You are on page 1of 15

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU TANAMAN PERKEBUNAN

PEMELIHARAAN KELAPA SAWIT TM II :


PENUNASAN DAN PENGENDALIAN GULMA

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2B
UTAMY PRAWATI (A24070091)
R. MUHAMMAD ZAENUDIN (A24070175)
INDAH RETNOWATI (A24070179)
RIZKIANA ANGGAYUHLIN (A24070180)

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kelapa sawit (Elais guineensis Jacq.) merupakan penyumbang devisa


negara yang cukup penting. Volume ekspor minyak kelapa sawit pada tahun 2007
mengalami peningkatan, yaitu menjadi 5.701.300 ton dengan nilai ekspor sebesar
US$ 1 062 215 (Direktorat Jendral Perkebunan, 2009). Tingginya peranan kelapa
sawit dalam perekonomian Indonesia telah mendorong pemerintah dan pihak
swasta berlomba-lomba untuk berperan dalam pengembangan kelapa sawit. Hal
ini ditunjukkan dengan perkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit
diindonesia. Data Departemen Pertanian (2008) menunjukan terjadi peningkatan
luas areal penanaman kelapa sawit selama 28 tahun, yaitu 290 000 ha pada tahun
1980 menjadi 6 611 000 ha pada tahun 2008. Menurut Setyamididjaja (2006)
kelapa sawit merupakan komoditas perdagangan yang sangat menjanjikan karena
beberapa tahun yang akan datang, selain digunakan untuk minyak goreng,
mentega, sabun dan kosmetika minyak sawit juga dapat dijadikan sebgai subtitusi
bahan bakar minyak.
Faktor yang menjadi perhatian khusus dalam pengelolaan kebun kelapa
sawit adalah faktor transportasi. Pahan (2008) menjelaskan bahwa keterlambatan
pengangkutan TBS (Tandan Buah Segar) ke TPH (Temoat Pengumpulan Hasil)
akan menyebabkan terjadinya restan dan mempengaruhi proses pengolahan,
kapasitas olah, dan mutu produk akhir. Faktor transportasi meliputi jarak
pengangkutan TBS ke TPH, kondisi jalan, kondis topografi lahan, serta jumlah
dan kondisi alat angkut.
Menurut Pahan (2008) kehadiran gulma di perkebunan kelapa sawit dapat
menurunkan produksi akibat bersaing dalam pengambilan air, hara, sinar
matahari, dan ruang hidup. Keberadaan gulma pada aeral piringan dapat
menurunkan mutu produksi akibat terkontaminasi oleh bagian gulma,
mengganggu pertumbuhan tanaman, menjadi inang bagi hama, mengganggu tata
guna air, dan meningkatkan biaya pemeliharaan. Pada areal pasar pikul kehadiran
gulma dapat mengganggu kelancaran transportasi TBS ke TPH dan upaya
pemeliharaan lainnya. Banyaknya gangguan yang dapat ditimbulkan gulma
menjadikan pengendalian gulma sebagai tindakan yang sangat penting dilakukan
pada perkebunan kelapa sawit.
Penunasan (pruning) merupakan kegiatan pemeliharaan yang bertujuan
untuk membuang atau memotong pelepah atau bagian tanaman kelapa sawit yang
sudah tidak produktif lagi atau juga dapat mrugikan tanaman. Kgiatan ini pnting
dilakukan karena penunasan memiliki banyak manfaat, antara lain sanitasi
tanaman, memudahkan panen, menghindari tersangkutnya brondolan di pelepah,
memperlancar penyerbukan alami, memudahkan pengamatan buah, dan efisiensi
distribusi fotosintat untuk pembungaan dan pembuahan.
Pada praktikum ini dilakukan kegiatan pemeliharaan kelapa sawit.
Kegiatan yang dilakukan adalah penunasan dan pengendalian gulma.
Pengendalian gulma dilakukan pada areal pasar pikul, gawangan, dan areal sekitar
piringan.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan melatih ketrampilan mahasiswa dalam


melakukan pemeliharaan tanaman kelapa sawit yang meliputi pengendalian gulma
secara manual dan penunasan. Praktikum ini juga bertujuan untuk memahami
pentingnya kegiatan penunasan dengan norma yang tepat.
TINJAUAN PUSTAKA

Penunasan

Salah satu kegiatan pemeliharaan kelapa sawit adalah penunasan


(pruning). Penunasan merupakan kegiatan pembuangan daun – daun tua yang
tidak produktif pada tanaman kelapa sawit. Penunasan biasa juga disebut dengan
pemangkasan. Pemangkasan bertujuan untuk memperbaiki udara di sekitar
tanaman, mengurangi penghalangan pembesaran buah dan kehilangan brondolan,
dan memudahkan pada saat kegiatan pemanenan dilakukan. Suyatno (1994)
menyatakan bahwa tanaman kelapa sawit yang berumur 3 – 8 tahun memiliki
jumlah pelepah optimal sekitar 48 – 56 pelepah, sedangkan yang berumur lebih
dari 8 tahun jumlah pelepah optimalnya sekitar 40 – 48 pelepah.
Pada tanaman belum menghasilkan juga dilakukan kegiatan penunasan
(pruning). Kegiatan penunasan pada TBM disebut juga dengan penunasan pasir,
yaitu memotong pelepah-pelepah kosong pada tanaman kelapa sawit. Sanitasi ini
bertujuan untuk mempermudah pemeliharaan dan mengefektifkan pemanfaatan
unsur hara. Pada TM penunasan memiliki banyak manfaat, antara lain sanitasi
tanaman, memudahkan panen, menghindari tersangkutnya brondolan di pelepah,
memperlancar penyerbukan alami, memudahkan pengamatan buah, dan efisiensi
distribusi fotosintat untuk pembungaan dan pembuahan.
Kegiatan penunasan membutuhkan alat bantu. Penunasan dapat dilakukan
dengan alat dondos ‘dodos’ (cnisel) pada tanaman yang masih pendek, sedangkan
pada tanaman yang sudah tinggi menggunakan alat yang disebut dengan egrek
(gambar terlampir).
Prinsip kerja penunasan adalah memotong pelepah daun yang terbawah.
Pemotongan pelepah menggunakan alat yang disebut egrek (gambar terlampir).
Cara pemotongannya adalah memotong pelepah daun terbawah dengan
meninggalkan bagian pangkal pelepah sepanjang 2 – 3 cm atau selebar tandan
buah sawit. Pelepah daun juga dapat dipotong rapat ke batang atau dengan
berkas daun potongan berbentuk tapal kuda yang membentuk sudut 30O terhadap
garis horizontal. Pelepah yang telah dipotong dikumpulkan dan disusun di
gawangan mati, terutama pada areal datar atau pelepah daun yang telah ditunas
dipotong menjadi tiga bagian dan diletakkan teratur membentuk gundukan pada
gawangan mati. Umumnya penunasan dilakukan dengan menggunakan njorma
“songgo dua”. Setyamidjaja (1991) menyatakan sanitasi berupa penunasan
dilakukan pada saat tanaman berumur 2 tahun dengan rotasi dua kali dalam
setahun.

Pasar pikul

Pasar pikul merupakan jalan yang digunakan untuk mengantarkan buah


sawit yang sudah dipanen ke Tempat Pemungutan Hasil (TPH) serta untuk
memudahkan kegiatan pemeliharaaan lainnya. Fungsi pasar pikul tersebut
mendorong untuk dilakukannya kegiatan pemeliharaan agar pasar pikul tetap
berada dalam kondisi baik dan siap pakai. . Kegiatan pemeliharaan yang harus
dilakuakan adalah membersihkan vegetasi/gulma yang berada di areal pasar pikul
baik secara manual maupun secara kimia. Pemeliharaan umunya dilakukan dalam
empat rotasi selama satu tahun, tiga rotasi dengan manual yaitu satu kali setiap
tiga bulan dan satu rotasi dengan kimia.

Pasar pikul dapat dibuat dalam beberapa sistem, salah satunya dengan
sistem 2 : 1. Sastrosayono (2003) menjelaskan bahwa pembuatan pasar pikul
sistem 2 : 1 adalah dari 2 gawangan terdapat 1 pasar pikul dengan uraian 1
sebagai pasar pikul dan satu lagi sebagai gawangan mati, lebar pasar pikul antara
1 - 1,5 mMendongkel seluruh anak kayu dan keladi – keladi yang tumbuh
digawangan, membabat gulma yang digawangan dan membabat tidak boleh
bersamaan waktu dengan dongkel anak kayu. Kegiatan dongkel anak kayu
dilakukan untuk mencegah persaingan penyerapan unsur hara antara tanaman inti
dengan gulma pengganggu. Dalam kegiatan mendongkel diharuskan akar benar-
benar terangkat agar mati.

Piringan

Pemeliharaan berupa pengendalian gulma juga dilakukan di sekitar


piringan/bokoran. Salah satu kegiatan pemeliharaan piringan adalah garuk
piringan. Garuk piringan bertujuan untuk membersihkan daerah sekitar perakaran
tanaman dari gulma serta memudahkan panen dan pengutipan brondol. Menurut
Setyamidjaja (1991) teknis pelaksanaan dari garuk piringan adalah dengan
membersihkan piringan dari sampah dan gulma, dimana lebar piringan antara 1,5
– 3 m. Penggarukan dilakukan dengan menggunakan cangkul dan dimulai dari
arah tanaman menuju ke luar.
BAHAN DAN METODE

Tempat Pelaksanaan

Praktikum ini dilaksanakan di Areal Kelapa Sawit TM Kebun Percobaan


Cikabayan, Institut Pertanian Bogor, dimulai pukul 07.00 – 10.00 WIB pada
tanggal 8 Maret 2010.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah tanaman kelapa sawit
TM-10 dan TM-7.
Pada praktikum ini juga digunakan alat-alat berupa egrek (1buah), pacul
(1 buah), dan sabit (2buah).

Metode Kerja

Setiap kelompok pada praktikum mendapatkan dua tanaman kelapa sawit


untuk dilakukan pemeliharaan. Kegiatan sanitasi tanaman terdiri dari pembersihan
batang kelapa sawit dari pelepah yang sudah tua dan pembebasan areal dari
sampah yang bisa menjadi inang hama dan penyakit.
Pemeliharan meliputi membuang pelepah yang sudah tua dengan
menggunakan egrek. Posisi keratan pelepah mepet kebatang sawit membentuk
“tapal kuda”. Pelepah daun yang disisakan adalah 2 lingkar pelepah daun di
bawah daun yang terbawah (songgo dua). Bagian pelepah yang dibuang kemudian
dipotong menjadi tiga bagian.
Pengendalian gulma dilakukan pada pasar pikul, gawangan, dan sekitar
piringan. Pada pasar pikul dilakukan pembersihan gulma dengan teknik babat
merah. Tujuan dari babat merah ini agar jalan pikul dapat dilalui dengan baik.
Pada aeral gawangan dilakukan babat dempes, sedangkan pada areal sekitar
piringan dilakukan pencabutan atau pendongkelan gulma anak kayu.
PEMBAHASAN

Pengendalian Gulma

Pengendalian Gulma Gawangan

Keberadaan gulma dalam perkebunan kelapa sawit dapat menurunkan


produktivitas tanaman dan menyulitkan dalam kegiatan pemeliharaan. Hal itu
yang menyebabkan pengendalian gulma di perkebunan kelap sawit menjadi
sangat penting. BPPP (2008) menyatakan bahwa pengendalian gulma bertujuan
untuk menghindari terjadinya persaingan antara tanaman kelapa sawit dengan
gulma dalam pemanfaatan unsur hara, air, dan cahaya.
Pengendalian gulma di perkebunan kelapa sawit dilakukan tidak seintensif
pada perkebunan komoditas hortikultura, namun pengendalian gulma harus tetap
dilakukan. Pengendalian gulma di perkebunan kelapa sawit dilakukan pada
piringan dan gawangan. Gawangan yang dibersihkan adalah gawangan hidup.
Pada gawangan hidup ini terdapat jalan pikul dengan lebar satu meter. Jalan pikul
adalah jalan yang digunakan untuk mengangkut hasil panen kelapa sawit. Oleh
karena itu jalan pikul ini juga harus bersih dari gulma. Gulma-gulma dan pelepah
kelapa sawit yang dibersihkan diletakan di gawangan mati yang nantinya dapat
menjadi pupuk organik bagi tanaman kelapa sawit.
Ada 3 jenis gulma yang perlu dikendalikan, yaitu (1) ilalang di piringan
dan gawangan, (2) rumput-rumputan di piringan, dan (3) tumbuhan pengganggu
atau anak kayu di gawangan. Gulma utama yang tidak boleh ada di perkebunan
kelapa sawit adalah gulma berkayu seperti Melastoma malabatrichum. Gulma
lunak seperti Digitaria sp. dan jenis gulma rumput lainnya tidak perlu
dikendalikan asalkan tingginya tidak melebihi 20 cm.
Ilalang pada perkebunan kelapa sawit sangat perlu dihindari. Ilalang perlu
dikendalikan karena pertumbuhannya yang cepat sehingga penyerapan unsur hara
yang cepat pula oleh ilalang akan mengganggu pertumbuhan kelapa sawit. Alas an
lain adalah kondisi populasi ilalang yang tinggi merupakan potensi terjadinya
kebakaran.
Pengendalian Gulma Pasar Pikul

Gulma pada areal pasar pikul perlu dikendalikan. Hal itu bermanfaat bagi
transportasi dan pengiriman TBS ke TPH. Menurut H0404055 (2010) tujuan
pembersihan gulma pada areal piringan, pasar pikul, jalan kontrol, dan TPH
adalah untuk mempermudah dalam kegiatan panen dan pengutipan brondolan,
pemupukan, serta memperlancar akses masuk ke dalam blok areal kelapa sawit.
Pembersihan gulma pada areal pasar pikul dapat dilakukan secara manual
maupun kimia. Pengndalian gulma secara manual biasanya menggunaka
peralatan sederhana, seperti cangkul dan sabit. Pengendalian gulma secara kimia
umumnya menggunakan herbisida. Pengendalian gulma pada pasar pikul secara
kimia dilakukan sebanyak tiga rotasi dalam satu tahun. Pengendalian gulma pada
pasar pikul umumnya secara kimia. Hal itu dimaksudkan untuk efisiensi waktu,
biaya, dan tenaga kerja. Pengendalian gulma secara manual umumnya dilakukan
untuk mengendalikan gulma di areal piringan ataupun untuk mendongkel anak
kayu.
Pada praktikum ini dilakukan pengendalian gulma pada pasar pikul,
gawangan, dan areal sekitar piringan secara manual. Pada areal pasar pikul
dilakukan babat merah agar jalan pikul dapat digunakan/dilalui dengan baik. Pada
areal gawangan dilakukan babat dempes, yaitu membabat gulma hingga
ketinggian tertentu. Tujuan dari babat dempes tersebut adalah untuk
memperkecil/menekan penguasaan sarana tumbuh oleh gulma, khususnya gulma
rumput. Pada areal sekitar piringan dilakukan kegiatan pencabutan atau
pendongkelan anak kayu untuk gulma berkayu. Menurut Christian (2008)
kegiatan dongkel anak kayu adalah kegiatan mencabut atau membersihkan gulma
berkayu dan anak sawit dari areal perkebunan kelapa sawit. Gulma berkayu yang
ditemukan adalah gulma paku-pakuan dan Melastoma malabatrichum.

Penunasan (Pruning)

Kegiatan pemeliharaan pada tanaman kelapa sawit menghasilkan juga


dilakukan penunasan (pruning). Penunasan adalah kegiatan pemotongan pelepah
daun tua atau tidak produktif. Penunasan bertujuan untuk mempermudah kegiatan
panen, pengamatan buah matang, penyerbukan alami, pemasukan cahaya dan
perbaikan aerasi, mencegah brondolan buah tersangkut di pelepah, sanitasi,
mengurangi kelembaban, dan menyalurkan zat hara ke bagian lain yang lebih
produktif. Kondisi yang terlalu lembab akan lebih berpotensi menimbulkan
penyakit busuk buah (marasnius). Pohon kelapa sawit yang berumur kurang dari 8
tahun akan memiliki ILD (Indeks Luas Daun) optimum dengan 48 – 56 pelepah,
sedangkan pohon kelapa sawit yang berumur lebih dari 8 tahun optimum dengan
jumlah 40 – 48 pelepah.
Kegiatan penunasan pada praktikum kali ini hanya menggunakan egrek
(gambar terlampir). Egrek adalah alat yang terbuat dari bambu panjang yang
diujungnya ada besi atau baja yang sedikit melengkung dan tajam untuk
memotong pelepah atau mengambil brondolan buah yang tersangkut. Egrek biasa
digunakan untuk tanaman yang tinggi. Selain egrek ada alat yang bernama dodos,
dodos biasa digunakan pada tanaman kelapa sawit yang tidak terlalu tinggi.
Pada kegiatan penunasan terdapat teknik yang bernama songgo satu dan
songgo dua. Teknik yang paling sering digunakan adalah songgo dua, dimana
jumlah pelepah daun yang disisakan hanya dua pelepah dari tandan buah yang
paling bawah. Songgo satu tidak terlalu berbeda dengan songgo dua,
perbedaannya pada songgo satu hanya satu pelepah yang disisakan dari tandan
buah paling bawah.
Teknik songgo dua sering dilakukan pada tanaman kelapa sawit untuk
mendapatkan ILD yang optimum. ILD adalah rasio luas daun terhadap luas lahan.
ILD yang optimum pada tanaman kelapa sawit yaitu 5-7. Nilai ILD dipengaruhi
oleh waktu penyinaran, temperature udara, kelembaban tanah, dan karakteristik
genetik tanah ( Iyung 2008). ILD akan optimum jika pentupan tajuk optimum.
Penutupan tajuk dianggap optimum jika lebih dari 80 % radiasi matahari yang
dating dapat diserap oleh tanaman atau saat pelepah dari tiga pokok saling
menutupi.
Penunasan juga bertujuan membuang pelepah-pelepah negatif yang tidak
lagi produktif. Pelepah yang tidak lagi produktif akan mengurangi fotosintat yang
seharusya dialirkan ke buah (sink), padahal seharusnya pelepah adalah sumber
fotosintat (source). Pemangkasan pelepah membuat proses fotosintesis lebih
maksimum karena ILD yang optimum. Terdapat tiga jenis pemangkasan daun,
yaitu:
a) Pemangkasan pasir, yaitu membuat daun kering, buah pertama atau
buah busuk waktu tanaman berumur 16-20 bulan.
b) Pemangkasan produksi, yaitu memotong daun-daun yang tumbuhnya
saling menumpuk (songgo dua) sebagai persiapan panen pada waktu
tanaman berumur 20-28 bulan.
c) Pemangkasan pemeliharaan, yaitu membuang daun-daun songgo dua
secara rutin sehingga pada pokok tanaman hanya terdapat sejumlah 28-
54 helai. Rotasi penunasan pada TM adalah sembilan bulan sekali.

Prestasi Kerja

Pada praktikum ini setiap kelompok memperoleh dua pohon kelapa sawit
untuk dilakukan pemeliharaan (penunasan dan pengendalian gulma). Areal yang
dibersihkan adalah areal sekitar dua pohon kelapa sawit. Dua kegiatan
pemeliharaan dapat diselesaikan oleh kelompok 2B (empat mahasiswa) dalam
waktu 54 menit. Luas lahan yang dibersihkan dalam kegiatan pemeliharaan ini
tidak diketahui dengan pasti, tetapi perkiraan yang digunakan oleh kelompok 2B
diketahui luas lahan 49 m2 (perhitungan terlampir).
Melalui data yang diperoleh (data terlampir) dapat diketahui prestasi kerja
dari tiap mahasiswa kelompok 2B dalam melakukan kegiatan penunasan serta
pengendalian gulma piringan, gawangan, dan pasar pikul. Prestasi kerja yang
diperoleh tiap mahasiswa kelompok 2B adalah 104,95 HK/ha. Arti dari prestasi
kerja tersebut bahwa dengan tenaga mahasiswa dari kelompok 2B untuk
melakukan kegiatan pemeliharaan tersebut dalam luasan satu hektar dibutuhkan
waktu 105 hari agar pekerjaan pemeliharaan dapat diselesaikan.
PENUTUP

Kesimpulan

Penunasan (pruning) merupakan salah satu kegiatan dalam pemeliharaan


kelapa sawit. Penunasan merupakan kegiatan pemotongan pelepah kelapa sawit
yang sudah tua, tidak produktif lagi, ataupun berpotensi sebagai pemicu timbulnya
hama dan penyakit pada tanaman kelapa sawit. Kegiatan ini bertujuan untuk
mempermudah kegiatan panen, pengamatan buah matang, penyerbukan alami,
pemasukan cahaya dan perbaikan aerasi, mencegah brondolan buah tersangkut di
pelepah, sanitasi, mengurangi kelembaban, dan menyalurkan zat hara ke bagian
lain yang lebih produktif. Teknik penunasan songgo dua merupakan teknik yang
paling sering digunakan.
Pengendalian gulma tidak hanya penting dilakukan pada piringan kelapa
sawit, tetapi juga pada pasar pikul dan gawangan. Tujuan dari pembersihan
gulma areal pasar pikul adalah untuk memperlancar transportasi, memperlancar
penyaluran TBS ke TPH, dan mempermudah kegiatan pemeliharaan lainnya.
Begitu juga dengan pembersihan gulma pada areal gawangan. Tujuannya adalah
untuk menekan penguasaan tumbuh oleh gulma lunak dan mempermudah
kegiatan pemeliharaan. Biasanya teknik pembabatan yang dilakukan pada pasar
pikul adalah babat merah, sedangkan pada gawangan babat dempes. untuk semua
kegiatan di atas, prestasi kerja yang diperoleh mahasiswa kelompok 2B sudah
cukup baik.

Saran

Pada praktikum ini alat penunasan (egrek) yang digunakan dalam kondisi
yang kurang baik. Kondisi alat agak tumpul sehingga memperlambat kegiatan
penunasan. Agar pekerjaan penunasan dapat cepat diselesaikan dan memberikan
hasil yang baik, alat yang digunakan sebaiknya berada dlam kondisi baik pula.
DAFTAR PUSTAKA

Barus, E. 2003. Pengendalian Gulma di Perkebunan, Efektifitas dan Efisiensi


Aplikasi Herbisisda. Kanisius. Yogyakarta. 103 hal.
Christian, N. S. 2008. Perkebunan Kelapa Sawit.
http://nandachristians.blogspot.com/2008/04/bab-i.html. [13 Maret 2010].
Direktorat Jendral Perkebunan. 2008. Pendatan Kelapa Sawit Tahun 2008 Secara
Kompeheresif dan Objektif. http://www.ditjenbun.deptan.go.id. [09 Maret
2010].
H0404055. 2010. Magang Perkebunan Kelapa Sawit.
http://h0404055.wordpress.com/category/uncategorized/. [13 Maret 2010].
Lubis, A. U. 1992. Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Indonesia. Pusat
Penelitian Marihat. Medan. 435 hal.
Pahan, I. 2008. Panduan Lengkap Kelapa Sawit : Manajemen Agribisnis dari
Hulu Hingga Hilir. Penebar sawdya. Jakarta. 421 hal.
Sastrosayono, S. 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Tanpa Halaman
Setyamidjaja, D. 1991. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta. Tanpa
halaman.
Suyatno, R. 1994. Kelapa Sawit : Upaya Peningkatan Produktivitas. Kanisius.
Yogyakarta. Tanpa halaman.
LAMPIRAN

Gambar 1. Egrek

Gambar 2. Denah Pemeliharaan


Perhitungan Prestasi Kerja
Diketahui : Luas Piringan = 3.14 x 1,5m x 1,5m = 7,065 m2
Luas 3 Piringan = 3 x 7,065 m2 = 21,195 m2
Luas Persegi Panjang = 7,8m x 9m = 70,2 m2
Waktu Kerja = 54 menit = 0.9 jam
Jumlah Pekerja = 4 orang
Ditanya : Prestasi Kerja = ?
Jawab :
Luas Lahan = Luas Persegi Panjang – Luas 3 Piringan
= 70,2 m2 - 21,195 m2
= 49,005 m2 ≈ 49 m2
Luas Lahan/orang = 49 m2 : 4 orang = 12,25 m2/orang

Prestasi kerja
Standar Orang Kerja/hari = 7 jam/HK

Prestasi Kerja (PK) = 7 jam/HK x 12,25 m2 = 95.28 m2/HK


0,9 jam
=0,009528 ha/HK
= 104,95 HK/ha