You are on page 1of 109

HUKUM LAUT, HUKUM PERKAPALAN

DAN PERATURAN PERIKANAN


EDY KURNIAWAN, S.St.Pi

SUMBER HUKUM
1. KUHD buku ke II bab 3 & 4
2. KUHP buku ke II bab 29 dan buku ke III bab 9
3. Ordonansi Kapal dan Peraturan Kapal 1935
4. UU Karantina thn. 1962
5. UU No. 21 thn. 1992 yang diubah UU No. 17 tahun
6.
7.
8.
9.

2008 tentang Pelayaran


UU No. 31 thn. 2004 tentang Perikanan
PP No. 7 thn. 2000 Kepelautan
Solas 1974
Protokol Terromolinos 1993

PENGERTIAN
HUKUM adalah himpunan peraturan yang
bersifat memaksa, yang mengurus tata- tertib
suatu lingkungan masyarakat.
HUKUM LAUT adalah rangkaian peraturan dan
kebiasaan hukum mengenai laut.
HUKUM PERKAPALAN adalah rangkaian
peraturan yang mengatur tentang hal-hal yang
berkaitan dengan keselamatan kapal beserta
manusia dan muatan selama pelayaran.
HUKUM PERIKANAN adalah rangkaian
peraturan yang berkaitan dg pengelolaan dan
pemanfaat- an sumberdaya ikan dan
lingkungannya.

PERLUNYA UNDANG-UNDANG
PERIKANAN
1.
2.
3.

Perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia


mengandung sumber daya ikan dan lahan
pembudiyaan ikanyang potensial;
Dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan
dan kemakmuran rakyat Indonesia:
Pengelolaan sumberdaya ikan dilakukan sebaik
baiknya berdasarkan asas manfaat, keadilan dan
pemerataan dengan mengutamakan :
- perluasan kesempatan kerja
- peningkatan taraf hidup
- kelestarian yang berkelanjutan.

ALASAN PERLUNYA PENYEMPURNAAN


UU No. 9 / 1985 tentang Perikanan
1.

2.

3.
4.

5.

UU No. 9 lebih berorientasi pada pengaturan


perikanan tangkap,
pengaturan perikanan budidaya masih terbatas;
Perkembangan IPTEK perikanan dan sosial ekonomi
masyarakat serta tuntutan masyarakat internasional
terhadap manajemen pengelolaan sumberdaya
perikanan;
Adanya perkembangan UU baru yang terkait dengan
pengelolaan perikanan nasional;
Reposisi peran pemerintah dan reposisi terhadap
strategi pengelolaan perikanan terutama yang
berkaitan dengan hubungan internasional;
Pelaksanaan penegakkan hukum dibidang perikanan
tidak berjalan dengan baik.

STRUKTUR UU No. 31 / 2004


Terdiri dari : 17 Bab dengan 111 pasal
Bab I
Bab II
Bab III
Bab IV
Bab V
Bab VI
Bab VII
Bab VIII
Bab IX
Bab X
Bab XI
Bab XII
Bab XIII
Bab XIV

: Ketentuan Umum;
: Ruang Lingkup;
: Wilayah Pengelolaan Perikanan;
: Pengelolaan Perikanan;
: Usaha Perikanan;
: Sitem Informasi dan Data Statistik Perikanan;
: Pungutan Perikanan;
: Penelitian dan Pengembangan Perikanan;
: Pendidikan, Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan;
: Pemeberdayaan Nelayan Kecil dan Pembudidaya Kecil;
: Penyerahan Urusan dan Tugas Perbantuan;
: Pengawasan Perikanan;
: Pengadilan Perikanan;
: Penyelidikan , Penuntutan, dan Pemeriksaan di sidang
Pengadilan Perikanan;
Bab XV : Ketentuan Pidana:
Bab XVI : Ketentuan Peralihan;
Bab XVII : Ketentuan Penutup.

PENGERTIAN
PERIKANAN adalah semua kegiatan yang
berhubungan dengan pengelolaan dan
pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya
mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan
sampai pemasaran, yang dilaksanakan dalam
suatu sistem bisnis perikanan
IKAN adalah segala jenis organisme yang
seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada
di dalam lingkungan perairan.

LAUT TERITORIAL INDONESIA adalah jalur laut


selebar 12 (dua belas) mil laut yang diukur dari garis
pangkal kepulauan Indonesia
PERAIRAN INDONESIA adalah laut teritorial
Indonesia beserta perairan kepulauan dan perairan
pedalamannya.
ZONA EKONOMI EKSKLUSIF INDONESIA (ZEEI)
adalah jalur di luar dan berbatasan dg laut teritorial
Indonesia sebagaimana ditetap- kan UU tentang
perairan Indonesia, dengan batas terluar 200 mil laut
diukur dari garis pangkal laut teritorial Indonesia.

PENANGKAPAN IKAN adalah kegiatan untuk memperoleh


ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan
dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang
menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut,
menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah, dan atau
mengawetkannya.
NELAYAN adalah orang yang mata pencahariannya
melakukan penangkapan ikan.
NELAYAN KECIL adalah orang yang mata pencahariannya
melakukan penangkapan ikan utk memenuhi kebutuhan
hidup sehari-hari.

ZEE INDONESIA
(UU Nomor 5 tahun 1983)
a. Didahului dengan keluarnya Pengumuman Pemerintah Republik
Indonesia tanggal 21 Maret 1980 tentang ZEE Indonesia.
b. Isi pengumuman :
1. Konvensi PBB tentang Hukum Laut memberikan kepada RI
sebagai negara pantai, hak berdaulat untuk eksplotasi sumber
daya alam yang terdapat di ZEE dan kewenangan yang berkaitan
dengan pelaksanaan hak tersebut.
2. Selain itu, Indonesia berkewajiban pula menghormati hak-hak
negara lain di ZEE-nya, antara lain :
-kebebasan pelayaran dan penerbangan;
-kebebasan untuk pemasangan kabel dan pipa bawah tanah;
-negara lain dapat ikut serta memanfaatkan sumberdaya alam
hayati yang ada di ZEE.
c. Apabila ZEEI tumpang tindih/berdampingan dengan pantai negara
lain, maka batas ZEE ditetapkan dengan persetujuan antar
negara yang bersangkutan.
d. Bila belum ada persetujuan, batasnya adalah garis tengah atau
titik-titik terluar dari garis pangkal laut wilayah atau titik-titik terluar
negara lain tersebut.

KAPAL
Adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis
apapun, yang digerakkan dengan tenaga
mekanik, tenaga angin, atau ditunda,
termasuk yang berdaya dukung dinamis
lainnya, kendaraan dibawah permukaan air,
serta alat apung dan bangunan ter- apung
yang tidak berpindah-pindah.

KAPAL INDONESIA
Adalah kapal :
- yang memiliki kebangsaan Indonesia
sesuai dg Peraturan Pemerintah (Surat Laut)
- yang dimiliki seorang atau lebih WNI
- sedikitnya 2/3 bagian dimiliki oleh seorang
atau lebih WNI sedang selebihnya dimiliki
penduduk Indonesia.

KAPAL PERIKANAN
Adalah kapal, perahu, atau alat apung lain
yang digunakan untuk melakukan
penangkapan ikan, mendukung operasi
penangkapan ikan, pembudiyaan ikan,
pengangkutan ikan, pengolahan ikan, pelatihan
perikanan, dan penelitian / eksplorasi
perikanan

KAPAL PENANGKAP IKAN adalah kapal


yang secara khusus dipergunakan untuk
menangkap ikan, termasuk menampung,
menyimpan, mendinginkan, dan / atau
mengawetkan.
KAPAL PENGANGKUT IKAN adalah
kapal yang secara khusus dipergunakan
untuk mengangkut ikan, termasuk
memuat, menampung, menyimpan,
mendinginkan, dan/atau mengawetkan.

SATUAN ARMADA
PENANGKAPAN IKAN
Adalah kelompok kapal perikanan yang
dipergunakan untuk menangkap ikan dan
dioperasikan dalam satu kesatuan sistem
operasi penangkapan, yang terdiri dari
kapal penangkap ikan, kapal pengangkut
ikan, dengan atau tanpa kapal lampu.

PELABUHAN
(UU No. 17 tahun 2008)

Pelabuhan adalah
tempat yang terdiri atas daratan dan/atau
perairan dengan batas-batas tertentu sebagai
tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan
pengusahaan yang dipergunakan sebagai
tempat kapal bersandar, naik turun penumpang,
dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal
dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi
dengan fasilitas keselamatan dan keamanan
pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan
serta sebagai tempat perpindahan intra-dan
antarmoda transportasi.

Pelabuhan memiliki peran sebagai:


simpul dalam jaringan transportasi sesuai dengan hierarkinya;
pintu gerbang kegiatan perekonomian;
tempat kegiatan alih moda transportasi;
penunjang kegiatan industri dan/atau perdagangan;
tempat distribusi, produksi, dan konsolidasi muatan atau barang; dan
mewujudkan Wawasan Nusantara dan kedaulatan negara
Pelabuhan berfungsi sebagai tempat kegiatan:
pemerintahan; dan
pengusahaan.

Jenis pelabuhan terdiri atas:


pelabuhan laut; dan
pelabuhan sungai dan danau.
Pelabuhan laut terdiri atas:
pelabuhan utama;
pelabuhan pengumpul; dan
pelabuhan pengumpan.

Pelabuhan Utama adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya


melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri dan internasional,
alih muat angkutan laut dalam negeri dan internasional dalam
jumlah besar, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang
dan/atau barang, serta angkutan penyeberangan dengan
jangkauan pelayanan antarprovinsi.

Pelabuhan Pengumpul adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya


melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih muat
angkutan laut dalam negeri dalam jumlah menengah, dan
sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/atau barang, serta
angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan
antarprovinsi.

Pelabuhan Pengumpan adalah pelabuhan yang fungsi


pokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih
muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah terbatas,
merupakan pengumpan bagi pelabuhan utama dan pelabuhan
pengumpul, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/atau
barang, serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan
pelayanan dalam provinsi.

Batas Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah


Lingkungan Kepentingan pelabuhan

Daerah Lingkungan Kerja pelabuhan (DLKp), terdiri atas:


wilayah daratan yang digunakan untuk kegiatan fasilitas pokok dan
fasilitas penunjang; dan
wilayah perairan yang digunakan untuk kegiatan alurpelayaran,
tempat labuh, tempat alih muat antarkapal, kolam pelabuhan untuk
kebutuhan sandar dan olah gerak kapal, kegiatan pemanduan,
tempat perbaikan kapal, dan kegiatan lain sesuai dengan
kebutuhan.
Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan (DLKr) merupakan
perairan pelabuhan di luar Daerah Lingkungan Kerja perairan yang
digunakan untuk alur-pelayaran dari dan ke pelabuhan, keperluan
keadaan darurat, pengembangan pelabuhan jangka panjang,
penempatan kapal mati, percobaan berlayar, kegiatan pemanduan,
fasilitas pembangunan, dan pemeliharaan kapal.

PELABUHAN PERIKANAN
( UU No. 31 tahun 2004)

adalah tempat yang terdiri atas daratan dan


perairan di sekitarnya dengan batas-batas
tertentu sebagai tempat kegiatan
pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis
perikanan yang dipergunakan sebagai
tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh,
dan/atau bongkar muat ikan yang di lengkapi
dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan
kegiatan penunjang perikanan di Indonesia.

PELABUHAN PANGKALAN
Adalah pelabuhan perikanan atau pelabuhan
umum di Indonesia yang ditunjuk sebagai
tempat kapal perikanan berpangkalan untuk
melakukan pendaratan hasil tangkapan,
mengisi perbekalan atau keperluan
operasional lainnya dan/atau memuat ikan
bagi kapal pengangkut ikan sebagaimana
tercantum dalam SIPI atau SIKPI.

PELABUHAN MUAT/SINGGAH
Adalah pelabuhan perikanan atau
pelabuhan umum di Indonesia yang
ditunjuk sebagai tempat kapal
pengangkut ikan untuk memuat ikan
atau singgah untuk mengisi perbekalan
atau keperluan operasional lainnya sbg
mana tercantum dalam SIKPI

PENGELOLAAN PERIKANAN
adalah semua upaya termasuk proses yang
terintegrasi dalam pengumpulan informasi,
analisis, perencanaan, konsultasi,
pembuatan keputusan, alokasi sumberdaya
ikan, dan implementasi serta penegakan
hukum di bidang perikanan, yang dilakukan
pemerintah atau otoritas lain yang diarahkan
mencapai kelangsungan produktivitas
sumber hayati perairan dan tujuan yang
ditetapkan.

TUJUAN PENGELOLAAN PERIKANAN


1. Meningkatkan taraf hidup nelayan kecil dan pembudidaya-ikan
kecil;
2. Meningkatkan penerimaan dan devisa negara;
3. Mendorong perluasan dan kesempatan kerja;
4. Meningkatkan ketersediaan dan konsumsi sumber protein ikan;
5. Mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya ikan;
6. Meningkatkan produktivitas, mutu, nilai tambah, dan dayasaing;
7. Meningkatkan ketersediaan bahan baku industri pengolahan
ikan;
8. Mencapai pemanfaatan sumberdaya ikan, lahan budidaya dan
lingkungan sumberdaya ikan secara optimal;
9. Menjamin kelestarian sumberdaya ikan, lahan budidaya ikan
dan tata ruang.

KEBIJAKAN PENGELOLAAN PERIKANAN


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Potensi dan alokasi sumberdaya ikan


Jumlah tangkapan yang diperbolehkan
Potensi dan alokasi lahan pembudidayaan ikan
Potensi dan alokasi induk serta benih ikan tertentu
Jenis, jumlah, dan ukuran alat tangkap ikan
Jenis,jumlah,ukuran dan penempatan/penggunaan alat bantu
tangkap ikan
7. Daerah, jalur, dan waktu atau musim penangkapan ikan
8. Standar prosedur operasi penangkapan ikan
9. Sistem pemantauan kapal perikanan
10. Jenis ikan baru yang akan dibudidayakan
11. Jenis ikan dan wilayah penebaran kembali serta
penangkapan ikan yang berbasis budidaya
12. Pembudidayaan ikan dan pelindungannya

lanjutan

13. Pencegahan pencemaran dan kerusakan sumberdaya


ikan serta lingkungannya
14. Rehabilitasi dan peningkatan sumberdaya ikan serta
lingkungannya
15. Ukuran dan berat minimum jenis ikan yang boleh di
tangkap
16. Suaka perikanan
17. Wabah dan wilayah wabah penyakit ikan
18. Jenis ikan yang dilarang untuk diperdagangkan,
dimasukkan, dan dikeluarkan ke dan dari wilayah RI
19. Jenis ikan yang dilindungi.

Wilayah Pengelolaan Perikanan

meliputi :

1. perairan Indonesia;
2. ZEEI; dan
3. sungai, danau, waduk, rawa, dan
genangan air lainnya yang dapat diusahakan;
4. lahan pembudiyaan ikan yang potensial;

BEBERAPA LARANGAN DALAM PENGELOLAAN PERIKANAN


Setiap orang ( perorangan/pengusaha/nakhoda/awak kapal/pemilik
kapal/pembudidaya) dilarang :
a. Menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat,
cara dan atau bangunan yang dapat merugikan atau membahayakan
kelestarian sdi atau lingkungan.
b. Memiliki, menguasai, membawa, atau menggunakan alat penangkap
ikan yang tidak sesuai dengan ketetapan yang berlaku (tipe, ukuran,
pelarangan).
c. Melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran atau
kerusakan sumberdaya ikan atau lingkungan.
d. Memasukkan, mengeluarkan, mengedarkan, dan atau memelihara
ikan yang merugikan masyarakat atau lingkungan, ke dalam/luar
wilayah pengelolaan perikanan.

USAHA PERIKANAN
Usaha perikanan dilaksanakan dalam sistem bisnis
perikanan yang meliputi praproduksi, produksi dan
pemasaran.
Dalam melakukan usaha perikanan di bidang
penangkapan, pembudiyaan, pengangkutan,
pengolahan dan pemasaran ikan di WPP wajib memiliki
SIUP.
Ruang lingkup usaha penangkapan ikan :
- kegiatan usaha penangkapan ikan;
- kegiatan usaha pengangkutan ikan;
- kegiatan usaha penangkapan dan pengangkutan
ikan
dalam satu armada.

JENIS IZIN USAHA PENANGKAPAN IKAN


1.

Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) : izin tertulis yang


harus dimiliki perusahan perikanan untuk melakukan
usaha perikanan dengan menggunakan sarana
produksi yang tercantum dalam izin.

2.

Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) : izin tertulis


yang harus dimiliki setiap kapal perikanan untuk
melakukan penangkapan ikan yang merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari SIUP.

3.

Surat Izin Kapal Pengangkut Ikan (SIKPI) : izin


tertulis yang harus dimiliki setiap kapal perikanan
untuk melakukan pengangkutan ikan.

KAPAL PERIKANAN DAPAT MELAKUKAN OPERASI


PENANGKAPAN IKAN WAJIB MEMPUNYAI :

1.
2.

3.
4.

Surat-surat izin usaha terkait;


Surat Persetujuan Berlayar (SPB) : surat dari
Syahbandar yang menyatakan kapal layak untuk
berlayar;
Surat Layak Operasi (SLO) : surat yang menyatakan
kapal layak dioperasikan untuk menangkap ikan;
Lembar Laik Tangkap Operasional (LLTO) : lembar
yang berisi tentang kelaikkan alat tangkap dan alat
bantu penangkapan ikan yang akan digunakan.

Usaha penangkapan ikan yang dilakukan oleh


nelayan dengan menggunakan sebuah kapal
perikanan tidak bermotor atau bermotor luar
atau bermotor dalam yang berukuran tidak
lebih dari 5 (lima) Gross Tonnage (GT) dan
atau mesinnya berkekuatan tidak lebih dari
15 (lima belas) Daya Kuda, dibebaskan dari
kewajiban memiliki SIUP.

PEMINDAHAN HASIL TANGKAPAN IKAN

Setiap kapal ikan dilarang melakukan pemindahan hasil


tangkapan di WPP ke kapal pengangkut yang bukan
dalam satu kesatuan armada.
Setiap kapal pengangkut ikan yang akan membawa ikan
ke luar negeri wajib masuk dan melapor ke pelabuhan
pangkalan atau pelabuhan singgah/muat yang telah
ditetapkan guna melengkapi ketentuan prosedur ekspor
hasil perikanan.
Kapal penangkap ikan yang beroperasi di luar WPP,
pemindahan ikan hasil tangkapan dilakukan berdasarkan
ketentuan internasional atau regional yang berlaku di
wilayah perikanan terkait.

MASA BERLAKUNYA IZIN


1.

SIPI kapal perikanan berbendera Indonesia :


a. 3 tahun, untuk kapal dengan jenis alat tangkap
pukat cincin, rawai tuna, jaring insang hayut atau
huhate;
b. 2 tahun, untuk kapal dengan jenis alat tangkap
yang lain.
2. SIPI kapal perikanan berbendera asing berlaku selama
1 tahun.
3. SIKPI kapal berbendera Indonesia berlaku selama 3
thn. dan yang berbendera asing berlaku 1 thn.
4. Masa berlaku SIPI dan SIKPI dapat diperpanjang untuk
jangka waktu yang sama.

TANDA PENGENAL KAPAL PERIKANAN


Kapal perikanan yang mendapat izin menangkap ikan di ZEEI diberi
tanda :
1. 1/3 lambung depan kanan dan kiri dicat warna jingga untuk
kapal Indonesia dan warna oranye untuk kapal asing.
2. Pada lambung yang dicat diberi nomor dengan warna hitam
sebesar dan sejelas mungkin :
- angka pertama menunjuk jenis alat tangkap
- angka berikutnya menunjuk nomor izin
3. Nomor kode jenis alat tangkap :
- nomor 1: long line (pancing rawai)
- nomor 2: Purse Seine (pukat cincin)
- nomor 3: Fish Net (pukat ikan)
- nomor 4: Gill Net (jaring insang)
- nomor 5: Squid Jigging (pancing cumi)
- nomor 6: Shrimp Net (pukat udang)
- nomor 7: untuk jenis alat tangkap lainnya
contoh : AB 10006

AB : kode perusahaan, 1 : long line


0006 : izin nomor 6

WILAYAH OPERASI & PELABUHAN


KAPAL PENANGKAP IKAN

Kapal penangkap ikan berukuran 100 GT keatas


hanya diperbolehkan menangkap ikan di ZEEI,
kecuali kapal- kapal yang sudah mendapat izin
sebelum peraturan ini.
Setiap kapal penangkap ikan atau kapal
pengangkut ikan yang telah memperoleh SIPI
atau SIKPI diberikan paling banyak 7 (tujuh)
pelabuhan pangkalan. (dicantumkan dalam SIPI
atau SIKPI)
Setiap kapal pengangkut ikan yang dpt izin
mengangkut ikan diberikan paling banyak 20
(dua puluh) pelabuhan muat/singgah yang
dicantumkan dalam SIKPI.

PENGAWASAN OPERASI PENANGKAPAN IKAN


Untuk kepentingan pengelolaan sumber daya ikan, setiap
kapal penangkap ikan atau kapal pengangkut ikan yang
beroperasi di Indonesia wajib menerima, membantu
kelancaran tugas serta menjamin keselamatan Petugas
Pemantau Perikanan di kapal (Observe on Board)
Setiap kapal penangkap ikan/kapal pengangkut ikan
berbendera Indonesia yang berukuran 100 GT keatas wajib
mamasang dan mengaktifkan VMS termasuk semua kapal
pengangkap ikan berbendera asing.
Setiap kapal penangkap/pengangkut ikan wajib dilengkapi
Surat Laik Operasi (SLO) guna memperoleh Surat Izin
Berlayar (SIB).
Setiap Nakhoda kapal penangkap ikan wajib mengisi Log
Book

Nakhoda wajib
Melapor pada pengawas pada saat akan berangkat dan
setelah melakukan penangkapan ikan;
Melapor secara periodik melalui VMS;
Menerima pengawas atau petugas lain yang ditunjuk
untuk melakukan pemeriksaan kapal atapun
pemantauan penangkapan ikan;
Mengambil Lembar Laik Tangkap Operasional dan Log
Book Perikanan, sebelum keberangkatannya;
Mengisi dan menandatangani Log Book Perikanan dan
menyerahkannya kepada Petugas Pengawasan.

PENGAWAKAN KAPAL PERIKANAN


BERBENDERA ASING
Badan hukum yang menggunakan kapal perikanan
berbendera asing yang beroperasi di ZEEI wajib
mempekerjakan Anak Buah Kapal paling sedikit 20%
dari jumlah seluruh ABK untuk masing-masing kapal,
yang dituangkan dalam Perjanjian Kerja Laut.
Kapal perikanan yang diperoleh dengan cara usaha
patungan atau beli-angsur dapat menggunakan ABK
asing dengan ketentuan sbb :
1. tahun pertama maks. 50% jumlah ABK
asing
2. tahun kedua
maks. 40%
jumlah ABK asing
3. tahun ketiga
maks. 30% jumlah ABK asing
4. tahun
keempat maks. 20% jumlah ABK asing
5. tahun kelima maks. 10% jumlah ABK asing
6. tahun keenam dan seterusnya seluruhnya ABK

Pengawas Perikanan dpt menahan


keberangkatan kapal bila :
Nakhoda belum menyerahkan Log Book perikanan
trip sebelumnya;
Nakhoda belum mengambil LLTO dan atau Log
Book;
Dokumen kapal untuk menangkap ikan belum
lengkap;
Terdapat perbedaan alat tangkap ikan yang ada di
kapal dengan yang tercantum di SIUP atau SIPI;
Tidak memasang tanda pengenal kapal dan
transmiter;
Tidak melapor kepada pengawas pada saat
kedatangannya;
Ditemukan adanya dugaan tindak pidana kejahatan.

TINDAK PIDANA
1.

Menangkap ikan dengan menggunakan bahan kimia,


bahan peledak atau cara-cara lain yang
membahayakan SDI yang dilakukan oleh :
a. Setiap orang, dipidana maks. 6 thn dan
denda maks. Rp.1.2M
b. Nakhoda/ABK/Ahli Penangkapan Ikan,
dipidana maks. 10 thn dan denda Rp.1.2M
c. Pemilik/Pengusaha kapal perikanan,
dipidana maks. 10 thn dan denda Rp.2M

2. Setiap orang yang membawa, menguasai, memakai


alat penangkap ikan yang dilarang atau tidak sesuai
dengan ukuran/standart yang ditetapkan dipidana
penjara maks. 5thn dan denda maks. Rp.2M
3. Setiap orang yang dengan sengaja melakukan
perbuatan yang mengakibatkan pencemaran
lingkungan SDI dipidana penjara maks. 10 thn dan
denda maks. Rp. 2M
4. Setiap orang yang mengoperasikan kapal
berbendera Indonesia tanpa SIPI, dipidana penjara
maks. 6 thn dan denda maks. Rp.2M
5. Setiap orang yang mengoperasikan kapal
berbendera asing tanpa SIPI, dipidana penjara maks.
6 thn dan denda maks. Rp.20.M

6. Nakhoda yang berlayar tanpa surat ijin berlayar yang


dikeluarkan Syahbandar, dipidana maks. 1 thn dan
denda maks. Rp.200 juta
7. Nakhoda dengan kapal berbendera asing tetapi
membawa lebih dari satu alat tangkap yang diijinkan,
dipidana denda maks. Rp.1.M
8. Nakhoda dengan kapal berbendera asing sudah
memiliki ijin penangkapan ikan tetapi tidak
menyimpan alat tangkapanya didalam palkah
(selama berada diluar daerah penangkapan yang
diijinkan) dipidana denda maks. Rp.500 juta
9. Setiap orang yang melakukan usaha perikanan tanpa
memiliki SIUP, dipidana penjara maks. 8 thn dan
denda maks. Rp.1.5M

KAPAL INDONESIA
adalah kapal :
- yang memiliki kebangsaan
Indonesia sesuai dg Peraturan
Pemerintah (berupa Surat Laut)
- yang dimiliki seorang atau lebih WNI
- sedikitnya 2/3 bagian dimiliki oleh
seorang atau lebih WNI sedang selebihnya dimiliki penduduk Indonesia.

KAPAL PENANGKAP IKAN adalah kapal


yang secara khusus dipergunakan untuk
menangkap ikan, termasuk menampung,
menyimpan, mendinginkan, dan / atau
mengawetkan.
KAPAL PENGANGKUT IKAN adalah
kapal yang secara khusus dipergunakan
untuk mengangkut ikan, termasuk
memuat, menampung, menyimpan,
mendinginkan, dan/atau mengawetkan.

SATUAN ARMADA PENANGKAPAN


IKAN
Adalah kelompok kapal perikanan yang dipergunakan untuk menangkap ikan yang
dioperasikan dalam satu kesatuan sistem
operasi penangkapan, yang terdiri dari
kapal penangkap ikan, kapal pengangkut
ikan, dengan atau tanpa kapal lampu

PENANGKAPAN IKAN adalah kegiatan untuk


memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam
keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara
apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan
kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan,
mendinginkan, menangani, mengolah, dan atau
mengawetkannya.
NELAYAN adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan.
NELAYAN KECIL adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan utk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

SURAT IZIN USAHA PERIKANAN (SIUP)


adalah izin tertulis yang harus dimiliki
perusahaan perikanan utk melakukan usaha
perikanan dengan menggunakan sarana
produksi yang tercantum dalam izin tersebut.
SURAT IZIN PENANGKAPAN IKAN (SIPI) adalah
izin tertulis yang harus dimiliki setiap kapal
untuk melakukan penangkapan ikan.
SURAT IZIN KAPAL PENGANGKUT IKAN (SIKPI)
adalah izin tertulis yang harus dimiliki setiap
kapal perikanan untuk mengangkut ikan.

LAUT TERITORIAL INDONESIA adalah jalur


laut selebar 12 (dua belas) mil laut yang
diukur dari garis pangkal kepulauan Indonesia
PERAIRAN INDONESIA adalah laut teritorial
Indonesia beserta perairan kepulauan dan
perairan pedalamannya.
ZONA EKONOMI EKSKLUSIF INDONESIA
(ZEEI) adalah jalur di luar dan berbatasan dg
laut teritorial Indonesia sebagaimana ditetapkan UU tentang perairan Indonesia, dengan
batas terluar 200 mil laut diukur dari garis
pangkal laut teritorial Indonesia.

SURAT IZIN USAHA PERIKANAN (SIUP)


adalah izin tertulis yang harus dimiliki
perusahaan perikanan utk melakukan usaha
perikanan dengan menggunakan sarana
produksi yang tercantum dalam izin tersebut.
SURAT IZIN PENANGKAPAN IKAN (SIPI) adalah
izin tertulis yang harus dimiliki setiap kapal
untuk melakukan penangkapan ikan.
SURAT IZIN KAPAL PENGANGKUT IKAN (SIKPI)
adalah izin tertulis yang harus dimiliki setiap
kapal perikanan untuk mengangkut ikan.

WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN


INDONESIA

Meliputi :
a. Perairan Indonesia
b. ZEEI dan
c. sungai, danau, waduk, rawa,
dan genangan air lainnya yang
diusahakan, serta lahan budidaya ikan, di wilayah Indonesia

KAPAL
Adalah kendaraan air dg bentuk
dan jenis apapun, yang digerakkan
dg tenaga mekanik, tenaga angin,
atau ditunda, termasuk yang berdaya dukung dinamis, kendaraan dibawah permukaan air, serta alat apung
dan bangunan terapung yang tidak
berpindah-pindah.

KAPAL INDONESIA
Adalah kapal :
- yang memiliki kebangsaan
Indonesia sesuai dg Peraturan
Pemerintah (Surat Laut)
- yang dimiliki seorang atau lebih WNI
- sedikitnya 2/3 bagian dimiliki oleh
seorang atau lebih WNI sedang selebihnya dimiliki penduduk Indonesia.

KAPAL PERIKANAN
Adalah kapal, perahu, atau alat
apung lain yang digunakan untuk
melakukan penangkapan ikan,
mendukung operasi penangkapan
ikan, pembudiyaan ikan, pengangkutan ikan,pengolahan ikan, pelatihan perikanan, dan penelitian /
eksplorasi perikanan.

AWAK KAPAL

NAKHODA

ANAK BUAH KAPAL


(ABK)

PERWIRA

RATING

(BAWAHAN)

* AWAK KAPAL adalah semua orang yang melakukan


dinas diatas kapal, tercantum dlm sijil awak kapal dan
memp. PKL, termasuk Nakhoda.
* NAKHODA adalah pemimpin tertinggi dan pemegang
kewibawaan diatas kapal.
* ANAK BUAH KAPAL adalah mereka yang disebut
sebagai awak kapal kecuali Nakhoda.
* PERWIRA KAPAL adalah ABK yang didalam sijil awak
kapal diberi jabatan Perwira.
* RATING (BAWAHAN) adalah ABK kecuali Perwira.
* PELAYAR adalah semua orang yang berada dikapal
kecuali Nakhoda.
* PENGUSAHA KAPAL adalah seseorang yang memakai
kpl utk pelayaran dilaut dg mengemudikan sendiri atau
oleh Nakhoda yang bekerja padanya.

Bab VI PP 7/2000:

PENGAWAKAN KAPAL
PENANGKAP IKAN

1. Setiap kapal penangkap ikan yang berlayar harus ada:


a. seorang nakhoda dan beberapa perwira yang
bersertifikat keahlian pelaut kapin dan sertifikat
keterampilan dasar pelaut.
b. sejumlah rating yang bersertifikat keterampilan dasar
2.Jenis sertifikat keahlian pelaut kapin adalah :
a. ANKAPIN I , II, III
b. ATKAPIN I , II, III
3.Untuk mendapatkan sertifikat keahlian pelaut kapin
harus lulus ujian yang dilaksanakan Dewan Penguji.

Lanjutan :
4. Pengawakan kapal penangkap ikan harus disesuaikan dengan :
a. daerah pelayaran;
b. ukuran kapal;
c. daya penggerak kapal (KW).
5. Ketentuan lebih lanjut dari pasap-pasal tersebut diatas diatur
dengan keputusan MenHub setelah mendengar pendapat Menteri
yang bertanggung jawab di bidang perikanan.

Sertifikat Keahlian Pelaut Kapal Penangkap


Ikan, ANKAPIN dan ATKAPIN :
adalah sertifikat kompetensi yang merupakan
pengakuan terhadap kompetensi untuk melakukan
pekerjaan pelaut kapal penangkap ikan setelah
lulus ujian kompetensi yang diselenggarakan oleh
Dewan Penguji Keahlian Pelaut (DPKP) .

Sertifikat Ketrampilan Pelaut Kapal Penangkap


Ikan, ANKAPIN dan ATKAPIN :
adalah pengakuan terhadap ketrampilan untuk
melakukan pekerjaan tertentu di kapal setelah
lulus ujian ketrampilan yang diselenggarakan
oleh UPT Diklat Perikanan yang telah
terakreditasi.

ORGANIZATION STRUCTURE OF BECS


(DEWAN PENGUJI KEAHLIAN PELAUT)

GENERAL CHAIRMAN
PROFFESIONAL
EXPERTS

Chairman of Merchant
Vessel Seafarers
Secretary of
Merchant Vessel
seafarers

GENERAL SECRETARY

Chairman of Fishing
Vessel Seafarers
Secretary of
Fishing Vessel
Personeel

Team of Examiner, Assessor and Executing Committee of Merchant


Vessel seafarers and Fishing Vessel Seafarers
BOARD OF EXAMINATION AND ASSESSMENT FOR THE CERTIFICATION OF SEAFARERS
(Dewan Penguji Keahlian Pelaut0)
Jl. Merdeka Timur No. 5 Jakarta 10110, Telp.3845808

HAK &KEWAJIBAN NAKHODA


TERHADAP PENGUSAHA
Nakhoda wajib menyusun awak kapal dan mengurus segala
sesuatunya mengenai muatan.
Ditempat dimana pengusaha tidak mempunyai perwakilan, nakhoda
berwenang untuk melengkapi kapalnya sesuai dengan kebutuhan
dan keselamatan kapal.
Selama pelayaran nakhoda wajib selalu melaporkan segala sesuatu
berkaitan dengan kapalnya. Tindakan yang berkaitan keuangan
harus seizin pengusaha.
Bila kapal berada diluar wilayah Indonesia, dan kurang uang tunai
guna melanjutkan pelayaran, nakhoda dpt meminjam uang dengan
tanggungan kapal atau menjual sebagian muatannya
Nakhoda tidak boleh melampaui batas kekuasaannya. Jika hal ini
terjadi, secara pribadi terikat atas tindakannya tsb.

KEWAJIBAN NAKHODA SEBELUM


PELAYARAN
Nakhoda tidak boleh memberangkatkan kapal
sebelum kapalnya diperlengkapi dengan
sempurna dan diawaki cukup.
Nakhoda harus memahami dan mentaati
peraturan peraturan keselamatan yang
tercantum dalam peraturan perundangan yg
berlaku, demi menjamin kelaikan laut,
keselamatan kapal termasuk orang-orang di
kapal.

KEWAJIBAN NAKHODA SELAMA


PELAYARAN

Nakhoda wajib minta pertolongan seorang Pandu


Waktu berlayar atau bahaya mengamcam, nakhoda tidak boleh
meninggalkan kapalnya,kecuali keadaan sangat memaksa untuk
menyelamatkan diri.
Nakhoda wajib menyelenggarakan Buku Harian Kapal dan Buku Harian
Mesin. Dicatat segala peristiwa yang penting selama pelayaran.
Nakhoda diberi kebebasan guna menerima nasehat dari para perwiranya.
Nasehat Dewan Kapal harus dicatat dalam Buku Harian Kapal.
Setelah tiba di suatu pelabuhan nakhoda dapat membuat kisah kapal
tentang peristiwa selama pelayaran.
Nakhoda tidak boleh menyimpang dari haluannya kecuali untuk menolong
jiwa manusia.
Nakhoda wajib membawa/mempunyai surat-surat kapal yg harus ada di
kapalnya.

Lanjutan :
Diwaktu berlayar, dalam keadaan darurat, nakhoda berwenang
memakai bahan makanan milik orang-orang dikapal termasuk
sebagian muatan, dengan mengganti kerugian,demi kepentingan
semua yang berada di kapal.
Nakhoda wajib memberi pertolongan kepada orang-orang dalam
bahaya tanpa membahayakan kapalnya sendiri.
Nakhoda wajib membawa pulang kembali ke Indonesia awak kapal
WNI yang terlantar di luar negeri, atas permintaan Konsul Indonesia
atau pemerintah setempat. Biaya di tanggung negara.
Selama pelayaran nakhoda mewakili pengusaha dalam
melaksanakan PKL dengan awak kapal.
Nakhoda wajib mencegah terjadinya pencemaran lingkungan yang
bersumber dari kapalnya.

Lanjutan :
Nakhoda berwenang mengenakan tindakan disiplin atas
pelanggaran anak buah kapal yang :
a. meninggalkan kapal tanpa seizin nakhoda
b. tidak kembali ke kapal pada waktunya
c. menolak perintah penugasan
d. tidak melaksanakan tugas dengan baik
e. berperilaku tidak tertib
f. berperilaku tidak layak terhadap seseorang.
Selama pelayaran, nakhoda dapat mengambil tindakan
terhadap setiap orang yang secara tidak sah ada di kpl
Nakhoda dilarang memperkerjakan seseorang di kapal
dalam jabatan apapun tanpa disijil.

TANGGUNG JAWAB DAN KEWAJIBAN


NAKHODA
Nakhoda wajib berada dikapal selama pelayaran kecuali
dalam keadaan yg sangat memaksa
Nakhoda yang akan berlayar wajib memastikan bahwa
kapalnya telah memenuhi persyaratan kelaik-lautan
Nakhoda berhak menolak untuk melayarkan kapalnya
apabila mengetahui kapal tsb tidak memenuhi
persyaratan
Nakhoda wajib memperhatikan dan memelihara kondisi
kapalnya tetap laik laut utk berlayar
Pemilik kapal wajib memberikan keleluasaan kepada
Nakhoda utk melaksanakan kewajibannya sesuai
dengan peraturanperudangan yang berlaku

KEWAJIBAN ABK
Bekerja perintah Nakhoda
Taat kepada atasan, terutama melaksanakan
perintah Nakhoda
Tidak boleh membawa/memiliki : minuman
keras, barang terlarang, senjata, tanpa seizin
Nakhoda
Keluar dari kapal harus seizin Nakhoda
Membantu memberikan pertolongan dalam
penyelamatan kapal
Selesai masa kontrak hrs bersedia membantu
membuat kisah kapal dengan sekuat tenaga

WAKTU KERJA AWAK KAPAL


Jam kerja awak kapal 8 (delapan) jam setiap hari
dengan 1 (satu) hari libur per minggu dan hari
libur resmi lainnya, dg jumlah per minggu 44
(empat puluh empat) jam.
Waktu istirahat paling sedikit 10 (sepuluh) jam
dlm jangka waktu 24 jam yang dapat dibagi 2,
yang satu diantaranya tidak kurang dari 6 (enam)
jam.
Jam kerja melebihi ketentuan dihitung lembur,
kecuali untuk tugas tugas darurat demi
keselamatan pelayaran.

Hak awak kapal atas cuti


Setiap tahun paling sedikit 7 hari atau
2 kali 5 hari berturut-turut dengan
upah penuh,
Cuti diberikan setelah bekerja setiap
satu tahun atau pada ikatan kerja.

Hak awak kapal atas perawatan


sakit
Perawatan dokter dengan cuma-Cuma
Waktu sakit dikapal, mendapat upah
penuh dan bila tidak dikapal mendapat
upah 80% paling lama 26 minggu
Bila didarat, berhak atas pengangkutan
ketempat asal kapal .

Hak awak kapal atas perawatan


sakit
Perawatan dokter dengan cuma-Cuma
Waktu sakit dikapal, mendapat upah
penuh dan bila tidak dikapal mendapat
upah 80% paling lama 26 minggu
Bila didarat, berhak atas pengangkutan
ketempat asal kapal .

Hak awak kapal atas santunan


kecelakaan
Mengakibatkan kemampuan kerja hilang sama sekali (100%)
berhak minimal Rp.150.000.000. Bila kemampuan kerja berkurang karena hilangnya :
1. satu lengan
2. dua lengan
3. satu telapak tangan
4. dua telapak tangan
5. satu kaki
6. dua kaki
7. satu mata
8. dua mata
9. satu jari
10. satu pendengaran
11. dua pendengaran

: 40%
: 100%
: 30%
: 80%
: 30%
: 80%
: 30%
: 100%
: 10%
: 15%
: 40%

SANTUNAN MENINGGAL DUNIA


Jika meninggal diatas kapal, pengusaha
wajib menanggung biaya pemulangan dan
penguburan jenasahnya.
Pengusaha membayar santunan :
a) karena sakit, min. Rp.100.000.000,b) krn kecelakaan min Rp.150.000.000, Santunan diberikan kpd ahli warisnya
sesuai dengan ketentuan yg berlaku.

SURAT-SURAT KAPAL
(SHIP DOCUMENT)
1.SURAT TANDA KEBANGSAAN KAPAL, berupa
surat laut maupun pas kapal.
2.SURAT UKUR, suatu sertifikat yang menyebutkan
ukuran-ukuran terpenting dari kapal (ukuran kapal,lebar,
dalam,palka dll).
3.KUTIPAN DAFTAR KAPAL, suatu sertifikat yang
menerangkan siapa pemilik kapal, surat jual-beli kapal.
4.SERTIFIKAT LAIK LAUT, suatu sertifikat yang
membuktikan suatu kapal dalam keadaan laik laut.
5.SERTIFIKAT LAMBUNG TIMBUL, suatu sertifikat yang
menetapkan lambung kapal yang boleh timbul di atas
permukaan air.

6. SIJIL AWAK KAPAL, suatu daftar anak buah kapal


lengkap dengan pangkat dan jabatannya.
7. SURAT IJIN BERLAYAR, surat ijin yang dikeluarkan
oleh Syahbandar bagi sebuah kapal untuk dapat
meninggalkan pelabuhan dimana kapal berlabuh untuk
berlayar ke pelabuhan berikutnya.
8. DAFTAR MUATAN, daftar yang menerangkan segala
sesuatu yang berkaitan macam,jumlah, dari muatan yg
diangkut atau yang ada di dalam kapal ybs.
9. SERTIFIKAT KESEHATAN, surat keterangan yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Pelabuhan yg menyatakan
bahwa awak kapal bebas dari wabah penyakit.
10.SURAT BEBAS TIKUS, surat yang menyatakan bahwa
kapal ybs bebas dari hama tikus.

ISI SURAT LAUT

Nama kapal, pemilik kapal, Nakhoda kapal


Isi bersih/kotor menurut Surat Ukur
Nama panggilan kapal
Suatu perintah kepada pejabat/pegawai pemerintah dan permintaan kepada setiap orang yg
terkait untu menerima Nakhoda beserta
kapalnya dengan baik sesuai peraturan perundangan yang berlaku

SURAT LAUT
(SHIP REGISTRY)
SURAT LAUT adalah tanda bukti
kebangsaan kapal dimana kapal tsb
dapat memasang bendera kebangsaan
negara pemeberi surat laut
Surat Laut diwajibkan untuk kapal dg isi
kotor 500 m3 (GT 175) atau lebih
Pengganti Surat Laut :
Pas Tahunan (20 m3 500 m3)
Pas Kecil (kurang dari 20 m3/GT 7)
Pas Laut Sementara utk belum didaftar

MAHKAMAH PELAYARAN
Adalah sebuah badan hukum yang bernaung di
bawah Departemen Perhubungan yang mempunyai tugas-tugas :
1. menyelidiki :
a. sebab sebab kecelakaan kapal
b. kesalahan dari mereka yg bersangkutan
c. perwira yg berkelakuan tidak senonoh
d. perwira yg tidak layak
2.mengambil tindakan hukum disiplin thd
nakhoda/pwa yg bersalah atau tdk senonoh.

Hukuman disiplin terdiri :


1. Tegoran
2. Mencabut wewenang berlayar utk
jabatan tertentu, maks. 2 tahun.
Maksud dari penyelidikan :
1. mengambil pelajaran dari kecelakaan tsb
2. meneliti/mencari kekurangan dari hukum
yang sedang berlaku

PENGAWAKAN KAPAL
PENANGKAP IKAN
Pada setiap kapal penangkap ikan yang sedang
berlayar harus berdinas :
a. seorang nakhoda dan beberapa pwa kpl
yg memiliki sertifikat keahlian pelaut kpl
penangkap ikan dan sertifikat ketrampilan
dasar pelaut, sesuai dengan daerah pelayaran
ukuran kpl, dan daya penggerak
b. Sejumlah rating yg memiliki sertifikat
ketrampilan dasar (basic safety training)

JENIS SERTIFIKAT KEAHLIAN


PELAUT KAPAL PENANGKAP IKAN
1. Sertifikat keahlian pelaut nautika kapin :
- ANKAPIN I
- ANKAPIN II
- ANKAPIN III
2. Sertifikat keahlian pelaut tehnika kapin :
- ATKAPIN I
- ATKAPIN II
- ATKAPIN III
-Utk mendapatkan sertifikat tsb harus lulus ujian yg dilaksanakan oleh
Dewan Penguji Keahlian Pelaut
-Pelaut pwa kapin dapat beralih profesi sbg pelaut kpl niaga melalui
penyataraan sertifikat keahlian pelaut

KAPAL PERIKANAN
Berdasarkan fungsinya meliputi :
a. kapal penangkap ikan
b. kapal pengangkut ikan
c. kapal pengolah ikan
d. kapal latih perikanan
e. kapal penelitian/eksplorasi
f. kapal pendukung operasi
penangkapan/pembudidaya ikan

Setiap orang membangun, mengimport,


atau memodifikasi kapal perikanan
wajib mendapat persetujuan DKP.
Kapal wajib didaftarkan sebagai kapal
perikanan dg melengkapi dokumen :
a. bukti kepemilikan
b. identitas pemilik
c. surat ukur
d. surat keterangan penghapusan dari
daftar kapal oleh negara asal (untuk
kapal yang diperoleh dari luar negeri)

TINDAK PIDANA
1.

Menangkap ikan dengan menggunakan bahan


kimia, bahan peledak atau cara-cara lain yang
membahayakan SDI yang dilakukan oleh :
a. Setiap orang, dipidana maks. 6 thn dan denda
maks. Rp.1.2M
b. Nakhoda/ABK/Ahli Penangkapan Ikan, dipidana
maks. 10 thn dan denda Rp.1.2 M
c. Pemilik/Pengusaha kapal perikanan, dipidana
maks. 10 thn dan denda Rp.2M

2. Setiap orang yang membawa, menguasai, memakai


alat penangkap ikan yang dilarang atau tidak sesuai
dengan ukuran/standart yang ditetapkan dipidana
penjara maks. 5thn dan denda maks. Rp.2M
3. Setiap orang yang dengan sengaja melakukan
perbuatan yang mengakibatkan pencemaran
lingkungan SDI dipidana penjara maks. 10 thn dan
denda maks. Rp. 2M
4. Setiap orang yang mengoperasikan kapal
berbendera Indonesia tanpa SIPI, dipidana penjara
maks. 6 thn dan denda maks. Rp.2M
5. Setiap orang yang mengoperasikan kapal
berbendera asing tanpa SIPI, dipidana penjara maks.
6 thn dan denda maks. Rp.20.M

6. Nakhoda yang berlayar tanpa surat ijin berlayar yang


dikeluarkan Syahbandar, dipidana maks. 1 thn dan
denda maks. Rp.200 juta
7. Nakhoda dengan kapal berbendera asing tetapi
membawa lebih dari satu alat tangkap yang diijinkan,
dipidana denda maks. Rp.1.M
8. Nakhoda dengan kapal berbendera asing sudah
memiliki ijin penangkapan ikan tetapi tidak
menyimpan alat tangkapanya didalam palkah
(selama berada diluar daerah penangkapan yang
diijinkan) dipidana denda maks. Rp.500 juta
9. Setiap orang yang melakukan usaha perikanan tanpa
memiliki SIUP, dipidana penjara maks. 8 thn dan
denda maks. Rp.1.5M

PERJANJIAN
KERJA
LAUT

Kapal perikanan berbendera Indonesia


dengan jenis dan ukuran tertentu dapat
menggunakan 2 jenis alat tangkap.
Kapal berbendera asing hanya diizinkan dengan 1 jenis alat tangkap dan dg
darah penangkapan di ZEEI
Kapal perikanan Indonesia diberi tanda
berupa tanda selar, tanda daerah
penangkapan, tanda jalur penangkapan
dan tanda alat tangkap.
Kapal penangkap dan pengangkut ikan
harus mendaratkan ikannya di pelabuhan yang ditetapkan.

PERSYARATAN UTAMA BEKERJA DI KAPAL

1. wajib menanda tangani PKL,


2. Wajib menanda tangani sijil awak kapal.

PERJANJIAN KERJA LAUT


Adalah perjanjian antara pengusaha kapal
disatu pihak dan seorang awak kapal dipihak lain, yang mana awak kapal berjanji
untuk bekerja dibawah pengusaha dengan
menerima upah, sebagai nakhoda atau
awak kapal lainnya.

BENTUK PKL :
*Dari segi jenis dibedakan :

1. PKL untuk satu perjalanan


2. PKL untuk jangka waktu tertentu
3. PKL untuk jangka waktu sembarang

*Dari segi manusianya dibedakan :


1. PKL Perorangan
2. PKL Kolektif (Kesepakatan Kerja Bersama)
*PKL terdiri dari PKL Nasional dan PKL Asing

KESEPAKATAN KERJA BERSAMA


(KKB)
Adalah perserikatan pelaut yang
melakukan persetujuan kerja dengan
pengusaha kapal.
Keuntungan adanya KKB :
1. Syarat kerja yang telah ditentukan
meliputi jangka panjang
2. Pengusaha dan pelaut tidak perlu
setiap saat berunding
3. Terjamin adanya kepastian hukum

PKL minimal harus berisi :


1. Nama, tanggal dan tempat kelahiran awak kapal
2. Tempat dan tanggal dilakukan PKL
3. Dikapal mana yang bersangkutan akan bekerja
4. Route pelayaran yang akan ditempuh
5. Jabatan/pekerjaan dikapal
6. Tempat dan tanggal dimulainya bekerja
dikapal
7. Besarnya upah berupa uang yang akan dibayarkan
pada awak kapal.

PEMBUATAN PKL
PKL ditanda-tangani oleh pelaut, pemilik kapal
dan pejabat Ditjen Perla.
PKL dibuat rangkap 4 (pelaut,pemilik kpl,
nakhoda dan Ditjen Perla).
PKL wajib memuat hak dan kewajiban masingmasing pihak.
PKL bertujuan untuk memberi perlindungan
terhadap awak kapal.
PKL tidak diwajibkan bagi yg bekerja pada :
-Kapal motor kurang dari GT 35
-Kapal layar kurang dari GT 105
-Kapal pelayaran percobaan

MENGAKHIRI PKL
1.Secara biasa sesuai isi PKL.
2.Secara luar biasa (pembatalan)
a) syah bila : - kedua pihak setuju
- sepihak, dengan ganti rugi
- alasan mendesak
- alasan penting
b) tidak syah bila : sepihak dan tidak termasuk
yang syah.

ALASAN MENDESAK
Berlaku bagi pengusaha kapal :
1. penganiayaan, penghinaan secara kasar oleh awak kapal,
2. Tidak datang ke kapal setelah menanda tangani PKL,
3. Tidak cakap bekerja di kapal, sesuai yang telah disanggupinya,
4. Membawa barang selundupan dikapal.

Berlaku bagi awak kapal :


1. Tempat tinggal di kapal membahayakan kesehatan awak kapal,
2. Pengusaha menggunakan kapal nya untuk hal-hal yang melanggar
peraturan/hukum (pembajakan, penyelundupan),
3. Makanan yang tidak layak,
4. Perintah berlayar ke pelabuhan musuh,
5. Pengusaha memerintahkan melakukan perjalanan yang tidak sesuai
dengan kesepakatan.

ALASAN PENTING
1. semua yang termasuk alasan mendesak,
2. apabila kemudian ternyata bahwa pelayaran akan
membawa awak kapal dalam bahaya maut,
3. memperoleh pekerjaanlebih baik/tinggi di tempat lain,
dalam hal ini awak kapal yang bersangkutan wajib
mencarikan penggatinya.

PKL HANYA DAPAT DIAKHIRI DI SUATU PELABUHAN

1. Ps. 448 : PKL waktu tertentu , jika kapal berada


ditengah laut akan berakhir di pelabuhan singgah
pertama,
2. Ps. 449 : PKL satu perjalanan , di pelabuhan dimana
pelayaran selesai.
3. Ps. 450 : PKL sembarang waktu, dengan kesepakatan
dapat diakhiri pada pelabuhan tertentu dengan
pemberitahuan terlebih dahulu minimal tiga kali dua
puluh empat jam.
4. Awak kapal yang bersangkutan wajib dikembalikan ke
pelabuhan pembuatan PKL.

SURAT KETERANGAN BERHENTI

Pada akhir ikatan kerja, apabila diminta pengusaha wajib


memberikan keterangan kepada awak kapal yang berhenti
yang berisikan antara lain :
- jenis pekerjaan yang telah dilakukan,
- lamanya bekerja,
- alasan mengapa berhenti,
- penilaian selama bekerja.

HAK AWAK KAPAL


HAK ATAS UPAH / GAJI
HAK ATAS MAKAN DAN TEMPAT TINGGAL
HAK ATAS CUTI
HAK ATAS PERAWATAN DAN PENGOBATAN
WAKTU SAKIT
HAK ATAS GANTI RUGI APABILA KAPAL
MENDAPAT KECELAKAAN
HAK ANGKUTAN BEBAS

HAK AWAK KAPAL ATAS UPAH


1. Jumlah upah ditetapkan/tertulis didalam
PKL, dan tidak selalu penerimaannya
seperti yang tercantum di PKL tersebut.
2. Orang lain yang dapat/berhak menerima
sebagian upahnya adalah :
a) istri atau anggota keluarga sedarah
b) pemberi hutang
c) wali dari awak kapal

Perubahan penerimaan upah


Upah dapat bertambah karena :
a) kerja lembur
b)diberi tugas tambahan
c)kerja luar biasa, misal penyelamatan
Upah dapat berkurang karena :
a)didenda nakhoda
b)mengganti kerugian
c)perjalanan terputus
d)sakit

Hak awak kapal atas makan dan


tempat tinggal
Pengusaha wajib memberi makanan yang
baik dan cukup, memenuhi jumlah, ragam
dan nilai gizi, dg jumlah minimum 3600
kalori per hari,
Dikapal harus ada tempat tinggal/kamar
yang layak, termasuk tempat mencuci,
kamar mandi dan toilet, dalam keadaan
yang layak pakai.

WAKTU KERJA AWAK KAPAL


Jam kerja awak kapal 8 (delapan) jam setiap hari
dengan 1 (satu) hari libur per minggu dan hari
libur resmi lainnya, dg jumlah per minggu 44
(empat puluh empat) jam.
Waktu istirahat paling sedikit 10 (sepuluh) jam
dlm jangka waktu 24 jam yang dapat dibagi 2,
yang satu diantaranya tidak kurang dari 6 (enam)
jam.
Jam kerja melebihi ketentuan dihitung lembur,
kecuali untuk tugas tugas darurat demi
keselamatan pelayaran.

Hak awak kapal atas cuti


Setiap tahun paling sedikit 7 hari atau
2 kali 5 hari berturut-turut dengan
upah penuh,
Cuti diberikan setelah bekerja setiap
satu tahun atau pada ikatan kerja.

Hak awak kapal atas perawatan


sakit
Perawatan dokter dengan cuma-Cuma
Waktu sakit dikapal, mendapat upah
penuh dan bila tidak dikapal mendapat
upah 80% paling lama 26 minggu
Bila didarat, berhak atas pengangkutan
ketempat asal kapal .

Hak awak kapal atas santunan


kecelakaan
Mengakibatkan kemampuan kerja hilang sama sekali (100%)
berhak minimal Rp.150.000.000. Bila kemampuan kerja berkurang karena hilangnya :
1. satu lengan
: 40%
2. dua lengan
: 100%
3. satu telapak tangan : 30%
4. dua telapak tangan : 80%
5. satu kaki
: 30%
6. dua kaki
: 80%
7. satu mata
: 30%
8. dua mata
: 100%
9. satu jari
: 10%
10. satu pendengaran
: 15%
11. dua pendengaran
: 40%

SANTUNAN MENINGGAL DUNIA


Jika meninggal diatas kapal, pengusaha
wajib menanggung biaya pemulangan dan
penguburan jenasahnya.
Pengusaha membayar santunan :
a) karena sakit, min. Rp.100.000.000,b) krn kecelakaan min Rp.150.000.000, Santunan diberikan kpd ahli warisnya
sesuai dengan ketentuan yg berlaku.