You are on page 1of 24

RHINITIS

Pengertian
Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada membran mukosa di hidung. (Dipiro, 2005 )
Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung. ( Dorland, 2002 )
Rhinitis adalah istilah untuk peradangan mukosa. Menurut sifatnya dapat dibedakan menjadi dua:
a. Rhinitis akut (coryza, commond cold) merupakan peradangan membran mukosa hidung dan sinus-sinus aksesoris yang
disebabkan oleh suatu virus dan bakteri. Penyakit ini dapat mengenai hampir setiap orang pada suatu waktu dan sering kali
terjadi pada musim dingin dengan insidensi tertinggi pada awal musim hujan dan musim semi.
b. Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang, karena
alergi, atau karena rinitis vasomotor.
Etiologi
Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh dua tahap sensitisasi yang diikuti oleh reaksi alergi. Reaksi alergi
terdiri dari dua fase yaitu :
Immediate Phase Allergic Reaction, Berlangsung sejak kontak dengan allergen hingga 1 jam setelahnya
Late Phase Allergic Reaction, Reaksi yang berlangsung pada dua hingga empat jam dengan puncak 6-8 jam setelah pemaparan
dan dapat berlangsung hingga 24 jam.
Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas :
Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu
binatang serta jamur

Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang
Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau sengatan lebah
Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan
Dengan masuknya allergen ke dalam tubuh, reaksi alergi dibagi menjadi tiga tahap besar :
Respon Primer, terjadi eliminasi dan pemakanan antigen, reaksi non spesifik
Respon Sekunder, reaksi yang terjadi spesifik, yang membangkitkan system humoral, system selular saja atau bisa
membangkitkan kedua system terebut, jika antigen berhasil dihilangkan maka berhenti pada tahap ini, jika antigen masih ada,
karena defek dari ketiga mekanisme system tersebut maka berlanjut ke respon tersier
. Respon Tersier , Reaksi imunologik yang tidak meguntungkan
Manifestasi Klinis
Bersin berulang-ulang, terutama setelah bangun tidur pada pagi hari (umumnya bersin lebih dari 6 kali).
Hidung tersumbat.
Hidung meler. Cairan yang keluar dari hidung meler yang disebabkan alergi biasanya bening dan encer, tetapi dapat menjadi
kental dan putih keruh atau kekuning-kuningan jika berkembang menjadi infeksi hidung atau infeksi sinus.
Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan tenggorok.
Badan menjadi lemah dan tak bersemangat.
Patofisiologi
Tepung sari yang dihirup, spora jamur, dan antigen hewan di endapkan pada mukosa hidung. Alergen yang larut dalam air
berdifusi ke dalam epitel, dan pada individu individu yang kecenderungan atopik secara genetik, memulai produksi
imunoglobulin lokal (Ig ) E. Pelepasan mediator sel mast yang baru, dan selanjutnya, penarikan neutrofil, eosinofil, basofil, serta
limfosit bertanggung jawab atas terjadinya reaksi awal dan reaksi fase lambat terhadap alergen hirupan. Reaksi ini menghasilkan
mukus, edema, radang, gatal, dan vasodilatasi. Peradangan yang lambat dapat turut serta menyebabkan hiperresponsivitas
hidung terhadap rangsangan nonspesifik suatu pengaruh persiapan. (Behrman, 2000).
Hindari kontak & eliminasi, Keduanya merupakan terapi paling ideal. Hindari kontak dengan alergen penyebab, sedangkan
eliminasi untuk alergen ingestan (alergi makanan).
Antihistamin
Antihistamin yang sering digunakan adalah antihistamin oral. Antihistamin oral dibagi menjadi dua yaitu generasi pertama
(nonselektif) dikenal juga sebagai antihistamin sedatif serta generasi kedua (selektif) dikenal juga sebagai antihistamin

nonsedatif.
Efek sedative antihistamin sangat cocok digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan tidur karena rhinitis alergi yang
dideritanya. Selain itu efek samping yang biasa ditimbulkan oleh obat golongan antihistamin adalah efek antikolinergik seperti
mulut kering, susah buang air kecil dan konstipasi. Penggunaan obat ini perlu diperhatikan untuk pasien yang mengalami
kenaikan tekanan intraokuler, hipertiroidisme, dan penyakit kardiovaskular.
Antihistamin sangat efektif bila digunakan 1 sampai 2 jam sebelum terpapar allergen. Penggunaan antihistamin harus selalu
diperhatikan terutama mengenai efek sampingnya. Antihistamin generasi kedua memang memberikan efek sedative yang sangat
kecil namun secara ekonomi lebih mahal.
Dekongestan
Dekongestan topical dan sistemik merupakan simpatomimetik agen yang beraksi pada reseptor adrenergic pada mukosa nasal,
memproduksi vasokonstriksi. Topikal dekongestan biasanya digunakan melalui sediaan tetes atau spray. Penggunaan
dekongestan jenis ini hanya sedikit atau sama sekali tidak diabsorbsi secara sistemik (Dipiro, 2005). Penggunaan obat ini dalam
jangka waktu yang lama dapat menimbulkan rhinitis medikamentosa (rhinitis karena penggunaan obat-obatan). Selain itu efek
samping yang dapat ditimbulkan topical dekongestan antara lain rasa terbakar, bersin, dan kering pada mukosa hidung. Untuk
itu penggunaan obat ini memerlukan konseling bagi pasien.
Sistemik dekongestan onsetnya tidak secepat dekongestan topical. Namun durasinya biasanya bisa lebih panjang. Agen yang
biasa digunakan adalah pseudoefedrin. Pseudoefedrin dapat menyebabkan stimulasi sistem saraf pusat walaupun digunakan
pada dosis terapinya (Dipiro, 2005). Obat ini harus hati-hati digunakan untuk pasien-pasien tertentu seperti penderita hipertensi.
Saat ini telah ada produk kombinasi antara antihistamin dan dekongestan. Kombinasi ini rasional karena mekanismenya
berbeda.
Nasal Steroid
Merupakan obat pilihan untuk rhinitis tipe perennial, dan dapat digunakan untuk rhinitis seasonal. Nasal steroid diketahui
memiliki efek samping yang sedikit.
Obat yang biasa digunakan lainnya antara lain sodium kromolin, dan ipatropium bromida.
Operatif : Konkotomi merupakan tindakan memotong konka nasi inferior yang mengalami hipertrofi berat. Lakukan setelah
kita gagal mengecilkan konka nasi inferior menggunakan kauterisasi yang memakai AgNO3 25% atau triklor asetat.
Imunoterapi : Jenisnya desensitasi, hiposensitasi & netralisasi. Desensitasi dan hiposensitasi membentuk blocking antibody.
Keduanya untuk alergi inhalan yang gejalanya berat, berlangsung lama dan hasil pengobatan lain belum memuaskan. Netralisasi
tidak membentuk blocking antibody dan untuk alergi ingestan
Macam-Macam Rinitis alergi
Berdasarkan waktunya, Rhinitis Alergi dapat di golongkan menjadi:
Biasanya terjadi pada musim semi. Umumnya disebabkan kontak dengan allergen dari luar rumah, seperti benang sari dari
tumbuhan yang menggunakan angin untuk Rinitis alergi musiman (Hay Fever)
penyerbukannya, debu dan polusi udara atau asap.
Hidung, langit-langit mulut, tenggorokan bagian belakang dan mata terasa gatal,
baik secara tiba-tiba maupun secara berangsur-angsur.
Biasanya akan diikuti Bisa juga diberikan obat semprot hidung natrium kromolin; efeknya terbatas pada hidung dan
tenggorokan bagian belakang. Jika pemberianantihistamin dan kromolin tidak dapat mengendalikan gejala-gejala, maka
diberikan obat semprot kortikosteroid.
Jika obat semprot kortikosteroid masih juga tidak mampu meringankan gejala, maka
diberikan kortikosteroid per-oral selama kurang dari 10 hari.
Rinitis alergi yang terjadi terus menerus (perennial)
Disebabkan bukan karena musim tertentu ( serangan yang terjadi sepanjang masa (tahunan)) diakibatkan karena kontak dengan
allergen yang sering berada di rumah misalnya kutu debu rumah, bulu binatang peliharaan serta bau-bauan yang menyegat
Gejala
Hidung, langit-langit mulut, tenggorokan bagian belakang dan mata terasa gatal, baik secara tiba-tiba maupun secara berangsurangsur. Biasanya akan diikuti dengan mata berair, bersin-bersin dan hidung meler. Beberapa penderita mengeluh sakit kepala,
batuk dan mengi (bengek); menjadi mudah tersinggung dan deperesi; kehilangan nafsu makan dan mengalami gangguan tidur.
Jarang terjadi konjungtivitis. Lapisan hidung membengkak dan berwarna merah kebiruan, menyebabkan hidung meler dan
hidung tersumbat. Hidung tersumbat bisa menyebabkan terjadinya penyumbatan tuba eustakius di telinga, sehingga terjadi
gangguan pendengaran, terutama pada anak-anak. Bisa timbul komplikasi berupasinusitis (infeksi sinus) dan polip hidung.
Pengobatan
Pengobatan awal untuk rinitis alergika musiman adalah antihistamin.
Pemberian antihistamin kadang disertai dengan dekongestan (misalnyapseudoefedrin atau fenilpropanolaminn) untuk
melegakan hidung tersumbat. Pemakaian dekongestan pada penderita tekanan darah tinggi harus diawasi secara ketat.
Bisa juga diberikan obat semprot hidung natrium kromolin; efeknya terbatas pada hidung dan tenggorokan bagian belakang.

Jika pemberianantihistamin dan kromolin tidak dapat mengendalikan gejala-gejala, maka diberikan obat semprot kortikosteroid;
tidak dianjurkan untuk memberikan kortikosteroid per-oral (melalui mulut).
Obat tetes atau obat semprot hidung yang mengandung dekongestan dan bisa diperoleh tanpa resep dokter, sebaiknya digunakan
tidak terlalu lama karena bisa memperburuk atau memperpanjang peradangan hidung. Kadang perlu dilakukan pembedahan
untuk membuang polip atau pengobatan terhadap infeksi sinus.
Seseorang dapat mengalami rhinitis kombinasi antara dua jenis tersebut. Masih ada satu lagi jenis rhinitis alergi, yaitu : Rhinitis
alergi occupational adalah Rhinitis yang terkait dengan pekerjaan. Paparan allergen didapat di tempat bekerja. Biasanya dialami
oleh orang yang bekerja dekat dengan binatang. (Sheikh, 2008)
Rhinitis Non Alergi
Rhinitis non allergi disebabkan oleh : infeksi saluran napas (rhinitis viral dan rhinitis bakterial, masuknya benda asing kedalam
hidung, deformitas struktural, neoplasma, dan massa, penggunaan kronik dekongestan nasal, penggunaan kontrasepsi oral,
kokain dan anti hipertensif.
Manifestasi klinis
Hidung tersumbat, bergantian kiri dan kana, tergantung pada posisi pasien. Terdapat rinorea yang mukus atau serosa, kadang
agak banyak. Jarang disertai bersin, dan tidak disertai gatal di mata. Gejala memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur karena
perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab, juga karena asap rokok dan sebagainya.
Berdasarkan gejala yang menonjol, dibedakan atas golongan obstruksi dan rinorea. Pemeriksaan rinoskopi anterior
menunjukkan gambaran klasik berupa edema mukosa hidung, konka berwarna merah gelap atau merah tua, dapat pula pucat.
Permukaannya dapat licin atau berbenjol. Pada rongga hidung terdapat sekret mukoid, biasanya sedikit. Namun pada golgongan
rinorea, sekret yang ditemukan biasanya serosa dan dalam jumlah banyak. ( kapita)
Patofisiologi
Rangsangan saraf parasimpatis akan menyebabkan terlepasnya asetilkolin, sehingga terjadi dilatasi pembuluh darah dalm konka
serta meningkatkan permiabilitas kapiler dan sekresi kelenjar, sedangkan rangsangan sraaf simpatis mengakibatkan sebaliknya.
( kapita)
Pemeriksaan penunjang
Dilakukan pemeriksaaan untuk menyingkirkan kemungkinan rinitis alergi. Kadang ditemukan juga eosinofil pada sekret kulit
tetapi jumlahnya sedikit. Tes kulit biasnya negatif.
Penatalaksanaan
Di cari faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor dan disingkirkan kemungkinana rhinitis alergi. Terapi bervariasi,
tergantung faktor penyebab dan gejala yang menonjol. Secara umum terbagi atas :
Pengobatan simtomatis, dengan obat dekongestan oral dan kortikosteroid topikal
Operasi, dengan bedah beku, elektrokauter, atau konkotomi konka inferior
Neurektomi nervus vidianus sebagai saraf otonom mukosa hidung, jika cara-cara di atas tidak berhasil. Operasinya tidak mudah
dan komplikasinya cukup berat. (kapita )
Pengobatan
Pengobatan Rinitis Vasomotor bervariasi, tergantung kepada faktor penyebab dan gejala yang menonjol. Secara garis besar,
pengobatan dibagi dalam:
1. Menghindari penyebab / pencetus ( Avoidance therapy )
2. Pengobatan konservatif ( Farmakoterapi ) :
1. Dekongestan atau obat simpatomimetik digunakan untuk mengurangi keluhan hidung tersumbat. Contohnya:
Pseudoephedrine dan Phenylpropanolamine (oral) serta Phenylephrine dan Oxymetazoline (semprot hidung ).
2. Anti histamin : paling baik untuk golongan rinore.
3. Kortikosteroid topikal mengurangi keluhan hidung tersumbat, rinore dan bersin-bersin dengan menekan respon inflamasi
lokal yang disebabkan oleh mediator vasoaktif. Biasanya digunakan paling sedikit selama 1 atau 2 minggu sebelum dicapai hasil
yang memuaskan. Contoh steroid topikal : Budesonide, Fluticasone, Flunisolide atau Beclomethasone
4. Anti kolinergik juga efektif pada pasien dengan rinore sebagai keluhan utamanya.Contoh : Ipratropium bromide ( nasal
spray )
5. Terapi operatif ( dilakukan bila pengobatan konservatif gagal ) :
Kauterisasi konka yang hipertrofi dengan larutan AgNO3 25% atau triklorasetat pekat ( chemical cautery ) maupun secara
elektrik (electrical cautery).
Diatermi submukosa konka inferior (submucosal diathermy of the inferior turbinate )
Bedah beku konka inferior ( cryosurgery )
Reseksi konka parsial atau total (partial or total turbinate resection)
Turbinektomi dengan laser ( laser turbinectomy )
Neurektomi n. vidianus ( vidian neurectomy )

Rinitis Medikamentosa
Pengertian
Rhinitis medikamentosa adalah suatu kelainan hidung berupa gangguan respon normal vasomotor sebagai akibat pemakaian
vasokonstriktor topical (obat tetes hidung atau obat semprot hidung) dalam waktu lama dan berlebihan, sehingga menyebabkan
sumbatan hidung yang menetap.Dapat dikatakan hal ini disebabkan oleh pemakaian obat yang berlebihan(Drug Abuse).
Gejala dan Tanda
Penderita mengeluh hidungnya tersumbat terus menerus dan berair. Pada pemeriksaan konka dengan secret hidung yang
berlebihan. Apabila diuji dengan adrenalin, adema konka tidak berkurang.
Terapi
1. Hentikan pemakaian obat tetes dan sempror hidung.
2. Untuk mengatasi sunbatan berulang, beri kortikosteroit secara penurunan bertahab dengan menurunkan dosis 5 mg setiap
hari.(misalnya hari 1: 40 mg, hari 2: 35 mg dan seterusnya).
3. Obat dekongestan oral (biasanya mengandung pseudoefredin).
Rhinitis Atrofi
Pengertian
Rhinitis Atrofi adalah satu penyakit infeksi hidung kronik dengan tanda adanya atrofi progesif tulang dan mukosa konka. Secara
klinis, mukosa hidung menghasilkan secret kental dan cepat mongering, sehingga terbentuk krusta berbau busuk. Sering
mengenai masyarakat dengan tingkat social ekonomi lemah dan lingkungan buruk. Lebih sering mengenai wanita, terutama
pada usia pubertas.
Etiologi
Belum jelas, beberapa hal yang dianggap sebagai penyebabnya seperti infeksi oleh kuman spesifik, yaitu spesies Klebsiella,
yang seringKlebsiella ozanae, kemudian stafilokok, sreptokok, Pseudomonas aeruginosa, defisiensi Fe, defisiensi vitamin A,
sinusitis kronik, kelainan hormonal, dan penyakit kolagen. Mungkin berhubungan dengan trauma atau terapi radiasi.
Manifestasi klinis
Keluhan subyektif yang sering ditemukan pada pasien biasanya nafas berbau (sementara pasien sendiri menderita anosmia),
ingus kental hijau, krusta hijau, gangguan penciuman, sakit kepala, dan hidung tersumbat.
Pada pemeriksaan THT ditemukan rongga hidung sangat lapang, konka inferior dan media hipotrofi atau atrofi secret purulen
hijau dan krusta berwarna hijau.
Pemeriksaan penunjang
Dapat dilakukan transiluminasi, fotosinus para nasal, pemeriksaan mikro organisme uji resistensi kuman, pemeriksaan darah
tepi, pemeriksaan Fe serum, dan serologi darah. Dari pemeriksaan histo patologi terlihat mukosa hidung menjadi tipis, silia
hilang, metaplasia thoraks menjadi epitel kubik atau gepeng berlapis, kelenjar degenerasi dan atrofi, jumlahnya berkurang dan
bentuknya mengecil.
Penatalaksanaan
Belum adanya yang baku. Penatalaksanaan ditunjukkan untuk menghilangkan etiologi, selain gejalanya dapat dilakukan secara
konservatif atau operatif. Secara konservatif dapat diberikan
Antibiotic presprektum luas atau sesuaiuji resistensi kuman sampai gejala hilang.
Obat cuci hidung agar bersih dari krusta dan bau busuk hilang dengan larutan betadine satu sendok makan dalam 100 cc air
hangat
Vitamin A 350.000 unit selama 2 minggu
Preparat Fe
Komplikas
Polip hidung. Rinitis alergi dapat menyebabkan atau menimbulkan kekambuhan polip hidung.
Otitis media. Rinitis alergi dapat menyebabkan otitis media yang sering residif dan terutama kita temukan pada pasien anakanak.
Sinusitis kronik
Otitis media dan sinusitis kronik bukanlah akibat langsung dari rinitis alergi melainkan adanya sumbatan pada hidung sehingga
menghambat drainase.
Discharge planning
Instruksikan pasien yang allergik untuk menghindari allergen atau iritan spt (debu, asap tembakau, asap, bau, tepung, sprei)
Sejukkan membran mukosa dengan menggunakan sprey nasal salin.

Melunakkan sekresi yang mengering dan menghiangkan iritan.


Ajarkan tekhnik penggunaan obat-obatan spt sprei dan serosol.
Anjurkan menghembuskan hidung sebelum pemberian obat apapun thd hidung
SINUSITIS
Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal. Sesuai anatomi sinus yang terkena, dapat dibagi menjadi sinusitis maksila,
sinusitis ethmoid, sinusitis frontal, dan sinusitis sfenoid. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila
mengenai semua sinus paranasal disebut pan sinusitis.
Etiologi
Terjadinya sinusitis dapat merupakan perluasan infeksi dari hidung (rinogen), gigi dan gusi (dentogen), faring, tonsil serta
penyebaran hematogen walaupun jarang. Sinusitis juga dapat terjadi akibat trauma langsung, barotrauma, berenang atau
menyelam.
Faktor predisposisi yang mempermudah terjadinya sinusitis adalah kelainan anatomi hidung, hipertrofi konka, polip hidung, dan
rinitis alergi.Rinosinusitis ini sering bermula dari infeksi virus pada selesma, yang kemudian karena keadaan tertentu
berkembang menjadi infeksi bakterial dengan penyebab bakteri patogen yang terdapat di saluran napas bagian atas. Penyebab
lain adalah infeksi jamur, infeksi gigi, dan yang lebih jarang lagi fraktur dan tumor.
Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran klirens dari mukosiliar didalam komplek osteo
meatal (KOM). Disamping itu mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai pertahanan
terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan.
Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga mukosa yang berhadapan akan saling bertemu. Hal
ini menyebabkan silia tidak dapat bergerak dan juga menyebabkan tersumbatnya ostium. Hal ini menimbulkan tekanan negatif
didalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi atau penghambatan drainase sinus. Efek awal yang ditimbulkan
adalah keluarnya cairan serous yang dianggap sebagai sinusitis non bakterial yang dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila tidak
sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini akan menjadi media yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri, dan
sekret akan berubah menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis yang membutuhkan terapi antibiotik. Jika terapi
inadekuat maka keadaan ini bisa berlanjut, akan terjadi hipoksia dan bakteri anaerob akan semakin berkembang. Keadaan ini
menyebabkan perubahan kronik dari mukosa yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista.

Faktor Predisposisi
Obstruksi mekanik seperti deviasi septum, hipertrofi konka media, benda asing di hidung, polip serta tumor di dalam rongga
hidung merupakan faktor predisposisi terjadinya sinusitis. Selain itu rinitis kronis serta rinitis alergi juga menyebabkan obstruksi
ostium sinus serta menghasilkan lendir yang banyak, yang merupakan media untuk tumbuhnya bakteri. Sebagai faktor
predisposisi lain ialah lingkungan berpolusi, udara dingin serta kering, yang dapat mengakibatkan perubahan pada mukosa serta
kerusakan silia.
Diagnosis
Penegakan diagnosis sinusitis secara umum:
1.
Kriteria Mayor :
Sekret nasal yang purulen
Drenase faring yang purulen
Purulent Post Nasaldrip
Batuk
Foto rontgen (Watersradiograph atau air fluid level) : Penebalan lebih 50% dari antrum
Coronal CT Scan : Penebalan atau opaksifikasi dari mukosa sinus
2.
-

Kriteria Minor :
Sakit kepala
Nyeri di wajah
Nyeri telinga Sakit tenggorok
Bersin-bersin bertambah sering
Tes sitologi nasal (smear) : neutrofil dan bakteri
Ultrasound

Kemungkinan terjadinya sinusitis jika :


Gejala dan tanda : 2 mayor, 1 minor dan 2 kriteria minor
Pemeriksaan Penunjang

Edem periorbital
Sakit gigi
Nafas berbau
Demam

1.
Laboratorium
o Tes sedimentasi, leukosit, dan C-reaktif protein dapat membantu diagnosis sinusitis akut
o Kultur merupakan pemeriksaan yang tidak rutin pada sinusitis akut, tapi harus dilakukan pada pasien immunocompromise
dengan perawatan intensif dan pada anak-anak yang tidak respon dengan pengobatan yang tidak adekuat, dan pasien dengan
komplikasi yang disebabkan sinusitis.
2.
Imaging
o Rontgen sinus, dapat menunjukan suatu penebalan mukosa, air-fluid level, dan perselubungan.Pada sinusitis maksilaris,
dilakukan pemeriksaan rontgen gigi untuk mengetahui adanya abses gigi.
o CT-Scan, memiliki spesifisitas yang jelek untuk diagnosis sinusitis akut, menunjukan suatu air-fluid level pada 87% pasien
yang mengalami infeksi pernafasan atas dan 40% pada pasien yang asimtomatik. Pemeriksaan ini dilakukan untuk luas dan
beratnya sinusitis.

MRI sangat bagus untuk mengevaluasi kelainan pada jaringan lunak yang menyertai sinusitis, tapi memiliki nilai yang
kecil untuk mendiagnosis sinusitis akut
Klasifikasi
Secara klinis sinusitis dapat dikategorikan sebagai sinusitis akut bila gejalanya berlangsung dari beberapa hari sampai 4
minggu. Sinusitis subakut bila berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan dan sinusitis kronik bila berlangsung lebih dari 3
bulan.
Tetapi apabila dilihat dari gejalanya, maka sinusitis dianggap sebagai sinusitis akut bila terdapat tanda-tanda radang akut.
Dikatakan sinusitis subakut bila tanda-tanda radang akut sudah reda dan perubahan histologik bersifat reversible dan disebut
sinusitis kronik,bila oerubahan histologik mukosa sinus sudah irreversible, misalnya sudah berubah menjadi jaringan granulasi
atau polipoid. Sebenarnya klasifikasi yang tepat ialah berdasarkan pemeriksaan histopatologik, akan tetapi pemeriksaan ini tidak
rutin dikerjakan.
1.

Sinusitis Akut
Penyakit ini dimulai dengan penyumbatan daerah kompleks osteomeatal oleh infeksi, obstruksi mekanis atau alergi.
Selain itu juga dapat merupakan penyebaran dari infeksi gigi.
Etiologi
(1) rinitis akut
(2) infeksi faring, seperti faringitis, adenoiditis, tonsilitis akut
(3) infeksi gigi rahang atas M1, M2, M3, serta P1 dan P2 (dentogen)
(4) berenang dan menyelam
(5)trauma dapat menyebabkan perdarahan mukosa sinus paranasal
(6) barotrauma dapat menyebabkan nekrosis mukosa.
Gejala Subyektif
Gejala sebjektif dibagi dalam gejala sistemik dan gejala lockal. Gejala sistemik ialah demam dan rasa lesu. Lokal pada hidung
terdapat ingus kental yang kadang kadang berbau dan dirasakan mengalir ke nasofaring. Dirasakan hidung tersumbat, rasa
nyeri didaerah sinus yang terkena, serta kadang kadang dirasakan juga ditempat lain karena nyeri alih (referred pain).
Pada sinusitis maksila nyeri dibawah kelopak mata dan kadang kadang menyebar ke alveolus, sehingga terasa nyeri di gigi.
Nyeri alih dirasakan di dahi dan didepan telinga.
Rasa nyeri pada sinusitis ethmoid di pangkal hidung dan kantus medius. Kadang kadang dirasakan nyeri di bola mata atau
dibelakangnya, dan nyeri akan bertambah bila mata digerakkan. Nyeri alih dirasakan di pelipis (parietal). Pada sinusitis frontal
rasa nyeri terlokalisasi di dahi atau dirasakan nyeri diseluruh kepala. Rasa nyeri pada sinusitis sfenoid di verteks, oksipital,
dibelakang bola mata dan didaerah mastoid.
Gejala Obyektif
Pembengkakan pada sinusitis maksila terlihat di pipi dan kelopak mata bawah, pada sinusitis frontal di dahi dan kelopak mata
atas, pada sinusitis ethmoid jarang timbul pembengkakan, kecuali bila ada komplikasi.
Pada rinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan edema. Pada sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis
ethmoid anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius, sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan sinusitis
sfenoid nanah tampak keluar dari meatus superior.
Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip).
Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan transiluminasi bermakna bila
salah satu sisi sinus yang sakit, sehingga tampak lebih suram dibandingkan dengan sisi yang normal.
Pemeriksaan radiologik yang dibuat adalah posisi Waters, PA dan lateral. Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa
atau batas cairan udara (air fluid level) ada sinus yang sakit.
Pemeriksaan Mikrobiologi
Sebaiknya untuk pemeriksaan mikrobiologik diambil sekret dari meatus medius atau meatus superior. Mungkin ditemukan
bermacam macam bakteri yang merupakan flora normal di hidung atau kuman patogen, seperti Pneumococcus, Streptococcus,
Stphylococcus dan Haemophylus influeanzae. Selain itu mungkin juga ditemukan virus atau jamur.

Terapi
Diberikan terapi medikamentosa berupa antibiotika selama 10 14 hari, meskipun gejala klinik telah hilang. Antibiotika yang
diberikan adalah golongan penisilin. Diberikan juga obat dekongestan lokal berupa tetes hidung, untuk memperlancar drainase
sinus. Boleh diberikan analgetika untuk menghilangkan rasa nyeri.
Terapi pembedahan pada sinusitis akut jarang diperlukan, kecuali bila telah terjadi komplikasi ke orbita atau intrakranial; atau
bila ada nyeri yang hebat karena ada sekret tertahan oleh sumbatan.
2. Sinusitis Subakut
Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut hanya tanda-tanda radang akutnya (demam, sakit kepala, nyeri tekan) sudah reda.
Pada rinoskopi anterior tampak sekret purulen di meatus medius atau superior. Pada rinoskopi posterior tampak secret purulen di
nasofaring. Pada pemeriksaan transiluminasi tampak sinus yang sakit suram atau gelap.
Terapinya mula-mula diberikan medikamentosa, bila perlu dibantu dengan tindakan, yaitu diatermi atau pencucian sinus.
Obat-obat yang diberikan berupa antibiotika berspektrum luas, atau yang sesuai dengan tes resistensi kuman, selama 10-14 hari.
Juga diberikan obat-obat simtomatis berupa dekongestan local (obat tetes hidung) untuk memperlancar draenase. Obat tetes
hidung hanya boleh diberikan untuk waktu yang terbatas (5 sampai 10 hari), karena kalau terlalu lama dapat menyebabkan
rhinitis medikamentosa. Selain itu, dapat diberikan analgetika, antihistamin, dan mukolitik.
Tindakan dapat berupa diatermi dengan sinar gelombang pendek (ultra short wave diathermy), sebanyak 5-6 kali pada daerah
yang sakit untuk memperbaiki vaskularisasi sinus. Kalau belum membaik, maka dilakukan pencucian sinus dan juga
pembedahan non radikal, seperti bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF) untuk membersihkan daerah Kompleks Ostio
Meatal sehingga mukosa sinus kembali normal
3. Sinusitis Kronik
Sinusitis kronis berbeda dari sinusitis akut dalam berbagai aspek, umumnya sukar disembuhkan dengan pengobatan
medikamentosa saja. Harus dicari faktor penyebab dan faktor predisposisinya.
Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa hidung dapat juga disebabkan oleh alergi dan
defisiensi imunologik. Perubahan mukosa hidung akan mempermudah terjadinya infeksi dan infeksi menjadi kronis apabila
pengobatan pada sinusitis akut tidak sempurna. Adanya infeksi akan menyebabkan edema konka, sehingga drenase sekret akan
terganggu. Drenase sekret yang terganggu dapat menyebabkan silia rusak dan seterusnya.
Gejala Subyektif
Gejala subyekif sangat bervariasi dari ringan sampai berat, terdiri dari:

Gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret di hidung dan sekret pasca nasal drip (post nasal drip).

Gejala faring, yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorok.

Gejala telinga, berupa pendengaran terganggu oleh karena tersumbatnya tuba Eustachius.

Adanya nyeri/sakit kepala.

Gejala mata, oleh karena penjalaran infeksi melalui duktus naso-lakrimalis.

Gejala saluran napas berupa batuk dan kadang-kadang terdapat komplikasi di paru, beruoa bronchitis atau bronkietaksis
atau asma bronchial, sehingga terjadi penyakit sinobronkitis.

Gejala di saluran cerna, oleh karena mukopus yang tertelan dapat menyebabkan gastroenteritis,`sering terjadi pada anak.
Kadang-kadang gejala sangat ringan hanya terdapat sekret di nasofaring yang meengganggu pasien. Sekret pasca nasal yang
terus-menerus akan mengakibatkan batuk kronik.
Nyeri kepala pada sinusitis kronis biasanya terasa pada pagi hari dan akan berkurang atau hilang setelah siang hari.
Penyebabnya belum diketahui dengan pasti, tetapi mungkin karena pada malam hari terjadi penimbunan ingus dalam rongga
hidung dan sinus serta adamya stasis vena.
Gejala obyektif
Pada sinusitis kronis, temuan pemeriksaan klinis tidak seberat sinusitis akut dan tidak terdapat pembengkakan pada wajah. Pada
rinoskopi anterior dapat ditemukan sekret kental purulen dari meatus medius atau meatus superior. Pada rinoskopi posterior
tampak sekret purulen di nasofaring atau turun ke tenggorok.
Pemeriksaan mikrobiologik
Biasanya merupakan infeksi campuran oleh bermacam-macam mikroba, seperti kuman aerob S. aureus, S. viridians, H.
Influenzae dan kuman anaerob Peptostreptokokus dan Fusobakterium.
Diagnosis sinusitis kronik
Dibuat berdasarkan anamnesis yang cermat, pemeriksaan rinoskopi anterior dan posterior serta pemeriksaan penunjang
berupa transiluminasi untuk sinus maksila dan sinus frontal, pemeriksaan radiologik, pungsi sinus maksila, sinoskopi sinus
maksila, pemeriksaan histopatologik dari jaringan yang diambil pada waktu dilakukan sinoskopi, pemeriksaan meatus medius
dan meatus superior dengan menggunakan naso-endoskopi dan pemeriksaan CT-scan.
Terapi

Pada sinusitis kronis perlu diberikan terapi antibiotik untuk mengatasi infeksinya dan obat-obatan simtomatis lainnya. Antibiotik
diberikan selama sekurang-kurangnya 2 minggu. Selain itu dapat juga dibantu dengan diatermi gelombang pendek selama 10
hari di daerah sinus yang sakit.
Tindakan lain yang dapat dilakukan ialah tindakan untuk membantu memperbaiki drenase dan pembersihan sekret dan sinus
yang sakit. Untuk sinusitis maksila dilakukan pungsi dan irigasi sinus, sedangkan untuk sinusitis etmoid, frontal atau sphenoid
dilakukan tindakan pencucian Proetz. Irigasi dan pencucian sinus ini dilakukan 2 kali dalam seminggu. Bila setelah 5-6 kali
tidak ada perbaikan dan klinis masih tetap banyak sekret purulen, berarti mukosa sinus sudah tidak dapat kembali normal
(perubahan irreversible), maka perlu dilakukan operasi radikal.
Untuk mengetahui perubahan mukosa masih reversible atau tidak, dapat juga dilakukan dengan pemeriksaan sinoskopi, yaitu
melihat antrum (sinus maksila) secara langsung dengan menggunakan endoskop.
Komplikasi Sinusitis
CT-Scan penting dilakukan dalam menjelaskan derajat penyakit sinus dan derajat infeksi di luar sinus, pada orbita, jaringan
lunak dan kranium. Pemeriksaan ini harus rutin dilakukan pada sinusitis refrakter, kronis atau berkomplikasi.
1.
Komplikasi orbita
Sinusitis ethmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita yang tersering. Pembengkakan orbita dapat merupakan
manifestasi ethmoidalis akut, namun sinus frontalis dan sinus maksilaris juga terletak di dekat orbita dan dapat menimbulkan
infeksi isi orbita.
Terdapat lima tahapan :

Peradangan atau reaksi edema yang ringan. Terjadi pada isi orbita akibat infeksi sinus ethmoidalis didekatnya. Keadaan
ini terutama ditemukan pada anak, karena lamina papirasea yang memisahkan orbita dan sinus ethmoidalis sering kali merekah
pada kelompok umur ini.

Selulitis orbita, edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi isi orbita namun pus belum terbentuk.

Abses subperiosteal, pus terkumpul diantara periorbita dan dinding tulang orbita menyebabkan proptosis dan kemosis.

Abses orbita, pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi orbita. Tahap ini disertai dengan gejala sisa
neuritis optik dan kebutaan unilateral yang lebih serius. Keterbatasan gerak otot ekstraokular mata yang tersering dan kemosis
konjungtiva merupakan tanda khas abses orbita, juga proptosis yang makin bertambah.

Trombosis sinus kavernosus, merupakan akibat penyebaran bakteri melalui saluran vena kedalam sinus kavernosus,
kemudian terbentuk suatu tromboflebitis septik.
Secara patognomonik, trombosis sinus kavernosus terdiri dari :
a.
Oftalmoplegia.
b.
Kemosis konjungtiva.
c.
Gangguan penglihatan yang berat.

Tanda-tanda meningitis oleh karena letak sinus kavernosus yang berdekatan dengan saraf kranial II, III, IV dan VI, serta
berdekatan juga dengan otak.
2.
Mukokel
Mukokel adalah suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam sinus, kista ini paling sering ditemukan pada sinus
maksilaris, sering disebut sebagai kista retensi mukus dan biasanya tidak berbahaya.
Dalam sinus frontalis, ethmoidalis dan sfenoidalis, kista ini dapat membesar dan melalui atrofi tekanan mengikis struktur
sekitarnya. Kista ini dapat bermanifestasi sebagai pembengkakan pada dahi atau fenestra nasalis dan dapat menggeser mata ke
lateral. Dalam sinus sfenoidalis, kista dapat menimbulkan diplopia dan gangguan penglihatan dengan menekan saraf didekatnya.
Piokel adalah mukokel terinfeksi, gejala piokel hampir sama dengan mukokel meskipun lebih akut dan lebih berat.
Prinsip terapi adalah eksplorasi sinus secara bedah untuk mengangkat semua mukosa yang terinfeksi dan memastikan drainase
yang baik atau obliterasi sinus.
3.
Komplikasi Intra Kranial

Meningitis akut, salah satu komplikasi sinusitis yang terberat adalah meningitis akut, infeksi dari sinus paranasalis dapat
menyebar sepanjang saluran vena atau langsung dari sinus yang berdekatan, seperti lewat dinding posterior sinus frontalis atau
melalui lamina kribriformis di dekat sistem sel udara ethmoidalis.

Abses dural adalah kumpulan pus diantara dura dan tabula interna kranium, sering kali mengikuti sinusitis frontalis.
Proses ini timbul lambat, sehingga pasien hanya mengeluh nyeri kepala dan sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan
tekanan intra kranial.

Abses subdural adalah kumpulan pus diantara duramater dan arachnoid atau permukaan otak. Gejala yang timbul sama
dengan abses dura.

Abses otak, setelah sistem vena, dapat mukoperiosteum sinus terinfeksi, maka dapat terjadi perluasan metastatik secara
hematogen ke dalam otak. Terapi komplikasi intra kranial ini adalah antibiotik yang intensif, drainase secara bedah pada
ruangan yang mengalami abses dan pencegahan penyebaran infeksi.
4.
Osteomielitis dan abses subperiosteal
Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada tulang frontalis adalah infeksi sinus frontalis. Nyeri tekan dahi
setempat sangat berat. Gejala sistemik berupa malaise, demam dan menggigil

Rhinosinusitis
Saat ini penggunaan sinusitis sudah tidak dipakai lagi... diganti dengan istilah "Rhinosinusitis"... hal ini kenapa??

Beberapa alasan yang mendasari perubahan istilah Sinusitis menjadi Rinosinusitis adalah :
1.Membran mukosa hidung dan sinus secara embriologis satu sama lainnya saling berhubungan.
2.Sebagian penderita sinusitis juga menderita rinitis.
3.Gejala pilek,buntu hidung dan berkurangnya penciuman ditemukan baik pada sinusitis maupun rinitis.
4.CT scan penderita common cold menunjukkan inflamasi mukosa yang melapisi hidung dan sinus paranasal secara simultan.
Beberapa fakta diatas menunjukkan bahwa sinusitis merupakan kelanjutan rinitis.Hal ini mendukung konsep "one airway
disease" yaitu penyakit disalah satu bagian saluran nafas akan cenderung berkembang ke bagian lain.

Etiologi:
Penyebab utama dan terpenting dari rinosinusitis adalah obstruksi ostium sinus. Faktor lokal atau sistemik dapat menyebabkan
inflamasi atau kondisi yang mengarah pada obstruksi misalnya : ISPA, alergi, kelainan anatomi,defisiensi imun,paparan bahan
iritan dll.
Patofisiologi:
Digambarkan sebagai lingkaran tertutup,dimulai dengan inflamasi mukosa hidung khususnya kompleks osteomeatal (KOM).
Secara skematik sbb:
Inflamasi mukosa hidung --> edem dan eksudasi --> obstruksi ostium sinus --> gangguan ventilasi dan drainase, resorbsi
oksigen yang ada di rongga sinus --> hipoksi (oksigen menurun, PH menurun, tekanan negatif)--> permeabilitas kapiler
meningkat, sekresi kelenjar meningkat --> transudasi,peningkatan eksudasi
serus, penurunan fungsi silia --> retensi sekresi di sinus, tempat yang baik untuk pertumbuhan kuman.
Pada anak2 : Rinosinusitis merupakan gejala sisa dari ISPA yang kebanyakan disebabkan virus. Meskipun infeksi virus secara
klinis menyembuh dalam 5-7 hari,akan tetapi kelainan fungsi silia baru akan kembali normal dalam 4-6 minggu. Defisiensi Ig
mengakibatkan rinosinusitis berulang,demikian juga adanya gangguan transpor mukosiliar pada kistik fibrosis.
Pada dewasa : rinitis alergi merupakan faktor predisposisi penting, terutama pada Rinosinusitis kronis (80%).
Deviasi septum,hipertrofi konka media dan konka bulosa merupakan patologi yang sering ditemukan di kompleks
osteome atal,yang menyebabkan obstruksi ostium sinus --> gangguan drainase dan ventilasi --> Rinosinusitis kronis.
DIAGNOSA KLINIK RINOSINUSITIS :
Menurut Task Force on Rhinosinusitis of The American Association of Otolaryngology Head and Neck Surgery gejala klinik
digolongkan menjadi :
1.Gejala major:
a.Nyeri daerah muka
b.Rasa penuh daerah muka
c.Buntu hidung
d.Pilek purulen/post nasal drip
e.Hiposmia/anosmia
f. Panas
2.Gejala minor :
a.Sakit kepala
b.Bau
c.Nyeri gigi
d.Rasa capai
e.Batuk
f. Nyeri/rasa penuh di telinga
Curiga Rinosinusitis bila dijumpai 2 atau lebih gejala major atau dijumpai 1 gejala major dan 2 gejala minor.
Apa yang perlu dilakukan bila curiga rinosinusitis ??
Tahap I : Periksa rinoskopi anterior
- Mukosa konka edem dan hiperemi
- Sekret mukopurulen di kavum nasi
- Sekret mukopurulen di meatus medius
- Perhatikan kelainan anatomis
Tahap II : X foto Waters
- Mukosa sinus edem

- Air fluid level


- Perselubungan menyeluruh
- Mukokel/polip
Tahap III : Evaluasi faktor penyebab/underlying disease
- Alergi
- Infeksi
- Kelainan anatomis
- Lingkungan
- Asma
Terapi :
Prinsip terapinya adalah: mengobati infeksi yang ada dan mengembalikan fungsi drainase & ventilasi ostium sinus.
1.Medikamentosa :
a.Antibiotika
Pada RSA bakteri yang berperan adalah streptokokus pneumoni, hemofilus influenzae dan moraxella catarrhalis.
Pada RSK bakteri yang berperan adalah pseudomonas aeroginosa, staphylococcus aureus dan kuman anaerob.
Pemberian untuk RSA : 14 hari; RSK 3-6 minggu
b.Simptomatis
- Dekongestan : oral/lokal : vasokonstriksi -->ostium terbuka -->fungsi drainase dan ventilasi kembali.
- Kortikosteroid intra nasal: pada Rinitis Alergi berefek anti inflamasi, menghilangkan edem ostium sinus,menormalkan fungsi
silia, mencegah migrasi eosinofil.
- Antihistamin
- Analgesik/antipiretik, Diatermi: penurunan edem,sekret lebih encer,vasodilatasi memperbaiki drainase dan ventilasi sinus
maksila
- Lain2 : sekretolitik, nebuliser
2.Operatif :
Terapi bedah untuk berbagai sinus adalah sebagai berikut :
- Sinus maksila : irigasi sinus,nasal antrostomi,Caldwell Luc
- Sinus etmoid : etmoidektomi intra/ekstra nasal
- Sinus frontal : intra/ekstra nasal,fronto-etmoidektomi
- Sinus sfenoid : trans nasal
- Irigasi sinus :(Antral lavage)
Kegagalan sinus maksila untuk membersihkan sekret atau produk infeksi dg terapi medis --> mucociliary blanket rusak atau
obstruksi ostium sinus --> retensi didalam antrum.
Pada kondisi ini irigasi akan membuang produk infeksi spt. Jaringan nekrotik, kuman,toksin,debris.Juga dapat dilakukan
pemeriksaan kultur atau sitologi.Irigasi juga akan membantu ventilasi dan oksigenasi sinus.
Irigasi pertama kali dilakukan oleh Hartman pada tahun 1885 melalui meatus medius ;sekarang lebih disukai melalui meatus
inferior.
Nasal antrostomi:(Naso antral window)
Indikasi tindakan ini adalah:infeksi kronis,infeksi rekuren dan oklusi ostium sinus.Adanya lubang yang cukup lapang pada
antrostomi --> drainase secara gravitasi --> infeksi berkurang;ada akses untuk antral lavage serta dapat melakukan visualisasi
kedalam sinus --> mengeluarkan jaringan nekrotik,benda asing.
Biasanya dikerjakan melalui meatus inferior, dengan lokal atau general anestesi.
Operasi Caldwell-Luc :
Th 1893 Caldwell melakukan pembukaan sinus maksila melalui fosa kanina yang dikombinasi dengan nasal antrostomi.Pd.
th.1897 Luc melakukan tindakan yang hampir sama. Operasiini kemudian dikenal sebagai operasi CWL (Caldwell-Luc).
Dengan cara ini visualisasi ke sinus maksila lebih baik -->penilaian penyakit di antrum menjadi lebih baik & memberi
jalan menuju etmoid dan sfenoid melalui dinding supero medial.
Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS) :
Sekarang ini diketahui bahwa yang paling berperan penting pada sinusitis rinogen adalah daerah osteo meatal kompleks. Pada
th 1978 endoskopi nasal dan sinus dipublikasikan seca ra sistematis,detil dan luas oleh Messerklinger,yang juga mempelajari
mucociliary clearance didalam sinus dan hidung.
Konsep endoskopi untuk diagnosis dan terapi operatif dari sinusitis yang rekuren didasarkan atas penemuan Messerklinger
bahwa hapir semua infeksi pada sinus maksila dan frontal adalah rinog dan itu merupakan infeksi sekunder dari fokus yang
terdapat pada selule etmoidalis anterior,khususnya didaerah infundibulum etmoid dan resesus frontalis yg dikenal
sebagaiosteomeatal unit,yang kemudian menyebar kedalam sinus2
besar tersebut.
Pada penelitian > 2500 penderita, Stamberger membuktikan bahwa dengan membenahi jalan untuk drainase dan ventilasi
menjadi fisiologis kembali, maka kelainan sinus maksila dan sinus frontal dapat disembuhkan tanpa menyentuh sinus2

tersebut,bahkan pada kelainan mukosa yang sebelumnya dianggap ireversibel.


Saat ini penggunaan FESS dengan peralatan yang makin berkembang juga semakin luas,sehingga indikasi FESS meliputi:
-Sinusitis akut rekuren atau kronis pada semua sinus.
-Poliposis nasi
-Mukokel pada semua sinus
-Mikosis pada semua sinus
-Benda asing
-Tumor jinak atau pada kasus tertentu tumor ganas
-Osteoma yang kecil dll
Terapi bedah pada rinosinusitis telah dimulai sejak 120 th yl. Dengan ditemukannya FESS pada akhir th.1970-an dan peralatan
yang makin lengkap dan berkembang, maka tonggak sejarah baru untuk mengatasi rinosinusitis pada semua sinus berkembang
dengan cepat.
Naaah... ini pertanyaan kita sebagai koass yang insyaAllah setelah ini menjadi dokter umum...
Kapan rinosinusitis dirujuk ???
Pengobatan medikamentosa dapat memberikan hasil yang baik, tidak berhasil sama sekali atau menjadi rekuren. Pada kasus
yang refrakter atau rekuren maka penderita dirujuk ke ahli THT untuk dilakukan tindakan operatif.
Upaya pencegahan rinosinusitis :
1.Penanganan rinitis alergi sedini mungkin,termasuk edukasi cara menghindari alergen penyebab,sebab 30-40% penderita rinitis
alergi dijumpai adanya rinosinusitis.
2.Penanganan rinitis non alergi,sehingga fungsi drainase dan ventilasi ostium tetap normal.
3.Koreksi kelainan anatomis hidung sedini mungkin (septum koreksi,ekstraksi polip,adenotomi dll)
4.Meminimalkan kadar polutan dilingkungan penderita untuk mencegah rusaknya barier pertahanan mukosa.
Komplikasi sinusitis :
Pada umumnya jarang terjadi;jika ada biasanya akibat infeksi akut sinusitis atau eksaserbasi akut dari sinusitis kronik.
Komplikasi dapat dibagi menjadi :
1.Komplikasi orbita (selulitis dan abses orbita)
2.Osteomielitis (tulang maksila dan frontal)
3.Mukokel
4.Komplikasi loko-regional (faringitis,laringitis,otitis media, bronkitis,serangan asma)
5.Komplikasi intra kranial (meningitis,abses intrakranial,trombosis sinus kavernosus)
1.Komplikasi orbita
Perjalanan langsung infeksi dari sinus etmoid,sinus frontal & sinus maksila. Bakteri sampai ke orbita melalui dinding sinus yg
tipis,melalui celah/foramen didinding tsb atau mel. vena.
Chandler membuat klasifikasi berdasarkan gradasi berat peny.
a.Edem palpebra
b.Selulitis orbita
c.Abses sub periosteal
d.Abses orbita
e.Trombosis sinus kavernosus
Ad a dan b relatif ringan,dapat sembuh dengan antibiotika. Ad c,d,e operasi segera utk mengeluarkan pus dari dalamberat dan
dapat fatal sinus dan orbita.
Gejala awal adalah pembengkakan dan kemerahan kelopak mata --> edem palpebra.Terapi:antibiotika. Jika berlanjut -->selulitis
orbita dimana edem merata seluruh orbita,disertai proptosis & nyeri, konjungtiva hiperemi dan mulai timbul gangguan
visus.Terapi :pemberian segera antibiotika intravena dosis tinggi dan nasal dekongestan dapat mengobati infeksi & mencegah
komplikasi lebih lanjut.
Abses subperiosteral : kuman atau materi purulen masuk dan terkumpul dalam rongga subperiosteal yang terletak antara dinding
orbita dan periorbita. Umumnya kuman berasal dari sinus etmoid melalui lamina papirasea atau dari sinus frontal --> kumpulan
pus menekan bola mata kearah lateral bawah. Dibedakan dengan abses orbita --> pendorongan bola mata kearah anterior.
Penderita mengeluh nyeri hebat,gangguan gerak bola mata & gangguan visus akibat penekanan langsung pada nervus opticus
dan pembuluh darah retina.Abses subperiosteal dpt pecah kedalam orbita menjadi abses orbita. CT Scan memberi gambaran
perselubungan homogen yg cembung didaerah antara orbita dan periorbita.Jika ada gambaran udara --> abses. Abses orbita :
terjadi akibat perluasan pus kedalam orbita atau pecahnya abses subperiosteal. Tekana intra kranial meningkat --> kerusakan
nervus opticus dan organ intra orbita lain. Gejala: proptosis,gangguan gerak bola mata dan gangguan visus berat bahkan dapat
menjadi buta krn regangan n.opticus atau nekrosis septik .Pus keluar melalui kelopak mata. CT Scan mengkonfirmasi adanya
pus,lokasi&perluasannya.
Tindakan operasi yang dipilih adalah etmoidektomi.

2.Osteomielitis
Osteomielitis akibat sinusitis hanya terjadi ditulang diploik --> pada anak2 hanya di sinus maksila; sedangkan pada remaja dan
dewasa hanya ditulang frontal. Osteomielitis maksila biasanya didapati di negara dengan keadaan sosial ekonomi yang sangat
jelek. Gejala berupa pembengkakan pipi dan kelopak mata bawah yang disertai rasa nyeri. Organisme penyebab tersering adalah
Staphylcoccus aureus. Pengobatan adalah antibiotika intrabena dan debridement jika diperlukan. Osteomielitis tulang frontal
lebih berbahaya karena biasanya Lebih ekstensif. Didapati pembengkakan dahi dan kelopak mata atas disertai rasa nyeri yang
tumpul.
Abses subperiosteal di dahi juga dapat terjadi yang disebut sebagai Potts puffy tumor. Ini sangat berbahaya dengan
kemungkinan komplikasi intrakranial dan dapat fatal. Pengobatan harus segera dilaksanakan dengan antibiotika intravena dosis
tinggi, drenase bedah sinus frontal dan debridement jika sudah
terjadi pembentukan pus.
3.Mukokel
Mukokel terjadi jika saluran keluar sinus tersumbat. Paling sering ditemukan di sinus frontal, meskipun dapat juga terjadi di
sinus etmoid, maksila dan sfenoid. Di dalam kista terjadi pengumpulan mukus yang steril yag kemudian menjadi kental.Kista
yang perlahan-lahan membesar ini dapat mendorong dinding sinus, menyebabkan erosi serta medorong organ-organ di
sekitarnya, terutama orbita. Gejala utama adalah sakit kepala dan pembengkakan daerah muka. Keadaan menjadi lebih hebat
jika disertai infeksi menjadi piokel. Jika mukokel meluas ke orbita, dapat terjadi diplopia dan protopsis. Pemeriksaan CTscanakan menunjukkan gambaran sinus yang melebar dengan penipisan dinding.
Pengobatan berupa tindakan bedah mengeluarkan kista dan memulihkan drenase sinus. Untuk sinus frontal, biasanya dengan
cara fronto-etmoidektomi eksterna(operasi Howarth) atau osteoplastik.
4.Komplikasi loko-regional
Komplikasi regional terjadi akibat penjalaran infeksi dan peradangan melalui mukosa traktus aerodigestivus. Materi
mukopurulen dari sinus dapat turun sebagai post nasal drip. Di faring pus ini dapat menyebabkan faringitis granuler dengan
nodule-nodule yang terjadi akibat jaringan limfatik yang hipertrofi.
Selanjutnya pita suara dapat terkena menyebabkan laringitis. Sinusitis juga dianggap sebagai penyebab dan komplikasi dari
tonsilitis dan otitis media. Post nasal drip ini selanjutnya dapat menyebabkan bronkitis pada anak-anak disertai keluhan batuk
kronik. Akhir-akhir ini jelas hubungan sinusitis sebagai pencetus serangan asma.
5.Komplikasi intrakranial
Terhadap fossa kranii anterior,sinus frontal, etmoid dan sfenoid hanya dipisahkan oleh dinding tulang tipis. Komplikasi sinusitis
ke intrakranial yang tersering adalah meningitis. Komplikasi lainnya adalah ensefalitis, abses intrakranial (ekstradural, subdural
atau serebral) dan trombosis sinus kavernosus. Infeksiterjadi melalui penjalaran langsung materi infeksi melalui dinding tipis
tersebut atau tromboplebitis yang retrograd. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada meningitis adalah pungsi lumbal,
disamping menegakkan diagnosis juga untuk mengetahui organisme penyebab, kecuali jika ada peningkatan tekanan intrakranial
yang dapat diketahui dari adaya papil edem.
Trombosis sinus kavernosus merupakan komplikasi yang fatal. Gejala berupa demam tinggi, kesadaran menurun dan tandatanda iritasi otak disertai demam tinggi. Gejala lokal berupa mata yang prop-tosis dan kelumpuhan syaraf otak yang melintasi
sinus cavernosus yaitu syaraf otak ke III, IV, cabang oftalmik dan maksilaris dari syaraf V dan VI.
Abses intrakranial mungking sulit didiagnosis, para dokter juga harus mempunyai kecurigaan yang tinggi, juga terhadap
komplikasi intrakranial lainnya, terutama jika ada pasien sinusitis yang kesadarannya menurun atau timbul gejala-gejala defisit
neurologik. Pemeriksaan penunjang yang diperlukanadalah CT scan dengan kontras atau MRI. Pegobatan semua komplikasi
intrakranial adalah dengan antibiotika dosis tinggi intravena. Pada intradural atau subdural perlu tindakan drenase oleh ahli
bedah otak, bersamaan dengan drenase terhadap sinus yang sakit oleh ahli bedah THT.
Faringitis
Faringitis adalah penyakit tenggorokan, merupakan respon inflamasi terhadap patogen yang mengeluarkan toksin. Faringitis
juga bisa merupakan gejala dari penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus, seperti penyakit flu. 1
Etiologi2
Virus
Virus merupakan etiologi terbanyak dari faringitis. Beberapa jenis virus ini yaitu:

Rhinovirus
Coronavirus
Virus influenza
Virus parainfluenza
Adenovirus
Herpes Simplex Virus tipe 1 dan 2
Coxsackievirus A

Cytomegalovirus
Virus Epstein-Barr
HIV

Bakteri
Beberapa jenis bakteri penyebab faringitis yaitu:

Streptoccocus pyogenes, merupakan penyebab terbanyak pada faringitis akut


Streptokokus grup A, merupakan penyebab terbanyak pada anak usia 5 15 tahun, namun jarang menyebabkan faringitis
pada anak usia <3 tahun.

Streptokokus grup C dan G

Neisseria gonorrheae

Corynebacterium diphtheriae

Corynebacterium ulcerans

Yersinia enterocolitica

Treponema pallidum

Vincent angina, merupakan mikroorganisme anaerobik dan dapat menyebabkan komplikasi yang berat, seperti abses
retrofaringeal dan peritonsilar
Penyebab faringitis yang bersifat noninfeksi yaitu sleep apnea, GERD, merokok, dan alergi. Alergi menyebabkan hiperplasia
limfoid, obstruksi nasal, dan keluarnya mukus hidung yang dapat mengiritasi faring. 3
Epidemiologi
Di USA, faringitis terjadi lebih sering terjadi pada anak-anak daripada pada dewasa. Sekitar 15 30 % faringitis terjadi pada
anak usia sekolah, terutama usia 4 7 tahun, dan sekitar 10%nya diderita oleh dewasa. Faringitis ini jarang terjadi pada anak
usia <3 tahun.
Penyebab tersering dari faringitis ini yaitu streptokokus grup A, karena itu sering disebut faringitis GAS (Group A Streptococci).
Bakteri penyebab tersering yaitu Streptococcus pyogenes. Sedangkan, penyebab virus tersering yaitu rhinovirus dan adenovirus.
Masa infeksi GAS paling sering yaitu pada akhir musim gugur hingga awal musim semi. 4
Patogenesis dan patofisiologi1
Bakteri S. Pyogenes memiliki sifat penularan yang tinggi dengan droplet udara yang berasal dari pasien faringitis. Droplet ini
dikeluarkan melalui batuk dan bersin. Jika bakteri ini hinggap pada sel sehat, bakteri ini akan bermultiplikasi dan mensekresikan
toksin. Toksin ini menyebabkan kerusakan pada sel hidup dan inflamasi pada orofaring dan tonsil. Kerusakan jaringan ini
ditandai dengan adanya tampakan kemerahan pada faring. 1 Periode inkubasi faringitis hingga gejala muncul yaitu sekitar 24 72
jam.3
Beberapa strain dari S. Pyogenes menghasilkan eksotoksin eritrogenik yang menyebabkan bercak kemerahan pada kulit pada
leher, dada, dan lengan. Bercak tersebut terjadi sebagai akibat dari kumpulan darah pada pembuluh darah yang rusak akibat
pengaruh toksin.1
Faktor risiko dari faringitis yaitu:5

Cuaca dingin dan musim flu

Kontak dengan pasien penderita faringitis karena penyakit ini dapat menular melalui udara

Merokok, atau terpajan oleh asap rokok

Infeksi sinus yang berulang

Alergi
Tanda dan gejala2
Tanda dan gejala faringitis dibedakan berdasarkan etiologinya, yaitu:
Virus

Jarang ditemukan tanda dan gejala yang spesifik. Faringitis yang disebabkan oleh virus menyebabkan rhinorrhea, batuk,
dan konjungtivitis3
Gejala lain dari faringitis penyebab virus yaitu demam yang tidak terlalu tinggi dan sakit kepala ringan. 5

Pada penyebab rhinovirus atau coronavirus, jarang terjadi demam, dan tidak terlihat adanya adenopati servikal dan
eksudat faring

Pada penyebab virus influenza, gejala klinis bisa tampak lebih parah dan biasanya timbul demam, myalgia, sakit kepala,
dan batuk

Pada penyebab adenovirus, terdapat demam faringokonjungtival dan eksudat faring. 2 Selain itu, terdapat juga
konjungtivitis3

Pada penyebab HSV, terdapat inflamasi dan eksudat pada faring, dan dapat ditemukan vesikel dan ulkus dangkal pada
palatum molle

Pada penyebab coxsackievirus, terdapat vesikel-vesikel kecil pada palatum molle dan uvula. Vesikel ini mudah ruptur
dan membentuk ulkus dangkal putih

Pada penyebab CMV, terdapat eksudat faring, demam, kelelahan, limfadenopati generalisata, dan splenomegali

Pada penyebab HIV, terdapat demam, myalgia, arthralgia, malaise, bercak kemerahan makulopapular yang tidak
menyebabkan pruritus, limfadenopati, dan ulkus mukosa tanpa eksudat 2
Bakteri
Faringitis dengan penyebab bakteri umumnya menunjukkan tanda dan gejala berupa lelah, nyeri/pegal tubuh, menggigil, dan
demam yang lebih dari 380C. Faringitis yang menunjukkan adanya mononukleosis memiliki pembesaran nodus limfa di leher
dan ketiak, tonsil yang membesar, sakit kepala, hilangnya nafsu makan, pembesaran limpa, dan inflamasi hati. 4
Pada penyebab streptokokus grup A, C, dan G, terdapat nyeri faringeal, demam, menggigil, dan nyeri abdomen. Dapat
ditemukan hipertrofi tonsil, membran faring yang hiperemik, eksudat faring, dan adenopati servikal. Batuk tidak ditemukan
karena merupakan tanda dari penyebab virus.
Pada penyebab S. Pyogenes, terdapat demam scarlet yang ditandai dengan bercak kemerahan dan lidah berwarna stoberi
Pada penyebab bakteri lainnya, ditemukan adanya eksudat faring dengan atau tanpa tanda klinis lainnya 2

Pemeriksaan dan penegakan diagnosis


Tujuan utama dari pemeriksaan faringitis yaitu untuk membedakan etiologi dari penyakit ini. Langkah pemeriksaan utama yaitu
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. 2
Demam akibat infeksi streptokokus biasanya lebih dari 38,30C. Faringitis dengan penyebab bakteri dan virus biasanya bertahan
dalam waktu 1 minggu, namun faringitis dengan penyebab noninfeksi biasanya lebih lama. Penting untuk menggali informasi
mengenai riwayat penyakit pasien, seperti alergi, demam reumatik, dan penyakit imunokompromis.

Pemeriksaan fisik yang terutama pada faringitis yaitu pemeriksaan tanda vital dan pemeriksaan THT. Pada pemeriksaan
tenggorokan, dapat ditemukan adanya:3

Eksudat dan kemerahan pada tonsil


Bercak kemerahan pada palatum molle, tampakan lidah seperti stroberi dengan papila yang merah dan lidah yang
keputihan
Limfadenopati servikal
Pada pemeriksaan paru, dapat ditemukan beberapa tanda klinis pada pasien dengan riwayat demam reumatik, yaitu
pembengkakan sendi, nyeri, nodul subkutan, eritema marginatum, atau murmur jantung.
Pemeriksaan penunjang dapat berupa:

Kultur swab tenggorokan; merupakan tes gold standard.3 Jenis pemeriksaan ini sering dilakukan. Namun, pemeriksaan
ini tidak bisa membedakan fase infektif dan kolonisasi, dan membutuhkan waktu selama 24 48 jam untuk mendapatkan
hasilnya.2
Tes infeksi jamur, menggunakan slide dengan pewarnaan KOH
Tes Monospot, merupakan tes antibodi heterofil. Tes ini digunakan untuk mengetahui adanya mononukleosis dan dapat
mendeteksi penyakit dalam waktu 5 hari hingga 3 minggu setelah infeksi 3

Tes deteksi antigen cepat; tes ini memiliki spesifisitas yang tinggi namun sensitivitasnya rendah

Heterophile agglutination assay

ELISA2
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan terhadap faringitis dapat mengurangi risiko demam reumatik, menurunkan durasi gejala, dan mengurangi risiko
penularan penyakit. Pada faringitis dengan penyebab bakteri, dapat diberikan antibiotik, yaitu:

Penicillin benzathine; diberikan secara IM dalam dosis tunggal

Penicillin; diberikan secara oral

Eritromisin

Penicillin profilaksis, yaitu penicillin benzathine G; diindikasikan pada pasien dengan risiko demam reumatik berulang
Sedangkan, pada penyebab virus, penatalaksanaan ditujukan untuk mengobati gejala, kecuali pada penyebab virus influenza dan
HSV. Beberapa obat yang dapat digunakan yaitu:2

Amantadine

Rimantadine

Oseltamivir

Zanamivir; dapat digunakan untuk penyebab virus influenza A dan B

Asiklovir; digunakan untuk penyebab HSV


Faringitis yang disebabkan oleh virus biasanya ditangani dengan istirahat yang cukup, karena penyakit tersebut dapat sembuh
dengan sendirinya. Selain itu, dibutuhkan juga mengkonsumsi air yang cukup dan hindari konsumsi alkohol. Gejala biasanya
membaik pada keadaan udara yang lembab. Untuk menghilangkan nyeri pada tenggorokan, dapat digunakan obat kumur yang

mengandung asetaminofen (Tylenol) atau ibuprofen (Advil, Motrin). Anak berusia di bawah 18 tahun sebaiknya tidak diberikan
aspirin sebagai analgesik karena berisiko terkena sindrom Reye.
Pemberian suplemen dapat dilakukan untuk menyembuhkan faringitis atau mencegahnya, yaitu: 5

Sup hangat atau minuman hangat, dapat meringankan gejala dan mencairkan mukus, sehingga dapat mencegah hidung
tersumbat

Probiotik (Lactobacillus), dapat digunakan untuk menghindari dan mengurangi demam

Madu, dapat digunakan untuk mengurangi batuk

Vitamin C, dapat digunakan untuk menghindari demam, namun penggunaan dalam dosis tinggi perlu pengawasan dokter

Seng, digunakan dalam fungsi optimal sistem imun tubuh, karena itu seng dapat digunakan untuk menghindari demam,
dan penggunaan dalam spray dapat digunakan untuk mengurangi hidung tersumbat. Namun, penggunaannya perlu dalam
pengawasan karena konsumsi dalam dosis besar dan jangka waktu yang lama dapat berbahaya
Komplikasi
Prognosis dari faringitis ini biasanya baik, karena biasanya faringitis ini dapat sembuh sendiri. Namun, jika faringitis ini
berlangsung lebih dari satu minggu, masih terdapat demam, pembesaran nodus limfa, atau muncul bintik kemerahan, hal
tersebut dapat berarti terjadi komplikasi dari faringitis, seperti demam reumatik. Beberapa komplikasi lain dari faringitis ini
yaitu:

Demam scarlet, yang ditandai dengan demam dan bintik kemerahan

Demam reumatik, yang dapat menyebabkan inflamasi sendi atau kerusakan pada katup jantung. Pada negar berkembang,
sekitar 20 juta orang mengalami demam reumatik akut yang mengakibatkan kematian. 5Demam reumatik merupakan komplikasi
yang paling sering terjadi dari faringitis.2

Glomerulonefritis; Komplikasi berupa glomerulonefritis akut merupakan respon inflamasi terhadap protein M spesifik.
Kompleks antigen-antibodi yang terbentuk berakumulasi pada glomerulus ginjal yang akhirnya menyebabkan glomerulonefritis
ini.1

Abses peritonsilar biasanya disertai dengan nyeri faringeal, disfagia, demam, dan dehidrasi. 2

Shok
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah faringitis yaitu: 5

Hindari penggunaan alat makan bersama pasien yang terkena faringitis, memiliki demam, flu, atau mononukleosis

Mencuci tangan secara teratur

Tidak merokok, atau mengurangi pajanan terhadap asap rokok

Menggunakan pelembab ruangan jika ruangan kering


Laringitis adalah inflamasi laring yang dapat disebabkan oleh proses infeksi ataupun noninfeksi.
Etiologi
Laringitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau jamur. Virus merupakan etiologi laringitis yang paling sering, yaitu
rhinovirus, virus influenza, virus parainfluenza, adenovirus, coxsackievirus, coronavirus, dan respiratory synsitial virus (RSV).
Sedangkan, beberapa bakteri yang menyebabkan laringitis yaitu:

Streptokokus grup A

C. Diphtheriae

Moraxella Catarrhalis
Mycobacterium tuberculosis; laringitis akibat bakteri ini biasanya sulit dibedakan dengan kanker laring karena tidak
terdapat tanda, gejala, dan hasil pemeriksaan radiologis yang spesifik
Jamur juga dapat menyebabkan laringitis, yaitu:6

Histoplasma

Blastomyces; biasanya menyebabkan laringitis sebagai komplikasi dari inflamasi sistemik

Candida; biasanya menyebabkan laringitis dan esofagitis pada pasien imunosupresi

Coccidioides

Cryptococcus
Laringitis juga merupakan akibat dari penggunaan suara yang berlebihan, pajanan terhadap polutan eksogen, atau infeksi pada
pita suara. Refluks gastroesofageal7, bronkitis, dan pneumonia8 juga dapat menyebabkan laringitis. Selain itu, laringitis
berkaitan dengan rinitis alergi. Onset dari laringitis berhubungan dengan perubahan suhu yang tiba-tiba, malnutrisi, atau
keadaan menurunnya sistem imun.7
Patofisiologi
Laringitis diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu laringitis akut dan laringitis kronik.Laringitis akut terjadi akibat infeksi
bakteri atau virus, penggunaan suara yang berlebih, inhalasi polutan lingkungan. 9 Laringitis akut ditandai dengan afonia atau
hilang suara dan batuk menahun. Gejala ini semakin diperparah dengan keadaan lingkungan yang dingin dan kering. Sedangkan,
laringitis kronik ditandai dengan afonia yang persisten. Pada pagi hari, biasanya tenggorokan terasa sakit namun membaik pada
suhu yang lebih hangat. Nyeri tenggorokan dan batuk memburuk kembali menjelang siang. Batuk ini dapat juga dipicu oleh
udara dingin atau minuman dingin. Pada pasien yang memiliki alergi, uvula akan terlihat kemerahan. 7
Laringitis kronik dapat terjadi setelah laringitis akut yang berulang, dan juga dapat diakibatkan oleh penyakit traktus urinarisu
atas kronik, merokok, pajanan terhadap iritan yang bersifat konstan, dan konsumsi alkohol berlebih. 9 Tanda dari laringitis kronik
ini yaitu nyeri tenggorokan yang tidak signifikan, suara serak, dan terdapat edema pada laring. 10
Laringitis pada anak sering diderita oleh anak usia 3 bulan hingga 3 tahun, dan biasanya disertai inflamasi pada trakea dan
bronkus dan disebut sebagai penyakit croup. Penyakit ini seringkali disebabkan oleh virus, yaitu virus parainfluenza,
adenovirus, virus influenza A dan B, RSV, dan virus campak. Selain itu, M. Pneumoniae juga dapat menyebabkan croup.
Infeksi oleh bakteri dan virus menyebabkan inflamasi dan edema pada laring, trakea, dan bronkus, sehingga menyebabkan
obstruksi jalan napas dan menimbulkan gejala, yaitu berupa afonia, suara stridor, dan batuk. Produksi mukus dapat terjadi dan
menyebabkan obstruksi jalan napas semakin parah. Tidak terdapat gangguan menelan. Gejala ini biasanya muncul saat malam
hari dan dapat membaik di pagi hari. Penyakit croup dapat sembuh sendiri dalam waktu 3 5 hari. 11
Tanda dan gejala
Tanda dan gejala dari laringitis yaitu:

Afonia, yaitu suara serak atau hilang suara

Nyeri tenggorokan

Batuk karena teriritasi

Stridor, biasanya ditemukan pada anak-anak10

iritasi pada tenggorokan yang menggelitik sehingga memicu keinginan untuk batuk, demam, dan nyeri tenggorokan 12

rhinorrhea

kongesti nasal
Pada pemeriksaan dengan laringoskopi, ditemukan tanda laringitis yaitu eritem laring difus, edema, dan pembengkakan
vaskular pada pita suara
Pada laringitis kronik, dapat ditemukan nodul dan ulkus pada mukosa 6
Pemeriksaan dan penegakan diagnosis
Diagnosis laringitis dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. 12 Hasil anamnesis yang
berkaitan dengan laringitis ini yaitu adanya batuk yang timbul sering di malam hari dan terdengar kasar. 9 Pemeriksaan fisik ini
mencakup pemeriksaan telinga, hidung, tenggorokan, dan leher. Pemeriksaan tenggorokan ini dapat menggunakan scope yang
kecil. Scope ini dimasukkan melalui hidung hingga terlihat laringnya. Pemeriksaan ini dapat memperoleh informasi mengenai
keadaan saraf laringeal yang mengatur pergerakan pita suara. 12Selain itu, suhu tubuh dapat normal atau naik sedikit. Auskultasi
perlu dilakukan untuk menilai suara napas di kedua paru. 9
Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu:

Laringoskop, yang menunjukkan adanya pita suara yang membengkak dan kemerahan

Kultur eksudat pada kasus laringitis yang lebih berat

Biopsi, yang biasanya dilakukan pada pasien laringitis kronik dengan riwayat merokok atau ketergantungan alkohol 9

pemeriksaan laboratorium CBC (complete blood cell count)

pemeriksaan foto toraks pada tanda dan gejala yang berat 10


Penatalaksanaan
Laringitis akut biasanya diatasi dengan:

istirahat yang cukup, terutama pada laringitis akibat virus. Istirahat ini juga meliputi pengistirahatan pita suara 9
pemberian antibiotik; antibiotik tidak disarankan kecuali bila penyebab berupa streptokokus grup A dapat ditemukan
melalui kultur. Pada kasus ini, antibiotik yang dapat digunakan yaitu penicillin 6

menghindari iritan yang memicu nyeri tenggorokan atau batuk

menghindari udara kering7

konsumsi cairan yang banyak

konsumsi asetaminofen atau ibuprofen untuk mengurangi nyeri

berhenti merokok dan konsumsi alkohol12

trakeostomi, jika terjadi edema laring

konsumsi antasida atau bloker histamin-2 pada laringitis dengan penyebab GERD 9
Sedangkan, penatalaksanaan laringitis kronik bergantung pada mikroorganisme penyebabnya, yang biasanya ditemukan melalui
biopsi dan kultur.6
Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi yaitu laringitis kronik. Selain itu, dapat terjadi perubahan suara jika gejala suara serak tersebut
terjadi selama 2 3 minggu. Perubahan suara ini dapat diakibatkan oleh refluks asam lambung atau pajanan terhadap bahan
iritan. Hal tersebut berisiko untuk menimbulkan keganasan pada pita suara. 12Pada pasien yang berusia lebih tua, laringitis bisa
lebih parah dan dapat menimbulkan pneumonia.7

Penyakit croup jarang menimbulkan komplikasi, namun beberapa komplikasi yang terjadi berkaitan dengan obstruksi jalan
napas, yaitu respiratory distress, hipoksia, atau superinfeksi bakteri. Kortikostreoid dapat digunakan untuk mengurangi
inflamasi. Pemberian epinefrin aerosol menimbulkan efek konstriksi pada mukosa dan dapat mengurangi edema. 11
Prognosis dari laringitis ini biasanya baik.Langkah pencegahan laringitis yang dapat dilakukan yaitu:

Menghindari pasien laringitis

Mencuci tangan secara teratur

Menghindari keramaian8

Pemberian vaksin H. Influenzae pada anak-anak

Tidak menggunakan suara secara berlebihan11


Polip hidung
DEFINISI
Polip hidung adalah kelainan mukosa hidung dan sinus paranasal terutama kompleks osteomeatal (KOM) di meatus nasi medius
berupa massa lunak yang bertangkai, bentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan. Permukaannya licin dan agak
bening karena banyak mengandung cairan. Bentuknya dapat bulat atau lonjong, tunggal atau multipel, sering bilateral dan
multipel. Polip merupakan manifestasi dari berbagai penyakit dan sering dihubungkan dengan sinusitis, rinitis alergi, asma, dan
lain-lain.
INSIDENS
Polip nasi ditemukan 1-4 % dari populasi, 36 % penderita dengan intoleransi aspirin, 20% pada penderita fibrosis kistik, 7%
pada penderita asma. Polip nasi lebih banyak ditemukan pada penderita asma non alergi (13%) dibanding penderita asma alergi
(5%). Polip nasi terutama ditemukan pada usia dewasa, hanya kurang lebih 0.1% ditemukan pada anak-anak, lebih sering
ditemukan pada laki-laki dibanding dengan wanita dengan rasio 2:1 atau 3:1 dan dapat ditemukan pada seluruh kelompok ras.
Bila ada polip pada anak di bawah usia 2 tahun, harus disingkirkan kemungkinan meningokel atau meningoensefalokel.
Table 1 Prevalence of nasal polyposis in different population subgroups
Aspirin intolerance

36-72%

Adult asthma

7%

IgE mediated

5%

Non-IgE mediated

13%

Chronic sinusitis in adults

2%

IgE mediated

1%

Non-IgE mediated

5%

Childhood asthma/sinusitis

0.1%

Cystic fibrosis
Children

10%

Adults

50%

Allergic fungal sinusitis


Primary ciliary dyskinesia

66-100%
40%

Adapted from Settipane et al.1


ETIOLOGI
Dulu diduga predisposisi timbulnya polip nasi ialah adanya rinitis alergi atau penyakit atopi, tetapi makin banyak penelitian
yang tidak mendukung teori ini dan para ahli sampai saat ini menyatakan bahwa etiologi polip nasi masih belum diketahui
dengan pasti.
Namun ada 3 faktor yang berperan dalam terjadinya polip nasi, yaitu :
1.

Peradangan. Peradangan mukosa hidung dan sinus paranasal yang kronik dan berulang.

2.

Vasomotor. Gangguan keseimbangan vasomotor.

3.

Edema. Peningkatan tekanan cairan interstitial sehingga timbul edema mukosa hidung. Terjadinya edema ini dapat
dijelaskan oleh fenomena Bernoulli.
Fenomena Bernoulli yaitu udara yang mengalir melalui tempat yang sempit akan menimbulkan tekanan negatif pada daerah
sekitarnya sehingga jaringan yang lemah ikatannya akan terisap oleh tekanan negatif tersebut. Akibatnya timbullah edema
mukosa. Keadaan ini terus berlangsung hingga terjadilah polip hidung. Ada juga bentuk variasi polip hidung yang disebut polip
koana (polipantrumkoana).
Polip koana (polip antrum koana) adalah polip yang besar dalam nasofaring dan berasal dari antrum sinus maksila. Polip ini
keluar melalui ostium sinus maksila dan ostium asesorisnya lalu masuk ke dalam rongga hidung kemudian lanjut ke koana dan
membesar dalam nasofaring.
Etiologi pasti masih belum diketahui tetapi polip nasi berhubungan dengan keadaan berikut ini:
1) Alergi
2) Sinusitis kronis
3) Fibrosis kistik
4) Acetylsalicylic acid (ASA) sensitivity triad.
KLASIFIKASI
Terdapat beragam klasifikasi polip nasi saat ini, antara lain adalah menurut; Mackay dan l.und (1995), Settipane (1997) dan
Stammberger (1997). Secara histologis, polip nasi dapat dibedakan menjadi polip eosinofilik dan neutrofilik.
Mackay dan Lund (1997) membuat pembagian stadium polip sebagai berikut :
stadium 0 : tidak ada polip
stadium 1 : polip masih terbatas di meatus medius
stadium 2: polip sudah keluar dari meatus medius, tampak di rongga hidung tapi belum memenuhi rongga hidung
stadium 3: polip yang masif.
Klasifikasi yang cukup mudah dalam aplikasinya dan yang digunakan saat ini adalah menurut Settipane (1997):

I. UNILATERAL
A. Sel predominan : Eosinofil
B. Sel predominan : Limfosit, neutrofil dan sel darah merah. Singkirkan neoplasma
II. ILATERAL
A. Sel predominan : Eosinofil
1. Dua atau lebih tetrad rolip ( intoleransi aspirin, asma, sinusitis).
2. Rinitis alergi
3. Sinusitis jamur alergi.
4. Sindrom Churg Strauss
B. Sel predominan : Limfosit, neutrofil
1. Fibrosis kistik
2. Sindrom Kartagener
3. Sindrom Young
III. INFORMASI TAMBAHAN LAINNYA
1.

Jumlah rekurensi

2.

Asal anatomis

3.

Erosi tulang

4.

Abnormalitas sistem imunologis


HISTOPATOLOGI
Secara makroskopik polip merupakan massa dengan permukaan licin, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna pucat keabuabuan, lobular, dapat tunggal atau multipel dan tidak sensitif (bila ditekan/ditusuk tidak terasa sakit). Warna polip yang pucat
tersebut disebabkan oleh sedikitnya aliran darah ke polip. Bila terjadi iritasi kronis atau proses peradangan warna polip dapat
berubah menjadi kemerah-merahan dan polip yang sudah menahun warnanya dapat menjadi kekuning-kuningan karena banyak
mengandung jaringan ikat.
Tempat asal tumbuhnya polip terutama dari tempat yang sempit di bagian atas hidung, di bagian lateral konka media dan sekitar
muara sinus maksila dan sinus etmoid. Di tempat-tempat ini mukosa hidung saling berdekatan. 20,25 Bila ada fasilitas pemeriksaan
dengan endoskop, mungkin tempat asal tangkai polip dapat dilihat. Dari penelitian Stammberger 25 didapati 80% polip nasi
berasal dari celah antara prosesus unsinatus, konka media dan infundibulum.
Ada polip yang tumbuh ke arah belakang dan membesar di nasofaring, disebut polip koana. Polip koana kebanyakan berasal
dari dalam sinus maksila dan disebut juga polip antro-koana. Menurut Stammberger polip antrokoana biasanya berasal dari kista
yang terdapat pada dinding sinus maksila. Ada juga sebagian kecil polip koana yang berasal dari sinus etmoid posterior atau
resesus sfenoetmoid.
Secara mikroskopis tampak epitel pada polip serupa dengan mukosa hidung normal yaitu epitel bertingkat semu bersilia dengan
submukosa yang sembab. Sel-selnya terdiri dari limfosit, sel plasma, eosinofil, neutrofil dan makrofag. Mukosa mengandung
sel-sel goblet. Pembuluh darah, saraf, kelenjar sangat sedikit. Polip yang sudah lama dapat mengalami metaplasia epitel karena

sering terkena aliran udara, menjadi epitel transisional, kubik atau gepeng berlapis tanpa keratinisasi. Berdasarkan jenis sel
peradangannya, polip dikelompokkan menjadi 2, yaitu polip tipe eosinofilik dan tipe neutrofilik.
PATOFISIOLOGI
Patofisiologi polip nasi masih belum dimengerti. Nothing has been as fruitless as research directed to patofisiologi dan
penyebab polip nasi.
It would appear that there are three type of polip nasi in clinical practice. A small minority of patients are fortunate memiliki
polip sangat besar yang berasal dari choncha media sinus maksilaris extending to nose, koana dan throat, rarely. Polip, also
named polip antrochoana, unilateral and completely isolated since there is usually only one. The cure rate with proper surgical
removal by the endoscopic approach is almost 100%, compared to the surgical cure rate of the run-of-the-mill, polip nasi
bilateral multipel.
Polip nasi bilateral multipel timbul pada pasien kelompok antara 10 hingga 20 dengan polip kecil pada tiap rongga hidung,
berukuran 3 hingga 20 mm.
Kelompok terakhir adalah poliposis nasi yang tidak pernah sembuh yang berhubungan dengan sinusitis kronik hiperplastik
yang berat. Pada kasus ini, polip nasi berhubungan dengan edema berat pada seluruh permukaan mukosa sinonasal, sulit
membedakan yang mana polip membengkak atau mukosa edema. Ini merupakan tipe polip berhubungan dengan the ASA
sensitivity triad dan fibrosis kistik.
Pembentukan polip sering diasosiasikan dengan inflamasi kronik, disfungsi saraf otonom serta predisposisi genetic. Menurut
teori Bemstein, terjadi perubahan mukosa hidung akibat peradangan atau aliran udara yang berturbulensi, terutama di daerah
sempit di kompleks ostiomeatal. Terjadi prolaps submukosa yang diikuti oleh reepitelisasi dan pembentukan kelenjar baru. Juga
terjadi peningkatan penyerapan natrium oleh permukaan sel epitel yang berakibat retensi air sehingga terbentuk polip.
Teori lain mengatakan karena ketidak seimbangan saraf vasomotor terjadi peningkatan permeabilitas kapiler dan gangguan
regulasi vakular yang mengakibatkan dilepasnya sitokin-sitokin dari sel mast, yang akan menyebabkan edema dan lamakelamaan menjadi polip.
Bila proses terus berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar menjadi polip dan kemudian akan turun ke rongga hidung
dengan membentuk tangkai.
GEJALA KLINIS
Gejala utama dari polip nasi adalah obstruksi nasi, penurunan indera penciuman dan perasa, dan rhinore anterior. Pada
pemeriksaan fisik, polip nasi kadang-kadang terlihat sebagai massa edematous, seperti tear-shaped-grape dalam hidung. They
are much less vascular than nasal turbinates, but instead more watery. They are anesthetic to manipulation and do not bleed
nearly as much as turbinates when instrumented. Polip nasi patient has a very typical hyponasal vibrating voice. This type of
voice often results in family and friends stating that the patient always sounds like he or she has a cold.
Polip antrokoana akan memperlihatkan obstruksi nasi yang berat dan pada pemeriksaan nasofaring pemeriksa dapat melihat
polip yang mengantung pada koana. Polip ini biasanya selalu unilateral.
DIAGNOSIS
Cara menegakkan diagnosa polip hidung, yaitu :
1.

Anamnesis.

2.

Pemeriksaan fisik. Terlihat deformitas hidung luar.

3.

Rinoskopi anterior. Mudah melihat polip yang sudah masuk ke dalam rongga hidung.

4.

Endoskopi. Untuk melihat polip yang masih kecil dan belum keluar dari kompleks osteomeatal.

5.
6.

Foto polos rontgen & CT-scan. Untuk mendeteksi sinusitis.


Biopsi. Kita anjurkan jika terdapat massa unilateral pada pasien berusia lanjut, menyerupai keganasan pada penampakan
makroskopis dan ada gambaran erosi tulang pada foto polos rontgen.
Anamnesis untuk diagnosis polip hidung :

1.

Hidung tersumbat.

2.

Terasa ada massa di dalam hidung.

3.

Sukar membuang ingus.

4.

Gangguan penciuman : anosmia & hiposmia.

5.

Gejala sekunder. Bila disertai kelainan jaringan & organ di sekitarnya seperti post nasal drip, sakit kepala, nyeri muka,
suara nasal (bindeng), bernafas melalui mulut, halitosis, telinga rasa penuh, mendengkur, gangguan tidur dan penurunan
kualitas hidup.
Gejala pada saluran napas bawah didapati pada kurang lebih sepertiga kasus polip, dapat berupa batuk kronik dan
mengi, terutama pada penderita polip nasi dengan asma.
Selain itu harus ditanyakan riwayat rinitis alergi, asma, intoleransi terhadap aspirin dan alergi obat lainnya serta alergi makanan.
Pemeriksaan Fisik
Polip nasi yang masif dapat menyebabkan deformitas hidung luar sehingga hidung tampak mekar karena pelebaran batang
hidung. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior terlihat sebagai massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius dan
mudah digerakkan.
Naso-endoskopi
Adanya fasilitas endoskop (teleskop) akan sangat membantu diagnosis kasus polip yang baru.Polip stadium 2 kadang-kadang
tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan nasoendoskopi.
Pada kasus polip koanal juga sering dapat dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila.
Pemeriksaan Radiologi
Foto polos sinus paranasal (posisi Waters, AP, Caldwell dan lateral) dapat memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas
udara-cairan di dalam sinus, tetapi sebenarnya kurang bermafaat pada kasus polip nasi karena dapat memberikan kesan positif
palsu atau negatif palsu, dan tidak dapat memberikan informasi mengenai keadaan dinding lateral hidung dan variasi anatomis
di daerah kompleks ostio-meatal. Pemeriksaan tomografi komputer (TK, CT scan) sangat bermanfaat untuk melihat dengan
jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan pada kompleks
ostiomeatal. TK terutama diindikasikan pada kasus polip yang gagal diobati dengan terapi medikamentosa, jika ada komplikasi
dari sinusitis dan pada perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi. Biasanya untuk tujuan penapisan dipakai
potongan koronal, sedangkan pada polip yang rekuren diperlukan juga potongan aksial.
TERAPI
Tujuan utama pengobatan pada kasus polip nasi ialah menghilangkan keluhan-keluhan yang dirasakan oleh pasien. Selain itu
juga diusahakan agar frekuensi infeksi berkurang, mengurangi/menghilangkan keluhan pernapasan pada pasien yang disertai
asma, mencegah komplikasi dan mencegah rekurensi polip.
Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga polipektomi medikamentosa. Untuk polip stadium 1 dan
2, sebaiknya diberikan kortikosteroid intranasal selama 4-6 minggu. Bila reaksinya baik, pengobatan ini diteruskan sampai polip
atau gejalanya hilang. Bila reaksinya terbatas atau tidak ada perbaikan maka diberikan juga kortikosteroid sistemik. Perlu
diperhatikan bahwa kortikosteroid intranasal mungkin harganya mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian pasien, sehingga
dalam keadaan demikian langsung diberikan kortikosteroid oral. Dosis kortikosteroid saat ini belum ada ketentuan yang baku,

pemberian masih secara empirik misalnya diberikan Prednison 30 mg per hari selama seminggu dilanjutkan dengan 15 mg per
hari selama seminggu. Menurut van Camp dan Clement dikutip dari Mygind dan, Lidholdt untuk polip dapat diberikan
prednisolon dengan dosis total 570 mg yang dibagi dalam beberapa dosis, yaitu 60 mg/hari selama 4 hari, kemudian dilakukan
tapering off 5 mg per hari. Menurut Naclerio pemberian kortikosteroid tidak boleh lebih dari 4 kali dalam setahun. Pemberian
suntikan kortikosteroid intrapolip sekarang tidak dianjurkan lagi mengingat bahayanya dapat menyebabkan kebutaan akibat
emboli. Kalau ada tanda-tanda infeksi harus diberikan juga antibiotik. Pemberian antibiotik pada kasus polip dengan sinusitis
sekurang-kurangnya selama 10-14 hari.
Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang sangat masif dipertimbangkan untuk terapi
bedah. Terapi bedah yang dipilih tergantung dari luasnya penyakit (besarnya polip dan adanya sinusitis yang menyertainya),
fasilitas alat yang tersedia dan kemampuan dokter yang menangani. Macamnya operasi mulai dari polipektomi intranasal
menggunakan jerat (snare) kawat dan/ polipektomi intranasal dengan cunam (forseps) yang dapat dilakukan di ruang tindakan
unit rawat jalan dengan analgesi local, kategori polip yang diangkat adalah polip yang besar namun belum memadati rongga
hidung;
Etmoidektomi intranasal atau etmoidektomi ekstranasal untuk polip etmoid, kriteria polip yang diangkat adalah polip yang
sangat besar, berulang, dan jelas terdapat kelainan di kompleks osteomeatal; Operasi Caldwell-Luc untuk sinus maksila. Yang
terbaik ialah bila tersedia fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan endoskopi untuk polipektomi saja, atau disertai
unsinektomi atau lebih luas lagi disertai pengangkatan bula etmoid sampai Bedah Sinus Endoskopik Fungsional lengkap. Alat
mutakhir untuk membantu operasi polipektomi endoskopik ialah microdebrider (powered instrument) yaitu alat yang dapat
menghancurkan dan mengisap jaringan polip sehingga operasi dapat berlangsung cepat dengan trauma yang minimal.
Untuk persiapan prabedah, sebaiknya lebih dulu diberikan antibiotik dan kortikosteroid untuk meredakan inflamasi sehingga
pembengkakan dan perdarahan berkurang, dengan demikian lapang-pandang operasi lebih baik dan kemungkinan trauma dapat
dihindari. Berikan antibiotik bila ada tanda infeksi dan untuk langkah profilaksis pasca operasi.
Pasca bedah perlu kontrol yang baik dan teratur mengunakan endoskop, dan telah terbukti bahwa pemberian kortikosteroid
intranasal dapat menurunkan kekambuhan