You are on page 1of 21

Mitigasi Tsunami

Mitigasi Tsunami
Mitigasi meliputi segala tindakan yang mencegah bahaya, mengurangi
kemungkinan terjadinya bahaya, dan mengurangi daya rusak suatu
bahaya yang tidak dapat dihindarkan. Mitigasi adalah dasar managemen
situasi darurat. Mitigasi dapat didefinisikan sebagai aksi yang
mengurangi atau menghilangkan resiko jangka panjang bahaya bencana
alam dan akibatnya terhadap manusia dan harta-benda (FEMA, 2000).
Mitigasi adalah usaha yang dilakukan oleh segala pihak terkait pada
tingkat negara, masyarakat dan individu.
Untuk mitigasi bahaya tsunami atau untuk bencana alam lainnya, sangat
diperlukan ketepatan dalam menilai kondisi alam yang terancam,
merancang dan menerapkan teknik peringatan bahaya, dan
mempersiapkan daerah yang terancam untuk mengurangi dampak negatif
dari bahaya tersebut. Ketiga langkah penting tersebut: 1) penilaian
bahaya (hazard assessment), 2) peringatan (warning), dan 3)
persiapan (preparedness) adalah unsur utama model mitigasi. Unsur
kunci lainnya yang tidak terlibat langsung dalam mitigasi tetapi sangat
mendukung adalah penelitian yang terkait (tsunami-related research).
Langkah-langkah mitigasinya:
1) Menerbitkan peta wilayah rawan bencana
2) Memasang rambu-rambu peringatan bahaya dan larangandi wilayah rawan
bencana
3) Mengembangkan sumber daya manusia satuan pelaksana
4) Mengadakan pelatihan penanggulangan bencana kepada masyarakat di
wilayah rawan bencana
5) Mengadaka penyuluhan atas upaya peningkatan kewaspadaan masyarakat
di wilayah rawan bencana
6) Menyiapkan tempat penampungan sementara di jalur-jalur evakuasi jika
terjadi bencana
7) Memindahkan masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana ke
tempat yang aman
8) Membuat banguna untuk mengurangi dampak bencana
9) Membentuk pos-pos siaga bencana
Penerapan teknologi informasi terhadap tanda-tanda bencana alam
1. Radio komunikasi
Radio komunikasi adalah pilihan mutlak untuk komunikasi di tingkat
lokal,terutama bagi satuan tugas pelaksana penaggulangn bencana alam
dan penangana pengungsi. Alat ini minimal telah tersebar di seluruh
wilayah rawan bencana.
2. Telepon
Melalui telepon , semua pihak dapat berbagi informasi dan komunikasi
dengan mudah karena hampir semua masyarakat mempunyai telepon
3. Pengeras suara
Pengeras suara merupakan pilihan untuk mengkomunikasikan kondisi
kerawanan bencana alam dalamcakupan wilayah yang sangat terbatas
4. Kentongan

Kentongan adalah alat komunikasi tradisional yang cukup akrab dengan


kehidupan masyarakat di berbagai pelosok dikawasa di indonesia. Isi
pesan yang disampaikan melalui tanda kentongan hendaknya singkat dan
bermakna. Seperti bunyi kentongan yang berbeda memiliki arti yang
berbeda juga.
Menghindari Dampak Tsunami
a. Sebelum terjadinya tsunami
Mengenali apa yang disebut tsunami
Memastikan struktur dan letak rumah
Jika tinggal atau berada di pantai, segera menjauhi pantai
Jika terjadi getaran atau gempa bumi, segera menjauhi pantai
Selalu sedia alat komunikasi
b. Saat terjadi tsunami
Bila berada di dalam ruangan, segera keluar untuk menyelamatkan diri
Berlari menjauhi pantai
Berlari ke tempat yang aman atau tempat lebih tinggi
c. Sesudah terjadi tsunami
Periksa jika ada keluarga yang hilang ataupun yang terluka
Minta pertolongan jika ada keluarga yang yang hilang atau terluka
Jangan berjalan di sekitar daerah tsunami atau pantai, karena
kemungkinan terjadi bahaya susulan

Daftar Tsunami di Indonesia


Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat, wilayah Indonesia
digempur 13 tsunami selama 44 tahun terakhir, sejak 1965 hingga 2009. Dari 13
kali tsunami itu, korban terbanyak terjadi di Aceh pada 26 Desember 2006
dengan 79.940 korban tewas.
Gelombang tsunami tertinggi yang menerjang wilayah pesisir Indonesia terjadi
pada 12 Desember 1992 dengan tinggi mencapai 26 meter, kata peneliti
tsunami LIPI Irina Rafliana di Padang, Jumat (20/3/2009). Irina di Padang sebagai
pembicara pada seminar Building Model For Disaster Preparedness yang
digelar Kogami Indonesia bersama Unesco di Padang, 17-19 Maret 2009. Ia
menyebutkan, dalam 44 tahun terakhir, tsunami pertama terjadi di Seram,
Maluku, 24 Januari 1965 dengan ketinggian gelombang empat meter dan
menewaskan 71 orang.
Selanjutnya, pada 11 April 1967 terjadi di Tinabung, Sumatera Selatan dengan
jumlah korban tewas 58 orang. Pada 14 Agustus 1968 di Tambu, Sulawesi Tengah
menewaskan 200 orang dengan ketinggian gelombang mencapai 10 meter.
Kemudian 23 Februari 1969 di Majene, Sulawesi Selatan dengan tinggi
gelombang mencapai 10 meter dan menewaskan 64 korban.

Pada 19 Agustus 1977, gelombang tsunami setinggi 15 meter menerjang pesisir


Sumbar, Nusa Tenggara Timur menewaskan 316 korban. Berikutnya, 25
Desember 1982 tsunami terjadi di Larantuka, NTT yang menimbulkan 13 korban
tewas. Pada 12 Desember 1992 terjadi tsunami dengan ketinggian mencapai 26
meter di Flores, NTT dengan korban jiwa mencapai 2.100 orang.
Pada 2 Juni 1994 tsunami setinggi 14 meter melanda Banyuwangi, Jawa Timur
menyebabkan 238 korban tewas. Pada 1 Januari 1996 tsunami setinggi enam
meter melanda Palu, Sulawesi Tengah dengan sembilan korban tewas.
Kemudian 17 Februari 1996 tsunami setinggi 12 meter menerjang pesisir Biak,
Papua menyebabkan 160 orang tewas dan 28 Nevember 1998 di Taliabu, Maluku
Utara tsunami dengan ketinggian tiga meter menyebabkan 34 orang tewas.
Pada 4 Mei 2000 tsunami setinggi tiga meter melanda Banggai, Sulteng
menyebabkan 50 korban tewas dan tsunami terbesar pada 26 Desember 2004
melanda Aceh dengan ketinggian gelombang mencapai 10 meter dan
menewaskan 79.940 orang.
Diposkan oleh Laporan Tugas ICT di 20.52 0 komentar

Selasa, 29 November 2011


Tsunami
A. DEFINISI TSUNAMI
Tsunami berasal dari bahasa jepang yaitu Tsu = pelabuhan dan Nami = Gelombang.
Jadi Tsunami berarti pasang laut besar dipelabuhan. Dalam imu kebumian terminology ini
dikenal dan baku secara umum. Secara singkat Tsunami dapat dideskripsikan sebagai
gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh oleh suatu gangguan
impulsive yang terjadi pada medium laut, seperti gempa bumi, erupsi vulkanik atau
longsoran.
Gangguan impulsive tsunami biasanya berasal dari tiga sumber utama, yaitu :
-- Gempa didasar laut,
-- Letusan Gunung api didasar laut, dan
-- Longsoran yang terjadi didasar laut.
Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gaya impulsive bersifat transien yaitu
gelombangnya bersifat sesar. Gelombang semacam ini berbeda dengan gelombang laut
lainnya yang bersifat kontinyu, seperti gelmbang laut yang ditimbulkan oleh gaya tarik benda
angkasa. Periode tsunami ini berkisar antara 10-60 menit. Gelombang tsunami mempunyai
panjang gelombang yang besar sampai mencapai 100 km. Kecepatan rambat gelombang
tsunami di laut dalam mencapai 500-1000 km/jam. Kecepatan penjalaran tsunami ini sangat
tergantung dari kedalaman laut dan penjalarannya dapat berlangsung mencapai ribuan
kilometer. Apabila tsunami mencapai pantai, kecepatannya dapat mencapai 50 km/jam dan

energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Kalau ditengah laut tingi
gelombang tsunami paling besar sekitar 5 meter, maka pada saat mencapai pantai tinggi
gelombang dapat mencapai puluhan meter.
B. IDENTIIKASI DAERAH RAWAN TSUNAMI
Analisis Bahaya Tsunami

Analisa bahaya tsunami ditujukan untuk mengidentifikasi daerah yang akan terkena
bahaya tsunami. Daerah bahaya tsunami tersebut dapat diidentifikasi dengan 2 (dua)
metode :
-- Mensimulasikan hubungan antara pembangkit tsunami (gempa bumi, letusan gunung api,
longsoran dasar laut) dengan tinggi gelombang tsunami. Dari hasil simulasi tinggi
gelombang tsunami tersebut kemudian disimulasikan lebih lanjut dengan kondisi tata guna,
topografi, morfologi dasar laut serta bentuk dan struktur geologi lahan pesisir.
-- Memetakan hubungan antara aktivitas gempa bumi, letusan gunung api, longsoran dasar
laut dengan terjadinya elombang tsunami berdasarkan sejarah terjadinya tsunami. Dari hasil
analisa tersebut kemudian diidentifikasi dan dipetakan lokasi yang terkena dampak
gelombang tsunami.
Analisis Tingkat Kerentanan terhadap Tsunami.
Analisa kerentanan ditujukan untuk mengidentifikasi dampak terjadinya tsunami yang
berupa jumlah korban jiwa dan kerugian ekonomi, baik dalam jangka pendek yang berupa
hancurnya pemukiman infrastruktur, sarana dan prasarana serta bangunan lainnya, maupun
jangka panjang yang berupa terganggunya roda perekonomian akibat trauma maupun
kerusakan sumberdaya alam lainnya.
Analisa kerentanan tersebut didasarkan beberapa aspek, antara lain tingkat kepadatan
pemukiman di daerah rawan tsunami, tingkat ketergantungan perekonomian masyarakat
pada sector kelautan, keterbatasan akses transportasi untuk evakuasi maupun
penyelamatan serta keterbatasan akses komunikasi.
Analisis Tingkat Ketahanan Terhadap Tsunami
Analisa tingkat ketahanan ditujukan untuk mengidentifikasi kemampuan pemerintah
serta masyarakat pada umumnya untuk merespn terjadinya bencana tsunami sehingga
mampu mengurangi dampaknya. Analisis tingkat ketahanan tersebut dapat diidentifikasi dari
3 (tiga) aspek, yaitu :
Jumlah tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk
Kemampuan mobilias masyarakat dalam evakuasi dan penyelamatan, dan
Ketersedian peralatan yang dapat dipergunakan untuk evakuasi.
C. MITIGASI BENCANA TSUNAMI
Mitigasi adalah segenap usaha untuk meminimalisir kerugian dan resiko akibat
bencana alam. Perlu kita sadari, bahwa gempa sangat jarang sekali membunuh, umumnya
yang membunuh itu adalah reruntuhan bangunan akibat gempa dan si korban tidak

melindungi diri dari bangunan tersebut.


Mitigasi dapat dilakukan dengan tiga tahapan yaitu : sebelum terjadi, ketika
berlangsung dan setelah terjadi gempa bumi.

1. Sebelum terjadi gempa


- Kenalilah dengan baik TANDA-TANDA datangnya Tsunami, seperti:
Air laut yang surut secara tiba-tiba
Terciumnya bau garam yang menyengat secara tiba-tiba.
Munculnya BUIH BUIH AIR sangat banyak di pantai secara tiba-tiba.
Terlihat gelombang hitam tebal memanjang di garis cakrawala.
- Memperkuat desain bangunan serta infrastruktur lainnya dengan kaidah teknik bangunan
tahan bencana tsunami dan tata ruang akrab bencana, dengan mengembangkan beberapa
insentif anatara lain Retrofitting dan Relokasi.
- penanaman hutan mangrove/ green belt, disepanjang kawasan pantai dan perlindungan
terumbu karang
- Pembangunan breakwater, seawall, pemecah gelombang sejajar pantai untuk menahan
tsunami,
- Kebijakan tentang tata guna lahan/ tata ruang/ zonasi kawasan pantai yang aman
bencana,
- Kebijakan tentang standarisasi bangunan (pemukiman maupun bangunan lainnya) serta
infrastruktur sarana dan prasarana,
- Mikrozonasi daerah rawan bencana dalam skala local,
- Pembuatan peta potensi bencana tsunami, peta tingkat kerentanan dan peta tingkat
ketahanan, sehingga dapat didesain komplek pemukiman akrab bencana yang
memperhaikan berbagai aspek,
- Kebijakan tentang eksplorasi dan kegiatan perekonomian masyarakat kawasan pantai,
- Pelatihan dan simulasi mitigasi bencana tsunami,
- Penyuluhan dan sosialisasi upaya mitigasi bencana tsunami dan,
- Pengembangan system peringatan dini adanya bahaya tsunami.
- Kenali areal rumah, sekolah, tempat kerja, atau tempat lain yang beresiko.
- Mengetahui pusat informasi bencana, seperti Posko Bencana, Palang Merah Indonesia, Tim
SAR.
- Siagakanlah peralatan seperti senter, kotak P3K, makanan instan dsb. Sediakan juga Radio,
karena pada saat tsunami alat komunikasi dan informasi lain seperti Telpon, HP, Televisi,
Internet akan terganggu. Radio yang hanya menggunakan baterai akan sangat berguna
disaat bencana. Dan kotak Persediaan Pengungsian tersebut dimasukan ke dalam suatu
tempat yang mudah dibawa (ransel punggung) dan disimpan di tempat yang mudah digapai
pada saat tsunami berlangsung seperti di belakang pintu keluar.

- Catatlah telepon-telepon penting seperti Pemadam kebakaran, Rumah sakit dll.

2. Selama terjadi gempa


- Yang pertama sekali adalah DONT BE PANIC, kuasai diri anda bahwa anda dapat lepas
dari bencana tersebut.
- Jika air laut surut secara tiba-tiba , JANGAN mengambil ikan yang ada di pantai.
- Jika berada di pantai atau di dekat pantai, panjat bangunan atau pohon yang tinggi, yang
paling dekat dari anda.
- Jika anda sedang berada di atas kapal di tengah laut, segera pacu kapal anda kearah laut
yang lebih jauh.
- Utamakan keselamatan jiwa daripada harta.
- Berdoa dan beristigfar kepada Allah semoga diberi keselamatan

3. Sesudah terjadi gempa


- Periksa sekeliling anda, apakah ada kerusakan, baik itu listrik padam, kebocoran gas,
dinding retak dsbnya. Periksa juga apakah ada yang terluka. Jika ya, lakukanlah
pertolongan pertama.
- Hindari bangunan yang kelihatannya hampir roboh atau berpotensi untuk roboh
- Jangan ke arah pantai sampai peringatan bahaya dicabut Banyak kali tsunami datang
dalam 2 atau 3 kali.
- Cari posko bantuan terdekat.
- Carilah informasi tentang gempa tersebut, gunakanlah radio tadi.

Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami


// Rubrik Pendidikan Majalah 1000guru February 2012 //

Mitigasi bencana gempa yang dilakukan oleh pemerintah ialah memberi peringatan dini saat
terjadi gempa bumi. Sedangkan untuk mendeteksi kemungkinan adanya bahaya tsunami,
telah dipasang beberapa alat peringatan tsunami di beberapa perairan Indonesia di antaranya
di Samudra Hindia sepanjang pantai barat Sumatera, Selat Sunda, Utara dan Pulau Komodo.
Saat ini telah terpasang lebih dari 90 alat pendeteksi tsunami yang dipasang di perairan
Indonesia.

Alat pendeteksi tsunami yang dipasang di perairan Indonesia (Sumber:


www.beritajakarta.com)
Jepang telah membangun dinding penahan tsunami setinggi 4,5 10 meter pada daerah
pantai yang padat penduduk. Ketika gempa tahun 1993 menimpa Hokkaido tahun 2011 lalu
di area Tohoku, tinggi gelombang tsunami mencapai 30 m. Dinding penahan terlampaui
namun dapat mengurangi kecepatan tsunami. Korban jiwa memang tidak terhindarkan.
Dinding semacam ini dapat digunakan di Aceh atau daerah lainnya (Pangandaran) yang
rawan Tsunami, namun efektivitas dinding penahan tersebut perlu dilakukan penelitian.
Pembuatan model dengan alat sentrifugal dan uji laboratorium dapat mensimulasikan tinggi
gelombang yang dikehendaki.
Mitigasi harus memperhatikan semua tindakan yang diambil untuk mengurangi pengaruh dari
bencana dan kondisi yang peka dalam rangka mengurangi bencana yang lebih besar di
kemudian hari. Oleh karena itu, seluruh aktivitas mitigasi difokuskan pada bencana itu sendiri
atau bagian/elemen dari ancaman.
Tsunami Early Warning System (TEWS) adalah upaya untuk mitigasi bencana tsunami. Hal
sederhana yang dapat dilakukan untuk memberi peringatan dini bagi penduduk yang berada
di sekitar kota/pantai yang memiliki potensi tsunami adalah memberi peringatan melalui
sirene atau televisi/radio lokal yang dapat dengan segera mensosialisasikan akan terjadinya
Tsunami. Menurut pengalaman di Aceh ada jeda waktu sekitar 30 menit sampai gelombang
mencapai pantai. Saat ini di daerah yang rawan seperti Aceh dan Pangandaran sedang
disiapkan perangkat alat pendeteksi dini untuk memperkirakan terjadinya gempa maupun
tsunami.
Sudah menjadi keharusan bagi Indonesia untuk memiliki suatu sistem peringatan dini
tsunami TEWS yang terintegrasi, apalagi dengan pengalaman yang menimpa negeri semaju
Jepang yang tetap kewalahan menghadapi tsunami. Sejauh ini, Indonesia telah menerima

bantuan beberapa unit buoy dari Jerman, Norwegia, dan beberapa negara sahabat. Bahkan
beberapa waktu lalu, Indonesia juga telah menerima satu unit buoy dari Amerika Serikat.
Buoy adalah sebuah alat pendeteksi tsunami (Deep-Ocean Assessment and Reporting of
Tsunami/DART) yang terapung di permukaan laut dan merupakan bagian dari skema
teknologi TEWS yang disandingkan dengan perangkat OBU (Ocean Bottom Unit) yang
terpasang di dasar laut. OBU dipasang bersama seismometer untuk mendeteksi kekuatan
gempa di dasar laut. Ketika terjadi getaran gempa, OBU akan mengirimkan informasi
kekuatan gempa ke buoy yang dilengkapi dengan penerima GPS (Global Positioning System)
untuk memberikan data posisi derajat lintang dan derajat bujur unit yang terapung.
Kemudian, buoy langsung memberikan informasi lewat satelit pemancar untuk diteruskan ke
master station yang ada di daratan. Jika kekuatan gempa mengindikasikan akan ada tsunami,
pihak terkait yang berada di master station segera memberikan informasi ke beberapa
institusi untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat berupa alarm maupun
penyiaran darurat radio dan televisi.

Skema kerja TEWS (Sumber: www.majalaheindonesia.com)


Selain itu prinsip TEWS harus pula memperhatikan hal-hal berikut ini.
1. Dibangun dengan konstruksi tahan getaran/gempa khususnya di
daerah
rawan
gempa.
Konstruksi bangunan tahan gempa biasanya di desain agar memberikan
rasa aman bagi penghuninya terhadap bencana gempa. Dengan mengikuti
konstruksi yang tahan gempa ini, dampak gempa dapat diminimalkan
sehingga korban jiwa akibat runtuhnya bangunan juga akan lebih sedikit.
2. Penguatan bangunan dengan mengikuti standar kualitas terbaik.
Setiap bangunan tentunya harus memiliki standar kualitas bangunan yang
baik. Dengan mengikuti standar yang ada, bangunan akan kokoh dan
dapat bertahan terhadap goncangan atau getaran yang diakibatkan oleh
gempa bumi. Bangunan yang mengikuti standar ialah bangunan yang

dibuat dengan perencanaan yang matang agar aman dan nyaman untuk
ditempati.
3. Pembangunan fasilitas umum dengan standar kualitas yang
tinggi.
Kegiatan pembangunan fasilitas umum seperti sekolah, pasar, rumah
sakit, dan yang lainnya juga harus memiliki standar kualitas yang tinggi.
Rumah sakit terutama sebagai fasilitas umum yang sifatnya penting
dalam kondisi darurat saat bencana harus memiliki bangunan yang kuat.
4. Pengaturan daerah pemukiman untuk mengurangi
kepadatan hunian di daerah rawan gempa bumi.

tingkat

5. Zonasi daerah rawan gempa bumi dan pengaturan penggunaan


lahan.
Kegiatan zonasi dapat dilakukan dengan bantuan ilmu terapan seperti
Sistem Informasi Geografi (SIG) yang mampu memberikan gambaran dari
kondisi/fenomena yang terjadi di permukaan bumi. Indonesia sudah sarat
pengalaman gempa. Oleh karena itu, selain mempelajari proses terjadinya
gempa bumi, kita masih harus mau belajar dari pengalaman masa lalu
agar mampu meminimalkan dampak gempa bumi. Untuk jangka panjang,
pemerintah bersama-sama peneliti ilmu geofisika perlu membuat peta
zonasi gempa bumi tektonik. Peta semacam ini secara global sudah ada,
namun perlu dikembangkan peta yang lebih rinci, misalnya peta zonasi
gempa untuk setiap provinsi atau bahkan setingkat kabupaten, disertai
dengan peraturan bangunan tahan gempa. Di samping itu, perlu
diupayakan untuk merapatkan jaringan seismograf (alat pendeteksi dan
pencatat gempa bumi) di seluruh wilayah Indonesia, sehingga peta
bencana dapat dibuat per kecamatan atau bahkan per desa.Untuk jangka
pendek, perlu dilakukan riset yang lebih rinci di setiap segmen patahan
(sesar) aktif seperti Sesar Opak (Bantul), Sesar Menoreh (Kulon Progo),
serta sesar-sesar mikro aktif lainnya, yang sering memicu terjadinya
gempa bumi tektonik. Perlu juga disarankan kepada penduduk untuk tidak
bermukim di wilayah yang diperkirakan rawan gempa bumi. Selain itu,
studi deformasi kerak bumi dilakukan dengan jalan pemantauan dan
monitoring gempa bumi mikro, pergerakan kerak bumi, memetakan sesarsesar aktif, dan mempelajari karakteristik seismologi suatu daerah.
Memang benar terjadinya gempa bumi tidak dapat kita cegah, tetapi para
pakar dapat memprediksi dan melakukan langkah antisipasi.
6. Pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya
gempa bumi dan cara cara penyelamatan diri jika terjadi gempa
bumi.
Berbagai cara telah dilakukan oleh pemerintah maupun Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) yang konsen terhadap mitigasi bencana. Pendidikan dan
penyuluhan ini penting bagi masyarakat di daerah rawan gempa dan
sekaligus rawan tsunami.

Bahan bacaan:

Tommy Ilyas. 2006. Mitigasi Gempa dan Tsunami di Daerah perkotaan.


Makalah Seminar Bidang Kerekayasaan, Fakultas Teknik, Universitas Sam
Ratulangi.

Penulis:
Rudiono, staf pengajar di STKIP PGRI Pontianak, menempuh pascasarjana di Universitas
Gadjah
Mada,
Yogyakarta.
Kontak: onorudyasv(at)yahoo(dot)co(dot)id.

Identifikasi dan Mitigasi Bencana Tsunami


Tsunami berasal dari bahasa jepang yaitu Tsu = pelabuhan dan Nami = Gelombang. Jadi
Tsunami berarti pasang laut besar dipelabuhan. Dalam imu kebumian terminology ini dikenal
dan baku secara umum. Secara singkat Tsunami dapat dideskripsikan sebagai gelombang laut
dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh oleh suatu gangguan impulsive yang terjadi
pada medium laut, seperti gempa bumi, erupsi vulkanik atau longsoran.
Gangguan impulsive tsunami biasanya berasal dari tiga sumber utama, yaitu :
1. Gempa didasar laut,
2. Letusan Gunung api didasar laut, dan
3. Longsoran yang terjadi didasar laut.

Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gaya impulsive bersifat transien yaitu
gelombangnya bersifat sesar. Gelombang semacam ini berbeda dengan gelombang laut
lainnya yang bersifat kontinyu, seperti gelmbang laut yang ditimbulkan oleh gaya tarik benda
angkasa. Periode tsunami ini berkisar antara 10-60 menit. Gelombang tsunami mempunyai
panjang gelombang yang besar sampai mencapai 100 km. Kecepatan rambat gelombang
tsunami di laut dalam mencapai 500-1000 km/jam. Kecepatan penjalaran tsunami ini sangat
tergantung dari kedalaman laut dan penjalarannya dapat berlangsung mencapai ribuan
kilometer. Apabila tsunami mencapai pantai, kecepatannya dapat mencapai 50 km/jam dan
energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Kalau ditengah laut tingi gelombang
tsunami paling besar sekitar 5 meter, maka pada saat mencapai pantai tinggi gelombang dapat
mencapai puluhan meter.
1. IDENTIIKASI DAERAH RAWAN TSUNAMI
1. Analisis Bahaya Tsunami

Analisa bahaya tsunami ditujukan untuk mengidentifikasi daerah yang akan terkena bahaya
tsunami. Daerah bahaya tsunami tersebut dapat diidentifikasi dengan 2 (dua) metode :
1. Mensimulasikan hubungan antara pembangkit tsunami (gempa bumi,
letusan gunung api, longsoran dasar laut) dengan tinggi gelombang
tsunami. Dari hasil simulasi tinggi gelombang tsunami tersebut kemudian

disimulasikan lebih lanjut dengan kondisi tata guna, topografi, morfologi


dasar laut serta bentuk dan struktur geologi lahan pesisir.
2. Memetakan hubungan antara aktivitas gempa bumi, letusan gunung api,
longsoran dasar laut dengan terjadinya elombang tsunami berdasarkan
sejarah terjadinya tsunami. Dari hasil analisa tersebut kemudian
diidentifikasi dan dipetakan lokasi yang terkena dampak gelombang
tsunami.
1. Analisis Tingkat Kerentanan terhadap Tsunami.

Analisa kerentanan ditujukan untuk mengidentifikasi dampak terjadinya tsunami yang berupa
jumlah korban jiwa dan kerugian ekonomi, baik dalam jangka pendek yang berupa hancurnya
pemukiman infrastruktur, sarana dan prasarana serta bangunan lainnya, maupun jangka
panjang yang berupa terganggunya roda perekonomian akibat trauma maupun kerusakan
sumberdaya alam lainnya.
Analisa kerentanan tersebut didasarkan beberapa aspek, antara lain tingkat kepadatan
pemukiman di daerah rawan tsunami, tingkat ketergantungan perekonomian masyarakat pada
sector kelautan, keterbatasan akses transportasi untuk evakuasi maupun penyelamatan serta
keterbatasan akses komunikasi.
1. Analisis Tingkat Ketahanan Terhadap Tsunami

Analisa tingkat ketahanan ditujukan untuk mengidentifikasi kemampuan pemerintah serta


masyarakat pada umumnya untuk merespn terjadinya bencana tsunami sehingga mampu
mengurangi dampaknya. Analisis tingkat ketahanan tersebut dapat diidentifikasi dari 3 (tiga)
aspek, yaitu :
1. Jumlah tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk
2. Kemampuan mobilias masyarakat dalam evakuasi dan penyelamatan, dan
3. Ketersedian peralatan yang dapat dipergunakan untuk evakuasi.
1. MITIGASI BENCANA TSUNAMI
1. Upaya Mitigasi Bencana Tsunami Struktural

Upaya structural dalam menangani masalah bencana tsunami adalah upaya teknis yang
bertujuan untuk meredam/mengurangi energy gelombang tsunami yang menjalar ke kawasan
pantai. Berdasarkan pemahaman atas mekanisme terjadinya tsunami, karateristik gelombang
tsunami, inventarisasi dan identifikasi kerusakan struktur bangunan, maka upaya structural
tersebut dapat dibedakan menjadi 2(dua) kelompok, yaitu :
1. Alami, seperti penanaman hutan mangrove/ green belt, disepanjang
kawasan pantai dan perlindungan terumbu karang.

2. Buatan,
3. Pembangunan breakwater, seawall, pemecah gelombang sejajar pantai
untuk menahan tsunami,
4. Memperkuat desain bangunan serta infrastruktur lainnya dengan kaidah
teknik bangunan tahan bencana tsunami dan tata ruang akrab bencana,
dengan mengembangkan beberapa insentif anatara lain Retrofitting dan
Relokasi.
1. Upaya Mitigasi Bencana Tsunami Non Struktural

Upaya Non structural merupakan upaya non teknis yang menyangkut penyesuaian dan
pengaturan tentang kegiatan manusia agar sejalan dan sesuai dengan upaya mitigasi structural
maupun upaya lainnya. Upaya non structural tersebut meliputi antara lain :
1. Kebijakan tentang tata guna lahan/ tata ruang/ zonasi kawasan pantai
yang aman bencana,
2. Kebijakan tentang standarisasi bangunan (pemukiman maupun bangunan
lainnya) serta infrastruktur sarana dan prasarana,
3. Mikrozonasi daerah rawan bencana dalam skala local,
4. Pembuatan peta potensi bencana tsunami, peta tingkat kerentanan dan
peta tingkat ketahanan, sehingga dapat didesain komplek pemukiman
akrab bencana yang memperhaikan berbagai aspek,
5. Kebijakan tentang eksplorasi dan kegiatan perekonomian masyarakat
kawasan pantai,
6. Pelatihan dan simulasi mitigasi bencana tsunami,
7. Penyuluhan dan sosialisasi upaya mitigasi bencana tsunami dan,
8. Pengembangan system peringatan dini adanya bahaya tsunami.

Ancaman tsunami dapat dikelompokan menjadi 2 bagian yaitu ancaman tsunami jarak dekat
(local) dan ancaman tsunami jarak jauh. Kejadian tsunami di Indonesia pada umumnya
adalah tsunami local yang terjadi sekitar 10-20 ment setelah terjadinya gempa bumi dirasakan
oleh masyarakat setempat. Sedangkan tsunami jarak jauh terjadi 1-8 jam setelah gempa dan
masyarakat setempat tidak merasakan gempa buminya.
Sumber : Buku Pedoman Mitigasi Bencana Alam di Wilayah Pesisir dan Pulau2 Kecil, Tahun
2009. Direktorak Pesisir dan Lautan, Ditjen KP3K Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Akibat Tsunami, akibat yg ditimbulkan tsunami


Berikut ini berbagai hal yang ditimbulkan akibat tsunami;

Kerusakan Bangunan

Kerusakan Bangunan adalah akibat langsung yang bisa dirasakan ketika terjadi gempa bumi.
Kerusakan bangunan bisa berupa kerusakan rumah, gedung-gedung perkantoran, jalan raya,
rel kereta api dan lain-lain. Seringkali kerusakan ini disertai timbulnya korban jiwa akibat
banyaknya orang-orang yang terperangkap di dalamnya. Kerusakan bangunan terbagi
menjadi tiga kategori, yaitu roboh, rusak berat, dan rusak sedang atau ringan.

Timbulnya penyakit

Rusaknya sanitasi akibat gempa bumi, dapat menyebabkan penyakit menular mudah
menyebar. Jenis penyakit yang biasanya muncul antara lain infeksi, campak, diare dan ISPA.

Munculnya trauma

Tidak jarang gempa bumi (terutama berkekuatan besar) dapat menimbulkan trauma, terutama
pada anak-anak. Setelah terjadinya gempa bumi, biasanya anak-anak merasakan tekanan
psikologis, seperti perasaan takut berpisah, tacit pada orang lain, takut pada hewan-hewan
tertentu, sulit tidur, tidak ada nafsu makan, perut merasa mual, ngompol, menghisap jari dan
sering menangis. Hal tersebut merupakan gejala-gejala trauma pada anak akibat tsunami.

Penyebab terjadinya Tsunami dan akibat yang


ditimbulkan

metroactive.com
Tsunami (bahasa Jepang: ??; tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara
harafiah berarti ombak besar di pelabuhan

adalah perpindahan badan

air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tibatiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang

berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut,
atau atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke
segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap
terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami
dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Setara dengan
kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1
meter.
Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di
tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun
hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga
mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga
puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi
karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang
terbawa oleh aliran gelombang tsunami.
Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang
dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa
manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian,
tanah, dan air bersih.
Sejarawan Yunani bernama Thucydides merupakan orang pertama yang
mengaitkan tsunami dengan gempa bawah lain. Namun hingga abad ke-20,
pengetahuan mengenai penyebab tsunami masih sangat minim. Penelitian
masih terus dilakukan untuk memahami penyebab tsunami.
Teks-teks geologi, geografi, dan oseanografi di masa lalu menyebut tsunami
sebagai gelombang laut seismik.
Beberapa kondisi meteorologis, seperti badai tropis, dapat menyebabkan
gelombang badai yang disebut sebagai meteor tsunami yang ketinggiannya
beberapa meter diatas gelombang laut normal. Ketika badai ini mencapai
daratan, bentuknya bisa menyerupai tsunami, meski sebenarnya bukan tsunami.
Gelombangnya bisa menggenangi daratan. Gelombang badai ini pernah
menggenangi Burma (Myanmar) pada Mei 2008.
Wilayah di sekeliling Samudra Pasifik memiliki Pacific Tsunami Warning Centre
(PTWC) yang mengeluarkan peringatan jika terdapat ancaman tsunami pada
wilayah ini. Wilayah di sekeliling Samudera Hindia sedang membangun Indian
Ocean Tsunami Warning System (IOTWS) yang akan berpusat di Indonesia.
Bukti-bukti historis menunjukkan bahwa megatsunami mungkin saja terjadi,
yang menyebabkan beberapa pulau dapat tenggelam.

Tsunami sering terjadi Jepang. Sejarah Jepang mencatat setidaknya 195 tsunami
telah terjadi.
Pada beberapa kesempatan, tsunami disamakan dengan gelombang pasang.
Dalam tahun-tahun terakhir, persepsi ini telah dinyatakan tidak sesuai lagi,
terutama dalam komunitas peneliti, karena gelombang pasang tidak ada
hubungannya dengan tsunami. Persepsi ini dahulu populer karena penampakan
tsunami yang menyerupai gelombang pasang yang tinggi.

Tsunami dan gelombang pasang sama-sama menghasilkan gelombang air yang


bergerak ke daratan, namun dalam kejadian tsunami, gerakan gelombang jauh
lebih besar dan lebih lama, sehingga memberika kesan seperti gelombang
pasang yang sangat tinggi. Meskipun pengartian yang menyamakan dengan
pasang-surut meliputi kemiripan atau memiliki kesamaan karakter dengan
gelombang pasang, pengertian ini tidak lagi tepat. Tsunami tidak hanya terbatas
pada pelabuhan. Karenanya para geologis dan oseanografis sangat tidak
merekomendasikan untuk menggunakan istilah ini.

Hanya ada beberapa bahasa lokal yang memiliki arti yang sama dengan
gelombang merusak ini. Aazhi Peralai dalam Bahasa Tamil, i beuna atau aln
buluk (menurut dialek) dalam Bahasa Aceh adalah contohnya. Sebagai catatan,
dalam bahasa Tagalog versi Austronesia, bahasa utama di Filipina, alon berarti
gelombang. Di Pulau Simeulue, daerah pesisir barat Sumatra, Indonesia, dalam
Bahasa Defayan, smong berarti tsunami. Sementara dalam Bahasa Sigulai,
emong berarti tsunami.

Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan


sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun
meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi
bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung
meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau.

Gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau
turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang
berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang
ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan
terjadinya tsunami.
Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana
gelombang terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per
jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50
km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah

laut tinggi gelombang tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter,


namun saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter
karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai tsunami akan
merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai
beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer.
Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi
juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup
ke bawah lempeng benua.
Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat
mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa
yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut
naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di
atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor
yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat
terjadi megatsunami yang tingginya mencapai ratusan meter.
Gempa yang menyebabkan tsunami

Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 30


km)

Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala


Richter

Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun.

Banyak kota-kota di sekitar Pasifik, terutama di Jepang dan juga Hawaii,


mempunyai sistem peringatan tsunami dan prosedur evakuasi untuk menangani
kejadian tsunami. Bencana tsunami dapat diprediksi oleh berbagai institusi
seismologi di berbagai penjuru dunia dan proses terjadinya tsunami dapat
dimonitor melalui perangkat yang ada di dasar atu permukaan laut yang
terknoneksi dengansatelit.
Perekam tekanan di dasar laut bersama-sama denganperangkat yang
mengapung di laut buoy, dapat digunakan untuk mendeteksi gelombang yang
tidak dapat dilihat oleh pengamat manusia pada laut dalam. Sistem sederhana
yang pertama kali digunakan untuk memberikan peringatan awal akan terjadinya
tsunami pernah dicoba di Hawai pada tahun 1920-an. Kemudian, sistem yang
lebih canggih dikembangkan lagi setelah terjadinya tsunami besar pada tanggal
1 April 1946 dan 23 Mei 1960. Amerika serikat membuat Pasific Tsunami Warning
Center pada tahun 1949, dan menghubungkannya ke jaringan data dan
peringatan internasional pada tahun 1965.
Salah satu sistem untuk menyediakan peringatan dini tsunami, CREST Project,
dipasang di pantai Barat Amerika Serikat, Alaska, dan Hawai oleh USGS, NOAA,
dan Pacific Northwest Seismograph Network, serta oleh tiga jaringan seismik
universitas.

Hingga kini, ilmu tentang tsunami sudah cukup berkembang, meskipun proses
terjadinya masih banyak yang belum diketahui dengan pasti. Episenter dari
sebuah gempa bawah laut dan kemungkinan kejadian tsunami dapat cepat
dihitung. Pemodelan tsunami yang baik telah berhasil memperkirakan seberapa
besar tinggi gelombang tsunami di daerah sumber, kecepatan penjalarannya dan
waktu sampai di pantai, berapa ketinggian tsunami di pantai dan seberapa jauh
rendaman yang mungkin terjadi di daratan. Walaupun begitu, karena faktor
alamiah, seperti kompleksitas topografi dan batimetri sekitar pantai dan adanya
corak ragam tutupan lahan (baik tumbuhan, bangunan, dll), perkiraan waktu
kedatangan tsunami, ketinggian dan jarak rendaman tsunami masih belum bisa
dimodelkan secara akurat.
Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia
Pemerintah Indonesia, dengan bantuan negara-negara donor, telah
mengembangkan Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (Indonesian Tsunami
Early Warning System InaTEWS). Sistem ini berpusat pada Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jakarta. Sistem ini memungkinkan BMKG
mengirimkan peringatan tsunami jika terjadi gempa yang berpotensi
mengakibatkan tsunami. Sistem yang ada sekarang ini sedang disempurnakan.
Kedepannya, sistem ini akan dapat mengeluarkan 3 tingkat peringatan, sesuai
dengan hasil perhitungan Sistem Pendukung Pengambilan Keputusan (Decision
Support System DSS).
Pengembangan Sistem Peringatan Dini Tsunami ini melibatkan banyak pihak,
baik instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga internasional,
lembaga non-pemerintah. Koordinator dari pihak Indonesia adalah Kementrian
Negara Riset dan Teknologi(RISTEK). Sedangkan instansi yang ditunjuk dan
bertanggung jawab untuk mengeluarkan INFO GEMPA dan PERINGATAN TSUNAMI
adalah BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika). Sistem ini didesain
untuk dapat mengeluarkan peringatan tsunami dalam waktu paling lama 5 menit
setelah gempa terjadi.
Sistem Peringatan Dini memiliki 4 komponen: Pengetahuan mengenai Bahaya
dan Resiko, Peramalan, Peringatan, dan Reaksi.Observasi (Monitoring gempa dan
permukaan laut), Integrasi dan Diseminasi Informasi, Kesiapsiagaan.
Cara Kerja
Sebuah Sistem Peringatan Dini Tsunami adalah merupakan rangkaian sistem
kerja yang rumit dan melibatkan banyak pihak secara internasional, regional,
nasional, daerah dan bermuara di Masyarakat.
Apabila terjadi suatu Gempa, maka kejadian tersebut dicatat oleh alat
Seismograf (pencatat gempa). Informasi gempa (kekuatan, lokasi, waktu
kejadian) dikirimkan melalui satelit ke BMKG Jakarta. Selanjutnya BMG akan
mengeluarkan INFO GEMPA yang disampaikan melalui peralatan teknis secara
simultan. Data gempa dimasukkan dalam DSS untuk memperhitungkan apakah
gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami. Perhitungan dilakukan
berdasarkan jutaan skenario modelling yang sudah dibuat terlebih dahulu.

Kemudian, BMKG dapat mengeluarkan INFO PERINGATAN TSUNAMI. Data gempa


ini juga akan diintegrasikan dengan data dari peralatan sistem peringatan dini
lainnya (GPS, BUOY, OBU, Tide Gauge) untuk memberikan konfirmasi apakah
gelombang tsunami benar-benar sudah terbentuk.
Informasi ini juga diteruskan oleh BMKG. BMKG menyampaikan info peringatan
tsunami melalui beberapa institusi perantara, yang meliputi (Pemerintah Daerah
dan Media). Institusi perantara inilah yang meneruskan informasi peringatan
kepada masyarakat. BMKG juga menyampaikan info peringatan melalui SMS ke
pengguna ponsel yang sudah terdaftar dalam database BMKG. Cara
penyampaian Info Gempa tersebut untuk saat ini adalah melalui SMS, Facsimile,
Telepon, Email, RANET (Radio Internet), FM RDS (Radio yang mempunyai fasilitas
RDS/Radio Data System) dan melalui Website BMG (www.bmg.go.id).
Pengalaman serta banyak kejadian dilapangan membuktikan bahwa meskipun
banyak peralatan canggih yang digunakan, tetapi alat yang paling efektif hingga
saat ini untuk Sistem Peringatan Dini Tsunami adalah RADIO. Oleh sebab itu,
kepada masyarakat yang tinggal didaerah rawan Tsunami diminta untuk selalu
siaga mempersiapkan RADIO FM untuk mendengarkan berita peringatan dini
Tsunami. Alat lainnya yang juga dikenal ampuh adalah Radio Komunikasi Antar
Penduduk. Organisasi yang mengurusnya adalah RAPI (Radio Antar Penduduk
Indonesia). Mengapa Radio ? jawabannya sederhana, karena ketika gempa
seringkali mati lampu tidak ada listrik. Radio dapat beroperasi dengan baterai.
Selain itu karena ukurannya kecil, dapat dibawa-bawa (mobile). Radius
komunikasinyapun relatif cukup memadai.
Tsunami dalam sejarah

1 November 1755 Tsunami menghancurkan Lisboa, ibu kota Portugal,


dan menelan 60.000 korban jiwa.

1883 Pada tanggal 26 Agustus, letusan gunung Krakatau dan tsunami


menewaskan lebih dari 36.000 jiwa.

2004 Pada tanggal 25-26 Desember 2004, gempa besar yang


menimbulkan tsunami menelan korban jiwa lebih dari 250.000 di Asia
Selatan, Asia Tenggara dan Afrika. Ketinggian tsunami 35 m,

2006 17 Juli, Gempa yang menyebabkan tsunami terjadi di selatan pulau


Jawa, Indonesia, dan setinggi maksimum ditemukan 21 meter di Pulau
Nusakambangan. Memakan korban jiwa lebih dari 500 orang. Dan berasal
dari selatan kota Ciamis

2007 12 September, Bengkulu, Memakan korban jiwa 3 orang.


Ketinggian tsunami 3-4 m.

2010 27 Februari, Santiago, Chili

2010 26 Oktober, Kepulauan Mentawai, Indonesia