You are on page 1of 21

Farmasetika 2

Rute Pemberian Obat Secara
Parenteral

Oleh :
1. Arum Tri W
2. Diah Ariani
(1404047)
3. Intan Nurhidayah
(1404053)
4. Isbaniyah Dwi H
(1404054)
5. Isnaini Handayani

(1404046)

Pengertian Sediaan Parenteral
Sediaan Parenteral yaitu sediaan yang
digunakan tanpa melalui mulut atau dapat
dikatakan obat dimaksukkan ke dalam tubuh
selain saluran cerna (langsung ke pembuluh
darah) sehingga memperoleh efek yang cepat
dan langsung sampai sasaran.
Misal : Suntikan atau insulin.

dan epinefrin atau obat lainnya. skopolamin. Pemberian Subkutis (Subkutan) Lapisan ini letaknya persis dibawah kulit. yaitu lapisan lemak (lipoid) yang dapat digunakan untuk pemberian obat antara lain vaksin. Injeksi subkutis biasanya diberikan dengan volume samapi 2 ml (PTM membatasi tak boleh lebih dari 1 ml) jarum suntik yang digunakan yang panjangnya samapi ½ sampai 1 inci (1 inchi = 2.Rute Pemberian Sediaan Pareteral 1.35 cm). . insulin.

lengan bagian atas. Jarum suntik ditusukkan langsung pada serabut otot yang letaknya dibawah lapisan subkutis. biasanya tidak lebih dari 2 ml. . Pemberian intramuskuler Intramuskuler artinya diantara jaringan otot. jarum suntik digunakan 1 samai 1 ½ inci. Penyuntikan dapat di pinggul. Volume injeksi 1 samapi 3 ml dengan batas sampai 10 ml (PTM—volume injeksi tetap dijaga kecil.2. Cara ini keceparan absorbsinya terhitung nomor 2 sesudah intravena.

Volume pemberian dapat dimulai Dari 1 ml hingga 100 ml. Kelemahan cara ini adalah karena kerjanya cepat. . sedangkan untuk di atas 5 ml kecepatannya 1 ml / 20 detik. Kecepatan penyuntikan sampai 5 ml diberikan 1 ml / 10 detik. bahkan untuk infus dapat lebih besar dari 100 ml. maka pemberian antidotum mungkin terlambat.3. Pemberian intravena Penyuntikan langsung ke dalam pembuluh darah vena untuk mendapatkan efek segera.

oleh sebab itu harus pada posisi pasien tegak. Kedua pemberian ini mensyaratkan sediaan dengan kemurniaannya yang sangat tinggi.4.    Sediaan intraspinal anastesi biasanya dibuat hiperbarik yaitu cairannya mempunyai tekanan barik lebih tinggi dari tekanan barometer. Cairan sediaan akan bergerak turun karena gravitasi. Pemberian intrathekal-intraspinal Penyuntikan langsung ke dalam cairan serebrospinal pada beberapa tempat. karena dearah ini ada barier (sawar) darah sehingga daerahnya tertutup. .

dan intradermal. tetapi volume pemberian lebih kecil dan sc. dimana obat secara cepat diabsorbsi. Intradermal Capa penyuntikan melalui lapisan kulit superficial. 6. im.5. sc. . Sediaan intraperitoneal dapat juga diberikan secara intraspinal. Intraperitoneal Penyuntikan langsung ke dalam rongga perut. absorbsinya sangat lambat sehingga onset yang dapat dicapai sangat lambat.

. Digunakan untuk infeksi ssp seperti meningitis. Intratekal umumnya diinjeksikan secara langsung pada lumbar spinal atau ventrikel sehingga sediaan dapat berpenetrasi masuk ke dalam daerah yang berkenaan langsung pada SSP. Intratekal Digunakan khusus untuk bahan obat yang akan berefek pada cairan serebrospinal. juga untuk anestesi spinal.7.

karena pasien harus kembali melakukan pengobatan. Dapat dicapai efek fisisologis segera. Misal : tidak tahan asam lambung 3. Baik untuk penderita yang tidak memungkinkan mengonsumsi oral. Misal : Sakit jiwa/tidak sadar 4. Dapat diberikan untuk sediaan yang tidak efektif diberikan secara oral. . untuk kondisi penyakit tertentu. Pemberian parenteral memberikan kemungkinan bagi dokter untuk mengontrol obat. Misal : Jantung berhenti 2.Keuntungan sediaan parenteral: 1.

Sediaan parenteral dapat menimbulkan efek lokal seperti pada kedokteran gigi anestesiologi 6. .5. Pengobatan parenteral merupakan salah satu cara untuk mengoreksi gangguan serius cairan dan keseimbangan elektrolit.

Kerugian sediaan parenteral: 1. Pemberian sediaan parenteral harus dilakukan oleh personil yang terlatih dan membutuhkan waktu emeberian yang lebih lama. 2. . Pemberian obat secara parenteral sangat berkaitan dengan ketentuan prosedur aseptik dengan rasa nyeri pada lokasi penyuntikan yang tidak selalu dapat dihindari.

karena persyaratan manufacture dan pengemasan. 4.3. Bila obat telah diberikan secara parenteral. Harganya relatif lebih mahal. . sukar sekali untuk menghilangkan atau merunah efek fisiologisnya karena obat telah berada dalam sirkulasi sistemik.

. .Alasan obat dibuat sediaan parenteral: 1. Kadar obat sampai ke target Jumlah obat yang sampai ke jaringan target sesuai dengan jumlah yang diinginkan untuk terapi. onset. C maks. Parameter farmakologi Meliputi waktu paruh. 3. 2. Jaminan dosis dan kepatuhan Terutama untuk pasien-pasien rawat jalan.

Contoh: methotreksat. Efek biologis Efek biologis tidak dapat dicapai karena obat tidak bisa dipakai secara oral. 5. Dikehendaki efek lokal dengan menghindari efek atau reaksi toksik sistemik.4. Alternatif rute. 6. jika tidak bisa lewat oral. . Contoh: amphoterin B (absorbsi jelek) dan insulin (rusak oleh asam lambung). penggunaan secara intratekal untuk pengobatan leukimia.

7. Inbalance (cairan badan dan elektrolit) Contoh: muntaber serius. 9. atau tidak bisa dikontrol 8. Efek lokal yang diinginkan Contoh: anestesi lokal . Kondisi pasien Untuk pasien-pasien yang tidak saar. sehingga kekurangan elektrolit yang penting dan segera harus dikembalikan. tidak kooperatif.

Untuk obat yang sukar larut dapat dibuat dalam bentuk suspensi atau dengan kosolvens. Kelarutan obat dan volume injeksi Kelarutan obat akan berpengaruh pada volume injeksi. Water-Miscible solvent (solven yang campur dengan air) c. 2. Water : Air ada spesifikasi khusus b. jika mudah larut mak volume yang diberikan kecil.Faktor-faktor Farmasetik Yang Berpengaruh Pada Penggunaan Parenteral: 1. Water-immiscible solvent (solven yang tidak campur dengan air) . Karakteristik bahan pembawa a.

Contoh: injeksi aminofilin dibuat sangat basa karena pada kondisi asam akan terurai.3. Kalau bisa pH sama dengan pH darah. pH dan osmolalitas injeksi a. tergantung pada stabilitas obat. . Isohidris yaitu pH larutan sama dengan pH darah. tapi tidak selalu. Dalam pembuatan ditambahkan etilendiamin untuk menaikkan kelarutan dari aminofilin.

b. Di luar isotonis disebut paratonis. Pada hipotonis. Isotonis yaitu tekanan osmosis larutan sama dengan tekanan osmosis cairan tubuh. cairan masuk ke tubuh dan masuk ke sel darah merah. meliputi: hipotonis dan hipertonis. 1)Hipotonis yaitu tekanan osmosis larutan lebih kecil dari tekanan osmosis cairan tubuh. sehingga sel darah merah bisa pecah (irreversibel). .

Air kan mengalir keluar dari sel darah sehinggga sel mengkerut (krenasi).2) Hipertonis yaitu tekanan osmosis larutan lebih besar dari tekanan osmosis cairan tubuh. bersifat reversibel. .

seperti waktu onset.Indikasi pemakaian rute parenteral 1. Untuk mencapai parameter farmakologi tertentu yang terkontrol. serum peak. Menyampaikan penyampaian konsentrasi obat yang mencukupi ke bagian tubuh/jaringan sakit. kecepatan eliminasi obat dari dalam tubuh. 2. . Untuk pasien yang tidak bisa melakukelf medicate 4. 3. Untuk mendapatkan efek biologik yang tidak didapatkan melalui pemakaian oral.

5. 7. tidak kooperatif. tidak terkontrol. Untuk mendapatkan efek lokal. 6. untuk meminimalkan efek toxic sistemik. Untuk alternatif bila rute yang diharapkan (oral) tidak tersedia. 8. Untuk pasien yang tidak sadar. Untuk mendapatkan efek lokal yang diharapkan. .