You are on page 1of 7

KESEIMBANGAN ASAM-BASA

PAPER
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Gizi Kondisi Kritis

Oleh
Kelompok 1
Maya Deorita Deflorenz
Dini Durotul Hikmah
Gina Nisrina
Windi Sri Mulyani
Melfa Siti Asyary

P17331113404
P17331113412
P17331113419
P17331113423
P17331113431

JURUSAN GIZI PROGRAM D-IV


POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
2015-2016

1.

Pengertian Keseibangan asam-basa

Semua sel hidup pada tubuh manusia dikelilingi oleh lingkungan cair yang disebut cairan
ekstraselular (CES). Komposisi kimiawi dari CES diatur di dalam batas-batas sempit yang
memberikan lingkungan optimal untuk mempertahankan fungsi sel normal. Konsentrasi ion yang
paling tepat keteraturannya dalam cairan ekstraselular adalah ion hidrogen. Penyimpangan dari
konsentrasi ion hidrogen dapat mengganggu reaksi normal metabolisme selular dengan
mengubah keefektifan enzim, hormone, dan pengatur kimiawi fungsi sel lain. Penyimpangan ini
juga dapat mempengaruhi distribusi ion-ion normal (seperti natrium dan kalium) diantara cairan
intraselular dan CES, dengan demikian mengganggu berbagai sel dan jaringan yang fungsinya
terganggu pada ion, seperti konduksi, konstraksi, dan sekresi. Oleh karena itu, konsentrasi ion
hydrogen CES normal penting untuk fungsi tubuh normal. Konsentrasi ini ditentukan oleh tipe
dan jumlah asam dan basa yang ada dan pengaturannya yang secara umum disebut
keseimbangan asam basa.
Keseimbangan asam basa adalah suatu keadaan dimana konsentrasi ion H+ yang
diproduksi setara dengan konsentrasi ion H+ yang dikeluarkan oleh sel. Keseimbangan asambasa adalah keseimbangan ion H+. Pada proses kehidupan keseimbangan asam pada tingkat
molekuler umumnya berhubungan dengan asam lemah dan basa lemah, begitu pula pada
tingkatkonsentrasi ion H+ atau ion OH- yang sangat rendah.

2.

Pengaturan keseimbangan Asam-Basa


Pengaturan asam-basa tubuh merupakan salah satu mekanisme penting tubuh untuk

mempertahankan tingkat kasaman (pH) cairan tubuh. Secara umum, keasaman cairan tubuh
ditentukan berdasarkan pengaturan kadar H+ dalaam tubuh, sebab kadar H+ merupakan factor
utamam yang mempengaruhi pH tubuh.
Ada 3 faktor utama yang mengatur konsentrasi ion hydrogen dalam tubuh guna
mencegah terjadinya asidosis atau alkalosis. Ketiga factor tersebut antara lain:

a. Mekanisme penyangga (Bufer)

Mekanisme penyangga mencegah perubahan pH berlebih dengan membuang atau


melepaskan ion hydrogen. Saat pH tubuh rendah(asam) system buffer bekerja mengikat
ion hydrogen sehingga menghilangkan efek asam yang ditimbulkan yang ditimbulkan
oleh ion H+. sebaliknya, saat pH tubuh tinggi (basa), system buffer melepaskan ion
hydrogen sehingga dapat meminimalkan perubahan pH.
Secara umum terdapat beberapa jenis system penyangga, namun yang paling
penting adalah system penyangga bikarbonat. Penyangga bikarbonat adalah system
penyangga yang terdiri atas larutan air yang mengandung dua zat, yaitu asam karbonat
(H2CO3) dan garam bikarbonat (NaHCO3). H2CO3 dibentuk oleh tubuh melalui
mekanisme berikut ini:
CO2 + H2O H2CO3 H- + HCO3Karena disosiasi H2CO3 lemah ion H+ yang terbentuk sangat sedikit. Apabila asam
kuat (missal: HCl) ditambahkan kedalam larutan bikarbonat, ion H+ yang dilepaskan dari
asam akan disangga oleh HCO3-. Dengan demikian, akan terbentuk lebih banyak H 2CO3
sehingga dapat meningkatkan produksi CO2 dan H2O. sebaliknya, bila basa (missal
NaOH) dimasukkan kedalam larutan penyangga, akan terjadi reaksi berikut ini
NaOH + H2CO3 NaHCO3 + H2O
Pada reaksi diatas, ion hidroxil (OH -) dari NaOH bergabung dengan H2CO3 untuk
membentuk HCO3- tambahan. Melalui proses ini basa lemah NaHCO 3 akan
menggantikan basa kuat NaOH. Secara umum prinsip yang berlaku

pada system

penyangga bikarbonat berlaku pula pada sitem penyangga yang lain (penyangga posfat
maupun protein seperti hemoglobin). Dalam hal ini, system penyangga menggunakan
prinsip pengikatan untuk menghilangkan sifat asam/basa kuat dengan mengubahnya
menjadi asam/basa lemah.
b. Mekanisme pernapasan
Apabila mekanisme pertahanan tahap pertama tidak dapat tertoleransi, tubuh akan
berusaha mengaktifkan pertahanan tahap kedua melalui mekanisme pernapasan. Pada
mekanisme ini, tubuh akan mengeluarkan lebih banyak CO2, dengan melakukan
hiperventilasi. Ketika proses metabolism meningkat, kadar CO2 intraseluler juga akan
meningkat. Ini berpengaruh pada kemungkinan pembentukan H2CO3 yang lebih banyak.
Sehingga dapat menigkatkan pembentukan ion H+. mekanisme pernapan berfungsi
meningkatkan ventilasii untuk mengurangi tekanan CO2 intraseluler sehingga
pembentukan H2CO3 menjadi berkurang.

c. Mekanisme Ginjal
Ginjal mengontrol keseimbangan asam-basa dengan mengeluarkan urine
asam/basa. Mekanisme pengeluaran urin asam dan basa sesungguhnya merupaka
mekanisme pengotrolan ginjal terhadap ekskresi dan reabsorpsi ion bikarbonat (HCO 3-).
Rabsorpsi ion bikarbonat dan ekskresi ion hydrogen keduanya dicapai melalui proses
sekresi ion hydrogen ooleh tubulus, sebab ion bikarbonat harus bereaksi dengan satu ion
hydrogen agar dapat di rabsorpsi. Sejumlah besar ion bikarbonat disaring terus menerus
kedalam tubulus. Jika kondisi

keasaman tubuh meningkat (pH menurun), proses

reabsorpsi bikarbonat akan ditingkatkan untuk mempertahankan pH tubuh. Selain itu,


tubuh juga akan memproduksi bikarbonat baru yang akan ditambhakan kedalam cairan
ekstraseluler sehingga urin yang dikeluarkan menjadi asam. Sebaliknya, bila pH
meningkatkan karena kekurangan iond hydrogen dalam cairan ekstraseluler (alkalosis)
ginjal tidak akan mereabsoprsi semua ion bikarbonat yang disaring sehingga akan
meningkatkan ekskresi bikarbonat. Karena ion bikarbonat normalnya penyangga
hydrogen dalam cairan ekstraseluler, kehilangan satu ion bikarbonat sama dengan
penambahan satu ion hydrogen dlam cairan ekstraseluler untuk kembali kekondisi
normal. Jadi, ginjal mengatur konsentrasi ion hydrogen cairan ektstra seluler 3
mekanisme dasar yaitu (1) sekresi ion hydrogen; (2) reabsorpsi ion bikarbonat yang
difiltrasi; dan (3) produksi ion bikarbonat baru.
3. Gangguan Keseimbangan Asam Basa
Gangguan keseimbangan asam basa dapat timbul dari penyebab respiratori atau
metabolik. Empat tipe gangguan asam basa utama adalah asidosis respiratori, alkalosis
respiratori, asidosis metabolik, dan alkalosis metabolik. (Tambayong,2000)
3.1.

Asidosis respiratori

Disebabkan oleh kegagalan sistem pernafasan untuk membuang karbondioksida dari cairan
tubuh secepat ia diproduksi dalam jaringan. Kerusakan pernafasan menimbulkan peningkatan
PCO2 arteri diatas 45 mm Hg, dengan penurunan nilai pH sampai 7,35 atau kurang. Penyebab
asidosis respiratori mencakup penyakit obstruktif dan restriktif paru, gangguan gerakan rangka
torakal (misalnya polimielitis), penurunan aktifitas pusat pernafasan (karena trauma otak,

hemoragi, narkonik, anestetik, dan lain-lain.) dan penyakit neuromuscular (misalnya miastenia
gravis, sindrom Guillain Barre). (Tambayong,2000)
3.2.

Alkalosis respiratori

Disebabkan oleh kehilangan karbondioksida dari paru-paru pada kecepatan yang lebih cepat
daripada produksinya di dalam jaringan. Hal ini menimbulkan penurunan PCO 2 arteri dibawah
35 mm Hg, dengan pH lebih besar dari 7,45. Alkalosis respiratorisering terjadi karena pernafasan
berlebihan yang disengaja. Penyebab lain mencakup ketinggian yang sangat tinggi, ansietas,
meningitis, keracunan aspirin, pneumonia, emboli paru, dan faktor lain yang meningkatkan
aktifitas pusat pernafasan. (Tambayong,2000)
3.3.

Asidosis Metabolik

Disebabkan oleh akumulasi abnormal fixed acid atau kehilangan basa. pH darah arteri
dibawah 7,35, dan bikarbonat plasma biasanya menurun dibawah 22 meq/L. Asidosis metabolik
dapat diakibatkan dari akumulasi sistemik baik asam hidroklorida maupun nonhidroklorida.
Gejala asidosis metabolik berat mencakup pernafasan dalam dan cepat (kussmaul), idsorientasi,
dan koma. Manifestasi klinis asidosis metabolik bergantung pada kadar pH. (Tambayong,2000)
a. Ketoasidosis Diabetik
Yaitu salah satu komplikasi akut diabetes yang ditandai dengan adanya peningkatan total
benda keton di sirkulasi. Gula darah lebih dari 250 mg/dl. pH darah yang kurang dari 7,35
dianggap sebagai adanya asidosis, hanya saja pada keadaan yang terkompensasi seringkali pH
menunjukkan angka normal. Pada keadaan seperti itu jika angka HCO 3 kurang dari 18 meq/L
ditambah dengan keadaan klinis yang sesuai maka sudah cukup untuk menegakkan KAD.
(Tarigan, 2014)
3.4.

Alkalosis Metabolik

Disebabkan oleh kehilangan ion hidrogen atau penambahan basa pada cairan tubuh. Alkalosis
metabolik didefinisikan sebagai gangguan yang mengakibatkan peningkatan primer, bukan
sekunder HCO3- plasma. Bikarbonat plasma meningkat sampai diatas 26 meq/L, dan pH darah
arteri meningkat diatas 7,45. Peningkatan sekunder pada HCO3- plasma sering terlihat pada

asidosis respiratori kronis sebagai kompensasi untuk mempertahankan pH pada nilai normal.
Salah satu penyebab alkalosis metabolik adalah mencerna sejumlah besar basa (misalnya
BaHCO3, atau soda kue. untuk mengatasi ulkus lambung dan rasa kembung. Manifestasi klinis
dari alkalosis metabolik mencakup apatis, kelemahan, kekacawan mental, kram, dan pusing.
Beberapa gambaran klinis dihubungkan dengan hipokalemia atau hipokalsemia. Gejala
neurologis mencakup parestesia dan sakit kepala. (Tambayong,2000)

DAFTAR PUSTAKA

dr.Jan Tambayong. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.

F.K.Universitas Indonesia. 2010. Gangguan Keseimbangan Air-Elektrolit dan Asam-Basa :


Fisiologi, Patofisiologi, Diagnosis dan Tatalaksana Edisi Ke-2, FK-UI, Jakarta.
Tamsuri, Anas. 2004. Klien Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran.
Setiati S, Alwi I, Sudoyo W, dkk (editor). 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta; Interna
Publishing.