BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perencanaan pajak merupakan sarana yang memungkinkan untuk
merencanakan pajak-pajak yang akan dibayarkan agar tidak terjadi kelebihan
dalam membayar pajak. Perencanaan Pajak tidak berarti sebagai upaya
menghindari pajak karena bila demikian jelas bertentangan dengan undangundang perpajakan yang berlaku. Perencanaan pajak sendiri sebagai bagian
terdepan dari manajemen pajak. Manajemen pajak dapat didefinisikan sebagai
pengelolaan perusahaan agar kewajiban pemenuhan kewajiban perpajakannya
dapat dilakukan dengan benar dan baik, dengan jumlah pajak yang dapat ditekan
serendah mungkin untuk mendapatkan laba yang diharapkan tanpa unsur
pelanggaran yang di kemudian hari dapat mengakibatkan adanya sanksi atau
denda. Dengan demikian tujuan manajemen pajak ialah melakukan usaha efisiensi
pajak untuk mencapai laba yang rasional dan melakukan pemenuhan kewajiban
perpajakannya secara benar. Perencanaan pajak untuk suatu operasi yang bersifat
multinasional merupakan pekerjaan yang sangat kompleks, tetapi di lain pihak
mengandung aspek yang vital bagi bisnis internasional.
Perkembangan ekonomi yang terjadi pada saat ini, memberikan suatu
pengaruh yang besar bagi pola bisnis dan sikap para pelaku bisnis. Investasi yang
semakin aktif dilakukan oleh para investor, terlebih-lebih oleh para investor asing
yang

telah

mengakibatkan

terjadinya

transaksi-transaksi

yang

bersifat

1

internasional (cross border transaction). Hubungan perdagangan internasional
yang semakin terbuka luas dan saat ini, menyebabkan pula semakin diperlukannya
suatu ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang mengatur
masalah transaksi internasional. Bersamaan dengan peningkatan beberapa tarif
pajak di beberapa negara, terdapat pula peningkatan cara-carapenghindaran pajak
internasional (international tax avoidance) yang antara lain terdapatnya beberapa
daerah di dunia ini yang disebut sebagai surga persinggahan pajak (tax havens)
yang menampung dana yang bergerak secara internasional (internationatty mobile
funds). Selain itu karena perusahaan Multinasional memiliki posisi yang
menentukan dalam hal prinsip apa yang akan digunakannya yang tentunya
menguntungkan bagi grupnya, maka dapat saja Perusahaan Multinasional tersebut
menggunakan harga yang menyimpang dari harga yang berlaku umum.
Perusahaan Multinasional tersebut dapat saja menggunakan transferpricing
yang lebih rendah dari arm's length price (harga pasar wajar), untuk tujuan
mengefisienkan beban pajaknya atau menggunakan harga yang lebih tinggI dari
arm's length price (harga pasar wajar) untuk tujuan-tujuan tertentu.Transfer
Pricing adalah sebuah cara yang digunakan perusahan untuk kepentingan
usahanya agar semuanya dapat diawasi dengan baik tentunyakarena disini kinerja
semua divisi akan terlihat. Namun, beberapa tahun belakangan ini banyak sekali
ditemukan berbagai praktek illegal dalam transfer pricing tersebut.
Transfer Pricing digunakan oleh beberapa perusahaan multinasional untuk
mengecilkan pajaknya dan membuat beberapa negaramengalami kerugian dalam

2

penerimaan pajak, terutama Indonesia yang memang mengandalkan pajak dalam
APBNnya.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui bahwa transfer pricing (harga transfer) sebagai salah satu
strategi dalam perencanaan pajak
2. Mengetahui tujuan dari penetapan transfer pricing
3. Mengetahui apa tipe dan metode transfer pricing (harga transfer)
4. Mengetahui siapa pihak-pihak yang terlibat dalam transfer pricing (harga
transfer)
5. Mengetahui bagaimana praktek transfer pricing menurut peraturan
perpajakan
6. Mengetahui bagaimana transfer pricing dalam perjanjian penghindaran
pajak berganda (P3B).

BAB 2
PEMBAHASAN
3

2.1 Transfer Pricing Sebagai Salah Satu Strategi Perencanaan Pajak
Menurut Gunadi (2007), Transfer pricing merupakan jumlah harga atas
penyerahan barang atau imbalan atas penyerahan jasa yang telah di sepakati oleh
kedua belah pihak dalam transaksi bisnis finansial maupun transaksi lainnya.
Secara umum transfer pricing merupakan isu klasik dalam transaksi internasional.
Dari sisi pemerintahan, transfer pricing dapat mengakibatkan berkurang atau
hilangnya potensi penerimaan suatu negara, khususnya yang berasal dari pajak,
karena perusahaan multinasional cenderung menggeser kewajiban perpajakannya
dari negara-negara yang memiliki tarif pajak yang tinggi (high tax countries) ke
negara-negara yang menerapkan tarif pajak rendah (low tax countries). Ironisnya,
masalah ini tidak dapat diselesaikan secara unilateral oleh masing-masing negara
tetapi harus dilakukan secara bersama-sama (multilateral cooperation).
Sebaliknya dari sisi bisnis, perusahaan cenderung berupaya meminimalkan
biaya-biaya (cost efficiency) termasuk Pajak Penghasilan (PPh) perusahaan
(corporate income tax). Bagi perusahaan berskala global (misalnya multinational
corporations), transfer pricing merupakan salah satu strategi yang efektif untuk
memenangkan persaingan dalam memperebutkan sumber-sumber daya yang
terbatas.
2.2 Tujuan Penetapan Transfer Pricing
Tujuan penetapan harga transfer adalah untuk mentransmisikan data
keuangan diantara

departemen-departemen

atau

divisi-divisi

perusahaan

pada waktu mereka saling menggunakan barang dan jasa satu sama lain. Selain
itu transfer pricing terkadang digunakan untuk mengevaluasi kinerja divisi dan

4

memotivasi manajer divisi penjual dan divisi pembeli menuju keputusankeputusan yang serasi dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan.
Penetapan harga transfer (transfer pricing) seharusnya membantu
mencapai strategi dan tujuan perusahaan dan sesuai dengan struktur organisasi
perusahaan. Secara khusus, transfer pricing seharusnya mendukung kesesuaian
tujuan dan
produk

atau

tingkat

usaha

manajemen puncak.

Subunit

yang menjual

jasa seharusnya dimotivasi untuk menurunkan biaya mereka;

subunit yang membeli produk atau jasa seharusnya dimotivasi untuk memperoleh
dan menggunakan input secara efisien.
Transfer Pricing seharusnya juga membantu manajemen puncak
mengevaluasi kinerja dari subunit individual dan manajer mereka. Jika
manajemen puncak mendukung tingkat desentralisasi yang tinggi, harga transfer
seharusnya mendukung tingkat otonomi subunit yang tinggi dalam pengambilan
keputusan. Ini berarti manajer subunit yang ingin memaksimalkan laba operasi
dari sub unitnya seharusnya memiliki kebebasan untuk melakukan transaksi
dengan subunit lain dari perusahaan (atas dasar harga transfer) atau untuk
melakukan transaksi dengan pihak eksternal.
Berdasarkan jangkauan teritorial operasi perusahaan, transfer pricing
juga dapat dikelompokkan dalam transfer pricing domestik dan transfer pricing
multinasional. Transfer pricing domestik adalah harga transfer barang atau jasa
antar badan satu grup perusahaan atau antardivisi dalam satu perusahaan dalam
satu wilayah kedaulatan negara, sedang transfer pricing multinasional berkenaan
dengan transaksi antardivisi dalam satu unit hukum atau antarunit hukum dalam
satu kesatuan ekonomi yang meliputi berbagai wilayah kedaulatan negara.

5

Beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam rangka aplikasi transfer pricing,
baik bagi perusahaan domestik maupun bagi perusahaan multinasional, adalah
antara lain:
1. Evaluasi Kinerja (mengukur hasil operasi setiap unit)
2. Motivasi Manajemen (penyusunan orientasi produksi dan laba pada semua
unit)
3. Pengendalian harga untuk lebih merefleksikan “Cost” dan “margin” yang
seharusnya diterima dari langganan dan penetapan harga optimal.
4. Pengendalian pasar untuk mengamankan posisi kompetitif perusahaan.
Kebijakan aplikasi transfer pricing multinasional bertujuan:
1. Memaksimalkan penghasilan global
2. Mengamankan posisi kompetitif anak/ cabang perusahaan dan penetrasi
pasar.
3. Mengevaluasi kinerja anak/ cabang perusahaan mancanegara.
4. Menghindarkan pengendalian devisa.
5. Mengontrol kredibilitas asosiasi.
6. Mengurangi resiko moneter
7. Mengatur arus kas anak/cabang perusahaan yang memadai,
8. Membina hubungan baik dengan administrasi setempat
9. Mengurangi beban pengenaan pajak dan bea masuk
10. Mengurangi resiko pengambilalihan oleh pemerintah.
2.3 Tipe dan Metode Transfer Pricing
Transfer pricing pada perusahaan yang melakukan desentralisasi,
umumnya diukur dengan menggunakan nilai produknya (baik berbentuk barang
maupun jasa) pada saat penyerahan barang atau jasa dari pusat laba (profit centre)
ke pusat-pusat pertanggungjawaban (respon sibility centre) lainnya dalam
lingkungan perusahaan. Di lain pihak, transfer pricing tersebut dapat
dibandingkan dengan harga pasar (market price) apabila terjadi transaksi antara
perusahaan dengan pihak ketiga lainnya yang tidak ada hubungan istimewa. Pada
perusahaan multinasional yang menggunakan pusat-pusat laba, akan selalu terjadi

6

transfer pricing tersebut. Secara umum harga transfer dapat ditentukan dengan
menggunakan metode-metode berikut:
a. Harga Transfer Berdasarkan Harga Pasar (Market-Based Transfer Prices)
Harga transfer berdasarkan harga pasar dipandang sebagai penentuan
harga transfer yang paling independen. Barang-barang yang diproduksi unit
penjual dihargai sama dengan harga yang berlaku di pasar, pada sisi divisi
penjual ada kemungkinan untuk memperoleh profit, pada sisi pembeli harga
yang dibayarkan adalah harga yang sewajarnya. Namun yang menjadi
kelemahan utama dari sistem ini adalah jika harga suatu produk ternyata tidak
tersedia di pasar. Tidak semua barang-barang yang diperjual-belikan antar
divisi tersedia di pasar, misalnya pada suatu industri yang terdeferensiasi dan
terintegrasi seperti industri kertas, jika divisi penjual harus mengirim kertas
yang setengah jadi ke divisi lain, pasar tidak menyediakan harga kertas mentah
atau setengah jadi. Namun, jika harga pasar tersedia atau dapat diperkirakan
maka ada baiknya menggunakan harga pasar. Meskipun demikian, jika tidak
ada cara untuk memperkirakan harga kompetitif, pilihan lainnya adalah
mengembangkan harga transfer berdasarkan biaya (cost-based transfer price).
b. Harga Transfer Berdasarkan Biaya (Cost-based Transfer Prices)

Perusahaan menggunakan metode penetapan harga transfer atas dasar
biaya yang ditimbulkan oleh divisi penjual dalam memproduksi barang atau
jasa, penetapan harga transfer metode ini relatif mudah diterapkan namun
memiliki beberapa kekurangan. Pertama, penggunaan biaya sebagai harga
transfer dapat mengarah pada keputusan yang buruk, jika seandainya unit
7

penjual tidak dapat memproduksi dengan optimal sehingga menghasilkan biaya
yang lebih tinggi daripada harga pasar, maka dapat terjadi kecenderungan
pembelian barang dari luar. Kedua, jika biaya digunakan sebagai harga transfer,
divisi penjual tidak akan pernah menghasilkan laba dari setiap transaksi
internal. Ketiga, penentuan harga transfer yang berdasarkan biaya berarti tidak
ada insentif bagi orang yang bertanggung jawab mengendalikan biaya.
Umumnya perusahaan menetapkan harga transfer atas biaya berdasarkan biaya
variabel dan atau biaya tetap dalam bentuk: biaya penuh (full cost), biaya
penuh ditambah mark-up (full cost plus markup) dan gabungan antara biaya
variabel dan tetap (variable cost plus fixed fee).
c. Harga Transfer Negoisasi (Negotiated Transfer Prices)

Dalam ketiadaan harga, beberapa perusahaan memperkenankan divisidivisi dalam perusahaan yang berkepentingan dengan transfer pricing untuk
menegosiasikan harga transfer yang diinginkan. Harga transfer negoisasi
memiliki beberapa kelebihan. Pertama, pendekatan ini melindungi otonomi
divisi dan konsisten dengan semangat desentralisasi. Kedua, manajer divisi
cenderung memiliki informasi yang lebih baik tentang biaya dan laba potensial
atas transfer dibanding pihak-pihak lain dalam perusahaan. Harga transfer
negosiasian mencerminkan prespektif kontrolabilitas yang inheren dalam
pusat-pusat pertanggungjawaban karena setiap divisi yang berkepentingan
tersebut pada akhirnya yang akan bertanggung jawab atas harga transfer yang
dinegosiasikan. Namun transfer pricing ini tidak begitu mudah untuk
ditentukan karena posisinya pada situasi sulit yang bisa menimbulkan conflict

8

of interest diantara kedua belah pihak yang terlibat, yaitu divisi penjual dan
divisi pembeli. Artinya, tidak akan ada satu metode transfer price yang terbaik,
yang akan diterima mutlak oleh kedua belah pihak.
2.4 Pihak-Pihak yang Terlibat Dalam Transfer Pricing
Transfer pricing melibatkan transaksi-transaksi antar pihak yang
mempunyai hubungan istimewa.

Hal

ini

dapat

mengakibatkan terjadinya

pengalihan penghasilan atau dasar pengenaan pajak dan/atau biaya dari satu Wajib
Pajak ke Wajib Pajak lainnya, yang dapat direkayasa untuk menekan keseluruhan
jumlah pajak terhutang atas Wajib Pajak – Wajib Pajak yang mempunyai
hubungan istimewa tersebut. Pihak-pihak yang tergolong hubungan istimewa
adalah sebagaimana dijelaskan berikut :
Menurut UU No 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan Pasal 18 ayat (4) dan
UU PPN Pasal 2 ayat (2), dijelaskan bahwa, Hubungan istimewa dianggap ada
apabila:
a. Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung
paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada Wajib Pajak lain;
hubungan antara Wajib Pajak dengan penyertaan paling rendah 25% (dua
puluh lima persen) pada dua Wajib Pajak atau lebih; atau hubungan di antara
dua Wajib Pajak atau lebih yang disebut terakhir;
b. Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau lebih Wajib Pajak
berada di bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak
langsung; atau

9

c. Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis
keturunan lurus dan/atau ke samping satu derajat.
Dari ketentuan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hubungan
istimewa dapat terjadi :
1. Antara

pihak-pihak

yang

bertempat

tinggal,

didirikan

atau

bertempat kedudukan di Indonesia;
2. Antara pihak yang bertempat tinggal, didirikan atau bertempat kedudukan di
Indonesia dengan pihak yang bertempat tinggal/kedudukan di luar
Indonesia.
Transfer Pricing dapat terjadi antar Wajib Pajak Dalam Negeri atau antara
Wajib Pajak Dalam Negeri dengan pihak Luar Negeri, terutama yang
berkedudukan di Tax Haven Countries (Negara yang tidak memungut/memungut
pajak lebih rendah dari Indonesia). Terhadap transaksi antar Wajib Pajak yang
mempunyai hubungan istimewa tersebut, undang

undang perpajakan kita

menganut azas materiil (substance over form rule). Dalam Standar
(PSAK

No.

7)

sendiri, juga diatur

mengenai transaksi

akuntansi

dengan

pihak

yang berelasi (hubungan istimewa). Transaksi Pihak berelasi adalah suatu
pengalihan sumber daya, jasa atau kewajiban antara entitas pelapor dengan pihakpihak berelasi terlepas apakah ada harga yang dibebankan. Yang

dimaksud

dengan pihak-pihak yang berelasi menurut sudut pandang akuntansi adalah
orang atau entitas yang terkait dengan entitas yang menyiapkan laporan
keuangannya (dalam Pernyataan ini dirujuk sebagai “entitas pelapor”).

10

2.5 Praktek Transfer Pricing menurut Peraturan Perpajakan
Berdasarkan PER-32/PJ/2011 Pasal 1 ayat (8), Penentuan Harga Transfer
(transfer pricing) adalah penentuan harga dalam transaksi antara pihak-pihak yang
mempunyai Hubungan Istimewa. Transfer pricing yang diperbolehkan menurut
aturan perpajakan harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Menggunakan Harga Wajar.
Sebagaimana dijelaskan dalam PER-32/PJ/2011 Pasal 1

ayat (6) dan

PER-69/PJ/2010 Pasal 1 ayat (4), Yang dimaksud dengan Harga Wajar atau
Laba Wajar adalah harga atau laba yang terjadi dalam transaksi yang dilakukan
antara pihak-pihak yang tidak mempunyai Hubungan Istimewa dalam kondisi
yang sebanding, atau harga atau laba yang ditentukan sebagai harga atau laba
yang memenuhi Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha.
Maksud diadakannya ketentuan ini adalah untuk mencegah terjadinya
penghindaran

pajak

yang

dapat

terjadi

karena

adanya

hubungan

istimewa. Apabila terdapat hubungan istimewa, kemungkinan dapat terjadi
penghasilan dilaporkan kurang dari semestinya ataupun pembebanan biaya
melebihi dari yang seharusnya. Dalam hal demikian, Direktur Jenderal Pajak
berwenang untuk menentukan kembali besarnya penghasilan dan/atau biaya
sesuai dengan keadaan seandainya di antara para Wajib Pajak tersebut tidak
terdapat hubungan istimewa. Dalam menentukan kembali jumlah penghasilan
dan/atau biaya tersebut digunakan metode perbandingan harga antara pihak
yang independen (comparable uncontrolled price method), metode harga

11

penjualan kembali (resale price method), metode biaya-plus (cost-plus
method),

atau

metode lainnya seperti metode pembagian laba (profit split

method) dan metode laba bersih transaksional (transactional net margin
method).
Demikian

pula

kemungkinan

terdapat

penyertaan

modal

secara

terselubung, dengan menyatakan penyertaan modal tersebut sebagai utang
maka Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan utang tersebut
sebagai modal perusahaan. Penentuan tersebut dapat dilakukan, misalnya
melalui indikasi mengenai perbandingan antara modal dan utang yang lazim
terjadi diantara para pihak yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa atau
berdasar data atau indikasi lainnya.
Dengan demikian, bunga yang dibayarkan sehubungan dengan utang
yang dianggap

sebagai

penyertaan

modal

itu

tidak

diperbolehkan

untuk dikurangkan, sedangkan bagi pemegang saham yang menerima
atau memperoleh bunga tersebut dianggap sebagai dividen yang dikenai pajak
b. Menerapkan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha
PER 32/PJ/2011 Pasal 3 ayat (1) Wajib Pajak dalam melakukan transaksi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dengan pihak-pihak yang mempunyai
Hubungan Istimewa wajib menerapkan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman
Usaha. PER-32/PJ/2011 Pasal 1 ayat (5) dan PER-69/PJ/2010 Pasal 1 ayat (6)
menjelaskan bahwa, Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha (arm's length
principle/ALP) merupakan prinsip yang mengatur bahwa apabila kondisi dalam

12

transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang mempunyai Hubungan
Istimewa sama atau sebanding dengan kondisi dalam transaksi yang dilakukan
antara pihak-pihak yang tidak mempunyai Hubungan Istimewa yang menjadi
pembanding, maka harga atau laba dalam transaksi yang dilakukan antara
pihak-pihak yang mempunyai Hubungan

Istimewa harus sama dengan atau

berada dalam rentang harga atau laba dalam transaksi yang dilakukan antara
pihak-pihak yang tidak mempunyai Hubungan Istimewa yang menjadi
pembanding. Prinsip Kewajaran dan kelaziman usaha tidak hanya dilakukan
pada transaksi yang melibatkan barang saja, Prinsip Kewajaran dan Kelaziman
Usaha juga wajib diterapkan atas transaksi jasa yang dilakukan antara Wajib Pajak
dengan pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa. Transaksi Jasa dengan pihak
istimewa dianggap memenuhi Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha
sepanjang memenuhi ketentuan:

penyerahan atau perolehan jasa benar-benar terjadi
Nilai transaksi jasa antara pihak-pihak yang mempunyai mempunyai
Hubungan Istimewa sama dengan nilai transaksi jasa yang dilakukan
antara

pihak-pihak

yang mempunyai

yang tidak

kondisi

mempunyai

yang sebanding,

Hubungan

Istimewa

atau yang

dilakukan

sendiri oleh Wajib Pajak untuk keperluannya;
Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
a. Melakukan Analisis Kesebandingan dan menentukan pembanding;

13

b. Menentukan metode Penentuan Harga Transfer yang tepat;
c. Menerapkan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha berdasarkan hasil
d. Analisis Kesebandingan dan metode Penentuan Harga Transfer yang
tepat ke dalam transaksi yang dilakukan antara Wajib Pajak dengan pihak
yang mempunyai Hubungan Istimewa; dan
e. Mendokumentasikan setiap langkah dalam menentukan Harga Wajar atau
Laba Wajar sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang
berlaku.

2.6 Transfer Pricing datam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B)
Masalah transfer pricing dalam P3B bertitik tolak dari Pasal 9 UN Model
yang mengatur tentang perusahaan-perusahaan yang mempunyai hubungan
istimewa, yaitu antara induk perusahaan yang berdomisili di salah satu negara
dengan anak/cabang perusahaan yang berdomisili di negara lain. Ayat 1 Pasal I
UN Model tersebut, menyebutkan tentang pemberian wewenang kepada salah satu
negara untuk melakukan verifikasi atas transaksi antar-pihak-pihak yang
mempu4yai hubungan istimewa, seperti antara induk perusahaan dengan anak
cabang perusahaannya, sepanjang tidak menunjukkan harga wajar (arm's length
price) menurut pasar atau dengan perkataan lain, verifikasi tidak akan dilakukan,
apabila transaksi tersebut sudah didasarkan kepada harga wajar. Selanjutnya
dalam ayat 2 diatur pula bahwa jika terjadi transaksi antara dua pihak yang
mempunyai hubungan istimewa, dan transaksi tersebut tidak menggunakan harga

14

arm's length, salah satu negara pihak pada persetujuan dapat melakukan
penyesuaian yang seharusnya juga diikuti oleh negara pihak lainnya. Apabila
masalah penyesuaian tersebut tidak diikuti oleh negara pihak lainnya (correlative
adjustment). maka akan terjadi economic double taxation (pengenaan pajak
berganda terhadap penghasilan yang sama oleh orang/negara yang berbeda).
Apabila misalnya terdapat P3B antara Negara A dengan negara B, maka
harus diingat bahwa penyesuaian yang dilakukan oleh negara A berupa kenaikan
tax-basenya tidak secara otomatis harus diikuti oleh negara B, tetapi baru akan
melakukan penyesuaian apabila memang menunjukkan laba yang didasarkan pada
arm's length. Masalah berikutnya, adalah penentuan bagaiana penyesuaian
tersebut harus dilaksanakan. Untuk ini ada dua pilihan yang dapat dilakukan,
yaitu:
Misalnya perusahaan A di negara A melakukan transaksi dengan perusahaan B
(masih satu grup) di negara B. Telah dilakukan penyesuaian oleh A, karena
transaksinya tidak didasarkan pada harga arm's length. Langkah yang dapat
dilakukan oleh B dalam rangka correlative adjustment adalah dengan cara
menghitung dan menetapkan kembali jumlah pajak yang terutang, atau dilakukan
melalui mekanisme kredit pajak. Dalam hal ini B dapat mengkreditkan jumlah
pajak yang dibayar oleh A, sebagai akibat penyesuaian yang dilakukannya di
negara A. Pada dasarnya correlative adjustment tersebut tidak menjamin tidak
terjadinya pergeseran laba (profit shifting) antar-uniUperusahaan dalam grup yang
sama, sebab hal ini dapat saja dilakukan dengan cara lain, yaitu melalui
pembayaran dividen, rovalty atau pembayaran lainnya.

15

Dari sudut pandang perusahaan multinasional, transfer pricing merupakan
alat untuk memobilisasi laba bagi kepentingan perusahaannya sendiri, sedang di
lain pihak aparat perpajakan selalu menginginkan agar transaksi yang terjadi
antar-unit perusahaan dalam satu grup, dilaksanakan dengan harga arm's length.
Dasar yang menjadi pertimbangan pemilihan metode tersebut adalah karena
prinsip tersebut menempatkan perusahaan dari satu grup dalam kondisi yang sama
dengan perusahaan yang independen sehingga menghilangkan faktor-faktor yang
menguntungkan maupun yang merugikan.

BAB 3
KESIMPULAN

1. Transfer Pricing didefinisikan sebagai harga yang ditentukan oleh satu bagian
dari sebuah organisasi atas penyerahan barang atau jasa yang dilakukannya
kepada bagian lain dari organisasi yang sama. Transfer pricing dapat juga
diartikan sebagai nilai atau harga jual khusus yang dipakai dalam pertukaran
antar divisional untuk mencatat pendapatan divisi penjual (selling division) dan
biaya divisi pembeli (buying division). Dilihat

dari

aspek

perpajakan,

pengertian transfer pricing adalah harga yang dibebankan oleh suatu
perusahaan atas barang, jasa, harta tak berwujud kepada perusahaan
yang mempunyai hubungan istimewa.

16

2. Tujuan penetapan

harga transfer

adalah

untuk mentransmisikan

data

keuangan diantara departemen-departemen atau divisi-divisi perusahaan pada
waktu mereka saling menggunakan barang dan jasa satu sama lain. Selain itu
transfer pricing terkadang digunakan untuk mengevaluasi kinerja divisi dan
memotivasi manajer divisi penjual dan divisi pembeli menuju keputusankeputusan yang serasi dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan. Namun
dalam praktik, seringkali ditemukan transaksi antar anggota perusahaan
multinasional yang tidak luput dari rekayasa transfer pricing.
3. Untuk mencegah praktik penghindaran pajak karena penentuan harga tidak
wajar (non arm's length price), maka Dirjen Pajak menetapkan pedoman
penentuan harga transfer yang membahas penerapan prinsip kewajaran dan
kelaziman usaha (arm’s length principles) terkait transaksi antara wajib pajak
dengan pihak yang memiliki hubungan istimewa. Aturan ini mengharuskan
wajib pajak untuk menggunakan nilai pasar wajar dalam bertransaksi dengan
pihak berelasi (related parties)

17

DAFTAR PUSTAKA

Gunadi. 2007. Pajak Internasional. Jakarta. LPFEUI.
Surahmat, Rahmanto. 2001. Persetuiuan Penghindaran Pajak Berganda : Sebuah
Pengantar. Cetakan kedua. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Yunita, Kho. “Perencanaan Pajak Melalui Penentuan Harga Transfer”.
https://khoyunitapublish.wordpress.com/2013/06/03/perencanaan-pajakmelalui-penentuan-harga-transfer/ (diakses tanggal 26 Desember 2015).

18

19