Laporan Kasus

TINEA PEDIS TIPE INTERDIGITAL
DAN HIPERKERATOTIK KRONIS

Oleh
 Hana Permata Sari
H1A 011 027
 
 PEMBIMBING :
dr. I Wayan Hendrawan M. Biomed, Sp.KK

BAGIAN/SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTB
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2015

Outline



Pendahuluan
Laporan Kasus
Pembahasan
Kesimpulan

PENDAHULUAN
• Dermatofitosis penyakit infeksi pada
jaringan yang mengandung tanduk
(stratum korneum pada epidermis, rambut,
dan kuku) yang disebabkan jamur golongan
dermatofita.
• Dermatofita  golongan jamur yang
memiliki sifat mencernakan keratin
(keratofilik).
• 3 genus dermatofita yaitu Epidermophyton,
Microsporum, dan Trichophyton

Con’t
Klasifikasi dermatofitosis berdasarkan lokasi:
• Tinea kapitis (dermatofitosis pada kulit dan rambut
kepala)
• Tinea barbe (dermatofitosis pada dagu dan jenggot),
tinea kruris (dermatofitosis pada daerah genitokrural,
sekitar anus, bokong, dan kadang-kadang sampai
perut bagian bawah)
• Tinea pedis et manum (dermatofitosis pada kaki dan
tangan)
• Tinea unguium (dermatofitosis pada kuku jari tangan
dan kaki)
• Tinea korporis (dermatofitosis pada bagian lain yang
tidak termasuk bentuk 5 tinea di atas).

LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
• Nama : OK
• Umur : 25 tahun
• Jenis Kelamin: Perempuan
• Alamat : Labuhan Badas, Sumbawa
• Agama : Islam
• Waktu pemeriksaan : 5 Juli 2015
• Nomor RM : 121353

ANAMNESIS
Keluhan Utama
Kulit tumit dan diantara sela jari kaki terkelupas.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan kulit tumit dan diantara sela
jari kaki terkelupas sejak ± 1 tahun yang lalu. Kulit yang
terkelupas juga dikeluhkan merasa gatal yang hilang timbul,
sebelumnya kulit kaki pasien awalnya muncul bintik-bintik
kecil merah yang gatal dan kemudian mengelupas. Kulit
tumit dan sela jari kaki awalnya mengeras dan menghitam,
kemudian mengelupas dan bersisik tebal serta terjadi pecah
pecah di tumit yang terasa perih. Sebelumnya pasien sering
memberikan obat oles pada sela jari dan tumit, sehingga
keluhan mulai berkurang, namun beberapa minggu
kemudian keluhan kembali berulang.

Riwayat Penyakit Dahulu
Keluhan serupa (-)
Sakit kulit lain (-)
Riwayat asma (+)
Rhinitis alergi (+) terhadap debu
DM (-)
Hipertensi (-)
Riwayat Penyakit Keluarga
Keluhan serupa (-)
Riwayat asma (-)
Rhinitis alergi (-)
DM (-)
Hipertensi (-)
Riwayat Alergi
Makanan (-)
Obat (+) ondansentron

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
• Keadaan umum : baik
• Kesadaran : CM
• GCS : E4V5M6
• Vital sign :
Nadi : 84 x/menit
RR : 18 x/menit
Temperatur : 36,90C
• Kepala & Leher : dbn
• Thoraks : dbn
• Abdomen : dbn
• Ekstremitas : lesi kulit(+) interdigital, plantar, dorsum
pedis

Riwayat Pengobatan
Berobat ke dokter obat minum
Kalpanax yang dibeli sendiri
Riwayat Pekerjaan dan Sosial
Bidan yang bekerja di Puskesmas
Selalu menggunakan sepatu yang tertutup
sepanjang bekerja dan bepergiankaki
pasien sering dikeluhkan lembab dan
basah karena keringat
Mencuci menggunakan mesin cuci dan kaki
tidak pernah terkena air cucian maupun
sabun cuci

Status Dermatologis
Lokasi
: interdigitalis dekstra et
sinistra, plantar pedis sinistra,
dorsum pedis dekstra et
sinistra
UKK
: makula hiperpigmentasi
berbatas tegas bentuk tidak
teratur ukuran nummular
sampai plakat, regional,
dengan ekskoriasi, fisura dan
skuama putih tebal di atasnya.

interdigitalis dekstra et
sinistra

dorsum pedis dekstra et
sinistra

plantar pedis sinistra

DIAGNOSIS BANDING

• Tinea Pedis Tipe Interdigital dan
Hiperkeratotik Kronis
• Dermatitis Kontak Alergi
• Psoriasis

PEMERIKSAAN PENUNJANG
KOH 10% dengan
hasil: Spora (+)
dan Hifa (+)

DIAGNOSIS KERJA
Tinea Pedis Tipe Interdigital dan
Hiperkeratotik Kronis

TATALAKSANA
Farmakologi

Edukasi:
• Memberikan informasi kepada pasien mengenai
penyakitnya dan pengobatannya.
• Menyarankan kepada pasien untuk mengkonsumsi obat
secara teratur dan tidak menghentikan pengobatan tanpa
seizin dokter.
• Menyarankan bila terasa gatal, sebaiknya jangan
menggaruk terlalu keras karena dapat menyebabkan luka
dan infeksi sekunder.
• Pencucian kaki setiap hari diikuti dengan pengeringan yang
baik terutama di daerah sela jari kaki.
• Menganjurkan pada pasien untuk menghindari pemakaian
sandal/sepatu yang tertutup dan tidak bertelanjang kaki ke
fasilitas umum.
• Mengenakan kaus kaki katun dan menambahkan bubuk
pengering yang bersifat antijamur dalam sepatu.

PROGNOSIS
• Quo ad vitam : Bonam
• Quo ad functionam : Bonam
• Quo ad sanationam : Dubia et bonam

PEMBAHASAN
• Tinea pedis infeksi jamur
superfisial pada kulit pedis
• Tidak memiliki kecenderungan pada
suatu kelompok ras atau etnis
tertentu
• Lebih sering terjadi pada pria dewasa
dibandingkan wanita dan anak-anak

Faktor meningkatkan risiko infeksi tinea pedis:
• Suhu yang panas
• Lembab
• Lingkungan tropis
• Penggunaan alas kaki tertutup jangka
panjang  hiperhidrosis dan maserasi
• Kegiatan tertentu ditempat umum 
berenang dan mandi di tempat umum
* dapat terjadi melalui kontak dengan skuama
yang terinfeksi

Proses infeksi dermatofit:
1. Adheren pada keratinosit
2. Penetrasi sekresi proteinase,
lipase, dan enzim mucinolitik
3. Respon host respon inflamasi

Tipe tinea pedis:
1. Tipe Interdigital
Kronis
2. Tipe Hiperkeratotik
Kronis
3. Tipe Vesiko-bulosa
4. Tipe Ulseratif Akut

Pasien

Tipe Interdigital

Tipe Hiperkeratotik

Tipe Vesiko-bulosa

Terapi
1. Antijamur topikal, atau
2. Antijamur sistemik, atau
3. Kombinasi keduanya tinea pedis
hiperkeratosis kronis yang luas, tinea pedis
inflamatori/vesikular, disertai onikomikosis,
diabetes, penyakit pembuluh darah perifer,
atau kondisi immunokompromise
*Tinea pedis tipe moccasin  skuama tebal pada
permukaan plantarkeratolitik ammonium
lactate lotion 12% atau urea topical 10-40%

Obat antifungal topikal
• Imidazol topikal (clotrimazole 1%,
ketokonazol 2%, mikonazol 2%,
oxiconazole 1%)  efektif pada semua
tipe tinea pedis tetapi golongan ini
sangat baik untuk tinea pedis tipe
interdigital
• Piridon topikal (ciclopirox 1%)
• Alilamin topikal (terbinafine 1% )
• Benzilamin topikal (butenafine)

Terapi pada pasien
• Golongan imidazol  spektrum luas  menghambat
sintesis ergosterol (sterol utama membran sel
jamurkebocoran komponen seluler kematian sel
• Imidazol topikal  efek anti-inflamasi  penghambatan
kemotaksis neutrofil, aktivitas kalmodulin, sintesis
leukotrien dan prostaglandin, serta pelepasan histamin dari
sel mast
• Ketokonazol  efek anti-inflamasi setara dengan
hidrokortison 1%
• Imidazol topikal  antibakteri yang terbatas (Gram-positif)
• Desoximetasone 2,5%  kortikosteroid topikal dengan
potensi tinggi menekan berbagai reaksi inflamasi pada
kulit

Obat antifungal sistemik
• Terbinafin 250 mg/hari selama 2-6 minggu, atau
• Griseofulvin 0,75-1 gram dalam dosis tunggal
atau terbagi selama 2-6 minggu
• Itrakonazol 200 mg selama 1 minggu, atau
• Flukonazol 150 mg/ minggu selama 6 minggu
Pasien:
• Ketokonazol 200 mg/hari  ketersediaan yang
lebih banyak dan harga yang lebih murah, serta
memiliki efikasi yang baik, diabsorpsi jauh lebih
baik dibandingkan golongan imidazol lainnya
• Simptomatik cetirizine 10 mg/hari 
antihistamin  mengurangi gatal

Prognosis
• Dipengaruhi: Tipe infeksi tinea pedis
dan kondisi yang mendasarinya
(misalnya, imunosupresi, diabetes)
• Perawatan yang tepat  umumnya
baik

Edukasi
• Memakai sepatu pelindung di tempattempat umum
• Membatasi penggunaan alas kaki
yang tertutup dan harus membuang
sepatu yang mungkin berkontribusi
terhadap kekambuhan infeksi
• Mengenakan kaus kaki katun dan
menambahkan bubuk pengering yang
bersifat antijamur dalam sepatu

KESIMPULAN
Pada pasien ini mengalami tinea pedis tipe interdigital
dan hiperkeratosis kronis. Faktor risiko pada pasien
adalah penggunaan sepatu yang tertutup dalam
waktu yang lama dan pekerjaan pasien sebagai bidan
di tempat pelayanan umum memungkinkan risiko
terjadinya penularan lebih tinggi karena pasien
menggunakan kamar mandi umum. Terapi yang
diberikan pada pasien adalalah ketokonazol 200
mg/hari, dan desoximethassone 2,5% ditambah
ketokonazole 2%, serta obat simptomatis yaitu
cetirizine 10 mg/hari. Edukasi yang penting pada
pasien adalah menghindari faktor risiko.

TERIMAKASIH