TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM WACANA KOMIK DI MAJALAH ANNIDA

SKRIPSI untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra

Oleh

Nama NIM Program Studi Jurusan

: Nelly Yani BP : 2150402500 : Sastra Indonesia : Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2006

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi.

Semarang,

Agustus 2006

Pembimbing I,

Pembimbing II,

Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum

Tommi Yuniawan, S.pd, M.Hum

NIP. 131962590

NIP. 132238498

i

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang panitia ujian skripsi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang pada hari tanggal : kamis : 31 Agustus 2006

Panitia Ujian Skripsi

Ketua,

Sekretaris,

Prof. Dr. Rustono, M.Hum NIP 131281222

Drs. Mukh Doyin, M.Si NIP 132106367

Penguji I,

Prof. Dr. Rustono, M.Hum NIP 131281222

Penguji II,

Penguji III,

Tommi Yuniawan, S.pd, M.Hum NIP 132238498

Prof. Dr. Fathur R., M.Hum NIP 131962590

ii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang,

Agustus 2006

Nelly Yani B.P 2150402500

iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO : “Bila kita menginginkan sesuatu raihlah dengan segala usaha yang kita punya dan iringilah selalu dengan doa” “Kita tidak bisa menjadi bijaksana dengan kebijaksanaan orang lain, tapi kita bisa berpengetahuan dengan pengetahuan orang lain” (Michel De Montaigne) ”Kita ada di sini bukan untuk saling bersaing. Kita ada di sini untuk saling melengkapi” (Bill Mccartney)

Skripsi ini kupersembahkan untuk: 1. Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya; 2. Ayah dan Mama yang senantiasa

mencurahkan kasih sayangnya; 3. Kakakku (Samsir, Ila, dan Muti), adikku (Samsul), T’ Yayah, Mas Aang yang selalu memberikan dorongan semangat dan doanya; 4. Teman-teman cost “Azam” dan “Taz Man” 5. Teman-teman Sastra ’02;

iv

PRAKATA

Syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Tindak Tutur Ilokusi dalam Wacana Komik di majalah Annida . Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis selalu mendapatkan bimbingan, motivasi, dan bantuan yang berharga. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Fathur Rokhman, M. Hum (Pembimbing I) dan Tommi Yuniawan, S.Pd, M.Hum (Pembimbing II), yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. Tidak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberi kesempatan kepada penulis. 1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyusun skripsi ini; 2. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni dan Ketua Jurusan Sastra Indonesia yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian ini; 3. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan bekal ilmu yang bermanfaat bagi penulis; 4. Bapak, Ibu, Kakakku, Adikku, dan kakak Iparku yang selalu mencurahkan kasih sayangnya dan dorongan moril sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini; 5. Mas “Aang” yang selalu menemani dan memberikan suportnya, hingga skripsi ini dapat terselesaikan.

v

6. Teman-teman Jurusan Sastra Indonesia angkatan 2002, khususnya teman-teman Linguistik atas segala bantuan dan dukungannya untuk menyelesaikan skripsi ini; 7. Teman-teman Cost “Azam” dan “Taz Man” serta Cah KKN Desa Sedayu (Bu Anna, Rani, Kakek, Gembur, dan Gembul) terimakasih atas dukungannya dan persahabatannya; 8. Semua pihak yang telah membantu penyusunan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga amal baik yang telah diberikan kepada penulis mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Kritik dan saran yang membangun akan penulis terima dengan senang hati. Semoga skripsi ini bermanfaat, khususnya bagi penulis sendiri dan umumnya bagi semua pihak pemerhati bahasa, Amien ya robbal alamin.

Penulis

vi

SARI

BP, Nelly Yani. 2006. Tindak Tutur Ilokusi dalam Wacana Komik di Majalah Annida. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum, Pembimbing II: Tommi Yuniawan, S.Pd, M.Hum. Kata kunci: majalah Annida, tindak tutur ilokusi, wacana komik Komik merupakan bahan bacaan yang sangat menarik, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Komik juga dapat memberikan pendidikan bagi pembacanya, komik dalam majalah Annida dapat menghibur sekaligus mendidik serta memberikan pengetahuan tentang agama Islam. Berdasarkan latar belakang tersebut permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu jenis tindak tutur ilokusi apa saja yang digunakan dalam wacana komik di majalah Annida, dan fungsi tindak tutur ilokusi apa saja yang digunakan dalam wacana komik di majalah Annida. Tujuan penelitian ini mendeskripsi jenis tindak tutur ilokusi yang digunakan dalam wacana komik di majalah Annida, dan mengidentifikasi fungsi tindak tutur ilokusi yang digunakan dalam wacana komik di majalah Annida. Dengan penelitian ini, penulis memperoleh manfaat pengetahuan tentang tindak tutur ilokusi baik dari segi jenis dan fungsinya dalam wacana komik di majalah Annida. Selain itu diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat memberikan manfaat terhadap perkembangan bahasa dalam bidang pragmatik pada umumnya dan khususnya tentang kajian tentang kajian tindak tutur terutama kajian tindak tutur ilokusi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik simak dan tenik catat. Data penelitian ini diperoleh dari tuturan wacana komik majalah Annida dan sumber datanya berupa jenis dan fungsi tindak tutur di majalah Annida mulai edisi tahun 2001 yang terdiri atas dua edisi, tahun 2002 yang terdiri atas sebelas edisi, tahun 2003 terdiri atas tujuh edisi, sedangkan tahun 2004 dan 2005 terdiri atas satu edisi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan metode heuristik, yaitu jenis tugas pemecahan masalah yang dihadapi penutur dalam menginterprestasi sebuah tuturan atau ujaran, kemudian dipaparkan dengan menggunakan metode informal, yaitu pemaparan data yang berbentuk tuturan dan bukan data yang berupa angka, dan tidak menggunakan tanda-tanda atau lambang-lambang Berdasarkan hasil analisis data, jenis dan fungsi tuturan ilokusi dalam wacana komik di majalah Annida terdapat lima jenis tindak ilokusi dan empat jenis fungsi tindak tutur ilokusi. Kelima jenis tindak ilokusi adalah tindak tutur representatif meliputi menyatakan, mengakui, melaporkan, menunjukkan, dan menyebutkan Direktif meliputi mengajak, meminta, menyuruh, memohon,

vii

menyarankan, menantang, memaksa, dan memberikan aba-aba. Komisif meliputi menawarkan, menyatakan kesanggupan, dan berjanji. Ekspresif meliputi mengucapkan terima kasih, mengkritik, menyalahkan, mengeluh, dan memuji, serta isbati yaitu melarang. Empat jenis fungsi tindak tutur ilokusi yaitu kompetitif meliputi meminta dan mengemis, menyenangkan meliputi mengucapkan terima kasih, bekerjasama meliputi mengumumkan dan melaporkan, serta bertentangan meliputi memarahi. Saran penulis sampaikan bagi pemakai bahasa, peneliti tindak ilokusi, dan pembaca yang tertarik dengan kajian pragmatik, khususnya mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang yang tertarik dengan wacana komik kajian tindak tutur khususnya tindak tutur ilokusi, diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya terutama yang berhubungan dengan tindak tutur ilokusi.

viii

DAFTAR ISI Halaman PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................................. PENGESAHAN KELULUSAN ...................................................................... PERNYATAAN................................................................................................ MOTTO DAN PERSEMBAHAN................................................................... PRAKATA ........................................................................................................ SARI .................................................................................................................. DAFTAR ISI..................................................................................................... DAFTAR SINGKATAN.................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah............................................................................... 1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................ 1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................................... 1.4 Manfaat Penelitian ....................................................................................... BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIS 2.1 Kajian Pustaka.............................................................................................. 2.2 Kerangka Teoretis. ....................................................................................... 2.2.1 Pengertian Pragmatik .......................................................................... 2.2.2 Tindak Tutur........................................................................................ 2.2.3 Jenis Tindak Tutur .............................................................................. 7 10 10 11 12 1 5 5 6 i ii iii iv v vii ix xiii xv

ix

2.2.3.1 Tindak Lokusi ........................................................................ 2.2.3.2 Tindak Ilokusi ........................................................................ 2.2.3.3 Tindak Tutur Perlokusi .......................................................... 2.2.4 Aspek-aspek Situasi Tutur .................................................................. 2.2.4.1 Penutur dan Mitra Tutur......................................................... 2.2.4.2 Konteks Tuturan..................................................................... 2.2.4.3 Tujuan Tuturan....................................................................... 2.2.4.4 Tindak Tutur Sebagai Bentuk Tindakan atau Aktivitas......... 2.2.4.5 Tuturan Sebagai Produk Tindak Verbal................................. 2.2.5 Fungsi Tindak Ilokusi ......................................................................... 2.2.6 Hakikat Wacana, Jenis, dan Unsur Wacana........................................ 2.2.7 Hakikat Komik dan Wacana Komik ................................................... BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian .................................................................................. 3.2 Data dan Sumber Data ................................................................................. 3.3 Metode dan Teknik Pengumpul Data........................................................... 3.4 Metode dan Teknik Analisis Data................................................................ 3.5 Metode dan Teknik Pemaparan Hasil Analisis Data....................................

13 14 17 18 19 19 20 20 21 21 23 28

31 32 32 34 35

BAB IV JENIS DAN FUNGSI TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM WACANA KOMIK DI MAJALAH ANNIDA 4.1 Jenis Tindak Ilokusi dalam Wacana Komik di Majlah Annida.................... 4.1.1 Tindak Tutur Representatif .............................................................. 36 36

x

4.1.1.1 Tindak Tutur Representatif Menyatakan .......................... 4.1.1.2 Tindak Tutur Representatif Melaporkan........................... 4.1.1.3 Tindak Tutur Representatif Mengakui .............................. 4.1.1.4 Tindak Tutur Representatif Menyebutkan ........................ 4.1.1.5 Tindak Tutur Representatif Menunjukkan ........................ 4.1.2 Tindak Tutur Direktif....................................................................... 4.1.2.1 Tindak Tutur Direktif Mengajak........................................ 4.1.2.2 Tindak Tutur Direktif Meminta ......................................... 4.1.2.3 Tindak Tutur Direktif Menyuruh ....................................... 4.1.2.4 Tindak Tutur Direktif Memohon ....................................... 4.1.2.5 Tindak Tutur Direktif Menyarankan.................................. 4.1.2.6 Tindak Tutur Direktif Menantang...................................... 4.1.2.7 Tindak Tutur Direktif Memaksa ........................................ 4.1.2.8 Tindak Tutur Direktif Memberikan Aba-Aba.................... 4.1.3 Tindak Tutur Komisif ...................................................................... 4.1.3.1 Tindak Tutur Komisif Menawarkan .................................. 4.1.3.2 Tindak Tutur Komisif Menyatakan Kesanggupan............. 4.1.3.3 Tindak Tutur Komisif Berjanji .......................................... 4.1.4 Tindak Tutur Ekspresif .................................................................... 4.1.4.1 Tindak Tutur Ekspresif Mengucapkan Terima Kasih.......... 4.1.4.2 Tindak Tutur Ekspresif Mengkritik ..................................... 4.1.4.3 Tindak Tutur Ekspresif Menyalahkan..................................

36 38 40 42 43 44 45 46 48 49 50 52 53 55 56 56 57 58 59 59 60 62

xi

4.1.4.4 Tindak Tutur Ekspresif Mengeluh ....................................... 4.1.4.5 Tindak Tutur Ekspresif Memuji........................................... 4.1.5 Tindak Tutur Isbati........................................................................... 4.1.5.1 Tindak Tutur Isbati Melarang .............................................. 4.2 Fungsi Tindak Tutur Ilokusi dalam Komik di Majalah Annida................... 4.2.1 Fungsi Kompetitif ............................................................................ 4.2.1.1 Fungsi Kompetitif Meminta................................................. 4.2.1.2 Fungsi Kompetitif Mengemis .............................................. 4.2.2 Fungsi Menyenangkan ..................................................................... 4.2.2.1 Fungsi Menyenangkan Mengucapkan Terima Kasih........... 4.2.3 Fungsi Bekerja Sama ....................................................................... 4.2.3.1 Fungsi Bekerja Sama Mengumumkan ................................. 4.2.3.2 Fungsi Bekerja Sama Melaporkan ....................................... 4.2.4 Fungsi Bertentangan ........................................................................

63 65 67 67 68 68 68 69 69 69 70 70 71 71

BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan ...................................................................................................... 5.2 Saran............................................................................................................. DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... LAMPIRAN...................................................................................................... 73 74 75 77

xii

DAFTAR SINGKATAN

B10

: Bom 10

CDM : Cahaya di Meunasah DN DO IK IN KP KS KSD MB MM MT NA OD PK : Donor : Dombute : Istana Kecil : Inul : Kerudung Putih : Kunjungan Sosial : Kena Sars Dadakan : Manusia Berjenggot : Mawar-Mawar Adzkia : Menjemput Takdir : Naskah : Ogah di Penjara : Pangeran Kodok

PTPA : Perpisahan tak Pernah Abadi S : Sabar

SMKD : Siapa Mau Kawin denganku TADM : Tunggu Aku di Boulevard TD : Terserah deh

xiii

TT

: Tebak-Tebakan

TUSP : Tarian untuk Seorang Perempuan

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran I Data I Transkrip Jenis Tindak Ilokusi dalam Wacana Komik di Majalah Annida ........................................................................ 77 Lampiran II Data II Transkrip Fungsi Tindak Ilokusi dalam Wacana Komik di Majalah Annida ......................................................................... 89 Lampiran III Contoh Kartu Data ....................................................................... 91 Lampiran IV Data Gambar................................................................................. 96

xv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa digunakan manusia salah satunya yaitu sebagai alat komunikasi dengan lingkungannya. Tuturan manusia dapat diekspresikan melalui media massa baik lisan maupun tulisan. Dalam media lisan, pihak yang melakukan tindak tutur adalah penutur (pembicara) dan mitra tuturnya (penyimak), sedangkan dalam media tulis, tuturan disampaikan oleh penulis (penutur) kepada mitra tuturnya, yaitu pembaca. Sementara, untuk tuturan melalui media penutur dapat mengekspresikan tulisannya baik lisan maupun tulisan dengan

memanfaatkan media massa. Media massa yang dapat dimanfaatkan untuk tuturan lisan adalah media elektronik, seperti televisi dan radio. Sedangkan, untuk media cetak seperti majalah, tabloid, dan surat kabar merupakan sarana cetak yang dapat dimanfaatkan oleh penulis (penutur) untuk disampaikan kepada pembaca (mitra tutur) dengan tujuan agar apa yang disampaikannya melalui media tulis mendapatkan respon dari para pembacanya (mitra tutur). Media tulis yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat baik dikalangan remaja maupun dewasa salah satunya yaitu majalah. Ketertarikan masyarakat terhadap majalah dikarenakan penyajian serta pengemasan yang dibuat semenarik mungkin oleh penerbit, dengan maksud agar pembaca tertarik untuk membeli atau membaca majalahnya tersebut. Selain itu, majalah juga banyak jenisnya, antara

1

2

lain majalah tentang seputar keagamaan, seputar kehidupan atau gaya hidup remaja dan lain-lain. Majalah yang mengkaji tentang seputar agama khususnya agama Islam salah satunya majalah Annida. Majalah Annida merupakan majalah yang berisi informasi berupa hiburan maupun pendidikan. Bagian hiburan yang terdapat dalam majalah Annida diantaranya cerpen (cerita pendek) dan komik, sedangkan bagian pendidikan berisikan pengetahuan baik cerita atau kisah-kisah maupun fenomena-fenomena yang terjadi dikehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat. Akan tetapi, penelitian ini hanya mengakaji satu objek penelitian, yaitu komik yang terdapat pada bagian hiburan dalam majalah Annida. Komik merupakan salah satu alat komunikasi massa yang memberikan pendidikan, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa (Lubis dalam Rahayuningsih 2005:19). Selain itu, komik adalah bahan bacaan yang ringan dan menarik. Sebagai salah satu alat komunikasi, komik juga dapat melatih daya imajinasi setiap pembacanya yang diwujudkan dalam bentuk gambar dan teks (bahasa tulisan), karena gambar dapat berfungsi untuk membantu pembaca dalam mengimajinasikan informasi yang dibaca. Bahasa tulisan yang terdapat dalam komik mengikuti gambar yang terdapat dalam komik. Bahasa dalam komik mampu menyampaikan informasi secara efektif dan efisien melalui gambar dan teks. Bahasa dalam komik bertujuan untuk alat komunikasi antara penulis dan pembacanya. Tuturan dapat memunculkan daya pengaruh terhadap mitra tutur untuk melakukan sesuatu. Tuturan yang demikian disebut tindak tutur atau tindak ujar.

3

Tindak tutur sebagai wujud peristiwa komunikasi bukanlah peristiwa yang terjadi dengan sendirinya, melainkan memunyai fungsi, mengandung maksud, dan tujuan tertentu serta dapat menimbulkan pengaruh atau akibat pada mitra tutur. Tarigan (1990:145) mengemukakan bahwa komunikasi memunyai fungsi yang bersifat purposif, mengandung maksud dan tujuan tertentu, dan dirancang untuk menghasilkan efek, pengaruh, akibat pada lingkungan para penyimak dan para pembicara. Demikian halnya dengan komik yang dibuat oleh penulis kepada pembacanya. Komunikasi dengan bahasa membuat setiap orang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dengan bahasa pula orang dapat mempelajari kebiasaan, adat istiadat, kebudayaan dan latar belakang peserta komunikasi masing-masing. Komunikasi merupakan proses di mana seseorang menyampaikan rangsanganrangsangan (biasanya lambang-lambang dalam bentuk kata-kata) untuk mengubah tingkah laku orang lain. Komunikasi juga diartikan sebagai pengiriman atau penerimaan pesan atau informasi antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksudkan dapat dipahami. Berkenaan dengan bermacam-macam maksud yang mungkin

berkomunikasi, Leech (1983) berpendapat bahwa sebuah tindak tutur yaitu mencakupi: (1) penutur dan mitra tutur; (2) konteks tutur; (3) tujuan tuturan; (4) tindak tutur sebagai bentuk tindak atau aktivitas dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal.

4

Tuturan memunyai tujuan dan maksud tertentu untuk menghasilkan komunikasi. Tujuan tuturan merupakan salah satu aspek yang harus hadir di dalam suatu tuturan. Karena yang dimaksud dalam tujuan tuturan tersebut yakni upaya untuk mencapai suatu hasil yang dikehendaki oleh penutur kepada mitra tutur. Tujuannya yaitu untuk menyampaikan informasi, menyampaikan berita, membujuk, menyarankan, memerintah dan sebagainya. Dalam hal ini seorang penutur harus mampu menyakinkan mitra tuturnya atas maksud tuturannya. Rustono (1999:29) mengemukakan bahwa tujuan tuturan adalah apa yang ingin dicapai penutur dengan melakukan tindakan bertutur. Tujuan tuturan ini merupakan hal yang melatarbelakangi tuturan. Tuturan seseorang memiliki sebuah tujuan. Hal ini berarti tidak mungkin ada tuturan yang tidak mengungkapkan suatu tujuan. Dipilihnya majalah Annida sebagai sumber data penelitian ini, dikarenakan majalah Annida adalah majalah yang dapat menghibur sekaligus mendidik para pembacanya terutama pengetahuan tentang agama Islam. Majalah Annida terbit dua kali dalam satu bulan. Disetiap edisinya disajikan informasi-informasi yang terbaru dengan fenomena-fenomena yang nyata terjadi dikehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Akan tetapi, penelitian ini dikhususkan pada komik yang terdapat pada bagian yang terdapat dalam majalah Annida, karena komik yang disajikan di majalah Annida ini dirasa dapat memberikan pengetahuan kepada pembacanya. Berdasarkan alasan tersebut peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang wacana komik di majalah Annida, terutama masalah tindak tutur.

5

Untuk itu, penelitian ini akan mengkaji jenis dan fungsi tindak tutur dalam wacana komik di majalah Annida.

1.2 Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut 1. jenis tindak tutur ilokusi apa saja yang digunakan dalam wacana komik di majalah Annida? 2. fungsi tindak tutur ilokusi apa saja yang digunakan dalam wacana komik di majalah Annida?

1.3 Tujuan Penelitian Sesuai rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan 1. mendeskripsi jenis tindak tutur ilokusi yang digunakan dalam wacana komik di majalah Annida. 2. mengindentifikasi fungsi tindak tutur ilokusi yang digunakan dalam wacana komik di majalah Annida.

1.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu manfaat praktis dan manfaat teoretis.

6

1.4.1 Manfaat Praktis Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap perkembangan ilmu bahasa dalam bidang pragmatik pada umumnya dan khususnya tentang kajian tindak tutur.

1.4.2 Manfaat Teoretis Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu bahan acuan yang sangat bermanfaat untuk berbagai kepentingan khususnya di bidang pragmatik. Baik bagi para peneliti bahasa maupun para pembaca. Bagi peneliti, penelitian ini dapat menambah dan memperluas pengetahuan tentang pragmatik terutama kajian tindak tutur.

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIS

2.1 Kajian Pustaka Kajian pragmatik merupakan kajian yang menarik. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya penelitian tentang pragmatik khususnnya kajian tentang tindak tutur. Adapun beberapa pustaka yang relevan untuk mendasari penelitian ini meliputi beberapa hasil penelitian tentang tindak tutur antara lain, Tarigan (1990), Leech (1983), Wijana (1996), Rustono (1999), Tresnati (1998), Budiyati (2001), dan Palupi (2002). Tarigan (1990) dalam bukunya yang berjudul Pengajaran Pragmatik membahas ruang lingkup pragmatik dan bagaimana pragmatik yang tepat di SMU. Buku ini juga menjelaskan apa yang dimaksud dengan pragmatik dan yang termasuk kedalam bidang-bidang kajian pragmatik. Buku Leech yang berjudul Principle of Pragmatiks (1983) dan di Indonesiakan oleh Oka (1993) dengan judul Prinsip-Prinsip Pragmatik. Dalam mengembangkan ilmu pragmatiknya Leech mendapat pengaruh besar dari pakarpakar seperti Austin, Searle dan Grice. Bagi Leech, Austin dan Searle merupakan perumus-perumus kajian makna dari segi daya ilokusi, sedangkan Grice merupakan perumus makna dari segi implikatur percakapan. Leech banyak menuturkan pandangan mengenai studi bahasa sebagai sistem komunikasi.

7

8

Ancangan itulah yang menjadi dasar pragmatiknya bahwa komunikasi merupakan pemecahan masalah. Wijana (1996) dalam bukunya yang berjudul Dasar-dasar Pragmatik membahas mengenai situasi tutur, tindak tutur dengan berbagai jenis yang menyangkut ilmu pragmatik. Dalam buku ini Wijana menganut Leech dalam aspek-aspek situasi tutur. Buku ini juga menjelaskan jenis-jenis tindak tutur. Buku ini digunakan sebagai bahan pustaka. Dalam buku yang berjudul Pokok-pokok Pragmatik, Rustono (1999) membahas mengenai seluk beluk pragmatik baik tindak tutur serta jenis-jenisnya. Buku ini juga digunakan sebagai bahan pustaka. Sementara itu, Tresnati (1998) dalam laporan penelitiannya “Tindak Tutur dalam Novel Sekayu Karya NH Dini” ditemukan pemakaian tindak tutur yaitu tindak tutur representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi yang didasarkan pada tindak tutur menurut Searle. Jenis-jenis tindak tutur tersebut membentuk satu komposisi atau susunan. Komposisi jenis-jenis tindak tutur dalam novel Sekayu bervariasi. Jenis tindak tutur yang selalu muncul dalam setiap komposisi adalah: (a) tindak tutur representatif; (b) tindak tutur direktif; dan (c) tindak tutur ekspresif. Budiyati (2001) dalam tesisnya yang berjudul “Kevariasian Tindak Tutur PercakapanTokoh Utama Wanita dalam Novel-novel Karya Pengarang wanita”. Dalam penelitiannya ditemukan jenis tindak tutur yang terdapat di dalam keempat

9

novel yang dikajinya antara lain tindak tutur representatif, tindak tutur direktif, tindak tutur ekspresif, tindak tutur komisif, dan tindak tutur deklarasi. Dalam penelitian yang dilakukan Palupi (2002) dengan judul skripsi “Tindak Tutur dalam Wacana Iklan Bentuk Berita Pada Majalah Tempo Edisi 2001” dengan hasil penelitian ditemukan tindak tutur yang meliputi: (1) bentuk dan karakeristik; (2) aspek-aspek situasi tutur; (3) kategori cara penyampaian iklan. Bentuk dan karakteristik tindak tutur yang digunakan adalah tindak tutur langsung dan tidak langsung. Karakteristik pada tindak tutur tidak langsung adalah cenderung menggunakan kalimat (tuturan) ekuatif dan preposisi. Adapun karakteristik tindak tutur langsung adalah kalimat (tuturannya) cenderung mengandung unsur verba yang menghendaki mitra tutur melakukan sesuatu secara langsung yakni mengajak, menyarankan, menyuruh dan mengajurkan. Pada data digunakan partikel-lah untuk menghaluskan nada perintah atau menyarankan. Penggunaan tindak tutur ditinjau dari aspek-aspek situasi tutur adalah penutur dan mitra tutur, konteks tuturan, tujuan tuturan, tuturan sebagai tindakan atau aktivitas, dan tuturan berupa tindak verbal. Kategori cara penyampaian iklan pada pemakaian tindak tutur adalah kategori iklan pernyataan, kealatan, pemasaran, peyakinan, kenal pasti, perbandingan, pertanyaan, peringatan, ajakan, dan nasihat. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan di atas penelitian tentang tindak tutur sudah pernah dilakukan, akan tetapi penelitian yang

10

menggunakan komik sebagai sumber penelitian belum banyak dilakukan. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu sama-sama mengkaji tentang tindak tutur, akan tetapi penelitian ini dimaksudkan untuk melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya, tentunya dengan menggunakan teknik atau metode penelitian yang berbeda. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Palupi, peneliti merasa tertarik akan kajian tentang tindak tutur, karena itu peneliti menggambil kajian tentang tindak tutur yang dikhususkan dalam wacana komik di majalah Annida

2.2 Kerangka Teoretis Konsep-konsep teori yang digunakan dalam penelitian ini mencakupi: (1) pengertian pragmatik; (2) tindak tutur; (3) jenis-jenis tindak tutur; (4) aspek-aspek situasi tutur; (5) fungsi tindak ilokusi; (6) hakikat wacana, jenis, dan unsur wacana; dan (7) hakikat komik dan wacana komik.

2.2.1 Pengertian Pragmatik Pragmatik merupakan bagian dari ilmu semiotika yang pertama kali diperkenalkan oleh seorang filsuf yang bernama Morris. Wijana (1996:2) bahwa semantik dan pragmatik adalah cabang-cabang ilmu bahasa yang menelaah makna-makna satuan lingual, hanya saja semantik mempelajari makna secara internal, sedangkan pragmatik mempelajari makna secara eksternal, karena telaah semantik adalah makna yang bebas konteks,

11

sedangkan makna yang dikaji oleh pragmatik yaitu makna yang terikat konteks. Pragmatik adalah studi terhadap semua hubungan antara bahasa dan konteks yang digramatikalisasi atau ditandai (terlukiskan) di dalam struktur bahasa. Pragmatik adalah kajian tentang dieksis (paling tidak sebagian), implikatur, praanggapan, tindak tutur, dan aspek-aspek struktur wacana (Levinson 1983:9). Menurut pendapat Leech (dalam Rustono 1999:1) bahwa pragmatik adalah studi mengenai makna ujaran di dalam situasi-situasi tertentu. Sejalan dengan pendapat Leech, Gunarwan (dalam Rustono 1999:4) mengemukakan pendapatnya yaitu bahwa pragmatik merupakan bidang linguistik yang mengkaji hubungan (timbal balik) fungsi ujaran dan bentuk (struktur) kalimat yang mengungkapkan ujaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pragmatik merupakan bidang linguistik yang mengkaji hubungan timbal balik antara fungsi dan bentuk tuturan.

2.2.2 Tindak Tutur Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral didalam pragmatik. Entitas ini merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain bidang ini seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama, dan prinsip kesantunan. Kajian yang tidak mendasarkan

12

analisisnya pada tindak tutur bukanlah kajian pragmatik dalam arti yang sebenarnya Rustono (1999:33). Gunarwan (dalam Rustono 1999:33) menyatakan bahwa mengujarkan sebuah tuturan dapat dilihat sebagai melakukan tindakan (act), di samping memang mengucapkan (mengujarkan) tuturan itu. Aktivitas mengujarkan atau menuturkan tuturan dengan maksud tertentu itu merupakan tindak tutur atau tindak ujar (speech act). Istilah tindak tutur muncul karena di dalam mengucapkan sesuatu penutur tidak semata-mata menyatakan tuturan, tetapi dapat mengandung maksud di balik tuturan itu Purwo (1990:16) mendefinisikan tuturan sebagai ujaran kalimat pada konteks yang sesungguhnya. Menurut Chaer (1995:65) tindak tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis, dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturanya. Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tindak tutur adalah aktivitas tindakan dengan menuturkan sesuatu. Misalnya tindakan mengusir dapat dilakukan dengan tuturan “sudah jam sembilan Mas”. Maksud tuturan ini adalah tindakan mengusir bukan menunjukkan waktu.

13

2.2.3 Jenis Tindak Tutur Searle dalam bukunya Speech Acts: An Essay in the Philisophy of Language (dalam Wijana 1996:17) mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur yakni tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (ilocutionary act), dan tindak perlokusi (perlocutionary act).

2.2.3.1 Tindak Lokusi Tindak lokusi untuk menyatakan sesuatu adalah tindak lokusi (Wijana 1996:17). Pernyataan tersebut sama dengan Rustono (1999:35) bahwa lokusi atau lengkapnya tindak lokusi merupakan tindak tutur yang dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu. Di dalam tindak lokusi tidak mempermasalahkan maksud atau fungsi tutur. Pernyataan yang diajukan berkenaan dengan lokusi ini adalah apakah makna tuturan yang diucapkan itu. Lokusi sematamata tindak tutur atau tindak bertutur, yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata-kata. Makna kata dalam tuturan lokusi itu sesuai dengan makna kata di dalam kamus. Tindak lokusi adalah tindak tutur yang relatif paling mudah untuk diidentifikasi karena pengindentifikasianya cenderung dapat dilakukan tanpa menyertakan tindak lokusi sebenarnya tidak atau

14

kurang begitu penting peranaannya untuk memahami tindak tutur (Parker dalam Wijana 1996:18).

2.2.3.2 Tindak Ilokusi Tindak ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan (Rustono 1999:37). Tindak ilokusi tidak mudah diidentifikasi. Hal itu terjadi karena tindak ilokusi itu berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa, kapan dan di mana tindak tutur dilakukan pada tindak tutur ilokusi perlu disertakan konteks tuturan dalam situasi tutur. Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya ujar. Tindak tutur ilokusi dapat diidentifikasi sebagai tindak dan tutur yang berfungsi sesuatu untuk (Wijana

menginformasikan 1996:18). Leech

sesuatu

melakukan

(dalam

Rustono

1999:38)

untuk

memudahkan

identifikasi ada beberapa verba yang memadai tindak tutur ilokusi. Beberapa verba itu antara lain melaporkan, mengumumkan, bertanya, menyarankan, berterimakasih, mengusulkan, mengakui, mengucapkan selamat, berjanji, mendesak, dan sebagainya. Menurut Fraser (dalam Suyono 1990:7) menmgemukakan bahwa tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang berisi

15

pengucapan suatu pernyataan, pertanyaan, tawaran, janji, dan lainlain yang erat hubungannya dengan kalimat-kalimat. Dengan perkataan lain ilokusi berarti melakukan tindakan dalam melakukan sesuatu (Leech 1993:316). Tindak tutur ilokusi menurut Austin adalah tindak tutur yang berupa pernyataan, penawaran, berjanji, dan lain-lain. Tindak ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan (Levinson 1983:236). Contoh tindak tutur ilokusi: “Ayo, pak Ahmad, tanda tangan Anda! Kami

membutuhkannya.” Lebih jelas lagi Searle (dalam Rustono 1999:39-43) membuat kalsifikasi dasar tutran yang membentuk tindak tutur ilokusi menjadi lima jenis, yaitu (1) representatif; (2) direktif; (3) ekspresif; (4) komisif; dan (5) deklarasi.

1. Tindak Tutur Representatif Tindak tutur representatif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan. Jenis tindak tutur ini kadang-kadang disebut juga tindak tutur asertif. Adapun yang termasuk ke dalam jenis tindak tutur ini adalah tuturan-tuturan menyatakan, menuntut, mengakui,

16

melaporkan,

menunjukkan,

menyebutkan,

memberikan

kesaksian, berspekulasi, dan sebagainya.

2. Tindak Tutur Direktif Tindak tutur direktif sering juga disebut dengan tindak tutur impositif, adalah tindak tutur yang dimaksudkan

penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu. Adapun yang termasuk ke dalam jenis tindak tutur ini antara lain memaksa, mengajak, meminta, menyyuruh, menagih, mendesak, memohon, menyarankan, memerintah, memberikan aba-aba, dan menantang.

3. Tindak Tutur Ekspresif Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang

dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan itu. Tuturan-tuturan memuji, mengucapkan terima kasih, mengkritik, mengeluh, menyalahkan, mengucapkan selamat, dan

menyanjung termasuk ke dalam jenis tindak tutur ekspresif.

17

4. Tindak Tutur Komisif Tindak tutur Komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya. Berjanji, bersumpah, mengancam, menyatakan kesanggupan, berkaul merupakan tuturan yang termasuk ke dalam jenis tindak komisif.

5. Tindak Tutur Deklarasi Tindak tutur deklarasi adalah tindak tutur yang

dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) membatalkan, mengangkat, yang baru. Mengesahkan, mengizinkan, mengampuni

memutuskan, mengabulkan,

melarang, menggolongkan,

merupakan tuturan yang termasuk ke dalam jenis tindak tutur deklarasi.

2.2.3.3 Tindak Tutur Perlokusi Tindak tutur perlokusi adalah tuturan atau ujaran yang diucapkan oleh penutur yang mempunyai efek atau daya pengaruh terhadap mitra tutur. Tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan untuk mempengaruhi mitra tutur inilah yang merupakan tindak perlokusi (Rustono 1999:38).

18

Sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (Perlocutionary Force), atau efek bagi yang mendengarkannya. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya. Tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tutur disebut dengan tindak perlolusi. Tindak ini disebut The Act of Affecting Someone (Wijana 1996:19-20). Leech (dalam Rustono 1999:39) menyatakan bahawa ada beberapa verba yang dapat menandai tindak tutur perlokusi. Beberapa verba itu antara lain membujuk, menipu, mendorong, membuat jengkel, menakut-nakuti, menyenangkan, melegakan, mempermalukan, menarik perhatian, dan sebagainya. Tindak tutur perlokusi dapat menghasilkan efek atau daya ujaran terhadap mitra tutur hasilnya rasa khawatir, rasa takut, cemas, sedih, senang, putus asa, kecewa, takut, dan sebagainya.

2.2.4 Aspek-aspek Situasi Tutur Pragmatik merupakan kajian yang mengkaji makna dalam

hubungannya dengan situasi ujar. Dengan demikian bagi penutur dan mitra tutur hendaknya memperhatikan aspek situsi tutur di dalam komunikasinya agar antara penutur dan mitra tutur dapat saling mengertikan atas tuturannya.

19

Leech (1993:19-21) membagi aspek situasi tutur atas lima bagian yaitu: (1) penutur dan mitra tutur; (2) konteks tutur; (3) tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau kegiatan; (4) tujuan tuturan; dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek-aspek situasi tutur tersebut antara lain:

2.2.4.1 Penutur dan Mitra tutur Penutur adalah orang yang bertutur, yaitu orang yang menyatakan fungsi pragmatis tertentu di dalam peristiwa

komunikasi. Sementara itu, mitra tutur adalah orang yang menjadi sasaran sekaligus kawan penutur di dalam pentuturan. Di dalam peristiwa tutur peran penutur dan mitra tutur dilakukan secara silih berganti, yang semula berperan penutur pada tahap tutur berikutnya dapat menjadi mitra tutur, demikian sebaliknya. Aspek-aspek yang terkait dengan komponen penutur dan mitra tutur antara lain usia, latar belakang sosial, ekonomi, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan tingkat keakraban.

2.2.4.2 Konteks Tuturan Dalam tata bahasa konteks tuturan itu mencakupi semua aspek fisik atau latar sosial yang relevan dengan tuturan yang diekspresi. Konteks yang bersifat fisik, yaitu fisik tuturan dengan tuturan lain,

20

biasa disebut ko-teks. Sementara itu, konteks latar sosial lazim dinamakan konteks. Di dalam pragmatik konteks itu berarti semua latar belakang pengetahuan yang dipahami bersama oleh penutur dan mitra tuturnya. Konteks ini berperan membantu mitra tutur di dalam menafsirkan maksud yang ingin dinyatakan oleh penutur.

2.2.4.3 Tujuan Tuturan Tujuan tuturan adalah apa yang ingin dicapai penutur dengan melakukan tindakan bertutur. Komponen ini menjadikan hal yang melatarbelakangi tuturan. Karena semua tuturan memiliki suatu tujuan.

2.2.4.4 Tindak Tutur sebagai bentuk Tindakan atau Aktivitas Tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas adalah bahwa tindak tutur itu merupakan tindakan juga. Tindak tutur sebagai suatu tindakan tidak ubahnya sebagai tindakan mencubit dan menendang. Hanya saja, bagian tubuh yang berperan berbeda. Pada tindakan mencubit tanganlah yang berperan, pada tindakan menendang kakilah yang berperan, sedangkan pada tindakan bertutur alat ucaplah yang berperan.

21

2.2.4.5 Tuturan Sebagai Produk Tindak Verbal Tuturan itu merupakan hasil suatu tindakan. Tindakan manusia itu dibedakan menjadi dua, yaitu tindakan verbal dan tindakan nonverbal. Berbicara atau bertutur itu adalah tindakan verbal. Karena tercipta melalui tindakan verbal, tuturan itu merupakan produk tindak verbal. Tindakan verbal adalah tindak mengekpresikan katakata atau bahasa.

2.2.5 Fungsi Tindak Ilokusi Manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya menggunakna bahasa sebagai alat komunikasinya. Untuk itu, fungsi bahasa bagi manusia yaitu untuk berinteraksi dengan masyarakat penting sekali. Fungsi bahasa dalam masyarakat tidak hanya memiliki satu fungsi saja akan tetapi ada beberapa fungsi lain, salah satunya yaitu fungsi ilokusi. Searle (dalam Leech yang diindonesiakan Oka 1993: 162), bahwa fungsi ilokusi dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis sesuai dengan hubungan fungsi-fungsi tersebut dengan tujuan-tujuan sosial berupa pemeluiharaan perilaku yang sopan dan terhormat. Adapun fungsi tindak ilokusi antara lain kompetitif, menyenangkan, bekerja sama, dan bertentangan.

22

1. Kompetitif Fungsi kompetitif adalah tuturan yang tidak bertatakrama (discourteous), misalnya meminta pinjaman dengan nada memaksa, sehingga di sini melibatkan sopan santun. Tujuan ilokusi bersama dengan tujuan sosial. Pada ilokusi yang berfungsi kompetitif ini, sopan santun mempunyai sifat negatif dan tujuannya mengurangi ketidak harmonisan; misalnya memerintah, meminta, menuntut, dan mengemis.

2. Menyenangkan Fungsi menyenangkan adalah tuturan yang bertatakrama. Tujuan ilokusi sejalan dengan tujuan social. Pada fungsi ini, sopan santun lebih positif bentuknya dan bertujuan mencari kesempatan untuk beramah tamah; misalnya menawarkan, mengajak atau mengundang, menyapa, mengucapkan terima kasih, dan mengucapkan selamat.

3. Bekerja sama Fungsi kerja sama adalah tidak melibatkan sopan santun karena pada fungsi ini sopan santun tidak relevan. Tujuan ilokusinya tidak melibatkan tujuan sosial; misalnya menyatakan, melaporkan,

mengumumkan, dan mengajarkan.

23

4. Bertentangan Fungsi bertentangan adalah unsure sopan santun tidak sama sekali karena fungsi ini pada dasarnya bertujuan menimbulkan kemarahan. Tujuan ilokusi bertentangan dengan tujuan sosial; misalnya mengancam, menuduh, menyumpahi, dan memarahi.

2.2.6 Hakikat Wacana, Jenis, dan Unsur Wacana 2.2.6.1 Hakikat Wacana Istilah wacana (discourse) berasal dari bahasa latin yaitu discursus. Discursus terbentuk dari dua kata dis yang berarti dari arah yang berbeda dan currere berarti lari. Pengertian tersebut dalam perkembangannya, berarti penggunaan bahasa dari suatu topik lain secara teratur. Menurut Hoed (1994:134) bahwa wacana dapat terdiri hanya satu kata. Meskipun hanya terdiri dari satu kata, makna yang terkandung tidak hanya makna itu saja, akan tetapi makna luarnya yaitu makna yang diacu oleh kata tersebut. Lebih lanjut Hoed (1994:134) menjelaskan bahwa wacana mengacu pada unsur di dalam dan di luarnya, sedangkan kalimat atau kata hanya mengacu di dalam dirinya. Sementara itu, Tarigan (1987:27) berpendapat bahwa wacana yaitu suatu bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan korelasi dan koherensi yang tertinggi dan

berkesinambungan yang memunyai awalan dan akhiran yang nyata

24

disampaikan secara lisan maupun tulis. Dalam bahasa tulis awalan dan akhiran sangatlah penting, karena dalam bahasa tulis tanda baca dan konteks kalimat yang mempermudah pemahaman pembaca. Berbeda dengan bahasa tulis, dalam bahasa lisan konteks kalimat dan ekspresi penutur yang mendukung. Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Kridalaksana

(1987:184-259) bahwa satuan bahasa yang lengkap bukanlah kata atau kalimat melainkan wacana. Wacana adalah satuan kebahasaan yang unsurnya terlengkap yang tersusun dari kalimat yang berupa lisan maupun tulis, yang membentuk suatu pengertian yang serasi dan terpadu baik dalam pengertian maupun dalam manifestasi finetisnya. Kridalaksana (1993:231) dalam Kamus Linguistik, bahwa wacana yaitu satuan bahasa terlengkap dalam hierarki gramatikal tertinggi atau terbesar. Chaer (2003:267) berpendapat yang sama dengan Kridalaksana bahwa wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Sebagai satuan bahasa yang lengkap, maka dalam wacana itu berarti terdapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh, yang bisa dipahami oleh pembaca (dalam wacana tulis) atau pendengar (dalam wacana lisan), tanpa keraguan apa pun. Sebagai satuan gramatikal tertinggi atau terbesar, berarti wacana itu dibentuk dari kalimat atau kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal, atau persyaratan kewacanaan lainnya.

25

Dengan kata lain wacana dapat diartikan sebagai satuan yang menyatakan topik tertentu yang tertuang dalam kalimat atau sekumpulan kalimat yang mengikuti konteks tertentu.

2.2.6.2 Jenis Wacana Wacana dapat dikalsifikasikan dengan berbagai cara tergantung dari sudut kita memandang, antara lain: 1. Berdasarkan tertulis atau tidaknya wacana, 2. Berdasarkan langsung atau tidak langsung pengungkap wacana, 3. Berdasarkan cara penuturan wacana. Wacana berdasarkan realisasinjya dapat dibagi menjadi dua yaitu wacana tulis dan wacana lisan (Tarigan 1987:56-57). Wacana tulis adalah wacana yang disampaikan secara tertulis, sedangkan wacana lisan adalah wacana yang disampaikan secara lisan. Berdasarkan langsung tidaknya pengungkapan wacana dapat dibedakan menjadi wacana langsung dan wacana tidak langsung. Wacana langsung merupakan kutipan yang sebenarnya dibatasi oleh informasi, sedangkan wacana tidak langsung adalah pengungapan kembali wacana berupa mengutip kata-kata tanpa mengutip kata-kata yang dipakai oleh pembicara dengan memperhatikan konstruksi gramatikal atau kata-kata tertentu antara lain dengan klausa subordinat dan sebagainya. Berdasarkan cara menuturkannya, maka wacana dapat diklasifikasikan atas wacana pembeberan dan wacana

26

penuturan. Wacana pembeberan adalah wacana yang tidak mementingkan waktu dan penutur, berorientasi pada pokok pembicaraan, dan bagianbagiannya diikat secara logis. Sedangkan, wacana penutur adalah wacana yang mementingkan urutan waktu, dituturkan oleh persona pertama atau ketiga dalam waktu tertentu, berorientasi pada penutur dan seluruh bagiannya diikat secara kronologis.

2.2.6.3 Unsur Wacana Sebagai suatu bentuk wacana atau ujaran yang luas, wacana terdiri atas bermacam-macam unsur. Tarigan membagi unsur-unsur wacana sebagai berikut: 1. tema, yaitu pokok pembicaraan yang ada dalam sebuah wacana baik wacana lisan maupun tulisan, 2. unsur bahasa, yaitu kata, klausa, frasa, dan kalimat, 3. konteks yang terdapat dalam sekitar wacana, 4. makna dan maksud, 5. kohesi dan koherensi. Sebagai suatu jenis pengungkapan, wacana terdapat satu gagasan pokok atau tema. Tema itu dikembangkan dengan kalimat-kalimat yang padu, sehingga akan melahirkan satu jenis wacana yang kohesi dan koheren.

27

Kehadiran suatu kalimat dimungkinkan dalam sebuah wacana, tetapi kalimat itu harus disertai konteks. Karena, wacana juga terbangun oleh suatu konteks yang terdapat disekitar wacana. Misalnya, kalau kita sedang bercakap-cakap, maka situasi yang melatarbelakangi peristiwa itu akan sangat mendukung percakapan kita. Konteks wacana dibentuk oleh berbagai unsur, seperti situasi, pembicara, pendengar, kode, dan saluran (Muliono dan Dardjowidjojo, 1989). Wacana juga terbentuk oleh unsur-unsur kohesi dan koherensi. Kohesi adalah hubungan yang ditandai oleh penanda (lahir, yakni penanda yang menghubungkan apa ang dinyatakan) dengan apa yang dinyatakan sebelumnya dalam wacana tersebut. Kohesi merupakan keruntutan kalimat-kalimat dan hubungan struktural antar kalimat dalam wacana. Kohesi dalam sebuah wacana tidak hanya menyatakan pertalian bentuk lahir belaka, melainkan yang penting ialah bahwa kohesi (yang baik) menyiratkan koherensi (Samsuri, 1987:47). Koherensi merupakan hubungan semantis antar kalimat atau antar bagian wacana, yaitu hubungan yang serasi antar proposisi atau antar makna yang satu dengan makna yang lain (Oka, 1994:226).

28

2.2.7 Hakikat Komik dan Wacana Komik 2.2.7.1 Hakikat Komik Komik berasal dari bahasa Inggris comics yang merupakan perwujudan utama dari gejala sastra gambar, sedangkan istilah komik dalam bahasa Prancis dikenal istilah bande dessinee yang memiliki arti sama dengan komik bersambung yang dimuat dalam surat kabar. Di Indonesia kata komik diterima secara umum untuk menyebut sastra gambar. Komik adalah suatu kartun yang mengungkapkan karakter dan memerankan cerita dalam urutan yang erat dihubungkan dengan gambar dan dirancang untuk memberi hiburan kepada pembaca Rohani (dalam Setiawan 2002:22). Lacassin (dalam Rahayuningsih 2005:19) menyatakan bahwa komik merupakan sarana pengungkapan yang benar-benar orisinal karena menggabungkan gambar dengan teks. Komik juga dapat dikatakan sebagai salah satu alat komunikasi. Sedangkan Lubis (dalam Rahayuningsih 2005:19) memaparkan tentang “Komik: Media komunikasi Alternatif”, komik dianggap sebagai salah satu media komunikasi yang identik dengan gambar meskipun komik memberi kesempatan berekspresi secara verbal dan visual akan tetapi sebagi media seni, komik tetap berada dalam batasbatas komunikasi. Komik juga diartikan sebagai bentukan dari tujuan komersial-komersial yang berusaha memenuhi kebutuhan pembaca akan hiburan, informasi, dan pendidikan. Tujuannya hanya dapat berhasil

29

apabila persyaratan produksi, distribusi, persepsi, dan kemungkinan pengaruhnya dihubungkan satu sama lain. Dari beberapa pandangan itu dapat disimpulkan bahwa media komik adalah alat komunikasi untuk menyampaikan ide atau gagasan berupa buku yang berisi cerita bergambar yang enak dicerna dan dapat memberikan pendidikan.

2.2.7.2 Wacana Komik Kata komik digunakan untuk menyebut cerita gambar yang berupa rangkaian gambar, masing-masing dalam kotak yang secara keseluruhan merupakan rentetan cerita. Cergam (cerita bergambar) ini disebut komik karena pada masa lampau umumnya mengacu kepada cerita-cerita humoristis atau satiris untuk menghibur khalayak (Ensiklopedi Nasional Indonesia No. 9 1990:54). Komik merupakan salah satu jenis wacana yang persuatif. Ada tiga jenis wacana yang dikemukakan oleh Brewer dan Lichtentein (1982:437), yaitu wacana informatif, wacana interaktif, dan wacana persuatif. Wacana persuatif merupakan jenis wacana yang bertujuan mempengaruhi pendengar atau pembaca. Ditinjau dari segi fungsi bahasa yang dikemukakan oleh Jacobson (1996), maka komik masuk dalam fungsi konotatif yaitu fungsi untuk menggerakkan lawan bicara (orang lain). Ada sejumlah fungsi bahasa

30

yang lain yaitu fungsi emotif, referensial, fatik puitik, dan metalingual. Dari sejumlah fungsi bahasa itu, fungsi konatif sangat penting peranannya di dalam aktivitas berbahasa. Dengan fungsi ini seseorang dapat mempengaruhi orang lain. Demikian juga wacana komik, merupakan salah satu jenis wacana yang bertujuan mempengaruhi konsumen atau pembaca untuk membeli atau membaca komik yang disajikan. Komik yang termasuk dalam fungsi konatif, banyak ditemukan dalam jenis wacana persuatif. Sementara itu, wacana informatif banyak ditemukan pada buku-buku pelajaran, pembeitahuan, wacana berita , dan pengumuman. Sedangkan, wacana interaktif banyak ditemukan pada wacana basa-basi, wacana salam, dan lain sebagainya.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ada dua, yaitu pendekatan teoretis dan pendekatan metodologis. Pendekatan secara teoretis dalam penelitian ini menggunakan pendekatan pragmatis. Pendekatan pragmatis adalah pendekatan penelitian dalam ilmu bahasa yang mengkaji makna ujaran dalam situasi-situasi tertentu. Cakupan dalam penelitian ini meliputi hubungan timbal balik antara jenis dan fungsi tuturan yang secara implisit mencakupi penggunaan bahasa, komunikasi, konteks, dan penafsiran (Rustono 1999:4). Pendekatan penelitian yang kedua yaitu pendekatan secara metodologis yang terbagi menjadi dua pendekatan, yaitu pendekatan kualitatif dan pendekatan deskriptif. Pendekatan kualitatif yang berkaitan dengan data yang tidak berupa angka-angka, tetapi berupa penggunaan bentuk-bentuk bahasa (Aminuddin 1990:1). Pendekatan deskriptif adalah metode yang hanya memaparkan data empiris penggunaan bahasa tanpa mempertimbangkan benar salahnya penggunaan bahasa (Sudaryanto 1992:5-6, 62-63). Berdasarkan pendekatan-pendekatan tersebut, tujuan yang hendak dicapai sehubungan dengan topik penelitian ini adalah mendeskripsi tindak jenis dan fungsi tindak tutur dalam wacana komik di majalah Annida.

31

32

3.2 Data dan Sumber Data Data dalam penelitian ini berupa penggalan tuturan wacana komik majalah Annida yang diduga mengandung tindak tutur. Data tersebut bersumber pada wacana komik majalah Annida. Majalah Annida dipilih sebagai sumber data dalam penelitian ini karena, di dalamnya selain menyajikan komik, terdapat pula ilmu pengetahuan tentang seputar agama islam, serta fenomena-fenomena nyata yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang dapat mendidik dan menambah pengetahuan bagi pembacanya. Sumber data dalam penelitian ini adalah jenis dan fungsi tindak tutur di majalah Annida, edisi yang digunakan sebagai sumber data yaitu dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2005. Adapun datanya sebagai berikut: tahun 2001 (Maret No. 11 dan No. 12); 2002 (Januari: No. 08, April: No. 14 dan No. 15, Mei: No. 16 dan No. 17, Juni: No. 19, Juli: No. 20, No. 21, dan No. 22, Agustus: No. 23 dan No. 24); 2003 (Pebruari: No. 9 dan No. 10, April: No. 12, Mei: No. 15, Juni: No. 17, Juli: No. 19, Desember: No. 06); 2004 (Pebruari: No. 10); dan 2005 (Januari: No. 06).

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik simak dan teknik catat. Tenik simak dilakukan dengan menyimak yaitu menyimak penggunaan bahasa. Teknik simak dalam penelitian ini menggunakan teknik Simak Bebas Libat Cakap (SBLC) yaitu penelitian tidak terlibat dalam proses penuturan (Sudaryanto 1993:134)

33

Adapun teknik catat dilakukan dengan pencatatan pada kartu data yang segera dilanjutkan dengan klasifikasi atau pengelompokkan. Data yang dikumpulkan, dan disimpan atau dicatat dalam kartu data. Pencatatan dapat dilakukan langsung ketika teknik pertama selesai (teknik simak) dan dengan menggunakan alat tulis tertentu (Sudaryanto 1993:135). Komponenkomponen yang mengisi kartu data adalah nomor data, konteks, tuturan, analisis data dan jenis tindak tutur. Adapun bentuk data dan isi kartu data seperti berikut ini. Nomor Data KONTEKS TUTURAN ANALISIS JENIS/FUNGSI TINDAK TUTUR

Keterangan: Kartu data dibagi menjadi lima bagian yang diuraikan sebagai berikut: 1. Bagian pertama berisi nomor data. Data diberi nomor berdasarkan urutan tulisan ke dalam kartu data. 2. Bagian kedua berisi konteks tuturan. Konteks tuturan ditulis berdasarkan situasi yang sedang terjadi di dalam percakapan para tokoh komik dalam majalah Annida. 3. Bagian ketiga berisi tuturan seorang tokoh yang terdapat dalam komik majalah Annida.

34

4. Bagian keempat berisi analisis korpus. Dalam analisis korpus tersebut dijelaskan mengapa tuturan pada data merupakan tuturan yang mengandung tindak tutur dengan jenis tertentu. 5. Bagian kelima berisi jenis tindak tutur. Pada bagian ini dituliskan termasuk ke dalam jenis tindak tutur apakah tuturan tersebut.

3.4 Metode dan Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini setelah data terkumpul yaitu setelah data dicatat dalam kartu data dan sudah ditata secara sistematis sesuai dengan kepentingan penelitian. Tahap ini data dianalisis sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode heuristik, yaitu jenis tugas pemecahan masalah yang dihadapi penutur dalam menginterprestasi sebuah tuturan atau ujaran (Leech 1993:61). Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini berupa mengindentifikasi jenis tindak tutur ilokusi dan fungsi tindak tutur ilokusi pada penggalan wacana dengan merumuskan hipotesis-hipotesis dan kemudian mengujinya berdasarkan datadata yang tersedia. Apabila proses analisis hipotesis tidak teruji, maka akan dibuat hipotesis yang baru. Seluruh proses ini, terus menerus akan berulang sampai akhirnya tercapai suatu pemecahan masalah, yaitu berupa hipotesis yang teruji kebenarannya dan tidak bertentangan dengan bukti yang ada.

35

3.5 Metode dan Teknik Pemaparan Hasil Analisis Data Langkah selanjutnya setelah menganalisis data adalah memaparkan hasil analisis data tersebut. Pemaparan hasil analisis data ini merupakan paparan mengenai tindak tutur yang digunakan dalam wacana komik majalah Annida. Pemaparan hasil analisis ini menggunakan metode informal, yaitu perumusan data yang berbentuk tuturan dan bukan data yang berupa angka. Dengan menggunakan metode informal, penjelasan tentang kaidah menjadi lebih rinci dan terurai. Dengan demikian, rumusan yang tersaji relatif panjang. Pemilihan metode informal ini disesuaikan dengan karakter data yang tidak memerlukan adanya tanda-tanda atau lambang-lambang.

BAB IV JENIS DAN FUNGSI TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM WACANA KOMIK DI MAJALAH ANNIDA

4.1

Jenis Tindak Ilokusi dalam Wacana Komik di Majalah Annida Berdasarkan tindak ilokusi dalam wacana komik di majalah Annida, dapat ditemukan lima jenis tindak ilokusi. Kelima jenis tindak ilokusi ini adalah tindak tutur representatif, tindak tutur direktif, tindak tutur komisif, tindak tutur ekspresif, dan tindak tutur deklarasi/isbati.

4.1.1 Tindak Tutur Representatif Pada penelitian ini ditemukan tindak ilokusi representatif menyatakan, mengakui, melaporkan, menunjukkan, dan menyebutkan. Adapun yang termasuk dalam jenis tindak ilokusi representatif dalam wacana komik di majalah Annida dapat dijelaskan pada penggalan tuturan berikut.

4.1.1.1 Tindak Tutur Representatif Menyatakan Tuturan menyatakan adalah tuturan yang sesuai dengan kenyataan. Hal ini dapat dijelaskan pada data tuturan berikut ini. (1) KONTEKS : DI RUANG AUDIT NIDA DAN TEMAN-TEMAN SEKOLAHNYA MENDENGARKAN PENJELASAN YANG DIBERIKAN OLEH PENGURUS PANTI Pengurus panti 1 : ”Kami melakukan terapi medis maupun spiritual…”

36

37

Pengurus panti 2 : ”Juga mendorong mereka gemar beribadah dan bekerja” (Annida/19/03/KS/I) Tindak ilokusi representatif yang termasuk tuturan representatif menyatakan tersebut ditunjukkan pada tuturan ”Kami melakukan terapi medis maupun spiritual juga mendorong mereka gemar beribadah dan bekerja”. Dalam tuturan menyatakan yang dituturkan oleh pengurus panti 1 dan pengurus panti 2 ini memunyai maksud bahwa panti rehabilitasi sakit jiwa dalam menyembuhkan pasiennya menggunakan terapi medis maupun spiritual juga mendorong mereka agar gemar beribadah dan bekerja. Kebenaran tuturan representatif menyatakan tersebut jika apa yang dituturkan sesuai dengan kenyataannya, dalam hal ini mitra tutur pada saat itu tidak dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya karena tuturan ini dilakukan pada saat suasana seminar. Tindak tutur representatif menyatakan juga terdapat dalam kutipan wacana sebagai berikut. (2) KONTEKS : NIDA SEDANG MENERANGKAN TENTANG KONSEP ISLAM DALAM MENJAGA LINGKUNGAN Nida : ”Jadi.. Islam sangat memperhatikan keseimbangan alam. Karena itu marilah kita jaga kelestarian alam kita bla..bla...bla...” (Annida/15/02/IK/2)

Tuturan “....marilah kita jaga kelestarian alam kita bla..bla...bla...” dituturkan oleh Nida kepada murid-muridnya untuk menyatakan bahawa kita harus menjaga kelestarian alam. Oleh karena itu, kutipan wacana (2) termasuk dalam tindak tutur representatif menyatakan karena dalam tuturan tersebut berisi suatu

38

pernyataan yang dituturkan oleh Nida untuk menyatakan suatu kebenaran bahwa Islam sangat memperhatikan kelestarian alam. Jadi, Islam tidak menyukai manusia yang tidak mau menjaga alam ini. Kutipan wacana di bawah ini juga termasuk dalam tindak tutur representatif menyatakan. (3) KONTEKS : NIDA DAN ADIKNYA KETAKUTAN BERTEMU DENGAN ORANG SAKIT JIWA Nida : ”Astaghfirullah...” Orang Gila : ”Hallo chayang... Aku Dao Ming Tse anggota P4, yang main di Mie Telor Sarden itu lho... he...he...he...” (Annida/23/02/SMKD/3) Tuturan “....Aku Dao Ming Tse anggota P4, yang main di Mie Telor Sarden itu lho...” dituturkan oleh Orang Gila kepada Nida dan adiknya untuk menyatakan bahwa dia adalah Dao Ming Tse anggota P4. Oleh karena itu, kutipan wacana (3) termasuk dalam tindak tutur representatif menyatakan karena dalam tuturan tersebut berisi suatu pernyataan yang dituturkan oleh Orang Gila untuk menyatakan suatu kebenaran bahwa dia adalah Dao Ming Tse anggota P4, yang main di Mie Telor Sarden. Jadi, dia mencoba meyakinkan Nida.

4.1.1.2

Tindak Tutur Representatif Melaporkan Tuturan melaporkan juga termasuk dalam tindak ilokusi representatif.

Tuturan melaporkan merupakan tuturan yang juga menuturkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Ini terdapat pada tuturan berikut.

39

(4) KONTEKS

: DI TAMAN SEKOLAH, NIDA DAN TEMANTEMANNYA MELIHAT WAJAH META YANG TAMPAK MURUNG. Teman-teman Meta : ”Lho, kenapa kamu, Met? Datang-datang kok langsung mewek gitu?” Meta : ”Gue lagi sedih nih!” (Annida/10/03/OD/4)

Tindak ilokusi representatif melaporkan tersebut ditunjukkan pada tuturan gue lagi sedih nih!, maksudnya melaporkan kepada teman-teman Meta bahwa si penutur (Meta) sedang sedih. Kebenaran tindak ilokusi representatif melaporkan ini adalah apa yang dituturkan sesuai dengan kenyataan, dalam hal ini penutur pada saat itu melaporkan kepada mitra tutur bahwa penutur (Meta) dalam kesulitan atau sedang mendapatkan suatu musibah. Tindak tutur representatif melaporkan juga terdapat dalam kutipan wacana sebagai berikut. (5) KONTEKS : NIDA MENERIMA TELPON DAN MENDAPATKAN KABAR YANG TIDAK MENYENANGKAN Penelpon : ”Kak Nida, bapaknya Puput masuk rumah sakit! Kena serangan jantung!” Nida : ”Hah! inna lillahi...” (Annida/21/02/TADB/5) Tindak ilokusi representatif melaporkan tersebut ditunjukkan pada tuturan “... bapaknya Puput masuk rumah sakit! Kena serangan jantung!, maksudnya melaporkan kepada Nida bahwa temannya sipenelpon (Puput) sedang mendapatkan musibah, karena bapaknya masuk rumah sakit diakibatkan serangan jantung. Kebenaran tindak ilokusi representatif melaporkan ini adalah apa yang dituturkan sesuai dengan kenyataan, dalam hal ini penutur pada saat

40

itu melaporkan kepada Nida bahwa Puput dalam kesulitan dan membutuhkan pertolongan.

4.1.1.3

Tindak Tutur Representatif Mengakui Tuturan mengakui merupakan tuturan yang menyatakan keadaan yang

sebenarnya, mengakui untuk diri sendiri dan orang lain akan sesuatu hal. Tindak tutur representatif mengakui ini dapat ditemukan pada kutipan wacana di bawah ini. (6) KONTEKS : DI TAMAN SEKOLAH, META BERCERITA KEPADA NIDA DAN TEMAN-TEMANNYA TENTANG MASALAH YANG MENIMPA AYAHNYA. Nida : ”Lho kok gitu? Kalo berani berbuat, ya harus berani tanggung jawab dong.” Teman Nida : ”Iya, Met. Kalo urusannya korupsi sih gue ogah ngedukung lo!” Meta : ”Iya gue tahu. Tapi bokap gue nggak mau di penjara karena dia mau di masukin satu sel sama Sumanto!” (Annida/10/03/OD/06) Tindak ilokusi representatif mengakui tersebut di tunjukkan pada tuturan “Iya gue tahu. Tapi bokap gue nggak mau di penjara karena dia mau di masukin satu sel sama Sumanto!” pada tuturan ini penutur mengakui kepada mitra tutur bahwa penutur dapat berkata demikian karena ayah penutur tidak mau masuk penjara dikarenakan tidak mau di masukkan satu sel dengan Sumanto. Tuturan penutur merupakan tuturan yang sesuai dengan kenyataannya.

41

Di bawah ini juga merupakan tindak tutur representatif mengakui. (7) KONTEKS : DI RUANGAN PANTI REHABILITASI SAKIT JIWA NIDA BERBINCANG DENGAN RIFA. Rifa : ”Ternyata tak semuanya menakutkan ya?!” Nida : ”Betul Rifa, padahal sebelum kemari aku takut lho.” (Annida/19/03/KS/07) Tindak ilokusi representatif mengakui tersebut di tunjukkan pada tuturan padahal sebelum kemari aku takut lho. Tuturan ini, penutur (Nida) mengakui kepada mitra tutur (Rifa), bahwa penutur dapat berkata demikian karena penutur merasa ketakutan sebelum datang ke panti rehabilitasi sakit jiwa. Tuturan penutur merupakan tuturan yang sesuai dengan kenyataannya. Kutipan wacana di bawah ini juga termasuk ke dalam tindak tutur representatif mengakui (8) KONTEKS : META MEMBERITAHU TEMAN-TEMANNYA BAHWA BAPAKNYA MELAKUKAN KORUPSI, NAMUN TIDAK MAU BERTANGGUNG JAWAB. Nida : ”Hah! Emang kenapa?!” Meta : ”Bokap gue…bokap gue… korupsi. Tapi, dia nggak mau di penjara.” (Annida/10/03/OD/08) Tuturan “Bokap gue…bokap gue…korupsi.” Dituturkan oleh Meta kepada teman-temannya dengan maksud untuk menyatakan suatu pengakuan tentang kebenaran bahwa bapaknya melakukan tindak korupsi. Dengan demikian, kutipan wacana (8) merupakan tindak tutur representatif mengakui karena diucapkan oleh Meta dengan sungguh-sungguh untuk mengakui kesalahan yang dilakukan oleh bapaknya yaitu melakukan korupsi dan tidak mau di penjara pula.

42

4.1.1.4

Tindak Tutur Representatif Menyebutkan Tindak tutur representatif menyebutkan adalah tindak tutur yang

mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang dituturkan dengan tuturan yang berisi menyebutkan, misalnya mengucapkan nama benda atau orang dan sebagainya. Tuturan representatif menyebutkan terdapat pada kutipan wacana di bawah ini. (9) KONTEKS : NIDA DAN ADIKNYA NAIK PERAHU SAMBIL BERBINCANG-BINCANG DENGAN BAPAK NELAYAN Pak nelayan : ”Pulau-pulau di sini dulunya tanpa penghuni. Tapi sekarang sudah jadi negara!” Nida : ”Ah, yang benar, pak? Negara apa pak?” Pak nelayan : ”Negara Lokalisasi.” (Annida/17/02/S/09) Tuturan “Negara Lokalisasi”, dituturkan oleh Pak nelayan kepada Nida dengan maksud untuk menyebutkan sebuah tempat di mana Nida dan adiknya sedang melewatinya. Oleh karena itu, kutipan wacana (9) merupakan tindak tutur representatif menyebutkan, karena Pak nelayan menyebutkan tentang kebenaran atas ucapannya yaitu pulau-pulau yang dahulunya tidak ada penghuninya, sekarang sudah berubah menjadi sebuah negara dan negaranya dinamakan negara lokalisasi.

43

4.1.1.5

Tindak Tutur Representatif Menunjukkan Tindak tutur representatif menunjukkan adalah tindak tutur yang

mengikat penuturnya atas apa yang dituturkannya dengan menggunakan tuturan yang berisi menunjukkan. Berikut adalah kutipan wacana yang berjenis tindak tutur represenatif menunjukkan. (10) KONTEKS : INUL DAN NIDA MEMUNYAI TAKTIK UNTUK MEMBERSIHKAN OTAK KOTOR TEMAN-TEMAN YANG JAHIL KEPADANYA MENGGUNAKAN ALAT BOOR Nida : “Obat pikiran kotor!” Meta : “Nih! Kalian mau ini kan…!” (Annida/12/03/IM/10) Tuturan “Nih! Kalian mau ini kan..!.” dilakukan oleh Inul kepada teman-teman yang jahil kepadanya dengan maksud untuk menunjukkan sebuah alat yang digunakan Inul untuk membersihkan pikiran kotor mereka yaitu alat boor. Dengan demikian, kutipan wacana (10) merupakan tindak tutur representatif menunjukkan, karena diucapkan oleh Inul dengan suatu kebenaran untuk menunjukkan alat boor kepada teman-temannya. Kutipan wacana di bawah ini juga termasuk kedalam tindak tutur representatif menunjukkan. (11) KONTEKS : KAKEK MEMBERITAHUKAN BENDA PUSAKA YANG IA MILIKI KEPADA NIDA Kakek : ”Ini dia kartu merah yang kakek keluarkan untuk Ruud Gullit waktu kakek jadi wasit dulu.” (Annida/20/02/CM/11) Tuturan “Ini dia kartu merah yang kakek keluarkan untuk Ruud Gullit…”, dilakukan oleh kakek kepada Nida dengan maksud agar Nida mengetahui benda

44

pusaka yang ia miliki dengan menunjukkan kartu merah yang ia keluarkan untuk menghukum Ruud Gullit ketika menjadi wasit dulu. Dengan demikian, kutipan wacana (11) merupakan tindak tutur representatif menunjukkan, karena diucapkan oleh kakek dengan suatu kebenaran untuk memperlihatkan kartu merah yang ia gunakan untuk menghukum Ruud Gullit ketika kakek masih menjadi wasit. Kutipan wacana di bawah ini juga merupakan tindak tutur representatif menunjukkan. (12) KONTEKS NIDA BERTEMU DENGAN KAKEK-KAKEK PENGEMIS YANG MENGEMIS DI TERAS MALL Kakek pengemis : ”Itu ada ratusan tiga, di kantong belanjaan eneng.” (Annida/10/04/TD/12) :

Tuturan “ Itu ada ratusan tiga.” dituturkan oleh kakek pengemis kepada Nida dengan maksud untuk menunjukkan uang receh tiga ratusan yang ada di kantong belanjaannya. Dengan demikian, kutipan wacana (12) merupakan tindak tutur representatif menunjukkan, karena diucapkan oleh kakek pengemis untuk menunjukkan uang receh yang ada di kantong belanjaan Nida.

4.1.2 Tindak Tutur Direktif Tindak ilokusi direktif merupakan dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan itu. Dalam penelitian ini ditemukan lima jenis tindak ilokusi direktif yang meliputi mengajak,

45

meminta, menyuruh, memohon, menyarankan, menantang, memaksa dan memberikan aba-aba. Tuturan tersebut dapat dilihat pada data berikut ini.

4.1.2.1 Tindak Tutur Direktif Mengajak Tuturan mengajak merupakan tuturan yang mempengaruhi mitra tutur untuk melakukan suatu tindakan. Penggalan tuturan yang menunjukkan adanya tuturan mengajak dapat dilihat pada tuturan berikut ini. (13) KONTEKS Nida Teman Nida : NIDA SEDANG SANTAI SAMBIL MAIN TEBAKTEBAKAN : ”Main tebak-tebakan yuk! Katanya kamu tahu semua. Ayam terbesar adalah…” : ”Ayam semesta.” (Annida/17/03/TT/13)

Tuturan “Main tebak-tebakan yuk!”, dituturkan oleh Nida kepada temannya dengan maksud untuk mengajak bermain tebak-tebakan. Kutipan wacana (13) tersebut termasuk ke dalam tindak tutur direktif mengajak, karena tuturan tersebut berisi ajakan yang dilakukan oleh Nida kepada temannya untuk ikut bermain bersamanya. Kutipan wacana di bawah ini juga termasuk ke dalam tindak tutur direktif mengajak (14) KONTEKS NIDA MENGAJAK PKL MURID-MURIDNYA DENGAN MELAKUKAN DEMO DI DEPAN GEDUNG DPR Murid-murid : ”Kak Nida, kita mau kemana sih? Kok bawa-bawa poster segala”. Nida : ”Khan kak Nida sudah bilang, kita mau PKL alias Praktek Kerja Lapangan”. (Annida/24/02/TUSP/14) :

46

Tuturan “…kita mau PKL alias Praktek Kerja Lapangan.” Dituturkan oleh Nida kepada murid-muridnya dengan maksud untuk mengajak PKL alias Praktek Kerja Lapangan. Oleh karena itu, kutipan wacana (14) merupakan tindak tutur direktif mengajak karena tuturan tersebut berisi ajakan yang dilakukan oleh Nida kepada murid-murid untuk melakukan PKL di depan gedung DPR dengan berdemonstrasi.

4.1.2.2 Tindak Tutur Direktif Meminta Tuturan meminta menimbulkan pengaruh kepada mitra tutur untuk melakukan suatu tindakan meminta, apakah itu dalam suatu perbuatan atau tuturan saja. Tuturan yang menunjukkan meminta terdapat pada data berikut. (15) KONTEKS : NIDA DAN IBUNYA SEDANG BERBINCANG TENTANG PRIA BERJENGGOT Bang Mamad : “Nid, jadi nggak kamu beli kambingnya...?” Ibu Nida : “Sorry ya, ibu udah ke-GR-an..” Nida : “Jadi, Bang!” (Annida/09/03/MB/15)

Tuturan “Sorry ya”, dituturkan oleh ibu kepada Nida dengan maksud meminta maaf atas kekeliruannya. Oleh sebab itu, kutipan wacana (15) merupakan tindak tutur direktif meminta, karena tuturan tersebut berisi suatu permintaan maaf ibunya Nida kepada Nida yang telah salah paham tentang pria berjengot (Bang Mamad). Kutipan wacana berikut juga termasuk ke dalam tindak tutur direktif meminta.

47

(16) KONTEKS : NIDA MELIHAT SALAH SATU ANAK TPA YANG SEDANG MENGANDRUNGI METEOR GARDEN Nida : ”Anak-anak TPA lagi gandrung Meteor Garden... nah ini salah satunya.” Anak TPA : ”Kak Nida! Toloong! Aku dikejar-kejar Daoming Tse....!” (Annida/23/02/SMKD/16) Tuturan ”Kak Nida! Toloong!”, dituturkan oleh anak TPA kepada Nida dengan maksud untuk meminta Nida untuk menolongnya dari kejaran Daoming Tse. Oleh sebab itu, kutipan wacana (16) merupakan tindak tutur direktif meminta karena tuturan tersebut berisi suatu permintaan dari anak TPA kepada Nida agar menolongnya dari kejaran Daoming Tse (orang gila). Kutipan wacana di bawah ini juga termasuk dalam tindak tutur direktif meminta. (17) KONTEKS : PAK GURU BERTANYA PADA NIDA TENTANG SAMPUL BUKUNYA Pak guru : ”Nida! Khan sudah dibilang semua buku ulangan harus disampul coklat.” Nida : ”M...m..maaf pak! S...s...sekarang sedang trend buku putih biar clear!” (Annida/11/01/DN/17) Tuturan “M...m...maaf pak!” dituturkan oleh Nida kepada pak guru dengan maksud untuk meminta maaf. Dengan demikian, kutipan wacana (17) merupakan tindak tutur direktif meminta, karena berisi tuturan yang digunakan untuk menyatakan suatu permintaan yang diucapkan oleh Nida guna meminta maaf kepada pak guru.

48

4.1.2.3 Tindak Tutur Direktif Menyuruh Tuturan menyuruh merupakan tuturan yang termasuk dalam tindak ilokusi direktif. Tuturan menyuruh merupakan tuturan yang menyatakan tindakan. Ini dapat dijelaskan pada tuturan di bawah ini. (18) KONTEKS: Kakek KAKEK MEMBERIKAN BENDA PUSAKA DAN MENYURUH NIDA UNTUK MENJAGANYA : ”Nid, kakek punya benda pusaka yang kelak kamu harus jaga baik-baik kalau kakek sudah meninggal.” (Annida/20/02/COM/18)

Tuturan ”...kamu harus jaga baik-baik....”, dituturkan oleh kakek kepada Nida dengan maksud agar Nida mau menjaga benda pusaka miliknya. Oleh karena itu, kutipan wacana (18) merupakan tindak tutur direktif menyuruh karena tuturan tersebut dimaksudkan kakek untuk menyuruh Nida menjaga benda pusaka miliknya dengan baik-baik apabila kakeknya sudah meninggal. Di bawah ini juga adalah kutipan wacana tindak tutur ekspresif menyuruh. (19) KONTEKS : DI TENGAH PERJALANAN PULANG, NIDA BERTEMU DENGAN KODOK YANG DAPAT BERBICARA : ”Hai, cium aku...Aku sang pangeran yang dikutuk menjadi kodok.” (Annida/06/03/PK/19)

Kodok

Tuturan ”Hai, cium aku...”, dituturkan oleh kodok kepada Nida dengan maksud agar Nida melakukan tidakan yang diucapakan oleh kodok yaitu menyuruh Nida untuk menciumnya. Oleh karena itu, kutipan wacana (20) merupakan tindak

49

tutur direktif menyuruh sebab suruhan kepada Nida untuk mencium sang pangeran kodok. Tuturan direktif menyuruh juga terdapat pada kutipan wacan berikut ini. (20) KONTEKS : DI HALAMAN RUMAH, NIDA DAN TEMANNYA SEDANG DUDUK SANTAI SAMBIL BERBINCANGBINCANG Teman Nida : ”Dah boring nih, refreshing dulu yuk!” Nida : ”Tuh jusnya diminum.” (Annida/17/03/TT/20) Tuturan ”Tuh jusnya diminum.”, dituturkan oleh Nida kepada temannya dengan maksud agar temannya meminum jus yang telah ia buat. Oleh karena itu, kutipan wacana (20) merupakan tindak tutur direktif menyuruh sebab suruhan kepada temannya untuk meminum jusnya.

4.1.2.4 Tindak Tutur Direktif Memohon Memohon merupakan suatu tuturan yang juga menyatakan untuk melakukan suatu tindakan. Penggalan tuturan tersebut ditunjukkan sebagai berikut. (21) KONTEKS : NIDA MENERIMA TELEPON DAN TERKEJUT MENDENGAR BERITA YANG DISAMPAIKAN OLEH SIPENELPON Penelpon : ”Kak Nida, bapaknya Puput masuk Rumah Sakit! Kena serangan jantung!” Nida : ”Hah! Innalillahi....” ”Ya Allah berikanlah Puput kesabaran”. (Annida/21/02/TADB/21)

50

Tuturan ”Ya Allah berikanlah Puput kesabaran”, diucapkan oleh Nida kepada Allah SWT dengan maksud untuk memohon pertolongan kepada Allah SWT agar memberikan kesabaran kepada Puput. Dengan demikian, kutipan wacana (21) merupakan tindak tutur direktif memohon karena berisi permohonan atau harapan agar Puput diberikan ketabahan atas musibah yang menimpanya. Kutipan wacana di bawah ini juga merupakan tindak tutur direktif memohon. (22) KONTEKS : TEMAN-TEMAN NIDA INGIN BERKENALAN DENGAN SISWA BARU DI SEKOLAHNYA Teman 1 : ”Nid, siapa nama anak baru itu?” Teman 2 : ”Kenalin dong, Nid, sama kita-kita.” (Annida/12/03/IN/22)

Tuturan ”kenalin dong, Nid”, diucapkan oleh sipenutur (teman 1) kepada Nida dengan maksud untuk memohon agar Nida untuk mengenalkan teman barunya kepada teman-teman sekelasnya. Oleh karena itu, tuturan di atas termasuk ke dalam tindak tutur direktif memohon, karena tuturan tersebut berisi permohonan atau harapan agar Nida mau mengenalkan teman barunya.

4.1.2.5 Tindak Tutur Direktif Menyarankan Tindak tutur direktif menyarankan adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penuturnya dengan maksud agar sipendengar melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan yang berisi saran dan anjuran. Tuturan berikut merupakan tindak tutur direktif menyarankan.

51

(23)

KONTEKS: DI TAMAN SEKOLAH, NIDA DAN TEMANTEMANNYA MENGINGINKAN AGAR META BERCERITA ATAS MASALAH YANG DIHADAPINYA. Tuturan : ”Ada apa? Ngomong dong. Siapa tahu kita bisa bantu.” (Annida/10/03/OD/23)

Pada tuturan (23) yang menunjukkan tindak ilokusi direktif menyarankan terdapat pada tuturan ngomong dong…, maksudnya penutur menyarankan agar mitra tutur mau membicarakan tentang apa yang terjadi pada dirinya. Tuturan ini dimaksudkan penutur siapa tahu penutur dapat memecahkan atau membantu masalah yang dihadapai oleh mitra tutur. Kutipan wacana tindak tutur direktif menyarankan juga terdapat pada tuturan di bawah ini. (24) KONTEKS : INUL MERASA KESAL TERHADAP ULAH TEMANTEMAN BARUNYA, NAMUN NIDA MEMPUNYAI IDE UNTUK MENGATASINYA : ”Sabar, Nul. Ngadepin cowok rese emang mesti pakai taktik.” : ”Taktik...yes! ogut dapat ide!” (Annida/12/03/IN/24)

Teman Inul Nida

Tuturan ”Sabar, Nul.” dituturkan oleh teman Inul kepada Inul dengan maksud agar Inul mengikuti saran yang disampaikannya oleh teman Inul yaitu tetap sabar kalau menghadapi teman-teman cowok yang rese dan dengan menggunakan sedikit taktik. Dengan demikian, kutipan wacana (24) merupakan tindak tutur direktif menyarankan sebab berisi saran atau anjuran agar Inul mau menuruti perkataan temannya.

52

Kutipan wacana di bawah ini juga termasuk dalam tindak tutur direktif menyarankan. (25) KONTEKS : DI DALAM ANGKOT YANG PENUH PENUMPANG DAN ASAP ROKOK Penumpang 1 : ”Heh, kalo kamu nggak mau kena rokok turun aja” Penumpang 2 : ”Iya, naik taksi aja sekalian kan aman”. (Annida/15/03/KSD/25)

Tuturan ”...Kalo kamu nggak mau kena rokok turun aja. Iya, naik taksi aja sekalian kan aman” dituturkan oleh penumpang 1 dan penumpang 2 kepada Nida dengan maksud agar Nida memilih saran yang disampaikan oleh penumpang 1 dan penumpang 2 yaitu kalau tidak mau kena asap rokok lebih baik turun saja dari angkot dan lebih aman lagi naik taksi saja. Dengan demikian, kutipan wacana (25) tersebut merupakan tindak tutur direktif menyarankan, sebab berisi saran atau anjuran agar Nida mau menuruti perkataan penumpang 1 dan penumpang 2.

4.1.2.6 Tindak Tutur Direktif Menantang Tindak tutur direktif menantang adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penuturnya dengan maksud agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan yang berisi tantangan. Tuturan menantang adalah tuturan yang dilakukan oleh seseorang untuk mengahadapi atau melawan orang lain. Berikut ini adalah pemaparan hasil analisis tindak tutur direktif menantang.

53

(26) KONTEKS: Nida

INUL MERASA KESAL DENGAN ULAH TEMANTEMAN BARUNYA : ”Ah, kalian pasti ada maunya. Kalau kenalan sih boleh saja, tapi kalo lebih dari itu, no way!” (Annida/12/03/IN/26)

Tuturan ” Kalau kenalan sih boleh saja, tapi kalo lebih dari itu, no way!” dilakukan oleh Nida kepada teman-teman sekelasnya yang usil kepada temannya Inul dengan maksud untuk menantang kehendak teman-temannya yang menginginkan agar Nida mengenalkan mereka kepada Inul. Dengan demikian, kutipan wacana (26) merupakan tindak tutur direktif menantang, karena berisi sebuah tantangan yang dilakukan oleh Nida kepada temantemannya yang usil terhadap temannya Inul.

4.1.2.7 Tindak Tutur Direktif Memaksa Tindak tutur direktif memaksa adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penutur dengan maksud agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan yang berisi memaksa. Tuturan memaksa adalah tuturan yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud untuk menyuruh kepada orang lain secara paksa, biasanya berkonotasi kasar. Berikut ini adalah hasil analisis tindak tutur direktif memaksa. (27) KONTEKS : PAK POLISI MEMAKSA TERSANGKA PENGEBOMAN UNTUK MEMBERITAHUKAN TEMPAT DIA MELETAKAN BOM LAIN YANG IA TARUH Pak Polisi : ”Hayo ngaku, ada lagi nggak bom yang kamu taruh di tempat lain?”

54

Tersangka

: ”Ada, apa!” (Annida/06/05/BIO/27)

Tuturan ” Hayo ngaku, ada lagi nggak bom yang kamu taruh di tempat lain?” dituturkan oleh pak polisi kepada tersangka dengan maksud agar tersangka mengakui tempat penyimpanan bom yang lainnya. Dengan demikian, kutipan wacana (27) merupakan tindak tutur direktif memaksa, karena tuturan itu berisi suatu pemaksaan yang dilakukan oleh pak polisi kepada tersangka pemboman. Kutipan wacana di bawah ini juga termasuk dalam tindak tutur direktif memaksa. (28) KONTEKS: DENGAN NADA YANG JENGKEL KAKEK PENGEMIS TETAP MEMAKSA NIDA UNTUK MEMBERINYA SESUATU : ”Yah, terserah eneng mau ngasih apa nggak!” (Annida/10/04/TO/28)

Kakek

Tuturan ” terserah eneng mau ngasih apa nggak!...” dituturkan oleh kakek pengemis kepada Nida dengan maksud agar Nida melakukan apa yang disebutkan dalam tuturannya, yaitu agar Nida mau memberinya uang atau tidak. Dengan demikian, kutipan wacana (28) merupakan tindak tutur direktif memaksa, sebab tuturan tersebutdimaksudkan oleh kakek pengemis untuk memaksa Nida supaya ia mau memberikan sesuatu kepadanya, akan tetapi kalau tidak memberi sesuatu jangan terus mengejeknya.

55

4.1.2.8 Tindak Tutur Direktif Memberikan Aba-aba Tindak tutur direktif memberikan aba-aba adalah tindak tutur yang dimaksudkan oleh penuturnya untuk memberikan peringatan atau aba-aba kepada mitra tuturnya atau si pendengar. Berikut adalah pemaparan hasil analisis tindak tutur direktif memberikan aba-aba. (29) KONTEKS : TERSANGKA PEMBOMAN MENGAKUI TEMPAT PENYIMPANAN BOM YANG LAIN KEPADA PAK POLISI DAN MEMBERITAHU PAK POLISI, NIDA DAN SEMUA PENGHUNI LP BAHWA BOMNYA AKAN MELEDAK DALAM WAKTU YANG IA SEBUTKAN YAITU DALAM SEPULUH DETIK Pak polisi : ”Di mana?” Tersangka : ”Di kantor Polisi ini” Pak polisi : ”Apa? Kapan waktu meledaknya?” Tersangka : ”Sepuluh” Pak polisi : ”Sepuluh apa? Sepuluh hari? Sepuluh jam.” Tersangka : ”Sembilan...delapan...tujuh...enam...lima...” Pak polisi, Nida : ”Lariiiiiiiiii.......” (Annida/06/05/BIO/29)

Tuturan ”Sembilan...delapan...tujuh...enam...lima....” termasuk dalam tindak tutur direktif memberikan aba-aba karena penutur (tersangka) bertutur demikian dengan maksud memberikan aba-aba kepada polisi, Nida dan penghuni LP bahwa bom yang ia taruh di kantor polisi akan meledak dalam jangka waktu yang ia sebutkan.

56

4.1.3 Tindak Tutur Komisif Tindak ilokusi komisif merupakan tindak ilokusi yang mendorong penutur untuk melakukan sesuatu. Tindak ilokusi komisif dan direktif samasama digunakan untuk melaksanakan tindakan, namun dalam tindak ilokusi komisif ini penutur sendirian. Tindak tutur komisif yang ditemukan dalam penelitin ini yaitu menawarkan, menyatakan kesanggupan, dan berjanji. Tuturan tersebut dapat dilihat pada kutipan wacana di bawah ini.

4.1.3.1 Tindak Tutur Komisif Menawarkan Data tuturan menawarkan terdapat pada tuturan berikut ini. (30) KONTEKS : DI TAMAN SEKOLAH, NIDA DAN TEMANTEMANNYA MENGINGINKAN AGAR META BERCERITA TENTANG MASALAH YANG DIHADAPINYA. : ”Ada apa? Ngomong dong. Siapa tahu kita bisa bantu”. (Annida/10/03/OD/30)

Tuturan

Tuturan di atas yang menunjukkan tindak ilokusi komisif menawarkan ngomong dong ”Siapa tahu kita bisa bantu”, maksudnya penutur menawarkan kepada mitra tutur bahwa penutur mungkin bisa membantu masalah yang dihadapai oleh mitra tutur.

57

4.1.3.2 Tindak Tutur Komisif Menyatakan Kesanggupan Tindak tutur komisif menyatakan kesanggupan adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturan yang berfungsi untuk menyatakan kesanggupan. Berikut kutipan wacana yang termasuk ke dalam tindak tutur komisif menyatakan kesanggupan. (31) KONTEKS : META MEMOHON KEPADATEMAN-TEMANNYA AGAR MAU TETAP BERTEMAN MESKI MENGETAHUI PERSOALAN YANG MENIMPA ORANG TUANYA Meta : “Elo pasti nggak percaya, tapi ini kejadian bener. Gue minta lo semua tetap jadi teman gue.” Nida : “Ya iya dong, Met!” Teman Nida : ”masa lo mau kita jadikan kepsek sih.” Meta : ”Bokap gue...bokap gue...mau di penjara.” (Annida/10/03/OD/31) Tuturan ”Ya iya dong, Met!”, dituturkan oleh Nida kepada Meta dengan maksud untuk menyatakan kesanggupan atas apa yang telah diujarkan, yaitu ia sanggup berteman dengan Meta meski apapun yang telah dilakukan oleh orang tuanya. Oleh karena itu, kutipan wacana (31) merupakan tindak tutur komisif menyatakan kesanggupan sebab berisi pernyataan kesanggupan Nida dan teman-temannya untuk tetap berteman dengan Meta meski orang tuanya telah melakukan kesalahan. Kutipan wacana berikut di bawah ini juga termasuk dalam tindak tutur komisif menyatakan kesanggupan. (32) KONTEKS: Ibu Bapak BAPAK MENYURUH NIDA UNTUK MENGURUS PEMBELIAN KAMBING KURBAN : ”Emang uangnya cukup pak?” : ”Insya Allah cukup, kamu aja yang beli, Nid?”

58

Nida

: ”Beres pak!” (Annida/09/03/MB/32)

Tuturan ”Beres pak!” dituturkan oleh Nida dengan maksud menyatakan kesanggupan untuk mengurus pembelian kambing kurban. Dengan demikian, kutipan wacana (32) merupakan tindak tutur komisif menyatakan kesanggupan, sebab berisi pernyataan kesanggupan dari Nida kepada orang tuanya.

4.1.3.3 Tindak Tutur Komisif Berjanji Tindak tutur komisif berjanji adalah tindak tutur yng mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturan berjanji. Tuturan berjanji adalah tuturan yang dilakukan untuk menyatakan suatu perjanjian. Berikut adalah tuturan yang berjenis tindak tutur komisif berjanji. (33) KONTEKS: Kodok NIDA BERTEMU PANGERAN KODOK YANG DAPAT BERBICARA DI TENGAH JALAN : ”Hai tunggu aku, bila kau menciumku kau akan jadi pacarku selama setahun. Lumayan buat persiapan valentine!” (Annida/06/03/PK/33)

Tuturan ” bila kau menciumku kau akan jadi pacarku selama setahun.”, dituturkan oleh kodok kepada Nida dengan maksud untuk menjanjikan pacaran selama setahun kepada Nida. Oleh karena itu, kutipan wacana (33) merupakan tindak tutur komisif berjanji, karena berisi perjanjian yang dilakukan oleh kodok kepada Nida, yaitu apabila Nida mau menciumnya maka Nida akan dijadikan pacarnya selama satu tahun.

59

4.1.4 Tindak Tutur Ekspresif Tindak tutur ilokusi ekspresif merupakan tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan itu. Dalam tindak ilokusi ekspresif ditemukan tuturan mengucapkan terima kasih, mengkritik, menyalahkan, mengeluh dan memuji. Adapun tuturan tersebut dapat dilihat sebagai berikut.

4.1.4.1 Tindak Tutur Ekspresif Mengucapkan Terima Kasih Tindak tutur ekspresif mengucapkan terima kasih adalah tindak tutur yang dilakukan dengan maksud agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan yang berisi ucapan terima kasih. Berikut data tuturan ekspresif mengucapkan terima kasih. (34) KONTEKS IBU GURU DAN MURID-MURID DARI SEKOLAH TUNCEN BERPAMITAN KEPADA PENGURUS SERTA PENGHUNI PANTI : ”Ayo bapak ibu, para mbak dan mas dari Tuncen mau pamitan!” : ”Terima kasih sudah menerima kami dengan baik.” (Annida/19/03/KS/34) :

Pengurus Panti Ibu Guru

Tuturan “Terima kasih sudah menerima kami dengan baik” dituturkan oleh ibu guru kepada pengurus panti dengan maksud untuk berterima kasih karena telah menerima kunjungan ibu dan bapak guru serta siswa-siswi sekolah Tuncen dengan baik. Oleh karena itu, kutipan wacana (34) merupakan tindak tutur ekspresif mengucapkan terima kasih sebab tuturan tersebut berisi ucapan terima

60

kasih karena pihak panti telah menerima kunjungannya di Panti Rehabilitasi Sakit Jiwa. Kutipan wacana di bawah ini juga termasuk dalam tindak tutur ekspresif mengucapka terima kasih. (35) KONTEKS: NIDA MENGHADIRI PESTA ULANG TAHUN ADIK KELASNYA Nida : ”Met, ultah ya moga umurmu berkah!” Adik TPA : ”Makasih kak Nida, makasih kadonya!” (Annida/12/01/PTPA/35)

Tuturan “ Makasih kak Nida, makasih kadonya!” dituturkan oleh adik TPA kepada Nida dengan maksud untuk berterima kasih karena telah memberinya kado ulang tahun. Oleh karena itu, kutipan wacana (35) merupakan tindak tutur ekspresif mengucapkan terima kasih, sebab tuturan tersebut berisi ucapan terima kasih karena Nida memberinya kado ulang tahun.

4.1.4.2 Tindak Tutur Ekspresif Mengkritik Tindak tutur ekspresif mengkritik adalah tindak tutur yang dilakukan dengan maksud agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan yang berisi kritikan. Tuturan mengkritik adalah tuturan yang berupa tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan

pertimbangan baik buruk terhadap sutau hasil karya, pendapat dan sebagainya. Berikut merupakan tindak tutur ekspresif mengkritik. (36) KONTEKS : NIDA DAN TEMAN-TEMANNYA BERTANYA KEPADA META, APA YANG MEMBUATNYA MENANGIS

61

Nida dan teman-teman Meta

: “Lho, kenapa kamu, Met? Datang-datang kok langsung mewek gitu?” : ”Gue lagi sedih nih!” (Annida/10/03/OD/36)

Tuturan di atas yang menunjukan tindak ilokusi ekspresif mengkritik terdapat pada tuturan lho, kenapa kamu, Met? Datang-datang kok langsung mewek gitu?…, maksudnya penutur mengkritik kepada Met (mitra tutur) bahwa mengapa datang-datang kok langsung mewek (menanggis). Maksud penutur yaitu bahwa segala masalah pasti ada jalan keluarnya tapi kenapa harus dengan menanggis. Tindak tutur ekspresif mengkritik juga terdapat pada kutipan wacana berikut ini. (37) KONTEKS : TEMAN-TEMAN NIDA MENGKRITIK SIKAP NIDA TERHADAP TEMAN-TEMANNYA Teman 1 : ”Ih, kamu kok kaya manajernya aja sih!” Teman 2 : ”Iya nih! Norak kamu , Nid!” (Annida/12/03/IN/37)

Tuturan “…Norak kamu , Nid!” dituturkan oleh penutur (teman 2) kepada Nida dengan maksud agar Nida tidak bersikap norak dengan menghalang-halangi mereka untuk berkenalan dengan teman barunya. Oleh karena itu, kutipan wacana (37) merupakan tindak tutur ekspresif Mengkritik, sebab tuturan tersebut dilakukan oleh penutur untuk mengevalusi atau memberi tanggapan atas sikap norak yang ditunjukan Nida kepada teman-temannya.

62

4.1.4.3 Tindak Tutur Ekspreif Menyalahkan Tindak tutur ekspresif menyalahkan adalah tindak tutur yang dilakukan dengan maksud agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan yang berisi menyalahkan. Tuturan menyalahkan adalah tuturan yang digunakan untuk menyatakan (memandang, menganggap) salah pada seseorang. Berikut ini merupakan tindak tutur ekspresif menyalahkan. (38) KONTEKS : NIDA DAN TEMAN-TEMANNYA MENYALAHKAN ATAS SIKAP BAPAKNYA META YANG TIDAK MAU BERTANGGUNG JAWAB ATAS APA YANG TELAH DILAKUKANNYA : “Lho kok gitu? Kalo berani berbuat ya harus berani tanggung jawab dong.” : ”Iya, Met. Kalo urusanya korupsi sih gue ogah ngedukung lo!” (Annida/10/03/OD/38)

Nida Teman Nida

Tuturan (38) yang menyatakan tindak tutur ekspresif menyalahkan terdapat pada tuturan “Lho kok gitu? Kalo berani berbuat ya harus berani tanggung jawab dong…” maksudnya yaitu penutur (Nida) menyalahkan kepada mitra tutur (Meta) tentang ayahnya yang tidak berani bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Kutipan wacana di bawah ini juga termasuk dalam tindak tutur ekspresif menyalahkan. (39) KONTEKS: NIDA MENYALAHKAN IBUNYA MAHLUK BERJENGGOT Ibu Nida : ”Nida jadi maksudnya kamu mau menikah?” TENTANG

63

Nida

: ”Ihh, Ibu! Siapa bilang? Nida kan masih kecil dan imutimut.” (Annida/09/03/MB/39)

Tuturan “Ihh, Ibu! Siapa bilang?” dituturkan oleh Nida kepada ibunya dengan maksud untuk menyalahkan atas tuturan ibunya yang mengatakan bahwa Nida mau menikah. Oleh karena itu, kutipan wacana (39) tersebut merupakan tindak tutur ekspresif menyalahkan sebab tuturan tersebut berisi anggapan bahwa semua yang dipikirkan ibunya tentang mahluk berjenggot itu adalah kesalahan dan Nida juga belum mau menikah.

4.1.4.4 Tindak Tutur Ekspresif Mengeluh Tindak tutur ekspresif mengeluh adalah tindak tutur yang dilakukan dengan maksud agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan mengeluh. Tuturan mengeluh adalah tuturan yang dilakukan untuk menyatakan susah karena penderitaan, kesakitan, kekecewaan. Tuturan berikut merupakan tindak tutur ekpresif mengeluh. (40) KONTEKS: NIDA DIRAYU SEORANG IBU YANG INGIN MEMINJAM UANG KEPADANYA Ibu : “Tolong deh, Nid. Bikin penjadwalan utang saya, saya belum sanggup bayar nih.” Nida : ”Ini nih, susahnya punya bangsa yang suka ngutang. Warung ogut aja disamain sama Paris Club!” (Annida/16/02/MK/40) Tuturan ”Ini nih, susahnya punya bangsa yang suka ngutang.” dituturkan oleh Nida dengan maksud agar ibu tidak suka berhutang, supaya tidak sama dengan bangsanya yang suka berhutang kepada negara lain. Dengan demikian, kutipan

64

wacana (40) tersebut merupakan tindak tutur ekspresif mengeluh karena ujaran tersebut berisi keluhan, kekecewaan yang dilakukan oleh Nida karena apabila ibu diberikan pinjaman, nanti bisa seperti bangsanya yang suka berhutang. Tindak tutur ekspresif mengeluh juga terdapat pada kutipan wacana berikut ini. (41) KONTEKS Nida Om Fauzi : NIDA KETIKA MENGIKUTI KEGIATAN OSPEK DI KAMPUSNYA : ”Duh, bari sehari ngerasain jadi mahasiswa, udah begini.” : ”Nida, kamu belum ditakdirkan menjadi mahasiswa. Besok balik lagi jadi anak SMU ya!” : ”Om Fauzi tega....kejam....” (Annida/22/02/DO/41)

Nida

Tuturan ”Duh, bari sehari ngerasain jadi mahasiswa, udah begini..” diungkapkan Nida ketika sedang mengikuti salah satu kegiatan Ospek yang sangat melelahkan baginya. Oleh karena itu, kutipan wacana (41) tersebut merupakan tindak tutur ekspresif mengeluh karena ujaran tersebut berisi keluhan yang diungkapkan oleh Nida tentang penderitaan yang dialaminya yaitu kegiatan Ospek yang melelahkan dan ia rasakan baru saja sehari menjadi mahasiswa. Kutipan wacana berikut ini juga termasuk dalam tindak tutur ekspresif mengeluh. (42) KONTEKS : NIDA MENGELUH PUSING AKIBAT KRISIS MONETER Nida : ”Pusing-pusing! Bensin naik, ongkos naik, tapi gaji babe nggak naik-naik.” (Annida/19/02/NA/42)

65

Tuturan ”Pusing-pusing!” dituturkan oleh Nida dengan maksud mengeluh dengan krisis moneter yang berkepanjangan. Oleh karena itu, kutipan wacana (42) merupakan tindak tutur ekspresif mengeluh karena tuturan tersebut berisi tentang keluhan, tentang kekecewaan yang ia alami akibat krisis moneter yang berakibat semua kebutuhan hidup naik, tetapi gaji orangtuanya tidak naik-naik.

4.1.4.5 Tindak Tutur Ekspresif Memuji Tindak tutur ekspresif memuji adalah tindak tutur yang dilakukan dengan maksud agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan yang berisi pujian. Tuturan memuji adalah tuturan yang digunakan untuk melahirkan suatu penghargaan kepada sesuatu yang dianggap baik, indah, gagah, berani, dan sebagainya. Berikut adalah pemaparan hasil analisis tindak tutur ekspresif memuji. (43) KONTEKS : NIDA DAN TEMAN-TEMANNYA MENCOBA MENCARI TAHU APA YANG TERJADI DENGAN META Nida : ”Ada apa? Ngomong dong. Siapa tahu kita bisa bantu.” Teman Nida : ”Iya, Met. Lo kan biasanya paling riang diantara kita” (Annida/10/03/OD/43)

Tuturan ” Lo kan biasanya paling riang diantara kita.” dituturkan oleh teman Nida kepada Meta dengan maksud untuk memuji sifat Meta yang periang. Oleh karena itu, kutipan wacana (43) merupakan tindak tutur ekspresif memuji karena tuturan tersebut berisi suatu penghargaan atas sifat yang dimiliki oleh Meta.

66

Kutipan wacana di bawah ini merupakan tindak tutur ekspresif memuji. (44) KONTEKS : NIDA TAK SENGAJA BERTEMU DENGAN KODOK YANG BISA BERBICARA Nida : ”Sssttt..diam, aku kan aktivis, mana sempat pacaran, akhwat tidak boleh pacaran lagi” ”Tapi kayanya keren juga kodok bisa ngomong.” (Annida/06/03/PK/44)

Tuturan ” Tapi kayanya keren juga kodok bisa ngomong.” dituturkan oleh Nida kepada kodok dengan maksud untuk memuji kehebatan atau kekerenan kodok dapat berbicara. Dengan demikian, kutipan wacana (44) merupakan tindak tutur ekspresif memuji karena tuturan tersebut dilakukan oleh Nida dengan maksud untuk memuji kehebatan Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakan salah satu ciptaannya yaitu kodok yang dapat berbicara. Berikut ini juga merupakan kutipan wacana yang berjenis tindak tutur ekspresif memuji. (45) KONTEKS : NIDA TERKESIMA MEMANDANGI FOTONYA YANG DIPAJANG DI DINDING RUMAHNYA Nida : ”Dari dulu sampai sekarang sama saja Nida memang awet muda!” (Annida/08/02/MMA/45)

Tuturan ” Dari dulu sampai sekarang sama saja Nida memang awet muda!” dituturkan oleh Nida dengan maksud memuji dirinya sendiri yang terkesima melihat fotonya yang dari dulu sampai sekarang dia tetap awet muda. Oleh karena itu, kutipan wacana (45) merupakan tindak tutur ekspresif memuji karena tuturan tersebut berisi tentang pujian terhadap dirinya yang awet muda.

67

4.1.5 Tindak Tutur Isbati Tindak tutur ilokusi isbati merupakan tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru. Dalam penelitian ini hanya ditemukan satu tindak tutur isbati saja yaitu tindak tutur isbati melarang. Di bawah ini dapat dilihat kutipan wacana tindak tutur isbati.

4.1.5.1 Tindak Tutur Isbati Melarang Tindak tutur isbati melarang adalah tindak tutur yang dilakukan sipenutur dengan maksud untuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru dengan menggunakan tuturan yang berisi larangan. Tuturan melarang adalah tuturan yang dilakukan untuk memerintahkan supaya tidak melakukan sesuatu. Tuturan berikut merupakan tindak tutur isbati melarang. (46) KONTEKS : NIDA DIRAYU SEORANG IBU YANG INGIN BERHUTANG KEPADANYA Ibu : ”Nid, saya boleh ngutang lagi nggak? ” Nida : ”Wah, nggak boleh, Bu! Utang yang kemarin aja belum dibayar.” (Annida/16/02/MT/46)

Tuturan ”Wah, nggak boleh, Bu!”, dituturkan oleh Nida kepada Ibu dengan maksud untuk melarang Ibu agar tidak berhutang lagi. Dengan demikian, kutipan wacana (46) merupakan tindak tutur isbati melarang karena tuturan tersebut berisi larangan supaya Ibu tidak berhutang.

68

4.2

Fungsi Tindak Tutur Ilokusi dalam Komik di Majalah Annida Hasil penelitian menunjukkan fungsi tindak tutur ilokusi yang ditemukan dalam tuturan komik di majalah Annida adalah fungsi kompetitif, menyenangkan, bekerja sama, dan bertentangan.

4.2.1 Fungsi Kompetitif Pada fungsi kompetitif ditemukan dua tuturan yaitu meminta dan mengemis. Adapun yang termasuk fungsi tindak tutur ilokusi dalam komik di majalah Annida dapat dijelaskan pada data di bawah ini.

4.2.1.1 Fungsi Kompetitif Meminta Fungsi tuturan meminta termasuk fungsi kompetitif karena melibatkan sopan santun. Di bawah ini merupakan kutipan wacana fungsi kompetitif meminta. (47) KONTEKS : Nida DI DALAM ANGKOT YANG PENUH DENGAN PENUMPANG DAN ASAP ROKOK : ”Bapak-bapak tolong dong rokoknya dimatikan dulu!” (Annida/15/03/KSD/47)

Fungsi dari tuturan tersebut adalah kompetitif meminta. Tuturan tersebut meminta tolong kepada para penumpang angkot terutama penumpang bapakbapak untuk mematikan rokoknya. Tuturan ini melibatkan sopan santun karena mengandung tuturan yang diperhalus. Tuturan tersebut terdapat pada bapakbapak tolong dong rokoknya dimatikan.

69

4.2.1.2 Fungsi Kompetitif Mengemis Tuturan mengemis juga termasuk fungsi kompetitif. Data tuturan tersebut dapat ditunjukkan di bawah ini. (48) KONTEKS : SEORANG KAKEK MENGEMIS DI MALL Pengemis : ”Neng! Kasihan saya, saya orang bisu.” (Annida/10/04/TD/48)

Fungsi dari tuturan tersebut adalah kompetitif mengemis karena pada saat itu penutur meminta-minta sesuatu kepada orang lain dan ketika itu Mall sedang ramai oleh pengunjung maka penutur dengan leluasa mengemis di sana.

4.2.2 Fungsi Menyenangkan Selain fungsi kompetitif, pada tuturan ini ditemukan pula fungsi menyenangkan yaitu mengucapkan terima kasih. Tuturan tersebut terdapat pada data di bawah ini.

4.2.2.1 Fungsi Menyenangkan Mengucapkan Terima kasih Data di bawah ini merupakan fungsi menyenangkan mengucapkan terima kasih. (49) KONTEKS : IBU GURU DAN MURID-MURID DARI SEKOLAH TUNCEN BERPAMITAN KEPADA PENGURUS SERTA PENGHUNI PANTI Ibu Guru : ”Terima kasih sudah menerima kami dengan baik.” (Annida/19/03/KS/49)

70

Tuturan tersebut mengandung fungsi menyenangkan yaitu berterima kasih karena bertata krama, beramah tamah, dan melibatkan tujuan sosial.

4.2.3 Fungsi Bekerja Sama Pada penelitian ini ditemukan dua fungsi bekerja sama yaitu mengumumkan dan melaporkan. Fungsi bekerja sama tidak melibatkan sopan santun. Tuturan tersebut dapat ditujukkan pada data berikut.

4.2.3.1 Fungsi Bekerja Sama Mengumumkan Data tuturan mengumumkan terdapat pada tuturan di bawah ini. (50) KONTEKS : DI DALAM BIS PARA SISWA DI BERI ARAHAN OLEH IBU GURU Ibu Guru : ”Kita berkunjung ke Panti Rehabilitasi Sakit Jiwa agar lebih memahami kehidupan dan tegar menghadapi stress.. juga bahan tugas membuat artikel pada pelajaran bahasa…bla-bla…” (Annida/19/03/KS/50)

Fungsi tuturan tersebut adalah mengumumkan kepada para siswa-siswi yang mengikuti kunjungan ke Panti Rehabilitasi Sakit Jiwa bahwa kunjungan ini bertujuan untuk memahami kehidupan dan tegar menghadapi stress. Tuturan tersebut mengumumkan sehingga di sini tuturan tersebut tidak melibatkan sopan santun tetapi memiliki tujuan sosial.

71

4.2.3.2 Fungsi Bekerja Sama Melaporkan Fungsi tuturan melaporan termasuk dalam fungsi bekerja sama karena tidak melibatan sopan santun. Data di bawah ini merupakan kutipan wacana fungsi bekerja sama melaporkan. (51) KONTEKS : ANAK-ANAK TPA MEMBERITAHUKAN NIDA BAHWA MEREKA MENDAPATKAN TIKUS Anak TPA : ”Kak Nida, kita dapat 20 ekor tikus 1 ekor tikus dihargai Pak RT Rp 3.000,-. Tolong diurus dong, kak!” (Annida/14/02/KP/51)

Fungsi dari tuturan tersebut adalah melaporkan kepada Kak Nida bahwa anakanak TPA menemukan 20 ekor tikus dan dihargai 1 ekor tikusnya Rp 3.000,-. Oleh karena itu, kutipan wacana (51) merupakan fungsi bekerja sama melaporkan, karena tuturan tersebut tidak melibatkan sopan santun.

4.2.4 Fungsi Bertentangan Fungsi bertentangan adalah jenis ilokusi yang tidak menggunakan unsur sopan santun sama sekali, karena fungsi ini pada dasarnya bertujuan menimbulkan kemarahan. Pada fungsi bertentangan hanya ditemuka satu tuturan yaitu memarahi. Tuturan tersebut dapat ditunjukkan sebagai berikut. (52) KONTEKS : PENUMPANG ANGKOT BAPAK-BAPAK MEROKOK DI DALAM ANGKOT Bapak-bapak: ”Heh, kalo kamu nggak mau kena asap rokok, turun aja!” (Annida/15/03/KSD/52)

Fungsi tuturan tersebut adalah fungsi bertentangan memarahi, yaitu memarahi kepada penumpang angkot perempuan untuk turun saja kalau tidak mau kena

72

asap rokok. Oleh karena itu, kutipan wacana (52) merupakan fungsi bertentangan memarahi, karena unsur sopan santun tidak ada sama sekali.

BAB V PENUTUP

5.1 Simpulan Berdasarkan analisis peneltian ini ditemukan jenis dan fungsi tindak tutur ilokusi dalam wacana komik di majalah Annida. Jenis tindak tutur ilokusi yang ditemukan terdiri atas lima jenis tindak tutur yaitu tindak tutur representatif meliputi menyatakan, mengakui, melaporkan, menyebutkan, dan menunjukkan. Tindak tutur direktif meliputi mengajak, meminta, menyuruh, memohon, menyarankan, menantang, memaksa, dan memberikan aba-aba. Tindak tutur komisif meliputi menawarkan, menyatakan kesanggupan, dan berjanji. Tindak tutur ekspresif meliputi mengucapkan terima kasih, mengkritik, menyalahkan, mengeluh, dan memuji, serta tindak tutur isbati meliputi tindak tutur isbati melarang. Fungsi tindak tutur ilokusi yang ditemukan terdiri atas empat jenis yaitu fungsi kompetitif meliputi meminta dan mengemis, menyenangkan meliputi mengucapkan terima kasih, bekerja sama meliputi mengumumkan dan melaporkan, serta bertentangan meliputi memarahi.

73

74

5.2 Saran Dari hasil penelitian ini disarankan: 1. Pemakai bahasa dalam lingkup wacana hendaknya menggunakan tuturan sesuai dengan pernyataan terutama pernyataan tindak ilokusi sehingga maksud yang disampaikan dapat dimengerti oleh banyak pihak. 2. Peneliti tindak ilokusi yang akan melakukan penelitian hendaknya memfokuskan pada tindak ilokusi dengan objek penelitian yang berbeda. 3. Para pembaca yang tertarik dengan kajian pragmatik, khususnya dalam mempelajari tindak tutur ilokusi agar mendalami jenis tindak tutur ilokusi yang terbagi dalam kategori yang terdapat pada tindak tutur ilokusi. 4. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya terutama yang berhubungan dengan tindak tutur ilokusi.

75

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 1990. Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: YA3. Budiyati. 2001. Kevariasian Tindak Tutur Percakapan Tokoh Utama Wanita dalam Novel-novel Karya Pengarang Wanita (tesis). Semarang: Unnes. Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. Ensiklopedia Nasional Indonesia No. 9. 1990. Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka. Gunarwan, Asim. 1999. Pragmatik: Pandangan Mata Burung. Jakarta: Universitas Indonesia. Hoed, Benny Hoedoro. 1994. Wacana, Teks, dan Kalimat dalam si Hombing et. Al. (ed.) 1994. Bahasawan Cendekiawan: Seuntai Karangan Anak untuk Anton Moelino. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan PT. Intermassa. Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Leech, Geoffrey. 1983. Principle of Pragmatics. Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia dilakukan oleh M.D.D. Oka. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta: UI Press: London: Longman. Levinson, S. C. 1983. Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press. Nababan. 1997. Ilmu Pragmatik, Teori dan Penerapannya. Jakarta: Depdikbud. Oka, I. G. N dan Suparno. 1990. Linguistik Umum. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Palupi. 2002. Tinda Tutur dalam Wacana Iklan Bentuk Berita pada Majalah Tempo Edisi 2001 (skripsi). Semarang: Unnes. Purwo, Bambang Kaswanti. 1990. Pragmatik dan Pengajarang Bahasa. Yogyakarta: Kanisius.

76

Rahayuningsih. 2005. Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman dengan Media Komik Strips pada Anak Usia Operasional Konkret di MI AL Iman Sekaran Gunungpati Semarang Tahun Ajaran 2004/2005 (skripsi). Semarang: Unnes. Rustono. 1999. Pokok-pokok Pragmatik. Semarang: IKIP Semarang Press. Sudaryanto. 1992. Metode Linguistik ke Arah Memahami Metode linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Samsuri. 1998. Analisis Wacana. Malang: IKIP Malang. Supardo, Susilo. 1988. Bahasa Indonesia dalam Konteks. Jakarta: Depdikbud. Suyono. 1990. Pragmatik: Dasar-Dasar dan Pengajarannya. Malang: YA3. --------------. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Tarigan, Henry Guntur. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa ----------------------------. 1990. Proses Belajar Mengajar Pragmatik. Bandung: Angkasa. Tresnati, Tjetje 1998. Tindak Tutur dalam Novel Sekayu Karya NH Dini. Laporan Penelitian Tidak Diterbitkan. Semarang: Unnes. Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful