You are on page 1of 42

0

STUDI KOMPARASI MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG DENGAN
MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERHADAP MOTIVASI BELAJAR
FISIKA POKOK BAHASAN KALOR PADA SISWA KELAS X
SMA NEGERI 3 SUMBAWA TAHUN AJARAN 2015/2016
PROPOSAL PENELITIAN

OLEH :
FADILAH RAMADANI
NPM : 12.01.03.0571

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SAMAWA (UNSA) SUMBAWA BESAR
TAHUN 2016

BAB I

1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Setiap manusia akan mengalami suatu proses belajar. Belajar
seyogyanya dijalankan selama hayat dikandung badan alias seumur hidup.
Dimanapun manusia itu berada sesungguhnya dia sedang menjalani proses
belajar karena sejatinya semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah
guru.
Proses belajar-mengajar atau proses pembelajaran merupakan suatu
kegiatan

melaksanakan

kurikulum

lembaga

pendidikan,

agar

dapat

mempengaruhi para siswa mencapau tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Tujuan pendidikan nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. Dalam mencapai tujuan tersebut siswa berinteraksi dengan lingkungan
belajar yang diatur oleh guru melalui suatu proses pembelajaran.
Guru memiliki empat peran strategis dalam kegiatan pendidikan yaitu
sebagai pendidik, fasilitator, evaluator dan motivator,. Guru sebagai pendidik
berarti ada dua hal yang harus dilakukan oleh guru, yaitu mengajarkan anak
nilai-nilai kebaikan dan membiasakan anak berbuat kebaikan. Sebagai fasilitator

2

berarti guru diharapkan mampu mengelola kelas dengan baik, sebagai evaluator
berarti guru harus mampu mengevaluasi hasil belajar siswa, sebagai motivator
berarti guru selalu memberikan masukan-masukan yang positif kepada siswa,
1

agar siswa bersemangat dan antusias dalam belajar.1 Salah satu cara yang yang
dapat dilakukan oleh seorang guru dalam meningkatkan motivasi belajar yaitu
dengan menggunakan metode yang tepat dalam proses pembelajaran terlebih
pelajaran fisika.
Fisika termasuk salah satu pendidikan sains yang dipelajari oleh siswa
dengan mengadakan kontak langsung terhadap objek yang diselidiki.
Pengetahuan yang dipelajari tidak hanya berupa fakta-fakta, konsep-konsep, dan
prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual/operasional, yang
melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman
belajar untuk mencapai tujuan belajar tentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi
para

pengajar

dalam

merencanakan,

dan

melaksanakan

aktifitas

pembelajaran(Hosnan, 2014:337). Model pembelajaran yang digunakan oleh
guru dalam pembelajaran fisika sangatlah bermacam-macam baik model
pembelajaraan

yang berorientasi pada guru (teacher center) seperti Model

Pembelajaran Langsung (Direct Intruction) dan Model Pembelajaran yang
berorientasi pada siswa (student center) seperti Model Pembelajaran Inkuiri.

1

3

Model pembelajaran langsung (direct intruction) adalah suatu model
pengajaran yang sebenarnya bersifat teacher center. Dalam menerapkan model
pengajaran langsung guru harus mendemonstrasikan pengetahuan atau
keterampilan yang akan dilatihkan kepada siswa secara langkah demi langkah.
Pada model ini, peran guru dalam pembelajaran sangat dominan. Guru dapat
mengajar dalam bentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan atau prraktek dan kerja
kelompok. 2
Model Pembelajaran inkuiri merupakan model pembelajaran yang
menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak
diberikan secara langsung. Peran peserta didik dalam strategi ini adalah mencari
dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan pendidik berperan sebagai
fasilitator dan pembimbing peserta didik untuk belajar.
Kedua model pembelajaran diatas baik model pembelajaran langsung
maupun pembelajaran tidak langsung memeliki peranan yang penting dalam
meningkatkan motivasi belajar fisika anak. Motivasi memiliki akar kata dari
bahasa Latin movere, yang berarti gerak atau dorongan untuk bergerak (Prawira,
2012:319). Dengan begitu, memberikan motivasi bisa diartikan dengan
memberikan daya dorong sehingga sesuatu yang dimotivasi tersebut dapat
bergerak. Selain dapat memberikan motivasi, metode pembelajaran juga harus
mampu membuat siswa terlatih belajar secara mandiri, mengefektifkan proses
belajar siswa dan mampu mengimbangi pesatnya teknologi yang berkembang.

dan beberapa dari mereka sering tidak mengerjakan tugas-tugas yang kami diberikan. Beberapa dari mereka menegaskan bahwa kesulitan itu dikarenakan oleh model pembelajaran yang monoton sehingga tidak mampu membangktkan motivasi belajar fisika mereka.Pd. S. 1. dibandingkan dengan asumsi bahwa pelajaran tersebut ternyata merupakan pelajaran menarik yang berkaitan langsung dengan gejala-gejala alamiah yang menarik dan bermanfaat.2 Identifikasi Masalah .” Berangkat dari permasalahan di atas. Disisi lain penulis juga melakukan wawancara dengan salah satu guru fisika yaitu ibu Maria Ulfa. beliau menuturkan bahwa : “Pada mata pelajaran fisika masih ada beberapa siswa yang nilainya berada di bawah KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal) ini dikarenakan salah satunya yaitu kurangnya motivasi siswa dalam belajar sehingga mereka cendrung tidak memperhatikan saat kami menjelaskan. untuk melihat model pembelajaran bagaimana yang lebih efektif untuk meningkatkan motivasi belajar fisika siswa antara model pembejaran langsung dan model pembejaran inkuiri sehingga diharapkan kedepannya mampu diterapkan oleh guru disekolah. banyak dari mereka yang berasumsi bahwa pelajaran fisika adalah mata pelajaran yang menakutkan. penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Studi Komparasi antara Model Pembelajaran Langsung dengan Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap Motivasi Belajar Fisika pokok bahasan Kalor Pada Siswa Kelas X Semester II Sma Negeri 3 Sumbawa Tahun Ajaran 2016/2017”.. Kata ‘fisika’ selalu dikaitkan dengan berbagai rumus sulit yang harus dihafal.4 Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan beberapa siswa di SMAN 3 Sumbawa Besar.

Masih terdapat beberapa beserta didik yang memiliki nilai dibawah KKM. 1.4 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas. dan tidak terkait langsung dengan kehidupan peserta didik. Model pembelajaran yang digunakan oleh guru fisika cendrung monotong 5 sehingga kurangnya motivasi dalam belajar fisika. 4 verbal. Peserta didik kurang menyenangi pelajaran fisika karena anggapan pelajaran 3 fisika tersebut yang hanya dipenuhi dengan rumus yang harus dihafal. Kurang efektifnya pembelajaran fisika yang disampaikan kepada peserta 6 didik. Arah pembelajaran fisika yang cenderung merupakan pelajaran hafalan. maka peneliti membatasi ruang lingkup penelitian hanya pada : 1 Keefektifan penggunaan model pembelajaran langsung pada mata pelajaran 2 fisika pokok bahasan Kalor. Keefektifan penggunaan model pembelajaran inkuiri pada mata pelajaran 3 fisika pokok bahasan Kalor Motivasi peserta didik untuk mempelajari mata pelajaran fisika pokok bahasan kalor setelah diterapkan model pembelajaran langsung dan model pembelajaran inkuiri. maka rumusan masalah dalam penelitian ini: 1 Apakah model pembelajaran langsung lebih efektif dari pada model pembelajaran inkuiri terhadap motivasi belajar fisika siswa ? . sehingga peserta didik tidak 2 termotivasi untuk mempelajarinya.5 Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan yang telah dikemukakan di atas dapat diidentifikasi masalah dalam penelitian ini yaitu: 1 Doktrin awal mengenai sulitnya belajar fisika. 1.3 Batasan Masalah Untuk membatasi luasnya penelitian.

Untuk mengetahui apakah model pembelajaran langsung lebih efektif dari pada model pembelajaran inkuiri terhadap motivasi belajar fisika siswa. Bagi Siswa Diharapkan penelitian ini dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.5 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas.6 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan positif di dalam pembelajaran Fisika khususnya fisika di kelas. . Manfaat yang dapat diambil. adapun tujuan dari penelitian ini yaitu : 1. selain itu juga dapat memberikan pemahaman konsep siswa dalam mempelajari mata pelajaran fisika dan meningkatkan aktivitas siswa di kelas. antara lain: 1.6 2 Apakah model pembelajaran inkuiri lebih efektif dari pada model pembelajaran langsung terhadap motivasi belajar fisika siswa ? 1. 2. Untuk mengetahui Apakah model pembelajaran inkuiri lebih efektif dari pada model pembelajaran langsung terhadap motivasi belajar fisika siswa. 1.

Bagi Sekolah Sebagai informasi bagi sekolah mengenai pentingnya kerjasama yang baik antara guru dan orang tua dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. selain itu penelitian ini juga dapat menjadi referensi ilmiah bagi guru dan untuk memotivasi guru untuk meneliti pada pokok bahasan yang lain. Bagi Guru Membantu guru fisika dalam usaha mencari bentuk pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan motivasi siswa . 3. Bagi Mahasiswa Melengkapi bahan pustaka sebagai penunjang kegiatan penelitian bagi mahasiswa yang mengambil kajian yang sama dengan peneliti atau ingin melanjutkan penelitian ini 5.7 2. Bagi Peneliti Mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan model pembelajaran langsung dan model pembelajaran inkuiri. 4. .

8 BAB II LANDASAN TEORI 2. yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai .1.1 Pengertian Model Pembelajaran Menurut Hosnan (2014:337) Model adalah prosedur yang sistematis tentang pola belajar untuk mencapai tujuan belajar serta sebagai pedoman bagi pengajar dala melaksanakan pembelajaran sehingga model pembelajaran adalah kerangka konseptal/operasional.1 Tinjauan tentang Model Pembelajaran 2.

guru mempunyai peraan tanggung jawab untuk mengidentifikasi tujuan pembelajaran dan tanggung jawab yang besar terhadap penstrukturan isi/materi atau keterampilan. 2. For our purposes here. Keterampilan dasar yang dimaksudkan dapat berupa aspek kognitif maupun psikomotorik.1.1. 2.1 Model Pembelajaran Langsung (Direct Intruction) a. the model is labeled the direct intruction model” Menurutnya. menjelaskan kepada siswa. dan melaksanakan aktivitas pembelajaraan. “A teaching model that is aimed at helping student learn basic skills and knowledge that can be taught in step-by-step fashion. namun model pembelajaran yang akan penulis angkat yaitu model pembelajaran langsung dan model pembelajaran inkuiri.2.9 tujuan belajartertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para pengajar dalam merencanakan. Pengertian Model Pembelajaran Langsung Arends mengatakan. pemodelan/mendemonstrasikan yang dikomninasikan dengan latihan. . dan juga informasi lainnya yang merupakan landasan untuk membangun hasil belajar yang lebih kompleks.2 Macam-Macam Model Pembelajaran Terdapat banyak macam-macam model pembelajaran. Dalam pelaksanaannya. model yang dapat membantu siswa dalam mempelajari 8 keterampilan dasar dan pengetahuan secara tahap demi tahap adalah model pengajaran langsung (Direct Intruction).

Tujuan utama pembelajaran langsung (direktif) adalah untuk memaksimalkan penggunaan waktu belajar siswa. Tujuan Model Pembelajaran Langsung Beberapa peneliti menggunakan pembelajaran langsung bertujuan untuk merujuk pada pola-pola pembelajaran di mana guru banyak menjelaskan konsep atau keteramilan kepada sejumlah kelompok siswa dan menguji keterampilan siswa dengan latihan-latihan terbimbing.10 memberikan kesempadatan pada siswa untuk berlatih menerapkan konsep atau keterampilan yang telah dipelajari serta memperikan umpan balik. - Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan berhasil. c. Ciri-ciri Model Pembelajaran Langsung Model pengajaran langsung memeiliki ciri-ciri sebagai berikut: - Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model para siswa termasuk prosedur penilaian motivasi belajar. Dengan demikian. Beberapa temuan dalam teori perilaku diantaranya adalah pencapaian siswa yang dihubungkan dengan waktu yang digunakan oleh siswa dalam belajar/tugas dan kecepatan siswa untuk berhasil dalam mengerjakan tugas sangat positif. model . - Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran. b.

Tingkah Laku Guru Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. (3) guru membimbing pelatihan awal dengan cara meminta siswa melakukan kegiatan yang sama dengan kegiatan yang telah dilakukan guru dengan panduan LKS. (4) guru mengamati kegiatan siswa untuk mengetahui kebenaran pekerjaannya sambil memberi umpan balik. informasi latar belakang pelajaran. mempersiapkan siswa untuk belajar. misalnya dalam bentuk tugas.11 pembelajaran langsung dirancang untuk menciptkan lingkungan belajar terstruktur dan berorientasi pada pencapaian akademik. Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar. Tabel Sintak Pembelajaran Langsung Fase Fase 1. (5) guru memberikan kegiatan pemantapan agar siswa berlatih sendiri menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa Fase 2. atau menyajikan informasi tahap demi tahap Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal Mengecek apakah siswa telah berhasil . yaitu (1) guru memulai pembelajaran dengan menjelaskan tujuan pembelajaran khusus serta menginformasikan latar belakang dan pentingnya materi pembelajaran. Sintak Model Pembelajaran Langsung Ada lima tahap yang harus diketahui guru dalam menggunakan pembelajaran langsung. (2) guru menginformasikan pengetahuan secara bertahap atau mendemonstrasikan secara benar. Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan Fase 3. Secara sistematis dapat dilihat pada tabel dibawah ini. d. Membimbing pelatihan Fase 4.

Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan melakukan tugas dengan baik dan memberi umpan balik Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan.2 Tinjauan Tentang Model Pembelajaran Inkuiri a.2. Kelebihan dan kelemahan Model Pembelajaran Langsung Model pembelajaran langsung dirancang secara langsung untuk menunjang prose belajar siswa yang berkaitan dengan keterampilan dasar yang diajarkan selangkah demi selangkah. e.1. 2. proses berpikir tingkat tinggi dan konsep-konsep yang abstrak.12 Mengecek pemahaman memberikan umpan balik Fase 5. dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari. Hal ini dilihat dari beberapa penelitian diantaranya adalah penelitian Stalling. Pengertian dan Tujuan Model Pembelajaran Inkuiri Pembelajaran inkuiri berarti dapat didevinisikan sebagai rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan . Keterampilan dasar yang didemonstrasikan atau dimodelkan dengan selangkah demi selangkah akan meningkatkan motivasi belajar siswa. Adapun kelemahan model pembelajran langsung adalh kurang cocok untuk mengajarakan keterampilan sosial atau kreativitas. dkk menunjukkan bahwa guru yang mengorganisasikan kelasnya yang memungkinkan berlangsungnya pembelajaran terstruktur menghasilkan rasio keterlibatan siswa yang tinggi dan hasil belajr yang tinggi pula.

logis. b. bahkan interaksi lingkungan. atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.13 analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan (Hosnan. kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri tidak ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran. dalam pembelajaran inkuiri peserta didik tidak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajaran. prinsip-prinsip pembelajaran inkuiri adalah: 1. 2014:341). Prinsip interaksi Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi.Prinsip Model Pembelajaran Inkuiri Menurut Hosnan (2014). dan kritis. Tujuan dari model ini adalah mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis. 2.tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu melalui proses berpikir. 2014:341). baik interaksi antar siswa maupun interaksi siswa dengan guru. akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya (Hosnan. Dengan demikian. Prinsip . Berarti . Berorientasi pada pengembangan intelektual Pembelajaran inkuiri ini berorentasi pada hasil belajar dan berorentasi pada proses belajar. Karena itu.

Prinsip keterbukaan Siswa diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya c. 3. 4. baik otak kiri maupun otak kanan. Prinsip belajar untuk berfikir Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta.14 menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar. bertanya untuk melacak. bertanya untuk mengembangkan kemampuan. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Inkuiri Hosnan (2014) mengatakan bahwa langkah-langkah yang ditempuh dalam penggunaan metode inkuiri sebagai berikut: . belajar adalah proses berpikir (learning how to think). yakniproses mengembangkan potensi seluruh otak. 5. atau bertanya untuk menguji. Berbagai jenis dan teknik bertanya perlu dikuasai oleh setiap guru. tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur itu sendiri. Prinsip bertanya Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan metode inkuiri adalah guru sebagai penanya. apakah itu hanya bertanya hanya sekedar untuk meminta perhatian siswa.

sehingga pembelajaran melalui metode ini dianggap lebih bermakna. 6. Menguji hipotesis (proses penentuan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. 2. 4. afektif. Merumuskan masalah (merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki). . Mengajukan hipotesis (jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji). Kelebihan dan Kekurangan Model pembelajaran Inkuiri Adapun inkuiri memiliki kelebihan yaitu: 1. Menekankan kepada pengembangan aspek kognitif.15 1. dan psikomotor secara seimbang. 5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar. 3. 4. Merumuskan kesimpulan d. 3. Mengumpulkan data(aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan). sehingga siswayang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar. Mampu melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas ratarata. Sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku lewat pengalaman. Orientasi (langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif). 2.

daya gerak atau penyebab seseorang melakukan berbagai kegiatan dan tujuan tertentu. sehingga guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan. Terkadang dalam implementasinya memerukan waktu yang panjang. tegasnya motivasi adalah motif atau hal yang sudah menjadi aktuif pada saat tertentu. Jadi motive merupakan daya dorong. inkuiri pun memiliki kekurangan yaitu:. karena terbentur pada kebiasaan siswa. (Abdurrahman:1993) Adapun motivasi yang tercantum dalam kamus besar bahasa Indonesia Kontemporer adalah keinginan atau dorongan yang timbul pada diri seseorang baik secara sadar untuk melakukan sesuatu perbuatan dengan jalan tertentu.2. 2.2 Tinjauan tentang Motivasi 2. 3. 1. Motivasi merupakan segala sesuatu yang menjadi pendorong timbulnya suatu tingkah laku (Prawira. 2. Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.2012:319). terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan terasa sangat mendesak.16 Selain terdapat kelebihan. Tidak mudah mendesainnya.1 Pengertian Motivasi Motif (motive) berasal dari akar kata bahasa latin "movere" yang kemudian menjadi "motion" yang artinya gerak atau dorongan untuk bergerak. . (Peter Salim dan Yenny Salim:1991) Jadi motivasi (motivation) adalah pemberian atau penumbuhan motif atau hal yang menjadi motif.

ingin memperoleh suatu pengetahuan. 1996:75) a) Motivasi intrinsik Motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang atau motivasi yang erat hubungannya dengan jam belajar. Menurut Sartain. b) Motivasi ekstrinsik Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dari luar individu atau motivasi ini tak ada kaitannya dengan jam belajar seperti belajar karena takut kepada guru atau karena ingin lulus. dan dengan motivasi itu kualitas hasil belajar siswa (prestasi belajar) juga kemungkinannya dapat terwujud. dengan motivasi inilah siswa menjadi tekun dan bergairah dalam proses belajar.2.2.2 Macam-Macam Motivasi Banyak pendapat para ahli tentang klasifikasi motivasi. motif itu dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu physiological drive (dorongan-dorongan yang bersifat fisik) dan social motivies (dorongandorongan yang ada hubungannya dengan orang atau manusia yang lain).3 Fungsi Motivasi Dalam Belajar Motivasi sangat berperan dalam belajar. ingin memperoleh kemampuan dan sebagainya.17 2. misalnya ingin memahami suatu konsep. pembagian itu dibuat berdasarkan sudut pandang budaya yang digelutinya. siswa yang dalam proses belajar mempunyai motivasi yang kuat . ingin memperoleh nilai tinggi yang semuanya tak berkaitan langsung dengan jam belajar yang dilaksanakan 2. Motif dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu : (Akhyas Azhari.

Menurut Cecco ada 4 fungsi motivasi dalam proses belajar mengajar yaitu : (Abdurrahman.1993:115-116) 1) Fungsi membangkitkan (Arousal Function) Dalam pendidikan arousal diartikan sebagai kesiapan atau perhatian umum siswa yang diusahakan oleh guru untuk mengikut sertakan siswa dalam belaja. Fungsi ini menyangkut tanggung jawab yang terus-menerus untuk mengatur tingkat yang membangkitkan guna menghindarkan siswa dari tidur dan lupa emosional 2) Fungsi harapan (expectancy function) .18 dan jelas pasti akan tekun berhasil belajarnya. Motivasi akan mendorong untuk belajar atau melakukan sesuatu perbuatan dengan sungguh-sungguh (tekun) dan selanjutnya akan menentukan pula hasil pekerjaannya. kepastian itu dimungkinkan oleh sebab adanya ketiga fungsi motivasi sebagai berikut : 1) Dorongan orang tua untuk berbuat sesuatu dalam mencapai jam 2) Penentu arah perbuatan yakni kearah tujuan 3) Penyeleksi perbuatan sehingga perbuatan orang yang mempunyai motivasi senantiasa selektif dan tetap terarah kepada jam yang ingin dicapai Berdasarkan arti dan fungsi motivasi di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi itu bukan hanya berfungsi sebagai penentu terjadinya suatu perbuatan. tetapi juga menentukan hasil perbuatan.

Disamping itu pula guru harus menghubungkan antara harapan-harapan dengan jam siswa yang dekat dan yang jauh seraya mengikut sertakan usaha siswa sepenuhnya dalam belajar.19 Fungsi ini menghendaki agar guru memelihara atau mengubah harapan keberhasilan atau kegagalan siswa akan mencapai jam instuksional dan menghendaki agar guru mengurauikan secara kongkrit/konkret kepada siswa apa yang harus dilakikan setelah pelajaran berakhir.1990:86-87) . (Ramayulis. membuat memenuhi kebutuhan akan hasil jangka panjang dan jangka pendek. Ketiga. Kedua memusatkan perhatian anak pada tugas tertentu untuk mencapai pembelajaran. dan proses motivasi tersebut memiliki beberapa fungsi yaitu yang pertama memberi semangat dan mengaktifkan murid agar tetap berminat dan siaga. Di samping itu motivasi sebagai sesuatu proses mengantarkan murid kepada pengalaman yang mengiginkan dapat belajar. 4) Fungsi disiplin (disciplianari fungction) Fungsi ini menghendaki agar guru mengontrol tingkah laku yang menyimpang dengan menggunakan hukuman dan hadiah. 3) Fungsi intensif (intensive function) Fungsi ini menghendaki agar guru memberikan hadiah kepada siswa yang berprestasi dengan cara seperti mendorong usaha lebih lanjut dalam mengajar jam instruksional.

3.2 Cara Perpindahan kalor Setya Nurachmandani (2009:174) mengemukakan bahwa ada tiga cara kalor berpindah dari satu benda ke benda yang lain. . Kejadian inilah contoh dari proses konduksi. Proses perpindahan kalor tersebut dapat kita lihat pada waktu memasak air.1 Pengertian Kalor Pada waktu menyetrika. badan Anda terasa hangat karena kalor berpindah dari matahari ke badan Anda. Sebagaimana yang telah Anda pelajari ketika di SMP bahwa hal tersebut dapat terjadi karena adanya kalor. kalor akan berpindah dari api ke panci lalu ke air.3 Tinjauan tentang Kalor 2. dan radiasi. Perpindahan energi secara konduksi ini banyak terjadi pada zat padat. yaitu: a.3. Demikian juga pada waktu berjemur.20 2. sehingga didefinisikan juga konduksi adalah perpindahan kalor pada zat padat. yaitu secara konduksi. Cobalah masukkan sebuah sendok yang dingin kedalam air teh yang panas kemudian peganglah ujung sendok itu. Perpindahan Kalor Secara Konduksi Konduksi merupakan perpindahan kalor tanpa diikuti oleh mediumnya. mula-mula dingin kemudian menjadi naik suhunya hingga menjadi panas. 2. kalor berpindah dari setrika ke pakaian. konveksi. Menurut Setya Nurachmandani (2009:174) bahwa “kalor merupakan energi yang dapat berpindah dari benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah”. Ada tiga cara kalor berpindah dari satu benda ke benda yang lain. Apa yang kalian rasakan? Tentu kalian akan merasakan perubahan pada ujung sendok.

Perpindahan kalor secara konduksi dapat terjadi dalam dua proses berikut: 1. Pemanasan pada satu ujung zat menyebabkan partikel pada ujungujung itu bergetar lebih cepat dan suhunya naik.8 : Peristiwa konduksi (Setya Nurachmandani:2009) Teh panas dapat merambatkan kalornya melalui sendok menuju ke tangan dengan cara konduksi. Dalam logam.21 Gambar 2. kalor dipindahkan melalui elektron-elektron bebas yang terdapat dalam struktur atom logam. Selanjutnya. partikel-partikel ini memberikan sebagian energi kinetiknya ke partikel tetangga berikutnya. Proses perpindahan kalor seperti ini berlangsung lambat karena untuk memindahkan lebih banyak kalor diperlukan beda suhu yang tinggi diantara kedua ujung. Demikian seterusnya sampai kalor mencapai ujung yang dingin (tidak dipanasi). 2. Partikel-partikel yang energi kinetiknya lebih besar ini memberikan sebagian energi kinetiknya kepada partikelpartikel tetangganya melalui tumbukan. atau energi kinetiknya bertambah. Elektron bebas adalah elektron yang dengan mudah dapat berpindah dari satu atom ke atom yang lainnya. Ditempat yang dipanaskan energi elektron bertambah . sehingga partikel-partikel ini memiliki energi kinetik lebih besar.

Luas permukaan A. Ketebalan dinding l. maka dapat disimpulkan bahwa banyaknya kalor Q yang melalui dinding selama selang waktu t dapat dinyatakan melalui persamaan dibawah ini: .22 besar. Berdasarkan penjelasan diatas. Pertambahan energi ini dengan cepat dapat diberikan ke elektron-elektron lain yang letaknya lebih jauh melalui tumnukan. makin tebal dinding makin lambat perpindahan kalor. Dengan cara ini. karena elektron bebas mudah berpindah. 2.9 : Konduksi pada logam (Setya Nurachmandani:2009) Laju konduksi kalor melalui sebuah dinding bergantung pada empat besaran. Makin besar nilai k. kalor berpindah lebih cepat. makin besar beda suhu makin cepat perpindahan kalor. makin cepat perpindahan kalor. Gambar 2. 4. Oleh karena itu. logam tergolong konduktor yang sangat baik. Konduktivitas termal zat k. yakni: 1. makin luas permukaan makin cepat perpindahan kalor. 3. Beda suhu diantara kedua permukaan ∆T = T2 – T1. merupakan ukuran kemampuan zat menghantar kalor.

23 Q t = k ......... A... (1) Jika Q/t merupakan kelajuan hantaran kalor (banyaknya kalor yang mengalir per satuan waktu) dan ∆T= ∆T2 – ∆T1 . maka persamaan di atas menjadi: H= k ........∆T l ... timbal....... Isolator kalor adalah zat yang sulit menghantarkan .. benda dibedakan menjadi dua macam.. besi.. seperti aluminium..... Hampir semua logam termasuk konduktor kalor................. Konduktor kalor adalah benda yang mudah menghantarkan kalor.... yaitu konduktor kalor dan isolator kalor.... baja... (2) Dengan keterangan: Q : banyak kalor yang mengalir (J) A : luas permukaan (m2) ∆t : perbedaan suhu dua permukaan (K) d : tebal lapisan (m) k : konduktivitas termal daya hantar panas (J/ms K) t : lamanya kalor mengalir (s) H : kelajuan hantaran kalor (J/s) Ditinjau dari konduktivitas termal (daya hantar kalor)... dan tembaga..... A.∆T l ..

setrika listrik. Sedangkan alat-alat yang menggunakan bahan konduktor kalor. Bagian air yang lebih dulu panas adalah bagian bawah. Konveksi pada Zat Cair perpindahan kalor secara konveksi terjadi karena adanya perbedaan massa jenis zat. Bahan-bahan bukan logam biasanya termasuk isolator kalor. Perpindahan kalor secara konveksi dapat terjadi pada zat cair dan gas. mika. kaca. plastik. Perpindahan Kalor Secara Konveksi Konveksi adalah perpindahan kalor yang disertai dengan perpindahan partikel-partikel zat. Contoh lain adalah memasak air. Sistem ventilasi rumah. Konveksi air banyak dimanfaatkan dalam pembuatan sistem aliran air panas di hotel. karet. Alat-alat yang menggunakan bahan isolator kalor. antara lain: pegangan panci presto. Berikut contoh alat-alat yang menggunakan bahan isolator dan konduktor kalor.24 kalor. Angin dapat membawa kalor menuju kalian sehingga terasa lebih panas. Perpindahan kalor secara konveksi dapat terjadi pada: a. pegangan setrika. alat-alat untuk memasak. dan kertas. apartemen. tetapi air yang lebih panas dapat bergerak keatas sehingga terlihat ada gelembung-gelembung yang bergerak. antara lain: kawat kasa. dan pegangan solder. Dari contoh ini dapat menambah penilaian kita bahwa proses konveksi banyak terjadi pada medium gas dan cair. atau perusahaan-perusahaan besar. b. 2. Tempat yang ditinggalkan akan . Konveksi pada Gas 1. dan kompor listrik. Udara panas di dalam rumah akan bergerak naik dan keluar melalui ventilasi. seperti kayu.

Tempat yang ditinggalkan akan diisi oleh udara dingin dari laut. Udara di atas laut memuai. udara di sekitar tungku pemanas suhunya lebih tinggi daripada udara luar. Angin laut dan angin darat. Pada siang hari daratan lebih cepat panas daripada lautan. sehingga asap pabrik yang massa jenisnya lebih kecil dari udara luar akan bergerak naik melalui cerobong asap.10 : Angin Darat (Setya Nurachmandani:2009) Gambar 2.11 : Angin Laut (Setya Nurachmandani:2009) . Cerobong asap pabrik. Sebaliknya. Udara di daratan memuai sehingga massa jenisnya mengecil dan bergerak naik ke atas. massa jenisnya mengecil dan bergerak ke atas. maka terjadilah angin laut. Pada pabrik-pabrik. 2. maka terjadilah angin darat. Gambar 2. Tempat yang ditinggalkannya akan diisi oleh udara dingin dari darat.25 diisi oleh udara dingin melalui ventilasi yang lain sehingga udara di dalam rumah lebih segar. 3. pada malam hari daratan lebih cepat dingin daripada lautan.

.26 Adapun secara empiris laju perpindahan kalor secara konveksi dapat dirumuskan sebagi berikut: Q t = h.... A. Jadi radiasi atau pancaran adalah perpindahan energi kalor dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Di malam hari baju hitam kusam terasa dingin dari pada baju . Bandingkan jika kamu memakai baju putih mengkilap dan baju hitam kusam di siang hari dan malam hari.∆T ..... Perpindahan kalor seperti ini disebut radiasi... (3) Dengan keterangan : Q : banyak kalor yang mengalir (J) A : luas permukaan (m2) ∆T : perbedaan suhu dua permukaan (K) t h : lamanya kalor mengalir (s) : koefisien konveksi (Wm-2K-4 atau Wm-2(°C)4) 3.. Ini terjadi karena di siang hari baju hitam kusam menyerap kalor radiasi lebih baik daripada baju putih berkilap. Beberapa permukaan zat menyerap kalor radiasi lebih baik daripada permukaan zat lainnya. Perpindahan kalor dapat melalui ruang hampa karena energi kalor dibawa dalam bentuk gelombang elektromagnetik..... Perpindahan Kalor Secara Radiasi Kalor dari matahari dapat sampai kebumi melalui ruang hampa tanpa zat perantara (medium)...... Di siang hari baju hitam kusam terasa lebih panas daripada baju putih mengkilap..

. Ludwing Boltzmann menurunkan hubungan yang sama......... Ini terjadi karena di malam hari baju hitam kusam memancarkan kalor radiasi lebih baik daripada baju putih berkilap.... Secara matematis yaitu: Q t = σA. Lima tahun kemudian... Persamaan yang didapat dari hubungan ini disebut ”Hukum Stefan-Boltzmann”. Yang berbunyi: energi yang dipancarkan oleh suatu permukaan hitam dalam bentuk radiasi kalor tiap satuan waktu (Q/t) sebanding dengan luas permukaan (A) dan sebanding dengan pangkat empat suhu mutlak permukaan itu (T 4).. (4) Dengan keterangan : Q : Banyak kalor yang mengalir (J) A : Luas permukaan (m2) ∆T : Perbedaan suhu dua permukaan (K) t : Lamanya kalor mengalir (s) σ : Tetapan Stefan-Boltzmann (5.......6705119 × 10-8 W/mK4) ...27 putih mengkilap......T4 ... Dia menyatakan bahwa daya total itu sebanding dengan pangkat empat suhu mutlaknya...... Pada tahun 1879 Joseph stefan melakukan pengukuran daya total yang dipancarkan benda hitam sempurna.....

yaitu suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data .2 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. 3.28 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelittian Waktu penelitian direncanakan pada semester genap Tahun Akademik 2016-2017 di SMAN 3 Sumbawa.

yaitu faktor-faktor yang diukur. “ The lagrge group about which the generalization is made is called a population. model 29 pembelajaran langsung dan model pembelajaran inkuiri merupakan variabel bebas sedangkan motivasi belajar peserta didik merupakan variabel terikat. dkk. variabel dalam penelitian dibedakan menjadi: (1) variabel bebas atau variabel penyebab. (2010) mengatakan “A population is defined as all members of any well-defined class of people. atau berubah sesuai dengan apa yang diperkenalkan oleh peneliti itu (Setyosari. Variabel bebas adalah variabel yang menyebabkan atau memengaruhi. Dalam penelitian ini. or objects.” Artinya.1 Populasi Penelitian Ary. 2015: 165). atau tidak muncul. Berdasarkan peranan dan fungsinya.29 berupa angka sebagai alat menemukan keteraangan mengenai apa yang ingin kita ketahui (Margono. yaitu faktor yang muncul.4.2007:103). events. atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungan antara fenomena yang diobservasi atau diamati. bahwa populasi itu merupakan kelompok yang .3 Variabel Penelitian Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan dalam penelitian dan jika diukur memiliki variasi. dan (2) variabel terikat atau variabel tergantung.” Atau. dimanipulasi. 3. Sedangkan variabel terikat atau tergantung adalah faktor-faktor yang diobservasi dan diukur untuk menentukan adanya pengaruh variabel bebas. 3.4 Subjek Penelitian 3.

Adapun Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ada dua. Sampel itu meruupakan sejumlah kelompok kecil yang mewakili populasi untuk dijadikan sebagai objejek penelitian. dengan adanya instrument penelitian. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah: . Artinya. Penelitian ini mengambil teknik sampling acak berkluster (cluster random sampling). dan 2 Instrumen pengumpulan data. Dengan demikian. Dari pendapat diatas dapat kita katakan bahwa sampel adalah suatu kelompok yang lebih kecil atau bagian dari populasi secara keseluruhan.. maka akan dapat mempermudah seseorang untuk melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara lebih efektif dan efisien. a smaller group or subset of the total population in such a way that the knowledge gained is representative of the total popolation (however defined) under study. 3. 2015:221). 2015:221). Jadi. Dari pendapat diatas. yaitu: 1 Instrumen pelaksanaan pembelajaran yang terdiri dari: Silabus dan RPP.2 Sampel Penelitian Cohen.30 lebih besar jumlahnya dan biasanya yang dipakai untuk menggeneralisasikan hasil penelitian (Setyosari. maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 3 Sumbawa Besar.4.5 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data. sampel adalah suatu kelompok yang lebih kecil atau bagian dari populasi secara keseluruhan. 2007: 9). This smaller group or subset is the sample”. (Setyosari.. secara sederhana dapat kita katakan bahwa populasi merujuk pada keseluruhan kelompok dari semua sampel. dkk (2007) menyatakan “. yaitu digunakan apabila populasinya berkluster. 3. (Purwanto.

Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.4.5 6. Berikut ini adalah bentuk kisi-kisi dan angket untuk mengukur motivasi belajar fisika.27 4 28.31 4 .2 Angket (Kuesioner) Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden.” Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila. yaitu: Kisi-kisi Instrumen Motivasi Belajar Sub Variabel a Ketekunan dalam belajar b Ulet dalam menghadapi kesulitan Indikator 1 2 Kehadiran di sekolah Mengikuti PBM di kelas 3 Belajar di rumah 1Sikap terhadap kesulitan 2Usaha mengatasi kesulitan 1Kebiasaan dalam c Minat dan ketajaman mengikuti pelajaran perhatian dalam 2Semangat dalam belajar mengikuti PBM Item + Item - Jumlah 1.19. (Suharsimi Arikunto.20 22 17. gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. penelitian berkenaan dengan perilaku manusia. proses kerja/ pembelajaran.8 10.15 5 4 6 16.18.31 3.9 11.30 29. 3.14 2.21 23 6 2 24.4 7.3.26 25. 2013: 194).1 Observasi Sutrisno Hadi (1986) dalam Sugiyono (2007: 145).4. mengemukakan bahwa ”observasi merupakan suatu proses yang kompleks.13. suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis da psikologis.12.

maka saya tidak masuk sekolah. Untuk lebih memahami palajaran. 4. 7.38 4 39. Saya tetap mengikuti pelajaran siapa pun guru yang mengajar. 6. Jika guru sudah lebih dulu berada di kelas. saya sempatkan belajar di rumah.37 36. 16. 9. Saya keluar kelas pada saat pelajaran berlangsung. 8. Saya belajar di rumah dengan jam pelajaran yang teratur. Saya tidak mengikuti pelajaran. . Saya suka mengulur-ulur waktu belajar di rumah. 5.41 43.42 44. Saya mengikuti pelajaran di sekolah sampai jam pelajaran berakhir. Saya merasa tertantang untuk mampu mengerjakan tugas sulit. 15. Saya merasa rugi jika tidak masuk sekolah. 13. Saya merasa perlu untuk belajar kembali di rumah.45 40. maka saya cenderung memilih tidak masuk kelas. Saya berusaha untuk selalu hadir di sekolah. Saya hadir di sekolah sebelum bel masuk berbunyi. 12.33 34 3 35.32 d Berprestasi dalam belajar e Mandiri dalam belajar 1Keinginan untuk berprestasi 2Kualifikasi hasil 1Penyelesaian tugas/PR 2Menggunakan kesempatan di luar jam pelajaran Jumlah Angket Motivasi Siswa 32. 2. 11. 10. 3. Saya belajar di rumah jika ada tugas dan ulangan saja. jika itu pelajaran yang tidak saya sukai.46 4 4 46 Terhadap Mata Pelajaran Fisika Nama : ……………………………… Kelas :……………………………… Petunjuk: Pilih dan beri tanda centang () pada kolom sesuai dengan yang Anda alami dan rasakan Ya Tidak No. Jika malas belajar. Pernyataan 1. 14. saya malas untuk belajar. Jika sudah tiba di rumah.

39. 30. 34.33 17. 22. Saya selalu mencoba mengkonsentrasikan perhatian terhadap pelajaran. Mencapai prestasi yang tinggi dalam belajar adalah keinginan saya. jika materi yang disampaikan guru tidak saya pahami. 23. Saya telah puas dalam prestasi belajar. jika menghadapi kesulitan dalam belajar. 19. saya tidak berkeinginan untuk berprestasi dalam belajar. Saya tidak mempunyai target dalam mencapai hasil belajar. 38. jika nilainya tidak ada yang merah. Saya membiarkan saja kesulitan yang saya temukan dalam belajar. 20. 29. 24. 26. Saya puas. Saya tidak cepat putus asa ketika mengalami kesulitan dalam belajar. maka saya tidak mau berusaha lagi. ketika guru sedang mengajar. Saya mengerjakan tugas dengan cara menyontek pekerjaan teman. Saya berusaha mengerjakan tugas dengan usaha sendiri. Jika saya sudah mencoba dan tidak dapat mengatasi kesulitan. 35. Saya memperhatikan pelajaran yang diberikan guru dengan baik. Saya menyimak penjelasan guru dari awal sampai akhir pelajaran. 40. 31. Saya kurang bersemangat mengikuti pelajaran. Saya bersemangat memperhatikan guru mengajar. Saya mengerjakan pekerjaan lain pada saat guru mengajar. Saya belajar sampai larut malam untuk menyelesaikan tugas sekolah dengan baik. 28. 25. 27. 18. . 32. Saya ngobrol dengan teman sebangku. Saya akan mengabaikan pelajaran. 33. 21. Saya merasa lelah mengikuti pelajaran di kelas. jika pelajaran itu sulit untuk dimengerti. 37. jika hasil prestasi lebih baik dari sebelumnya. Saya ingin berprestasi yang lebih baik dari sebelumnya. 36. Melihat kemampuan. Saya mengajak teman untuk berdiskusi jika menemukan kesulitan dalam belajar. Saya cenderung malas untuk belajar. Saya menerima seberapa pun hasil prestasi dalam belajar.

Saya mengisi jam pelajaran kosong dengan mengerjakan tugas yang belum selesai.Andersonn dan kawan-kawan disebutkan: A test is valid if it measures what it purpose to measure. Validitas suatu instrumen dapat dilihat dari beberapa segi yaitu validitas isi. Akan tetapi suatu instrumen tidak harus memenuhi semua validitas tersebut. jika ada jam pelajaran kosong. Jika ada pelajaran kosong. 46. 45. 42. Validitas ini . validitas ”ada sekarang”.65) Berdasarkan pengertian diatas. 3.34 41. maka saya mempelajari kembali pelajaran sebelumnya. Saya merasa tidak perlu untuk belajar di luar jam pelajaran.6 Uji Validitas dan Reliabelitas 3.4. 2009: 67). yang jika diartikan lebih kurang demikian: “sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. dan validitas predictive. Instrumen dikatakan valid paling tidak harus memenuhi validitas isi dan susunan. (Suharsimi Arikunto. validitas konstrak. Saya dapat menyelesaikan tugas/PR tanpa bantuan orang lain. 2009: 64 .1 Uji Validitas Instrumen Di dalam buku Encyclopedia of Educatioral yang ditulis oleh Scarvia B. Validitas isi (content validity) dapat diusahakan tercapainya sejak saat penyusunan dengan cara memerinci materi kurikulum atau materi buku pelajaran. Saya lebih senang ngobrol di kantin. Saya mengerjakan tugas dengan asal-asalan yang penting selesai. maka validitas berarti ketepatan suatu instrumen untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. 44.” Dalam bahasa Indonesia “valid” disebut dengan istilah “sahih.” (Suharsimi Arikunto. 43.

banyak subyek. Selanjutnya menurut Arikunto (2013:319).00. yaitu dapat dijelaskan pada tabel berikut ini: Tabel 3.6.1 Kriteria Validitas Instrumen . karena dalam menghitung sering dilakukan pembulatan angka-angka.35 dilakukan dengan membandingkan materi instrumen dengan analisa rasional terhadap aspek-aspek yang harus digunakan dalam penyusunan angket/ butir-butir. dua variabel yang dikorelasikan. maka sangat mungkin diperoleh koefisien lebih dari 1. Namun. (2013: 319). rumus yang digunakan adalah rumus korelasi product moment dengan angka kasar. Koefisien negatif menunjukkan hubungan menunjukkan adanya kebalikan.00. yaitu: r XY = N ∑ XY −( ∑ X )( ∑ Y ) √{ N ∑ X −(∑ X ) }{N ∑ Y −(∑ Y ) } 2 2 2 2 Dimana: rXY = N = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y. dalam Koefisien Korelasi selalu terdapat antara -1. kesejajaran sedangkan untuk koefisien mengadakan positif interpretasi mengenai besarnya koefisien korelasi.00 sampai +1. Adapun menurut Suharsimi Arikunto.

400 – 0. 2009: 87).2 Uji Reliabilitas Instrumen Sehububungan dengan realibilitas ini. Dalam hal ini validitas lebih penting dan realibilitas ini perlu.200 Sangat rendah Selain itu suatu instrumen dikatakan valid apabila nilai rxy lebih besar dari r tabel (rxy > r.600 – 0.00 Sangat Tinggi/ Valid Antara 0. Scarvia B.4.800 Valid Antara 0. 3.00 – 0.400 Rendah/ Tidak Valid Antara 0.36 Interval validitas Kategori Antara 0. Rumus Alpha yang dimaksud adalah sebagai berikut: . Sebuah tes mungkin reliabel tetapi tidak valid.800 – 1.600 Cukup Antara 0. Uji reliabilitas dilakukan setelah diperoleh hasil akhir dari seleksi untuk kedua variabel. yaitu validitas dan realibilitas. Pengujian realibilitas instrumen dilakukan dengan Rumus Alpha.200 – 0. Sebaiknya sebuah tes yang valid biasanya realibel (Suharsimi Arikunto. karena menyokong terbentuknya validitas.tab ). Anderson dan kawan-kawan menyatakan bahwa persyaratan bagi tes.

2 Kriteria reliabilitas 0.37 2 n ∑σ r 11 = 1− 2 1 ( n−1 ) σ1 ( )( ) (Suharsimi Arikunto.79 < r11 < 1. dan simpangan baku atau standar deviasi (Sdi). = Varians total Tabel 3.7 Teknik Analisis Data Agar memperoleh gambaran yang jelas mengenai data pada masing-masing variabel dan menguji hipotesis penelitian. terlebih dahulu dilakukan analisis data sebagai berikut: 3. 3.39 < r11 < 0.20 < r11 < 0. Angka- .00 < r11 < 0. ratarata ideal (Mi).1 Teknik Deskripsi Data Data yang diperoleh dideskripsikan menggunakan rumus statistik. 2009: 109) Dimana: r11 = ∑ σ 21 2 σ1 Reliabelitas yang dicari = Jumlah varians skor tiap-tiap item. Statistik deskiptif ini meliputi penentuan skor maksimal ideal (Smi).59 < r11 < 0.4.38 0.19 0.78 0.6.58 0.00 : : : : : Sangat rendah Rendah Cukup Tinggi Sangat tinggi Jika r-hit > r-tab maka instrumen dikatakan reliabel.

38 angka M dan SD diperoleh dengan cara : ” Mean (M)=1/2 x (skor maksimal ideal + skor minimal ideal). standar deviasi (SD)= 1/6 x (skor maksimal – skor minimal ideal) ” . a Uji Normalitas Data Uji Normalitas adalah suatu uji atau cara untuk mengetahui apakah data yang kita peroleh sudah normal atau belum dan juga untuk mengetahui apakah variabel yang diteliti itu terdapat pengaruh yang signifikan atau tidak.4.2 Teknik Uji Persyaratan Analisis Teknik analisa data yang digunakan untuk menjadi hipotesis yang telah diajukan adalah teknik analisa statistik uji-t. .1SDi = Rendah (Suharsimi Arikunto.3SDi sampai < Mi . Untuk penggunaan statistik uji-t persyaratan analisis yang harus dipenuhi dalam penelitian ini adalah meliputi uji normalitas data dan homogenitas data. 3. maka rumus yang digunakan adalah Chi-kuadrat (X2). Penggunaan statistik uji-t memerlukan uji persyaratan analisis sebelumnya.1SDi sampai < Mi + 1SDi = Sedang Mi . 2009: 40). Berdasarkan harga Mi dan SDi maka dibuat tabel konversi untuk pengkategorian masing-masing variabel sebagai berikut : Mi + 1SDi sampai Mi + 3SDi = Tinggi Mi .

sampai terbukti melalui data yang terkumpul”. b Uji Hipotesis Menurut Sugiyono (2007: 85). Jika hasil hitung < tabel maka data dikatakan berdistribusi normal pada taraf signifikan 5% atau taraf uji 95% dan dk = k – 2.39 2 X= ( f o −f h)2 fh Keterangan : fo = frekuensi yang terjadi fh = frekuensi harapan (Suharsimi Arikunto. Hal serupa dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (2013: 110). hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara atau kesimpulan yang diambil untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian. Untuk menguji hipotesis ini. bahwa “hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian. maka digunakan rumus statistik yaitu rumus T-test sebagai berikut: t= X´ 1− X´ 2 √ SD x 1 2 N 1−1 − SD X 2 2 N 1−1 Keterangan: X1 = Rata-rata kelompok 1 . 2009: 259).

Dasar.Dasar Evaluasi Pendidikan. Suharsimi. Jakarta: Bumi Aksara. . 2007. DAFTAR PUSTAKA Arikunto.40 X2 = Rata-rata kelompok 2 SDx12 = Standar deviasi kelompok 1 SDx22 = Standar deviasi kelompok 2 N1 = Subjek pada sampel1 N2 = Subjek pada sampel 2 (Suharsimi. 2006: 306).

Somantri. Purwanto. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Sugiyono. 2012. Ating dan Sambas Ali Muhidin. Jakarta: Rineka Cipta. 2013. 2007. Bandung: CV. Prosedur Penelitian. Prawira. 2006.41 ________________. Instrumen Penelitian Sosial dan Pendidikan Pengembangan dan Pemanfaatan. ________. Alfabeta . Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Statistika untuk Penelitian. Purwa Atmaja. Alfabeta. 2007. Aplikasi Statistika dalam Penelitian.2007. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bandung: CV Pustaka Setia. Bandung: CV.