You are on page 1of 26

BAB I

PENDAHULUAN
Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan
berkembang sejak saat konsepsi hingga sampai berakhirnya masa remaja. Hal
inilah yang membedakan anak dari orang dewasa. Jadi anak tidak bisa
diidentifikasi dengan dewasa dalam bentuk kecil. Ilmu pertumbuhan dan
perkembangan merupakan dasar Ilmu Kesehatan Anak dan kedua istilah itu
disatukan menjadi ilmu tumbuh kembang, oleh karena meskipun merupakan
proses yang berbeda, keduanya tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling
berkaitan satu sama lain. Seorang anak memiliki ciri khas berbeda dengan
orang dewasa baik anatomi, fisiologis maupun biokimia.
Mempelajari tumbuh kembang mempunyai tujuan umum, menjaga
agar seorang anak dapat tumbuh dan berkembang melalui tahap-tahap
pertumbuhan dan perkembangan, baik secara fisik-mental, emosi dan sosial
sesuai dengan potensi yang dimilikinya agar menjadi manusia dewasa yang
berguna.
Disamping itu tujuan khususnya adalah mengetahui dan memahami
proses pertumbuhan dan perkembangan sejak konsepsi sampai dewasa agar
kita dapat mendeteksi yang terjadi pada proses pertumbuhan dan
perkembangan dan segera dapat mengatasi permasalahannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

DEFINISI

Pertumbuhan (growth) adalah hal yang berkaitan dengan masalah


perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ
maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound,
kilogram), ukuran panjang (cm,meter).

Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan


(skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam
pola yang teratur, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini
menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel sel tubuh, jaringan
tubuh, organ organ dan sistem organ yang berkembang.

2.2

TAHAPAN TUMBUH KEMBANG ANAK


Tumbuh kembang anak berlangsung secara teratur, saling

berkaitan

dan berkesinambungan dimulai sejak konsepsi sampai dewasa,

walaupun

terdapat beberapa variasi akan tetapi setiap anak akan

melewati suatu pola

tertentu yang merupakan tahap-tahap pertumbuhan dan

perkembangan sebagai

berikut :

Tabel 1.1 Tahap-tahap tumbuh kembang anak dan remaja


1. Masa prenatal
a. Masa embrio : konsepsi 8 minggu
b. Masa janin/fetus : 9 minggu lahir
2. Masa bayi : 0-1 tahun
a. Masa neonatal : usia 0-28 hari
b. Masa pasca neonatal : 29hari 1 tahun
3. Masa pra-sekolah : usia 1-6 tahun
4. Masa sekolah : usia 6-18/20 tahun

a. Masa pra-remaja : usia 6-10 tahun


b. Masa remaja :
1. Masa remaja dini
2. Masa remaja lanjut

2.3

CIRI CIRI PERTUMBUHAN ANAK


Secara garis besar terdapat 4 kategori perubahan sebagai ciri
pertumbuhan yaitu

Perubahan ukuran

Perubahan ini terlihat secara jelas pada pertumbuhan fisik yang


dengan bertambahnya umur anak terjadi pula penambahan berat
badan, tinggi badan, lingkaran kepala dan lain-lain. Organ tubuh

seperti jantung, paru-paru atau usus akan bertambah besar dengan


peningkatan kebutuhan tubuh.

Perubahan proporsi

Anak bukanlah dewasa kecil, tubuh anak memperlihatkan perbedaan


proporsi bila dibandingkan dengan tubuh orang dewasa. Proporsi
tubuh seorang bayi baru lahir sangat berbeda dibandingkan tubuh anak
ataupun orang dewasa. Pada bayi baru lahir, kepala relative
mempunyai proporsi yang lebih besar dibanding dengan umur-umur
lainnya. Titik pusat tubuh bayi baru lahir kurang lebih setinggi
umbilicus, sedangkan pada orang dewasa titil pusat tubuh terdapat
kurang lebih setinggi simphisis pubis.

Hilangnya ciri-ciri lama

Selama proses pertumbuhan terdapat hal-hal yang terjadi perlahanlahan, seperti menghilangnya kelenjar timus, lepasnya gigi susu dan
menghilangnya refleks-refleks primitive.

Timbulnya ciri-ciri baru

Timbulnya ciri-ciri baru ini adalah sebagai akibat pematangan fungsifungsi

organ.

Perubahan

fisik

yang

penting

selama

proses

pertumbuhan adalah munculnya gigi tetap yang menggantikan gigi sus


yang telah lepas dan munculnya tanda-tanda seks sekunder seperti
tumbuhnya rambut pubis dan aksila, tumbuhnya buah dada pada
wanita dan lain-lain.
2.4

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TUMBUH KEMBANG


Proses pertumbuhan dan perkembangan anak tidak selamanya berjalan
sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini disebabkan karena banyak
faktor yang

mempengaruhinya baik faktor yang dapat dirubah

/dimodifikasi yaitu faktor

keturunan, maupun faktor yang tidak

dapat dirubah atau dimodifikasi yaitu

faktor

lingkungan.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan

dan

perkembangan anak adalah sebagai berikut :

Faktor Genetik

Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir


proses tumbuh kembang anak.

Melalui instruksi genetik yang

terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan


kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan
kecepatan

pembelahan,

derajat

sensitivitas

jaringan

terhadap

rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang.


Termasuk faktor genetik antara lain adalah berbagai faktor bawaan
yang normal dan patologik, jenis kelamin, suku bangsa atau bangsa.
Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan
lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.
Gangguan pertumbuhan di Negara maju yang sedang berkembang,
gangguan pertumbuhan selain diakibatkan oleh faktor genetik, juga
faktor lingkungan yang kurang memadai untuk tumbuh kembang anak
yang optimal, bahkan kedua faktor ini dapat menyebabkan kematian
anak-anak sebelum mencapai balita.

Faktor Lingkungan

Faktor prenatal

: Gizi ibu pada waktu hamil, mekanis, toksin /

zat kimia, endokrin, radiasi, infeksi, stress, imunitas, anoksia embrio.


Faktor postnatal

Lingkungan biologis, faktor fisik, faktor psikososial, faktor keluarga


dan adat istiadat,
2.5

DETEKSI TUMBUH KEMBANG ANAK


Deteksi dini tumbuh kembang anak adalah kegiatan pemeriksaan
untuk

menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh

kembang pada balita

dan bayi pra sekolah (kemenkes RI, 2012).

2.6

PENILAIAN PERTUMBUHAN ANAK


Status Gizi

Klinis
:
Terdapatnya edema pada kedua kaki atau adanya severe wasting,
atau ada gejala klinis gizi buruk (kwashiorkor, marasmus atau

marasmik-kwashiorkor). (BB/TB < 70% atau < -3SD*).


Menilai Perawakan
:

Menurut Hippocrates :

Habitus phthisicus/ perawakan tinggi kurus


Habitus apoplekticus/ perawakan gemuk pendek

Menurut Kretschmer terdapat 3 jenis perawakan, yaitu :

Piknikus
Atletikus
Astenikus

Menurut Sheldon

Endomorfi
Mesomorfi
Ektomorfi, untuk perawakan yang sesuai dengan klasifikasi dari
Kretschmer

Antropometri
:
1. Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan
gambaran massa jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan
sangat peka terhadap perubahan

yang

mendadak

baik

karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan


yang menurun. Berat badan ini

dinyatakan dalam

bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur) atau


melakukan penilaian dengam melihat perubahan berat badan
pada saat pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya
memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan paling
banyak digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran,
hanya saja tergantung pada ketetapan umur, tetapi kurang
dapat menggambarkan kecenderungan perubahan situasi gizi
dari waktu ke waktu.
Penambahan berat badan pada janin

Trimester I

: 700 1000 gram/bln

Timester II

: 500 600 gram/bln

Trimester III

: 350 450 gram/bln

Timester IV

: 250 350 gram/bln

Rumus Perkiraan BB
Usia 3 12 bulan

: Usia (bulan) + 9 kg
2

Usia 1 6 tahun

: Usia (tahun) x 2 + 8 kg

Berat badan sampai umur 1 tahun bayi ditimbang tiap bulan,


sampai

umur 3 tahun bayi ditimbang tiap 3 bulan, sampai usia

5 tahun bayi

ditimbang 2 kali per tahun.


Dalam keadaan normal, berat badan bayi umur 4 bulan sudah
mencapai 2 x berat badan lahir. Pada umur 1 tahun

sudah 3 kali berat

badan lahir.

2. Tinggi Badan memberikan gambaran


yang dilihat dari keadaan

fungsi pertumbuhan

kurus kering dan kecil pendek.

Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa


lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan

berat badan

lahir rendah dan kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan
dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U ( tinggi badan menurut
umur), atau juga indeks BB/TB ( Berat Badan menurut Tinggi
Badan) jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang
lambat dan biasanya hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan
indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan
lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat
yang menahun.
Penambahan panjang badan pada janin

Trimester I : 2,8 4,4 cm / bulan

Timester II : 1,9 2,6 cm / bulan

Trimester III : 1,3 1,6 cm / bulan

Trimester IV : 1,2 1,3 cm /bulan


Penambahan panjang badan pada anak

0-3 bln = 3,5 cm/bln

3-6 bln = 2,0 cm/bln

6-9 bln = 1,5 cm/bln

9-12bln = 1,2 cm/bln

1-3 thn = 1,0 cm/thn

4-6 thn = 3,0 cm/thn .

3. Berat badan dan tinggi badan

adalah salah satu parameter

penting untuk menentukan status kesehatan manusia, khususnya


yang berhubungan dengan status gizi. Penggunaan Indeks BB/U,
TB/U dan BB/TB merupakan indikator status gizi untuk melihat
adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi tubuh.
Penggunaan berat badan dan tinggi badan akan lebih jelas dan
sensitive/peka dalam menunjukkan

keadaan gizi kurang bila

dibandingkan dengan penggunaan BB/U. Dinyatakan dalam


BB/TB, menurut standar WHO bila prevalensi kurus/wasting <
-2SD diatas 10 % menunjukan suatu daerah tersebut mempunyai
masalah gizi yang sangat serius

dan berhubungan langsung

dengan angka kesakitan.


Untuk menentukan status gizi, kita bias gunakan dua cara yaitu Z
score dan CDC :
1. Tabel Interpretasi Skor Z
Z score
> + 3 SD
> + 2 SD
> +1 SD
0 Median

TB/U
Normal
Normal
Normal

Indicator pertumbuhan
BB/U
BB/TB
BMI /U
Obese
Obese
Gizi lebih
Gizi lebih
Resiko gizi lebih Resiko gizi lebih
Normal
Normal
Normal

< -1 SD
< - 2SD
< -3 SD

Normal
Pendek
Sangat pendek

Normal
Gizi kurang
Gizi buruk

Normal
Kurus
Sangat kurus

1. Tabel interpretasi CDC

2.7

Lingkar kepala dipengaruhi oleh status gizi pada anak sampai usia
36 bulan. Pengukuran rutin dilakukan untuk menjaring kemungkinan
adanya penyebab lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan otak,
pengukuran berkala lebih memberi makna daripada pengukuran

2.8

sewaktu.
Hasil pengukuran
Interpretasi

Normal
Kurus
Sangat kurus

Lingkar Kepala < sentil ke -5 atau < -2SB menunjukkan adanya


mikrosefali, dan kemungkinan malnutrisi kronik pada masa intrauterin
atau masa bayi/ anak dini.

Lingkar kepala >sentil ke 95 atau >+2SB menunjukkan makrosefali.

Contoh Kasus untuk menentukan status gizi :


An Ahmad, Jenis Kelamin : Laki laki , Usia 4 tahun
BB : 18 kg
TB : 98 cm
Menurut Z-score :

Menurut dari Tabel BB/ U : Nilai yang didapat kan adalah 0 (median),
merujuk ke table interprestasi skor Z, anak ini termasuk dalam berat badan
yang normal.

Menurut CDC :

Status Gizi :
Contoh : BB/U x 100%
18kg/ 16 kg ( BB yang ideal untuk usia 4 tahun) x 100%
= 112% ( menurut table termasuk gizi baik yaitu diantara 80-120%).

2.9 PERKEMBANGAN
Tahap pertama adalah melakukan anamnesis yang lengkap, karena kelainan
perkembangan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Dengan anamnesis
yang teliti maka salah satu penyebabnya dapat diketahui.
Anamnesis :
Faktor pranatal dan perinatal, Kelahiran prematur, Faktor lingkungan,
penyakit yang dapat mempengaruhi, kecepatan pertumbuhan anak, pola
perkembangan anak dalam keluarga.
Penilaian perkembangan anak pada fase awal umumnya dibagi
menjadi 4 kemampuan fungsional, yaitu motorik kasar, motorik halus, dan
penglihatan, berbicara, bahasa dan pendengaran serta sosial emosi dan
perilaku. Salah satu alat untuk skrining yang dipakai secara internasional
yaitu DDST (Denver Development Screening Test) disebut sebagai Denver II
dengan menggunakan pass-fail ratings pada 4 ranah perkembangan, yaitu
personal sosial, fine motor adaptive, language, dan gross motor untuk anak
sejak lahir sampai usia 6 tahun.
Frakenburg , dkk (1981) melalui DSST (Denver Developmental Screening
Test) mengemukakan 4 parameter perkembangan yang dipakai dalam menilai
perkembangan anak balita yaitu:
1. Personal social (kepribadian/tingkah laku social).
a.
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri,
bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
2. Fine motor adaptive (gerakan motorik halus).
a. Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk
mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan
bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil,
tetapi

memerlukan

koordinasi

yang

cermat.

Misalnya

kemampuan untuk menggambar, memegang sesuatu benda, dll


3. Language (bahasa).
a. Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara,
mengikuti perintah dan berbicara spontan
4. Gross motor ( perkembangan motorik kasar).
a. Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.

INSTRUMEN TES PERKEMBANGAN


Ahli penyakit anak sekarang mempunyai banyak instrumen perkembangan
yang dapat dipilih. Instrumen yang paling baik adalah yang mempunyai data
psikometrik yang baik, termasuk sensitifitas, spesifitas, validitas, dan
realibilitas yang baik, dan telah distandarisasi pada populasi luas.
Instrumen yang dipakai oleh orang tua anak, seperti Parents Evaluation of
Developmental Status, Ages and Stages Questionnaires, dan Child
Development Inventories Mempunyai data psikometrik yang baik dan
mempunyai keunggulan dimana untuk melakukannya membutuhkan waktu
yang singkat bila dibandingkan dengan instrument yang membutuhkan
pemeriksaan langsung oleh ahli penyakit anak.
Instrument

seperti

Denver-II

screening

test,

Bayley

Infant

Neurodevelopmental Screener, Battelle Developmental Inventory, Early


Language Milestone Scale, dan Brigance Screens melibatkan pemeriksaan
langsung terhadap kemampuan anak. The CAT-CLAMS merupakan tes yang
didesain khusus untuk dapat digunakan oleh ahli penyakit anak untuk menilai
kemampuan kognitif dan bahasa dari anak.
Setiap tes skrining mempunyai kekuatan dan kelemahannya masing masing.
Contohnya the Denver-II screening test yang telah digunakan secara luas,
namun mempunyai sensitifitas dan spesifitas yang rendah tergantung dari
interpretasi hasilnya. Setiap tes juga harus dilakukan sesuai instruksi yang
ada, jika tidak maka hasilnya akan tidak valid.
Skrining untuk psikososial dan tingkah laku pada anak terdapat beberapa
tantangan, anak dengan perkembangan yang terhambat mempunyai resiko
yang tinggi untuk memiliki masalah tingkah laku. Kebanyakan instrument
skrining perkembangan tidak dapat menilai pada area ini secara adekuat.
Instrument tes seperti the Temperament and Atypical Behavior Scale, Child
Behavioral Checklist, The Carey Temperament Scales, Eyberg Child
Behavior Inventory, Pediatric Symptom Checklist, and Family Psychosocial

Screening, dapat membantu dalam mendeteksi masalah tingkah laku. Akhir


akhir ini terdapat peningkatan ketertarikan dalam skrining anak untuk autistic
spectrum disorders karena terdapatnya peningkatan pada prevalensi dan
kemampuan untuk diagnosis dan intervensi dini. Instrument skrining spesifik
seperti the Checklist for Autism in Toddlers (CHAT), dapat membantu ahli
penyakit anak untuk diagnostik, tetapi dapat terjadi kesalahan karena
mempunyai sensitifitas yang rendah dan spesifitas yang tinggi.
Tes yang paling sering digunakan adalah Denver Developmental Screening
Test-II (Denver II). Bagaimanapun juga, dibalik kepopularannya, DDST II
tidak berfungsi baik sebagai tes skrining, karena mempunyai sensitifitas yang
terbatas dan validitas yang rendah. Tetapi tes ini tetap bernilai karena
kemudahannya untuk digunakan. Skrining yang mempunyai sensitifitas dan
spesifitas yang baik dengan menggunakan 10 set dari pertanyaan yang
terstruktur yang dapat diperhatikan oleh orang tua di berbagai area
perkembangan, pendekatan ini telah diformalkan sebagai Parents Evaluation
of Developmental Status (PEDS) questionnaire. Cara ini merupakan cara
yang akurat karena secara umum orang tua merupakan pengamat yang akurat
dari tingkah laku dan perkembangan anak.
Lebih jauh lagi efisiensi dari skrining dapat ditingkatkan dengan
menggunakan skrining level kedua untuk anak yang dicurigai bermasalah
dengan menggunakan The Ages and Stages Questionnaires (ASQ). Tes ini
terdiri dari seri 11 pertanyaan yang didesain untuk dapat dilakukan di rumah
dari usia 4 sampai 48 bulan, dan mempunyai validitas dan realibilitas yang
baik

sebesar

76-91%,

meskipun

ASQ

mungkin

gagal

untuk

mengidentifikasikan hampir 13% anak dengan keterlambatan perkembangan.


Penilaian dan interpretasi dapat dilakukan dengan cepat, dimana sangat cocok
untuk seseorang yang sibuk.
Skrining untuk keterlambatan bahasa sangat penting, dikarenakan terdapat
hubungan yang kuat antara bahasa dan perkembangan kognitif dan
kemampuan pendidikan. Early Language Milestone (ELM) membutuhkan
waktu pengerjaan 2-3 menit, sensitifitas untuk bahasa dan kognitif sangat
tinggi bila dibandingkan dengan tes diagnostik standar baku. Masalah

psikiatri dan tingkah laku sangat sering terjadi dan sering bersamaan dengan
keterlambatan perkembangan. Skrining untuk masalah tingkah laku dapat
dengan menggunakan Pediatric Symptom Checklist, yang sederhana dan
validitas yang baik.
Deteksi perkembangan anak untuk tes psikomotorik dengan menggunakan
Denver Developmental Screening test II (DDST II), yaitu salah satu tes
metode skrening yang sering digunakan untuk menilai perkembangan anak
mulai usia 1 bulan sampai 6 tahun. Perkembangan yang dinilai meliputi
perkembangan personal sosial, motorik halus, motorik kasar, dan bahasa pada
anak. DDST II merupakan salah satu tes psikomotorik yang sering digunakan
di klinik atau rumah sakit bagi tumbuh kembang anak.
Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver
Development Screening Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental
Screening Test (DDST-R). Adalah salah satu dari metode skrining terhadap
kelainan perkembangan anak. Tes ini bukan tes diagnostik atau tes IQ. Waktu
yang dibutuhkan 15-20 menit.
a. Aspek Perkembangan yang dinilai

Terdiri dari 125 tugas perkembangan.Tugas yang diperiksa setiap kali


skrining hanya berkisar 25-30 tugas
Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai:
1)Personal Social (perilaku sosial)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi
dan berinteraksi dengan lingkungannya.
2)Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati
sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh
tertentu dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi
yang cermat.
3)Language (bahasa)
Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti
perintah dan berbicara spontan
4)Gross motor (gerakan motorik kasar)
Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.

b. Alat yang digunakan


Alat peraga: benang wol merah, kismis/ manik-manik, Peralatan makan,
peralatan gosok gigi, kartu/ permainan ular tangga, pakaian, buku
gambar/ kertas, pensil, kubus warna merah-kuning-hijau-biru, kertas
warna (tergantung usia kronologis anak saat diperiksa).
Lembar formulir DDST II
Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan
tes dan cara penilaiannya.
c. Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap, yaitu:
1) Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang
berusia:
3-6 bulan
9-12 bulan
3-24 bln
3 tahun
4 tahun
5 tahun
2) Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan
perkembangan pada tahap pertama. Kemudian dilanjutkan dengan
evaluasi diagnostik yang lengkap.

d. Penilaian

Jika Lulus (Passed = P), gagal (Fail = F), ataukah anak tidak mendapat
kesempatan melakukan tugas (No Opportunity = NO).
CARA PEMERIKSAAN DDST II
Tetapkan umur kronologis anak, tanyakan tanggal lahir anak yang akan
diperiksa. Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk
satu tahun.
Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah, jika
sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas.
Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal
tugas perkembangan pada formulir DDST.
Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P dan berapa
yang F.
Berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal, Abnormal,
Meragukan dan tidak dapat dites.
1) Abnormal
a) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih
b) Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih
keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan
pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak
yang berpotongan dengan garis vertikal usia .
2) Meragukan
a) Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih
b) Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada
sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang
berpotongan dengan garis vertikal usia.

3) Tidak dapat dites


Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi
abnormal atau meragukan.
4) Normal
Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas.
Pada anak-anak yang lahir prematur, usia disesuaikan hanya sampai anak usia
2 tahun.
Contoh perhitungan anak dengan prematur: An. Lula lahir prematur pada
kehamilan 32 minggu, lahir pada tanggal 5 Agustus 2006. Diperiksa
perkembangannya dengan DDST II pada tanggal 1 April 2008. Hitung usia
kronologis An. Lula!
Diketahui:
Tanggal lahir An. Lula : 5-8-2006
Tanggal periksa : 1-4-2008
Prematur : 32 minggu
Ditanyakan:
Berapa usia kronologis An. Lula?
Jawab:
2008 4 1 An. Lula prematur 32 minggu
2006 8 5 Aterm = 37 minggu
_________ Maka 37 32 = 5 minggu
1 7 -26

Jadi usia An. Lula jika aterm (tidak prematur) adalah 1 tahun 7 bulan 26
hari atau
1 tahun 8 bulan atau 20 bulan
Usia tersebut dikurangi usia keprematurannya yaitu 5 minggu X 7 hari =
35 hari, sehingga usia kronologis An. Lula untuk pemeriksaan DDST II
adalah:
1 tahun 7 bulan 26 hari 35 hari = 1 tahun 6 bulan 21 hari
Atau
1 tahun 7 bulan atau 19 bulan
Interpretasi dari nilai Denver II
Advanced
Melewati pokok secara lengkap ke kanan dari garis usia kronologis
(dilewati pada kurang dari 25% anak pada usia lebih besar dari anak
tersebut)
OK
Melewati, gagal, atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis
usia antara persentil ke-25 dan ke-75

Caution
Gagal atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia
kronologis di atas atau diantara persentil ke-75 dan ke-90
Delay

Gagal pada suatu pokok secara menyeluruh ke arah kiri garis usia
kronologis; penolakan ke kiri garis usia juga dapat dianggap sebagai
kelambatan,

karena

alasan

untuk

menolak

mungkin

adalah

ketidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu


Interpretasi tes
Normal
Tidak ada kelambatan dan maksimum dari satu kewaspadaan
Suspect
Satu atau lebih kelambatan dan/ atau dua atau lebih banyak
kewaspadaan
Untestable
Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis
usia atau pada lebih dari satu pokok titik potong berdasarkan garis
usia pada area 75% sampai 90%
Rekomendasi untuk rujukan tes Suspect dan Untestable:
Skrining ulang pada 1 sampai 2 minggu untuk mengesampingkan faktor
temporer.

2.9

Masalah Perkembangan Anak

Ada 7 gangguan tumbuh kembang

anak yang perlu kita ketahui.

Perkembangan dan tumbuh kembang anak perlu kita pantau secara terus
menerus. Dengan memperhatikan tumbuh kembangnya kita berharap dapat
mengetahuinya secara dini kelainan pada anak kita sehingga langkah-langkah
antisipasi lebih cepat yang bias kita ambil. Anak yang cerdas adalah harapan
setiap orang tua. Orang tua selalu berharap agar anaknya dapat tumbuh sehat.
Berikut 7 gangguan tumbuh kembang anak yang perlu kita ketahui :
1.

Gangguan bicara dan bahasa. Kemampuan berbahasa merupakan


indikator seluruh perkembangan anak. Kurangnya stimulasi akan dapat
menyebabkan gangguan berbicara dan berbahasa bahkan gangguan ini
dapat menetap.

2.

Cerebral palsy. Merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubuh


yang tidak progresif, yang disebabkan oleh kerusakan pada sel-sel
motorik pada susunan saraf pusat yang sedang tumbuh/belum selesai
pertumbuhannya.

3.

Sindrom Down. Anak dengan sindrom down adalah individu yang


dapat dikenal dari fenotipnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas,
yang menjadi akibat adanya jumlah kromosom 21 yang lebih. Beberapa
faktor seperti kelainan jantung kongenital, hipotonia yang berat, masalah
biologis atau lingkungan lainnya dapat menyebabkan keterlambatan
perkembangan motorik dan keterampilan untuk menolong diri sendiri.

4.

Perawakan pendek. Penyababnya dapat karena variasi normal,


gangguan gizi, kelainan kromosom, penyakit sistemik atau karena
kelainan endokrin.

5.

Gangguan autisme. Merupakan gangguan perkembangan pervasif


pada anak yang gejalanya muncul sebelum anak berumur 3 tahun.
Pervasif berarti meliputi seluruh aspek perkembangan sehingga gangguan
tersebut sangat luas dan berat, yang mempengaruhi anak secara
mendalam. Gangguan perkembangan yang ditemukan pada autisme
mencakup bidang interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.

6.

Retardasi mental. Merupakan suatu kondisi yang ditandai oleh


intelegensia yang rendah (IQ<70) yang menyebabkan ketidakmampuan

individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas


kemampuan yang dianggap normal.
7.

Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH).


Merupakan

gangguan

dimana

anak

mengalami

kesulitan

untuk

memusatkan perhatian yang seringkali disertai dengan hiperaktivitas.

DAFTAR PUSTAKA

1. Nelson HD, Nygren P, Walker M et al. Screening for Speech and


Language Delay in Preschool Children: Systematic Evidence Review
for the US Preventive Services Task Force. Pediatrics 2006;117;e298e319
2. Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. Ed, Gde Ranuh. Penerbit
buku kedokteran EGC; Jakarta, 1995: 1-31, 37-42, 63-65
3. Tanuwijaya, Suganda. Konsep Umum Tumbuh Kembang. Dalam:
Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Penyunting : Narendra M,
Sularyo T, Suyitno H, Gde Ranuh. Sagung Seto. Jakarta, 2002:2-11
4. Hardjono S, Sulaiman I, Moersintowarti B.N. Gagal Tumbuh (Failure
To Thrive). Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak No. 32,
Oktober 2002
5. Kurniasih, Dedeh. Panduan Tumbuh Kembang Bayi usia
1-12 bulan. Penyunting : Rini Sekartini
6. Soetjiningsih.

Perkembangan

Anak

dan

Permasalahannya, Dalam : Tumbuh kembang Anak dan


Remaja. Penyunting : Narendra M, Sularyo T, Suyitno H,
Gde Ranuh. Sagung Seto. Jakarta, 2002: 86-93
7. Narendra MB, suryawan A, irwanto. 2006. Naskah lengkap
continuing education ilmu kesehatan anak XXXVI penyimpangan
tumbuh kembang anak. bag/SMF ilmu kesehatan anak FK UNAIR.
Surabaya