You are on page 1of 12

4

KONSEP DASAR FISTULA ANI

oleh
kelompok 6
Indah Dwi Haryati

NIM 132310101005

Larasamiati Rasman

NIM 132310101018

Novaria Dyah Ayu P NIM 132310101022


Anis Fitri Nurul A

NIM 132310101023

Yulia Martha F

NIM 132310101029

Nailul Aizza R

NIM 132310101032

Popi Dyah Putri K

NIM 132310101035

Insiyah Noryza Ayu S

NIM 132310101037

Siti Aisyah Dwi Asri

NIM 132310101050

Siti Nurhasanah

NIM 132310101058

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL.....................................................................

.....

i
HALAMAN JUDUL........................................................................ .....

ii

KATA PENGANTAR..................................................................... .....

iii

DAFTAR ISI.................................................................................... .....

iv

BAB 1. PENDAHULUAN............................................................... .....

1.1 Latar Belakang....................................................................


1.2 Rumusan Masalah..............................................................
1.3 Tujuan............................................................................. .....

BAB 2. PEMBAHASAN.......................................................................

2.1 Fistula ani...........................................................................

2.1.1 Definisi ......................................................................

2.1.2 Etiologi ......................................................................

2.1.3 Patofisiologi ...............................................................

2.1.4 Manifestasi Klinis .....................................................

2.1.5 Pemeriksaan Diagnostik ...........................................

2.1.6 Penatalaksanaan ........................................................

10

2.1.7 Komplikasi ................................................................

11

BAB 3. PATHWAY.............................................................................

13

BAB 4. PENUTUP.............................................................. ................

14

3.1 Kesimpulan..........................................................................

14

3.2 Saran............................... ....................................................

15

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................

16

KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul Konsep Dasar Fistula
Ani dengan baik dan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi
tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Klinik IIIA.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena
itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Murtaqib, M.Kep. selaku dosen pembimbing mata kuliah kuliah
Keperawatan Klinik III-A;
2. teman-teman yang telah membantu;
3. semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Penulis juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi
kesempurnaan makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat dan menambah pengetahuan pembaca.

Jember, Maret 2015

Penulis

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Fistula adalah hubungan abnormal antara dua tempat yang berepitel.

Sementara fistula ani adalah fistula yang menghubungkan antara saluran anal ke
kulit di sekitar anus atau ke organ lain seperti vagina. Sebagian besar fistula
terbentuk dari sebuah abses (tapi tidak semua abses menjadi fistula). Sekitar 40%
pasien dengan abses akan terbentuk fistula. Pada penderita fistula ani, bisa
ditemukan satu atau lebih lubang fistula pada permukaan kulitnya. Dari lubang
fistula tersebut bisa keluar nanah atau pun kotoran saat buang air besar. Fistula ani
sering terjadi pada laki-laki berumur 20-40 tahun. Jumlahnya berkisar 1-3 kasus
tiap 10.000 orang.
Mayoritas penyakit supurativ anorektal terjadi karena infeksi dari kelenjar
anus (cyptoglandular). Kelenjar ini terdapat di dalam ruang intersphinteric. Proses
awal yang terjadi yaitu adanya infeksi pada kelenjar anus. Akibatnya, sebuah
abses kecil terbentuk di daerah intersfincter. Abses ini kemudian membengkak dan
fibrosis, termasuk di bagian luar kelenjar anus di garis kripte. Ketidakmampuan
abses untuk keluar dari kelenjar tersebut mengakibatkan proses peradangan
yangmeluas sampai perineum, anus atau seluruhnya, yang akhirnya membentuk
abses perianal dan kemudian menjadi fistula.
1.2

1.3

Rumusan masalah
1.2.1

Apakah yang dimaksud dengan fistula ani?

1.2.2

Bagaimanakah etiologi dari fistula ani?

1.2.3

Bagaimanakah patofisiologi dari fistula ani?

1.2.4

Bagaimanakah manifestasi klinis dari fistula ani?

1.2.5

Bagaimanakah pemeriksaan diagnostik dari fistula ani?

1.2.6

Bagaimanakah penatalaksanaan dari fistula ani?

1.2.7

Apa saja komplikasi dari fistula ani?

Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum

Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan konsep teori penyakit


fistula ani
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi dari fistula ani;
b. Mahasiswa mampu menjelaskan etiologi fistula ani;
c. Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi dari fistula ani;
d. Mahasiswa mampu menjelaskan manifestasi klinis dari fistula ani;
e. Mahasiswa mampu menjelaskan pemeriksaan diagnostik dari
fistula ani;
f. Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan dari fistula ani;
g. Mahasiswa mampu menjelaskan komplikasi dari fistula ani.

BAB 2. KONSEP DASAR FISTULA ANI


2.1 Definisi
Fistula adalah hubungan abnormal antara dua tempat yang berepitel.
Fistula ani adalah fistula yang menghubungkan antara kanalis anal ke kulit di
sekitar anus (ataupun ke organ lain seperti ke vagina). Fistula ani, fistula in ano,
atau sering juga disebut fistula perianal merupakan sebuah hubungan yang
abnormal antara epitel dari kanalis anal dan epidermis dari kulit perianal. Fistula
ani adalah bentuk kronik dari abses anorektal yang tidak sembuh sehingga
membentuk traktus akibat inflamasi. Pada permukaan kulit bisa terlihat satu atau

lebih lubang fistula, dan dari lubang fistula tersebut dapat keluar nanah ataupun
kotoran saat buang air besar.

2.2 Etiologi
Fistula dapat muncul secara spontan atau sekunder karena abses perianal
(perirectal). Faktanya, setelah drainase dari abses periani, hampir 50% terdapat
kemungkinan untuk berkembang menjadi fistula yang kronik. Kebanyakan fistula
berawal dari kelenjar dalam di dinding anus atau rektum. Kadang-kadang fistula
merupakan akibat dari pengeluaran nanah pada abses anorektal. Terdapat sekitar
7-40% pada kasus abses anorektal berlanjut menjadi fistel perianal. Namun lebih
sering penyebabnya tidak dapat diketahui. Organisme yang biasanya terlibat
dalam pembentukan abses adalah Escherichia coli, Enterococcus sp dan
Bacteroides c ksp. Fistula juga sering ditemukan pada penderita dengan penyakit
Crohn, tuberkulosis, devertikulitis, kanker atau cedera anus maupun rektum,
aktinomikosis dan infeksi klamidia.
Fistula pada anak-anak biasanya merupakan cacat bawaan. Fistula yang
menghubungkan rektum dan vagina bisa merupakan akibat dari terapi sinat x,
kanker, penyakit Crohn dan cedera pada ibu selama proses persalinan.

10

2.3 Patofisiologi
Hipotesa kriptoglandular menyatakan bahwa infeksi yang pada awalnya
masuk melalui kelenjar anal akan menyebar ke dinding otot sphingter anal
menyebabkan abses anorektal. Abses yang pecah spontan, akhirnya meninggalkan
bekas berupa jaringan granulasi di sepanjang saluran, sehingga menyebabkan
gejala yang berulang.
Penjelasan hipotesis yang paling jelas adalah kriptoglandular, yang
menjelaskan bahwa fistula ani merupakan abses anorektal tahap akhir yang telah
terdrainase dan membentuk traktus. Kanalis anal mempunyai 6-14 kelenjar kecil
yang terproyeksi melalui sfingter internal dan mengalir menuju kripta pada linea
dentata. Kelenjar dapat terinfeksi dan menyebabkan penyumbatan. Bersamaan
dengan penyumbatan itu, terperangkap juga feces dan bakteri dalam kelenjar.
Penyumbatan ini juga dapat terjadi setelah trauma, pengeluaran feces yang keras,
atau proses inflamasi. Apabila kripta tidak kembali membuka ke kanalis anal,
maka akan terbentuk abses di dalam rongga intersfingterik. Abses lama kelamaan
akan menghasilkan jalan keluar dengan meninggalkan fistula, dimana fistula
mempunyai satu muara di kripta di perbatasan anus dan rektum, dan lobang lain di
perineum di kulit perianal.

2.4 Manifestasi Klinis


Fistula ani memiliki manifestsasi klinis sebagai berikut :
1. Keluarnya pus seropuruluen dari lubang fistula yang mengiritasi kulit di
2.
3.
4.
5.
6.

sekitarnya dan menyebabkan perasaan tidak nyaman.


Demam dan tanda-tanda umum infeksi.
Gejala ini sudah menahun.
Abses perianal yang rekurens.
Gatal di sekitar anus dan lubang fistula.
Bila bukaan tersumbat maka nyeri akan timbul meningkat hingga pus

7.
8.

dapat keluar.
Nyeri yang bertambah pada saat bergerak, defekasi dan batuk.
Kadang terjadi penyembuhan superfisial yang kemudian menyebabkan pus
terakumulasi dan abses terbentuk kembali.

11

9.

Abses kemudian akan pecah lagi melalui lubang yang sama atau lubang

baru.
10. Pada pemeriksaan fisik pada daerah anus, dapat ditemukan satu atau lebih
external opening atau teraba fistula di bawah permukaan. Pada colok
dubur terkadang dapat diraba indurasi fistula dan internal opening.

2.5 Pemeriksaan Diagnostik


Pemeriksaan dignostik pada pasien dengan fistula ani dapat dilakukan melalui
berbagai macam pemeriksaan, yaitu :
1. Fistulografi, yaitu memasukkan alat ke dalam lubang/fistel untuk
mengetahui keadaan luka. Fistulografi merupakan injeksi kontras melalui
pembukaan internal, diikuti dengan anteroposterior, lateral dan gambaran
X-ray oblik untuk melihat jalur fistula. Pemeriksaan harus dilengkapi
dengan rektoskopi untuk menentukan adanya penyakit di rektum seperti
2.

karsinoma atau proktitis tbc, amuba, atau morbus Crohn.


Ultrasound endoanal / endorektal: Menggunakan transduser 7 atau 10
MHz ke dalam kanalis ani untuk membantu melihat differensiasi muskulus
intersfingter dari lesi transfingter. Transduser water-filled ballon
membantu evaluasi dinding rectal dari beberapa ekstensi suprasfingter.

Modalitas ini tidak digunakan secara luas untuk evaluasi klinis fistula.
MRI: MRI dipilih apabila ingin mengevaluasi fistula kompleks, untuk

memperbaiki rekurensi.
CT- Scan: CT Scan umumnya diperlukan pada pasien dengan penyakit
crohn atau irritable bowel syndrome yang memerlukan evaluasi perluasan
daerah inflamasi. Pada umumnya memerlukan administrasi kontras oral

dan rektal.
Barium Enema: untuk fistula multiple, dan dapat mendeteksi penyakit

inflamasi usus.
Anal Manometri: evaluasi tekanan pada mekanisme sfingter berguna pada
pasien tertentu seperti pada pasien dengan fistula karena trauma
persalinan, atau pada fistula kompleks berulang yang mengenai sphincter
ani.

2.6 Penatalaksanaan

12

Terapi Konservatif Medikamentosa dengan pemberian analgetik, antipiretik


serta profilaksis antibiotik jangka panjang untuk mencegah fistula rekuren.
Terapi pembedahan:
1. Fistulotomi: Fistel di insisi dari lubang asalnya sampai ke lubang kulit,
dibiarkan terbuka,sembuh per sekundam intentionem. Dianjurkan sedapat
mungkin dilakukan fistulotomi.
2. Fistulektomi: Jaringan granulasi harus di eksisi keseluruhannya untuk
menyembuhkan

fistula.

Terapi

terbaik

pada

fistula

ani

adalah

membiarkannya terbuka.
3. Seton: benang atau karet diikatkan malalui saluran fistula. Terdapat dua
macam Seton, cutting Seton, dimana benang Seton ditarik secara gradual
untuk memotong otot sphincter secara bertahap, dan loose Seton, dimana
benang Seton ditinggalkan supaya terbentuk granulasi dan benang akan
ditolak oleh tubuh dan terlepas sendiri setelah beberapa bulan.
4. Advancement Flap: Menutup lubang dengan dinding usus, tetapi
keberhasilannya tidak terlalu besar.
5. Fibrin Glue: Menyuntikkan perekat khusus (Anal Fistula Plug/AFP) ke
dalam saluran fistula yang merangsang jaringan alamiah dan diserap oleh
tubuh. Penggunaan fibrin glue memang tampak menarik karena sederhana,
tidak sakit, dan aman, namun keberhasilan jangka panjangnya tidak
tinggi, hanya 16%.
Pasca Operasi
1.

Pada operasi fistula simple, pasien dapat pulang pada hari yang sama setelah
operasi. Namun pada fistula kompleks mungkin membutuhkan rawat inap

2.

beberapa hari.
Setelah operasi mungkin akan terdapat sedikit darah ataupun cairan dari luka
operasi untuk beberapa hari, terutama sewaktu buang air besar. Perawatan
luka pasca operasi meliputi sitz bath (merendam daerah pantat dengan cairan
antiseptik), dan penggantian balutan secara rutin. Obat obatan yang diberikan
untuk rawat jalan antara lain antibiotika, analgetik dan laksatif. Aktivitas
sehari hari umumnya tidak terganggu dan pasien dapat kembali bekerja
setelah beberapa hari. Pasien dapat kembali menyetir bila nyeri sudah

13

berkurang. Pasien tidak dianjurkan berenang sebelum luka sembuh, dan tidak
disarankan untuk duduk diam berlama-lama.

2.7 Komplikasi

Komplikasi dapat terjadi langsung setelah operasi atau tertunda. Komplikasi


yang dapat langsung terjadi antara lain:
1.
2.
3.

Perdarahan
Impaksi fecal
Hemorrhoid

Komplikasi yang tertunda antara lain adalah:


1. Inkontinensia
Munculnya inkontinensia berkaitan dengan banyaknya otot sfingter yang
terpotong, khususnya pada pasien dengan fistula kompleks seperti letak tinggi
dan letak posterior. Drainase dari pemanjangan secara tidak sengaja dapat
merusak saraf-saraf kecil dan menimbulkan jaringan parut lebih banyak.
Apabila pinggiran fistulotomi tidak tepat, maka anus dapat tidak rapat
menutup, yang mengakibatkan bocornya gas dan feces. Risiko ini juga
meningkat seiring menua dan pada wanita.
2. Rekurens
Terjadi akibat kegagalan dalam mengidentifikasi bukaan primer atau
mengidentifikasi pemanjangan fistula ke atas atau ke samping. Epitelisasi dari
bukaan interna dan eksterna lebih dipertimbangkan sebagai penyebab
persistennya fistula. Risiko ini juga meningkat seiring penuaan dan pada
wanita.
3. Stenosis kanalis
Proses penyembuhan

menyebabkan

fibrosis

pada

kanalis

anal.

Penyembuhan luka yang lambat. Penyembuhan luka membutuhkan waktu


kurang lebih 12 minggu, kecuali ada penyakit lain yang menyertai (seperti
penyakit Crohn).

14

BAB 3. PATHWAYS

BAB 4. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Fistula adalah hubungan abnormal antara dua tempat yang berepitel.
Fistula ani adalah fistula yang menghubungkan antara kanalis anal ke kulit di

15

sekitar anus (ataupun ke organ lain seperti ke vagina). Fistula dapat muncul secara
spontan atau sekunder karena abses perianal (perirectal). Faktanya, setelah
drainase dari abses periani, hampir 50% terdapat kemungkinan untuk berkembang
menjadi fistula yang kronik. Kebanyakan fistula berawal dari kelenjar dalam di
dinding anus atau rektum. Kadang-kadang fistula merupakan akibat dari
pengeluaran nanah pada abses anorektal. Hipotesa kriptoglandular menyatakan
bahwa infeksi yang pada awalnya masuk melalui kelenjar anal akan menyebar ke
dinding otot sphingter anal menyebabkan abses anorektal. Abses yang pecah
spontan, akhirnya meninggalkan bekas berupa jaringan granulasi di sepanjang
saluran, sehingga menyebabkan gejala yang berulang
4.2 Saran
Setelah mengetahui secara lebih mendalam mengenai fistula ani, maka kita
sebagai perawat memiliki pengetahuan yang lebih dalam sehingga dapat
mempermudah dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Sebagai seorang
perawat mengetahui penyakit yang dapat terjadi pada sistem pencernaan
merupakan suatu hal yang penting. Sehingga dalam memberikan pelayanan
kepada pasien, kita dapat memberikan pelayanan secara maksimal kepada pasien.
Dengan

demikian,

diharapkan

kita

sebagai

perawat

dapat

membantu

mengoptimalkan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kesembuhan pasien.

DAFTAR PUSTAKA
Price and Wilson. 2005. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Vol.2.
Jakarta : EGC.
Corwin, Elizabeth J. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC
Pearce, Evelyn C. 1979. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta:
Gramedia