupa. Kondisi demikian menjadikan kita di sepanjang siang bulan Ramadhan sebagai hamba yang lebih berbakti, lebih rajin dan lebih menghayati hakekat penciptaan diri sebagai mahluk. Begitu maghrib menjelang, tibalah saatnya waktu berbuka puasa. Kegiatan-kegiatan yang sepanjang siang tidak diperkenankan, kini diperbolehkan kembali. Pada saat-saat inilah justru kita sering berbuat diluar kontrol. Demi melihat deretan makanan yang lezat terhidang, demi melihat aneka minuman yang menggiurkan, tak terkendali lagi tangan dan mulut kita untuk menghabiskannya. Tak peduli akan isyarat perut akan kelebihan beban yang ditampungnya. Demikian pula kegiatan tak terpuji lainnya, menggunjing sembari makan, marah yang diumbar sembarangan, bahkan mengerjakan sesuatu yang diharamkan. Yang muncul dalam benak kita pertama kali adalah pemuasan akan keinginan yang sedari pagi tertahankan. Atau pula merasakan kelonggaran untuk kembali melakukan hal-hal yang santai dan sia-sia. Perjuangan kita sepanjang siang menjadi tak berbekas setelah maghrib tiba. Kita amat bersungguh-sungguh dikala pembatasan melingkupi seputar panca indera dan hati kita. Namun prestasi puasa kita merosot tajam disaat semuanya diperkenankan. Itulah pula mungkin gambaran realisasi puasa pada diri dan keseharian kita. Disaat kita dihimpit oleh berbagai aturan, kebijakan pimpinan, atau sempitnya ruang gerak yang diberikan, kita menjadi manusia yang bersungguh-sungguh. Berdaya upaya dengan sekuat tenaga, hati pun sedemikian bersih dan selalu bermunajat kepada Allah akan terkabulnya cita-cita. Diwaktu kita tertindas oleh kekuasaan orang lain yang memenjara ruang gerak dan peran sosial kemsyarakatan, kita sanggup menjadi pejuang kemerdekaan hati nurani dan demokrasi. Namun setelah kesempatan dianugerahkan, sesudah jalan dilapangkan, dikala kekuasaan tergenggam, kita malah menjadi pelopor pemborosan dan kemubaziran. Nafsu kita untuk berbuat apa saja menjadi sedemikian tak terkendali. Sampai pula pada hal-hal yang merendahkan nilai-nilai moral dan etika. Puasa kita hanyalah pelaksanaan ibadah semata di bulan Ramadhan. Tak berefek pada peningkatan kualitas iman dalam berbagai aktivitas keseharian kita. Jika kondisi ini menjadi hal yang biasa dan dilakukan tanpa rasa berdosa, maka bukan tak mungkin kalau kebangkrutan sudah menunggu kita di penghujungnya. Semoga Allah menganugerahkan ruh puasa dalam jiwa kita. Sehingga akan membekas dalam perjalanan hidup kita ke depan, di hari-hari setelah Ramadhan. Hari-hari dimana kita lebih banyak berbuka terhadap berbagai aktivitas selayaknya Ramadhan. Mudahmudahan hidup kita akan lebih bermakna dan berkualitas karenanya, didepan Tuhan dan dalam sejarah perjalanan kemanusiaan kita. Wallahu 'a'lam bishshowab (Deni mukhyidin/mukhyidin@yahoo.de)

Hidup Di Bawah Naungan Tauhid
Publikasi 04/12/2002 11:34 WIB eramuslim - Sering orang bertanya, “Apakah Allah itu ada?” ”Dimana Allah?” Keberadaan Allah hanya bisa kita akui bila kita memiliki landasan tauhid yang benar. Allah memang tidak menampakkan wujudnya, tapi Allah dengan segala sifatnya dapat kita rasakan keberadaan-Nya. Kejelasan tauhid akan tergambar dari kalimat syahadat yang kita ucapkan. Dari kalimat ini akan terjalin hubungan yang harmonis, penuh kecintaan kepada Allah. Kecintaan kepada Allah akan melahirkan pengorbanan kepadaNya untuk berjuang di jalan-Nya, melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya. Zat Allah lebih besar dari apa yang kita perkirakan. Manusia tidak akan sanggup memikirkan zat Allah. Allah berfirman, “katakanlah Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS.112:1-2) “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS.6:103) Tauhid yang murni hanya akan tercapai bila kita mengenal hakekat penciptaan kita, begitu juga dengan zat yang menciptakan kita. Betapa indah hidup di bawah naungan kasih sayang dan belain Allah. Namun banyak diantara kita sulit untuk memurnikan tauhidnya, karena selain tidak kenal dengan Allah, mereka masih menyekutukan Allah dengan tandingan-tandingan yang lain. Tak kenal maka tak sayang, begitu orang mengatakan. Tidak kita akan pernah tahu siapa Einstein jika kita belajar ilmu Fisika, kita tidak akan mengenal Jendral Sudirman jika kita tak belajar sejarah, kita juga tidak akan mungkin kenal Ronaldo kalau kita tidak mengenal sepak bola. Begitu juga dengan Allah. Bagaimana mungkin kita akan merasakan keindahan bertauhid kepadanya jika “kreasi” Allah tidak pernah kita baca dan pikirkan. Kita bisa lihat kreasi Allah denga kasat mata. Tidak perlu ke gunung, lembah atau pantai. Pandangi saja diri kita. Renungkan mata yang elok ini, subhanallah kenapa mata yang berdiameter kecil ini bisa mengantarkan kita melihat indahnya dunia, alangkah meruginya manusia jika mata ini buta. Hidung yang sempurna bertengger di wajah mampu menghirup udara segar, tanpa indra kecil itu tentulah kita tidak bisa bernafas. Subahanallah, mampukah kita membuat penggantinya, bila salah satu indera kita itu tidak berfungsi? Secara tekstual, kreasi Allah itu adalah Al-Quran. Ialah pedoman hidup yang banyak ditinggalkan kaum muslimin sekarang ini, akibatnya banyak kaum muslimn yang kehilangan arah. Padahal Sayyid Qurb dalam tafsir fi-zilalnya yang puitis dan romantis itu mengatakan, “Hidup di bawah naungan Al-Quran merupakan suatu kenikmatan.

Kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah mereguknya. Kenikmatan yang mengangkat, memberkati dan mensucikan umur kehidupan…” Jadi, kembalilah kepada Al-Quran. Jadikan ia sebagai pegangan utama kita, bacaan pertama yang kita baca sebelum koran terhidang. Petunjuk hidup, jalan keselamatan. Lantunan ayat suci Al-quran saja telah membuat hati tentram, apa lagi hikmah yang terkandung di dalamnya. Wallahu 'a'lam bishshowaab (Yesi Elsandra, Untuk orangorang yang telah menunjukkan jalan terang)

Sekedar Contoh
Publikasi 29/11/2002 08:45 WIB eramuslim - Kalaulah kita mau belajar, manusia yang hidup pada zaman ini bisa mendapatkan berbagai contoh hidup manusia sebelumnya. Predikat dan profesi apapun yang tersematkan pada diri ini, tentu pernah terjadi pada masa sebelumnya. Bahkan tidak sedikit dari deretan nama-nama pelaku sejarah kehidupan manusia itu tercantum dalam kitab Allah, Al Qur’an. Tentu dengan maksud yang satu, hikmah bagi yang sekarang menjalani hidup agar tidak mengulangi kesalahan manusia-manusia terdahulu sesuai dengan salah satu fungsi Al Qur’an itu sendiri, yakni sebagai petunjuk (huda) bagi mereka yang hidup, karena sesudah mati nanti yang harus dilakukan manusia hanyalah mempertanggungjawabkan setiap inci perjalanan hidup yang pernah dilaluinya. Dari daftar nama pelaku sejarah pada masa lalu itu, kita bisa temukan dua tipe manusia, yang pertama adalah mereka yang ingkar kepada Allah dan sebagai akibatnya kecelakaan dan laknat Allah adalah balasan yang paling setimpal buat mereka. Sedangkan yang kedua, hamba-hamba Allah yang taat, beriman dan takut akan adzab Allah sehingga mereka tak henti-hentinya berupaya mendekatkan diri kepada Rabb-nya seraya berharap ridho dan cinta Allah yang menjadi tujuan hidupnya. Allah pernah menghidupkan Fir’aun, Raja Namruj, Raja Abraha, Raja Jalut yang bertindak diluar kapasitasnya sebagai makhluk ciptaan Allah. Sombong, zhalim, serta serakah adalah beberapa diantara karakter yang seharusnya tidak berlaku bagi manusia, karena itu sudah diluar kapasitas yang seharusnya dilakukan. Sesungguhnya, Allah telah memberikan batasan-batasan mana yang pantas, baik dan sepatutnya (boleh) dilakukan dan mana yang tidak. Sehingga ketika ada orang-orang yang melakukannya melebihi kapasitas yang diberikan, melanggar batas-batas yang sudah digariskan, maka Allah menghukumnya sebagaimana hukuman kepada orang-orang yang berlebih-lebihan. Karena itulah, Allah juga menghidupkan seorang manusia agung bernama Sulaiman, yang kekayaannya tak mampu lagi dihitung, kemasyhurannya yang tak tertandingi, namun tetap takut dan berharap perlindungan Tuhannya dari sikap sombong dan zhalim. Sikap rendah hati dan penyayang yang ditunjukannya, berbuah ketaatan dari semua bala tentara yang dimilikinya. Selain shalih dan taat kepada Tuhannya, Sulaiman juga terkenal dermawan, murah hati dan menghormati hak makhluk lain.

Hamman, seorang ilmuan dengan kemampuan teknologinya yang hebat. Namun ketinggian ilmunya itu tidak membuatnya sadar bahwa segala ilmu yang didapatnya adalah atas kehendak Sang Maha Pemberi Ilmu. Dan ia tetap ingkar kepada Allah. Namun Allah juga menghidupkan seorang Yusuf yang menjadikan ilmunya semata untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Begitu pula dengan Nuh dan Daud, hamba-hamba Allah yang meraih kemuliaan Allah karena ketaqwaan dan kelebihan ilmu yang dimilikinya. Kemudian ada Qarun, seorang kaya raya yang hidup pada zaman Fir’aun. Kunci-kunci gudang hartanya harus dibawa oleh unta-unta yang berbaris, sebagai kiasan betapa berlimpahnya harta kekayaan yang dimiliki Qarun. Namun ternyata, semua harta dunia itu semakin menjauhkan dirinya dari Yang Maha Kaya, Qarun pun ingkar dan Allah menenggelamkan manusia yang tak pernah bersyukur itu bersama dengan seluruh hartanya. Maka ada hamba-hamba Allah yang juga terkenal kaya raya, namun menjadikan kekayaannya untuk biaya dakwah dan perjuangan menegakkan agama Allah. Dialah Ustman bin Affan yang menginfakkan seribu unta miliknya yang sudah dipenuhi barang-barang dan perbekalan hidup pada saat Rasulullah mengalami masa paceklik penuh kesusahan. Selain Ustman, ada Abdurrahman bin Auf yang juga kaya raya. Seorang pengusaha yang sangat takut jika hartanya itu kelak akan memberatkan pertanggungjawabannya dihadapan Allah, takut jika harta kepunyaannya akan membutakan dan menjauhkannya dari Allah, sehingga tak pernah sedikitpun ia sungkan untuk bersedekah dan menyisihkan harta yang dimilikinya itu untuk membantu fakir miskin. Tentu masih banyak contoh-contoh baik dan buruk yang bisa kita hadirkan, untuk bisa dijadikan pelajaran dalam menjalani kehidupan ini. Adalah suatu kebodohan jika kita tak pernah belajar dari ketaqwaan dan keimanan, kegagalan dan keberhasilan, kecelakaan dan keberuntungan manusia terdahulu, karena sesungguhnya semua itu sudah terekam jelas pada ayat-ayat Allah. Sungguh, Kitab Al Qur’an yang mulia itu lembar-demi lembarnya, ayat demi ayatnya mengandung rekaman peristiwa sejarah perjalanan kehidupan manusia hingga pada akhir zaman ini. Kezhaliman dan kesewenang-wenangan Fir’aun, Namruj, Abraha dan Jalut, juga terjadi pada masa-masa sesudahnya, bahkan hingga kini. Kesombongan ilmuan seperti Hamman juga bisa ditemui pada perjalanan manusia-manusia sesudahnya. Begitu juga keserakahan dan ketamakkan macam Qarun juga dengan mudah hadir dan terpampang di depan mata. Kita ini, seperti halnya manusia-manusia terdahulu, hanyalah pelaku sejarah dalam lembaran-lembaran kehidupan manusia sepanjang hayat. Manusia yang hidup pada saat ini, menjadikan manusia-manusia sebelumnya sebagai pelajaran, kebaikan ataukah keburukan yang diambil. Begitu juga kita, tentu akan dijadikan contoh hidup bagi menusia-manusia setelah kita mati. Masalahnya adalah, apakah mereka menjadikan kita sebagai contoh baik atau buruk, mengambil pelajaran dari kegagalan atau kesuksesan, serta hikmah dari kecelakaan atau keberuntungan. Inilah yang seharusnya kita persiapkan dari sekarang, selama Allah masih memberikan kita kesempatan untuk mengukir prestasi, meningkatkan keimanan sehingga saat mati nanti orang mengenal kita sebagai pribadi yang patut diteladani, dan dibanggakan, setidaknya oleh anak cucu kita.

Sungguh, Allah telah memberikan peringatan mengenai hal tersebut dengan sangat jelas dalam ayatnya, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS. Ali Imran: 190). Ayat Allah yang tertulis dalam Kitab Al Qur’an memang masih bisa terhitung dalam bilangan, namun ayat-ayat Allah yang tidak tertulis, akan tetap berkembang seluas langit dan bumi, sepanjang sejarah keberadaan manusia di bumi, dan tentu tidak akan pernah habis sebelum Allah menghentikan semua proses kehidupan makhluk di dunia. Hanya saja, sedikit manusia yang mau mengambil pelajaran dari ilmu-ilmu Allah yang berserakan itu. Wallaahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Mengusung Ruh Dari Emperan Toko Cempaka Putih
Publikasi 27/11/2002 07:44 WIB eramuslim - Setelah melewati sebuah hari kerja yang sangat melelahkan, masih adakah sisa tenaga kita untuk tarawih di malam Ramadhan ini? Andai kita seorang musafir atau perantau yang jauh dari keluarga, akankah kita tetap sholat tarawih di perantauan? Salah satu sudut Jakarta, tepatnya di bawah jalan tol daerah Cempaka Putih adalah rumah bagi para pekerja bangunan (kuli) lepas yang tak mampu untuk menyewa rumah/tempat kost. Mereka tinggal di bawah jalan tol, berbekalkan cangkul dan pakaian seadanya. Jauh dari keluarga mereka di kampung halaman. Mengumpulkan uang dengan bekerja menjadi kuli lepas. Setiap hari menanti pekerjaan yang belum tentu datang. Memasuki Ramadhan, malam hari mereka menempati teras/emperan sebuah toko di jantung Cempaka Putih. Setiap maghrib, sekitar 20 pekerja ‘pulang’ ke teras mereka. Subhanallah, walaupun jauh dari kampung halaman, jauh dari keluarga tercinta, mereka tidak jauh dari Allah SWT. Setiap maghrib, mereka berbuka dan sholat berjamaah di emperan toko. Cangkul dan peralatan kerja ditempatkan di salah satu sudut emperan. Mereka juga tampak sangat menjaga kebersihan. Saat sholat, mereka melepaskan celana kerja mereka yang terkadang kotor berlumuran tanah. Berganti dengan sarung bersih yang mereka bawa. Mereka ingin bersih menemui Khaliknya. Memasuki Isya, Tarawih ditegakkan dengan berjamaah. Sholat berjamaah mereka adalah sebuah pemandangan yang sangat menggetarkan hati. Bagaimana tidak, mungkin tubuh mereka sangat penat setelah seharian bekerja keras menjadi kuli bangunan, mungkin mereka rindu pada kenyaman rumah mereka di kampung. Mereka bisa memilih untuk beristirahat, tidur. Mereka juga bisa memilih untuk bergerombol tak tentu tujuan. Tapi setiap malam mereka menegakkan tarawih. Allah memanggil mereka untuk tarawih. Bersinarkan pendar lampu-lampu dari kaki lima di sekitar dan rembulan redup di atas sana. Beralaskan sajadah usang atau terpal usang di atas tanah. Beratapkan langit Jakarta yang nyaris tanpa bintang. Mereka bersujud, sujud merendah kepada Yang Maha Tinggi. Menaikkan ruh mereka menemui Yang Maha Tinggi. Karena pada saat mereka bersujud merendah, sesungguhnya ruh mereka naik ke langit, menemui-Nya. (Dari Yayasan Martabat, Yayasan yang memberikan santunan kepada anak-anak yatim. yayasanmartabat@yahoo.com)

Buruk Muka, (Jangan) Cermin Dibelah
Publikasi 25/11/2002 07:25 WIB eramuslim - Kita tentu sering bercermin, memperhatikan setiap inci dari wajah dan penampilan sebelum keluar rumah. Tidak sedikit orang yang memerlukan waktu berjamjam untuk bercermin, membenahi dandanan, membersihkan wajah, menyingkirkan segala apapun yang sekiranya dapat mengurangi keindahan penampilan, serta menambahkan apapun (juga) yang dapat memperindah, mempercantik diri. Bahkan tidak jarang, meski sudah berjam-jam berada di depan cermin, masih muncul perasaan kurang percaya diri sehingga memaksanya untuk kembali lagi ke depan cermin, memutar tubuh, ke kanan ke kiri, sedikit menunduk, melenggak-lenggok bolak-balik di seputar cermin hingga semuanya terasa perfect, barulah ia melangkah keluar kamar. Sudah cukup? Belum. Karena di halaman tamu, masih saja bertanya kepada ibu, adik, kakak, suami, atau istri tentang penampilannya hari ini. Siapa sih yang tidak pernah bercermin? Jika bukan karena tempat tinggalnya yang jauh sangat terpencil sehingga tidak ada penjual cermin yang datang ke tempat itu, atau karena teramat sangat papanya bahkan sebuah cermin pun tak dapat dibelinya, mungkin tak ada orang yang tidak memiliki cermin. Kalau memang sekiranya demikian, toh bisa saja pecahan kaca cukup untuk sekedar melihat bagaimana penampilan hari ini. Tidak cukup bercermin di rumah, (biasanya wanita) masih ada orang yang tak ketinggalan untuk membawa serta cermin kecil (menyatu dengan bedak) di dalam tas kerjanya. Di kendaraan, baik di bus maupun kendaraan pribadi kita senantiasa menyempatkan diri untuk bercermin, itupun masih ditambah senyum-senyum sendiri ketika mendapatkan ‘OK’ di wajahnya. Setiap berjalan melewati tempat parkir dimana mobil-mobil berjajar, jujur saja, pasti Anda adalah satu dari orang yang tidak membuang kesempatan untuk sekedar menoleh melihat bayangan sendiri disitu. Atau juga ketika melewati etalaseatalase toko, hal yang sama kita lakukan. Rasa cemas biasanya langsung bereaksi ketika sekilas saja mendapatkan sesuatu yang tidak pas pada penampilan kita. Tidak jarang bahkan ada yang panik sedemikian rupa, apalagi bila saat itu tengah berada di tempat khalayak ramai. Jatuh pasaran lah, harga dirilah, malu dan sebagainya menjadi alasan untuk segera mencari tempat untuk memperbaiki penampilan. Kondisi demikian sangat wajar, karena setiap orang pada dasarnya selalu ingin tampil menarik, baik selain juga ada hasrat untuk dipandang baik. Untuk sebagian orang mungkin, berpenampilan cantik dan indah juga untuk menarik perhatian orang lain, mengharap pujian, pusat perhatian, atau sekedar kesenangan. Apapun alasannya, termasuk karena memang ada orang-orang yang terbiasa tampil baik dan menarik, menjadikan diri ini berharga di mata orang lain itu sangat lah penting. Karena jelas, performa seseorang juga bisa terlihat dari caranya berpakaian (termasuk keserasian paduan warna), berjalan, bersikap. Tidak cukup dengan itu, masih ada tambahan aksesoris dan wewangian yang dipakai untuk menambah kesempurnaan diri. Intinya, setiap orang butuh (merasa wajib) bercermin!

Namun demikian, tentu sangat naif jika kita hanya memperhatikan penampilan luarnya saja tanpa mempedulikan aspek dalam diri kita yang sesungguhnya jauh lebih berharga. Karena jauh lebih berharga, sudah barang tentu semestinya jauh lebih diperhatikan, dibenahi dan diperindah. Dua hal yang berada didalam diri ini yang jauh lebih berharga dimaksud adalah, Akal dan Hati. Ingat iklan layanan masyarakat “tulalit” tentang seruan membaca? Tentu saja, sebaik dan sesempurna apapun penampilan fisik jika tidak ditunjang akal pikiran yang cerdas dan sehat, menjadikannya sebagai pribadi yang tidak berharga. Kalaupun ada yang sempat meliriknya, bisa dipastikan tidak berapa lama hal itu berlangsung, mungkin bisa dihitung sesaat setelah obrolan pertama. Hal kedua, yakni Hati. Semestinya menjadi kepentingan setiap individu juga untuk menata dan membersihkannya, untuk kemudian senantiasa memperbaharui isinya dengan hal-hal kebaikan. Jika dibiarkan tak tertata, tak diperhatikan dan apalagi tak sekalipun dibersihkan dari kotoran-kotoran yang kerap menyerang, niscaya cermin hati ini menjadi pekat oleh titik-titik debu yang pekat. Padahal, hati adalah cermin, dengan melihat hati, kita tentu bisa melihat setiap kesalahan dan kebaikan, setiap kebenaran dan kebatilan yang dilakukan. Untuk kemudian mengambil sikap, sadar dan taubat jika melakukan hal salah, dan terus meningkatkan setiap amal kebaikan. Namun jika cermin hati ini sudah hitam pekat, tentulah tak ada yang bisa memberi tahu kita salah dan benar. Hati yang bersih senantiasa menolak setiap kebatilan, akan tetapi jika ianya sudah sedemikian kotornya, seakan tak sanggup lagi menolak setiap perbuatan maksiat yang terus menerus kita tumpuk. Maka sebelum semakin sulit dibersihkan, sebaiknya setiap titik debu yang menempel segera dibersihkan, agar cermin hati ini kerap bergetar ketika menyebutkan asma-Nya, dan bertambah keimanan setiap mendengarkan ayat-ayat Allah. Agar juga cermin hati ini bisa berteriak lantang menentang setiap kekhilafan yang kita akan perbuat. Dan jika kedua cermin itu, (Akal dan Hati) sudah terus terasah dan dibersihkan, maka cermin diri ini akan semakin sempurna menambah kesempurnaan penampilan luar yang juga setiap hari dibenahi. Paduan dua cermin akal dan hati tentu melahirkan pribadi yang berwibawa, profesional, elegant, bijaksana, sadar kewajiban dan hak secara proporsional, selain juga pribadi shaleh yang menjadi penghias diri yang paling utama. Jadi, jangan pernah biarkan cermin akal dan hati ini tak terurus, apalagi memecah cermin itu saat mendapati diri ini tak indah dalam bayangan cermin. Andai suatu ketika bercermin mendapatkan wajah dan penampilan yang buruk, kenapa harus membelah cermin itu? Toh, pada saat bercermin itu hanya kita yang tahu keburukan sendiri. Sikap terbaik adalah membasuh wajah agar nampak bersih berseri sehingga cermin yang tak jadi kita belah itu tetap bisa memberi tahu setiap keburukan yang ada, setiap saat. Jika setiap hari menyempatkan diri bercermin (juga membawa cermin) untuk memperbaiki penampilan luar, kenapa juga tak membawa serta cermin akal dan hati. Cermin akal adalah membaca. Membaca dalam arti luas. Dengan membaca, kata yang keluar bukan tanpa makna, bukan omong kosong, melainkan kata-kata penuh isi yang

berpengaruh. Sedangkan cermin hati, adalah dzikir. Dengan senantiasa mengingat Allah, maka menjadikan hati ini peka terhadap apapun yang bathil, salah dan tidak tepat, dan sebaliknya, akan senang atas segala kebenaran yang berlaku. Wallahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama).

Mempuasai Dunia
Publikasi 21/11/2002 06:50 WIB eramuslim - Berpuasa memang olah batin yang memerlukan tingkat ilmu dan pengendalian diri yang tinggi. Dan manajemen pengendalian diri memang menjadi salah satu poin tertinggi dalam pelaksanaan ibadah puasa. Rasakan saja dalam puasa yang kita lakukan, baik itu ramadhan maupun puasa sunnah lainnya. Dalam batasan waktu tertentu, dari ketika subuh hingga maghrib kita tidak diperkenankan untuk melakukan sesuatu yang biasa kita lakukan. Walaupun kesemuanya itu adalah pekerjaan yang halal dan berpahala ketika dilakukan diluar hari puasa. Tengoklah makanan yang kita beli dari jerih payah kerja kita adalah halal tentu saja, demikian juga minuman yang kita reguk, yang dengan itu kemudian kesegaran akan terasa menjalar ke seluruh tubuh. Haramkah itu? Tidak. Hubungan badan antara suami dan istri pun halal pula di hari biasa. Tapi mengapa pada saat-saat itu dilarang? Jangankan melakukan semua itu, berkeinginan untuk melakukannya pun akan merusak pelaksanaan ibadah puasa. Mengapa untuk sekian waktu kita harus menahannya. Kita dilarang melakukannya? Padahal semua itu halal semata? Bahkan sebaliknya, jika kita tetap saja melakukan aktivitas itu, malah kita akan terlempar dari kasih-sayang Allah. Dengan puasa kita diajarkan untuk mensikapi dunia dengan sebenarnya. Mendudukannya pada tempat yang semestinya, kedudukan yang remeh dan kecil saja jika dibandingkan dengan tujuan penciptaan kita sebagai mahluk Allah. Artinya untuk mendekatkan diri kepada Allah, menjadi mahluk yang dimuliakan dan diridhai-Nya, manusia semestinya mampu membebaskan diri dari ketergantungan terhadap dunia. Selama Ramadhan kita dilatih untuk menikmati dunia batin dengan seluruh panca indera kita. Perut yang lapar, mata yang tertahan, penurunan kinerja jasmani, hati yang sibuk dan ramai dengan dzikir, mulut yang terus melantunkan kalam Ilahi. Kita dituntun untuk menemukan jalan yang sebenarnya dari pengaruh pahit-manisnya kehidupan. Kita lakukan semuanya itu ditengah kegiatan keseharian yang terus berjalan, bekerja keras ikut mengisi detik demi detik perjalanan sejarah kemanusiaan kita. Idealnya, dari pelatihan ibadah puasa kita dapat ilmu pengendalian diri. Mengatur dengan bijaksana setiap keinginan yang muncul tak ada habisnya dalam diri manusia. Agama kita tak melarang ummatnya menjadi orang kaya, mempunyai harta yang banyak, kedudukan dan jenjang karier yang tinggi. Justru Islam sangat mengkhawatirkan kemiskinan, kebodohan dan ketidakberdayaan ummatnya. Tapi dalam keadaan tertentu kita terkadang

harus berpuasa terhadap itu semua. Dikala kondisi itu justru menjauhkan kita dari kasih sayang Allah. Berpuasa dari tekanan keinginan-keinginan yang tak habis-habisnya. Hingga pada akhirnya kita akan jadi manusia yang berhati-hati terhadap apa yang diperbuat dan dimiliki. Kalau punya rumah satu sudah cukup kenapa harus dua? Kalau rumah biasa sudah lah memadai kenapa harus membeli rumah mewah yang berharga milyaran dan berkamar belasan? Kalau kondisi seperti itu adanya, kita semestinya berpuasa untuk jadi orang kaya. Rumah yang terbangun berhambur kemubaziran seperti itu sepatutnya dihindari. Lantaran setiap partikel semen, setiap butir pasir yang tersusun di dalamnya akan menjadi beban yang dipikulkan pada hari pertanggungjawaban nanti. Bukankah orang yang kaya dimata Allah adalah orang yang paling kaya amal baiknya, dengan apapun saja yang dia miliki? (Deni Mukhyidin/mukhyidin@yahoo.de)

Agar Nikmat Allah Bertambah
Publikasi 20/11/2002 10:16 WIB eramuslim - Ada sebagian manusia yang Allah cukupkan (bahkan lebih) nikmatnya pada satu sisi dimana orang-orang lain belum mendapatkannya. Misalnya soal harta. Keadaan yang demikian sesungguhnya tidak bisa dipandang bahwa Allah tidak adil dalam memberikan rizki kepada hamba-hamba-Nya. Setidaknya kita bisa menyebutkan tiga hikmah dari kebijakan Allah yang demikian. Pertama, Allah sedang menguji manusia dengan kelebihan dan kekurangannya, kedua, Sesungguhnya Dia mencukupkan sebagian nikmat kepada sebagian hamba namun menahan nikmat yang lain pada sebagian hamba tersebut, sementara nikmat yang lain itu diberikannya kepada sebagian hamba yang lain. Dan ketiga, Allah jelas sangat ingin melihat seberapa bersyukurnya manusia akan apa yang dinikmatinya saat ini. Rizki Allah yang bisa kita nikmati tentu beragam bentuknya, ia bisa berupa harta yang dicukupkan oleh-Nya, diberinya kita pasangan hidup yang menentramkan, kehadiran seorang anak, ketenangan hidup, terhindar dari marabahaya, kenaikan pangkat dan promosi jabatan, atau bahkan sekedar masih diberikan kesempatan bisa makan meski seadanya untuk satu hari ini. Tinggal bagaimana kita memandang semua itu sebagai nikmat yang mesti disyukuri sehingga bisa menyelamatkan kita dari kekafiran dan ancaman adzab Allah yang nyata. Allah telah memberikan nikmat pada sebagian manusia di bumi dan memberikan nikmat dalam bentuk yang lain kepada sebagian lainnya. Demikian pula Dia menahan nikmat untuk sebagian manusia, juga menahan nikmat yang lain juga untuk sebagian manusia yang lain. Hal ini perlu disadari oleh kita, bahwa setiap kali Allah menambahkan nikmat kepada saudara kita, tentu Allah dengan Kemaha-Adilan-Nya juga menambahkan nikmat kepada kita, meski dalam bentuk yang lain. Misalnya, ketika ada yang naik jabatan dan kita ikut bersyukur atas keberhasilan saudara tersebut, maka pada saat itulah Allah menambahkan nikmat berupa hati yang bersih tanpa dikotori rasa iri dan dengki.

Masalahnya kemudian, kebanyakan manusia sering terlupa untuk terlebih dulu mensyukuri nikmat yang sudah diterimanya sementara ia terus menerus meminta Allah agar menambah nikmat kepadanya. Seperti ditegaskan Allah, bahwa Dia (pasti) akan menambah nikmat kepada hamba yang pandai mensyukuri nikmat yang telah diberikanNya dan memberikan adzab (yang pedih) kepada mereka yang mengingkari (QS. Ibrahim:7). Sekarang, sebelum lagi terus menerus meminta kepada Allah akan tambahan nikmat, hitung-hitunglah seberapa besar rasa syukur kita terhadap segala nikmat yang telah diberika Allah kepada kita selama ini. Sudah barang tentu, jumlah nikmat yang takkan pernah bisa terhitung itu membuat kita lalai untuk mensyukurinya. Bentuk syukur itupun bisa dengan berbagai cara, dengan membagi sebagian rizki yang kita peroleh kepada fakir miskin, menghadirkan suasana bahagia di hati anak-anak yatim piatu dengan menyantuninya, dan yang paling berkenan adalah semakin dekatnya kita kepada Allah melalui peningkatan kualitas ibadah, atau bermacam bentuk ungkapan kesyukuran lainnya. Allah itu Maha Kaya, disamping itu Dia juga Maha Pemurah. Maka jangan pernah ragu akan kasih sayang-Nya. Tanpa memintapun, jika Dia sudah melihat begitu bersyukurnya kita akan nikmat yang selama ini dirasakan, niscaya dia akan menambahkannya dengan nikmat-nikmat lain. Sungguh, Allah Maha Tahu akan kebutuhan, keinginan setiap hambaNya sehingga Dia mencukupi hal-hal yang belum dimiliki setiap hamba itu. Namun jika belum cukup terlihat rasa syukur itu, jangan pernah berharap Allah menambahkan nikmat-Nya, bahkan justru memberikan adzab yang nyata terhadap mereka yang mengingkari. Maha benar Allah dengan segala ucapan dan ketentuan-Nya, adzab yang paling nyata dan terasa diberikan Allah kepada hamba yang tak pandai bersyukur adalah dengan cara ia menahan bentuk nikmat yang lain, atau bahkan menghentikan nikmat yang ada saat ini. Di dunia ini, ada orang-orang yang diberikan kecukupan harta, namun karena ia tak bersyukur atas nikmat itu, Allah tak berikan rasa aman dan ketenangan dalam hidupnya. Hidupnya senantiasa diliputi kekhawatiran dan kecemasan dalam menjaga hartanya. Padahal, seandainya ia menginfakkan sebagian rizkinya itu, insya Allah ketenangan akan menyelimuti setiap langkahnya. Atau mereka yang mendapatkan kesempatan memiliki karir bagus dengan gaji yang memuaskan, namun ia tak juga memiliki seseorang yang menjadi pendamping hidupnya, padahal usianya sudah semakin beranjak. Mungkin Allah belum melihat rasa syukur yang cukup atas nikmat yang telah kita terima saat ini, sehingga Dia menahan nikmat yang lain. Sebaliknya, mereka yang telah dipasang-pasangkan dan dihadirkan kasih sayang dan ketentraman dalam rumah tangganya, itu adalah sebuah nikmat yang juga perlu disyukuri. Jika pasangan-pasangan itu belum dikaruniai anak atau belum mendapatkan kecukupan harta dan selalu kekurangan, bisa jadi mereka belum benar-benar bersyukur atas karunia dan nikmat mendapatkan pasangan hidupnya. Sesungguhnya, kebijakan Allah menahan nikmat lain merupakan ‘adzab’ karena kita belum benar-benar bersyukur atas nikmat sebelumnya.

Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang terus menerus ditambah nikmatnya padahal tak sedetikpun ia pernah mengucapkan pujian kepada Allah. Atau sebaliknya, mereka yang tak henti-hentinya mendekatkan diri kepada Allah namun tetap dalam hidup kekurangan. Tentu saja, Allah tengah menguji mereka dengan keadaan yang sekarang, apakah ia tetap beriman atau ingkar. Dalam hal ini, Allah menegaskan dalam sebuah hadits qudsi, "Diantara hamba-hamba-Ku yang mukmin ada sebagian yang tidak bisa baik urusan agama mereka kecuali dengan diberi kekayaan, kelegaan, dan kesehatan badan. Lalu kami menguji mereka dengan kekayaan, kelegaan, dan kesehatan badan sehingga baiklah urusan agama mereka. Diantara hamba-hamba-Ku yang mukmin ada pula sebagian yang tidak bisa baik urusan agama mereka kecuali dengan diberi kekurangan, kemiskinan, dan penyakit sehingga baiklah urusan agama mereka. Aku mengetahui dengan apa hamba-Ku yang mukmin menjadi baik dalam urusan agamanya". Sekali lagi, kita menyadari akan kasih sayang dan pemurahnya Allah, namun yang perlu diketahui adalah bagaimana membuat Allah menjadi lebih kasih, lebih sayang dan lebih pemurah kepada hamba-hamba-Nya, yakni dengan cara mensyukuri setiap nikmat yang telah diberikannya. Niscaya, sesuai janji-Nya, Allah akan menambahkan dan mencukupi nikmat kepada kita, tanpa harus kita memintanya. Karena sesungguhnya, Dia Maha Mengerti akan setiap keluhan yang tak terlontarkan dari hamba-hamba yang bersyukur. Wallaahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Akan Selau Ada Pahlawan Di Setiap Kezhaliman
Publikasi 18/11/2002 10:30 WIB Ibrahim kecil gagah menantang Raja Namruj yang tengah geram, dikelilingi sejumlah pasukan dan beberapa algojonya, Namruj bertanya, “Hai anak kecil, kamukah yang menghancurkan patung-patung sesembahan kami?”. Dengan enteng Ibrahim berkata, “Tanyakan saja pada patung yang lebih besar itu, mungkin dia yang melakukannya karena kapak itu masih tergantung padanya,” ledek Ibrahim sambil menunjuk patung yang besar yang sengaja tidak dihancurkannya. Tentu saja Raja Namruj yang terkenal kejam itu semakin berang mendengar jawaban Ibrahim. Bukan hanya karena merasa dipermainkan seorang anak kecil, melainkan juga, jawaban itu, terasa menohok sisi kebodohan dirinya dan semua pengikutnya dengan menyembah sesuatu yang tak memiliki kuasa melakukan satu apapun. Alhasil, keberangan yang bercampur perasaan terhina Raja Namruj membuat Ibrahim ‘dihadiahi’ hukum bakar, selain karena Ibrahim adalah tersangka utama pelaku ‘teror’ terhadap tempat ibadah kaum yang dipimpin Raja Namruj itu. Namun kuasa Allah bermain, makar apapun yang dibuat manusia takkan pernah bisa mengalahkan makar Allah. Seganas dan semerah menyala api membakar tubuh Ibrahim kecil, tak sedikitpun kulitnya tersentuh oleh jilatan api. Kisah lain, Daud yang memiliki kemampuan berperang yang hebat tak gentar menghadapi pertarungan “semut lawan gajah” melawan Raja Jalut yang terkenal bengis

dan kejam. Daud yang berasal dari kalangan bawah dengan berbekal sebilah pedang tanpa baju besi, akhirnya mampu mengalahkan Raja Jalut yang besar dengan segudang pengalaman bertarungnya. Dalam versi barat, kisah ini dikenal dengan “David Versus Goliath”. Sementara itu, seorang utusan Allah lainnya, Musa dengan ditemani saudaranya Harun, menentang kekejaman ‘ayah asuhnya’ sendiri, Raja Fir’aun yang zhalim dan diktator. Kekuasaanya yang begitu tinggi membuat Fir’aun teramat angkuh menobatkan diri sebagai Tuhan. Kesombongan yang didukung oleh seorang ilmuan hebat bernama Hamman dan seorang kaya bernama Qarun, jadilah ia semakin jumawa. Fir’aun yang terkenal kejam tidak ingin seseorang kelak menghancurkannya, maka kemudian atas perintahnya, semua bayi laki-laki yang lahir pada masa pemerintahannya pun dibunuhi. Sekali lagi, Kuasa Allah bermain, bahwa kemudian seorang pemuda Musa yang justru hidup di lingkungan istana Fir'aun oleh lembutnya kasih sayang Asiah, menenggelamkan Raja zhalim itu ke dasar lautan. Dalam khazanah barat, kita pun mengenal kisah yang hampir serupa, yakni kisah kepahlawanan yang berasal dari orang-orang kecil yang menentang kezhaliman penguasa. Cerita rakyat Robin Hood mungkin bisa menjadi contoh. Berjuang dari pedalaman hutan Sherwood, Robin bersama para pengikut setianya ‘merampok’ harta para bangsawan yang hendak menyerahkan upeti kepada King Richard The Lionheart. Otomatis, meski makin dicintai rakyat kecil, sepak terjang si pemanah ulung itu menempatkannya dalam daftar buronan nomor wahid di Inggris saat itu. Cerita yang hampir sama juga dilakukan legenda Meksiko, Zorro. Dibalik topeng yang menyembunyikan identitasnya, Zorro membantu orang-orang lemah untuk melawan dan bangkit dari ketertindasan. Mungkin dua cerita diatas hanyalah mitos atau sekedar cerita rekaan. Namun setidaknya memberikan satu hikmah, bahwa harus ada orang-orang pemberani untuk melawan kezhaliman. Nampaknya, soal keberadaan orang-orang besar yang berlaku zhalim di setiap negeri di setiap zaman sudah menjadi sunnatullah. Hal itu ditegaskan-Nya dalam Surat Al An’aam ayat 123: “Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. ...”. Kalau dulu ada Ibrahim yang menentang Namruj, Daud versus Jalut, Musa yang menenggelamkan Fir’aun serta masih banyak lagi tokoh kepahlawanan yang berani berdiri menantang segala bentuk kezhaliman di muka bumi dalam satu negeri, kini disaat negeri ini, agama ini tengah dihujani dengan cobaan bertubi-tubi, oleh kekuatan-kekuatan yang terus merongrong, menteror bahkan mencoba menjadikan agama ini hitam pekat oleh karena kejahilan orang-orang yang tak bertanggungjawab, adakah lagi pahlawanpahlawan yang menjadi tameng pembela seperti halnya Ibrahim, Daud dan Musa? Tentu saja ada. Karena gemuruh jihad tengah bergelora dalam dada-dada para pahlawan itu. Tinggal bagaimana diri ini menentukan sikap, memadamkan gemuruh itu dan membiarkan orang lain mengambil kesempatan menorehkan nama pada kemuliaan atau menjadikan gemuruh itu sebuah halilintar yang menggetarkan nyali musuh Allah. Wallaahu a’lam bishshowaab. (Bayu Gautama_

Ketika Tuhan Menyeka Air Mata Kita
Publikasi 15/11/2002 08:46 WIB eramuslim - Sahabat, Alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan kepada kita berjumpa dengan Ramadhan, walaupun dalam suasana mencekam, duka yang mendalam, akibat begitu banyaknya bencana yang melanda negeri ini. Sahabat, Betapa bahagianya setelah sekian lama kita merindukan saat-saat seperti ini, Allah berkenan menyertakan kita dalam indahnya menahan lapar, gembiranya menunggu beduk, nikmatnya santap sahur, syahdunya Al-quran yang kita lantunkan, khusuknya ibadah malam, dan tunduknya hati beri’tikaf di rumah Allah, subhanallah mudahmudahan kita bukan termasuk orang-orang yang menyia-nyiakan keindahan nikmat bulan yang penuh berkah dan maghfirah ini dengan kemaksiatan ... Sahabat, Ketika orang-orang tidak menyadari kekhilafannya, Allah menancapkan kesadaran dalam jiwa kita akan dosa-dosa yang selama ini telah berurat dan berakar dalam kulit dan tulang-tulang kita. Kita menyadari lisan-lisan yang selama ini sering berdusta, hati yang tidak mau tunduk, kotor dan penuh kedengkian, jiwa yang sombong, keingkaran yang amat sangat kepada Allah, kebencian kepada sesama saudara, durhaka pada orang tua, kelalaian tanggung jawab mendidik dan melayani anak, istri serta suami, ketidak sabaran menuggu datangnya seorang kekasih yang akan memantapkan langkah, kebahagiaan melihat orang lain menderita, iri, benci termasuk dendam kesumat. Kita menyadari itu semua sebagai akibat dari lemahnya iman yang tertanam, astaghfirullah al aziem, mohon ampun ya Allah ... Sahabat, Saat bulan yang penuh ampunanan ini datang menghampiri, Allah mengulurkan tanganya untuk kita sambut walaupun tangan kita tak kuasa digerakkan untuk merangkulnya. Walaupun tangan itu sering menepis tapi Allah tidak pernah berhenti mengulurkannya. Meskipun dosa-dosa kita seluas langit dan bumi, tapi ampunan Allah tidak pernah bertepi. Walaupun tobat kita sering mungkir, tapi Rahman dan Rahim Allah tidak pernah mangkir … Sahabat, Tidak ada yang lebih membahagiakan tatkala kita menyadari dosa-dosa yang pernah ada, kemudian kita berencana untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri. Tumpahkanlah air mata penyesalan itu. Biarkan dia membanjiri sepertiga malam yang hening, saat itu biarkanlah tangan Allah yang kuat dan lembut itu menyeka air mata penyesalan kita. Kemudian kitapun akan meresakan sebuh kekuatan ghaib akan tumbuh dan membawa kita ke dada pelangi, di sana hanya akan kita temukan keindahan warnawarni kehidupan yang menyejukkan, membahagiakan, yang akan membuat diri kita menjadi orang yang produktif, kreatif, inovatif dan prestatif. Sahabat, Tundukkanlah hati, rendahkanlah diri di hadapan-Nya. Jangan biarkan ramadhan yang romantis ini berlalu begitu saja. Tumpahkanalah sujud ke bumi di sepertiga malam terakhir, kuatkan azzam agar dapat bercengkrama dengan Allah di rumah-Nya pada sepuluh hari terakhir. Isilah pundi-pundi investasi abadi kita dengan infak, zakat dan

sedekah. Semailah benih-benih kebaikan, kelak kita akan menuainya dengan sebuah kenikmatan abadi di sebuah taman, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai … Sahabat, Selamat menjalankan ibadah ramadhan, mudah-mudahan segala kebaikan dan kindahannya bukan sekedar fatamorgana, tetapi sebuah energi yang membawa perubahan baru bagi diri dan jiwa kita, serta sebagai momentum untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, karena perubahan tidak mesti memperbaiki sesuatu, tetapi untuk menjadi lebih baik kita mesti berubah (Yesi Elsandra, for members of surau@yahoogroups. Special womens, bundo, ni yus, ni GM, ni ta, ni susi, ni rahima let’s try to do our best for minang future)

Dua Pilihan Yang Tidak Bisa Ditawar
Publikasi 14/11/2002 11:53 WIB eramuslim - Setelah “panggung sandiwara” ini usai, kita mendapati dua pilihan atas peran yang telah kita mainkan. Di atas panggung, kita bebas berimprovisasi, asalkan tetap berada dalam kerangka naskah yang telah di atur dan ditetapkan oleh Sang Sutradara. Penilaian hanya ada dua, baik dan buruk, jalan lurus atau jalan menyimpang. Maka tidaklah sama antara yang haq dan yang batil. Sangat jauh berbeda kehidupan surga dan neraka. Pilihan Pertama. Dalam Al-Quran Surat Qaaf ayat 30 dikatakan “Dan ingatlah akan hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada jahanam: “Apakah kamu sudah penuh? “Dan jahanam menjawab: “Masih adakah tambahan? Ini adalah dialog Allah yang Maha kuasa dengan neraka jahanam. Suasana manakah yang lebih mengerikan dari suasana di dalam neraka jahanam. Semua makhluk tidak akan sanggup dan bercita-cita ingin memasukinya, semua ingin selamat dari neraka. Tapi neraka senantiasa memangil-mangil bahkan bertanya "masih adakah lagi tambahan anggotaku?" Panggilan itu bertebaran di muka bumi berupa acara yang mengelar syahwat, walaupun untuk mengikutinya tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan. Panggilan neraka itu mengarah kepada mereka yang menurutkan hawa nafsu, wanita yang menggelar aurat dan harga dirinya dengan harga yang sangat murah. Panggilan neraka itu tertuju kepada mereka yang melupakan Tuhan yang telah menciptakan mereka. Mereka lebih sibuk dengan bisnis haram, hiburan memabukkan, mereka mempermainkan agama, mereka terus mendengar panggilan neraka, hingga maut menjemput baru tumbuh kesadaran, insyaf, namun sayang semuanya sudah terlambat, kematian sudah tidak dapat lagi ditunda. Maka pada hari perhitungan digiringlah pendengar seruan neraka tadi ke jahanam, mereka dilemparlah satu-persatu dengan kasarnya. Jumlah mereka semakin bertambah

saja, "Apakah kamu sudah penuh wahai neraka?" tanya Allah. "Masih adakah tambahan?" jawab neraka. Masya Allah, neraka senantiasa memanggil-mangil manusia, tempatnya masih cukup untuk memuat sebanyak apapun manusia. Cukuplah sampai disini saja, jangan hiraukan lagi panggilan dunia, hentikan perbuatan dosa, kembalilah kepada Rabb yang telah menciptakan kita!!! Pilihan Kedua Pada hari Senin tangal 12 Rabi’ul Awal tahun 11 H, kematian menjemput Rasulullah. Manusia sempurna yang telah dijanjikan Allah surga itu telah menemui Rabbnya dengan jiwa yang tenang. Ia hanyalah seorang manusia biasa, kematian tidak lupa menghampiri kekasih Allah itu. Disaat sakaratul maut itu, Aisyah mendengar apa yang beliau katakan: "Ya Alah ampunilah aku, rahmatilah aku, dan pertemukanlah aku dengan Kekasih Yang Maha Tinggi. Ya Allah, Kekasih Yang Maha Tinggi" Keindahan surga tidak akan terbayang di pelupuk mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, tidak terpikirkan oleh akal. Menurut Ibnu Qayyim, bagaimana bisa dibayangkan, rumah penghuni surga yang dibangun Allah dengan Tangan-Nya sendiri berbentuk istana. Yang materi batu batanya dari emas dan perak, yang atapnya Arasy Ar-Rahman, yang pepohonannya dari emas dan perak sebening kaca, yang buah-buahannya lebih lembut dari keju dan lebih manis dari madu, yang sungai-sungainya mengalirkan susu, madu dan arak yang tidak memabukkan, yang kebagusan wajah penghuninya seperti rembulan, yang kendaraanya kuda dan unta bersayap, yang istri mereka bidadari yang disucikan, cantik jelita nan bermata jeli. Surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai tidak akan mungkin kita temui di dunia ini. Kematian merupakan jembatan menuju jannah-Nya. Jika kita berharap akan mendapatkan jannah-Nya maka persiapkanlah bekal menuju ke arah sana. Sehingga kematian menjadi suatu yang sangat kita nanti-nantikan, sebagimana pejuang Islam yang syahid di belahan bumi Islam sana, mati syahid telah mengharumkan ruhnya, perjumpaan dengan Tuhan menjadi cita-cita mereka. Sedikitpun mereka tidak takut, karena mereka memiliki seni tersendiri menghadapi kematiannya. Kematian dapat menghantarkan manusia kepada perjumpaan dengan Kekasihnya. Hal ini di buktikan dalam diri manusia sempurna Rasulullah. Jika Rasul saja tidak luput dari kematian, lalu apakah kita yang tidak ada jaminan untuk bisa masuk surga ini akan kekal hidup di dunia? Setiap jiwa memiliki seni tersendiri menyiapkan kematiannya, manusia bebas memilih kedua pilihan itu. Bagaimana dengan kita, apakah sudah siap jika detik ini juga kematian itu menghampiri, kemudian kita dihadapkan pada kedua pilihan itu, mana yang akan Anda pilih? Wallahu'a'lam bishshowab (Yesi Elsandra)

Seperti Malaikat

Publikasi 12/11/2002 08:08 WIB eramuslim - Innallaaha ma ‘anaa ... Rasulullah menenangkan sahabatnya, Abu Bakar Shiddik yang ketakutan saat bersembunyi dari kejaran pasukan kafir yang hendak membunuh mereka, di gua Tsur. Saat itu mereka tengah dalam perjalanan hijrah menuju Kota Madinah. Rasulullah yakin, Allah segera menurunkan para malaikat untuk melindungi dan menyelamatkan mereka. Dan keyakinan itu terbukti, seperti dikisahkan bahwa ada seekor laba-laba yang membuat sarangnya menutupi mulut gua segera setelah kedua hamba Allah itu masuk gua. Tindakan laba-laba itu tentulah dapat mengelabui orang-orang yang mengejar Rasulullah, sehingga mereka berpikir, mustahil Rasulullah masuk ke dalam gua tanpa merusak sarang laba-laba. Di Thaif, Jibril seolah ‘marah’ melihat kekasih Allah, Muhammad Saw dihina, dicaci, diejek sebagai penipu, diludahi bahkan disakiti dengan lemparan batu saat menerangkan ajaran Islam kepada kaum di tempat itu. ‘Kemarahan’ malaikat pendamping setia Rasulullah itu ditunjukkan dengan tawarannya untuk membalikkan gunung-gunung di sekitar Thaif untuk membinasakan kaum yang menindas Rasul dan para sahabat itu. Dalam perang Badar, tiga ratus pasukan mukminin mampu memukul mundur pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya sangat tidak sebanding, yakni tiga kali lebih banyak dari pasukan yang dipimpin Rasul. Rasulullah dan para sahabat yang bersyukur merayakan kemenangan itu merasa yakin, Allah dan para malaikat-Nya lah yang ‘turun tangan’ membantu mengalahkan musuh, disamping semangat tinggi, keberanian yang tak diragukan serta kehebatan berperang para pasukannya. Masih banyak kisah-kisah yang bisa kita hadirkan untuk membuktikan betapa Allah sangat peduli dengan mengirimkan para malaikat untuk membantu kaum mukminin dalam segala hal. Seperti yang dibuktikan para pejuang mujahidin Afghanistan saat berperang melawan pasukan Rusia. Secara logika, adalah mustahil kesederhanaan persenjataan dan keterbatasan amunisi yang dimiliki pejuang Afghan mengalahkan kehebatan senjata otomatis dan modern miliki pasukan Rusia. Belum lagi ditambah dengan kendaraan lapis baja serta serangan udara yang mematikan dari Rusia. Sebuah buku kecil yang terbit sekitar akhir tahun 1980-an yang ditulis oleh Dr. Abdullah Azzam, Ayaaturrohman fii Jihadil Afghan, banyak mengisahkan pertolongan-pertolongan Allah dengan menurunkan malaikat-malaikat-Nya untuk membantu perjuangan mujahidin Afghan. Kini, sebagian orang memudar keyakinannya akan datangnya pertolongan Allah seperti yang pernah dialami kaum mukminin sebelumnya. Bahkan tidak sedikit yang berpikir, malaikat-malaikat Allah itu hanya turun pada saat Rasulullah masih ada. Padahal seharusnya kita meyakini bahwa Allah tetap menurunkan para malaikat-Nya guna membantu hamba-hamba-Nya yang beriman, para abdi Allah yang komitmen pada agamanya, dan mereka yang tak selangkahpun mundur atau keluar dari jalan perjuangan menegakkan, membela agama Allah.

Dalam banyak kesempatan, saat kesedihan melanda, datang seseorang saudara yang dengan caranya sendiri mencoba membuat kita tersenyum, sekaligus mengajarkan kita agar senantiasa kuat menerima segala bentuk cobaan. Saat kesulitan datang, ada saudara lain memberikan jalan keluar sehingga kita tak gelap mata dan dengan mudah menyelesaikan setiap persoalan yang terasa begitu rumit untuk dipecahkan. Saudarasaudaranya yang menghibur dikala sedih, menunjukkan jalan keluar dari kesesatan, mereka bukanlah malaikat. Tetapi apa yang dilakukannya seperti malaikat yang dihadirkan Allah bagi orang-orang yang memerlukannya. Mereka yang lebih kuat ketika mengangkat orang-orang yang lemah sehingga dapat ‘terbang’ bersama, para dermawan yang menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim piatu, orang yang memberikan pertolongan saat terjadi musibah, bencana alam, atau orang-orang yang sekedar menyapa lembut menyentuh hati seseorang yang terluka, atau juga mereka yang ikhlas memaafkan kekeliruan orang yang berbuat salah. Termasuk sahabat-sahabat yang menyentil kita dengan nasihatnya saat diri ini salah melangkah. Allah seperti menurunkan para malaikat-Nya saat itu, tanpa kita sadari. Seperti halnya Jibril dan ribuan malaikat yang pernah membantu Rasulullah dan kaum mukminin sebelumnya, ‘malaikat-malaikat’ yang berada di sekeliling kita saat ini pun memberikan bantuannya tanpa berharap balasan, tak meminta pujian dan penghargaan dari siapapun. Bagi mereka, mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan pertolongan menjadi kebahagiaan tersendiri, selain juga bentuk rasa syukur telah diberikan nikmat lebih oleh Allah, juga bagian lain dari ibadah. Bersyukurlah, Allah masih berkenan menurunkan malaikat-malaikat-Nya yang menyertai saudara, sahabat, atau siapapun yang kita sadari atau tidak telah banyak membantu. Dari yang terjatuh hingga mampu berdiri tegak, dari yang terpuruk sampai bangkit menatap masa depan yang cerah, yang tersenyum setelah kesedihan melanda, yang melonjak gembira saat meraih prestasi setelah sebelumnya merasa putus asa, dan dari yang terkulai lemah menjadi penuh semangat bergelora. Meski para ‘malaikat’ itu tak pernah berharap balasan, tentu mereka juga punya satu harapan, agar kita pun senantiasa menjadi malaikat bagi orang lain. Irwin Saranson dan koleganya (1991) melakukan penelitian terhadap 10.000 pelajar SMU, dari penelitiannya tersebut terungkap bahwa para pelajar yang diperlihatkan slide yang berisi tiga puluh delapan foto tentang aksi donor darah, mengalami kenaikan 17% untuk mendonorkan darah mereka daripada yang tidak melihat foto tersebut. Melihat orang lain “melakukan perbuatan yang benar dan baik” membangkitkan hasrat bawah sadar untuk meniru perbuatan tersebut. Maka, jadilah (seperti) malaikat bagi orang lain, sehingga tak ada lagi yang pernah berpikir, Allah telah membenci ummat-Nya karena tak lagi menolong .... Wallaahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama, spesial 4-N, Thanks)

Harapan Adalah Masa Depan
Publikasi 11/11/2002 07:31 WIB

eramuslim - Dalam ritme kehidupan yang sangat majemuk ini, manusia dihadapkan pada kenyataan-kenyataan hidup yang beragam. Dari sekian keberagaman pilihan itu, semua pasti berharap mendapatkan kehidupan yang bahagia, bermakna, serta berguna. Namun pada kenyataannya, ada kalanya manusia mengabaikan harapannya itu karena ketidaktahuan bagaimana merealisasikannya. Abu Ridho dalam buku Recik-Recik Spritualitas Islam mengatakan, harapan merupakan pancaran suasana batin atau situasi kemanusiaan yang sedang menanti-nanti atau mengharapkan sesuatu yang disenanginya bakal menjadi kenyataan. Sedangkan dalam perspektif Imam Al-Ghazali, sebuah harapan tepat disebut harapan bila istilah itu digunakan untuk penantian sesuatu yang disenangi, dan telah disiapkan semua sebab dan sarana yang masuk dalam kategori usaha seorang hamba; usaha yang dilakukan secara maksimal dan habis-habisan sehingga yang tersisa, dan ini yang menentukan, adalah sesuatu yang tidak masuk dalam kategori usahanya, yaitu karunia dan ketentuan Allah. Menurut kedua tokoh spiritual tersebut, harapan adalah keinginan terhadap sesautu yang dapat membuat kehidupan ini bahagia, sesuai dengan apa yang kita inginkan. Harapan merupakan pembangkit semangat, pelumas mencapai tujuan. Memiliki harapan berarti kita memiliki keinginan terhadap sesuatu yang dapat memberikan kekuatan bagi kita untuk mewujudkan sebuah kebahagian hidup yang bermakna. Betapa meruginya manusia jika tidak memiliki harapan terhadap masa depannya, atau memiliki harapan tetapi tidak berusaha mewujudkannya, atau bahkan tidak memiliki harapan hidup sama sekali. Siapa yang tidak berharap mendapatkan pasangan serta keturunan yang baik, siapa yang tidak berharap memenuhi hidupnya dengan prestasi, siapa yang tidak berharap kesuksesan dalam bisnis, karier, studi dan masa depan, siapa yang tidak berharap adanya kedamaian, siapa pula yang tidak berharap dapat menjalankan hidup ini dengan tenang melalui ibadah, serta dekat dengan Tuhan? Siapapun pasti menginginkan itu semua, karena semua itu adalah salah satu sumber kebahagiaan. Setiap manusia dapat mewujudkan harapan-harapan tersebut jika memiliki semangat, optimisme nan pantang menyerah, serta bekerja keras untuk mewujudkannya. Namun pada tahap realisasi, sering harapan tersebut tidak sesuai dengan keinginan manusia, atau sebaliknya, keinginan manusia terkadang melebihi harapannya. Atau bahkan harapan itu tidak direalisasikan sama-sekali, dan yang ada justru angan-angan belaka. Keadaan ini membuktikan kepada kita bahwa ada kekuatan lain yang seharusnya kepada-Nya kita gantungkan harapan. Itulah yang disebut oleh Imam Al-Ghazali sebagai karunia dan ketentuan Allah. Agar kita tidak kehilangan harapan, agar harapan sesuai dengan keinginan, agar harapan dapat memberikan kebahagiaan, maka tidak ada cara lain, yaitu mengantungkan harapan hanya kepada Allah. Ketidaksesuain harapan dengan kenyataan yang inginkan, jika kita tidak bertawakal kepada Allah maka dapat membuat kita putus asa. Berharap pada manusia dapat membuat kecewa, tapi jika kita berharap kepada Allah, Allah pasti akan memenuhi harapan kita.

Mulailah dari sekarang mencatat apa-apa yang Anda inginkan, kemudian tanamkan harapan agar Anda memiliki kehidupan yang baik di masa depan. Realisasikan semaksimal mungkin dengan kerja keras, jangan mengandalkan orang lain, setelah itu bertawakallah kepada Allah dan gantungkanlah semua harapan tersebut hanya kepadaNya, kelak apapun yang terjadi Anda tidak akan kecewa. (Yesi Elsandra)

Mengubah Dunia Dengan Senyuman
Publikasi 08/11/2002 07:17 WIB Oleh: Azimah Rahayu. eramuslim - Mengeja baris demi baris yang tertulis di rubrik muda Majalah Annida Akhir Oktober 2002 (Gatot Wahyudi: Pemenang I Remaja Berprestasi Annida 2002), airmata meleleh di pipi. Haru dan kagum padanya sekaligus juga malu pada diri sendiri. Haru dan kagum atas ketegarannya, malu karena sering merasa menjadi orang paling merana di dunia. Saat yang sama, semangat pun terbangun, untuk meneladaninya. Laki-laki muda dengan segudang prestasi di tingkat lokal maupun nasional itu ternyata hidup serba berkekurangan. Terlahir dari keluarga sangat sederhana. Bahkan sempat menggelandang bersama sang bapak ketika usianya masih sangat belia: 3 tahun. Sewaktu SMU, ia dua tahun tidur di sekolah demi mengirit ongkos perjalanan, karena jarak rumah dan sekolah lebih dari 20 km sedang alat transportasi tiada. Terbiasa puasa senin kamis, saat kuliah memilih puasa daud demi menghemat biaya makan namun tetap bisa makan teratur. Pernah 21 hari tak makan nasi, karena duit di kantong sudah sangat menipis. Namun dia menjalani semuanya dengan ringan. Senyum ceria selalu menghiasi bibirnya -seperti yang tampak di semua photo yang menghiasi halaman itu- hingga hampir tak ada dari teman-temannya yang tahu akan kehidupan kesehariannya. Senyum itu juga tetap merekah, ketika tak sengaja saya berkesempatan beberapa jam bersamanya dalam sebuah acara. Riang, penuh canda, tanpa beban. "Senyum". Satu kata ini sederhana dalam segala hal, namun memberikan kekuatan yang tak terkira. Dalam hal pelaksanaan, senyum adalah aktifitas sederhana untuk dilakukan. Hayo, siapa sih orang hidup di dunia ini yang tak bisa tersenyum? Orang miskin maupun kaya pun bisa tersenyum, karena senyum tak membutuhkan modal, kecuali niat dan ketulusan hati. Manusia pinter dan tidak pinter sama-sama bisa tersenyum karena untuk bisa tersenyum tak perlu sekolah. Sejak kita lahir, orang-orang di sekeliling kita telah menyambut kita dnegan senyum lebar, sekaligus mengajarkannya pada kita. Sakit atau sehat, cacat ataupun normal, semua orang masih bisa tersenyum, karena ia tak membutuhkan usaha luar biasa. Cukup menarik kedua ujung bibir ke atas sedikit. Kecuali jika sakit dan cacatnya seputar mulut.

Secara fisik, tersenyum dapat membuat kita selalu dalam kondisi riang. Bobby De Porter dalam bukunya Quantum Learning mengatakan bahwa sikap tubuh seseorang dapat mempengaruhi perasaan atau mood seseorang sebagaimana perasaan juga mempengaruhi sikap tubuh seseorang. Ayo kita coba. Anda sedang sedih atau marah. Kemudian usahakan menarik ujung kedua bibir anda keatas, membentuk sebuah senyuman. Dan tanyakan pada hati anda dengan jujur: Apakah anda masih tetap merasa sedih seperti semula?. Saya percaya, setidaknya perasaan anda tidak seblue sebelumnya. Kemudian cobalah sebaliknya. Anda sedang berperasaan biasa saja atau bahkan tengah riang dan gembira. Kemudian duduklah dengan bahu merunduk. Bungkam mulut anda dan kerucutkan. Maka tiba-tiba anda akan merasa sedih. Nah, kenapa kita tidak gunakan sikap tubuh untuk mempengaruhi kondisi mental dan jiwa kita? Menyikapi segala sesuatu dengan senyum, insya Allah segalanya akan ringan. Kata Emha Ainun Najib dalam buku 'Mati Ketawa ala…" orang yang selalu riang dan suka tertawa sulit dimasukin jin dan setan, karena aura tubuh mereka yang rileks tidak menyenangkan bagi jin. Makhluk ini lebih suka memasuki tubuh orang yang suka melamun, berdiam diri dan menyendiri dan selalu bersedih hati. Dalam hal makna, senyum juga bermakna sederhana. Mendengar kata "senyum", pasti yang terbayang pertama kali adalah wajah manis penuh keramahan dan cinta (Kecuali kalau dibelakang kata itu diberi embel-embel 'sinis', 'sarkastis' dan lain-lain). Senyum bisa menjadi pembuka komunikasi. Pun senjata jika kita sedang grogi. Senyum adalah bahasa dunia. Jika kita tak saling mengerti bahasa lawan bicara, meski tak saling sapa, senyum sudah cukup menjadi isyarat persahabatan. Senyum akan mencairkan kekakuan. Hingga ketegangan di antara dua sahabat pun terlelehkan. Hingga kemarahan pun padam, dan cinta serta aura kedamaian tersebar dalam sebuah kelompok, lingkungan dan komunitas. Bahkan Rasulullah pernah bersabda, "Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah". Ah, alangkah indahnya. Betapa damainya, betapa menyenangkan. Karena kita bisa beramal dan bersedekah, tanpa harus memiliki sesuatu yang besar. Cukup satu hal sederhana. Senyum penuh cinta, penuh ketulusan. Senyum adalah solusi sederhana. Terhadap kepedihan pribadi, kesedihan keluarga, luka masyarakat dan juga nestapa dunia. Lalu, mengapa kita tidak tersenyum saja? Agar perjalanan lebih ringan. Agar persahabatan lebih menyenangkan. Agar dunia lebih damai. Agar hidup lebih nyaman. Dan tanpa kita sengaja, kita telah berkontribusi terhadap perdamaian dunia. Alangkah indahnya! (azi_75@yahoo.com special 4 adikku Gatot: jazakallah telah memberi izin menulis tentangmu. Teruslah tersenyum, agar dunia belajar darimu bahwa hidup ini indah dan ringan bila disikapi dengan senyum)

Kepercayaan
Publikasi 07/11/2002 08:01 WIB

eramuslim - Para pemimpin besar biasanya memiliki orang-orang kepercayaan. Sering pula beberapa keputusan penting turut dipengaruhi oleh orang-orang ini. Kepercayaan yang diberikan kepada orang lain sering membantu banyak manusia mencapai tujuannya. Ia akan merasa aman, tenang, tanpa was-was. Tidak sedikitpun ada keraguan membagi resiko, keuntungan dan rahasia. Bahkan tidak jarang kepercayaan ini merupakan energi tersendiri bagi orang-orang hingga menjadikannya besar. Jika manusia memiliki kepercayaan yang begitu besar kepada orang lain untuk meraih tujuannya -padahal bisa saja suatu saat ia dapat berkhianat- mengapa manusia ragu untuk percaya kepada dirinya sendiri? Jika kepercayaan kepada orang lain dapat menbantu manusia mencapai cita-citanya, mengapa manusia mengabaikan potensi yang ada pada dirinya kemudian mengabaikan kepercayaan pada diri mereka sendiri yang sesungguhnya tidak kalah memiliki energi yang jauh lebih besar? Kepercayaan kepada diri sendiri merupakan kekuatan besar yang dapat mengantarkan kita pada berbagai tujuan yang mungkin sulit untuk kita realisasikan. David J. Schwartz dalam bukunya, The Magic of Thinking Big mengatakan, "Jika Anda percaya sesuatu itu tidak mungkin, pikiran Anda akan bekerja bagi Anda untuk membuktikan mengapa hal itu tidak mungkin. Akan tetapi jika Anda percaya, benar-benar percaya, sesuatu dapat dilakukan, pikiran Anda akan bekerja bagi Anda dan membantu Anda mencari jalan untuk melaksankannya." Jika kita mempercayai diri kita, maka kita akan memiliki pikiran-pikiran kreatif untuk membuktikan bahwa sebenarnya kita bisa mencapai tujuan kita. Pikiran kita akan membawa kita menyisir setiap kesulitan, hanbatan, bahaya dan segala rintangan. Kemudian dengan kekuatan besar yaitu keyakinan kepada diri sendiri bahwa "saya mampu melakukan itu" maka kita akan keluar dari segala rintangan dan menemukan jalan keluar dari setiap kesulitan, selanjutnya, setiap perjuangan kelak pasti akan kita menangkan. Menurut John Fereira yang dikutip dalam buku Emotional Spiritual Quotient, "Seseorang yang memiliki kepercayaan diri, disamping mampu untuk mengendalikan dan menjaga keyakinan dirinya, juga akan mampu membuat perubahan di lingkungannya" Betapa besar produktifitas yang dapat dihasilkan dari kepercayaan kepada diri kita sendiri ini. Namun jika kita dipenuhi oleh ketidakpercayaan kepada diri sendiri, maka pikiran kitapun bekerja untuk merealisasikan ketidak percayaan itu. Kemudian kita akan gagal, cita-cita kandas ditengah jalan, perjuangan menjadi sesuatu yang menakutkan. Itu artinya kita telah mengabaikan kekuatan besar yang sesungguhnya dapat membawa kita melejit, yaitu kepercayaan kepada diri kita sendiri. Akibatnya kreatifitas kita akan mati, daya juang kita akan tumpul, cita-cita hanya sebatas lisan, kemudian kesuksesan hanya tinggal mimpi. Kepercayaa merupakan sebuah energi besar dalam diri manusia. Tapi ada energi yang jauh lebih besar dari itu, yaitu kepercayaan kepada Zat yang menciptakan energi itu.

Kepercayaan itu signifikan dengan iman seseorang. Refleksi terhadap kepercayaan kepada Tuhan dirangkum dalam 6 rukun iman. Betapapun besarnya kepercayaan kepada diri sendiri, jika tidak dilandasi dengan kepercayaan kepada sumber energi, maka kepercayaan itu hanya akan sia-sia. Sinkronisasi kedua kepercayaan inilah sesungguhnya yang kelak membawa kita pada apa yang kita inginkan. Karena mudah saja bagi Tuhan menjadikan sesuatu yang tiada menjadi ada, begitu juga sebaliknya. Hargailah diri kita, sebagaimana Tuhan telah menghargai kita dengan melimpahkan segala Rahmat-Nya. Tinggal kita mau berjuang keras dan berusaha maksimal, kemudian dunia inipun akan ada dalam gengaman kita, mudah, semudah Tuhan menghidupkan dan mematikan kita. (Yesi Elsandra, untuk rang awak dima se barado)

Ramadhan nan Penuh Cinta
Publikasi 06/11/2002 07:43 WIB eramuslim - Merindu haru hati ini menanti saat kedatangannya, hingga tak kuasa menahan setiap tetesan air kesyukuran yang memancarkan kebahagiaan tak terlukiskan saat ianya tiba malam tadi. Segala puji bagi Allah yang telah berkenan kembali mempertemukan kita dengan bulan bertabur cinta. Cinta yang ditawarkan Allah kepada segenap makhluk di bulan Ramadhan selayaknya kita sambut dengan suka cita, seraya berharap kelak kita menjadi bagian dari golongan yang mendapatkan cinta-Nya. Detik-detik menjelang satu ramadhan, ungkapan cinta bertaburan di seantero dunia menyambut hangat ramadhan ditandai dengan jalinan silaturahim melalui surat, telepon, SMS, email, atau bahkan rangkaian acara-acara khusus menyambut tamu agung ini. Cinta yang diberikan-Nya bukanlah sesuatu yang abstrak, setidaknya dengan ramadhan, mereka yang terbiasa sibuk sedemikian rupa sedikit mempercepat aktifitasnya agar segera tiba di rumah untuk menikmati berbuka bersama keluarga. Juga yang biasanya tak sempat untuk sarapan bersama, Allah memfasilitasinya saat makan sahur. Bukankah yang demikian dapat kembali menyuburkan cinta dan menghangatkan keharmonisan keluarga? Kata Rasul, saling mencintai dan berkasih sayanglah kepada sesama yang di bumi, maka seluruh yang di langit akan mencintai dan mengasihimu. Cinta sosial, Allah berikan juga kesempatan manusia untuk mengaplikasikannya saat-saat bersama melakukan shalat tarawih berjama’ah, saling menghantarkan makanan berbuka kepada tetangga, juga tak lupa memberi sedekah dan hidangan berbuka kepada pengemis, fakir miskin dan anak yatim-piatu. Bahkan menjelang hari akhir ramadhan, wujud cinta juga terealisasi dengan mengeluarkan sebagian harta kita untuk zakat guna melengkapi proses pembersihan diri menuju kesucian. Infaq, sedekah, dan zakat yang kita keluarkan, adalah bukti cinta kita kepada Allah sekaligus menegaskan bahwa kita tak termasuk orang-orang yang cinta harta dunia dan sadar akan adanya sebagian hak orang lain dari apa-apa yang kita miliki. Adakah yang

cintanya sebesar sahabat Abu Bakar Shiddik yang mengeluarkan seluruh hartanya di jalan Allah hingga Rasul-pun bertanya apa yang tersisa untuknya. “Allah dan rasul-Nya, cukuplah bagiku” jawab Abu Bakar. Dan tentu saja, perlulah diri ini belajar dari Ibrahim alaihi salam dan keluarganya tentang hakikat dan bentuk cinta kepada Allah. Hal yang tidak kalah menakjubkan juga ditunjukkan Rasulullah kepada seorang anak yatim yang bersedih di hari raya. Ia menjadikan dirinya ayah, dan Fatimah saudara perempuan anak yatim tersebut seraya membahagiakannya saat hari bahagia, Idul Fitri. Malam-malam ramadhan, adalah saat terbaik kita bercengkerama dan bermesraan dengan Allah melalui tilawah dan tadarrus qur’an, tahajjud serta munajat kepada-Nya. Hati yang terpaut cinta, seperti enggan menuju pembaringan. Inginnya menghabiskan malammalam ramadhan dengan tangis penyesalan atas khilaf dan dosa, atas segala alpa, juga lalai. Sadar akan semua nikmat yang Allah berikan tanpa pernah alpa, tanpa pernah pula khilaf, salah dan lalai. Dia senantiasa memberikan pelayanan terbaik kepada hambahamba-Nya, namun kita membayarnya dengan cinta yang semu, cinta yang terkadang hanya terucap di lidah tanpa wujud yang nyata. Astaghfirullaah … Jika hati ini sedemikian rindunya menanti kedatangan bulan penuh rahmat dan maghfirah ini, tentulah, selayaknya orang saling mencinta, akan ada tangis jika kekasihnya pergi. Tetesan air mata yang akan mengalir nanti, takkan terhitung betapa derasnya membayangkan kemungkinan bertemunya kembali kita dengan ramadhan nan penuh cinta ini. Saat hari fitri tiba, pantaslah ada keceriaan bagi mereka yang mendapatkan kemenangan melewati masa-masa ujian selama ramadhan, dengan satu harap menjadikan taqwa sebagai hasil akhir ramadhan. Namun tentu saja, sambil menghitung-hitung betapa menyesalnya kita tak memanfaatkan ramadhan yang telah lalu dengan amal sebaikbaiknya, dengan ibadah yang bernilai, hingga tangis ini akan semakin keras berteriak dalam hati. Satu tanya bergelayut “Akankah kita kan sampai di ramadhan tahun depan?” Maka, hati pun berdo’a penuh harap, “berilah hamba kesempatan”. Wallaahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Senyumlah …
Publikasi 05/11/2002 12:16 WIB eramuslim - Jangan bermuka masam, karena Allah sangat tidak menyenangi perbuatan itu. Bahkan Rasulullah pun pernah ditegur-Nya karena bermuka masam dan memalingkan muka terhadap Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta yang mengharap agar Rasulullah Saw membacakan kepadanya ayat-ayat Al Qur’an yang telah diturunkan Allah. Pada saat itu Rasul tengah menerima dan berbicara dengan pemuka-pemuka Quraisy yang beliau harapkan agar mereka masuk Islam. Kisah teguran Allah kepada Rasulullah diatas merupakan asbaabunnuzul (sebab-sebab turunnya) surah ‘Abasa (bermuka masam) yang dapat menjadi pelajaran bagi sekalian manusia betapa Allah tidak senang dengan sikap demikian. Pelajaran pertama yang bisa

kita ambil, bahwa Rasulullah pun manusia biasa yang masih mungkin melakukan kesalahan dan kedua, terkait dengan sikap bermuka masam alias acuh terhadap orang lain (siapapun) yang tidak dibenarkan oleh Allah. Sebelas ayat pertama surah ‘Abasa menjelaskan secara lengkap larangan bermuka masam atau sikap mengacuhkan orang lain. Bahkan ditegaskan Allah dengan kalimat “Sekalikali jangan (demikian)!” pada ayat ke sebelasnya. Peringatan itu tentu menjadi pelajaran yang berharga bagi baginda Rasul, dan hendaknya demikian juga bagi kita pengikutnya. Manusia memiliki ego pada dirinya masing-masing, dan dengan (pengaruh) ego-nya itulah setiap watak dan karakter manusia terbentuk. Meski ada anasir lain yang membentuk watak dan karakter manusia, namun keberadaan ego sangatlah penting, makanya menjadi kepentingan utama juga bagi setiap manusia untuk menjaga, memenej dan mengolah ego-nya agar terkendali sehingga teraplikasi dengan baik. Mereka yang tidak mampu mengendalikan ego-nya, lazim disebut sebagai orang yang egois, mau menang sendiri dan tidak toleran. Salah satu ciri khas dari orang egois adalah berbuat dengan sekehendaknya, artinya apa yang menurutnya benar maka ia itulah yang dikerjakannya. Masalahnya kemudian, tidak semua orang memiliki tingkat pemahaman yang baik tentang ‘benar-salah’ menurut norma maupun nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam. Sehingga yang terjadi adalah pembenaran atas kebenaran subjektifitas, dan inilah pangkal awal dari kesalahan orang bersikap dan bertindak. Soal pilah-pilih sahabat misalnya. Baik sih jika yang menjadi patokan adalah, kesesuaian norma dan nilai yang dipegang (dalam hal ini misalnya, tidak bertentangan secara aqidah) atau standar akhlak dan kebiasaan. Tapi kalau yang menjadi ukuran adalah soal, pantas tidak pantas, like or dislike, ataupun hal-hal subjektif lainnya, tentu tidak bisa dibenarkan. Subjektifitas itulah yang kemudian dengan bebasnya menentukan siapa yang pantas disikapi dengan baik siapa yang tidak, siapa yang didahulukan siapa yang harus ‘dicuekin’, atau bahkan siapa yang akan dijadikan sahabat dan siapa yang semestinya dimusuhi. Sikap ramah misalnya, seringkali kita hanya bersikap ramah kepada orangorang yang kita kenal dan baik hati. Atau senyum, biasanya terkhususkan bagi siapa yang menurut kita pantas untuk disenyumi. Padahal Islam tidak mengajarkan demikian, selain pelajaran tentang teguran Allah terhadap Rasulullah diatas, Rasulullah pun mengajarkan tentang keutamaan sikap-sikap kebaikan terhadap sesama, meski hanya sekedar menebarkan senyum, terhadap siapa saja yang kita jumpai. Tidak membeda-bedakan sikap berdasarkan kepentingan, atau mengukur prioritas pelayanan dari seberapa menguntungkannya orang tersebut buat kita. Sebuah pelajaran lain bisa kita dapatkan dari cerita ketika para sahabat sedang berkumpul bersama Rasulullah, maka dihadapan mereka lewat seorang dengan pakaian compangcamping dan beberapa sahabat berujar dan menilai orang yang barusan tidak mendapatkan kemuliaan Allah. Mendengar itu, Rasulullah berkata: “Sesungguhnya Allah

tidak melihat pada bentuk rupa dan jasad kamu. Tetapi sesungguhnya Allah melihat hatihati kamu.” Keberkahan Allah, tidak hanya datang dari orang-orang dermawan yang kerap menyisihkan sebagian hartanya untuk diinfakkan, melainkan juga dari tangan-tangan terbuka para pengemis yang setiap hari lalu lalang di depan kita. Rahmat Allah, tidak hanya singgah kepada mereka yang diberi kesempatan untuk menikmati hidup berkecukupan di dunia ini, karena Rahmat itu juga sesungguhnya ada pada yang tak memiliki harta karena Allah sayang padanya sehingga tak membebaninya dengan pertanggungjawaban harta yang bertumpuk. Kasih sayang Allah tidak hanya tercurah kepada segelintir orang, sesungguhnya Ia Maha Adil atas Rahmaan dan Rahiim-Nya, hanya saja kita sering salah mengartikannya atau tidak mampu mencernanya. Maka semestinya, senyuman dan sikap ramah menjadi keutamaan sikap terhadap siapapun. Karena dengan itu modal utama penerimaan orang lain terhadap kita. Dengan senyum ramah itulah kita bisa berharap besar akan kebaikan orang lain. senyum dan ramah jugalah yang mampu meluluhkan amarah dan kebencian orang terhadap kita. Dan karena dengan itu jugalah Allah menyapa hamba-hamba-Nya di surga kelak. Wallaahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Warisan Paling Berharga
Publikasi 31/10/2002 08:04 WIB eramuslim - Pada suatu hari Abu Hurairah radiallaahuanhu berdiri di pasar kota Madinah. Kemudian dia berkata kepada para pedagang, "Wahai para pedagang, mengapa kalian masih belum menutup dagangan kalian?" Mereka bertanya kebingungan, " Ada apa kiranya ya Aba Hurairah?" Abu Hurairah menjawab, "Apakah kalian tidak tahu kalau warisan Muhammad SAW tengah dibagi-bagikan sehingga kalian masih berdiri disini? Apakah kalian tidak ingin mengambil bagian kalian?" Dengan keinginan yang meluap mereka bertanya serius, "Dimana ya Aba Hurairah?!" "Di Masjid Rasulullah," jawab Abu Hurairah ra. Setelah diberitahu demikian, para pedagang itu segera bergegas ke Masjid Rasulullah, sedangkan Abu Hurairah tetap tinggal disitu, tidak ikut pergi. Tak Berapa lama kemudian para pedagang itu kembali ke pasar. Abu Hurairah bertanya kepda mereka, "Mengapa kalian kembali?" Mereka segera menjawab dengan nada kesal, "Ya Aba Hurairah, kami telah datang ke Masjid, tetapi setiba disana kami tidak melihat ada sesuatu yang dibagikan Rasulullah..." Abu Hurairah bertanya lagi memancing, "Apakah kalian tidak melihat seorangpun di Masjid?". "Bukan demikian ya Aba Hurairah, kami melihat banyak orang tetapi bukan yang seperti yang kau maksud, kami melihat banyak orang sedang sholat, sementara

sekelompok lainnya ada yang mengaji Al Qur'an dan ada pula yang sedang mempelajari soal-soal yang haram dan halal..." jawab para pedagang dengan agak sewot. Mendengar uraian para pedagang tersebut, Abu Hurairah menjelaskan, "Wahai para pedagang, ketahuilah, itulah warisan Muhammad SAW yang paling berharga untuk kalian semua...". (Hadist Riwayat Tabrani) *** Saudaraku, Ketahuilah bahwa tidak ada yang lebih berharga dari apapun yang kita miliki di dunia ini melainkan sesuatu hal yang senantiasa kita lakukan demi mengharap ridha Allah. Karena dengan itu semua, Dia akan membalasnya dengan sesuatu yang tak pernah terukur nilainya, takkan pernah ternilai besarnya, yakni kecintaan-Nya akan orang-orang yang mencintai. Maka, tatkala datang seruan-Nya, buktikanlah bahwa kita termasuk orang-orang yang mencintai Allah diatas segala kecintaan terhadap apapun. Wallaahu a'lam bishshowaab (Dwi Ryan/ ryan_088@yahoo.com)

Menjadi Manusia Kreatif
Publikasi 30/10/2002 11:15 WIB eramuslim - Pernah nonton film Mission Impossible? Film layar lebar yang dibintangi oleh Tom Cruise itu sebenarnya pernah menjadi film seri yang diputar setiap minggu di sebuah TV swasta di tahun 1990-an. Satu hal yang menarik dari film tersebut, seimpossible apapun misi yang diemban oleh Ethan Hawk (diperankan oleh Tom) namun endingnya selalu saja mengisahkan keberhasilan. Satu hal yang tergambarkan dengan jelas dalam film tersebut (baik layar lebar maupun seri-nya) adalah kebiasaan para tokoh yang tergabung dalam tim pengemban ‘misi yang tidak mungkin’ alias ‘mustahil’ dicapai itu untuk senantiasa memiliki plan A, plan B, bahkan plan C, sehingga hampir setiap film itu diakhiri dengan keberhasilan menjalankan misi. Norman Vincent Peal, menuliskan buku best seller, You Can If You Think You Can (Anda bisa jika Anda berpikir bahwa Anda bisa), sebuah buku yang memberikan motivasi besar kepada para pembacanya untuk optimis meraih hal-hal yang sesungguhnya ‘bisa’ diraih. Antara Norman (dan bukunya) dengan film Mission Impossible memang tidak ada kaitannya, hanya saja jika kita mau melihat sisi pelajaran yang mau diambil, tentu ada kaitannya. Roger Von Oech, lewat bukunya A Whack on Side of the Head, bisa menjelaskan keterkaitan antara keduanya. Karena lewat buku tersebut, Von Oech mengetengahkan sepuluh kebiasaan manusia kreatif, dimana tertulis “suka mencari jawaban kedua” sebagai kebiasaan pertama seorang yang kreatif. Menurut Oech, Anda jangan hanya punya satu solusi yang berati hanya punya satu pilihan. Kreativitas meminta Anda menemukan jawaban kedua yang mungkin lebih tepat. Nah, kesuksesan Ethan Hawk mengemban misi yang dianggap tidak mungkin dicapai itu adalah karena

kebiasaan timnya untuk menyiapkan lebih dari satu solusi. Dan Norman menguatkannya dengan satu motivasi, bahwa tidak satupun yang ada dihadapan manusia itu tidak bisa diraih. Dan yang perlu diketahui, Allah dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat terakhir telah jauh terlebih dulu memberikan motivasi kepada setiap mukmin, bahwa Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Masalahnya adalah sifat manusia yang sering kali memperturutkan hawa nafsunya, yang dalam hal ini salah satunya adalah sifat malas, dan enggan berusaha keras. Sehingga kemudian yang tampak didepannya adalah sebuah gunung batu menjulang tinggi yang tak mungkin dilewati, sebuah tembok raksasa yang mustahil ditembus. Padahal sejarah pun mencatat, Rasulullah dengan 300 pasukan mukmin mampu memukul mundur pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya tiga kali lebih banyak dalam perang Badar. Orang dulu berpikir ruang angkasa adalah sesuatu yang invisible, namun para ahli Rusia membuktikan dengan mengirimkan Yuri Gagarin ke luar angkasa menggunakan Sputnik. Bahkan sekarang, orang sudah menjajaki pariwisata luar angkasa meski harus merogoh kocek yang tak sedikit. Sejarah lain juga ditorehkan oleh George Leigh Mallory dan Andrew Irvine yang disebut-sebut sebagai orang pertama menapakkan kakinya di puncak tertinggi dunia, Mount Everest pada 1924. Kini ribuan pendaki sudah membuktikan bahwa puncak tertinggi itu bisa ditapaki. Menjadi manusia kreatif, tambah Oech, tidak cukup hanya dengan memiliki satu kebiasaan diatas. Oech juga memaparkan tentang kebiasaan lainnya, yakni suka berpikir lunak. “Kreativitas adalah pengembangan hasil otak kiri yang bersikap keras terhadap ide oleh otak kanan yang lunak yang mengabaikan batasan dan lunak terhadap berbagai ide,” kata Oech. Kebiasaan ketiga adalah Suka menggugat aturan. Jika aturan telah membatasi pilihan maka Anda harus mencari tahu mengapa suatu aturan dibuat. Mungkin alasan itu tidak relevan lagi. Mungkin sekarang ada pemecahannya yang lebih efektif. Suka mencoba kemustahilan, adalah yang selanjutnya. Oleh karena itu, jangan sekali pun pernah membuang ide sepintas yang kelihatan mustahil. Merenungkan lagi ide yang muncul dapat memicu berbagai kemungkinan baru. Toleran terhadap hal dilematis, disebut sebagai kebiasaan kelima. Dalam kenyataan, sering ide kretif lahir dari situasi dilematis atau kepepet. Adalah jarang inovasi muncul dari pola pikir yang tunggal, linier dan pasti. Kemudian yang keenam adalah, Melihat kesalahan sebagai peluang. Ada orang yang suka mencari aman dan menghindari dari kemungkinan salah atau gagal. Sesungguhnya kesalahan justru menempatkan kita memperoleh hal yang tak didapat bila melakukan dengan benar. Gede Prama, pernah menyebut Dedi ‘Miing’ Gumelar sebagai satu dari sekian orang yang dijadikan sahabatnya. Alasannya, tidak banyak orang yang bisa membuat orang lain tertawa, meski tidak meninggalkan aspek kecerdasannya. Nampaknya, untuk yang satu ini, Oech juga sepakat, karena ia menempatkan Suka humor dan santai sebagai kebiasaan

orang kreatif pada urutan selanjutnya. Memang ide kreatif muncul ketika terdesak situasi, tapi lebih banyak ide brilian dan segar lahir dari suasana santai dan gembira. Saat kita santai dan gembira pertahanan mental jadi longgar sehingga tidak pusing terhadap aturan, hal mustahil maupun yang keliru. Orang yang sibuk melihat dunia dalamnya sendiri akan kehilangan banyak ide. Meninjau dunia luar adalah wahana meraih ide baru untuk dunia dalam kita. Maka dari itu, Suka meninjau dunia luar sebaiknya menjadi satu kebiasaan tersendiri bagi orang-orang kreatif. Selain itu, Berani berpikir beda seolah menjadi ciri yang paling khas dari orang kreatif. Umumnya orang berusaha menyesuaikan dengan budaya organisasinya. Padahal tekanan organisasi bisa memasung kretaivitas. Jadi, beranilah pro terhadap hal yang tidak disetujui mayoritas walau tidak harus terlalu terbuka. Dalam hal ini, bukan berarti mengesampingkan kebenaran, karena disini akan lebih bernilai jika sikap satu ini untuk berbeda terhadap mayoritas ketidakbenaran. Dan yang terakhir disebutkan Oech, adalah senantiasa Terbuka terhadap gagasan baru. Orang yang mengaku bukan orang yang kreatif berarti telah memasung diri sendiri. Ingatlah, bahwa ide akan berkembang bila kita memberinya ruang. Baik dengan tambahan dari luar diri Anda atau tidak menekan ide yang telah dipunyai. Sudahkah menjadi orang kreatif? Mulailah hari ini juga! Wallaahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Mari Menebar Kasih Sayang
Publikasi 24/10/2002 09:05 WIB eramuslim - Siapa yang tak mengakui kebaikan hati seorang Bunda Theresia? Meski ia tak pernah menganut ajaran Islam yang penuh kedamaian, cinta dan kasih sayang, namun kebaikan hatinya tak diragukan bahkan dirasakan juga oleh yang bukan ummat nasrani. Sama halnya dengan Mahatma Gandhi, siapa yang berani membantah jika dikatakan bahwa Gandhi adalah manusia berhati mulia. Kebaikan yang dilakukannya, cinta dan pengabdiannya yang besar kepada ummatnya, menjadikan Gandhi sebagai sosok yang boleh diteladani dalam hal berbuat baik terhadap sesama. Kita pernah mempelajari bagaimana kebaikan hati Yusuf alaihi salam yang tidak menaruh dendam sedikitpun kepada saudara-saudaranya yang telah mencoba mencelakainya. Juga ketika seorang dipenjara yang melupakan kebaikan dirinya, tak sedikitpun ia marah. Kebersihan hati Yusuf itulah yang akhirnya secara tidak langsung menghantarkannya kepada kejayaan diri. Seorang Sulaiman yang dengan segala kebesarannya, masih menghormati makhluk kecil, semut, dan memerintahkan derap dan langkah para pasukannya untuk tidak mengganggu atau bahkan menginjak sekelompok semut yang mereka lewati. Rasulullah Muhammad saw tidak pernah sedikitpun mengajarkan kepada ummatnya untuk melakukan kejahatan, ketidakadilan, tindak kesemena-menaan bahkan kezhaliman.

Islam dengan segala ajaran kasih sayang dan kedamaiannya, justru mengutamakan perbuatan baik terhadap manusia itu sebagai perwujudan dari rahmantan lil ‘aalamiinnya ajaran yang disempurnakan Muhammad saw. Setelah para Nabi Allah sebelumnya juga mengajarkan hakikat Islam. Sebelum menjadi Rasul, Muhammad dikenal sebagai orang yang berhati mulia, jujur, sopan, bersikap lembut dan menghargai sesama. Itulah kemudian ia mendapatkan gelar al amiin, juga menarik hati seorang saudagar kaya Khadijah binti Khuwailid yang kemudian menjadi istrinya. Setelah menjadi Rasul Allah, kemuliaan hatinya tidak hanya diakui oleh kaum mukminin melainkan juga oleh kaum kafir Quraisy. Sebenci apapun para pembesar suku Quraisy seperti Abu Lahab, Abu Jahal, mereka tak pernah membenci Muhammad karena perilakunya yang buruk. Justru yang mereka khawatirkan adalah ajaran kebaikan, kedamaian, dan kemuliaan hati dari Islam yang langsung dicontohkan Muhammad-lah yang akan menggusur kekuasaan, kedudukan mereka. Bagaimana tidak, ketika orangorang memperjualbelikan budak dengan harga yang tidak manusiawi, Rasulullah (Islam) memuliakannya. Ketika para wanita dianggap masyarakat kelas sekian dan menjadi suatu kehinaan diri jika mempunyai keturunan seorang wanita, Muhammad justu mengangkat derajatnya. Tidak hanya itu, ketika ketidakadilan semakin mempertegas jarak dan perbedaan antara orang-orang kaya dengan fakir miskin, antara yang kuat dan yang lemah, Rasulullah datang dengan mengajarkan zakat dan infaq shodaqoh, mencontohkan bagaimana seharusnya kasih sayang dan cinta sesama saudara bagaikan mencintai diri sendiri. Islam adalah agama kebaikan, agama kasih sayang. Maka tidak sewajarnya ketika mereka yang mengaku mukmin melakukan kejahatan dan tindak kezhaliman. Kecuali dalam kondisi yang memang mengharuskan setiap mukmin mempertahankan harga diri dan melakukan pembelaan, Rasulullah tak pernah mengajarkannya. Bayangkan, saat para sahabat mulai marah dan tidak mampu menahan diri untuk melakukan balasan terhadap intimidasi dan penganiayaan terhadap kaum muslimin, Rasulullah baru mengabulkannya setelah ada izin dari Allah yang membolehkan berperang. Ada sebuah kisah seorang panglima perang besar kaum muslimin Amru bin Ash yang begitu mulia hatinya. Saat fajar sebelum berangkat melakukan penyerbuan ke wilayah musuh yang menentang Islam, para pasukan terheran karena hanya tinggal tenda Sang Panglima yang masih utuh belum dikemas. Alasannya, mungkin bagi kita sangat sepele, hanya karena ia mendapati seekor burung yang bertengger di atas tendanya tengah mengerami telurnya dan terpaksa menunda keberangkatan pasukannya. Kejadian itu sungguh mengherankan dua orang penyusup dari pasukan musuh yang menyamar bergabung dalam pasukan Amru bin Ash. Padahal pendelegasian keduanya menyusup itu sebelumnya karena para pembesar dan masyarakatnya mendengar berita tentang kekejaman Panglima Amru bin Ash beserta pasukannya yang dikatakan gemar membunuh, menyiksa dan menganiaya orang. Rupanya, dari kejadian itu mereka tak menemukan anggapan itu. Pikir mereka, bagaimana mungkin dikatakan kejam jika terhadap seekor burung pun sang Panglima sangat mengasihi.

Menjadi seorang muslim, berarti didirinya tertanam sifat-sifat kebaikan, cinta dan kasih sayang. Jika seorang muslim tak memiliki sifat diatas, tentulah karena ia tidak sepenuhnya mengamalkan ajaran Rasulullah. Sebaliknya, mereka yang meski berbuat baik, dan penuh kasih seperti Bunda Theresia dan Mahatma Gandhi, amalnya akan terputus dan tak diperhitungkan dihadapan Allah kelak karena mereka bukan muslim dan tak mengimani Allah. Oleh karenanya, perbaikilah segala sifat yang tak mencerminkan kebaikan dan kasih sayang itu, karena Rasulullah pun menegaskan, jika kita berbuat baik dan penuh kasih sayang terhadap semua makhluk di bumi, maka yang ada di langit akan mengasihi dan menyayangi kita. Amiin Allaahumma Amiin. Wallahu a’lam bishshowaab. (Bayu Gautama)

Karena Rasulullah pun Mendambakan Ramadhan
Publikasi 23/10/2002 07:23 WIB eramuslim - Segala puji bagi Allah SWT, yang Insya Allah memperkenankan kita menjumpai bulan suci, bulan mulia, bulan Ramadhan. Sholawat dan Salam senantiasa terucap kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, para tabi'in, tabi'it tabi'in, serta pengikutnya yang komitmen dengan risalahnya Dienul Islam hingga hari akhir nanti. Saudaraku, jika kita menantikan suatu saat yang sangat berharga bagi diri kita, katakanlah sebagai contoh, hari ulang tahun kita. Niscaya kita akan sangat bergembira jika saatnya tiba. Bahkan jauh hari sebelumnya, kita sudah mempersiapkan dengan 'full action', potong rambut, bersih-bersih, dan aktivitas yang akan menunjang penampilan kita pada hari yang dinanti-nanti itu. Tapi apakah kita sudah bersiap-siap untuk menyambut bulan yang sangat dinantikan oleh ummat Islam sepanjang masa? Bulan yang sangat dinantikan oleh Rasulullah, sehingga teruntai sebuah do'a yang sangat indah: "Allahumma bariklana fii rajab wa bariklana fii sya'ban wa balighna fii ramadhan" Ya Allah, berkahilah bulan Rajab ini, dan berkahilah bulan Sya'ban ini, dan sampaikanlah kami, panjangkanlah umur kami hingga bulan Ramadhan. Subhanallah, Rasulullah sendiri, manusia yang sangat mulia, sangat mendambakan akan datangnya bulan Ramadhan ini. Sudahkah kita meneladani beliau? Menantikan dengan penuh harap? atau kita hanya biasa-biasa saja menyambut kedatangannya, sama seperti bulan-bulan sebelumnya? Na'udzubillahi tsumma na'udzubillahi. Saudaraku, hakikat bulan Ramadhan ini sesungguhnya pada sejauh mana kita telah melakukan persiapan untuk menyambutnya. Sehingga pada bulan Ramadhan, kita dapat memanfaatkan waktu dengan optimal. Persiapan itu sendiri tidak dilakukan pada awal bulan Ramadhan, karena jika itu yang kita lakukan, maka kita akan ketinggalan kereta pahala dengan hamba Allah lainnya. Yang telah mempersiapkan diri jauh sebelum datangnya bulan Ramadhan.

Sangat sayang jika bulan Ramadhan yang hanya 29-30 hari itu, datangnya hanya sekali setahun, harus kita potong waktunya seminggu menjadi 22-23 hari hanya untuk persiapan yang seharusnya bisa kita lakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Dalam hadits juga diungkapkan, bahwa Rasulullah pada orang yang paling banyak dan menyempurnakan puasanya pada bulan Sya'ban. Pengkondisian fisik sudah dicontohkan oleh Rasul sebelum datangnya bulan Ramadhan. Pengkondisian ruhiyah juga sudah seyogyanya dilakukan sebelum bulan Ramadhan, shoum sunnah, tilawah qur'an, qiyamul layl, wirid ma'tsurat harian, dan lainnya. Buku Fiqh Shiyam juga menjadi bacaan wajib, agar kita mengetahui dalil dan fadhilah puasa yang akan kita lakukan, dan memperluas tsaqofah (wawasan) keilmuan kita. Juga yang harus kita ingat, agar sebelumnya mengqadha puasa-puasa wajib kita sebelumnya kita tinggalkan, entah karena sakit atau karena halangan lainnya. Semua persiapan ini dilakukan agar kita bisa menjalani Ramadhan ini dengan ringan, dengan bersemangat, dengan jihad (bersungguh-sungguh), serta berharap kita semua dapat menjadi Alumni teladan bulan Ramadhan, yang dapat membekas pada 11 bulan berikutnya. Selamat berjuang saudaraku, semoga Allah berkenan mempertemukan kita pada bulan Ramadhan esok. Amiin Allaahumma Amiin. (Bramsi Prenata/bramsi@cakraweb.com)

Kepada Anda Yang Bukan Perokok!
Publikasi 22/10/2002 07:35 WIB eramuslim - Seorang gadis spontan menutup hidung dengan tissue ketika laki-laki di depannya, penumpang lain dalam angkot itu menyalakan rokok kemudian menghisapnya dengan nikmat dan menghembuskan asap ke seantero ruangan. Beberapa penumpang lain bersikap biasa saja, barangkali karena merokok sudah merupakan budaya di Indonesia, sementara si gadis makin kuat menutup hidungnya, sesekali terbatuk-batuk dan terusmenerus menatap lekat si perokok dengan mata berair. Jadi sah-sah saja jika si perokok tidak peduli, bahkan makin menikmati hisapan demi hisapan sementara si gadis terus memelototinya dengan hati yang makin jengkel. Mengapa tidak menegur? Ingin si gadis menegur, tapi nyalinya tak cukup besar untuk melakukan itu. Takut dibilang rese? Takut dibilang memberangus hak orang lain untuk merokok? Sungkan? Takut dimarahi? Kalau boleh saya bilang, sesungguhnya si perokok lah yang seharusnya lebih merasa sungkan dibanding orang yang menegur. Kampanye tentang bahaya dan dampak negatif rokok sudah terlalu sering diadakan. Bahkan iklannya selalu muncul di televisi berbarengan dengan iklan rokok. Meskipun bisa dikatakan itu merupakan iklan setengah hati, sebagaimana setengah hatinya

pemerintah menyikapi masalah rokok ini. Bagaimanapun, rokok merupakan salah satu sumber pendapatan negara yang cukup besar. Nah, kalau begitu siapa dong yang bisa mengatasi -setidaknya mencegah- makin meningkatnya intensitas merokok dan akibat-akibatnya? Mengharapkan para perokok sadar? Wah, ini sih bagai pungguk merindukan bulan. Mereka tahu betul akan bahaya rokok, tapi mereka memang dengan sadar untuk terus merokok. Toh, mereka tidak merugikan orang lain. Kalaupun rugi, yang rugi tubuh mereka sendiri. Begitu mungkin argumentasi mereka. Sesungguhnya yang paling memungkinkan itu adalah kita: Orang-orang yang bukan perokok dan sadar akan dampak negatif rokok. Mungkin tidak semua kita tahu dan sadar bahwa menjadi perokok pasif (orang-orang yang secara tidak sengaja terhisap asapa rokok yang diproduksi oleh para perokok di sekelilingnya) itu relatif lebih berbahaya di banding perokok aktif. Jika anda wanita hamil, biasanya dokter akan menyarankan anda menjauhi rokok dan asapnya (bahkan suami pun diminta untuk menghentikan/mengurangi kegiatan merokok). Hal ini karena dipastikan asap rokok bisa mengganggu pertumbuhan janin. Pengaruh yang tidak kurang berbahaya juga dapat dialami oleh orang dewasa dan anak-anak yang bukan perokok, namun tanpa sadar menjadi perokok pasif. Teman saya akhirnya dirawat di rumah sakit karena sakit paru-paru gara-gara beberapa tahun bekerja diantara para perokok, sekalipun dia sendiri tidak pernah merokok. Nah, apakah anda rela menderita akibat yang bukan merupakan hasil perbuatan anda? Karena itu anda berhak sekali untuk melindungi diri anda dengan menolak menghisap asap rokok dari para perokok. Seperti tadi saya tengarai di atas, manusia Indonesia memiliki rasa sungkan yang cukup tinggi jika mengganggu orang lain, kenapa ini tidak kita jadikan senjata untuk memperkecil ruang bagi para perokok? Bukankah dengan demikian selain kita mempertahankan hak kita untuk tidak menghisap asap rokok dan melindungi diri dari kemungkinan menderita penyakit yang disebabkan status perokok pasif, kita juga secara tidak sengaja membantu si perokok mengurangi intensitas merokoknya? Cerita tentang gadis di paragraf pertama di atas adalah cerita tentang diri saya sendiri. Saya selalu merasa terganggu jika ada orang yang merokok di sekitar saya. Cuma waktu itu saya tidak berani menegur karena sungkan dan sebagainya itu tadi. Hingaga kemudian suatu hari saya membaca salah satu serial Olin karya Ali Muakhir. Si Olin ini dengan berani menegur seorang penumpang di angkot yang merokok. Kisah itu mengilhami saya untuk melakukan hal serupa meski dengan alasan berbeda. Suatu hari, dalam perjalanan kereta Solo-Jogya, seorang laki-laki hendak menyalakan rokok di dekat saya. Serta merta saya menegur, “Maaf, Mas! Bagaimana kalau merokoknya nanti saja saat sudah di luar kereta? Saya tidak tahan dengan asap rokok”. Dia mengangguk dan membatalkan rencananya untuk menyalakan rokok. Beberapa saat kemudian seorang penumpang masuk dengan rokok menyala di sela jari-jarinya. Karena tadi sudah ada yang saya tegur, saya rasa tidak adil kalau yang ini tidak saya tegur juga. Maka, saya kembali beraksi,

”Mas, boleh rokoknya dihabiskan di dekat pintu?” Rupanya dia malas kalau merokok harus menjauh dari teman-temannya. Maka rokok itu langsung ia injak. “Terima kasih”, kata saya. Dua pengalama di atas memberi keberanian dan kepercayaan diri pada saya untuk menerapkan hal yang sama di tempat-tempat umum lain. Di Bus, angkot, halte, ruang pertemuan, kantor dan lain-lain. Dan saya terpikir, kalau saja kita semua yang bukan perokok mau peduli akan hak kita untuk tidak menjadi perokok pasif dan menggunakannya, maka ruang bagi para perokok akan makin sempit. Mereka sebenarnya sungkan andai saja anda berani menegur. Masalahnya adalah, seberapa tinggi kesadaran anda untuk mempertahankan hak tidak menjadi perokok pasif? Seberapa besar pula nyali dan kepercayaan diri anda untuk menegur? Semuanya tergantung kepada anda. Bagaimana jika ada yang tebal muka, tetap cuek bebek dengan rokoknya meskipun sudah kita tegur? Gampang, anda tinggal memberinya masker plastik dan katakan, “Anda berhak merokok di sini sebagaimana saya berhak untuk tidak menghisap sampah asap rokok anda. Jadi silakan anda gunakan plastik ini untuk menutup muka anda agar anda dapat menikmati sendiri asap rokok itu”. Anda mau coba? Ayo, kita punya kemampuan untuk merubah sedikit wajah dunia dengan menggunakan hak kita. Jika ada diantara anda yang membaca tulisan ini adalah seorang perokok, maaf, tulisan ini bukan untuk anda. Tapi kalau anda terlanjur membaca, sebaiknya anda hatihati jika akan merokok di tempat umum, dari pada anda 'malu ati' karena ditegur orang nanti. (Azimah Rahayu/azi_75@yahoo.com)

Mulianya Memaafkan
Publikasi 18/10/2002 08:58 WIB eramuslim - Ada sebuah buku yang ditulis oleh seorang penulis terkenal, Dave Pelzer, berjudul A Man Named Dave, yang menggambarkan sebuah kisah tentang keberhasilan dan kekuatan dari sikap memaafkan. Buku tersebut - yang merupakan kesimpulan dari dua buku Pelzer sebelumnya yang menjadi best seller, A Child Called “It” dan The Lost Boy – begitu menyentuh hati siapapun yang membacanya, karena tidak seperti buku sebelumnya yang membuat dada berdegub, A Man Named Dave juga mengajak kita untuk meneguhkan hati, membalas kezaliman dengan sikap memaafkan. Sebagaimana digambarkan Pelzer, selama tidak kurang dari delapan tahun –sejak usia 4 tahun hingga usia 12 tahun- mengalami berbagai siksaan yang sangat brutal dari ibunya sendiri yang menganggap Pelzer hanya sebagai “It” yang bisa diperlakukan dengan seenaknya, meninju, menendang, melemparkan dari atas menggelundung ke dasar tangga, menginjak-injak bahkan mencekiknya sampai nyaris mati. Sebuah kebesaran hati yang mengesankan dari Dave Pelzer bahwa kemudian ia tak sedikitpun menyalahkan sikap The Mother (ibunya) selama delapan tahun itu yang menyebabkan ia tak bisa lepas

dari bayang-bayang masa lalu. Hingga akhirnya Pelzer menemukan dirinya sendiri di dalam hati, sampai ia mampu membebaskan diri. Bahkan dalam catatan di belakang buku tersebut, Jack Canfield, salah seorang penulis Chicken Soup for The Soul mengatakan bahwa Pelzer adalah bukti nyata yang menunjukkan bahwa kita masing-masing memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri sendiri, tak peduli pengalaman seburuk apapun yang menimpa diri kita. Dalam buku Mensucikan Jiwa, Said Hawwa menerangkan tentang empat kategori manusia dalam hal kemarahan, yang pertama, seperi ilalang yang cepat tersulut dan cepat pula reda. Kedua, seperti pohon bakau; lambat tersulut dan lambat pula redanya, ketiga, lambat tersulut dan cepat reda. Jenis ini yang paling terpuji, selagi tidak mengakibatkan redanya ghirah dan semangat pembelaan kebenaran. Sedangkan yang keempat, cepat tersulut dan lambat redanya. Jenis ini yang paling buruk. Berkaitan dengan itu, Imam Ghazali pernah mengajarkan bagaimana seharusnya seorang mukmin melampiaskan kemarahan. Bahwa kesabaran seseorang memang ada batasnya dan pada saatnya telah melampaui ambang batas itu, sangat wajar bilang seseorang harus marah. Hanya saja, yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mengukur kadar marah itu sesuai dengan tingkat kesalahan orang membuat kita marah, selain juga kemarahan yang dilampiaskan masih wajar dan berada dibawah kesadaran yang tinggi. Inilah yang sulit, makanya Rasulullah pun pernah mengatakan bahwa memaafkan adalah sikap mulia dari seorang mukmin. Memaafkan, bukan memberi maaf, jelas perintah dalam surat Ali Imran ayat 134, karena memaafkan bermakna lebih mulia ketimbang memberi maaf. Memaafkan adalah sikap yang diberikan secara ikhlas terlepas orang yang melakukan kesalahan, sikap dan tindak semena-mena, dan atau ketidakadilan itu memintanya atau tidak. Dan sikap memaafkan itu dikatakan Allah sebagai satu sikap orang-orang bertaqwa yang Allah sediakan bagi mereka syurga seluas langit dan bumi. Bayangkan betapa mulianya orang-orang yang mampu “memaafkan”, karena sikap memberi maaf setelah orang meminta maaf saja sudah sedemikian luhur. Bahwa juga sikap seseorang yang meminta dimaafkan setelah melakukan satu kesalahan pun sudah begitu bagusnya. Sungguh membutuhkan kebesaran jiwa untuk bisa memaafkan kesalahan orang tanpa menunggu orang memintanya, karena pada saat itu kita telah membunuh kesombongan, dan rasa sebagai orang menang. Karena jika kita tak mampu melakukannya, dan menelan kemarahan itu karena ketidakmampuan untuk melampiaskannya seketika maka ia akan kembali ke dalam bathin dan menyelinap ke dalamnya lalu menjadi kedengkian. Kata Said Hawwa, makna kedengkian ialah hati senantiasa merasa berat dalam menelan kemarahan, merasa benci kepadanya dan lari darinya. Kedengkian adalah buah dari kemarahan. Sikap yang sebaiknya dilakukan seseorang adalah, selain memaafkan adalah meningkatkan kebaikan terhadapnya sebagai perlawanan terhadap hawa nafsu dan syetan

maka hal itu merupakan maqam orang-orang yang tergolong shiddiqin, dan termasuk perbuatan orang-orang yang mencapai maqam Muqarrabin (orang-orang yang dekat dengan Allah). Wallahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Ketika Orang Cerdas Jadi Bodoh
Publikasi 17/10/2002 08:51 WIB eramuslim - Meski setiap hari harus menerima ludahan dari seorang kafir quraisy, namun Rasulullah Muhammad Saw tidak pernah menaruh dendam ataupun kebencian. Bahkan ia membalasnya dengan menjadi orang yang pertama kali menjenguk ketika si peludah itu sakit. Begitu juga dengan peristiwa Thaif, sedemikian kejamnya masyarakat wilayah itu melempari batu, menzhalimi Rasulullah dan para sahabat sampai Izrail pun tak kuasa ‘menahan amarah’ dan menawarkan membalikkan gunung untuk ditimpakan kepada kaum Thaif. Namun manusia agung itu lebih memilih memaafkan. Rasulullah mengajarkan (sekaligus mempraktekkan) keutamaan memberi maaf. Lebih umumnya, Rasulullah juga menekankan pentingnya setiap mukmin untuk memiliki kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri, yang kemudian kita lebih mengenalnya dengan istilah sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam menghadapi kesulitan, ikhlas menghadapi berbagai cobaan, dan tenang dalam tekanan. Daniel Goleman dalam bukunya yang menjadi best seller, Emotional Intellegence memaparkan tentang satu bagian penting dalam jiwa manusia yang bernama emosi yang dikatakannya justru sangat menentukan kebahagiaan dan penderitaan manusia. Menurut Goleman, emosi sangat mempengaruhi kehidupan manusia ketika mengambil keputusan karena tidak jarang suatu keputusan diambil melalui emosinya. Tidak ada sama sekali keputusan yang diambil manusia murni dari pemikiran rasionya karena seluruh keputusan manusia memiliki warna emosional. Jika kita memperhatikan keputusan-keputusan dalam kehidupan manusia, ternyata lebih banyak ditentukan oleh emosi daripada akal sehat. Pada emosi, tambah Golemen, bergantung suka, duka, sengsara, dan bahagianya manusia; bukan pada rasio. Karena itulah hendaknya kita memperhatikan kecerdasan emosi selain kecerdasan otak. Disebutkannya, bahwa yang menentukan sukses dalam kehidupan manusia bukanlah rasio tetapi emosi. Berkaitan dengan ini, dari hasil penelitiannya ditemukan satu situasi yang disebut dengan When smart is dumb, ketika orang cerdas jadi bodoh. Ia menemukan bahwa orang Amerika yang memiliki kecerdasan atau IQ diatas 125 umumnya bekerja pada orang yang memiliki kecerdasan rata-rata 100. Artinya, orang yang cerdas umumnya menjadi pegawai dari orang yang lebih bodoh dari dia. Kecerdasan intelektual memang bisa membantu orang meraih kesuksesan, namun kesuksesan seringkali ditentukan oleh kecerdasan emosional. Dan kecerdasan emosional diukur dari kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri, itulah yang disebut sabar.

Seringkali kita menjumpai orang yang bersikap bodoh hanya karena tidak mampu mengendalikan emosinya. Rasulullah yang kita kenal tak memiliki kemampuan membaca dan menulis ternyata memiliki kecerdasan emosional yang luar biasa tinggi. Bayangkan betapa luhurnya orang yang memberi maaf kepada mereka yang melakukan kesalahan. Padahal perintah-Nya adalah memaafkan, terlepas orang yang melakukan kesalahan itu memintanya atau tidak. Mulialah mereka yang melakukan itu. Demikian juga dengan kesadaran dan ketenangan yang tinggi dalam menghadapi berbagai kesulitan. Kunci suksesnya adalah mengendalikan emosi dan menahan diri (sabar), sehingga ia tak melakukan kebodohan dari ketergesa-gesaan atau amarahnya yang biasanya berujung pada penyesalan. Dan tidak jarang pada saat itu, tangan ini refleks memukul kepala, “bodohnya aku”. Wallahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Etika Meminjam, Jangan Kalah Sama Anak-Anak!
Publikasi 15/10/2002 07:14 WIB eramuslim - Sore itu, anak-anak sedang ramai di Taman Bacaan saya. Tiba-tiba suara tangis pecah meningkahi keramaian. Saya buru-buru menghentikan aktifitas mencatat buku yang akan di pinjam dan turun ke halaman. Ika, gadis 5 tahun itu tengah duduk di bangku sambil tersedu-sedu menutup muka dalam rangkulan kakaknya Nisa. “Ada apa?” tanya saya. “Ika pikir buku yang dipinjamnya hilang, Kak! Padahal sudah saya kembalikan bareng punya saya,” Nisa menjelaskan. Saya tersenyum dan memeluk Ika. “Ika sedih dan takut dimarahin karena bukunya hilang, ya? Nah, bukunya bukan hilang tapi dikembalikan. Ika anak baik. Nangisnya udah yaa.” Dan Ika pun berhenti menangis, meski sesekali sedu sedannya masih terdengar. Beberapa saat kemudian, Niki, pengunjung taman bacaan yang lain datang. Ia takut-takut mengembalikan buku yang sudah berubah muka. Sampulnya lecek bekas basah dan diselotip asal-asalan. “Niki, kenapa kok bukunya baru dikembalikan?’ tanya saya. Di daftar pinjaman, buku itu sudah tiga hari di tangan Niki. “Bukunya jatuh ke got, Kak!” jawab gadis kelas dua SD itu takut-takut. ”Iya, Kak. Kemarin dia takut mengembalikan buku,” sahut Oki saudara kembar Niki. ”Oh, begitu. Terima kasih Niki sudah berusaha membenahi bukunya. Besok lagi hati-hati, ya?”

Suatu hari yang lain, Ihsan mendekati saya takut-takut sambil bertanya, ”Kak, beli buku ini dimana?”. “Kenapa? Kamu ingin beli?” Dia membuka lembaran tengah yang robek dan menunjukkan ke saya dengan air muka penuh rasa bersalah. “Oh, bukunya robek. Sini, kita selotip bareng-bareng. Lain kali hatihati ya?” jawab saya. Sungguh saya terharu dengan usaha anak-anak itu menjaga amanah. Padahal mereka masih kecil. Padahal pula selama ini mereka dicap ‘kurang baik’ oleh beberapa orang dewasa yang saya kenal di lingkungan kami. Ya, kegiatan saya menjalankan rumah bacaan di tempat saya tinggal bukan tanpa hambatan. Terutama pemilik rumah yang tidak setuju dan menganggap anak-anak itu hanya mengganggu, juga mereka punya kebiasaan mencuri. Barangkali beliau benar, karena beliau lebih paham tentang lingkungan tinggalnya. Pernah memang, selembar uang lima ribu rupiah di meja hilang saat saya tinggal ke dalam. Tapi itu dulu sekali. Dan saya pikir justru karena itulah saya ingin dan tertantang untuk mengubahnya. Saya berusaha memberi kepercayaan kepada anak-anak itu, dengan harapan mereka akan membalas kepercayaan saya (tentu saja di sisi lain, saya lebih berhati-hati menyimpan barang berharga). Saya menganggap mereka orang dewasa yang sanggup menjaga amanah. Dan rasanya, saya pikir usaha itu tidak sia-sia. Kejadian di atas adalah contohnya. Namun di sisi lain, kejadian di atas juga mengingatkan saya atas fenomena (kalaulah bisa disebut fenomena) kurang dipenuhinya adab pinjam meminjam di kalangan dewasa. Bahkan di kalangan para aktifis yang sudah mengerti Islam. Uang maupun barang. Saya tak ingin membahas yang besar-besar, tapi yang kecil saja yaitu buku. Karena suatu hal besar itu dimulai dari hal kecil. Setiap kita pasti pernah meminjam buku atau meminjamkan buku. Tapi berapa kali kita mengembalikan buku yang kita pinjam kembali dalam kondisi sperti awal dipinjamkan? Dan berapa pula yang tak kembali? Atau, adakah buku teman yang belum kita kembalikan? Selain taman bacaan anak, saya juga punya koleksi cukup banyak buku untuk orang dewasa. Dari berbagai majalah, novel Islami dan novel umum, buku-buku referensi keagamaan, buku-buku self help dan How to’s dan lain dan lain. Buku-buku itu juga saya pinjamkan secara terbuka kepada teman-teman saya atau temannya teman saya. Setiap kali meminjamkan buku, saya selalu berpesan agar buku dijaga dan dikembalikan segera jika sudah selesai. Namun sedihnya, ada saja buku yang kembali dalam kondisi kotor maupun bekas basah maupun halamannya bredel. Ada juga buku yang sejak dipinjam tak pernah kembali. Ada yang merasa sudah mengembalikan tapi nyatanya buku itu tak pernah sampai ke tangan saya.

Ada lagi yang sudah ditelepon berkali-kali namun selalu saja ada alasannya untuk tidak mengembalikan buku. Cukup sering saya mendapat jawaban dibawah saat saya menanyakan buku-buku yang mereka pinjam. “Oh belum saya kembalikan, ya? Saya lupa nih. Ya udah, tolong mbak lihat di rumah dan saya lihat juga di rumah. Kalo di rumah saya ada berarti memang belum saya kembalikan.” Atau, “Aduh, waktu itu dibaca sama si anu, ntar deh ditanyain”. Ketika ditanya lagi, mereka kelihatan cuek dan tak mau tahu siapa yang memegang buku pinjaman berantai itu. *** Buku memang hanya sebuah buku. Pinjam meminjam buku juga sudah biasa. Tapi apakah karena sudah biasa dan ‘hanya sebuah buku’ lantas membuat statusnya sebagai barang pinjaman yang mesti dipenuhi adabnya batal? Saya kira tidak. Betapapun statusnya tetap barang pinjaman. Sebagaimana hutang yang dapat menghambat seseorang masuk surga, maka saya khawatir demikian juga halnya dengan barang pinjaman. Kalau anak-anak lupa mengembalikan atau tidak mengembalikan, saya yakin bukan karena mereka meremehkan atau bermaksud mengukuhi buku itu, tetapi lebih karena mereka belum paham makna ‘meminjam’ dan bagaimana adab terhadapnya. Sedang kita, orang dewasa? Apalagi sudah belajar Islam? Semestinya kita lebih bisa memenuhi adab ini dan mengajarkan pada anak-anak. Sudah tiba masanya, hal-hal seperti ini mendapat perhatian lebih dari kita semua. Menegur, mengingatkan atau bersikap tegas dalam hal ini, meskipun sering ditanggapi tidak enak, sebenarnya adalah suatu usaha untuk menjaga si peminjam dari perbuatan dzalim terhadap dirinya sendiri maupun Saudaranya. Azimah Rahayu (azi_75@yahoo.com)

Agenda Profesional Muslim di Era Cyber
Publikasi 14/10/2002 07:51 WIB eramuslim - Tatkala negeri Islam dalam keadan terbelakang, penuh konflik dan mengalami ketergantungan terhadap Barat, kalangan Muslim profesional adalah sebuah kakuatan ummah. Sebagai sebuah kekuatan ummah, kalangan Muslim profesional mempunyai kemampuan untuk menjadi agen perubahan. Perkembangan era cyber bahkan menyediakan celah untuk meningkatkan kemampuan ini, mengarahkan dan mendayagunakannya untuk menggerakkan perubahan menuju cita-cita gerakan Islam yaitu tumbuh, berkembang dan tegaknya khairu ummah.

Kekuatan utama dari kalangan Muslim profesional yang dapat didayagunakan adalah penguasaannya atas bidang-bidang keahlian. Bidang keahlian ini beraneka ragam dari teknologi antariksa hingga teknologi pertanian, dari teknologi informasi hingga teknologi permesinan, dan dari teknologi konstruksi hingga teknologi kimia. Dengan keahlian yang dimilikinya kalangan Muslim profesional dapat terlibat mencerdaskan ummah, mengembangkan solusi tepat guna untuk ummah ataupun mendukung aksi pengembangan ummah yang dikembangkan LSM ataupun pemerintah. Tantangannya adalah kalangan Muslim profesional perlu mengembangkan agenda perubahan di dalam diri, keluarga dan lingkungannya sebelum dapat berperan sebagai agen perubahan. Kalangan Muslim profesional perlu berjuang untuk menyelamatkan diri dari bahaya eksploitasi sumber daya manusia, polusi budaya dan erosi ruhiyah. Di antara indikator dari eksploitasi sumber daya manusia adalah kesibukan, dan kelelahan dalam kehidupan yang tidak mempunyai tujuan bagi pengembangan ummah. Adalah lumrah diantara kalangan Muslim profesional untuk mengalami kesulitan menyediakan waktu, tenaga, emosi dan pemikiran bagi berinteraksi dan berkolaborasi dalam aktivitas tarbiyah, dakwah dan amal Islami pada umumnya. Di antara indikator polusi budaya adalah penerimaan pemikiran dan budaya Barat dalam berbagai bidang kehidupan seperti ketidakpedulian terhadap bahaya riba dalam ekonomi dan bisnis, berkembangnya pacaran dalam hubungan dengan lawan jenis, dan layunya hubungan emosional dan intelektual antara ummah dan pemimpin dalam masyarakat Islam. Di antara indikator erosi ruhiyah adalah melemahnya emosi dan interaksi terhadap Al Qur'an, sangat beratnya menegakkan Qiyamul Lail dan keringnya hati dalam empati terhadap permasalahan dunia Islam. Ancaman terhadap kalangan Muslim profesional di atas juga semakin menguat di era cyber. Penguatan ancaman ini merupakan dampak dari tertembusnya batas-batas geografi, terbangunnya sebuah peradaban cyber yang global, dan berkembangnya komunikasi, interaksi dan kolaborasi lintas kepentingan, lintas masyarakat, dan lintas budaya. Untuk dapat menyelamatkan diri dari ancaman ini, kalangan profesional Muslim perlu mengembangkan suatu agenda. Agenda muslim profesional perlu mencakup suatu perubahan yang mendasar, menyeluruh dan berkelanjutan. Agenda ini perlu dimulai dari pribadi, keluarga dan dikembangkan untuk berpengaruh dalam lingkungan sosial. Pertama, mengembangkan emosi, visi, dan aspirasi sebagai Muslim. Pribadi-pribadi profesional Muslim perlu membersihkan hati, menyegarkannya dengan kesejukan, kejernihan dan ketenangan iman, dan menyuburkan emosi sebagai Muslim. Emosi sebagai Muslim yang perlu disuburkan adalah cinta kepada Allah, Rasul dan jihad. Dengan emosi sebagai Muslim, pribadi-pribadi Muslim mengembangkan visi kehidupan Islami dalam kehidupan pribadi, keluarga, perusahaan, organisasi maupun masyarakat.

Dengan visi ini, pribadi-pribadi Muslim bangun, berdiri dan bergerak dengan suatu aspirasi yaitu tercapainya keadaan yang lebih baik bagi dakwah, dan ummah. Kedua, memahami fikrah Islamiyah, membangun syakhsyiyah Islamiyah dan mengembangkan akhlaq Islamiyah. Pribadi-pribadi profesional Muslim perlu mempunyai pemahaman yang mendalam tentang makna syahadatain, tentang Al Qur'an, tentang rukun iman dan rukun Islam. Selanjutnya, pengetahuan ini perlu dijalankan, diterapkan dan ditegakkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga terbangun kepribadian Islami. Dari pribadi Islamilah diharapkan mekarnya akhlaq Islami, seperti bunga-bunga di taman yang menebarkan wangi. Ketiga, mengumpulkan informasi intelijens sosial kemasyarakatan. Pribadi-pribadi Muslim dituntut mengumpulkan informasi intelijens untuk memahami dinamika perkembangan ummah, mencakup keadaan, maupun perubahan yang sedang berlangsung, baik yang baik maupun yang buruk. Informasi intelijens juga dibutuhkan untuk memantau perkembangan dunia baik perkembangan yang mendukung pengembangan ummah maupun yang mengancam keberlangsungan ummah. Lebih lanjut, dan yang sangat strategis, pribadi-pribadi Muslim profesional perlu mengumpulkan informasi intelijens untuk mengetahui perkembangan tarbiyah, dakwah dan jihad yang berkembang di negeri Islam. Berbekal informasi intelijens akan berbagai perkembangan dari ummah, dunia maupun gerakan Islam ini, kalangan Muslim profesional bisa mengembangkan kapasitas, keterlibatan dan aksi yang tepat. Keempat, memahami visi, misi dan nilai dari gerakan Islam dalam kehidupan tarbiyah, dakwah dan jihad. Dengan pemahaman ini, pribadi-pribadi Muslim profesional dapat lebih segar, hidup, bersemangat, berdiri, terlibat, bergerak, berjuang, tegar, berkarya dan bekerjasama. Dengan pemahaman ini, pribadi-pribadi Muslim profesional dapat lebih terarah menuju terbangunnya khairu ummah. Dengan pemahaman ini pribadi-pribadi Muslim profesional dapat bergerak dengan panduan nilai-nilai Islam di jalan Islam dan demi ridha Ilahi. Kelima, membangun competency, creativity dan endurance. Pribadi-pribadi Muslim profesional perlu membangun competency dalam bidang keahlian masing-masing, menggunakan berbagai media pembelajaran yang tersedia. Ini adalah kekuatan inti dari kalangan Muslim profesional yang bisa disumbangkan untuk pengembangan ummah. Selanjutnya pribadi-pribadi Muslim profesional diharapkan mengembangkan creativity bagi pengembangan idea, produk atapun layanan untuk memecahkan masalah ummah. Dan untuk berjalannya proses perubahan yang berkelanjutan, pribadi-pribadi Muslim profesional dituntut membangun endurance, ialah kesabaran untuk terus terlibat, bergerak dan mendukung pengembangan ummah. Keenam, membina keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Keluarga mempunyai peran strategis, bagi pribadi-pribadi Muslim profesional sendiri, bagi berkembangnya ummah maupun bagi tertegakknya Islam sebagai jalan hidup. Bagi pribadi-pribadi Muslim keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah dapat mengawalnya, mendukungnya dan mendorongnya agar senantiasa menjadi pribadi Muslim yang

bergerak. Bagi ummah, keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah adalah sebuah kelompok terdiri suami, istri dan anak-anak yang berkarya bersama dan sinergis untuk ummah. Bagi Islam sebagai jalan hidup, keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah adalah sebuah qudwah, atau tauladan bagaimana Islam ditegakkan dalam kehidupan. Ketujuh, membina lingkungan, organisasi dan masyarakat. Pribadi-pribadi Muslim diharapkan secara proaktif membina lingkungan sosial seperti persahabatan, mailing list dan juga lingkungan kerja, agar sejalan dengan budaya Islam. Ini dapat terus diperluas ke organisasi dimana pribadi-pribadi Muslim menjadi anggota untuk mengembangkan aturan, kebijakan, aksi yang mendukung pengembangan ummah. Akhirnya masyarakat pada umumnya melalui media-media massa yang ada. Demikianlah agenda yang dibutuhkan oleh kalangan Muslim profesional untuk bisa terlibat dalam pengembangan ummah. Agenda profesional Muslim adalah panjang, mendaki dan berliku, membutuhkan emosi, intelektual dan fisik yang tangguh untuk menjalani, menyusuri dan menegakkannya. Dengan menjalani, menyusuri dan menegakkannya dengan kesabaran, ummah dapat berharap bahwa kalangan Muslim profesional akan membawa perubahan yang strategis bagi terbangunnya khairu ummah. Eko Budhi Suprasetiawan Muslim Information Technology Association (ekobs@developerforce.net)

Maafkan Aku, Ayah
Publikasi 11/10/2002 08:13 WIB eramuslim - Sewaktu usiaku belum lima tahun, aku hampir tak pernah mengenalnya. Bukan karena usiaku yang belum bisa mengenal secara detail siapapun, tapi lebih karena pria ini hampir tidak pernah kujumpai. Kecuali sesekali di hari minggu, ia seharian penuh berada di rumah dan mengajakku bermain. Namun meski sekali, aku merasa sangat senang dengan keberadaanya. Sejak aku mulai sekolah hingga masa remaja, aku menganggap pria ini tidak lebih dari sekedar pria tempat ibu meminta uang bulanan, juga untuk keperluan sekolahku dan adikadikku. Tidak seperti anak-anak lainnya yang mempunyai seorang pria dewasa yang membela mereka saat berseteru dengan teman mainnya, atau setidaknya merangkul menenangkan ketika kalah berkelahi, aku tidak. Pria dewasa yang sering kujumpai di rumah itu sibuk dengan semua pekerjaannya. Hingga aku dewasa, pria ini masih kuanggap orang asing meski sesekali ia mengajariku berbagai hal dan memberi nasihat. Sampai akhirnya, kutemukan pria ini lagi sehari, dua hari, seminggu, sebulan dan bahkan seterusnya berada di rumahku. Rambutnya sudah memutih, berdirinya tak lagi tegak, ia tak segagah dulu saat aku pertama mengenalnya, langkahnya pun mulai goyah dan lambat. Kerut-kerut diwajahnya menggambarkan

kerasnya perjuangan hidup yang telah dilaluinya. Bahkan suaranya pun terdengar parau menyelingi sakit yang sering dideritanya. Kini pikiranku jauh melayang pada sayup-sayup suara ibu, sambil menyusuiku ia memperkenalkan pria ini setiap hari, “nak, ini ayah …” meski aku pun belum begitu mengerti saat itu. Bahkan menurut ibu, pria ini justru yang pertama kali menyambutku ketika pertama kalinya aku melihat dunia. Cerita ibu, karena pria ini yang mengantar, menemani ibu hingga saat persalinan. Bahkan suaranyalah yang pertama kudengar dengan lembut menerobos kedua telingaku dengan lantunan adzan dan iqomat hingga aku tetap mengenali suara panggilan Allah itu hingga kini. Dari ibu juga aku mengetahui, bahwa ia rela kehilangan kesempatan untuk mencurahkan kasih sayang dan cintanya kepadaku demi bekerja seharian penuh sejak dinginnya shubuh masih menusuk kesunyian hari saat aku masih tertidur hingga malam yang larut ketika akupun sudah terlelap. Ia tahu resiko yang harus diterimanya kelak, bahwa anak-anaknya tak akan mengenalnya, tak akan lebih mencintainya seperti mereka mencintai ibu mereka, tak akan menghormatinya karena merasa asing dan tidak akan memprioritaskan perintahnya karena hampir tak pernah dekat. Tapi kini kutahu, ia lakukan semua demi aku, anaknya. Ibu juga pernah bercerita, pria ini selelah apapun ia tetap tersenyum dan tak pernah menolak saat aku mengajaknya bermain dan terus bermain. Ia tak pernah menghiraukan penat, peluh dan lelahnya sepulang kerja demi membuat aku tetap senang. Ia tak mengeluh harus bangun berkali-kali dimalam hari bergantian dengan ibu untuk sekedar menggantikan popok pipisku atau membuatkanku sebotol susu. Dan itu berlangsung terus selama beberapa tahun, yang untuk semua itu ia ikhlas menggadaikan rasa kantuknya. Kusadari kini, semua dilakukannya untukku. Untuk sebuah cinta yang tak pernah ia harapkan balasannya. Seperti halnya ibu, ia juga rela ketika harus terus menggunakan kemeja usangnya untuk bekerja, atau celananya yang beberapa kali ditambal. Kata ayah seperti diceritakan ibu, uangnya lebih baik untuk membelikan aku pakaian, susu dan makanan terbaik agar aku tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. Terima kasih Ayah, kutahu engkau juga tak kalah cintanya kepadaku dengan kecupan hangatmu saat hendak berangkat kerja dan juga sepulangnya ketika aku terlelap. Meski tak banyak waktu yang kau berikan untuk kita bersama, namun sedetik keberadaanmu telah mengajarkan aku bagaimana menjadi anak yang tegar, tidak cengeng dan mandiri. Kerut diwajahmu, memberi aku contoh bagaimana menghadapi kenyataan hidup yang penuh tantangan. Maafkan aku Ayah, aku tak pernah membayangkan sedemikian besar cinta dan pengorbananmu kepadaku. Ayah tak pernah mengeluh meski cinta dan pengorbanan itu sering terbalaskan dengan bantahan dan sikap kurang hormatku. Meski kasih sayang yang kau berikan hanya berbuah penilaian salahku tentangmu.

Jangan menangis Ayah, meski kini kau nampak tua dan lelah, bahu dan punggungmu yang tak sekekar dulu lagi, bahkan nafasmu yang mulai tersengal. Ingin aku bisikkan kepadamu, “Aku mencintaimu …” Wallahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Ada Yang Lebih Tegar
Publikasi 10/10/2002 07:44 WIB eramuslim - Namanya Hambali, 25 tahun, kakak dari enam adik itu sudah tiga hari ini selalu terlambat datang ke masjid untuk sholat shubuh berjama’ah, namun meski terburuburu ia masih menyempatkan diri menjadi masbuk atau bahkan setelah jama’ah lainnya sudah mengucapkan salam. Tak apalah, katanya, yang penting ia dan adik-adiknya tak absen ke masjid untuk berjama’ah. Sebelumnya ia tak pernah begitu, wajar karena empat hari yang lalu, dini hari sekitar pukul 03.00 ayahnya yang tukang angkut sampah di perumahan sekitar tempatku tinggal, meninggal dunia. Makanya, kalau dulu ada yang membantunya membangunkan adik-adiknya untuk bersiap-siap shubuh di masjid, kini ia harus melakukannya sendiri. Pasalnya, dua belas tahun lalu, ibunya telah terlebih dulu meninggalkan mereka saat melahirkan si kecil, Salma. Hambali dan semua adiknya, memang bersedih ketika ayah mereka meninggalkan mereka saat tengah terlelap. Tak dinyana, perjumpaan sesaat sebelum tidur semalam adalah terakhir kali mereka bercanda dengan ayah mereka. Namun Hambali tetap tegar, sebagai kakak tertua dari enam adiknya, ia merasa harus menunjukkan bahwa bagaimanapun kesedihan melanda, mereka tak bolah larut. Tetap tegak menatap hari esok, sambil berpikir bagaimana berjalan tanpa pegangan kokoh yang keduanya telah hilang sekarang, tanpa bimbingan orangtua, tanpa ada lagi tempat mengadu, apalagi minta uang saku sekolah bagi adik-adiknya. Pagi ini di depan gang sambil menunggu kendaraan, aku bertemu Hambali. Ia sudah kembali bekerja –menjadi pesuruh di sebuah lembaga tinggi negara-. Ia tersenyum melihatku, padahal masih ada kegetiran didadaku merenungi nasib Hambali dan adikadiknya. Namun pagi itu Hambali memberi pelajaran terbaik buatku ketika ia mengatakan, “Allah menyayangi anak-anak yatim, kalau dulu sewaktu ibu meninggal, masih ada bapak yang menyayangi. Saya yakin selama ini Allah sudah menyayangi kami. Tapi kini, keyakinan saya bertambah bahwa Allah semakin sayang kepada kami. Cara Dia mengambil bapak dari tengah-tengah kami, menumbuhkan keyakinan didiri kami kalau Allah ingin lebih total mencurahkan cinta dan kasih sayangnya, tinggal bagaimana kami tetap tawakal dan bersyukur atas segala kehendak-Nya, seraya bersegera membalas cintaNya”. Subhanallaah … aku tak menyangka Allah berikan kekuatan hati melebihi ketegaran batu karang di lautan, lebih kokoh dari gunung-gunung yang berdiri menjulang kepada seorang anak yatim piatu. Nampaknya, keyakinannya terbukti, bahwa kasih sayang Allah tengah tercurah kepada mereka, Hambali dan semua adiknya. Saat itu juga aku menengok ke dalam hati ini yang begitu kerdil, cengeng, sering tidak kuat ketika menerima cobaan hidup, dan terkadang memaki-maki Allah menganggap Ia tak adil memberikan

keputusan-Nya kepadaku. Padahal, aku disampingku masih ada dua orangtua yang sehat dan bugar, keadaan ekonomi keluargaku pun masih lebih baik dari Hambali. Nampaknya falsafah air semakin ditekan kebawah semakin besar dorongannya keatas, menjadi pelajaran tersendiri buatku. Hambali, juga semua anak-anak yatim di negeri ini jauh lebih tegar, hati mereka sekokoh gunung, justru karena setiap hari mereka ditempa cobaan yang tak henti-hentinya, sehingga mereka menjadi terbiasa menghadapi semua cobaan, ujian hidup seberat apapun. Jika anak-anak yatim itu melihat kecengenganku ketika tertimpa cobaan kecil saja misalnya, mungkin mereka akan tertawa terbahak-bahak dan menganggap aku seorang yang tidak bakal mampu bersaing melawan kerasnya kehidupan. Padahal dengan semua kelebihan yang kumiliki, seharusnya aku jauh lebih kuat dari mereka, jauh lebih tegar menghadapi cobaan hidup. Toh aku masih punya tempat berpegang ketika merasa tak kuat, atau setidaknya kedua orangtuaku akan memapahku seraya membangunkanku ketika aku jatuh. Lagi pula, seharusnya juga aku bisa menjadi kaki-kaki kokoh yang membantu Hambali dan anak-anak yatim itu tegak berdiri. Dengan kelebihan yang kupunya, seharusnya kuberikan sebagiannya kepada mereka, agar senyum keceriaan menikmati hidup tak hanya milik orang-orang berpunya. Lalu apa artinya sholatku selama ini jika keberadaanku tak berarti apapun bagi anak-anak yatim dan orang miskin di sekitarku. Padahal Allah menempatkan urutan diatas sebelum memperbaiki sholat seorang mukmin adalah memperhatikan anak-anak yatim dan orang miskin (QS. Al Maa’uun). Tentu bukan hanya Hambali dan Salma anak yatim di negeri ini, tengoklah kesamping kanan dan kiri kita, masih banyak anak-anak yang tak dapat menikmati sarapan pagi, sementara kita santai menghabiskan uang untuk makan di tempat mahal. Tidak sedikit dari mereka yang tak memiliki pakaian layak, sementara kita sibuk setiap hari membeli model terbaru untuk penampilan kita. Kita merasa puas dan senang jika bisa mengajak beberapa teman untuk makan bersama, tapi tak pernah bergetar menyaksikan mulutmulut ternganga yang memperhatikan kita dibalik kaca restoran. Padahal sesungguhnya saat itu juga, kita tengah mengesampingkan kunci surga yang tergeletak dihadapan kita. Tak semestinya, kita membiarkan kunci surga itu terbuang begitu saja atau diambil orangorang selain kita yang memang berlomba mendapatkannya. Hmmm, aku tak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Hambali, Salma dan seluruh anak-anak yatim di negeri ini di bulan ramadhan yang akan segera tiba ini. Karena bukankah salah satu kebahagiaan ramadhan adalah sahur dan berbuka bersama dengan seluruh keluarga. Mungkinkah masih ada keceriaan di hari raya nanti bagi mereka, saat tak ada lagi pakaian baru dan makanan enak di rumah mereka, ketika tak ada lagi tangantangan hangat yang harus mereka kecup di hari fitri itu. Jawabnya ada pada diri kita, yang Allah titipkan rezeki mereka pada sebagian dari harta yang kita miliki. Kalaulah si Anak Yatim Baginda Rasulullah begitu memuliakan anak-anak yatim, kenapa kita yang mengaku sebagai pengikutnya tidak meniru? Wallahu’a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Pelajaran Dari Negeri Yang Hilang
Publikasi 08/10/2002 07:12 WIB Tegak rumah karena sendi, Runtuh sendi rumah binasa, Sendi bangsa ialah budi, Runtuh budi runtuhlah bangsa. eramuslim - Pantun Melayu yang sudah berumur ratusan tahun lalu itu mengingatkan kita akan peran budi pekerti suatu bangsa. Bangkit dan runtuhnya suatu bangsa tercermin dari budi bangsa tersebut. Dalam Al Qur'an banyak dikisahkan bermacam bangsa yang pernah memegang peradaban dan mencapai puncak kejayaan, namun tidak bisa bertahan dan akhirnya runtuh. Lihatlah contoh bangsa A'ad, Tsamud, Romawi, Persia dan lain sebagainya. Bangsa-bangsa ini pernah berjaya, namun karena rusaknya moral individu dan bangsa, runtuh juga kejayaan bangsa-bangsa tersebut. Negeri-negeri Islam pun pernah mengalamami kejayaan. Sejarah telah mencatat bagaimana negeri-negeri Islam pada masa kekuasaan Bani Umayyah, Bani Abbasyiah, Turki Utsmani telah berabad-abad memegang peradaban dunia. Begitu juga di Nusantara ini dengan puluhan kerajaan Islam. Namun semuanya itu berakhir, karena rusaknya moral (akhlak) pemimpin dan (juga) sebagian rakyatnya. Runtuhnya negeri-negeri yang disebutkan di atas menjadi tanda bahwa budi pekertilah yang memegang peran dalam kehidupan bernegara. Bila budi di negeri tersebut rusak, rusaklah negeri tersebut. Untuk memperbaiki semua, itulah sebab kenapa Allah SWT mengutus pada tiap-tiap masa seorang Nabi dan Rasul. Demikian juga halnya dengan Rasul kita Muhammad SAW. "Aku diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan budi pekerti". Sabdanya itu dengan tegas menjelaskan maksud kedatangannya ke alam dunia ini. Kepadanya diturunkan Tuhan kitab Al Qur'an. Dan tujuan kitab itupun dijelaskan, yaitu membenarkan kandungan dan tujuan dari kitabkitab yang diturunkan kepada Rasul-Rasul sebelumnya. Dijelas dalam Al Qur'an bagaimana Tuhan memberikan tuntunan-Nya kepada manusia, supaya manusia itu mencapai setinggi-tinggi budi dan setinggi-tinggi tujuan hidup, yaitu ketaqwaan kepada Allah SWT. Sebelum Al Qur'an itu disampaikan kepada orang lain, Rasulullah sendirilah yang terlebih dahulu mengamalkannya. Aisyah yang menyaksikan kehidupan Rasulullah SAW setiap harinya mengatakan, "Akhlak Nabi SAW itu ialah Al-Qur'an". Nabi Saw pun dengan tegas mengatakan, "Tuhan sendiri yang membentuk diriku, maka sangat indahlah bentukan-Nya". Budi Al Qur'an itulah yang telah menjadikan suatu ummat dan bangsa menjadi besar, yang berkumandang suaranya dibawah kolong langit ini, ke Timur, ke Barat, ke Utara dan ke Selatan, menegakkan suatu negara, dan peradaban yang diakui sebagai rantai emas yang gilang gemilang dalam peradaban manusia. Sehingga Allah SWT berfirman:

"Bahwasanya bumi ini akan Kami wariskan kepada hamba Kami yang sudi melakukan amal yang mulia". Dan siapakan yang memungkiri sejarah bangsa-bangsa yang hilang, baik di Barat atau di Timur, sejak bangsa Yunani dan Romawi kuno sampai kepada kaum Muslimin yang telah mencapai puncak kejayaan? Bagaimana mereka sampai mengalami keruntuhan dan kehancuran? Bukankah setelah budi (moral) mereka merosot jatuh? Inilah Hukum Allah, Sunnatullah yang tidak dapat diubah. Bangsa Indonesia khususnya dan kaum Muslimim umumnya yang saat ini sangat terpuruk dibawah cengkeraman bangsa barat harus bangkit kembali. Bangunlah kaum muslim kembali, insaflah akan keruntuhan selama ini, kembalilah kepada budi Al Qur'an. Firman Allah SWT: "Ikutilah jalanKu, jangan kamu ikuti jalan yang lain, engkau akan terpecah belah kalau itu juga engkau turutkan". Itulah tujuan kemanusian yang paling tinggi, tegaknya budi pekerti. Hidup berbudi itulah tujuan kita. Diribut tunduklah padi, Dicupak Datuk Temenggung, Hidup kalau tidak berbudi, Duduk tegak ke mari canggung. Nusrizar M. (noes@indonesian-aerospace.com)

Karena Hidup Hanya Sekali ...
Publikasi 07/10/2002 08:10 WIB Seberat apapun beban hidup kita hari ini ... Sekuat apapun godaan yang harus kita hadapi, Sekokoh apapun cobaan yang harus kita jalani, Sebesar apapun kegagalan yang kita rasai, Sejenuh apapun hari-hari kita lalui Jangan pernah berhenti berharap pada pertolongan Ilahi ... Jangan pernah berhenti berdoa kepada Rabbi, Karena harapan adalah masa depan, Karena harapan adalah sumber kekuatan, Karena doa adalah pintu kebaikan, Karena doa adalah senjata orang beriman. eramuslim - Kita mungkin pernah merasakan betapa tidak berartinya hidup ini, jenuh dan membosankan. Kita seperti manusia yang tidak ada gunanya lagi hidup di dunia. Hari-hari yang kita lalui hampa tiada arti. Kegagalan kita temui disana-sini. Cobaan dan rintangan kita hadapi tiada henti. Beban hidup tarasa berat menjerat. Bagi mereka yang tidak punya iman, mengakhiri hidup yang indah ini seringkali menjadi pilihan. Hidup ini hanya sekali, terlalu indah untuk kita buat sia-sia, karena memang Allah menciptakan makhluknya tidak untuk sia-sia. Betapa bahagianya hidup ini bila kita jalani dengan penuh semangat dan optimisme yang tinggi. Betapa indahnya hidup ini bila hari-

hari kita jalani dengan senyum kebahagiaan dan sikap positif memandang masa depan. Betapa sejuknya bila kita sabar menghadapi setiap permasalahan, kemudian kita berusaha memecahkannya dan mengambil ibroh dari setiap kejadiaan. Sebuah pakupun akan menghadapi masalah pada tubuhnya bila tidak tepat menempatkan diri. Bila ia terletak di tanah basah, suatu saat ia akan berkarat, tidak memiliki guna, terinjak, bahkan mungkin suatu saat akan terkubur bersama karat yang menyelimutinya. Tapi bila kita bisa menempatkannya di tempat yang tepat, kita tancapkan pada sebuah dinding, walaupun ia berkarat, paku itu berguna bagi manusia. Sebagai penyangga, tempat gantungan, atau sebagai penyatu berbagai benda. Begitu pula kehidupan manusia. Bila kita tidak tepat menempatkan diri kita, tidak sadar siapa diri kita, tidak tahu untuk apa kita di dunia, kita hanyalah seonggok jasad hidup yang terlunta-lunta. Bila kita tidak memanfaatkan potensi yang ada, selalu memandang negatif setiap peristiwa, membiarkan diri berlumur dosa, bahkan tidak tahu dengan Sang Pencipta, kita adalah makhluk hidup yang tidak berguna. Kemudian hidup ini pun terasa berat untuk kita lalui. Masalah dan cobaan adalah bunga kehidupan orang-orang beriman. Kembalilah kepada Tuhan bila kita menghadapinya agar kita tenang. Lihat, apakah kita sudah tepat menempatkan diri. Jangan menjadi paku yang terletak di tanah basah. Tapi jadilah paku yang dapat menyangga kehidupan manusia. Walaupun kecil, tanpa paku itu sebuah bangunan besar tidak akan pernah berdiri. (Yesi Elsandra, Saudaraku, aku tunggu senyummu lagi)

Beri Aku Nasihat …
Publikasi 03/10/2002 08:47 WIB eramuslim - Pagi ini aku menerima sebuah pesan dalam telepon genggamku dari seorang sahabat, “Saudaraku, beri nasihat untukku hari ini …” Aku sempat tertegun membacanya, sambil menghela nafas kata-kata itu seperti menembus relung terdalam bathinku yang sedang berteriak keras, bahwa sejujurnya disaat ini akulah yang seharusnya lebih banyak mengirimkan pesan semacam itu kepada semua sahabat, saudaraku dimana saja. Sungguh aneh rasanya jika ada orang yang enggan menerima nasihat, dan lebih aneh lagi jika ternyata ada orang yang gemar berkata-kata tanpa banyak menggunakan telinganya untuk mendengarkan orang lain. Dilihat dari struktur indera yang kita miliki, seharusnya setiap manusia sadar bahwa keberadaan dua telinga yang ditempatkan Allah di kanan dan kiri manusia agar dapat menangkap setiap pesan dan masukan lebih banyak. Bukan sebaliknya, menutup telinga rapat-rapat sementara membuka mulut dengan lebar sambil mengeluarkan banyak kata. Fitrah dan kodratnya demikian. Allah ciptakan mulut dengan dua katup bibir yang bisa bergerak menutup dan membuka agar manusia bisa mengerti kapan waktunya diam dan kapan waktunya bicara. Dua bibir itu pula yang seharusnya mengontrol gerak lidah yang letaknya didalam rongga mulut.

Sudah jelas, jika bibir tidak terbuka maka lidah pun tidak akan bergerak sehingga tak ada kata-kata yang keluar. Sedangkan Dia ciptakan sepasang telinga dengan cuping yang lebar tanpa kemampuan bergerak menutup dan selamanya terbuka. Tentu saja, karena Allah menginginkan kita terus menerus memasang telinga ini untuk mendengar, filterisasinya hanya ada di otak manusia yang menyeleksi apakah setiap pesan yang masuk akan diteruskan ke hati, mata da indera lainnya atau tidak. Paul Madaule, Direktur The Listening Centre di Toronto dalam bukunya Earobics, mengatakan bahwa otak bekerja lebih cepat daripada lidah, dimana otak menerima masukan lebih banyak dari mendengar dan melihat (dua telinga dan dua mata). Ini menyadarkan kita, bahwa kecil kemungkinan orang belajar dari kata-katanya sendiri. Lagi pula biasanya lidah akan bekerja jika otak sudah menerima input dari indera yang lain. Tentu saja, jika ada orang yang berbicara tanpa bekal masukan dari otak (sebelumnya dari telinga dan mata), kita fahami bahwa apa yang keluar darinya tidak lebih dari sekedar bualan belaka, nyaris tanpa makna. Di halaman lain buku tersebut, Paul malah menegaskan bahwa dengan mengefektifkan pendengaran, seseorang bisa mendapatkan energi baru, arah dan fokus untuk membantunya menemukan motivasi kuat dalam langkah-langkah selanjutnya. Sekali lagi kita mendapatkan pelajaran, bahwa jika mau disadari pada saat kita berbicara yang kita harapkan adalah orang lain memusatkan perhatiannya sehingga menemukan energi baru dari kata-kata yang kita keluarkan. Lalu kenapa tidak kita yang melakukan proses mendengar itu? Oleh karenanya, kepada sahabat yang pagi ini mengirimkan SMS untuk meminta nasihat kepadaku, terus terang aku meminta, berlakulah adil kepada saudaramu ini. Bahwa sebenarnya saat ini aku yang jauh lebih memerlukan masukan, agar aku mendapatkan suntikan energi, arah dan motivasi yang lebih segar. Bukankah demikian perintah yang berbunyi dalam Surah Al Ashr, bahwa orang beriman hendaknya saling menasihati. Artinya, jika anda sudah sering mendapatkan nasihat dari saudara anda selama ini, adillah kepadanya dengan memberikan nasihat kepadanya. Tentu saja, ini bukan sekedar latihan bahwa kelak di akhirat mulut ini akan terkunci. Wallahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Biarkan Alam Mengajarkan Kita
Publikasi 01/10/2002 07:07 WIB eramuslim - Ada masanya dalam hidup ini, kita menyadari keburukan-keburukan dan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Keburukan dan kesalahan yang bisa jadi disebabkan karena ketidaktahuan, ketidaksengajaan atau mungkin juga secara sadar kita lakukan itu dengan harapan timbul kesenangan walaupun orang lain menderita akibat keburukan kita itu. Adalah sebuah prestasi besar dalam hidup ini bila kita menyadari keburukan-keburukan dan kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan, kemudian kita berniat

memperbaikinya. Untuk memperbaikinya tidak ada jalan lain kecuali kita berani melakukan suatu perubahan dengan tingkat resistensi tertentu yang kita miliki. Karena perubahan tidak mesti memperbaiki sesuatu, tetapi untuk menjadi lebih baik kita mesti berubah. Setiap manusia, hari ini, esok dan lusa tetap berada dalam sebuah proses perubahan menuju tangga-tangga kebaikan. Jika input yang kita miliki bagus, kemudian ditunjang dengan proses yang baik, maka kita boleh berharap akan memperoleh output yang baik pula. Pada dasarnya input yang kita miliki baik, karena Allah mengatakan setiap manusia dilahirkan secara fitrah. Kemudian orang tua dan lingkungannyalah yang memiliki otoritas memproses dia menjadi baik atau buruk. Keinginan menjadi lebih baik, menjadi orang yang bermanfaat, menyenangkan, berprestasi, kokoh dengan iman adalah keinginan luhur dan murni yang dimiliki orang besar. Sedangkan orang kecil tidak pernah memikirkan manfaat untuk orang lain bahkan dirinya sendiri. Untuk mejadi lebih baik diperlukan sebuah usaha dan kerja keras. Tidak sedikit rintangan yang akan kita temui. Mereka yang memiliki visi yang jelas, semangat yang kuat, keinginan yang besar, dan cita-cita yang tinggilah yang akan memenangkan perubahan itu. Alam adalah guru yang paling jujur mengajarkan banyak hal kepada kita. Seperti proses metamorfosis ulat menjadi seekor kupu-kupu. Bila ulat berhasil melalui proses itu dengan baik, maka ia akan menjadi seekor kupu-kupu yang cantik dan indah. Perjuangan melepaskan diri dari kepompong adalah proses yang sangat menyiksa bagi kupu-kupu. Melihat keadaan kupu-kupu yang kesusahan memisahkan diri dari kepompong menarik hati seseorang untuk membantu dengan memotong kepompong agar sang kupu-kupu dapat keluar dengan mudah. Tetapi akibatnya bantuan itu justru mematikan sang kupukupu karena membuat otot-otot sayap kupu-kupu tidak kuat untuk menahan beban tubuhnya. Akibatnya, ketika kupu-kupu itu keluar, ia kehilangan resistensi, kemudian diam dan akhirnya mati. Apa makna yang bisa kita petik dari kisah alam itu? Untuk menjadi cantik dan indah, untuk menjadi lebih baik, kita memerlukan perubahan dalam hidup kita. Perubahan itu menghadapkan kita pada suatu tantangan yang besar. Semakin besar hambatan dan rintangan yang kita hadapi, maka akan semakin besar nilai yang akan kita raih. Daya tahan terhadap perubahan itu mempengaruhi tingkat keberhasilan kita. Hadapilah tantangan itu dengan senyum dan keyakinan yang tinggi, optimalkan kemampuan yang kita miliki untuk memenangkannya. Jangan mengeluh bila kita terjatuh, jangan menjerit bila kita sakit. Jangan minta bantuan orang lain yang hanya akan memperparah keburukan-keburukan dan kesalahan-kesalahan kita, tapi carilah orang yang benar-benar ikhlas membantu kita menuju tangga-tangga kebaikan. Jangan merasa kita tidak mampu memperbaiki setiap keburukan dan kesalahan yang pernah kita lakukaan, kita pasti mamapu. Jangan lihat ke belakang, tapi tataplah ke depan, karena masa lalu tidak menjanjikan perubahan, tetapi masa depan menyediakan kita banyak pilihan keberhasilan.

Terakhir, bingkailah usaha kita dengan figura doa dan kepasrahan yang tinggi pada Allah, karena sebagai manusia yang diselimuti kekurangan, kita hanya bisa berusaha. Allah jualah yang menentukan segala nasib kita. (Yesi Elsandra, spesial untuk saudara yang berencana duet membuat buku, mudah-mudahan Allah merealisasikannya)

Bubur Ayam
Publikasi 25/09/2002 11:14 WIB eramuslim - Dibalik cerita kesuksesan orang-orang sukses, tersimpan banyak kegagalan yang dilipat rapi dalam sebuah simpul pengalaman sejarah. Simpul-simpul itulah yang justru mendorong lahirnya kesuksesan. Tom Watson mengatakan, “Jika Anda ingin sukses, perbanyaklah angka kegagalan Anda.” Karena memang, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Semakin banyak kegagalan yang kita hadapi, maka kita akan semakin dewasa menerima kesuksesan yang sesungguhnya, sebagai buah jerih payah dan usaha yang kita lakukan. Orang sukses, bukanlah orang-orang yang luar biasa, tetapi mereka melakukan hal-hal kecil dengan cara luar biasa. Ketika ia menemukan kegagalan dalam hidupnya, dia tidak mengeluh, putus asa, apa lagi menyalahkan Tuhannya. Siapa tak kenal Abraham Lincoln. Pria ini pernah mengalami kegagalan dalam bisnis dalam usia 21 tahun, kalah dalam pemilihan anggota legislatif di usia 22 tahun, gagal lagi dalam bisnis di usia 24 tahun, menderita kesedihan akibat kematian kekasihnya di usia 26 tahun, menderita gangguan syaraf di usia 27 tahun, gagal dalam pemilihan anggota kongres di usia 34 tahun, gagal dalam pemilihan anggota senat di usia 45 tahun, gagal dalam upaya menjadi wakil presiden di usia 47 tahun, gagal dalam upaya pemilihan anggota senat di usia 49 tahun, namun akhirnya terpilih sebagai presiden Amerika Serikat di usia 52 tahun. Lain lagi kisah seseorang yang sedang menuju tangga-tangga kesuksesannya. Gagal UMPTN tidak membuatnya kecewa. Masih dengan akal yang jernih dan semangat untuk hidup bahagia, dia masuki sebuah Perguruan Tinggi Swasta. Disana ia giat belajar. Baginya kegagalan berkompetisi dalam memperebutkan Perguruan Tinggi Negeri bukanlah akhir segala-galanya. Dengan bekal keyakinan dan dorongan yang kuat untuk mendapatkan apa yang menjadi cita-citanya, dia terpilih sebagai mahasiswa teladan dan mendapatkan beasiswa. “Kalau saya kuliah di PTN, mungkin belum tentu begini ceritanya.” Begitu batinnya berbisik riang. Kesuksesan dan kegagalan tidak dapat kita elakkan sebagai konsekwensi atas berbagai pilihan dan keputusan dalam memilih cara hidup. Inilah bukti nyata lemahnya manusia. Tanpa subsidi kekuatan berupa sikap dan improvisasi berupa kemauan keras untuk berusaha dari Allah SWT, kita hanyalah pemain yang pasrah mementaskan peran kita. Maka oleh karena itu, keberhasilan kita melipat kegagalan dan menyimpannya sebagai guru dalam sejarah hidup kita, turut dipengaruhi oleh sikap, kemauan keras dan keyakinan kita pada Tuhan, sebagai Zat yang Maha berkehendak atas diri kita.

Bersikap positif memandang kegagalan sebagai awal kesuksesan adalah pelajaran yang paling berharga. Ibaratnya seorang ibu yang gagal menanak nasi hingga menjadi bubur. Jika terlanjur menjadi bubur, jangan buang bubur itu. Kenapa tidak kita jadikan saja bubur itu menjadi bubur ayam. Tambahkan bumbunya, beri daging, ati ampela ayam, taburi bawang goreng dan kecap. Hidangkan dengan sedikit kerupuk. Bukanhkan ia tetap dapat kita makan, bahkan memberikan variasi dalam menu kita hari itu. Bukankah tidak sedikit pula yang favorit terhadap bubur ayam? (Yesi Elsandra, untuk saudara yang hilang, masih ingat bubur ayam?)

Izinkan Aku Menciummu, Ibu
Publikasi 24/09/2002 08:19 WIB eramuslim - Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut. Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku. Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi. Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama temanteman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga. Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya. Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua

untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku eraterat saat aku menangis. Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya. Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang. Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini. Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku. (Bayu Gautama, Untuk Semua Ibu Di Seluruh Dunia)

Bayaran Langsung
Publikasi 23/09/2002 07:23 WIB eramuslim - Beberapa tahun lalu, yang terpikirkan olehku adalah bagaimana menjadikan hidup ini menyenangkan. Punya pekerjaan bagus, posisi lumayan dengan penghasilan yang memuaskan. Maka, jadilah hidup yang ingin aku jalani hanya berputar dari mencari uang dan menghabiskannya dengan memanjakan diri sendiri. Entahlah, waktu itu tidak pernah ada dalam benakku untuk memikirkan kesulitan orang lain. Namun kenyataan yang aku dapatkan lain dari bayangan, karena begitu sulitnya mencari pekerjaan. Alhasil, jangankan untuk memanjakan diri, sekedar untuk mencari sesuap nasipun terasa begitu berat. Namun demikian kondisi tersebut mampu merubah

kepribadianku hingga menjadi orang yang sedikit peduli sesama orang lain. Hanya saja, pemahamanku yang minim tentang agama tidak membuatku giat bersedekah. “Kalau lagi ada yang ngasih, kalau nggak ada ya buat sendiri dulu”. “Orang lain nanti dululah, aku sendiri sedang kesusahan”. Selain juga aku selalu beranggapan bahwa setiap amal dan sedekah merupakan bekal kita di akhirat nanti. Yang masih kuingat, terakhir aku mengajak seorang peminta-minta tua untuk makan bersamaku. Waktu itu aku di sebuah warung nasi, tak sengaja mataku menangkap orangtua tersebut menelan ludah saat melihatku yang begitu bersemangat melahap santapan siangku. Segera aku turunkan kakiku yang naik bersilah di atas bangku warung dan menghampirinya. Kuajak dia masuk dan memesankan sepiring nasi beserta lauk untuknya kepada penjual nasi. Seperti halnya aku, ia pun tak kalah gesitnya melahap makanan itu, hingga kami berdua seolah tengah berlomba makan. “Biar saya yang bayar pak” tak lupa kuselipkan uang seribu perak ke kantong bajunya. Kemudian kuperhatikan orangtua itu berdo’a yang isinya samar-samar kudengar agar aku diberikan rizki yang banyak atas kebaikanku padanya. Bukan aku tak senang dengan do’anya, tapi kupikir, kenapa ia tidak mendo’akan dirinya saja agar bisa hidup lebih baik lagi tanpa harus menjadi peminta-minta. Beberapa saat kemudian aku baru sadar bahwa uangku tidak cukup untuk membayar dua piring nasi. Aku ingin lari saja seperti dulu sewaktu masih di sekolah, tapi, “Ah tidaklah, itu dosa masa lalu” pikirku. Aku mencari cara dan alasan bagaimana caranya agar bisa berhutang dan besok-besok kalau sudah punya uang baru aku bayar. Namun nampaknya mbok penjual warung sudah menangkap gelagat tidak baik yang akan aku lakukan sehingga akhirnya kutitipkan arloji kesayanganku. “Besok saya tebus mbok, dompet saya hilang nih,” aku ngeloyor pergi setelah berpura-pura kehilangan dompet. “ndak punya duit aja sok-sok-an mbayarin orang makan” kata-kata itu sempat tertangkap sesaat sebelum aku pergi meninggalkan malu di warung itu. Satu hari, dua hari, sampai satu minggu aku tak kembali ke warung itu. Gajian masih enam belas hari lagi … ya sudahlah, nanti saja setelah gajian aku bayar, kalau perlu berikut dendanya, pikirku. Pas hari gajian tiba, segera aku ke warung hendak menebus arloji antik pemberian dari mendiang ayahku itu. Namun, kecewanya aku karena barang itu sudah dijual oleh simbok penjual nasi. “Sampean janjinya besok, ini sudah lebih dua minggu. Jadinya arloji itu milik saya”. Inginnya sih marah-marah, tapi sudahlah, wong aku yang salah kok. Hidup terkadang harus dijalani apa adanya, kalau lagi senang ya tersenyumlah sewajarnya. Kalau kesulitan melanda, hadapi dengan ikhlas dan sabar. Toh, aku pikir masih banyak orang yang jauh lebih susahnya ketimbang aku. Hingga suatu ketika aku mengalami kesulitan yang begitu memberatkan, ibuku sakit dan harus segera dibawa ke dokter. Sebenarnya ia sudah lama sakit hanya saja selama ini dipaksakan untuk tidak memeriksakan ke dokter karena kami tak punya biaya. Disaat kebingungan itulah, Allah mengirimkan seorang ‘malaikat’ ke rumah kami. Kamil, sahabat lama yang entah sudah sekian tahun tak bertemu. Sudah hebat dia, bermobil pula.

Allah memang Maha Adil. Disaat orang lain kesulitan, Dia mengirimkannya kepadaku. Dan kini disaat aku yang kebingungan, ia kirimkan seorang penunjuk jalan. Kejadian yang baru saja kualami, kembali memberikan satu hikmah kepadaku. Kini, meski juga masih dalam kekurangan aku akan selalu menebar kebaikan kapanpun dan kepada siapapun. Karena kini aku yakini, amal yang sekarang kita kerjakan tidak hanya menjadi bekal di akhirat. Allah bayarkan juga kebaikan kita di dunia. Ini seperti menebar benih yang hasilnya bisa langsung dipetik di kemudian hari, seperti menabung yang isinya bisa kita dapatkan kapan saja, namun tak mengurangi jumlahnya. Malah bertambah dan terus bertambah ratusan kali lipat. Mungkin bukan untuk kita, tapi bisa untuk orang yang kita cintai. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti disaat kita begitu membutuhkannya. Dan mungkin tidak langsung dari orang yang pernah merasakan kebaikan kita, tapi bayaran langsung dari-Nya itu bisa datang melalui tangan siapa saja yang tidak diduga kedatangannya. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (2:261) (Bayu Gautama, terima kasih kepada semua yang telah memberikan kesempatan untukku berbuat kebaikan)

Batu-Batu Pijakan
Publikasi 20/09/2002 08:00 WIB eramuslim - Sabtu pagi. “Amru … dipanggil kepala sekolah!” lagi-lagi namaku dipanggil. Aku sudah tahu apa yang akan disampaikan kepala sekolah. Bulan lalu bu Isti wali kelasku memanggil menyampaikan salam untuk orangtuaku untuk segera membayar biaya SPP-ku yang sudah nunggak hampir 6 bulan. Sebulan sebelumnya bahkan bagian Tata Usaha sudah berkali-kali memanggilku hingga semua teman-teman tahu setiap kali aku dipanggil pasti urusannya dengan soal bayaran sekolah. Sejak orangtuaku bercerai dan aku memutuskan untuk ikut ibu setahun yang lalu, kondisi ekonomi keluargaku memang semakin terdesak. Terlebih sejak ayah menyetop kiriman uang yang seharusnya menjadi kewajibannya 6 bulan lalu. Ibu yang hanya lulusan PGA (Pendidikan Guru Agama) menggunakan kemampuannya mengetuk satu persatu pintu orang-orang berada dan menawarkan jasanya untuk mengajar ngaji anak-anak mereka. Akibat kebutuhan yang mendesak itulah, ibu selalu kehabisan uang untuk biaya sekolahku, juga adik-adikku. Ada Wicaksono, kami memanggilnya Sony, di kelas ia selalu menjadi biang keributan, sering membuat onar dan tidak jarang berbuat usil terutama kepada perempuan. Hampir semua anak dikelas tak menyukainya, selain ia juga sombong. Ia sangat suka pamer jika mempunyai barang-barang bagus yang baru dibelikan orangtuanya, seperti sepatu dan tas. Dilihat dari merk-nya sih, jelas tidak murah, bagus pula modelnya. Aku tak pernah iri

kepadanya, hanya saja yang membuat aku membencinya lebih karena ocehannya setiap petugas tata usaha memanggilku. “Pinter-pinter nunggak …” atau sindiran lainnya. Sore menjelang Ashar, dengan langkah gontai aku memasuki teras rumah. Kulihat ibu sedang menyapu lantai. Sejak dalam perjalanan pulang sudah kuputuskan untuk tidak menyampaikan surat panggilan kepala sekolah agar tidak menjadi beban pikiran ibu. Lagi pula mulai besok sampai minggu depan sekolah libur. Satu minggu sesudah jadwal masuk aku masih belum mau ke sekolah. Aku ‘membohongi’ ibu dengan mengatakan bahwa libur sekolah diperpanjang. Hingga akhirnya Fauzan, seorang temanku datang dan mengajakku ke sekolah. Ada yang lain di sekolah, petugas TU yang biasanya tak pernah senyum kepadaku, hari ini begitu ramah. Di kelas, tak ada yang berubah kecuali Sony, teman-teman bilang ia telah berubah setelah mengikuti pesantren kilat selama liburan yang lalu. Tak ada lagi kesombongan dan sifat usilnya. Alhamdulillaah. *** Itu dua belas tahun yang lalu, saat aku masih duduk dibangku SMA kelas 2. Kini aku tak pernah bertemu lagi dengan mereka, orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Yang kutahu cuma satu, Fauzan, teman sekolahku dulu kini menjadi salah satu staf dalam perusahaan yang aku dipercaya menjadi General Managernya. Satu bulan lalu saat acara syukuran dikantor atas dipercayanya aku menjadi GM, Fauzan membisikkan sesuatu yang membuatku menitikkan airmata. “Masih ingat Sony? Dia menjual tas dan sepatu barunya untuk melunasi tunggakan biaya sekolah kamu dulu” Subhanallaah … *** Sahabat sejati bukan memberi pada saat orang meminta, ia mempunyai mata pandang yang mampu menembus relung kebisuan sahabatnya. Ia memberi tanpa kata-kata, tanpa menepuk dada. Saudaraku, mungkin sepanjang perjalanan hidup kita pernah ada orang-orang yang menjadikan dirinya batu pijakan sehingga kita bisa melangkah maju dan lebih jauh. Meski cuma batu kecil, namun keberadaannya mungkin telah menyelamatkan kita dari jurang kejatuhan yang melumpuhkan. Sayangnya, seringkali kita tak pernah menengok batu-batu pijakan itu dan melupakannya. Wallahu a’lam bishsowaab (Bayu Gautama, teruntuk orang-orang yang telah pernah menjadi batu pijakanku)

Agar Dapat Melihat Surga
Publikasi 18/09/2002 07:39 WIB eramuslim - Seorang anak dengan gayanya yang lugu bertanya kepada ibunya, “bu, apa itu cinta?”. Cinta ada adalah kemurnian jiwa, kesejukan bathin dari kenikmatan memberi

dan kerelaan berkorban, jawab sang ibu. “Karena itukah banyak orang mengagungkan cinta?” tanya sang anak lagi. Dengan sabar dan penuh cinta ibunya menerangkan, bahwa keagungan cinta hanya berada pada cinta Sang Agung, Si pencipta cinta itu sendiri. Dan jika ada yang mengagungkan cinta diatas segalanya, sebenarnya ia tidaklah tengah mengagungkan cinta melainkan perasaan dan nafsunya yang tengah bergumul sehingga meluap menjadi nafsu berbaju cinta. Padahal jika mau membuka tabir sebenarnya, tentu mereka akan sadar kalau tengah terombang-ambing oleh arah cinta yang salah. “ini wajar nak, karena kebanyakan manusia hanya sebatas menggunakan mata kepala dan mengabaikan mata bathinnya, sehingga ia lupa bahwa cinta bersemayam dan bergetargetar dihati, bukan di kepala, apalagi dimata. Cinta harus dilihat dengan mata bathin, dan kebanyakan manusia memandang cinta hanya berhenti di mata kepala, sehingga seringkali tidak mampu menangkap kemurnian jiwa, kesejukan bathin dari mencinta dan dicinta. Karena itu, mereka yang senantiasa mampu menggunakan mata bathinnya untuk melihat segala hal, ia akan melihat siapapun dan apapun dengan cinta. “Karena Allah pun teramat cinta kepada yang mempersembahkan cinta kepada-Nya”. “Lalu kenapa ada orang yang saling membenci, bertengkar dan saling bermusuhan?” tanyanya lagi. Itulah kehebatan Allah. Dia ciptakan manusia dengan bentuk yang sempurna sehingga dengan kesempurnaan yang dimilikinya itu, manusia bisa menangkap kesan yang lain, tidak hanya cinta. Ada benci, marah, kecewa, senang, tertawa, sedih dan masih banyak lagi. Tak perlu takut, semua itu salah satu anugerah dari-Nya yang patut kita syukuri. Sudah menjadi fitrah manusia tidak menyukai sesuatu yang tidak disenanginya, artinya sesuatu hal yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan hati nuraninya, adalah sangat manusiawi jika dibenci. Dan adalah fitrah manusia juga untuk kecewa jika sesuatu tak seperti harapannya, tak seindah mimpinya. Masalahnya kemudian, bagaimana manusia mengkondisikan hatinya agar senantiasa condong kepada kebenaran, sehingga benci, marah dan kecewa serta sedihnya hanya kepada kebathilan, kesemena-menaan, kezhaliman, keserakahan dan bahkan kesombongan diri, juga dosa yang dilakukannya. “Bagaimana dengan tersenyum dan tertawa?” Senyum dan tawa adalah sebuah refleksi, sama seperti benci, marah dan sedih. Hanya bedanya, biasanya senyum dan tawa adalah cermin dari keberhasilan, kemenangan dan prestasi seseorang akan sesuatu. Tak perlu merasa bersalah hanya karena tersenyum dan tertawa. Mungkin Allah menciptakan rasa itu untuk melatih manusia. “Bukankah semua hamba-Nya yang sholeh kelak akan tersenyum di hadapan Allah yang menghadirkan keagungan wajah-Nya?” jelas sang Ibu sambil mengusap kening anaknya yang serap-serap mulai terbuai ke alam tidurnya. Lama ia dibuai cinta sang Ibu, dengan sentuhan lembut ibunya ia memainkan nyanyian dawai-dawai indah yang bergelung-gelung dialam mimpinya. Ia merasakan kehangatan hidup, keceriaan dunia. Mungkin karena usianya yang memang belum pantas merasakan kegetiran dan kepahitannya. Untuk sementara ibunya membiarkan mimpi anaknya tak terusik oleh kepayahan mencari sesuap nasi yang dijalaninya, juga hantaman kerikil di

sepanjang jalan yang disusurinya. Terik dan hujan menjadi baluran tubuhnya sehari-hari, demi satu cita, tak kan membiarkan dimasa depan anaknya mengeluarkan keringat dan darah seperti yang dialaminya kini. Mungkin semua orangtua mempunyai mimpi yang sama. Hingga dengan demikian sang ibu semakin sadar bahwa hanya Tuhanlah yang selama ini menguatkan, mempertebal kesabaran serta menanamkan keyakinan dihatinya, bahwa esok matahari masih akan terbit. Dan menjelang fajar, seusai kesejukan membasuh seluruh tubuh untuk kemudian bersimpuh dihadapan-Nya. Tak terasa air bening mengalir membasahi pipi, untaian kata pinta yang tak pernah berhenti, yang tak pernah berhias putus asa, yang tak diiringi penyesalan akan beban hidup yang saat ini diamanahkan kepadanya. Terkadang ada tangis yang begitu keras sekeras benturan kehidupan yang menerpanya, hingga tak sadar tangisannya itu menyentuh relung bathin anaknya sampai terbangun. “Kenapa ibu menangis?” Menangis adalah satu anugerah Allah lainnya nak. Menangis adalah wujud dari kelemahan manusia yang jelas-jelas kekuatannya sangat terbatas. Menangis adalah pembuktian akan adanya Yang Maha Kuat yang memiliki kehendak diatas segala mau dan keinginan manusia. Tak perlu malu untuk menangis, karena dengan menangis kita tengah melunturkan kesombongan, kepekatan hati yang penuh noda hitam dari setiap detik hidup yang berlumur salah, juga menghilangkan penyakit-penyakit lainnya yang kerap hinggap di kalbu. Menangis tidak mesti dengan air mata, meski biasanya selalu dengan itu. Air bening yang membasahi mata akan membasuh dosa yang berawal dari penglihatan manusia. Kemudian airnya turun menyejukkan wajah kita. Itulah cara Allah membersihkan wajah manusia yang coreng-moreng oleh kekhilafannya. Maka dengan menangis setiap hari, wajah menjadi bersih, hati pun sejuk kembali dan kebeningan mata yang sudah terhapuskan pekatnya, memberikan keindahan tersendiri. Semua itu, hanya agar manusia dapat melihat surga. Wallahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Pengabdian Sang Rumput
Publikasi 17/09/2002 07:08 WIB eramuslim - Menjadi rumput di keluasan padang yang menghampar. Dengan hijaunya dan tebaran hewan-hewan yang merumput untuk memenuhi hajat kehidupan. Di atasmu mereka berbiak, bergembira, mencari makan, juga mengotorimu, menginjak-injak dan kemudian meninggalkanmu ketika kau tak lagi subur, kering bahkan sekarat mendekati kematian. Namun kebahagiaan apa yang paling berharga bagi rumput kalau bukan atas kemanfaatannya. Menjadi rantai pertama energi yang kemudian mengalir sampai puncak rantai makanan yaitu pada hewan-hewan predator. Dari rumput, irama kehidupan dimulai sampai semua kembali lagi menghampiri dalam sebuah ajal ketika tiba merenggut. Terus bermanfaat, memancar tiap hari, tiap detik dan pada setiap hembusan nafas makhluk yang

melata di muka bumi. Tidak ada kata terkira inilah pengabdian yang terindah dan teragung yang pernah kau berikan. Kemudian musim kering yang tandus menghantam. Dengan halus kau usir hewan-hewan untuk meninggalkanmu agar mencari tempat yang lebih baik dan menjanjikan. Bukan pada padangmu, bukan pada dirimu. Karena kau tak akan pernah ingin berbagi penderitaan dengan mereka. Cukup kau tanggung sendiri. Lalu jilatan api melumat tubuh-tubuh kurus keringmu. Disertai hembusan angin sepoi yang bersorai, memanasi api hingga dengan cepat membesar, kemudian menghanguskan seluruh tubuhmu. Akhirnya hanya meninggalkan puing-puing jelaga yang hitam. Suasana kesenduan tanpa kehidupan yang membalut luka terbakar, seakan semua kenangan indah terhapus hangus dalam pori-pori tanah yang panas terpanggang api dan teriknya matahari. Namun kau belum mati. Dalam ketakzimannya rumput-rumput tentu tak berdosa, namun pengabdian dan doadoanya terus meluncur sepanjang waktu atas karunia yang dilimpahkan untuk dirinya. Karunia teragung yaitu kehidupan itu sendiri, "Ya Rabb, hidupkan generasi pengganti kami dari akar-akar hamba yang sengaja kau selamatkan di pori-pori bumi dari amukan api yang telah menjadikan tubuh-tubuh kami sebagai pupuk untuk generasi kami mendatang. Jadikanlah generasi penggantiku adalah generasi yang kau cintai dan hanya mencintaiMu. Karena sebuah kemuliaan yang tiada tara selain sebuah kecintaan pada-Mu dan kemanfaatan dari kami yang dapat dipetik dari makhluk-MU yang melata di muka bumi ini". Maka, tatkala bergulung-gulung mendung hitam membawa kabar baik untuk semua kehidupan di bumi. Bersama tercurahnya hujan, sang akar rumput pun bercucuran dan berlinang air mata kesyukuran. Dengan hujan, bumi dibasahi dan dilunakkan air yang menggenangi danau-danau, kubangan-kubangan dan relung-relung hati yang sebelumnya kering dari tetesan air keindahan dan kasih sayang. Sang rumput bangkit dengan tunastunas yang baru, kemudian akar semakin sibuk mengumpulkan zat-zat kehidupan yang telah diwariskan generasi sebelumnya. "Aku akan lebih baik dari pendahuluku", tekad sang rumput muda, akan kuundang semua makhluk hidup dengan ranumnya tubuhku yang takkan habis dimakan. Namun akan senantiasa tumbuh dengan kehijauan lagi lezat di mulut makhluk yang memamahnya. Sampai semua kehidupan ini secara berantai termakmurkan karena hijaunya tubuhku. Sang rumput muda tumbuh dengan gemuk kehijauannya. Menyimpan gizi yang tinggi tiada tara bagi makhluk-makhluk pemamah biak. Demikian juga sang akar menyesap dengan gairah semangat kehidupan yang diwariskan pendahulunya, untuk menyediakan semua kebutuhan gizi bagi sang rumput muda. Kehidupan di padang telah pulih kembali, bersamaan dengan binatang-binatang yang dulu mengungsi saat kemarau dan kebakaran melanda. Dengan keletihan dan tubuh kurus, hewan-hewan tersebut bersua kembali dengan telaga kehidupan padang rumput

yang sungguh tak terkira sebelumnya. Mata-mata berbinar penuh kesyukuran, karena Allah telah menyediakan rizki yang tak terkira baginya. Rumput-rumput ranum hijau yang menyegarkan pandangan, menguatkan dan menggemukkan. Seakan mereka sudah kenyang walau hanya memandangnya saja. Kehidupan di padang itu menjadi hidup dan lebih hidup lagi. Sang rumput berlinang air mata, bukan karena kesedihan, namun karena Allah telah menghamparkan amanah baginya, dan air mata itu adalah kesyukuran atas amanah yang ditunaikannya. Syahdan, angin kemarau yang tandus dan kering menggulung, mengabarkan bagi seluruh kehidupan untuk bergerak ataupun bertahan. Kemudian hewan-hewanpun berhijrah meninggalkan padang untuk bertahan ke tempat yang lebih baik. Ketika semua telah mengungsi maka berlahan-lahan, tubuh sang rumput mengering disapu oleh angin kemarau yang menyedot air dalam tubuh-tubuh renta yang berlumuran pengabdian yang tak akan ternilai oleh apapun. Dengan keikhlasan dan keridhoan Rabbnya, jiwa itu akan berlabuh di keridhoan itu. Namun ada satu yang tak terlupa dari mulut sang rumput, "Ya Tuhanku ijinkanlah hamba-Mu untuk memanjatkan doa; Jadikanlah generasi penggantiku adalah generasi yang mencintai dan Engkau cintai ya Rabb, generasi pengganti kami yang lebih baik dari kami". Dengan cucuran linang air mata sang rumput menuntaskan doanya, dan dengan keikhlasan dan keridhoaan dari Sang Rabb ajalnya dilabuhkan ke sisi keridhoaan-Nya. Angin berhembus kehilangan, demikian panas terik matahari meratapi kepergian sebuah pengabdian. Namun semua mempunyai penuntas, semuanya mempunyai keberakhiran, semuanya mesti dipergantikan. Wallahu'alam bishshowab (Warsito Suwadi warsuwadi@yahoo.com)

Apakah Kita Tak Pernah Sombong?
Publikasi 16/09/2002 08:59 WIB eramuslim - Dahulu kala diceritakan pernah ada seorang suami dan istri yang ketika sedang duduk di depan rumahnya, melintas sepasang laki-laki dan wanita di depan mereka. Sang wanita tinggi ramping dan mengenakan baju indah, sementara yang lakilaki berpostur pendek dan sederhana. Tiba-tiba si istri yang melihat berkata, "Huh, wanita itu sungguh sombong. Dia berdandan agar dirinya tampak lebih tanpa memperhatikan orang lain." Seketika itu suaminya berkata, "Kejar wanita itu dan minta maaf padanya." Setelah mereka bertemu dan istri itu minta maaf, wanita itu menjelaskan bahwa dia berdandan dengan indah untuk membahagiakan suaminya agar suaminya bisa 'bangga' dengan dirinya. Dan suami wanita itu adalah lelaki pendek yang sedang berjalan bersamanya. Cerita ini adalah salah satu dari sekian banyak peristiwa yang kita jalani yang menunjukkan betapa mudahnya kita menilai manusia dari apa yang tampak diluarnya.

Kita begitu mudah menjatuhkan hukuman predikat sombong kepada orang yang tampak tidak simpatik bagi kita. Kita dengan mudah mengatakan arogan kepada mereka yang sikapnya menurut kita tidak menyenangkan. Kemudian kita membenci mereka dengan berlindungkan hadist "Tidak akan masuk surga orang yang dalam lubuk hatinya terdapat perasaan sombong (arogan) walaupun cuma sebesar atom." (HR Bukhari Muslim) atau bahkan dengan ayat Allah "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri" (Luqman:18) tanpa kita pernah tahu kenapa mereka bersikap seperti itu. Jangan-jangan kita pernah mengatakan teman kita sombong karena tidak mau menerima uluran tangan kita, padahal bisa jadi dia begitu ingin hanya bergantung pada Allah dengan tidak merepotkan kita. Jangan-jangan kita pernah mengatakan orang lain sombong karena ia tidak pernah mau berkumpul dengan kita padahal ia ingin menjaga diri dari kesia-siaan waktu atau bahkan karena harus mengerjakan pekerjaan lain yang tidak bisa menunggu. Jangan-jangan kita pernah mengatakan kawan kita sombong hanya karena ia tidak pernah mau menegur sapa kita terlebih dahulu padahal pada dasarnya ia memang pemalu. Jangan-jangan kita pernah membenci orang karena penampilannya, padahal memang Allah yang menciptakan tubuhnya seperti itu. Jika seperti ini yang sudah kita kerjakan, Saudaraku, maka kita harus waspada bahwa jangan-jangan kita yang sesungguhnya sombong. Kita bisa jadi telah berdosa kepada Allah karena kita sesungguhnya telah mengambil alih kekuasaan-Nya dalam menilai hati manusia. Ingatkah kita bahwa hanya Allah yang bisa melihat apa yang tersembunyi di balik hati manusia? Kepada kawan itu pun kita juga berdosa karena telah berburuk sangka. Rasulullah Saw sendiri pernah berkata, "Berhati-hatilah kalian dari prasangka-prasangka (yang buruk). Karena sesungguhnya prasangka itu adalah sedusta-dustanya perkataan." (Muttafaqun 'alaih). Juga ketahuilah bahwa dengan mencapnya sombong kita sebenarnya telah menghina mereka yang justru bisa jadi sedang berusaha menjadi hamba Allah. Takutlah kita jika buruk sangka itu kemudian kita sebar-sebarkan, sementara kawan yang kita sakiti menangis di tengah malam mengadukan kita kepada Allah. Takutlah akan balasan perbuatan kita, Saudaraku. Bagi saudara-saudaraku yang terzhalimi dengan diperlakukan sebagai orang sombong, tidak usah kalian berkecil hati. Apa yang kalian lakukan biarlah dinilai Allah, karena hanya Ia yang bisa memuliakan dan menghinakan kita. Luruskanlah niat dan sempurnakan amal. Serta maafkan dan doakan kami agar Allah mengampuni dosa-dosa kami yang memang suka mendewakan perasaan sendiri dan menilai segala sesuatu dari yang kasat mata ini. Hadi Susanto (susanto@math.utwente.nl)

Fujuurohaa Wataqwaaha

Publikasi 13/09/2002 08:33 WIB eramuslim - Sebuah film lawas Amerika berjudul Jekyll and Hyde yang diambil dari novel karya Robert Louis Stevenson dengan judul yang sama yang diterbitkan pada April 1982, menggambarkan tentang adanya unsur baik dan unsur jahat pada diri seorang manusia. Sebenarnya film tersebut menggambarkan perubahan seorang pria bernama Dr. Jekyll yang baik hati, menyenangkan dan sangat bersahabat dengan semua orang setelah minum formula kimia tertentu sehingga menjadi orang lain dengan karakter yang berlawanan, yakni Mr. Hyde yang membenci setiap orang yang dijumpainya. Dalam diri menusia unsur baik dan jahat seringkali ‘berebut’ untuk tampil lebih dominan, bergantian atau bahkan bisa muncul dalam waktu yang hampir bersamaan. Bahkan Kahlil Gibran menyebutkan dua karakter negatif, setan dan hewan yang bersemayam di diri manusia dan hanya satu karakter positif, malaikat yang senantiasa tarik menarik untuk menguasai jiwa manusia. Dalam terminologi Islam ada yang disebut potensi fujuuroha wataqwaaha, kecenderungan untuk berbuat fasik dan juga taqwa. Jika lebih besar kecenderungan ketaqwaannya maka jadilah ia orang baik, menyenangkan, tetapi sebaliknya, ada orang-orang yang senang berbuat jahat, bathil karena karakter setan dan hewan menguasai jiwanya. Kemudian ada orang yang memiliki sekaligus dua karakter baik dan jahat itu, dan kita mengenalnya sebagai orang munafik. Hipokrit yang berkepribadian ganda (split personality) yang digambarkan dalam awal-awal surat Al Baqarah dengan jumlah ayat yang lebih banyak ketimbang ayat tentang orang beriman dan kafir. Itu artinya, orang munafik jauh lebih berbahaya ketimbang orang kafir, karena ia bagaikan musuh dalam selimut, pagar makan tanaman, dan menggunting dalam lipatan. Kembali ke soal potensi baik dan jahat dalam diri manusia, harus diakui bahwa setiap kita memilikinya. Seperti halnya Allah menciptakan semuanya berpasangan, maka juga ada sabar dan emosi dalam diri manusia, ada pelit dan pemurah, ada cinta dan benci, ada maaf dan dendam, sombong (takabbur) dan rendah hati (tawadhu’) dan sebagainya. Tinggal bagaimana seorang manusia mampu mengendalikan diri dan jiwanya sehingga karakter jahat (karena kita memberi celah kepada setan untuk masuk dan menguasai jiwa) tidak muncul dalam setiap gerak dan langkah kita. Karena seringkali manusia tidak menyadari bahwa setan telah mempengaruhinya untuk berbuat suatu kejahatan, yang biasanya baru disadari sesaat setelah sebuah perbuatan jahat dilakukan. Ada penyesalan, dan saat itulah potensi baik manusia muncul, bahwa ia merasa berdosa. Ini tentu masih lebih baik karena ada manusia yang sudah sama sekali terkubur unsur baiknya sehingga tak bosannya berbuat maksiat dan dosa tanpa merasa bersalah. Padahal hakikatnya, sekali lagi, jiwa manusia memiliki kecenderungan fasik dan taqwa. Misalnya saja, sejahat-jahatnya manusia, tidak ada yang mau disebut penjahat. Profesi jahat apapun yang dilakoninya biasanya ada ‘alasan baik’ yang menjadi motivasinya. Entah anak istri lapar, demi membela harga diri atau minimal sebuah alasan umum, khilaf. Namun setidaknya itu menjadi bukti adanya potensi baik dan jahat itu.

Masalahnya kemudian, tidak jarang kita terjebak atau terdorong untuk memperturutkan kecenderungan jahat itu. Na’udzubillah summa na’udzu billah, semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan jahat besar maupun kecil. Hanya saja yang perlu diingat, ada kejahatan-kejahatan kecil yang kerap kita lakukan tanpa kita sadari dan bahkan kita menganggapnya bukan suatu kesalahan. Misalnya saja, seketika ada rasa sombong yang mencuat ketika meraih prestasi ditempat kita beraktifitas. Tak sadar mungkin kita terlebih dulu menepuk dada seraya berujar, “siapa dulu … gue …”, setelah itu kemudian baru terucap, “alhamdulillaah”. Atau seketika marah terhadap perlakuan orang yang mungkin tidak disengaja. Padahal sabar dan memberi maaf jauh lebih terhormat untuk kita lakukan. Kalimat “sabar kan ada batasnya” yang sering kita dengar seolah juga memberi bukti bahwa ada dorongan untuk memenuhi kecenderungan fujur kita. Semuanya dikembalikan kepada kita, ingin berperan menjadi orang baik atau orang jahat. Dengan mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Kuasa atas semua jiwa manusia, dan mencontoh tauladan kita Nabi Muhammad Saw yang segala kebaikkannya membaikkan ummatnya. Termasuk memilih komunitas yang baik dan menghindari tempat dimana kejahatan bersemi. Maka bukan tak mungkin kita mampu mengubur potensi jahat (setani dan hewani) dalam diri ini dan membiarkan karakter kebaikkan memenuhi setiap relung jiwa ini. Wallahu a’lam bishshowaab. (bayu gautama)

Jagalah Keseimbangan
Publikasi 10/09/2002 11:37 WIB eramuslim - Orang-orang yang tinggi idealismenya tidak jarang hanya beraksi pada tataran wacana, bahwa ia harus melakukan gebrakan besar ini, terobosan besar itu. Tetapi pada kenyataannya energinya seringkali habis hanya untuk menelorkan dan membahas wacana-wacana besar itu dan tidak sampai pada aktualisasi ide. Di sisi seberangnya, ada orang-orang yang justru aktif melakukan hal-hal kecil, tetapi melulu dan berkutat disitu. Tidak ada hal-hal besar dan ideal yang menjadi tujuannya. Maka jadilah apa yang dikerjakannya hanya sebatas menghabiskan waktu, sehingga pada saat umurnya sudah menua barulah ia menyadari bahwa yang dilakukannya selama ini adalah hal kecil yang tidak membuatnya besar. Jika kita mau mengambil pelajaran, apa yang dikatakanya Rasulullah, mulailah dari diri sendiri sebenarnya tidak hanya bermakna keteladanan agar bisa dicontoh oleh orang lain. Kalimat itu juga bisa mengajarkan kepada kita bahwa sesuatu yang baik harus dimulai dari dalam baru kemudian keluar. untuk bisa menjangkau hal-hal diluar, seharusnya kita sudah menggenggam segalanya yang ada didiri ini, untuk melangkah ke depan, sebaiknya dipastikan kaki ini sudah mampu berdiri menapak dengan kuat, selanjutnya terserah, mau berlari atau melakukan lompatan sejauh apapun. Untuk bisa menguasai (memimpin) orang lain, sudah sepantasnya kita tak lagi bingung mengendalikan diri, untuk dapat berbicara dengan baik kepada orang lain berarti juga sebelumnya kita lebih dulu mengerti apa yang sebenarnya hendak kita sampaikan. Semua itu berlaku secara alami, dan jika ada yang mencoba melanggar aturan alami itu, sudah bisa dipastikan ketidakmaksimalannya. Anda bisa saja melompat namun mungkin kaki anda akan terkilir

atau patah. Anda bisa juga berbicara dengan bebasnya meski anda sendiri pun tidak jelas apakah memahaminya atau tidak, tapi jangan salahkan kalau orang lain hanya akan mengangguk didepan anda sebelum kemudian perlahan meninggalkan anda. Sesuai dengan proses kejadian manusia, bahwa tidak ada manusia yang langsung terlahir besar. Ia dimulai dari seorang bayi merah tanpa daya apapun, kemudian tumbuh sebagai anak lincah yang baru bisa berjalan satu-dua langkah. Beberapa tahun kemudian, ia mulai sekolah. Bertambahlah pengetahuannya dari yang sudah ada sebelumnya. Ketika besar, selain pengetahuan, kemampuan motoriknya juga lebih sempurna. Demikian halnya dengan pekerjaan, melakukan hal yang kecil terlebih dulu sebelum mencoba sesuatu yang besar, mengangkat yang ringan terlebih dulu sebelum yang berat, kerjakan dulu yang terjangkau tangan, sebelum memaksakan sesuatu yang diluar cakrawala kita. Namun yang perlu diingat, pesan mulailah dari diri sendiri bermakna bergerak. Arti kata 'mulai' berarti melakukan sesuatu yang tidak berhenti disitu. Jadi ketika sudah melakukan hal yang kecil, cobalah sesuatu yang lebih besar. Jangan puas dengan pekerjaan yang ringan-ringan saja, sebelum mencicipi kenikmatan dari hasil kerja berat. Dan melangkahlah keluar menembus cakrawala agar menghabiskan waktu hidupnya dari perkembangan ke perkembangan berikutnya. Sebaiknya kita tidak seperti seorang anak kecil yang melempar batu jauh ke depan, dan meminta temannya mengambilkannya. Padahal setelah melempar batu, semestinya kita berlari menuju dimana batu terjatuh dan kemudian melemparkannya kembali ke depan. Sehingga di medan lemparan berikutnya bukan tidak mungkin kita menemui hambatan yang berbeda, bisa berupa angin kencang yang menghambat laju batu, atau pohon besar yang menghalangi. Dan seterusnya seperti itu. Ini mengajarkan kita untuk senantiasa bergerak dan tidak puas berhenti disatu tempat mengulangi rutinitas yang sama, dan jelas tidak berkembang. Tidak ada sesuatu yang baru. Juga tidak mengalami tantangan baru. Oleh karenanya, bekalilah diri ini dengan jam penunjuk waktu dan kompas sebagai penunjuk arah (tujuan). Jangan hanya memiliki jam tangan karena kita akan terjebak pada rutinitas yang melelahkan tanpa tujuan (cita-cita) yang jelas namun waktu yang ada habis tanpa hasil yang signifikan. Jangan pula hanya melengkapi diri dengan kompas tanpa jam penunjuk waktu. Karena kita hanya akan sibuk menentukan tujuan tanpa melakukan apaapa karena kita tidak pernah tahu kapan harus memulai. Bahwa manusia harus menjaga keseimbangan dalam segala hal, itu suatu keniscayaan terhadap signifikansi hasil yang bakal diraih. Berada pada posisi aman dan tidak berani mencoba tantangan baru, jelas membuat kita menjadi kerdil. Berpikir besar tentang semua idealisme tanpa memulainya dengan hal-hal yang kecil, tentu ibarat calo di terminal bis kota. Orang lain sudah sampai di tujuan kita masih tertinggal di landasan. Menikmati pekerjaan rutin yang kecil dan cukup puas dengan hasil yang didapat ternyata juga terkadang membuat hati mendengki terhadap orang-orang yang berhasil karena hidup dinamis dan berani bergerak (maju).

Padahal jelas-jelas Allah memerintahkan kita untuk menjadi ummatan wasathan, agar diri ini senantiasa menyeimbangkan posisi dan keadaan. Tidak jatuh terpuruk dan terus menerus berkubang dengan kesulitan, tetapi juga tetap menjaga jarak untuk tidak merasa sejajar dengan Yang Maha Tinggi agar tidak menjadi takabur. Wallahu a’lam bishshsowaab (Bayu Gautama)

Etika Meminta
Publikasi 06/09/2002 08:40 WIB eramuslim - Tiga orang pemuda yang terperangkap dalam sebuah gua, semakin kehabisan akal bagaimana caranya keluar dari gua yang tertutup batu besar yang secara logika tak mungkin digeser meski dengan mengumpulkan seluruh kekuatan mereka bertiga. Sementara bekal makanan pun sudah menipis, tubuh semakin lemah. Mereka pun sedih, bila mereka harus mati terperangkap didalam gua tersebut maka berakhirlah langkah dakwah yang sudah sekian tahun dijalani, berakhir pulalah kesempatan untuk menambah amal shaleh di dunia. Dalam kondisi demikian, tak ada lagi yang sanggup menolong mereka kecuali Allah semata. Allah yang Maha Kuasa tempat manusia meminta pertolongan. Maka tak ada jalan lain mereka pun berdo’a dan meminta kepada Allah agar diberikan kesempatan untuk bisa keluar dari dalam gua. Satu persatu dari mereka berdo’a seraya ‘mempertaruhkan’ semua amal dakwah dan perjuangannya bagi agama Allah selama ini. “Ya Allah, sekian tahu sudah kami memperjuangkan agama-Mu, mengajak orang-orang mencintai-Mu. Tapi kami merasa belum cukup sebagai bekal menghadap-Mu. Namun jika yang Engkau ridha terhadap amal kami yang masih sedikit itu Ya Allah, atas izin Engkau, biarkanlah kami keluar dari gua ini …”. Kemudian satu do’a terucap, beberapa celah batu itu bergeser, dan seterusnya sampai permintaan yang sama dari orang ketiga hingga mereka akhirnya bisa keluar dari perangkap gua tersebut. Wallahu’a’lam. Kisah diatas mungkin sudah sangat sering kita mendengarnya, atau bahkan lama sekali kita tak mendengarnya. Cerita yang sangat sederhana yang memberikan satu pelajaran bagi kita, bahwa ada saat-saat Allah begitu cintanya kepada hamba-hamba yang mencintai-Nya sehingga keadaan sesulit apapun bisa menjadi mudah atas pertolongan Allah. selain juga satu hikmah lain, bahwa untuk meminta sesuatu yang lebih dari Allah, seharusnya pula ada nilai lebih yang sebelumnya kita persembahkan kepada-Nya alias tidak meminta dengan tangan kosong. Lihatlah pelajaran bagaimana para nabi Allah yang sangat dekat pertolongan Allah karena amal sholeh mereka yang membuat Allah tersenyum. Api yang kehilangan panasnya sehingga tak membakar tubuh Ibrahim kecil, insya Allah karena keberanian dari Ibrahim menentang praktek syirik kaumnya, termasuk ayahnya sendiri. Diangkatnya Yusuf sampai derajat yang mulia, insya Allah berawal dari kesabarannya memilih penjara demi menghindari maksiat. Dan masih banyak contoh lain yang membuktikan janji Allah,

barangsiapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya (QS. Muhammad:7). Contoh paling sederhana adalah seorang anak kecil yang meminta uang jajan kepada orangtuanya. Jika anak itu baik, berbakti kepada orangtua, menjadi anak yang menyenangkan lagi dibanggakan, mungkin hampir tidak ada alasan bagi orangtua untuk tidak memberinya. Bahkan tidak meminta pun akan ditawarinya sesuatu yang lebih. Menjelang perang Uhud dimulai, Rasulullah menghadiahi sebuah do’a kepada Nusaibah binti Ka’ab al Maziniay dan keluarganya agar dijadikan orang-orang yang menemani beliau di surga. Tentu karena Nusaibah bukan wanita sembarangan, bersama suaminya Zaid bin Ashim dan dua anak lelakinya mereka bertempur habis-habisan bersama Rasulullah di medan perang Uhud. Bahkan Nusaibah tak gentar meski suami dan dua anaknya sudah gugur di tengan pertempuran, karena ia bersama Mush'ab bin Umair -yang kemudian menemui syahid setelah mendapatkan puluhan tusukan di tubuhnyamenghadang Qam'ah, orang yang dipersiapkan membunuh Rasulullah dalam perang tersebut. Nusaibah sendiri harus menderita dengan dua belas tusukan yang salah satunya mengenai lehernya. "Tidaklah aku menoleh ke kanan dan ke kiri pada peperangan Uhud melainkan aku melihat Nusaibah berperang membelaku." Kini kembali kepada diri kita, ketika do’a tak lagi terkabul, ketika permintaan-demi permintaan seperti tak didengar oleh Allah, dan tatkala airmata tak juga membuat Allah tergerak untuk menghulurkan kasih-Nya, mungkin kita perlu menengok ke dalam diri ini. Sudah berapa banyak amal shaleh yang kita perbuat, adakah sekian waktu, tenaga, harta dan kemampuan yang kita miliki ini bernilai dimata Allah karena atas dasar cinta kepadaNya kita penuh semangat menolong agama Allah. sudahkah nilai lebih tertoreh didiri ini sehingga Allah pun dengan bangga menjadikan kita bagian yang dikasihi-Nya. Selain itu, bisa jadi ada yang perlu kita perbaiki dari sikap mental diri ini. Mungkin kita terlalu lemah sehingga terlalu cepat mengeluh dan meminta. Padahal apa yang kita kerjakan belumlah maksimal, tidak banyak keringat yang mengucur. Banyak berdo’a (meminta) tanpa ada usaha yang sungguh-sungguh juga rasanya tidak lebih baik ketimbang mereka yang menyeimbangkan keduanya. Sebaiknya, tunjukkan terlebih dulu kesungguhan berusaha, baru kemudian meminta bantuan Allah untuk menyempurnakan hasil yang sebenarnya dari usaha sendiri. “Bekerjalah kamu, sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melihat kamu bekerja”. Hal lain yang perlu diperhatikan tak bukan adalah kedekatan diri ini kepada Sang Maha Pemberi. Semakin dekat diri ini kepada-Nya semakin Ia melihat dan memperhatikan segala urusan kita. Pujilah Allah dengan sesering mungkin menyebut nama-Nya dan mengingati-Nya dalam keadaan apapun, karena dengan begitu Allah akan senang dicintai hamba-Nya. Tapi jika lidah ini pelit mengeluarkan pujian, jangan pernah membayangkan Allah mendekat, apalagi memperhatikan kita. Bagaimanapun Dia akan semakin cinta kepada siapa yang semakin mencintai-Nya. Dan karena itulah segala kesulitan menjadi mudah, hal berat terasa ringan dan segala harapan insya Allah terwujud.

Hukum Allah selalu bermain, bahwa orang-orang yang tidak sungguh-sungguh berusaha akan tertinggal dan tertindas, mereka yang tidak mendekat kepada Allah akan semakin jauh terseret kepada kejahatan dunia yang itu jelas-jelas semakin menjauhkan dirinya dari perhatian Allah, terlebih pertolongan-Nya. Sehingga kelak Dia dengan segala kekuasaannya akan menggantikan yang demikian itu dengan generasi baru yang mencintai Allah dan Allah pun mencintainya. Wallahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Atasi Problem Ummat Dengan Akhlak
Publikasi 20/08/2002 09:31 WIB eramuslim - Manusia yang terbaik adalah manusia yang bernilai manfaat bagi manusia lainnya. Penampilan manusia terbaik ini telah ditujukkan oleh para generasi awal sahabat (assabiqunal awwalun). Sehingga perjalanan dakwah Rasulullah Saw betul-betul ditopang oleh pondasi yang kokoh dari para sahabat. Di dalam sejarah tersebutlah nama-nama seperti: Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Bilal bin Rabah, dan masih banyak lagi. Mereka sangat disegani lawan maupun kawan, dipuji makhluk baik yang ada di langit (malaikat) maupun di muka bumi. Oleh karenanya, bagi kita yang hidup hari ini sangat bagus untuk mampu mengambil hikmah dari apa yang telah diperbuat Rasullah Saw dan para sahabatnya. Abu Bakar misalnya, adalah orang yang pertama mempercayai Rasulullah Saw melakukan perjalanan Isra’ dan mi’raj. Sehingga terkenallah ia dengan julukan asshiddiq (benar). Disamping itu, Abu Bakar adalah termasuk sahabat yang rela mengorbankan hartanya 100 persen untuk Islam. “Cukuplah Allah dan Rasul-Nya”, kata Abu Bakar. Akhlak mulia yang ditunjukkan oleh para sahabat itu dapat muncul karena mereka mempunyai kekuatan aqidah yang kokoh, kuat, tahan banting. Kekuatan aqidah yang bersumber dari pemahaman yang jelas, jernih dan baik terhadap syahadatain. Sehingga setiap gerak langkah yang dilakukannya itu betul-betul diperuntukkan demi tegaknya kalimat Allah, Laa Ilaha Illallah. Jika saja setiap umat Islam yang ada di bumi nusantara ini berakhlak seperti Rasulullah dan para sahabatnya, insya Allah kalimatullah akan tegak. Problem kemiskinan yang terus mendera bangsa ini juga bakal bisa di atasi. Kenapa, karena setiap orang akan berusaha dan berlomba-lomba untuk menunjukkan akhlak mulianya. Setiap detik waktunya tidak akan terbuang sia-sia. Namun, akan digunakan untuk meraih amalan terbaik sehingga sahamnya diakhirat menjadi besar. Hanya dengan amalan terbaiklah kita akan bertemu dengan Allah Swt. Mengenai hal ini, Abu Darda ra, ia berkata, “Nabi Saw bersabda: “Carilah Aku (Allah) pada golongan orang-orang lemah karena sesungguhnya kamu diberi rizki dan pertolongan melalui golongan orang-orang lemah itu.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Bukhari,

Ibnu Hibban, dan hakim). Dengan membantu orang-orang lemah sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah Saw dan para sahabatnya tentu nilai amalan akan meningkat. Dalam konteks era sekarang ini, banyak cara yang bisa diterapkan dalam membantu orang-orang lemah. Yang penting adalah bantuan itu diniatkan semata-mata karena Allah bukan karena ada faktor yang lain. Jangan sampai ada udang dibalik batu. Apalagi godaan jabatan di pentas politik yang selalu menggoda. Berikanlah bantuan kepada orang-orang lemah dengan semata-mata ikhlas karena-Nya. Dari sisi ekonomi, cara memberdayakan golongan lemah dapat ditempuh dengan berbagai macam jalan, antara lain. Pertama, merekrut mereka menjadi tenaga kerja pada usaha yang sedang dijalankan sendiri. Kedua, memberikan bantuan modal untuk usaha yang produktif. Modal usaha dapat berupa modal investasi dan modal kerja. Modal investasi berupa alat-alat atau perlengkapan yang akan digunakan dalam jangka panjang sebagai penunjang usaha. Sedangkan modal kerja adalah dana yang akan digunakan untuk keperluan rutin (operasional usaha). Ketiga, memberikan beastudi (beasiswa) kepada salah satu anggota keluarganya (anak). Dengan harapan akan dapat berkarya produktif setelah pendidikannya selesai. Keempat, memberikan bekal keterampilan melalui training (pelatihan). Melalui pelatihan diharapkan mereka menjadi paham dan mampu untuk bekerja secara mandiri. Dengan keempat perbekalan di atas diharapkan golongan lemah menjadi bangkit dan kuat. Kebangkitan dan kekuatan mereka akan berkelanjutan bila ditopang dan dilandasi oleh aqidah (keyakinan) yang kuat, bahwa semua yang telah dan akan terjadi itu sematamata kehendak Allah Swt. Tugas kita adalah berusaha semaksimal potensi yang telah diberikan-Nya. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat, yang tidak putus asa di dalam berjuang, berusaha dan menegakkan kalimatullah, Laa Ilaha Illallah. (Efri S Bahri/efrisb@yahoo.com)

Atasi Problem Ummat Dengan Akhlak
Publikasi 20/08/2002 09:31 WIB eramuslim - Manusia yang terbaik adalah manusia yang bernilai manfaat bagi manusia lainnya. Penampilan manusia terbaik ini telah ditujukkan oleh para generasi awal sahabat (assabiqunal awwalun). Sehingga perjalanan dakwah Rasulullah Saw betul-betul ditopang oleh pondasi yang kokoh dari para sahabat. Di dalam sejarah tersebutlah nama-nama seperti: Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Bilal bin Rabah, dan masih banyak lagi. Mereka sangat disegani lawan maupun kawan, dipuji makhluk baik yang ada di langit (malaikat) maupun di muka bumi. Oleh karenanya, bagi kita yang hidup hari ini sangat bagus untuk mampu mengambil hikmah dari apa yang telah diperbuat Rasullah Saw dan para sahabatnya. Abu Bakar misalnya, adalah orang yang pertama mempercayai Rasulullah Saw melakukan perjalanan Isra’ dan mi’raj. Sehingga terkenallah ia dengan julukan asshiddiq (benar). Disamping itu, Abu Bakar adalah termasuk sahabat yang rela

mengorbankan hartanya 100 persen untuk Islam. “Cukuplah Allah dan Rasul-Nya”, kata Abu Bakar. Akhlak mulia yang ditunjukkan oleh para sahabat itu dapat muncul karena mereka mempunyai kekuatan aqidah yang kokoh, kuat, tahan banting. Kekuatan aqidah yang bersumber dari pemahaman yang jelas, jernih dan baik terhadap syahadatain. Sehingga setiap gerak langkah yang dilakukannya itu betul-betul diperuntukkan demi tegaknya kalimat Allah, Laa Ilaha Illallah. Jika saja setiap umat Islam yang ada di bumi nusantara ini berakhlak seperti Rasulullah dan para sahabatnya, insya Allah kalimatullah akan tegak. Problem kemiskinan yang terus mendera bangsa ini juga bakal bisa di atasi. Kenapa, karena setiap orang akan berusaha dan berlomba-lomba untuk menunjukkan akhlak mulianya. Setiap detik waktunya tidak akan terbuang sia-sia. Namun, akan digunakan untuk meraih amalan terbaik sehingga sahamnya diakhirat menjadi besar. Hanya dengan amalan terbaiklah kita akan bertemu dengan Allah Swt. Mengenai hal ini, Abu Darda ra, ia berkata, “Nabi Saw bersabda: “Carilah Aku (Allah) pada golongan orang-orang lemah karena sesungguhnya kamu diberi rizki dan pertolongan melalui golongan orang-orang lemah itu.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Bukhari, Ibnu Hibban, dan hakim). Dengan membantu orang-orang lemah sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah Saw dan para sahabatnya tentu nilai amalan akan meningkat. Dalam konteks era sekarang ini, banyak cara yang bisa diterapkan dalam membantu orang-orang lemah. Yang penting adalah bantuan itu diniatkan semata-mata karena Allah bukan karena ada faktor yang lain. Jangan sampai ada udang dibalik batu. Apalagi godaan jabatan di pentas politik yang selalu menggoda. Berikanlah bantuan kepada orang-orang lemah dengan semata-mata ikhlas karena-Nya. Dari sisi ekonomi, cara memberdayakan golongan lemah dapat ditempuh dengan berbagai macam jalan, antara lain. Pertama, merekrut mereka menjadi tenaga kerja pada usaha yang sedang dijalankan sendiri. Kedua, memberikan bantuan modal untuk usaha yang produktif. Modal usaha dapat berupa modal investasi dan modal kerja. Modal investasi berupa alat-alat atau perlengkapan yang akan digunakan dalam jangka panjang sebagai penunjang usaha. Sedangkan modal kerja adalah dana yang akan digunakan untuk keperluan rutin (operasional usaha). Ketiga, memberikan beastudi (beasiswa) kepada salah satu anggota keluarganya (anak). Dengan harapan akan dapat berkarya produktif setelah pendidikannya selesai. Keempat, memberikan bekal keterampilan melalui training (pelatihan). Melalui pelatihan diharapkan mereka menjadi paham dan mampu untuk bekerja secara mandiri. Dengan keempat perbekalan di atas diharapkan golongan lemah menjadi bangkit dan kuat. Kebangkitan dan kekuatan mereka akan berkelanjutan bila ditopang dan dilandasi oleh aqidah (keyakinan) yang kuat, bahwa semua yang telah dan akan terjadi itu sematamata kehendak Allah Swt. Tugas kita adalah berusaha semaksimal potensi yang telah diberikan-Nya. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat,

yang tidak putus asa di dalam berjuang, berusaha dan menegakkan kalimatullah, Laa Ilaha Illallah. (Efri S Bahri/efrisb@yahoo.com)

Ciptakan Lingkungan Islami
Publikasi 19/08/2002 08:31 WIB eramuslim - Anda yang pernah mengunjungi beberapa pesantren di Indonesia, tentu sudah sangat hapal dengan kalimat “Sesuaikan pakaian anda dengan lingkungan pesantren” yang tertera di papan peringatan. Di beberapa masjid besar seperti di Al Azhar Kebayoran Baru, Jakarta, anda juga akan temui himbauan dengan kelimat yang hampir serupa. Sebenarnya tanpa harus dibuat papan himbauan seperti itu, orangpun seharusnya sadar bahwa tidak mungkin mengenakan pakaian yang tidak sopan (tidak menutup aurat) di lingkungan seperti pesantren atau masjid. Tapi kenapa ada peringatan itu, tentu karena masih ada orang-orang yang ‘tak tahu diri’ dan merasa innocent dengan penampilannya yang tidak sesuai pada tempatnya. Nampaknya himbauan semacam itu baik jika dipasang di lebih banyak tempat, mengingat semua tempat dimanapun dimuka bumi ini sebenarnya sangatlah tidak layak untuk diwarnai dengan tampilan-tampilan yang tidak mengenal norma agama. Ada yang pernah bertanya kepada seorang alim perihal diizinkannya ia berbuat dosa, dan si alim mempersilahkannya dengan beberapa syarat, kalau bermaksiat jangan ambil nikmat dari Allah, tidak bermaksiat dibumi Allah, dan perbuatannya tidak dilihat Allah. Maka kemudian seharusnya ada gerakan untuk memasang peringatan-peringatan yang tidak sekedar urusan penyesuaian penampilan, lebih dari itu. Kita tentu sangat merindukan satu lingkungan yang kondusif bagi perlindungan keshalehan dan menjaga pertumbuhan keshalihan anak-anak, cucu dan seluruh generasi ke depan. Lingkungan dimana orang-orang didalamnya mengkedepankan kewajiban, menghormati hak orang lain disaat menjalankan haknya. Tidak seperti orang-orang di dalam kendaraan yang asyik merokok tanpa peduli kesehatan orang lain, atau wanitawanita yang berpakaian seminim-minimnya dengan menampilkan lekuk tubuhnya yang sejujurnya tidak sedikitpun mengundang simpati, melainkan birahi, dan masih banyak lagi. Karena, menjadi orang beriman dan bertaqwa saja tidaklah cukup. Artinya, orang beriman dan bertaqwa tetapi ketika berada di lingkungan yang rusak, sakit, bukan tidak mungkin daya imun-nya habis dan lama-kelamaan tergerogoti hingga akhirnya ikut sakit, rusak. Ini seperti diingatkan Allah dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (QS. At Taubah:119), satu peringatan untuk senantiasa berada pada lingkungan yang baik. Kenapa begitu pentingnya Allah memperingatkan hamba-Nya untuk menciptakan lingkungan yang Islami? Tentu kita bisa mengambil pelajaran dari orang-orang shaleh terdahulu yang tetap istiqomah dalam keshalihannya karena mereka senantiasa bersama

saudaranya seiman, dalam pergaulan, lingkungan tempat beraktifitas, dan menetap. Karena disamping itu, tidak sedikit pula Allah berikan pelajaran dari tergelincirnya orang-orang yang awalnya begitu shaleh karena terpisahnya mereka dari jama’ah. Inilah juga mungkin hikmah yang bisa kita petik dari ayat terakhir surat Al Ashr, agar nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran. Bahwa cobaan orangorang beriman itu ada dua hal, pertama, konsistensi terhadap kebenaran dan kedua, resistensi atau tetap bersabar dalam mentaati kebenaran itu. Menjaga konsistensi itu bukan perkara mudah, karena sudah pasti cobaan, godaan untuk melewati batas-betas kebenaran itu sangat banyak, bahkan setiap saat, setiap kesempatan selalu mengintai menunggu saat-saat lengah kita. Seperti dingatkan Fathi Yakan, bahwa ujian itu bisa datang dari mana saja, dari wanita (istri, misalnya), harta, jabatan dan lainlain. Oleh karena itulah anjuran untuk menjadikan kriteria shalihah sebagai kriteria utama dalam memilih pasangan begitu penting, untuk menopang terwujudnya himbauan Allah agar keluarga kita terhindar dari api neraka. Oleh karena itulah kemudian, Allah mengingatkan kita untuk tetap bersabar dalam menetapi kebenaran itu. “Allah bersama orang-orang yang sabar” Seharusnyalah kita mulai menciptakan lingkungan itu dari diri dan keluarga sendiri. Konsistensi dan kesabaran akan kebenaran yang tercipta dari dalam rumah kita, insya Allah akan berbekas kepada tetangga, dan masyarakat sekitar. Hingga akhirnya bukan tidak mungkin suatu saat mimpi kita untuk mendapatkan masyarakat Islami menjadi satu kenyataan. Dan tentunya, tidak perlu lagi pesantren, masjid-masjid memasang himbauan seperti diatas. Wallahu a’lam bishshowaab (Abinya Hufha)

Jangan Takut Cobaan!
Publikasi 15/08/2002 10:46 WIB eramuslim - Ibarat seorang anak yang baru pertama kali memasuki dunia sekolah, dihari pertamanya, berbagai perasaan bergelut dibenak dan di setiap rongga dadanya. Antara cita-cita yang menggebu dengan kecemasan seperti bertarung memposisikan diri untuk bersemayam mendominasi perasaannya. Begitu juga antara imajinasi keceriaan dunia baru dan bayang-bayang orang-orang asing yang bakal mengelilinginya, antara semangat berprestasi dengan phobia ketidakmampuan mengikuti sistem, peraturan dan persaingan di dalam kelas. Perasaan yang hampir sama meski tidak terlalu persis juga menggelayuti para pelajar dan mahasiswa yang tengah menghadapi ujian akhir guna membuktikan apakah mereka berhasil atau gagal setelah sekian tahun berkutat dengan buku. Juga tidak berbeda yang dialami oleh para pelamar kerja yang menjalani test penerimaan calon pegawai, eksekutif yang harus melewati ujian kenaikan jabatan atau para profesional yang mempersiapkan presentasi hasil karya mereka. Itulah hidup, penuh dengan segala macam ujian, cobaan yang kerap bahkan senantiasa datang. Mau tidak mau, suka tidak suka setiap yang hidup pasti melewatinya. Karena menjalani hidup itu juga berarti perjuangan melewati seluruh fasenya hingga sampai waktunya kita berhenti dan berakhir. Ada yang mengakhirinya secara alami ada juga yang

‘mendahului’ waktu sebenarnya dengan mengakhiri hidup ditangan sendiri yang tak berdaya meregang keputusasaan, menanggung kekalahan hidup yang memalukan. Di negara-negara Eropa yang menjadikan kesuksesan bisnis dan profesionalisme sebagai ukuran keberhasilan seseorang, Anda tidak akan menganggap aneh ketika mendapati orang-orang berdasi, mereka yang pernah sukses atau karirnya menjulang, harus mengakhiri hidup dengan terjun bebas dari lantai tertinggi apartemen atau gedung tempat mereka bekerja. Jepang, negeri yang terkenal dengan semangat hidup pantang menyerah dari masyarakatnya, sehingga menjadikan negeri Sakura itu Macan Asia saat ini, hingga kini masih mencatatkan rekor terbesar bunuh diri dan sudah lazim diketahui bahwa sebagian besarnya adalah orang-orang muda yang penuh energik menjadikan prestasi dan kesuksesan diatas segalanya. Sehingga ketika wajah mereka harus tercoreng oleh satu kegagalan yang dianggap biasa di negara kita, harakiri adalah jalan mulia bagi mereka ketimbang menanggung malu. Untuk mudah mengetahui berbagai tipikal orang menghadapi cobaan, datanglah ke rumah sakit. Mungkin ada yang mengira ini terlalu menyederhanakan definisi cobaan hidup. Tapi cobalah, anda akan menemui orang yang meraung-raung tak ingin segera mati, meringis menahan perihnya luka, menangis tak henti akibat penyakit yang tak membaik meski sudah habis semua harta. Mereka berteriak, mencaci Tuhan atas dalih ketidakadilan, atau merasa menjadi makhluk yang dihinakan Tuhan dengan penyakit itu. Namun di ruang lain, ada juga yang terus tersenyum meski virus ganas kanker terus menggerogoti satu persatu anggota tubuhnya hingga tak bedanya ia dengan tengkorak hidup, ada yang tetap tegar meski waktunya hidup di dunia sudah bisa diprediksikan, mereka sabar, ikhlas menerima dan menjalani cobaan. Bahkan sebagian mereka sangat tahu, inilah cara Tuhan memperhatikan makhluk-Nya, mungkin juga Allah menjanjikan kehidupan yang jauh lebih istimewa di kemudian hari, atau Dia sedang menguji cinta dan kesabaran hamba-Nya dengan cobaan yang tiada henti, dan bisa jadi Sang Maha Adil itu ingin menjadikan mereka manusia-manusia pilihan sehingga (dengan derita itu) diakhir hayatnya tetap ingat dan dekat kepada Rabbnya. Bukankah para Nabi Allah selalu mendapatkan cobaan yang teramat berat sehingga mereka menjadi manusia-manusia pilihan. Lihatlah Adam as yang harus menerima hukuman Allah terlempar ke bumi atas kelalaiannya. Bagaimana pedihnya penderitaan Ayub as atas penyakit dan kemiskinan yang melandanya, cemoohan dan hinaan yang diterima Nuh as atas keteguhannya, kesabaran Ibrahim as untuk menyembelih Ismail sebagai bukti cintanya kepada Allah setelah bertahun-tahun menunggu hadirnya sang buah hati, juga keikhlasan Ismail as atas perintah Allah kepada ayahnya. Jangan pernah menganggap kekayaan yang berlimpah yang dimiliki Sulaiman as bukan suatu ujian, atau menilai keelokan wajah Yusuf as sebagai kenikmatan yang tidak akan dimintai pertanggungjawabannya. Bahkan manusia agung, kekasih Allah Muhammad saw pun tak hentinya menerima cercaan, hinaan, intimidasi dan ancaman pembunuhan berkali-kali. Dunia dengan segala keindahannya juga menyimpan tidak sedikit lubang dan celah ujian dimana manusia akan melewatinya. Kelengahan, ketidaksigapan serta keteledoran yang terkadang menjadi sifat dasar manusia sering kali menyebabkan mereka kalah, hancur

dan tenggelam oleh kehidupan. Tidak jarang ada manusia yang hari-harinya habis untuk mengeluh, waktunya tersita untuk meratapi betapa dirinya merasa menjadi orang yang paling menderita. Padahal tidak! Selain karena Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hamba-Nya, kebanyakan manusia mungkin lupa (ini juga sifat dasar manusia) bahwa ketika terlahir kedunia tanpa sehelai pakaianpun, manusia datang dengan tubuh yang kecil memerah, tanpa daya sehingga membutuhkan bantuan orang lain dalam menjalani hidupnya. Tangisan pertamanya didunia seolah memberitahu bahwa ia makhluk lemah. Namun tak satupun bayi-bayi mungil itu merasa cemas dan menolak terlahir kedunia yang penuh dengan cobaan ini. Kepolosannya menandai keiklasan dan kesiapannya mengarungi riak gelombang dunia fana. Lalu mengapa sekarang banyak manusia yang takut menghadapi cobaan, bahkan berusaha menghindar dari ujian yang seharusnya mereka lalui. Mungkin inilah rahasia dari siklus hidup yang mesti dijalani yang telah diatur oleh Sang Khalik semenjak ia menjadikan alam dan seisinya, sejak Dia menciptakan manusia pertama dan menghadirkannya ke dunia. Bahwa ada yang terlahir, tumbuh, dewasa, menikah, tua dan mati, terus menerus siklusnya tak berubah, agar dapat diambil hikmahnya oleh manusia. Coba ingat ketika pertama kali masuk sekolah, meski awalnya dihantui kecemasan, tapi selangkah kaki ini memasuki halaman sekolah, maka seluas mata memandang betapa satu fase hidup bisa kita jalani dengan ceria dan semangat berprestasi. Begitu juga saat pertama memasuki dunia sesungguhnya menjadi orang dewasa, mencari nafkah, bayang-bayang menjadi pecundang dan kalah bersaing seolah sirna bila profesionalisme dan modal kecerdasan di kedepankan. Lalu memasuki jenjang pernikahan, saat seorang pria harus keluar dari ketiak orangtuanya dan berpisah untuk bersatu dengan pasangannya, atau saat seorang wanita berpindah dari pelukan hangat ayah bunda kepada satu kerelaan berjalan mengiringi seorang pria pilihannya. Awalnya akan merasa canggung, namun kebersamaan, kekuatan dua jiwa yang bersatu, kebulatan tekad dan visi yang sama menjadikan perjalanan rumahtangga sebagai satu fase yang begitu indah. Lalu mengapa harus takut dengan cobaan, kalau sampai hari ini kita masih bisa menjalani hidup berarti kita telah mampu melewati semua fase sebelumnya yang entah disadari atau tidak penuh dengan cobaan. Kedepan, ujian dan cobaan itu tetap menghadang, tapi dengan segenap keyakinan yang teguh menempati seluruh sisi benak dan dada ini, kita pasti sanggup melewatinya meski ia sering terlihat sekokoh batu karang dilautan, sepanas api membara dan sebesar gunung menjulang. Jadi, untuk menjadikan diri ini manusiamanusia pilihan, jangan gentar melawan cobaan. Wallahu’alam bishshowaab (Abinya Hufha)

Bersahabatlah Sampai ke Surga
Publikasi 14/08/2002 09:11 WIB eramuslim - Mari lewati lorong waktu, menyusuri jalan-jalan dunia yang penuh tipu daya, dengan kebersamaan. Tapaki perguliran pagi, siang, petang dan malam, yangpenuh liku, dengan persahabatan dalam keimanan. Di dunia ini, kita harus saling berpegangan

tangan. Harus. Kita tak mungkin selamat mengarungi bahtera kehidupan yang sangat luas dengan ancaman badai fitnah ini, seorang diri. Kita tak dapat lolos dari ancaman fitnahnya dengan hanya mengandalkan kemampuan sendiri. Karena, kita diciptakan sebagai makhluk yang penuh kelemahan dan mudah terpedaya. “Dan diciptakan manusia itu dalam keadaan lemah.” (QS. An Nisa : 28) Saudaraku, Kebersamaan dan pertemanan di jalan Allah lah yang akan mengantarkan kita menyelesaikan hidup dengan kebaikan. Persaudaraan, kebersamaan dan persahabatan di jalan Allah lah yang juga akan mengiringi kita pada kebahagiaan akhirat Allah SWT memberitakan bahwa hanya pertemanan atas dasra iman dan takwalah yang abadi. “Teman-teman akrab pada hari itu (hari kiamat) sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf : 67). Ibnu Kasir mengatakan, “Seluruh pertemanan dan persahabatan yang tidak dilandasi karena Allah pada hari kiamat akan berubah menjadi permusuhan.” Begitu juga pesan Rasul SAW dalam haditsnya , yang menyebutkan bahwa kita akan dibangkitkan di hari kiamat bersama orang yang kita cintai. Saudaraku, Merenungklah. Siapa orang yang kita cintai? Siapa orang-orang yang paling dekat dengan kita dalam menusuri hidup ini? Siapa orang yang paling menghiasi ingatan kita? Siapa yang menemani langkah- langkah hidup kita? Orang shalehkah dia? Mengajak pada kebaikan dan keridhaan Allah kah dia? Bayangkanlah persahabatan orang beriman di dunia yang kisahnya berlanjut hingga di akhirat, sebagaimana digambarkan oleh Ali bin Abi Thalib RA. “Ada dua orang mukmin yang bersahabat dan berteman akrab. Salah seorang dari keduanya meninggal lebih dahulu dan ia mendapat berita gembira dari surga. Ketika itu ia mengingat teman akrabnya di kala di dunia lalu ia berdo’a : “Ya Allah, sesungguhnya fulan adalah teman akrabku, dia yang menganjurkanku berlaku taat kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu. Dia yang mengajakku melakukan kebaikan dan mencegahku melakukan kemungkaran. Dia juga yang menyadarkanku akan pertemuan dengan-Mu.. Ya Allah jangan Engkau sesatkan dia sepeninggalku sampai Engkau perlihatkan padanya kenikmatan yang Engku berikan padaku dan sampai Engkau meridhainya sebagaimana Engkau ridha kepadaku.” Maka Allah berkata padanya, “Pergilah. Seandainya engkau tahu yang Aku berikan kepadanya, niscaya engkau akan banyak tertawa dan sedikit menangis.” Sampai kemudian teman akrabnya itu meninggal dunia dan ruh mereka bertemu. Dikatakan kepada mereka, “Saling memujilah kalian kepada sahabat kalian.” Maka masing-masing mereka mengatakan, “dDia adalah sebaik-baik teman, sebaik-baik saudara, sebaik-baik sahabat…” Duhai indahnya. Pertemuan yang sangat mengesankan dan penuh kegembiraan. Mari kita mulai dari sekarang. Bersahabat dengan orang-orang yang mendekatkan kita pada ridhaNya…

Dikutip dari rubrik Ruhaniyat Majalah Tarbawi Edisi 40/Th. 4

Miliki Semangat Kerelaan Berkorban
Publikasi 07/08/2002 11:47 WIB eramuslim - Seorang pemuda serta merta berdiri dan mempersilahkan seorang ibu setengah baya untuk menempati tempat duduknya di sebuah bis kota, tidak peduli sebelumnya ia pun harus berlari dan berdesakkan untuk mendapatkan tempat duduk tersebut. Sepuluh tahun yang lalu, pemandangan seperti itu bukanlah hal mengagumkan yang dilakukan orang muda terhadap orang-orang yang lebih tua, wanita atau penyandang cacat. Namun seiring pergeseran budaya dan perubahan tatanan nilai dalam masyarakat kita, seolah hal seperti itu saat ini menjadi barang langka yang jarang ditemui, lihat saja bahwa ternyata masih banyak pelajar, mahasiwa atau orang-orang yang sebenarnya masih sanggup untuk berdiri tetap tenang meski seorang jompo atau ibu hamil berdiri menahan beban tubuh disampingnya. Kejadian diatas hanyalah satu dari sekian banyak contoh pergeseran nilai yang semakin terasa nampak sebagai hal yang lumrah di masyarakat kita. Namun tentu bergesernya budaya dan nilai seperti itu jelas ada penyebabnya. Hilangnya semangat kerelaan berkorban misalnya, bisa karena hilangnya kepekaan sosial, rasa kebersamaan, budaya saling tolong atau bahkan memudarnya sifat-sifat humanis di kalangan masyarakat, terutama di perkotaan. Maka tidaklah aneh, misalnya lagi, seseorang akan jauh lebih marah ketika ditegor orang lain yang merasa terganggu oleh asap rokoknya di dalam kendaraan umum. Kita tentu merindukan orang-orang yang memiliki jiwa dan semangat rela berkorban (asketis) seperti yang pernah diajarkan sekaligus dicontohkan Rasulullah, sehingga sikapsikap itu pun tercermin dalam diri sahabat-sahabat rasul. Kerelaan berkorban (asketisme) yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib, misalnya, saat menggantikan Rasul tidur di ranjangnya pada malam ketika Rasulullah ditemani Abu Bakar hendak melakukan hijrah. Atau keberanian Asma binti Abu bakar mengantar makanan untuk Rasulullah dan ayahandanya di tempat persembunyian di gua Tsur. Sikap-sikap serupa juga dicontohkan sahabat lainnya seperti Abu Bakar yang dengan lantang mengatakan, cukuplah Allah dan Rasul-Nya untuk menjawab pertanyaan Rasulullah tentang apa yang ditinggalkan untuk keluarganya. Pada saat itu, Abu Bakar menyerahkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Islam. Semangat kerelaan berkorban merupakan wujud dari kecintaan kepada Allah, yang karena itu mereka mau melakukan apapun untuk menolong agama Allah. Intanshurullaaha yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum, barang siapa menolong agama Allah maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Dari kecintaan terhadap Sang Khalik itu berlanjut pada kecintaan yang begitu mendalam terhadap sosok manusia yang dimuliakan Allah, yakni kecintaan terhadap Rasulullah. Bentuk kecintaaan inilah yang ditunjukkan oleh Ali bin Abi Thalib dan juga para sahabat lainnya.

Dengan segenap cintanya, Rasulullah mampu menurunkan perasaan cinta Allah dan Rasul-Nya itu menjadi sebuah cinta yang bertebaran menyentuh seluruh ummat, sesama mukmin bahkan menjadi rahmat seluruh alam. Sesungguhnya, saat ini kita tidak kehilangan momentum-momentum untuk kembali memiliki atau memperbaiki jiwa dan semangat asketis yang pernah dicontohkan oleh orang-orang mukmin terdahulu itu. Ruang publik kita masih cukup terbuka untuk melakukannya, bahwa masih banyak para fakir miskin yang memerlukan sisihan sebagian dari harta kita, bahwa ada orang-orang lemah yang perlu huluran tangan, dan juga mereka yang sangat membutuhkan sekedar sandaran atau penyangga berdiri, dimana kelebihan dari kekuatan yang kita miliki akan sangat berharga bagi mereka. Tentu saja, kerelaan berkorban itu tercermin dalam sikap-sikap saling bantu, menyisihkan waktu dan tenaga untuk kepentingan banyak orang sebagai wujud dari Islam rahmat bagi seluruh alam, serta tidak egois dan semena-mena menggunakan hak tanpa mempedulikan hak orang lainnya. Hanya saja, sikap-sikap seperti itu akan lebih terasa jika menjadi sebuah kesadaran kolektif dalam menerapkannya, meski bukan menjadi alasan untuk tidak melakukannya mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang! Satu wujud yang cukup membuat kita tersenyum misalnya, ketika sekelompok mahasiswa yang insya Allah terjaga kemurnian perjuangannya merasa terusik saat orangorang yang dipercaya rakyat untuk memimpin dan mengelola negeri ini justru mengkhianati rakyat. Kesadaran kolektif yang dimiliki itu tentu menjadi contoh bahwa semangat kerelaan berkorban jika dilakukan secara kolektif akan memberikan hasil yang luar biasa bagi sebuah perubahan bahkan peradaban. Maka patutlah sesegera mungkin kita melongok kedalam diri ini, adakah besarnya cinta yang bersemayam didalam diri ini masih lebih menguasai rasa akan pemenuhan kepentingan diri sendiri. Jika demikian, tak perlu menunggu waktu lama untuk memperbaiki sisi-sisi cinta itu dengan membetulkannya kearah yang pernah diajarkan Rasulullah, bahwa kecintaan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan seluruh mukmin sebagai wujud persaudaraan diatas segala kecintaan dan kepentingan terhadap diri sendiri. Karena bisa jadi kedepan, bukan sekedar kecerdasan intelektual tapi juga kecerdasan emosi berupa sikap kerelaan berkorban inilah yang jauh lebih dibutuhkan, jauh lebih penting dimiliki oleh setiap calon pemimpin, para wakil rakyat pengemban amanah ummat selain prinsip-prinsip berkeadilan yang juga mesti dihasung. Wallahu a’lam bishshowaab (Abi Hufha)

Tetaplah Berdaya Disaat Krisis
Publikasi 02/08/2002 10:16 WIB eramuslim - Krisis ekonomi yang mendera negeri Zamrud khatulistiwa ini telah mewariskan penderitaan pada masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan masih signifikannya jumlah penduduk yang miskin. Bahkan pada November 2001, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik Jemaluddin Kassum

mengingatkan, kurang lebih tiga per lima (60 persen) penduduk Indonesia saat ini hidup di bawah garis kemiskinan, sementara 10-20 persen hidup dalam kemiskinan absolut (extreme poverty). Jika definisi garis kemiskinan yang dipakai adalah pendapatan 2 dollar per hari, jumlah penduduk miskin diperkirakan turun dari 65,1 persen tahun 1999 menjadi 57,9 persen (tahun 2000), 56,7 persen (tahun 2001), 55,1 persen (2002), 53,4 persen (2003), 51,5 persen (2004), dan 49,5 persen (2005). Angka kemiskinan 49,5 persen tahun 2005 ini kira-kira sama dengan level sebelum krisis, yakni tahun 1996 yang sebesar 50,1 persen. Angka kemiskinan berdasarkan definisi yang dipakai pemerintah (Badan Pusat Statistik/BPS) sendiri lebih kecil, yakni 27 persen tahun 1999, 15,2 persen (2000), 15,7 persen (2001), 14,6 persen (2002), 13,3 persen (2003), 12,1 persen (2004), dan 10,9 persen (2005). (Lihat Kompas, 8 November 2001) Menghadapi problem kemiskinan tersebut, diperlukan solusi yang efektif dan adaptif dengan kondisi masyarakat, baik bersifat individual maupun institusional. Secara individu, setiap insan negeri ini mesti mendayagunakan seluruh potensi dirinya. Sedangkan secara institusional, setiap lembaga baik yang berbasis bisnis maupun kemasyarakatan, mesti menggali dan merumuskan prinsip-prinsip institusi yang terdiri dari visi, misi, program dan kegiatan serta strategi pencapaiannya. Sehingga energi institutional dengan kelengkapan sumberdaya yang dimilikinya, harus diarahkan untuk mengeluarkan masyarakat dari jeratan kemiskinan. Dengan energi itulah akan lahir solusi-solusi kreatif dalam menghadapi berbagai persoalan, khususnya yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah memberikan tuntutanan bagaimana cara menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan ini. “Sesungguhnya apabila kamu sungguh-sungguh pasti akan berhasil”. Sungguh-sungguh, dalam arti substansial antara lain. Pertama, berniat bahwa bekerja (beraktivitas) semata-mata hanya bertujuan untuk mengabdi kepada Allah SWT. Niat yang dilandasi dengan keikhlasan akan meningkatkan energi dan motivasi diri untuk selalu berusaha. Disamping itu, niat juga akan melahirkan keyakinan bahwa apapun yang telah, sedang dan akan terjadi adalah kehendak Allah semata. Orang yang sungguh-sungguhlah yang akan mendapatkan nilai terbaik baik dihadapan manusia maupun dihadapan Allah SWT. Kedua, percaya bahwa Allah memberikan potensi dan kekuatan kepada setiap insan. Sebagai bekal menghadapi tantangan dunia. “Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan beban yang tidak sanggup kamu memikulnya”. Potensi dan kekuatan itu akan muncul apabila setiap insan sadar akan eksistensi dirinya. Kendati kenyataannya ingkat kesadaran setiap insan juga terdapat perbedaan. Oleh karenanya apabila kita ‘bedah’ terdapat empat tipologi manusia. Pertama, ada manusia yang sadar bahwa ia punya potensi. Kedua, ada manusia yang tidak sadar bahwa ia mempunyai potensi. Ketiga, ada manusia yang sadar bahwa potensi yang dimilikinya terbatas. Kempat, sebaliknya ada manusia yang tidak sadar bahwa potensi yang

dimilikinya terbatas. Oleh karenanya kesadaran akan diri menjadi sangat penting guna mengembangkan diri. Sejarah peradaban manusia juga menunjukkan bahwa hanya orangorang yang sadar akan dirinyalah yang mampu eksis menghadapi tantangan dinamika dunia ini. Bahkan orang yang sadar akan dirinya pula yang akan kenal dengan penciptaNya, Allah SWT. Solusi Kemiskinan Kemiskinan bukan hanya terjadi sekarang. Bahkan problem kemiskinan telah mendera sepanjang masa. Disamping itu, penyebab kemiskinan juga beragam. Pertama, kemiskinan karena tidak mampu mendayagunakan potensi diri dan alam yang ada. Padahal di dalam diri setiap insan terdapat potensi akal, tenaga fisik, insting dan lain-lain. Dengan ketiga potensi tersebut setiap insan mestinya mampu ‘memeras akalnya’ serta mengolah apa yang ada di alam ini menjadi produk yang bermanfaat, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Kedua, adanya hegemoni penguasa. Penguasa negeri yang bijak tidak akan membuat kebijakan yang merugikan masyarakat. Namun akibat dominasi hawa nafsu dan keserakahan serta keinginan untuk meraup kekayaan, berbagai upayapun ditempuh, salah satunya melalui kebijakan. Oleh karenanya personal yang terlibat di dalam proses pengambilan kebijakan mestilah orang-orang yang bijak. Sehingga keputusan yang diambil betul-betul berada pada koridor penegakan keadilan, kebenaran dan kejujuran. Dengan adanya dua penyebab terjadinya problem kemiskinan tersebut, diperlukan strategi sebagai solusinya. Beberapa strategi yang ditawarkan antara lain. Pertama, memenuhi kebutuhan untuk bertahan hidup. Kebutuhan hidup menyangkut kebutuhan darurat seperti makanan pokok. Pemberian bantuan hidup ini bisa bersifat charity (amal) dengan tujuan untuk memulihkan kondisi fisiknya. Namun, pemberian charity ini hanya bersifat jangka pendek, supaya tidak terjadi ketergantungan yang berkelanjutan. Kedua, meningkatkan kualitas pendidikan. Tujuan yang hendak dicapai adalah bagaimana supaya terjadi peningkatan keterampilan dan keilmuan. Sehingga mampu untuk berpikir jernih dan berkarya. Dengan pikiran jernih banyak hal yang bisa direncanakan. Dengan keterampilan perencaan menjadi rasional. Dengan demikian pekerjaan yang dilakukan betul-betul berdasarkan kapasitas dan kafaah keilmuan dan keterampilan yang jelas. Ketiga, memberikan layanan kesehatan. Setiap manusia yang ingin tetap sehat membutuhkan layanan kesehatan. Hanya saja, karena biaya pengadaan obat-obatan dan perawatan relatif mahal, maka tidak semua lapisan masyarakat dapat menjangkaunya. Bagi masyarakat yang tergolong fakir dan miskin diperlukan adanya bantuan layanan kesehatan sehingga mereka tetap tegar dan kuat untuk bekerja. Sehingga tetap mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Keempat, mengembangkan potensi ekonomi. Allah SWT telah menganugerahkan sumberdaya alam yang berlimpah. Semua yang disediakan alam tersebut mestilah diolah sebaik-baiknya. Pengolahan sumebrdaya alam yang tidak baik serta merusak

keseimbangan alam dan lingkungan tentu akan berakibat akan terganggunya ekosistem alam. Oleh karenanya kehendak untuk mengolah sumberdaya alam mesti dilakukan uji kelayakan. Sehingga potensi alam yang ada betul-betul dapat dikembangkan secara maksimal. Contoh: peternakan, pertanian dan perikanan. Dengan keempat layanan di atas akan menunjukkan keberhasilan apabila diikat dengan aqidah yang mantap. Karena hanya dengan kekuatan aqidahlah masyarakat akan terbebas dari kemiskinan yang membelitnya. Kita berharap dengan makin maraknya bermunculan institusi pemberdayaan masyarakat, problem kemiskinan dapat ditasi dengan baik. Sehingga, jangan sampai kemiskinan tersebut menyebabkan imat meninggalkan dienul Islam-nya. (Efri S. Bahri, efrisb@yahoo.com)

Jangan Pernah Berhenti Berdoa
Publikasi 30/07/2002 10:16 WIB eramuslim - Orang bijak mengatakan, doa tanpa usaha adalah bohong dan usaha tanpa doa adalah sombong. Doa dan usaha adalah dua aktifitas yang tidak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa hanya berdoa saja tanpa melakukan usaha semaksimal mungkin untuk mengapai tujuan kita. Kita juga tidak bisa hanya berusaha saja, tanpa berdoa dan mengabaikan Allah sebagai penentu berhasil atau tidaknya tujuan kita. Doa adalah permohonan, pengharapan seorang hamba kepada Sang Khaliq. Doa itu intinya adalah ibadah, doa adalah senjata, doa adalah obat, doa adalah pintu segala kebaikan. Seluruh hamba sangat bergantung kepada penciptanya. Setiap hamba memang harus berdoa, sebab kita diciptakan dalam keadaan penuh dengan keterbatasanketerbatasan. Manusia memang ditakdirkan sebagai makhluk yang paling sempurna dengan segala kelebihan-kelebihannya, namun dibalik kelebihan itu manusia juga memiliki segudang kelemahan. Bayangkan jika kita sedang berada ditengah lautan. Tiba-tiba kapal yang kita tumpangi oleng ke kanan dan ke kiri karena badai yang tiba-tiba saja datang menghantam. Nahkoda memberi peringatan tanda bahaya. Tidak ada tempat kita meminta bantuan karena seluruh alat komunikasi terputus. Apakah yang akan kita lakukan pada saat itu? Masih pentingkah gelar, kedudukan, pangkat, jabatan, harta kekayaan yang melimpah, serta kecantikan? Tentu tidak, bagi kita keselamatan menjadi puncak harapan. Namun siapakah yang dapat memberikan keselamatan kala itu, kalau bukan kepada Allah SWT kita meminta? Dibalik kelebihan-kelebihan yang kita miliki, kita menyimpan kelemahan-kelemahan yang tidak dapat kita tutupi, untuk itu kita perlu meminta kepada Allah SWT, berdoa dengan penuh kekhusuan, penuh harapan, tulus, pasrah dan ikhlas, seperti yang difirmankan Allah, "Hai manusia, kamulah yang memerlukan Allah, dan Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) Yang Maha Terpuji." (QS Faathir: 15).

Ada sebuah kisah tentang masyarakat Basrah yang waktu itu sedang dilanda kemelut sosial. Kebetulan mereka kedatangan ulama besar yang bernama Ibrahim bin Adham. Masyarakat Basrah pun mengadukan nasibnya kepada Ibrahim bin Adham, "Wahai Abu Ishak (panggilan Ibrahim bin Adham), Allah berfirman dalam Al-Quran agar kami berdoa. Kami warga Basrah sudah bertahun-tahun berdoa, tetapi kenapa doa kami tidak dikabulkan Allah?" Ibrahim bin Adham menjawab, "Wahai penduduk Basrah, karena hati kalian telah mati dalam sepuluh perkara. Bagaimana mungkin doa kalian akan dikabulkan Allah! Kalian mengakui kekuasaan Allah, tetapi kalian tidak memenuhi hak-hak-Nya. Setipa hari kalian membaca Al-Quran, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya. Kalian selalu mengaku cinta kepada rasul, tetapi kalian meninggaklan pola prilaku sunnah-sunnahnya. Setiap hari kalian membaca ta’awudz, berlindung kepada Allah dari setan yang kalian sebut sebagai musuhmu, tetapi setiap hari pula kalian memberi makan setan dan mengikuti langkahnya. Kalian selalu mengatakan ingin masuk syurga, tetapi perbuatan kalian justru bertentangan dengan keinginan itu. Katanya kalian takut masuk neraka, tetapi kalian justru mencampakkan dirimu sendiri kedalamnya. Kalian mengakui bahwa maut adalah keniscayaan, tetapi nyatanya kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Kalian sibuk mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi terhadap kesalahan sendiri kalian tidak mampu melihatnya. Setiap saat kalian menikmati karunia Allah, tetapi kalian lupa mensyukurinya. Kalian sering menguburkan jenazah saudaramu, tetapi kalian tidak bisa mengambil pelajaran dari peristiwa itu." Terakhir ia mengatakan, "Wahai penduduk Basrah, ingatlah sabda nabi, "Berdoalah kepada Allah, tetapi kalian harus yakin akan dikabulkan. Hanya saja kalian harus tahu bahwa Allah tidak berkenan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan main-main." Apapun persoalan hidup kita, apakah kita sedang bahagia atau sedih, tetaplah berdoa kepada Allah. Jangan pernah berhenti memanjatkan doa kepada Allah, karena doa adalah masa depan kita. Doa adalah kekuatan kita, doa adalah senjata kita. Perhatikan ada-adab berdoa, dan bersabarlah menunggu dikabulkan-Nya (elsandra/el-sandra@lycos.com)

Menikmati Hidup
Publikasi 29/07/2002 08:43 WIB eramuslim - Hidup bukan sekedar perjalanan menuju kematian, karena kematian itu sendiri bukan tujuan akhir sebenarnya dari setiap makhluk yang hidup. Meski jasad telah mati, namun sesungguhnya tetap hidup sampai pada satu masa pengadilan Allah yang maha adil memutuskan ketentuannya. Maka bukanlah kematian yang dinanti oleh yang hidup karena sejak dimulainya hembusan nafas pertama seseorang hingga detik inipun tengah berjalan sampai saatnya melewati satu fase yang bernama kematian itu. Tidak berhenti hanya sampai disitu, melainkan akan terus berlalu melalui salah satu fase berikutnya yakni saat harus mempertanggungjawabkan masa hidup mereka di dunia dan seterusnya.

Hidup adalah satu fase dari sekian fase perjalanan yang dilewati manusia, waktunya hanya sesaat. Rasulullah mengingatkan bahwa menjalani hidup di dunia ini layaknya seperti orang asing atau orang yang sedang menyeberangi suatu jalan, begitu singkat. Namun demikian tidak sedikit manusia yang tidak menyadari bagaimana memanfaatkan waktu yang sebentar itu guna mengumpulkan bekal sebanyak dan sebaik-baiknya untuk menempuh perjalanan fase-fase berikutnya yang tak diketahui seberapa panjang lintasan kan ditempuh lengkap dengan terjalnya kerikil dan batu sandungan yang kerap menghadang. Tak sedikit juga pengetahuan akan seberapa dalam dan luasnya lautan yang mesti diarungi, serta setinggi apa pegunungan, bukit, lembah yang harus ditelusuri, didaki. Ketidaksadaran akan singkatnya waktu, dan ketidakmengertian akan seberapa berat perjalanan berikutnya itu ternyata masih tak membuat kita bergegas berbenah, sigap mengumpulkan bekal. Cobalah tengok tas bekal yang kita miliki sekarang, mungkin masih terlalu sedikit atau bahkan kosong sama sekali. Padahal kita tak pernah tahu sampai sejauhmana perjalanan menuju akhirat itu. Diwaktu yang sebentar itulah masih banyak kita yang salah dalam memanfaatkan hidup ini. Sebagian kita berpikir memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah hidup di dunia ini untuk dinikmati sepuasnya, belum tercapai titik klimaks kepuasan sampai kematian yang mengakhiri petualangan pencarian kepuasannya tersebut. Allah curahkan semua anugerah dan pemberiannya kepada segenap makhluk-Nya sebagai bentuk kasih sayang yang takkan pernah putus untuk dinikmati, termasuk hidup itu sendiri. Sesungguhnya bersamaan dengan turunnya anugerah tersebut, Dia sertakan juga pesan bagaimana memanfaatkannya dengan baik, benar dan tepat. Dia berikan beragam kenikmatan untuk tidak sekedar dinikmati, melainkan juga diambil maknanya sehingga menyadarkan diri ini untuk bersyukur. Seperti pelajaran yang diberikan Allah kepada Sulaiman saat hendak memberi makan seluruh makhluk Allah dengan kekayaan yang dimilikinya, atau hikmah dari perintah disembelihnya Ismail oleh ayahanda Ibrahim yang teramat cintanya. Kepada Ayub, Allah sertakan nikmat kesabaran dan cinta mendalam dari Rahmah istrinya, ketika cobaan penyakit berat menimpanya. Yusuf Nabi yang diberikan nikmat keelokan paras pun memberikan pelajaran bagaimana mensikapi hidup tidak berlebihan. Kini giliran manusia-manusia dimana kita berada dimasanya, Allah pun tetap memberikan anugerah kenikmatan itu tanpa kecuali. Hanya saja terkadang ketidakmampuan menangkap makna luas kenikmatan yang diberikan-Nya itulah yang membuat pandangan ini begitu sempit dengan menggambarkan nikmat itu sebatas rupa dan bentuk. Maka kemudian, setiap jengkal tanah yang terlewati, setiap detik waktu yang terpakai dan setiap tenaga yang terkuras semata untuk urusan pemenuhan kebutuhan akan kepuasan yang singkat sesaat. Disaat yang sama kita semakin lupa membebani punggung ini dengan bekal perjalanan panjang selanjutnya. Sekedar mengingatkan, ketika Allah menjanjikan surga dan ampunan serta terbebas dari azab-Nya sebagai imbalan dari jihad dengan harta dan jiwa ini, masih ada keraguan kita

akan janji itu, meski kita tahu Dialah Yang Maha menepati janji. Saat Allah menawarkan nikmat tambahan untuk rasa syukur kita atas nikmat sebelumnya, ternyata sedikit sekali bibir ini berucap dan memuji-Nya. Juga pertolongan dan peneguhan kedudukan yang sudah pasti diberikan jika kita mau berkorban untuk agama-Nya, namun dimana kita saat Islam membutuhkan uluran tangan dan tetesan darah ini, sedang apa diri ini disaat ummat Islam di belahan bumi lain menjerit menggantang nyawa. Menggelengkan kepala adalah jawaban untuk pertanyaan Allah bahwa nikmat manakah yang kita dustakan, tetapi betapa lebih sering kita justru melupakannya. Padahal ada cara yang diajarkan Rasulullah bagaimana menikmati hidup ini tanpa harus tergelincir kepada nafsu pemuasan yang tak berkesudahan. Bayangkan cara beliau menikmati hidup dengan prinisp secukupnya soal pemenuhan kebutuhan, tidak berlebihan dan bersikap qona’ah. Rasa syukur yang kian hari kian meningkat seiring dengan tak hentinya segala nikmat yang diberikan Allah, pun terlihat dari tak berkurangnya ibadah. Kita masih bisa menambah kenikmatan hidup ini dengan melahap bacaan ayat-ayat Allah serta melafazkan nama-Nya untuk mendapatkan satu nikmat yang tak ternilai, ketenangan jiwa. Istri yang sholeh nan menyenangkan, anak-anak yang membanggakan semakin bertambah nikmat hidup ini jika kita bisa membimbingnya, agar kelak bisa menikmati kebersamaan itu dalam fase kehidupan berikutnya. Bahkan bukan tidak mungkin kesulitan pun menjadi bagian dari kenikmatan hidup ketika kita ridha dan memandang semua ujian adalah cara-Nya untuk berdekatan dengan orangorang shaleh. Sungguh nikmat yang berketerusan, terlebih jika diri ini senantiasa terjaga untuk tetap berada pada jalur kebenaran hingga detik saat Izrail mengetuk pintu, bukankah kita juga merindukan kematian yang dapat dinikmati? Wallahu’a’lam bishshowaab (Hufha)

Bunga-Bunga Kehidupan
Publikasi 25/07/2002 09:19 WIB eramuslim - Salah satu keindahan yang Allah ciptakan untuk dapat dinikmati manusia adalah bertebarannya bunga-bunga cantik nan menyejukkan dengan aroma dan warnawarni yang tak membosankan. Apabila musim semi tiba, perlahan kelopak-kelopak bunga merekah seraya menyemai kecerahan hari. Kuning yang menghangatkan, kesejukkan yang ditawarkan dari warna putih, merah yang menyala-nyala membangkitkan gairah hidup, semua warna, semua aromanya mewarnai hidup menambah semerbak alam tempat berpijak. Tidak hanya bunga-bunga yang demikian yang memang diperuntukkan untuk manusia (juga kumbang sang penikmat bunga tentunya), namun ada banyak bunga yang juga hadir menyemangati hidup, mengiringi langkah ini dan menjadikan hari-hari yang kita lewati begitu indah dan menyenangkan. Dari sekian melati yang bertebaran di bumi ini, ada satu yang terindah yang telah kita petik untuk ditanam di taman hati. Dipupuk dengan segenap cinta tanpa akhir, disirami oleh kasih sayang yang takkan habis dan dipelihara dengan segala bentuk pengorbanan yang tak kenal lelah, maka ia pun senantiasa menjadi bunga

yang menyenangkan hanya dengan memandangnya, membasuh peluh, menghapus lelah ketika disentuh dan menyegarkan seluruh rongga dada ketika mengecupnya sehingga tercipta kedamaian dan ketenangan. Ya, istri atau suami yang sekarang menjadi pasangan jiwa kita adalah bunga kehidupan. Dari melati yang telah dipetik itu, mungkin kan datang Lily, Tulips, Mawar atau bungabunga lain yang semakin meramaikan taman hati ini dengan aroma khas dan warna yang membuat hidup terasa lebih indah. Keceriaan yang dihadirkan anak-anak selaku bungabunga kecil mampu menghiasharumi hati. Mereka, bunga-bunga kecil yang dengan keindahannya membuat kita selalu tersenyum, menjadi pelepas dahaga kedamaian dan pengobat rindu akan kehangatan. Dengan curahan kasih sayang yang tiada henti, sentuhan pendidikan yang tidak memenjarakan kebebasan berpikir dan memasung kreativitasnya, semoga tetap menjadikan mereka bunga-bunga yang dapat dibanggakan, bukan malah menjadi bunga-bunga liar yang berserakan di trotoar dan pinggir jalan. Dengan menghiasi hati mereka akan keagungan nama penciptanya, dan kemuliaan nama Rasulnya, akan menjadikan mereka bunga-bunga yang tak pernah kusut, layu atau bahkan hancur oleh terjangan angin, panas, hujan ataupun buasnya unggas. Ketika beranjak keluar melewati pagar, kita akan menemukan bunga-bunga lain yang tak kalah indahnya, mereka tersenyum dan menyapa dengan hangatnya. Seperti kita yang juga menjadi bunga kehidupan bagi mereka, bunga-bunga diluar pagar itupun hadir memberikan makna kebersamaan dan saling mencintai, memberi juga mengasihi sebagai saudara karena Allah. Jagalah kedekatan, binalah kebersamaan dengan bunga-bunga itu, karena mereka jugalah yang mungkin akan membantu, menolong dan meringankan beban berat ataupun terpaan badai kehidupan. Sebanyak apapun bunga yang kita miliki, jangan juga melupakan bunga-bunga yang telah melahirkan dan membesarkan kita menjadi bunga saat ini. Mungkin bunga-bunga itu sudah mulai layu, atau tangkainya sudah terkulai lemah. Jangan biarkan mereka semakin layu, sirami dengan air cinta meski yang kita miliki tak sebanding dengan air cinta yang pernah mereka curahkan. Jadilah kaki penyangga tangkainya agar kita tetap bisa melihatnya berdiri, segar dan melangkah berdampingan hingga Sang pencipta segala bunga menentukan kehendaknya. Namun ada satu bunga, yang bersemayam paling dalam di lubuk hati ini, yang tak boleh kita biarkan tak tersirami oleh air yang tercipta dari rangkaian indah nama-nama Sang Pencipta segala bunga, dari berdiri, duduk dan sujud yang kita tegakkan, dari senandungsenandung yang menyuarakan ayat-ayat-Nya dan dari rasa berserahdiri akan segala kehendak dan ketentuan-Nya. Ialah bunga kehidupan utama yang tanpanya takkan berarti, takkan terasa indah, takkan menyejukkan aroma bunga lainnya, seindah dan seharum apapun bunga-bunga yang lain itu. Hingga jika bunga utama itu kuat, ia pun akan menguatkan diri ini sehingga teramat tegar menepis duri-duri kemaksiatan yang menyakitkan, atau unggas-unggas kejahatan agar menjauh dari taman hati ini. Dengan keindahan dan kedamaian yang kita tawarkan selaku bunga, kita dapat memperbanyak bunga-bunga baru untuk hadir dan bersama-sama saling menjadi bunga kehidupan di

taman hati masing-masing. Wallahu ‘a’lam bishshowaab (Abi Iqna, teruntuk bungabunga di taman hatiku)

Hidup Penuh Arti
Publikasi 24/07/2002 16:51 WIB eramuslim - Selasa (23/7) dini hari waktu setempat, sebuah serangan udara menghancurkan beberapa bangunan dan menewaskan 12 orang termasuk anak-anak dan wanita, serta melukai 150 orang lainnya. Diantara yang syahid ialah Shalah Syahada, Komandan Izzudin Al Qassam, salah satu tokoh pendiri Hamas. Pria berusia 50 tahun itu menjemput syahid bersama istri dan ketiga anaknya dalam insiden membabi buta militer Israel. Syahidnya tokoh besar Hamas tersebut menimbulkan kemarahan para pejuang Hamas tidak terkecuali anak-anak dan kaum wanita. Hari ini, prosesi pemakaman Shalah Syahada dan sebelas syuhada Palestina lainnya dipadati tidak kurang dari 300 ribu pendukung Palestina. Dilaporkan, puluhan ribu pejuang antri di depan rumah sakit dimana para pejuang yang syahid tersebut disemayamkan untuk ‘berebut’ menggotong jenazah sang syahid. 6 Februari 1993, hujan air mata mengguyur tanah Indonesia. Dalam usia 84 tahun, seorang tokoh besar ummat Islam menghembuskan nafas terakhirnya. Pak Natsir telah pergi, begitu bunyi headline beberapa harian besar di ibukota. Sebagian kita mungkin masih belum bisa melupakan betapa membludaknya iring-iringan massa yang menghantarkan jenazah Mohammad Natsir (Allahuyarham Pak Natsir) ke tempat peristirahatannya. Air mata ini pastilah kan mengalir tatkala mengingat kembali kisah detik-detik menjelang wafatnya Rasulullah Muhammad saw, manusia mulia nan agung yang dicintai segenap ummatnya. Betapa tidak, sampai detik terakhir hidupnya, ketika Izrail, Jibril dan seluruh malaikat berkumpul mengelilingi Rasulullah yang terkulai lemas di pembaringan, beliau masih khawatir akan keadaan ummatnya sepeninggalnya. Pancaran ketenangan pun menyemburat memancar dari wajahnya saat Jibril mengkhabarkan bahwa tidak ada ummat yang akan menginjakkan surga sebelum ummat Muhammad. Meski pada saat bersamaan derasnya sungai airmata mengalir membasahi pipi Fatimah Az Zahra. “Orang besar adalah mereka yang hidupnya untuk (kepentingan) orang banyak, dan ketika mati, ia akan senantiasa dikenang juga sebagai orang besar. Orang kerdil adalah yang hidupnya untuk dirinya sendiri, maka ketika mati ia pun tetap sebagai orang kerdil”. Nasihat yang begitu bermakna yang terlontar dari mulut seorang pejuang muslim pendiri Gerakan Ikhwanul Muslimin, Imam Hasan Al Banna. Setidaknya sang Imam pun membuktikan kata-katanya, puluhan tahun setelah kepergiannya pada tahun 1948 dalam usianya yang masih relatif muda, 42 tahun, oleh terjangan sebutir peluru, hingga kini ia masih tetap dikenang sebagai orang besar yang tidak bisa lepas dari wacana pergerakan dan perjuangan Islam di Mesir dan di seluruh penjuru dunia Islam.

Masih banyak nama-nama besar yang terukir bersamaan dengan gejolak perjuangan ini, DR. Abdullah Azzam, ahli bom pejuang Mujahidin Afghanistan pada masa perang melawan Uni Soviet. Syamil Basayev sang tokoh pejuang Chechnya, Ayatullah Khomeini, pemimpin Revolusi Iran dan masih banyak nama-nama lainnya. Mereka, menjadi orang besar dan senantiasa dikenang sepanjang hayat manusia di bumi Islam karena mereka telah mendedikasikan seluruh hidup mereka untuk ummat, untuk Islam dan untuk Allah. Allah menjadikan mereka sebagai penyemangat perjuangan, pembunuh demotivasi, pembangkit ghirah, dan juga sebagai inspirasi bagi deretan panjang calon-calon mujahid di seluruh pelosok bumi. Meski tidak harus memanggul senjata, namun mereka telah memberi makna bagaimana hidup penuh arti, sehingga kematianpun akan sangat berkesan bagi siapapun yang ditinggalkan. Insya Allah, dengan segala kekuatan dan izin Allah, masih terdapat antrian panjang calon-calon pengukir sejarah perjuangan kaum muslim. Adakah diri ini dalam antrian panjang tersebut? Wallahu’alam bishshowaab (Abi Iqna).

Selamat Datang Pagi
Publikasi 23/07/2002 09:01 WIB eramuslim - Entah sudah berapa ratus syair tergubah yang terinspirasi oleh indahnya pagi, dari Cat Stevens sampai si imut Tasya pun bersenandung pagi. Juga, mungkin sudah jutaan kata terangkai menjadi puisi-puisi indah tentang pagi, satu bentuk Kemahasempurnaan hasil kreasi Allah dari jumlah yang tak terhingga kemahasempurnaan lainnya yang semuanya diperuntukkan bagi hamba-Nya tanpa mengharap imbalan apapun. Bahkan jika hamba-hamba itu bersyukur dan memuji, pastilah Dia akan menambahkan nikmat-nikmat itu. Maha Suci Allah atas nikmat pagi dengan segala keajaibannya. Dengarlah kicau burung-burung bernyanyi, setelah sebelumnya unggas lainnya berlomba saling bersahut memecahkan keheningan fajar. Titik-titik embun di dahan berjatuhan membasahi tanah seiring bergulirnya sang mentari menatap bumi, memberi isyarat kepada manusia untuk segera memulai hari yang teramat cerah. Maka, siapapun yang tetap terlena berselimut tebal, pastilah dia orang-orang yang merugi bahkan kesuksesan pun makin menjauh. Selamat Datang Pagi, sebaiknya cukup dalam hati saja mengucapkannya. Patutlah kita mensyukuri nikmat Allah yang satu ini, karena pagi begitu memberikan harapan bagi segenap makhluk, termasuk bagi manusia yang bercita-cita meraih sukses dan kemenangan, semuanya bermula di pagi hari. Jika saja, ayam-ayam jantan sudah menyambut awal kemenangannya dengan lantang di waktu fajar, sementara sang betina dengan sabar menggiring anak-anak mereka mencari makan. Burung-burung hilir mudik terbang kesana kemari mengitari alam, kicaunya yang tak henti mengiringi kepakan sayap mereka mencari dahan-dahan tempat berpijak untuk kemudian terbang kembali ke sangkar mereka dengan setumpuk makanan di paruhnya untuk diberikan kepada anakanak mereka. Binatang-binatang melata ditanah pun menggeliat, mereka teramat tahu

bahwa tanpa geliat itu mereka takkan mendapatkan rizki untuk bisa bertahan hidup. Sungguh, masih adakah manusia yang tetap bermalas dengan badan lurus terlentang merapat di ranjang hangat? Tentu mereka orang-orang yang jauh dari rizki dan kesuksesan. Selain itu, datangnya pagi hari ini juga wajib kita syukuri karena belum tentu esok kita kan menikmati keindahannya, atau bahkan mungkin esok mentari terbit dari arah yang berlawanan dari arah yang biasanya. Itu berarti, bisa jadi ini adalah pagi terakhir yang dapat kita rasa, dan sentuhan hangat mentari pagi ini juga yang terakhir bagi kita. Oleh karena itu, bangkitlah segera dan mulailah hari ini dengan penuh semangat karena mungkin saja semangat kita tak berguna lagi di esok hari. Raihlah prestasi sebaik-baiknya hari ini, baik prestasi dunia maupun prestasi sebagai bekal di akhirat, karena boleh jadi kecemerlangan amal dan prestasi hari ini yang tercatat sebagai amal yang menyelematkan kita dari azab-Nya. Jika memang ini pagi terakhir, tentu bukan menjadi alasan untuk menghabiskan hari dengan berpangku tangan tanpa berbuat satu apapun. Bekerjalah seolah akan hidup selamanya dan beribadahlah seakan esok ajal kan datang, satu nasihat yang bagus untuk didengarkan. Ada keseimbangan yang patut dipertahankan dalam hidup ini, meski waktunya pun tinggal sehari. Rasulullah pernah menegur salah seorang dari pengikutnya yang selalu berada di masjid sepanjang hari, dan menyuruhnya untuk keluar bekerja mencari nafkah. Mencari rizki maupun mencari ilmu terus menerus tanpa kenal patah semangat untuk memacu prestasi, dan pada saat-saat yang sudah ditentukan kita duduk bersimpuh, merapatkan kening diatas bentangan sajadah, mengadu dan memohon dikuatkan hati dalam menggapai segala harapan. Kemudian bersegera kembali meneruskan pekerjaan sambil tak hentinya hati dan bibir ini menyebut nama Allah sebagai sumber kekuatan. Hingga senja pun hadir, semburat cahaya kemerahan yang terlukis di langit menghantarkan kita merenda lelah. Dan malam pun tiba menawarkan kesejukannya seiring terpejamnya mata, mengumpulkan tenaga untuk kembali menyambut pagi yang senantiasa menjanjikan harapan. Wallahu ‘a’lam bishshowaab (Abi Iqna)

Indahnya Cinta karena Allah
Publikasi 22/07/2002 10:47 WIB eramuslim - Sesungguhnya dalam Islam, cinta dan keimanan adalah ibarat dua sisi mata uang. Antara yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Cinta tidak dapat digambarkan tanpa iman. Dan iman pun tidak dapat dibayangkan tanpa cinta. Dengan cinta dan keimanan inilah hati setiap mukmin yang satu dengan lainnya terikat kuat. Bila mukmin yang satu sakit, maka mukmin yang lain pun merasakan hal yang sama. Karenanya, tak berlebihan bila seorang ulama Mesir yang telah syahid, Al Ustadz Imam Hasan Al-Banna mengatakan bahwa dengan dua sayap inilah Islam diterbangkan setinggi-tingginya ke langit kemuliaan. Bagaimana tidak, jikalau dengan iman dan cinta, persatuan ummat akan terbentuk dan permasalah pun akan terpecahkan.

"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan mereka ta’at kepada Allah dan Rosul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Qs. At Taubah : 71). Hal itu juga tidak lain karena orang mukmin itu laksana sebuah bangunan. Bagian yang satu akan mengokohkan bagian yang lain. Sebaliknya, jika bagian yang satu hancur, maka yang lain pun akan merasakan kehancurannya. Karena itu, hadits Rasulullah saw juga menegaskan: "Gambaran orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling berempat di antara sesama mereka adalah laksana satu tubuh, jika ada sebagian dari anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh akan ikut merintih, merasakan demam, dan tak bisa tidur." Sejarah Islam telah menggoreskan pena emasnya, betapa para generasi pendahulu kita mempunyai kehidupan yang sangat mulia dan jarang kita temui dalam kehidupan kita saat ini. Mereka selalu saling tolong menolong, sepenanggungan dalam suka dan duka, mempunyai rasa empati yang tinggi, dan selalu mengutamakan kepentingan saudara seimannya daripada kepentingannya sendiri (itsar). Abu Bakar as Shiddiq, misalnya, beliau rela menginfaqkan seluruh hartanya demi kejayaan Islam. Ketika Rasulullah saw menanyakan pada beliau, "Harta apakah yang kamu tinggalkan untuk anak-anakmu?" Beliau menjawab, "Saya tinggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka." Karena kedermawanan dan keikhlasan Abu Bakar inilah, maka Rasulullah saw bersabda: "Tidak ada harta seorang pun yang memberikan manfaat kepadaku melebihi harta Abu bakar." Kaum Anshor pun tak kalah tingginya memiliki sifat itsar. Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa suatu hari kaum Anshor datang menemui Rasulullah saw mengutarakan pendapatnya, "Wahai Rosulullah bagilah menjadi dua tanah yang kami miliki untuk kami dan saudara kami muhajirin". Rasulullah menjawab, "Jangan lakukan itu, tapi cukupilah kebutuhan mereka dan bagilah hasil panen kepada mereka. Sesungguhnya tanah ini adalah milik kalian". Maka kaum Ansor berkata, "kami ridho atas keputusan engkau wahai Rasulullah." Dalam kisah lain juga disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw menawarkan kepada para sahabat, siapakah di antara mereka yang bersedia menjamu tamu Rasulullah saw, maka salah seorang dari kaum Anshor berdiri dan menyatakan kesediaannya. Padahal, ketika ia pergi enemui keluarganya, teryata istrinya mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai makanan, kecuali untuk anak-anaknya. Maka, orang Anshor ini mengatakan kepada istrinya, "Kalau begitu, bila anak-anak hendak makan malam, tidurkanlah mereka. Dan kemarilah kamu, matikan lampu, tidak apa-apa kita tidak makan pada malam ini." Pagi-pagi sekali, ketika orang Anshor ini datang kepada Rasululloh saw, bersabdalah beliau, "Allah kagum atas perbuatan si fulan dan fulanah." Maka Alloh swt berfirman:

"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apaapa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Qs.Al Hasyr :9). Akhlaq mulia kaum Anshor dalam mengutamakan kepentingan kaum muhajirin tidak hanya sampai di situ. Dalam hadits disebutkan bahwa kaum Anshor berkata kepada kaum Muhajirin agar mereka memilih salah satu dari dua istrinya yang mereka senangi. Kemudian kaum Anshor akan menceraikan istri tersebut lalu menikahkannya dengan istri yang telah diceraikannya itu. Sifat itsar juga melahirkan refleks-refleks yang tidak dibuat-buat, tapi murni dari hati yang salim (bersih). dalam satu peperangan dikisahkan, seorang mukmin terkena pukulan pedang musuh di tengkuknya. Ia tidak berteriak atau mengaduh karena sakit, tapi ia langsung jatuh tersungkur dan pada akhirnya syahidnya menjemputkan . Tetapi yang menakjubkan ketika mukmin itu terpukul pedang tersebut, justru mukmin lain yang melihatnya lah yang mengaduh kesakitan dan merasakan perihnya ketajaman pedang menembus tubuhnya, seakan-akan pukulan itu mengenai dirinya. Dan ucapan yang terlontar dari mulut mukmin yang mengaduh tersebut adalah, "Saudaraku, engkau mendahuluiku menuju surga!" Ucapan itu merupakan refleksi kebahagiaan dari seorang mukmin melihat indahnya ‘masa depan’ yang akan dialami oleh mukmin lainnya. Kisah lain yang tak kalah mengesankan indahnya ukhuwah adalah suatu ketika sepasukan dari kaum muslimin keluar untuk berperang. Posisi antara pasukan kaum muslimin dengan musuh terbatasi oleh sebuah sungai. Kedua pasukan tersebut saling berhadapan. Komandan pasukan muslim berkata, "Bagaimana pendapat kalian menghadapi musuhmusuh kalian, sementara mereka bisa memperoleh perbekalan dan air tanpa harus susah payah? Bagaimana pendapat kalian?" Salah seorang dari mereka kemudian menjawab, "Kita seberangi saja sungai ini, lalu kita perangi mereka di tempat mereka berada." Mereka pun akhirnya menceburkan diri bersama kuda-kuda mereka melintasi sungai agar dapat bertempur dengan musuh. Di depan mereka terlihat pasukan musuh sudah siap siaga untuk menghunuskan pedang mereka. Tiba-tiba, salah seorang di antara pasukan kaum muslimin ada yang berteriak, "Qab (Kantung air bejana yang terbuat dari kayu) – ku……… Qab-ku…jatuh ke air". Sang komandan pun berkata, "Carilah dulu Qab milik saudara kalian yang hilang". Mereka pun sibuk mencarinya. Sementara, pasukan musuh sedang menanti mereka dan kematian pun mengitari kepala mereka. Ketika komandan pasukan musuh itu melihat perilaku pasukan muslim, ia berkata, "Apa-apaan mereka itu?" Bawahannya menjawab, "Salah seorang dari mereka kehilangan Qab-nya, dan mereka pun sibuk mencarinya." Komandan ini pun berkata, "Jika karena masalah Qab saja mereka sudah seperti itu, lalu bagaimana jika kalian membunuh salah seorang saja dari mereka? Pasukan.......! Berdamai sajalah dengan mareka sesuai dengan apa yang mereka inginkan!"

Subhanallah, demikianlah sejarah kaum salaf telah memperlihatkan kepada kita bahwa kumpulan manusia itu seluruhnya adalah laksana satu tubuh, melakukan aktivitas yang satu, serta merasakan perasaan yang sama, walau pun dalam kondisi yang teramat sulit. Dan Betapa 'pancaran ukhuwah' saja telah mampu mengalahkan musuh dan memenangkan kaum mukminin, sekaligus menaklukkan kota itu. Itulah buah dari persaudaraan dan kesatuan yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Kemesraan ukhuwah seperti itu tidaklah terbentuk begitu saja, sikap takaful (saling membantu) yang mereka lakukan terbentuk karena ada proses lain yang sebelumnya mereka jalin. Kemesraan ukhuwah tersebut mereka mulai melalui proses ta’aruf atau saling mengenal. Dari mulai fisik, karakter, kadar keseriusan taqarruf (kedekatan) pada Allah, kesenangannya, latar belakang keluarga, dan sebagainya. Ta’aruf yang baik akan meminimalisir kekeringan dan keretakan hubungan sesama muslim. Ia juga dapat membuat hati menjadi lembut serta mampu melenyapkan bibit perpecahan. Bila wilayah ta’aruf telah terbentang, maka akan tumbuh sifat tafahum (saling memahami). Sikap tafahum akan menjaga kesegaran dalam berukhuwah. Karena, ketika keterpautan hati telah terjalin maka timbul sikap saling toleransi, dan saling kompromi pada hal-hal yang mubah (boleh) sehingga akan membuat hubungan satu sama lain menjadi lebih harmonis. Puncak tafahum adalah ketika seorang mukmin dengan mukmin lainnya dapat berbicara dan berpikir dengan pola yang sama. Setelah dua proses itu berjalan barulah terbentuk sikap takaful yang darinya lahir sifat itsar, puncak amal ukhuwah Islamiyah. Sungguh, kemesraan 'pancaran ukhuwah' yang telah dicontohkan oleh generasi dahulu adalah ukhuwah Islamiyah yang tak lapuk oleh waktu dan musim. Ia akan panjang usia dan kekal hingga hari akhirat kelak. Oleh karenanya, patutlah kita bercermin pada generasi awal Islam dan para salafussalih dalam berukhuwah. Dengan demikian, 'pancaran ukhuwah' yang demikian tingginya dimiliki oleh mereka, tidaklah sekedar menjadi kisah yang sering kita dengar dan kita baca, tetapi juga menjadi bagian dari hidup kita, Insya Allah. "Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para Nabi dan syuhada’, tetapi para Nabi dan Syuhada’ iri pada mereka. "Ketika ditanya oleh para sahabat, Rosulullah saw menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling kunjung karena Allah". (HR. Tirmidzi). Wallahu’alam bishshowaab. (Nurul Huriah Astuti, Schleidener Strasse 58 52076 Aachen, Germany, e-mail: nurulha@t-online.de) Sumber : 1. Hadits Tsulatsa, Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna, Intermedia, Februari 2000 2. Majalah Tarbawi, Edisi 2 Th I, 20 Juli 1999 M / 7 Robi’ul Akhir 1420 H 3. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Gema Insani, Jakarta 2000

Bergegaslah Bangun Dari Mimpi
Publikasi 19/07/2002 09:07 WIB eramuslim - Ada satu cerita yang boleh diragukan kebenarannya, ini berkisar tentang seorang anak di Amerika Serikat yang saat masih duduk di bangku sekolah dasar terpilih menjadi Golden Boy atau anak bangsa negeri Paman Sam itu. Saat upacara pemberian penghargaan oleh Presiden AS saat itu, sang anak menjawab dengan enteng, “Saya akan menjadi presiden AS kelak” saat dirinya ditanya sang Presiden tentang cita-cita yang ingin dicapainya. Beberapa puluh tahun kemudian, mimpinya terwujud dan dia menjadi presiden ke 42 negara adidaya tersebut setelah sebelumnya menjadi Walikota di negara bagian Arkansas, dialah William Jefferson Clinton atau yang biasa dikenal dengan Bill Clinton. Terlepas dari benar tidaknya cerita diatas, tidaklah penting untuk diselidiki. Justru ada satu cerita lagi yang patut disimak, yakni tentang Tsubasa si pemilik tendangan gledek yang bersama kawan-kawannya, Misaki dan Wakabayashi menjadi pemain profesional dalam film kartun buatan Jepang tahun 1982. Dua puluh tahun kemudian, masyarakat Jepang seperti mewujudkan mimpi mereka ketika Tsubasa dan kawan-kawannya menjelma menjadi Hidetoshi Nakata, Inamoto dan sederet anggota tim nasional Negeri Sakura dalam Putaran Final Piala Dunia 2002 yang baru saja berlalu. Di awal tahun 1990-an pernah beredar satu film yang berjudul First Knight, yang intinya bercerita tentang seorang jagoan kampung yang akhirnya masuk dalam jajaran Ksatria Utama sebuah kerajaan. Masih banyak cerita orang-orang besar lainnya baik itu kejadian nyata maupun hanya cerita-cerita dari film. Bahkan jika tak berlebihan, Nabi Allah Yusuf alaihi salam pun memulai segalanya dari mimpi saat ia masih kecil maupun ketika menta’wilkan mimpi seseorang dipenjara. "Gantungkan cita-citamu setinggi langit", anda pasti masih ingat pesan klasik yang sering kita dengar keluar dari mulut guru-guru saat di Taman Kanak-Kanak atau sekolah Dasar. Para guru kita itu tidak salah, mereka tahu betul bahwa kita bisa mencitakan diri ini setinggi apapun kita mau. Namun ada syaratnya, Think Globally Act Locally, kalimat lama yang mungkin tidak asing lagi ditelinga kita. Orang-orang besar yang kita kenal yang mungkin memulai segalanya dari sebuah mimpi (catatan: mimpi tidak selalu hadir dalam tidur) senantiasa memulai dengan menapaki satu persatu langkah didepan yang paling mudah dilakukan, yang terjangkau untuk diraih, yang paling mungkin untuk dikerjakan. Bukan sesuatu yang jauh dari pandangan, dan bukan pula yang tidak mungkin bahkan dengan mimpi sekalipun. Kemudian yang terpenting adalah visi yang jelas terbentang kedepan yang tapaktapaknya bisa dilalui hingga mencapai apa yang kita cita-citakan. Rasulullah pernah mengingatkan para sahabat dengan menggambar seorang manusia ditanah, kemudian beliau membuat garis persegi sehingga membingkai gambar tersebut. Dari gambar tersebut rasul menarik garis lurus keatas seraya menjelaskan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan garis keatas itu menunjukkan agar manusia tidak berpanjang angan

melewati keterbatasan yang dimilikinya. Jelas, bertekad untuk mewujudkan cita-cita (mimpi) dengan mengerahkan segenap kesungguhan dan melakukannya secara bertahap sangat berbeda dengan berangan-angan tanpa melakukan satu apapun, karena itu berarti anda masih terus bermimpi. Bergegaslah bangun dari mimpi, atau engkau akan kehilangan keindahan yang tengah engkau genggam … (salah satu kalimat dari syair lagu Ebiet G Ade). Wallahu ‘a’lam bishshowaab (Abi Iqna)