You are on page 1of 46

BAB I

PENDAHULUAN

A. LatarBelakang
Masalah gangguan jiwa di seluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang
sangat serius. Skizofrenia merupakan salah satu gangguan kesehatan jiwa yang menjadi
perhatian dan dikategorikan dalam gangguan psikis yang paling serius karena dapat
menyebabkan menurunnya fungsi manusia dalam melaksanakan aktivitas kehidupan
sehari-hari seperti kesulitan dalam merawat diri sendiri, bekerja atau bersekolah,
memenuhi kewajiban peran, dan membangun hubungan yang dekat dengan seseorang
(Jeste & mueser, 2008).
Beberapa pendapat tentang pengertian skizofrenia yaitu menurut Gunadi,
skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, “schizein” yang berarti “terpisah” atau “pecah”,
dan “phren” yang artinya “jiwa”. Pada skizofrenia terjadinya pecahnya atau ketidak
serasian antara afeksi, kognitif dan perilaku. Jadi, skizofrenia mengacu kepada
pepecahan ego - aspek rasional dalam jiwa - sehingga penderitanya tidak lagi dapat
membedakan antara alam khayal dan alam riil.
Menurut catatan tak resmi Kementerian Kesehatan saat ini sedikitnya terdapat
20.000 kasus pemasungan akibat penyakit jiwa di seluruh Indonesia. Ditambahkan, data
riset kesehatan dasar (riskesdas) tahun 2013, proporsi keluarga yang pernah memasung
klien gangguan jiwa berat adalah 14,3 persen dan terbanyak pada penduduk yang
tinggal di perdesaan (18,2%), serta pada kelompok penduduk dengan kuintil indeks
kepemilikan terbawah (19,5%). Tentu dengan melihat fakta seperti ini sangat ironis
ditengah masyarakat Indonesia yang masih menjunjung tinggi keberadaban.
Insidensi terjadinya skizophrenia adalah 20 dari 100,000 kasus per tahun dengan
2 milion kasus baru dijumpai setiap tahun di seluruh dunia. Kasus skizophrenia paling
sering dijumpai antara 15 – 35 tahun dan ratio antar perempuan dan laki – laki 1:1,
dimana laki – laki mempunyai onset lebih awal. Studi menunjukkan bahwa genetika,
lingkungan awal, neurobiologi, proses psikologis dan sosial merupakan faktor
penyumbang penting. Diagnostic and Statistical manual of Mental Disorders Fourth

1

Edition Text Revised ( DSM-IV-TR) membagi skizofrenia atas sub type secara klinik,
berdasarkan kumpulan simtom yang paling menonjol; tipe katatonik, tipe disorganized,
tipe paranoid dan tipe tak terinci ( undifferentiated).
Skizofrenia tak terinci (undifferentiated)

adalah skizofrenia dengan adanya

gambaran simtom fase aktif tetapi tidak sesuai dengan criteria untuk skizofrenia
katatonik, disorganized

atau paranoid.

Atau semua

criteria

untuk skizofrenia

katatonik, disorganized dan paranoid terpenuhi. Menurut Arif schizophrenia tak terinci
merupakan sejenis schizophrenia dimana gejala-gejala yang muncul sulit untuk
digolongkan pada tipe schizophrenia tertentu. Schizophrenia tak terinci dikarakteristik
dengan perilaku yang disorganisasi dan gejala- gejala psikosis yang mungkin memenuhi
lebih dari satu tipe kelompok kriteria, klien schizophrenia tak terinci merupakan
gangguan jiwa yang memenuhi kriteria umum schizophrenia tetapi tidak memenuhi
kriteria untuk memenuhi kriteria residual atau depresi pasca schizophrenia.
Schizophrenia tak terinci (undifferentiated) didiagnosis dengan memenuhi kriteria
umum untuk diagnosa schizophrenia, tidak memenuhi kriteria untuk schizophrenia
paranoid, hebefrenik, katatonik dan tidak memenuhi kriteria untuk schizophrenia tidak
terinci atau depresi pasca schizophrenia.
Fenomena

ini

membuat

mahasiswa

tertarik

untuk

mempelajari

dan

membahasnya lebih dalam dengan mengenali cirri khas dari skizofenia tak terinci, serta
membuat dalam bentuk rencana atau tindakan asuhan keperawatan baik dalam bentuk
pendidikan kesehatan didalam keluarga klien maupun dalam memenuhi kebutuhan
dasar manusia di tempat pelayanan dan Rumah Sakit Jiwa.
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Mampu memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif pada pasien
dengan skizoferinia dengan berbagai tipe.
b. Tujuan Khusus
a. Mengetahui konsep teori skizofrenia tak terinci
b. Mengetahui tindakan asuhan keperawatan pada pasien skizofrenia tak
terinci

2

BAB II
KONSEP TEORI
I. SCHIZOFRENIA
A. Definisi
Kata skizofrenia terdiri dari dua kata, yaitu skhizein = spilit = pecah dan
phrenia = mind = pikiran. Jadi skizofrenia adalah gangguan psikotik yang sifatnya
merusak, melibatkan gangguan berfikir, persepsi, pembicaraan, emosional, dan
gangguan perilaku. Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindrom dengan variasi
penyebab dan perjalanan penyakit yang luas, serta sejumlah akibat tergantung
pada pertimbangan pengaruh genetik dan sosial budaya (Rusdi Maslim, 2000: 46).
Menurut PPDGJ III, skizofrenia adalah sekelompok gangguan psikotik
dengan gangguan dasar pada kepribadian, distorsi khas pada proses pikir, kadangkadang mempunyai perasaan bahwa dirinya sedang dikendalikan oleh kekuatan
dari luar, waham yang kadang-kadang aneh, gangguan persepsi, afek abnornal
yang tak terpadu, dengan situasi nyata yang sebenarnya, dan autisme.
Sedangkan dalam DSM-IV dan DSM-IV-TR, skizofrenia didefinisikan
sebagai sekelompok ciri dari gejala positif dan negatif; ketidakmampuan dalam
fungsi sosial, pekerjaan ataupun hubungan antar pribadi dan menunjukan terus
gejala-gejala ini selama paling tidak 6 bulan. Sebagai tambahan, gangguan
skizoafektif dan gangguan afek dengan gejala psikotik tidak didefinisikan sebagai
skizofrenia dan juga skizofrenia tidak disebabkan oleh karena efek langsung
karena psikologi dari zat atau kondisi medis.
Menurut Eugen Bleuler (Maramis, 1998: 217) Skizofrenia adalah suatu
gambaran jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara
proses pikir, perasaan dan perbuatan.

3

B. Etiologi
Dengan beragamnya presentasi gejala dan prognostik, maka tidak ada
faktor etiologi yang dianggap kausatif. Oleh karena itu terdapat berbagai
penyebab, antara lain:
1. Model Diatesis Stress.
Merupakan model yang sering di gunakan. Model ini mengemukakan
bahwa seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diatesis).
Apabila hal tersebut dipengaruhi oleh stressor baik biologis, genetik,
psikososial, dan lingkungan akan menimbulkan perkembangan gejala
skizofrenia.
2. Faktor Biologis
Area otak utama yang terlibat dalam skizofrenia adalah sistem limbik,
ganglia basalis, lobus frontalis. Sistem limbik berfungsi mengendalikan
emosi. Pada skizofrenia terjadi penurunan daerah amigdala, hipokampus
dan girus parahipokampus. Jika fungsi ini terganggu maka akan
menimbulkan gejala skizofrenia yaitu terjadi gangguan emosi. Ganglia
basalis berkaitan dengan pengendali pergerakan. Pada pasien dengan gejala
skizofrenia memperlihatkan pergerakan yang aneh, seperti gaya berjalan
yang kaku, menyeringaikan wajah dan stereotipik. Selain itu ganglia basalis
berhubungan timbal balik dengan lobus frontalis sehingga jika terjadi
kelainan pada area lobus frontalis maka akan mempengaruhi fungsi ganglia
basalis.
3. Genetik
Telah banyak penelitian yang memastikan bahwa pengarus genetik sangat
besar pada pasien skizofrenia. Kembar monozigot memiliki angka
kesesuaian yang tertinggi. Penelitian yang mutakhir telah menemukan
bahwa pertanda kromosom yang berhubungan dengan skizofrenia adalah
kromosom 5,11 dan 18 pada bagian lengan panjang dan kromosom 19 pada
bagian lengan pendek, dan yang paling sering dilaporkan adalah terjadi pada

4

Waham dikendalikan (delusion of control). Tanda Dan Gejala Schizofrenia Tanda dan gejala skizofrenia menurut Maslim (2000: 46) adalah sebagai berikut: 1. Perasaan kebesaran dapat mencerminkan narsisme yang direaktivasi dimana orang percaya bahwa mereka adalah maha kuasa. 3. 4. Though echo: isi pikiran dirinya yang berulang atau berguna dalam kepalanya dan isi pikiran ulangan. Teori Psikodinamik Dasar dari teori dinamika adalah untuk mengerti dinamika pasien dan untuk mengerti makna simbolik dari gejala. persepsi terhadap mistik (delusional perception). Teori Psikoanalitik Teori psikoanalitik mengemukakan bahwa gejala skizofrenia mempunyai arti simbolik bagi pasien individual. Thought broadcasting: isi pikirnya keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya. Though isertion atau withdrawl: isi pikiran asing dari luar masuk ke dalam pikirannya oleh sesuatu dari luar dirinya.kromosom X. Teori ini menganggap bahwa hipersensitivitas terhadap stimuli persepsi yang didasarkan secara kontitusional sebagai suatu defisit. Faktor Psikososial a. waham dipengaruhi (delsion of influence). 2. Pendekatan psikodinamika berdasar bahwa gejala psikotik punya arti pada skizofrenia. Misalnya. fantasi tentang dunia akan berakhir mungkin menyatakan suatu perasaan bahwa dunia internal seseorang telah mengalami kerusakan. b. Halusinasi 5 . C. walaupun isinya sama namun kualitasnya berbeda. waham ketidakberdayaan (delision of passivity). Pada skizofrenia kromososm-kromosom ini mengalami kelainan yaitu saat mengkode dapat terjadi kekacauan seprti translokasi.

Gangguan proses pikir (bentuk. atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa. sikap malas. bicara yang jarang dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar. Arus pikir yang terputus atau yang mengalami sisipan. yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan. b. tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan dan selalu memberikan alasan meskipun alasannya tidak tepat. biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial. dan isi pikir) Dimana terjadi gangguan baik pada bentuk. 8. Gejala-gejala negatif seperti sikap apatis. dan penarikan diri secara sosial. Waham menetap jenis lainnya. bermanifestasi sebagai hilangnya minat. Perilaku katatonik 7. Gangguan kemauan Dalam hal ini klien tidak dapat mengambil keputusan. kadang klien melamin berhari-hari lamanya 6 . Gangguan memori d. c. hidup tak bertujuan. yaitu: 1. Gangguan afek dan emosi Kadangkala efek dan emosi sehingga klien menjadi acuh tak acuh. 5.4. 6. Terdapat dua hal yang berlawanan yang terjadi secara bersamaan akibat dari kepribadian yang terpecah belah. arus maupun isi pikiran. sikap larut dalam diri sendiri. Menurut Bleurer. langkah. yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan mustahil. misalnya mencintai dan membenci orang yang sama. gejala skizofrenia dibagi dua. Terdapat asosiasi longgar maupun inkoheren. misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu. Gejala primer a. Adanya suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam suatu keseluruhan dari beberapa aspek perilaku pribadi.

Gejala sekunder a. Patofisiologi Patofisiologi skizofrenia melibatkan sistem dopaminergik dan serotonergik. Gejala psiomotor / gejala katatonik gangguan perbuatan 1) Katatonik Adalah suatu sikap yang selalu bergerak dan gelisah. D. atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. 3) Stereotipi Adalah melakukan-melakukan suatu gerakan atau sikap yang berulang-ulang sedangkan stereotipi pada pebiraan disebut Verbigerasi. hal disebabkan oleh halusinasi yang tidak mengijinkan bila dia bicara. b. Waham Sering tidak logis sama sekali. kadang-kadang halusinasi penciuman. turunnya nilai ambang. Skizofrenia terjadi akibat dari peningkatan aktivitas neurotransmitter dopaminergik. Peningkatan ini mungkin merupakan akibat dari meningkatnya pelepasan dopamine. klien beranggapan bahwa hal tersebut merupakan suatu fakta sehingga tidak bisa diubah oleh siapapun. 2. dll. Paling sering adalah halusinasi pendengaran. Halusinasi Timbul tanpa penurunan kesadaran. dinama perilaku ini erat kaitannya dengan austisme dan stupor katatonik. atau hipersentivitas reseptor dopamine. 2) Mutisme Adalah suatu sikap dimana penderita tidak mau bicara. 7 . terlalu banyaknya reseptor dopamine.bahkan berbulan-bulan. e.

4. Jalur tuberoinfendibular: dari hipotalamus ke kelenjar pituitary à pelepasan prolaktin. Jalur nigrostriatal: dari substansia nigra ke basal gangliaà fungsi gerakan. sikap. fungsi sosial. penurunan ukuran otak. Hipodopaminergia pada sistem meso kortis dan nigrostriatalà bertanggungjawab terhadap gejala negatif dan gejala ekstrapiramidal. respons terhadap stress. Disfungsi glutamatergik adalah saluran glutamatergic berinteraksi dengan saluran dopaminergik. metabolism protein. Pada pasien skizofrenia terjadi hiperaktivitas sistem dopaminergik 2. Abnormalitas Serotonin (5-HT) merupakan pasien skizofrenia dengan scan otak yang abnormal memiliki konsentrasi 5-HT darah yang lebih tinggi. proses stimulus. 8 .Peningkatan ukuran ventrikular. Hipotesis/teori tentang patofisiologi skizofrenia: 1. komunikasi. dan asimetri otak telah dilaporkan. Penelitian molekuler yang melibatkan perubahan halus dalam protein-G. Kelainan primer dapat terjadi dalam satu neurotransmitter dengan perubahan sekunder dalam neurotransmitter lainnya. kesadaran. Penurunan ukuran hipokampus mungkin berhubungan dengan penurunan uji neuropsikologi dan respon yang lebih buruk terhadap antipsikotik generasi pertama (FGAs). Jalur dopaminergik saraf: 1. dan proses subselular lainnya mungkin mengidentifikasi gangguan biologis dalam skizofrenia. Jalur mesokortikal: dari tegmental area menuju ke frontal cortex à kognisi.atau hipoaktivitas dari proses dopaminergik pada daerah otak tertentu. EPS 2. 3. Hiperdopaminegia pada sistem meso limbikà berkaitan dengan gejala positif 3. Hipotesa dopaminergik adalah psikosis dapat berasal dari hiper. Kekurangan aktivitas glutamatergic menghasilkan gejala-gejala mirip dengan hiperaktif dopaminergik dan mungkin yang terlihat pada skizofrenia. Jalur mesolimbik: dari tegmental area menuju ke sistem limbik à memori.

Pohon Masalah Perilaku Kekerasan Perubahan persepsi sensori: Halusinasi Isolasi sosial: menarik diri Harga diri rendah Kemauan menurun Penampilan diri terganggu Defisit perawatan diri 9 .Gambar Otak normal dan otak yang mengalami schizophrenia: E.

Sebagai akibatnya episode psikosis dapat ditandai oleh adanya kesenjangan yang semakin besar antara individu dengan lingkungan sosialnya 3. Awal munculnya skizofrenia dapat terjadi setelah melewati suatu periode yang sangat panjang. Fase-Fase Schizofrenia Perjalanan berkembangnya skizofrenia sangatlah beragam pada setiap kasus. secara umum melewati tiga fase utama. 10 . Oleh karena itu. serta mencakup paling sedikit dua gejala dari kriteria A pada kriteria diagnosis skizofrenia. dan tidak disebabkan oleh gangguan afek atau akibat gangguan penggunaan zat. yaitu fase prodromal. sebelum fase aktif gejala gangguan.Faktor predisposisi dan presipitasi Koping keluarga/individu tidak efektif Kegagalan perpisahan/kehilangan F. fase aktif gejala dan fase residual. Sebagian besar penderita gangguan skizofrenia memiliki kelainan pada kemampuannya untuk melihat realitas. Fase prodromal Fase prodromal ditandai dengan deteriorasi yang jelas dalam fungsi kehidupan. yaitu ketika seorang individu mulai menarik diri secara sosial dari lingkungannya 2. Fase aktif gejala Fase aktif gejala ditandai dengan munculnya gejala-gejala skizofrenia secara jelas. Namun. tantangan terapi saat ini adalah untuk mengurangi dan mencegah terjadinya kekambuhan. Fase residual Fase residual terjadi setelah fase aktif gejala paling sedikit terdapat dua gejala dari kriteria A pada kriteria diagnosis skizofrenia yang bersifat mentap dan tidak disebabkan oleh gangguan afek atau gangguan penggunaan zat. 1. Dalam perjalanan gangguannya beberapa pasien skizofrenia mengalami kekambuhan hingga lebih dari lima kali.

Bayi kembar dua telur : 2-15% f.8% b. 3. Faktor-Faktor Penyebab Schizofrenia 1. Bayi kembar satu telur : 61-86% 2. kehamilan ataupun purperium dan fase klimakterium.G. Faktor Keturunan Dari hasil penelitian dibuktikan mengenai prosentasi angka kesakitan pada keluarga Schizofrenia. Saudara tiri : 0. Faktor Metabolisme 11 .Bila kedua orang tuanya menderita Schizofrenia : 40-60% e. a. Bagi anak yang salah satu orang tuanya menderita Schizofrenia: 7-15% d. Faktor Endokrin Teori ini dikemukakan berhubungan dengan angka kejadian Schizofrenia yang sering pada waktu pubertas.9-1.Saudara kandung : 7-15% c.

Hal ini atas dasar keadaan penderita Schizofrenia yang tampak pucat. gangguan endokrin (ginekomastia) biasanya pada pemakaian jangka panjang. 3. Artan dll. Tipe Katatonik. 12 . Jenis-Jenis Schizofrenia Tipe skizofrenia dikelompokkan atas lima bagian yaitu: 1. Farmakoterapi Yaitu terapi dengan pemberian obat-obatan neuroleptika dosis tinggi. gangguan otonomik (hipotensi.Apa pendapat yang mengatakan bahwa Schizofrenia disebabkan oleh suatu gangguan proses metabolisme. terutama di simtem limbik dan sistem ekstrapiramidal (dopamin D2 reseptor antagonis). Penatalaksanaan Pengobatan pada skizofren sebenarnya tidak ada pengobatan yang spesifik untuk masing-masing subtipe skizofrenia. nafsu makan berkurang. Chlorpromazin termasuk obat psikotik tipikal yang mempunyai aktivitas memblokade dopamin pada reseptor pascasinaptik neuron di otak. Tipe Disorganisasi. kemampuan kognitif menurun). sindrom Parkinson). Dewasa ini teori metabolisme mendapat perhatian lagi berhubungan dengan telah dilakukan terhadap pemakian obat halusinogenik dapat menyebabkan gejala yang mirip dengan gelah Schizofrenia tetapi revesible. Adalah beberapa macam terapi yang dapat dilakukan dirumah sakit jiwa. stelasin. antikolinergik). Pengobatan hanya dibedakan berdasarkan gejala apa yang menonjol pada pasien. antara lain: 1. 5. H. Efek samping dapat berupa sedasi dan inhibisi psikomotor (mengantuk. 4. Tipe Residual. I. berat badan yang menurun. ganguan ekstrapiramidal (distonia akut. Tipe Paranoid. lemah dan ujung extremitasnya agak cyanosis. seperti Klorpremazine. Tipe Tak Terperinci atau tak terbedakan. 2.

ECTs Terapi Terapi jenis ini belum diketahui cara kerjanya secara pasti. tidak hanya kelainan psikologikal.Halloperidol untuk menghilangkan gejala psikotik berupa halusinasi. 7. prosentase kesembuhan lebih besar bila pengobatan dimulai dalam waktu 6 bulan sesudah penderita jatuh sakit. terapi keluarga. terapi agama dll. Namun penelitian menemukan bahwa intervensi psikisosial dapat memperkuat perbaikan klinis karena skizofrenia termasuk kategori penyakit otak. Trihexaperidil digunakan untuk memperbaiki sosialisasi pada pasien. 6. Sebagian besar pasien skizofrenia mendapatkan manfaat dari pemakaian kombinasi pengobatan 13 . Inti terapi skizofrenia adalah medikasi antipsikotik. namun ada yang berpendapat bahwa ECT dapat memperpendek lamanya serangan. Okupasi terapi Yaitu terapi yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas klien. terapi rekreasi. Terapi lain Misalnya terapi psikomotor. Yang kesemuanya itu mempunyai efek terapi yang dapat memperbaiki tingkah laku klien. 3. mengurangi ketidak normalan atau meningkatkan derajat kesehatan. Psikoterapi Yang dimaksud disini adalah psikoterapi suportif individual atau kelompok serta bimbingan yang praktis dengan maksud untuk mengembalikan klien ketengah masyarakat. 4. Terapsi koma insulin Meskipun pengobatan ini tidak khusus tetapi hasilnya lebih memuaskan. 2. Rehabilitasi Yaitu suatu fungsi refungsional dan pengembangan bagi klien gangguan jiwa agar mampu melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dan optimal dalam kehidupan ditengah-tengah masyarakat. Modalitas psikososial harus diintegrasikan secara cermat ke dalam regimen terapi obat dan harus mendukung regimen tersebut. 5. terapi tingkah laku.

Menurut Arif schizophrenia tak terinci merupakan sejenis schizophrenia dimana gejala-gejala yang muncul sulit untuk digolongkan pada tipe schizophrenia tertentu. Psikoterapi keluarga.antipsikotik dan psikososial. disorganized atau paranoid. 5. SCHIZOFRENIA TAK TERINCI A. tidak memenuhi kriteria untuk schizophrenia paranoid. 4. Skizofrenia Tak Terinci adalah suatu tipe yang seringkali dijumpai pada skizofrenia. Definisi Skizofrenia tak terinci (undifferentiated) adalah skizofrenia dengan adanya gambaran simtom fase aktif tetapi tidak sesuai dengan kriteria untuk skizofrenia katatonik. Menggunakan obat antipsikotik (atipikal atau tipikal) dengan pengawasan. Memotivasi untuk meningkatkan semangat agar pasien tetap pada pendiriannya untuk berubah. Terapi kognitif dan perilaku untuk mengurangi waham dan halusinasi. pemantauan.gejala psikosis yang mungkin memenuhi lebih dari satu tipe/ kelompok kriteria. 3. Atau semua kriteria untuk skizofrenia katatonik. II. disorganized dan paranoid terpenuhi. Schizophrenia tak terinci dikarakteristik dengan perilaku yang disorganisasi dan gejala. klien schizophrenia tak terinci merupakan gangguan jiwa yang memenuhi kriteria umum schizophrenia tetapi tidak memenuhi kriteria untuk memenuhi kriteria residual atau depresi pasca schizophrenia. Terapi kombinasi (Integrated Approach) dalam menagani pasien skizofrenia antara lain: 1. Pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam salah satu tipe dimasukkan dalam tipe ini. Penelitian mengindikasikan terapi kombinasi lebih baik untuk mencegah kekambuhan dari pada pengobatan yang hanya menggunakan satu jenis terapi (pengunaan obat. 14 . dan program rehabilitasi). 2. Schizophrenia tak terinci (undifferentiated) didiagnosis dengan memenuhi kriteria umum untuk diagnosa schizophrenia. Rehabilitasi berbasis pada lingkungan dan latihan ketrampilan sosial.

Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid. Kriteria Diagnostik A: 15 . Tanda dan Gejala Skizofrenia tak terinci umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari persepsi serta efek yang tak wajar. yaitu: 1. Halusinasi yang menetap yang disertai dengan waham yang mengembang. hebefrenik. Gejala-gejala seperti sikap apatis. Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia. C. 3. atau katatonik. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia 2. bicara yang jarang dan cenderung menarik diri. Klien dengan skizofrenia paling sedikit dua gejala dibawah ini yang terus ada secara jelas yaitu: 1. B. katatonik dan tidak memenuhi kriteria untuk schizophrenia tidak terinci atau depresi pasca schizophrenia. Perilaku katatonik seperti gaduh dan gelisah 4. terdisorganisasi atau katatonik. Arus pikir yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan 3.hebefrenik. Kriteria diagnostic menurut DSM-IV yaitu: Suatu tipe skizofrenia di mana ditemukan gejala yang memenuhi kriteria A tetapi tidak memenuhi kriteria untuk tipe paranoid. Kriteria Diagnostik PPDGJ III mengklasifikasikan pasien sebagai tipe tidak terinci dengan kriteria diagnostic. kesadaran yang jernih dan kemauan yang intetelektual biasanya tetap terpilihara walaupun kemunduran kongitif tertentu dapat berkembang. 2.

gejala ”positif” lebih menonjol. pendataran afektif. D. atau dua atau lebih suara yang saling bercakap satu sama lainnya. Chlorpromazin.a. Halusinasi d. Gejala karakteristik: dua atau lebih berikut. Bicara terdisorganisasi (misalnya sering menyimpang atau inkoheren) e. Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas f. Contohnya. maka pengobatan yang disarankan kepada pasien obat-obat antipsikotik golongan tipikal yang dapat memblokade dopamin pada reseptor pascasinaptik neuron di otak. Gejala negative yaitu. 16 . Waham c. Penatalaksanaan Pada skizofrenia tak terinci. alogia atau tidak ada kemauan(avolition) Catatan: hanya satu gejala kriteria A yang diperlukan jika waham adalah kacau atau halusinasi terdiri dari suara yang terus menerus mengkomentari perilaku atau pikiran pasien. masing – masing ditemukan untuk bagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika diobati dengan berhasil): b.

fisik dan social budaya. Skizofrenia tak terinci merupakan suatu tipe yang seringkali dijumpai pada skizofrenia. Kriteria diagnostic menurut DSM-IV yaitu suatu tipe skizofrenia di mana ditemukan gejala yang memenuhi kriteria tetapi tidak memenuhi criteria untuk tipe paranoid. kedua fase prodronal dan ketiga fase psikotik yang terdiri dari fase akut. atau katatonik. tidak memenuhi criteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia. Kesimpulan Skizofrenia adalah merupakan suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab dan perjalanan penyakit yang luas. fase premorbid. PPDGJ mengklasifikasikan pasien tersebut sebagai tipe tidak terinci. Kriteria diagnostic untuk mengelompokkan gejala digunakan PPGDJIII dan DSM-IV. Pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah dimasukkan kedalam salah satu tipe dimasukkan dalam tipe ini. tidak memenuhi criteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid. stabilisasi dan stabil. paranoid. hebefrenik. 17 . Tipe-tipe skizofrenia terdiri dari katatonik. terdisorganisasi atau katatonik. serta sejumlah akibat yang bergantung pada pertimbangan pengaruh genetik. factor psiko edukatif dan faktor social budaya. Terdapat beberapa teori penyebab terjadinya skizofrenia namun yang yang paling utama adalah factor neurobiologi. Kriteria diagnostic menurut PPDGJ III yaitu memenuhi criteria umum diagnosis skizofrenia. Fase perjalanan skizofrenia terdiri dari 3 fase.BAB III PENUTUP A. Gejala utama skizofrenia terbagi kepada gejala positif. Pertama. hebefrenik dan tak terinci. gejala negative dan gejala psiko patalogi umum.

Undang-undang ini tentu memiliki pengaruh yang cukup signifikan jika benar-benar diterapkan. Mari kitahidupberdampingan dan tetap mendukungnya untuk terus berobat &terapi. menemani ketika ke dokter. namun bukan berarti harus di kucilkan atau dicabut hak hidupnya sebagai manusia. namun juga dukungan sosial terhadap mereka pun menjadi penting dalam menentukan kesembuhan sang penderita. 18 . Jika pasien mempunyai skizofrenia dengan onset lambat. tahu stressor psikososial. Salam sejawat.Pengobatan skizofrenia adalah medikasi anti psikotik dan intervensi terapi psikososial. tentu kita juga memiliki andil besar terhadap masalah gangguan kejiwaan ini. Keberhasilan penanggulangan skizofrenia agar mencapai hasil yang diharapkan. membantu membersihkan rumah tangga dan pribadi. Dan yang terpenting adalah menghormatinya sebagai manusia yang memiliki hak untuk hidup. kita telah memiliki sebuah undang-undang yang menjamin upaya kesehatan ODGJ dan ODKM. yaitu UU No. juga perlu adanya keterlibatan pemerintah dalam hal ini dalam kaitannya dengan pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya perlakuan manusiawi kepada penderita skizofrenia. Dukungan seperti apa yang dibutuhkan oleh penderita skizofrenia? Tentu motivasi untuk melakukan terapi. Bukan saja memberikan obat-obatan melalui resep dari psikiater. jelas. walaupunkemungkinanuntukkembalimenjadi “normal” itusedikit. Penderita skizofrenia memang memiliki sebuah realitas sendiri. diperlukan dukungan dari keluarga. dengan memberikan pemahaman terhadap masyarakat dan anggota keluarga klien serta tindakan asuhan keperawatan yang tepat dan berkesinambungan mungkin akan sangat membantu menurunkan jumlah penderita. factor pencetus yang jelas. B. Kedua – dua pengobatan ini diberikan pada pasien untuk mendapatkan hasil yang efektif. baik dalam menciptakan suasana yang tidak menimbulakan stressor dari segi financial dan melibatkan individu dalam bersosialisasi. Saat ini. prognosis menjadi baik dengan dilakukan pengobatan. 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa. Saran Sebagai mahasiswa keperawatan.

(2007). Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Epidemiology and Risk Factors.M. Skizofrenia. Skizofrenia. p. FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA 19 . (2006). In: An Atlas of Schizophrenia. Stefan M.. Syamsulhadi dan Lumbantobing. 2001. Maslim R. (2001). Jakarta. (2005). Jakarta: EGC. Travis M. 3th edition. Jakarta: FK UI. FKUI dan WHO. Jakarta: penerbit CV Sagung Seto.S.DAFTAR PUSTAKA Sinaga BR. (2006). (2007). Keperawatan kesehatan mental psikiatri terintegrasi dengan keluarga untuk perawat dan mahasiswa keperawatan. (2006).. Goodman dan Gilman. Pendekatan holistik pada gangguan jiwa skizofrenia.46-50. memahami dinamika keluarga pasien.USA: The Parthenon Publishing Group. Isaac A. Model-model praktik keperawatan profesional jiwa (MPKP jiwa). Jakarta: Balai penerbit FKUI. Jakarta: EGC. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN JIWA DENGAN GANGGUAN SCHIZOFRENIA TAK TERINCI I. Dasar Farmakologi Terapi vol 1. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. (2007). Panduan belajar keperawatan kesehatan jiwa dan psikiatrik (terjemahan). (2001). Arif L. (2002). Murray R. Jakarta: FKUI. Jakarta: Penerbit Refika Aditama. Rasmun. Skizofrenia dan Diagnosis banding. Hawari D.

tempat pertemuan. ALASAN MASUK RUMAH SAKIT Tanyakan kepada klien / keluarga: 1. tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat. jam masuk. pekerjaan. keadaan saat ini. social (stressor di luar individu: pendidikan. tujuan. keluarga). panggilan klien. A. FAKTOR PRESIPITASI Faktor pencetus (penyebab langsung pasien dibawa ke rumah sakit). Usia dan No RM Lihat RM 3. Bisa biologis (gangguan otak.Setiap melakukan pengkajian. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG Dikaji kondisi saat masuk pertama kali di UGD (tanggal masuk. dipindah di ruang akut (berapa lama dirawat di ruang tersebut). B. tanda gejala di rumah). Apa yang menyebabkan klien / keluarga datang ke Rumah Sakit saat ini ? 2. waktu. penyebab masuk. IDENTITAS 1. psikologis (perasaan terhadap stressor). Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan Klien tentang : nama perawat. nama klien. Bagaimana hasilnya ? C. FAKTOR PREDISPOSISI 20 . tanda dan gejala yang ditemukan ketika di ruangan. panggilan perawat. Petugas kesehatan menuliskan sumber data yang didapat. Apa yang sudah dilakukan oleh keluarga mengatasi masalah ini ? 3. topik yang akan dibicarakan 2. D. ekonomi. putus obat). E.

pesikologi dan social.) yang pernah klien alami. kehilangan/ perpisahan/ kematian. kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal. trauma selama tumbuh kembang) Yang pernah dialami klien pada masa lalu 4. 1. seksual. Tanyakan kepada klien/keluarga tentang pengalaman yang tidak menyenangkan (kegagalan. Tanyakan kepada klien / keluarga apakah ada anggota keluarga Iainnya yang mengalami gangguan jiwa. trauma selama tumbang. 2. G.2. dan apakah dia dapat beradaptasi di masyarakat tanpa gejala – gejala gangguan jiwa dan sebaliknya apakah dapat beradaptasi tapi masih ada gejala – gejala tersebut. Biologi: apakah ada riwayat kejang. Tanyakan kepada Klien / keluarga apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu. Apakah klien pernah melakukan dan atau mengalami dan menyaksikan penganiayaan fisik. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data. kematian. kehilangan. jika ada beri tanda 21 . RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA 1. Jika klien pernah sebagai pelaku dan korban dan saksi ( 2 atau lebih ) tuliskan pada penjelasan. perpisahan. Apabila pada poin 1 ” ya ” maka tanyakan bagaimana hasil pengobatan sebelumnya. riwayat trauma kepala. 4 b.3. Beri penjelasan secara singkat dan jelas tentang kejadian yang dialami klien terkait No. a. penolakan dari lingkungan. F. RIWAYAT KESEHATAN SEBELUMNYA 1. riwayat menderita sakit panas yang tinggi pada masa tumbang ? Terjadi waktu umur berapa? Psikologis: pengalaman yang tidak menyenangkan yang dialami pasien selama fase perkembangan (kegagalan.Faktor yang mendukung terjadinya masalah meliputi biologi. 3.

1. 2. Buatlah genogram minimal tiga gcncrasi yang dapat menggambarkan hubungan klien dan keluarga. 3. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data yang ada. suhu. Apabila ada anggota keluarga lama yang mengalami gangguan jiwa maka tanyakan bagaimana hubungan klien dengan anggota keluarga tersebut. pengambilan keputusan dan pola asuh. Ukur dan observasi tanda-tanda vital : tekanan darah. Jelaskan masalah yang terkait dengan komunikasi. I.2. Ukur tinggi badan dan berat badan klien. Genogram a. 5. 3. 2. b. apakah ada keluhan fisik yang dirasakan oleh klien. pernapasan klien. bila ada beri tanda ” V ” di kotak ” ya ” dan bila ” tidak ” beri tanda ” V ” pada kotak tidak. PSIKOSOSIAL 1. Kaji Iebih lanjut sistem dan fungsi organ dan jelaskan sesuai dengan keluhan yang ada. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data. nadi. H. PEMERIKSAAN FISIK Pengkajian fisik difokuskan pada sistem dan fungsi organ. Konsep diri 22 . Tanyakan apa gejala yang dialami serta riwayat pengobatan dan perawatan yang pernah diberikan pada anggota keluarga tersebut. 4. c. Tanyakan kepada klien/keluarga.

b. d.  Hubungan klien dengan orang lain sesuai dengan kondisi no. 2 a. sekolah.  Kepuasan klien terhadap status dan posisinya (sekolah. c. Harga diri : Tanyakan. masyarakat)  Harapan klien terhadap penyakitnya e.  Tugas/ peran yang diemban dalam keluarga/kelompok/ masyarakat  Kemampuan klien dalam melaksanakan tugas/ peran tersebut d. tempat kerja. tanyakan tentang  Status dan posisi klien sebelum dirawat.  Harapan terhadap tubuh.  Penilaian/ penghargaan orang lain terhadap diri dan kehidupannya. bagian tubuh yang disukai dan tidak disukai. tugas/peran.a. Peran: Tanyakan. posisi.  Harapan klien terhadap lingkungan (keluarga. c. Ideal diri : Tanyakan.  Kepuasan klien sebagai laki-Iaki/perempuan. status. keompok). Gambaran diri  Tanyakan persepsi klien terhadap tubuhnya. 3. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data. Identitas diri. Hubungan sosial 23 . tempat kerja. b. f.

 Pandangan masyarakat setempat tentang gangguan jiwa. Penampilan Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat / keluarga. a. STATUS MENTAL Beri tanda ” V ” pada kotak sesuai dengan keadaan klien boleh lebih dari satu. Tanyakan pada klien kelompok apa saja yang diikuti dalarn masyarakat. Tanyakan pada klien siapa orang yang berarti dalam kehidupannya. baju terbalik. tempatmengadu. c. Kegiatan ibadah : Tanyakan:  Kegiatan ibadah dirumah secara individu dan kelompok.a. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data J.  Pendapat klien/ keluarga tentang kegiatan ibadah. baju tidak diganti-ganti. minta bantuan atau sokongan. d Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data 4. Penampilan tidak rapih jika dari ujung rambut sampai ujung kaki ada yang tidak rapih. 24 . terhadap gangguan jiwa sesuai dengan norma budaya dan agama yang dianut. b. tempat bicara. c. kancing baju tidak tepat. Tanyakan pada klien sejauh mana ia terlibat dalam kelompok dimasyarakat. Nilai dan keyakinan : Tanyakan tentang:  Pandangan dan keyakinan. 1. resleting tidak dikunci. Spiritual a. Misalnya : rambut acak-acakan. b.

Tremor = jari. e. e. Aktivitas motorik Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat/ keluarga. Cara berpakaian tidak seperti biasanya jika. b. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data. Bila pembicaraan berpindah-pindah dari satu kalimat ke kalimat lain yang tak ada kaitannya beri tanda ” V ” pada kotak inkoheren. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data. c. 25 . jelaskan hal-hal yang tidak tercantum. Penggunaan pakaian tidak sesuai misalnya : pakaian dalam.gagap. Agitasi = gerakan motorik yang menunjukkan kegelisahan. b.b. tegang.jari yang tampak gemetar ketika klien menjulurkantangan dan merentangkan jari-jari. 2. berulang-ulang mencuci muka. keras. a. penggunaan pakaian tidak tepat (waktu. tempat. Jelaskann hal-hal yang ditampilkan klien dan kondisi lain yang tidak tercantum. 3. membisu. Lesu. f. mengeringkan tangan dan sebagainya. c. Grimasen = gerakan otot muka yang berubah-ubah yang tidak dapat dikontrol klien. situasi/ kondisi). dan mandi. Amati pembicaraan yang ditemukan pada klien. gelisah sudah jelas. Pembicaraan a. apatis dan atau lambat. identitas. Kompulsif = sepertiberulang kegiatan kali yang mencuci dilakukan tangan. dipakaidiluar baju. d. c. Tik = gerakan-gerakan kecil pada otot muka yang tidak terkontrol. apakah cepat. d. d.

putus asa. Sedih. e. Ketakutan = objek yang ditakuti sudah jelas. Masalah keperawatan ditulis sesuai data. 26 . Tidak sesuai = emosi yang tidak sesuai atau bertentangan dengan stimulus yang ada. Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat / keluarga. Bermusuhan. 6. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data. 5. Datar = tidak ada perubahan roman muka pada saat ada stimulus yangmenyenangkan atau menyedihkan. c. Labil = emosi yang cepat berubah-ubah. lnteraksi selama wawancara Data ini didapatkan melalui hasil wawancara dan observasi perawat dan keluarga a. Tumpul = hanya bereaksi bila ada stimulus emosi yang kuat. a. d. Alam perasaan. Jelaskan aktivitas yang ditampilkan klien dan kondisi lain yang tidak tercantum. b. gembira yang berlebihan sudah jelas b. c. h. Jelaskan hal-hal yang tidak tercantum. tidak kooperatif.g. Jelaskan kondisi klien yang tidak tercantum. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data. 4. e. d. f. a. Afek Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat/keluarga. mudah tersinggung sudah jelas. Khawatir = objeknya belum jelas.

kecuali penghidu sama dengan penciuman. 27 . dan klien tidak menyadarinya. gejala yang tampak pada saat klienberhalusinasi. Sirkumstansial : pembicaraan yang berbelit-belit tapi sampai pada tujuan pembicaraan. Curiga – menunjukan sikap/ perasaan tidak percaya pada orang lain e. Tangensial : pembicaraan yang berbelit-belit tapi tidak sampai pada tujuan. 7. f. Masalah keperawatan sesuai dengan data. Masalah keperawatan sesuai dengan data 8. frekuensi. c. b. Persepsi a. c. Perseverasi : pembicaraan yang diulang berkali-kali. d. d. f.b. Bloking : pembicaraan terhenti tiba-tiba tanpa gangguan eksternal kemudian dilanjutkan kembali. Kontak mata kurang – tidak mau menatap lawan bicara.yang meloncat dari satu topik ke topik lainnya. e. Kehilangan asosiasi : pembicaraan tak ada hubungan antara satu kalimat dengan kalitnat lainnya. c. Jenis-jenis halusinasi sudah jelas. Jelaskan isi halusinasi. b. masih ada hubungan yang tidak logis dan tidak sampai pada tujuan. Proses pikir Data diperoleh dari observasi dan saat wawancara a. Defensif – selalu berusaha mempertahankan pendapat dan kebenarandirinya. Jelaskan hal-hal yang tidak tercantum. Flight of ideas : pembicaraan.

 Curiga : klien mempunyai keyakinan bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha merugikan atau mencederai dirinya yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan. Hipokondria : keyakinan terhadap adanya gangguan organ dalam tubuh yang sebenarnya tidak ada. Jelaskan apa yang dikatakan oleh klien pada saat wawancara. a. g. Pikiran magis : keyakinan klien tentang kemampuannya melakukan halhal yang mustahil/ diluar kemampuannya. 9. h. e. f. orang atau lingkungan.  Somatik : klien mempunyai keyakinan tentang tubuhnya dan dikatakan secara berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan.  Agama : keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan dan diucapkan secara berulang tetapt tidak sesuai dengan kenyataan. 28 . Obsesi : pikiran yang selalu muncul walaupun klien berusaha menghilangkannya. d. Depersonalisasi : perasaan klien yang asing terhadap diri sendiri. lsi pikir Data didapatkan melalui wawancara. Phobia : ketakutan yang phatologis/ tidak logis terhadap objek/ situasi tertentu. c. b.  Kebesaran : klien mempunyai keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuannya yang disampaikan secara berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan.g. Ide yang terkait : keyakinan klien terhadap kejadian yang terjadi lingkungan yang bermakna dan terkait pada dirinya. Masalah keperawatan sesuai dengan data. Waham.

c. Stupor : gangguan motorik seperti kekakuan. tampak bingung dan kacau. tapi klien mengerti semua yang terjadi dilingkungan. orang) diperoleh melalui wawancara. 29 . orientasi klien (waktu. Masalah keperawatan sesuai dengan data. tempat. h.  siar pikir : klien yakin bahwa orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan walaupun dia tidak menyatakan kepada orang tersebut yang dinyatakan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan. stupor diperoleh melalui observasi. Nihilistik : klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/ meninggal yang dinyatakan secara berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan. tempat. Sedasi : mengatakan merasa melayang-layang antara sadar/ tidak sadar. Bingung . gcrakan-gerakan yang diulang. Jelaskan data objektif dan subjektif yang terkait hal-hal diatas. a. Tingkat kesadaran Data tentang bingung dan sedasi diperoleh melalui wawancara dan observasi. Waham yang bizar  Sisip pikir : klien yakin ada ide pikiran orang lain yang disisipkan didalam pikiran yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan. Orientasi waktu. i. orang jelas e. d.  Kontrol pikir : klien yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari luar. Jelaskan apa yang dikatakan oleh klien pada saat wawancara. 10. b. anggota tubuh klien dapat dikatakan dalam sikap canggung dan dipertahankan klien.

Kemampuan penilaian 30 . Tingkat konsentrasi dan berhitung Data diperoleh melalui wawancara a. Masalah keperawatan sesuai data. Jelaskan sesuai dengan data terkait. e. c. f. Gangguan daya ingat jangka panjang : tidak dapat mengingat kejadian yang terjadi lebih dari satu bulan b. g. c. 13. Gangguan daya ingat saat ini : tidak dapat mengingat kejadian yang baru saja terjadi. d. Memori. Konfabulasi : pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan dengan memasukan cerita yang tidak benar untuk menutupi gangguan daya ingatnya. Masalah keperawatan sesuai dengan data 12. Jelaskan sesuai dengan data terkait. Gangguan daya ingat jangka pendek : tidak dapat mengingat kejadian yang terjadi dalam minggu terakhir. Tidak mampu berhitung : tidak dapat melakukan penambahan/ pengurangan pada benda-benda nyata. Mudah dialihkan : perhatian klien mudah berganti dari satu objek ke objek lain. Data diperoleh melalui wawancara a. Masalah keperawatan sesuai dengan data. Jelaskan apa yang dikatakan oleh klien pada saat wawancara 11. b. Tidak mampu berkonsentrasi : klien selalu minta agar pertanyaan diulang/ tidak dapat menjelaskan kembali pembicaraan.f. e. d.

Masalah keperawatan sesuai dengan data. klien dapat mengambil keputusan. Contoh : berikan kesempatan pada klien untuk memilih mandi dulu sebelum makan atau makan dulu sebelum mandi. Jika diberi penjelasan klien masih tidak mampu mengambil keputusan. d. Gangguan kemampuan penilaian bermakna : tidak mampu mengambil keputusan walaupun dibantu orang lain. Menyalahkan hal-hal diluar dirinya : menyalahkan orang lain/ lingkungan yang menyebabkan kondisi saat orang lain/ lingkungan yang menyebabkan kondisi saat ini. Jika diberi penjelasan. c. Makan 31 . b. 14. Gangguan kemampuan penilaian ringan: dapat mengambil keputusan yang sederhana dengan bantuan orang lain.a. Contoh : berikan kesempatan pada klien untuk memilih mandi dulu sebelum makan atau makan dulu sebelum mandi. Daya tilik diri Data diperoleh melalui wawancara. Mengingkari penyakit yang diderita : tidak menyadari gejala penyakit (perubahan fisik. c. Masalah keperawatan sesuai dengan data K. b. Jelaskan sesuai dengan data terkait. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG 1. emosi) pada dirinya dan merasa tidak perlu pertolongan. Jelaskan dengan data terkait d. a.

macam (suka/ tidak suka/ pantang) dan cara makan. Observasi kemampuan klien dalam mengambil.a. menggunakan dan membersihkan WC b. Persiapan sebelum tidur seperti: menyikat gigi. lstirahat dan tidur Observasi dan tanyakan tentang: a. Mandi a. seperti: merapikan tempat tidur. Lama dan waktu tidur siang / tidur malam b. BAB/BAK. jumlah. cukur (kumis. Observasi dan tanyakan tentang frekuensi. b. mandi/ cuci muka dan menyikat gigi. cuci kaki dan berdoa. 4. c. cara mandi. Berpakaian a. cuci rambut. Observasi dan tanyakan tentang frekuensi. 2. Kegiatan sesudah tidur. memilih dan mengenakan pakaian. Pergi. memilih dan mengenakan pakaian dan alas kaki. Observasi kebersihan tubuh dan bau badan. Membersihkan diri dan merapikan pakaian 3. Observasi penampilan dandanan klien. Nilai kemampuan yang harus dimiliki klien: mengambil. a. gunting kuku. Observasi kemampuan klien untuk BAB / BAK. menyikat gigi. b. c. Tanyakan dan observasi frekuensi ganti pakaian. Observasi kemampuan klien dalam menyiapkan dan membersihkan alat makan. 5. 32 . jenggot dan rambut) b. d. variasi.

kendaraan umum) c. Kegiatan di luar rumah Tanyakan kemampuan klien a. Mencuci pakaian sendiri d. Siapa saja sistem pendukung yang dimiliki (keluarga. kantor pos dan bank). bagaimana. Kegiatan lain yang dilakukan klien di luar rumah (bayar listrik/ telpon/ air. 7. institusi dan lembaga pelayanan kesehatan) dan cara penggunaannya. mengolah dan menyajikan makanan b. kapan dan kemana. Reaksi obat. 33 . b. dosis. Penggunaan obat Observasi dan tanyakan kepada klien dan keluarga tentang: a. teman. menggunakan kendaraan pribadi.6. jenis. waktu dan cara. b. Penggunaan obat: frekuensi. menyapu. dapur. mengepel). Pemeliharaan kesehatan Tanyakan kepada klien dan keluarga tentang: a. Mengatur kebutuhan biaya sehari-hari 9. Merapikan rumah (kamar tidur. Apa. Dalam melakukan perjalanan mandiri dengan jalan kaki. Belanja untuk keperluan sehari-hari b. 8. Kegiatan di dalam rumah Tanyakan kemampuan klien dalam: a. Merencanakan. perawatan dan pengobatan lanjut. c.

Sumber Mekanisme koping: Sumber dukungan dalam penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan. MEKANISME KOPING Data dari hasil wawancara : a. sumber dukungan keluarga dan masyarakat. menyalahkan orang lain (sublimasi). misalnya pasien mampu melakukan ADLs secara mandiri.  Pemahaman pasien tentang penyakit. memberikan alasan yang logis (Rasionalisasi). Dikaji 4 hal yaitu: kemampuan personal terhadap masalah yang ditemukan. memarahi tanaman atau memarahi binatang (proyeksi). asset material (sumber daya dan sumber daya manusia yang mendukung pengobatan pasien: dana. Pada tiap item yang dimiliki oleh klien simpulkan dalam masalah. diam (represi/supresi). Mengalihkan kekegiatan yang bermanfaat (konversi). Dialihkan ke objek lain seperti memarahi televisi. mampu menggunakan waktu luang untuk kegiatan yang positif dan mampu mengendalikan emosi  Pemahaman tentang sumber koping yang adaptif 34 . obat yang diminum. orang yang mengantar berobat). jaminan kesehatan. mundur ke SPperkembangan sebelumnya (Regresi). mengamuk/merusak alat-alat rumah tangga (displacement). tanda dan gejala kekambuhan. M. PENGETAHUAN Data didapatkan melalui wawancara pada klien.L. keyakinan positif terhadap pengobatan. dan cara menghindari kekambuhan. mampu berhubungan sosial. Meliputi koping adaptif sampai dengan maladaptif Ketika menghadapi masalah. b.  Pemahaman pasien tentang kesembuhan (sembuh sosial). tekanan dan peristiwa traumatik yang hebat. apa yang dilakukan pasien dalam menyelesaikan masalah tersebut : Cerita dengan orang lain (asertif).

O. psikofarmaka dan terapi lain. Resiko perilaku kekerasan terhadap orang lain (00138) c. Pada akhir pengkajian. Tuliskan obat-obatan klien saat ini. Urutkan diagnosis sesuai dengan prioritas. Perubahan persepri-sensori e. Harga diri rendah g. DAFTAR DIAGNOSIS KEPERAWATAN a. tulis tempat dan tanggal pengkajian serta tanda tangan dan nama jelas Perawat. ASPEK MEDIK Tuliskan diagnosa medik klien yang telah dirumuskan oleh dokter yang merawat. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Resiko bunuh diri 900150) 35 . Pemahaman tentang manajemen hidup sehat N. Resiko Perilaku Kekerasan terhadap diri sendiri (00140) b. II. Rumuskan diagnosis dengan rumusan P (permasalahan) dan E (etiologi) berdasarkan pohon masalah b. Perubahan proses fikir f. Koping individu tak efektif d. Menarik diri h. baik obat fisik.

No 1. Ajarkan klien pengobatan secara mengontrol halusinasi optimal dengan cara pertama : menghardik 4. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Tanggal / Jam 20 Febr 2016 jam 10. Pasien dapat mengontrol 2. Evaluasi klien cara mengontrol halusinasi 36 . Jelaskan cara halusinasinya mengontrol halusinasi 3. Bantu klien mengenali halusinasi yang dialami halusinasi 2.III.00 Diagnosa Keperawatan Gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran. Pasien mengikuti program 3. Pasien mengenali 1. penglihatan Tujuan dan KriteriaHasil Tujuan : Klien : Intervensi Klien : 1.

Membina hubungan 1. Buat perencanaan pulang dengan keluarga 4. Dapat terlibat dalam perawatan klien baik di rumah sakit maupun di rumah 2. Latih keluarga praktik merawat klien langsung dihadapan klien 3. Beri pendidikan kesehatan tentang halusinasi. dengan cara menghardik 5. Bina hubungan saling saling percaya percaya 2. tanda dan gejala. Menyadari penyebab 2.00 Isolasi social Tujuan :klien mampu : Klien : 1. proses terjadinya halusinasi dan cara merawat klien dengan halusinasi 2. Dapat menjadi system pendukung yang efektif untuk pasien. jenis halusinasi yang dialami klien. Latih klien mengontrol halusinasi dengan cara kedua : bercakap-cakap dengan orang lain 6. Berinteraksi dengan orang 3. Latih klien mengkonsumsi obat secara teratur Keluarga : 1. Evaluasi klien cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik dan bercakap-cakap 7. 20 febr 2016 jam 10. dosis dan efek samping obat 5.Keluarga : 1. Bantu klien mengenal isolasi social menyebab isolasi social 3. Latih dan damping klien mengkonsumsi obat secara teratur 2. Bantu klien mengenal lain keuntungan berhubungan dengan 37 . Beri pendidikan kesehatan pada klien dan keluarganya tentang manfaat. Latih klien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga : melaksanakan aktivitas terjadwal 8.

20 febr 2016 jam 10. orang lain Tujuan Umum : Klien tidak mencederai diri sendiri. Jelaskan tentang isolasi social 3. Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara fisik 8. orang lain. Klien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukannya 5. Peragakan cara merawat klien dengan isolasi social 4. dan lingkungan Tujuan khusus : 1. Diskusikan bersama klien penyebab perilaku kekerasan saat ini dan yang lalu 3. Klien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukan 4. Diskusikan bersama klien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan saat marah 5. Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien 2. Diskusikan bersama klien akibat perilakunya 6. Bantu klien mengenal kerugian tidak berhubungan dengan orang lain 5.00 Resiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri. Diskusikan perasaan klien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan 4. Bantu klien untuk berinteraksi dengan orang lain secara bertahap Keluarga : 3. Bina hubungan saling percaya 2. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan 2. Diskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku kekerasan 7. Klien dapat menyebutkan cara mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya 1. Klien dapat mengidentifikasi tandatanda perilaku kekerasan 3.Tujuan keluarga : Keluarga mampu merawat klien dengan isolasi sosial orang lain 4. Bantu keluarga mempraktekkan cara merawat yang telah dipelajari 5. Latih pasien mengontrol 38 . Susunperencanaanpulan gbersamakeluarga 1.

Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 2.6. sesuai kemampuan 5. 2.00 Harga diri rendah Tujuan pada klien : 1. Latih mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual 10. Diskusikan dengan klien 39 . Identifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki pasien. Klien dapat menetapkan/memilihkegi atan yang sesuai kemampuan 4. 20 febr 2016 jam 10. Diskusikan bersama keluarga kondisi klien yang perlu segera dilaporkan kepada perawat 4. Ikut sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi mengontrol perilaku kekerasan Keluarga : 1. Diskusikan tentang perilaku kekerasan 3. Diskusikan sejumlah kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien 3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan 3. spiritual. Beri pujian yang realistic 4. dan dengan terapi psikofarmaka Tujuan untuk keluarga : Keluarga dapat merawat klien di rumah perilaku kekerasan secara social/verbal 9. Diskusikan masalah yang dihadapi dalam merawat klien 2. Latih keluarga merawat klien dengan perilaku kekerasan 5. Klien dapat melatih kegiatan yang sudah dipilih. social. Buat perencanaan pulang bersama keluarga 4. Latih mengontrol perilaku kekerasan dengan patuh minum obat 11. 5. Hindari penilaian negative terhadap klien Bantu pasien menilai kemampuan yang dapat digunakan. Klien dapat menyusun Klien : 1. Klien dapat mencegah/mengontrolperi laku kekerasannya secara fisik.

13. 9. Tujuan pada keluarga : 1. Memfasilitasi pelaksanaan kemampuan yang masih dimiliki klien 3. Beri pujian atas kegiatan yang dapat dilakukan klien setiap hari 19. 7. Bantu klien menetapkan kegiatanmana yang dapat dilakukan secara mandiri. Susun jadwal untuk melaksanakan kegiatan yang telah dilatih. Latih kemampuan yang dipilih klien. kemampuan yang masih dapat digunakan saat ini Beri klien untuk menyebutkannya Beri penguatan terhadap kemampuan diri yang diungkapkan klien Perlihatkan respon yang kondusif Jadi pendengar yang aktif Bantu pasien memilik/menetapkan kemampuan yang akan dilatih. Mampu menilai perkembangan perubahan kemampuan klien 10. Membantu klien mengidentifikasiakan kemampuan yang dimiliki 2. Bantu menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang dilatih. Beri kesempatan klien untuk mencoba kegiatan yang telah dilatihkan 18. 17. Memotivasi klien untuk melakukan kegiatan yang sudah dilatih dan memberikan pujian atas keberhasilan klien 4.jadwal untuk melakukan kegiatan yang sudah dipilih 6. 40 . Bersama klien memperagakan kegiatan yang ditetapkan 15. Diskusikan dengan klien kegiatan yang dapat dilakukan dan dipilih 11. atau dengan bantuan 12. Beri dukungan dan pujian pada setiap kegiatan yang dapat dilakukan klien 16. 8. Diskusikan dengan klien untuk melatih kemampuan yang dipilih 14.

Beri kesempatan pada keluarga untuk mendemonstrasikan cara merawat klien 7. Jelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah rendah yang ada pada klien 3. 2.00 Diagnosa Keperawatan Gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran. 4. Latih klien mengontrol halusinasi dengan cara kedua : bercakap-cakap dengan orang lain 7. Mengevaluasi klien cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik 6. 3. Jelaskan cara-cara merawat klien dengan harga diri rendah 5. Demonstrasikan cara merawat klien dengan harga diri rendah 6. Melakukan BHSP Membantu klien mengenali halusinasi Menjelaskan cara mengontrol halusinasi Mengajarkan klien mengontrol halusinasi dengan cara pertama : menghardik 5. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat klien 2.Keluarga : 1. No 1. penglihatan Implementasi Klien : 1. Mengevaluasi klien cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik dan bercakap-cakap 41 . Bantu keluarga menyusun rencana kegiatan klien di rumah IV. Diskusikan dengan keluarga kemampuan yang dimiliki klien dan memuji klien atas kemampuannya 4. IMPLEMENTASI Tanggal/ Jam 20 Feb 2016 jam 10.

Memberi pendidikan kesehatan pada klien dan keluarganya tentang manfaat.tanda dan gejala serta cara mengatasinya 3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang halusinasi. Melatih dan damping klien mengkonsumsi obat secara teratur 2. Membantu klien untuk berinteraksi dengan orang lain secara bertahap dengan cara mengajak klien berkenalan dengan salah satu pasien lain dalam satu ruangan Keluarga : 1. Melatih klien mengkonsumsi obat secara teratur Keluarga : 1. jenis halusinasi yang dialami klien.00 Isolasi social Klien : 1. tanda dan gejala. dosis dan efek samping obat 5. Melatih klien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga : melaksanakan aktivitas terjadwal 9. Membantu keluarga mempraktekkan cara merawat yang telah dipelajari 5. Menyusun perencanaan pulang bersama keluarga 42 . proses terjadinya halusinasi dan cara merawat klien dengan halusinasi 2. Membantu klien mengenal menyebab isolasi sosial 3.penyebab. Menjelaskan tentang isolasi social seperti pengertian. Membina hubungan saling percaya 2. Membantu klien mengenal kerugian tidak berhubungan dengan orang lain dengan cara mendiskusikan dengan klien 5.8. Membuat perencanaan pulang dengan keluarga 4. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien 2. 21Feb 2016 jam 10. Memperagakan cara merawat klien dengan isolasi sosial 4. Membantu klien mengenal keuntungan berhubungan dengan orang lain dengan cara mengajak berdiskusi klien 4. Melatih keluarga praktik merawat klien langsung dihadapan klien 3.

Mendiskusikan tentang perilaku kekerasan yang belum diketahui oleh keluarga seperti penyebab. Mendiskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku kekerasan 7. Mendiskusikan sejumlah kemampuan dana spekpositif yang dimiliki klien selama 43 .00 Resiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri. 22Feb 2016 jam 10. orang lain 1.3. Mendiskusikan bersama klien penyebab perilaku kekerasan saat ini dan yang lalu 3. Mendiskusikan bersama keluarga kondisi klien yang perlu segera dilaporkan kepada perawat 4. Membuat perencanaan pulang bersama keluarga 4. Mendiskusikan bersama klien akibat perilakunya 6. Melatih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal dengan meluapkan kemarahan seperti bernyanyi dengan keras 9. Mengikutsertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi mengontrol perilaku kekerasan Keluarga : 1. 1. Melatih keluarga merawat klien dengan perilaku kekerasan dengan tidak melakukan tindakan memasung pada klien 5. 23 Feb 2016 jam 10. Melatih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara fisik dengan melakukan olah raga sederhana seperti push up 8. Melatihmengontrolperilakukekerasansecar a spiritual dengan cara berdzikir atau melafalkan surat pendek Al Qur’an 10.tanda dan gejala 3. Membina hubungan saling percaya 2. Mendiskusikan masalah yang dihadapi dalam merawat klien 2. Mendiskusikan bersama klien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan saat marah 5. Melatih mengontrol perilaku kekerasan dengan patuh minum obat sesuai dosis dan waktu 11. Mendiskusikan perasaan klien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan 4.00 Harga diri rendah Klien : Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki pasien.

Menjadi pendengar yang aktif 7. 11. Menyusun jadwal untuk melaksanakan kegiatan yang telah dilatih. Memberi kesempatan klien untuk menyebutkan kemampuan yang dimiliki 6. Mendiskusikan dengan keluarga kemampuan yang dimiliki klien dan memuji klien atas kemampuannya 4. Memperagakan bersama klien kegiatan yang ditetapkan 12. Mendemonstrasikan cara merawat klien dengan harga diri rendah dengan memberikan kepercayaan pada klien melakukan kegiatan sederhana dirumah seperti menyapu. 14. Menjelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah yang ada pada klien 3. Membantu pasien memilik/menetapkan kemampuan yang akan dilatih. Mendiskusikan dengan klien kegiatan yang dapat dilakukan dan dipilih 9. 5. Memberi dukungan dan pujian pada setiap kegiatan yang dapat dilakukan klien 13. atau dengan bantuan 10. Melatihkemampuan yang dipilihklien. Keluarga : 1. menyiram tanaman 6. Menjelaskan cara-cara merawat klien dengan harga diri rendah 5. dll) 4.dirawat di RS atau dirumah 2. Menghindari penilaian negatife terhadap klien seperti merendahkan kemampuan klien dalam melakukan kegiatan sederhana (perawatan diri : mandi. Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat klien 2. Memberi kesempatan pada keluarga untuk 44 .berpakaian. 8. Memberi kesempatan klien untuk mencoba kegiatan yang telah dilatihkan 15. Membantu pasien menilai kemampuan yang dapat digunakan. Membantu klien menetapkan kegiatan mana yang dapat dilakukan secara mandiri. Memberi pujian yang realistik seperti mengatakan pasien hebat saat pasien dapat menjawab pertanyaan dengan tepat 3. Membantu menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang dilatih.

dapat saling membantu satu sama lain Klien menyebutkan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain yaitu tidak ada yang membantu kegiatan yang dilakukan. Membantu keluarga menyusun rencana kegiatan klien di rumah EVALUASI NoD X 1. Klien menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain adalah ada teman yang bisa diajak berdiskusi.00 Evaluasi S:    Klien mampu dan mau menyebutkan nama Klien mengatakan sering mendengar bisikan kalau istrinya akan direbut temannya sendiri Klien mengatakan belum dapat menghilangkan bisiskan itu dari pikirannya O:  Nampak klien mencoba memperagakan menghardik diri sendiri bila bisikan itu datang lagi  Nampak klien mau mengobrol dengan pasien lain  Nampak Klien membantu menyiapkan makan siang diruangan  Nampak klien mengkonsumsi obat yang diberikan petugas kesehatan A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan intervensi agar pasien dapat secara mandiri mengontrol halusinasinya. 21Feb S: 2016 jam  14. 2. 45 .mendemonstrasikan cara merawat klien 7. Tanggal/J am 20 Feb2016 jam 14.00    Klien menyebutkan namanya kembali Klien mengatakan kadang tidak mau ngobrol dengan pasien lain karena merasa keluarganya yang telah meninggal menemaninya ngobrol. cepat merasa bosan.

membantu menyiapkan makanan untuk teman – teman satu ruangan. 23 Feb 2016 jam 14. 22Feb 2016 jam 14. S:   Klien mengatakan kemampuan yang dapat dia lakukan saat di RS seperti menyapu.O:   3.00 P : Lanjutkan intervensi untuk mengontrol perilaku kekerasan yang terjadi pada klien.00 Nampak klien mengajak berkenalan teman dalam satu ruangannya Nampak ekspresi klien relaks A : Masalah teratasi P:S:    Klien menyebutkan nama dan mengajak berjabat tangan Klien mengatakan penyebab ia berperilaku kekerasan seperti mengepalkan tangannya bila ingat istrinya mau direbut oleh temannya Klien mengatakan akan mencoba untuk melakukan olah raga sederhana untuk mengontrol perilaku kekerasan O:    Klien nampak memeragakan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan cara berdzikir Klien nampak meminum obat yang diberikan petugas kesehatan Klien nampak mengikuti kegiatan berkelompok yang diadakan diruangan A : Masalah teratasi sebagian 4. Klien mengatakan ingin mencoba kegiatan lain yang diadakan RS seperti membuat kerajinan sapu lidi O:    Nampak klien mencabuti rumput yang berada dihalaman saat diadakan kegiatan bersih – bersih diruangan Nampak senang saat diberikan pujian atas kegiatan yang dapat dilakukan Klien nampak antusias untuk melakukan kegiatan lain yang sudah direncanakan dan dijadwalkan bersama A : Masalah Teratasi P:- 46 . membersihkan / mencabuti rumput dihalaman.