You are on page 1of 12

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Setiap orang tentu menginginkan hidup sehat, panjang umur, serta tetap
produktif. Proses penuaan bukan datang dengan sendirinya tanpa penyebab.
Proses penuaan disebabkan berbagai faktor. Salah satu faktor yang berpengaruh
adanya perubahan iklim dan polusi. Polusi dapat mengorbankan kulit dan rambut.
Perubahan-perubahan temperatur yang ekstrim menyebabkan terjadinya berbagai
reaksi dan merusak kulit.
Polusi adalah semua tanda ada di sekeliling kita seperti asap rokok, gas
buangan kendaraan bermotor, smog (kabut campur asap) yang dapat
meningkatkan kerusakan akibat radikal bebas yang diproduksi oleh tubuh. Ini
dapat menyebabkan rusaknya kulit, mengakibatkan kemerosotan struktur
pendukung kulit, serta menurunkan kadar kolagen dan kekenyalan kulit. Radikal
bebas merusak dengan cara mempercepat proses penuaan. Polusi udara dapat
mengganggu kemampuan kulit dalam mengatur tingkat kelembabannya. Kulit
bisa menjadi terlalu kering dan bersisik atau pori-pori kulit menjadi tertutup
sehingga mengakibatkan jerawat dan bintik-bintik hitam. (Seri Penyembuhan
Alami,2009). Timbulnya jerawat dan bintik- bintik hitam tak jarang menjadi
keluhan terutama bagi perempuan.
Dunia yang kita hadapi sekarang adalah dunia yang serba dinamis dan
berubah dengan cepat. Tidak menutup kemungkinan perempuan zaman sekarang
memiliki waktu yang sangat terbatas. Maka dari itu perempuan membutuhkan
cara perawatan yang praktis untuk menjaga dan melindungi kulit mereka terutama
ketika beraktivitas di luar ruangan. Akan tetapi kosmetika tidak memberi
perawatan menyeluruh, yaitu perawatan dari luar dan dari dalam. Bahan banyak
kasus kosmetika modern yang mengandung bahan- bahan sintesis dengan efek
samping yang berbahaya bagi kesehatan kulit dan tubuh secara keseluruhan serta
tidak ramah lingkungan. Namun karena tuntutan zaman, akibat gaya hidup yang
begitu cepat, budaya praktis seringkali tidak bisa dihindari. (Martha Tilaar,1999)
Untuk meminimalisir efek samping yang ditimbulkan dari kosmetik
berbahan sintesis, banyak perempuan memilih menggunakan produk- produk
alami yang mengandung antioksidan. Hasil riset mendukung bahwa antioksidan
bermanfaat mambantu melindungi tubuh dari efek- efek radikal bebas yakni
diperlukan untuk merawat kecantikan serta meningkatkan perlindungan kulit dari
serangan radikal bebas yang menyebabkan penuaan dini serta kulit keriput.

Radikal bebas, molekul yang terjadi pada lingkungan secara alami dihasilkan oleh
tubuh, dapat menyebabkan kerusakan sel-sel.
Salah satu komponen flavonoid tumbuh-tumbuhan yang dapat berfungsi
sebagai antioksidan adalah zat warna alami yang disebut antosianin (Craig, 2002).
Ekstrak etanol dari kulit terong ungu (Solanum melongena L). Berdasarkan
analisis HPLC-DAD-MS3 antosianin utama dalam terong ungu adalah
delphinidin-3-rutinoside (Sadilova, 2006). Terong ungu memiliki potensi
antioksidan, analgetik, hipolipidemik, serta antialergik (Han dkk, 2003).
Flavonoid yang diisolasi dari kulit terong ungu menunjukkan kadar antioksidan
yang cukup kuat. (Sudhess dkk, 1999). Beberapa antioksidan yang memiliki
warna pigmen merah, biru, atau hijau, ungu, kurang menarik dan tidak
memberikan manfaat jika digunakan dalam krim. (Mahmed C.Oz dan Michael F.
Roizen, 2010)
Sediaan krim merupakan salah satu sediaan farmasi yang digunakan secara
topikal untuk pengobatan penyakit kulit. Selain karena praktis penggunaannya,
juga mudah dibersihkan dari kulit dan tidak lengket seperti halnya salep atau
sediaan farmasi yang lainnya. Krim merupakan suatu bentuk emulsi dengan tipe
yakni tipe minyak-air dan tipe air-minyak. Biasanya yang sering digunakan adalah
minyak-air. Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin menciptakan bentuk sediaan
dengan bahan dasar dari alam yakni kulit dari terong ungu. Dalam hal ini dipilih
krim tabir surya dari kulit terong ungu.
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
1.
Apakah krim tabir surya dari kulit terong ungu (Solanum
melongena L.) dan minyak nilam dapat berkhasiat sebagai krim tabir
surya?
2.
Berapa konsentrasi efektif dari krim kulit terong ungu (Solanum
melongena L.) yang efektif meminimalisir paparan sinar UV?
3.
Bagaimana stabilitas krim kulit terong ungu (Solanum melongena
L.) dalam penyimpanan dan pemakaiannya?
C. TUJUAN
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, maka proposal
penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui khasiat krim dari kulit terong ungu (Solanum melongena L.)
dan minyak nilam sebagai krim tabir surya.
2. Mengetahui konsentrasi efektif dari krim kulit terong ungu (Solanum
melongena L.) yang efektif meminimalisir paparan sinar UV.

3. Mengetahui stabilitas krim kulit terong ungu (Solanum melongena L.)


dalam penyimpanan dan pemakaian.

D. LUARAN YANG DIHARAPKAN


Luaran yang diharapkan adalah produk berupa sediaan krim dari kulit
terong ungu.
E. KEGUNAAN
Kegunaan penelitian yang diharapkan dapat menciptakan bentuk
sediaan krim dengan bahan alam (kulit terong ungu) yang bermanfaat sebagai
krim tabir surya dengan khasiat yang tidak jauh beda dengan krim yang dijual
dipasaran.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1 Terong Ungu (solanum melongena L.)
Klasifikasi tanaman Terong Ungu (solanum melongena L.) menurut
Syamsyuhidayat dan Hutapea (1991) yaitu :
Kingdom
Subkingdom
Super Divisi
Divisi
Kelas
Sub Kelas
Ordo
Famili
Genu
Spesiaes

: Plantae (Tumbuhan)
: Tracheobionta (Tumbuhan bepembukuh)
: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
: Magnoliophyta (Tumbuham berbunga)
: Magnoliopsida (berkeping dua/ dikotil)
: Asteridae
: Solanales
: Solanaceae (suku terong-terongan)
: Solanum
: Solanum melongena L.
(Bioogionline, 2013)

Habitus dari terong ungu adalah tinggi pohon terong 40-150 cm, memiliki
daun dengan ukuran panjang 10-20 cm dan lebar 5-10 cm, bunga berwarna putih
hingga ungu dengan lima mahkota bunga. Berbagai varietas terong tersebar luas
di dunia, perbedaannya terletak pada bentuk, ukuran, dan warnanya (USDA,
2010). Tergantung varietas terongnya, terong memiliki sedikit perbedaan
konsistensi dan rasa. Secara umum terong memiliki rasa pahit dan konsistensi
yang menyerupai spons (Organicfood, 2010). Varietas awal terong memiliki rasa
pahit, tetapi terong yang telah mengalami proses penyilangan memiliki perbaikan
rasa. Terong merupakan jenis tanaman yang memiliki kedekatan dengan tanaman
kentang, tomat, dan paprika
(Foodreference, 2010).

Gambar 1. Terong ungu (Solanum melongena L.)


Morfologi terung ungu: bentuk beragam yaitu silindris, lonjong, oval atau
bulat. Warna kulit ungu hingga ungu mengilap. Terung ungu merupakan buah
sejati tunggal, berdaging tebal, lunak, dan berair. Buah tergantung pada tangkai
buah. Dalam satu tangkai umumnya terdapat satu buah terung, tetapi ada juga
yang memiliki lebih dari satu buah. Biji terdapat dalam jumlah banyak dan
tersebar di dalam daging buah. Daun kelopak melekat pada dasar buah, berwarna
hijau atau keunguan
(Astawan, 2009).
Khasiat suatu tumbuhan berhubungan dengan komponen kimia yang
bersifat aktif yang terdapat pada tumbuhan tersebut terutama senyawa fitokimia.
Penggolongan senyawa fitokimia berdasarkan struktur kimia yaitu phenolik,
terpenoid, alkaloid, steroid, kuinon, saponin, tanin dan flavonoid (Harborne,
1987). Komponen bioaktif tersebut dapat diperoleh dari proses ekstraksi bagian
tumbuhan. Salah satu proses ekstraksi yang sering digunakan adalah ekstraksi
pelarut.
(Adriana, 2008).
2. 2 KANDUNGAN TERONG UNGU
Terong ungu mengandung komponen fitonutrien yang penting, banyak di
antaranya memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Fitonutrien yang terkandung di
dalam terong ungu termasuk di dalamnya komponen phenolik seperti caffeic, dan
chlorogenic acid, dan flavonoid seperti nasunin (Whfoods, 2009).
Antosianin dideteksi dari ekstrak kulit terong ungu serta spesies lain yang
terkait. Gambaran antosianinnya diklasifikasikan menjadi empat tipe, termasuk
yang terkenalsebagai terong ungu Jepang (tipe satu) dan terong ungu bukan tipe
Jepang (tipe dua), tipe tiga memiliki satu tambahan antosianin baru, tipe empat

memiliki dua tambahan profil baru. Antosianin utama diidentifikasi sebagai


delphinidine 3-(p-coumarolrutinoside)-5-glucoside (nasunin) (tipe satu),
delphinidin 3-rutinoside (tipe dua), delphinidin 3-glucoside (tipe tiga), dan
petunidin 3-(p-coumarolrutinoside)-5-glucoside (petunidin 3RGc5G) (tipe empat)
(Azuma dkk., 2008).
Nasunin, delphinidine-3-(p-coumarolrutinoside)-5-glucoside, merupakan
antioksidan antosianin yang di isolasi dari kulit terong ungu berperan sebagai
penghambat terhadap reaksi angiogenesis
(Matsubara dkk., 2005).
Antosianin merupakan pigmen yang larut dalam air, berwarna merah, ungu,
atau biru tergantung pada kadar pH. Pada pH<3 antosianin berwarna merah. Pada pH 7-8
berwarna ungu. Pada pH>11 antosianin akan berwarna biru. Antosianin merupakan
bagian dari flavonoid yang disintesis melalterongui jalur phenylpropanoid.
(Wikipedia, 2010).

2.3 Krim
Krim didefinisikan sebagai cairan kental atau emulsi setengah padat baik
bertipe air dalam minyak atau minyak dalam air. Krim biasanya digunakan
sebagai emolien atau pemakaian obat pada kulit. Banyak dokter dan pasien lebih
menyukai krim daripada salep karena mudah dalam pemakaian. (Ansel, 1989)
Krim dibedakan dalam dua tipe, krim tipe minyak-air dan krim tipe airminyak.Krim tipe air-minyak mudah kering dan mudah rusak. Untuk membuat
krim digunakan sebagai zat pengemulsi, umumnya berupa surfaktan anion, kation,
atau nonion. Pemilihan surfaktan didasarkan atas jenis dan sifat krim yang
dikehendaki. Untuk krim tipe minyak- air digunakan zat pengemulsi seperti
trietanolamin stearat dan golongan sorbitan, polisorbat, poliglikol, sabun. Untuk
membuat krim tipe air-minyak digunakan zat pengemulsi seperti lemak bulu
domba, setilalkohol, stearilalkohol, setaseum, dan emulgide. (Depkes RI, 1978).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Variabel dalam penelitian
a. Variabel bebas
Fraksi yang digunakan adalah fraksi etil asetat dan fraksi air.
Konsentrasi dari masing-masing fraksi yaitu konsentrasi 100, 125, 150,
175, 200, 225, dan 250 ppm.
b. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah :
Kadar antosianin kulit terong ungu (Solanum melongena L.) secara
invitro.
c. Variabel terkontrol dalam penelitian ini adalah :
a. Waktu maserasi selama 3 hari
b. Operating Time 15 menit
c. Volume maserasi 1500 ml

3.2 Rancangan penelitian


a. Bahan
Bahan penelitian
Bahan ekstraksi
Bahan fraksinasi

: kulit terong ungu


: etanol 70% (p.a)
: n-heksana (p.a),
aquadestilata.

etil

asetat

(p.a),

Bahan untuk KLT identifikasi flavonoid antosianin:


Fase diam
:Silika gel GF 254
Fase gerak
:Butanol : Asam asetat : Air (4 : 1 : 5)
Penampak bercak
:Uap ammonia pekat menunjukkan noda
berwarna kuning.
b. Alat
1.
Alat untuk ekstraksi secara maserasi : nampan, alat gelas,
blender,dan rotary vacuum evaporator.

2.

3.
4.

Alat untuk uji kualitatif : tabung reaksi, rak tabung, pipet tetes,
lempeng Silika Gel GF 254, pipa kapiler, chamber dan penutup,
alat penyemprot penampak bercak.
Alat untuk fraksinasi : corong pisah, erlenmeyer
Alat untuk pengukuran efektivitas SPF: Spektrofotometer UV-Vis,
neraca analitik, pipet volum, labu takar, corong kaca dan tabung
reaksi.

3.3 Prosedur penelitian


Pengumpulan dan penyiapan bahan
a. Determinasi Tanaman
Determinasi dilakukan terlebih dahulu untuk memperoleh kepastian bahwa
tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah terong ungu (Solanum
melongena L.), sehingga kemungkinan timbulnya kesalahan dalam pengumpulan
bahan penelitian dapat dihindari. Identifikasi dan determinasi tanaman (Solanum
melongena L.) dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi Universitas Gajah
Mada Yogyakarta.
b. Penyiapan Simplisia
Dipilih buah yang masih utuh atau tidak rusak, kemudian buah dibersihkan.
Buah dicuci dengan menggunakan air mengalir, setelah itu kulitnya dikupas dan
kulitnya dikeringkan. Kulit dikeringkan dibawah sinar matahari dan ditutup
dengan kain hitam. Kulit yang sudah kering dihancurkan menggunakan blender,
kemudian diayak dengan ayakan no.30/40.
c. Pembuatan Ekstrak kulit Terong
Ditimbang 50,0 gram serbuk kering kulit terong ungu (Solanum melongena
L.) dimasukkan ke beaker glass, kemudian ditambah 500 ml etanol 70% sebagai
cairan penyari hingga simplisia terendam seluruhnya. Perendaman dilakukan
selama 3 hari. Setiap hari disaring dan cairan penyari diganti baru dengan jumlah
yang sama. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan. Filtrat yang dihasilkan dijadikan
satu dan dienapkan selama 1 hari. Setelah dienapkan semua disaring dan
dipekatkan dengan rotary vacuum evaporator pada suhu 70 C sampai diperoleh
ekstrak kental (Depkes RI, 1986).
d. Fraksinasi Ekstrak Kulit Terong
Dari ekstrak kental kulit terong ungu (Solanum melongena L.) fraksinasi
dilakukan dengan menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat dan air.
Ditimbang 10,0 gram ekstrak kental kulit terong, kemudian ditambahkan
dengan air dan n-heksana dengan perbandingan 1:1 (25 ml : 25 ml) di dalam

corong pisah, kemudian dikocok lalu didiamkan hingga tepat memisah menjadi
dua fase yaitu fraksi air dan fraksi n-heksana. Penambahan pelarut diulang hingga
tiga kali hingga tersari sempurna. Fase n-heksana dipisahkan dari fraksi air
kemudian fraksi air difraksinasi kembali menggunakan pelarut etil asetat dengan
perbandingan 1:1 (25 ml : 25 ml), fraksinasi dilakukan tiga kali dan dipisahkan
hingga tepat memisah. Masing-masing pelarut yang telah terkumpul diuapkan
menggunakan rotary vacuum evaporator.
e. Identifikasi Senyawa Aktif
Sebanyak 1 gram serbuk kulit terong kering dilarutkan dalam 10 ml
aquadest, didihkan 10 menit dan disaring. Diambil filtrat 2 ml sebagai sampel
untuk uji pendahuluan pada serbuk. Masing-masing fraksi kental dilarutkan dalam
etanol 70% kemudian diambil 2 ml sebagai sampel untuk uji pendahuluan pada
fraksi.

3.4 Analisis data


Data yang digunakan adalah keefektifan dari krim kulit terong ungu untuk
Sun Protection Factor (SPF) dengan cara setiap formula ditimbang sebanyak
250 mg. Dioleskan merata pada kaca objek kemudian diberi perlakuan
dengan tidak diberikan penyinaran dan disinari di bawah sinar ultraviolet.
Krim yang diperlakukan tanpa penyinaran maupun yang diberi penyinaran
dilarutkan dalam etanol 95% hingga 50,0 mL dan diultrasonik hingga krim
terdispersi seluruhnya dalam pelarut kemudian disaring. Dipipet 1,0 mL
filtrat dan ditambahkan etanol 95% hingga 25,0 mL. Selanjutnya diukur
serapan larutan dari tiap formula dengan menggunakan spektrofotometer UVVis setiap 5 nm pada rentang panjang gelombang 290-400 nm untuk
penentuan SPF. Selanjutnya angka SPF dihitung dengan persamaan sebagai
berikut (Pissavini dan Ferrero, 2004) :
3.5 Penafsiran dan penyimpulan hasil penelitian
Keefektifan krim kulit terong ungu sebagai tabir surya dengan evaluasi
krim berdasarkan karakteristik sediaan yang dibuat dan pengujian dengan
spektrofotometer UV-Vis.

10

BAB IV
JADWAL KEGIATAN DAN BIAYA
a. Jadwal kegiatan
no kegiatan

A
1
2
B

Bulan ke
1
2
3
4
5
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Persiapan
Studi
pustaka
Penyusunan
proposal
Pelaksanaan Penelitian
Persiapan
Alat dan
Bahan
Penelitian
pendahuluan
Analisa
hasil
Penelitian
umum
Analisa data
Penyusunan Laporan

b. Rancangan Biaya
No
1

Komponen biaya

Jumlah

Bahan Habis Pakai


Kulit Terong ungu
32
Etanol 96%
4
Alumunium Foil
6
n-heksan
2
Etil asetat
2
Butanol
1
Asam Asetat
1
Aquadest
200
Peralatan penunjang
Sewa laboratorium
5
Silica Gel GF 254
10
Perjalanan

Satuan

Harga
satuan

Kg
L
Kotak
L
L
L
L
L

Rp35.000
Rp53.000
Rp30.000
Rp385.000
Rp380.000
Rp400.000
Rp400.000
Rp3.000

Rp1.120.000
Rp212.000
Rp180.000
Rp770.000
Rp760.000
Rp400.000
Rp400.000
Rp600.000

Bulan
Lempeng

Rp200.000
Rp126.500

Rp1.000.000
Rp1.265.000

Biaya Transport
5
Bulan
Rp800.000
Pengadaan Barang
Lain-lain
Alat Tulis Kantor
4
Pcs
Rp120.000
Kertas HVS
3
Rim
Rp50.000
Tinta Warna
5
Botol
Rp80.000
Jilid Proposal dan Publikasi Artikel Ilmiah
Total

Biaya

Rp4.000.000
Rp480.000
Rp150.000
Rp400.000
Rp700.000
Rp12.437.000

12

G. DAFTAR PUSTAKA
Adriana, R. 2008. Identifikasi Kandungan Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan
Ekstrak Biji Terung Pucuk (Solanum macrocarpon L).
Alami Sei Penyembuhan. 2009. Bebas Masalah Kulit. Yogyakarta : Penerbit
Kanisius.
Ansel. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: UI Press.
Astawan. 2009. Dinas Pertanian Jawa tengah. Terung Antikanker yang Dipercaya
sebagai
obat Kuat. Available from: http: // dinpertantph.j
awatengah.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=174:terung-anti-kanker-yangdipercaya sebagai-obat-kuat&catid=39:sayur&Itemid=70 Accessed at
08/17 2014.
Azuma, K., Ohyama, A., Ippoushi, K., Ichiyanagi, T., Takeuchi, A., Saito, T.,
Fukuoka, H. 2008. Structures and Antioxidant of Antocyanins in Many
Accessions of Eggplant and Its Related Species. Available from: Accessed
at 08/17 2014.
Craig, W.J. 2002. Vegetarian Phytochemicals: Guardians of Our Health, a
Continuing
Education Article. Available from: http://
www.Andrews.edu/NUFS/phyto.htlm
Accessed at 08/17 2014.
Departemen Kesehatan RI. 1979. Formularium Indonesia. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan RI. 1986. Sediaan Galenik. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Foodreference. 2010. Eggplant. Available at: http:www.foodreference.com/htlm
/arteggplant2.htlm Accessed at 08/17 2014.
Han, S.W., Tae, J., Kim, J.A., Seo, G.S., Yun K.J., Choi, S.C., Kim, T.H., Nah,
Y.H., Lee, Y.M. 2003. The Aqueous Extract of Solanum melongena
Inhibits PAR2 Agonist-Induced Inflammation. Clin Chim Acta. 2003
Feb;328(1-2):39-44.
Organicfood. 2010. Eggplant Nutrition Information. Available
at:http://organicfood.com. au/Content_Common/pg-eggplantinformation.seo Accessed at 08/ 17 2014.
Roizen Michael F. dan Mehmet C. Oz. 2010. Being Beautiful : Sehat dan Cantik
Luar Dalam Ala DR. OZ. New York: Free Press Pyblished by Simorr &
Schuster, 1230 A Venue of the Americas.