Koding Diagnosa dan

Prosedur Tindakan berdasar
ICD10 dan ICD9CM
Seksi Rekam Medik RSUD Dr. Soetomo

Tugas dan tanggung Jawab
1. DOKTER >> menegakkan dan menuliskan diagnosis primer
dan diagnosis sekunder sesuai dengan ICD-10, menulis seluruh
tindakan/prosedur sesuai ICD-9-CM serta membuat resume
medis pasien secara lengkap dan jelas selama pasien dirawat di
RS

2. KODER >> melakukan kodifikasi diagnosis dan
tindakan/prosedur yang ditulis oleh dokter yang merawat
pasien sesuai dengan ICD-10 untuk diagnosis dan ICD-9-CM untuk
tindakan/prosedur yang bersumber dari rekam medis pasien.
Apabila dalam melakukan pengkodean diagnosis atau
tindakan/prosedur koder menemukan kesulitan ataupun
ketidaksesuaian dengan aturan umum pengkodean, maka koder
harus melakukan klarifikasi dengan dokter . Apabila
klarifikasi gagal dilakukan maka koder dapat menggunakan aturan

(rule) MB 1 hingga MB 5.

Permenkes 27 Thn 2014 ttg Juknis INA-CBG’s

Peran utama dokter
Menuliskan dengan akurat dan lengkap :
 diagnosis Utama
 diagnosis Sekunder (Komorbiditi &
Komplikasi)
 Prosedur/Tindakan utama yang
dikerjakan
 Prosedur sekunder/lain-lain
 diagnosis : Spesifik dan rinci
 Tidak menggunakan singkatan

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI NOMOR 377/MENKES/SK/III/2007 juncto PMK 55 TAHUN 2013 Psl.13 Kompetensi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan di Indonesia terdiri dari 7 ( TUJUH ) KOMPETENSI YANG HARUS DIMILIKI profesional perekam medis dan informasi kesehatan Permenkes 27 Thn 2014 ttg Juknis INA-CBG’s .

47 (tujuh) kompetensi 1 KLASIFIKASI DAN KODIFIKASI PENYAKIT. MASALAH-MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN KESEHATAN DAN TINDAKAN MEDIS 2 ASPEK HUKUM DAN ETIKA PROFESI   3 MANAJEMEN REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN 4 MENJAGA MUTU REKAM MEDIS 5 STATISTIK KESEHATAN 6 7 MANAJEMEN UNIT KERJA REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN KEMITRAAN PROFESI .

PRAKTEK KEDOKTERAN .Peran Utama Dokter : Menegakkan Diagnosa (Mutu Yanmed) Memberikan Terapi dan Tindakan Medik I S I G N AM E 3 M EK R IS  D E C M UU 29 TAHUN 2004 TTG.

Tulisan Diagnosa Benar >> Hasil Kode Salah = INFORMASI SALAH Tulisan diagnosa tdk jelas >> Hasil Kode Salah = INFORMASI SALAH KATA KUNCI : KOMUNIKASI INTENSIF ANTARA TENAGA MEDIS DAN PEREKAM MEDIS . 2.Beberapa Kemungkinan Koding Diagnosa Tulisan Diagnosa Salah >> Hasil Kode Salah = INFORMASI SALAH 1. 3.

Memperbaiki Mutu Rekam Medis 4. Memanfaatkan Data Klaim 8. Pembayaran Jasa Medis >> Remunerasi Permenkes 27 Thn 2014 ttg Juknis INA-CBG’s . Memperbaiki Kecepatan dan Mutu Klaim 5. Melakukan standarisasi 6. Membangun Tim Rumah Sakit 2.Upaya yg sebaiknya dilakukan RS Sesuai Permenkes 27 Thn 2014 ttg Juknis INA-CBG’s 1. Membentuk Tim Casemix/Tim INA-CBG’s Rumah Sakit 7. Meningkatkan Efisiensi 3. Melakukan review Post Klaim 9.

6. Memberikan pelayanan dengan mutu yang kurang baik. 4. Menambah diagnosis & Prosedur >> mendapatkan grouping lebih besar. Melakukan input diagnosis dan prosedur >> mendapatkan grouping lebih besar. Melakukan manipulasi terhadap diagnosis dengan menaikkan tingkatan jenis tindakan. Permenkes 27 Thn 2014 ttg Juknis INA-CBG’s . 3. Merubah dan membongkar software INA-CBG’s 2.Upaya yg sebaiknya Tidak dilakukan RS Sesuai Permenkes 27 Thn 2014 ttg Juknis INA-CBG’s 1. Misalnya: memperpendek jam pelayanan poliklinik. Upcoding 5. pelayanan yang bisa diselesaikan dalam waktu satu hari dilakukan pada hari yang berbeda.

Koding sangat menentukan dalam sistem pembiayaan prospektif yang akan menentukan besarnya biaya yang dibayarkan ke Rumah Sakit Volume I Volume II Volume III .Peraturan Koding Koding >> Kegiatan memberikan kode diagnosis utama dan diagnosis sekunder sesuai dengan ICD-10 serta memberikan kode prosedur sesuai dengan ICD-9-CM.

Hubungan Rekam Medis – Koding – INAcbg Rekam Medis Kodin g INACBGs Group .

UNIT KLAIM KOMPETENS I TENAGA MEDIS KOMPETENSI TENAGA PEREKAM MEDIS .

Volume I dan III harus digunakan bersama-sama untuk menemukan kode yang benar dari setiap kasus .Golden Coding Rules 1.

4. Contoh: Neoplasma Paru-Paru akan diklasifikasikan dalam Bab II Neoplasma bukan dalam Bab X Penyakit Sistem pernafasan 3.2. konvensi ejaan Amerika digunakan. Tabular List (volume 1) menggunakan ejaan Inggris namun dalam Index (volume 3) menggunakan ejaan Amerika. tetapi dalam Index. kode dagger adalah kode diagnosis utama . Kategori penyakit khusus memperoleh prioritas di atas kategori sistem tubuh. Kode asterik tidak boleh digunakan sendiri. . Prinsip dasar ICD .

’. . Baca semua term yang dikurung oleh parentheses setelah ‘lead term’ 5. Untuk penyakit dan cedera 3. Tentukan jenis pernyataan (Leadterm) yang akan dikode dan rujuk ke Section yang sesuai pada Indeks Alfabet 2. atau kategori. Rujuk daftar tabulasi (Volume I) untuk memastikan nomor kode yang dipilih 7. Tentukan lokasi ‘lead term. Ikuti dengan hati-hati setiap rujukan silang ‘see’ dan ‘see also’ di dalam Indeks 6. atau di bawah judul bab.Langkah-langkah Koding Menggunakan ICD10 1. Pedomani setiap term inklusi dan eksklusi di bawah kode yang dipilih. blok. Baca dan pedomani semua catatan yang terdapat di bawah ‘lead term’ 4.

(established at the end of the episode of health care)  Diagnosis utama memiliki tanggung jawab utama untuk pasien menerima segala tindakan rawatan/berbagai bentuk tes pemeriksaan.Definisi atau ciri diagnosis utama  Diagnosis utama selalu ditetapkan pada akhir perawatan seorang pasien. Permenkes 27 Thn 2014 ttg Juknis INA-CBG’s .

bahan habis pakai.Definisi atau ciri diagnosis utama (Sambungan-1)  Jika terdapat lebih dari satu diagnosis maka dipilih satu diagnosis yg paling banyak menggunakan resouces (SDM. peralatan medik. tes pemeriksaan dan lain2)  Jika tidak ada diagnosis yg bisa dijadikan sebagai diagnosis utama maka ‘symptoms. abnormal finding or problem dapat digunakan’ Permenkes 27 Thn 2014 ttg Juknis INA-CBG’s .

Diagnosa Sekunder
Diagnosis sekunder adalah diagnosis selain dari
diagnosis utama (Komplikasi + Ko-morbiditi)

Komplikasi adalah penyakit yang timbul dalam
masa pengobatan dan memerlukan pelayanan
tambahan sewaktu episode pelayanan .
Ex: Wound infection, Pneumonia etc.

Ko-morbiditi adalah penyakit yang menyertai
diagnosis utama atau kondisi pasien saat masuk
dan membutuhkan pelayanan/asuhan khusus
setelah masuk dan selama rawat.
Ex: Diabetes, Hypertension etc.
Permenkes 27 Thn 2014 ttg Juknis INA-CBG’s

Langkah-langkah koding ICD9CM
1. Identifikasi tipe pernyataan prosedur/tindakan yang akan
dikode dan lihat di buku ICD-9-CM Alphabetical Index.
2. Tentukan Lead Term Untuk prosedur/tindakan.
3. Baca dan ikuti semua catatan atau petunjuk dibawah
kata kunci.
4. Baca setiap catatan dalam tanda kurung setelah kata
kunci (penjelasan ini tidak mempengaruhi kode) dan
penjelasan indentasi dibawah lead term (penjelasan ini
mempengaruhi kode) sampai semua kata dalam
diagnosis tercantum.
5. Ikuti setiap petunjuk rujukan silang (“see” dan “see
also”) yang ditemukan dalam index :
6. Cek ketepatan kode yang telah dipilih pada Tabular List.
7. Baca setiap inclusion atau exclusion dibawah kode yang
dipilih atau dibawah bab atau dibawah blok atau
dibawah judul kategori.
8. Tentukan Kode

Pedoman koding prosedur INA-CBG’s
 Prosedur Operasi
Prosedur diagnostik terapeutik atau besar yang
melibatkan penggunaan instrumen atau
manipulasi bagian dari tubuh dan pada
umumnya terjadi dalam ruang operasi.
 Prosedur Non operasi
Prosedur Investigasi dan terapi lainnya yang
tidak termasuk operasi seperti radiologi,
laboratorium, fisioterapi, psikologi dan prosedur
lainnya.

HINDARI SINGKATAN DIAGNOSIS/PROSEDUR •BP = Broncho Pneumonia •BP = Brachial Plexus •FA = Fibrillation Atrial •FA = Flour Albus •HAP = Haemorrhagic Anterpartum •HAP = Hospital Acquired Pneumonia •MR = Mitral Regurgitation •MR = Mental Retardation 21 .

22 PROBLEM KODING ICD-10 & ICD-9CM •Diagnosis/tindakan tidak ditulis •Diagnosis/tindakan tidak spesifik •Diagnosis/tindakan tidak lengkap •Tulisan dokter tidak terbaca •Singkatan tidak standar •Prosedur tidak dilakukan ttp di koding •Prosedur dilakukan ttp tidak di koding •Salah Koding .

.

.

.

.

Prosedure Rawat Inap 2 Severity Level 31 CMGs 4 INACBGs 2. Rawat Inap Neonatal 9. Rawat Jalan Neonatal X. Prosedur Signifikan Rawat Jalan 4. 5 79.LANGKAH-LANGKAH GROUPING INACBGs DATA PASIEN Spesifik CBGs 1 K-1 i 5 -3 CMG CMG Case Type 3 Tipe Kasus (1-10) Sev.35 o22 Acute Care CMGs o2 Ambulatory CMGs o1 Subacute CMGs o1 Chronic CMGs o4 Special CMGs o1 Error CMGs 1. Rawat Inap Bukan Prosedur 5. Rawat Jalan Bukan Prosedu 6. Rawat Inap Kebidanan 7. Level Kode ICD 10 Kode ICD9CM M86. Rawat Jalan kebidanan 8. Error TINGKAT KEPARAHAN 0 = Rawat Jalan I = Ringan II = Sedang III = Berat . Prosedur Besar Rawat Jalan 3.9.

Tarif 2014 + 6 Tambahan tarif Special Procedure Chronic Special Drugs Sub Acute Acute Special Prosthesis UNU GROUPER Special Investigasi 30 Tipe CMG >> 76 =CBG .

5 PCI Special Procedure 1 I-1-40-I Keratoplasty Special Procedure 1 H-1-30-I Pancreatectomy Special Procedure 1 B-1-10-I Repair of septaldefect of heart with prosthesis Special Procedure 1 Renal Transplantation Special Procedure 1 Stereotactic Surgery & Radiotheraphy Special Procedure 1 Torakotomi Special Procedure 1 Lobektomi / bilobektomi Special Procedure 1 Air plumbage Special Procedure 1 J-4-20-I Timektomi Special Procedure 1 D-1-20-I Vitrectomy Special Procedure 1 H-1-30-I Phacoemulsification Special Procedure 1 H-2-36-0 Microlaringoscopy Special Procedure 2 J-3-15-0 0.L A I U S D E E P S OC E PR R koefisien utk top up KodeINACBG dasar List Item Special CMG Tipe Special CMG Tumor pineal –Endoskopy Special Procedure Hip Replacement / knee replacement Special Procedure 0.5 E-1-01-I M-1-04-I I-1-06-I N-1-01-I C-4-12-I J-1-30-I J-1-10-I .

S e p d e c o r P l a i c e r u .

5 Special Prosthesis 0.List Item Special CMG Subdural grid L IA ES electrode S E TH P S OS S Cote graft I R P Tipe Special CMG koefisi KodeINAen utk CBG dasar top up Special Prosthesis 0.5 TMJ Prosthesis Special Prosthesis 1 Liquid Embolic (for AVM) Special Prosthesis 1 Hip Implant/knee implant Special Prosthesis 1 G-1-10-I I-1-03-I M-1-60-I G-1-12-I M-1-04-I .

SPECIAL PR .

5 Deferoksamin Special Drugs 0.5 Human Albumin Special Drugs 0.25 Special Drugs 0.List Item Special CMG Streptokinase AL I S S E G Deferiprone P U S R D Tipe Special CMG Special Drugs koefisie n utk top up 0.5 KodeINACBG dasar I-4-10-I D-4-13-I D-4-13-I D-4-13-I A-4-10-I .5 Deferasirox Special Drugs 0.

p S l a i c e g u r D .

5 Special Investigation 1.5 Special Investigation 1.5 Special Investigation 1.List Item Special CMG L A A Other CT Scan I S IG E T P S S E I Nuclear Medicine V S IN MRI Diagnostic and Imaging Procedure of Eye Tipe Special CMG koefisien KodeINAutk top CBG dasar up Special Investigation 1.5 Z-3-19-0 Z-3-17-0 Z-3-16-0 H-3-13-0 .

e a i c n I l g i t s e v s a .

Sub Acute Chronic • Khusus untuk Jiwa dan Kusta Fase Akut : Hari 1 s/d 42 Fase Sub Akut : Hari 43 s/d 103 Fase Kronik : Hari 104 s/d 180 • Tarif Fase Akut : Paket INA CBG’s Fase Sub Akut : UC X 0.375 X RIW X LOS Fase Kronik : UC X 0.0 . RIW = Resource Intensity Weight Besaran RIW berbanding lurus dng tingkat disabilitas pasien Pengukuran tingkat Disabilitas dng menggunakan WHO Disability Assessment Schedule (DAS) 2.25 X RIW X LOS UC = Unit Cost.

Special CMG/Top Up Mata .

• Jika tidak mungkin gunakan peraturan reseleksi pada ICD volume 2 (MB1 s/d MB5) 39 .Peraturan reseleksi diagnosis utama salah dicatat Pada keadaan adanya informasi yg dpt menunjukan bahwa dokter salah tidak mengikuti prosedur ICD yg benar : • Klarifikasi (minta penjelasan) dr dokter yg merawat.

tercatat sebagai ‘kondisi utama’. yang sebenarnya (relevan) dengan pengobatan yang diberikan dan/atau spesialisasi perawatan. tercatat sebagai ‘kondisi lain’.Rule MB1. atau masalah insidental (Kondisi Kejadian). . sedangkan kondisi yang lebih berarti dicatat sebagai ‘kondisi lain’    Ketika kondisi minor atau yang telah berlangsung lama. Sedangkan kondisi yang lebih berarti. maka yang terakhir inilah yang dipilih kembali sebagai ‘kondisi utama’. Kondisi minor tercatat sebagai ‘kondisi utama’.

CONTOH RULE MB 1 • • • • • Kondisi utama : Sinusitis akut. Kondisi lain : Karsinoma endoserviks Hipertensi Pasien di rumah sakit selama tiga minggu Prosedur : Histerektomi total Spesialisasi : Ginekologi Kode : Karsinoma endoserviks (C53.0) .

pilihlah kondisi tersebut. pilih kondisi yang pertama kali disebutkan . Beberapa kondisi dicatat sebagai kondisi utama.Rule MB2. Kalau tidak. • Kalau beberapa kondisi yang tidak bisa dikode bersamaan tercatat sebagai ‘KU’. dan catatannya menunjukkan bahwa satu di antaranya adalah kondisi utama pada perawatan pasien.

3) .CONTOH RULE MB 2 • • • • Kondisi utama : Katarak Meningitis stafilokokus Penyakit jantung iskemik. Kondisi lain : Pasien di rumah sakit selama lima minggu Spesialisasi : Neurologi Kode : Meningitis stafilokokus (G00.

dan ini jelas merupakan tanda. atau suatu masalah yang bisa diklasifikasikan pada Bab XXI.  Kalau suatu gejala atau tanda (biasanya bisa diklasifikasikan pada Bab XVIII). dicatat sebagai ‘KU’. pilihlah kondisi yang didiagnosis tersebut sebagai ‘KU’ . gejala atau masalah dari kondisi yang telah didiagnosis di tempat lain dan telah dirawat. Kondisi yang dicatat sebagai ‘kondisi utama’ ternyata merupakan gejala dari kondisi yang telah didiagnosis dan diobati.Rule MB3.

CONTOH RULE MB 3 • Kondisi utama : Hematuria • Kondisi lain : Varises vena tungkai Papilomata dinding belakang bladder • Pengobatan: Eksisi diatermi papillomata • Spesialisasi : Urologi • Kode : Papilomata dinding belakang bladder (D41.4) .

. pilihlah yang terakhir ini sebagai ‘KU’.Rule MB4.  sedangkan suatu istilah yang bisa memberikan informasi yang lebih tepat mengenai tempat atau bentuk kondisi tersebut tercatat di tempat lain. SPESIFISITAS  Kalau diagnosis yang tercatat sebagai ‘kondisi utama’ menguraikan suatu kondisi secara umum.

CONTOH RULE MB 4  Kondisi utama accident : Cerebrovascular  Kondisi lain : Diabetes mellitus Hipertensi Perdarahan otak  Kode : Perdarahan otak (I61. .9).

Rule MB5. pilihlah kondisi pertama yang tercatat . pilihlah gejala tersebut sebagai ‘kondisi utama’. Diagnosis allternatif.  Kalau suatu gejala atau tanda dicatat sebagai ‘kondisi utama’ dengan suatu petunjuk bahwa mereka bisa disebabkan oleh suatu kondisi atau kondisi lain.  Kalau dua kondisi atau lebih tercatat sebagai pilihan diagnostik untuk kondisi utama.

CONTOH RULE MB 5 (1)  Kondisi utama: Sakit kepala karena stress atau tegangan otot atau sinusitis akut  Kondisi lain : Kode : Sakit kepala (R51). .

CONTOH RULE MB 5 (2)  Kondisi utama : Kholesistitis akut atau pankreatitis akut  Kondisi lain  Kode :: Kholesistitis akut (K81.0) .

3† H28. Sistem dual-klasifikasi Dagger (†) & Asterisk (*) Ex : NIDDM karatak = E10. dan etiologinya). topografi.0* 3. Diagnosis harus mempunyai nilai informatif sesuai dengan kategori ICD yang spesifik.Pedoman Pemberian Kode Kondisi Utama dan Kondisi Lain 1. Ex : Acute appendicitis with perforation 2. Kode Katagori kombinasi Ex : DU : Renal Failure.0 . DS : Hypertensive renal disease Kode yg benar I12. Penulisan diagnosis harus lengkap dan spesifik (menunjukkan letak.

Ex : Fraktur colum femoris karena jatuh tersandung pd trotoar yang tidak rata. Symptoms (gejala).0 5.Pedoman Pemberian Kode Kondisi Utama dan Kondisi Lain 4. = S72. Sign dan temuan abnormal dan situasi yg bukan penyakit: Jika diagnosa yg lbh spesifik(penyakit atau cidera) tidak dibuat pd akhir rawat inap maka dizinkan memberi kode“R” atau kode“Z”. Kode morbiditas penyebab eksternal Sifat dasar kondisi & keadaan penyebab eksternal harus diberi kode. Ex : Suspected acute Cholecystitis = K81.4 Utk Penyebab External .0 dan W01.

B20. B20.8 7. Kode kondisi multiple Bila terdapat kondisi “Multiple” tdk ada kondisi tunggal yg menonjol.. diberi kode “multiple” yg digunakan & kode sekunder dapat ditambahkan untuk daftar kondisi individu Ex : DU : B20. no longer present) sebagai kode sekunder opsional.6. Dx Sekunder I69.3 . Ex : Dysphasia dari old cerebral infarction DX Utama R47.” (old.Pedoman Pemberian Kode Kondisi Utama dan Kondisi Lain 6. Kode Sequele pada kondisi tertentu Kode utamanya adalah sifat dasar sequelae itu sendiri.0.0.7 DS : B20. kode “sequelae of .

0 (Akut). Dx Sekunder K81.1 (Kronis) 9. kode kondisi akut digunakan sebagai kondisi utama yang harus dipilih.0) . Infeksi luka operasi.Pedoman Pemberian Kode Kondisi Utama dan Kondisi Lain 8. Ex : Haemorrhage hebat setelah cabut gigi DX Utama Haemorrhage resulting from a procedure (T81. misalnya. Kode Kondisi dan Komplikasi Post Prosedur Bab XIX (T80-T88) digunakan untuk komplikasi yang berhubungan dengan pembedahan dan tindakan lain. shock dan lain-lain. komplikasi mekanis dari implant. Kode Kondisi Akut dn Kronis Bila kondisi utama adalah akut dan kronis dan dalam ICD dijumpai kategori atau sub kategori yang terpisah. tetapi bukan kode kombinasi. Ex : Cholecystitis akut dan kronis Dx Utama K81.

0 –P03.6 . tunggal atau multiple (Z38.Aturan Koding Lainnya INA-CBG’s Bayi lahir sehat maka tidak memiliki kode diagnosis penyakit (P). hanya perlu kode bahwa ia lahir hidup di lokasi persalinan.-) Bayi yg lahir dipengaruhi oleh faktor ibunya yaitu komplikasi saat hamil dan melahirkan dapat digunakan kode P00-P04 Tetapi yang dapat diklaimkan hanya yang menggunakan kode P03.

. radioterapi) di rawat jalan menggunakan kode “Z” sebagai diagnosis utama dan kondisi penyakitnya sebagai diagnosis sekunder. kemoterapi.Aturan Koding Lainnya INA-CBG’s Pasien yang datang untuk kontrol ulang dengan diagnosis yang sama seperti kunjungan sebelumnya dan terapi (rehab medik.

8) dan DS : Hipertensi (I10) .9) Kondisi utama: Kontrol Hipertensi Kondisi lain: DU : kode kontrol (Z09.Aturan Koding Lainnya INA-CBG’s Contoh : Kondisi utama: Kemoterapi Kondisi lain: Ca. Mammae (C50.1) dan DS :Ca. Mammae DU: kode kemoterapi (Z51.

Contoh: Kondisi utama : Renal failure Kondisi lain : Hypertensive renal disease Diberi kode hypertensive renal disease with renal failure (I12. maka dalam ICD 10 harus menggunakan satu kode.Aturan Koding Lainnya INA-CBG’s Apabila ada dua kondisi atau kondisi utama dan sekunder yang berkaitan.0) .

Pasien selain Thalasemia Mayor tidak mendapatkan top-up special drug.1 .Aturan Koding Lainnya INA-CBG’s Pengkodean untuk pasien Thalasemia: a. Pasien Thalasemia Mayor adalah pasien yang mempunyai diagnosis baik diagnosis primer maupun sekunder mempunyai kode ICD10 : D56. b.

Deferoksamin.8 sebagai diagnosis utama d. dan Deferasirox) maka tetap diinputkan sebagai rawat jalan dengan menggunakan kode Z09.1 sebagai diagnosis utama dan tidak mendapatkan top-up special drug. . Jika pasien Thalasemia Mayor dirawat inap hanya untuk tranfusi darah tanpa diberikan obat kelasi besi maka tetap menggunakan kodeD56. Jika pasien Thalasemia Mayor pada saat kontrol tidak diberikan obat kelasi besi (Deferipone.Aturan Koding Lainnya INA-CBG’s Pengkodean untuk pasien Thalasemia : c.

4) sebagai diagnosis utama.9). unspecified (O82.Aturan Koding Lainnya INA-CBG’s Pengkodean untuk persalinan: a. kecuali jika penyulitnya kode O42.1 maka O80-O84 digunakan sebagai diagnosis utama. Kaidah koding dalam ICD-10 kode O80-O84 digunakan sebagai diagnosis sekunder jika ada penyulit dalam persalinan. dapat digunakan sebagai kode diagnosis sekunder . Contoh : 1. Diagnosis utama: Kehamilan (dilahirkan) Diagnosis sekunder: Kegagalan trial of labour Tindakan: Seksio sesar Diberi kode pada failed trial of labour. Kode untuk caesarean section delivery.0 dan O42. unspecified (O66.

9) sebagai diagnosis utama dan Premature rupture of membranes. unspecified (O82.0).Aturan Koding Lainnya INA-CBG’s Pengkodean untuk persalinan: Contoh : 2. onset of labour within 24 hours (O42. Diagnosis utama: Ketuban Pecah Dini kurang 24 jam Diagnosis sekunder : Tindakan: Seksio sesar Diberi kode caesarean section delivery. . dapat digunakan sebagai kode diagnosis sekunder.

Z35. Z35.Aturan Koding Lainnya INA-CBG’s Pengkodean untuk persalinan: b.5.6. Pasien seksio sesar dalam satu episode rawat dilakukan tindakan sterilisasi maka kode tindakan sterilisasi tidak perlu diinput ke dalam aplikasi INA-CBG c.8) ke dalam aplikasi INA-CBG .7. dan Z35. Persalinan normal maupun tidak normal tidak diperbolehkan menginput high risk pregnancy (Z35.

Kasus umum disertai dengan kehamilan yang tidak ditangani oleh dokter obstetri pada akhir episode perawatan maka diagnosis utamanya adalah kasus umumnya Contoh : Diagnosis utama : Dengue Hemoragic Fever (DHF) Diagnosis sekunder : Keadaan hamil Dokter yg merawat : dokter penyakit dalam Pasien dalam keadaan hamil. maka diberi kode A91 sebagai diagnosis utama dan O98. .Aturan Koding Lainnya INA-CBG’s Pengkodean untuk persalinan: d.5 sebagai diagnosis sekunder.

5 sebagai diagnosis utama dan A91sebagai diagnosis sekunder . maka diberi kode O98. Kasus umum disertai dengan kehamilan yang ditangani oleh dokter obstetri sampai akhir episode perawatan maka diagnosis utamanya adalah kasus kehamilan Contoh : Diagnosis utama: Keadaan hamil Diagnosis sekunder: Dengue Hemoragic Fever (DHF) Dokter yang merawat : dokter obstetri Pasien dalam keadaan hamil.Aturan Koding Lainnya INA-CBG’s Pengkodean untuk persalinan: e.

Aturan Koding Lainnya INA-CBG’s Jika beberapa prosedur yang diberikan dalam pelayanan diinputkan ke dalam software INACBGs menyebabkan perubahan grouping dan tarif menjadi turun. maka prosedur-prosedur yang menurunkan tarif tidak diinput. Permenkes 27 Thn 2014 ttg Juknis INA-CBG’s .

1989)  Code Creep sering disebut sebagai upcoding.Kurangnya pengetahuan koder .Pengembangan serta revisi dalam sistem koding . dan apabila mengacu pada konteks Tagihan Rumah Sakit (hospital billing) maka disebut DRG Creep  Penyebab variasi pengkodean : .Code Creep  Code Creep adalah perubahan dalam pencatatan Rumah Sakit (rekam medis) yang dilakukan praktisi untuk meningkatkan penggantian biaya dalam sistem Casemix (Seinwald dan Dummit.Kebijakan khusus suatu negara .

0)  Aturan kode Dagger (†) dan Asterisc (*) . HT+CKD = I12.Contoh Code Creep  Kode Z dan R tidak dapat dipakai sebagai diagnosa utama apabila ada diagnosa lain yang lebih spesifik  Tindakan/Prosedur seharusnya relevan dengan diagnosa utama  Beberapa diagnosis seharusnya dikode menjadi satu (HHD+RHD+CHF = I13.0.

.

Terima Kasih .