You are on page 1of 15

CASE REPORT

G1P0A0 parturien 39-40 minggu Kala I fase Laten + KPD +
Hepatitis B

DISUSUN OLEH:
Siti Noor Fadhila
1102009269
PEMBIMBING:
Dr. H. Dadan Susandi, Sp.OG

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
SMF OBSETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
RSUD DR. SLAMET GARUT
2015
1.

IDENTITAS
Nama
Umur

Pasien
: Ny. N
: 24 th

Suami
Tn. S
27 th
1

SD. Haid Siklus haid Lama haid Banyaknya darah Nyeri haid Menarche usia HPHT TP : Tidak Teratur : 7 hari : Biasa : Tidak dirasakan : 11 tahun : 13 Juli 2014 : 20 April 2015 2 . Pergerakan janin dirasakan ibu sejak ± 5 bulan yang lalu hingga saat ini. Anamnesa khusus : G1P0A0 merasa hamil 9 bulan. Cairan yang keluar berwarna jernih dan tidak berbau. datang ke Rumah Sakit dengan keluhan keluar cairan banyak dari jalan lahir sejak ± 23 jam SMRS. : : : : : : : : : D3 IRT Islam Sunda Cilawu 76-27-xx 16 April 2015 18 April 2015 Kalimaya D3 WIRASWASTA Islam Sunda Cilawu ANAMNESIS A. Ibu mengaku menderita penyakit liver sejak ± 3 tahun yang lalu. Riwayat Obstetri Kehamilan ke I Tempat Penolong Cara Kehamilan Cara Persalinan BB Lahir Jenis Kelamin Usia Keadaan : Hidup/Mati -------------------------------Kehamilan Saat Ini------------------------------------------- D. Keluhan disertai dengan Mules-mules yang semakin sering. C. SD. Riwayat Perkawinan : Status : Menikah pertama kali Usia saat menikah : Perempuan : 23 tahun. Keluhan utama : Keluar cairan banyak dari jalan lahir B. Swasta E.Pendidikan Pekerjaan Agama Suku Alamat No. IRT Laki-laki : 26 tahun.CM Masuk RS Keluar RS Ruangan 2. semakin kuat dan semakin lama. Keluar lendir yang bercampur darah sudah dirasakan ibu.

105 gr 3 . penyakit ginjal.F. Kepala 3/5 2-3 x/10 menit. penyakit Diabetes militus. Prenatal Care : Datang untuk kontrol kehamilan ke Spesialis kandungan dengan jumlah kunjungan ± 10 kali selama kehamilan. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mengaku memiliki riwayat penyakit liver. Keluhan selama kehamilan Tidak ada keluhan selama kehamilan I. PEMERIKSAAN FISIK A. Riwayat kontrasepsi Tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi G. Status Praesense 4. Riwayat penyakit jantung. Pemeriksaan luar Tinggi Fundus Uteri Lingkar Perut Letak Anak HIS BJA TBBA : : : : : : Baik Compos mentis 90/70 mmHg 88 x/menit 24 x/menit 36. penyakit tiroid.0 ºC Konjungtiva Anemis : -/Sklera ikterik : -/Bunyi jantung I-II murni reguler Gallop (-). riwayat asma bronchial disangkal pasien dan riwayat hipertensi sebelum kehamilan disangkal. Murmur (-) VBS kiri = kanan. Wheezing -/Cembung lembut Hepar dan Lien: Sulit dinilai Akral hangat. Keadaan umum Kesadaran Tensi Nadi Respirasi Suhu Kepala : : : : : : : Cor : Pulmo Abdomen : : Ekremitas : STATUS OBSTETRIK A. 3. Varises -/- 35 cm 105 cm Puki. reguler 3. terakhir 1 bulan yang lalu. Edema tungkai -/-. Rhonki -/-. penyakit paru-paru. H. penyakit epilepsi. lama his 60 detik 142 x/menit.

Pemeriksaan Fornises : Tidak dilakukan D. Pemeriksaan Dalam : Vulva : TAK Vagina : TAK Portio : Tebal lunak Pembukaan : 3-4 cm Ketuban : (-) Bag. Terendah: Kepala Station -1 E. Laboratorium Tanggal : 16 April 2015 Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan 4 .B. Inspekulo : Tes Lakmus : + C.

800 Trombosit Hematokrit Eritrosit KIMIA DARAH Gula Darah Puasa Gula Darah Sewaktu Ureum Creatinin SGOT SGPT IMMUNOLOGI HbsAG IMMUNOSEROLOGI HIV 289. HIS. DJJ • Infus RL 500 cc 20 gtt/menit • Konsul IPD • Motivasi Kb Pasien telah diberi terapi injeksi cefotaxim 1gr iv pada pukul 23.30 BJA : 138x/menit BJA : 143x/menit BJA : 142x/menit Pembukaan 2-3cm. 08.000 39.7% gr/dl Non Reaktif 5. TTV. DIAGNOSIS KERJA G1P0A0 parturien 39-40 minggu Kala I fase Laten + KPD + Hepatitis B 6.00 5 .30 09.5-6 juta per mm3 mm/jam mm/jam per mm3 % juta/mm 123 17 0. porsio : tebal lunak. kepala station -1.HEMATOLOGI Hemaglobin 12.6-1.000-10.000-450. ketuban (-).9 Pria = 14-18 gr % Wanita = 12-16 gr % 4.73 19 15 76-100 mgr % 100-140 mgr % 11-55 mgr % 0. pembukaan : 4-5cm. RENCANA PENGELOLAAN • R/ Partus Pervaginam • Cek Lab HbsAG.00 07.000 35-45 4. ketuban (-). Ureum Creatinin & Darah Rutin • Cefotaxime 2x1gr iv • Observasi KU.1 mgr % 10-35 U/L 10-36 U/L mgr % mgr % mgr % mgr % U/L U/L Positif Negatif Leukosit LED 29.10 Pemantauan Persalinan Kala I Jam Keterangan 01.000 < 10 mm/jam < 20 mm/jam 150.a.00 07. SGOT. SGPT.k. dipasang drip oxy SIO BJA : 143x/menit BJA : 142x/menit PD: vulva/vagina : t.

Ketuban (-). kami ucapkan terima kasih. B20 . hari ini . IPD Di Tempat. Salam Sejawat. TS Bagian/SMF/Dr. pasien dengan keterangan klinik : Nama : Ny.30 15.pro lab. TS Bagian/SMF/Dr.500gr A-S: 3-5 Kelainan: t. perineum hecting KU: Baik TFU: 2 jari dibawah pusat Kontraksi: Baik Ibu mendapat pospargin 1amp/iv + 4 tab misoprostol/anus Pasien dibersihkan menggunakan spon + dibantu mobilisasi Diagnosa Akhir : P1A0 Partus Maturus dengan VE + Augmentasi Oxytosin Lembar Konsultasi Jawaban Konsultasi Nama : Ny.35 : Lahir bayi laki-lagi dengan VE a/i waktu. explorasi a/i tindakan tidak terdapat ruptur uteri. Blas dikosongkan. saat kontrol . pembukaan : lengkap. kepala station +2 BJA : 141x/menit Diputuskan untuk dilakukan VE karena bayi tidak lahir dalam 2 jam.untuk saat ini pengelolaan di bidang kami memantau Atas bantuan TS. HbsAg . segera menangis JK : laki-laki PB: 49cm NP: 1802 BB: 3. Salam Sejawat. Partus dipimpin. kami temukan : Subjektif : Parturien Objektif : KU : CM T : 90/70 mmHg HbsAg (+) Assesment : Hepatitis B dengan kehamilan aterm. Jam 15. Nita Umur : 24 th Diagnosa : G1P0A0 parturien 39-40 minggu Kala I fase Laten + KPD + Hepatitis B Alasan konsultasi/Masalah penatalaksanaan hepatitis B dibidang TS.pro lab. Nita Umur : 24 Tahun Kepada Yth. Pembukaan : Lengkap. Mohon Konsul/Evaluasi/penanganan lanjut. Kepala : Station +2. Kepada Yth. Laporan Persalinan (Kala II/Kala III) Tanggal 17/04/2015 Pasien ingin mengedan.13. ketuban (-).a. kala II lama. HIS (+) BJA (+) PD : Teraba Kepala. Planning : .15 kepala station -1 BJA : 143x/menit PD : vulva/vagina : tidak teraba. dilakukan episiotomi. OBGYN Di Tempat.k Ibu mendapat oxy 1 amp Jam 15. Menjawab konsul TS. 6 .40 : Plasenta lahir spontan lengkap.

dengan demikian untuk kepentingan klinis waktu 1 jam tersebut merupakan waktu yang disediakan untuk melakukan pengamatan adanya tandatanda awal persalinan.hasil B20 Follow Up Post Partum Tangal Catatan 18/04/2015 S/ O/ KU : CM T : 100/70 mmHg N : 88 x/mnt R : 20 x/mnt S : 36.preterm amniorrhexis). Waktu sejak ketuban pecah sampai terjadi kontraksi rahim disebut ketuban pecah dini (periode laten). Bagaimana penegakkan diagnosis pada kasus ini? 2. Bila terjadi pada kehamilan < 37 minggu maka peristiwa tersebut disebut KPD Preterm (PPROM = preterm premature rupture of the membrane . Mefenamat 3 x 500 mg SF 1 x 1 BLPL Permasalahan 1. Bila bagian terendah janin masih belum masuk pintu atas panggul maka kemungkinan terjadinya prolapsus tali pusat atau kompresi tali pusat menjadi besar 7 .PS/PP : -/. Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu. Secara klinis diagnosa KPD ditegakkan bila seorang ibu hamil mengalami pecah selaput ketuban dan dalam waktu satu jam kemudian tidak terdapat tanda awal persalinan. Ketuban Pecah Dini (KPD) Ketuban Pecah Dini (amniorrhexis – premature rupture of the membrane PROM) adalah pecahnya selaput korioamniotik sebelum terjadi proses persalinan. Arti klinis ketuban pecah dini : 1. Ada juga yang disebut ketuban pecah dini preterm yakni ketuban pecah saat usia kehamilan belum masa aterm atau kehamilan dibawah 38 – 42 minggu. Bagaimanakah prognosis pada pasien ini? Pembahasan 1.5 0C ASI : -/Abd : Datar Lembut NT : . Kondisi ini merupakan penyebab persalinan premature dengan segala komplikasinya. Apakah pengelolaan kasus ini sudah tepat? 3. yaitu bila pembukaan pada primi kurang dari 3 dan pada multipara kurang dari 5cm.DM : TFU : 1 jari dibawah pusat Perdarahan : BAB/BAK : -/+ D/ G1P0A0 parturien 39-40 minggu Kala I fase Laten + KPD + Hepatitis B Instruksi - Cefadroxil 2 x 500 mg As. Bagaimana penegakkan diagnosis pada kasus ini? a.

d. atau mengeluarkan cairan yang banyak secara tibatiba dari jalan lahir. 5. tekanan darah. Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen. 4. Diagnosis a. Peristiwa KPD yang berlangsung lebih dari 24 jam (prolonged rupture of membrane) seringkali disertai dengan infeksi intrauterin. akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada forniks anterior/posterior. pemeriksaan ini akan lebih jelas. pada kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam karena pada waktu pemeriksaan dalam. Pemeriksaan dengan spekulum. Pemeriksaan Penunjang 8 . his belum teratur atau belum ada. f. bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak. Pemeriksaan fisik Periksa tanda-tanda vital pasien yaitu kesadaran. dan bila akan dilakukan penanganan aktif (terminasi kehamilan). megejan atau lakukan manuver valsava. 3. Cairan berbau khas. terus menerus atau tidak.2. Peristiwa KPD yang terjadi pada primigravida hamil aterm dengan bagian terendah yang masih belum masuk pintu atas panggul sering kali merupakan tanda adanya gangguan keseimbangan foto pelvik. KPD sering diikuti dengan adanya tanda – tanda persalinan sehingga dapat memicu terjadinya persalinan preterm. dan belum ada pengeluaran lendir darah. Pemeriksaan inspekulo secara steril merupakan langkah pemeriksaan pertama terhadap kecurigaan KPD. penderita diminta batuk. Anamnesa Penderita merasa basah pada vagina. Pemeriksaan dalam vagina hanya dilakukan kalau KPD yang sudah dalam persalinan atau yang dilakukan induksi persalinan. Pemeriksaan dalam Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi. nadi. Inspeksi Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan dari vagina. Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan tocher perlu dipertimbangkan. jari pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina yang normal. e. pernafasan dan suhu badan. Pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan dari orifisium uteri eksternum (OUE). dan dibatasi sedikit mungkin. fundus uteri ditekan. Apakah ada tanda infeksi. atau bagian terendah digoyangkan. Peristiwa KPD dapat menyebabkan oligohidramnion dan dalam jangka panjang kejadian ini akan dapat menyebabkan hilangnya fungsi amnion bagi pertumbuhan dan perkembangan janin. b. Dari anamnesis 90% sudah dapat mendiagnosa KPD secara benar. dan perlu juga diperhatikan warna keluanya cairan tersebut. seperti suhu badan meningkat dan nadi cepat. kalau belum juga tampak keluar. c.

Darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan tes yang positif palsu. Pemeriksaan laboraturium Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna. Tes laboratorium yang dipakai untuk menegakkan diagnosis adalah: 1. Keberadaan anti-HBsAg menunjukan adanya antibodi terhadap VHB. yaitu dengan memeriksa kadar keasaman cairan vagina. Bila hasil tetap setelah lebih dari 6 bulan berarti hepatitis telah berkembang menjadi kronis atau pasien menjadi karier VHB. Jika hasil tes HBsAg positif. b. konsentrasi. Antibodi ini memberikan perlindungan terhadap penyakit hepatitis B. Tes antigen-antibodi virus Hepatitis B: a.  Tes Lakmus (tes Nitrazin). masuk melalui darah ataupun cairan tubuh dari seseorang yang terinfeksi seperti halnya virus HIV. Anti-HBs (antibodi terhadap HBsAg) Merupakan antibodi terhadap HbsAg.a. Kadangkala baru dapat diketahui pada waktu menjalani pemeriksaan rutin atau untuk pemeriksaan dengan penyakit-penyakit yang lain. HBsAg bernilai positif setelah 6 minggu infeksi VHB dan menghilang dalam 3 bulan. HbsAg positif makapasien dapat menularkan VHB. Virus hepatitis B menyerang hati. Tempatkan sepotong kertas nitrazin pada mata pisau spekulum setelah menarik spekulum dari vagina. karier VHB. adalah reaksi yang bersifat menyerang sistem kekebalan tubuh yang biasanya menyebabkan radang dan kerusakan pada hepar. Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine atau sekret vagina. Hepatitis B Hepatitis B merupakan penyakit nekroinflamasi hepar yang disebabkan infeksi virus hepatitis B. HbsAg (antigen permukaan virus hepatatitis B) Merupakan material permukaan/kulit VHB. Namun sering terjadi kesalahan pada penderita oligohidromnion. jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). HBsAg mengandung protein yang dibuat oleh sel-sel hati yang terinfesksi VHB. bau dan pH nya. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri. Diagnosis Oleh karena penderita hepatitis B seringkali tanpa gejala maka diagnosis seringkali hanya bisa ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Jika tes anti-HbsAg bernilai positif berarti seseorang pernah mendapat vaksin 9 . b. Virus hepatitis B adalah virus nonsitoplastik. Sebaliknya. menderita hepatatitis B akut ataupun kronis. yang berarti virus tersebut tidak menyebabkan kerusakan langsung pada sel hepar. artinya individu tersebut terinfeksi VHB. b.

d. HbeAg bernilai positif menunjukkan virus VHB sedang aktif bereplikasi atau membelah/memperbayak diri. 5. Anti-Hbc (antibodi terhadap antigen inti hepatitis B) Merupakan antibodi terhadap HbcAg. CT (computed tomography) scan ataupun MRI (magnetic resonance imaging). f. Adapun faktor predisposisi terjadinya transmisi vertikal adalah: 1. Apabila positif menandakan bahwa penyakitnya aktif dan terjadi replikasi virus. IgM anti HBc tinggi menunjukkan infeksi akut. Pengaruh Terhadap Kehamilan dan Bayi Dilaporkan 10-20 % ibu hamil dengan HBsAg positif yang tidak mendapatkan imunoprofilaksis menularkan virus pada neonatusnya dan ± 90 % wanita hamil dengan seropositif untuk HBsAg dan HBeAg menularkan virus secara vertikel kepada janinnya dengan insiden ± 10 % pada trimester I dan 80-90 % pada trimester III. untuk mengetahui timbulnya kanker hati. c. HbcAg (antigen core VHB) Merupakan antigen core (inti) VHB. Titer DNA VHB yang tinggi 2. 4. Individu yang memiliki HbeAg positif dalam keadaan infeksius atau dapat menularkan penyakitnya baik kepada orang lain maupun janinnya. IgG anti-HBc positif dengan IgM anti-HBc negatif menunjukkan infeksi kronis pada seseorang atau orang tersebut penah terinfeksi VHB. SGOT dan SGPT dapat merupakan tanda bahwa penyakit hepatitis B-nya aktif dan memerlukan pengobatan anti virus. Faal hati. Anti-Hbe Merupakan antibodi terhadap antigen HbeAg yang diproduksi oleh tubuh. 3. e. Biopsi hati dapat dilakukan pada penderita untuk memonitor apakah pasien calon yang baik untuk diterapi antivirus dan untuk menilai keberhasilan terapi. VHB ataupun immunoglobulin. untuk mengetahui timbulnya kanker hati. Anti-HbeAg yang bernilai positif berati VHB dalam keadaan fase non-replikatif. yaitu protein yang dibuat di dalam inti sel hati yang terinfeksi VHB. Apabila hasil positif dialami hingga 10 minggu maka akan berlanjut menjadi hepatitis B kronis. Anti-HbsAg posistif pada individu yang tidak pernah mendapat imunisasi hepatitis B menunjukkan bahwa individu tersebut pernah terinfeksi VHB. Alfa-fetoprotein (AFP).yaitu sebuah protein yang dibuat oleh sel hati yang kanker. Hal ini juga dapat terjadi pada bayi yang mendapat kekebalan dari ibunya. HbeAg Yaitu antigen envelope VHB yang berada di dalam darah. HbcAg positif menunjukkan keberadaan protein dari inti VHB. Dalam keadaan ini infeksi terus berlanjut.2. 6. Makin tinggi titer HBV-DNA kemungkinan perburukan penyakit semakin besar. USG (ultrasonografi). Terjadinya infeksi akut pada trimester III 10 . 7. Viral load HBV-DNA. adalah tes untuk mengukur tingkat AFP. Antibodi ini terdiri dari dua tipe yaitu IgM anti HBc dan IgG anti-HBc.

Imunoglobulin merupakan produk darah yang diambil dari darah donor yang memberikan imunitas sementara terhadap VHB sampai vaksinasi VHB memberikan efek. riwayat tereksposure dengan hepatitis.3. Penelitian yang dilakukan Lee SD.dkk (dipublikasikan tahun 2002) di USA mengenai resiko transmisi VHB melalui ASI pada ibu penderita kroniskarier menghasilkan kesimpulan dengan imunoprofilaksis yang tepat termasuk Ig hepatitis B dengan vaksin VHB akan menurunkan resiko penularan. Sedangkan transmisi VHB dari bayi ke bayi selama perawatan sangat rendah. dkk (dipublikasikan 2003) mengenai resiko dan kegagalan imunoprofilaksis pada wanita karier yang menyusui bayinya menghasilkan kesimpulan tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara ASI dengan susu botol. Pada partus memanjang yaitu lebih dari 9 jam Sedangkan ± 90 % janin yang terinfeksi akan menjadi kronis dan mempunyai resiko kematian akibat sirosis atau kanker hati sebesar 15-25 % pada usia dewasa nantinya. Pada bayi yang tidak divaksinasi dengan ibu karier mempunyai kesempatan sampai 40 % terinfeksi VHB selama 18 bulan pertama kehidupannya dan sampai 40 % menjadi karier jangka panjang dengan resiko sirosis dan kanker hepar dikemudian harinya. Tetapi pemeriksaan rutin wanita hamil tua untuk skreening tidak dianjurkan kecuali pada kasus-kasus tertentu seperti pernah menderita hepatitis akut. Vaksin hepatitis B kedua diberikan sekitar 1 bulan kemudian dan vaksinasi ketiga setelah 6 bulan dari vaksinasi pertama. Hal ini mengindikasikan bahwa ASI tidak mempunyai pengaruh negatif dalam merespon anti HBs. Penelitian yang dilakukan Hill JB. Sedangkan penelitian WangJS. abortus. Pada wanita dengan karier VHB tidak akan mempengaruhi janinnya. Tes hepatitis B terhadap HBsAg dianjurkan pada semua wanita hamil pada saat kunjungan antenatal pertama atau pada wanita yang akan melahirkan tapi belum pernah diperiksa HbsAg-nya. dkk (dipublikasikan 1988) mengenai peranan Seksio Sesarea dalam mencegah transmisi VHB dari ibu kejanin menghasilkan kesimpulan bahwa SC yang dikombinasikan dengan imunisasi Hepatitis B dianjurkan pada bayi yang ibunya penderita kronis-karier HbsAg dengan level atau titer DNA-VHB serum yang tinggi. Dalam suatu studi pada infeksi hepatitis akut pada ibu hamil (tipe B atau non B) menunjukkan tidak ada pengaruh terhadap kejadian malformasi kongenital. lahir mati atau stillbirth. atau mempunyai kebiasaan yang beresiko tinggi untuk tertular seperti penyalahgunaan obat-obatan parenteral selama hamil. Lebih dari 90 % wanita ditemukan HbsAg positif pada skreening rutin yang menjadi karier VHB. ataupun malnutrisi intrauterine. Ibu hamil yang karier VHB dianjurkan untuk memberikan bayinya Imunoglobulin Hepatitis B (HBIg) sesegera mungkin setelah lahir dalam waktu 12 jam sebelum disusui untuk pertama kalinya dan sebaiknya vaksinasi VHB diberikan dalam 7 hari setelah lahir. maka test HbsAg dapat dilakukan pada trimester III 11 . VHB dapat melalui ASI sehingga wanita yang karier dianjurkan mendapat Imunoglobulin hepatitis B sebelum bayinya disusui. Infeksi VHB tidak menunjukkan efek teratogenik tapi mengakibatkan insiden Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Prematuritas yang lebih tinggi diantara ibu hamil yang terkena infeksi akut selama kehamilan. tapi bayi dapat terinfeksi pada saat persalinan (baik pervaginam maupun perabdominan) atau melalui ASI atau kontak dengan karier pada tahun pertama dan kedua kehidupannya.

vaksin hepatitis B dalam 1 minggu setelah lahir. siringe. dsb. berdasarkan anamnesis ditemukan pasien merasakan ada cairan yang keluar dari jalan lahir ± 23 jam SMRS. Ketika kontak seksual dengan penderita hepatitis B terjadi dalam 14 hari  Berikan vaksin VHB kedalam m. Pada pemeriksaan laboratorium darah. spons.  Konsul teratur kedokter  Periksa fungsi hati. dosis kedua HBIg dapat diberikan 1 bulan kemudian. jarum suntik dan kontak nonseksual dalam rumah dengan penderita kronis VHB dapat diberikan profilaksis post eksposure dengan vaksin hepatitis B dengan dosis tunggal. air dan tourniquet. tidak menggunakan bersama obat-obatan yang mempergunakan alat seperti jarum. dan melakukan vaksinasi untuk mencegah penularan.06 ml/kgBB IM pada lengan kontralateral. 1 bulan dan 6 bulan kemudian. memakai pengaman waktu kerja kontak dengan darah. HbsAg yang positif tanpa IgM anti HBc menunjukkan infeksi kronis sehingga bayinya harus mendapat HBIg dan vaksin VHB. ditemukan leukosit 29.deltoideus. Wanita hamil dengan karier VHB dianjurkan memperhatikan hal-hal sbb :  Tidak mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan hepatotoksik seperti asetaminophen  Jangan mendonorkan darah. organ tubuh.  Pastikan bayinya mendapatkan HBIg saat lahir. 2. Pencegahan penularan VHB dapat dilakukan dengan melakukan aktifitas seksual yang aman. Pembahasan Pada pasien ini. Ibu juga mengaku memiliki riwayat penyakit liver sejak 3 tahun lalu dan sesegera mungkin setelah lahir dalam waktu 12 jam sebelum disusui untuk pertama kalinya dan sebaiknya vaksinasi VHB diberikan dalam 7 hari setelah lahir.800/mm3 dan HbsAg (+).  Memberikan informasi pada ahli anak. Ketika tereksposure dengan penderita kronis VHB Pada kontak seksual.  Untuk profilaksis setelah tereksposure melalui perkutan atau luka mukosa. jaringan tubuh lain atau semen  Tidak memakai bersama alat-alat yang dapat terkontaminasi darah seperti sikat gigi. filter. gunting kuku. Vaksin 12 . Profilaksis pada wanita hamil yang telah tereksposure dan rentan terinfeksi adalah: 1. tidak memakai bersama alat-alat yang bisa terkontaminasi darah seperti sikat gigi. dll. Tersedia 2 monovalen vaksin VHB untuk imunisasi pre-post eksposure yaitu Recombivax HB dan Engerix-B. Dosis HBIg yang diberikan 0. dsb. kebidanan dan laboratorium bahwa dirinya penderita hepatitis B carier.kehamilan.

untuk menangani KPD yang tepat adalah pemberian antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi. Walaupun dari penelitian para ahli cara persalinan tidak menunjukkan pengaruh yang bermakna dalam transmisi VHB dari ibu ke janin yang mendapatkan imunoprofilaksis.hepatitis B kedua diberikan sekitar 1 bulan kemudian dan vaksinasi ketiga setelah 6 bulan dari vaksinasi pertama. Terminasi pada kehamilan 37 minggu. Jika usia kehamilan 32-37 sudah inpartu. Jika umur kehamilan <3234 minggu. infeksi janin langsung berhubungan dengan lama pecahnya selaput ketuban atau lamanya perode laten. dirawat selama air ketuban masih keluar.  Hepatitis B Pilihan persalinan Pilihan persalinan dengan Seksio sesaria telah diusulkan dalam menurunkan resiko transmisi VHB dari ibu kejanin. dan induksi sesudah 24 jam. 2. kalau segera mengakhiri kehamilan akan 13 . dan bila memungkinkan perisa kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu. Pada persalinan ibu hamil dengan titer VHB tinggi (> 3. nilai tanda-tanda infeksi (suhu. KPD yang cukup bulan. kalau segera mengakhiri kehamilan akan menaikkan insidensi bedah sesar. Pada umur kehamilan 34 minggu atau lebih biasanya paru-paru sudah matang. belum inpartu. Aktif Kehamilan >37 minggu. Apakah pengelolaan kasus ini sudah tepat?  Ketuban Pecah Dini Kasus KPD yang cukup bulan. atau sampai air ketuban tidak lagi keluar. observasi tanda-tanda infeksi. deksametason I. Bila ada tanda. beri antibiotik dan lakukan induksi. Konservatif Rawat di rumah sakit berikan antibiotik (ampisilin 4 x 500 mg atau eritromisin bila tidak tahan dengan ampisilin dan metronidasol 2 x 500 mg selama 7 hari).tanda infeksi berikan antibiotik dosis tinggi dan persalinan diakhiri. induksi dengan oksitosin. ada infeksi. tes busa negative beri deksametason. Bila gagal seksio sesarea. dan kesejahteraan janin.M 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali. deksametason. tidak ada infeksi. berikan tokolitik (salbutamol). dan kalau menunggu persalinan spontan akan menaikkan insidensi chorioamnionitis. Dapat pula diberikan misoprostol 25 μg-50 μg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali. Pada kehamilan cukup bulan. Pembahasan Pada kasus ini. Dosis betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari. tanda-tanda infeksi intrauterine). tidak ada infeksi. Pada usia kehamilan 32-37 minggu berikan steroid untuk memacu kematangan paru janin. chorioamnionitis yang diikuti dengan sepsis pada janin merupakan sebab utama meningginya morbiditas dan mortalitas janin. Jika usia kehamilan 32-37 minggu. Jika usia kehamilan 32-37 minggu.5 pg/ml atau HbeAg positif) lebih baik SC sebagai pilihan cara persalinan. leukosit.

Hepatitis B Sangat bervariasi. Prognosis Ibu a. Pilihan persalinan pada pasien ini denga cara partus pervaginam. ensefalopaty. Infeksi puerperalis/ masa nifas Dry labour/Partus lama Perdarahan post partum Meningkatkan tindakan operatif obstetri (khususnya SC) Morbiditas dan mortalitas maternal 2. 3.menaikkan insidensi bedah sesar. Sindrom deformitas janin atau sindrom Potter. penyakit berjalan ringan dengan perbaikan biokimia terjadi secara spontan dalam 1 – 3 tahun. pasien tetap asimptomatik dan jarang terjadi kegagalan hati. cerebral palsy. f. perdarahan intrakranial. dry labour/pertus lama. Secara keseluruhan. walaupun terdapat kelainan biokimia. dan jika menunggu persalinan spontan akan menaikkan insidensi chorioamnionitis. e. b. Prolaps funiculli / penurunan tali pusat c. brain disorder (and risk of cerebral palsy). pada sebagian kasus. Pembahsan 14 . hyperbilirubinemia. Morbiditas dan mortalitas perinatal. neonatal feeding problem. c. apgar score rendah. Jika terjadi infeksi dan kontraksi ketuban pecah maka bisa menyebabkan sepsis yang selanjutnya dapat mengakibatkan meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas. hepatitis kronik persisten dan kronik aktif berubah menjadi keadaan yang lebih serius. sepsis. necrotizing enterocolitis. anemia. intraventricular hemorrhage. Prognosis Janin a. deformitas akibat kompresi pada muka dan ekstremitas. Prematuritas Masalah yang dapat terjadi pada persalinan prematur diantaranya adalah respiratory distress sindrome. dan yang paling penting adalah hipoplasia paru-paru sering terjadi pada preterm PROM e. prolaps uteri. hypothermia. Pada sebagian kasus lainnya. respiratory distress. Infeksi intrapartal/dalam persalinan b. Bagaimanakah prognosis pada pasien ini? KPD 1. renal failure. Hipoksia dan asfiksia sekunder (kekurangan oksigen pada bayi) Mengakibatkan kompresi tali pusat. Sindrom ini meliputi restriksi pertumbuhan intrauterin. d. bahkan berlanjut menjadi sirosis. retinopathy of premturity. d.

dkk.Pada kasus ini. 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC.. prognosis ibu dan janin adalah baik. Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Hepatitis Virus Akut dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid I edisi IV. karena pasien ini tingkat kesembuhannya tinggi dan tidak mengganggu aktivitas. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta. tidak ditemukan adanya komplikasi pada ibu atau janin. Ida Bagus Gde. Cunningham FG. Ilmu Kebidanan. Bagian Obsetri dan Ginekologi FK UNPAD. DAFTAR PUSTAKA 1. Quo ad sanationam pasien ini adalah dubia ad bonam. Quo ad vitam pada pasien ini ad bonam karena setelah dilakukan berupa tindakan VE keadaan pasien serta bayi hidup dan kondisinya baik. 2009. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obsetri dan GinekologiRS. Sudoyo AW. Jakarta. InternaPublishing. 2014 3. 5. Prawirohadjo S. Quo ad functionam pasien ini ad bonam karena telah dilakukan operasi VE karena organ reproduksi masih berfungsi dengan baik. New York. 1998. Williams obstetrics edisi ke 23. 15 . Hasan Sadikin. McGraw-Hill. dkk. 2010. Ilmu Kebidanan edisi keempat. Bandung: 2005 2.Dr. Manuaba. Jakarta.