Amsterdamsche Poort, reinkarnasi

Jan 24, '07 4:43 AM for everyone

Sebelum akhir 1950 disekitar persimpangan jalan antara Jl. Cengkeh (Prinsenstraat) lurus ke Jl.Tongkol (Kasteelweg) - Jl. Nelayan Timur (Amsterdamschegracht) sekarang, masih dapat dilihat sebuah gerbang kota yang bernama Amsterdamsche Poort yang merupakan bagian selatan dari Kastil (benteng) VOC di Batavia yang dibangun pada awal abad-17 seiring kemenangan atas Kota Jayakarta oleh J.P. Coen.

Saat perluasan Kastil, gerbang ini direnovasi oleh Gubernur Jenderal Van Imhoff saat bertugas di Batavia tahun 1743 – 1759. Gerbang Amsterdam diapit oleh bangunan bertingkat empat, sebagai barak garnisun penjaga kanal. Gerbang Amsterdam dilihat dari Utara (JL. Tongkol) dilukis oleh Johannes Rach bertugas di Batavia 1720-1783 (*Sumber gambar : Arsip Nasional).

Lukisan Gerbang Amsterdam di lihat dari Selatan oleh Johannes Rach (1720-1783). Bangunan gerbang dengan tembok yang banyak terdapat hiasan ini dilengkapi barak-barak di sisi sebelah Selatan dengan tembok pembatas yang rendah. Beberapa prajurit dilukiskan dengan senjata berlaras panjang. Bangunan barak ini merupakan bagian dari perluasan wilayah pemerintah di Kastil. Kantor percetakan VOC tampak di sebelah kiri Barak Barat. Agak jauh ke kanan terdapat jembatan Tijgersgracht (Kanal Macan). Sedikit ke belakang, masih di atas tanah Kastil ada gudang penyimpanan yang disebut Oostzijdse Pakhuisen. Di tengah halaman ada air mancur yang salurannya dihubungkan ke tempat pengambilan air di depan Balai Kota.(*Sumber gambar : Arsip Nasional)

Pada masa Gubernur Jendaral H.W. Deandels (1808-1811), bangunan Benteng Kastil dihancurkan hingga menyisakan gerbangnya saja. Segala materi dari benteng ini digunakan untuk membangun pusat ibu kota baru di Weltevreden (Kawasan Gambir - Senen sekitarnya). Tahun 1830-an, sebagian dari Amsterdam Gate dipugar kembali dengan membangun pagar dikanan dan kiri gerbang serta ditambah 8 ornamen (botol beton) di atasnya dan dipasang patung Mars (dewa perang Romawi) dan patung Minerva (dewa kesenian Yunani) kemungkinan terbuat dari perunggu . Kiri, Gerbang Amsterdam dilihat dari Utara, dikejauhan tampak Stadhuis. Lithographi oleh C.T. Deeleman pada 1859. (*Sumber gambar: Database TropenMuseum).

Foto kanan, diabadikan oleh Woodbury & Page sekitar 1869, Gerbang Amsterdam dilihat dari Selatan. Tampak depan adalah Prinsenstraat (Jl. Cengkeh, sekarang). (*Sumber foto : Database TropenMuseum)

Sejak 1869, di Batavia dimulai pengoperasian Tramway (Trem Kereta Kuda) yang melalui gerbang ini. Pintu gerbang ternyata tidak dapat dilalui oleh kereta kuda karena terlalu kecil sehingga jalur kereta kuda harus melalui samping gerbang dengan menghancurkan sisi-sisi Gerbang Amsterdam. Tramway merupaka kereta panjang yang berjalan diatas rel dan ditarik oleh tiga atau empat ekor kuda yang kuat-kuat. Kusirnya menggunakan trompet sebagai pengganti klakson. Jalur tramway saat itu mulai dari Kota Intan - Meester Cornelis dan Kota Intan Tanah abang. Kereta kuda kemudian diganti dengan kereta uap mulai tahun 1881 yang dioperasikan oleh Nederlandsch-Indische Tramweg Maatschappij (NITM).

Gambar kiri, Trem Kereta Kuda yang mampu mengangkut penumpang hingga 40 orang, melalui sisi Gerbang Amsterdam yang dilukis oleh C.J. Rappard pada 1881 - 1889. (*Sumber gambar : Database TropenMuseum)

Ada barak di belakang gerbang tersebut untuk ditempati tentara yg dimaksudkan untuk menjaga Batavia, tentara ini disebut Papangers, mereka adalah keturunan orang Papango, penduduk pulau Luzon di Philipina. Mereka bersenjatakan tombak dan klewang saja. Kesatuan ini dibubarkan pada 1907. (*Sumber foto : Arsip KITLV)

Pada 1925, di Batavia mulai menggunakan layanan kereta rel listrik yang menghubungkan Stasiun Tanjung Priok (dibangun 1914) dengan kota Batavia, Meester Cornelis hingga Tangerang. Jalur rel kereta milik Staatsspoorwegen melintas diatas ruas Jl. Tongkol, sehingga dibangun viaduct dan merupakan model rel di atas jembatan tertua di Jakarta. Foto kiri, 1930, lalu lintas melalui Gerbang Amsterdam dengan viaduct dilatar belakang. (*Sumber foto : Database Tropenmuseum)

Foto kanan, Gerbang Amsterdam tampak terang benderang ditengah genangan air, merayakan peristiwa pernikahan Putri Juliana dengan Pangeran Benhard pada 7 Januari 1937. (*Sumber foto: Foltynski, Arsip KITLV)

Pada saat pendudukan Jepang (1942-1945) , patung Minerva & Mars di kanan kiri gerbang "raib" dan kemungkinan dibawa oleh tentara Jepang sebagai "piala kemenangan" atau malah dilebur untuk dibuat senjata ?!

Foto kiri, diambil seorang tentara Belanda yang bertugas di Batavia sekitar 1949.

Gerbangnya sendiri diratakan dengan tanah pada Desember 1950, saat pemerintahan Indonesia dengan dalih pembangunan dan pelebaran jalan... (*Sumber Foto: www.rendez-vous-batavia.nl ) Suasana saat ini  (Agustus 2006) di persimpangan Jl. Cengkeh ­ Jl. Tongkol ­ Jl. Nelayan  Timur, dibekas berdirinya Gerbang Amsterdam .

Merujuk pada Program Revitalisasi kota Tua oleh Pemprov DKI sejak 2006 lalu, bahwa dalam tahap ketiga akan dibangun replika Gerbang Amsterdam serta dibuatnya Historical Trail dan menurut rencana peresmian Kawasan Percontohan Kota Tua akan dilaksanakan pada Agustus 2007. Harapan untuk bisa menyaksikan kembali Gerbang kota yang "hilang". Apakah bisa terwujud & tepat waktu, kita lihat saja....   Sumber : Republika (Alwi Shahab) &     Media Indonesia (3 April 2007) dan berbagai     sumber
Tags: batavia

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful