You are on page 1of 7

Tugas lab patologi veteriner

Infiltrasi Amyloid

OLEH :

Fuji Lestari
1402101010131

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2016/2017

Infiltrasi Amyloid
1 DEFINISI
Amyloidosis merupakan deposisi protein amyloid di berbagai jaringan atau
organ. Kedua jenis amiloidosis sistemik dan lokal hadir dengan berbagai
manifestasi kulit maupun gejala sistemik. Berdasarkan aspek biokimia dan
imunologi, protein amiloid dibagi menjadi beberapa subtipe dari asal yang
berbeda.4,5,6

EPIDEMIOLOGI
Amyloidosis adalah kondisi langka dan kejadian yang sebenarnya masih
belum jelas. Kedua bentuk lokal dan sistemik penyakit ini menjadi lebih sering
dengan pertambahan usia, dan presentasi penderita dibawah usia 30 tahun
sangat jarang. Tidak ada faktor ras, pekerjaan, geografis, atau faktor lingkungan
lainnya yang telah jelas terlibat dalam asal-usul amyloidosis.7
Setiap tahun, sekitar 50.000 orang di seluruh dunia diperkirakan menderita
penyakit ini, dengan lebih dari 3.000 orang yang didiagnosis terdapat di Amerika
Utara saja.1

ETIOLOGI
Amyloidosis merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh penumpukan
protein abnormal yang terjadi secara ekstraselular di jaringan dan organ tubuh.
Protein abnormal ini berasal dari agregasi protein yang salah dalam
pembentukan.7,8
Protein yang gagal melipat dapat diproduksi karena penyebab genetik, atau
karena faktor lain yang terkait dengan peradangan kronis atau bertambahnya
usia. Meskipun demikian, tubuh kita biasanya mampu mengidentifikasi dan
menghancurkan protein yang abnormal. Dalam beberapa kasus, tubuh
menghasilkan terlalu banyak protein abnormal, dan tubuh sendiri tidak bisa
menghancurkan atau membersihkan protein abnormal tersebut. 1

PATOGENESIS
Terdapat 26 protein yang tidak terkait dikenal untuk membentuk fibril amiloid
manusia secara in vivo. Morfologi dan histokimia semua fibril amiloid, terlepas
dari jenis protein prekursor, sangat mirip dan studi fibril difraksi telah
mengkonfirmasi bahwa mereka semua berbagi struktur inti umum terdiri yang
dari rantai silang inti dan polipeptida. Keadaan abnormal ini akan membentuk

sebuah konformasi yang mendasari sifat fisikokimia khas fibril amiloid , termasuk
stabilitas relatif mereka dan ketahanan terhadap proteolisis. 7
Depoisi amiloid secara umum mengandung plasma glikoprotein yang normal,
komponen serum amyloid P (SAP), heparan sulfat, proteoglikan sulfat dermatan,
dan rantai glikosaminoglikan sebagai konstituen nonfibrillar. Protein plasma
lainnya, seperti apolipoprotein E, kadang-kadang terdeteksi dalam deposisi
amiloid, tapi tanpa kelebihan SAP.7
Pembentukan amiloid in vivo terjadi dengan kedua protein wild-type normal
dengan varian protein secara genetik. Fibril mungkin berisi protein amyloidogenic
utuh atau fragmen pembelahan proteolitik. Selalu ada periode lag, sering
bertahun-tahun, sejak pertama kali terbentuknya protein berpotensi
amyloidogenic hingga timbul deposisi amiloid klinis yang signifikan.7
Ada banyak cara untuk mengklasifikasikan amiloidosis, yang paling sering
adalah berdasarkan jenis protein yang terdeposisi. Selain itu, sangat penting
untuk menentukan apakah deposisi amiloid terlokalisasi, terdistribusi dalam satu
jaringan atau organ, atau lebih luas.7
5

KLASIFIKASI
Amyloidosis dapat diklasifikasikan sebagai primer (yang sering memiliki
manifestasi kulit), sekunder (yang memiliki manifestasi kulit yang sangat langka),
amyloidosis lokal primer (juga disebut primary cutaneous amyloidosis saat kulit
terkena), dan secondary cutaneous amyloidosis. Amyloidosis sekunder yang
berkaitan dengan kelainan genetik dapat menyebabkan deposisi amiloid yang
disebut amyloidosis heredofamilial. Klasifikasi amyloidosis adalah sebagai
berikut:3,7,9
1Systemic amyloidosis
1
Primary (myeloma-associated) systemic amyloidosis
Primary systemic amyloidosis atau AL amyloidosis melibatkan jaringan
mesenkim, lidah, jantung, saluran gastrointestinal, dan kulit. Manifestasi
kulit terjadi hampir 40% dari seluruh kasus primary systemic amyloidosis.
Jenis ini merupakan yang tersering pada amyloidosis sistemik, sekitar
lebih dari 60% dari seluruh kasus. AL amyloidosis berkaitan dengan
diskrasi sel B monoclonal. Fibril AL berasal dari rantai immunoglobulin
monoclonal. Myeloma-associated amyloidosis termasuk dalam kategori
ini.7,9
2
Secondary systemic amyloidosis
Secondary systemic amyloidosis atau AA amyloidosis melibatkan kelenjar
adrenal, hati, lien,dan ginjal sebagai dampak dari beberapa penyakit
kronik. Dalam kategori ini manifestasi kulit tidak ditemukan. Amyloid fibril
pada secondary systemic amyloidosis disebut protein AA, dan tidak
berkaitan dengan imunoglobulin. Prekusornya adalah serum protein

amyloid A, yang pada faseakut meningkat pada beberapa kejadian


inflamasi.3,9
2Cutaneous amyloidosis
1
Primary cutaneous amyloidosis
Pada primary localized cutaneous amyloidosis (PLCA) terdapat deposisi
amyloid pada kulit yang normal, tanpa adanya deposit amyloid pada
organ internal. Terdapat beberapa subtype dari PLCA yaitu macular,
papular (lichen amyloidosis), dan nodular. 7,9
2
Secondary (tumor-associated) cutaneous amyloidosis
Deposit secara mikroskopik dari amyloid telah dijelaskan berkaitan
dengan berbagai jenis tumor kulit, termasuk nevus melanositik
intradermal, tumor kelenjar apokrin, karsinoma sel basal, dan
trikoepitelioma.3,9
3Heredofamilial amyloidosis
Penyebab utama amyloidosis herediter adalah mutasi transthyretin (TTR), yang
diderita sekitar 10,000 pendudk di seluruh dunia,dan menyebabkan familial
amyloid polyneuropathy (FAP).7
6

GEJALA KLINIS
Sistemik Amyloidosis
Primary systemic amyloidosis
Usia rata rata penderita amyloidosis primer sekitar 65 tahun, dan lebih
banyak pada pria. Gejala yang timbul tidak khas seperti kelelahan, penurunan
berat badan, parestesia, edema, dispneu, dan sinkop karena hipotensi ortostatik.
Gejala klasik yang timbul seperti carpal tunnel syndrome, makroglosi,
hepatomegali, dan edema menandakan adanya diskrasia sel plasma. 3
Lesi mukokutaneus khas terjadi hampir 40% dari semua kasus. Lesinya
berupa infiltrat kapiler dengan peteki atau purpura di kelopak mata dan dada.
Papul atau plak xanthomatous juga sering timbul, dan adanya lesi keratosis
hiperpigmentosa. Bulla yang tegang dan hemoragik dapat timbul intradermal
atau subepidermal. Lesi kulit yang jarang seperti alopesia, scleroderma-like skin,
dan distrofi kuku.3,6,7
Secondary systemic amyloidosis
Amyloidosis sekunder terjadi sebagai akibat dari berbagai penyakit inflamasi
kronik dimana sistem imun terstimulasi. Dalam hal ini termasuk infeksi akut yang
rekuren atau infeksi kronik. Amyloidosis sekunder jarang menimbulkan lesi kulit.
Nodul pada siku akibat deposisi amyloid AA dilaporkan pada pasien dengan
riwayat sindrom Sjorgen, miopati, osteoporosis berat, dan fraktur vertebra. Pasien
biasanya menunjukkan gejala proteinuria, gagal ginjal progresif, dan sering
disertai dengan sindrom nefrotik.3,7

Cutaneous Amyloidosis
Primary cutaneous amyloidosis
1

Macular amyloidosis
Gejala yang sering timbul berupa gatal, berwarna coklat, macula kecil dengan
karakteristik lokasi pada region interskapula. Pigmentasi bersifat terpisah
memberikan gambaran salt and pepper. Parastesia nostalgia terlokalisasi
pada area yang sama. Kadang-kadang paha, betis, lengan, dada, dan bokong
juga terlibat, dan pada kasus dengan lesi kulit yang luas berkaitan dengan
pruritus yang luas.5,9

Lichen amyloidosis
Lichen amyloidosis ditandai dengan papul likenoid yang gatal, dan terjadi
bilateral pada betis. Lesi primernya kecil, berwarna coklat, berlainan, sedikit
papul bersisik bersatu membentuk plak. Jarang timbul pada paha, lengan dan
punggung.5,9
3

Nodular amyloidosis
Amyloidosis nodular merupakan bentuk yang jarang dari PCLA.
Kebanyakan penderita adalah wanita. Nodul tunggal , nodul mutipel, atau
plak berhubungan dengan diskarasia sel plasma terkait amyloidosis
sistemik. Nodul dapat timbul pada wajah, badan, tungkai, genitalia, atau
palatum. Ukurannya bermacam-macam,dari milimeter hingga beberapa
centimetre. Kulit dasar nodul biasanya atrofi dan terdapat peteki
hemoragik di sekitar nodul.3

Secondary cutaneous amyloidosis


Deposisi secara mikroskopik dari amyloid telah dijelaskan memiliki hubungan
dengan beberapa kejadian tumor kulit.3

Heredofamilial Amyloidosis

Amyloidosis herediter dapat menimbulkan peteki dan erupsi pada kulit. Selain itu,
juga dapat bermanifestasi sebagai infiltrasi plak berwarna kekuningan dan lesi
seperti akantosis nigrikan. Kelaianan kulit pada FAP dapat menyerupai xerosis,
dermatitis seboroik, luka bakar, dan onikomikosis. 7

DIAGNOSIS
Amyloidosis umumnya timbul pada usia pertengahan atau lebih tua, tapi juga
dapat menyerang pada usia 30 40 tahun, kadang-kadang pada usia yang lebih
muda. Deposit amyloid dapat menyebabkan penurunan berat badan, kelelahan,
dispneu, pusing, edema, tingling, proteinuria, gangguan saluran cerna,
makroglosia, dan kelainan pada kulit.1,3,7
Pemeriksaan darah dan urine dapat menunjukkan protein yang abnormal dalam
tubuh. Tapi gold standard untuk mendeteksi deposit amyloid adalah dengan
biopsy jaringan dengan pewarnaan Congo red. 3

DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding pada amyloidosis diantara adalah sebagai berikut : 7

Dermatitis atopic

Lichen planus

Prurigo pigmentosa

Dermatomyositis

PENATALAKSANAAN
Terapi pada semua jenis amyloidosis bertujuan untuk mengurangi produksi
dari prekursor fibril amyloid dan memperbaiki fungsi dari organ yang terlibat.
Pada amyloidosis sistemik primer yang umumnya berkaitan dengan multiple
myeloma, terapi yang sering diberikan adalah kemoterapi, biasanya melphalan
dan prednisone, dengan atau tanpa transplantasi sumsum tulang. 3,7
Pada amyloidosis sistemik sekunder, penanganan inflamasi primer dapat
menurunkan jumlah protein amyloid dalam tubuh. Obat-obatan dengan sitokin
mediator inflamasi sebagai targetnya terbukti dapat menekan respon inflamasi
fase akut pada pasien.7
Pasien dengan cutaneous amyloidosis dapat diberikan antihistamin sedative,
dimethyl sulfoxide topical, kortikosteroid, siklosporin khususnya untuk lichen

amyloidosis. Selain itu, dermabrasi dan pembedahan juga menjadi alternatif


untuk penanganan pasien dengan cutaneous amyloidosis. 2,3,7

10 PROGNOSIS
Prognosis umumnya buruk pada amyloidosis sistemik. Hal ini disebabkan
karena penderita umumnya asimptomatik sehingga sering terjadi keterlambatan
diagnosa. Pada cutaneous amyloidosis umumnya tidak menimbulkan kematian
tapi bersifat rekuren.3,7

11 KOMPLIKASI
Amyloidosis dapat menimbulkan komplikasi berupa kardiomiopati, gagal
ginjal, gangguan saluran cerna, neuropati, sindrom nefrotik, gatal, perdarahan,
dan rasa nyeri pada lesi kulit.7