P. 1
PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430…

PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430…

4.57

|Views: 1,026|Likes:
Published by Eddy Satriya
Sebuah cerita panjang ttg ICT yang coba saya ringkas untuk memperingati momentum seabad Harkitnas. Banyak yang terlewat, tapi lebih baik ada dan nyata dari pada menunggu sempurna dalam pikiran saja.
Sebuah cerita panjang ttg ICT yang coba saya ringkas untuk memperingati momentum seabad Harkitnas. Banyak yang terlewat, tapi lebih baik ada dan nyata dari pada menunggu sempurna dalam pikiran saja.

More info:

Published by: Eddy Satriya on May 21, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

PERJALANAN PANJANG TIK NASIONAL MENUJU NEW ECONOMY

Oleh: Eddy Satriya (eddysatriya.blogspot.com )

A. UMUM Perjalanan panjang pengembangan sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sebelumnya dikenal juga dengan istilah telematika seyogyanya menjadi perhatian pemerintah, pelaku industri, maupun masyarakat pengguna jasa TIK. Pemahaman akan perjuangan membangun prasarana dan sarana TIK dapat membantu kita untuk tetap menjaga momentum pengembangan tersebut. Di samping itu, pemahaman akan sejarah perjalanannya diharapkan dapat menjaga konsistensi para pengambil keputusan untuk memprioritaskan pembangunan sektor penting ini dalam era globalisasi.

Seiring dengan semarak momentum peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional, tahun 2008 mencatat berbagai kemajuan penting yang sangat diharapkan dapat berkontribusi kepada kebangkitan TIK nasional di masa yang akan datang. Pada 25 Maret 2008, pemerintah dan DPR telah menyetujui salah satu landasan hukum pengembangan TIK ke depan, yaitu Undang-Undang No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE) yang telah lama ditunggu-tunggu banyak pihak. Tidak lama berselang, disetujui pula Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang menandai dimulainya era keterbukaan terhadap segala jenis informasi yang dianggap layak untuk diketahui publik secara luas.

Dengan jumlah prasarana telekomunikasi yang pada kwartal ketiga 2007 telah mencapai sekitar 100 juta satuan sambungan (ss) yang terdiri dari 9 juta telepon

PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430.doc

1

tetap, 82 juta seluler GSM dan sekitar 9 jutaan sambungan fixed wireless access (FWA), maka bangsa Indonesia dari sisi infrastruktur dianggap sudah siap menyambut datangnya era ekonomi baru, yaitu ekonomi berlandaskan ilmu pengetahuan atau Knowledge Based Economy/Society (KBE) yang dilandasi kemajuan TIK. Dengan total sambungan sekitar 100 juta (Lihat Tabel-1) tersebut telah memberikan tingkat penetrasi telekomunikasi hampir 50% yang artinya setiap dua orang di Indonesia secara rata-rata mempunyai satu jenis pesawat telepon untuk berkomunikasi. Sungguh suatu lompatan yang fantastis dari sisi jumlah atau kapasitas telekomunikasi yang tidak terbayangkan dapat dicapai setelah melewati masa krisis.

Tabel 1
Pertumbuhan Pelanggan Telepon di Indonesia (2006 – Q-3 2007)
JUMLAH PELANGGAN NO. NAMA PERUSAHAAN FIXED PHONE 2006 1 2 - Prepaid Subscribers - Postpaid Subscribers 2 PT Indosat (konsolidasi) - Prepaid Subscribers - Postpaid Subscribers 3 PT Bakrie Telecom - Prepaid Subscribers - Postpaid Subscribers 4 PT Excelomindo Pratama - Prepaid Subscribers - Postpaid Subscribers 5 PT Telkomsel - Prepaid Subscribers - Postpaid Subscribers 6 PT Mobile-8 (konsolidasi) - Prepaid Subscribers - Postpaid Subscribers SUB TOTAL 3 26,632 26,632 68,359 68,359 Q-3 2007 4 30,045 30,045 5,658 5,658 2006 5 FWA Q-3 2007 6 2006 7 16,704,639 15,878,780 825,859 9,528,000 9,141,000 387,000 35,597,171 33,935,246 1,661,925 1,825,888 1,778,200 47,688 SELULER Q-3 2007 8 22,026,590.00 21,148,714 877,876 12,811,000 12,369,000 442,000 44,457,000 42,566,000 1,891,000 2,540,000

1 PT Telkom (konsolidasi)

8,709,211 8,720,000 4,175,853 5,603,000 3,381,426 4,780,000 794,427 358,980 338,435 20,545 823,000 516,979 487,467 29,512 8,709,211 8,720,000

1,479,198 2,944,190 1,414,920 2,819,144 64,278 125,046

8,804,202 8,755,703 6,014,031 9,064,169 63,655,698 81,834,590.00 Sumber : Depkominfo, 2007, diolah.

Sementara itu tidak bisa dimungkiri, beberapa negara Asia seperti Korea, China, dan India kembali menunjukkan transformasi yang berhasil dari negara berlandaskan

PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430.doc

2

ekonomi pertanian menuju ekonomi industri manufaktur, dan selanjutnya secara pasti telah menyiapkan diri menempuh ekonomi informasi dan KBE. Indonesia diharapkan dapat mengikuti jejak mereka guna mempertahankan posisi daya saing regional yang sangat penting.

Memadainya penetrasi infrastruktur telekomunikasi tersebut telah dilengkapi pula dengan peningkatan jumlah pelanggan internet sebesar 2 juta orang dan pengguna sebesar 25 juta orang (APJII, 2007). Memperhatikan tingkat penetrasi di atas ditambah dengan semakin berkembangnya layanan Internet melalui berbagai provider lama dan baru, serta turunnya tarif terkait, jelas memberikan sinyal positif dalam pengembangan TIK kita.

Namun menerima saja mandat pengembangan TIK nasional ke depan tanpa mengetahui perjalanan panjang sebagian komponen bangsa ini yang tanpa lelah telah memperjuangkan pengembangan TIK - mulai dari zaman morse, telegraf, telepon manual, SKSD Palapa, telepon otomat dan digital, telepon selular, fixed wireless, dan Internet- adalah suatu pengingkaran terhadap pelaksanaan amanat pembangunan nasional seperti diungkapkan dalam Pembukaan UUD 45.

Seperti diuraikan dalam serial buku "Sejarah Pos dan Telekomunikasi" yang diterbitkan Departemen Perhubungan-Ditjen Postel pada September 1980 dan buku "Sejarah dan Pembangunan Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi" oleh Depparpostel pada Desember 1990, dapatlah dimengerti betapa kinerja sektor TIK dewasa ini adalah merupakan suatu perjuangan panjang anak bangsa Indonesia di berbagai sektor dan bidang pembangunan. Usaha dan berbagai upaya yang bukan hanya menghabiskan biaya, tetapi juga korban darah dan jiwa anak bangsa ini di masa perjuangan kemerdekaan adalah terlalu berharga untuk dinegasikan di tengah berbagai kemajuan yang ada saat ini.

Karena itu sudah sepantasnya pula pembangunan TIK nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat ini, juga dapat diwujudkan dalam bentuk partisipasi kegiatan ekonomi masyarakat baik di sektor makro ataupun sektor riil (mikro) di berbagai lapisan. Pembangunan TIK memang membutuhkan investasi

PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430.doc

3

barang modal dan teknologi yang memaksa kita harus melakukan impor, namun memperhatikan berbagai kemajuan industri dalam negeri yang pernah berjaya di sektor ini sudah sepantasnya pula dikedepankan guna lebih memberdayakan sumber daya manusia Indonesia yang penuh talenta, namun tersebar di berbagai tempat baik di dalam maupun di luar negeri.

Kita mengetahui bahwa tersedianya berbagai akses telekomunikasi saat ini seperti telepon genggam telah menjadi bukti kemajuan yang kasat mata. Banyak pedagang, penjual mie keliling, pedagang bakso dan siomay, tukang ojek, hingga restoran modern seperti Pizza Hut, burger Mc Donald dan berbagai usaha restoran tradisional telah berhasil menjangkau pelanggannya dengan memberikan nomor telepon, HP atau call center mereka. Perkembangan menggembirakan juga terjadi di sektor jasa seperti penerbangan dan perbankan. Kemajuan transaksi perbankan kita terkadang bisa lebih maju dari berbagai negara industri sekalipun yang masih belum bisa melepaskan budaya manual seperti penulisan chek untuk pembayaran sehari-hari. Masyarakat kita sudah semakin terbiasa melakukan transfer atau pembayaran berbagai transaksi lewat ATM dan Kartu Kredit, meski sempat terganggu oleh praktek curang pada beberapa Internet Banking gadungan.

Demikian pula pengiriman berbagai dokumen pemerintahan dan pemberian pelayanan publik kepada masyarakat telah makin maju dan bersatu dalam satu atap kantor pelayanan seperti di Sragen, Surabaya, dan berbagai kota lainnya di Indonesia.

Tersedianya aksesibilitas yang semakin terjangkau dengan turunnya berbagai tarif dan harga jual layanan TIK telah membantu pemerintah dan pelaku pendidikan dalam meningkatkan mutu sekolah mereka. Berbagai pelayanan kepabeanan dan pelelangan barang dan jasa milik instansi pemerintah telah pula menggunakan kemajuan Internet yang membuat proses layanan menjadi efisien, efektif, transparan dan mampu mengurangi tingkat KKN yang terjadi selama ini.

Mengikuti kemajuan E-Government di berbagai daerah, hingga saat ini berbagai layanan informasi masyarakat telah berhasil dikomunikasikan dengan baik melalui

PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430.doc

4

website, seperti Ditjen Postel yang terus aktif melakukan berbagai posting, termasuk Siaran Pers secara berkala. Pelayanan sebagian informasi yang up to date dari Ditjen Postel dan berbagai kantor pemerintah lainnya ini, menurut hemat kami adalah suatu kemajuan yang sangat berarti di sektor e-government dan aplikasi TIK sendiri.

B. SEJARAH RINGKAS DARI PRA KEMERDEKAAN HINGGA REFORMASI Berbicara masalah telekomunikasi sebelum zaman kemerdekaan, membawa kita kepada keberadaan jasa pos pada waktu itu. Karena sebelum ditemukannya jasa telegraf dan telepon, manusia menggunakan surat dan berbagai media tulis lainnya untuk berkomunikasi. Istilah PTT atau Pos, Telegraf dan Telepon dikenal di Indonesia pertama kali pada tahun 1907 yang pada awalnya merupakan bagian dari Departemen van Gouvernements bedrijven. Pada tahun 1923 Kantor Pusat PTT dipindahkan dari Gambir ke Bandung. Setelah mengalami pemisahan dan penggabungan di era penjajahan Jepang, pada tahun 1961 dibentuk Perusahaan Negara (PN) Pos dan Telekomunikasi yang disingkat PN Postel. Meski sempat menjadi Kementerian dalam Kabinet Dwikora (Maret 1966) struktur organisasi Postel berubah lagi menjadi Ditjen Postel dalam Departemen Perhubungan pada masa Kabinet Ampera (Juli 1966).

Setelah mengalami berbagai perkembangan sesuai dengan kemajuan yang dicapai, akhirnya dengan PP 36/1974 dibentuklah Perusahan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang memberikan hak monopoli. Sementara itu guna mengimbangi keperluan untuk telekomunikasi internasional yang bisa membuka hubungan bangsa Indonesia dengan dunia luar dengan lebih cepat dan efisien, maka pemerintah membentuk PT. Indosat melalui PP 53/1980. Sehingga terhitung mulai 1 Januari 1980, penyelenggaraan telekomunikasi untuk umum dipisah menjadi dua.

Pembangunan telekomunikasi Indonesia kemudian secara pasti terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan ekonomi yang membaik dan mulai mendapat berbagai perhatian dari negara donor di bawah IGGI dan CGI. Meski Perumtel mempunyai dana sendiri untuk menggelar jaringan telekomunikasi ke pelosok negeri, namun tingginya minat negara donor seperti Jepang, Jerman, Belanda, Perancis,

PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430.doc

5

USA, dan lembaga multilateral seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia, telah mempercepat proses penggelaran berbagai jenis infrastruktur telekomunikasi. Kurun waktu 1970-an juga ditandai dengan berdirinya PT.INTI pada tahun 1974 sebagai kelanjutan kerjasama dengan Siemens AG dari Jerman untuk pengembangan industri elektronika telekomunikasi yang berujung kepada fabrikasi Sentral Telepon Digital Indonesia (STDI) yang pertama.

Guna mengurangi ketergantungan pengadaaan STDI dari satu vendor, pemerintah kemudian menggelar tender sentral telepon digital baru yang dikenal dengan STDI 2, dengan kapasitas awal 350.000 ss. Namun ternyata tarik ulur berbagai kepentingan telah memaksa pemerintah meningkatkan kapasitasnya menjadi 700.000 ss yang dibagi dua untuk peralatan sentral buatan Jepang (NEC) dan USA (AT&T) pada awal 1990-an. Penambahan ”pemain” dalam industri sentral telepon ini telah mampu menurunkan harga ekivalen 1 ss dari US$ 1000,0 menjadi hanya US$ 300,0.

Perkembangan kapasitas telepon dan teleks sejak Pelita I hingga masa krisis dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2

Hasil Pembangunan
PERKEMBANGAN KAPASITAS TELEPON DAN TELEKS DI INDONESIA
(kumulatif satuan sambungan telepon-sst terpasang)

Akhir No. URAIAN 1968 Repelita I (1973/74)

Akhir (1978/79)

Akhir (1983/84)

Akhir (1988/89)

Akhir Pra Krisis (Repelita VI) (1994/95) Krisis 2001 (1993/94) (1995/96) (1996/97) (1997/98) (1998/99) (1999/00)

Repelita II Repelita III Repelita IV Repelita V

1 Sentral Otom at STDI-I STDI-II STDI-III Type Lain 2 Sentral Tangan dgn Batterai Sentral (BS)

77,700

121,460

367,200

576,797

873,913 258,696

2,995,694 1,695,842 362,016 331,578

4,075,237 4,820,017 6,426,097 7,699,648 8,211,165 8,358,259 8,480,873 2,460,167 3,172,697 4,100,777 4,930,393 5,101,802 5,214,904 549,627 439,593 625,850 620,967 390,311 945,753 1,189,058 1,482,590 1,557,194 233,312 196,627 178,752 107,504 636,042 1,146,255 1,383,570 1,448,021 1,478,657

77,700

121,460

367,200

576,797

615,217

606,258

na na na na

29,255

31,620

33,030

28,629

42,778

510

0

0

0

0

0

0

0

3 Sentral Tangan dgn Batterai Lokal (BL) 65,045 70,300 75,862 73,707 78,452 16,689 8,607 4,325 2,619 1,805 1,805 1,380 1,380

4 Teleks

na

1,220

4,200

12,220

17,300

30,400

29,904

29,124

31,163

31,161

29,943

27,967

27,967

Sumber: Kumpulan Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI di depan sidang DPR setiap tanggal 16 Agustus

Sumber: Satriya (2002), “One Day Total e-Solutions Seminar”, Sanur, Bali.

PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430.doc

6

Sejalan dengan dikeluarkannya kebijakan pemerintah di bidang perbankan yang dikenal dengan Pakto 88, maka pada bulan April 1988 dibentuk pula PT. Aplikanusa Lintasarta yang bertujuan untuk membantu otoritas Bank Sentral dan pemerintah dalam melaksanakan proses kendali dan pengawasan terhadap seluruh transaksi perbankan secara on-line. Lintasarta ini di dirikan oleh gabungan Bank Indonesia, PT. Telkom, PT. Indosat, Perbanas dan beberapa Yayasan Dana Pesiun terkait (Wiyasa, 2008). Operasional Lintasarta menandai dimulainya era komunikasi data komersial di Indonesia yang sekarang sudah semakin maju dan kompleks.

Kemandirian pembangunan telekomunikasi semakin kuat dengan dilaksanakannya Initial Public Offering (IPO) saham PT. Telkom kepada publik sehingga PT. Telkom menjadi perusahaan terbuka pada tahun 1995. Sejalan dengan berkembangnya dunia telekomunikasi dan teknologi informasi yang ditandai dengan semakin konvergennya layanan, pemerintah juga menyiapkan berbagai langkah restrukturisasi industri telekomunikasi nasional melalui penerbitan Cetak Biru Telekomunikasi pada tahun 1997. Meski sebelumnya telah dilaksanakan berbagai kemudahan dalam investasi di bidang telekomunikasi melalui UU 3/1989, UU Telekomunikasi berhasil diperbaharui dengan UU 36/1999 yang lebih membuka pintu investasi asing.

Semakin banyaknya keperluan pendanaan pembangunan untuk sektor lain yang lebih tertinggal dibanding telekomunikasi, dan sejalan dengan ketentuan dunia internasional (OECD), telah menyebabkan dana asing yang murah untuk pembangunan telekomunikasi menjadi semakin terbatas. Akibatnya pendanaan murah melalui pinjaman lunak yang ditanggung pemerintah dan kemudian di-twostep-loan-kan ke PT.Telkom tidak bisa lagi dilanjutkan. Keadaan ini memaksa PT. Telkom dan pemerintah mencari alternatif lain guna memenuhi permintaan.

Peningkatan kemampuan instalasi per tahun dan sumber pendanaan pembangunan dari Pelita III hingga akhir Pelita VI dapat dilihat pada Gambar 1.

PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430.doc

7

Gambar 1

Analisis Pembangunan Prasarana Telekomunikasi
1983/84 1988/89 1993/94 1998/99 2003/04

Pelita III

Pelita IV

Pelita V

Pelita VIKrisis
8.000.000 ss DP, BLN, PBH, KSO 1000k ss/T h

PropenasKrisis
? DP, BLN, PBH, KSO? ?

600.000 ss DP, DIP, PMA, BLN 40k ss / Th

900.000 ss DP, BLN, DIP, PMP 80k ss / Th

3.000.000 ss DP, BLN, PBH 400k ss / Th

CATATAN: DP: Dana Perusahaan; PBH: Pola bagi Hasil; PMP: Penyertaan Modal Pemerintah; DIP: Daftar Isian Proyek; BLN: Bantuan Luar Negeri (Hutang+Hibah), PMA: Penanaman Modal Asing

Selain melaksanaan Program Kerja Sama (PKS) atau Program Bagi Hasil (PBH) dengan berbagai operator di dalam negeri serta pemerintah daerah, pembangunan telekomunikasi menginjak era baru pada tahun 1994 melalui persiapan program Kerja Sama Operasi (KSO) yang melibatkan operator besar dari negara maju yang harus bekerjasama dengan operator lokal. Dari target pembangunan sekitar 5 juta satuan sambungan (ss) target pembangunan Pelita VI Kabinet Pembangunan Indonesia, sekitar 2 juta ss di targetkan dari KSO. Namun sayang dalam pelaksanaannya KSO terkendala oleh masalah management yang diiringi pula oleh terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1997 yang mengakibatkan program KSO terhenti. Beruntung PT. Telkom masih mempunyai dana sendiri dan berhasil mengambil alih kembali pengelolaan telekomunikasi di daerah.

Ringkasan KSO Telekomunikasi antara PT. Telkom dan mitranya yang semula direncanakan hingga 2010 dapat dilihat pada Tabel 3.

PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430.doc

8

Tabel 3

Kerja Sama Operasi-KSO (1996 - 2010)
Original
Pramindo : 520.000 AWI : 500.000 MGTI : 400.000 CWM : 237.000 BSI : 403.000 Total : 2.030.000 1.5% 1.0% 20%

MoU
290.000 290.000 350.000 115.000 223.000 1.268.000 0.75% 0.2% 5%

Keterangan

Target Pembangunan (ss)

Biaya Minimum Diklat Biaya Litbang (R&D) Pembangunan Daerah USO

Dari Total Pendapatan KSO Dari total investasi KSO

Sumber: Satriya (2002), “One Day Total e-Solutions Seminar”, Sanur, Bali.

Krisis ekonomi di Asia Tenggara telah menyebabkan terjadinya stagnasi pembangunan telekomunikasi Indonesia, khususnya fixed telephone. Namun dinamika teknologi TIK yang sangat tinggi memberikan alternatif pembangunan prasarana TIK melalui perangkat yang juga semakin hari semakin murah harganya. Pemilihan teknologi GSM yang tepat pada waktunya telah memberikan alternatif penyediaan prasarana TIK, ditambah dengan percepatan pemberian lisensi kepada beberapa operator lokal untuk Fixed Wireless Access (FWA) baik dengan menggunakan teknologi CDMA dan teknologi lainnya. Dipercepatnya terminasi dini hak eksklusivitas penyelenggaraan telekomunikasi PT. Telkom dan PT. Indosat juga membantu percepatan pembangunan prasarana.

Phase pembangunan TIK kemudian memasuki masa-masa penting setelah dimulainya pembentukan berbagai gugus tugas dan Tim Koordinasi Telematika (TKTI) melalui Kepres 30/1997 yang diketuai langsung awalnya oleh Menko Produksi dan Distribusi, lalu oleh Presiden Megawati. Melalui TKTI dan didanai oleh pinjaman Bank Dunia, pembangunan infrastruktur informasi nasional dimulai. Begitu pula telah dihasilkan panduan pembangunan IT di Indonesia melalui National Information Technology Framework (NITF) yang dikerjakan Bappenas dan Universitas Indonesia.

PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430.doc

9

Pembangunan TIK nasional memasuki babak baru terhitung tanggal 31 Januari 2005 dengan dibentuknya Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) melalui Perpres No. 09/2005 yang menggabungkan Kantor Meneg Komunikasi dan Informasi dengan Ditjen Postel di bawah satu atap (Satriya, Kompas, 2005).

Setelah masa-masa TKTI berakhir pada tahun 2006, maka dibentuk pula Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional atau DeTIKnas melalui Keppres 20/2006. DeTIKnas diresmikan pada tanggal 13 November 2006 di Istana Bogor. DeTIKnas telah beberapa kali melaksanakan rapat koordinasi dan saat ini memiliki 7 program flagship yang harus dijalankan, terdiri dari : e-pendidikan; e-procurement; eanggaran; National Single Window (NSW); Nomor Identitas Nasional; Legalisasi Software; dan Palapa Ring.

C. PERMASALAHAN DAN TANTANGAN PENGEMBANGAN TIK Pesatnya perkembangan pembangunan TIK dari zaman kemerdekaan hingga reformasi, bukanlah tanpa permasalahan dan tantangan yang kecil. Meski setiap tahun tercapai berbagai kemajuan, namun setiap tahun pula berbagai masalah ”generik” sektor ini belum mampu dituntaskan. Masalah-masalah tersebut yang akhirnya dijadikan sebagai tantangan yang harus diselesaikan seperti diuraikan dalam buku ”Infrastruktur Indonesia: Sebelum, Semasa, dan Pasca Krisis” (Bappenas, 2003) adalah sebagai berikut:

Pertama adalah terbatas dan tidak meratanya distribusi infrastruktur TIK di mana ketersediaan prasarana dan sarana telematika di Indonesia masih belum cukup jumlahnya dan belum tersebar merata, baik antar wilayah, provinsi, kabupaten dan kota. Kedua ialah belum optimalnya pemanfaatan prasarana TIK tersebut untuk kegiatan produktif yang bernilai komersial tinggi. Termasuk dalam hal ini adalah rendahnya ARPU (Average Revenue per User) telepon tetap, belum tergarapnya prasarana serat optik yang dimiliki oleh PT. PLN, PT. PGN, dan PT. KAI. Begitu pula dengan masih lambannya

PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430.doc

10

penggunaan jaringan listrik untuk penyediaan jasa TIK dengan menambahkan konsentrator PLC (Power Line Communication) di setiap gardu distribusi.

Ketiga, adalah masih terbatasnya fasilitas publik. Keberadaan Warung Telekomunikasi (Wartel) dan Warung Internet (Warnet) mengalami penurunan seiring dengan dominasi operator besar dan mahalnya ongkos penyediaannya terutama di daerah yang jauh dari kota besar. Beberapa tahun terakhir kondisi ini diperburuk lagi oleh seringnya razia perangkat oleh pihak berwajib. Berikutnya, adalah tidak tersedianya sistem pembiayaan yang berkelanjutan. Selama ini telah banyak dilakukan upaya pembiayaan pengembangan TIK, baik melalui dana APBN, BUMN maupun swasta. Tetapi sejauh ini dalam pelaksanaan penyediaan dan pengelolaan pembiayaan terkesan masih parsial dan belum memberikan hasil yang optimal dan berkelanjutan.

Kelima adalah belum terpadunya sistem perundang-undangan dan kelembagaan TIK. Masing-masing produk regulasi TIK yang ada di Indonesia masih bersifat sektoral (telekomunikasi, penyiaran dan ITE). Oleh sebab itu, diperlukan suatu sistem pengaturan yang dapat memungkinkan terjadinya konvergensi berbagai sektor TIK yang ada, baik dalam regulasi maupun kelembagaan. Belum terdapatnya rencana induk pengembangan telematika nasional adalah tantangan yang keenam. Semangat desentralisasi telah membuat instansi pemerintah, baik pusat maupun daerah, seakan berlomba mengembangkan sistem TIK masing-masing. Hal ini tidak saja menciptakan berbagai sistem TIK yang berdiri sendiri dan tidak terintegrasi, tetapi juga memboroskan investasi.

Terakhir adalah masih kurangnya dukungan industri TIK dalam negeri bagi pengembangan TIK secara mandiri. Perkembangan industri TIK dalam negeri masih sangat terbatas dan tergantung pada produk luar negeri. Walaupun prospek pasar TIK nasional sangat potensial, namun karakteristik pasar yang

PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430.doc

11

merupakan pasar tunggal dan regulasi yang kurang mendukung bagi industri TIK dalam negeri menyebabkan impor peralatan TIK masih sangat tinggi.

Di samping berbagai tantangan dan permasalahan di atas, maka seiring dengan tuntutan dunia usaha dan globalisasi, sektor TIK juga mengalami gelombang cobaan yang tidak sedikit. Sebut saja masalah gagalnya pelaksanaan USO telekomunikasi dalam beberapa tahun terakhir meski pendanaan sudah siap. Juga masih belum tuntasnya masalah Temasek Groups yang didakwa KPPU melakukan praktek anti kompetisi di pengadilan. Penataan frekuensi yang tidak mudah untuk dilakukan dan dipatuhi oleh pelaku industri juga sering menghambat investasi. Tumpang tindih peraturan dan berbagai kebijakan baik di dalam maupun dengan sektor lain serta peraturan pemerintah daerah memberikan tantangan pembangunan TIK yang tidaklah dengan mudah dapat diselesaikan. Hal ini juga diperburuk oleh lemahnya koordinasi dengan instansi terkait, seperti terungkap dalam penerbitan Peraturan Menkominfo No. 2/2008 tentang Pedoman Pembangungan Menara Bersama Telekomunikasi.

Rendahnya pemahaman dan ”awareness” masyarakat akan potensi TIK juga menjadi tantangan yang membutuhkan usaha sosialisasi yang tidak kenal lelah. Hal ini terbukti ketika terbitnya UU-ITE yang segera saja diiringi oleh berbagai polemik dan kontroversi yang justru mengalihkan hakiki dari UU-ITE yang bertujuan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi melalui transaksi elektronik. Sulitnya mensinergikan berbagai potensi TIK yang ada di tanah air merupakan tantangan yang paling mendasar dalam pengembangan TIK dan peningkatan daya saing nasional. Beberapa hal di atas hanyalah segelintir masalah dan tantangan yang ada saat ini, di kemudian hari diperkirakan berbagai hambatan juga akan muncul sejalan dengan terbitnya berbagai regulasi dan kebijakan baru.

PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430.doc

12

D. ROAD AHEAD Memperhatikan berbagai tantangan pembangunan TIK yang ada saat ini, infrastruktur eksisting yang telah dimiliki, serta berbagai program pengembangan yang sudah di siapkan oleh pemerintah, maka seyogyanya kita tetap optimis menatap masa depan TIK yang menjanjikan perbaikan. Disetujuinya UU-ITE yang harus dilengkapi berbagai peraturan pelaksanaan menjadi modal dasar pembangunan TIK, di samping berbagai program yang saat ini juga sudah dijalankan seperti aplikasi e-government, pengembangan perangkat lunak open source, penyiapan blue print TIK yang baru, penyiapan blue print satelit, dimulainya pembuatan chip TIK lokal, serta berbagai flagship dari DeTIKNas.

Di samping itu, kerja keras berbagai insan TIK, para pengembang aplikasi dan konten, serta kerja keras dari berbagai Departemen terkait lainnya dalam pelaksanaan program TIK masing-masing seperti Depdiknas, Kantor Meneg Ristek, dan berbagai pemda diharapkan dapat pula meningkatkan kinerja sektor TIK di masa yang akan datang.

Turunnya tarif berbagai jenis jasa telekomunikasi dan sambungan Internet menjadi modal penting guna memacu perkembangan TIK, baik antar sesama masyarakat ataupun dalam pengembangan aplikasi di instansi pemerintah. Turunnya tarif sambungan Internet yang lebih dipacu oleh faktor kompetisi ini tentu diharapkan tidak mematikan usaha TIK, tetapi justru bisa memacu sektor TIK menjadi lebih efisien.

Turun tangannya berbagai instansi terkait di luar Depkominfo seperti KPPU hendaknya dapat dilihat sebagai suatu sisi positif yang justru akan memacu terjadinya persaingan sehat antar operator yang berujung kepada peningkatan daya beli relatif masyarakat karena terjadi proses koreksi dan efisiensi jasa TIK seperti yang saat ini dialami. Beberapa masalah TIK yang ada saat ini semestinya bisa dicarikan solusi internal di Depkominfo terlebih dahulu, dan
13

PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430.doc

apabila menyangkut permasalahan lintas sektor dan instansi sudah seyogyanya pula dibawa ke tingkat yang lebih tepat untuk dicarikan jalan keluarnya.

Di atas semua itu, perlu kembali dipahami bahwa sektor TIK adalah sebagai alat pendorong dan penggerak berbagai kegiatan ekonomi yang tujuan akhirnya adalah meningkatkan kemampuan penggunanya dalam meningkatkan pendapatan dan pengetahuan mereka menuju persaingan global yang semakin kompetitif. Karena itu, pemanfaatan TIK di berbagai sektor ekonomi yang mampu mendorong aplikasi ilmu pengetahuan dalam peningkatan proses produksi justru menjadi salah satu target utama di dalam menyongsong globalisasi dan Knowledge Based Economy (KBE).

Jalan masih panjang, namun dengan berbagai potensi yang dimiliki, pengetahuan akan sejarah panjang perjalanan TIK nasional, kolaborasi yang baik dengan ICT professional, serta tersedianya infrastruktur yang sudah berkelas dunia, maka tidak ada alasan bagi bangsa Indonesia untuk gagal dalam pengembangan TIK di masa datang.

Mari kita jadikan momentum 100 tahun Kebangkitan Nasional ini menjadi kesempatan emas dalam mewujudkan dan menyongsong datangnya era ekonomi baru. Hal itu hanya bisa jika kita mampu mensinergikan potensi yang ada, bukan melalui konflik dan kontroversi yang saling meniadakan.

Semoga!

____

PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430.doc

14

Note: Silakan pilih foto sesuai selera editor. Ir. Eddy Satriya, MA adalah Senior Infrastructure Economist yang saat ini bekerja sebagai Asisten Deputi Urusan Telematika dan Utilitas, Kantor Menko Bidang Perekonomian. Menyelesaikan S-1 di Jurusan Elektro ITB (Telekomunikasi), Bandung, pada tahun 1989 dan kemudian menyelesaikan MA in Economics Program di University of Connecticut, Storrs, USA pada tahun 1997. Selain itu ia juga mengikuti berbagai pelatihan di dalam dan diluar negeri, antara lain: Advanced Economic Development Course di IDCJ (1998), Tokyo, Japan; Data Communication Technology di HRD Center Korea Telecomm (2001) di Daejon, Korea Selatan; Executive Gas Policy Training (2005), Alphatania, London, UK; serta Gas Transportation Policy (2005), Institut Francais du Petrole, Paris, Perancis. Di samping tugas PNS, ia juga aktif menulis artikel di berbagai media cetak dan elektronik yang meliputi ICT, energi, reformasi, dan isu penting seputar birokrasi. Publikasinya dapat dinikmati di eddysatriya.blogspot.com .

PERJALANAN PANJANG TIK MENUJU EKONOMI BARU-final-18may1430.doc

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->